• Blog Stats

    • 37,790,625 hits
  • pacaran adalah perbuatan haram, maka janganlah berpacaran. Dan jangan mau jika diajak pacaran. Akan tetapi tempuhlah jalan yang halal jika memang benar-benar cinta dan ingin menikah. Segeralah menikah dan jangan berpacaran. ================================== dan janganlah kamu mendekati zina. sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk. [QS Al Isra':32] ==================================== JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA ====================================== Asy-Sya’bi berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah)
  • arsip artikel

  • wasiat untuk seluruh umat manusia

    kasihilah semua makhluk yang ada di muka bumi, niscaya Tuhan yang ada di atas langit akan mengasihimu.. =============================================== Cara mengasihi orang kafir diantaranya adalah dengan mengajak mereka masuk islam agar mereka selamat dari api neraka =============================================== wahai manusia, islamlah agar kalian selamat.... ======================================================
  • wasiat untuk seluruh umat islam

    ====================================== “Janganlah kamu saling dengki, saling membenci, saling mengintip rahasia, saling bersaing, saling mencari keburukan, saling menawar lebih tinggi untuk menipu pembeli sehingga menawar tinggi, saling memutuskan hubungan, saling bermusuhan, janganlah sebagian kalian menjual atas jualan yang lain. Jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang diperintahkan Allah. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh menganiaya, tidak boleh menelantarkannya dan tidak boleh menghinanya. ============================================= Taqwa ada di sini, taqwa ada di sini, taqwa ada di sini kata Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam sambil menunjuk dadanya. ================================================= Cukuplah merupakan kejelekan seseorang apabila menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain adalah haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. Hati-hatilah bersangka buruk, karena sesungguhnya bersangka buruk adalah omongan yang paling dusta. ==================================================== Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk kamu dan hartamu, tetapi ia melihat hati dan perbuatanmu.” (riwayat Muslim dan Bukhari). ==========================================
  • BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR

    BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- -------------------------------------------------------------------------------------------- Orang yang mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi janda dan orang miskin ibarat berjihad di jalan Allah dan ibarat orang shalat malam (HR. Bukhari) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain. (HR. Ahmad) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersodaqoh dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana. (HR. Ath-Thabrani) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sodaqoh. (HR. Al-Baihaqi) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Tiap-tiap amalan makruf (kebajikan) adalah sodaqoh. Sesungguhnya di antara amalan makruf ialah berjumpa kawan dengan wajah ceria (senyum) dan mengurangi isi embermu untuk diisikan ke mangkuk kawanmu. (HR. Ahmad) ------------------------------------------------------------------------------------------------------------
  • berbuat baiklah pada semua binatang, termasuk kepada anjing

    Kita tidak diperbolehkan menyiksa binatang dengan cara apa pun, atau membuatnya kelaparan, memukulinya, membebaninya dengan sesuatu yang ia tidak mampu, menyiksa atau membakarnnya. --------------------------------------------------- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Seorang wanita masuk neraka karena seekor kucing yang ia kurung hingga mati. Maka dari itu ia masuk neraka gara-gara kucing tersebut disebabkan dia tidak memberinya makan dan tidak pula memberinya minum di saat mengurung nya, dan dia tidak membiarkannya (melepaskannya) supaya memakan serangga di bumi.” (HR. al-Bukhari) ------------------------------------------------------- Dan ketika beliau melewati sarang semut yang telah dibakar, beliau bersabda, “Sesungguhnya tidak ada yang berhak menyiksa dengan api selain Rabb (Tuhan) pemilik api.” (HR. Abu Dawud, hadits shahih) ---------------------------------------------- “Barangsiapa yang tidak berbelas kasih niscaya tidak akan dibelaskasihi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) ------------------------------------------------- “Kasihanilah siapa saja yang ada di bumi ini, niscaya kalian akan dikasihani oleh yang ada di langit.” (HR. at-Tirmidzi) -------------------------------------------------- Dibolehkan membunuh hewan-hewan yang membahayakan atau mengganggu seperti anjing buas, serigala, ular, kalajengking, tikus dan lain-lain karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Ada lima macam hewan fasik (buruk) yang boleh dibunuh di waktu halal (tidak ihram) dan di waktu ihram, yaitu ular, burung gagak yang putih punggung dan perutnya, tikus, anjing buas, dan rajawali.” (HR. Muslim). Juga terdapat hadits shahih yang membolehkan untuk membunuh kalajengking. ================================================
  • JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA

    ====================================== ‘Amr bin Syarahil Asy-Sya’bi rahimahullahu berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah, 2/636. Dihasankan oleh Al-Albani dalam At-Tahrim, hal. 148) ----------------------------------------------------------------------------- Ibnu Abdil Barr rahimahullahu berkata: “Termasuk hasil usaha yang disepakati keharamannya adalah riba, upah para pelacur, sogokan (suap), mengambil upah atas meratapi (mayit), nyanyian, perdukunan, mengaku mengetahui perkara gaib dan berita langit, hasil seruling dan segala permainan batil.” (Al-Kafi hal. 191) ---------------------------------------------------------------------- Ath-Thabari rahimahullahu berkata: “Telah sepakat para ulama di berbagai negeri tentang dibenci dan terlarangnya nyanyian.” (Tafsir Al-Qurthubi, 14/56) ------------------------------------------------------------------- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “Mazhab empat imam menyatakan bahwa alat-alat musik semuanya haram.” Lalu beliau menyebutkan hadits riwayat Al-Bukhari rahimahullahu . (Majmu’ Fatawa, 11/576) --------------------------------------------------------------- ------------------------------------------
  • wasiat bagi para pemuda

    ====================================== ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Barangsiapa di antara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya mereka adalah ummat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, dan paling lurus petunjuknya, serta paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya, karena mereka berada di jalan yang lurus.” [Dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Baar dalam kitabnya Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih II/947 no. 1810, tahqiq Abul Asybal Samir az-Zuhairy] ======================================
  • wasiat Imam al-Auza’i

    ====================================== Imam al-Auza’i rahimahullah (wafat th. 157 H) mengatakan: “Bersabarlah dirimu di atas Sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para Shahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan Salafush Shalih, karena akan mencukupi kamu apa saja yang mencukupi mereka.” [Syarh Ushul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah 1/174 no. 315] --------------------------------------------------------------- Beliau rahimahullah juga berkata: “Hendaklah kamu berpegang kepada atsar Salafush Shalih meskipun orang-orang menolaknya dan jauhkanlah diri kamu dari pendapat orang meskipun ia hiasi pendapatnya dengan perkataannya yang indah.” [Imam al-Aajury dalam as-Syari’ah I/445 no. 127, di-shahih-kan oleh al-Albany dalam Mukhtashar al-‘Uluw lil Imam adz-Dzahaby hal. 138, Siyar A’laam an-Nubalaa’ VII/120] =================================================
  • Mengutip perkataan Syaikh Bin Baz rahimahullaahu

    “Zaman ini adalah zaman kelembutan, kesabaran dan hikmah, bukanlah zaman kekerasan (kebengisan). Mayoritas manusia saat ini dalam keadaan jahil (bodoh), lalai dan lebih mementingkan duniawiyah. Maka haruslah sabar dan lemah lembut sampai dakwah ini tersampaikan dan sampai mereka mengetahuinya. Kami mohon petunjuk kepada Alloh untuk semuanya.” (Majmu’ Fatawa Samahatul Imam Ibnu Bazz (Juz VIII, hal 376) dan (Juz X, hal. 91) =================================================
  • jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara

    ====================================== Segala puji hanyalah milik Alloh yang telah mempertautkan hati kaum mukminin dan menganjurkan mereka supaya bersatu padu dan saling berhimpun serta memperingatkan dari perpecahan dan perselisihan. -------------------------------------------------------- Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq untuk disembah melainkan hanyalah Alloh semata yang tidak memiliki sekutu. Dialah yang mensyariatkan dan memudahkan, dan Dia terhadap kaum mukminin adalah sangat penyantun. ------------------------------------------------------ Saya juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang diperintahkan dengan kemudahan dan berita gembira. ----------------------------------------------------- Beliau bersabda : Permudahlah dan janganlah kamu persulit, berikanlah kabar gembira dan janganlah membuat orang lari (dari kebenaran). ------------------------------------------------------ Permisalan kaum mukminin satu dengan lainnya dalam hal kasih sayang, tolong menolong dan kecintaan, bagaikan tubuh yang satu, jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan merasa demam atau terjaga” --------------------------------------------------- Tidak ragu lagi, bahwa kewajiban Ahlus Sunnah di setiap zaman dan tempat adalah saling bersatu dan menyayangi di antara mereka serta saling bekerja sama di dalam kebajikan dan ketakwaan… ==================================================---------------
  • KHUTBATUL HAJAH

    ====================================== Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, dan meminta ampun kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami, dan dari keburukan-keburukan perbuatan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah saja, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. ================================================ “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” ================================================== “Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan darinya Allah menciptakan isterinya; dan dari keduanya Allah mengembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silatur rahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” ========================================================= “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mena’ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. ============================================================ Amma ba’du; Maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad , dan seburuk-buruk perkara dalam agama adalah yang di ada-adakan, setiap yang diada-adakan (dalam urusan agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan. (HR. Muslim, an-Nasa’i dan selain keduanya) ==================================================
  • Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka (al baqarah ayat 120)

  • SALAFY & WAHABI BUKANLAH ALIRAN SESAT

    Al-Malik Abdul Aziz berkata : “Aku adalah penyeru kepada aqidah Salafush Shalih, dan aqidah Salafush Shalih adalah berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang datang dari Khulafaur Rasyidin” [Al-Wajiz Fi Siratil Malik Abdul Aziz hal.216] ------------------------------------------------------------------------------------- Beliau juga berkata : “Mereka menamakan kami Wahabiyyin, dan menamakan madzhab kami adalah madzhab wahabi yang dianggap sebagai madzhab yang baru. Ini adalah kesalahan fatal, yang timbul dari propaganda-propaganda dusta yang disebarkan oleh musuh-musuh Islam. Kami bukanlah pemilik madzhab baru atau aqidah baru. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tidak pernah mendatangkan sesuatu yang baru, aqidah kami adalah aqidah Salafush Shalih yang datang di dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang ditempuh oleh Salafush Shalih. Kami menghormati imam empat, tidak ada perbedaan di sisi kami antara para imam : Malik, Syafi’i, Ahmad dan Abu Hanifah, semuanya terhormat dalam pandangan kami” [Al-Wajiz Fi Siratil Malik Abdul Aziz, hal. 217] ---------------------------------------------------------
  • mengutip perkataan Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad hafizhahullaahu:

    “Telah terjadi di zaman ini, sibuknya sebagian ahlus sunnah dengan sebagian lainnya dengan tajrih (saling mencela) dan tahdzir, dan implikasi dari hal ini menyebabkan terjadinya perpecahan, perselisihan dan saling mengisolir. Padahal sepantasnya bahkan seharusnya bagi mereka untuk saling mencintai dan berkasih sayang terhadap sesama mereka, dan menyatukan barisan mereka di dalam menghadapi ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu yang menyelisihi ahlus sunnah wal jama’ah. ---------------------------------------------------- “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- agar menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dari perkara-perkara yang tidak bermanfaat bagi mereka, sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “diantara kebaikan seorang muslim adalah meninggalkan hal-hal yang tidak berfaidah baginya.” Hadits hasan diriwayatkan oleh Turmudzi.” ------------------------------------------------------ “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- untuk bersikap pertengahan dan moderat, diantara sikap ghuluw (ekstrim) dan meremehkan, dan diantara sikap ifrath (berlebih-lebihan) dan tafrith (menggampangkan). Sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “Jauhilah oleh kalian sikap ghuluw di dalam agama, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa dikarenakan sikap ghuluw mereka di dalam agama.” Ini hadits shahih, dikeluarkan oleh an-Nasa’i dan selainnya.” ---------------------------------------------------- “Dan aku nasehatkan supaya mereka berhati-hati dari sikap zhalim, dikarenakan hadits Qudsi, “Wahai hamba-Ku, sesunguhnya Aku haramkan kezhaliman atas diri-Ku, maka aku jadikan pula haram atas diri kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi” diriwayatkan oleh Muslim, dan hadits Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “takutlah kalian dari kezhaliman, karena sesungguhnya kezhaliman itu adalah kegelapan di hari kiamat” diriwayatkan oleh Muslim. ------------------------------------------------------ Aku memohon kepada Allah Azza wa Jalla untuk menunjuki seluruh ummat kepada apa yang diridhai-Nya, agar mereka mendalami agama Islam (tafaqquh fid din) dan menetapi kebenaran, serta agar mereka menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dan menjauhkan dari apa-apa yang tidak bermanfaat. Sesungguhnya Ia berkuasa dan berkemampuan atasnya. Semoga Sholawat dan Salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya dan para sahabatnya. (selesai kutipan) ===========================================
  • mengutip perkataan Imam Albani rahimahullaahu

    “Wajib atas kita untuk berlemah lembut di dalam dakwah kita terhadap orang-orang yang menyelisihi kita, dan jadikan selalu firman Alloh Ta’ala berikut (sebagai pegangan) dan untuk selamanya : “Serulah mereka ke jalan Rabb-mu dengan hikmah dan nasehat yang baik, serta berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.” Dan mereka yang pertama lebih berhak untuk kita terapkan hikmah ini adalah mereka yang paling memusuhi kita di dalam dasar (mabda’) dan aqidah kita, hingga kita tidak menggabungkan antara beratnya dakwah yang haq yang Alloh memperteguh kita dengannya dengan beratnya cara (ushlub) kita berdakwah kepada Alloh Azza wa Jalla” ==================================================
  • Diriwayatkan bahwa Hasan Al-banna berkata: “Kami menginginkan terbentuknya sosok individu muslim, rumah tangga Islami, bangsa yang Islami, pemerintahan yang Islami, negara yang dipimpin oleh negara-negara Islam, menyatukan perpecahan kaum muslimin dan negara mereka yang terampas, kemudian membawa bendera jihad dan da’wah kepada Allah sehingga dunia mendapatkan ketentraman dengan ajaran-ajaran Islam.” ==================================================
  • warning

    dalam blog ini mungkin terdapat hadits dhoif, riwayat yang tidak valid, salah tulis, kutipan yg tidak sesuai syariat islam, dan berbagai kesalahan2 lain, dan belum sempat di sensor, jadi mohon maaf sebesar-besarnya

PENJELASAN TUNTAS MASALAH TAKDIR (masih banyak orang yang salah kaprah dalam memahami takdir)

Jika ada seseorang yang mati dengan cara bunuh diri pada jam sekian, tanggal sekian, di tempat A maka sesungguhnya semua hal itu telah ditetapkan dan ditulis oleh Allah sejak 50.000 tahun yang lalu. Kejadian itu pasti akan terjadi, tak akan bisa dicegah dan tak akan bisa berubah. Tak akan ada yang berubah dalam hal yang sudah ditakdirkan Allah dan dicatat Allah di lauhul mahfudz.

“…….sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh) Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah”. [surat Al-Hajj: 70]

“Allah menentukan berbagai ketentuan para makhluk, 50.000 tahun sebelum menciptakan langit dan bumi. Dan adalah ‘Arsy-Nya di atas air.” (hadits riwayat muslim)

Iman kepada takdir punya 4 tingkatan, dan iman yang sempurna harus mengimani ke-4 tingkat itu, jika hanya sampai tingkat 1 atau 3 maka imannya masih cacat.

1. Percaya bahwa sejak dahulu kala Allah telah MENGETAHUI segala hal yang akan terjadi di dunia ini

contohnya: Sejak dahulu kala Allah telah MENGETAHUI bahwa si X akan mati dengan cara bunuh diri pada jam sekian, tanggal sekian, di tempat A

2. Percaya bahwa sejak dahulu kala Allah telah MENULIS APA YANG DIKETAHUINYA ITU

contohnya: Sejak dahulu kala Allah telah MENULIS bahwa si X akan mati dengan cara bunuh diri pada jam sekian, tanggal sekian, di tempat A

3. Percaya bahwa sejak dahulu kala Allah telah MENGHENDAKI HAL YANG AKAN TERJADI TERSEBUT (jika Allah tidak menghendaki sesuatu hal, tentu hal itu tidak akan terjadi, karena segala sesuatu hanya bisa terjadi jika diizinkan Allah untuk terjadi)

contohnya: Sejak dahulu kala Allah telah MENGHENDAKI bahwa si X akan mati dengan cara bunuh diri pada jam sekian, tanggal sekian, di tempat A

4. Percaya bahwa Allah YANG MENCIPTAKAN HAL YANG AKAN TERJADI TERSEBUT (jika Allah tidak menciptakan sesuatu hal, tentu hal itu tidak akan terjadi, karena tidak ada pencipta selain Allah)

contohnya:  Allah YANG MENCIPTAKAN KEJADIAN bahwa si X akan mati dengan cara bunuh diri pada jam sekian, tanggal sekian, di tempat A

=================================================

TAKDIR MANAKAH YANG BISA DIUBAH DENGAN DOA?

Takdir yang bisa diubah dengan doa atau dengan amal baik adalah takdir kontemporer(sementara), misalnya catatan takdir yang ada di catatan malaikat. Sedangkan yang di lauhul mahfuz maka tidak akan berubah, bahkan perbuatan berdoa atau tidak berdoa, itupun sudah tercatat di lauhul mahfudz. Seseorang yang berdoa pada jam sekian, tanggal sekian, ditempat B, maka sebenarnya telah ditakdirkan oleh Allah sejak dahulu kala bahwa orang itu memang akan berdoa pada jam sekian, tanggal sekian, ditempat B.

Jadi, catatan takdir-takdir kontemporer(sementara) akan berubah-ubah sehingga isinya menjadi sama dengan “takdir” yang tertulis di lauhul mahfudz. Bahkan akan terjadinya perubahan pada catatan takdir-takdir kontemporer(sementara) itupun telah tercatat di lauhul mahfudz.

“Katakanlah, ‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami… .’” [At-Taubah: 51]

“…Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka saling membunuh. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” [Al-Baqarah: 253]

“…Kalau Allah menghendaki tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk … .” [Al-An’aam: 35]

“Dan kalau Allah menghendaki niscaya mereka tidak mempersekutukan(-Nya)… .” [Al-An’aam: 107]

“Dan jikalau Rabb-mu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya… .” [Yunus: 99] [3]

“Allah Yang menciptakan segala sesuatu… .” [Az-Zumar: 62]

Imam Al-Bukhari Rahimahullah meriwayatkan dalam kitab Khalq Af’aalil ‘Ibaad dari Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu, dia menuturkan, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah menciptakan semua (makhluk) yang berbuat dan juga sekaligus perbuatannya.”

Barang-siapa berbuat dosa lalu bertaubat, maka ia sesuai dengan sifat Nabi Adam Alaihissalam, dan barangsiapa yang meneruskan dosanya serta berdalihkan dengan takdir, maka ia sesuai dengan sifat iblis. Maka orang-orang yang berbahagia akan mengikuti bapak mereka (yaitu ADAM), dan orang-orang yang celaka akan mengikuti musuh mereka, iblis.

===============================================================

APA KEAJIBAN HAMBA BERKENAAN DENGAN MASALAH TAKDIR?

Oleh
Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd

Kewajiban seorang hamba dalam masalah ini ialah mengimani qadha’ Allah dan qadar-Nya, serta mengimani syari’at, perintah dan larangan-Nya. Ia berkewajiban untuk membenarkan khabar (berita) dan mentaati perintah. [1]

Jika ia berbuat kebajikan, hendaklah ia memuji Allah dan jika ia berbuat keburukan, hendaklah ia memohon ampun kepada-Nya. Ia pun mengetahui bahwa semua itu terjadi dengan qadha’ Allah dan qadar-Nya. Sesungguhnya, ketika Nabi Adam Alaihissalam melakukan dosa, maka dia bertaubat, lalu Rabb-nya memilihnya dan memberi petunjuk kepadanya. Sedangkan iblis, ia tetap meneruskan dosa dan menghujat, maka Allah melaknat dan mengusirnya. Barang-siapa yang bertaubat, maka ia sesuai dengan sifat Nabi Adam Alaihissalam, dan barangsiapa yang meneruskan dosanya serta berdalihkan dengan takdir, maka ia sesuai dengan sifat iblis. Maka orang-orang yang berbahagia akan mengikuti bapak mereka, dan orang-orang yang celaka akan mengikuti musuh mereka, iblis. [2]

“Dengan pemahaman terhadap qadar Allah dan pelaksanaan terhadap syari’at-Nya secara benar, maka manusia akan menjadi seorang hamba -yang hakiki-, sehingga dia akan bersama orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi, ash-shiddiqin, asy-syuhada’ dan ash-shalihin. Cukuplah dengan persahabatan ini suatu keberuntungan dan kebahagiaan.” [3]

Kesimpulannya, ia wajib mengimani keempat tingkatan takdir yang telah disinggung sebelumnya. Yaitu, tidak ada sesuatu pun yang terjadi melainkan Allah telah mengetahui, mencatat, meng-hendaki, dan menciptakannya. Ia mengimani juga bahwa Allah memerintahkan agar mentaati-Nya dan melarang bermaksiat kepada-Nya, lalu ia melakukan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan. Apabila Allah memberi taufik kepadanya untuk melakukan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan, maka hendaklah ia memuji Allah dan meneruskan hal itu. Tetapi apabila dirinya dibiarkan dan dipasrahkan (oleh Allah) kepada dirinya sendiri, lalu ia melakukan kemaksiatan dan meninggalkan ketaatan, maka hendaklah ia beristighfar dan bertaubat.

Kemudian, hamba juga berkewajiban untuk bekerja demi kemaslahatan duniawinya, dan menempuh cara-cara yang benar yang dapat menghantarkan ke sana, lalu ia berjalan di muka bumi dan segala penjurunya. Jika berbagai perkara datang sesuai dengan apa yang dikehendakinya, hendaklah ia memuji Allah, dan jika datang tidak sesuai dengan yang diinginkannya, maka ia terhibur dengan qadar Allah. Ia tahu bahwa itu semua terjadi dengan qadar Allah Azza wa Jalla, dan bahwa apa yang menimpanya tidak pernah luput darinya, serta apa yang luput darinya tidak akan pernah menimpanya.

“Jika hamba mengetahui secara global bahwa Allah dalam apa yang diciptakan dan diperintahkan-Nya memiliki hikmah yang besar, maka hal ini cukuplah baginya (menjadikannya tenang). Kemudian setiap kali bertambah ilmu dan keimanannya, maka semakin tampak pula baginya hikmah Allah dan rahmat-Nya yang mengagumkan akalnya, serta menjelaskan kepadanya kebenaran apa yang dikabarkan Allah dalam kitab-Nya.” [4]

Bukan menjadi suatu keharusan bagi setiap orang untuk mengetahui detil pembicaraan tentang iman kepada qadar, tetapi keima-nan secara global ini sudah mencukupi. Ahlus Sunnah wal Jama’ah -sebagaimana yang dinyatakan oleh mereka- tidak mewajibkan atas orang yang lemah apa yang diwajibkan atas orang yang mampu.

Alhamdulillaah, selesailah pembahasan kita mengenai dalil-dalil syari’at, fitrah, akal, dan secara inderawi, yang tidak ada kontradiksi di dalamnya dan tidak ada kesamaran.

[Disalin dari kitab Al-Iimaan bil Qadhaa wal Qadar, Edisi Indoensia Kupas Tuntas Masalah Takdir, Penulis Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd, Penerjemah Ahmad Syaikhu, Sag. Penerbit Pustaka Ibntu Katsir]
__________
Footenotes
[1]. Lihat, Jaami’ur Rasaa-il, Ibnu Taimiyyah, (II/341) dan lihat, Dar’ Ta’aarudhil ‘Aql wan Naql, (VIII/405).
[2]. Lihat, al-Fataawaa, (VIII/64) dan Thariiqul Hijratain, hal. 170.
[3] At-Tuhfah al-Mahdiyyah fii Syarh ar-Risaalah at-Tadmuriyyah, Syaikh Falih bin Mahdi, (II/140) dan lihat, Taqriib at-Tadmuriyyah, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, hal. 119.
[4]. Majmuu’ul Fatawaa, (VIII/97).

http://www.almanhaj.or.id

==

Iman kepada takdir (qadha dan qadar) yang benar

About these ads

8 Tanggapan

  1. KAPAN DIBOLEHKAN BERALIH DENGAN QADAR?

    Oleh
    Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd

    Diizinkan berdalih dengan qadar pada saat musibah menimpa manusia, seperti kefakiran, sakit, kematian kerabat, matinya tanaman, kerugian harta, pembunuhan yang tidak disengaja, dan sejenisnya, karena hal ini merupakan kesempurnaan ridha kepada Allah sebagai Rabb. Maka berdalih dengan takdir hanyalah terhadap musibah, bukan pada perbuatan aib.

    “Orang yang berbahagia, ia akan beristighfar dari perbuatan aib dan bersabar terhadap musibah, sebagaimana firman-Nya:

    ‘Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu… .’ [Al-Mu'-min: 55]

    Sedangkan orang yang celaka, ia akan bersedih ketika menghadapi musibah, dan berdalih dengan qadar atas perbuatan aib (yang dilakukannya).” [1]

    Contoh berikut ini akan menjelaskan hal itu: Seandainya seseorang membunuh orang lain tanpa disengaja, kemudian orang lain mencelanya dan ia berargumen dengan takdir, maka argumennya tersebut diterima, tetapi hal itu tidak menghalanginya untuk diberi sanksi.

    Tetapi, seandainya seseorang membunuh yang lainnya dengan sengaja, kemudian pembunuh dikecam dan dicela atas perbuatannya itu, lalu ia berdalih dengan qadar, maka alasannya itu tidak bisa diterima. Karena itu, Nabi Adam Alaihissalam dapat membantah Nabi Musa Alaihissalam, sebagaimana dalam sabda Nabi Shallallahu ‘laihi wa sallam mengenai perdebatan keduanya:

    “Nabi Adam dan Nabi Musa Alaihissalam berbantah-bantahan. Nabi Musa berkata kepadanya, ‘Engkau Adam yang kesalahanmu telah mengeluarkanmu dari Surga?’ Nabi Adam menjawab kepadanya, ‘Engkau Musa yang dipilih oleh Allah dengan risalah-Nya dan berbicara secara langsung dengan-Nya, kemudian engkau mencelaku atas suatu perkara yang telah ditakdirkan atasku sebelum aku diciptakan?’ Maka, Nabi Adam dapat mem-bantah Nabi Musa.” [2]

    Nabi Adam Alaihissalam tidak berdalih dengan qadar atas dosa yang dilakukannya, sebagaimana diduga oleh sebagian kalangan, dan Nabi Musa Alaihissalam pun tidak mencela Nabi Adam atas dosanya, karena dia mengetahui bahwa Nabi Adam telah memohon ampun kepada Rabb-nya dan bertaubat, lalu Rabb-nya memilihnya, menerima taubatnya, dan memberi petunjuk kepadanya. Dan orang yang ber-taubat dari dosa adalah seperti orang yang tidak memiliki dosa.

    Seandainya Nabi Musa Alaihissalam mencela Nabi Adam Alaihissalam atas perbuatan dosa yang dilakukannya, niscaya Nabi Adam menjawabnya, “Sesungguhnya aku pernah melakukan dosa lalu aku bertaubat, lantas Allah menerima taubatku.” Dan niscaya Nabi Adam pun berkata kepadanya, “Engkau, wahai Musa, juga pernah membunuh seorang manusia, melemparkan lembaran-lembaran wahyu, dan dosa lain selain itu.” Tetapi Nabi Musa hanyalah menghujat dengan musibah, lalu Nabi Adam membantahnya dengan takdir. [3]

    “Apa saja musibah yang telah ditakdirkan, maka wajib pasrah kepadanya, karena hal itu merupakan kesempurnaan ridha kepada Allah sebagai Rabb. Adapun perbuatan dosa, maka tidak boleh seorang pun melakukan perbuatan dosa. Seandainya pun ia melakukan suatu dosa, maka ia harus beristighfar dan bertaubat. Jadi, ia (harus) bertaubat dari perbuatan aib dan bersabar terhadap musibah.” [4]

    Di antara orang yang diperbolehkan berdalih dengan qadar ialah orang yang telah bertaubat dari dosa. Seandainya ada seseorang yang mencela perbuatan dosa yang dia telah taubat darinya, maka dia boleh berdalih dengan qadar.

    Seandainya ditanyakan kepada seseorang yang telah bertaubat, “Mengapa engkau pernah melakukan demikian dan demikian?” Kemudian dia menjawab, “Ini karena qadha’ Allah dan qadar-Nya, sedangkan aku sendiri telah bertaubat serta beristighfar.” Niscaya alasan darinya dapat diterima. [5]

    Kemudian, seseorang tidak boleh mencela orang yang telah bertaubat dari dosanya, sebab yang menjadi pertimbangan ialah kesempurnaan yang terakhir, bukan kekurangan pada permulaannya.

    [Disalin dari kitab Al-Iimaan bil Qadhaa wal Qadar, Edisi Indoensia Kupas Tuntas Masalah Takdir, Penulis Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd, Penerjemah Ahmad Syaikhu, Sag. Penerbit Pustaka Ibntu Katsir]
    __________
    Footnotes
    [1]. Majmuu’ul Fataawaa, (VIII/454). Lihat juga, Iqtidhaa’ ash-Shiraathal Mustaqiim (II/857-858).
    [2]. HR. Muslim, kitab al-Qadr, (VIII/50, no. 2652).
    [3]. Lihat, Majmuu’ul Fataawaa, (VIII/178), Minhaajus Sunnah, (III/78-81), al-Ihtijaaj bil Qadar, Ibnu Taimiyyah, hal. 18-22, al-Furqaan, Syaikhul Islam, hal. 103-105, al-Aadaabusy Syar’iyyah, Ibnu Muflih, (I/258-260), dan al-Bidaayah wan Nihaayah, Ibnu Katsir, (I/83-87).
    [4]. Syarh ath-Thahaawiyyah, hal. 147, dan lihat, al-Fataawaa al-Kubraa, Ibnu Taimiyyah, (V/163), at-Tadmuriyyah, hal. 231, serta lihat, al-Masaa-ilul latii Lakhkhashahaa Syaikhul Islaam Muhammad bin ‘Abdil Wahhab min Fataawaa Ibni Taimiyyah, hal. 34.
    [5]. Lihat, Syifaa-ul ‘Aliil, hal. 35, dan lihat, al-Qadhaa’ wal Qadar, As’ad Mu-hammad ash-Shaghirji, hal. 24, dan Taqriib at-Tadmuriyyah, Ibnu ‘Utsaimin, hal. 115.

    http://www.almanhaj.or.id/content/2533/slash/0

  2. (BOLEHKAH) BERALASAN DENGAN TAKDIR ATAS PERBUATAN MAKSIAT ATAU DARI MENINGGALKAN KEWAJIBAN

    Oleh
    Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd

    Keimanan kepada qadar tidaklah memperkenankan pelaku kemaksiatan untuk beralasan dengannya atas kewajiban yang ditinggalkannya atau kemaksiatan yang dikerjakannya.

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Tidak boleh seseorang berdalih dengan takdir atas dosa (yang dilakukannya) berdasarkan kesepakatan (ulama) kaum muslimin, seluruh pemeluk agama, dan semua orang yang berakal. Seandainya hal ini diterima (dibolehkan), niscaya hal ini dapat memberikan peluang kepada setiap orang untuk melakukan perbuatan yang merugikannya, seperti membunuh jiwa, merampas harta, dan seluruh jenis kerusakan di muka bumi, kemudian ia pun beralasan dengan takdir. Ketika orang yang beralasan dengan takdir dizhalimi dan orang yang menzhaliminya beralasan yang sama dengan takdir, maka hal ini tidak bisa diterima, bahkan kontradiksi. Pernyataan yang kontradiksi menunjukkan kerusakan pernyataan tersebut. Jadi, beralasan dengan qadar itu sudah dimaklumi kerusakannya di permulaan akal”.[1]

    Karena perkara ini menimbulkan banyak bencana, maka inilah pemaparan mengenai sebagian dalil-dalil syar’i, ‘aqli (akal), dan kenyataan, yang menjelaskan kebathilan dengan beralasan kepada qadar (takdir) atas perbuatan maksiat, atau dari meninggalkan ketaatan. [2]

    1. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    “Orang-orang yang mempersekutukan Allah, akan mengatakan, ‘Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apa pun.’ Demikian pulalah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para Rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanya berdusta”.[Al-An-'aam: 148]

    Kaum musyrikin tersebut berdalih dengan takdir atas perbuatan syirik mereka. Seandainya argumen mereka diterima dan benar, niscaya Allah tidak menimpakan adzab-Nya kepada mereka.

    2. Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    “(Mereka Kami utus) selaku Rasul-Rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah sesudah diutusnya Rasul-Rasul itu… “. [An-Nisaa' : 165]

    Seandainya berdalih dengan takdir atas kemaksiatan itu diperbolehkan, niscaya tidak ada sebab untuk mengutus para Rasul.

    3. Allah memerintahkan hamba dan melarangnya, serta tidak membebaninya kecuali apa yang disanggupinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu…”. [At-Taghaabun: 16]

    Juga firman-Nya yang lain:
    “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…”. [Al-Baqarah : 286]

    Seandainya hamba dipaksa untuk melakukan suatu perbuatan, maka dia berarti telah dibebani dengan sesuatu yang dirinya tidak mampu terbebas darinya. Ini adalah suatu kebathilan. Oleh karena itu, jika kemaksiatan terjadi padanya karena kebodohan, lupa atau paksaan, maka tidak ada dosa atasnya karena ia dimaafkan.

    4. Qadar adalah rahasia yang tersembunyi, tidak ada seorang makhluk pun yang mengetahuinya kecuali setelah takdir itu terjadi, dan kehendak hamba terhadap apa yang dilakukannya adalah mendahului perbuatannya. Jadi, kehendaknya untuk berbuat, tidaklah berdasarkan pada pengetahuan tentang takdir Allah. Oleh karena itu, pengakuannya bahwa Allah telah menakdirkan kepadanya demikian dan demikian adalah pengakuan yang bathil, karena ia telah mengaku mengetahui yang ghaib, sedangkan perkara ghaib itu hanyalah diketahui oleh Allah. Dengan demikian, argumennya batal, sebab tidak ada argumen bagi seseorang mengenai sesuatu yang tidak diketahuinya.

    5. Seandainya kita membebaskan orang yang berdalih dengan qadar atas perbuatan dosa, niscaya kita telah menafikan syari’at.

    6. Seandainya berdalih dengan qadar -semacam ini- bisa menjadi hujjah (argumen), niscaya telah diterima argumentasi dari iblis yang mengatakan, (sebagaimana yang difirmankan oleh Allah):

    “Iblis menjawab, ‘Karena Engkau telah menghukumku tersesat, aku benar-benar akan (menghalangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus”. [Al-A'raaf: 16]

    7. Seandainya dalih mereka diterima juga, niscaya Fir’aun, musuh Allah, sama dengan Nabi Musa Alaihissalam, Nabi yang diajak bicara oleh Allah secara langsung.

    8. Berdalih dengan qadar atas perbuatan dosa dan aib, berarti membenarkan pendapat kaum kafir, dan ini merupakan kelaziman bagi orang yang berdalih, tidak terpisah darinya.

    9. Seandainya itu suatu argumen (yang benar), niscaya ahli Neraka berargumen dengannya, ketika mereka melihat Neraka dan merasa bahwa mereka akan memasukinya. Demikian pula ketika mereka memasukinya, dan mereka mulai dicela serta dihukum. Apakah mereka akan berdalih dengan qadar atas kemaksiatan dan kekafiran mereka?

    Jawabannya: Tidak, bahkan mereka mengatakan, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla tentang mereka:

    “..Ya Rabb kami, beri tangguhlah kami (kembalikan kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan-Mu dan akan mengikuti para Rasul…”. [Ibrahim: 44]

    Mereka juga mengatakan:
    “…Ya Rabb kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami…”. [Al-Mu'minuun: 106]

    Mereka juga mengatakan:
    “…Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni Neraka yang menyala-nyala”. [Al-Mulk: 10]

    Dan mereka mengatakan:
    “…Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat”. [Al-Muddatstsir: 43]

    Juga perkataan-perkataan mereka lainnya yang mereka katakan.
    Seandainya berdalih dengan qadar atas kemaksiatan itu diperbolehkan, niscaya mereka berdalih dengannya, karena mereka sangat membutuhkan sesuatu yang dapat menyelamatkan mereka dari siksa Neraka Jahannam.

    10. Di antara (jawaban) lain yang dapat menolak pendapat ini adalah, bahwa kita melihat manusia menginginkan sesuatu yang pantas untuknya dalam berbagai urusan dunianya hingga ia dapat memperolehnya. Ia tidak berpaling darinya kepada sesuatu yang tidak pantas untuknya, kemudian berdalih atas berpalingnya ia darinya tersebut dengan takdir.

    Lalu mengapa ia berpaling dari apa yang bermanfaat baginya dalam urusan agamanya kepada perkara yang merugikannya kemudian berargumen dengan qadar?!

    Saya berikan contoh kepadamu yang menjelaskan hal itu : Seandainya manusia hendak bepergian ke suatu negeri, dan negeri tersebut mempunyai dua jalan: salah satunya aman sentosa dan yang lainnya terjadi tindakan anarkis, kekacauan, pembunuhan, dan perampasan, manakah di antara keduanya yang akan dilaluinya?

    Tidak diragukan lagi bahwa ia akan menempuh jalan yang pertama, lalu mengapa ia tidak menempuh jalan ke akhirat melalui jalan Surga, tanpa melalui jalan Neraka?

    11. Di antara jawaban yang dapat diberikan kepada orang yang berdalih dengan takdir ini -berdasarkan madzhabnya- ialah katakan kepadanya, “Janganlah engkau menikah! Sebab jika Allah menghendaki kepadamu seorang anak, maka anak itu akan datang kepadamu dan jika tidak menghendakinya, maka anak tersebut tidak datang (walaupun menikah)!”. “Janganlah makan dan minum! Sebab jika Allah menakdirkan kepadamu kenyang dan tidak kehausan, maka hal itu akan terwujud dan jika tidak, maka hal itu tidak akan terwujud”. “Jika binatang buas lagi berbahaya menyerangmu, jangan lari darinya! Sebab jika Allah menakdirkan untukmu keselamatan, maka kamu akan selamat dan jika tidak menakdirkan keselamatan untukmu, maka lari tidak bermanfaat bagimu”. “Jika kamu sakit, janganlah berobat! Sebab jika Allah menakdirkan kesembuhan untukmu, maka kamu pasti sembuh dan jika tidak, maka obat itu tidak bermanfaat bagimu”.

    Apakah ia menyetujui kita atas pernyataan ini ataukah tidak? Jika ia menyepakati kita, maka kita mengetahui kerusakan akalnya dan jika menyelisihi kita, maka kita mengetahui kerusakan ucapannya dan kebathilan argumennya.

    12. Orang yang berdalih dengan qadar atas kemaksiatan telah menyerupakan dirinya dengan orang-orang gila dan anak-anak, karena mereka bukan mukallaf (yang berlaku padanya hukum syar’i) dan juga tidak mendapatkan sanksi. Seandainya ia diperlakukan seperti mereka dalam urusan dunia, niscaya dia tidak akan ridha.

    13. Seandainya kita menerima argumen yang bathil ini, niscaya tidak diperlukan lagi istighfar, taubat, do’a, jihad, serta amar ma’ruf dan nahi mungkar.

    14. Seandainya qadar adalah sebagai argumen atas perbuatan aib dan dosa, niscaya berbagai kemaslahatan manusia terhenti, anarkisme terjadi di mana-mana, tidak diperlukan lagi hudud (batasan-batasan hukum atau hukuman) dan ta’zir (peringatan sebagai hukuman) serta balasan, karena orang yang berbuat keburukan akan beralasan dengan qadar. Kita tidak perlu memberi hukuman kepada orang-orang yang zhalim juga para perampok dan penyamun, tidak perlu pula membuka badan-badan peradilan dan mengangkat para qadhi (hakim), dengan alasan bahwa segala yang terjadi adalah karena takdir Allah. Dan perkataan ini tidak pernah dinyatakan oleh orang yang berakal.

    15. Orang yang berdalih dengan qadar ini yang mengatakan, “Kami tidak akan dihukum, karena Allah telah menentukan hal itu atas kami. Sebab, bagaimana kami akan dihukum terhadap apa yang telah ditentukan atas kami?” Kita berikan jawaban untuknya: Kita tidak dihukum berdasarkan catatan terdahulu, tetapi kita hanyalah dihukum karena apa yang telah kita perbuat dan kita usahakan. Kita tidak diperintahkan kepada apa yang Allah telah takdirkan atas kita, tetapi kita hanyalah diperintahkan untuk melaksanakan apa yang Dia perintahkan kepada kita. Ada perbedaan antara apa yang dikehendaki terhadap kita dan apa yang dikehendaki dari kita. Apa yang Allah kehendaki terhadap kita, maka Dia merahasiakannya dari kita, adapun apa yang Allah kehendaki dari kita, maka Dia memerintahkan kita supaya melaksanakannya.

    Di antara yang layak untuk dikatakan bagi mereka adalah : Bahwa argumen kebanyakan dari mereka bukanlah muncul dari qana’ah dan keimanan, tetapi hanyalah muncul dari hawa nafsu dan penentangan. Karena itu, sebagian ulama mengatakan mengenai orang yang demikian keadaannya, “Ketika taat, engkau (orang yang berpendapat demikian tadi) menjadi qadari (pengikut paham Qadariyyah) dan ketika bermaksiat, maka engkau menjadi jabari (pengikut paham Jabariyyah). Mazhab apa pun yang selaras dengan hawa nafsumu, maka engkau bermazhab dengannya”.[3]

    Maksudnya, ketika ia melakukan ketaatan, maka ia menisbatkan hal itu kepada dirinya, dan mengingkari bahwa Allah menakdirkan hal itu kepadanya. Sebaliknya, jika ia melakukan kemaksiatan, maka ia berdalih dengan takdir.

    Ringkasnya:
    Berargumen dengan qadar atas perbuatan maksiat atau meninggalkan ketaatan adalah argumen yang bathil menurut syari’at, akal, dan kenyataan.

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata tentang orang-orang yang berdalih dengan qadar, “Kaum tersebut, jika tetap meneruskan keyakinan ini, maka mereka itu lebih kafir dari orang Yahudi dan Nashrani”. [4]

    [Disalin dari kitab Al-Iimaan bil Qadhaa wal Qadar, Edisi Indoensia Kupas Tuntas Masalah Takdir, Penulis Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd, Penerjemah Ahmad Syaikhu, Sag. Penerbit Pustaka Ibntu Katsir]
    __________
    Footenotes
    [1]. Majmuu’ul Fataawaa, (VIII/179). Lihat juga, ‘Iqtidhaa’ ash-Shiraathal Mustaqiim, (II/858-859).
    [2]. Lihat, Minhaajus Sunnah an-Nabawiyyah, (III/65-78). Dan lihat, Majmuu’ul Fataawaa, (VIII/262-268), Rasaa-il fil ‘Aqiidah, hal. 38-39, dan Lum’atul I’tiqaad bi Syarh Muhammad bin ‘Utsaimin, hal. 93-95.
    [3]. Majmuu’ul Fataawaa, (VIII/107).
    [4]. Majmuu’ul Fataawaa, (VIII/262).

    http://www.almanhaj.or.id/content/2488/slash/0

  3. APAKAH MELAKUKAN SEBAB-SEBAB DAPAT MENAFIKKAN KEIMANAN KEPADA QADHA’ DAN QADAR?

    Oleh
    Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd

    Melakukan sebab-sebab itu tidak menafikan iman kepada qadar, bahkan melakukannya merupakan kesempurnaan iman kepada qadha’ dan qadar.

    “Karena itu, hamba berkewajiban -disamping beriman kepada qadar- untuk bersungguh-sungguh dalam pekerjaan, menempuh faktor-faktor kesuksesan, dan bersandar kepada Allah Subhanahuwa Ta’ala agar memudahkan baginya sebab-sebab kebahagiaan, serta menolongnya atas hal itu.” [1]

    Nash-nash al-Qur-an dan as-Sunnah berisikan perintah untuk melakukan upaya-upaya yang disyari’atkan dalam berbagai urusan kehidupan: memerintahkan bekerja, berusaha mencari rizki, me-nyiapkan peralatan untuk menghadapi musuh, berbekal untuk perjalanan, dan lain sebagainya.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi…” [Al-Jumu’ah: 10]

    Juga firman Allah yang lain:

    “…Maka berjalanlah di segala penjurunya…” [Al-Mulk: 15]

    Juga firman-Nya:

    “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah, dan musuhmu…” [Al-Anfaal: 60]

    Dia memerintahkan orang-orang yang pergi haji untuk berbekal, dengan firman-Nya:

    “…Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa … .” [Al-Baqarah: 197]

    Dia juga memerintahkan untuk berdo’a dan meminta pertolongan, dengan firman-Nya:

    “Dan Rabb-mu berfirman, ‘Berdo’alah kepada-Ku,niscaya akan Ku-perkenankan bagimu… .” [Al-Mu'-min: 60]

    Juga Firman-Nya yang lain:

    “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu… .” [Al-Baqarah: 45]

    Dia memerintahkan pula untuk melakukan upaya-upaya yang disyari’atkan yang menghantarkan kepada keridhaan dan juga Surga-Nya, seperti shalat, zakat, puasa dan haji, (dan sebagainya).

    Bagitu pula kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya, bahkan kehidupan kaum muslimin secara keseluruhan dan orang-orang yang menempuh jalan mereka, semuanya menjadi saksi bahwa mereka melakukan berbagai usaha (mengambil sebab-akibat), giat, dan bersungguh-sungguh. [2]

    Syaikh Ibnu Sa’di mengatakan, “Banyak manusia menyangka bahwa menetapkan sebab-akibat akan menafikan iman kepada qadha’ dan qadar. Ini adalah kesalahan yang fatal sekali. (Pendapat) ini sama halnya dengan membatalkan takdir dan juga membatalkan hikmah.

    Seakan-akan orang yang berkeyakinan seperti ini mengatakan dan meyakini, ‘Bahwa iman kepada qadar ialah meyakini kebera-daan sesuatu dengan tanpa adanya sebab-sebabnya yang bersifat syar’i maupun qadari (sunnatullah). Pernyataan ini sama halnya dengan menafikan keberadaan sesuatu itu sendiri. Sebab -sebagaimana telah kami singgung- bahwa Allah telah mengaitkan dan mensis-temkan alam semesta ini satu dengan yang lainnya, dan mengadakan sebagiannya dengan sebab perantara yang lainnya. Apakah Anda mengatakan, wahai orang yang berkeyakinan dengan kebodohan, ‘Bahwa yang benar adalah pengadaan bangunan dengan tanpa pi-lar? Pengadaan biji-bijian, buah-buahan, dan berbagai tanaman dengan tanpa ditanam dan diairi? Dihasilkannya anak-anak dan keturunan dengan tanpa pernikahan? Masuknya seseorang ke Surga dengan tanpa iman dan amal shalih? Serta masuknya seseorang ke Neraka dengan tanpa kekafiran dan kemaksiatan?’

    Dengan sangkaan seperti ini otomatis takdir dibatalkan dan hikmah pun dibatalkan pula bersamanya. Tidak tahukah Anda, bahwa Allah dengan hikmah dan kesempurnaan kekuasaan-Nya, telah menjadikan sebab-akibat? Dan telah menjadikan berbagai jalan dan sarana untuk mencapai tujuan? Dia telah menetapkan hal ini dalam fitrah dan akal, sebagaimana menetapkannya dalam syari’at dan menjalankannya dalam kenyataan. Dia telah membe-rikan segala sesuatu yang diciptakan-Nya, apa yang pantas untuk-nya, kemudian menunjukkan seluruh makhluk kepada apa yang telah diciptakan untuknya, berupa berbagai usaha, gerak, dan pe-rangai yang bermacam-macam. Dia membangun perkara-perkara dunia dan akhirat di atas sistem yang indah dan mengagumkan itu yang bersaksi -pertama-tama- kepada Allah, terhadap kekuasaan dan hikmah yang sempurna, serta -yang kedua- menjadikan para hamba sebagai saksi bahwa dengan pengaturan, kemudahan, dan pengarahan ini, Allah mengarahkan orang-orang yang bekerja ke-pada pekerjaan mereka, dan menggiatkan mereka pada berbagai kesibukan mereka.

    Seorang pencari akhirat, jika ia mengetahui bahwa akhirat tidak akan diperoleh kecuali dengan beriman dan beramal shalih serta meninggalkan kebalikannya, maka dia akan bersemangat dan ber-sungguh-sungguh dalam merealisasikan keimanan dan bersungguh-sungguh dalam setiap amal shalih yang menghantarkannya kepada akhirat, serta meninggalkan kebalikan dari hal itu berupa kekafiran dan kemaksiatan, dan bersegera untuk bertaubat nashuh (sungguh-sungguh) dari segala kesalahan yang dilakukannya.

    Seorang petani, jika ia mengetahui bahwa tanaman tidak akan diperoleh kecuali dengan menanam, mengairi, dan merawatnya dengan baik, maka ia akan giat dan bersungguh-sungguh dalam segala cara yang dapat mengembangkan dan menyempurnakan tanamannya serta mengusir hama darinya.

    Seorang pemilik industri, jika ia mengetahui bahwa barang-barang industri dengan berbagai jenis dan manfaatnya tidak akan terwujud kecuali dengan belajar industri, mendalaminya, dan ke-mudian mengusahakannya, maka dia pun akan bersungguh-sungguh dalam hal itu.

    Dan barangsiapa yang ingin mendapatkan anak, atau mengem-bangkan ternaknya, maka hendaklah berusaha dan bekerja untuk itu. Begitulah seterusnya dalam segala urusan.” [3]

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Jika hamba meninggalkan apa yang diperintahkan kepadanya dengan bersandarkan pada kitab (catatan takdirnya), bahwa hal itu sudah merupakan suratan takdir yang menghantarkannya sebagai orang yang celaka, maka ucapannya itu tidak ubahnya seperti orang yang mengatakan, ‘Aku tidak akan makan dan minum, sebab jika Allah menentukan rasa kenyang dan hilang dahaga, maka hal itu pasti diperoleh, dan jika Dia tidak menghendakinya, maka tidak akan diperoleh.’ Atau seperti orang yang mengatakan, ‘Aku tidak akan bersenggama dengan istriku, karena jika Allah menentukan kepadaku seorang anak, maka hal itu akan terwujud.’

    Demikian pula orang yang melakukan kesalahan dengan tidak berdo’a, atau tidak meminta pertolongan dan tawakkal, karena menyangka bahwa semua itu tidak sesuai dengan qadar. Mereka semua adalah bodoh dan sesat. Bukti mengenai hal ini ialah apa yang diriwayatkan Imam Muslim rahimahullah dalam Shahiih-nya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:

    “Bersungguh-sungguhlah terhadap apa-apa yang bermanfaat bagimu serta mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah bersikap lemah. Jika sesuatu menimpamu, janganlah mengatakan, ‘Seandainya aku melakukan hal itu, niscaya akan demikian dan demikian.’ Tetapi katakanlah, ‘Ini adalah ketentuan Allah, dan apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi.’ Sebab, kata-kata “áóÜæú” (seandainya) akan membuka perbuatan syaitan.” [4]

    Beliau memerintahkannya agar berusaha memperoleh apa yang bermanfaat baginya dan memohon pertolongan kepada Allah, serta melarangnya dari kelemahan, yaitu bersandar pada takdir. Kemudian beliau memerintahkan kepadanya, jika sesuatu menimpanya, agar tidak berputus asa terhadap apa yang luput darinya, tetapi memandang kepada takdir dan menyerahkan urusannya kepada Allah, sebab, pada posisi seperti ini dia tidak memiliki kemampuan lainnya selain itu. Sebagaimana perkataan sebagian cendekiawan, ‘Perkara itu ada dua: perkara yang bisa disiasati dan perkara yang tidak bisa disiasati. Dalam perkara yang bisa disiasati tidak boleh lemah ter-hadapnya, dan dalam perkara yang tidak bisa disiasati tidak boleh bersedih karenanya.’” [5]

    Di antara yang harus dikatakan kepada orang-orang yang me-ninggalkan amal karena berdalih dengan takdir adalah: Sesungguh-nya yang mengatakan:

    “Allah telah menentukan ketentuan-ketentuan seluruh makhluk 50.000 tahun sebelum menciptakan langit dan bumi” [6]

    Dan yang mengatakan:

    “Tidak ada seorang pun dari kalian, tidak ada satu jiwa pun yang bernafas, melainkan Allah telah menentukan tempatnya di Surga atau di Neraka.” [7]

    Adalah yang juga mengatakan:

    “Beramallah! Sebab semuanya dimudahkan kepada apa yang ditakdirkan untuknya… .”

    (Allah berfirman):

    “…Apakah kamu beriman kepada sebagian dari al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? … .” [Al-Baqarah: 85]” [8]

    [Disalin dari kitab Al-Iimaan bil Qadhaa wal Qadar, Edisi Indoensia Kupas Tuntas Masalah Takdir, Penulis Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd, Penerjemah Ahmad Syaikhu, Sag. Penerbit Pustaka Ibntu Katsir]
    __________
    Footenotes
    [1]. Syarh Kitaab at-Tauhiid min Shahiih al-Bukhari, Syaikh ‘Abdullah al-Ghunaiman, (II/629).
    [2]. Lihat al-Qadhaa’ wal Qadar, karya al-Asyqar, hal. 83-84
    [3]. Ar-Riyaadh an-Naadhirah, (no. 125-126). Lihat pula, Syifaa-ul ‘Aliil, hal. 50-53, Syaikh ‘Abdurrahman ibn Sa’di wa Juhuuduhu fii Tawdhiihil ‘Aqiidah, Dr. ‘Abdurrazzaq al-‘Abbad, hal. 86-89, Taisiir al-Lathiif al-Mannaan fii Khu-laashah Tafsiiril Qur-aan, Ibnu Sa’di, hal. 12, al-Qadhaa’ wal Qadar, Abul Wafa’ Muhammad Darwisy, hal. 53-61, dan al-Ajwibah al-Mufiidah li Muhimmaatil ‘Aqiidah, Syaikh ‘Abdurrahman ad-Dausiri, hal. 118-124.
    [4]. HR. Muslim, (no. 2664).
    [5]. Majmuu’ul Fataawaa, (VIII/284-285). Lihat juga, as-Sunanul Ilaahiyyah, ‘Abdul-karim Zaidan, hal. 21-33.
    [6]. HR. Muslim, (VIII/51).
    [7]. HR. Muslim, (VIII/47).
    [8]. HR. Muslim, (VIII/47, no. 2647).

    http://www.almanhaj.or.id/content/2487/slash/0

  4. APAKAH IMAN KEPADA QADAR MENAFIKAN KEHENDAK HAMBA DALAM BERBAGAI PEBUATAN YANG DAPAT DIPILIHNYA?

    Oleh
    Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd

    Iman kepada qadar -sebagaimana yang telah disinggung- tidak menafikan keadaan hamba dalam memiliki kehendak pada perbuatan-perbuatan yang dipilihnya dan mempunyai kuasa terhadapnya. Hal itu ditunjukkan oleh syari’at dan fakta.

    Dalam syar’at, dalil-dalil mengenai hal itu sangat banyak sekali, di antaranya firman Allah Ta’ala.

    “.. Maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Rabb-nya.” [An-Naba': 39]

    Juga firman-Nya yang lain.

    “.. Maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki..” [Al-Baqarah: 223]

    Juga firman-Nya.

    “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…”[Al-Baqarah: 286]

    Dan firman-Nya.

    “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabb-mu…” [Ali 'Imran: 133]

    Serta firman-Nya.

    “..Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir…”. [Al-Kahfi: 29]

    Sedangkan berdasarkan fakta, maka setiap manusia mengetahui bahwa dia mempunyai kehendak dan kemampuan untuk melakukan atau meninggalkan suatu perbuatan, serta mampu membedakan antara apa yang terjadi dengan kehendaknya, seperti berjalan, dan apa yang terjadi dengan selain kehendaknya, seperti gemetar.[1]

    Tetapi kehendak dan kemampuannya terjadi karena kehendak dan kekuasaan Allah, berdasarkan firman-Nya.

    “(Yaitu) bagi siapa di antaramu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam”. [At-Takwiir: 28-29]

    Penjelasannya, adalah sebagaimana yang dinyatakan oleh al-‘Allamah Ibnu Sa’di rahimahullah.

    “Jika seorang hamba shalat, berpuasa, beramal kebaikan, atau melakukan sesuatu dari kemaksiatan, maka dialah yang melakukan amal yang shalih dan amal yang buruk tersebut.

    Perbuatannya tersebut, tanpa diragukan lagi, terjadi dengan kesadarannya, dan ia merasa bahwa ia tidak dipaksa untuk melakukan atau meninggalkan. Sekiranya ia suka, niscaya ia tidak melakukannya.

    Sebagaimana hal tersebut adalah kenyataan, maka hal itu pula yang dinashkan Allah dalam kitab-Nya dan dinashkan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dimana nash tersebut menisbatkan amal yang shalih dan amal yang buruk kepada para hamba serta mengabarkan bahwa merekalah yang melakukannya. Mereka dipuji atas perbuatannya, jika terkait dengan amal shalih, serta diberi pahala, dan mereka dicela, jika yang dilakukan adalah keburukan, serta diberi sanksi atas perbuatan buruk tersebut.

    Dengan ini jelaslah bahwa perbuatan itu terjadi dari mereka dan dengan kesadaran mereka. Jika suka, mereka bisa melakukannya, dan jika suka, mereka bisa meninggalkannya. Perkara ini nyata secara akal, inderawi, syari’at, dan bisa disaksikan.

    Kendati demikian, jika anda ingin tahu bahwa perbuatan ini -meskipun memang demikian keadaannya- terjadi dari mereka, bagaimana hal itu termasuk dalam kategori takdir? Dan bagaimana hal itu masuk dalam cakupan masyii-ah? Dan ditanyakan pula: Dengan apakah perbuatan-perbuatan yang baik dan yang buruk yang berasal dari hamba itu terjadi? Jawabannya: Dengan kemampuan dan kehendak mereka.

    (Allah) Yang menciptakan sesuatu (sarana) yang dengannya perbuatan itu terlaksana, Dia-lah juga Yang menciptakan berbagai perbuatan. Inilah yang bisa menjelaskan permasalahan (problem), dan hamba pun bisa memahami dengan hatinya tentang kesatuan (antara) qadar, qadha’, dan ikhtiar (usaha).

    Kendati demikian, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menolong kaum mukminin dengan berbagai sebab, kelembutan, bantuan yang bermacam-macam, dan memalingkan berbagai rintangan dari mereka. Sebagai-mana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    “.. Adapun orang-orang yang termasuk orang-orang yang berbahagia, maka mereka dimudahkan untuk beramal dengan amalan orang-orang yang berbahagia..” [2]

    Demikian pula, Dia meninggalkan kaum yang fasik dan menyerahkan mereka kepada diri mereka sendiri, karena mereka tidak beriman dan bertawakkal kepada-Nya, maka Allah serahkan mereka pada apa yang mereka pilih bagi diri mereka sendiri”. [3]

    [Disalin dari kitab Al-Iimaan bil Qadhaa wal Qadar, Edisi Indoensia Kupas Tuntas Masalah Takdir, Penulis Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd, Penerjemah Ahmad Syaikhu, Sag. Penerbit Pustaka Ibntu Katsir]
    __________
    Footenotes
    [1]. Lihat, Minhaajus Sunnah, Ibnu Taimiyyah, (III/109-112), at-Tibyaan fii Aqsaamil Qur-aan, Ibnul Qayyim, hal. 45, 166-169. Lihat pula, Rasaa-il fil ‘Aqiidah, Ibnu ‘Utsaimin, hal. 37-38, dan al-Qadhaa’ wal Qadar, Ibnu ‘Utsaimin, hal. 15-17.
    [2]. HR. Muslim, kitab al-Qadr, (no. 2647).
    [3]. At-Tanbiihaat al-Lathiifah, hal. 82-83. Lihat juga, Lum’atul I’tiqaad, Ibnu Qudamah, hal. 22, Syarh al-Waasithiyyah, al-Harras, hal. 228, dan Shiyaanatul Insaan ‘an Waswasah asy-Syaithaan, Syaikh Dahlan, Syaikh Muhammad Basyir as-Sahsawani al-Hindi, hal. 239-243.

    http://www.almanhaj.or.id/content/2485/slash/0

  5. MACAM-MACAM TAKDIR[1]

    Oleh
    Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd

    Macam-macam takdir itu antara lain:

    1. At-Taqdiirul ‘Aam (Takdir yang bersifat umum).
    2. At-Taqdiirul Basyari (Takdir yang berlaku untuk manusia).
    3. At-Taqdiirul ‘Umri (Takdir yang berlaku bagi usia).
    4. At-Taqdiirus Sanawi (Takdir yang berlaku tahunan).
    5. At-Taqdiirul Yaumi (Takdir yang berlaku harian).

    1. At-Taqdiirul ‘Aam (Takdir yang bersifat umum).
    Ialah takdir Rabb untuk seluruh alam, dalam arti Dia mengetahuinya (dengan ilmu-Nya), mencatatnya, menghendaki, dan juga menciptakannya.

    Jenis ini ditunjukkan oleh berbagai dalil, di antaranya firman Allah Ta’ala:

    “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh) Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah”. [Al-Hajj: 70]

    Dalam Shahiih Muslim dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Allah menentukan berbagai ketentuan para makhluk, 50.000 tahun sebelum menciptakan langit dan bumi. “Beliau bersabda, “Dan adalah ‘Arsy-Nya di atas air.”[2]

    2. At-Taqdiirul Basyari [3] (Takdir yang berlaku untuk manusia).
    Ialah takdir yang di dalamnya Allah mengambil janji atas semua manusia bahwa Dia adalah Rabb mereka, dan menjadikan mereka sebagai saksi atas diri mereka akan hal itu, serta Allah menentukan di dalamnya orang-orang yang berbahagia dan orang-orang yang celaka. Dia berfirman:

    “Dan (ingatlah), ketika Rabb-mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), Bukankah Aku ini Rabb-mu. Mereka menjawab, Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Rabb).” [Al-A'raaf:172]

    Dari Hisyam bin Hakim, bahwa seseorang datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengatakan, “Apakah amal-amal itu dimulai ataukah ditentukan oleh qadha’?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

    “Allah mengambil keturunan Nabi Adam Alaihissalam dari tulang sulbi mereka, kemudian menjadikan mereka sebagai saksi atas diri mereka, kemudian mengumpulkan mereka dalam kedua telapak tangan-Nya seraya berfirman, ‘Mereka di Surga dan mereka di Neraka.’ Maka ahli Surga dimudahkan untuk beramal dengan amalan ahli Surga dan ahli Neraka dimudahkan untuk beramal dengan amalan ahli Neraka.” [4]

    3. At-Taqdiirul ‘Umri (Takdir yang berlaku bagi usia).
    Ialah segala takdir (ketentuan) yang terjadi pada hamba dalam kehidupannya hingga akhir ajalnya, dan juga ketetapan tentang kesengsaraan atau kebahagiaannya.

    Hal tersebut ditunjukkan oleh hadits ash-Shadiqul Mashduq (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam) dalam Shahiihain dari Ibnu Mas’ud secara marfu':

    “Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama mpat puluh hari, kemudian menjadi segumpal darah seperti itu pula (empat puluh hari), kemudian menjadi segumpal daging seperti itu pula, kemudian Dia mengutus seorang Malaikat untuk meniupkan ruh padanya, dan diperintahkan (untuk menulis) dengan empat kalimat: untuk menulis rizkinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagia(nya).”[5]

    4. At-Taqdiirus Sanawi (Takdir yang berlaku tahunan).
    Yaitu dalam malam Qadar (Lailatul Qadar) pada setiap tahun. Hal itu ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala:

    “Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” [Ad-Dukhaan: 4]

    Dan dalam firman-Nya:

    “Pada malam itu turun para Malaikat dan juga Malaikat Jibril dengan izin Rabb-nya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” [Al-Qadr: 4-5]

    Disebutkan, bahwa pada malam tersebut ditulis apa yang akan terjadi dalam setahun (ke depan,-ed.) mengenai kematian, kehidupan, kemuliaan dan kehinaan, juga rizki dan hujan, hingga (mengenai siapakah) orang-orang yang (akan) berhaji. Dikatakan (pada takdir itu), fulan akan berhaji dan fulan akan berhaji.

    Penjelasan ini diriwayatkan dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, demikian juga al-Hasan serta Sa’id bin Jubair. [6]

    5. At-Taqdiirul Yaumi (Takdir yang berlaku harian)
    Dalilnya ialah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

    “Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” [Ar-Rahmaan: 29]

    Disebutkan mengenai tafsir ayat tersebut: Kesibukan-Nya ialah memuliakan dan menghinakan, meninggikan dan merendahkan (derajat), memberi dan menghalangi, menjadikan kaya dan fakir, membuat tertawa dan menangis, mematikan dan menghidupkan, dan seterusnya. [7]

    [Disalin dari kitab Al-Iimaan bil Qadhaa wal Qadar, Edisi Indoensia Kupas Tuntas Masalah Takdir, Penulis Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd, Penerjemah Ahmad Syaikhu, Sag. Penerbit Pustaka Ibntu Katsir]
    __________
    Footenotes
    [1]. Lihat, A’laamus Sunnah al-Mansyuurah, hal. 129-133 dan komentar Syaikh Ibnu Baz atas al-Waasithiyyah, hal. 78-80.
    [2]. HR. Muslim, (VIII/51).
    [3]. Syaikh Abdul Aziz bin Baz memberikan komentar terhadap pembagian yang kedua ini seraya berucap, ‘Bahwa takdir yang kedua ini masuk kedalam takdir yang pertama, oleh sebab itu Abul ‘Abbas, Ibnu Taimiyyah, menolaknya dalam kitab al-Aqiidah al-Waasitiyyah, begitu juga banyak dari para ulama lainnya yang saya ketahui.
    [4]. HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah, yang diteliti oleh Syaikh al-Albani, (I/73), dan al-Albani menilai sanadnya shahih dan para perawinya semuanya terpercaya, dan as-Suyuthi dalam ad-Durul Mantsuur, (III/604), ia mengatakan, Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Jarir, al-Bazzar, ath-Thabrani, al-Ajurri dalam asy-Syarii’ah, Ibnu Mardawaih, dan al-Baihaqi dalam al-Asmaa’ wash Shifaat.
    [5]. HR. Al-Bukhari, (VII/210, no. 3208), Muslim, (VIII/44, no. 2643), dan Ibnu Majah, (I/29, no. 76). (Dan lafazhnya adalah dari riwayat Muslim,-ed.)
    [6]. Lihat, Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, (VII/338), Tafsiir al-Qur-aanil ‘Azhiim, Ibnu Katsir, (IV/140), dan Fat-hul Qadiir, asy-Syaukani, (IV/572).
    [7]. Lihat, Zaadul Masiir, (VIII/114), Tafsiir al-Qur-aanil Azhiim, Ibnu Katsir, (IV/275), dan Fat-hul Qadiir, (V/136).

    http://www.almanhaj.or.id/content/2482/slash/0

  6. TINGKATAN-TINGKATAN QADAR DAN RUKUN-RUKUNNYA

    Oleh
    Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd

    Iman kepada qadar berdiri di atas empat rukun yang disebut tingkatan-tingkatan qadar atau rukun-rukunnya, dan merupakan pengantar untuk memahami masalah qadar. Iman kepada qadar tidak sempurna kecuali dengan merealisasikannya secara keseluruhan, sebab sebagiannya berkaitan dengan sebagian lainnya. Barangsiapa yang memantapkannya secara keseluruhan, maka keimanannya kepada qadar telah sempurna, dan barangsiapa yang mengurangi salah satu di antaranya atau lebih, maka keimanannya kepada qadar telah rusak. Rukun-rukun tersebut ialah:

    1. Al-‘Ilm (ilmu).
    2. Al-Kitaabah (pencatatan).
    3. Al-Masyii-ah (kehendak).
    4. Al-Khalq (penciptaan).

    Sebagian penya’ir menyenandungkannya dengan ucapannya:
    Ilmu, catatan Pelindung kita, Kehendak-Nya
    dan penciptaan-Nya, yaitu mengadakan dan membentuk

    Tingkatan Ketiga: Al-Masyii-ah (Kehendak).
    Tingkatan ini mengharuskan keimanan kepada masyii-ah Allah yang terlaksana dan kekuasaan-Nya yang sempurna. Apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi, dan bahwa tidak ada gerak dan diam, hidayah dan kesesatan, melainkan dengan masyii-ah-Nya.

    “Tingkatan ini ditunjukkan oleh Ijma’ (kesepakatan) para Rasul, sejak Rasul pertama hingga terakhir, semua kitab yang diturunkan dari sisi-Nya, fitrah yang padanya Allah menciptakan makhluk-Nya, serta dalil-dalil akal dan logika.” [1]

    Nash-nash yang menunjukkan dasar ini sangat banyak sekali dari al-Qur-an dan as-Sunnah, di antaranya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    “Dan Rabb-mu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya… .” [Al-Qashash: 68]

    Firman Allah yang lain:

    “Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam.” [At-Takwiir: 29]

    Dan firman Allah:

    “Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu, ‘Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi,’ kecuali (dengan menyebut), ‘Insya Allah… .’” [Al-Kahfi: 23-24]

    Juga firman-Nya:

    “Kalau sekiranya Kami turunkan Malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu kehadapan mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki… .” [Al-An’aam: 111]

    Serta firman-Nya:

    “…Barangsiapa yang dikehendaki Allah (kesesatannya) niscaya disesatkan-Nya, dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk mendapat petunjuk), niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus.” [Al-An’aam: 39]

    Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Sesungguhnya hati manusia semuanya berada di antara dua jari dari jari-jemari ar-Rahman seperti satu hati, Dia membolak-balikkannya ke mana saja Ia kehendaki.” [2]

    Masyii-ah (kehendak) Allah yang terlaksana dan kekuasaan-Nya yang sempurna berhimpun dalam apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi, serta berpisah dalam apa yang tidak akan terjadi dan sesuatu yang tidak ada. Apa yang dikehendaki Allah adanya, maka ia pasti ada dengan kekuasaan-Nya, dan apa yang tidak di-kehendaki adanya maka ia pasti tidak ada, karena Dia tidak meng-hendaki hal itu. Bukan karena ketidakadaan kekuasaan-Nya atas hal itu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    “…Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka saling mem-bunuh. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” [Al-Baqarah: 253]

    Maka, tidak berperangnya mereka bukanlah menunjukkan bahwa kekuasaan Allah tidak ada (untuk mengadakan hal itu), akan tetapi karena Allah tidak menghendakinya, dan hal serupa bisa dilihat dalam firman Allah Ta’ala:

    “…Kalau Allah menghendaki tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk … .” [Al-An’aam: 35]

    Firman Allah yang lain:

    “Dan kalau Allah menghendaki niscaya mereka tidak memper-sekutukan(-Nya)… .” [Al-An’aam: 107]

    Juga firman-Nya:

    “Dan jikalau Rabb-mu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya… .” [Yunus: 99] [3]

    Tingkatan Keempat: Al-Khalq (Penciptaan)
    Tingkatan ini mengharuskan keimanan bahwa semua makhluk adalah ciptaan Allah, dengan dzat, sifat, dan gerakannya, dan bahwa segala sesuatu selain Allah adalah makhluk yang diadakan dari ketidakadaan, ada setelah sebelumnya tidak ada.

    Tingkatan ini ditunjukkan oleh kitab-kitab samawi, disepakati para Rasul, disetujui fitrah yang lurus, serta akal yang sehat. [4] Dalil-dalil mengenai tingkatan ini nyaris tidak terbilang, di antaranya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

    “Allah Yang menciptakan segala sesuatu… .” [Az-Zumar: 62]

    Firman Allah yang lain:

    “Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi, dan mengadakan gelap dan terang … .” [Al-An’aam: 1]

    Dan firman-Nya:

    “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia mengujimu, siapa-kah di antaramu yang terbaik amalnya… .” [Al-Mulk: 2]

    Serta firman Allah:

    “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakanmu dari yang satu, dan daripadanya Allah mencip-takan isterinya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak… .” [An-Nisaa': 1]

    Juga firman Allah:

    “Dan Dia-lah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” [Al-Anbiyaa': 33]

    Dan firman-Nya:

    “…Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rizki kepadamu dari langit dan dari bumi… .” [Faathir: 3]

    Imam Al-Bukhari Rahimahullah meriwayatkan dalam kitab Khalq Af’aalil ‘Ibaad dari Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu, dia menuturkan, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Sesungguhnya Allah menciptakan semua (makhluk) yang ber-buat dan juga sekaligus perbuatannya.” [5]

    Inilah empat tingkatan qadar, yang mana keimanan kepada qadar tidak sempurna kecuali dengannya.

    [Disalin dari kitab Al-Iimaan bil Qadhaa wal Qadar, Edisi Indoensia Kupas Tuntas Masalah Takdir, Penulis Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd, Penerjemah Ahmad Syaikhu, Sag. Penerbit Pustaka Ibntu Katsir]
    __________
    Footenotes
    [1]. Syifaa-ul ‘Aliil, hal. 92.
    [2]. HR. Muslim, (no. 2654).
    [3]. Lihat, ash-Shafadiyyah, Ibnu Taimiyyah, (II/109).
    [4]. Lihat, Syifaa-ul ‘Aliil, hal. 108.
    [5]. Khalq Af’aalil ‘Ibaad, hal. 25.

    http://www.almanhaj.or.id/content/2478/slash/0

  7. TINGKATAN-TINGKATAN QADAR DAN RUKUN-RUKUNNYA [1]

    Oleh
    Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd

    Iman kepada qadar berdiri di atas empat rukun yang disebut tingkatan-tingkatan qadar atau rukun-rukunnya, dan merupakan pengantar untuk memahami masalah qadar. Iman kepada qadar tidak sempurna kecuali dengan merealisasikannya secara keseluruhan, sebab sebagiannya berkaitan dengan sebagian lainnya. Barangsiapa yang memantapkannya secara keseluruhan, maka keimanannya kepada qadar telah sempurna, dan barangsiapa yang mengurangi salah satu di antaranya atau lebih, maka keimanannya kepada qadar telah rusak. Rukun-rukun tersebut ialah:

    1. Al-‘Ilm (ilmu).
    2. Al-Kitaabah (pencatatan).
    3. Al-Masyii-ah (kehendak).
    4. Al-Khalq (penciptaan).

    Sebagian penya’ir menyenandungkannya dengan ucapannya:
    Ilmu, catatan Pelindung kita, Kehendak-Nya
    dan penciptaan-Nya, yaitu mengadakan dan membentuk

    Tingkatan Pertama: Al-‘Ilm (Ilmu).
    Yaitu, beriman bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, baik secara global maupun terperinci, azali (sejak dahulu) dan abadi, baik hal itu berkaitan dengan perbuatan-perbuatan-Nya maupun perbuatan-perbuatan para hamba-Nya, sebab ilmu-Nya meliputi apa yang telah terjadi, apa yang akan terjadi, dan apa yang tidak terjadi yang seandainya terjadi, bagaimana terjadinya.

    Dia mengetahui yang ada, yang tidak ada, yang mungkin, serta yang mustahil, dan tidak luput dari ilmu-Nya seberat dzarrah pun di langit dan di bumi.

    Dia mengetahui semua ciptaan-Nya sebelum Dia menciptakan mereka. Dia mengetahui rizki, ajal, ucapan, perbuatan, maupun semua gerak dan diam mereka, juga siapakah ahli Surga ataupun ahli Neraka.

    Tingkatan ini -yaitu ilmu yang terdahulu- disepakati oleh para Rasul, sejak Rasul yang pertama hingga yang terakhir, disepakati juga oleh semua Sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dari umat ini. Tetapi “Majusi” umat ini menyelisihi mereka, yaitu Qadariyyah yang amat fanatik.[2]

    Dalil-dalil mengenai tingkatan ini banyak sekali, di antaranya firman Allah Azza wa Jalla

    “Dia-lah Allah Yang tidak ada ilah (yang berhak untuk diibadahi dengan benar) selain Dia, Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata … .” [Al-Hasyr: 22]

    Firman-Nya yang lain:

    “…Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka… .” [Al-Baqarah: 255]

    Juga firman Allah yang lain:

    “…(Rabb-ku) Yang mengetahui yang ghaib. Tidak ada yang ter-sembunyi dari-Nya seberat dzarrah pun yang ada di langit dan yang ada di bumi, dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” [Saba': 3]

    Dan firman Allah:

    “… Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan… .” [Al-An’aam: 124]

    Juga firman-Nya:

    “Sesungguhnya Rabb-mu, Dia-lah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya, dan Dia-lah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” [Al-Qalam : 7]

    Serta firman-Nya:

    “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan. Tidak sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak juga sesuatu yang basah ataupun yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” [Al-An’aam: 59]

    Dan firman Allah yang lain:

    “Jika mereka berangkat bersamamu, niscaya mereka tidak menambah kepadamu selain dari kerusakan belaka… .” [At-Taubah: 47]

    Juga firman-Nya:

    “… Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta-pendusta belaka.” [Al-An’am: 28]

    Serta firman-Nya:

    “Kalau kiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. Dan jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu).” [Al-Anfaal: 23]

    Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahiihnya dari Ibnu ‘Abbas
    Radhiyallahu ‘anhuma, ia mengatakan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang keadaan anak-anak kaum musyrikin, maka beliau menjawab:
    Çó “Allah lebih mengetahui tentang apa yang mereka kerjakan.” [3]

    Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Tidak ada satu jiwa pun dari kalian melainkan telah diketahui tempat tinggalnya, baik di Surga maupun Neraka.” [4]

    Tingkatan Kedua: Al-Kitaabah (Penulisan).
    Yaitu, mengimani bahwa Allah telah mencatat apa yang telah diketahui-Nya dari ketentuan-ketentuan para makhluk hingga hari Kiamat dalam al-Lauhul Mahfuzh.

    Para Sahabat, Tabi’in, dan seluruh Ahlus Sunnah wal Hadits sepakat bahwa segala yang terjadi hingga hari Kiamat telah dituliskan dalam Ummul Kitab, yang dinamakan juga al-Lauhul Mahfuzh, adz-Dzikr, al-Imaamul Mubiin, dan al-Kitaabul Mubiin, semuanya mempunyai makna yang sama.[5]

    Dalil-dalil mengenai tingkatan ini banyak, baik dari al-Qur-an maupun as-Sunnah. Allah Azza wa Jalla berfirman:

    “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh) Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” [Al-Hajj: 70]

    Firman Allah yang lain:

    “…Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” [Yaasiin: 12]

    Juga firman-Nya:

    “Katakanlah, ‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami… .’” [At-Taubah: 51]

    Allah Azza wa Jalla juga berfirman tentang do’a Nabi Musa Alaihissalam:
    “Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia … .” [Al-A’raaf: 156]

    Dia berfirman tentang bantahan Nabi Musa Alaihissalam kepada Fir’aun:

    “Berkata Fir’aun, ‘Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?’ Musa menjawab, ‘Pengetahuan tentang itu ada di sisi Rabb-ku, di dalam sebuah kitab, Rabb-ku tidak akan salah dan tidak (pula) lupa… .’” [Thaahaa: 51-52]

    Imam Muslim Rahimahullah meriwayatkan dalam Shahiihnya dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu ‘anhu, dia mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    .
    ‘Allah mencatat seluruh takdir para makhluk 50.000 tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.’ Beliau bersabda, ‘Dan adalah ‘Arsy-Nya berada di atas air.’” [6]

    Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Tidak ada satu jiwa pun yang bernafas melainkan Allah telah menentukan tempatnya, baik di Surga ataupun di Neraka, dan juga telah dituliskan celaka atau bahagia(nya).” [7]

    [Disalin dari kitab Al-Iimaan bil Qadhaa wal Qadar, Edisi Indoensia Kupas Tuntas Masalah Takdir, Penulis Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd, Penerjemah Ahmad Syaikhu, Sag. Penerbit Pustaka Ibntu Katsir]
    __________
    Footenotes
    [1].Lihat, al-‘Aqiidah al-Waashithiyyah dengan penjelasannya, ar-Raudhah an-Naadiyyah, Syaikh Zaid bin Fayyadh, hal. 353, at-Tanbihaat al-Lathiifah ‘ala mahtawaat ‘alaihil ‘Aqiidah al-Waashithiyyah minal Mabaahits al-Muniifah, Syaikh Ibnu Sa’di disertai komentar Samahah Syaikh Ibnu Baz, hal. 75-80. Lihat pula, Syifaa-ul ‘Aliil, hal. 61-116, Ma’aarijul Qabuul, Syaikh Hafizh al-Hakami, (II/225-238), A’laamus Sunnah al-Mansyuurah, al-Hakami, hal. 126-129, Rasaa-il fil ‘Aqiidah, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, hal. 37, Taqriibut Tadmuriyyah, Ibnu ‘Utsaimin, hal. 108-109, al-Qadhaa’ wal Qadar, Dr. Sulaiman al-Asyqar, hal. 29-36, Syarh al-‘Aqiidah al-Waasithiyyah, Syaikh Shalih al-Fauzan, hal. 150-156, dan Khulaashah Mu’taqad Ahlis Sunnah, Syaikh ‘Abdillah bin Sulaiman al-Masy’ali, hal. 29-30.
    [2]. Lihat, Syifaa-ul ‘Aliil, hal. 61.
    [3]. HR. Al-Bukhari ,(VII/210) dan lihat, al-Fat-h, (XI/493).
    [4]. HR. Muslim dalam al-Qadr, (no. 2647).
    [5]. Syifaa-ul ‘Aliil, hal. 89
    [6]. HR. Muslim, (VIII/51).
    [7]. HR. Al-Bukhari dalam at-Tafsiir, (VI/84) dan Muslim dalam al-Qadar, (VIII/ 46-47).

  8. BUAH KEIMANAN KEPADA QADHA DAN QADHAR

    Oleh
    Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd

    21. Mengetahui Hikmah Allah Azza Wa Jalla
    Iman kepada qadar dengan cara yang benar akan mengungkap bagi manusia hikmah Allah Azza wa Jalla dalam apa yang ditentukan-Nya, berupa kebaikan dan keburukan. Lantas dia mengetahui bahwa di balik pemikirannya dan imajinasinya ada Dzat yang lebih agung, lebih tahu, dan lebih bijaksana.

    Karena itu, seringkali sesuatu terjadi dan kita tidak menyukainya, padahal hal itu baik bagi kita, dan seringkali kita melihat sesuatu memiliki maslahat secara zhahirnya, sehingga kita pun menyukai dan menginginkannya, tetapi hikmah tidak menghendakinya. Sebab, Dzat yang mengatur manusia lebih tahu tentang kemasla-hatannya dan akibat perkaranya. Bagaimana tidak, sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    “Artinya : …Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik ba-gimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” [Al-Baqarah: 216]

    Di antara rahasia ayat ini dan hikmahnya adalah, bahwa ayat ini mengharuskan hamba untuk pasrah kepada Dzat Yang mengetahui berbagai akibat urusannya dan ridha dengan apa yang ditentukan-Nya atasnya, karena dia mengharapkan kepada-Nya akibat baik (dari urusan)nya.

    Di antara rahasia lainnya, dia tidak mencela Rabb-nya dan tidak meminta kepada-Nya sesuatu yang mana ia tidak memiliki pengetahuan mengenainya, karena mungkin kemudharatan bagi dirinya terletak di dalamnya, sedangkan ia tidak mengetahui. Ia tidak me-milihkan kepada Rabb-nya, tetapi ia meminta kepada-Nya akibat yang baik dalam apa yang dipilihkan-Nya untuknya. Baginya, tidak ada yang lebih bermanfaat daripada hal itu.

    Karena itu, di antara belas kasih Allah kepada hamba-Nya ialah mungkin jiwa hamba menginginkan salah satu hal keduniaan, yang mana ia menganggap dengan hal itu dia dapat mencapai tujuannya. Tapi Allah mengetahui bahwa itu merugikan dan menghalanginya dari apa yang bermanfaat baginya, lalu Dia pun menghalangi antara dirinya dengan keinginannya itu, sehingga hamba tersebut tetap dalam keadaan tidak suka, sementara itu ia tidak mengetahui bahwa Allah telah berbelas kasih kepadanya, di mana Dia mengokohkan perkara yang bermanfaat baginya dan memalingkan perkara yang merugikan darinya. [1]

    Betapa banyak manusia -sebagai contoh- yang menyesal, ketika ketinggalan waktu take off pesawat terbang, dan ternyata penyesalan tersebut hanya sementara. Kemudian dikabarkan tentang jatuhnya pesawat (yang telah lepas landas) dan semua penumpangnya tewas.

    Betapa banyak manusia yang sesak dan sempit dadanya karena kehilangan sesuatu yang disukai atau datangnya sesuatu yang me-nyedihkan. Ketika perkara itu tersingkap dan rahasia takdir itu diketahui, Anda pasti melihatnya dalam keadaan senang gembira, karena akibatnya ternyata baik baginya.

    Sungguh indah ucapan orang yang mengatakan:
    Betapa banyak kenikmatan yang tidak Anda anggap sedikit
    dengan bersyukur kepada Allah atasnya
    bersembunyi dalam lipatan sesuatu yang tidak disukai [2]

    Ucapan lainnya:
    Perkara-perkara itu berjalan sesuai ketentuan qadha’
    dan dalam lipatan kejadian, yang disukai dan yang tidak disukai

    Mungkin menyenangkanku sesuatu yang dulunya aku hindari
    dan mungkin buruk bagiku sesuatu yang dulunya aku harapkan [3]

    22. Membebaskan Akal Dari Khurafat Dan Kebathilan.
    Di antara kepastian iman kepada qadar ialah mengimani bahwa apa yang telah terjadi, apa yang sedang terjadi, dan apa yang akan terjadi di alam semesta ini adalah berdasarkan pada qadar (ketentuan) Allah Azza wa Jalla. Dan bahwa qadar Allah adalah rahasia yang tersembunyi, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia, dan Dia tidak memperlihatkannya kepada seorang pun kecuali kepada siapa yang diridhai-Nya dari Rasul-Nya. Sesungguhnya Dia menjadikan penjagapenjaga (Malaikat) di muka dan di belakangnya.

    Dari titik tolak ini, anda melihat orang yang beriman kepada qadar tidak bersandar kepada para dajjal dan pesulap (pendusta), serta tidak pergi kepada para dukun, peramal dan orang-orang “pintar”. Ia tidak bersandar kepada ucapan-ucapan mereka, tidak pula tertipu dengan penyimpangan mereka dan kedustaan mereka. Ia hidup dalam keadaan terbebas dari kesesatan ucapan-ucapan tersebut dan dari semua khurafat dan kebathilan itu.
    Labid bin Rabi’ah Radhiyallahu ‘anhu berkata:

    Sungguh para dukun dan peramal tidak tahu
    apa yang Allah akan perbuat
    Bertanyalah kepada mereka, jika kalian mendustakanku
    kapankah seorang pemuda merasakan kematian atau kapankah hujan akan turun [4]

    23. Ketenangan Hati Dan Ketentraman Jiwa.
    Perkara-perkara ini termasuk dari buah keimanan kepada qadar, dan ini termasuk di antara sekian banyak manfaat yang telah disebutkan sebelumnya. Ini merupakan hal yang dicari-cari, tujuan yang didambakan, dan puncak tujuan yang dimaksud, karena semua manusia mencarinya dan berusaha meraihnya. Tapi, sebagaimana dikatakan:

    Semua orang dalam hidup ini mencari buruan
    hanya saja, perangkapnya berbeda-beda

    Tidak ada yang mengetahui perkara-perkara ini, tidak ada yang merasakan manisnya, dan tidak ada yang mengetahui hasil-hasilnya, kecuali orang yang beriman kepada Allah beserta qadha’ dan qadar-Nya. Orang yang beriman kepada qadar hatinya tenang, jiwanya tentram, keadaannya tenang, dan tidak banyak berpikir mengenai keburukan yang bakal datang. Kemudian, jika keburukan tersebut datang, hatinya tidak terbang tercerai-berai, tetapi dia tabah terhadap hal itu dengan mantap dan sabar. Jika sakit, sakitnya tidak menambah keraguannya. Jika sesuatu yang tidak disukai datang kepadanya, dia menghadapinya dengan ketabahan, sehingga dapat meringan-kannya. Di antara hikmahnya ialah agar manusia tidak menghimpun pada dirinya antara kepedihan karena khawatir terhadap datangnya keburukan dengan kepedihan karena mendapatkan keburukan.

    Tetapi dia berbahagia, selagi sebab-sebab kesedihan itu jauh darinya. Jika hal itu terjadi, maka dia menghadapinya dengan keberanian dan keseimbangan jiwa.

    Anda melihat pada diri orang-orang khusus dari kalangan umat Islam, dari kalangan ulama ‘amilin (ulama yang mengamalkan ilmunya) dan ahli ibadah yang taat lagi mengikuti Sunnah, berupa ketenangan hati dan ketentraman jiwa yang tidak terbayangkan dalam benak dan tidak pula terbayang dalam imajinasi. Mereka dalam hal ini memiliki derajat yang tinggi dan kedudukan yang sempurna.

    Inilah Amirul Mukminin, ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz rahimahullahu mengatakan, “Aku tidak mendapatkan kegembiraan kecuali dalam hal-hal yang sudah diqadha’ dan diqadarkan.” [5]

    Syaikhul Islam, Abul ‘Abbas Ahmad Ibnu Taimiyyah rahimahullahu me-ngatakan, “Sesungguhnya di dunia ini ada Surga, yang barangsiapa tidak pernah memasukinya maka dia tidak akan memasuki Surga akhirat.” [6]

    Beliau mengatakan dengan pernyataan yang terkenal, ketika dimasukkan dalam penjara, “Apakah yang akan diperbuat para musuhku terhadapku, sedangkan Surgaku dan tamanku ada dalam dadaku, ke mana aku pergi maka ia selalu bersamaku, tidak pernah berpisah denganku. Dipenjarakannya aku adalah khulwah (menyepi), pembunuhan terhadapku adalah syahadah (mati sebagai syahid), dan pengusiranku dari negeriku adalah wisata.” [7]

    Bahkan Anda melihat ketentraman hati, ketenangan hidup, dan keyakinan yang mantap pada kaum muslimin yang awam, yang tidak Anda dapatkan pada para tokoh pemikir, penulis dan dokter dari kalangan non muslim. Betapa banyak para dokter dari kalangan non muslim -sebagai contoh- yang heran, ketika menangani pengobatan pasien muslim. Tampak olehnya bahwa pasien tersebut men-derita penyakit yang berbahaya, misalnya kanker. Anda melihat dokter ini bingung bagaimana cara memberitahukan kepada pasien tentang penyakitnya. Anda melihatnya ragu-ragu, dan Anda meli-hatnya mulai membuka pembicaraan serta membuat beberapa prolog. Semua itu dilakukan karena takut pasien akan shok karena mendengarkan kabar ini.

    Namun, ketika dokter memberitahukan kepadanya akan penyakitnya dan menjelaskan penyakitnya kepadanya, ternyata pasien ini menerima kabar ini dengan jiwa yang ridha, dada yang lapang, dan ketenangan yang mengagumkan.

    Keimanan kaum muslimin kepada qadha’ dan qadar telah mencengangkan banyak kalangan non muslim, lalu mereka menulis tentang perkara ini untuk mengungkapkan ketercengangan mereka dan mencatatkan kesaksian mereka tentang kekuatan tekad kaum muslimin, kebesaran jiwa mereka, dan penyambutan mereka yang baik terhadap berbagai kesulitan hidup.

    [Disalin dari kitab Al-Iimaan bil Qadhaa wal Qadar, Edisi Indoensia Kupas Tuntas Masalah Takdir, Penulis Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd, Penerjemah Ahmad Syaikhu, Sag. Penerbit Pustaka Ibntu Katsir]
    __________
    Foote Note
    [1]. Lihat, al-Mawaahibur Rabbaaniyyah minal Aayaatil Qur-aan, Ibnu Sa’di, hal. 151.
    [2]. Jannatur Ridhaa’ fit Tasliim limaa Qaddara wa Qadhaa’, (III/52).
    [3]. Jannatur Ridhaa’ fit Tasliim limaa Qaddara wa Qadhaa’, (III/52).
    [4]. Diiwaan Labid bin Rabi-ah, hal. 90.
    [5]. Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam, Ibnu Rajab, (I/287) dan lihat, Siirah ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz, Ibnu ‘Abdilhakam, hal. 97.
    [6]. Al-Waabilush Shayyib minal Kalimith Thayyib, Ibnul Qayyim, hal. 69 dan asy-Syahaadatuz Zakiyyah fii Tsanaa-il A-immah ‘alaa Ibni Taimiyyah, karya Mar’il Karami al-Hanbali, hal. 34.
    [7]. Dzail Thabaqaatil Hanaabilah, Ibnu Rajab, (II/402) dan lihat, al-Waabilush Shayyib, hal. 69.

    http://www.almanhaj.or.id/content/2213/slash/0

Komentar ditutup.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 295 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: