• Blog Stats

    • 38,108,122 hits
  • pacaran adalah perbuatan haram, maka janganlah berpacaran. Dan jangan mau jika diajak pacaran. Akan tetapi tempuhlah jalan yang halal jika memang benar-benar cinta dan ingin menikah. Segeralah menikah dan jangan berpacaran. ================================== dan janganlah kamu mendekati zina. sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk. [QS Al Isra':32] ==================================== JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA ====================================== Asy-Sya’bi berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah)
  • Artikel Terbaru

  • arsip artikel

  • wasiat untuk seluruh umat manusia

    kasihilah semua makhluk yang ada di muka bumi, niscaya Tuhan yang ada di atas langit akan mengasihimu.. =============================================== Cara mengasihi orang kafir diantaranya adalah dengan mengajak mereka masuk islam agar mereka selamat dari api neraka =============================================== wahai manusia, islamlah agar kalian selamat.... ======================================================
  • wasiat untuk seluruh umat islam

    ====================================== “Janganlah kamu saling dengki, saling membenci, saling mengintip rahasia, saling bersaing, saling mencari keburukan, saling menawar lebih tinggi untuk menipu pembeli sehingga menawar tinggi, saling memutuskan hubungan, saling bermusuhan, janganlah sebagian kalian menjual atas jualan yang lain. Jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang diperintahkan Allah. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh menganiaya, tidak boleh menelantarkannya dan tidak boleh menghinanya. ============================================= Taqwa ada di sini, taqwa ada di sini, taqwa ada di sini kata Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam sambil menunjuk dadanya. ================================================= Cukuplah merupakan kejelekan seseorang apabila menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain adalah haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. Hati-hatilah bersangka buruk, karena sesungguhnya bersangka buruk adalah omongan yang paling dusta. ==================================================== Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk kamu dan hartamu, tetapi ia melihat hati dan perbuatanmu.” (riwayat Muslim dan Bukhari). ==========================================
  • BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR

    BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- -------------------------------------------------------------------------------------------- Orang yang mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi janda dan orang miskin ibarat berjihad di jalan Allah dan ibarat orang shalat malam (HR. Bukhari) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain. (HR. Ahmad) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersodaqoh dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana. (HR. Ath-Thabrani) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sodaqoh. (HR. Al-Baihaqi) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Tiap-tiap amalan makruf (kebajikan) adalah sodaqoh. Sesungguhnya di antara amalan makruf ialah berjumpa kawan dengan wajah ceria (senyum) dan mengurangi isi embermu untuk diisikan ke mangkuk kawanmu. (HR. Ahmad) ------------------------------------------------------------------------------------------------------------
  • berbuat baiklah pada semua binatang, termasuk kepada anjing

    Kita tidak diperbolehkan menyiksa binatang dengan cara apa pun, atau membuatnya kelaparan, memukulinya, membebaninya dengan sesuatu yang ia tidak mampu, menyiksa atau membakarnnya. --------------------------------------------------- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Seorang wanita masuk neraka karena seekor kucing yang ia kurung hingga mati. Maka dari itu ia masuk neraka gara-gara kucing tersebut disebabkan dia tidak memberinya makan dan tidak pula memberinya minum di saat mengurung nya, dan dia tidak membiarkannya (melepaskannya) supaya memakan serangga di bumi.” (HR. al-Bukhari) ------------------------------------------------------- Dan ketika beliau melewati sarang semut yang telah dibakar, beliau bersabda, “Sesungguhnya tidak ada yang berhak menyiksa dengan api selain Rabb (Tuhan) pemilik api.” (HR. Abu Dawud, hadits shahih) ---------------------------------------------- “Barangsiapa yang tidak berbelas kasih niscaya tidak akan dibelaskasihi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) ------------------------------------------------- “Kasihanilah siapa saja yang ada di bumi ini, niscaya kalian akan dikasihani oleh yang ada di langit.” (HR. at-Tirmidzi) -------------------------------------------------- Dibolehkan membunuh hewan-hewan yang membahayakan atau mengganggu seperti anjing buas, serigala, ular, kalajengking, tikus dan lain-lain karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Ada lima macam hewan fasik (buruk) yang boleh dibunuh di waktu halal (tidak ihram) dan di waktu ihram, yaitu ular, burung gagak yang putih punggung dan perutnya, tikus, anjing buas, dan rajawali.” (HR. Muslim). Juga terdapat hadits shahih yang membolehkan untuk membunuh kalajengking. ================================================
  • JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA

    ====================================== ‘Amr bin Syarahil Asy-Sya’bi rahimahullahu berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah, 2/636. Dihasankan oleh Al-Albani dalam At-Tahrim, hal. 148) ----------------------------------------------------------------------------- Ibnu Abdil Barr rahimahullahu berkata: “Termasuk hasil usaha yang disepakati keharamannya adalah riba, upah para pelacur, sogokan (suap), mengambil upah atas meratapi (mayit), nyanyian, perdukunan, mengaku mengetahui perkara gaib dan berita langit, hasil seruling dan segala permainan batil.” (Al-Kafi hal. 191) ---------------------------------------------------------------------- Ath-Thabari rahimahullahu berkata: “Telah sepakat para ulama di berbagai negeri tentang dibenci dan terlarangnya nyanyian.” (Tafsir Al-Qurthubi, 14/56) ------------------------------------------------------------------- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “Mazhab empat imam menyatakan bahwa alat-alat musik semuanya haram.” Lalu beliau menyebutkan hadits riwayat Al-Bukhari rahimahullahu . (Majmu’ Fatawa, 11/576) --------------------------------------------------------------- ------------------------------------------
  • wasiat bagi para pemuda

    ====================================== ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Barangsiapa di antara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya mereka adalah ummat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, dan paling lurus petunjuknya, serta paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya, karena mereka berada di jalan yang lurus.” [Dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Baar dalam kitabnya Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih II/947 no. 1810, tahqiq Abul Asybal Samir az-Zuhairy] ======================================
  • wasiat Imam al-Auza’i

    ====================================== Imam al-Auza’i rahimahullah (wafat th. 157 H) mengatakan: “Bersabarlah dirimu di atas Sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para Shahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan Salafush Shalih, karena akan mencukupi kamu apa saja yang mencukupi mereka.” [Syarh Ushul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah 1/174 no. 315] --------------------------------------------------------------- Beliau rahimahullah juga berkata: “Hendaklah kamu berpegang kepada atsar Salafush Shalih meskipun orang-orang menolaknya dan jauhkanlah diri kamu dari pendapat orang meskipun ia hiasi pendapatnya dengan perkataannya yang indah.” [Imam al-Aajury dalam as-Syari’ah I/445 no. 127, di-shahih-kan oleh al-Albany dalam Mukhtashar al-‘Uluw lil Imam adz-Dzahaby hal. 138, Siyar A’laam an-Nubalaa’ VII/120] =================================================
  • Mengutip perkataan Syaikh Bin Baz rahimahullaahu

    “Zaman ini adalah zaman kelembutan, kesabaran dan hikmah, bukanlah zaman kekerasan (kebengisan). Mayoritas manusia saat ini dalam keadaan jahil (bodoh), lalai dan lebih mementingkan duniawiyah. Maka haruslah sabar dan lemah lembut sampai dakwah ini tersampaikan dan sampai mereka mengetahuinya. Kami mohon petunjuk kepada Alloh untuk semuanya.” (Majmu’ Fatawa Samahatul Imam Ibnu Bazz (Juz VIII, hal 376) dan (Juz X, hal. 91) =================================================
  • jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara

    ====================================== Segala puji hanyalah milik Alloh yang telah mempertautkan hati kaum mukminin dan menganjurkan mereka supaya bersatu padu dan saling berhimpun serta memperingatkan dari perpecahan dan perselisihan. -------------------------------------------------------- Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq untuk disembah melainkan hanyalah Alloh semata yang tidak memiliki sekutu. Dialah yang mensyariatkan dan memudahkan, dan Dia terhadap kaum mukminin adalah sangat penyantun. ------------------------------------------------------ Saya juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang diperintahkan dengan kemudahan dan berita gembira. ----------------------------------------------------- Beliau bersabda : Permudahlah dan janganlah kamu persulit, berikanlah kabar gembira dan janganlah membuat orang lari (dari kebenaran). ------------------------------------------------------ Permisalan kaum mukminin satu dengan lainnya dalam hal kasih sayang, tolong menolong dan kecintaan, bagaikan tubuh yang satu, jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan merasa demam atau terjaga” --------------------------------------------------- Tidak ragu lagi, bahwa kewajiban Ahlus Sunnah di setiap zaman dan tempat adalah saling bersatu dan menyayangi di antara mereka serta saling bekerja sama di dalam kebajikan dan ketakwaan… ==================================================---------------
  • KHUTBATUL HAJAH

    ====================================== Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, dan meminta ampun kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami, dan dari keburukan-keburukan perbuatan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah saja, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. ================================================ “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” ================================================== “Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan darinya Allah menciptakan isterinya; dan dari keduanya Allah mengembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silatur rahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” ========================================================= “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mena’ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. ============================================================ Amma ba’du; Maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad , dan seburuk-buruk perkara dalam agama adalah yang di ada-adakan, setiap yang diada-adakan (dalam urusan agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan. (HR. Muslim, an-Nasa’i dan selain keduanya) ==================================================
  • Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka (al baqarah ayat 120)

  • SALAFY & WAHABI BUKANLAH ALIRAN SESAT

    Al-Malik Abdul Aziz berkata : “Aku adalah penyeru kepada aqidah Salafush Shalih, dan aqidah Salafush Shalih adalah berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang datang dari Khulafaur Rasyidin” [Al-Wajiz Fi Siratil Malik Abdul Aziz hal.216] ------------------------------------------------------------------------------------- Beliau juga berkata : “Mereka menamakan kami Wahabiyyin, dan menamakan madzhab kami adalah madzhab wahabi yang dianggap sebagai madzhab yang baru. Ini adalah kesalahan fatal, yang timbul dari propaganda-propaganda dusta yang disebarkan oleh musuh-musuh Islam. Kami bukanlah pemilik madzhab baru atau aqidah baru. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tidak pernah mendatangkan sesuatu yang baru, aqidah kami adalah aqidah Salafush Shalih yang datang di dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang ditempuh oleh Salafush Shalih. Kami menghormati imam empat, tidak ada perbedaan di sisi kami antara para imam : Malik, Syafi’i, Ahmad dan Abu Hanifah, semuanya terhormat dalam pandangan kami” [Al-Wajiz Fi Siratil Malik Abdul Aziz, hal. 217] ---------------------------------------------------------
  • mengutip perkataan Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad hafizhahullaahu:

    “Telah terjadi di zaman ini, sibuknya sebagian ahlus sunnah dengan sebagian lainnya dengan tajrih (saling mencela) dan tahdzir, dan implikasi dari hal ini menyebabkan terjadinya perpecahan, perselisihan dan saling mengisolir. Padahal sepantasnya bahkan seharusnya bagi mereka untuk saling mencintai dan berkasih sayang terhadap sesama mereka, dan menyatukan barisan mereka di dalam menghadapi ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu yang menyelisihi ahlus sunnah wal jama’ah. ---------------------------------------------------- “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- agar menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dari perkara-perkara yang tidak bermanfaat bagi mereka, sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “diantara kebaikan seorang muslim adalah meninggalkan hal-hal yang tidak berfaidah baginya.” Hadits hasan diriwayatkan oleh Turmudzi.” ------------------------------------------------------ “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- untuk bersikap pertengahan dan moderat, diantara sikap ghuluw (ekstrim) dan meremehkan, dan diantara sikap ifrath (berlebih-lebihan) dan tafrith (menggampangkan). Sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “Jauhilah oleh kalian sikap ghuluw di dalam agama, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa dikarenakan sikap ghuluw mereka di dalam agama.” Ini hadits shahih, dikeluarkan oleh an-Nasa’i dan selainnya.” ---------------------------------------------------- “Dan aku nasehatkan supaya mereka berhati-hati dari sikap zhalim, dikarenakan hadits Qudsi, “Wahai hamba-Ku, sesunguhnya Aku haramkan kezhaliman atas diri-Ku, maka aku jadikan pula haram atas diri kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi” diriwayatkan oleh Muslim, dan hadits Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “takutlah kalian dari kezhaliman, karena sesungguhnya kezhaliman itu adalah kegelapan di hari kiamat” diriwayatkan oleh Muslim. ------------------------------------------------------ Aku memohon kepada Allah Azza wa Jalla untuk menunjuki seluruh ummat kepada apa yang diridhai-Nya, agar mereka mendalami agama Islam (tafaqquh fid din) dan menetapi kebenaran, serta agar mereka menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dan menjauhkan dari apa-apa yang tidak bermanfaat. Sesungguhnya Ia berkuasa dan berkemampuan atasnya. Semoga Sholawat dan Salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya dan para sahabatnya. (selesai kutipan) ===========================================
  • mengutip perkataan Imam Albani rahimahullaahu

    “Wajib atas kita untuk berlemah lembut di dalam dakwah kita terhadap orang-orang yang menyelisihi kita, dan jadikan selalu firman Alloh Ta’ala berikut (sebagai pegangan) dan untuk selamanya : “Serulah mereka ke jalan Rabb-mu dengan hikmah dan nasehat yang baik, serta berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.” Dan mereka yang pertama lebih berhak untuk kita terapkan hikmah ini adalah mereka yang paling memusuhi kita di dalam dasar (mabda’) dan aqidah kita, hingga kita tidak menggabungkan antara beratnya dakwah yang haq yang Alloh memperteguh kita dengannya dengan beratnya cara (ushlub) kita berdakwah kepada Alloh Azza wa Jalla” ==================================================
  • Diriwayatkan bahwa Hasan Al-banna berkata: “Kami menginginkan terbentuknya sosok individu muslim, rumah tangga Islami, bangsa yang Islami, pemerintahan yang Islami, negara yang dipimpin oleh negara-negara Islam, menyatukan perpecahan kaum muslimin dan negara mereka yang terampas, kemudian membawa bendera jihad dan da’wah kepada Allah sehingga dunia mendapatkan ketentraman dengan ajaran-ajaran Islam.” ==================================================
  • warning

    dalam blog ini mungkin terdapat hadits dhoif, riwayat yang tidak valid, salah tulis, kutipan yg tidak sesuai syariat islam, dan berbagai kesalahan2 lain, dan belum sempat di sensor, jadi mohon maaf sebesar-besarnya

Kumpulan biografi para ulama islam – Kumpulan biografi para ulama salafy – Kumpulan biografi para ulama salafi – biografi para tokoh Wahabi – biografi para tokoh islam – biografi para ulama arab saudi – biografi ulama islam – kisah hidup para ulama salafi – kisah perjalanan hidup para ulama ahlus sunnah wal jamaah – kisah hidup para tokoh salafi – biografi ulama timur tengah

Kumpulan biografi para ulama islam – Kumpulan biografi para ulama salafy – Kumpulan biografi para ulama salafi – biografi para tokoh Wahabi  – biografi para tokoh islam – biografi para ulama arab saudi – biografi ulama islam – kisah hidup para ulama salafi – kisah perjalanan hidup para ulama ahlus sunnah wal jamaah – kisah hidup para tokoh salafi – biografi ulama timur tengah
==================================================================
Siapakah Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani ??

—————————————–

 Soal:

Pada edisi 06/VI/1423H-2002H, rubrik Risalatikum memuat pertanyaan dari Akh
M.Zainul Musthafa, Sorong, Papua Barat mengenai sosok Syeikh Abdul Qadir Al
Jailani. Berikut ini jawaban yang kami janjikan.

 Jawab :

Syeikh Abdul Qadir Al Jailani adalah seorang ‘alim di Baghdad. Biografi
beliau dimuat dalam Kitab Adz Dzail ‘Ala Thabaqil Hanabilah I/301-390, nomor
134, karya Imam Ibnu Rajab Al Hambali. Buku ini belum diterjemahkan ke dalam
bahasa Indonesia. Imam Ibnu Rajab menyatakan bahwa Syeikh Abdul Qadir Al
Jailani lahir pada tahun 490/471 H di kota Jailan atau disebut juga dengan
Kailan. Sehingga diakhir nama beliau ditambahkan kata Al Jailani atau Al
Kailani atau juga Al Jiliy. Wafat pada hari Sabtu malam, setelah maghrib,
pada tanggal 9 Rabi’ul Akhir tahun 561 H di daerah Babul Azaj. Beliau
meninggalkan tanah kelahiran, dan merantau ke Baghdad pada saat beliau masih
muda. Di Baghdad belajar kepada beberapa orang ulama’ seperti Ibnu Aqil,
Abul Khatthat, Abul Husein Al Farra’ dan juga Abu Sa’ad Al Muharrimi. Beliau
belajar sehingga mampu menguasai ilmu-ilmu ushul dan juga
perbedaan-perbedaan pendapat para ulama’. Suatu ketika Abu Sa’ad Al
Mukharrimi membangun sekolah kecil-kecilan di daerah yang bernama Babul
Azaj. Pengelolaan sekolah ini diserahkan sepenuhnya kepada Syeikh Abdul
Qadir Al Jailani. Beliau mengelola sekolah ini dengan sungguh-sungguh.
Bermukim disana sambil memberikan nasehat kepada orang-orang yang ada
tersebut. Banyak sudah orang yang bertaubat demi mendengar nasehat beliau.
Banyak orang yang bersimpati kepada beliau, lalu datang ke sekolah beliau.
Sehingga sekolah itu tidak kuat menampungnya. Maka, diadakan perluasan.
Murid-murid beliau banyak yang menjadi ulama’ terkenal. Seperti Al Hafidz
Abdul Ghani yang menyusun kitab Umdatul Ahkam Fi Kalami Khairil Anam. Juga
Syeikh Qudamah penyusun kitab figh terkenal Al Mughni.

Syeikh Ibnu Qudamah rahimahullah ketika ditanya tentang Syeikh Abdul Qadir,
beliau menjawab, ” kami sempat berjumpa dengan beliau di akhir masa
kehidupannya. Beliau menempatkan kami di sekolahnya. Beliau sangat perhatian
terhadap kami. Kadang beliau mengutus putra beliau yang bernama Yahya untuk
menyalakan lampu buat kami. Beliau senantiasa menjadi imam dalam shalat
fardhu.” Syeikh Ibnu Qudamah sempat tinggal bersama beliau selama satu bulan
sembilan hari. Kesempatan ini digunakan untuk belajar kepada Syeikh Abdul
Qadir Al Jailani sampai beliau meninggal dunia. 1) Beliau adalah seorang
‘alim. Beraqidah Ahlu Sunnah, mengikuti jalan Salafush Shalih. Dikenal
banyak memiliki karamah-karamah. Tetapi banyak (pula) orang yang
membuat-buat kedustaan atas nama beliau. Kedustaan itu baik berupa
kisah-kisah, perkataan-perkataan, ajaran-ajaran, “thariqah” yang berbeda
dengan jalan Rasulullah, para sahabatnya, dan lainnya. Diantara perkataan
Imam Ibnu Rajab ialah, ” Syeikh Abdul Qadir Al Jailani adalah seorang yang
diagungkan pada masanya. Diagungkan oleh banyak para syeikh, baik ‘ulama dan
para ahli zuhud. Beliau banyak memiliki keutamaan dan karamah. Tetapi ada
seorang yang bernama Al Muqri’ Abul Hasan Asy Syathnufi Al Mishri ( orang
Mesir ) 2)  mengumpulkan kisah-kisah dan keutamaan-keutamaan Syeikh Abdul
Qadir Al Jailani dalam tiga jilid kitab. Dia telah menulis perkara-perkara
yang aneh dan besar ( kebohongannya ). Cukuplah seorang itu berdusta, jika
dia menceritakan yang dia dengar. Aku telah melihat sebagian kitab ini,
tetapi hatiku tidak tentram untuk beregang dengannya, sehingga aku
meriwayatkan apa yang ada di dalamnya. Kecuali kisah-kisah yang telah
mansyhur dan terkenal dari selain kitab ini. Karena kitab ini banyak berisi
riwayat dari orang-orang yang tidak dikenal. Juga terdapat perkara-perkara
yang jauh ( dari agama dan akal ), kesesatan-kesesatan, dakwaan-dakwaan dan
perkataan yang batil tidak berbatas.3)  semua itu tidak pantas dinisbatkan
kepada Syeikh Abdul Qadir Al Jailani rahimahullah. Kemudian aku dapatkan
bahwa Al Kamal Ja’far Al Adfwi4)  telah menyebutkan, bahwa Asy Syath-nufi
sendiri tertuduh berdusta atas kisah-kisah yang diriwayatkannya dalam kitab
ini.”5)   Imam Ibnu Rajab juga berkata, ” Syeikh Abdul Qadir Al Jailani
rahimahullah memiliki pendapat memiliki pendapat yang bagus dalam masalah
tauhid, sifat-sifat Allah, takdir, dan ilmu-ilmu ma’rifat yang sesuai dengan
sunnah. Beliau memiliki kitab Al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq, kitab yang
terkenal. Beliau juga mempunyai kitab Futuhul Ghaib. Murid-muridnya
mengumpulkan perkara-perkara yang berkaitan dengan nasehat dari
majelis-majelis beliau. Dalam masalah-masalah sifat, takdir dan lainnya, ia
berpegang dengan sunnah. Beliau membantah dengan keras terhadap orang-orang
yang menyelisihi sunnah .” Syeikh Abdul Qadir Al Jailani menyatakan dalam
kitabnya, Al Ghunyah, ” Dia ( Allah ) di arah atas, berada diatas ‘arsyNya,
meliputi seluruh kerajaanNya. IlmuNya meliputi segala sesuatu.” Kemudian
beliau menyebutkan ayat-ayat dan hadist-hadist, lalu berkata ” Sepantasnya
menetapkan sifat istiwa’ ( Allah berada diatas ‘arsyNya ) tanpa takwil (
menyimpangkan kepada makna lain ). Dan hal itu merupakan istiwa’ dzat Allah
diatas arsys.”6) Ali bin Idris pernah bertanya kepada Syeikh Abdul Qadir Al
Jailani, ” Wahai tuanku, apakah Allah memiliki wali ( kekasih ) yang tidak
berada di atas aqidah ( Imam ) Ahmad bin Hambal?” Maka beliau menjawab, “
Tidak pernah ada dan tidak akan ada.”7)

Perkataan Syeikh Abdul Qadir Al Jailani tersebut juga dinukilkan oleh
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Al Istiqamah I/86. Semua itu
menunjukkan kelurusan aqidahnya dan penghormatan beliau terhadap manhaj
Salaf.

Sam’ani berkata, ” Syeikh Abdul Qadir Al Jailani adalah penduduk kota
Jailan. Beliau seorang Imam bermadzhab Hambali. Menjadi guru besar madzhab
ini pada masa hidup beliau.”

Imam Adz Dzahabi menyebutkan biografi Syeikh Abdul Qadir Al Jailani dalam
Siyar A’lamin Nubala, dan menukilkan perkataan Syeikh sebagai berikut,”Lebih
dari lima ratus orang masuk Islam lewat tanganku, dan lebih dari seratus
ribu orang telah bertaubat.”

Imam Adz Dzahabi menukilkan perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan
Syeikh Abdul Qadir yang aneh-aneh sehingga memberikan kesan seakan-akan
bekiau mengetahui hal-hal yang ghaib. Kemudian mengakhiri perkataan, “
Intinya Syeikh Abdul Qadir memiliki kedudukan yang agung. Tetapi terdapat
kritikan-kritikan terhadap sebagian perkataannya dan Allah menjanjikan (
ampunan  atas kesalahan-kesalahan orang beriman ). Namun sebagian
perkataannya merupakan kedustaan atas nama beliau.”( Siyar XX/451 ).

Imam Adz Dzahabi juga berkata, ” Tidak ada seorangpun para kibar masyasyeikh
yang riwayat hidup dan karamahnya lebih banyak kisah hikayat, selain Syeikh
Abdul Qadir Al Jailani, dan banyak diantara riwayat-riwayat itu yang tidak
benar bahkan ada yang mustahil terjadi “.

Syeikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali berkata dalam kitabnya, Al Haddul Fashil,
hal.136, ” Aku telah mendapatkan aqidah beliau  ( Syeikh Abdul Qadir Al
Jailani ) didalam kitabnya yang bernama Al Ghunyah.8)  Maka aku mengetahui
dia sebagai seorang Salafi. Beliau menetapkan nama-nama dan sifat-sifat
Allah dan aqidah-aqidah lainnya di atas manhaj Salaf. Beliau juga membantah
kelompok-kelompok Syi’ah, Rafidhah, Jahmiyyah, Jabariyyah, Salimiyah, dan
kelompok lainnya dengan manhaj Salaf.”9)

Inilah tentang beliau secara ringkas. Seorang ‘alim Salafi, Sunni, tetapi
banyak orang yang menyanjung dan membuat kedustaan atas nama beliau.
Sedangkan beliau berlepas diri dari semua kebohongan itu. Wallahu a’lam
bishshawwab.

Kesimpulannya beliau adalah seorang ‘ulama besar. Apabila sekarang ini
banyak kaum muslimin menyanjung-nyanjungnya dan mencintainya, maka suatu
kewajaran. Bahkan suatu keharusan. Akan tetapi kalau meninggi-ninggikan
derajat beliau di atas Rasulullah , maka hal ini merupakan kekeliruan.
Karena Rasulullah adalah rasul yang paling mulia diantara para nabi dan
rasul. Derajatnya tidak akan terkalahkan disisi Allah oleh manusia manapun.

Adapun sebagian kaum muslimin yang menjadikan Syeikh Abdul Qadir Al Jailani
sebagai wasilah ( perantara ) dalam do’a mereka. Berkeyakinan bahwa do’a
seseorang tidak akan dikabulkan oleh Allah, kecuali dengan perantaranya. Ini
juga merupakan kesesatan. Menjadikan orang yang meningal sebagai perantara,
maka tidak ada syari’atnya dan ini diharamkan. Apalagi kalau ada orang yang
berdo’a kepada beliau. Ini adalah sebuah kesyirikan besar. Sebab do’a
merupakan salah satu bentuk ibadah yang tidak diberikan kepada selain Allah.
Allah melarang mahluknya berdo’a kepada selain Allah,

 

Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah.

Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya

Disamping ( menyembah ) Allah.

( QS. Al-Jin : 18 )

 

Jadi sudah menjadi keharusan bagi setiap muslim untuk memperlakukan para
‘ulama dengan sebaik mungkin, namun tetap dalam batas-batas yang telah
ditetapkan syari’ah.

Akhirnya mudah-mudahan Allah senantiasa memberikan petunjuk kepada kita
sehingga tidak tersesat dalam kehidupan yang penuh dengan fitnah ini.

Wallahu a’lam bishshawab.

1)     Siyar A’lamin Nubala XX/442

2)     Nama lengkapnya adalah Ali Ibnu Yusuf bin Jarir Al Lakh-mi Asy
Syath-Nufi. Lahir di Kairo tahun 640 H, meninggal tahun 713 H. Dia dituduh
berdusta dan tidak bertemu dengan Syeikh Abdul Qadir Al Jailani.

3)     Seperti kisah Syeikh Abdul Qadir menghidupkan ayam yang telah mati,
dan sebagainya.

4)     Nama lengkapnya ialah Ja’far bin Tsa’lab bin Ja’far bin Ali bin
Muthahhar bin Naufal Al Adfawi. Seoarang ‘ulama bermadzhab Syafi’i.
Dilahirkan pada pertengahan bulan Sya’ban tahun 685 H. Wafat tahun 748 H di
Kairo. Biografi beliau dimuat oleh Al Hafidz di dalam kitan Ad Durarul
Kaminah, biografi nomor 1452.

5)     Dinukil dari kitab At Tashawwuf Fii Mizanil Bahtsi Wat Tahqiq, hal.
509, karya Syeikh Abdul Qadir bin Habibullah As Sindi, Penerbit Darul Manar,
Cet. II, 8 Dzulqa’dah 1415 H / 8 April 1995 M.

6)     At Tashawwuf Fii Mizanil Bahtsi Wat Tahqiq, hal. 515.

7)     At Tashawwuf Fii Mizanil Bahtsi Wat Tahqiq, hal. 516.

8)     Lihat kitab Al-Ghunyah I/83-94.

9) At Tashawwuf Fii Mizanil Bahtsi Wat Tahqiq, hal. 509, karya Syeikh Abdul
Qadir bin Habibullah As Sindi, Penerbit Darul Manar, Cet. II, 8 Dzulqa’dah
1415 H / 8 April 1995 M.

————————————————————————————————————————
sumber: Majalah Assunnah Edisi 07/Tahun VI/1423H/2002M ( www.bukhari.or.id )
————————————————————————————————————————-
Kumpulan biografi para ulama islam – Kumpulan biografi para ulama salafy – Kumpulan biografi para ulama salafi – biografi para tokoh Wahabi  – biografi para tokoh islam – biografi para ulama arab saudi – biografi ulama islam – kisah hidup para ulama salafi – kisah perjalanan hidup para ulama ahlus sunnah wal jamaah – kisah hidup para tokoh salafi – biografi ulama timur tengah

About these ads

8 Tanggapan

  1. Biografi : Syaikh Abu Usamah Salim Ibn `Eid Al-Hilali

    Tempat dan tanggal lahir:
    Beliau dilahirkan di Al-Khalil (Hebron), Palestina pada 1377 H (1957 M)

    Latar belakang pendidikan:
    Beliau menemani Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani (rahimahullaah) – Ahli Hadits dan Mujaddid pada abad ini – dan berguru kepadanya selama seperempat abad (25 tahun). Beliau bertemu dan belajar dengan banyak `ulama di India, Pakistan dan Hijaz, yang memberinya ijazah (pengakuan) untuk mengajar dan menyampaikan dari mereka. Seperti Syaikh Badi` Ar-Rashidi (Ahli Hadits dari Sind), Syaikh Muhibbuddin Ar-Rashidi, Syaikh `Abdul Ghafar hasan, Syaikh Muhammad `Abdah Al-Falaah, Syaikh ‘Ataa-ulaah Hanif (Ahli Hadits dari Punjab) dan Syaikh Hammad Al-Anshori (Ahli Hadits dari Madinah)

    Peranan beliau dalam dakwah:
    Beliau berperan aktif dalam menyerukan kepada Manhaj Salaf. Beliau mungkin adalah salah satu Syaikh Salafi yang paling terkenal di barat karena beliau secara konstan mengunjungi dan menghadiri kinferensi Islam, seminar dan program di Inggris dan Amerika Serikat. Beliau juga mengajar di Yordania, sehingga menghasilkan banyak rekaman dalam bahasa Arab dan Inggris (terjemahan).

    Karya beliau :

    Beliau telah menulis banyak buku dan yang sudah dicetak adalah lebih dari 100 buku. Diantaranya :

    1. Bahjatun-Nadhirin Syarh Riyadhus Shalihin (3 jilid) [penjelasan kitab Riyadhus-Shalihin]
    2. Mawsuu’atul-Manaahii asy-Syara’iyyah fi Shahih As-Sunnah an- Nabawiyyah (4 jilid)
    3. Kifaayatul-Hafadza Syarh Muqaddimah al-Muqidhah [Penjelasan sebuah buku tentang Terminologi Hadits]
    4. Limaadza Akhtartu al-Manhaj as-Salafi [mengapa memilih manhaj Salaf]
    5. Basho’ir Dhiwi Syaraf [Sebuah buku yang menjelaskan beberapa prinsip Manhaj Salaf]
    6. Mu’alifaat Sa’id Hawa [Kritik ilmiah terhadap buku-buku Sa`id hawa]
    7. Al-Jama’at al-islamiyyah [Buku tentang jama`ah-jama`ah Islam] beliau menulis buku ini ketika berusia 25 tahun.

    8. Al-Qabiduun `alal-Jamr [Pengikut Sunnah - Mereka yang memegang bara api]
    9. Madaarij al-`Ubudiyyah
    10. Tuubaa Lil-Ghurabaa [Koleksi dan tahqiq hadits tentang Al-Ghuroba]
    11. As-Sabr
    12. Maqaami’ ash-Shaytaan
    13. Halaawatul-Eemaan [Manisnya Iman]
    14. Qisat Ka’ab Ibn Maalik [Faedah dari hadits Ka'ab Ibn Maalik]
    15. Al-Qoulul-Mubin fi Jamaa’atul-Muslimin
    16. Ar-Riyaa
    17. Al-Hayaa
    18. Makaarim al-Akhlaaq

    Selain buku-buku yang beliau tulis, Beliau juga memeriksa, men-tahqiq dan meringkas sejumlah kitab `ulama sebelumnya, seperti:
    1. Al-Waabil as-Sayyib oleh Ibn Al-Qayyim (ringkasan)
    2. Al-`Itishom oleh As-Syathibi (2 jilid)
    3. Taklid buta Madzhab oleh al-Ma’sumi
    3. Al-Adzkaar oleh An-Nawawi (2 jilid)
    4. `Uddat-us-Shabirin of Ibn Al-Qayyim
    5. Jaami’ul`Ulum walHikam of Ibn Rajab (ringkasan)
    Beliau juga menulis banyak artikel dan dokumen penelitian tentang
    Manhaj dan Aqidah, yang terdapat pada banyak majalah Islami dan surat
    kabar.

    Tugas Beliau:
    Beliau adalah salah satu pendiri majalah Salafi Ash-Shalah, dan menjabat sebagai direktur utamanya.
    Beliau adalah pendiri dan anggota direksi Markaz al-Imam Al-Albani di Yordania, yang membuat karya-karya ilmiah dan mengadakan acara dan seminar.

    Diterjemahkan dari http://www.al-manhaj.com

    ———————————
    Berikut ini naskah aslinya:

    Biographies

    Shaikh Abu Usaamah Saleem Ibn `Eid Al-Hilaalee

    Author: Autobiography
    Source: A one-page document he gave to SSNA
    Translator: Al-Manhaj.Com Staff (with additional info)

    ———————————————————————-
    ———-
    Place and Date of Birth:
    He was born in Al-Khaleel (Hebron), Palestine in 1377H (1957 CE)
    Level of Education:
    Post-Graduate Studies in the subject of “Prophetic Hadeeth.”

    Educational Background:
    He accompanied Shaikh Muhammad Naasir-ud-Deen Al-Albaanee
    (rahimahullaah) – the Authority of Hadeeth of our time and the
    Reviver of Islaam in this century – and served as a student under him
    for the length of one quarter of a century (25 years).

    He met and studied with many of the people of knowledge in India,
    Pakistan and the Hijaaz, who certified him with ijaazahs (religious
    approvals) to teach and narrate from them. Such scholars include
    Shaikh Badee’ Ar-Raashidee (the Muhaddith of Sind), Shaikh Muhibb-ud-
    Deen Ar-Raashidee, Shaikh ‘Abd-ul-Ghafaar Hasan, Shaikh
    Muhammad ‘Abdah Al-Falaah, Shaikh ‘Ataa-ulaah Haneef (the Muhaddith
    of Punjab) and Shaikh Hammaad Al-Ansaaree (the Muhaddith of
    Madeenah).

    His Role in Daw’ah:
    The Shaikh has an active role in calling to the Methodology of the
    Salaf. He is probably one of the most famous of the Salafee Shaikhs
    in the west due to his constant visiting and attending of Islamic
    conferences, seminars and programs in England and the United States.
    He also teaches and gives lectures in Jordan, thus he has produced
    many tapes in both Arabic and English (translated).

    Books Authored:
    He has authored numerous books of which over a hundred have been
    printed. These include:

    1. Bahjat-un-Naadhireen Sharh Riyaad As-Saaliheen (3 volumes) [An
    explanation of Riyaadh As-Saaliheen]
    2. Mawsoo’at-ul-Manaahee ash-Shara’iyyah fee Saheeh As-Sunnat-in-
    Nabawiyyah (4 volumes)
    3. Kifaayat-ul-Hafadha Sharh Muqaddimat-ul-Mooqidhah [An Explanation
    of a book on the Terminology of Hadeeth]
    4. Limaadha Akhtartu al-Manhaj as-Salafee [Why I chose the Salafee
    Manhaj]
    5. Basaa’ir Dhiwee Sharaf [A Book explaining some principles of the
    Salafi Manhaj]
    6. Mu’alifaat Sa’eed Hawaa [A critical analysis on the books of
    Sa'eed Hawaa]
    7. Al-Jamaa’aat al-islaamiyyah [A Book about Islamic groups][1]
    8. Al-Qaabidoon `alaal-Jamr [Adherents of the Sunnah - Those who hold
    onto hot coals]
    9. Madaarij al-`Uboodiyyah [The Levels of Servitude]
    10. Toobaa Lil-Ghurabaa [A collection and verification of the
    ahaadeeth on the Strangers]
    11. As-Sabr [Patience]
    12. Maqaami’ ash-Shaytaan [Ways of Preventing the Devil]
    13. Halaawat-ul-Eemaan [The Sweetness of Faith]
    14. Qisat Ka’ab Ibn Maalik [Benfits derived form the hadeeth of Ka'ab
    Ibn Maalik]
    15. Al-Qawl-ul-Mubeen fee Jamaa’at-ul-Muslimeen [Decisive Word on the
    Muslim Jamaa'ah]
    16. Ar-Riyaa [Dispraise of doing deeds to be seen]
    17. Al-Hayaa [Modesty in the Qur'aan and Sunnah]
    18. Makaarim al-Akhlaaq [Righteous Characteristics]

    Apart from these many works he has authored, the Shaikh has also
    checked, verified and abridged numerous books from the scholars of
    the past, such as:

    1. Al-Waabil as-Sayyib of Ibn Al-Qayyim (with abridgement)
    2. Al-`Itisaam of As-Shaatibee (2 volumes)
    3. Blind Following of the Madh-habs of Al-Ma’soomee
    4. Al-Adhkaar of An-Nawawee (2 volumes)
    5. `Uddat-us-Saabireen of Ibn Al-Qayyim
    6. Jaami’-ul-`Uloom wal-Hikam of Ibn Rajab (with abridgement)

    He has also written many articles and research documents on issues of
    Methodology and Creed, which have appeared in many Islamic magazines
    and periodicals.

    His Duties:
    He was one of the founders of the Salafee magazine Al-Asaalah, and
    currently serves as its Chief Editor.

    He was a founder and is now a directive member of Markaz Al-Imaam Al-
    Albaanee in Jordan, which produces works of knowledge and holds
    programs and seminars.

    He is currently a member of the Board of Directors of the Salafi
    Society of North America. He has attended the past two annual Islamic
    Seminars of SSNA and is scheduled to teach in the next two of 2002
    and 2003 inshaAllaah.

    ———————————————————————-
    ———-
    Footnotes:

    [1] Note: The Shaikh wrote this tremendous book at the young age of
    twenty-five.
    ———————————————————————-

    http://www.almanhaj.com

  2. BIOGRAFI SYAIKH MUHAMMAD SYAKIR

    Dia adalah seorang ‘alim yang mulia dan penulis yang produktif, seorang
    pembaharu universitas Al-Azhar dan tokoh yang mulia Syaikh Muhammad Syakir
    bin Ahmad bin Abdil Qadir bin Abdul Warits dan keluarga Abi ‘Ulayyaa’ dan
    keluarga yang dermawan yang telah dikenal sebagai keluarga yang paling
    mulia dan yang paling dermawan di kota Jurja.

    Lahir di Jurja pada pertengahan Syawal tahun 1282 H. Beliau menghapal
    Al-Qur’an di sana, dan belajar dasar-dasar studinya (di sana), kemudian
    beliau rihlah (bepergian untuk menuntut ilmu) ke universitas Al-Azhar dan
    beliau belajar dari guru-guru besar pada masa itu, kemudian dia dipercayai
    untuk memberikan fatwa pada tahun 1307 H. Dan kemudian beliau menduduki
    jabatan sebagai ketua mahkamah mudiniyyah Al-Qulyubiyyah, dan tinggal di
    sana selama tujuh tahun sampai beliau dipilih menjadi Qadhi (hakim) untuk
    negeri Sudan pada tahun 1317 H.

    Dan dia adalah orang pertama yang
    menduduki jabatan ini, dan orang yang pertama yang menetapkan hukum-hukum
    hakim yang syar’i di Sudan di atas asas yang paling terpercaya dan paling
    kuatnya, kemudian pada tahun 1322 H beliau ditunjuk sebagai guru bagi para
    ulama-ulama lskandariyyah sampai membuahkan hasil, dan memunculkan bagi
    kaum muslimin orang-orang yang menunjukkan (umat supaya) dapat
    mengembalikan kejayaan Islam di seantero dunia, kemudian beliau ditunjuk
    sebagai wakil bagi para guru Al-Azhar, sampai beliau menebarkan
    benih-benih yang baik, kemudian beliau menggunakan kesempatan pendirian
    jam’iyyah Tasyni’iyyah pada tahun 1913 M

    kemudian beliau berusaha untuk
    menjadi anggota organisasi tersebut, sebagai pilihannya dari sisi
    pemerintah Mesir, dan dengan itulah beliau meninggalkan jabatannya, serta
    enggan untuk kembali kepada satu bagianpun dan jabatan-jabatan tersebut,
    dan beliau tidak lagi berhasrat setelah itu kepada sesuatu yang memikat
    dirinya, bahkan beliau lebih mengutamakan untuk hidup dalam keadaaan
    pikiran, amalan, hati dan ilmu yang bebas lepas, dan dia memiliki
    pemikiran-pemikiran yang benar pada tulisannya, dan ucapan-ucapan yang
    membakar, senantiasa ada yang menentang itu semua yang mengumandangkannya
    pada pikiran-pikiran sebagian besar orang-orang yang bensikeras terhadap
    perkara-perkara Ijtimaiyyah, dan termasuk dan karakteristik beliau yaitu
    bahwa beliau mengokohkan agamanya, mengokohkan dirinya di dalam aqidahnya,
    mengokohkan pemikirannya, dia itu pemberani bukan pengecut, dia tidak
    menghindar dari seorangpun, dan dia tidak merasa takut kecuali hanya
    kepada Allah Ta’ala.

    Dan dia adalah orang yang kokoh di dalam keilmuan baik secara~ naqliyah
    (dalil-dalil Al-Kitab dan As-sunnah) maupun secara aqliyah, dan tidak ada
    seorangpun yang dapat menyepak dia di dalam diskusi maupun perdebatan
    karena dalamnya dia di dalam menegakkan hujjah-hujjah dan membuat sang
    pendebat menjadi terdiam, karena kesuburan otaknya dan
    pemikiran-pemikirannya yang berantai, dan karena pemikiran-pemikirannya
    terangkaikan di atas kaidah-kaidah mantiq yang shahih lagi selamat.

    Dan pada akhir umur beliau terbaring di rumahnya karena sakit, dan beliau
    selalu berada di ranjangnya, tatkala lumpuh menimpanya beliau merasakannya
    dengan sabar dan penuh berharap (akan ampunanNya), beliau ridha terhadap
    Tuhannya dan terhadap dirinya, dengan penuh keyakinan bahwa dinirya
    benar-benar telah menegakkan apa yang diwajibkan bagi dirinya berdasarkan
    agamanya, dan umatnya, menunggu panggilan Rabbnya kepada hamba-Nya yang
    shaleh.

    “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha
    lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku dan
    masuklah ke dalam sorga-Ku” (AI-Fajr: 27-30)

    Semoga Allah Ta’ala merahmati beliau dengan rahmat yang luas, beliau
    rahimahullah wafat pada tahun (1358) H yang bertepatan pada (1939) M dan
    semoga juga terlimpah bagi anak beliau yaitu Al-‘Allamah Syaikh Ahmad
    Muhammad Syakir Abil Asybal seorang Muhaddits besar yang wafat pada tahun
    1958 M rahimahullah yang telah menulis suatu nisalah tentang perjalanan
    hidup ayahnya yang diberi nama “Muhammad Syakir” seorang tokoh dan para
    tokoh zaman.

    Selesai dengan (beberapa) pengubahan dari biografi anaknya Al-‘Allamah
    Ahmad Muhammad Syakir rahimahullah

    Sulaiman Rasyid
    —————

    “Semua kebaikan berada pada mengikuti orang-orang yang telah lalu
    (Shahabat), dan semua kejelekan berada pada mengikuti kebid’ahan
    orang-orang kemudian.”

    http://www.islam-download.net

  3. From: “ajiyoid”
    BIOGRAFI SYAIKH ALI Bin HASSAN Bin ABDUL  HAMID AL-HALABI

    Syaikh `Ali bin Hasan `Abdul Hamid Al-Halabi
    Penulis: Albani-Center.Com
    Sumber: Imaam Al-Albaanee Center
    Diterjemahkan dari http://www.Al-Manhaj.Com

    Silsilah dan Asal:
    Beliau adalah Syaikh Salafi, pengikut Atsar dan penulis banyak buku-buku Islam dan pentahqiq, `Ali bin Hasan bin `Ali bin `Abdil Hamid Al-Yafi, sebuah nisbat pada tempat asal beliau (Jaffa, di barat daya Palestina), Al-Halabi, nisbat beliau (kepada Aleppo, Syria), Al-Urduni, nisbat pada tempat keluarganya berhijrah (Yordania).

    Kelahiran Beliau:
    Beliau dilahirkan di kota Zarqa, Yordania pada 29 Jumadil Tsani, 1380H
    Ayah dan kakek beliau bermigrasi ke Yordania dari Jaffa, Palestina pada tahun 1368H (1948M) karena perang yang dilancarkan Yahudi, semoga Allah melaknati mereka.

    Masa kecil beliau, menuntut ilmu dan guru beliau:Beliau mulai mencari ilmu ketika berusia 20 tahun lebih sedikit. Guru beliau yang paling masyhur adalah `ulama besar, Ahli Hadits, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani (rahimahullah), kemudian `ulama ahli sastra, Syaikh `Abdul Wadud Az-Zarari (rahimahullah), dan `ulama
    lainnya.

    Beliau bertemu Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani pada akhir 1977 di Yordania. Beliau belajar “Ishkaalaat Al-Baa’ith al-Hatheeth” kepada Syaikh Al-Albani pada 1981, dan kitab-kitab lainnya mengenai hadits dan ilmu hadits.Beliau memiliki ijazah (pengakuan) dalam bidang agama secara umum dan hadits secara khususnya, dari beberapa `ulama seperti Syaikh Badi`uddin As-Sindi (rahimahullah), Syaikh Muhammad Asy-Syanqithi (rahumahullah) dan lainnya.

    Pujian `ulama untuk beliau:
    Banyak `ulama yang memuji beliau, seperti:Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani (rahimahullah), ketika membongkar fitnah musuh sunnah, Hasan `Abdul Manaan pada kitabnya As-Shohihah (2/720), berkata:

    “Dan lebih lanjut untuk membongkar kesalahan ucapannya dalam menyatakan semua hadits ini lemah – hal ini membutuhkan sebuah kitab yang ditulis khusus untuk tujuan itu. Namun waktuku tidak memungkinkan untuk melakukan pekerjaan seperti ini, jadi mungkin salah satu saudara kami yang kuat dalam ilmu ini dapat melakukan
    pekerjaan ini, seperti saudara `Ali al-Halabi.”

    Juga pada muqoddimah kitab “At-Ta’aliqaat ar-Raddiyyah `ala ar-Rawdatun-Nadiyyah” dan “Adaab Az-Zafaaf”, dicetak oleh Al-Maktabah Al-Islaamiyyah, dan juga kitab beliau  “An-Nashihah.” Syaikh bin Baz (rahimahullah) juga memuji beliau dan menulis kata pengantar pada buku beliau “Innahaa Salafiyyatul-`Aqidah wal-Manhaj.”Syaikh Bakr Abu Zaid memuji beliau dalam bukunya “Tahrif an-Nushus min Maa’kath Ahlil-Ahwaa fil-Istidlaal” (hal. 93-94).

    Pada Jumadil Akhir 1421H, Syaikh Muhammad Al-Banna menyatakan,”Syaikh Al-Albani adalah Ibnu taimiyyah pada zaman kita, dan Syaikh `Ali Hasan al-Halabi adalah Ibnu Qoyyim pada zaman kita yang merupakan murid Syaikh Al-Albani, dan Syaikh Rabi` adalah Ibnu Ma`in pada zaman kita karena ilmu beliau tentang rijal.”

    Dan Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin dan banyak `ulama lainnya memuji Syaikh `Ali ketika beliau berkunjung ke Mekkah dan Madinah, yang beliau nyatakan dalam ceramahnya “Perjalananku ke Haromain” dan pada pengantar bukunya “At-Ta’rif wat-Tanbi’ah.”

    Usaha beliau dalam medan dakwah:
    Beliau adalah salah satu pendiri majalah Ash-Shalah, yang diterbitkan di Yordania, sebagai editor dan penulis di majalah tersebut.Beliau adalah salah satu pendiri “Imam Al-Albani Center” untuk penelitian ilmiah dan pelajaran tentang manhaj.Beliau dulu biasa menulis artikel mingguan yang dipublikasi oleh surat kabar Al-Muslimoon, yang diterbitkan di London dan yang dimiliki oleh majalah As-sunnah. Hal ini berlangsung sekitar 2 tahun mulai dari 18 rabi`ul awwal 1417H.

    Beliau telah ikut berpartisipasi pada sejumlah konferensi Islam, pelatihan dakwah dan dauroh diseluruh dunia pada berbagai waktu. Seperti : Amerika Serikat, Inggris, Belanda, Kanada, Indonesia, Perancis dan negara lainnya.Beliau diundang oleh berbagai Universitas di Yordania untuk memberi pengajaran dan berpartisipasi dalam konferensi, seperti University of Jordan, Yarmook University, Zaytoonah University, dan lainnya.

    Karya beliau dan tahqiq :
    1. `Ilm Usool Al-Bid’ah
    2. Diraasaat `Ilmiyyah fee Saheeh Muslim
    3. Ru’yatun Waaqi’iyyah fil-Manaahij ad-Da’awiyyah
    4. An-Nukat `alaa Nuzhat-in-Nadhar
    5. Ahkaam ash-Shitaa fee as-Sunnah al-Mutahharah
    6. Ahkaam al-`Eidayn fee as-Sunnah al-Mutahharah
    7. At-Ta’aleeqaat al-Athariyyah `alal-Mandhoomah al-Bayqooniyyah
    8. Ad-Da’wah ilaa Allaah baina at-Tajammu’ al-Hizbee wat-Ta’aawun ash-Shar’ee

    Tahqiq beliau :
    1. “Miftaah Daar as-Sa’aadah” oleh Imaam Ibn Al-Qayyim [3 jilid]
    2. “At-Ta’aleeqaat ar-Raddiyyah `alaa ar-Rawdat an-Nadiyyah” oleh Al-Albani [3 volumes]
    3. “Al-Baa’ithul-Hatheeth” oleh Ahmad Shaakir [2 jilid]
    4. “Al-Hittah fi Dhikri as-Shihaah as-Sittah” oleh Sideeq Hasan Khaan [1 jilid]
    5. “Ad-Daa wad-Dawaa” oleh Ibn Al-Qayyim [1 jilid]
    6. “Al-Mutawaaree `alaa Abwaab Al-Bukhaaree” oleh Ibn Al-Muneer [1
    jilid], dan lainnya. Banyak dari buku-buku beliau telah diterjemahkan ke bahasa lain,
    seperti Inggris, Perancis, Urdu, Indonesia, dan lainnya.

  4. Biografi Shaikh ‘Abdul-Muhsin Ibn Hamad al-‘Abbaad

    (Rektor Universitas Islam Madinah)

    Saya adalah salah seorang yang sangat butuh kepada Allah, ‘Abdul-Muhsin ibn Hamad ibn ‘Abdul-Muhsin ibn ‘Abdullaah ibn Hamad ibn ‘Uthmaan Aal-Badar dan keluarga Aal-Badar adalah dari Aal-Jalaas dari suku ‘Unzah yang merupakan salah satu dari suku-suku al-‘Adnaaniyyah dan kakek saya ‘Abdullaah menambahkan nama ‘Abbaad kepada saya dan beberapa anaknya sehingga kemudian menjadi dikenal dengan nama ini. Ibu saya adalah anak dari paman dari ayah saya – Abu Sulaymaan ibn ‘Abdullaah Aal Badar.

    Saya dilahirkan beberapa saat setelah shalat ‘isya pada sabtu malam tepatnya pada tanggal 3 Ramadhan 1353 H di kota Az-Zulfah yang berjarak 300 km ke utara dari kota Riyadh.

    Saya mulai belajar membaca dan menulis dari ‘Abdullaah ibn Ahmad al-Munay’ dan kemudian Zayd ibn Muhammed al-Munayfee dan kemudian ‘Abdullaah ibn ‘Abdur-Rahmaan al-Ghayth dan atas bimbingan beliau saya menyelesaikan Al-Qur.aan dan kemudian Faalih ar-Roomee.

    Pada saat sekolah dasar telah didirikan di kota Zulfah pada tahun 1368 H, saya dipindahkan kesana pada tingkat 2. Ketika saya telah menyelesaikan sekolah dasar pada 1372 H, kemudian saya melanjutkan ke Ma’had Al-‘Ilmi di Riyadh selama beberapa tahun, setelah lulus kemudian melanjutkan studi di fakultas Syari’ah.

    Ketika menginjak tahun terakhir saya di fakultas, saya diangkat menjadi staf pengajar di Ma’had ’Ilmi di Buraidah pada 13 Jumadil ‘ula 1379 H. Kemudian setelah menyelesaikan tahun akademik, saya kembali ke Riyadh untuk duduk dalam ujian terakhir saya di fakultas. Alhamdulillah, Allah memberikan karunia kepada saya dalam ujian ini (dengan nilai tertinggi) dan saya menjadi yang pertama dari seluruh mahasiswa yang totalnya ada 80 orang serta menjadi orang keempat yang lulus dengan nilai tertinggi dari fakultas syari’ah. Selain itu, saya juga memiliki nilai tertinggi dari lulusan fakultas tersebut selama tiga tahun terakhir. Setelah saya menerima sertifikat dari Ma’had ’Ilmi di Riyadh pada tahun 1380 H, akhirnya saya kembali mengajar pada Ma’had tersebut.

    Ketika Universitas Islam Madinah telah selesai didirikan, Allah memberikan karunia kepada saya sehingga dipilih oleh syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh untuk mengajar disana. Fakultas pertama yang didirikan adalah fakultas Syari’ah yang kelasnya dimulai pada pekan kedua jumadil tsani 1381 H. dan atas kemurahan Allah akhirnya saya dapat memberikan pengajaran pada hari itu. Semenjak hari tersebut hingga saat ini saya tetap mengajar di universitas dan tidak ada seorang pun staf pengajar disana sejak universitas tersebut didirikan hingga saat ini yang telah mengajar lebih lama dari pada saya.

    Pada tanggal 30 Rajab 1393 H, saya diangkat oleh deputi untuk menjadi Rektor di Universitas Islam Madinah setelah dipilih oleh Raja Faisal untuk posisi ini. Saya merupakan salah satu dari 3 (tiga) orang yang diusulkan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz yang sebelumnya menjabat sebagai Rektor Unversitas islam Madinah ini.

    Perjalanan pertama saya keluar dari kota Zulfah adalah ke kota Makkah untuk melaksanakan ibadah haji pada tahun 1370 H dan setelah itu ke Riyadh untuk memberikan pengajaran di Ma’had Al-’Ilmi.

    Buku pertama yang terdapat dalam perpustakaan pribadi saya adalah fotocopy kitab Bulughul Maram karya Al-Hafidz Ibn Hajar Al-Asqolani. Saya memperoleh kitab tersebut sebelum saya memulai sekolah dasar.

    Inilah beberapa riwayat dari apa yang dapat saya sampaikan tentang diri saya dimana hal ini hanya merupakan pengingat bagi kita akan karunia Allah dan ini adalah sedikit dari apa yang telah saya lakukan (dalam hidup ini).

    Saya memohon kepada Allah agar memberikan kepada saya keberhasilan dalam menyampaikan kebenaran (da’wah-pent.) dan agar senantiasa ikhlas dalam setiap melaksanakan aktivitas serta agar memperoleh ganjaran kebaikan atas ilmu dan aktivitas tersebut, sesungguhnya Dia (Allah) lah yang maha mendengar dan mengabulkan do’a hamba-Nya.

    Catatan:

    Biografi ini diperoleh oleh Abu Abdullah setelah melalui masa yang agak lama dimana syaikh selalu menolak untuk menginformasikan biografinya. Kemudian putra beliau Syaikh ‘Abdur-Razzaaq al-‘Abbaad memberitahukan bahwa ayahnya (Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad) telah menulis biografinya sendiri (otobiografi) dan hanya dipublikasikan dalam kitabnya yaitu ar-Radd ‘alaa man Kaththaba bil-Ahaadeeth as-Saheehah al-Waaridah fil-Mahdee. Kemudian Abu Abdullah baru memperoleh fotocopy dari kitab tersebut pada tanggal 3 November 2002 untuk selanjutnya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris agar kaum muslimin di seluruh penjuru dunia mengenal beliau yakni sebagai salah seorang ‘ulama yang senantiasa tegak di atas Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman salafu ummah.

    Sebuah kezuhudan dan kesungguhan yang luar biasa dari diri beliau yang perlu kita ketahui bahwa meskipun syaikh telah lama melalui masa wajib pensiun, namun beliau tetap memilih untuk mengajar di Universitas Islam Madinah bahkan tidak mau menerima gaji. Semoga Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberkahi syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad dan menjaganya dalam keadaan sehat. Amiin.

    Diterjemahkan secara bebas ke dalam bahasa Indonesia oleh Abu ‘Abdullah ‘Ali Asy-Syathibi – Angk. ‘99 SMUN 1 Bekasi – dari situs http://www.fatwa-online.com dengan penambahan / pengurangan secukupnya tanpa mengurangi keutamaan Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad Hafidzahullah.
    Diambil dari mailing list assunnah@yahoogroups.com

  5. Biografi Syaikh Abdurrohman bin Nashir As Sa’di
    (Buah pena seorang muridnya)

    Penerjemah: Abu Muslih Ari Wahyudi (Staf Pengajar Ma’had Ilmi)

    Diambil dari kitab Al Mukhtaraat Al Jaaliyah, karya Syaikh As Sa’di cetakan Mu’assasah as-Sa’diyah, disertai beberapa penambahan

    Beliau adalah Al ‘Allamah (seorang yang sangat dalam ilmunya) yang memiliki sifat wara’ (hati-hati), zuhud, pengingat akan generasi salaf asy-Syaikh Abdur-Rahman bin Nashir bin Abdillah Alu Sa’di Tamimi Al Hambali.

    Kelahirannya

    Beliau dilahirkan di kota ‘Unaizah di wilayah Qashim pada tahun 1307 hijriah, ibundanya telah meninggal pada saat beliau masih berumur 4 tahun, lalu ayahandanya juga meninggal pada tahun 1314 H ketika beliau menginjak umur 8 tahun, dan kemudian istri ayahnya (ibu tiri beliau) memberikan perhatian yang besar kepada beliau, sehingga beliau amat disayanginya melebihi kasih sayangnya kepada anak-anaknya sendiri, demikian pula saudaranya, Hamad dirawat olehnya, sehingga tumbuhlah Syaikh dengan baik. Beliau pun memasuki madrasah tahfizh/penghafal Quran dan sudah bisa menghafalnya dalam umur 11 tahun, dan beliau mampu menghafal Al Quran di luar kepala ketika mencapai umur 14 tahun.

    Guru-Guru Beliau

    Setelah beliau bisa menghafalkan Al Quran dengan melihat mushaf maupun di luar kepala maka beliau pun menyibukkan diri dengan menuntut ilmu syar’i, beliau membaca pelajaran Hadits kepada Ibrahim bin Hamd bin Jasir, membaca pelajaran Fikih dan Nahwu kepada Muhammad bin Abdul Karim Asy Syibl, membaca pelajaran tauhid, tafsir, fikih dan ushul fikih, dan juga nahwu kepada Syaikh Shalih bin Utsman Qadhi di ‘Unaizah beliaulah guru yang paling banyak ditimba ilmunya oleh Syaikh, beliau belajar secara terus menerus kepadanya sampai tamat hingga ia wafat. Dan beliau juga membaca pelajaran kepada Syaikh Abdullah bin ‘Aidh dan Syaikh Sha’ab bin Abdullah at-Tuwaijiri, Syaikh Ali as-Sinani, Syaikh Ali bin Nashir Abu Wadi; beliau membaca pelajaran hadits dan kitab-kitab induk hadits yang enam kepadanya, maka ia pun memberikan ijazah kepada beliau untuk meriwayatkan hadits. Beliau juga membaca pelajaran kepada Syaikh Muhammad asy-Syinqithi ketika masih tinggal di Hijaz dulu, kemudian ia pindah ke kota az-Zubair, beliau membaca pelajaran tafsir, hadits dan mushthalah hadits kepadanya sewaktu ia menetap di kota ‘Unaizah.

    Beliau Mulai Memberikan Pelajaran

    Ketika umur beliau sudah mencapai 23 tahun, beliau sudah mulai membuka pelajaran, beliau senantiasa belajar dan mengajar, dan memanfaatkan waktunya untuk itu. Beliau juga menggeluti penelitian karya-karya tulis Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan karya-karya muridnya Ibnul Qayyim dengan penuh perhatian dan pemahaman, sehingga beliau sangat banyak mengambil faedah dari karya-karya ini.

    Murid-Murid Beliau

    Banyak sekali orang yang telah mengambil ilmu dari beliau, di antara murid beliau yang terkenal adalah sebagai berikut:

    Pertama, Syaikh Sulaiman bin Ibrahim al-Bassam yang mengajar di Ma’had ‘Ilmi dan pernah ditunjuk sebagai Qadhi tapi ia menolaknya.
    Kedua, Syaikh Muhammad bin Abdul ‘Aziz al-Mathu’ yang menjabat sebagai Qadhi di Majma’ah kemudian di ‘Unaizah.
    Ketiga, Syaikh Abdullah bin Abdur-Rahman al-Bassam salah seorang anggota Lembaga Peneliti di Propinsi bagian Barat dan juga anggota Lembaga Ulama Besar.
    Keempat, Syaikh Muhammad al-Manshur az-Zamil yang mengajar di Ma’had ‘Unaizah al-‘Ilmi.
    Kelima, Syaikh Ali bin Muhammad az-Zamil seorang pengajar di Ma’had ‘Unaizah, ia adalah warga Nejed yang paling mengerti ilmu Nahwu di masanya.
    Keenam, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, ustadz di Jami’ah Muhammad bin Su’ud al-Islamiyah di Qashim dan menjadi pengganti gurunya sebagai imam di Masjid Jami’ di ‘Unaizah, beliau juga termasuk salah seorang anggota Lembaga Ulama Besar.
    Ketujuh, Syaikh Abdullah bin Abdul-Aziz bin ‘Aqil salah seorang anggota Lembaga Fatwa dan pemimpin Lembaga Ilmiah Mandiri setelah meninggalnya pemimpin kehakiman yang sebelumnya.
    Kedelapan, Syaikh Abdullah al-Muhammad al-‘Auhali yang mengajar di Ma’had ‘Ilmi di Makkah al-Mukarramah.
    Kesembilan, Syaikh Abdullah bin Hasan Alu Buraikan yang mengajar di Ma’had ‘Ilmi di ‘Unaizah. Beliau rohimahulloh memiliki banyak murid selain mereka yang telah disebutkan, saya tidak bisa memperkenalkannya satu persatu di sini.

    Karya-Karya Beliau

    Beliau telah menulis banyak karya yang bermanfaat, kami sebutkan sebagiannya berikut ini:

    Tafsir Al Quran Al Karim yang bernama Taisir Karim al-Mannan fii Tafsir Al Quran (Mungkin maksudnya Taisir Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, pent.) yang berjumlah 8 jilid, beliau selesai menulisnya pada tahun 1344 H yang telah diterbitkan oleh Maktabah Salafiyah di Mesir.

    Hasyiyah ‘alal Fiqh sebagai koreksi atas berbagai kitab yang tersebar dan pernah ditulis di kalangan mazhab Hambali.

    Irsyad Ulil Basha’ir wal Albab li Ma’rifatil Fiqh bi Aqrabi Thuruq wa Aisaril Asbab yang disusun dalam bentuk tanya jawab. Buku ini dicetak di Maktabah At Taraqi di Damaskus pada tahun 1365 H dengan biaya penulis dan dibagi-bagikan secara gratis.

    Tanzih ad-Din wa Hamlatihi wa Rijalihi min Maftarahu Al Qashimi fi Aghlalihi. Buku ini dicetak di Dar Ihya al-Kitab al-Arabi dengan biaya seorang pejabat Hijaz Syaikh Muhammad Afandi Nashif pada tahun 1366 H.

    Ad Durrah Al Mukhtasharah fi Mahasinil Islam, dicetak di Percetakan Ansharus Sunnah pada tahun 1366 H.

    Al Khuthab Al ‘Ashriyah dicetak di Percetakan Ansharus Sunnah pada tahun 1366 H.

    Al Qawa’idul Hisan fi Tafsiril Quran, dicetak di Percetakan Ansharus Sunnah pada tahun 1366 H.

    Al Haq Al Wadhih Al Mubin fi Syarhi Tauhid Al Anbiya’ wal Mursalin, ia merupakan penjelasan Nuniyah karya Imam Ibnul Qayyim rohimahulloh, dicetak di Percetakan As Salafiyah di Mesir.

    Taudhihul Kafiyah asy-Syafiyah, dicetak di percetakan as-Salafiyah di Mesir.

    Wujubut Ta’awun bainal Muslimin wa Maudhu’ul Jihad ad-Dini, dicetak di Percetakan as-Salafiyah di Mesir dengan biaya penulis.

    Al Qaul As Sadid fi Maqashid At Tauhid, dicetak di Percetakan Al Imam, dengan biaya dari Abdul Muhsin Aba Bathin pada tahun 1367 H.

    Manhaj As Salikin sebuah ringkasan dalam ilmu Ushul Fiqih.

    Taisir Lathif Al Mannan fi Khulashati Tafsir Al Quran, dicetak percetakan Al Imam di Mesir pada tahun 1368 H dengan biaya dari penulis dan sekelompok donatur.

    Dan kitab-kitab lainnya seperti:

    1. Ar-Riyadh an-Nadhirah
    2. Bahjatu Qulub al-Abrar
    3. Al-Irsyad ila Ma’rifatil Ahkam
    4. Al-Fawakih asy-Syahiyah fil Khuthab al-Minbariyah
    5. Manhaj as-Salikin wa Taudhih al-Fiqh fi ad-Din
    6. Thariq al-Wushul ila Ilmi al-Ma’mul bi ma’rifati qawa’id wa Dhawabith wal Ushul
    7. Ad-Din ash-Shahih yahullu Jami’al Masyakil
    8. Al-Furuq wa Taqasim al-Badi’ah an-Nafi’ah
    9. Al-Adillah al-Qawathi’ wal barahin fi Ibthali Ushul al-Mulhidin
    10. Fawa’id Mustanbithah
    11. Al-Wasa’il al-Mufidah
    12. Syuruh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah allati Radda biha ‘alal Qadariyah
    13. Al-Fatawa as-Sa’diyah
    14. At-Taudhih wal Bayan li Syajaratil Iman
    15. Fathu Rabb al-Hamid fi Ushulil ‘Aqa’id wa Tauhid
    16. Ad-Dala’il al-Quraniyah
    17. At-Tanbihat al-Lathifah ‘ala mahtawat ‘alaihi Al-Wasithiyah fil Mabahits al-Munifah
    18. Su’al wa Jawab bi Ahammil Muhimmat

    Beliau Jatuh Sakit

    Pada tahun 1371 H beliau tertimpa sakit tekanan darah dan penyempitan pembuluh darah sehingga membuat sekujur tubuh beliau menggigil apabila berbicara selama beberapa jam, maka beliau menghentikan aktivitasnya, apabila membaca Al Quran lalu berbicara maka kembalilah kondisinya seperti biasanya. Dengan kondisi seperti itu beliau berangkat ke Libanon pada tahun 1372 H berkat pembiayaan dari Pemerintah Saudi Arabia, semoga Alloh memperkuatnya, beliau tinggal di Libanon selama sebulan demi menjalani terapi sehingga Alloh mengaruniakan kesembuhan kepadanya.

    Sesudah kembali ke kota ‘Unaizah beliau langsung meneruskan aktivitas-aktivitasnya yang dahulu ditekuninya sebelum jatuh sakit yaitu memberikan pelajaran, berfatwa, menulis, berkhutbah Jum’at, menjadi imam sholat. Maka sakitnya kembali kambuh. Pada bulan Jumadil Akhirah tahun 1376 H beliau merasakan kembali penyakit yang dulu pernah menimpanya dengan ditambah suhu tubuh yang mendingin dan badannya menggigil pada malam Rabu tanggal 22 di bulan tersebut pada tahun 1376 H itu terjadi sesudah beliau selesai mengajar yang biasa dilakukannya, seperti pengajian-pengajian beliau yang lainnya. Beliau menyampaikan pelajaran di hadapan jamaah di mesjid, dan sesudah memberikan pelajaran tiba-tiba beliau merasakan berat dan tubuhnya tidak bisa digerakkan. Sesudah sholat selesai beliau mengisyaratkan kepada sebagian muridnya untuk menyangga tangannya dan pergi menuntun beliau kembali ke rumahnya. Maka hal itu dilakukan sehingga bangkitlah beberapa orang dari hadirin untuk memapah beliau, dalam perjalanan ke rumah beliau sudah pingsan di tengah jalan. Sesudah itu beliau rohimahulloh kembali siuman dan beliau memuji dan bersyukur kepada Alloh dan bercakap-cakap bersama para hadirin dengan pembicaraan baik dan menyenangkan lalu beliau kembali jatuh pingsan sehingga tidak berbicara lagi sesudah itu, tatkala tiba hari Rabu pagi mereka pun memanggil dokter. Dokter itu mendiagnosa penyakit beliau dan berkesimpulan bahwa beliau menderita pendarahan di otak, apabila hal itu tidak segera ditangani maka beliau terancam maut, maka dengan segera mereka menelegram kepada Raja Saudi.

    Perawatan kepada beliau segera dilakukan dengan berbagai cara yang bisa ditempuh, sampai-sampai sebuah pesawat dengan membawa para dokter dan perawat sudah akan diberangkatkan menuju kota ‘Unaizah, akan tetapi ketika itu cuaca sangat buruk, langit dipenuhi mendung, petir dan kilat menyambar-nyambar, angin bertiup sangat kencang sehingga menyebabkan pesawat tidak bisa lepas landas dari bandara, maka beliau rohimahulloh wafat di saat fajar hari Kamis yang bertepatan dengan 23 Jumadil Akhirah tahun 1376 H. Orang-orang pun tertimpa musibah dengan wafatnya beliau, air mata pun mengalir, hati-hati manusia tergetar karenanya, banyak sekali orang yang turut mensholati jenazahnya sesudah sholat Zhuhur di hari Kamis dalam sebuah perkumpulan manusia yang sangat besar yang belum pernah disaksikan semisalnya di ‘Unaizah. Sehingga Masjid Jami’ penuh dengan orang-orang yang sholat jenazah dan para pelayat, mata-mata mereka berlinang air mata dan lisan-lisan pun ikut serta mendoakan rahmat baginya, mereka memohonkan ampunan dan keridhoan baginya. Setelah selesai sholat, jenazahnya dipanggul di atas pundak-pundak dengan berdesak-desakan menuju pekuburan Asy Syahwaniyah sebuah pekuburan yang cukup dikenal di kota ‘Unaizah.

    Sesudah itu berbagai telepon dan telegram ta’ziah datang dari berbagai penjuru negeri. Beliau telah mewariskan peninggalan (ilmu) yang sangat banyak sulit untuk dihitung. Beliau meninggalkan tiga orang putra, mereka adalah: Abdullah, Muhammad dan Ahmad. Semoga Alloh mengampuni Syaikh yang sedang ditulis biografinya ini Abdur-Rahman bin Nashir as-Sa’di, semoga Alloh merahmati dan memaafkan beliau, sesungguhnya beliau termasuk ulama yang memiliki sifat wara’/hati-hati, salawat dan keselamatan sebanyak-banyaknya semoga senantiasa tercurah kepada Muhammad, pengikut dan seluruh sahabatnya, tercurah hingga hari kiamat.

    Diterjemahkan dari Taisir Lathifil Mannaan, hal. 5-12 Penerbit Maktabah Ar Rusyd, Riyadh Saudi Arabia.

    sumber: http://www.muslim.or.id

  6. Siapakah Asy-Syaikh Muhammad “Al-Imam” Al-Yamani ?

    Nama beliau
    Kunyah beliau Abu Nashr, Muhammad ibn Abdillah ibn Husain ibn Thahir ibn Ali ibn Ghozy Ar-Reymi dengan julukan “Al-Imam”.

    Tanggal kelahiran beliau
    Dilahirkan kurang lebih pada tahun 1380 H atau bertepatan dengan tahun 1960 M, di desanya yang sudah terkenal desa As-Sahl Ar-Raymah.

    Keluarga beliau
    Asy-Syaikh menikah dan beliau masih sebagai seorang santri di Ma’had Daarul Hadits di Dammaj (Saadah-Yemen), dan beliau dianugrahi seorang istri yang terpelajar lagi pandai dari keluarga yang dikenal dengan penuh kebaikan. Asy-Syaikh telah diberikan karunia oleh Allah (Subhanahu Wa Ta’ala) dari istrinya itu dengan sembilan orang anak, empat orang laki-laki dan lima orang perempuan.
    Adapun yang laki-laki beliau adalah (urut) :
    1. Abdurrahman – anak sulung –
    2. Abdullah
    3. Nashr – dengannya Asy-Syaikhuna memakai kuniyah-
    4. Yusuf – anak bungsu -.

    Permulaan belajar dan perkembangannya
    Dahulu di desanya Fadhilatu Asy-Syaikh tidak sama keadaannya dengan sekarang seperti adanya sekolah-sekolah dan tempat untuk menghafal Al-Qur’an dan yang semisalnya.

    Khususnya di desanya Syaikhina, sesungguhnya desa pegunungan tidak ada seorang pengajar datang ke desa tersebut ketika itu. Adapun zaman kita sekarang segala sesuatu sudah menjadi mudah segala urusan dan tersebarnya pendidikan hampir di segala pelosok desa. Walillahi Al-Hamd.

    Asy-Syaikh memulai belajarnya dengan belajar membaca Al-Qur’an di desanya, kemudian pergilah Asy-Syaikh ke kota Taiz dan memulai belajar di salah satu Ma’had di kota tersebut dalam waktu yang singkat di permulaan masa remajanya beliau merasa kurang bisa memenuhi keinginannya dalam belajar, maka pergilah Asy-Syaikh ke kota Saadah dan itu karena taufiq dari Allah (Subhanahu wa Ta’ala). Maka tinggallah Asy-Syaikh disana untuk menuntut ilmu di bawah bimbingan Al-Imam Al-‘Allamah Al-Muhadits Asy-Syaikh Muqbil ibn Hadi Al-Wadi’i (ghafarallahulahu).

    Asy-Syaikh menyempurnakan hafalan Al-Qur’an kurang lebih dalam tempo dua bulan kemudian berlanjut dengan belajar pelajaran-pelajaran ilmu yang bermanfaat dan muncul hasil yang sangat luar biasa. Kemudian beliau mengemban tugas yang diamanatkan kepada beliau untuk memimpin Ma’had dan untuk memberikan bantuan kepada saudara-saudaranya sesama santri didalam Markaz Daarul Hadits Dammaj.

    Asy-Syaikh dahulu memiliki hafalan yang sangat kuat dan cepat menempel di otaknya. Beliau dengan cepat menghafal sesuatu dan beliau sangat memperhatikan waktunya (tidak menyia-nyiakan), sehingga dalam jangka waktu tempo yang sangat singkat kurang lebih dua tahun, beliau sudah hafal Al-Qur’an Al-Karim, kitab “Bulughul Maram”, “Umdatul Ahkam”, “Ash-Shohih Al-Musnad Min Ashbaabin-Nuzul (karangan Asy-Syaikh Muqbil ibn Hadi Al-Wadi’i-Rahimahullah).

    Beliau juga hafal kitab “Al-Fiyah ibn Malik” , “Al-Afiyah Al-‘Iraqi” dan beliau juga hafal sebagian dari kitab “Ash-Shahihain” (Al-Bukhari dan Muslim). Beliau banyak belajar berbagai macam kitab-kitab ilmu Fiqih, Mustalah Hadits, Al-Aqidah dan bahasa.

    Setelah diberikan karunia oleh Allah (Subhanahu Wa Ta’ala) berupa ilmu yang bermanfaat yang sangat banyak, maka Asy-Syaikh berpindah ke kota Ma’bar dimana beliau sekarang tinggal sehari-harinya mengajar dan berda’wah di jalan Allah (Subhanahu Wa Ta’ala) di Masjid An-Nur. Semula beliau memiliki murid yang jumlahnya tidak lebih dari tujuh orang, maka mulailah Asy-Syaikh mengajar mereka apa yang sekiranya bisa bermanfaat bagi mereka, dengan menghafal Al-Qur’an Al-Karim.

    Maka berlanjut dalam proses belajar mengajar dan berda’wah di jalan Allah (Subhanahu Wa Ta’ala), menjadi tersebarlah dakwahnya hampir di sepertiga negara Yaman. Akhirnya beliau dikenal oleh ummat, dalam waktu yang singkat sehingga berdatangan para penuntut ilmu agama dari penjuru timur dan barat negara Yaman dari segala lapisan masyarakat. Diantara santri-santri mereka ada yang menjadi Imam masjid, Khotib, penghafal Al-Qur’an, penulis, peneliti (ilmu), dan mereka menjadi pengajar di berbagai plosok negara Yaman.

    Gurunya
    Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam telah berguru dengan Al-Imam Al-Mujadid Al ‘Allamah Al-Muhadits Abi Abdir-Rahman Muqbil ibn Hadi Al-Wadi’i (Rahimahullah).

    Murid-murid beliau
    Murid-murid Syaikhina jumlah mereka ribuan, ada yang duduk disana menuntut ilmu agama satu tahun lamanya, ada pula yang lebih bahkan ada yang kurang dari satu tahun, tergantung dari semangat dan aktifitas mereka. Adapun untuk memastikan jumlah mereka sulit, tapi yang jelas jumlah mereka ribuan dan ini tidaklah melebih-lebihkan, hal ini bisa dibuktikan dengan jumlah penuntut ilmu agama terbanyak kedua setelah Ma’had Daarul Hadits di Dammaj adalah Ma’had Daarul Hadits di Ma’bar. Jumlah mereka sekarang berkisar seribu lima ratus santri, tiga ratus lima puluh orang yang sudah berkeluarga dan ketika musim liburan sekolah jumlah mereka bertambah mencapai dua ribu orang santri.

    Daarul Hadits di Ma’bar
    Daarul Hadits untuk ilmu As-Syari’yyah didirikan pada tahun 1406 H di kota Ma’bar yang terletak kurang lebih 70 km bagian selatan dari ibu kota Sana’a. Dahulu luas masjid pada saat itu 500m2, maka setelah bertambah kebaikan (bertambah jumlah santri dan banyaknya masyarakat sekitar kota Ma’bar yang shalat di masjid tersebut) , pengurus Ma’had memiliki keinginan untuk memperluas masjid. Maka masjidpun pada tahun 1415 H diperluas, kemudian selang beberapa lama bertambah lagi kebaikan dengan bertambahnya santri-santri, sehingga pengurus Ma’had memiliki keinginan kembali untuk merenovasi masjid. Keingian ini terwujud, pada tahun 1420 H diperluas kembali sehingga total luas bangunan masjid menjadi panjang 100m x lebar 40m, sehingga mampu menampung jama’ah shalat kurang lebih sepuluh ribu jama’ah.

    Perlu pembaca ketahui, bahwasanya untuk masuk ke Ma’had Daarul Hadits, Ma’bar ada prasyaratnya, yaitu harus memiliki hafalan Al-Qur’an minim sudah hafal separuh dari Al-Qur’an atau lebih. Adapun syarat yang lainnya harus bisa baca-tulis dan usianya minimal 18 tahun. Adanya syarat-syarat yang demikian, karena begitu banyaknya orang-orang yang antusias ingin belajar di Ma’had Daarul Hadits, Ma’bar. Juga karena keterbatasan tempat, sehingga pengurus Ma’had memberikan syarat-syarat tersebut.

    Sebagai tambahan informasi, untuk orang-orang asing mereka harus memiliki ijin tinggal, karena kalau tidak memiliki ijin tinggal, maka pengurus Ma’had tidak bertanggung jawab kalau terjadi sesuatu kepada mereka.

    Kamis, 28 April 2005 – 04:48:47, Penulis : Al Ustadz Muhammad Barmim
    Kategori : Biografi_Ulama
    Mengenal Asy-Syaikh Muhammad al Imam al Yamani (II)
    [Print View] [kirim ke Teman]

    Materi pelajaran di Ma’had Daarul Hadits Ma’bar :
    1) Menghafal Al-Qur’an Al-Karim beserta Ahkam Tajwid dan langsung mempraktekannya.
    2) Belajar Tauhid dan Aqidah.
    Adapun materi kitab yang dipelajari adalah :
    – Al-Ushul Ats-Tsalatsa.
    – Lum’atul I’tiqod.
    – Fathul Majid (Syarah Kitab At-Tauhid).
    – Al-Aqidah Al-Wasitiyyah.
    – Al-Aqidah At-Tohawiyyah, dll.
    3) Bahasa Arab
    – At-Tuhfah.
    – Al-Kawakib.
    – Qatru An-Nada.
    – Qowa’id Al-I’rab.
    – Syudzur Adz-Dzahab.
    – Al-Mughni / Li ibni Hisyam.
    – Ibnu ‘Aqi, dll.
    4) Al-Fiqh
    – Ad-Daraari.
    – Al-Adilah Ar-Radliyah.
    – Subulus-Salam.
    – Dan juga mengambil dari kitab Ash-Shahihain (Bukhari-Muslim), dll.
    5) Ushul Al-Fiqh
    – Al-Ushul min Ilmil Ushul.
    – Syarh Al-Waraqat.
    – Al-Mudzakkirah Fi Ushul Al-Fiqh / Lisy-Syinqithi, dll.
    6) Mustholah Al-Hadits
    – Taysir Mustholah Al-Hadits.
    – Al-Ba’its Al-Hatsits.
    – Nuzhatu An-Nadhzar.
    – Tadhrib Ar-Rawi.
    – ‘Ilal At-Tirmidzi.
    – Al-Mauqidhzo/ Li Ad-Dzahabi, dll.

    Kami menyebutkan sebagian pelajaran sebagai contoh, bukan berarti mata pelajarannya terbatas pada yang disebutkan saja. Akan tetapi disana masih banyak pelajaran-pelajaran yang belum disebutkan, perlu diketahui, di Ma’had Daarul Hadits, Ma’bar, dalam sehari bisa lebih dari enam puluh mata pelajaran yang diajarkan.

    Jadwal pelajaran sehari-hari :

    Setelah selesai shalat Al-Fajar sampai jam 07:00 pagi, menghafal Al-Qur’an Al-Karim. Pada jam-jam ini, jarang ada pelajaran, setelah itu dilanjutkan dengan sarapan pagi, kemudian menyetorkan hafalannya kepada pembimbing-pembimbingnya apa yang sudah dihafalkan dari Al-Qur’an sampai jam 08:00 pagi tadi. Kemudian setelah itu mulailah pelajaran-pelajaran dibuka sampai adzan shalat Dzuhur. Setiap pelajaran diajarkan selama 1 jam saja. Lalu dilanjutkan shalat Dzuhur berjama’ah, ditambah pelajaran umum, yakni Asy-Syaikh membaca Tafsir As-Sa’di. Setelah itu diberikan makan siang, tiba waktu istirahat sampai masuk waktu shalat Ashar.

    Kemudian diadakan pelajaran umum, Asy-Syaikh membaca kitab Shahih Al-Bukhari, dilanjutkan pelajaran-pelajaran khusus sampai mendekati waktu shalat Maghrib. Ketika usai shalat Maghrib berjamaah, bersambung ke pelajaran Asy-Syaikh membaca kitab Shahih Muslim sampai waktu shalat Isya’. Lantas usai shalat Isya’, Asy-Syaikh menengok orang-orang yang sakit (kesurupan) untuk berdialog dan mengetahui keadaan mereka dari sakitnya.

    Asy-Syaikh sudah menempatkan lebih dari sepuluh orang muridnya yang dipilih untuk membacakan ayat-ayat Al-Qur’an kepada orang-orang yang sakit sepanjang siang. Dan Asy-Syaikh tidak bisa membacakan sendiri kepada orang-orang yang sakit disebabkan karena kesibukannya, juga begitu banyaknya pasein yang sakit. Namun beliau selalu menyempatkan diri untuk menengok para pasien berdiskusi dan memperhatikan keadaan dan problematika mereka, kemudian Asy-Syaikh duduk di perpustakaan sampai jam 22:00 malam.

    Perlu diketahui, Asy Syaikh tidak memungut biaya sepeserpun dari pasien , akan tetapi mereka Al-Qurra? (pembaca Al-Qur?an) hanya menginginkan balasan dari sisi Allah (Subhanahu wa Ta’ala), dan kalau seandainya kita mengetahui ada diantara Qurra’ (pembaca Al-Qur’an) mengambil bayaran dari pasien sedikit atau banyak, maka dia akan diberikan hukuman baik dia diberhentikan dari membacakan Al-Qur’an atau dia akan dikeluarkan dari Ma’had.

    Adapun para santri diharuskan tidur jam 21:00, supaya mereka bisa bangun pada saat adzan yang pertama (1 jam sebelum adzan Subuh).

    Tingkatan santri yang dapat mengambil faidah
    Para santri Ma’had Darul Hadits Ma?bar, sudah lebih dari dua ratus santri yang sudah hafal Al-Qur’an Al-Karim. Banyak dari santri yang menjadi da’i-da’i yang berda’wah di jalan Allah (Subhanahu Wa Ta’ala), khutoba’ (penceramah), penulis dan pentahqiq. Diantara mereka, ada yang mengajar saudara-saudaranya sesama santri, banyak dari santri keluar pada hari Kamis dan Jum’at setiap minggunya, untuk berda’wah di jalan Allah (Subhanahu Wa Ta’ala) di kota-kota dan desa-desa. Sehingga menjadilah sebagian besar masjid-masjid tersebut dikendalikan lulusan Ma’had Daarul Hadits Ma’bar. Bahkan mereka kebanyakan orang-orang yang Mustafid (mereka yang bisa mengambil faidah-faidah dengan baik) dan mereka mengajar di daerah-daerah negara Yaman. Para santri Ma?had ini kebanyakan bangkit dengan belajar dan mengajar dari ilmu yang bermanfaat, serta berda’wah di jalan Allah (Subhanahu Wa Ta’ala).

    Selayang pandang tentang proses belajar kaum wanita
    Terdapat di Ma’had Daarul Hadits Ma’bar, sekitar empat ratus wanita yang belajar ilmu Al-Kitab dan As-Sunnah, serta pelajaran lain yang materi pelajarannya sama dengan santri. Bahkan lebih dari seratus wanita hafal Al-Qur’an Al-Karim, dan sebagian dari kaum wanita menjadi da’iyah di jalan Allah (Subhanahu Wa Ta’ala). Juga terdapat bagi kaum wanita tempat belajar yang khusus, dan disana terdapat wanita-wanita yang keilmuannya luar biasa, mereka belajar dan mengajar sesama akhowat, memberikan muhadlarah dan hal-hal yang bermanfaat.

    Fasilitas Daarul Hadits Ma’bar
    Terdapat di Ma’had sekitar empat puluh rumah dan tinggal di rumah-rumah tersebut santri-santri yang sudah berkeluarga. Terhitung di dalam kompleks Ma?had, sekitar tiga puluh rumah tinggal, disana tinggal santri-santri yang belum berkeluarga dan juga ada yang tinggal di ruangan bawah masjid. Ma’had memiliki tiga buah mobil untuk keperluan da’wah di jalan Allah (Subhanahu wa Ta’ala).

    Pengeluaran Ma’had
    Ma’had menanggung pembayaran sewa rumah di luar rumah-rumah milik Ma’had untuk para santri yang berkeluarga. Ma’had juga memberikan bantuan-bantuan (dana dan keperluan sehari-hari) kepada yang sudah berkeluarga, walaupun Ma’had tidak mendapatkan bantuan yang resmi baik dari negara, tidak pula dari Jum’iyyat, tidak pula dari organisasi-organisasi tertentu, akan tetapi yang membantu mereka adalah orang-orang yang diberikan taufiq oleh Allah (Subhanahu Wa Ta’ala) dari Ahlil Khair. Semua itu tergantung dari sebatas kemampuan yang diberikannya, dan kadang kala terlewatkan oleh kami sebulan atau dua bulan dan mereka tidak memiliki sesuatu, bahkan para santri disana tidak membiarkan menyerahkan agama hanya untuk kenikmatan dunia, ataupun menyia-nyiakan waktunya tanpa ada faidahnya.

    Pujian Masyaikh terhadap Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam
    1. Al-Imam Al-‘Allamah Al-Mujadid Al-Muhadits Asy-Syaikh Muqbil ibn Hadi Al-Wadi’i (Rahimahullah) : ): “Markaz ilmiyah di kota Ma’bar, beliau telah banyak mencetak para thalabatul ilmi, dan dia (hafidzahullah) bangkit dengan mengajar dan berdakwah kepada Allah (Subhanahu wa Ta’ala)”
    2. Asy-Syaikh Yahya ibn Ali Al-Hajuri (Hafidzahullah) :
    “Salah seorang pemberani Ahlussunnah, memiliki tulisan yang sangat bagus, seorang khatib yang ulung (orator) di berikan oleh Allah (Subhanahu Wa Ta’ala) tata bahasa yang sangat kuat di dalam berkhutbah, kalau membaca Al-Qur’an kita tidak akan merasa pernah puas (karena begitu indah bacaan Al-Qur’annya), memiliki Markaz ‘Ilmiyyah (Ma’had) yang keluar dari Ma’hadnya Thalabatul ‘Ilmi yang memiliki ilmu yang bermanfaat. Ada yang menjadi Khutoba’ (penceramah) dan penghafal-penghafal Al-Qur’an, memiliki tulisan yang sudah tercetak diantaranya: “Kesesatan-kesesatan dari Pemilu”, “Keterangan tentang kesesatan Jami’atul Al-Iman”, “Hukum Al-Hajr di dalam Islam”. [Lihat: "At-Tabaqat" /Asy-Syaikh Yahya Al-Hajuri].

    (Dikutip dari tulisan al Ustadz Muhammad Barmim, Surabaya, dinukil dari situsnya Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam).

    http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=916

  7. Biografi Ringkas

    Fadhilatul Ustadz Abdurrahman bin Abdil Karim at-Tamimi

    Oleh : Abu Salma al-Atsari ( http://www.abusalma.wordpress.com )

    Beliau adalah al-Ustadz Abdurrahman bin Abdul Karim at-Tamimi, Mudir (Direktur) Mahad Ali al-Irsyad as-Salafi Surabaya. Beliau lahir di kota Bangil – Pasuruan – Jawa Timur 27 Desember 1947.

    Di usia belia, ayahanda beliau mengirim beliau ke negeri Hadhramaut dengan harapan agar dapat menguasai Bahasa Arab. Semenjak duduk di bangku sekolah beliau gemar membaca buku, terutama buku-buku tentang sejarah Nabi. Buku tentang sejarah Nabi senantiasa beliau bawa dan baca di lingkungan sekolah. Maka jika beliau membawa sebuah buku dilingkungan sekolah, teman-teman beliau dengan mudah menebaknya itu adalah buku tentang sejarah Nabi. Hingga saat ini beliau mengajarkan buku tentang sejarah para salafus shalih dilingkungan murid-murid beliau.

    Beliau sangat menggemari buku-buku tentang sastra Arab dan buku-buku berbahasa Arab yang mempunyai gaya bahasa sastra Arab yang indah karya para pujangga/sastrawan Arab kenamaan.

    Beliau juga gemar menekuni buku-buku karya para ulama salaf terdahulu semisal Ibnu Taimiyyah dan muridnya Ibnul Qayyim. Beliau juga senang dengan buku-buku karya al-Imam al-Albani -semoga Allah meliputinya dengan rahmat-Nya- dan murid-muridnya yang setia, semisal Syaikh Ali Hasan al-Halabi, Syaikh Salim al-Hilali, Syaikh Masyhur bin Hasan Salman, Syaikh Musa Nashr dan lainnya. Demikian pula beliau senang dengan buku-buku karya syaikh al-Allaamah Ibnu Utsaimin dan Imam Ibnu Baz -semoga Allah meliputi mereka dengan rahmat-Nya- serta ulama ahlus sunnah lainnya.

    Awal kehidupan beliau, terutama ketika beliau mengambil pendidikan di Universitas Kairo bidang ekonomi Islam, beliau cukup aktif di dalam pergerakan Ikhwanul Muslimin dan mengenal banyak sekali tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin. Beliau seringkali berinteraksi dengan mereka hingga akhirnya Alloh melapangkan kebenaran atas beliau sehingga teranglah penyimpangan-penyimpangan pergerakan ini.

    Akhirnya beliau pun melepaskan diri dari pergerakan ini dan mulai berpegang dengan aqidah dan manhaj salaf. Beliau pun mulai melancarkan bantahan-bantahan ilmiah terhadap pergerakan Ikhwanul Muslimin. Beliau orang yang benar-benar mengenal dan mengetahui segala seluk beluk pergerakan IM ini dan intrik-intrik yang ada di dalamnya. Masalah ini bisa para pembaca dapatkan pada kaset ceramah beliau yang berbicara tentang Ikhwanul Muslimin. Al-Akh Andi Abu Thalib sendiri di dalam bukunya yang membantah “Al-Ikhwanul Muslimun Anugerah Yang Terzhalim” karya Farid Nu’man, banyak mengambil faidah dari rekaman kaset al-Ustadz dan al-Akh Andi juga mengatakan di pembukaan bukunya bahwa ia juga berkonsultasi dengan al-Ustadz di dalam beberapa masalah di bukunya.

    Pada tahun 1996 seiring dengan berdirinya Mahad Ali al-Irsyad beliau ditunjuk menjadi Mudir Mahad Ali al-Irsyad Surabaya. Dimana Mahad Ali al-Irsyad ini adalah salah satu dari “Benteng” kebaikan dan “Benteng” dakwah salafiyah yang terdapat di tanah air ini insya Aloh.

    Dikarenakan semenjak usia belia beliau sudah berada di negeri timur tengah, maka beliau cenderung lebih sulit menggunakan bahasa Indonesia dibandingkan dengan Bahasa Arab. Kosakata beliau di dalam Bahasa Indonesia sangat minim, namun di dalam Bahasa Arab, para penuntut ilmu dan bahkan ustadz-ustadz apabila menemukan suatu kata yang sulit atau ganjil, atau syair yang sulit difahami, mereka banyak bertanya kepada al-Ustadz hafizhahullahu.

    Al-Ustadz juga memiliki tsaqofah yang luas, beliau banyak mengetahui ‘urf (adat/budaya) suatu negeri, lahjah (dialek bicara) bahkan juga tokoh-tokoh di negeri timur tengah. Setiap kali kami mendapatkan nama seseorang yang merupakan tokoh pergerakan atau lainnya yang belum pernah kami dengar, beliau mengetahui orang tersebut, pemikiran dan sepak terjangnya.

    Beliau memiliki akhlaq yang karimah (mulia), tawadhu’, berhati lembut dan mudah memaafkan. Pernah suatu kali ada seseorang yang pernah menfitnah beliau dengan tuduhan-tuduhan dusta, yang menyebabkan orang-orang di sekitar beliau marah besar kepada si penuduh ini. Ketika Alloh memberikan hidayah kepada si penuduh ini dan ia merasa bersalah dan mau bertaubat, lantas ia datang kepada al-Ustadz dan meminta maaf kepadanya, ia mengakui kesalahan-kesalahannya sehingga menyebabkan al-Ustadz menangis tersedu-sedu dan langsung memaafkan si penuduh ini.

    Para Thullabatul ‘Ilmi banyak yang segan menghadapi al-Ustadz, dikarenakan beliau memiliki wibawa di hadapan murid-muridnya, bahkan juga di hadapan ustadz-ustadz lainnya. Beliau sering memberikan nasehat dan wejangan kepada murid-muridnya dan siapa saja yang minta nasehat kepada beliau, dan seringkali mereka yang diberi nasehat oleh beliau tidak kuasa menitikkan air mata.

    Pernah ada seorang tholib yang melakukan kesalahan, lalu dipanggil oleh al-Ustadz dan diberikan nasehat oleh beliau. Setelah itu, selama beberapa malam, tholib ini sering menangis, ketika ditanya oleh teman-temannya ia menceritakan bahwa ia masih teringat nasehat al-Ustadz yang menyebabkan ia terus menerus menangis karena menyesal dan merasa bersalah, dan ia termotivasi oleh nasehat al-Ustadz untuk tidak mengulangi kesalahannya.

    Tidak sedikit pula di dalam pengajian beliau yang membahas siirah, banyak para thullab dan peserta pengajian mencucurkan air matanya dikarenakan apa yang disampaikan ustadz benar-benar merasuk ke dalam sanubarinya. Walau al-Ustadz tidak begitu menguasai Bahasa Indonesia, namun disebabkan oleh intonasi dan gaya bicara beliau, kata-kata yang sulit dapat difahami oleh para peserta pengajian beliau.

    Al-Ustadz adalah orang yang sangat concern terhadap Bahasa Arab dan terus mengupayakan supaya ummat Islam ini bisa berbahasa Arab. Pernah suatu kali di dalam pengajian, al-Ustadz kesulitan mencari padanan terjemahan kata yang pas, akhirnya beliau berupaya mendeskripsikannya dan tidak jarang akhirnya pilihan kata yang beliau gunakan adalah bahasa jawa, karena beliau tidak mengetahui bahasa Indonesianya. Hal ini menyebabkan beberapa thullab merasa geli dan lucu dan mereka tertawa, Ustadz pun bertanya kepada thullab mengapa mereka tertawa, namun para thullab tidak ada yang menjawab. Setelah beberapa kali hal ini berulang, akhirnya al-Ustadz tahu bahwa mereka mentertawakan pilihan kata terjemahan yang tercampur bahasa jawa, beliau pun berkata –yang intinya- : “Ana orang Indonesia tapi ana tidak merasa malu tidak bisa berbahasa Indonesia. Ana tidak bisa berbahasa Indonesia tapi ana tidak merasa sedih dan kecewa, namun ana merasa sangat sedih sekali apabila ana tidak bisa berbahasa Arab. Antum sekarang ingin memahami kitab-kitab para ulama, memahami sunnah, memahami al-Qur’an, tidak bisa kalau tidak pake’ Bahasa Arab. Diantara bentuk ghozwul fikri kaum kuffar untuk menjauhkan umat Islam dari agamanya adalah mereka jauhkan umat ini dari Bahasa Arab, bahasanya Islam, bahasanya al-Qur’an, bahasanya Nabi yang mulia Shalallalhu ‘alaihi wa Salam…” lalu beliau menceritakan bahwa orientalis saja, yang bukan muslim, mereka menguasai sastera Arab. Profesor Bahasa Arab di Mesir yang banyak menjadi guru besar sastera kebanyakan adalah non muslim atau orang-orang liberalis didikan orientalis. Demikianlah kurang lebih apa yang beliau sampaikan, sehingga setelah itu tidak ada lagi para thullab yang tertawa ketika pengajian.

    Salah satu nasehat Ustadz Abdurrahman at-Tamimi kepada para duat salafiyyin dalam muqadimah Dauroh adalah : “Hal kedua yang saya ingin nasehatkan kepada saudara-saudaraku para dai adalah perhatian kepada bahasa Arab serta menguasainya dengan baik, karena bahasa Arab adalah pintu al-Qur’an, inti syariat serta kunci Islam. Disebutkan dalam atsar bahwa Umar bin Khattab seorang khalifah yang adil berkata :”Belajarlah bahasa Arab karena dia adalah bagian dari agama kalian“. Imam Ahmad bin Hambal berkata : “Apabila engkau ingin mengetahui kebaikan agama seorang ajam (selain Arab) maka lihatlah keseriusannya dalam belajar bahasa Arab“… Sesungguhnya saya menasehatkan saudara-saudaraku untuk memperhatikan bahasa Arab dan menguasainya dengan baik, karena tidak mungkin kita bisa paham agama kita kecuali dengan memahami bahasa Arab.”

    Beliau juga senantiasa menekankan kepada murid-muridnya untuk beraqidah dan bermanhaj dengan benar. Supaya menelaah kitab-kitab aqidah dan manhaj ahlus sunnah dengan mempelajari kitab-kitab aslinya dan jangan hanya mengandalkan buku-buku terjemahan, karena membaca buku bahasa Arab dengan terjemahan sangat beda jauh nuansa pemahaman yang diterima, dan bagi yang pernah membandingkannya akan mengetahui kebenaran apa yang diutarakan oleh al-Ustadz.

    Al-Ustadz pernah diUndang dan memberikan ceramah dalam Muktamar yang diadakan oleh Markaz al-Imam al-Albani Jordania pada tanggal 13-15 Jumadil Awwal 1425 H/1-3 Juli 2004 M. Beliau memberikan ceramah di hadapan masyaikh dan thullabatil ‘ilm dari seluruh penjuru dunia. Di sana beliau duduk dengan Syaikh DR. Muhammad al-Khumayis, Syaikh Hisyam al-‘Arifi dari Palestina dan ulama-ulama lainnya. Beliau juga bertemu dengan beberapa masyaikh yang mulia semisal Syaikh Jamil Zainu, Syaikh Walid Saif an-Nashir, dll yang mereka semua adalah murid-murid dari Imam al-Albani rahimahullahu.

    Pernah pada suatu kesempatan, saya (Abu Salma) sedang online di Paltalk kajian live dari Markaz Imam al-Albani. Lalu ada seorang ikhwan dari Palestina menyapa saya, dan saya berbincang-bincang sedikit dengannya seputar dakwah. Lalu saya bertanya pada beliau apakah beliau mengenal Syaikh Hisyam al-‘Arifi, lalu beliau mengatakan bahwa beliau adalah muridnya dan beliau sedang on-line di Maktabah (perpustakaan) dan Syaikh Hisyam beserta masyaikh lainnya tepat ada di belakangnya. Lalu ana minta supaya ia menyampaikan salam ana, ikhwan Indonesia. Tidak lama kemudian setelah ia menyampaikan salam, ia berkata kepada ana : “Syaikh Hisyam memberikan salam balik untuk antum, beliau juga bertanya, apakah antum kenal Syaikh Abu ‘Auf ‘Abdurrahman at-Tamimi?”. Tentu saja saya menjawab iya. Lalu, syaikh Hisyam pun maju dan meminta si ikhwan ini untuk mengetikkan salamnya kepada al-Ustadz Abu ‘Auf hafizhahullahu. Beliau mengatakan bahwa beliau kenal baik ketika bertemu di Amman Yordania waktu Muktamar Markaz Imam al-Albani.

    Pada kesempatan lain lagi, saya pernah on-line di paltalk bersama beberapa ikhwan di Maktabah Al-Irsyad, mengikuti kajian live dari Yordania. Waktu itu yang menjadi pembicara adalah Syaikh Abu Islam. Saya merasa asing dengan nama beliau. Lalu saya bertanya kepada moderator untuk bisa mengenal lebih jauh siapakah Syaikh Abu Islam ini namun belum dijawab-jawab, mungkin dikarenakan kesibukan. Kebetulan, tidak beberapa lama kemudian al-Ustadz Abdurrahman masuk ke Maktabah, dan sempat curious (penasaran) dengan apa yang kami lakukan. Lalu saya bertanya kepada beliau apakah beliau pernah mendengar Abu Islam. Lantas al-Ustadz pun menjawab bahwa beliau mengenalnya, beliau menceritakan bahwa Syaikh Abu Islam ini nama aslinya adalah Shalih Thaha, aslinya dari Mesir lalu hijrah ke Yordania dan belajar kepada Imam al-Albani. Jadi intinya beliau adalah salah satu murid Imam al-Albani. Al-Ustadz lalu berpesan supaya menyampaikan salamnya kepada Syaikh Abu Islam apabila memungkinkan.

    Setelah kajian selesai, si moderator menjawab salam saya. Kami pun melakukan sedikit pembicaraan. Lalu saya sampaikan salam al-Ustadz untuk syaikh Abu Islam, dan moderator pun menyampaikan, saat itu Syaikh Abu Islam masih berada di tempat kajian. Tidak berapa lama moderator kembali dan mengatakan bahwa Syaikh Abu Islam mengucapkan salam balik untuk Syaikh Abu ‘Auf. Beliau bergembira sekali dapat mendengar al-Ustadz Abu ‘Auf.

    Para murid al-Imam al-Albani di Markaz Imam al-Albani sering memuji al-Ustadz, dan memberi kepercayaan kepada al-Ustadz untuk mengawasi penerjemahan kitab-kitab karya mereka.

    Dalam kitab al-Iraq fi Ahadits wa atsaril fitan yang dihadiahkan syaikh Masyhur Hasan al-Salman kepada beliau, syaikh menuliskan kalimat “Hadiah untuk ustadz Abu Auf Abdurrahman at-Tamimi saudara yang memiliki keutamaan, semoga Allah menjaga dan memeliharanya, (saya) mengharapkan doa yang baik, dan koreksi bermanfaat (terhadap kitab ini)”.

    Demikian juga syaikh Ali Hasan al-Halabi dalam kitab beliau “ar-Radd al-Burhani” menuliskan suatu kalimat “kecintaan dan persaudaraan, kepada saudara al-Ustadz Abdurrahman at-Tamimi, semoga Allah menambah kepadanya petunjuk”.

    Bahkan dalam kitab beliau yang berjudul “al-Jumuh anil akhirah” syaikh Ali Hasan menuliskan nama beliau dalam kitabnya tersebut, syaikh menulis : “Telah sampai kepadaku – dan yang memberi petunjuk itu adalah Allah – kata-kata yang baik… Dan barangkali yang paling mengena (dalam hati) dari kata-kata yang aku baca adalah kata-kata al-Ustadz Abdurrahman at-Tamimi, saudara yang mempunyai keutamaan…“.

    Begitu pula syaikh Salim al-Hilali dan Syaikh Musa Nashr mereka memuji beliau, bahkan juga membela beliau dari tuduhan-tuduhan dusta dan fitnah orang-orang yang sakit hati karena dengki, iri dan hasad kepada al-Ustadz.

    Orang-0rang shalih, siapapun dia, pasti memiliki lawan dan musuh. Demikian pula dengan al-Ustadz, banyak sekali tuduhan dan fitnah dusta dialamatkan kepada beliau oleh orang-orang bodoh alias ar-Ruwaibidhah yang terbakar rasa dengki dan iri hati yang menyala-nyala, yang mengibarkan bendera haddadiyah hizbiyah yang membinasakan dan memporakporandakan dakwah salafiyah di tanah air.

    Para ruwaibidhah ini, tidak dikenal sedikitpun pada mereka adanya sikap ilmiah, mereka tidak memiliki tulisan melainkan hanyalah umpatan dan makian belaka. Mereka tidak dikenal akan bantahan ilmiah kepada dakwah hizbiyah yang memerangi dakwah salafiyah. Mereka diam seribu bahasa, namun mereka sibuk dengan du’at ahlis sunnah, mereka perangi dengan sebesar-besar peperangan, mereka tuduh dengan kedustaan, fitnah dan kekejian. Semoga Alloh membalas apa yang mereka lakukan dan semoga Alloh menjaga para du’at dan pengibar dakwah salafiyah mubarokah ini.

    Semoga Alloh menjaga al-Ustadz Abu ‘Auf ­hafizhahullahu, yang kami cintai pada kebenaran yang ada pada beliau, dan kami tidak mensucikan seorang pun di hadapan Alloh. Kami tuliskan biografi ini bukan atas dasar fanatik kepada beliau, karena alhamdulillah agama kami tidak dibangun di atas dasar fanatisme. Al-Ustadz seringkali menyatakan, bawah beliau dan du’at lainnya adalah manusia yang kadang salah dan kadang benar, maka apabila ada yang salah luruskanlah dengan cara yang baik. Apalagi beliau dan du’at lainnya adalah orang-orang yang dekat dengan ulama ahlis sunnah. Kami hanya menyampaikan apa yang benar, terutama setelah fitnah dan kedustaan menyerang kehormatan guru kami tanpa haq, al-Ustadz Abu ‘Auf at-Tamimi raghmun unufihi, agar umat mengetahui manakah yang –insya Alloh- adalah para pembela dakwah dan manakah yang perusak dakwah.

    ———–
    ( http://www.abusalma.wordpress.com )

    http://abusalma.wordpress.com/2007/04/03/kata-sambutan-fadhilatul-ustadz-abu-%e2%80%98auf/

  8. membaca Sejarah Syeich Abdul Qodir Al-Jaelani terasa sgt janggal sekali !.. Dibagian atas penulisnya menulis bhwa Syeich Abdul Qodir bukan dr aliran Tareqat…. tp dibagian lain penulis mengetahui belia ( Syeick A.Qodir ) mengarang kitab Futuhul Ghaib !… skrg pertanyaannya : 1. Penulis apakah dah khatam baca kitab Futuhul Ghaib? 2. Kalo bukan dr aliran Tareqat.. maka syapa pendiri tarekat Qodiriyyah? …

    zzzzzzzzzzzz… ah, ni artikel asal copas atau asal2an ya? capek deh!

Komentar ditutup.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 299 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: