• Blog Stats

    • 38,082,187 hits
  • pacaran adalah perbuatan haram, maka janganlah berpacaran. Dan jangan mau jika diajak pacaran. Akan tetapi tempuhlah jalan yang halal jika memang benar-benar cinta dan ingin menikah. Segeralah menikah dan jangan berpacaran. ================================== dan janganlah kamu mendekati zina. sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk. [QS Al Isra':32] ==================================== JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA ====================================== Asy-Sya’bi berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah)
  • Artikel Terbaru

  • arsip artikel

  • wasiat untuk seluruh umat manusia

    kasihilah semua makhluk yang ada di muka bumi, niscaya Tuhan yang ada di atas langit akan mengasihimu.. =============================================== Cara mengasihi orang kafir diantaranya adalah dengan mengajak mereka masuk islam agar mereka selamat dari api neraka =============================================== wahai manusia, islamlah agar kalian selamat.... ======================================================
  • wasiat untuk seluruh umat islam

    ====================================== “Janganlah kamu saling dengki, saling membenci, saling mengintip rahasia, saling bersaing, saling mencari keburukan, saling menawar lebih tinggi untuk menipu pembeli sehingga menawar tinggi, saling memutuskan hubungan, saling bermusuhan, janganlah sebagian kalian menjual atas jualan yang lain. Jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang diperintahkan Allah. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh menganiaya, tidak boleh menelantarkannya dan tidak boleh menghinanya. ============================================= Taqwa ada di sini, taqwa ada di sini, taqwa ada di sini kata Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam sambil menunjuk dadanya. ================================================= Cukuplah merupakan kejelekan seseorang apabila menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain adalah haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. Hati-hatilah bersangka buruk, karena sesungguhnya bersangka buruk adalah omongan yang paling dusta. ==================================================== Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk kamu dan hartamu, tetapi ia melihat hati dan perbuatanmu.” (riwayat Muslim dan Bukhari). ==========================================
  • BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR

    BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- -------------------------------------------------------------------------------------------- Orang yang mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi janda dan orang miskin ibarat berjihad di jalan Allah dan ibarat orang shalat malam (HR. Bukhari) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain. (HR. Ahmad) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersodaqoh dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana. (HR. Ath-Thabrani) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sodaqoh. (HR. Al-Baihaqi) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Tiap-tiap amalan makruf (kebajikan) adalah sodaqoh. Sesungguhnya di antara amalan makruf ialah berjumpa kawan dengan wajah ceria (senyum) dan mengurangi isi embermu untuk diisikan ke mangkuk kawanmu. (HR. Ahmad) ------------------------------------------------------------------------------------------------------------
  • berbuat baiklah pada semua binatang, termasuk kepada anjing

    Kita tidak diperbolehkan menyiksa binatang dengan cara apa pun, atau membuatnya kelaparan, memukulinya, membebaninya dengan sesuatu yang ia tidak mampu, menyiksa atau membakarnnya. --------------------------------------------------- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Seorang wanita masuk neraka karena seekor kucing yang ia kurung hingga mati. Maka dari itu ia masuk neraka gara-gara kucing tersebut disebabkan dia tidak memberinya makan dan tidak pula memberinya minum di saat mengurung nya, dan dia tidak membiarkannya (melepaskannya) supaya memakan serangga di bumi.” (HR. al-Bukhari) ------------------------------------------------------- Dan ketika beliau melewati sarang semut yang telah dibakar, beliau bersabda, “Sesungguhnya tidak ada yang berhak menyiksa dengan api selain Rabb (Tuhan) pemilik api.” (HR. Abu Dawud, hadits shahih) ---------------------------------------------- “Barangsiapa yang tidak berbelas kasih niscaya tidak akan dibelaskasihi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) ------------------------------------------------- “Kasihanilah siapa saja yang ada di bumi ini, niscaya kalian akan dikasihani oleh yang ada di langit.” (HR. at-Tirmidzi) -------------------------------------------------- Dibolehkan membunuh hewan-hewan yang membahayakan atau mengganggu seperti anjing buas, serigala, ular, kalajengking, tikus dan lain-lain karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Ada lima macam hewan fasik (buruk) yang boleh dibunuh di waktu halal (tidak ihram) dan di waktu ihram, yaitu ular, burung gagak yang putih punggung dan perutnya, tikus, anjing buas, dan rajawali.” (HR. Muslim). Juga terdapat hadits shahih yang membolehkan untuk membunuh kalajengking. ================================================
  • JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA

    ====================================== ‘Amr bin Syarahil Asy-Sya’bi rahimahullahu berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah, 2/636. Dihasankan oleh Al-Albani dalam At-Tahrim, hal. 148) ----------------------------------------------------------------------------- Ibnu Abdil Barr rahimahullahu berkata: “Termasuk hasil usaha yang disepakati keharamannya adalah riba, upah para pelacur, sogokan (suap), mengambil upah atas meratapi (mayit), nyanyian, perdukunan, mengaku mengetahui perkara gaib dan berita langit, hasil seruling dan segala permainan batil.” (Al-Kafi hal. 191) ---------------------------------------------------------------------- Ath-Thabari rahimahullahu berkata: “Telah sepakat para ulama di berbagai negeri tentang dibenci dan terlarangnya nyanyian.” (Tafsir Al-Qurthubi, 14/56) ------------------------------------------------------------------- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “Mazhab empat imam menyatakan bahwa alat-alat musik semuanya haram.” Lalu beliau menyebutkan hadits riwayat Al-Bukhari rahimahullahu . (Majmu’ Fatawa, 11/576) --------------------------------------------------------------- ------------------------------------------
  • wasiat bagi para pemuda

    ====================================== ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Barangsiapa di antara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya mereka adalah ummat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, dan paling lurus petunjuknya, serta paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya, karena mereka berada di jalan yang lurus.” [Dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Baar dalam kitabnya Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih II/947 no. 1810, tahqiq Abul Asybal Samir az-Zuhairy] ======================================
  • wasiat Imam al-Auza’i

    ====================================== Imam al-Auza’i rahimahullah (wafat th. 157 H) mengatakan: “Bersabarlah dirimu di atas Sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para Shahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan Salafush Shalih, karena akan mencukupi kamu apa saja yang mencukupi mereka.” [Syarh Ushul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah 1/174 no. 315] --------------------------------------------------------------- Beliau rahimahullah juga berkata: “Hendaklah kamu berpegang kepada atsar Salafush Shalih meskipun orang-orang menolaknya dan jauhkanlah diri kamu dari pendapat orang meskipun ia hiasi pendapatnya dengan perkataannya yang indah.” [Imam al-Aajury dalam as-Syari’ah I/445 no. 127, di-shahih-kan oleh al-Albany dalam Mukhtashar al-‘Uluw lil Imam adz-Dzahaby hal. 138, Siyar A’laam an-Nubalaa’ VII/120] =================================================
  • Mengutip perkataan Syaikh Bin Baz rahimahullaahu

    “Zaman ini adalah zaman kelembutan, kesabaran dan hikmah, bukanlah zaman kekerasan (kebengisan). Mayoritas manusia saat ini dalam keadaan jahil (bodoh), lalai dan lebih mementingkan duniawiyah. Maka haruslah sabar dan lemah lembut sampai dakwah ini tersampaikan dan sampai mereka mengetahuinya. Kami mohon petunjuk kepada Alloh untuk semuanya.” (Majmu’ Fatawa Samahatul Imam Ibnu Bazz (Juz VIII, hal 376) dan (Juz X, hal. 91) =================================================
  • jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara

    ====================================== Segala puji hanyalah milik Alloh yang telah mempertautkan hati kaum mukminin dan menganjurkan mereka supaya bersatu padu dan saling berhimpun serta memperingatkan dari perpecahan dan perselisihan. -------------------------------------------------------- Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq untuk disembah melainkan hanyalah Alloh semata yang tidak memiliki sekutu. Dialah yang mensyariatkan dan memudahkan, dan Dia terhadap kaum mukminin adalah sangat penyantun. ------------------------------------------------------ Saya juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang diperintahkan dengan kemudahan dan berita gembira. ----------------------------------------------------- Beliau bersabda : Permudahlah dan janganlah kamu persulit, berikanlah kabar gembira dan janganlah membuat orang lari (dari kebenaran). ------------------------------------------------------ Permisalan kaum mukminin satu dengan lainnya dalam hal kasih sayang, tolong menolong dan kecintaan, bagaikan tubuh yang satu, jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan merasa demam atau terjaga” --------------------------------------------------- Tidak ragu lagi, bahwa kewajiban Ahlus Sunnah di setiap zaman dan tempat adalah saling bersatu dan menyayangi di antara mereka serta saling bekerja sama di dalam kebajikan dan ketakwaan… ==================================================---------------
  • KHUTBATUL HAJAH

    ====================================== Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, dan meminta ampun kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami, dan dari keburukan-keburukan perbuatan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah saja, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. ================================================ “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” ================================================== “Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan darinya Allah menciptakan isterinya; dan dari keduanya Allah mengembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silatur rahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” ========================================================= “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mena’ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. ============================================================ Amma ba’du; Maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad , dan seburuk-buruk perkara dalam agama adalah yang di ada-adakan, setiap yang diada-adakan (dalam urusan agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan. (HR. Muslim, an-Nasa’i dan selain keduanya) ==================================================
  • Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka (al baqarah ayat 120)

  • SALAFY & WAHABI BUKANLAH ALIRAN SESAT

    Al-Malik Abdul Aziz berkata : “Aku adalah penyeru kepada aqidah Salafush Shalih, dan aqidah Salafush Shalih adalah berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang datang dari Khulafaur Rasyidin” [Al-Wajiz Fi Siratil Malik Abdul Aziz hal.216] ------------------------------------------------------------------------------------- Beliau juga berkata : “Mereka menamakan kami Wahabiyyin, dan menamakan madzhab kami adalah madzhab wahabi yang dianggap sebagai madzhab yang baru. Ini adalah kesalahan fatal, yang timbul dari propaganda-propaganda dusta yang disebarkan oleh musuh-musuh Islam. Kami bukanlah pemilik madzhab baru atau aqidah baru. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tidak pernah mendatangkan sesuatu yang baru, aqidah kami adalah aqidah Salafush Shalih yang datang di dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang ditempuh oleh Salafush Shalih. Kami menghormati imam empat, tidak ada perbedaan di sisi kami antara para imam : Malik, Syafi’i, Ahmad dan Abu Hanifah, semuanya terhormat dalam pandangan kami” [Al-Wajiz Fi Siratil Malik Abdul Aziz, hal. 217] ---------------------------------------------------------
  • mengutip perkataan Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad hafizhahullaahu:

    “Telah terjadi di zaman ini, sibuknya sebagian ahlus sunnah dengan sebagian lainnya dengan tajrih (saling mencela) dan tahdzir, dan implikasi dari hal ini menyebabkan terjadinya perpecahan, perselisihan dan saling mengisolir. Padahal sepantasnya bahkan seharusnya bagi mereka untuk saling mencintai dan berkasih sayang terhadap sesama mereka, dan menyatukan barisan mereka di dalam menghadapi ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu yang menyelisihi ahlus sunnah wal jama’ah. ---------------------------------------------------- “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- agar menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dari perkara-perkara yang tidak bermanfaat bagi mereka, sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “diantara kebaikan seorang muslim adalah meninggalkan hal-hal yang tidak berfaidah baginya.” Hadits hasan diriwayatkan oleh Turmudzi.” ------------------------------------------------------ “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- untuk bersikap pertengahan dan moderat, diantara sikap ghuluw (ekstrim) dan meremehkan, dan diantara sikap ifrath (berlebih-lebihan) dan tafrith (menggampangkan). Sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “Jauhilah oleh kalian sikap ghuluw di dalam agama, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa dikarenakan sikap ghuluw mereka di dalam agama.” Ini hadits shahih, dikeluarkan oleh an-Nasa’i dan selainnya.” ---------------------------------------------------- “Dan aku nasehatkan supaya mereka berhati-hati dari sikap zhalim, dikarenakan hadits Qudsi, “Wahai hamba-Ku, sesunguhnya Aku haramkan kezhaliman atas diri-Ku, maka aku jadikan pula haram atas diri kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi” diriwayatkan oleh Muslim, dan hadits Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “takutlah kalian dari kezhaliman, karena sesungguhnya kezhaliman itu adalah kegelapan di hari kiamat” diriwayatkan oleh Muslim. ------------------------------------------------------ Aku memohon kepada Allah Azza wa Jalla untuk menunjuki seluruh ummat kepada apa yang diridhai-Nya, agar mereka mendalami agama Islam (tafaqquh fid din) dan menetapi kebenaran, serta agar mereka menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dan menjauhkan dari apa-apa yang tidak bermanfaat. Sesungguhnya Ia berkuasa dan berkemampuan atasnya. Semoga Sholawat dan Salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya dan para sahabatnya. (selesai kutipan) ===========================================
  • mengutip perkataan Imam Albani rahimahullaahu

    “Wajib atas kita untuk berlemah lembut di dalam dakwah kita terhadap orang-orang yang menyelisihi kita, dan jadikan selalu firman Alloh Ta’ala berikut (sebagai pegangan) dan untuk selamanya : “Serulah mereka ke jalan Rabb-mu dengan hikmah dan nasehat yang baik, serta berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.” Dan mereka yang pertama lebih berhak untuk kita terapkan hikmah ini adalah mereka yang paling memusuhi kita di dalam dasar (mabda’) dan aqidah kita, hingga kita tidak menggabungkan antara beratnya dakwah yang haq yang Alloh memperteguh kita dengannya dengan beratnya cara (ushlub) kita berdakwah kepada Alloh Azza wa Jalla” ==================================================
  • Diriwayatkan bahwa Hasan Al-banna berkata: “Kami menginginkan terbentuknya sosok individu muslim, rumah tangga Islami, bangsa yang Islami, pemerintahan yang Islami, negara yang dipimpin oleh negara-negara Islam, menyatukan perpecahan kaum muslimin dan negara mereka yang terampas, kemudian membawa bendera jihad dan da’wah kepada Allah sehingga dunia mendapatkan ketentraman dengan ajaran-ajaran Islam.” ==================================================
  • warning

    dalam blog ini mungkin terdapat hadits dhoif, riwayat yang tidak valid, salah tulis, kutipan yg tidak sesuai syariat islam, dan berbagai kesalahan2 lain, dan belum sempat di sensor, jadi mohon maaf sebesar-besarnya

KETAHUILAH BAHWA SEMUA TAREKAT SUFI ADALAH SESAT

KETAHUILAH BAHWA SEMUA TAREKAT SUFI ADALAH SESAT

Dalam ajaran islam tidak ada yang namanya tarekat, meski semua tarekat mengaku punya sanad dari nabi tetapi semua itu palsu. Bukankah orang kristen juga mengaku bahwa ajaran kristen berasal dari Yesus (nabi Isa), tapi kita tahu bahwa klaim mereka adalah palsu, meski mereka tidak sadar.

Jadi, semua tarekat seperti naqsabandiyah, syattariyah, qadiriyah, maulawiyah, jistiyah, tijaniyah, dll semuanya adalah palsu dan sesat.

Para imam keempat madzhab yaitu hanafi, syafii, maliki, hambali semuanya tidak mengajarkan tarekat. Begitu juga 9 penulis kitab hadits tidak ada yang mengajarkan tarekat sufi, yaitu: bukhari, muslim, abu dawud, an nasai, ibnu majah, tirmidzi, Malik bin Anas, thabrani, al hakim,

==================================

Fatwa mengenai Tarekat Sufi

Lajnah Daimah Li al-Buhuts Ilmiyyah wal al-Ifta

KATA PENGANTAR

Pada edisi kali ini, kami angkat permasalahan mengenai Fatwa Tentang Tarekat Sufi oleh Lajnah Daimah Li al-Buhuts Ilmiyah wa al-Ifta Saudi Arabia, berkenan dengan pertanyaan yang di ajukan oleh seorang penanya berasal dari Kuwait. Fatwa ini dikeluarkan tanggal 18 Jumadil Awal 1414H dengan No. Fatwa 16011, dan dimuat di majalah As-Sunnah Edisi 17/II/1416H-1996M.

PERTANYAAN TENTANG TAREKAT SUFI

Ada sebuah perkumpulan wanita dari Kuwait. Mereka menyebarkan dakwah sufi beraliran Naqsyabandiyah secara sembunyi-sembunyi, perkumpulan wanita tersebut berada dibawah naungan lembaga resmi.

Kami telah mempelajari kitab-kitab mereka, dan berdasarkan pengakuan mereka, yang pernah ikut perkumpulan wanita ini, tarekat ini memiliki pemahaman diantaranya :

Barangsiapa yang tidak mempunyai syaikh, maka yang menjadi syaikhnya adalah syetan.

Barangsiapa yang tidak bisa mengambil ahlak syaikh/gurunya, maka tidak akan bermanfaat baginya Kitab dan Sunnah.

Barangsiapa yang mengatakan pada syaikhnya, “Mengapa begitu ?” Maka, tak akan sukses selamanya.

Selain itu, mereka berdzikir (dengan tata cara sufi, tentunya) seraya membawa gambar syaikhnya. Mereka suka mencium tangan gurunya yang bergelar Al-Anisaa, dan berasal dari negeri Arab. Mereka menganggap akan mendapat berkah dengan meminum air sisa sang gurunya.

Mereka menulis do’a dengan do’a khusus yang dinukil dari buku Al-Lu’lu wa Al-Marjan Fi Taskhiri Muluki Al-Jann. Dan dalam lapangan pendidikan, perkumpulan ini membangun madrasah khusus untuk kalangan sendiri, mereka didik anak-anak berdasarkan ide-ide kelompoknya, bahkan ada di antaranya yang mengajar di sekolah-sekolah negeri umum, baik jenjang setingkat SMP maupun SMA.

Sebagian mereka ada yang berpisah dengan suami dan meminta cerai lewat pengadilan, hal itu terjadi manakala sang suami menyuruh sang istri agar menjauh dari aliran yang sesat ini. Pertanyaan yang kami ajukan :

Bagaimanakah menurut syariat tentang perkumpulan wanita tersebut ?

Diperbolehkan mengawini mereka ?

Bagaimana pula hukumnya dengan akad nikah yang telah berlangsung selama ini ?

Sekarang, nasihat dan ancaman yang bagaimana yang pantas untuk mereka ?

Mohon penjelasan.

JAWABAN :

Tarekat sufi, salah satunya Naqsyabandiyah, adalah aliran sesat dan bid’ah, menyeleweng dari Kitab dan Sunnah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Artinya : Jauhilah oleh kalian perkara baru, karena sesuatu yang baru (di dalam agama) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat”. (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, Tirmidzi dan Hakim).

Tarekat sufi tidak semata bid’ah. Bahkan, di dalamnya terdapat banyak kesesatan dan kesyirikan yang besar, hal ini dikarenakan mereka mengkultuskan syaikh/guru mereka dengan meminta berkah darinya, dan penyelewengan-penyelewengan lainnya bila dilihat dari Kitab dan Sunnah. Diantaranya, pernyataan-pernyataan kelompok sufi sebagaimana telah diungkap oleh penanya.

Semua itu adalah pernyataan yang batil dan tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah, sebab yang patut diterima perkataannya secara mutlak adalah perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana firman Allah :

“Artinya : Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah”. (Al-Hasyr : 7).

“Artinya : Dan tidaklah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya”. (An-Najm : 3).

Adapun selain Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam, walau bagaimana tinggi ilmunya, perkataannya tidak bisa diterima kecuali kalau sesuai dengan Al-Kitab dan Sunnah. Adapun yang berpendapat wajib mentaati seseorang selain Rasul secara mutlak, hanya lantaran memandang “si dia/orang”nya, maka ia murtad (keluar dari Islam).
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Rabb selain Allah, dan (juga mereka menjadikan Rabb) Al-Masih putera Maryam ; padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah Yang Maha Esa ; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”. (At-Taubah : 31).

Ulama menafsirkan ayat ini, bahwa makna kalimat “menjadikan para rahib sebagai tuhan” ialah bila mereka menta’ati dalam menghalalkan apa yang diharamkan dan mengharamkan apa yang dihalalkan. Hal ini diriwayatkan dalam hadits Adi bin Hatim.

Maka wajiblah berhati-hati terhadap aliran sufi, baik dia laki-laki atau perempuan, demikianlah pula terhadap mereka yang berperan dalam pengajaran dan pendidikan, yang masuk ke dalam lembaga-lembaga. Hal ini agar tidak merusak aqidah kaum muslimin.

Lantas, diwajibkan pula kepada seorang suami untuk melarang orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya agar jangan masuk ke dalam lembaga-lembaga tersebut ataupun sekolah-sekolah yang mengajarkan ajaran sufi. Hal ini sebagai upaya memelihara aqidah serta keluarga dari perpecahan dan kebejatan para istri terhadap suaminya.

Barangsiapa yang merasa cukup dengan aliran sufi, maka ia lepas dari manhaj Ahlus Sunnah wa Jamaah, jika berkeyakinan bahwa syaikh sufi dapat memberikan berkah, atau dapat memberikan manfa’at dan madharat, menyembuhkan orang sakit, memberikan rezeki, menolak bahaya, atau berkeyakinan bahwa wajib menta’ati setiap yang dikatakan gurunya/syaikh, walaupun bertentangan dengan Al-Kitab dan As-Sunnah.

Barangsiapa berkeyakinan dengan semuanya itu, maka dia telah berbuat syirik terhadap Allah dengan kesyirikan yang besar, dia keluar dari Islam, dilarang berloyalitas padanya dan menikah dengannya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Artinya : Dan janganlah kalian nikahi wanita-wanita musyrikah sebelum mereka beriman, ………. Dan janganlah kalian menikahkan (anak perempuan) dengan laki-laki musyrik sebelum mereka beriman ……..”. (Al-Baqarah : 221).

Wanita yang telah dilekati aliran sufi, akan tetapi belum sampai pada keyakinan yang telah kami sebutkan di atas, tetap tidak dianjurkan untuk menikahinya. Entah itu sebelum terjadi aqad ataupun setelahnya, kecuali bila setelah dinasehati dan bertaubat kepada Allah.

Yang kita nasehatkan adalah bertaubat kepada Allah, kembali kepada yang haq, meninggalkan aliran yang batil ini dan berhati-hati terhadap orang-orang yang menyeru kepada kejelekan-kejelekan. Hendaknya berpegang teguh dengan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah, membaca buku-buku bermanfa’at yang berisi tentang aqidah yang shahih, mendengarkan pelajaran, muhadharah dan acara-acara yang berfaedah yang dilakukan oleh ulama yang berpegang dengan teguh pada manhaj yang benar.

Juga kita nasehatkan kepada para istri agar taat kepada suami mereka dan orang-orang yang bertanggung jawab dalam hal-hal yang ma’ruf.

Semoga Allah memberikan taufiq-Nya.

SUMBER: WWW.ALMANHAJ.OR.ID

==

About these ads

52 Tanggapan

  1. “Sesungguhnya orang-orang yang mencela Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab ada dua kemungkinan. Yang pertama, dia adalah seorang yang ‘gandrung’ dengan syirik sehingga ia memusuhi Syaikh karena dakwahnya yang mengajak kepada tauhid dan memberantas segala macam syirik. Kedua, dia adalah orang jahil yang tertipu oleh da’i-da’i penyesat. Maka alangkah lucunya golongan jahil ini karena mereka mengikuti orang yang jahil yang sejenis dengan mereka” (Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, cetk. Dar Al-Qasim, juz 9, hal.234).

  2. WAJIB MENGINGKARI KEMUNGKARAN ORANG LAIN MESKIPUN IA SENDIRI MASIH MELAKUKAN KEMUNGKARAN ITU

    Oleh
    Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

    Pertanyaan:

    Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya :

    Ketika dikatakan pada seseorang: “Kenapa anda tidak mengingkari kemungkaran?”
    Dia menjawab: “Bagaimana saya mengingkarinya sementara saya juga melakukannya.”
    Lalu ia berdalih dengan firman Allah Ta’ala.

    “Artinya : Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri.” [Al-Baqarah : 44]

    Dan hadits yang menyebutkan tentang seorang laki-laki yang isi perutnya keluar di neraka. Bagaimana membantah orang yang seperti itu?

    Jawaban:

    Kami katakan ; Sesungguhnya manusia telah diperintahkan untuk meninggalkan kemungkaran dan diperintahkan untuk mengingkari pelaku kemungkaran. Jika ternyata ia tidak meninggalkan kemungkaran, ia tetap mempunyai kewajiban lainnya, yaitu mengingkari pelaku kemungkaran.

    Adapun yang disebutkan di dalam ayat tadi, itu merupakan celaan yang ditujukan kepada yang menyuruh orang lain berbuat baik tapi ia sendiri tidak melakukannya (padahal ia mampu melakukannya), bukan karena ia menyuruh mereka. Karena itulah disebutkan, “Maka tidakkah kamu berpikir.” [Al-Baqarah: 44]. Apakah masuk akal bila seseorang menyuruh orang lain berbuat baik sementara ia sendiri tidak melakukannya? Tentu ini tidak masuk akal dan bertentangan dengan syari’at. Jadi larangan itu bukan untuk mencegah mengajak orang berbuat baik, tapi larangan memadukan keduanya, yaitu menyuruh orang lain sementara ia sendiri tidak melakukan.

    Demikian juga yang tersebut dalam hadits tadi, yaitu ancaman keras dicampakkan ke dalam neraka sehingga ususnya terurai, lalu para penghuni neraka mengerumuninya, lalu dikatakan kepada mereka, bahwa orang tersebut menyerukan kebaikan tapi ia sendiri tidak melakukannya dan mencegah kemungkaran tapi ia sendiri malah melakukannya. Ini juga menunjukkan bahwa orang tersebut terkena siksaan ini, tapi jika ia tidak mengingkari kemungkaran yang ada, bisa jadi siksaannya lebih berat.

    [Alfazh wa Mafahim fi Mizan Asy-Syari'ah, hal 32-33, Syaikh Ibn Utsaimin]

    [Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-2, Darul Haq]

    Sumber : http://almanhaj.or.id/

  3. Suatu kali, penulis (SYAIKH JAMIL ZAINU) bersilaturrahim kepada seorang dokter muslim. Penulis melihat banyak gambar orang laki-laki dan perempuan di pajang di dinding. Penulis lalu mengingatkannya dengan larangan Rasulullah dalam soal memajang gambar-gambar. Tetapi ia menolak sambil mengatakan, “Mereka kawan-kawan saya di universitas.”

    Padahal sebagian besar dari mereka adalah orang-orang kafir. Apalagi para wanitanya yang memperlihatkan rambut dan perhiasannya di dalam gambar tersebut, dan mereka berasal dari negeri komunis. Sang dokter ini juga mencukur jenggotnya. Penulis berusaha menasihati, tetapi ia malah bangga dengan dosa yang ia lakukan, seraya mengatakan bahwa ia akan mati dalam keadaan mencukur jenggot.

    Suatu hal yang mengherankan, dokter yang melanggar ajaran-ajaran Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam tersebut mengaku bahwa ia mencintai Nabi. Kepada penulis ia berkata, “Katakanlah wahai Rasulullah, aku ada dalam perlindunganmu!”

    Dalam hati penulis berkata, “Engkau mendurhakai perintahnya, bagaimana mungkin akan masuk dalam perlindungannya. Dan, apakah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam akan rela dengan syirik tersebut? (yaitu karena dokter tersebut meminta perlindungan kepada rasulullah yang sudah wafat). Sesungguhnya kita dan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam berada di bawah perlindungan Allah semata.”

    ===============================================

    Jika anda menanyakan kepada seorang muslim, “Apakah anda mencintai Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam ?” Ia akan menjawab, “Benar, aku korbankan jiwa dan hartaku untuk beliau.” Tetapi jika selanjutnya ditanyakan, “Kenapa anda mencukur jenggot dan melanggar perintahnya dalam masalah ini dan itu, dan anda tidak meneladaninya dalam penampilan, akhlak dan ketauhidan Nabi?”

    Dia akan menjawab, “Kecintaan itu letaknya di dalam hati. Dan alhamdulillah, hati saya baik.” Kita mengatakan padanya, “Seandainya hatimu baik, niscaya akan tampak secara lahiriah, baik dalam penampilan, akhlak maupun keta’atanmu dalam beribadah mengesakan Allah semata. Sebab Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam bersabda,

    “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad itu terdapat segumpal daging. Bila ia baik maka akan baiklah seluruh jasad itu, dan bila ia rusak maka akan rusaklah seluruh jasad itu. Ketahuilah, ia adalah hati.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

    ================================================

    Lewat manakah Islam akan tampil kembali memimpin dunia? Da’i besar Muhammad Qutb menjawab persoalan ini dalam sebuah kuliah yang disampaikannya di Daarul Hadits, Makkah Al-Mukarramah. Teks pertanyaan itu sebagai berikut:

    “Sebagian orang berpendapat bahwa Islam akan kembali tampil lewat kekuasaan, sebagian lain berpendapat bahwa Islam akan kembali dengan jalan meluruskan akidah, dan tarbiyah (pendidikan) masyarakat. Manakah di antara dua pendapat ini yang benar?”

    Beliau menjawab: “Bagaimana Islam akan tampil berkuasa di bumi, jika para du’at belum meluruskan akidah umat, sehingga kaum muslimin beriman secara benar dan diuji keteguhan agama mereka, lalu mereka bersabar dan berjihad di jalan Allah. Bila berbagai hal itu telah diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, barulah agama Allah akan berkuasa dan hukum-hukumNya diterapkan di persada bumi. Persoalan ini amat jelas sekali. Kekuasaan itu tidak datang dari langit, tidak serta merta turun dari langit. Memang benar, segala sesuatu datang dari langit, tetapi melalui kesungguhan dan usaha manusia. Hal itulah yang diwajibkan oleh Allah atas manusia dengan firmanNya:

    “Demikianlah, apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka, tetapi Allah hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain.” (Muhammad: 4)

    Karena itu, kita mesti memulai dengan meluruskan aqidah, mendidik generasi berikut atas dasar akidah yang benar, sehingga terwujud suatu generasi yang tahan uji dan sabar oleh berbagai cobaan, sebagaimana yang terjadi pada generasi awal Islam.”

    ================================================

    sumber: Manhaj firqoh an najiyah karya syaikh muhammad jamil zainu
    http://www.sunniy.wordpress.com

  4. ANTARA CINTA DAN NAFSU
    Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(Q.S.3:31)

    Pada hakekatnya, segala aktifitas kita bersumber pada perasaan gaib disebut cinta. Karena cinta kepada anak dan istri, orang bergerak kerja keras keras mencari nafkah, dan kerena cinta kepada kekayaan orang memeras otak, keringat dan tenaga yang kadang-kadang melebihi kemampuan jasmaninya. Ada kalanya “kekasih” yang dicintainya demikian besar dan agungnya sehingga dia rela mengorbankan harta dan benda bahkan jiwa raga demi cinta yang membakar qalbu. Tanyakanlah pada prajurit yang bertempur digaris depan?
    ”kenapa anda siap membunuh dan dibunuh di tempat yang berbahaya itu?, kapan anda mengenal lawan anda itu?, kesejahteraan apa yang dilakukan kepada anda sehingga anda mendendam seperti itu ?” jawabannya mungkin tidak akan kedengaran. Akan tetapi orang arif akan mengatakan bahwa ada sesuatu yang dicintai melebihi dari nyawanya sendiri yang sudah merasuk kedalam simpanan jiwanya yang paling dalam. “benda” yang sangat menguasai dirinya adalah sesuatu yang sangat agung dirasakannya, seperti cintanya kepada agama yang diyakininya atau faham yang dianutnya, atau bangsa dan tanah air yang diancam oleh lawan, siapapun orangnya dan dari manapun datangnya. Sebagaimana dalam Q.S : Al-Imran. 14

    “ Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”
    Islam tidak melarang atau mengekang manusia dari rasa cinta tapai mengarahkan cinta tetap pada rel yang menjadi martabat kehormatan, baik wanita maupun laki-laki. Kalau manusia jatuh cinta harus hati-hati karena ibarat minum air laut semakin diminum manusia semakin haus.
    Inilah keajaiban cinta itu ! adapun cinta yang paling agung dan suci adalah cintanya kepada Rabbul Alamin. Semua orang yang percanya kepada Allah pastilah ia akan menanamkan cinta kepadanya.
    Berbicara tentang cinta apakah itu cinta pada manusia atau kepada Allah pastilah adakalanya cinta liar dan cinta yang sehat, orang yahudi dan Nasrani menyatakan dirinya anak-anak Allah dan kekasih-Nya. Tetapi itu hanyalah peryataan mereka sepihak. Mereka tidak memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh pihak yang dicintai, dan karena itu mereka jatuh menjadi cinta yang liyar, mereka dibentuk oleh sebagaimana yang tersebut dalam Al-Qur`an : ).(Q.S,5:18)
    Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami Ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”. Katakanlah: “Maka Mengapa Allah menyiksa kamu Karena dosa-dosamu?” (kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia(biasa) diantara orang-orang yang diciptakan-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Kepunyaan Allah-lah kerajaan antara keduanya. dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu).

    Mereka tidak memahami bahwa kesempurnaan cinta adalah senantiasa menyebut yang dicintai dimanapun berada, begitupun jika manusia mengatakan cinta kepada Allah bahkan mengatakan kekasih-Nya maka baginya tidak kesempatan lagi untuk menyebut nama selain Allah. Sebagaimana yang pernah di ungkapkan okeh yang ulama ternama “Ibn Qayyim Al-Jauziyyah” yang terkait dengan dua kekasih Allah Ibrahim as dan Muhammad saw, Rasulullah telah mengatakan “ Sesungguhnya Allah telah menjadikan diriku sebagai kekasih-Nya sebagaimana Dia menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya.”
    Pada hakekatnya cinta itu ada empat macam, dan haruslah dibedakan antara satu sama yang lainya, karena bisa sesat tetkala orang tidak bisa membedakan keempatnya :
    Pertama : Cinta kepada Allah, dan tidak hanya cukup dengan itu saja untuk terbebas dari azab Allah dan mendapatkan ganjaran-Nya. Karena sesungguhnya orang yang musrik penyembah patung dan orang yahudi lainnya juga mencintai Allah.
    Kedua : Mencintai apa yang dicintai Allah, dan inilah yang menyebabkan manusia itu masih tetap dalam Islam.
    Ketiga : Cinta bagi dan pada Allah, dan itu adalah merupakan suatu keharusan begitu yang mencintai sesuatu, dan tidak benar kecintaannya kecuali bagi dan kepada Allah. Sebagaimana dalam sebuah syair cinta :
    “Bayanganmu ada dalam mataku, Bibirku tidak pernah luput menyebut namamu, Tubuhmu selalu berada dalam dadaku, Bagaimana mungkin kau lepas dariku.
    Keempat: Kecintaan bersama Allah, hal ini adalah kecintaan syirik, dan dan siapa saja lebih mencintai sesuatu bersama Allah dan tidak karena Allah, tidak untuk Allah dan tidak kepada Allah, maka sungguh ia telah mengambil tandingan selain kepada Allah, inilah kecintaa orang musyrik. Sebagamana kata Allah dalam Q.S, Az- Zumar: 43-44.

    “Bahkan mereka mengambil pemberi syafa’at selain Allah. Katakanlah: “Dan apakah (kamu mengambilnya juga) meskipun mereka tidak memiliki sesuatupun dan tidak berakal?”(Az-Zumar.43)
    “Katakanlah: “Hanya kepunyaan Allah syafaat itu semuanya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada- Nyalah kamu dikembalikan”(Az-Zumar.44)

    Cinta pada hakekatnya adalah bagian dari fitrah, sebab orang yang kehilangan cinta hidupnya tidak normal tapi banyak pula orang yang menderita karena cinta. Maka bersyukurlah orang yang diberi cinta dan dapat menyikapi cinta dengan tepat. Namun masih banyak sebagian sebagian manusia keliru dalam menyikapi cinta, sebagaimana dalam pembahasan lain “Ibn Qayyim” menjelaskan bahwa ada kelompok manusia yang terpedaya oleh kecintaan terhadap orang fakir, alim ulama, dan orang-orang saleh, memperbanyak ziarah ke kubur mereka, merendahkan diri dihadapan kuburan mereka, meminta syafaat kepada mereka, bertawasul kepada mereka dalam memohon kepada Allah melalui hak mereka dan kemulyaan mereka disisi Allah.
    Diantara mereka ada pula yang terpedaya dengar para orang tua dan nenek moyang mereka, mereka berkeyakinan bahwa arwah nenek moyang mereka mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Allah. Dengan itu mereka tidak berdoa kepada Allah semata- mata untuk memurnikan-Nya.
    Seluruh uraian diatas dimaksudkan untuk menegaskan satu rangkaian kebenaran, yaitu bahwa tiap-tiap orang mu`min wajib mencintai Allah lebih dari cintanya kepada yang lain. Dan bahwa cara mengisi dan memenuhi ketentuan itu tidaklah dapat dikarang-karang sendiri, karena dengan mengarang banyak orang yang tersesat dalam tindakan mewujudkan cintanya kepada Allah. Pertanyaannya sekarang: dengan cara bagaimana kita dapat mewujudkan cinta kasih kita kepads Allah?, adakah Allah menunjukkan cara sendiri dengan tegas dan terang?
    Ternyata pertanyaan itu semua telah terjawab dalam uraian diatas, yakni Allah sendiri yang menentukan jalan, yaitu: dengan mengikuti jejaka Rasulullah dalam menjalankan segala aktifitasnya baik yang berurusan dengan dunia maupun akherat dan senantiasa berdasarkan pada Al-qur`an dan As-Sunnah.

  5. terekat sih ya sesat, kerena itu adalah bid’ah! saya mau nanya kalo nabi aliran terekatnya apa? tolong jawab dengan jujur! jangan muter2! trus ibadah itu merti ada dasar hukumnya! nash yang kuat, minimal hadist ! kerena tarekat muncul jauh setelah nabi wafat, mungkin kalo beliau masih hidup kala itu pasti dilarang!

    ini emailku kalo mau balas teguhpambudi007@gmail.com

  6. nabi terakhir adalah NABI MUHAMMAD SAW. dan sudah wafat! setelah itu sudah tidak ada nabi lagi(sebagai nabi penutup),
    “orang yang gugur dijalan Allah itu hidup” yang hidup itu ruhnya dan tidak di alam dunia yang fana ini tetapi dialam barzah menunggu alam baka! keKACAUAN Pemahaman tentang agama adalah terjadi ketika acuannya bukan langsung pada sumbernya YAITU AL_QUR’AN dan hadist. melainkan pendapat ulama yang ditafsirkan lagi, sehingga bisa jadi penafsirannya berbeda dengan tujuan dari pendapat ulama tersebut. jadi hati hatilah dalam beragama, syetan tidak akan berhenti membelokkan hati manusia untuk berbuat negatif termasuk urusan ibadah, aqidah, muamalah! TaREKAT hanya rekaan manusia menuruti hawa nafsunya, mengapa? karena tarekat tidak dikenal diwaktu nabi masih hidup! dengan bukti tidak adanya hadist yang membahas tentang hal tersebut,

  7. TaREKAT hanya rekaan manusia menuruti hawa nafsunya, mengapa? karena tarekat tidak dikenal diwaktu nabi masih hidup! dengan bukti tidak adanya hadist yang membahas tentang hal tersebut, adakah hadis yang secara SPESIFIK membahasa tarekat/sufi seperti halnya membahas sholat, zakat, puasa, haji, sodaqoh, infaq berbakti terhadap orang tua, kalo ada aku ikut aqidah anda! KALO tidak ada berarti adalah syariat baru, NABI MUHAMMAD ALIRAN TAREKATNYA APA?
    SAYA MAU IKUT ALIRAN TAREKATNYA NABI MUHAMMAD SAJA!

  8. ya dong! karena dzikir dan sholawat itu ada DASARNYA, sehingga bukan ajaran/syareat baru sudah ada dan diamalkan ketika NABI MASIH HIDUP!

    NABI MUHAMMAD ALIRAN TAREKATNYA APA?
    tarekat Al-Mu’tabarah Al-Ahadiyyah
    Tarekat Khalwatiyah
    Tarekat Qodiriyah
    Tarekat Naqsyabandiyah
    Tarekat Qodiriyah Wa Naqsyabandiyah
    Tarekat Syattariyah
    Tarekat Tijaniyah
    Thoriqoh Shiddiqiyyah
    Thoriqoh Idrisiyah
    Thoriqoh Samaniyah
    Thoriqoh Syadziliyah
    atao yang lainnya

    jawab disertai hadistnya, mohon pencerahan bos! skali lagi dengan sangat HORMAT JAWAB PERTANYAAN SAYA DIATAS , BARU DISKUSI kita LANJUTKAN, KARENA SAYA TELAH JAWAB semua PERTANYAAN saudara. kalo belum saudara jawab diskusi sementara dihentikan biar adil.

  9. mohon dipahami:

    ibadah ada 2 macam : ibadah secara vertikal ( hubungan dengan ALLAH SWT), contohnya sholat ( fardhu dan sunah ), puasa (fardhu dan sunah), zakat ( fitrah, harta benda), wudhu, haji,dll itu semua ada dasarnya (nash nya) dan itu diatur langsung oleh ALLAh SWT, dan tidak berubah sampai akhir jaman, SUDAH BAKU (walaupun jaman telah berubah ibadah ini tidak akan ketinggalan jaman)

    kalo ada ajaran yang baru berarti bid’ah (SESAT)

    dan ibadah secara horisontal HUBUNGAN manusia dengan alam sekitar : contohnya internet, mobil, , kereta api, pergi ke bulan, diserahkan kepada manusia, sesuai dengan perkembangan jaman

    sekali lagi
    NABI MUHAMMAD ALIRAN TAREKATNYA APA?
    tarekat Al-Mu’tabarah Al-Ahadiyyah
    Tarekat Khalwatiyah
    Tarekat Qodiriyah
    Tarekat Naqsyabandiyah
    Tarekat Qodiriyah Wa Naqsyabandiyah
    Tarekat Syattariyah
    Tarekat Tijaniyah
    Thoriqoh Shiddiqiyyah
    Thoriqoh Idrisiyah
    Thoriqoh Samaniyah
    Thoriqoh Syadziliyah
    atao yang lainnya

    hati boleh panas tapi kepala tetap dingin hingga bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar!

    jawab disertai hadistnya, mohon pencerahan bos! skali lagi dengan sangat HORMAT JAWAB PERTANYAAN SAYA DIATAS , BARU DISKUSI kita LANJUTKAN, KARENA SAYA TELAH JAWAB semua PERTANYAAN saudara. kalo belum saudara jawab diskusi sementara DIHENTIKAN BIAR ADIL!

  10. Sejarah Munculnya Tasawuf dan Sufi

    Penulis: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc.

    Tasawuf (تَصَوُّف) diidentikkan dengan sikap berlebihan dalam beribadah, zuhud dan wara’ terhadap dunia. Pelakunya disebut Shufi (selanjutnya ditulis Sufi menurut ejaan yang lazim, red) (صُوْفِيٌّ), dan jamaknya adalah Sufiyyah (صُوْفِيَّةٌ). Istilah ini sesungguhnya tidak masyhur di jaman Rasulullah, shahabat-shahabatnya, dan para tabi’in. Sebagaimana dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah: “Adapun lafadz Sufiyyah bukanlah lafadz yang masyhur pada tiga abad pertama Islam. Dan setelah masa itu, penyebutannya menjadi masyhur.” (Majmu’ Fatawa, 11/5)

    Bashrah, sebuah kota di Irak, merupakan tempat kelahiran Tasawuf dan Sufi. Di mana sebagian ahli ibadahnya mulai berlebihan dalam beribadah, zuhud, dan wara’ terhadap dunia (dengan cara yang belum pernah dicontohkan oleh Rasulullah), hingga akhirnya memilih untuk mengenakan pakaian yang terbuat dari bulu domba (Shuf/صُوْفٌ ).

    Meski kelompok ini tidak mewajibkan tarekatnya dengan pakaian semacam itu, namun atas dasar inilah mereka disebut dengan “Sufi”, sebagai nisbat kepada Shuf (صُوْفٌ). Jadi, lafadz Sufi bukanlah nisbat kepada Ahlush Shuffah yang ada di jaman Rasulullah, karena nisbat kepadanya adalah Shuffi (صُفِّيٌ). Bukan pula nisbat kepada shaf terdepan di hadapan Allah, karena nisbat kepadanya adalah Shaffi (صَفِّيٌ).

    Demikian juga bukan nisbat kepada makhluk pilihan Allah الصَّفْوَةُ مِنْ خَلْقِ اللهِ
    karena nisbat adalah Shafawi ز(صَفَوِيٌّ) . Dan bukan pula nisbat kepada Shufah bin Bisyr (salah satu suku Arab) meski secara lafadz bisa dibenarkan. Namun secara makna sangatlah lemah, karena antara suku tersebut dengan kelompok Sufi tidak berkaitan sama sekali.

    Para ulama Bashrah yang mengalami masa kemunculan kelompok sufi, tidaklah tinggal diam. Sebagaimana diriwayatkan Abu Asy-Syaikh Al-Ashbahani rahimahullah dengan sanadnya dari Muhammad bin Sirin rahimahullah, bahwasanya telah sampai kepadanya berita tentang orang-orang yang mengutamakan pakaian yang terbuat dari bulu domba. Maka beliau berkata: “Sesungguhnya ada orang-orang yang mengutamakan pakaian yang terbuat dari bulu domba dengan alasan untuk meneladani Al-Masih bin Maryam! Maka petunjuk Nabi kita lebih kita cintai, beliau biasa mengenakan pakaian yang terbuat dari bahan katun, dan yang selainnya.” (Diringkas dari Majmu’ Fatawa, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah hal. 5, 6, 16)

    Asy-Syaikh Muhammad Aman bin ‘Ali Al-Jami rahimahullah berkata: “Demikianlah munculnya jahiliah Tasawuf, dan dari kota inilah (Bashrah) ia tersebar.” (At-Tasawuf Min Shuwaril Jahiliah, hal. 5)

    Siapakah Peletak Ilmu Tasawuf?

    Ibnu ‘Ajibah, seorang Sufi Fathimi, mengklaim bahwa peletak ilmu Tasawuf adalah Rasulullah sendiri. Beliau, menurut Ibnu ‘Ajibah, mendapatkannya dari Allah melalui wahyu dan ilham. Kemudian Ibnu ‘Ajibah berbicara panjang lebar tentang hal ini dengan sekian banyak bumbu keanehan dan kedustaan, yaitu: “Jibril pertama kali turun kepada Rasulullah dengan membawa ilmu syariat. Dan ketika ilmu itu telah mantap, maka turunlah ia untuk kedua kalinya dengan membawa ilmu hakikat. Beliau pun mengajarkan ilmu hakikat ini pada orang-orang khusus saja. Dan yang pertama kali menyampaikan Tasawuf adalah ‘Ali bin Abi Thalib, dan Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah menimba darinya.” (Iqazhul Himam Fi Syarhil Hikam, hal. 5 dinukil dari At-Tasawuf Min Shuwaril Jahiliyah, hal. 8)

    Asy-Syaikh Muhammad Aman bin ‘Ali Al-Jami rahimahullah berkata: “Perkataan Ibnu ‘Ajibah ini merupakan tuduhan keji lagi lancang terhadap Rasulullah. Dengan kedustaan, ia telah menuduh bahwa beliau menyembunyikan kebenaran. Dan tidaklah seseorang menuduh Nabi dengan tuduhan tersebut, kecuali seorang zindiq yang keluar dari Islam dan berusaha untuk memalingkan manusia dari Islam jika ia mampu. Karena Allah telah perintahkan Rasul-Nya untuk menyampaikan kebenaran tersebut dalam firman-Nya :
    يَآءَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَآ أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِن رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَه
    “Wahai Rasul sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu oleh Rabbmu. Dan jika engkau tidak melakukannya, maka engkau tidak menyampaikan risalah-Nya.” (Al Maidah: 67)

    Beliau juga berkata: “Adapun pengkhususan Ahlul Bait dengan sesuatu dari ilmu dan agama, maka ini merupakan pemikiran yang diwarisi orang-orang Sufi dari pemimpin-pemimpin mereka (Syi’ah). Dan benar-benar ‘Ali bin Abi Thalib sendiri yang membantahnya, sebagaimana diriwayatkan Al-Imam Muslim rahimahullah dari hadits Abu Thufail ‘Amir bin Watsilah. Ia berkata: “Suatu saat aku pernah berada di sisi ‘Ali bin Abi Thalib. Maka datanglah seorang laki-laki seraya berkata: ‘Apa yang pernah dirahasiakan oleh Nabi kepadamu?’ Maka Ali pun marah lalu mengatakan: ‘Nabi belum pernah merahasiakan sesuatu kepadaku yang tidak disampaikan kepada manusia! Hanya saja beliau pernah memberitahukan kepadaku tentang empat perkara.’ Abu Thufail berkata: ‘Apa empat perkara itu wahai Amirul Mukminin?’ Beliau menjawab: ‘Rasulullah bersabda: “(Artinya) Allah melaknat seseorang yang melaknat kedua orang tuanya, Allah melaknat seorang yang menyembelih untuk selain Allah, Allah melaknat seorang yang melindungi pelaku kejahatan, dan Allah melaknat seorang yang mengubah tanda batas tanah’.” (At-Tasawuf Min Shuwaril Jahiliah, hal. 7-8)

    Hakikat Tasawuf

    Dari bahasan di atas, Tasawuf jelas bukan ajaran Rasulullah dan bukan pula ilmu warisan dari ‘Ali bin Abi Thalib. Lalu dari manakah ajaran Tasawuf ini?

    Asy-Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir rahimahullah berkata: “Ketika kita telusuri ajaran Sufi periode pertama dan terakhir, dan juga perkataan-perkataan mereka baik yang keluar dari lisan atau pun yang terdapat di dalam buku-buku terdahulu dan terkini mereka, maka kita dapati sangat berbeda dengan ajaran Al Qur’an dan As Sunnah. Dan kita tidak pernah melihat asal usul ajaran Sufi ini di dalam sejarah pemimpin umat manusia Muhammad, dan para shahabatnya yang mulia lagi baik, yang mereka adalah makhluk-makhluk pilihan Allah di alam semesta ini. Bahkan sebaliknya, kita melihat bahwa ajaran Sufi ini diambil dan diwarisi dari kerahiban Nashrani, Brahma Hindu, ibadah Yahudi, dan zuhud Budha.” (At-Tasawuf Al-Mansya’ Wal Mashadir, hal. 28)

    Asy-Syaikh Abdurrahman Al-Wakil rahimahullah berkata: “Sesungguhnya Tasawuf merupakan tipu daya setan yang paling tercela lagi hina untuk menggiring hamba-hamba Allah di dalam memerangi Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya ia (Tasawuf) merupakan topeng bagi Majusi agar tampak sebagai seorang Rabbani, bahkan ia sebagai topeng bagi setiap musuh (Sufi) di dalam memerangi agama yang benar ini. Periksalah ajarannya! Niscaya engkau akan mendapati di dalamnya ajaran Brahma (Hindu), Buddha, Zaradisytiyyah, Manawiyyah, Dishaniyyah, Aplatoniyyah, Ghanushiyyah, Yahudi, Nashrani, dan Berhalaisme Jahiliyyah.” (Muqaddimah kitab Mashra’ut Tasawuf, hal. 19)

    Keterangan para ulama di atas menunjukkan bahwasanya ajaran Tasawuf bukanlah dari Islam. Bahkan ajaran ini merupakan kumpulan dari ajaran-ajaran sesat yang berusaha disusupkan ke tengah-tengah umat untuk menjauhkan mereka dari agama Islam yang benar.

    Kesesatan-Kesesatan Ajaran Tasawuf

    Di antara sekian banyak kesesatan ajaran Tasawuf adalah:
    1. Wihdatul Wujud, yakni keyakinan bahwa Allah menyatu dengan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Demikian juga Al-Hulul, yakni keyakinan bahwa Allah dapat menjelma dalam bentuk tertentu dari makhluk-Nya (inkarnasi).

    Al-Hallaj, seorang dedengkot sufi, berkata: “Kemudian Dia (Allah) menampakkan diri kepada makhluk-Nya dalam bentuk orang makan dan minum.” (Dinukil dari Firaq Al-Mua’shirah, karya Dr. Ghalib bin ‘Ali Iwaji, 2/600)

    Ibnu ‘Arabi, tokoh sufi lainnya, berkata: “Seorang hamba adalah Rabb dan Rabb adalah hamba. Duhai kiranya, siapakah yang diberi kewajiban beramal? Jika engkau katakan hamba, maka ia adalah Rabb. Atau engkau katakan Rabb, kalau begitu siapa yang diberi kewajiban?” (Al-Futuhat Al-Makkiyyah dinukil dari Firaq Al-Mu’ashirah, hal. 601)

    Muhammad Sayyid At-Tijani meriwayatkan (secara dusta, pen) dari Nabi bahwasanya beliau bersabda:
    رَأَيْتُ رَبِّي فِي صُوْرَةِ شَابٍ
    “Aku melihat Rabbku dalam bentuk seorang pemuda.”
    (Jawahirul Ma’ani, karya ‘Ali Harazim, 1/197, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, hal. 615)
    Padahal Allah telah berfirman:
    لَيْسَ كَمِثْلِه شَيْئٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
    “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)
    قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي …
    “Berkatalah Musa: ‘Wahai Rabbku nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat-Mu.’ Allah berfirman: ‘Kamu sekali-kali tidak akan sanggup melihatku’…” (Al-A’raf: 143)

    2. Seorang yang menyetubuhi istrinya, tidak lain ia menyetubuhi Allah
    Ibnu ‘Arabi berkata: “Sesungguhnya seseorang ketika menyetubuhi istrinya tidak lain (ketika itu) ia menyetubuhi Allah!” (Fushushul Hikam).1 Betapa kufurnya kata-kata ini…, tidakkah orang-orang Sufi sadar akan kesesatan gembongnya ini?

    3. Keyakinan kafir bahwa Allah adalah makhluk dan makhluk adalah Allah, masing-masing saling menyembah kepada yang lainnya
    Ibnu ‘Arabi berkata: “Maka Allah memujiku dan aku pun memuji-Nya. Dan Dia menyembahku dan aku pun menyembah-Nya.” (Al-Futuhat Al-Makkiyyah).2
    Padahal Allah telah berfirman:
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ
    “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)
    إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ إِلاَّ آتِى الرَّحْمَنِ عَبْدًا
    “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Allah Yang Maha Pemurah dalam keadaan sebagai hamba.” (Maryam: 93)

    4. Keyakinan tidak ada bedanya antara agama-agama yang ada
    Ibnu ‘Arabi berkata: “Sebelumnya aku mengingkari kawanku yang berbeda agama denganku. Namun kini hatiku bisa menerima semua keadaan, tempat gembala rusa dan gereja pendeta, tempat berhala dan Ka’bah, lembaran-lembaran Taurat dan Mushaf Al Qur’an.” (Al-Futuhat Al-Makkiyyah).3

    Jalaluddin Ar-Rumi, seorang tokoh sufi yang sangat kondang, berkata: “Aku seorang muslim, tapi aku juga seorang Nashrani, Brahmawi, dan Zaradasyti. Bagiku, tempat ibadah adalah sama… masjid, gereja, atau tempat berhala-berhala.”4
    Padahal Allah berfirman:
    وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ اْلإِسْلاَمِ دِيْنًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي اْلأَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ
    “Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya. Dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali Imran: 85)

    5. Bolehnya menolak hadits yang jelas-jelas shahih
    Ibnu ‘Arabi berkata: “Kadangkala suatu hadits shahih yang diriwayatkan oleh para perawi-perawinya, tampak hakikat keadaannya oleh seseorang mukasyif (Sufi yang mengetahui ilmu ghaib dan batin). Ia bertanya kepada Nabi secara langsung: “Apakah engkau mengatakannya?” Maka beliau mengingkarinya seraya berkata: “Aku belum pernah mengatakannya dan belum pernah menghukuminya dengan shahih.” Maka diketahuilah, dari sini lemahnya hadits tersebut dan tidak bisa diamalkan sebagaimana keterangan dari Rabbnya walaupun para ulama mengamalkannya berdasarkan isnadnya yang shahih.” (Al-Futuhat Al-Makkiyah).1

    6. Pembagian ilmu menjadi syariat dan hakikat. Di mana bila seseorang telah sampai pada tingkatan hakikat berarti ia telah mencapai martabat keyakinan yang tinggi kepada Allah. Oleh karena itu, menurut keyakinan Sufi, gugur baginya segala kewajiban dan larangan dalam agama ini.
    Mereka berdalil dengan firman Allah dalam Al Qur’an Surat Al-Hijr ayat 99:
    وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
    yang mana mereka terjemahkan dengan: “Dan beribadahlah kepada Rabbmu hingga datang kepadamu keyakinan.”
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Tidak diragukan lagi oleh ahlul ilmi dan iman, bahwasanya perkataan tersebut termasuk sebesar-besar kekafiran dan yang paling berat. Ia lebih jahat dari perkataan Yahudi dan Nashrani karena Yahudi dan Nashrani beriman dengan sebagian isi Al Kitab dan mengkufuri sebagian lainnya. Sedangkan mereka adalah orang-orang kafir yang sesungguhnya (karena mereka berkeyakinan dengan sampainya kepada martabat. Hakikat tidak lagi terkait dengan kewajiban dan larangan dalam agama ini, pen).” (Majmu’ Fatawa, 11/401)
    Beliau juga berkata: “Adapun pendalilan mereka dengan ayat tersebut, maka justru merupakan bumerang bagi mereka. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: ‘Sesungguhnya Allah tidak menjadikan batas akhir beramal bagi orang-orang beriman selain kematian’, kemudian beliau membaca Al Qur’an Surat Al-Hijr ayat 99, yang artinya: ‘Dan beribadahlah kepada Rabbmu hingga datang kepadamu kematian’.”
    Beliau melanjutkan: “Dan bahwasanya ‘Al-Yaqin’ di sini bermakna kematian dan setelahnya, dengan kesepakatan ulama kaum muslimin.” (Majmu Fatawa, 11/418)

    7. Keyakinan bahwa ibadah kepada Allah itu bukan karena takut dari adzab Allah (an-naar/ neraka) dan bukan pula mengharap jannah Allah. Padahal Allah berfirman:
    وَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِيْنَ
    “Dan peliharalah diri kalian dari an-naar (api neraka) yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.” (’Ali Imran: 131)
    وَسَارِعُوآ ِإلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَاْلأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ
    “Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Rabb kalian dan kepada jannah (surga) yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.” (’Ali Imran: 133)

    8. Dzikirnya orang-orang awam adalah لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ , sedangkan dzikirnya orang-orang khusus dan paling khusus adalah “الله / Allah”, “هُوَ / huwa”, dan “آه / aah” saja.
    Padahal Rasulullah bersabda:
    أَفْضَلُ الذِّكْرَ لاَ إِلَهِ إِلاَّ اللهُ
    “Sebaik-baik dzikir adalah لا إله إلا الله .” (HR. At-Tirmidzi, dari shahabat Jabir bin Abdullah, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’, no. 1104).1
    Syaikhul Islam rahimahullah berkata: “Dan barangsiapa yang beranggapan bahwa لا إله إلا الله adalah dzikirnya orang awam, sedangkan dzikirnya orang-orang khusus dan paling khusus adalah “هُوَ / Huu”, maka ia seorang yang sesat dan menyesatkan.” (Risalah Al-’Ubudiyah, hal. 117-118, dinukil dari Haqiqatut Tasawuf, hal. 13)

    9. Keyakinan bahwa orang-orang Sufi mempunyai ilmu kasyaf (yang dapat menyingkap hal-hal yang tersembunyi) dan ilmu ghaib.
    Allah dustakan mereka dalam firman-Nya :
    قُلْ لاَ يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللهُ
    “Katakanlah tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui hal-hal yang ghaib kecuali Allah.” (An-Naml: 65)

    10. Keyakinan bahwa Allah menciptakan Nabi Muhammad dari nur/ cahaya-Nya, dan Allah ciptakan segala sesuatu dari cahaya Nabi Muhammad.
    Padahal Allah berfirman :
    فُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ …
    “Katakanlah (Wahai Muhammad), sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku …” (Al-Kahfi: 110).
    إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلآئِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِيْنٍ
    “(Ingatlah) ketika Rabbmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku akan ciptakan manusia dari tanah liat.” (Shad: 71)

    11. Keyakinan bahwa Allah menciptakan dunia ini karena Nabi Muhammad.
    Padahal Allah berfirman :
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ
    “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)

    Demikianlah beberapa dari sekian banyak ajaran Tasawuf, yang dari ini saja, nampak jelas kesesatannya. Semoga Allah menjauhkan kita dari kesesatan-kesesatan tersebut …

    semoga menjadi bahan kajian dan bermanfaat bagi kita semua

  11. jawaban pertanyaan saya mana? tarekat nabi MUHAMMAD SAW alirannya apa? baru diskusi kita lanjutkan lagi.

  12. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    “Artinya : Jauhilah oleh kalian perkara baru, karena sesuatu yang baru (di dalam agama) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat”. (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, Tirmidzi dan Hakim).

    jelas bukan?

  13. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    “Artinya : Jauhilah oleh kalian perkara baru, karena sesuatu yang baru (di dalam agama) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat”. (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, Tirmidzi dan Hakim).

    jelas bukan?

    ibadah itu harus ada nash yang kuat, kalo ngarang ya jadi aneh!

    apalagi di campuR dengan ritual agama lain, jadinya agama gado-gado, bukan murni lagi
    agama islam SUDAH sempurna , MEnGAPA HARUS DITAMBAHI LAGI, itu tandanya yang menambahi menganggap agama islam belum sempurna, karena harus ditambahi syareat baru, berarti mengingkari satu ayat AL QURAN ! renungkan RENUNGKAN

  14. Kalau kita kembali ke Al Qur’an dan As-Sunah sebenarnya pertentangan dalam islam tak terjadi ! jadi menurut hemat saya pelajarilah langsung pada sumbernya, bukan kepada yang lain, tidak ada keharusan kita menganut mazhab tertentu, mazhab hanyalah merupakan penafsiran dari Al Qur’an dan As-Sunah mengenai permasalahan yang berkembang di masyarakat, sedangkan masalah di masyarakat selalu berkembang secara dinamis,

  15. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
    “Barangsiapa yang mengamalkan amalan yang tidak ada syariatnya dari kami maka amalan tersebut ditolak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim )

    jelas bukan?

    Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu mengatakan:

    لَقَدْ أَجْمَعَ النَّاسُ عَلَى أَنَّ مَنْ تَبَيَّنَ لَهُ سُنَّةُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَجُوْزُ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلِ أَحَدٍ

    “Para ulama telah sepakat bahwasanya barangsiapa yang telah jelas baginya jalan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak boleh baginya untuk meninggalkannya karena ucapan siapapun.”

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

    “Hati-hatilah kalian dari terjatuh kepada amalan-amalan ibadah baru yang diada-adakan, karena setiap amalan tersebut adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Ahmad dan yang lainnya, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu)

    Allah subhanahu wa ta`ala berfirman :
    “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah Aku cukupkan bagi kalian nikmat-Ku dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian”. (QS. Al Maidah : 3)

    islam merupakan agama yang sempurna, tidak ada kekurangan di dalamnya dan tidak butuh koreksi dan protes terhadapnya.

  16. jawaban pertanyaan saya mana? tarekat nabi MUHAMMAD SAW alirannya apa?

  17. apa tatacara ibadah tarekat dicontohkan nabi

  18. Ketahuilah, ibadah bukanlah produk akal atau perasaan manusia. Ibadah merupakan sesuatu yang diridhoi Allah, dan engkau tidak akan mengetahui apa yang diridhoi Allah kecuali setelah Allah kabarkan atau dijelaskan Rosululloh shollAllahu ‘alaihi wa sallam. Dan seluruh kebaikan telah diajarkan Rosululloh shollAllahu ‘alaihi wa sallam, tidak tersisa sedikit pun. Tidak ada dalam kamus ibadah sesorang melaksanakan sesuatu karena menganggap ini baik, padahal Rosululloh shollAllahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mencontohkan. Sehingga tatkala ditanya, “Mengapa engkau melakukan ini?” lalu ia menjawab, “Bukankah ini sesuatu yang baik? Mengapa engkau melarang aku dari melakukan yang baik?” Saudaraku, bukan akal dan perasaanmu yang menjadi hakim baik buruknya. Apakah engkau merasa lebih taqwa dan sholih ketimbang Rosululloh shollAllahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya? Ingatlah sabda Rosululloh shollAllahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang melakukan satu amalan (ibadah) yang tiada dasarnya dari kami maka ia tertolak.” (HR. Muslim)

  19. saya dulu pengikut tarekat naqsabandiyah SELAMA HAMPIR SEPULUH TAHUN tapi sekarang saya sudah sadar, banyak prakktek ibadah yang tidak diajarkan oleh nabi Muhammad SAW, SEKARANG SAYA SUDAH KEMBALI KEJALAN YANG LURUS, SAYA SEKARANG SUDAH BERTAUBAT……ternyata ……

  20. 15 MARET 2009

    Muraqabah: Meditasi Sufi dengan Ilustrasi Langkah demi Langkah

    أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ.

    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ.

    اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍوَعَلَى الِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

    As-Sayyid Nurjan Mirahmadi

    http://nurmuhammad.com/Meditation/Core/naqshbandimeditationillustration.htm

    Alih bahasa: Eyang Soetono

    Sasaran dan maksud dari Muraqabah/Meditasi/Rabitha Syarif adalah untuk memperagakan kehadiran terus-menerus ke dalam realitas Syekh. Semakin seseorang memelihara pelatihan ini, semakin terungkapkan manfaatnya dalam kehidupan sehari-harinya sampai pada titik dia mencapai tataran fana dalam hadirat Syekh. Orang harus tahu betul bahwa Syekh adalah jembatan antara ilusi dan realitas dan dia berada di dunia ini hanya untuk tujuan itu. Jadi Syekh adalah seutas tali yang khas yang diulurkan kepada siapa pun yang mencari kebebasan (dari ilusi), karena hanya Syekh yang dapat memberikan layanan sebagai penghubung antara seseorang yang masih terikat kepada dunia dengan Hadirat Ilahi. Agar menjadi fana di hadapan dan keberadaan Syekh adalah menjadi fana dalam kenyataan, dalam Hadirat Ilahi, karena memang sesungguhnya di situlah dia berada.

    Langkah 1

    Bayangkan dirimu berada di hadapan Syekh. Sampaikan salammu. Tutup matamu. Pandanglah melalui mata hatimu. Jangan mencari raut muka, melainkan hanya auranya saja, ruhaniah.

    Sebagai awal murid dapat memulai praktik Muraqabah ini untuk jangka waktu pendek, antara 5 sampai 15 menit, dan secara bertahap menjalaninya menuju jangka waktu yang lebih panjang, bahkan merentang hingga berjam-jam sekali sesi. Yang terpenting adalah bahwa seseorang mempertahankan sebuah praktik yang konsisten untuk mendapatkan manfaat dari praktik tersebut. Adalah jauh lebih baik dan bijaksana untuk bertahap pada sesi yang pendek secara harian daripada disiplin dan praktik yang acak. Sebuah upaya kecil yang dilakukan secara konsisten akan menghasilkan kemajuan luar biasa dalam waktu yang singkat.

    Ambillah wudu dan salat 2 rakaat (tahiyatul wudu).

    Ucapkan Kalimat Syahadat (3 kali): Asy-hadu an laa ilaaha illa-llah wa asy-hadu anna Muhammadan `abduhu wa rasuuluh

    Istighfar (100-200 kali): Astaghfirullah al `Azhiim wa atuubu ilayh

    Surat al-Ikhlash (3 kali): Qul huwa-llaahu ahad/ Allaahu Shamad/ Lam yalid wal lam yuulad/ wa lam yakul- lahuu kufuwan ahad

    Membaca Surat al-Fatiha

    Minimal 200 kali mengulang kalimat zikir, mencari dukungan dan kehadiran Mawlana Syekh dengan mengucapkan: “Madad ya Sayyidi, Madadul-Haqq Yaa Mawlana Syekh Nazim Al-Haqqani”

    Langkah 2

    Mata tertutup, mohon izin untuk menyambung cahaya beliau kepada hatimu dan cahayamu kepada hati beliau. Bayangkan sebuah kontak dua arah dan kemudian, baca awrad di atas.

    Ketika seseorang duduk bermeditasi dan menutup matanya, ia memfokuskan pikirannya pada satu titik tunggal. Dalam hal ini titik itu biasanya adalah konsep dari mentor spiritualnya; jadi ia memfokuskan seluruh kemampuan kesaksiannya memikirkan dengan konsentrasi penuh tentang guru spiritualnya agar mendapatkan gambaran atau citra mentornya pada layar mental, selama ia masih berada dalam status meditasi itu. Sifat, karakteristik dan potensi yang terkait dengan sebuah citra juga dipindahkan pada layar pikiran ketika citra itu terbentuk pada layar mental dan pikiran menerimanya sesuai dengan itu.

    Sebagai contoh, seseorang sedang memperhatikan api. Ketika gambaran tantang api itu dipindahlan ke layar pikiran, suhu dan panas api itu terekam oleh pikiran. Seseorang yang hadir dalam sebuah taman menikmati kesegaran dan kesejukan pepohonan dan tanaman dalam taman itu untuk menciptakan gambaran itu semua pada layar pikirannya. Begitu juga ketika gambaran mentor spiritual dipindahkan pada layar pikiran, Ilmu yang Dihadirkan yang beroperasi dalam diri guru spiritual, juga ikut dipindahkan dengan gambaran itu dan pikiran murid secara bertahap menyerap hal yang sama.

    Langkah 3

    Duduk bersimpuh, yang rapi, tetap bersimpuh, mata tertutup, tangan di tempat, mulut tertutup, lidah ditekuk ke atas, napas terkendali, telinga mendengar lantunan ayat suci al-Quran, Selawat atau suara sendu. Ruang gelap.

    Meditasi, memikirkan tentang mentor spiritual, sebuah upaya untuk memfokuskan dengan konsentrasi pikiran kita kepada seseorang, sehingga citranya dapat dipantulkan secara berulang pada layar pikiran kita, (maka) kita terbebaskan dari keterbatasan indera. Makin sering sebutir pikiran di tayangkan pada layar mental, makin jelas pula formasi (pembentukan) sebuah pola dalam pikiran itu. Dan, pola pikiran demikian ini, dalam istilah spiritualitas disebut ‘pendekatan pikiran’.

    Ketika kita membayangkan mentor spiritual atau ‘Syekh’, sebagai sebuah hal dari hukum eternal, ilmu Elohistic Attributes yang beroperasi dalam Syekh dipantulkan pada pikiran kita dengan ulangan yang berkali-kali menghasilkan pencerahan pikiran dari murid dengan cahaya yang berfungsi dalam diri Syekh dan dilimpahkan kepadanya. Pencerahan hati murid berusaha mencapai tataran atau tahap Syekhnya. Dalam Sufisme, keadaan ini disebut ‘kedekatan’, ‘afinitas’ (nisbat). Cara terbaik dan telah teruji untuk menikmati kedekatan, menurut spiritualitas, adalah hasrat kerinduan dari cinta.

    Pikiran Syekh terus-menerus mentransfer kepada murid spiritualnya sesuai dengan kobaran cinta dan rindu akan Syekh, yang mengalir di dalam diri murid dan datang suatu saat ketika cahaya beroperasi dalam diri Syekh yang sesungguhnya adalah pantulan Tampilan Ilahiah yang Indah yang dipindahkan kepada murid spiritual itu. Hal ini memungkinkan murid spiritual untuk membiasakan diri dengan Cahaya Gemilang dan Tampilan Indah. Keadaan ini, dalam istilah sufisme disebut ‘Menyatu dengan Syekh’ (Fana fi Shaykh).

    Cahaya Syekh dan Tampilan Indah gemilang yang beroperasi dalam diri Syekh bukanlah ciri pribadi Syekh. Sebagaimana halnya murid spiritual, yang dengan perhatian dan konsentrasi penuh dedikasi, menyerap (asimilasi) ilmu dan ciri khas Syekhnya, maka Syekh juga menyerap ilmu dan busana Nabi SAW dengan dedikasi pikiran dan konsentrasi penuh.

    Langkah 3a

    Posisi duduk: Posisi Teratai (yoga Lotus), Wudu Ritual Wudu adalah kunci sukses. Kapal Nabi Nuh AS melawan banjir kelalaian. Kebersihan adalah dekat dengan iman (ilahiah). Ingat bahwa bukanlah saya yang menghitung bahwa saya adalah bukan apa-apa, saya dan aku harus melebur kedalam dia. Syekhku, Rasulku, menggiring kepada Rabbku..

    Zikir dengan penolakan (laa ilaaha) dan pembenaran (illa Allah), dalam tradisi para syekh Naqsybandi, mensyratkan bahwa murid (salik, pejalan) menutup matanya, menutup mulutnya, menekan giginya, melekatkan lidahnya ke langit-langit mulutnya, dan menahan (mengatur) napasnya. Dia harus membaca zikir itu melalui hatinya, dengan penolakan dan pembenaran, memulainya dengan kata LAA (“Tidak”). Dia mengangkat “Tidak” ini dari titik (dua jari) di bawah pusar kepada otaknya. Ketika mencapai otaknya kata “Tidak” mengeluarkan kata ILAAHA (“sesembahan”), bergerak dari otaknya ke bahu Kanan, dan kemudian ke bahu Kiri di mana dia menabrak hatinya dengan ILLALLAH (“kecuali Allah”). Ketika kata itu mengenai hatinya energi dan panasnya menjalar/memancar ke sekujur tubuhnya. Sang salik yang telah menyangkal semua yang berada di dunia ini dengan kata-kata LAA ILAAHA, membenarkan dengan kata-kata ILLALLAH bahwa semua yang ada telah dilenyapkan di Hadirat Ilahi.

    Langkah 3b

    Posisi Mulut dan Lidah

    Menutup matanya,

    Menutup mulutnya,

    Menekan giginya,

    Melekatkan lidahnya pada langit-langit mulutnya, dan menahan napas.

    (secara perlahan-lahan memperlambat napas dan getaran jantungnya).

    Tangan membawa rahasia yang dahsyat, mereka itu seperti antena parabolamu, pastikan bahwa mereka itu bersih dan berada dalam posisi yang semestinya. Jadi ketika kamu memulai dengan tangnmu itu, menggosok-gosoknya, ketika mencucinya dan menggosok gosoknya untuk mengaktifkan mereka, itu adalah tanda dari (angka) 1 dan 0, dan kamu sedang mengaktifkan proses kode yang diberikan Allah SWT melalui tangan itu. Kamu mengaktifkan mereka.

    Mereka memiliki titik sembilan peluru yang terdiri dari keseluruhan sistem, seluruh tubuh. Ketika kamu menggosok jari-jari itu, sesungguhnya kamu mengaktifkan 99 Asma-ul’ husna Allah SWT.

    tangan kiri, “81”

    tangan kanan, “18”

    Dengan mengaktifkan mereka, kamu mengaktifkan 9 titik dalam tubuhmu.

    Dan ketika mengaktifkan mereka, itu adalah seperti menghidupkan receiver (pada radio/tv), energi mengalir masuk, itu mulai berfungsi untuk dapat menerima, memecahnya dalam bentuk kode digital yang dipancarkan keluar seperti gambar atau suara sebagaimana kita kenal di zaman ini (radio dan tv).

    Demikian juga halnya dengan tangan yang saling mengelilingi, itulah mengapa ketika kita menggosok-gosokkan dan membuka mereka, mereka mulai bertindak seperti lingkaran satu terhadap lainnya, menampung apapun energi yang datang, dan mereka ini mengelolanya. Lihatlah pada bagian Rahasia Tangan.

    Langkah 4

    Posisi Tangan :

    Jempol dan telunjuk memperagakan posisi “Allah Hu” untuk kuasa/kekuatan terbesar. Tangan diberi kode dengan kode angka, tangan kanan “18”, tangan kiri “81” masing-masing dijumlahkan keduanya menjadi 9 dan dua 9 menjadi 99. Tangan diberi karakter dengan Asma-ul’husna Allah. Dan nama ke-99 dari Rasul adalah Mustafa..

    Bernapas dengan Sadar (“Hosh dar dam”)

    Hosh artinya “pikiran” Dar artinya “dalam” Dam artinya “Napas” Itu artinya, menurut Mawlana Abdul Khaliq al-Ghujdawani QS, bahwa “Misi paling penting bagi salik dalam thariqat ini adalah menjaga napasnya, dan dia yang tidak dapat menjaga napasnya, akan dikatakan tentang orang itu, ‘dia telah tersesat/kehilangan dirinya.'”

    Syah Naqsyband QS berkata, “Thariqat ini dibangun di atas (dengan fondasi) napas. Jadi adalah sebuah keharusan untuk semua orang menjaga napasnya di kala menghirup dan membuang napas, dan selanjutnya untuk menjaga napasnya dalam jangka waktu antara menghirup dan membuang napasnya.”

    “Zikir mengalir dalam tubuh setiap makhluk hidup oleh keharusan (kebutuhan) napas mereka – bahkan tanpa kehendak – sebagai sebuah tanda/peragaan ketaatan, yang adalah bagian dari penciptaan mereka. Melalui napas mereka, bunyi huruf “Ha” dari Nama Ilahiah Allah dibuat setiap kali membuang dan menghirup napas dan itu adalah sebuah tanda dari Jati Diri (Dzat) Gaib yang berfungsi untuk menekankan Kekhasan Allahu Shamad. Maka adalah penting untuk hadir dengan napas seperti itu, agar supaya menyadari (merasakan) Jati Diri (Dzat) Maha Pencipta.”

    Nama ‘Allah’ yang meliputi sembilan puluh sembilan Asma-ul’husna terdiri atas empat huruf: Alif, Lam, Lam dan Ha yang sama –dengan suara napas – (ALLAH SWT). Kaum Sufisme mengatakan bahwa Dzat Allah SWT yang paling gaib mutlak dinyatakan oleh huruf terakhir itu yang dibunyikan dengan vokal Alif, “Ha”. Ini mewakili Gaib Absolut Dzat-Nya Allah SWT.

    Memelihara napasmu dari kelalaian akan membawa mu kepada Hadirat sempurna, dan Hadirat sempurna akan membawamu kepada Penampakan (Visi) sempurna, dan Penampakan sempurna akan membawamu kepada Hadirat (Manifestasi) Asma-ul’husna Allah SWT yang sempurna. Allah SWT membimbingmu kepada Hadirat Asma-ul’husna-Nya, karena dikatakan bahwa, “Asma Allah SWT adalah sebanyak napas makhluk”.

    Hendaknya diketahui oleh semua orang bahwa melindungi napas terhadap kelalaian sungguh sukar bagi para salik. Maka mereka harus menjaganya dengan memohon ampunan (istighfar) karena memohon ampunan akan membersihkannya dan mensucikannya dan mempersiapkan sang salik untuk (menjumpai) Hadirat Benar (Haqq) Allah SWT di mana-mana.

    Langkah 5

    Bernapas,

    Menghirup melalui hidung – Zikir = “Hu Allah”, bayangkan cahaya putih memasuki tubuh melalui perut.

    Menghembus – melalui hidung – Zikir= “Hu”, bayangkan hitamnya karbon monoksida, semua perbuatan dosamu dikuras / didorong keluar dari dirimu.

    “Salik yang bijak harus menjaga napasnya dari kelalaian, seiring dengan masuk dan keluarnya napas, dengan demikian menjaga hatinya selalu dalam Hadirat Ilahi; dan dia harus menghidupkan napasnya dengan ibadah dan pengabdian dan mempersembahkankan pengabdiannya itu kepada Rabbnya dengan segenap hidupnya, karena setiap napas yang dihisap dan dihembuskan dengan Hadirat adalah hidup dan tersambung dengan Hadirat Ilahi. Setiap napas yang dihirup dan dihembuskan dengan kelalaian adalah mati dan terputus dari Hadirat Ilahi.”

    Untuk mendaki gunung, sang salik harus melintas dari dunia Bawah menuju Hadirat Ilahi. Dia harus melintas dari dunia ego keberadaan sensual (sensasi) menuju kesadaran jiwa terhadap Al Haqq.

    Untuk membuat kemajuan dalam perjalanan ini, sang salik harus membawa gambaran Syekhnya (tasawwur) ke dalam hatinya karena itu adalah cara paling kuat untuk melepaskan diri dari cengkeraman sensualnya. Dalam hatinya Syekh menjadi cermin dari Dzat Absolut. Jika dia berhasil, kondisi penisbian diri (ghayba) atau “absensi” dari dunia sensasi muncul dalam dirinya. Sampai kepada tahap bahwa keadaan ini menguat dalam dirinya dan keterikatannya kepada dunia sensasi melemah dan menghilang, dan fajar dari Level Hilang Mutlak- Tidak Merasa- Selain Allah SWT mulai menyinari dirinya.

    Derajat tertinggi dari maqam ini disebut fana’. Demikianlah Syah Naqsyband QS berkata, “Jalan terpendek kepada sasaran kita, yaitu Allah SWT mengangkat tabir dari Dzat Wajah-Nya Yang Ahad yang berada dalam semua makhluk ciptaan-Nya. Dia melakukan itu dengan (melalui) maqam ghayba dan fana’, sampai Dzat Agung (Majestic Essence) menyelimutinya dan melenyapkan kesadarannya akan segala sesuatu selain Dia. Inilah akhir perjalanan untuk mencari Allah SWT dan awal dari perjalanan lainnya.”

    “Pada akhir Perjalanan Pencarian dan Level Ketertarikan datanglah Level Perendahan Diri dan Penihilan. Sasaran ini adalah untuk segenap ummat manusia sebagaimana disebut Allah SWT dalam al-Qur’an, ‘Aku tidak menciptakan Jinn dan Manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.’ Beribadah di sini berarti Ilmu Sempurna (Ma`rifat).”

    Langkah 6

    Mengenakan ‘busana’ Syekh:

    3 tahap perjuangan yang berkesinambungan:

    Memelihara Cintanya (Muhabbat),

    Memelihara Kehadirannya (Hudur),

    Melaksanakan Kehendaknya atas diri kita (Penihilan atau Fana).

    Kita memiliki cinta kepadanya, jadi kini kenakanlah Cahayanya dan selanjutnya bayangkan segala sesuatunya dari titik (sudut) ini, dengan busana yang kita kenakan itu. Ini adalah penopang hidup kita. Kamu tidak boleh makan, minum, salat, zikir atau melakukan apapun tanpa membayangkan bayangan Syekh pada kita. Cinta ini akan menyatu dengan Hadirat Ilahi, dan ini akan membuka pintu Penihilan ke dalam-Nya.

    Semakin seseorang menjaga ingatan untuk mengenakan busana dengan dia (Syekh) semakin meningkatlah proses penihilan itu berlangsung. Kemudian penuntun itu akan meninggalkan dirimu di hadirat Rasul Allah Sayyidina Muhammad SAW. Di mana sekali lagi kamu akan menjaga cinta kepada Rasul SAW (Muhabbat), menjaga Hadiratnya (Hudur). Laksanakan kehendaknya atas diri kita (Penihilan atau Fana).

    Fana fi Syekh, Rasulullah SAW, Allah SWT.

    Penihilan Fana

    Dalam keadaan spirit murid menyatu dengan spirit Syekhnya, kemampuan Syekh akan diaktifkan dalam diri muridnya, karena itu Syekh menikmati kedekatan Nabi SAW. Dalam situasi ini, dalam istilah sufisme disebut ‘Penyatuan dengan Rasul SAW’ (Fana fi Rasul). Ini adalah pernyataan Nabi SAW, “Aku seorang manusia seperti kamu, namun aku menerima wahyu’. Jika pernyataan ini dicermati, kita melihat bahwa kemuliaan Nabi terakhir ini adalah bahwa beliau menerima wahyu dari Allah SWT, yang mencerminkan Ilmu-ladduni, ilmu yang diilhamkan langsung oleh Allah SWT, Pandangan yang Indah dari Allah SWT dan Cahaya Cemerlang ke dalam hati Nabi SAW.

    Dalam keadaan ‘Penyatuan dengan Nabi SAW’ seorang murid karena emosinya, kerinduannya dan cintanya secara sedikit demi sedikit, langkah demi langkah, berasimilasi dan mengenali ilmu Nabi Suci SAW. Kemudian datanglah saat paling berharga, saat yang ditunggu-tunggu, ketika ilmu dan pelajaran ditransfer dari Nabi Suci SAW kepadanya sesuai dengan kapasitasnya.

    Murid itu menyerap karakter Nabi Suci SAW sesuai dengan kemampuan dan kapasitasnya dan karena kedekatannya dengan Nabi Suci SAW dan dukungannya dia dapat mencapai keadaan ketika dia mengenali Rabbil ‘Alamin, ketika Dia menguraikan dalam al-Qur’an, ‘Ya, sesungguhnya Engkau adalah Rabbi!’ Kedekatan ini, dalam sufisme disebut ‘Penyatuan dengan Allah SWT’ (Fana fi-llah) atau singkatnya wahdat. Setelah itu, jika seseorang dikaruniai dengan kemampuan, dia akan membuat eksplorasi di daerah yang tentangnya cerita (narasi) tidak lagi memiliki kata-kata untuk menjelaskannya, karena kepekaan dan kehalusan situasinya.

    Langkah 7

    Menjadi sesuatu yang tidak ada, kendaraan sebening kristal untuk siapa pun yang ingin mengisi keberadaanmu dari Allah SWT Malikul Mulk.

    Dalam keadaan ‘Penyatuan dengan Nabi Suci SAW’ seorang murid karena emosinya, kerinduannya dan cintanya secara bertahap, langkah demi langkah, berasimilasi dan mengnali ilmu dari Nabi Suci SAW.

    praktek ibadah diatas apa dicontohkan oleh nabi?

  21. assalamu’alaikum……ANDA JANGAN NGOMONG SEMBARANGAN !!! HAPUS JUGA TULISAN ANDA INI…SEBELUM TGL 27 JUNI 2009…! KALAU TIDAK….SAYA AKAN MENDOAKAN UNTUK ANDA KESENGSARAAN 7 TURUNAN ……….( BY : MURID TORIQOT ) wassalam….

    • sebagai seorang muslim sejati mendoakan adalah hal yang baik-baik
      bukan sebaliknya mendoakan yang hal buruk apalagi samapi 7 turunan, tidak masuk akal! sebagai seorang muslim tidak dikenal dosa turunan, DOSA ditanggung oleh orang yang melakukan melakukan, apalagi sampai mengancam adalah bukan sikap seorang muslim sejati, muslim sejati adalah saling mengingatkan apa bila sesama muslim ada yang melakukan kesalahan, bukannya mengancam apalagi smapai 7 turunan, kritik bagi saudara!!!!!
      berdiskusi itu pakai otak bukan pakai otot, disini saja sudah dapat dinilai pemahaman saudara terhadap agama islam,
      hati boleh panas tapi kepala tetap dingin!

      • @TEGUH……JAWAB DONG PERTANYAAN SAYA >>>> SEKARANG ENTE IKUT APA AHLI SUNNAH WAL JAMAAH,MANHAJ SALAFI,WAHABI,SUFI,THARIKAT,ATAU APA>>>>>>>>>>APA ENTE SUDAH BISA BELAJAR SENDIRI.

  22. 15 MARET 2009

    Muraqabah: Meditasi Sufi dengan Ilustrasi Langkah demi Langkah

    أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ.

    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ.

    اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍوَعَلَى الِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

    As-Sayyid Nurjan Mirahmadi

    http://nurmuhammad.com/Meditation/Core/naqshbandimeditationillustration.htm

    Alih bahasa: Eyang Soetono

    Sasaran dan maksud dari Muraqabah/Meditasi/Rabitha Syarif adalah untuk memperagakan kehadiran terus-menerus ke dalam realitas Syekh. Semakin seseorang memelihara pelatihan ini, semakin terungkapkan manfaatnya dalam kehidupan sehari-harinya sampai pada titik dia mencapai tataran fana dalam hadirat Syekh. Orang harus tahu betul bahwa Syekh adalah jembatan antara ilusi dan realitas dan dia berada di dunia ini hanya untuk tujuan itu. Jadi Syekh adalah seutas tali yang khas yang diulurkan kepada siapa pun yang mencari kebebasan (dari ilusi), karena hanya Syekh yang dapat memberikan layanan sebagai penghubung antara seseorang yang masih terikat kepada dunia dengan Hadirat Ilahi. Agar menjadi fana di hadapan dan keberadaan Syekh adalah menjadi fana dalam kenyataan, dalam Hadirat Ilahi, karena memang sesungguhnya di situlah dia berada.

    Langkah 1

    Bayangkan dirimu berada di hadapan Syekh. Sampaikan salammu. Tutup matamu. Pandanglah melalui mata hatimu. Jangan mencari raut muka, melainkan hanya auranya saja, ruhaniah.

    Sebagai awal murid dapat memulai praktik Muraqabah ini untuk jangka waktu pendek, antara 5 sampai 15 menit, dan secara bertahap menjalaninya menuju jangka waktu yang lebih panjang, bahkan merentang hingga berjam-jam sekali sesi. Yang terpenting adalah bahwa seseorang mempertahankan sebuah praktik yang konsisten untuk mendapatkan manfaat dari praktik tersebut. Adalah jauh lebih baik dan bijaksana untuk bertahap pada sesi yang pendek secara harian daripada disiplin dan praktik yang acak. Sebuah upaya kecil yang dilakukan secara konsisten akan menghasilkan kemajuan luar biasa dalam waktu yang singkat.

    Ambillah wudu dan salat 2 rakaat (tahiyatul wudu).

    Ucapkan Kalimat Syahadat (3 kali): Asy-hadu an laa ilaaha illa-llah wa asy-hadu anna Muhammadan `abduhu wa rasuuluh

    Istighfar (100-200 kali): Astaghfirullah al `Azhiim wa atuubu ilayh

    Surat al-Ikhlash (3 kali): Qul huwa-llaahu ahad/ Allaahu Shamad/ Lam yalid wal lam yuulad/ wa lam yakul- lahuu kufuwan ahad

    Membaca Surat al-Fatiha

    Minimal 200 kali mengulang kalimat zikir, mencari dukungan dan kehadiran Mawlana Syekh dengan mengucapkan: “Madad ya Sayyidi, Madadul-Haqq Yaa Mawlana Syekh Nazim Al-Haqqani”

    Langkah 2

    Mata tertutup, mohon izin untuk menyambung cahaya beliau kepada hatimu dan cahayamu kepada hati beliau. Bayangkan sebuah kontak dua arah dan kemudian, baca awrad di atas.

    Ketika seseorang duduk bermeditasi dan menutup matanya, ia memfokuskan pikirannya pada satu titik tunggal. Dalam hal ini titik itu biasanya adalah konsep dari mentor spiritualnya; jadi ia memfokuskan seluruh kemampuan kesaksiannya memikirkan dengan konsentrasi penuh tentang guru spiritualnya agar mendapatkan gambaran atau citra mentornya pada layar mental, selama ia masih berada dalam status meditasi itu. Sifat, karakteristik dan potensi yang terkait dengan sebuah citra juga dipindahkan pada layar pikiran ketika citra itu terbentuk pada layar mental dan pikiran menerimanya sesuai dengan itu.

    Sebagai contoh, seseorang sedang memperhatikan api. Ketika gambaran tantang api itu dipindahlan ke layar pikiran, suhu dan panas api itu terekam oleh pikiran. Seseorang yang hadir dalam sebuah taman menikmati kesegaran dan kesejukan pepohonan dan tanaman dalam taman itu untuk menciptakan gambaran itu semua pada layar pikirannya. Begitu juga ketika gambaran mentor spiritual dipindahkan pada layar pikiran, Ilmu yang Dihadirkan yang beroperasi dalam diri guru spiritual, juga ikut dipindahkan dengan gambaran itu dan pikiran murid secara bertahap menyerap hal yang sama.

    Langkah 3

    Duduk bersimpuh, yang rapi, tetap bersimpuh, mata tertutup, tangan di tempat, mulut tertutup, lidah ditekuk ke atas, napas terkendali, telinga mendengar lantunan ayat suci al-Quran, Selawat atau suara sendu. Ruang gelap.

    Meditasi, memikirkan tentang mentor spiritual, sebuah upaya untuk memfokuskan dengan konsentrasi pikiran kita kepada seseorang, sehingga citranya dapat dipantulkan secara berulang pada layar pikiran kita, (maka) kita terbebaskan dari keterbatasan indera. Makin sering sebutir pikiran di tayangkan pada layar mental, makin jelas pula formasi (pembentukan) sebuah pola dalam pikiran itu. Dan, pola pikiran demikian ini, dalam istilah spiritualitas disebut ‘pendekatan pikiran’.

    Ketika kita membayangkan mentor spiritual atau ‘Syekh’, sebagai sebuah hal dari hukum eternal, ilmu Elohistic Attributes yang beroperasi dalam Syekh dipantulkan pada pikiran kita dengan ulangan yang berkali-kali menghasilkan pencerahan pikiran dari murid dengan cahaya yang berfungsi dalam diri Syekh dan dilimpahkan kepadanya. Pencerahan hati murid berusaha mencapai tataran atau tahap Syekhnya. Dalam Sufisme, keadaan ini disebut ‘kedekatan’, ‘afinitas’ (nisbat). Cara terbaik dan telah teruji untuk menikmati kedekatan, menurut spiritualitas, adalah hasrat kerinduan dari cinta.

    Pikiran Syekh terus-menerus mentransfer kepada murid spiritualnya sesuai dengan kobaran cinta dan rindu akan Syekh, yang mengalir di dalam diri murid dan datang suatu saat ketika cahaya beroperasi dalam diri Syekh yang sesungguhnya adalah pantulan Tampilan Ilahiah yang Indah yang dipindahkan kepada murid spiritual itu. Hal ini memungkinkan murid spiritual untuk membiasakan diri dengan Cahaya Gemilang dan Tampilan Indah. Keadaan ini, dalam istilah sufisme disebut ‘Menyatu dengan Syekh’ (Fana fi Shaykh).

    Cahaya Syekh dan Tampilan Indah gemilang yang beroperasi dalam diri Syekh bukanlah ciri pribadi Syekh. Sebagaimana halnya murid spiritual, yang dengan perhatian dan konsentrasi penuh dedikasi, menyerap (asimilasi) ilmu dan ciri khas Syekhnya, maka Syekh juga menyerap ilmu dan busana Nabi SAW dengan dedikasi pikiran dan konsentrasi penuh.

    Langkah 3a

    Posisi duduk: Posisi Teratai (yoga Lotus), Wudu Ritual Wudu adalah kunci sukses. Kapal Nabi Nuh AS melawan banjir kelalaian. Kebersihan adalah dekat dengan iman (ilahiah). Ingat bahwa bukanlah saya yang menghitung bahwa saya adalah bukan apa-apa, saya dan aku harus melebur kedalam dia. Syekhku, Rasulku, menggiring kepada Rabbku..

    Zikir dengan penolakan (laa ilaaha) dan pembenaran (illa Allah), dalam tradisi para syekh Naqsybandi, mensyratkan bahwa murid (salik, pejalan) menutup matanya, menutup mulutnya, menekan giginya, melekatkan lidahnya ke langit-langit mulutnya, dan menahan (mengatur) napasnya. Dia harus membaca zikir itu melalui hatinya, dengan penolakan dan pembenaran, memulainya dengan kata LAA (”Tidak”). Dia mengangkat “Tidak” ini dari titik (dua jari) di bawah pusar kepada otaknya. Ketika mencapai otaknya kata “Tidak” mengeluarkan kata ILAAHA (”sesembahan”), bergerak dari otaknya ke bahu Kanan, dan kemudian ke bahu Kiri di mana dia menabrak hatinya dengan ILLALLAH (”kecuali Allah”). Ketika kata itu mengenai hatinya energi dan panasnya menjalar/memancar ke sekujur tubuhnya. Sang salik yang telah menyangkal semua yang berada di dunia ini dengan kata-kata LAA ILAAHA, membenarkan dengan kata-kata ILLALLAH bahwa semua yang ada telah dilenyapkan di Hadirat Ilahi.

    Langkah 3b

    Posisi Mulut dan Lidah

    Menutup matanya,

    Menutup mulutnya,

    Menekan giginya,

    Melekatkan lidahnya pada langit-langit mulutnya, dan menahan napas.

    (secara perlahan-lahan memperlambat napas dan getaran jantungnya).

    Tangan membawa rahasia yang dahsyat, mereka itu seperti antena parabolamu, pastikan bahwa mereka itu bersih dan berada dalam posisi yang semestinya. Jadi ketika kamu memulai dengan tangnmu itu, menggosok-gosoknya, ketika mencucinya dan menggosok gosoknya untuk mengaktifkan mereka, itu adalah tanda dari (angka) 1 dan 0, dan kamu sedang mengaktifkan proses kode yang diberikan Allah SWT melalui tangan itu. Kamu mengaktifkan mereka.

    Mereka memiliki titik sembilan peluru yang terdiri dari keseluruhan sistem, seluruh tubuh. Ketika kamu menggosok jari-jari itu, sesungguhnya kamu mengaktifkan 99 Asma-ul’ husna Allah SWT.

    tangan kiri, “81″

    tangan kanan, “18″

    Dengan mengaktifkan mereka, kamu mengaktifkan 9 titik dalam tubuhmu.

    Dan ketika mengaktifkan mereka, itu adalah seperti menghidupkan receiver (pada radio/tv), energi mengalir masuk, itu mulai berfungsi untuk dapat menerima, memecahnya dalam bentuk kode digital yang dipancarkan keluar seperti gambar atau suara sebagaimana kita kenal di zaman ini (radio dan tv).

    Demikian juga halnya dengan tangan yang saling mengelilingi, itulah mengapa ketika kita menggosok-gosokkan dan membuka mereka, mereka mulai bertindak seperti lingkaran satu terhadap lainnya, menampung apapun energi yang datang, dan mereka ini mengelolanya. Lihatlah pada bagian Rahasia Tangan.

    Langkah 4

    Posisi Tangan :

    Jempol dan telunjuk memperagakan posisi “Allah Hu” untuk kuasa/kekuatan terbesar. Tangan diberi kode dengan kode angka, tangan kanan “18″, tangan kiri “81″ masing-masing dijumlahkan keduanya menjadi 9 dan dua 9 menjadi 99. Tangan diberi karakter dengan Asma-ul’husna Allah. Dan nama ke-99 dari Rasul adalah Mustafa..

    Bernapas dengan Sadar (”Hosh dar dam”)

    Hosh artinya “pikiran” Dar artinya “dalam” Dam artinya “Napas” Itu artinya, menurut Mawlana Abdul Khaliq al-Ghujdawani QS, bahwa “Misi paling penting bagi salik dalam thariqat ini adalah menjaga napasnya, dan dia yang tidak dapat menjaga napasnya, akan dikatakan tentang orang itu, ‘dia telah tersesat/kehilangan dirinya.’”

    Syah Naqsyband QS berkata, “Thariqat ini dibangun di atas (dengan fondasi) napas. Jadi adalah sebuah keharusan untuk semua orang menjaga napasnya di kala menghirup dan membuang napas, dan selanjutnya untuk menjaga napasnya dalam jangka waktu antara menghirup dan membuang napasnya.”

    “Zikir mengalir dalam tubuh setiap makhluk hidup oleh keharusan (kebutuhan) napas mereka – bahkan tanpa kehendak – sebagai sebuah tanda/peragaan ketaatan, yang adalah bagian dari penciptaan mereka. Melalui napas mereka, bunyi huruf “Ha” dari Nama Ilahiah Allah dibuat setiap kali membuang dan menghirup napas dan itu adalah sebuah tanda dari Jati Diri (Dzat) Gaib yang berfungsi untuk menekankan Kekhasan Allahu Shamad. Maka adalah penting untuk hadir dengan napas seperti itu, agar supaya menyadari (merasakan) Jati Diri (Dzat) Maha Pencipta.”

    Nama ‘Allah’ yang meliputi sembilan puluh sembilan Asma-ul’husna terdiri atas empat huruf: Alif, Lam, Lam dan Ha yang sama –dengan suara napas – (ALLAH SWT). Kaum Sufisme mengatakan bahwa Dzat Allah SWT yang paling gaib mutlak dinyatakan oleh huruf terakhir itu yang dibunyikan dengan vokal Alif, “Ha”. Ini mewakili Gaib Absolut Dzat-Nya Allah SWT.

    Memelihara napasmu dari kelalaian akan membawa mu kepada Hadirat sempurna, dan Hadirat sempurna akan membawamu kepada Penampakan (Visi) sempurna, dan Penampakan sempurna akan membawamu kepada Hadirat (Manifestasi) Asma-ul’husna Allah SWT yang sempurna. Allah SWT membimbingmu kepada Hadirat Asma-ul’husna-Nya, karena dikatakan bahwa, “Asma Allah SWT adalah sebanyak napas makhluk”.

    Hendaknya diketahui oleh semua orang bahwa melindungi napas terhadap kelalaian sungguh sukar bagi para salik. Maka mereka harus menjaganya dengan memohon ampunan (istighfar) karena memohon ampunan akan membersihkannya dan mensucikannya dan mempersiapkan sang salik untuk (menjumpai) Hadirat Benar (Haqq) Allah SWT di mana-mana.

    Langkah 5

    Bernapas,

    Menghirup melalui hidung – Zikir = “Hu Allah”, bayangkan cahaya putih memasuki tubuh melalui perut.

    Menghembus – melalui hidung – Zikir= “Hu”, bayangkan hitamnya karbon monoksida, semua perbuatan dosamu dikuras / didorong keluar dari dirimu.

    “Salik yang bijak harus menjaga napasnya dari kelalaian, seiring dengan masuk dan keluarnya napas, dengan demikian menjaga hatinya selalu dalam Hadirat Ilahi; dan dia harus menghidupkan napasnya dengan ibadah dan pengabdian dan mempersembahkankan pengabdiannya itu kepada Rabbnya dengan segenap hidupnya, karena setiap napas yang dihisap dan dihembuskan dengan Hadirat adalah hidup dan tersambung dengan Hadirat Ilahi. Setiap napas yang dihirup dan dihembuskan dengan kelalaian adalah mati dan terputus dari Hadirat Ilahi.”

    Untuk mendaki gunung, sang salik harus melintas dari dunia Bawah menuju Hadirat Ilahi. Dia harus melintas dari dunia ego keberadaan sensual (sensasi) menuju kesadaran jiwa terhadap Al Haqq.

    Untuk membuat kemajuan dalam perjalanan ini, sang salik harus membawa gambaran Syekhnya (tasawwur) ke dalam hatinya karena itu adalah cara paling kuat untuk melepaskan diri dari cengkeraman sensualnya. Dalam hatinya Syekh menjadi cermin dari Dzat Absolut. Jika dia berhasil, kondisi penisbian diri (ghayba) atau “absensi” dari dunia sensasi muncul dalam dirinya. Sampai kepada tahap bahwa keadaan ini menguat dalam dirinya dan keterikatannya kepada dunia sensasi melemah dan menghilang, dan fajar dari Level Hilang Mutlak- Tidak Merasa- Selain Allah SWT mulai menyinari dirinya.

    Derajat tertinggi dari maqam ini disebut fana’. Demikianlah Syah Naqsyband QS berkata, “Jalan terpendek kepada sasaran kita, yaitu Allah SWT mengangkat tabir dari Dzat Wajah-Nya Yang Ahad yang berada dalam semua makhluk ciptaan-Nya. Dia melakukan itu dengan (melalui) maqam ghayba dan fana’, sampai Dzat Agung (Majestic Essence) menyelimutinya dan melenyapkan kesadarannya akan segala sesuatu selain Dia. Inilah akhir perjalanan untuk mencari Allah SWT dan awal dari perjalanan lainnya.”

    “Pada akhir Perjalanan Pencarian dan Level Ketertarikan datanglah Level Perendahan Diri dan Penihilan. Sasaran ini adalah untuk segenap ummat manusia sebagaimana disebut Allah SWT dalam al-Qur’an, ‘Aku tidak menciptakan Jinn dan Manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.’ Beribadah di sini berarti Ilmu Sempurna (Ma`rifat).”

    Langkah 6

    Mengenakan ‘busana’ Syekh:

    3 tahap perjuangan yang berkesinambungan:

    Memelihara Cintanya (Muhabbat),

    Memelihara Kehadirannya (Hudur),

    Melaksanakan Kehendaknya atas diri kita (Penihilan atau Fana).

    Kita memiliki cinta kepadanya, jadi kini kenakanlah Cahayanya dan selanjutnya bayangkan segala sesuatunya dari titik (sudut) ini, dengan busana yang kita kenakan itu. Ini adalah penopang hidup kita. Kamu tidak boleh makan, minum, salat, zikir atau melakukan apapun tanpa membayangkan bayangan Syekh pada kita. Cinta ini akan menyatu dengan Hadirat Ilahi, dan ini akan membuka pintu Penihilan ke dalam-Nya.

    Semakin seseorang menjaga ingatan untuk mengenakan busana dengan dia (Syekh) semakin meningkatlah proses penihilan itu berlangsung. Kemudian penuntun itu akan meninggalkan dirimu di hadirat Rasul Allah Sayyidina Muhammad SAW. Di mana sekali lagi kamu akan menjaga cinta kepada Rasul SAW (Muhabbat), menjaga Hadiratnya (Hudur). Laksanakan kehendaknya atas diri kita (Penihilan atau Fana).

    Fana fi Syekh, Rasulullah SAW, Allah SWT.

    Penihilan Fana

    Dalam keadaan spirit murid menyatu dengan spirit Syekhnya, kemampuan Syekh akan diaktifkan dalam diri muridnya, karena itu Syekh menikmati kedekatan Nabi SAW. Dalam situasi ini, dalam istilah sufisme disebut ‘Penyatuan dengan Rasul SAW’ (Fana fi Rasul). Ini adalah pernyataan Nabi SAW, “Aku seorang manusia seperti kamu, namun aku menerima wahyu’. Jika pernyataan ini dicermati, kita melihat bahwa kemuliaan Nabi terakhir ini adalah bahwa beliau menerima wahyu dari Allah SWT, yang mencerminkan Ilmu-ladduni, ilmu yang diilhamkan langsung oleh Allah SWT, Pandangan yang Indah dari Allah SWT dan Cahaya Cemerlang ke dalam hati Nabi SAW.

    Dalam keadaan ‘Penyatuan dengan Nabi SAW’ seorang murid karena emosinya, kerinduannya dan cintanya secara sedikit demi sedikit, langkah demi langkah, berasimilasi dan mengenali ilmu Nabi Suci SAW. Kemudian datanglah saat paling berharga, saat yang ditunggu-tunggu, ketika ilmu dan pelajaran ditransfer dari Nabi Suci SAW kepadanya sesuai dengan kapasitasnya.

    Murid itu menyerap karakter Nabi Suci SAW sesuai dengan kemampuan dan kapasitasnya dan karena kedekatannya dengan Nabi Suci SAW dan dukungannya dia dapat mencapai keadaan ketika dia mengenali Rabbil ‘Alamin, ketika Dia menguraikan dalam al-Qur’an, ‘Ya, sesungguhnya Engkau adalah Rabbi!’ Kedekatan ini, dalam sufisme disebut ‘Penyatuan dengan Allah SWT’ (Fana fi-llah) atau singkatnya wahdat. Setelah itu, jika seseorang dikaruniai dengan kemampuan, dia akan membuat eksplorasi di daerah yang tentangnya cerita (narasi) tidak lagi memiliki kata-kata untuk menjelaskannya, karena kepekaan dan kehalusan situasinya.

    Langkah 7

    Menjadi sesuatu yang tidak ada, kendaraan sebening kristal untuk siapa pun yang ingin mengisi keberadaanmu dari Allah SWT Malikul Mulk.

    Dalam keadaan ‘Penyatuan dengan Nabi Suci SAW’ seorang murid karena emosinya, kerinduannya dan cintanya secara bertahap, langkah demi langkah, berasimilasi dan mengnali ilmu dari Nabi Suci SAW.

    praktek ibadah diatas apa dicontohkan oleh nabi?

    praktek ibadah ini adalah karangan manusia setelah nabi wafat, jadi pada saat nabi masih hidup tatacara ibadah seperti diatas tidak dikenal! islam adalah agama yang sudah sempurna mengapa harus ada tata cara baru yang tidak dikenal pada jaman nabi? PIKIRKANLAH……………RENUNGKAN……..

    Allah subhanahu wa ta`ala berfirman :
    “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah Aku cukupkan bagi kalian nikmat-Ku dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian”. (QS. Al Maidah : 3)

  23. SUDAH saya baca tata cara ibadah orang sufi memang aneh, seperti adanya percampuran/sinkretesme/asimilasi dengan tata cara agama lain didunia (agama ardhi), jadi bukan murni ajaran agama islam!

  24. Asy-Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir rahimahullah berkata: “Ketika kita telusuri ajaran Sufi periode pertama dan terakhir, dan juga perkataan-perkataan mereka baik yang keluar dari lisan atau pun yang terdapat di dalam buku-buku terdahulu dan terkini mereka, maka kita dapati sangat berbeda dengan ajaran Al Qur’an dan As Sunnah. Dan kita tidak pernah melihat asal usul ajaran Sufi ini di dalam sejarah pemimpin umat manusia Muhammad, dan para shahabatnya yang mulia lagi baik, yang mereka adalah makhluk-makhluk pilihan Allah di alam semesta ini. Bahkan sebaliknya, kita melihat bahwa ajaran Sufi ini diambil dan diwarisi dari kerahiban Nashrani, Brahma Hindu, ibadah Yahudi, dan zuhud Budha.”

  25. saya telah kembali ke jalan yang lurus, semua tata cara ibadah yang saya ikuti telah bersumber pada Al-Quran dan AS-Sunnah, bukan pendapat orang, bukan karangan orang ataupun sumber yang lain…..,

  26. kalo saudara-saudara lihat adap tarekat diatas maka banyak dijumpai istilah istilah yang datangnya bukan islam ini baru sebagian kecil saja contohnya:
    1.Posisi Teratai (yoga Lotus)
    2.Orang harus tahu betul bahwa Syekh adalah jembatan antara ilusi dan realitas
    3.Meditasi
    4.Langkah 3b

    Posisi Mulut dan Lidah

    Menutup matanya,

    Menutup mulutnya,

    Menekan giginya,

    Melekatkan lidahnya pada langit-langit mulutnya, dan menahan napas.
    5.Mengenakan ‘busana’ Syekh:

    3 tahap perjuangan yang berkesinambungan:

    Memelihara Cintanya (Muhabbat),

    Memelihara Kehadirannya (Hudur),

    Melaksanakan Kehendaknya atas diri kita (Penihilan atau Fana).
    6.dll,

    adakah islam mengenal istilah-istilah seperti diatas?

  27. tidak ada kewajiban seseorang untuk menganut salah satu dari 4 imam mazhab, karena tidak ada dalil untuk itu, apalagi kalo dilihat dari urutan waktu, 4 imam mazhab ada setelah Nabi MUHAMMAD SAW wafat,

  28. Asy-Syaikh Abdurrahman Al-Wakil rahimahullah berkata: “Sesungguhnya Tasawuf merupakan tipu daya setan yang paling tercela lagi hina untuk menggiring hamba-hamba Allah  di dalam memerangi Allah  dan Rasul-Nya . Sesungguhnya ia (Tasawuf) merupakan topeng bagi Majusi agar tampak sebagai seorang Rabbani, bahkan ia sebagai topeng bagi setiap musuh (Sufi) di dalam memerangi agama yang benar ini. Periksalah ajarannya! Niscaya engkau akan mendapati di dalamnya ajaran Brahma (Hindu), Buddha, Zaradisytiyyah, Manawiyyah, Dishaniyyah, Aplatoniyyah, Ghanushiyyah, Yahudi, Nashrani, dan Berhalaisme Jahiliyyah.” (Muqaddimah kitab Mashra’ut Tasawuf, hal. 19)2

    terbuktikan istilah istilah diatas adalah bukan dari islam, tetapi dari ajaran Brahma (Hindu), Buddha, Zaradisytiyyah, Manawiyyah, Dishaniyyah, Aplatoniyyah, Ghanushiyyah, Yahudi, Nashrani, dan Berhalaisme Jahiliyyah.”

  29. Ketika kita membayangkan mentor spiritual atau ‘Syekh’, sebagai sebuah hal dari hukum eternal, ilmu Elohistic Attributes yang beroperasi dalam Syekh dipantulkan pada pikiran kita dengan ulangan yang berkali-kali menghasilkan pencerahan pikiran dari murid dengan cahaya yang berfungsi dalam diri Syekh dan dilimpahkan kepadanya. Pencerahan hati murid berusaha mencapai tataran atau tahap Syekhnya. Dalam Sufisme, keadaan ini disebut ‘kedekatan’, ‘afinitas’ (nisbat). Cara terbaik dan telah teruji untuk menikmati kedekatan, menurut spiritualitas, adalah hasrat kerinduan dari cinta.

  30. Penihilan Fana

    Dalam keadaan spirit murid menyatu dengan spirit Syekhnya, kemampuan Syekh akan diaktifkan dalam diri muridnya, karena itu Syekh menikmati kedekatan Nabi SAW. Dalam situasi ini, dalam istilah sufisme disebut ‘Penyatuan dengan Rasul SAW’ (Fana fi Rasul). Ini adalah pernyataan Nabi SAW, “Aku seorang manusia seperti kamu, namun aku menerima wahyu’. Jika pernyataan ini dicermati, kita melihat bahwa kemuliaan Nabi terakhir ini adalah bahwa beliau menerima wahyu dari Allah SWT, yang mencerminkan Ilmu-ladduni, ilmu yang diilhamkan langsung oleh Allah SWT, Pandangan yang Indah dari Allah SWT dan Cahaya Cemerlang ke dalam hati Nabi SAW.

    Dalam keadaan ‘Penyatuan dengan Nabi SAW’ seorang murid karena emosinya, kerinduannya dan cintanya secara sedikit demi sedikit, langkah demi langkah, berasimilasi dan mengenali ilmu Nabi Suci SAW. Kemudian datanglah saat paling berharga, saat yang ditunggu-tunggu, ketika ilmu dan pelajaran ditransfer dari Nabi Suci SAW kepadanya sesuai dengan kapasitasnya.

    Murid itu menyerap karakter Nabi Suci SAW sesuai dengan kemampuan dan kapasitasnya dan karena kedekatannya dengan Nabi Suci SAW dan dukungannya dia dapat mencapai keadaan ketika dia mengenali Rabbil ‘Alamin, ketika Dia menguraikan dalam al-Qur’an, ‘Ya, sesungguhnya Engkau adalah Rabbi!’ Kedekatan ini, dalam sufisme disebut ‘Penyatuan dengan Allah SWT’ (Fana fi-llah) atau singkatnya wahdat. Setelah itu, jika seseorang dikaruniai dengan kemampuan, dia akan membuat eksplorasi di daerah yang tentangnya cerita (narasi) tidak lagi memiliki kata-kata untuk menjelaskannya, karena kepekaan dan kehalusan situasinya.

    inilah konsep widatul wujud, konsep menyatunya manusia dengan Allah SWT(fana fi-illah) yang didahului dengan penyatuan dengan nabi SAW (FANA fi Rosul)

    tidak dipungkiri lagi mereka adalah pengikut, Al-halaj dan Syeh Siti Jenar yang kita semua sudah tahu “reputasinya”

    bagaimana mungkin konsep agama seperti ini dari islam karena tidak ada satupun ayat Al Quran dan AL Hadist membahas
    “fana fi illah dan fana fi Rosul, ini adalah salah satu kebohongan/kesesatan mereka”

  31. dengan uraian diatas yang dikemukakan oleh pengikut tarekat naqsabandy yang dikarang oleh As-Sayyid Nurjan Mirahmadi di alih bahasa oleh eyang soetono terbukti sudah bahwa tarekat adalah percampuran ritual beberapa agama!

  32. Dengan uraian di atas,
    (Muraqabah: Meditasi Sufi dengan Ilustrasi Langkah demi Langkah)

    oleh:As-Sayyid Nurjan Mirahmadi

    http://nurmuhammad.com/Meditation/Core/naqshbandimeditationillustration.htm

    Alih bahasa: Eyang Soetono

    Disini jelas, kalau dicermati akan banyak di jumpai kejanggalan dan keanehan dalam ritual-ritualnya

    disini sangat kental dengan ritual agama hindu / budha (dengan adanya meditasi dan yoga)

    apakah dibolehkan dalam islam “meminjam” ritual dari agama lain?

    bolehkah kita mencampur ritual-ritual agama lain dengan islam kemudian dikatakan itu ritual/syariat islam?

    kalau sampai ini terjadi berarti mereka yang mempraktekkannya berpikiran bahwa islam bukanlah agama yang sempurna karena

    mereka masih meminjam ritual agama lain?

    Al Baqarah 208-209

    Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara KESELURUHANNYA, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu. ( al- Baqarah : 208)

    KESIMPULAN : MARILAH KITA SEMUA beragama islam secara keseluruhannya bukan di campur dengan agama lain, kalau tidak mau disebut “AGAMA GADO-GADO” (agama islam + hindu/budha dan yang lainnya)

    sudahlah……………..
    MARILAH KITA KEMBALI KE JALAN YANG LURUS , SESUNGGUHNYA ALLAH MAHA MENERIMA TAUBAT!

    ALANGKAH TIDAK BIJAKNYA KIRANYA JIKA MEMBELA MATI-MATIAN SESUATU AJARAN YANG BUKAN DARI ISLAM UNTUK DIAKUI SEBAGAI AJARAN ISLAM

    SEMOGA MENJADIKAN mengerti dan sadar dan dapat kembali ke JALAN YANG LURUS YANG SESUAI DENGAN AL-QUR’AN DAN AS-SUNAH
    AMIEN YAA ROBBAL ALAMIN………

    SUDAHLAH……..

  33. berarti boleh mencampur aduk ritual agama lain dengan islam ya? (sekedar koreksi..!)

    mengapa kita tidak menggunakan yang dari islam saja? mengapa harus dicampur? apa islam kurang sempurna? (pertanyaan ini tidak perlu jawaban tapi renungan)

    aliran saya adalah telah keluar dari tarekat dan ke yang sesuai dengan Al Quran dan sunnah, saya telah bertaubat untuk kembali kejalan yang lurus,

    telah banyak yang ku pelajari dalam tarekat, dan telah ku mengerti aqidahnya,

    fana fi syekh, fana fi rosul, fana fi illah ada dalam AL Qur’an?

    Abdul Qadir Al-Jailani

    Beliau adalah seorang ulama besar sehingga suatu kewajaran jika sekarang ini banyak kaum muslimin menyanjungnya dan mencintainya. Akan tetapi kalau meninggi-ninggikan derajat beliau berada di atas Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka hal ini merupakan suatu kekeliruan. Karena Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah rasul yang paling mulia di antara para nabi dan rasul yang derajatnya tidak akan pernah bisa dilampaui di sisi Allah oleh manusia siapapun.

    Ada juga sebagian kaum muslimin yang menjadikan Syaikh Abdul Qadir Al Jailani sebagai wasilah (perantara) dalam do’a mereka. Berkeyakinan bahwa do’a seseorang tidak akan dikabulkan oleh Allah, kecuali dengan perantaraannya. Ini juga merupakan kesesatan.

    Menjadikan orang yang sudah meninggal sebagai perantara tidak ada syari’atnya dan ini sangat diharamkan. Apalagi kalau ada yang berdo’a kepada beliau. Ini adalah sebuah kesyirikan besar. Sebab do’a merupakan salah satu bentuk ibadah yang tidak boleh diberikan kepada selain Allah. Allah melarang makhluknya berdo’a kepada selainNya. Allah berfirman, yang artinya:

    “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (QS. Al Jin:18)

    Kelahirannya
    Syaikh Abdul Qadir Al Jailani adalah seorang ‘alim di Baghdad yang lahir pada tahun 490/471 H di kota Jailan atau disebut juga Kailan. Sehingga di akhir nama beliau ditambahkan kata Al Jailani atau Al Kailani atau juga Al Jiliy.

    Pendidikannya
    Pada usia yang masih muda beliau telah merantau ke Baghdad dan meninggalkan tanah kelahirannya. Di sana beliau belajar kepada beberapa orang ulama seperti Ibnu Aqil, Abul Khatthath, Abul Husein Al Farra’ dan juga Abu Sa’ad Al Mukharrimi sehingga mampu menguasai ilmu-ilmu ushul dan juga perbedaan-perbedaan pendapat para ulama.

    Pemahamannya
    Beliau seorang Imam bermadzhab Hambali. Menjadi guru besar madzhab ini pada masa hidup beliau. Beliau adalah seorang alim yang beraqidah ahlus sunnah mengikuti jalan Salafush Shalih. Dikenal banyak memiliki karamah-karamah. Tetapi banyak pula orang yang membuat-buat kedustaan atas nama beliau. Kedustaan itu baik berupa kisah-kisah, perkataan-perkataan, ajaran-ajaran, “thariqah” yang berbeda dengan jalan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, para sahabatnya dan lainnya.

    Syaikh Abdul Qadir Al Jailani menyatakan dalam kitabnya, Al Ghunyah, “Dia (Allah) di arah atas, berada di atas ‘ArsyNya, meliputi seluruh kerajaanNya. IlmuNya meliputi segala sesuatu. “Kemudian beliau menyebutkan ayat-ayat dan hadits-hadits, lalu berkata, “Sepantasnya menetapkan sifat istiwa’ (Allah berada di atas ‘ArsyNya) tanpa takwil (menyimpangkan kepada makna lain). Dan hal itu merupakan istiwa’ dzat Allah di atas ‘Arsy.

    Dakwahnya
    Suatu ketika Abu Sa’ad Al Mukharrimi membangun sekolah kecil di sebuah daerah yang bernama Babul Azaj dan pengelolaannya diserahkan sepenuhnya kepada Syaikh Abdul Qadir. Beliau mengelola sekolah ini dengan sungguh-sungguh. Bermukim di sana sambil memeberikan nasehat kepada orang-orang yang ada di sana, sampai beliau meninggal dunia di daerah tersebut.

    Banyak sudah orang yang bertaubat demi mendengar nasihat beliau. Banyak orang yang bersimpati kepada beliau, lalu datang ke sekolah beliau. Sehingga sekolah ini tidak kuat menampungnya. Maka diadakan perluasan.

    Imam Adz Dzahabi dalam menyebutkan biografi Syaikh Abdul Qadir Al Jailani dalam Siyar A’lamin Nubala, menukilkan perkataan Syaikh sebagai berikut, “Lebih dari lima ratus orang masuk Islam lewat tanganku, dan lebih dari seratus ribu orang telah bertaubat.”

    Murid-murid beliau banyak yang menjadi ulama terkenal, seperti Al Hafidz Abdul Ghani yang menyusun Umdatul Ahkam Fi Kalami Khairil Anam. Ibnu Qudamah penyusun kitab fiqh terkenal Al Mughni.

    Wafatnya
    Beliau Wafat pada hari Sabtu malam, setelah maghrib, pada tanggal 9 Rabi’ul Akhir tahun 561 H di daerah Babul Azaj.

  34. saya keluar dari tarekat naqsabandiyah dan kembali ke ajaran yang lurus dari Al Quran dan As-sunah, gitu boosss
    karena tarekat ini telah terjadi percampuran ritual agama2 samawi yang diadopsi oleh terekat, dan dianggap oleh penganut tarekat sebagai ajaran/syariat islam padahal dari agama lain….. hihihih lucu ya agama kok dicampur campur, bikin saja sekalian agama tarekat biar jelas identitasnya, bukan agama yang tanpa identitas, rituan hindu diambil, budha diambil, islam diambil, jadilah agama gado-gado. LUCU YA….

    SUDAHLAH……

    • hihihihi… sangat lebih lucu lu ngoceh yang lu nggak tau, padahal Allah & Rasul-Nya hanya menurunkan SATU Agama ke seluruh jagad raya sejak Nabi Adam as hingga hari kiamat, tiada duanya. Apalagi lu nyebut2 ada agama hindu, budha, dll. jangan asal ngomong boooossssss, malu deh!

  35. Muraqabah: Meditasi Sufi dengan Ilustrasi Langkah demi Langkah
    أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ.
    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ.
    اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍوَعَلَى الِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
    As-Sayyid Nurjan Mirahmadi

