• Blog Stats

    • 37,980,502 hits
  • pacaran adalah perbuatan haram, maka janganlah berpacaran. Dan jangan mau jika diajak pacaran. Akan tetapi tempuhlah jalan yang halal jika memang benar-benar cinta dan ingin menikah. Segeralah menikah dan jangan berpacaran. ================================== dan janganlah kamu mendekati zina. sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk. [QS Al Isra':32] ==================================== JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA ====================================== Asy-Sya’bi berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah)
  • Artikel Terbaru

  • arsip artikel

  • wasiat untuk seluruh umat manusia

    kasihilah semua makhluk yang ada di muka bumi, niscaya Tuhan yang ada di atas langit akan mengasihimu.. =============================================== Cara mengasihi orang kafir diantaranya adalah dengan mengajak mereka masuk islam agar mereka selamat dari api neraka =============================================== wahai manusia, islamlah agar kalian selamat.... ======================================================
  • wasiat untuk seluruh umat islam

    ====================================== “Janganlah kamu saling dengki, saling membenci, saling mengintip rahasia, saling bersaing, saling mencari keburukan, saling menawar lebih tinggi untuk menipu pembeli sehingga menawar tinggi, saling memutuskan hubungan, saling bermusuhan, janganlah sebagian kalian menjual atas jualan yang lain. Jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang diperintahkan Allah. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh menganiaya, tidak boleh menelantarkannya dan tidak boleh menghinanya. ============================================= Taqwa ada di sini, taqwa ada di sini, taqwa ada di sini kata Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam sambil menunjuk dadanya. ================================================= Cukuplah merupakan kejelekan seseorang apabila menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain adalah haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. Hati-hatilah bersangka buruk, karena sesungguhnya bersangka buruk adalah omongan yang paling dusta. ==================================================== Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk kamu dan hartamu, tetapi ia melihat hati dan perbuatanmu.” (riwayat Muslim dan Bukhari). ==========================================
  • BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR

    BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- -------------------------------------------------------------------------------------------- Orang yang mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi janda dan orang miskin ibarat berjihad di jalan Allah dan ibarat orang shalat malam (HR. Bukhari) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain. (HR. Ahmad) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersodaqoh dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana. (HR. Ath-Thabrani) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sodaqoh. (HR. Al-Baihaqi) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Tiap-tiap amalan makruf (kebajikan) adalah sodaqoh. Sesungguhnya di antara amalan makruf ialah berjumpa kawan dengan wajah ceria (senyum) dan mengurangi isi embermu untuk diisikan ke mangkuk kawanmu. (HR. Ahmad) ------------------------------------------------------------------------------------------------------------
  • berbuat baiklah pada semua binatang, termasuk kepada anjing

    Kita tidak diperbolehkan menyiksa binatang dengan cara apa pun, atau membuatnya kelaparan, memukulinya, membebaninya dengan sesuatu yang ia tidak mampu, menyiksa atau membakarnnya. --------------------------------------------------- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Seorang wanita masuk neraka karena seekor kucing yang ia kurung hingga mati. Maka dari itu ia masuk neraka gara-gara kucing tersebut disebabkan dia tidak memberinya makan dan tidak pula memberinya minum di saat mengurung nya, dan dia tidak membiarkannya (melepaskannya) supaya memakan serangga di bumi.” (HR. al-Bukhari) ------------------------------------------------------- Dan ketika beliau melewati sarang semut yang telah dibakar, beliau bersabda, “Sesungguhnya tidak ada yang berhak menyiksa dengan api selain Rabb (Tuhan) pemilik api.” (HR. Abu Dawud, hadits shahih) ---------------------------------------------- “Barangsiapa yang tidak berbelas kasih niscaya tidak akan dibelaskasihi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) ------------------------------------------------- “Kasihanilah siapa saja yang ada di bumi ini, niscaya kalian akan dikasihani oleh yang ada di langit.” (HR. at-Tirmidzi) -------------------------------------------------- Dibolehkan membunuh hewan-hewan yang membahayakan atau mengganggu seperti anjing buas, serigala, ular, kalajengking, tikus dan lain-lain karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Ada lima macam hewan fasik (buruk) yang boleh dibunuh di waktu halal (tidak ihram) dan di waktu ihram, yaitu ular, burung gagak yang putih punggung dan perutnya, tikus, anjing buas, dan rajawali.” (HR. Muslim). Juga terdapat hadits shahih yang membolehkan untuk membunuh kalajengking. ================================================
  • JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA

    ====================================== ‘Amr bin Syarahil Asy-Sya’bi rahimahullahu berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah, 2/636. Dihasankan oleh Al-Albani dalam At-Tahrim, hal. 148) ----------------------------------------------------------------------------- Ibnu Abdil Barr rahimahullahu berkata: “Termasuk hasil usaha yang disepakati keharamannya adalah riba, upah para pelacur, sogokan (suap), mengambil upah atas meratapi (mayit), nyanyian, perdukunan, mengaku mengetahui perkara gaib dan berita langit, hasil seruling dan segala permainan batil.” (Al-Kafi hal. 191) ---------------------------------------------------------------------- Ath-Thabari rahimahullahu berkata: “Telah sepakat para ulama di berbagai negeri tentang dibenci dan terlarangnya nyanyian.” (Tafsir Al-Qurthubi, 14/56) ------------------------------------------------------------------- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “Mazhab empat imam menyatakan bahwa alat-alat musik semuanya haram.” Lalu beliau menyebutkan hadits riwayat Al-Bukhari rahimahullahu . (Majmu’ Fatawa, 11/576) --------------------------------------------------------------- ------------------------------------------
  • wasiat bagi para pemuda

    ====================================== ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Barangsiapa di antara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya mereka adalah ummat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, dan paling lurus petunjuknya, serta paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya, karena mereka berada di jalan yang lurus.” [Dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Baar dalam kitabnya Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih II/947 no. 1810, tahqiq Abul Asybal Samir az-Zuhairy] ======================================
  • wasiat Imam al-Auza’i

    ====================================== Imam al-Auza’i rahimahullah (wafat th. 157 H) mengatakan: “Bersabarlah dirimu di atas Sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para Shahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan Salafush Shalih, karena akan mencukupi kamu apa saja yang mencukupi mereka.” [Syarh Ushul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah 1/174 no. 315] --------------------------------------------------------------- Beliau rahimahullah juga berkata: “Hendaklah kamu berpegang kepada atsar Salafush Shalih meskipun orang-orang menolaknya dan jauhkanlah diri kamu dari pendapat orang meskipun ia hiasi pendapatnya dengan perkataannya yang indah.” [Imam al-Aajury dalam as-Syari’ah I/445 no. 127, di-shahih-kan oleh al-Albany dalam Mukhtashar al-‘Uluw lil Imam adz-Dzahaby hal. 138, Siyar A’laam an-Nubalaa’ VII/120] =================================================
  • Mengutip perkataan Syaikh Bin Baz rahimahullaahu

    “Zaman ini adalah zaman kelembutan, kesabaran dan hikmah, bukanlah zaman kekerasan (kebengisan). Mayoritas manusia saat ini dalam keadaan jahil (bodoh), lalai dan lebih mementingkan duniawiyah. Maka haruslah sabar dan lemah lembut sampai dakwah ini tersampaikan dan sampai mereka mengetahuinya. Kami mohon petunjuk kepada Alloh untuk semuanya.” (Majmu’ Fatawa Samahatul Imam Ibnu Bazz (Juz VIII, hal 376) dan (Juz X, hal. 91) =================================================
  • jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara

    ====================================== Segala puji hanyalah milik Alloh yang telah mempertautkan hati kaum mukminin dan menganjurkan mereka supaya bersatu padu dan saling berhimpun serta memperingatkan dari perpecahan dan perselisihan. -------------------------------------------------------- Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq untuk disembah melainkan hanyalah Alloh semata yang tidak memiliki sekutu. Dialah yang mensyariatkan dan memudahkan, dan Dia terhadap kaum mukminin adalah sangat penyantun. ------------------------------------------------------ Saya juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang diperintahkan dengan kemudahan dan berita gembira. ----------------------------------------------------- Beliau bersabda : Permudahlah dan janganlah kamu persulit, berikanlah kabar gembira dan janganlah membuat orang lari (dari kebenaran). ------------------------------------------------------ Permisalan kaum mukminin satu dengan lainnya dalam hal kasih sayang, tolong menolong dan kecintaan, bagaikan tubuh yang satu, jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan merasa demam atau terjaga” --------------------------------------------------- Tidak ragu lagi, bahwa kewajiban Ahlus Sunnah di setiap zaman dan tempat adalah saling bersatu dan menyayangi di antara mereka serta saling bekerja sama di dalam kebajikan dan ketakwaan… ==================================================---------------
  • KHUTBATUL HAJAH

    ====================================== Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, dan meminta ampun kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami, dan dari keburukan-keburukan perbuatan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah saja, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. ================================================ “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” ================================================== “Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan darinya Allah menciptakan isterinya; dan dari keduanya Allah mengembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silatur rahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” ========================================================= “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mena’ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. ============================================================ Amma ba’du; Maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad , dan seburuk-buruk perkara dalam agama adalah yang di ada-adakan, setiap yang diada-adakan (dalam urusan agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan. (HR. Muslim, an-Nasa’i dan selain keduanya) ==================================================
  • Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka (al baqarah ayat 120)

  • SALAFY & WAHABI BUKANLAH ALIRAN SESAT

    Al-Malik Abdul Aziz berkata : “Aku adalah penyeru kepada aqidah Salafush Shalih, dan aqidah Salafush Shalih adalah berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang datang dari Khulafaur Rasyidin” [Al-Wajiz Fi Siratil Malik Abdul Aziz hal.216] ------------------------------------------------------------------------------------- Beliau juga berkata : “Mereka menamakan kami Wahabiyyin, dan menamakan madzhab kami adalah madzhab wahabi yang dianggap sebagai madzhab yang baru. Ini adalah kesalahan fatal, yang timbul dari propaganda-propaganda dusta yang disebarkan oleh musuh-musuh Islam. Kami bukanlah pemilik madzhab baru atau aqidah baru. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tidak pernah mendatangkan sesuatu yang baru, aqidah kami adalah aqidah Salafush Shalih yang datang di dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang ditempuh oleh Salafush Shalih. Kami menghormati imam empat, tidak ada perbedaan di sisi kami antara para imam : Malik, Syafi’i, Ahmad dan Abu Hanifah, semuanya terhormat dalam pandangan kami” [Al-Wajiz Fi Siratil Malik Abdul Aziz, hal. 217] ---------------------------------------------------------
  • mengutip perkataan Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad hafizhahullaahu:

    “Telah terjadi di zaman ini, sibuknya sebagian ahlus sunnah dengan sebagian lainnya dengan tajrih (saling mencela) dan tahdzir, dan implikasi dari hal ini menyebabkan terjadinya perpecahan, perselisihan dan saling mengisolir. Padahal sepantasnya bahkan seharusnya bagi mereka untuk saling mencintai dan berkasih sayang terhadap sesama mereka, dan menyatukan barisan mereka di dalam menghadapi ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu yang menyelisihi ahlus sunnah wal jama’ah. ---------------------------------------------------- “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- agar menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dari perkara-perkara yang tidak bermanfaat bagi mereka, sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “diantara kebaikan seorang muslim adalah meninggalkan hal-hal yang tidak berfaidah baginya.” Hadits hasan diriwayatkan oleh Turmudzi.” ------------------------------------------------------ “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- untuk bersikap pertengahan dan moderat, diantara sikap ghuluw (ekstrim) dan meremehkan, dan diantara sikap ifrath (berlebih-lebihan) dan tafrith (menggampangkan). Sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “Jauhilah oleh kalian sikap ghuluw di dalam agama, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa dikarenakan sikap ghuluw mereka di dalam agama.” Ini hadits shahih, dikeluarkan oleh an-Nasa’i dan selainnya.” ---------------------------------------------------- “Dan aku nasehatkan supaya mereka berhati-hati dari sikap zhalim, dikarenakan hadits Qudsi, “Wahai hamba-Ku, sesunguhnya Aku haramkan kezhaliman atas diri-Ku, maka aku jadikan pula haram atas diri kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi” diriwayatkan oleh Muslim, dan hadits Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “takutlah kalian dari kezhaliman, karena sesungguhnya kezhaliman itu adalah kegelapan di hari kiamat” diriwayatkan oleh Muslim. ------------------------------------------------------ Aku memohon kepada Allah Azza wa Jalla untuk menunjuki seluruh ummat kepada apa yang diridhai-Nya, agar mereka mendalami agama Islam (tafaqquh fid din) dan menetapi kebenaran, serta agar mereka menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dan menjauhkan dari apa-apa yang tidak bermanfaat. Sesungguhnya Ia berkuasa dan berkemampuan atasnya. Semoga Sholawat dan Salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya dan para sahabatnya. (selesai kutipan) ===========================================
  • mengutip perkataan Imam Albani rahimahullaahu

    “Wajib atas kita untuk berlemah lembut di dalam dakwah kita terhadap orang-orang yang menyelisihi kita, dan jadikan selalu firman Alloh Ta’ala berikut (sebagai pegangan) dan untuk selamanya : “Serulah mereka ke jalan Rabb-mu dengan hikmah dan nasehat yang baik, serta berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.” Dan mereka yang pertama lebih berhak untuk kita terapkan hikmah ini adalah mereka yang paling memusuhi kita di dalam dasar (mabda’) dan aqidah kita, hingga kita tidak menggabungkan antara beratnya dakwah yang haq yang Alloh memperteguh kita dengannya dengan beratnya cara (ushlub) kita berdakwah kepada Alloh Azza wa Jalla” ==================================================
  • Diriwayatkan bahwa Hasan Al-banna berkata: “Kami menginginkan terbentuknya sosok individu muslim, rumah tangga Islami, bangsa yang Islami, pemerintahan yang Islami, negara yang dipimpin oleh negara-negara Islam, menyatukan perpecahan kaum muslimin dan negara mereka yang terampas, kemudian membawa bendera jihad dan da’wah kepada Allah sehingga dunia mendapatkan ketentraman dengan ajaran-ajaran Islam.” ==================================================
  • warning

    dalam blog ini mungkin terdapat hadits dhoif, riwayat yang tidak valid, salah tulis, kutipan yg tidak sesuai syariat islam, dan berbagai kesalahan2 lain, dan belum sempat di sensor, jadi mohon maaf sebesar-besarnya

Kriteria-Kriteria yang Membedakan antara Masalah-Masalah yang Ushul (Pokok) dengan yang Furu’ (Cabang)

Mayoritas ulama membedakan antara masalah-masalah agama yang dikategorikan sebagai masalah ushul dengan masalah-masalah agama yang dikategorikan sebagai masalah furu’. Dengan pemisahan tersebut mereka dapat menetapkan batasan kesalahan dan lainnya yang dapat ditoleransi (dimaafkan), apabila kesalahan itu berkaitan dengan masalah-masalah furu’, sedangkan kesalahan yang berkaitan dengan masalah-masalah ushul, mereka tidak menoleransinya.

Pemisahan ini digunakan juga oleh mereka dalam memisahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan ilmu-ilmu syariat, dimana masalah-masalah yang berkaitan dengan ilmu akidah dan ilmu ushul dikelompokkan sebagai masalah yang ushul, masalah-masalah yang berkaitan dengan ilmu fikih dikelompokkan ke dalam masalah furu’. Tetapi, sebagian ulama menolak adanya pengelompokkan masalah syariah ke dalam masalah ushul dan furu’.

Hal yang perlu diperhatikan dalam pengelompokan antara masalah-masalah agama, atau antara ilmu-ilmu syariat ini, tidak adanya kesepakatan di antara para ulama dalam menentukan kriteria-kriteria yang jelas yang dapat dijadikan sebagai patokan dalam pengelompokan ini. Karena itulah, maka sebagian ulama menolak pengelompokan ini, dan mereka mengritik dan menolak pandangan para ulama yang mengatakannya.

Di antara para ulama yang secara tegas menolak dan mengritik pengelompokan ini adalah Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah dan diikuti muridnya, Imam Ibnu Qoyyim Rahimahullah.

Ibnu Taimiyyah berkata, “Adapun pengelompokan antara bagian yang disebut dengan masalah-masalah ushul dengan masalah-masalah furu’ merupakan pengelompokkan yang tidak ada dasar hukumnya, baik dari para sahabat, para tabi’in, dan para imam yang benar-benar memegang ajaran Islam. Pengelompokkan ini bersumber dari orang-orang Mu’tazilah dan aliran lainnya yang teramasuk ke dalam kelompok orang-orang yang suka menciptakan kebid’ahan, yang dapat ditemukan dalam kitab-kitab yang dikarang oleh fuqaha’ (ahli fikih) mereka. Karena masalah pengelompokkan ini dianggap menyimpang, maka kepada orang yang mengelompokkan masalah-masalah agama ke dalam dua kelompok (ushul dan furu’) dapat diajukan pertanyaan: “Apa batasan dalam masalah-masalah ushul, di mana apabila seseorang melakukan kekeliruan atau kesalahan dihukumi sebagai orang kafir dan apa bedanya antara masalah-masalah ushul dengan masalah-masalah furu?” Apabila dia menjawab, “Masalah-masalah ushul adalah masalah-masalah yang berkaitan dengan akidah, sedangkan masalah-masalah furu’ adalah masalah-masalah yang berkaitan dengan amal perbuatan.” Selanjutnya, dapat diajukan pertanyaan kepadanya,”Bagaimana dengan pertentangan yang terjadi di antara manusia berkenaan dengan Nabi Muhammad saw, apakah beliau pernah melihat Allah atau tidak? Dan apakah Ustman ra itu lebih baik dari Ali ra atau Ali ra yang lebih baik dari Ustman ra? Demikian juga berkenaan dengan makna-makna Alquran dan kesahihan sebagian hadis, di mana semuanya itu termasuk masalah-masalah yang berkaitan dengan akidah, di mana menurut kesepakatan para ulama tidak diperbolehkan untuk mengafirkannya. Sementara, berkenaan dengan kewajiban salat, zakat, puasa, dan haramnya perbuatan keji dan khamar (minuman keras) termasuk masalah yang berkaitan dengan amal pebuatan, tetapi para ulama telah sepakat untuk menghukumi kafir bagi orang yang mengingkarinya.

Apabila dia menjawab, “Masalah-masalah pokok itu adalah masalah-masalah yang qath’i (pasti), maka dapat dikatakan kepadanya, ‘Kebanyakan dari masalah-masalah yang berkaitan dengan amal perbuatan itu bersifat qath’i, sementara kebanyakan dari masalah-masalah yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan justru bersifat dzanni (dugaan). Pengelompokan masalah-masalah ke dalam qath’iyyah dan dzanniyyah sifatnya relatif. Terkadang satu masalah bagi seseorang dianggap qath’i, karena sudah jelasnya dalil yang menunjukkan keqath’iyyannya baginya, seperti seseorang yang mendengar suatu nash dari Rasulullah saw dan dia meyakini bahwa nash tersebut berasal dari beliau, sementara bagi orang lain masalah tersebut dianggap dzanni, jauh dari anggapan qath’i, karena belum sampainya nash tersebut kepadanya, atau tidak adanya ketetapan yang diketahuinya, atau tidak memiliki ilmu yang memungkinkannya untuk mengetahui dalil-dalilnya.

Imam Ibnu Qoyyim berkata, “Mereka mengelompokkan masalah-masalah agama kepada masalah-masalah yang bersifat ilmiyyah dan masalah-masalah yang bersifat amaliyyah, dan mereka menyebutnya dengan ushul dan furu’. Mereka berkata, “Yang benar dalam dalam masalah ushul itu hanya satu, dan orang yang mengingkarinya dihukumi sebagai orang kafir atau orang fasik. Sedangkan dalam masalah-masalah furu’, tidak ada hukum Allah yang bersifat tertentu dan tidak dapat ditentukan kesalahannya, sehingga setiap hukum yang ditetapkan mujtahid dianggap sesuai dengan hukum Allah. Seandainya melihat istilah yang dipakai, maka pengelompokkan ini tidak dapat membedakan secara jelas antara masalah ushul dengan masalah furu’. Bagaimana bisa dibedakan, sementara mereka menetapkan hukum-hukum berdasarkan akal dan pandangan mereka sendiri, di antaranya, menetapkan hadis ahad sebagai masalah furu’ bukan masalah ushul, dan lain sebagainya. Padahal setiap pengelompokan ini tidak didasarkan kepada Alquran, sunnah, dan sumber-sumber syariat lainnya, sehingga pengelompokan masalah ini dianggap suatu keliruan yang wajib diabaikan.”

Namun demikian, jika masalah ini dikaji secara mendalam, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa tidak semua pengelompokan ini ditolak (salah), bahkan dapat dibenarkan jika di dalamnya mengandung dua persyaratan, yaitu:

  1. Mengembalikan pandangan dalam penetapan kiteria-kriteria yang membedakan antara masalah ushul dan furu’ berdasarkan kriteria-kriteria yang pengertiannya dapat dibenarkan oleh syari’at.
  2. Dihasilkan melalui penelitian ilmiyyah berkenaan dengan penetapan hukum-hukum yang berkaitan dengan setiap masalah ushul dan furu’.

Adapun metode yang ditempuh oleh para ulama dalam menetapkan kiteria-kriteria pengelompokan masalah ke dalam ushul dan furu’ ini terdapat beberapa metode, di antaranya:

  1. Masalah yang dalilnya bersifat akli (bersumber dari akal) dikelompokkan ke dalam ushul, sedangkan masalah yang dalilnya bersifat naqli (bersumber dari Alquran dan sunnah) dikelompokkan ke dalam furu’.
  2. Masalah yang dalilnya bersifat qath’i (pasti) dikelompokkan ke dalam ushul, sedangkan masalah yang dalilnya bersifat dzanni dikelompokkan ke dalam furu’.
  3. Masalah-masalah ushul itu berkaitan dengan ilmu pengetahuan, sedangkan masalah-masalah furu’ itu berkaitan dengan amal perbuatan.
  4. Masalah-masalah ushul itu berkaitan dengan tuntutan (perintah dan larangan), sedangkan masalah-masalah furu’ itu bersifat berita.

Perlu diketahui bahwa tidak ada suatu pendapat pun dari pendapat-pendapat tersebut di atas, kecuali di dalamnya terdapat kontradiksi, sehingga tidak ada satu pendapat pun yang terhindar dari pertentangan, walaupun pada sebagiannya terdapat pandangan yang dianggap layak dan patut dipertimbangkan. Metode yang dianggap tepat dalam menentukan kriteria-kriteria yang membedakan antara masalah ushul dan furu’ adalah bahwa segala masalah yang sudah jelas dalilnya dikelompokkan ke dalam masalah furu’, baik berkaitan dengan ilmu pengetahuan maupun berkaitan dengan amal perbuatan. Hal itu sebagaimana yang dikatakan oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah, “Yang benar, bahwa setiap masalah yang sudah jelas dalilnya, baik yang berkaitan dengan masalah ilmu pengetahuan maupun yang berkaitan dengan amal perbuatan dikelompokkan ke dalam masalah ushul, sedangkan masalah yang belum jelas dalilnya dikelompokkan ke dalam masalah-masalah furu’. Pengetahuan tentang beberapa kewajiban seperti rukun Islam yang lima, dan beberapa hal yang diharamkan, merupakan masalah yang sudah jelas dan diriwayatkan secara mutawatir. Demikian juga halnya dengan pengetahuan bahwa Allah SWT Maha Kuasa lagi Maha Mengetahui atas segala sesuatu, Maha Mendengar lagi Maha Melihat, Alquran sebagai Kalam Allah, dan lain sebagainya merupakan masalah yang dianggap sudah jelas dan diriwayatkan secara mutawatir. Oleh karena itu, maka orang yang mengingkari dan menentang hukum-hukum tersebut di atas (yang sudah jelas wajib dan haramnya) dihukumi sebagai orang kafir. Demikian juga, dihukumi sebagai orang kafir, orang yang mengingkari pengetahuan yang berkaitan dengan masalah-masalah yang terakhir.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka ada beberapa pembahasan yang berkaitan dengan masalah yang terdapat dalam bab ini yang mencakup beberapa masalah yang sudah jelas dalilnya, baik masalah yang berkaiatan dengan ilmu pengetahuan maupun yang berkaitan dengan amal perbuatan, yang di dalamnya mencakup masalah tauhid dan macam-macamnya, menolong orang-orang kafir dan orang-orang musyrik, masalah-masalah agama yang sudah diketahui secara pasti. Semua masalah ini terkait erat kaitannya dengan ilmu pengetahuan, amal perbuatan, atau dengan keduanya secara bersamaan, dan semuanya itu sudah jelas, sehingga masalah ini dikelompokkan ke dalam masalah-masalah ushul. Hanya kepada Allahlah kita memohon pertolongan.

Sumber: Al-Jahlu bi Masaailil I’tiqaad wa Hukmuhu, Abdurrazzaq bin Thahir bin Ahmad Ma’asy

 

www.alislamu.com
www.pakdenono.com

About these ads
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 298 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: