Bukan Dengan Lagu Melankolis

Oleh Kiptiah | Minggu, 23/10/2011 04:33 WIB

Ketika lagu-lagu melankolis begitu mewarnai hari-hari para muda mudi jaman sekarang. Lagu-lagu bertemakan cinta, bagaikan sesuatu yang wajib. Jika tak mendengarkan walaupun hanya sehari, serasa ada yang kurang. Parahnya kebiasaan tersebut berimbas pada prilaku para muda mudi. Lirik lagu cinta yang cenderung melankolis dan tak ada semangat di tambah kondisi mereka (baca:muda mudi) yang sedang dalam pencarian atau gamang, membuat mereka cepat terbuai. Karena terkadang lirik yang terdapat dalam lagu hampir sama dengan kisah cinta yang mereka alami. Akibatnya mereka begitu khusyuk menghayati atau bahkan hafal sebagian besar lagu-lagu tersebut. Memang sebagian besar pula lagu yang di tampilkan sangat easy listening namun tak jarang yang berisikan lirik nakal.

Ibnu Taimiyyah pernah berkata :
Musik dan Al Qur’an tidak akan berjumpa dalam keasikan yang sama. Orang yang asik dengan musik, tidak akan mampu menyerap keindahan Al Qur’an. Orang yang mudah menikmati keindahan Al Qur’an, pasti akan gerah mendengar lantunan music. Saat keasikan mendengar salah satunya berkurang, bertambahlah kesenangan mendengarkan yang lain.

Saat mereka sudah terbuai dengan lagu-lagu melankolis, maka semangat mereka dalam menjalani hidup pun terkadang menurun. Hati dan fikiran mereka hanya di bayangi kisah percintaan mereka yang seringnya tak sesuai dengan keinginan. Dari masalah yang terkesan sepele bahkan di besar-besarkan. Tak jarang karena hal sepele tersebut, bisa menimbulkan kebodohan yang tak masuk di akal. Misalnya bunuh diri karena di tolak oleh seseorang yang di sukainya.

Proses kreatif yang dihasilkan juga menurun. Ketika hati dan fikiran di penuhi oleh masalah percintaan, maka seperti tak ada ruang untuk dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Ouput yang di hasilkan hanya berupa keluhan-keluhan. Semangat hanya menjadi kata yang terhirup lalu terhembus kembali. Kehidupan mereka hanya di sibukkan bagaimana mencari pria atau wanita yang baik dan baik. Berpindah dari satu pria ke pria lain atau satu wanita ke wanita lain. Berdalih mendapatkan yang terbaik, justru mereka terperangkap ke dalam jurang dosa yang menganga.

Parahnya, fenomena lagu-lagu melankolis tak hanya merebak di kalangan kaum muda menjelang dewasa tapi juga anak-anak SD atau yang beranjak remaja. Pihak media yang tak ingin ketinggalan dalam meraup keuntungan seperti berlomba menyuguhkan penampilan para penyanyi lewat acara-acara musik yang membanjiri tayangan televisi. Para artis dadakan pun bermunculan, hanya dengan bermodalkan wajah rupawan, sedikit pandai bernyanyi dan dengan lagu yang easy listening meskipun dari segi lirik sangat kurang, mereka tampil membius para kaum muda, sehingga kini memunculkan banyaknya idola-idola baru bagi muda mudi.

Juga sikap hedonis yang terlalu mengagungkan budaya barat menjadikan mereka terperangkap pada kecintaan berlebih pada idola.Idola yang tak hanya sekedar idola. Kebanyakan mereka yang begitu fanatik terhadap idola mereka, melakukan dan mengikuti apa yang di perbuat sang idola. Usia yang rawan, dalam masa pencarian dan kegamangan membuat mereka seperti memiliki jatidiri dan panutan ketika mampu mengikuti idolanya tersebut. Meskipun mereka tidak begitu paham bagaimana tingkah laku dan kepribadian sang idola, baikkah mereka, burukkah mereka. Apakah akhlaknya baik untuk di jadikan suri tauladan, apakah agamanya dapat mereka contoh dalam keseharian mereka. Sayangnya hal tersebut belum menjadi faktor penentu dalam pencarian idola mereka.

Bahwasanya Al Qur’an telah menjelaskan, dalam diri Rasulullah terdapat suri tauladan yang baik. Hanya Rasulullah lah yang pantas untuk di jadikan panutan, karena beliaulah kekasih Allah yang menerima langsung wahyu dan semua yang di lakukannya hanyalah sesuai perintah Allah Ta’ala.

Kenikmatan mereka mendengarkan lagu-lagu seperti menggeser kenikmatan membaca kalam Allah. Padahal teramat banyak ayat Allah yang berisi kabar gembira bagi mereka yang bersedih, gundah gulana dan mengalami kebimbangan.
Padahal dalam Al Qur’an, Allah telah memberi kabar gembira bukan dengan lirik melankolis yaitu dalam QS. Ar Ra’du ayat 28, Allah berfirman :
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

Banyak semangat yang akhirnya terabaikan dengan menggandrungi lagu-lagu yang hanya berisikan tentang kenestapaan cinta, semunya cinta dan lainnya.

Bacalah Al Qur’an, maka di dalamnya akan di temukan segala macam pemecahan masalah. Bacalah Al Qur’an dan nikmatilah maknanya maka akan yakinlah diri menghadapi kehidupan yang fana, karena ada sumber semangat, suka cita, janji Allah bagi hambaNya yang bertaqwa yang meninggalkan kesenangan sementara demi sesuatu yang hakiki. Bukalah hati pada keindahan kalamNya, hingga apapun selain itu tak mampu menggoyahkan iman yang menggelora.

Allahua’lam

rainkelana@yahoo.com

 

http://m.eramuslim.com/oase-iman/kiptiah-bukan-dengan-lagu-melankolis.htm

4 Tanggapan

  1. Suatu hari Dzun Nun rahimahullah ditanya: “Apa tanda-tanda ikhlas?”
    Ia menjawab: “Jika di dalam amalmu tidak ada keinginan untuk dipuji makhluk atau kekhawatiran akan kecaman makhluk, maka Anda adalah orang yang ikhlas, insya Allah”
    (Disebutkan Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya)

    Para ulama sunnah sangat menjunjung tinggi muru’ah/kehormatan sampai2 di antara mereka menganggap orang yg bermesraan dg istri di muka umum sbgai orang yg tdk punya kehormatan.
    “Mencium wanita, meskipun itu mahramnya di malam kebahagiannya, dengan dilihat banyak orang atau wanita lain telah menggugurkan status kehormatannya dalam agama.” (Al-Bajirami)

    Ulama yang tidak mau mengamalkan ilmunya, ceramahnya akan meleset dari hati pendengarnya, seperti tetesan air yang meleset dari batu yang halus. (Malik bin Dinar)

    “Tinggalkanlah perdebatan yang bisa memfitnah hati, menumbuhkan dendam, mengeraskan hati, dan menipiskan kehati-hatian dalam berbicara dan berbuat.”
    (Al-Auza’i -rahimahullaah-)

    Barangsiapa mencintai dunia dan senang padanya, maka perasaan takut akhirat akan tercabut dari hatinya. (Sufyan Ats-Tsauri)

    “Jika Anda melihat seorang yang keras kepala, suka berdebat dan bangga pada pendapatnya sendiri, sempurnalah kerugiannya.” (Bilal bin Sa’ad)
    => disebutkan Abu Nu’aim -rahimahullah- dalam حلية الأولياء

    Abu Mu’awiyyah Al-Aswad rahimahullah berkata, “Semua makhluk -yang baik maupun yang jahat- bekerja untuk mendapatkan sesuatu yg lebih kecil daripada sayap lalat.” Lalu, seseorang bertanya kepadanya, “Apa yang lebih kecil daripada sayap lalat itu?” Ia menjawab, “Dunia”.

    Salah seorang tabi’in, Makhul rahimahullah berkata, “Aku pernah melihat seseorang mengerjakan shalat. Setiap kali ruku’ dan sujud ia selalu menangis. Aku “menuduhnya” berbuat riya’ dengan tangisannya itu. Kemudian, aku tidak bisa menangis (saat beribadah) selama setahun. >>> nasehat bagi kita pula agar tidak mudah menuduh orang lain berbuat riya’, walau ada “alamat” riya secara dzahir.

    Orang yang beriman memiliki empat ciri, yaitu ucapannya adalah dzikir, diamnya adalah tafakkur, pandangannya adalah mengambil pelajaran, dan ilmunya adalah kebajikan. (lih: dalam Hilyatul Auliya’ li Abi Nu’aim Al-Asfahani, X/217)

    Hati yang bersih di dalam baju yang kotor lebih baik daripada hati yang kotor di dalam baju yang bersih. (Abu Muslim Al-Khaulani)

    Ibrahim bin Khawwas: “Obat hati ada lima: membaca Al-Qur’an dengan tadabbur, mengosongkan perut, shalat malam, menghiba kpd Allah di penghujung malam, dan bergaul dengan orang-orang shalih.”

    Belajarlah niat, karena niat lebih berat daripada amal. (Yahya bin Abi katsir)

    Jika seseorang mencari ilmu untuk diamalkan, ilmunya itu akan melunakkan hatinya. Jika ia mencari ilmu bukan untuk diamalkan, ilmunya itu akan menambah kesombongannya. (Malik bin Dinar)

    Dulu, ada ungkapan yg menyatakan, “Tahapan pertama ilmu adalah diam. Kedua, mendengarkan dan menghafalkan. Ketiga, mengamalkan. Keempat, menyebarluaskan dan mengajarkan. (Sufyan Ats-Tsauri)

    “Setiap tukang tidak bisa mengerjakan pekerjaannya dengan kecuali dengan alat. Dan alatnya Islam adalah ilmu. Jika Anda melihat orang berilmu yg tidak hati-hati terhadap ilmunya, maka Anda tidak boleh mengambil ilmu darinya. (Shalih bin Mahran)

    Kami pernah mendatangi seorang ulama, lalu kami lebih suka mempelajari etikanya daripada ilmunya (lih: Hilyatul Auliya’, Abu Nua’im, III/362)

    Seseorang cukup berilmu bila ia takut kepada Allah.Seseorang cukp bodoh bila ia kagum pada amalannya sendiri.(Masruq, salah seorang tabi’in)

    Ilmu bukanlah apa yg dihafal, melainkan apa yang bermanfaat. (Imam Asy-Syafi’i)

    Barangsiapa mencari ilmu untuk mencari ridha Allah azza wa jalla, Dia akan memberinya sesuatu yang bisa mencukupinya. (Ibrahim An-Nakha’i)

    Salaf bernama Mujahid pernah berkata, “Andaikata seorang muslim tidak mendapatkan apa-apa dari saudaranya selain bahwa rasa malunya kepadanya mencegahnya dari pebuatan maksiat, niscaya hal tersebut sudah cukup baginya.”

    Aku menemukan bahwa sikap menunda-nunda adalah salah satu prajurit iblis yang telah banyak membinasakan makhluk Allah (Shilan bin Farwah)

    Abdullah bin Munazil pernah berkisah bahwa ketika Hamdun bin Qashshar rahimahullah dimaki-maki oleh seseorang, ia justru diam saja dan berkata, “Akhi.., betaapun Engkau menjelek-jelekkanku sejelek-jeleknya, Engkau belum menjelek-jelekkanku seperti kejelekanku di mataku sendir” (Faidah dari kitab Hilyah)

    Wuhaib bin Ward pernah ditanya, “Bisakah orang yg ahli maksiat merasakan nikmatnya ibadah? Ia menjawab, “Tidak”. Bahkan orang yg memikirkan maksiat pun tidak bisa merasakannya.”

    Abu Sulaiman Ad-Darani, “Kenikmatan yang dirasakan ahli ibadah dengan ibadahnya, lebih besar daripada kenikmatan yang dirasakan ahli maksiat dengan kemaksiatannya.

    Orang yang berakal bukanlah orang yg mengetahui yg baik dan buruk, melainkan orang yg jika melihat kebaikan, ia mengikutinya. Jika melihat keburukan, ia menjauhinya (Sufyan bin Uyainah)

    http://www.facebook.com/Toko.Imam.Muslim

  2. OBAT PATAH HATI

    Patah hati atau bahasa kerennya broken heart itu bisa karena dua hal, diputusin pacar atau ditolak saat ngelamar. Tapi kalo dilihat pergaulan zaman sekarang, sebab patah hati kebanyakan adalah karena pacaran. Dan pacaran adalah gaul yang salah total. Kalo dilihat dari segi apapun, pacaran lebih banyak bikin kesel hati daripada suka hati. Status hubungan pasangan ini ga jelas, ga sah dan yang pasti ga serius. Malah ga sedikit juga sampe melakukan hal-hal yang ga ga, misalnya aja sex pra nikah dengan dalih kesetiaan. Hayo ngaku!!

    Ketika para aktivis pacaran itu ditanya tentang keseriusan mereka untuk merit, mereka pasti bilang, “Lihat aja nanti deh, yang sekarang kita jalanin aja dulu.” Kok mau sih digombalin sama pacar kamu? Apalagi mereka masih mengenakan putih-abu abu, putih biru dan ada juga yang putih merah, mana bisa mau dan siap nikah cepet-cepet. Artinya kamu itu sudah sejak awal bikin peluang besar untuk putus dan berlinangan air mata. Iya kan?
    Sedangkan Islam ga pernah ngajarin yang namanya aktifitas pacaran. Dan itu berarti Islam memperkecil volume patah hati yang memang perih banget kalo dirasakan.

    Buat yang gagal melamar, bukannya aktifitas yang kamu lakukan itu salah. Mungkin pasangan yang menolak kamu ajak menikah, memang pasangan buat kamu dan bukan jodoh kamu. Mungkin dia hanya pelangi indah yang cuma hanya sesaat menghiasi bumi, dia bukan bulan yang selalu setia menemani bumi dalam mengitari matahari. Duile puitis banget ya. Inget, Allah SWT sudah menjamin tiga hal yaitu rizki, ajal dan jodoh. Dan jangan lupa Allah SWT juga berfirman, artinya : “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (TQS. An Nuur: 26)

    Resep patah hati

    Kalo kamu sudah terlanjur patah hati, karena diputusin sama pacar atau mutusin pacar setelah baca buletin ini (Amiin!). Atau karena lamaranmu ditolak oleh akhwat atau ikhwan yang kamu incer, jangan gelap mata, keep positive thinking. Seperti kata iklan tipi, ambil enaknya aja ya. Kamu masih bisa memilih apa yang akan kamu lakukan kemudian. Dan itu terserah kamu, positif atau negatif.

    Kita ngasih alternatif, kalo obat hati itu ada lima, maka obat patah hati juga ada lima :

    1. Jangan mendramatisir keadaan
    Kalo lagi patah hati, ga perlu terlarut sampe dalem banget. Hindari suasana yang membuat kamu menjadi mellow atau melankolis. Ga usah dulu deh ndengerin lagu-lagu dengan tema patah hati, Patah hati-nya Radja atau Munajat Cinta-nya The Rock. Atau ngelakuin aktifitas lain yang malah bikin sesek hati. Wah, itu sama aja naburin garam sekarung di atas luka. Perih.

    2. Putus asa itu dosa
    Inget bahwa berputus asa itu dosa. Rasulullah SAW bersabda : “Dosa besar itu adalah mempersekutukan Allah, putus asa dari karunia Allah dan putus harapan dari rahmat Allah.” (HR. Al Bazzar dan Thabrani)

    3. Jangan malah menyendiri
    Kamu jangan menyendiri.
    Cari teman-teman yang bisa ngasih masukan dan support yang bisa bikin kita bangkit lagi, bukan yang malah menjerumuskan. Bukannya patah hati malah hilang, malah numpuk kayak TPA sampah.

    4. Perbanyak kegiatan positif
    Bayang-bayang itu semakin sering nongol apabila kita sering bengong. Biar ga sering bengong, kita harus sering bergerak. Lari marathon bisa. Nyangkul di sawah boleh. Atau kegiatan yang paling positif adalah mengaji tentang Islam, dan gabung dengan aktifitas dakwah. Insya Allah bisa ngelupain pahitnya patah hati, karena Islam itu lebih keren dari yang kita duga.

    5. Bersyukur, berusaha dan doa
    Kalau kamu putus dari pacar, itu berarti terbebas dari perbuatan mendekati zina. Kamu harus bersyukur. Kalo memang sudah siap nikah, nikah aja ngapain pacaran. Buktiin kamu serius. Kalo belum siap, ya jangan dipaksain nikah. Buat kamu yang ditolak saat melamar, itu tandanya Allah ngasih tahu bahwa akhwat/ikhwan itu ga matching sama kamu. Anda belum beruntung. Coba lagi. Dan jangan lupa berdoa karena Allah pasti akan kasih jalan keluar yang terbaik buat kamu. Pasti deh! (di)

    Sumber: ISLAMUDA

  3. Ibarat pepatah “jangan bermain api kalau tidak mau kebakaran, jangan bermain cinta kalau tidak mau menderita”. Apa benar semua cinta membuat kita menderita??

    Ketika Cinta Harus Memilih

    Saudaraku, sudah merupakan hal yang hakiki bagi setiap manusia untuk memiliki rasa cinta dalam hatinya, karena dengan adanya rasa cinta ini maka kehidupan manusia bisa langgeng di dunia.

    Saudaraku, sesungguhnya Alloh menciptakan laki-laki dan wanita dan menjadikannya saling mencintai satu sama lain. Diatas cinta inilah akhirnya, akan muncul generasi manusia selanjutnya.

    Saudaraku, ketahuilah bahwasanya cinta yang engkau rasakan harus dituntun kepada fitrohnya yang sesungguhnya, sehingga dengan cinta itu pula engkau akan menemukan kebahagiaan. Karena cinta yang engkau umbar tanpa kendali akan menyebabkan engkau terjerumus kedalam lembah kenistaan. Cinta dan nafsu bagaikan dua mata koin yang saling berlawanan, tapi perbedaannya sangat lah tipis, jika engkau bisa mengendalikannya sehingga berjalan diatas jalan yang semestinya maka itulah cinta sesungguhnya, tapi jika cinta itu tercampur nafsu maka tidak ada bedanya engkau dengan binatang.

    Saudaraku, maukah kamu aku tunjukkan dengan sebuah cinta yang hakiki, cinta yang abadi, cinta yang tidak pernah mengecewakan, cinta yang tidak mungkin bertepuk sebelah tangan, cinta yang tidak akan meninggalkan engkau sendirian, cinta yang membuat hari-harimu bahagia. Yaitu cinta kepada Rab semesta alam.

    Saudaraku, tahukah kamu bahwasanya cinta itu butuh pembuktian dan butuh pengorbanan, tidak hanya pengakuan semata. Ibnulqayyim dalam kitabnya “MADARIJUS SALIKIIN” menerangkan 10 hal yang dengannya engkau akan mendapatkan cinta Allah.

    Pertama, membaca Al Qur’an dengan merenungi dan memahami maknanya. Hal ini bisa dilakukan sebagaimana seseorang memahami sebuah buku yaitu dia menghafal dan harus mendapat penjelasan terhadap isi buku tersebut. Ini semua dilakukan untuk memahami apa yang dimaksudkan oleh si penulis buku. [Maka begitu pula yang dapat dilakukan terhadap Al Qur’an, pen]

    Kedua, mendekatkan diri kepada Allah dengan mengerjakan ibadah yang sunnah, setelah mengerjakan ibadah yang wajib. Dengan inilah seseorang akan mencapai tingkat yang lebih mulia yaitu menjadi orang yang mendapatkan kecintaan Allah dan bukan hanya sekedar menjadi seorang pecinta.

    Ketiga, terus-menerus mengingat Allah dalam setiap keadaan, baik dengan hati dan lisan atau dengan amalan dan keadaan dirinya. Ingatlah, kecintaan pada Allah akan diperoleh sekadar dengan keadaan dzikir kepada-Nya.

    Keempat, lebih mendahulukan kecintaan pada Allah daripada kecintaan pada dirinya sendiri ketika dia dikuasai hawa nafsunya. Begitu pula dia selalu ingin meningkatkan kecintaan kepada-Nya, walaupun harus menempuh berbagai kesulitan.

    Kelima, merenungi, memperhatikan dan mengenal kebesaran nama dan sifat Allah. Begitu pula hatinya selalu berusaha memikirkan nama dan sifat Allah tersebut berulang kali. Barangsiapa mengenal Allah dengan benar melalui nama, sifat dan perbuatan-Nya, maka dia pasti mencintai Allah. Oleh karena itu, mu’athilah, fir’auniyah, jahmiyah (yang kesemuanya keliru dalam memahami nama dan sifat Allah), jalan mereka dalam mengenal Allah telah terputus (karena mereka menolak nama dan sifat Allah tersebut).

    Keenam, memperhatikan kebaikan, nikmat dan karunia Allah yang telah Dia berikan kepada kita, baik nikmat lahir maupun batin. Inilah faktor yang mendorong untuk mencintai-Nya.

    Ketujuh, -inilah yang begitu istimewa- yaitu menghadirkan hati secara keseluruhan tatkala melakukan ketaatan kepada Allah dengan merenungkan makna yang terkandung di dalamnya.

    Kedelapan, menyendiri dengan Allah di saat Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir untuk beribadah dan bermunajat kepada-Nya serta membaca kalam-Nya (Al Qur’an). Kemudian mengakhirinya dengan istighfar dan taubat kepada-Nya.

    Kesembilan, duduk bersama orang-orang yang mencintai Allah dan bersama para shidiqin. Kemudian memetik perkataan mereka yang seperti buah yang begitu nikmat. Kemudian dia pun tidaklah mengeluarkan kata-kata kecuali apabila jelas maslahatnya dan diketahui bahwa dengan perkataan tersebut akan menambah kemanfaatan baginya dan juga bagi orang lain.

    Kesepuluh, menjauhi segala sebab yang dapat mengahalangi antara dirinya dan Allah Ta’ala.

    Semoga kita senantiasa mendapatkan kecintaan Allah, itulah yang seharusnya dicari setiap hamba dalam setiap detak jantung dan setiap nafasnya.

    http://toko-muslim.web.id/artikel-215-ketika-cinta-harus-memilih.html#.TpzAQpiJ0mc.facebook

  4. Maksiat: Sebab Segala Urusan Menjadi Sulit

    “… dan di antara dampak maksiat adalah dipersulitnya segala urusan dirinya. Maka, Tidaklah pelaku maksiat melakukan suatu urusan, melainkan dia akan menemui berbagai kesulitan dan jalan buntu dalam menyelesaikannya. Demikianlah yang terjadi. Jika ada orang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan mempermudah urusannya. Begitu pula sebaliknya, jika ada yang mengabaikan takwa, niscaya Allah akan membuat urusannya menjadi sulit.

    Alangkah mrngherankan. Bagaimana mungkin seorang hamba mendapati pintu-pintu kebaikan dan kemaslahatan tertutup serta jalan-jalannya menjadi sulit, tetapi dia tidak mengetahui dari mana asalnya?

    Nasehat Ibnul Qayyim Al-Jauziyah

    “….menundukkan pandangan membuat hati terfokus untuk berpikir mengenai kemaslahatan dan menyibukkan diri dengannya. Sedangkan mengumbar pandangan justru akan melupakan sekaligus menghalangi hal ini . Urusan yang bersangkutan pun kacau balau karenanya. Ia terjatuh dalam kelalaian dari berdzikir kepada Rabb-Nya disebabkan selalu menuruti hawa nafsu.

    Allah ta’ala berfirman,

    وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

    “… Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.”

    (Q.S. Al-Kahfi: 28).

    Mengumbar pandangan menyebabkan terjadinya tiga perkara di atas sesuai dengan tingkatannya.”*
    * Jawaabul Kaafi (Ad-Daa`u wad Dawaa`), Ibnul Qayyim, Darul Kutub Al-Ilmiyah Beirut, hal: hal. 127. B

    “Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, janganlah sekali-kali kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil” (Q.S. Al-Isra`: 23-24).

    Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas (dalam buku Berbakti kepada Kedua Orang Tua) mengurai bentuk-bentuk durhaka kepada kedua orang tua sebagai berikut:

    Menimbulkan gangguan terhadap orang tua baik berupa perkataan (ucapan) ataupun perbuatan yang membuat orang tua sedih dan sakit hati.
    Berkata ‘ah’ dan tidak memenuhi panggilan orang tua.
    Membentak atau menghardik orang tua.
    Bakhil. Tidak mengurusi orang tuanya bahkan lebih mementingkan yang lain dari pada mengurusi orang tuanya padahal orang tuanya sangat membutuhkan. Seandainya memberi nafkah pun, dilakukan dengan penuh perhitungan.
    Bermuka masam dan cemberut dihadapan orang tua, merendahkan orang tua, mengatakan bodoh, ‘kolot’ dan lain-lain.
    Menyuruh orang tua, misalnya menyapu, mencuci atau menyiapkan makanan. Pekerjaan tersebut sangat tidak pantas bagi orang tua, terutama jika mereka sudah tua atau lemah. Akan tetapi, jika ’si Ibu” melakukan pekerjaan tersebut dengan kemauannya sendiri maka tidak mengapa dan karena itu anak harus berterima kasih.
    Menyebut kejelekan orang tua di hadapan orang banyak atau mencemarkan nama baik orang tua.
    Memasukkan kemungkaran ke dalam rumah misalnya alat musik, mengisap rokok, dll.
    Mendahulukan taat kepada istri dari pada orang tua. Bahkan ada sebagian orang dengan teganya mengusir ibunya demi menuruti kemauan istrinya. Na’udzubillah.
    Malu mengakui orang tuanya. Sebagian orang merasa malu dengan keberadaan orang tua dan tempat tinggalnya ketika status sosialnya meningkat. Tidak diragukan lagi, sikap semacam ini adalah sikap yang amat tercela, bahkan termasuk kedurhakaan yang keji dan nista.

    Berbakti kepada Orang Tua dapat Menghapus Dosa Besar

    Dari ‘Atha` bin Yasar dari Ibnu Abbas, “Bahwasanya ada seorang laki-laki menemuinya dan berkata, “Aku melamar seorang wanita dan ia menolak untuk menikah denganku. Lalu datang orang lain melamarnya, ia mau menikah dengannya. Maka, aku pun cemburu dan aku bunuh wanita itu. Apakah aku masih bisa bertaubat?” Ibnu Abbas berkata, “Apakah ibumu masih hidup?” Laki-laki itu berkata, “Tidak”. Ibnu Abbas berkata, “Bertaubatlah engkau kepada Allah dan dekatkanlah dirimu kepada Allah sekuat Engkau”. Lalu, pergilah orang itu dan aku pun (Atha` bin Yasar) bertanya kepada Ibnu Abbas mengapa ia menanyakan apakah ibu orang tersebut masih hidup.” Ibnu Abbas berkata, “Aku tidak mengetahui ada suatu amalan yang lebih dekat kepada Allah daripada berbakti kepada ibu” (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrod )

    http://al-ashree.com/artikel/betapa-mahal-wanita/

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 174 pengikut lainnya.