    http://nurmuhammad.com/Meditation/Core/naqshbandimeditationillustration.htm

    Alih bahasa: Eyang Soetono
    Sasaran dan maksud dari Muraqabah/Meditasi/Rabitha Syarif adalah untuk memperagakan kehadiran terus-menerus ke dalam realitas Syekh. Semakin seseorang memelihara pelatihan ini, semakin terungkapkan manfaatnya dalam kehidupan sehari-harinya sampai pada titik dia mencapai tataran fana dalam hadirat Syekh. Orang harus tahu betul bahwa Syekh adalah jembatan antara ilusi dan realitas dan dia berada di dunia ini hanya untuk tujuan itu. Jadi Syekh adalah seutas tali yang khas yang diulurkan kepada siapa pun yang mencari kebebasan (dari ilusi), karena hanya Syekh yang dapat memberikan layanan sebagai penghubung antara seseorang yang masih terikat kepada dunia dengan Hadirat Ilahi. Agar menjadi fana di hadapan dan keberadaan Syekh adalah menjadi fana dalam kenyataan, dalam Hadirat Ilahi, karena memang sesungguhnya di situlah dia berada.
    Langkah 1
    Bayangkan dirimu berada di hadapan Syekh. Sampaikan salammu. Tutup matamu. Pandanglah melalui mata hatimu. Jangan mencari raut muka, melainkan hanya auranya saja, ruhaniah.
    Sebagai awal murid dapat memulai praktik Muraqabah ini untuk jangka waktu pendek, antara 5 sampai 15 menit, dan secara bertahap menjalaninya menuju jangka waktu yang lebih panjang, bahkan merentang hingga berjam-jam sekali sesi. Yang terpenting adalah bahwa seseorang mempertahankan sebuah praktik yang konsisten untuk mendapatkan manfaat dari praktik tersebut. Adalah jauh lebih baik dan bijaksana untuk bertahap pada sesi yang pendek secara harian daripada disiplin dan praktik yang acak. Sebuah upaya kecil yang dilakukan secara konsisten akan menghasilkan kemajuan luar biasa dalam waktu yang singkat.
    Ambillah wudu dan salat 2 rakaat (tahiyatul wudu).
    Ucapkan Kalimat Syahadat (3 kali): Asy-hadu an laa ilaaha illa-llah wa asy-hadu anna Muhammadan `abduhu wa rasuuluh
    Istighfar (100-200 kali): Astaghfirullah al `Azhiim wa atuubu ilayh
    Surat al-Ikhlash (3 kali): Qul huwa-llaahu ahad/ Allaahu Shamad/ Lam yalid wal lam yuulad/ wa lam yakul- lahuu kufuwan ahad
    Membaca Surat al-Fatiha
    Minimal 200 kali mengulang kalimat zikir, mencari dukungan dan kehadiran Mawlana Syekh dengan mengucapkan: “Madad ya Sayyidi, Madadul-Haqq Yaa Mawlana Syekh Nazim Al-Haqqani”
    Langkah 2
    Mata tertutup, mohon izin untuk menyambung cahaya beliau kepada hatimu dan cahayamu kepada hati beliau. Bayangkan sebuah kontak dua arah dan kemudian, baca awrad di atas.
    Ketika seseorang duduk bermeditasi dan menutup matanya, ia memfokuskan pikirannya pada satu titik tunggal. Dalam hal ini titik itu biasanya adalah konsep dari mentor spiritualnya; jadi ia memfokuskan seluruh kemampuan kesaksiannya memikirkan dengan konsentrasi penuh tentang guru spiritualnya agar mendapatkan gambaran atau citra mentornya pada layar mental, selama ia masih berada dalam status meditasi itu. Sifat, karakteristik dan potensi yang terkait dengan sebuah citra juga dipindahkan pada layar pikiran ketika citra itu terbentuk pada layar mental dan pikiran menerimanya sesuai dengan itu.
    Sebagai contoh, seseorang sedang memperhatikan api. Ketika gambaran tantang api itu dipindahlan ke layar pikiran, suhu dan panas api itu terekam oleh pikiran. Seseorang yang hadir dalam sebuah taman menikmati kesegaran dan kesejukan pepohonan dan tanaman dalam taman itu untuk menciptakan gambaran itu semua pada layar pikirannya. Begitu juga ketika gambaran mentor spiritual dipindahkan pada layar pikiran, Ilmu yang Dihadirkan yang beroperasi dalam diri guru spiritual, juga ikut dipindahkan dengan gambaran itu dan pikiran murid secara bertahap menyerap hal yang sama.
    Langkah 3
    Duduk bersimpuh, yang rapi, tetap bersimpuh, mata tertutup, tangan di tempat, mulut tertutup, lidah ditekuk ke atas, napas terkendali, telinga mendengar lantunan ayat suci al-Quran, Selawat atau suara sendu. Ruang gelap.
    Meditasi, memikirkan tentang mentor spiritual, sebuah upaya untuk memfokuskan dengan konsentrasi pikiran kita kepada seseorang, sehingga citranya dapat dipantulkan secara berulang pada layar pikiran kita, (maka) kita terbebaskan dari keterbatasan indera. Makin sering sebutir pikiran di tayangkan pada layar mental, makin jelas pula formasi (pembentukan) sebuah pola dalam pikiran itu. Dan, pola pikiran demikian ini, dalam istilah spiritualitas disebut ‘pendekatan pikiran’.
    Ketika kita membayangkan mentor spiritual atau ‘Syekh’, sebagai sebuah hal dari hukum eternal, ilmu Elohistic Attributes yang beroperasi dalam Syekh dipantulkan pada pikiran kita dengan ulangan yang berkali-kali menghasilkan pencerahan pikiran dari murid dengan cahaya yang berfungsi dalam diri Syekh dan dilimpahkan kepadanya. Pencerahan hati murid berusaha mencapai tataran atau tahap Syekhnya. Dalam Sufisme, keadaan ini disebut ‘kedekatan’, ‘afinitas’ (nisbat). Cara terbaik dan telah teruji untuk menikmati kedekatan, menurut spiritualitas, adalah hasrat kerinduan dari cinta.
    Pikiran Syekh terus-menerus mentransfer kepada murid spiritualnya sesuai dengan kobaran cinta dan rindu akan Syekh, yang mengalir di dalam diri murid dan datang suatu saat ketika cahaya beroperasi dalam diri Syekh yang sesungguhnya adalah pantulan Tampilan Ilahiah yang Indah yang dipindahkan kepada murid spiritual itu. Hal ini memungkinkan murid spiritual untuk membiasakan diri dengan Cahaya Gemilang dan Tampilan Indah. Keadaan ini, dalam istilah sufisme disebut ‘Menyatu dengan Syekh’ (Fana fi Shaykh).
    Cahaya Syekh dan Tampilan Indah gemilang yang beroperasi dalam diri Syekh bukanlah ciri pribadi Syekh. Sebagaimana halnya murid spiritual, yang dengan perhatian dan konsentrasi penuh dedikasi, menyerap (asimilasi) ilmu dan ciri khas Syekhnya, maka Syekh juga menyerap ilmu dan busana Nabi SAW dengan dedikasi pikiran dan konsentrasi penuh.
    Langkah 3a
    Posisi duduk: Posisi Teratai (yoga Lotus), Wudu Ritual Wudu adalah kunci sukses. Kapal Nabi Nuh AS melawan banjir kelalaian. Kebersihan adalah dekat dengan iman (ilahiah). Ingat bahwa bukanlah saya yang menghitung bahwa saya adalah bukan apa-apa, saya dan aku harus melebur kedalam dia. Syekhku, Rasulku, menggiring kepada Rabbku..
    Zikir dengan penolakan (laa ilaaha) dan pembenaran (illa Allah), dalam tradisi para syekh Naqsybandi, mensyratkan bahwa murid (salik, pejalan) menutup matanya, menutup mulutnya, menekan giginya, melekatkan lidahnya ke langit-langit mulutnya, dan menahan (mengatur) napasnya. Dia harus membaca zikir itu melalui hatinya, dengan penolakan dan pembenaran, memulainya dengan kata LAA (”Tidak”). Dia mengangkat “Tidak” ini dari titik (dua jari) di bawah pusar kepada otaknya. Ketika mencapai otaknya kata “Tidak” mengeluarkan kata ILAAHA (”sesembahan”), bergerak dari otaknya ke bahu Kanan, dan kemudian ke bahu Kiri di mana dia menabrak hatinya dengan ILLALLAH (”kecuali Allah”). Ketika kata itu mengenai hatinya energi dan panasnya menjalar/memancar ke sekujur tubuhnya. Sang salik yang telah menyangkal semua yang berada di dunia ini dengan kata-kata LAA ILAAHA, membenarkan dengan kata-kata ILLALLAH bahwa semua yang ada telah dilenyapkan di Hadirat Ilahi.
    Langkah 3b
    Posisi Mulut dan Lidah
    Menutup matanya,
    Menutup mulutnya,
    Menekan giginya,
    Melekatkan lidahnya pada langit-langit mulutnya, dan menahan napas.
    (secara perlahan-lahan memperlambat napas dan getaran jantungnya).
    Tangan membawa rahasia yang dahsyat, mereka itu seperti antena parabolamu, pastikan bahwa mereka itu bersih dan berada dalam posisi yang semestinya. Jadi ketika kamu memulai dengan tangnmu itu, menggosok-gosoknya, ketika mencucinya dan menggosok gosoknya untuk mengaktifkan mereka, itu adalah tanda dari (angka) 1 dan 0, dan kamu sedang mengaktifkan proses kode yang diberikan Allah SWT melalui tangan itu. Kamu mengaktifkan mereka.
    Mereka memiliki titik sembilan peluru yang terdiri dari keseluruhan sistem, seluruh tubuh. Ketika kamu menggosok jari-jari itu, sesungguhnya kamu mengaktifkan 99 Asma-ul’ husna Allah SWT.
    tangan kiri, “81″
    tangan kanan, “18″
    Dengan mengaktifkan mereka, kamu mengaktifkan 9 titik dalam tubuhmu.
    Dan ketika mengaktifkan mereka, itu adalah seperti menghidupkan receiver (pada radio/tv), energi mengalir masuk, itu mulai berfungsi untuk dapat menerima, memecahnya dalam bentuk kode digital yang dipancarkan keluar seperti gambar atau suara sebagaimana kita kenal di zaman ini (radio dan tv).
    Demikian juga halnya dengan tangan yang saling mengelilingi, itulah mengapa ketika kita menggosok-gosokkan dan membuka mereka, mereka mulai bertindak seperti lingkaran satu terhadap lainnya, menampung apapun energi yang datang, dan mereka ini mengelolanya. Lihatlah pada bagian Rahasia Tangan.
    Langkah 4
    Posisi Tangan :
    Jempol dan telunjuk memperagakan posisi “Allah Hu” untuk kuasa/kekuatan terbesar. Tangan diberi kode dengan kode angka, tangan kanan “18″, tangan kiri “81″ masing-masing dijumlahkan keduanya menjadi 9 dan dua 9 menjadi 99. Tangan diberi karakter dengan Asma-ul’husna Allah. Dan nama ke-99 dari Rasul adalah Mustafa..
    Bernapas dengan Sadar (”Hosh dar dam”)
    Hosh artinya “pikiran” Dar artinya “dalam” Dam artinya “Napas” Itu artinya, menurut Mawlana Abdul Khaliq al-Ghujdawani QS, bahwa “Misi paling penting bagi salik dalam thariqat ini adalah menjaga napasnya, dan dia yang tidak dapat menjaga napasnya, akan dikatakan tentang orang itu, ‘dia telah tersesat/kehilangan dirinya.’”
    Syah Naqsyband QS berkata, “Thariqat ini dibangun di atas (dengan fondasi) napas. Jadi adalah sebuah keharusan untuk semua orang menjaga napasnya di kala menghirup dan membuang napas, dan selanjutnya untuk menjaga napasnya dalam jangka waktu antara menghirup dan membuang napasnya.”
    “Zikir mengalir dalam tubuh setiap makhluk hidup oleh keharusan (kebutuhan) napas mereka – bahkan tanpa kehendak – sebagai sebuah tanda/peragaan ketaatan, yang adalah bagian dari penciptaan mereka. Melalui napas mereka, bunyi huruf “Ha” dari Nama Ilahiah Allah dibuat setiap kali membuang dan menghirup napas dan itu adalah sebuah tanda dari Jati Diri (Dzat) Gaib yang berfungsi untuk menekankan Kekhasan Allahu Shamad. Maka adalah penting untuk hadir dengan napas seperti itu, agar supaya menyadari (merasakan) Jati Diri (Dzat) Maha Pencipta.”
    Nama ‘Allah’ yang meliputi sembilan puluh sembilan Asma-ul’husna terdiri atas empat huruf: Alif, Lam, Lam dan Ha yang sama –dengan suara napas – (ALLAH SWT). Kaum Sufisme mengatakan bahwa Dzat Allah SWT yang paling gaib mutlak dinyatakan oleh huruf terakhir itu yang dibunyikan dengan vokal Alif, “Ha”. Ini mewakili Gaib Absolut Dzat-Nya Allah SWT.
    Memelihara napasmu dari kelalaian akan membawa mu kepada Hadirat sempurna, dan Hadirat sempurna akan membawamu kepada Penampakan (Visi) sempurna, dan Penampakan sempurna akan membawamu kepada Hadirat (Manifestasi) Asma-ul’husna Allah SWT yang sempurna. Allah SWT membimbingmu kepada Hadirat Asma-ul’husna-Nya, karena dikatakan bahwa, “Asma Allah SWT adalah sebanyak napas makhluk”.
    Hendaknya diketahui oleh semua orang bahwa melindungi napas terhadap kelalaian sungguh sukar bagi para salik. Maka mereka harus menjaganya dengan memohon ampunan (istighfar) karena memohon ampunan akan membersihkannya dan mensucikannya dan mempersiapkan sang salik untuk (menjumpai) Hadirat Benar (Haqq) Allah SWT di mana-mana.
    Langkah 5
    Bernapas,
    Menghirup melalui hidung – Zikir = “Hu Allah”, bayangkan cahaya putih memasuki tubuh melalui perut.
    Menghembus – melalui hidung – Zikir= “Hu”, bayangkan hitamnya karbon monoksida, semua perbuatan dosamu dikuras / didorong keluar dari dirimu.
    “Salik yang bijak harus menjaga napasnya dari kelalaian, seiring dengan masuk dan keluarnya napas, dengan demikian menjaga hatinya selalu dalam Hadirat Ilahi; dan dia harus menghidupkan napasnya dengan ibadah dan pengabdian dan mempersembahkankan pengabdiannya itu kepada Rabbnya dengan segenap hidupnya, karena setiap napas yang dihisap dan dihembuskan dengan Hadirat adalah hidup dan tersambung dengan Hadirat Ilahi. Setiap napas yang dihirup dan dihembuskan dengan kelalaian adalah mati dan terputus dari Hadirat Ilahi.”
    Untuk mendaki gunung, sang salik harus melintas dari dunia Bawah menuju Hadirat Ilahi. Dia harus melintas dari dunia ego keberadaan sensual (sensasi) menuju kesadaran jiwa terhadap Al Haqq.
    Untuk membuat kemajuan dalam perjalanan ini, sang salik harus membawa gambaran Syekhnya (tasawwur) ke dalam hatinya karena itu adalah cara paling kuat untuk melepaskan diri dari cengkeraman sensualnya. Dalam hatinya Syekh menjadi cermin dari Dzat Absolut. Jika dia berhasil, kondisi penisbian diri (ghayba) atau “absensi” dari dunia sensasi muncul dalam dirinya. Sampai kepada tahap bahwa keadaan ini menguat dalam dirinya dan keterikatannya kepada dunia sensasi melemah dan menghilang, dan fajar dari Level Hilang Mutlak- Tidak Merasa- Selain Allah SWT mulai menyinari dirinya.
    Derajat tertinggi dari maqam ini disebut fana’. Demikianlah Syah Naqsyband QS berkata, “Jalan terpendek kepada sasaran kita, yaitu Allah SWT mengangkat tabir dari Dzat Wajah-Nya Yang Ahad yang berada dalam semua makhluk ciptaan-Nya. Dia melakukan itu dengan (melalui) maqam ghayba dan fana’, sampai Dzat Agung (Majestic Essence) menyelimutinya dan melenyapkan kesadarannya akan segala sesuatu selain Dia. Inilah akhir perjalanan untuk mencari Allah SWT dan awal dari perjalanan lainnya.”
    “Pada akhir Perjalanan Pencarian dan Level Ketertarikan datanglah Level Perendahan Diri dan Penihilan. Sasaran ini adalah untuk segenap ummat manusia sebagaimana disebut Allah SWT dalam al-Qur’an, ‘Aku tidak menciptakan Jinn dan Manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.’ Beribadah di sini berarti Ilmu Sempurna (Ma`rifat).”
    Langkah 6
    Mengenakan ‘busana’ Syekh:
    3 tahap perjuangan yang berkesinambungan:
    Memelihara Cintanya (Muhabbat),
    Memelihara Kehadirannya (Hudur),
    Melaksanakan Kehendaknya atas diri kita (Penihilan atau Fana).
    Kita memiliki cinta kepadanya, jadi kini kenakanlah Cahayanya dan selanjutnya bayangkan segala sesuatunya dari titik (sudut) ini, dengan busana yang kita kenakan itu. Ini adalah penopang hidup kita. Kamu tidak boleh makan, minum, salat, zikir atau melakukan apapun tanpa membayangkan bayangan Syekh pada kita. Cinta ini akan menyatu dengan Hadirat Ilahi, dan ini akan membuka pintu Penihilan ke dalam-Nya.
    Semakin seseorang menjaga ingatan untuk mengenakan busana dengan dia (Syekh) semakin meningkatlah proses penihilan itu berlangsung. Kemudian penuntun itu akan meninggalkan dirimu di hadirat Rasul Allah Sayyidina Muhammad SAW. Di mana sekali lagi kamu akan menjaga cinta kepada Rasul SAW (Muhabbat), menjaga Hadiratnya (Hudur). Laksanakan kehendaknya atas diri kita (Penihilan atau Fana).
    Fana fi Syekh, Rasulullah SAW, Allah SWT.
    Penihilan Fana
    Dalam keadaan spirit murid menyatu dengan spirit Syekhnya, kemampuan Syekh akan diaktifkan dalam diri muridnya, karena itu Syekh menikmati kedekatan Nabi SAW. Dalam situasi ini, dalam istilah sufisme disebut ‘Penyatuan dengan Rasul SAW’ (Fana fi Rasul). Ini adalah pernyataan Nabi SAW, “Aku seorang manusia seperti kamu, namun aku menerima wahyu’. Jika pernyataan ini dicermati, kita melihat bahwa kemuliaan Nabi terakhir ini adalah bahwa beliau menerima wahyu dari Allah SWT, yang mencerminkan Ilmu-ladduni, ilmu yang diilhamkan langsung oleh Allah SWT, Pandangan yang Indah dari Allah SWT dan Cahaya Cemerlang ke dalam hati Nabi SAW.
    Dalam keadaan ‘Penyatuan dengan Nabi SAW’ seorang murid karena emosinya, kerinduannya dan cintanya secara sedikit demi sedikit, langkah demi langkah, berasimilasi dan mengenali ilmu Nabi Suci SAW. Kemudian datanglah saat paling berharga, saat yang ditunggu-tunggu, ketika ilmu dan pelajaran ditransfer dari Nabi Suci SAW kepadanya sesuai dengan kapasitasnya.
    Murid itu menyerap karakter Nabi Suci SAW sesuai dengan kemampuan dan kapasitasnya dan karena kedekatannya dengan Nabi Suci SAW dan dukungannya dia dapat mencapai keadaan ketika dia mengenali Rabbil ‘Alamin, ketika Dia menguraikan dalam al-Qur’an, ‘Ya, sesungguhnya Engkau adalah Rabbi!’ Kedekatan ini, dalam sufisme disebut ‘Penyatuan dengan Allah SWT’ (Fana fi-llah) atau singkatnya wahdat. Setelah itu, jika seseorang dikaruniai dengan kemampuan, dia akan membuat eksplorasi di daerah yang tentangnya cerita (narasi) tidak lagi memiliki kata-kata untuk menjelaskannya, karena kepekaan dan kehalusan situasinya.
    Langkah 7
    Menjadi sesuatu yang tidak ada, kendaraan sebening kristal untuk siapa pun yang ingin mengisi keberadaanmu dari Allah SWT Malikul Mulk.
    Dalam keadaan ‘Penyatuan dengan Nabi Suci SAW’ seorang murid karena emosinya, kerinduannya dan cintanya secara bertahap, langkah demi langkah, berasimilasi dan mengnali ilmu dari Nabi Suci SAW.

    haha inilah riyual mereka…. saya ambil dari blognya nasabandi……

    diambil dari rutulanya hindu…. (ini baru slah satu cotoh saja) sadarlah mari kita kemabali kejalan yang lurus….. sesuai AL QURAN dan SUNNAH…

  36. trus tarekat nabi muhammad apa? pasti beliau tidak ikut tarekat karena tareakat itu ada setelah nabi wafat. itu artinya, bukan ajaran nabi(islam) itu adalah syareat baru, artinya pengikut tarekat menganggap islam sampai nabi wafat belum sempurna! dan perlu ditambahi biar sempurna gitu?…. sungguh aneh, tapi kok nyata ya… hihi…kalo berdebat disini gunakan bahasa yang santun!

  37. Saya setuju dengan Dzikrullah. sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah

    Dari kehidupan orang-orang yang menjalani tharekat

    1. Ibu-ibu sering meninggalkan suaminya untuk melaksanakan suluk
    2. Suami di cuekin karena sibuk berdzikir yang targetnya sampai puluhan ribu
    3. Cenderung mengkultuskan sang guru seolah tak terbantahkan, bahkan ada yang memajang fotonya
    4. Ada yang menyatakan tawajuh lebih utama di banding Tahajud
    5. Cenderung meninggalkan sholat sunat kobliyah dan ba’diyah karena mengejar sholat sunat sykrul wudlu dan hajat serta tawajuh
    6. Banyak menceritakan hal-hal gaib yang sifatnya mistik.
    7. Bahwa guru bertanggung jawab di akhirat, ini berbeda dengan QS Al Infithar 17-19
    8. Menganalogikan bahwa guru seperti chanel freqwnsi yang menyampaikan ke tujuan. Menganalogikan bahwa guru seperti kabel listrik yang menyempaikan energi ke tujuan. apakah tidak syrik menganalogikan seperti itu. berarti menyamakan Allah dengan sesuatu.
    9. Bahwa seseorang berhubungan dengan Allah harus melalui Guru. Padahal Allah menyatakan Allah sangat dekat.

    Entah karena pengikutnya atau memang ajarannya seperti demikian
    WAllahu a’lam

  38. HAHAHAHAHA,……..

  39. saya sih tdk mengeruhkan tapi coba berdiskusi agar dapat manfaatnya, biasalah diskudi kadang memanas, kadang menyengat, kadang santai, tapi semuanya muaranya adalah manfaat, sehingga yang benar adalah benar dan yang salah tetap salah,

    cuma ingin agama islam ini tidak dicampur dg agama lain itu saja tujuan saya, sayangkan ? islam yang sudah begitu sempurna masih “dicampur” dengan agama lain,

  40. janganlah ajaran agama dicampur-campur dengan ajran yang bukan ajaran islam, trus diklaim itu ajaran islam?
    masuklah kamu kedalam islam secara kaffah, pisahkan antara islam dengan tradisi, agama adalah agama tradisi adalah tradisi ,

  41. Dari kehidupan orang-orang yang menjalani tharekat
    1. Ibu-ibu sering meninggalkan suaminya untuk melaksanakan suluk
    2. Suami di cuekin karena sibuk berdzikir yang targetnya sampai puluhan ribu
    3. Cenderung mengkultuskan sang guru seolah tak terbantahkan, bahkan ada yang memajang fotonya
    4. Ada yang menyatakan tawajuh lebih utama di banding Tahajud
    5. Cenderung meninggalkan sholat sunat kobliyah dan ba’diyah karena mengejar sholat sunat sykrul wudlu dan hajat serta tawajuh
    6. Banyak menceritakan hal-hal gaib yang sifatnya mistik.
    7. Bahwa guru bertanggung jawab di akhirat, ini berbeda dengan QS Al Infithar 17-19
    8. Menganalogikan bahwa guru seperti chanel freqwnsi yang menyampaikan ke tujuan. Menganalogikan bahwa guru seperti kabel listrik yang menyempaikan energi ke tujuan. apakah tidak syrik menganalogikan seperti itu. berarti menyamakan Allah dengan sesuatu.
    9. Bahwa seseorang berhubungan dengan Allah harus melalui Guru. Padahal Allah menyatakan Allah sangat dekat.
    Entah karena pengikutnya atau memang ajarannya seperti demikian

    emang gitu, seakan akan kita bisa KKN ama ALLAH, melalui orang dekatnya (syekh-syekh mereka)

  42. Kita dapat menyaksikan pengikut aliran sufi itu berdzikir dengan
    lafadz Allah saja dan pada akhirnya berdzikir dengan lafadz Hu (Dia)
    saja.
    Padahal Rasulullah SAW bersabda :
    “Dzikir yang paling utama adalah Laa Ilaaha Illallah (HR. Tirmidzi
    dengan sanad hasan shahih). Jadi, tidak dengan Allah dan Hu saja.

    Di dalam berdzikir mereka mengangkat suaranya dengan keras dan
    bersamaan (koor/berjama’ah),
    Padahal berdo’a seperti itu terlarang berdasarkan firman Allah SWT :
    “Berdo’alah kepada Tuhan-mu dengan merendahkan diri dan suara yang
    lembut, sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui
    batas.” (Al-A’raaf : 55)
    Maksudnya Allah tidak menyukai orang yang berlebihan dalam berdo’a
    dengan terlalu cepat dan dengan suara yang keras. (lihat tafsir
    Jalalain Imam Suyuthi).

    Rasulullah SAW pernah mendengar para shahabat meninggikan suaranya
    dalam berdzikir, maka Beliau SAW bersabda kepada mereka :
    “Wahai manusia ! rendahkanlah suaramu, sesungguhnya kalian tidak
    menyeru kepada Dzat yang tuli dan tidak ada, tetapi kalian berdo’a
    kepada Dzat Yang Maha Mendengar dan Maha Dekat dan Allah senantiasa
    bersamamu.” (HR. Muslim)
    Allah bersamamu dengan Pendengaran dan Ilmu-Nya dan Allah Maha
    Mendengar dan Maha Melihat.

  43. Pedoman atau petunjuk Nabi Muhammad SAW bersumber dari ALQURAN yang diwahyukan oleh ALLAH perantara Malaikat Jibril As.
    ga ada namanya tarekat ataupun aliran karena Beliau sumbernya untuk manusia,rahmatan lil aalamin.makanya ada sunnah,sunnah itu adalah semua yang mencakup kehidupan Beliau,perkataan dan kehidupannya sehari hari.semoga Allah melimpahkan rahmat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya,Amin

  44. WOI….KOMENT2 KENAPA DI HAPUS2 YG MEMBANTAH THARIKAT TIDAK SESAT……NIH YG PUNYA BLOK BENER2 GA FERRR KENAPA PADA MENTOK YA …..

    • pengen tau loe,ntar blum wktu’a loe tau tentang itu…..
      loe rasain dlu kematian baru tau loe…
      ntar tunggu gak lama kok ,,,,,,,,,
      gw anak gembala kerbau dan kambing…………….

  45. ^ maksudnya diatas itu buat siapa anony …….

  46. setiap komentar yang protes atau membantah isi artikel2 dalam blog ini maka akan saya hapus. Semua komentar yang mengkritik ajaran islam, manhaj salaf, salafy, dan wahabi juga akan saya hapus

    =====================

    karena saya tidak punya waktu untuk membalasnya, sementara jika saya biarkan maka akan mengaburkan kebenaran. Bukankan emas 24 karat sebesar telur angsa pun tidak akan nampak jika tertutup oleh lumpur yang tebal??

Komentar ditutup.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 299 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: