• Blog Stats

    • 37,599,343 hits
  • pacaran adalah perbuatan haram, maka janganlah berpacaran. Dan jangan mau jika diajak pacaran. Akan tetapi tempuhlah jalan yang halal jika memang benar-benar cinta dan ingin menikah. Segeralah menikah dan jangan berpacaran. ================================== dan janganlah kamu mendekati zina. sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk. [QS Al Isra':32] ==================================== JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA ====================================== Asy-Sya’bi berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah)
  • Artikel Terbaru

  • Artikel Terbanyak Dibaca

  • arsip artikel

  • wasiat untuk seluruh umat manusia

    kasihilah semua makhluk yang ada di muka bumi, niscaya Tuhan yang ada di atas langit akan mengasihimu.. =============================================== Cara mengasihi orang kafir diantaranya adalah dengan mengajak mereka masuk islam agar mereka selamat dari api neraka =============================================== wahai manusia, islamlah agar kalian selamat.... ======================================================
  • wasiat untuk seluruh umat islam

    ====================================== “Janganlah kamu saling dengki, saling membenci, saling mengintip rahasia, saling bersaing, saling mencari keburukan, saling menawar lebih tinggi untuk menipu pembeli sehingga menawar tinggi, saling memutuskan hubungan, saling bermusuhan, janganlah sebagian kalian menjual atas jualan yang lain. Jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang diperintahkan Allah. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh menganiaya, tidak boleh menelantarkannya dan tidak boleh menghinanya. ============================================= Taqwa ada di sini, taqwa ada di sini, taqwa ada di sini kata Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam sambil menunjuk dadanya. ================================================= Cukuplah merupakan kejelekan seseorang apabila menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain adalah haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. Hati-hatilah bersangka buruk, karena sesungguhnya bersangka buruk adalah omongan yang paling dusta. ==================================================== Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk kamu dan hartamu, tetapi ia melihat hati dan perbuatanmu.” (riwayat Muslim dan Bukhari). ==========================================
  • BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR

    BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- -------------------------------------------------------------------------------------------- Orang yang mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi janda dan orang miskin ibarat berjihad di jalan Allah dan ibarat orang shalat malam (HR. Bukhari) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain. (HR. Ahmad) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersodaqoh dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana. (HR. Ath-Thabrani) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sodaqoh. (HR. Al-Baihaqi) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Tiap-tiap amalan makruf (kebajikan) adalah sodaqoh. Sesungguhnya di antara amalan makruf ialah berjumpa kawan dengan wajah ceria (senyum) dan mengurangi isi embermu untuk diisikan ke mangkuk kawanmu. (HR. Ahmad) ------------------------------------------------------------------------------------------------------------
  • berbuat baiklah pada semua binatang, termasuk kepada anjing

    Kita tidak diperbolehkan menyiksa binatang dengan cara apa pun, atau membuatnya kelaparan, memukulinya, membebaninya dengan sesuatu yang ia tidak mampu, menyiksa atau membakarnnya. --------------------------------------------------- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Seorang wanita masuk neraka karena seekor kucing yang ia kurung hingga mati. Maka dari itu ia masuk neraka gara-gara kucing tersebut disebabkan dia tidak memberinya makan dan tidak pula memberinya minum di saat mengurung nya, dan dia tidak membiarkannya (melepaskannya) supaya memakan serangga di bumi.” (HR. al-Bukhari) ------------------------------------------------------- Dan ketika beliau melewati sarang semut yang telah dibakar, beliau bersabda, “Sesungguhnya tidak ada yang berhak menyiksa dengan api selain Rabb (Tuhan) pemilik api.” (HR. Abu Dawud, hadits shahih) ---------------------------------------------- “Barangsiapa yang tidak berbelas kasih niscaya tidak akan dibelaskasihi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) ------------------------------------------------- “Kasihanilah siapa saja yang ada di bumi ini, niscaya kalian akan dikasihani oleh yang ada di langit.” (HR. at-Tirmidzi) -------------------------------------------------- Dibolehkan membunuh hewan-hewan yang membahayakan atau mengganggu seperti anjing buas, serigala, ular, kalajengking, tikus dan lain-lain karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Ada lima macam hewan fasik (buruk) yang boleh dibunuh di waktu halal (tidak ihram) dan di waktu ihram, yaitu ular, burung gagak yang putih punggung dan perutnya, tikus, anjing buas, dan rajawali.” (HR. Muslim). Juga terdapat hadits shahih yang membolehkan untuk membunuh kalajengking. ================================================
  • JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA

    ====================================== ‘Amr bin Syarahil Asy-Sya’bi rahimahullahu berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah, 2/636. Dihasankan oleh Al-Albani dalam At-Tahrim, hal. 148) ----------------------------------------------------------------------------- Ibnu Abdil Barr rahimahullahu berkata: “Termasuk hasil usaha yang disepakati keharamannya adalah riba, upah para pelacur, sogokan (suap), mengambil upah atas meratapi (mayit), nyanyian, perdukunan, mengaku mengetahui perkara gaib dan berita langit, hasil seruling dan segala permainan batil.” (Al-Kafi hal. 191) ---------------------------------------------------------------------- Ath-Thabari rahimahullahu berkata: “Telah sepakat para ulama di berbagai negeri tentang dibenci dan terlarangnya nyanyian.” (Tafsir Al-Qurthubi, 14/56) ------------------------------------------------------------------- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “Mazhab empat imam menyatakan bahwa alat-alat musik semuanya haram.” Lalu beliau menyebutkan hadits riwayat Al-Bukhari rahimahullahu . (Majmu’ Fatawa, 11/576) --------------------------------------------------------------- ------------------------------------------
  • wasiat bagi para pemuda

    ====================================== ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Barangsiapa di antara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya mereka adalah ummat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, dan paling lurus petunjuknya, serta paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya, karena mereka berada di jalan yang lurus.” [Dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Baar dalam kitabnya Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih II/947 no. 1810, tahqiq Abul Asybal Samir az-Zuhairy] ======================================
  • wasiat Imam al-Auza’i

    ====================================== Imam al-Auza’i rahimahullah (wafat th. 157 H) mengatakan: “Bersabarlah dirimu di atas Sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para Shahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan Salafush Shalih, karena akan mencukupi kamu apa saja yang mencukupi mereka.” [Syarh Ushul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah 1/174 no. 315] --------------------------------------------------------------- Beliau rahimahullah juga berkata: “Hendaklah kamu berpegang kepada atsar Salafush Shalih meskipun orang-orang menolaknya dan jauhkanlah diri kamu dari pendapat orang meskipun ia hiasi pendapatnya dengan perkataannya yang indah.” [Imam al-Aajury dalam as-Syari’ah I/445 no. 127, di-shahih-kan oleh al-Albany dalam Mukhtashar al-‘Uluw lil Imam adz-Dzahaby hal. 138, Siyar A’laam an-Nubalaa’ VII/120] =================================================
  • Mengutip perkataan Syaikh Bin Baz rahimahullaahu

    “Zaman ini adalah zaman kelembutan, kesabaran dan hikmah, bukanlah zaman kekerasan (kebengisan). Mayoritas manusia saat ini dalam keadaan jahil (bodoh), lalai dan lebih mementingkan duniawiyah. Maka haruslah sabar dan lemah lembut sampai dakwah ini tersampaikan dan sampai mereka mengetahuinya. Kami mohon petunjuk kepada Alloh untuk semuanya.” (Majmu’ Fatawa Samahatul Imam Ibnu Bazz (Juz VIII, hal 376) dan (Juz X, hal. 91) =================================================
  • jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara

    ====================================== Segala puji hanyalah milik Alloh yang telah mempertautkan hati kaum mukminin dan menganjurkan mereka supaya bersatu padu dan saling berhimpun serta memperingatkan dari perpecahan dan perselisihan. -------------------------------------------------------- Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq untuk disembah melainkan hanyalah Alloh semata yang tidak memiliki sekutu. Dialah yang mensyariatkan dan memudahkan, dan Dia terhadap kaum mukminin adalah sangat penyantun. ------------------------------------------------------ Saya juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang diperintahkan dengan kemudahan dan berita gembira. ----------------------------------------------------- Beliau bersabda : Permudahlah dan janganlah kamu persulit, berikanlah kabar gembira dan janganlah membuat orang lari (dari kebenaran). ------------------------------------------------------ Permisalan kaum mukminin satu dengan lainnya dalam hal kasih sayang, tolong menolong dan kecintaan, bagaikan tubuh yang satu, jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan merasa demam atau terjaga” --------------------------------------------------- Tidak ragu lagi, bahwa kewajiban Ahlus Sunnah di setiap zaman dan tempat adalah saling bersatu dan menyayangi di antara mereka serta saling bekerja sama di dalam kebajikan dan ketakwaan… ==================================================---------------
  • KHUTBATUL HAJAH

    ====================================== Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, dan meminta ampun kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami, dan dari keburukan-keburukan perbuatan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah saja, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. ================================================ “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” ================================================== “Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan darinya Allah menciptakan isterinya; dan dari keduanya Allah mengembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silatur rahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” ========================================================= “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mena’ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. ============================================================ Amma ba’du; Maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad , dan seburuk-buruk perkara dalam agama adalah yang di ada-adakan, setiap yang diada-adakan (dalam urusan agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan. (HR. Muslim, an-Nasa’i dan selain keduanya) ==================================================
  • Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka (al baqarah ayat 120)

  • SALAFY & WAHABI BUKANLAH ALIRAN SESAT

    Al-Malik Abdul Aziz berkata : “Aku adalah penyeru kepada aqidah Salafush Shalih, dan aqidah Salafush Shalih adalah berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang datang dari Khulafaur Rasyidin” [Al-Wajiz Fi Siratil Malik Abdul Aziz hal.216] ------------------------------------------------------------------------------------- Beliau juga berkata : “Mereka menamakan kami Wahabiyyin, dan menamakan madzhab kami adalah madzhab wahabi yang dianggap sebagai madzhab yang baru. Ini adalah kesalahan fatal, yang timbul dari propaganda-propaganda dusta yang disebarkan oleh musuh-musuh Islam. Kami bukanlah pemilik madzhab baru atau aqidah baru. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tidak pernah mendatangkan sesuatu yang baru, aqidah kami adalah aqidah Salafush Shalih yang datang di dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang ditempuh oleh Salafush Shalih. Kami menghormati imam empat, tidak ada perbedaan di sisi kami antara para imam : Malik, Syafi’i, Ahmad dan Abu Hanifah, semuanya terhormat dalam pandangan kami” [Al-Wajiz Fi Siratil Malik Abdul Aziz, hal. 217] ---------------------------------------------------------
  • mengutip perkataan Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad hafizhahullaahu:

    “Telah terjadi di zaman ini, sibuknya sebagian ahlus sunnah dengan sebagian lainnya dengan tajrih (saling mencela) dan tahdzir, dan implikasi dari hal ini menyebabkan terjadinya perpecahan, perselisihan dan saling mengisolir. Padahal sepantasnya bahkan seharusnya bagi mereka untuk saling mencintai dan berkasih sayang terhadap sesama mereka, dan menyatukan barisan mereka di dalam menghadapi ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu yang menyelisihi ahlus sunnah wal jama’ah. ---------------------------------------------------- “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- agar menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dari perkara-perkara yang tidak bermanfaat bagi mereka, sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “diantara kebaikan seorang muslim adalah meninggalkan hal-hal yang tidak berfaidah baginya.” Hadits hasan diriwayatkan oleh Turmudzi.” ------------------------------------------------------ “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- untuk bersikap pertengahan dan moderat, diantara sikap ghuluw (ekstrim) dan meremehkan, dan diantara sikap ifrath (berlebih-lebihan) dan tafrith (menggampangkan). Sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “Jauhilah oleh kalian sikap ghuluw di dalam agama, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa dikarenakan sikap ghuluw mereka di dalam agama.” Ini hadits shahih, dikeluarkan oleh an-Nasa’i dan selainnya.” ---------------------------------------------------- “Dan aku nasehatkan supaya mereka berhati-hati dari sikap zhalim, dikarenakan hadits Qudsi, “Wahai hamba-Ku, sesunguhnya Aku haramkan kezhaliman atas diri-Ku, maka aku jadikan pula haram atas diri kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi” diriwayatkan oleh Muslim, dan hadits Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “takutlah kalian dari kezhaliman, karena sesungguhnya kezhaliman itu adalah kegelapan di hari kiamat” diriwayatkan oleh Muslim. ------------------------------------------------------ Aku memohon kepada Allah Azza wa Jalla untuk menunjuki seluruh ummat kepada apa yang diridhai-Nya, agar mereka mendalami agama Islam (tafaqquh fid din) dan menetapi kebenaran, serta agar mereka menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dan menjauhkan dari apa-apa yang tidak bermanfaat. Sesungguhnya Ia berkuasa dan berkemampuan atasnya. Semoga Sholawat dan Salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya dan para sahabatnya. (selesai kutipan) ===========================================
  • mengutip perkataan Imam Albani rahimahullaahu

    “Wajib atas kita untuk berlemah lembut di dalam dakwah kita terhadap orang-orang yang menyelisihi kita, dan jadikan selalu firman Alloh Ta’ala berikut (sebagai pegangan) dan untuk selamanya : “Serulah mereka ke jalan Rabb-mu dengan hikmah dan nasehat yang baik, serta berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.” Dan mereka yang pertama lebih berhak untuk kita terapkan hikmah ini adalah mereka yang paling memusuhi kita di dalam dasar (mabda’) dan aqidah kita, hingga kita tidak menggabungkan antara beratnya dakwah yang haq yang Alloh memperteguh kita dengannya dengan beratnya cara (ushlub) kita berdakwah kepada Alloh Azza wa Jalla” ==================================================
  • Diriwayatkan bahwa Hasan Al-banna berkata: “Kami menginginkan terbentuknya sosok individu muslim, rumah tangga Islami, bangsa yang Islami, pemerintahan yang Islami, negara yang dipimpin oleh negara-negara Islam, menyatukan perpecahan kaum muslimin dan negara mereka yang terampas, kemudian membawa bendera jihad dan da’wah kepada Allah sehingga dunia mendapatkan ketentraman dengan ajaran-ajaran Islam.” ==================================================
  • warning

    dalam blog ini mungkin terdapat hadits dhoif, riwayat yang tidak valid, salah tulis, kutipan yg tidak sesuai syariat islam, dan berbagai kesalahan2 lain, dan belum sempat di sensor, jadi mohon maaf sebesar-besarnya

Persoalan -Persoalan Agama yang Telah Nyata dan Jelas dengan Telah Ditegakkannya Hujjah Allah Melalui Sampainya Alquran dan Sunnah

Allah menciptakan jin dan manusia tidak lain untuk beribadah kepada-Nya. Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56), dan Dia juga berfirman, “Hai manusia, sembahlkan Rabb-mu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah: 21).

Persoalan ini merupakan persoalan yang terbesar dan terpenting, yaitu bahwa kita harus mengetahui dengan penuh keyakinan bahwa Allah Ta’ala telah menciptakan kita semua supaya kita beribadah kepada Allah satu-satunya, menaati perintah-perintah-Nya dan menjauhi lkarangan-larangan-Nya, menjalankan ketentuan-ketentuannya, serta menjauhi apa-apa yang telah dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya Muhammad saw.

Persoalan tersebut mencakup perkara-perkara mengenai tauhid, yaitu kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, sebagai pengakuan dalam hati, yaitu keyakinan bahwa tidak ada yang berhak disembuh melainkan Allah-lah satu-satunya yang tidak ada sekutu bagi-Nya, hanya berdoa kepada-Nya, salat dan puasa untuk-Nya, dan semua ibadah lainnya hanya dipersembahkan untuk Dia Yang Maha Mulia, Allah SWT.

Perkara ini juga mencakup kesaksian bahwa Muhammad adalah rasul Allah dan bahwa Rasulullah saw adalah utusan yang haq, yang diutus oleh Allah kepada seluruh makhluk, dari jin dan manusia, bangsa Arab dan A’jam (non Arab). Mereka semua diwajibkan mempercayai Rasul ini dan menaatinya dan tunduk kepadanya, sebagaimana problem ibadah kepada Allah yang mencakup melaksanakan kewajiban-kewajiban Islam seperti slat, zakat, puasa, dan haji. (Lihat Fatawa, Syekh Abdul Aziz bin Baz, juz 5, h. 207 — 223).

Persoalan-persoalan di atas merupakan poros agama Islam sebagai kandungan dan inti dari agama ini. Perintah-perintah dan penjelasan mengenai hukum-hukumnya telah disampaikan secara mutawatir di dalam Alquran dan Sunnah Nabi. Oleh karena itu, persoalan ini dipandang sebagai pengetahuan yang jelas dan petunjuk yang pasti.

Sesuatu yang kemudian muncul dari persoalan-persoalan besar ini adalah bahwa hujjah Allah telah ditegakkan dengan penjelasan Alquran dan Sunnah. Maka setiap orang yang telah mengetahui Alquran dan Sunnah, telah ditegakkan hujjah baginya, dan tidak adalah alasan bagi seorang muslim untuk meninggalkan perkara tauhid dan ibadah dengan alasan apa pun, kecuali jika ia hidup di Daar Kufr atau hidup di wilayah terpencil dan jauh dari wilayah-wilayah yang pengetahuan tntang Alquran dan Sunnahnya telah tersebar, atau ia masih anak-anak ketika Islam datang. Adapun asalnya bahwa hujjah itu ditegakkan bagi orang-orang mukallaf, dan selanjutnya diikuti hukum-hukumnya dengan sampainya petunjuk dan masalah-masalah agama yang dibawa oleh Rasulullah saw kepadanya.

Syekh Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata, “Pokok-pokok agama, baik berupa masalah-masalah yang wajib diyakini, diucapkan secara lisan, dan dipraktikan dalam bentuk tindakan, seperti masalah-masalah tauhid, sifat-sifat, takdir, kenabian, dan hari akhir, atau dalil-dalil tentang masalah-masalah ini… Maka seluruh sarana yang diperlukan oleh manusia untuk mengetahuinya, meyakininya dan mempercayainya dari masalah-masalah ini, Allah dan Rasul-Nya telah menjelaskannya secara gamblang dan menggugurkan ‘udzr (alasan meninggalkannya); sebab hal ini merupakan perkara yang paling penting yang disampaikan oleh Rasulullah dan dan menjelaskannya kepada manusia, dan itu merupakan perkara yang paling besar yang mana Allah menegakkan hujjah bagi hamba-hamba-Nya melalui rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya yang menjelaskannya dan menyampaikannya kepada manusia. Kitab Allah yang disampaikan oleh para sahabat dan tabi’in dari Rasulullah saw, baik lafaz maupun maknanya, dan hikmah yang merupakan sunnah Rasulullah saw yang juga mereka riwayatkan dari beliau, mencakup tujuan yang dikehendaki-Nya dan kesempurnaan kewajiban-kewajiban dan amalan-amalan baik yang diperintah-Nya.” (Dar’u Ta’arudh al-‘Aql wa an-Naql, juz 1, h. 27 — 28).

Syekh Abdullah bin Abdul Wahhab Rahimahullan mengatakan, “Adapun pokok-pokok agama yang telah dijelaskan oleh Allah dan ditentukan di dalam kitab-Nya (Alquran), maka hujjah Allah itu adalah Alquran. Orang yang telah sampai kepadanya Alquran, maka hujjah pun telah ditegakkan baginya.” (Ar-Rasa’il asy-Syakhshiyah, juz 7, h. 244).

Syekh Abdullah al-Babithin Rahimahullah berkata, “Orang yang telah mengetahui kerasulan Muhammad saw dan telah sampai kepadanya Alquran, maka hujjah telah ditegakkan baginya, sehingga ia tidak diampuni jika tidak percaya kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir.” (Majmu’ah ar-Rasa’il wa al-Masa’il an-Najdiyah, juz 5, h. 510).

Syekh Hamad bin Mu’ammar Rahimahullah berkata, “Setiap orang yang telah sampai kepadanya Alquran tidak ada alasan baginya untuk meninggalkannya, karena pokok-pokok besar yang merupakan pokok agama Islam telah dijelaskan oleh Allah di dalam kitab-Nya dan dengannya Allah menegakkan hujjah bagi hamba-hamba-Nya.” (An-Nubdzah asy-Syarifah, h. 116).

Inilah persoalan yang telah ditetapkan oeh para ulama dengan memperhatikan sebagian besar hamba Allah secara umum yang merupakan orang-orang yang secar syar’i tidak mempunyai alasan untuk meninggalkan perintah Allah atau melanggar larangan-Nya.

Penyampaian (tabligh) dipandang telah dilaksanakan dengan melihat berbagai pertimbangan dan syarat-syarat. Di antara beberapa pertimbangan tersebut adalah diturunkannya nash-nash wahyu yang jelas dan menjelaskan, terutama dalam persoalan-persoalan dan pokok-pokok agama Islam di atas, sedangkan di antara syarat-syaratnya adalah adanya orang yang menyampaikannya yang mengetahui syariat, seperti dijelaskan sebelumnya.

Ketetapan ini berkaitan dengan persoalan-persoalan agama yang telah dijelaskan dan telah meluas di kalangan masyarakat. Sedangkan persoalan-persoalan yang detail (terperinci), samar, dan yang tidak ada pertentangannya dengan tauhid dan kerasulan, serta persoalan yang hanya diketahui oleh ulama, maka hal tersebut tidak termasuk dalam ketetapan yang telah kami kemukakan, sebagaimana dikemukakan oeh Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah sebagai berikut: “Golongan orang-orang yang belum ditegakkan hujjah bagi mereka adalah anak-anak yang hidup pada masa Islam awal, orang yang hidup di daerah terpencil, atau menghadapi persoalan yang samar, seperti jual beli, maka ia tidak dapat dikafirkan hingga ia mengetahui hukum-hukumnya.” (Mu’allafat asy-Syekh, juz 7, h. 244).

Mengenai rincian persoalan yang diperintahkan oleh Allah SWT telah diwakilkan kepada Rasulullah saw untuk menjelaskannya kepada manusia. Allah SWT telah berfirman, “Dan Kmi turunkan kepadamu Alquran, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka. (An-Nahl: 44).

Sabda Nabi saw yang mencakup persoalan ini adalah hadis sahih yang disampaikan oleh Nu’man bin Bashir ra, seraya berkata, Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Yang halal itu jelas dan yang haram juga jelas, sedang yang di antara keduanya adalah masalah-masalah syubhat, yang tidak diketahui oleh sebagian besar manusia. Orang yang meninggalkan syubhat, maka ia telah membersihkan agama dan kehormatannya, dan orang yang terjebak (melaksanakan) syubhat, maka ia telah terjebak dalam hal yang haram, seperti seorang penggembala yang menggembalakan di sekitar kandangnya yang hampir memakan rumput di dalamnya. Ketahuilah, sesungguhnya setiap raja memiliki larangan (sesuatu yang tidak boleh didekati) dan larangan Allah adalah hal-hal yang diharamkan-Nya.” (HR Bukhari).

Al-Hafizh Ibnu Rajab Rahimahullah mengatakan, “Secara umum (global), Allah dan Rasul-Nya tidak meninggalkan persoalan halal dan haram kecuali keduanya dijelaskan ketentuannya, akn tetapi sebagiannya lebih jelas keterangannya dari sebagian yang lain. Maka persoalan-persoalan agama yang secara pasti telah dijelaskan, telah tersebar, dan diketahui secara umum tidak ada keraguan di dalamnya dan tidak ada alasan bagi siapa pun yang hidup di lingkungan Islam untuk tidak mengetahuinya.” (Jami al-‘Ulum wa al-Hikam, h. 67).

Sumber: Al-Jahl bi Masail al-I’tiqad wa Hukmuhu, Abdurrzzaq bin Thahir bn Ahmad Ma’asy

 

www.alislamu.com
www.pakdenono.com

About these ads
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 296 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: