tempat curhat cinta: www.pacaranislamikenapa.wordpress.com
www.majalah-elfata.com
lahir januari 1988
=====================
Ditegaskan oleh Imam Ats Tsauri Rahimahullah : “Malaikat adalah penjaga-penjaga langit dan Ashabul Hadits adalah penjaga-penjaga dunia.” Ibnu Zura’i juga mengatakan : “Setiap Dien memiliki pasukan berkuda. Maka pasukan berkuda dalam Dien ini adalah Ashabul Asanid (Ashabul Hadits).”
Mereka memang benar. Ashabul Hadits adalah pasukan inti dalam Dien ini. Mereka membela dan menjaga Dien dari penyelewengan, kesesatan dan kedustaan orang-orang munafiqin dan Ahlul Bid’ah. Hampir semua Ashabul Hadits menulis kitab-kitab Ahlus Sunnah serta membantah aqidah dan pemahaman-pemahaman bid’ah yang dan sesat, baik itu fuqaha’ (ahli fikih) mereka, mufassir (ahli tafsir) mereka maupun seluruh ulama-ulama dari kalangan mereka (Ahlul Hadits). Semoga Allah memberi pahala bagi mereka dengan amalan-amalan mereka, dan memberi pahala atas usaha mereka yang sampai hari ini dirasakan manfaatnya oleh kaum Muslimin dengan ilmu-ilmu yang mereka tulis, riwayat-riwayat yang mereka kumpulkan dan hadits-hadits yang mereka periksa.
Akhirnya, marilah kita simak perkataan Imam Syafi’i rahimahullah ini : “Jika aku melihat seseorang dari Ashabul Hadits, maka seakan-akan aku melihat Nabi hidup kembali.” (Syaraf Ashabul Hadits hal. 26)
=======================================
Ar-Rabi` bin Khaitsam berkata: Seluruh perbuatan yang tidak diniatkan mencari
ridha Allah, maka perbuatan itu akan rusak!
======================================
Abu Sulaiman Ad-darani berkata: Beruntunglah bagi orang yang
mengayunkan kaki selangkah, dia tidak mengharapkan kecuali mengharap ridha
Allah!
========================================
Yazid bin Al-Walid berkata, “Wahai Bani Umayyah! Waspadalah kalian dari nyanyian, karena ia bisa mengurangi rasa malu, menghancurkan kepribadian, dan ia adalah pengganti khamar, sehingga membuat orang berbuat seperti orang mabuk, jika engkau terpaksa harus melakukannya maka jauhilah wanita, karena nyanyian mendorong kepada zina.”
==========================================
Muhammad bin Al-Fadhl Al-Azdi berkata, “Suatu kali Al-Huthai’ah bersama seorang puterinya menginap di suatu rumah orang Arab gunung. Ketika malam telah larut, ia mendengar suara nyanyian, maka ia pun berkata kepada pemilik rumah, ‘Hentikan nyanyian itu!’ Pemilik rumah pun terperanjat, ‘Kenapa engkau membenci nyanyian?’ Al-Huthai’ah menjawab, ‘Nyanyian adalah pendorong kepada perbuatan keji, dan aku tidak suka jika puteriku mendengarnya. Hentikan nyanyian itu, jika tidak aku akan keluar dari rumahmu sekarang juga!”
========================================
Suatu kali, Umar bin Abdul Azis menulis kepada guru akhlak dari puteranya, “Hendaknya yang pertama kali mereka yakini dari akhlak (yang engkau ajarkan) yaitu membenci berbagai bentuk nyanyian, yang awalnya adalah dari syetan dan berakhir dengan murka Ar-Rahman (Yang Maha Penyayang). Sungguh telah sampai padaku dari orang-orang ahli ilmu terpercaya bahwa suara alat-alat musik dan mendengarkan nyanyian juga keterpengaruhan dengannya bisa menumbuhkan nifaq di hati sebagaimana rumput tumbuh setelah disirami air.”*
=======================================
Ayyub As-Sikhtiyaani berkata: Seorang hamba tidak dikatakan berlaku jujur jika
ia masih suka popularitas.
Yahya bin Muadz berkata: Tidak akan beruntung orang yang memiliki sifat gila kedudukan.
Abu Utsman Sa`id bin Al-Haddad berkata:
Tidak ada perkara yang memalingkan seseorang dari Allah melebihi gila pujian
dan gila sanjungan.
===================================
Ar-Rabi` bin Shabih menuturkan: Suatu ketika, kami hadir dalam
majelis Al-Hasan Al-Bashri, kala itu beliau tengah memberi wejangan. Tiba-tiba
salah seorang hadirin menangis tersedu-sedu. Al-Hasan berkata kepadanya: Demi
Allah, pada Hari Kiamat Allah akan menanyakan apa tujuan anda menangis pada
saat ini!
=======================================
`Aisyah berkata: Beruntunglah bagi orang yang buku catatan amalnya banyak
diisi dengan istighfar. Al-Hasan Al-Bashri pernah berpesan: Perbanyaklah
istighfar di rumah kalian, di depan hidangan kalian, di jalan, di pasar dan
dalam majelis-majelis kalian dan dimana saja kalian berada! Karena kalian
tidak tahu kapan turunnya ampunan!
=====================================
Ketika membaca firman Allah: Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu (QS. Al-
Ahzab : 33) `Aisyah menangis tersedu-sedu hingga basahlah pakaiannya.
Demikian pula Ibnu Umar , ketika membaca ayat yang artinya: Belumkah datang
waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat
Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka). (QS. Al-Hadid :
16) Beliau menangis hingga tiada kuasa menahan tangisnya.
Ketika beliau membaca surat Al-Muthaffifin setelah sampai pada ayat yang
artinya: Pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri
menghadap Rabb semesta alam. (QS. Al-Muthaffifiin : 5-6) Beliau menangis dan
bertambah keras tangis beliau sehingga tidak mampu meneruskan bacaannya.
====================================
Pernah disebut-sebut tentang tawadhu` di hadapan Al-Hasan Al-Bashri, namun
beliau diam saja. Ketika orang-orang mendesaknya berbicara ia berkata kepada
mereka: saya lihat kalian banyak bercerita tentang tawadhu`! Mereka berkata:
Apa itu tawadhu` wahai Abu Sa`id? Beliau menjawab: Yaitu setiap kali ia keluar
rumah dan bertemu seorang muslim ia selalu menyangka bahwa orang itu lebih
baik daripada dirinya.
============================
Ibnul Mubarak pernah ditanya tentang sebuah masalah di hadapan Sufyan bin
Uyainah, ia berkata: Kami dilarang berbicara di hadapan orang-orang yang lebih
senior dari kami.
Al-Fudhail bin Iyadh pernah ditanya: Apa itu tawadhu`? Ia menjawab: Yaitu
engkau tunduk kepada kebenaran!
Mutharrif bin Abdillah berkata: Tidak ada seorangpun yang memujiku kecuali
diriku merasa semakin kecil.
===============================
Pada suatu malam yang gelap Umar bin Abdul Aziz memasuki masjid. Ia melewati
seorang lelaki yang tengah tidur nyenyak. Lelaki itu terbangun dan berkata:
Apakah engkau gila! Umar menjawab: Tidak Namun para pengawal berusaha
meringkus lelaki itu. Namun Umar bin Abdul Aziz mencegah mereka seraya
berkata: Dia hanya bertanya: Apakah engkau gila! dan saya jawab: Tidak.
Seorang lelaki melapor kepada Wahab bin Munabbih: Sesungguhnya Fulan telah
mencaci engkau! Ia menjawab: Kelihatannya setan tidak menemukan kurir selain
engkau!
===================================
Yusuf bin Asbath pernah mendengar Sufyan Ats-Tsauri berkata: Aku tidak pernah
melihat kezuhudan yang lebih sulit daripada kezuhudan terhadap kekuasaan. Kita
banyak menemui orang-orang yang zuhud dalam masalah makanan, minuman, harta
dan pakaian. Namun ketika diberikan kekuasaan kepadanya maka iapun akan
mempertahankan dan berani bermusuhan demi membelanya.
Imam Ahmad pernah ditanya tentang seorang lelaki yang memiliki seribu dinar
apakah termasuk zuhud? Beliau menjawab: Bisa saja, asalkan ia tidak terlalu
gembira bila bertambah dan tidak terlalu bersedih jika berkurang.
===================================
Ibnul Qayyim berkata :
“Sesungguhnya yang mendapatkan kesulitan dalam meninggalkan maksiat yang disukainya dan yang sering dilakukannya adalah seseorang yang meninggalkannya bukan karena Allah. Adapun seseorang yang meninggalkan hal tersebut dengan jujur, ikhlas dari hatinya karena Allah, ia hanya merasakan kesulitan di awal kali ia meninggalkannya. Ini semua untuk mengujinya, apakah ia jujur dalam meninggalkannya ataukah hanya berdusta, jika ia sabar dalam menghadapi kesulitan ini sebentar saja, ia akan memperoleh kelezatannya”. (Al-Fawaid : 99)
===========================
Salah seorang murid Imam Ahmad bernama Abu Thalib mengatakan: “Saya mendengar Imam Ahmad ditanya tentang sebuah kaum yang meninggalkan hadits dan cenderung kepada pendapat Sufyan (salah seorang ulama kala itu).” Maka Imam Ahmad berkata: “Saya meresa heran terhadap sebuah kaum yang tahu hadits dan tahu sanad hadits serta keshahihannya lalu meninggalkannya, lantas pergi kepada pendapat Sufyan dan yang lainnya padahal Allah berfirman: “Maka hendaklah berhati-hati orang yang menyelisihi perintah Rasul-Nya untuk tertimpa fitnah atau tertimpa adzab yang pedih.” (An-Nur: 63). Tahukah kalian apa arti fitnah? Fitnah adalah kufur. Allah berfirman . “Dan fitnah itu lebih besar daripada pembunuhan.” (Fathul Majid: 466)
=============================================
Abdurrahman bin Harmalah mengisahkan, seseorang datang kepada Said bin Al Musayyib mengucapkan salam perpisahan untuk haji atau umrah, lalu Said mengatakan kepadanya: “Jangan kamu pergi hingga kamu shalat dulu karena Rasulullah bersabda: ‘Tidaklah ada yang keluar dari masjid setelah adzan kecuali seorang munafik, kecuali seorang yang terdorong keluar karena kebutuhannya dan ingin kembali ke masjid.’ Kemudian orang itu menjawab: “Sesungguhnya teman-temanku berada di Harrah,” lalu keluarlah dia dari masjid, maka Said terus terbayang-bayang mengingatnya sampai beliau dikabari bahwa orang tersebut jatuh dari kendaraannya dan patah pahanya. (Sunan Ad Darimi 1/119, Ta’dhimus Sunnah hal. 31, Miftahul Jannah hal.134)
==============================================
Abu Abdillah Muhammad bin Ismail At Taimi mengatakan, dirinya membaca pada sebagian kisah-kisah bahwa sebagian ahlul bid’ah ketika mendengar sabda Nabi:
“Jika salah seorang dari kalian bangun dari tidurnya maka janganlah ia celupkan tangannya ke bejana sebelum mencucinya terlebih dahulu karena sesungguhnya ia tidak tahu di mana tangannya barmalam.” (Shahih, HR Al Bukhari dan Muslim)
Maka ahlul bid’ah tersebut mengatakan dengan nada mengejek: “Saya tahu di mana tanganku bermalam, tanganku bermalam di kasur.” Lalu paginya dia bangun dari tidurnya dalam keadaan tangannya sudah masuk ke dalam duburnya sampai ke lengannya.
At Taimy lalu berkata: “Maka berhati-hatilah seseorang untuk menganggap remeh Sunnah dan sesuatu yang bersifat mengikut perintah agama. Lihatlah bagaimana akibat jeleknya menyampaikan kepadanya.”
=============================================
Al Qadhi Abu Tayyib menceritakan kejadian yang ia alami, katanya: “Kami berada di sebuah majlis kajian di masjid Al Manshur. Datanglah seorang pemuda dari daerah Khurasan, ia bertanya tentang masalah musharat lalu dia minta dalilnya sehingga disebutkan dalilnya dari hadits Abu Hurairah yang menjelaskan masalah itu. Dia -orang itu bermadzhab Hanafi – mengatakan: ‘Abu Hurairah tidak bisa diterima haditsnya…’ Maka belum sampai ia tuntaskan ucapannya tiba-tiba jatuh seekor ular besar dari atap masjid sehingga orang-orang loncat karenanya dan pemuda itu lari darinya. Ular itupun terus mengikutinya. Ada orang mengatakan: ‘Taubatlah engkau! Taubatlah engkau!’ Kemudian dia mengatakan ‘Saya bertaubat.’ Maka pergilah ular itu dan tidak terlihat lagi bekasnya.” Adz Dzahabi berkata bahwa sanad kisah ini adalah para imam.
============================================
Berkata Abu Ja’far Muhammad bin Ali, pencatat Abu Zur’ah : “Kami mendatangi Abu Zur’ah di Ma’ Syahran (sebuah nama tempat) saat dia menghadapi sakratul maut, sementara disisinya terdapat Abu Hatim, Ibnu Warih dan Munzir bin Syazan serta yang lainnya. Lalu mereka menyebut-nyebut hadits tentang talqin :
“Talqinlah (tuntunlan) orang yang sedang menghadapi kematiannya dengan bacaan Laa ilaaha illallah “
Akan tetapi mereka agak sungkan untuk mentalqinkan Abu Zur’ah. Akhirnya mereka sepakat untuk meriwayatkan hadits tersebut. Maka berkatalah Ibnu Warih: “ telah meriwayatkan kepada kami Abu ‘Ashim, dari Abdul Hamid bin Ja’far dari Shalih…. dan tatkala menyebut Ibnu Abi….., dia tidak dapat meneruskannya-, maka berkatalah Abu Hatim: “telah meriwayatkan kepada kami Bundaar dari Abu ‘Ashim dari Abdul Hamid bin Ja’far dari Shalih, kemudian dia tidak dapat meneruskannya juga, sementara yang lainnya terdiam saja, maka berkatalah Abu Zur’ah yang sedang dalam sakaratul maut seraya membuka matanya, : Telah meriwayatkan kepada kami Bundaar, dari Abu ‘Ashim, dari Abdul Hamid, dari Shalih Ibnu Abi Uraib dari Katsir bin Murroh dari Mu’az bin Jabal dia berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Siapa yang akhir perkataannya La ilaaha illallah, maka dia akan masuk syurga” setelah itu ruhnya keluar dari dirinya. Semoga Allah merahmatinya
=====================================
‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu juga mengatakan: “Barangsiapa di antara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya mereka adalah ummat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, dan paling lurus petunjuknya, serta paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya, karena mereka berada di jalan yang lurus.” [Dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Baar dalam kitabnya Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih II/947 no. 1810, tahqiq Abul Asybal Samir az-Zuhairy]
======================================
Imam al-Auza’i rahimahullah (wafat th. 157 H) mengatakan: “Bersabarlah dirimu di atas Sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para Shahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan Salafush Shalih, karena akan mencukupi kamu apa saja yang mencukupi mereka.” [Syarh Ushul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah 1/174 no. 315]
Beliau rahimahullah juga berkata: “Hendaklah kamu berpegang kepada atsar Salafush Shalih meskipun orang-orang menolaknya dan jauhkanlah diri kamu dari pendapat orang meskipun ia hiasi pendapatnya dengan perkataannya yang indah.” [Imam al-Aajury dalam as-Syari’ah I/445 no. 127, di-shahih-kan oleh al-Albany dalam Mukhtashar al-‘Uluw lil Imam adz-Dzahaby hal. 138, Siyar A’laam an-Nubalaa’ VII/120]
========================================
Muhammad bin Sirin rahimahullah (wafat th. 110 H) berkata: “Mereka mengatakan: ‘Jika ada seseorang berada di atas atsar (sunnah), maka sesungguhnya ia berada di atas jalan yang lurus.” [HR. Ad-Darimy I/54, Ibnu Baththah dalam al-Ibanah ‘an Syari’atil Firqatin Najiyah I/356 no. 242. Syarah Ushul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah oleh al-Laalikaa-iy I/98 no. 109]
========================================
Imam Ahmad rahimahullah (wafat th. 241 H) berkata: “Prinsip Ahlus Sunnah adalah berpegang dengan apa yang dilaksanakan oleh para Shahabat ridhwanullahi ‘alaihim ajma’in dan mengikuti jejak mereka, meninggalkan bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” [Syarah Ushul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah oleh al-Laalikaa-iy I/175-185 no. 317]
========================================
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu: “Sesungguhnya Allah melihat hati hamba-hamba-Nya dan Allah mendapati hati Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebaik-baik hati manusia, maka Allah pilih Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai utusan-Nya. Allah memberikan risalah kepadanya, kemudian Allah melihat dari seluruh hati hamba-hamba-Nya setelah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka didapati bahwa hati para Shahabat merupakan hati yang paling baik sesudahnya, maka Allah jadikan mereka sebagai pendamping Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mereka berperang atas agama-Nya. Apa yang dipandang kaum Muslimin (para Shahabat Rasul) itu baik, maka itu baik pula di sisi Allah dan apa yang mereka (para Shahabat Rasul) pandang jelek, maka jelek di sisi Allah” [HR. Ahmad (I/379), dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir (no. 3600). Lihat Majma’-uz Zawaa-id (I/177-178)]
============================================
“Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari ahlul Kitab telah berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan sesungguhnya agama ini (Islam) akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, tujuh puluh dua golongan tempatnya di dalam Neraka dan satu golongan di dalam Surga, yaitu al-Jama’ah.” [HR. Abu Dawud (no. 4597), Ahmad (IV/102), al-Hakim (I/128), ad-Darimy (II/241), al-Aajury dalam asy-Asyari’ah, al-Laalikaa-iy dalam as-Sunnah (I/113 no.150). Dishahihkan oleh al-Hakim dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi dari Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan hadits ini shahih masyhur. Di-shahih-kan oleh Syaikh al-Albany. Lihat Silsilatul Ahaadits Shahihah (no. 203 dan 204)]
==========================================
Khalifah berkata, “Wahai Abu Hazim, mengapa kita membenci kematian?!”
“(Itu) karena kita telah memakmurkan dunia kita dan menghancurkan akhirat kita, sehingga kita benci untuk keluar dari kemakmuran menuju kehancuran”, jawabnya.
“Engkau benar”, kata khalifah…kemudian beliau menyambung perkataannya, “Wahai Abu Hazim –seandainya aku tahu- apakah yang akan kita dapatkan di sisi Allah di hari esok (kiamat)?”
Abu Hazim menjawab, “Paparkanlah amalan engkau kepada Kitab Allah AWJ, niscaya engkau akan menemukan jawabannya.”
“Dimanakah aku bisa menemukannya dalam Kitab Allah ta’ala?” tanya khalifah.
Abu Hazim menjawab, “Engkau bisa menemukannya dalam firman-Nya yang maha tinggi, “Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan. Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka” (Surat al-Infithaar: 13-14).
“Kalau demikian, dimanakah rahmat Allah?” tanya khalifah lagi.
Abu Hazim menjawab, “Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat kebajikan”( Surat al-A’raf: 56).
Khalifah berkata, “Seandainya aku tahu, bagaimanakah kita besok akan menghadap Allah AWJ?.”
Abu Hazim menjawab, “Adapun orang yang berbuat baik, ia bagaikan orang yang pulang dari bepergian jauh mendatangi keluarganya (dipenuhi kerinduan untuk berjumpa, penj.)…Adapun orang yang berbuat jahat, Ia bagaikan budak yang kabur yang diseret menghadap tuannya dengan paksa (sehingga ia merasa ketakutan).”
Serta merta khalifah menangis, suara tangisannya meninggi dan bertambah keras. Kemudian beliau berkata, “Wahai Abu Hazim, bagaimana (caranya) agar kita menjadi baik?.”
“Tinggalkan takabbur dan berhiaslah dengan maruah (sopan santun)”, jawabnya.
Khalifah berkata lagi, “Adapun dengan harta ini, bagaimana jalan menuju takwa kepada Allah padanya?.”
Abu Hazim menjawab, “(Yaitu) apabila engkau mengambilnya dengan cara yang haq…menyerahkannya kepada yang berhak…engkau bagi secara merata dan engkau berbuat adil di antara rakyatmu.”
Khalifah berkata, “Wahai Abu Hazim, beritahukan kepadaku siapakah manusia yang paling mulia?.”
“Mereka adalah orang yang memiliki maruah dan ketakwaan” jawabnya.
Khalifah berkata, “Wahai Abu Hazim, perkataan apakah yang paling adil?”
“Yaitu kalimatul haq yang diucapkan oleh seseorang dihadapan orang yang ia takuti (keburukannya) dan dihadapan orang yang ia harapkan (kebaikannya)” jawabnya.
Khalifah bertanya, “Doa apakah yang paling cepat dikabulkan wahai Abu Hazim?”
“Yaitu doa orang baik untuk orang-orang baik” jawabnya.
Khalifah berkata, “Shadaqah apakah yang paling utama?.”
Ia menjawab, “(Yaitu) hasil kerja keras orang yang memiliki sedikit harta yang ia letakkan (shadaqahkan) pada tangan orang yang fakir miskin tanpa diiringi dengan mengungkit-ungkitnya dan menyakiti (perasaannya).”
Khalifah bertanya, “Siapakah orang yang paling cerdik dan berakal, wahai Abu Hazim?.”
“Yaitu seseorang yang mendapatkan (amal) berupa ketaatan kepada Allah ta’ala sehingga ia mengamalkanya, kemudian ia membimbing manusia kepadanya”, jawabnya.
“Dan siapakah orang yang paling tolol?” tanya khalifah lagi.
“Yaitu seseorang yang tunduk bersama hawa nafsu temannya sedangkan temannya adalah orang zalim, sehingga ia menjual akhiratnya dengan dunia orang lain” jawabnya.
Khalifah berkata, “Maukah kamu menemani kami –wahai Abu Hazim- sehingga kamu bisa mengambil (upah) dari kami dan kami bisa mengambil (nasehat) darimu.”
Ia menjawab, “Tidak, wahai Amirul Mukminin.”
“Mengapa?” tanya khalifah.
Ia manjawab, “Saya khawatirkan akan sedikit menyandarkan diri kepadamu, sehingga Allah akan menimpakan kepayahan dunia dan adzab akhirat kepadaku.”
Khalifah berkata, “Sampaikan hajatmu kepada kami wahai Abu Hazim.”
Ia terdiam dan tidak menjawab.
Khalifah lantas mengulang perkataannya “Sampaikan hajatmu kepada kami wahai Abu Hazim, niscaya kami akan menunaikannya untukmu, seberapa pun besarnya.”
Ia menjawab, “Hajatku adalah agar engkau menyelamatkan saya dari neraka dan memasukkan saya ke dalam surga.”
“Itu bukan wewenangku wahai Abu Hazim” kata khalifah.
Abu Hazim berkata, “Saya tidak memiliki hajat selain itu wahai Amirul Mukminin.”
Maka khalifah berkata, “Doakanlah aku wahai Abu Hazim.”
Ia pun berdoa, “Ya Allah, apabila hambamu Sulaiman termasuk wali-waliMu, maka permudahkanlah ia untuk (mengerjakan) kebaikan dunia dan akhirat…Namun, apabila ia termasuk musuh-musuhMu, maka perbaikilah ia dan tunjukilah ia kepada apa yang Engkau cintai dan ridlai.”
Maka, seseorang dikalangan para hadirin ada yang berkata, “Alangkah buruknya apa yang kamu katakan sejak kamu masuk menemui Amirul Mukminin…Kamu telah menjadikan khalifah muslimin termasuk musuh-musuh Allah dan kamu telah menyakitinya.”
Abu Hazim berkata, “Bahkan, alangkah buruknya apa yang kamu katakan, sungguh Allah telah mengambil janji dari para ulama agar mereka selalu mengatakan kalimatul haq, Allah berfirman, “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia dan jangan kamu menyembunyikannya.” (Surat Ali Imran: 187)
=====================================================
“Tidaklah di dunia ini ada orang yang lebih menderita dari pecinta
meski ia mendapatkan cinta itu manis rasanya.
Engkau lihat ia selalu menangis pada setiap keadaan, karena takut berpisah atau karena rindu dendam.
Ia menangis jika mereka jauh, sebab didera kerinduan.
Ia menangis pula saat berdekatan, sebab takut perpisahan.
Air matanya mengalir saat bertemu.
Air matanya mengalir saat berpisah.”
===========================================
Ibnu Syuja’ Al-Kirman berkata, “Siapa yang memakmurkan lahiriahnya dengan mengikuti Sunnah, memakmurkan batiniah-nya dengan muraqabah (penjagaan kepada Allah), menahan nafsunya dari syahwat dan menahan pandangannya dari apa yang diharamkan, serta ia membiasakan diri makan yang halal, niscaya firasatnya tidak akan salah.”
===========================================
Disebutkan apa yang dilakukan oleh sebagian ahli ilmu di negeri Afrika, “Bahwasanya di pinggir negeri itu terdapat mata air yang disebut dengan mata air penyembuhan. Orang-orang awam terkena fitnah olehnya, sehingga mereka berduyun-duyun dari berbagai negeri mendatanginya. Orang yang belum menikah, belum mempunyai anak akan dikatakan padanya, ‘Ikutlah aku ke mata air penyembuhan.’ Dari sini Al-Hafizh Abu Muhammad mengetahui bahwa di dalamnya ada fitnah. Maka beliau keluar di pagi buta dan melenyapkannya, lalu beliau adzan subuh di atasnya, selanjutnya berkata, ‘Sesungguhnya aku melenyapkan ini karena-Mu, karena itu janganlah Engkau jadikan ada orang yang masih memuliakannya’.” Dan memang setelah itu tidak ada lagi orang yang memuliakannya hingga sekarang.
===============================================
==================================================
Alkisah suatu saat Ismail Al-Qadhi masuk kepada khalifah Abbasiyyah waktu itu, lalu disuguhkan padanya sebuah kitab yang berisi tentang keringanan dan ketergelinciran para ulama. Setelah membacanya dia berkomentar : “Penulis buku ini adalah zindiq, sebab orang yang membolehkan minuman memabukkan tidaklah membolehkan nikah mut’ah, dan orang yang membolehkan nikah mut’ah tidaklah membolehkan nyanyian, tidak ada seorang alim pun kecuali memiliki ketergelinciran. Barangsiapa memungut semua kesalahan ulama niscaya akan hilang agamanya”. Akhirnya, buku itu diperintahkan supaya dibakar. [Siyar A’lam Nubala 13/465,Adz-Dzahabi]
==============================================
Diceritakan ada lelaki yang sangat durhaka kepada sang ayah sampai tega menyeret ayahnya ke pintu depan untuk mengusirnya dari rumah. Sang lelaki ini dikarunia anak yang lebih durhaka darinya. Anak itu menyeret bapaknya sampai kejalanan untuk mengusirnya dari rumahnya. Maka sang lelaki berkata : “Cukup… Dulu aku hanya menyeret ayahku sampai pintu depan”. Anak dari lelaki itu menimpali : “Itulah balasanmu. Adapun tambahan ini sebagai sedekah dariku!”.
=====================================
Dzaadzan berkata :
“Saya adalah seorang pemuda yang bersuara merdu, pandai memukul gendang, ketika saya bersama teman-teman sedang minum minuman keras, lewatlah Ibnu Mas’ud, maka ia pun memasuki (tempat kami), kemudian ia pukul tempat (yang berisikan minuman keras) dan membuangnya, dan ia pecahkan gendang (kami), lalu ia (Ibnu Mas’ud) berkata : “Kalaulah yang terdengar dari suaramu yang bagus adalah Al-Qur’an maka engkau adalah engkau… engkau”.
Setelah itu pergilah Ibnu Mas’ud. Maka aku bertanya kepada temanku : “Siapa orang ini ?” mereka berkata : “Ini adalah Abdullah bin Mas’ud (sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam)”.
Maka dengan kejadian itu (dimasukkan) dalam jiwaku perasaan taubat. Setelah itu aku berusaha mengejar Abdullah bin Mas’ud sambil menangis, (setelah mendapatinya) aku tarik baju Abdullah bin Mas’ud.
Maka Ibnu Mas’ud pun menghadap kearahku dan memelukku menangis. Dan ia berkata : “Marhaban (selamat datang) orang yang Allah mencintainya”. Duduklah! lalu Ibnu Mas’ud pun masuk dan menghidangkan kurma untukku [Siyar ‘Alamun Nubala 4/28]
=====================================================
Adalah Al-Hasan Al-Basri duduk dalam majelisnya dimana setiap hari ia mengadakan majelis ditempat itu. Adapun Habib Al-Ajami duduk dalam majelisnya dimana ahli dunia dan perdagangan mendatanginya. Dan ia lalai dengan menjelis Al-Hasan Al-Basri, dan tidak menoleh sedikitpun dengan apa yang disampaikan oleh Al-Hasan Al-Basri. Hingga suatu hari ia ingin mengetahui apa yang disampaikan Al-Hasan Al-Basri, maka dikatakan kepadanya : “Dalam majelis Al-Hasan Al-Basri diceritakan tentang surga, neraka dan manusia diberi semangat untuk mendapatkan akhirat, dan ditanamkan sikap zuhud terhadap dunia (memfokuskan segala karunia Allah untuk akhirat). Maka perkataan ini menancap dalah hatinya, lalu ia pun berkata : “Mari kita mendatangi majelis Al-Hasan Al-Basri!”, maka berkatalah orang-orang yang duduk dalam majelis kepada Al-Hasan Al-Basri : “Wahai Abu Said ini adalah Habih Al-Ajami menghadap kepadamu nasehatilah ia. Lalu Habib Al-Ajami menghadap Hasan Al-Basri dan Hasan Al-Basri menghadap kepadanya, lalu ia nasehati Habib Al-Ajami, ia ingatkan dengan syurga, ia takut-takuti dengan neraka, ia hasung untuk melakukan kebaikan, ia ingatkan untuk berlaku zuhud di dunia. Maka Habib Al-Ajami pun terpengaruh dengan nasehat itu, lalu bersedekah 40 ribu dinar. Dan iapun berlaku qona’ah (menerima) dengan hal sedikit, dan ia terus beribadah kepada Allah hingga meninggal dunia” [Hilyatul Aulia 6/149 dengan sedikit perubahan, dan lihat Siyar ‘Alamun Nubala 6/144]
==============================================
Abu Nu’aim mengutip dalam kitab “Al-Hilyah” dengan sanadnya kepada Ibrahim bin Sulaiman Az-Zayyat, dimana ia berkata :
“Adalah kami berada disisi Sufyan Ats-Tsauri, lalu datanglah seorang wanita dan mengeluhkan anak laki-lakinya, wanita itu berkata : “Wahai Abu Abdullah saya mendatangimu agar engkau menasehatinya? Maka Sufyan Ats-Tsauri berkata : Ya, datangkan anakmu itu”. Kemudian perempuan itu datang bersama anaknya, maka Sufyan Ats-Tsauri pun menasehati anak itu, setelah selesai berpalinglah anak itu pergi. Maka kembalillah wanita tadi sesudah beberapa waktu dan berkata : “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan wahai Abu Abdullah (Sufyan Ats-Tsauri)”, dan ia pun menceritakan perilaku anaknya yang ia sukai setelah mendapat nasehat Sufyan Ats-Tsauri.
Setelah beberapa lama, datanglah kembali wanita itu dan berkata : “Wahai Abu Abdullah, annakku tidak pernah tidur dimalam hari, dan pada siang hari ia berpuasa, tidak makan dan tidak pula minum. Maka berkatalah Sufyan Ats-Tsauri : “Celaka anda, mengapa ia berbuat demikian ?” Wanita itu menjawab : “Untuk mencari hadits”. Maka Sufyan Ats-Tsauri berkata : “Harapkanlah dirimu darinya pahala dari sisi Allah” [Hilyatul Aulia 4/65,66]
Sufyan Ats-Tsauri adalah salah seorang ulama terkemuka, dan seorang yang banyak menyuruh kebaikan, tidaklah ia takut celaan orang yang suka mencela dijalan Allah, hingga berkata salah seorang diantara mereka ; “Adalah saya keluar bersama Sufyan Ats-Tsauri, maka hampir-hampir lisannya tidak putus dari menyuruh kebaikan dan melarang dari kemungkaran baik ketika pergi atau pulang” [Hilayatul Aulia]
=======================================================
Ada sebuah kisah menarik tentang kematian Imam ash-Shan’ani (w 1182H), yaitu beliau tertimpa sakit perut (mencret) yang menguras isi perut beliau .Keluarga beliau mencarikan obat tetapi tidak berguna sedikitpun.
Kemudian dibawakan 2 buah buku kepada beliau, yaitu Al-Insan Al Kamil karya Al Jili, dan al-Madhnun Bihi ‘Ala Ahlihi karya Al-Ghazali, yang beliau pernah berkomentar : “Aku tidak menganggapnya sebagai karya beliau. Buku ini hanyalah dinisbatkan secara dusta.” Kemudian imam Ash-Shan’ani berkata : “Kemudian aku menelaah buku tersebut, maka aku temukan buku tersebut berisi kekufuran yang nyata, maka aku perintahkan supaya kedua buku itu dibakar dengan api dan apinya digunakan untuk membuat roti untukku.” Kemudian beliau makan roti dengan niat sebagai obat,setelah itu beliau tidaklah merasa sakit.
==================================================
Pada biografi Abu Kuraib Muhammad bin Al ‘Ala Al Hamdani (w.248) ,Muthayan berkata :”Abu Kuraib berwasiat agar buku-buku karyanya dipendam, maka dilaksanakan wasiat beliau.”
Kemudian Adz-Dzahabi didalam Siyar 11/397 memberikan komentar : “Beberapa ahli hadits telah mewasiatkan agar buku-bukunya dipendam, dibakar, atau dicuci (dilunturkan tintanya), karena takut buku tersebut dipegang oleh muhaddits yang kurang agamanya, kemudian ia akan merubah-rubah dan menambahinya, kemudian hal itu dinisbatkan kepada Al-Hafidz (ahli hadits pemilik kitab). Atau didalam kitab itu terdapat riwayat yang putus atau lemah yang tidak pernah ia ceritakan, sedangkan yang telah ia riwayatkan adalah hal-hal yang telah dipilih. Maka ia pada akhirnya membenci hasil tulisannya, dan tidak ada jalan lain kecuali harus dimusnahkan.Karena hal ini dan lainnya ia memendam buku-bukunya.”
Syaikh Masyhur berkata : “Buku-buku yang penuh dengan racun kalajengking dan ular (yang berisi kejelakan dan kemungkaran) lebih layak untuk dipendam, dimusnahkan dan dibakar.
==============================================
Seseorang dari Afrika berkata : “Ada seorang syaikh, di antara syaikh Thariqah Sufi. Setiap selesai melakukan shalat, dia mengangkat tangannya dan mendo’akan kecelakaan untuk Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Dia memohon kepada Allah, agar Allah menimpakan kerburukan kepadanya …dan seterusnya”. Do’a yang menjadikan bergidik hati orang-orang yang bertauhid.
Seorang Afrika tadi berkata : “Suatu kali aku mendatanginya, aku membawa kitab tauhid, tetapi aku melepaskan sampulnya dan aku buang judulnya. Aku menemuinya, duduk bersamanya, dan mulai mengobrol. Dia (syaikh Sufi) berkata kepadaku : ‘Kitab apa ini ?’. Aku jawab : ‘Kitab yang berisi ayat dan hadits, ditulis oleh seorang ulama’. Dia berkata : ‘Bolehkah aku membacanya?’. Maka seolah-olah aku berharap agar dia tambah meminta dan penasaran. Aku lalu memberikannya, dan berkata : “Tetapi aku ingin engkau meringkaskan kitab ini untukku, karena aku tidaklah seperti anda, seorang alim yang agung, sehingga aku mendapatkan manfaat”.
Maka besoknya dia kembali, lalu syaikh itu mengatakan : “Kitab ini sangat bagus, kitab ini menjelaskan berdasarkan ayat dan hadits, bahwa kita berada di atas kesesatan, kebodohan, dan penyimpangan. Didalamnya hanya ada firman Allah dan sabda Rasul. Siapakah yang menyusunnya ?” Dia menjawab : “Inilah penyusunnya, orang yang selalu engkau do’akan kecelakaan pada waktu malam dan siang”. Maka syaikh itu bertaubat kepada Allah saat itu juga. Dahulu dia selalu mendo’akan kecelakaan untuknya, kemudian dia lalu mendo’akan kebaikan untuknya. Inilah Imam Muhammad bin Abdul Wahhab.
======================================================
Ibnu Abil ‘Izz rahimahullah berkata: “Ketinggian Allah di samping ditetapkan melalui Al-Qur’an dan As-Sunnah ditetapkan pula melalui akal dan fitrah. Adapun tetapnya ketinggian Allah melalui akal dapat ditunjukkan dari sifat kesempurnaan-Nya. Sedangkan tetapnya ketinggian Allah secara fitrah, maka perhatikanlah setiap orang yang berdo’a kepada Allah Azza wa Jalla pastilah hatinya mengarah ke atas dan kedua tangannya menengadah, bahkan barangkali pandangannya tertuju ke arah yang tinggi. Perkara ini terjadi pada siapa saja, yang besar maupun yang kecil, orang yang berilmu maupun orang yang bodoh, sampai-sampai di dalam sujud pun seseorang mendapat kecenderungan hatinya ke arah itu. Tidak seorang pun dapat memungkiri hal ini, dengan mengatakan bahwa hatinya itu berpaling ke arah kiri dan kanan atau ke bawah.”
Ini adalah penjelasan bahwa allah berada di atas langit, dan bantahan bagi yang menganggap allah ada dimana-mana, atau yang menganggap Allah tidak bertempat.
=======================================================
Anas bin Malik meriwayatkan dari Aisyah Radhiallaahu anha, bahwa ada seorang miskin meminta-minta kepadanya padahal dia sedang berpuasa, sementara di rumahnya tidak ada makanan selain sekerat roti kering, berkata Aisyah kepada pembantunya, “Berikan roti itu kepadanya,” si pembantu menyahut, “Anda nanti tidak memiliki apa-apa untuk berbuka puasa. Maka beliau berkata lagi, “Berikan roti itu kepadanya.” Perawi mengatakan, “Maka pembantu itu melakukannya, dan dia berkata, “Belum menjelang sore ada salah satu dari keluarga Nabi, atau seseorang yang pernah memberi hadiah mengantarkan daging kambing (masak) yang telah ia bungkus. Maka beliau memanggilku dan berkata, “Makanlah engkau, ini lebih baik daripada rotimu tadi.”
(HR Malik dalam al Muwaththa’ 2/997)
=========================================================
Al-Haitsam bin Jamil meriwayatkan bahwa Fudhail bin Marzuq datang kepada al Hasan bin Huyaiy karena ada kebutuhan yang sangat mendesak, sedangkan dia tidak punya apa-apa. Maka al Hasan memberikan enam dirham dan dia memberitahukan, bahwa ia tidak memiliki selain itu. Maka Fudhail berkata, “Subhanallah, Saya mengambil semuanya sedangkan engkau tidak punya yang lain?” Namun al Hasan enggan mengambil semuanya, dan Fudhail juga enggan. Akhirnya dinar itu dibagi dua, dia ambil tiga dinar dan dia tinggalkan tiga dinar.(Tahdzib al Kamal 23/308)
1 dinar sama dengan kira-kira 4,25 gram emas murni, sekitar 500ribu rupiah
1 dirham sama dengan kira-kira 3,3 gram perak, sekitar 10ribu rupiah
=========================================================
Diriwayatkan dari Yahya bin Hilal al Warraq dia berkata,”Saya datang kepada Muhammad bin Abdullah bin Numair untuk mengadukan sesuatu kepadanya, maka dia mengeluarkan empat atau lima dirham seraya berkata, “Ini separuh harta yang ku miliki. Dan dalam kesempatan lain aku mendatangi Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal, dia mengeluarkan empat dirham dan berkata, “Ini keseluruhan yang aku miliki.” (riwayat Ibnul Jauzi dalam Manaqib Imam Ahmad hal 320)
=========================================================
Dari Aun bin Abdullah dia berkata, “Seseorang yang sedang berpuasa berteduh, ketika menjelang berbuka seorang pengemis datang kepadanya, ketika itu dia memiliki dua potong kue. Maka salah satunya diberikan kepada si pengemis, namun sejenak ia berkata, “Sepotong tidaklah membuatnya kenyang, dan sepotong lagi tidak membuatku kenyang, maka kenyang salah satu lebih baik daripada kedua-duanya lapar.” Akhirnya ia berikan yang sepotong lagi kepada si pengemis. Kemudian ketika tidur dia bermimpi didatangi seseorang dan berkata, “Min-talah apa saja yang kau kehendaki.” Dia menjawab, “Aku minta ampunan. Orang tersebut berkata, “Allah telah melakukan itu untukmu, mintalah yang lain lagi!” Dia berkata, “Aku memohon agar orang-orang mendapatkan pertolongan.” (riwayat ad Dainuri dalam al Mujalasah 3/47)
=========================================================
Imam Syafi’i rahimahullah pernah ditanya, “Bagaimana hasrat tuan terhadap ilmu?”Beliau manjawab, “Saya seperti mendengar kata-kata yang tidak pernah saya dengar. Saya bahkan ingin agar saya punya banyak pendengaran, supaya bisa menikmati seperti yang dinikmati oleh kedua telinga saya”. “Bagaimana kerakusan anda terhadap ilmu?” Beliau menjawab,“Seperti rakusnya pencari harta yang mencapai puncak kenikmatan karena hartanya.’ ‘Bagaimana tuan mencari ilmu?’ beliau menjawab ‘Seperti seorang ibu yang bingung mencari anaknya, yang semata wayang’. Ibnu Asakir dalam menceritakan Abu Manshur Muhammad bin Husain An-Naisaburi berkata, ‘Beliau terus bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, meski dalam kondisi fakir. Bahkan beliau mengulangi dan menulis pelajarannya di bawah sinar rembulan, karena tidak mampu membeli minyak lampu.’
Ibnu Katsir berkata, ‘Ilmu tidak bisa diperoleh dengan leha-leha.’ Muhammad bin Thahir Al-Maqdisi berkata, ‘Untuk menuntut ilmu hadits, saya mengalami kencing darah dua kali, pertama di Baghdad dan kedua di Makkah. Hal itu karena saya berjalan dengan kaki telanjang di tengah sengatan terik matahari. Saya tidak pernah naik kendaraan saat mencari hadits kecuali sekali, dan saya selalu membawa kitab-kitab di punggung saya.’ Sementara Imam Baqi bin Mukhallad Al-Andalusi pada tahun 221H berjalan kaki dari Andalus (Spanyol) ke Baghdad untuk menemui dan belajar kepada Imam Ahmad.
====================================================
Ahmad bin Ibrahim Al-Abbas berkata, ‘Ketika sampai berita wafatnya Imam Muhammad Ar-Razi, saya masuk kamar dan menangis. Keluargaku mengerumuniku dan bertanya, ‘Apa yang menimpamu?’ ‘Imam Muhammad Ar-Razi telah wafat, kalian melarangku ke sana untuk menuntut ilmu,’ jawab-ku. Akhirnya mereka mengizinkanku mencari ilmu kepada Syaikh Hasan bin Sinan.’
Abu Ali Al-Farisi berkata: ‘Terjadi kebakaran besar di Baghdad, semua kitabku terbakar, padahal saya menulisnya dengan kedua tanganku. Selama dua bulan saya tidak kuasa berbicara dengan seorang pun, karena kesedihan dan duka yang dalam, bahkan beberapa saat saya dalam keadaan linglung.’ Imam Syu’bah bin Al-Hajjaj berkata, ‘Saya ingat, saya pernah ketinggalan tidak mendengar satu hadits dari Syaikh saya, sehingga saya sakit (karena sangat menyesal dan sedih akibat ketinggalan tersebut).
=================================================
Dikisahkan, Imam Asad bin Al-Furat melakukan perjalanan ke Iraq untuk belajar kepada Syaikh Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani Rahimahullaah. Imam Asad berkata, “Saya orang asing dan bekalku hanya sedikit, bagaimana agar saya bisa belajar lebih dari sekedar mengikuti kajian tuan?” Syaikh Asy-Syaibani menjawab, “Tetaplah ikut kajian pada siang hari, dan saya khususkan waktu malam untuk mengajarimu sendirian. Menginaplah di rumahku dan kamu akan saya ajari ilmu’. Imam Asad berkata, “Maka saya pun menginap di rumah beliau, beliau mendatangiku dengan membawa seember air. Beliau lalu membacakan ilmu untukku, jika malam telah larut dan aku mengantuk, beliau mengambil air dan memercikkannya ke mukaku, sehingga saya bersemangat lagi. Demikian terus berlalu, sehingga saya selesai belajar ilmu apa saja yang saya inginkan.”
Abul Qasim Al-Muqri’ berkata, Imam Al-Hazimi senantiasa menelaah kitab dan mengarang hingga terbit fajar. Seseorang kemudian berkata kepada pembantunya, ‘Jangan kamu berikan minyak untuk pelitanya, barangkali beliau istirahat malam itu.’ Ketika malam tiba, Imam Al-Hazimi meminta minyak kepada pembantunya. Lalu dijawab, minyaknya telah habis. Imam Al-Hazimi lalu masuk ke rumahnya dan shalat di dalam kegelapan malam sampai terbit fajar.’
=======================================================
====================================================
Shilah ibn Asyam pernah keluar ke daratan di tanah Bashrah untuk khalwah (menyepi) dan beribadah…
Lalu sekelompok pemuda yang akan bersenang-senang melewatinya…
Mereka bermain-main…bersendau gurau dan bergembira…
Ia (Shilah) menyalami mereka dengan halus…
Dan dengan lembut ia berkata kepada mereka, “Apa yang kalian katakan tentang suatu kaum yang ber’azm (bertekad) untuk safar (bepergian) karena suatu urusan besar, hanya saja mereka di waktu siang berbelok dari jalan untuk berbuat sia-sia dan bermain-main….dan di waktu malam mereka tidur untuk istirahat. Maka kapankah kalian melihat mereka menyelesaikan perjalanannya dan sampai di tempat tujuan?!”
Dan ia terbiasa mengucapkan kalimat tersebut di saat itu dan pada saat yang lain…
Pada suatu ketika ia bertemu dengan mereka dan ia mengucapkan kata-katanya tersebut kepada mereka…
Maka, salah seorang pemuda dari mereka bangkit dan berkata, “Sesungguhnya dia –demi Allah- tidak memaksudkan perkataannya kepada siapapun selain kita. Kita di siang hari bermain-main….dan di malam hari tidur…”
Kemudian pemuda tersebut memisahkan diri dari teman-temannya dan mengikuti Shilah ibn Asyam sejak hari itu. Ia terus menemaninya hingga kematian menjemputnya.
=========================================
Pada suatu siang Shilah ibn Asyam pernah pergi bersama sekelompok sahabatnya kepada suatu tujuan. Lalu lewatlah di depan mereka seorang pemuda yang menakjubkan dan bagus penampilannya….
Pemuda tersebut memanjangkan kain celananya sampai dibawah mata kaki hingga ia menyeretnya di tanah seperti orang sombong…
Para sahabat Shilah lalu bermaksud (melakukan tindakan) terhadap pemuda tersebut, mereka ingin mencemoohnya dengan perkataan dan memukulnya dengan keras…
Maka Shilah berkata kepada mereka, “Biarkan aku, yang akan menyelesaikan urusannya.”
Ia mendekati pemuda tersebut dan berkata dengan kelembutan seorang ayah yang penuh sayang…dan bahasa seorang sahabat yang jujur, “Wahai anak saudaraku, sesungguhnya aku punya hajat kepadamu.”
Pemuda itu berhenti, dan berkata, “Apa itu wahai paman?”
Ia berkata, “Hendaklah kamu mengangkat kainmu, sesungguhnya yang demikian itu lebih suci untuk pakaianmu…lebih bertakwa kepada Rabbmu…dan lebih dekat dengan sunnah Nabimu.”
Dengan rasa malu pemuda itu berkata, “Ya, dengan senang hati…”
Kemudian ia segera mengangkat kainnya.
Shilah berkata kepada sahabatnya, “Sesungguhnya yang seperti ini lebih baik daripada apa yang kalian inginkan…kalau seandainya kalian memukulnya dan mencemoohnya niscaya ia akan memukul dan mencemooh kalian…dan tetap membiarkan kainnya menjulur menyapu tanah.”
=============================================
Pada suatu kali seorang pemuda dari Bashrah mendatangai Shilah ibn Asyam dan berkata, “Wahai Abu ash-Shahbaa, ajari aku apa-apa yang telah Allah ajarkan kepadamu.”
Maka Shilah tersenyum dan berseri wajahnya, dan ia berkata, “Sungguh kamu telah mengingatkan aku -wahai anak saudaraku- tentang kenangan lama yang tidak aku lupakan…dimana pada saat itu aku seorang pemuda sepertimu…Aku mendatangi orang yang tersisa dari sahabat Rasulullah SAW, dan aku berkata kepada mereka, “Ajarilah aku apa-apa yang telah Allah ajarkan kepada kalian.” Mereka berkata, “Jadikanlah al-Qur’an sebagai penjaga jiwamu dan kebun hatimu. Dengarkan nasehatnya dan nasehatilah kaum muslimin dengannya. Perbanyaklah berdoa kepada Allah semampumu.”
Anak muda itu berkata, “Berdoalah untukku, semoga engkau dibalasi dengan kebaikan.”
Ia menjawab, “Semoga Allah menjadikanmu senang (antusias) untuk memperoleh yang kekal (akhirat)…dan menjadikanmu zuhud terhadap yang fana (dunia)…dan menganugrahkan keyakinan kepadamu yang mana jiwa menjadi tenang kepadanya, dan dibutuhkan kepadanya dalam agama.”
=========================================
Suatu kali AL-QASIM IBN MUHAMMAD IBN ABI BAKAR pernah terlihat di Mina. Dan para penduduk negeri dari orang-orang yang berhaji ke baitullah mengerumuninya dari segala sisi dan menanyainya.
Ia menjawabi mereka dengan apa yang ia tahu, dan pada apa yang ia tidak tahu, ia mengatakan, “Aku tidak tahu…aku tidak mengerti…aku tidak faham.” Mereka pun dibuat heran dengannya.
Ia lalu berkata, “Aku tidak tahu seluruh apa yang kalian tanyakan…kalau aku mengetahuinya, niscaya aku tidak akan menyembunyikannya…dan tidak halal bagiku untuk menyembunyikannya. Dan (ketahuilah) seseorang hidup dalam keadaan bodoh –setelah mengetahui hak Allah atasnya- adalah lebih baik baginya daripada ia mengatakan apa yang ia tidak mengetahuinya.”
====================================
Al-Qasim ibn Muhammad telah diberi umur hingga lebih dari tujuh puluh dua tahun. Akan tetapi matanya menjadi buta di saat ia berusia lanjut.
Pada akhir tahun dari kehidupannya, ia menuju ke Mekkah menginginkan haji…dan di tengah perjalanan kematian menjemputnya.
Ketika ajalnya sudah dekat, ia menoleh kepada anaknya dan berkata, “Bila aku mati, kafanilah aku dengan pakaianku yang aku shalat dengannya, yaitu gamisku…sarungku…dan kainku…itu adalah kafan kakekmu Abu Bakar. Kemudian ratakan kuburanku dan pulanglah kepada keluargamu. Dan hati-hatilah (janganlah kamu) berdiri di atas kuburanku dan berkata, “Dahulu ia begini…dan dulu ia begitu….”, karena aku bukanlah siapa-siapa”.
======================================================
Maslamah bin Abdul Malik bersama pasukannya mengepung salah satu benteng Romawi. Sementara tidak ada jalan masuk ke dalam benteng kecuali satu pintu. Setelah pengepungan berlalu sekian lama, Maslamah berseru di tengah pasukannya, “Siapa yang berani menerobos pintu, maka jika dia mati saat menerobosnya, maka dia akan mendapatkan surga, insya Allah. Jika dia selamat, maka tanah yang ada di balik pintu itu patut diserahkan kepadanya, lalu dia harus membuka pintu itu agar pasukan Islam dapat masuk ke dalam benteng sebagai pemenang.”
Ada seorang prajurit berdiri, yang mukanya ditutup kain, seraya berkata,”Aku akan melakukannya wahai Amir.”
Akhirnya umat islam memenangkan peperangan itu.
Selama tiga hari Maslamah bin Abdul Malik bertanya-tanya, “Siapakah orang yang mengenakan tutup muka? Siapakah yang telah membuka pintu benteng?” Tak seorang pun yang bangkit.
Pada hari ketiga dia berkata, “Aku bersumpah agar orang yang mengenakan tutup muka menemui aku, kapan pun waktunya, siang atau malam.”
Maka pada tengah malam ada yang mengetuk pintu tendanya. Maslamah bertanya,”Engkaukah orang yang mengenakan tutup muka?”Orang itu menjawab, “Dia meminta tiga syarat sebelum engkau melihatnya.”"Apa itu?” tanya Maslamah.
“Engkau tidak boleh mengumumkan namanya kepada orang-orang, engkau tidak boleh memberinya imbalan apa pun dan engkau tidak boleh melihatnya sebagai orang yang memiliki keistimewaan,” kata orang itu. Dengan kata lain, dia tidak menginginkan apa-apa.”Aku terima,” kata Maslamah. Orang itu berkata, “Memang akulah orang yang mengenakan tutup muka itu.”
Maka Maslamah langsung menghampiri dan memeluknya. Maka di antara doa Maslamah, “Ya Allah, himpunkan aku bersama orang yang mengenakan tutup muka. Ya Allah, himpunkan aku bersama orang yang mengenakan tutup muka.
=======================================================
Amr bin Qais Al Mala’y berpuasa selama dua puluh tahun, sementara keluarganya tidak mengetahuinya. Dia mengambil makan siangnya lalu pergi ke tokonya, lalu dia menshadaqahkan makan siangnya itu dan dia sendiri berpuasa, sementara keluarganya tidak mengetahui hal itu.
===================================================
Dari Abu Hamzah Ats Tsumaly, bahwa Ali bin Al Husain membawa roti di atas punggungnya pada malam hari lalu mencari orang-orang miskin di kegelapan malam. Dia berkata, “Sesungguhnya shadaqah yang diberikan pada kegelapan malam dapat memadamkan kemurkaan Allah.”
Dari Muhammad bin Ishaq, dia berkata, “Penduduk Madinah hidup dengan makanan itu, sementara mereka tidak tahu siapa yang telah memberi makanan itu kepada mereka. Setelah Ali bin Husain meninggal dunia, maka mereka tidak lagi mendapatkan makanan pada malam hari.”
Dari Amr bin Tsabit, dia berkata, “Setelah Ali bin Al Husain meninggal dunia, orang-orang melihat bekas punggungnya, yaitu bekas kantong makanan yang biasa dia panggul untuk diberikan kepada para wanita janda.”
Syaibah bin Nu’amah berkata, “Setelah Ali bin Al Husain meninggal dunia, orang-orang mendapatkan seratus keluarga yang dia santuni. Karena itulah dia dianggap orang bakhil. Pasalnya, dia menyalurkan infaq secara rahasia, sementara keluarganya mengira dia menumpuk dirham. Sebagian diantara mereka berkata, “Kami tidak pernah kehilangan shadaqah yang diberikan secara sembunyi-sembunyi hingga Ali meninggal dunia.”
=================================================
Al Hasan al Bashri bila datang ke pasar dan mendengar hiruk pikuk orang orang di sana, ia berkata, “Aku mengira malam mereka adalah malam yang buruk (karena tidur nyenyak dan tidak bertahajjud), mengapa mereka tidak tidur tengah hari?”
=============================================
Al Mughirah berkata, “Aku pernah keluar pada suatu malam setelah orang orang benar benar telah tertidur, lalu aku melintasi Malik bin Anas, aku melihatnya tengah berdiri melakukan shalat. Tatkala dia selesai dari bacaan al Faatihah, dia mulai membaca surat at Takaatsur:
‘Bermegah megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatan itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar benar akan melihat Neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah megahkan di dunia itu).’
Lalu dia menangis cukup lama dan kemudian dia pun mengulangi ayat ini dan kembali menangis. Apa yang aku dengar dan aku lihat dari sosok Malik ini telah membuatku melupakan keperluanku yang membuatku keluar untuknya. Tiada henti hentinya aku berdiri, sedangkan dia tetap mengulang ulang ayat tersebut dan menangis hingga terbit fajar. Tatkala dia melihat fajar telah jelas, barulah dia ruku’. Kemudian aku pulang ke rumahku, lalu aku berwudhu’ dan kemudian pergi ke masjid, tiba tiba Malik sudah berada di tempatnya (di masjid) dan jama’ah ada di sekelilingnya. Tatkala memasuki waktu Shubuh, aku melihat pada wajahnya tampak cahaya dan keindahan darinya.”
============================================
Dihikayatkan dari imam asy-Syafi’i dan Muhammad bin al-Hasan bahwa keduanya melihat seorang laki-laki sedang berjalan ke arah mereka, lalu masing-masing mereka menebak pekerjaan orang tersebut. Kata imam asy-Syafi’i, “Dia itu seorang tukang kayu.” Muhammad bin al-Hasan berkata, “Dia itu seorang pandai besi.” Begitu orang itu mendekat, keduanya bertanya kepadanya mengenai pekerjaannya, maka ia menjawab, “Dulu profesiku pandai besi tapi sekarang sudah berprofesi sebagai tukang kayu.”
2. Seorang laki-laki yang dulunya pandai baca al-Qur’an bertanya kepada sebagian ulama, lalu mereka berkata kepadanya, “Duduklah, sebab aku mencium dari ucapanmu bau ‘kekufuran’.” Tak berapa lama setelah itu, orang tersebut muncul lagi, tapi sudah masuk agama Nasrani, wal ‘iyaadzu billah. Lalu ia ditanya, “Adakah ayat al-Qur’an yang masih kamu hafal?.” Ia menjawab, “Aku tidak hafal kecuali satu ayat saja, ‘Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang Muslim.’” (al-Hijr:2)
3. Abu Sa’id al-Kharraz berkata, “Di Masjid Haram Mekkah, aku melihat seorang laki-laki miskin yang tidak memiliki apa-apa dan hanya mengenakan pakaian yang menutup auratnya saja. Karena kondisinya itu, aku menghindarinya dan diriku jijik terhadapnya. Lalu ia memfirastiku seraya melantunkan firman Allah, “Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada di dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya.” (al-Baqarah:235) Maka aku pun menyesali atas sikapku tersebut dan memohon ampun kepada Allah. Lalu ia melantunkan ayat lagi, “Dan Dia-lah Yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan mema’afkan kesalahan-kesalahan…” (asy-Syura:25)
(SUMBER: Mi’ah Qishshah Wa Qishshah karya Muhammad Amin al-Jundi, juz II, hal.71-72)
================================================
Qadhi Abu ath-Thayyib berkata, “Suatu hari kami mengikuti pengajian di Jami’ al-Manshur. Lalu datanglah seorang pemuda dari Khurasan yang mengetengahkan salah satu hadits shahih yang diriwayatkan Abu Hurairah. Setelah membacanya, ia mengomentari, “Hadits ini tidak dapat diterima…” Maka, belum lagi ia selesai bicara, tiba-tiba dari atas atap jatuh seeokor ular sehingga orang-orang bangun dan berhamburan ke luar, tak terkecuali pemuda tersebut namun anehnya, ular itu hanya membuntutinya. Ketika itu, ada orang yang menasehatinya, “Ayo, bertobatlah, bertobatlah.!!!” Maka anak muda itu pun mengatakan, “Aku bertobat kepada Allah.” Seketika, ular itu pun menghilang entah ke mana.”
===============================================
Kisah ini diceritakan oleh Syaikh ‘Abdullah al-Mathruud, Imam masjid Haram, Mekkah, di dalam sebuah kaset berjudul, “Penghuni Rumah Angkat Bicara” tepatnya, sehabis berziarah ke Daar an-Naqaahah yang menangani perawatan kondisi-kondisi parah, di sebuah propinsi di Kerajaan Arab Saudi.
Seorang pemuda berusia 27 tahun yang kondisinya tidak dapat lagi duduk untuk selama-lamanya berkisah, “Suatu ketika ibuku berkata kepadaku, ‘Tolong antarkan ibu ke rumah salah seorang kerabat kita.”
Mendengar itu, aku jadi kesal lalu berbicara kasar terhadapnya. Namun beliau mengulangi lagi, “Aku mohon padamu, wahai anakku, tolong antarkan aku ke rumah mereka sebab ada hak mereka yang harus aku berikan. Itulah tujuanku mengunjungi mereka.”
Lalu aku berkata padanya, “Baiklah, tapi ada syaratnya; aku akan mengantarkan ibu ke sana lalu pulang dan akan datang lagi tepat setelah setengah jam kemudian. Nanti aku akan membunyikan klakson mobil satu kali, kalau ibu tidak keluar, maka aku akan pergi dan meninggalkan ibu di sini.”
Akhirnya sang ibu naik dan jadi pergi ke rumah kerabatnya bersama sang anak. Dan setelah berlangsung setengah jam tepat, sang anak pun datang dan membunyikan klakson mobilnya satu kali namun sang ibu tidak keluar-keluar. Maka, ia pun pergi dan meninggalkan sang ibu.
Dalam perjalanannya tersebut, mobil dilarikan dengan kecepatan tinggi hingga terjadilah kecelakaan atas dirinya. Akibat kejadian itu, ia kini tidak bisa lagi duduk untuk selama-lamanya. Ia hanya bisa berbaring terlentang atau telungkup dan tidak dapat menggerak-gerakkan anggota badannya selain kepala saja.
Komentar Penulis Buku:
Inilah balasan yang didapat oleh sang anak yang durhaka akibat perbuatannya sendiri. Kita berdoa semoga ia cepat sembuh dan dapat belas kasih Allah.
(SUMBER: Abnaa` Yu’adzdzibuun Aabaa`ahum karya Ahmad Muhammad Sinan, Bag.II, h.25-26)
===================================================
================================================
Kisah Abu Hazim Salamah ibn Dinar
Abdurrahman bertanya, “Bagaimanakah trik mendapatkan hati yang selalu terjaga wahai Abu Hazim?.
Ia menjawab, “Ketika hati diperbaiki maka dosa-dosa besar terampuni… dan jika seoang hamba bertekad meninggalkan dosa, maka ia akan diliputi hati yang selalu terjaga. Jangan lupa wahai Abdurrahman bahwa kemewahan dunia akan menyibukkan hati dari kenikmatan akhirat… setiap nikmat yang tidak menjadikanmu dekat dengan Allah maka itu adalah bencana.”
Anak Abdurrahman berkata, “Sesungguhnya syaikh kami banyak dan kepada siapakah kami berteladan.”
Abdurrahman menjawab, “Wahai anakku, teladanilah syaikh yang paling takut kepada Allah secara sembunyi-sembunyi dan menahan diri dari mengumbar aib… memperbaiki dirinya sejak masa muda dan hal itu tetap berlangsung hingga masa tua. Ketahuilah wahai anakku, tidaklah mentari bersinar di pagi hari melainkan pada hari itu nafsu dan ilmu akan menghampiri penuntut ilmu, lalu keduanya saling bertarung dalam dadanya dengan dahsyatnya… jika ilmunya mengalahkan nafsunya maka hari itu adalah hari keberuntungannya… tetapi jika nafsunya yang mengalahkan ilmunya maka hari itu adalah hari kerugiannya. “
Abdurrahman berkata, “Seringkali anda menasihati kami untuk bersyukur wahai Abu Hazim, apa sebenarnya hakikat syukur itu?.”
Ia mengatakan, “Tiap-tiap anggota dari tubuh kita, punya hak untuk kita syukuri.”
Abdurrahman berkata, “Bagaimana (cara) bersyukurnya kedua mata?.”
Ia menjawab, “(Yaitu) bila kamu melihat kebaikan dengan keduanya maka kamu mengumumkannya, dan bila kamu melihat keburukan maka kamu menutupinya.”
Abdurrahman berkata lagi, “Bagaiman (cara) bersyukurnya kedua telinga?.”
Ia menjawab, “Bila kamu mendengar kebaikan dengannya maka kamu memahaminya, dan bila kamu mendengar keburukan maka kamu menimbunnya.”
“Bagaimana (cara) bersyukurnya kedua tangan?” kata Abdurrahman lagi.
Ia menjawab, “Hendaklah kamu tidak mengambil apa yang bukan milikmu dengannya…hendaklah kamu tidak melarang hak dari hak-hak Allah dengannya…dan janganlah terlewatkan olehmu wahai Abdurrahman, bahwa orang yang hanya bersyukur dengan lisannya dan tidak mengikut sertakan seluruh anggota badan dan hatinya bersamanya…maka perumpamaannya adalah sama dengan orang yang memiliki kain (baju), tetapi ia hanya memegang ujungnya dan tidak mengenakannya…Maka yang demikian itu tidaklah melindunginya dari panas dan tidak pula membentenginya dari dingin.”
==========================================================================
Pada suatu tahun, Salamah ibn Dinar berangkat bersama pasukan muslimin menuju negeri Romawi mengharapkan jihad fisabilillah bersama para mujahid.
Tatkala pasukan telah sampai di akhir perjalanan, maka ia memilih untuk beristirahat sebelum menghadapi musuh dan masuk ke medan pertempuran.
Di tengah-tengah pasukan ada seorang amir (pemimpin) dari umara Bani Umayyah, kemudian ia mengirim seorang utusan kepada Abu Hazim dan berkata kepadanya, “Sesungguhnya pemimpin kita mengundangmu untuk menemuinya agar kamu menceramahinya dan memahamkannya (tentang agama).”
Kemudian ia pun menulis surat yang ditujukan kepada amir tersebut yang berbunyi, “Wahai amir, sungguh aku telah menjumpai ahlul ilmi sedangkan mereka tidak membawa agama ini kepada ahli dunia. Dan aku tidak berprasangka anda ingin agar aku menjadi orang yang pertama kali melakukan hal tersebut. Apabila engkau punya hajat kepada kami, maka datangilah kami, dan semoga keselamatan tercurahkan kepadamu dan orang-orang yang bersamamu.”
Ketika amir (selesai) membaca suratnya, ia lantas pergi menemuinya dan mengucapkan salam kepadanya serta mendoakannya. Ia berkata, “Wahai Abu Hazim, sungguh kami telah membaca apa yang kamu tulis untuk kami, sehingga bertambahlah kemuliaanmu dan ‘izzahmu di sisi kami. Berilah peringatan kepada kami dan nasehatilah kami, semoga kamu diberi balasan atas kami dengan sebaik-baik balasan.”
Maka mulailah Abu Hazim menasehati dan mengingatkannya. Dan di antara apa ia katakan kepadanya (yaitu) “Lihatlah kepada apa yang engkau sukai untuk bisa menemanimu di akhirat, maka bersungguh-sungguhlah agar engkau mendapatkannya di dunia…Lihatlah kepada apa yang engkau benci untuk menjadi temanmu di akhirat, maka zuhudlah terhadapnya ketika engkau di dunia…Ketahuilah wahai amir, sesungguhnya apabila kebathilah telah dibuat menarik dan menjadi laku (laris) di sisimu, niscaya ahli kebathilan dan orang-orang munafik akan menemuimu dan berkumpul di sekitarmu. Dan apabila al-haq telah dibuat menarik dan ia menjadi laku (laris) di sisimu, niscaya ahlul khair akan berkumpul di sekelilingmu, dan mereka akan menolongmu untuk memenangkannya. Maka pilihlah apa yang kau sukai untuk dirimu.”
Tatkala kematian menjemput Abu Hazim al-A’raj, para sahabatnya berkata kepadanya, “Bagaimana keadaanmu wahai Abu Hazim?”
Ia menjawab, “Andaikan kita selamat dari keburukan apa yang kita dapatkan dari dunia, maka tidaklah akan membahayakan kita sesuatu yang kita dihindarkan darinya”, kemudian ia membaca sebuah ayat yang mulia, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam hati mereka rasa kasih sayang.” (Surat Maryam: 96)…ia terus saja mengulang-ulangi ayat tersebut hingga ajal menjemputnya
==================================================================
Kabar tentang kedermawanan Abu Hanifah telah tersebar di timur dan barat, khususnya di kalangan para sahabat dan teman dekatnya. Sebagai suatu contoh, pada suatu hari seorang temannya pergi ke tokonya dan berkata,
“Sesungguhnya aku membutuhkan pakaian dari bahan al-Khizz, wahai Abu Hanifah.”
Abu Hanifah bertanya,”Apa warnanya?”
Orang itu menjawab, “Begini dan begini.”
“Sabar dan tunggulah sampai aku mendapatkan pakaian tersebut,” kata Abu Hanifah.
Seminggu kemudian pakaian yang dipesan telah jadi, maka tatkala temannya itu melewati toko, Abu Hanifah memanggilnya dan berkata,
“Aku punya pakaian yang kamu pesan.”
Temannya merasa gembira dan bertanya kepada Abu Hanifah,
“Berapa aku harus membayar pegawaimu?”
“Satu dirham,” jawab Abu Hanifah.
Ia merasa heran dan bertanya lagi, “Cuma satu dirham?”
“Ya,” kata Abu Hanifah
Temannya berkata, “Wahai Abu Hanifah, engkau tidak sedang bergurau bukan?”
Abu Hanifah manjawab, “Aku tidaklah bergurau, karena aku telah membeli pakaian ini dan yang satunya lagi dengan harga dua puluh dinar emas plus satu dirham perak, kemudian aku menjual salah satunya dengan dua puluh dinar emas sehingga tersisa satu dirham. Dan aku tidak akan mengambil untung dari teman dekatku sendiri.”
==========================================================
Pada waktu yang lain ada seorang perempuan tua datang ke tokonya dan memesan sebuah baju dari bahan al-Khizz, tatkala Abu Hanifah memberikan baju pesanannya, perempuan tua tadi berkata, “Sungguh aku adalah seorang perempuan yang sudah tua dan aku tidak tahu harga barang sedangkan baju pesananku adalah amanah seseorang. Maka juallah baju itu dengan harga belinya kemudian tambahkan sedikit laba atasnya, karena sesungguhnya aku orang miskin.”
Abu Hanifah menjawab, “Sesungguhnya aku telah membeli dua jenis pakaian dengan satu akad (transaksi), kemudian aku jual salah satunya kurang empat dirham dari harga modal, maka ambillah pakaian itu dengan harga empat dirham itu dan aku tidak akan meminta laba darimu.”
============================================================
Pada suatu hari, Abu Hanifah melihat baju yang sudah usang sedang dipakai oleh salah seorang teman dekatnya. Ketika orang-orang-orang telah pergi dan tidak ada seorangpun di tempat itu kecuali mereka berdua, Abu Hanifah berkata kepadanya, “Angkat sajadah ini dan ambillah apa yang ada di bawahnya.” Maka temannya mengangkat sajadah tersebut, tiba-tiba ia menemukan di bawahnya seribu dirham. Kemudian Abu Hanifah berkata, “Ambil dan perbaikilah kondisi dan penampilanmu.” Akan tetapi temannya kemudian berkata, “Sesungguhnya aku seorang yang mampu (berkecukupan) dan sungguh Allah telah memberiku nikmat-Nya sehingga aku tidak membutuhkan uang tersebut.”
Berkata Abu Hanifah, “Jika Allah telah memberimu nikmat, maka di mana bekas dan tanda nikmata-Nya itu? Tidakkah sampai kepadamu bahwasanya Rasulullah SAW telah bersabda, “Sesungguhnya Allah suka melihat bekas nikmat-Nya pada diri hamba-Nya.” Karena itu, seyogyanya kamu memperbaiki penampilanmu agar temanmu ini tidak sedih melihatnya.”
=========================================================
Hafsh bin Abdur Rahman merupakan relasi dagang Abu Hanifah dalam sebagian perniagaannya. Ia menyiapkan barang-barang dagangan berupa al-Khizz dan mengirimnya bersamanya (Hafsh) ke sebgian kota yang ada di Iraq. Pada suatu waktu beliau menyiapkan untuk dibawa Hafsh barang dagangan yang banyak dan memberi tahu kepadanya bahwa di antara barang-barang tersebut ada yang cacat, ia berkata, “Apabila kamu mau menjualnya maka terangkanlah kepada pembeli tentang cacat yang ada pada barang tersebut.”
Maka kemudian Hafsh menjual semua barang yang dititipkan dan ia lupa untuk memberi tahu sebagian barang yang ada cacatnya kepada para pembeli. Ia telah berupaya mngingat-ingat orang-orang yang telah membeli barang yang ada cacatnya tersebut, tetapi tidak berhasil. Maka tatkala Abu Hanifah tahu akan hal itu dan tidak mungkinnya mengenali orang-orang yang telah membeli barang yang cacat itu, hatinya tidak tenang sampai ia bersedekah dengan harga semua barang yang diperdagangkan oleh Hafsh.
=======================================================
Di samping semua sifat yang telah disebutkan di atas, ia juga seorang yang baik dalam bergaul dengan orang lain, teman dekatnya akan merasa bahagia bila bersamanya dan orang yang jauh darinya tidak akan merasa tersakiti bahkan musuhnya sekalipun. Salah seorang sahabatnya pernah berkata, aku telah mendengar Abdullah bin al-Mubarak berkata kepada Sufyan ats-Tsauri, “Wahai Abu Abdillah, betapa jauhnya Abu Hanifah dari sifat menggunjing, aku sama sekali tidak pernah mendengar ia berkata tentang kejelekan musuhnya.” Maka Sufyan berkata, “Sesungguhnya Abu Hanifah sangat waras sekali sehingga tidak mungkin melakukan hal yang dapat menghapus kebaikan-kebaikannya.”
====================================================
Alkisah suatu hari Rasulullah melihat seorang lelaki memakai cincin emas. Seketika, Rasulullah mencabut cincin tersebut dari jari lelaki tersebut, dan melemparkannya sambil bersabda, “Seseorang dari kalian sengaja mengenakan batu neraka pada tangannya”.
Ketika Rasulullah telah pergi, salah seorang sahabat menyuruh lelaki pemakai cincin tadi untuk mengambil cincinnya kembali. Ia menyarankan agar bisa menggunakan untuk keperluan lain, atau menjualnya. Tetapi lelaki itu menolak. “Demi Allah, aku tidak akan mengambil, karena cincin itu telah dibuang Rasulullah”.
Padahal, Rasulullah tidak melarang lelaki tersebut untuk memanfaatkan cincin tersebut pada kepentingan lain. Ia hanya melarang memakainya. Tetapi, si lelaki tersebut enggan mengambil cincin itu kembali, atas dasar cintanya kepada Rasulullah dan keinginan untuk menambah ketaatan dirinya kepada Rasulullah.
Sebenarnya cincin itu bisa digunakan untuk keperluan lain. Yang dilarang, hanyalah pemakaian cincin tersebut di kalangan lelaki. Sementara bagi wanita, cincin tersebut halal dipakai sebagai sarana berhias dan mempercantik diri.
Ket: tapi syaikh albani mengharamkan pemakaian emas melingkar bagi wanita
==============================================================
Ali bin Fudhail berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku, betapa manisnya perkataan para Sahabat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam.”
Ayahnya berkata, “Wahai anakku, apakah kamu mengetahui apakah yang menyebabkan perkataan mereka menjadi manis?”
Ali menjawab, “Tidak wahai ayahku.”
Ayahnya berkata, “Karena dengan perkataan tersebut mereka menginginkan Alloh.”
Abdullah bin Muhammad bin Munazzil bercerita, bahwa Hamdun bin Ahmad pernah ditanya : “Kenapa perkataan salaf lebih bermanfaat daripada perkataan kita?”
Hamdun menjawab, “Karena mereka berbicara demi kemuliaan Islam, keselamatan jiwa-jiwa dan keridhaan ar-Rahman. Sedangkan kita berbicara demi kemuliaan diri sendiri, mencari dunia dan ketenaran di hadapan manusia.”
====================================================================
Suatu hari Abdullah bin Rawahah hendak pergi ke masjid. Beberapa meter sebelum sampai di masjid, ia mendengar Rasulullah dalam khutbahnya memerintah, “Duduklah kalian semua!”. Serta-merta, Abdullah bin Rawahah duduk, saking taatnya kepada perintah Rasulullah. Padahal, waktu itu ia belum sampai di masjid. Abdullah tetap duduk, sampai Rasulullah selesai berkhutbah.
Adapun sebab Rasulullah memerintahkan duduk, karena beliau melihat beberapa sahabat berdiri sewaktu beliau berkhotbah.
Lalu dikatakan kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, lihatlah Abdullah bin Rawahah. Ia mendengar engkau memerintah duduk, lalu seketika ia duduk di tempatnya”.
Kemudian Rasulullah berkata kepada Abdullah bin Rawahah, “Semoga Allah menambah semangatmu untuk mentaati Allah dan Rasul-Nya”.
=========================================================
Alkisah ada dua orang bersaudara yang terkenal jago syair, Ka’ab bin Zuhair dan Bujair, mendengar risalah baru yang didakwahkan oleh Nabi. Bujair berkata kepada saudaranya, “Tunggulah. Aku akan pergi menemui orang itu (Nabi), untuk mendengar apa yang dikatakannya”.
Ketika sampai di hadapan Nabi dan mendengar apa yang diucapkan, Allah memberikan hidayah padanya. Bujair masuk Islam. Mengetahui saudaranya masuk Islam, Ka’ab marah, lalu merangkai syair yang isinya menghujat Nabi. Isi syair itu sampai ke telinga Nabi, yang kemudian membolehkan Ka’ab untuk dibunuh. Bujair memberitahu ancaman Nabi, sambil berusaha menasehatinya untuk meminta maaf kepada Nabi, dan masuk Islam. Namun semuanya ditolak Ka’ab. Ia kemudian melarikan diri.
Hari-hari pun berlalu. Dalam pelariannya, Allah membuka hati Ka’ab, untuk menerima Islam. Ia lalu datang menemui Nabi, dan berbaiat kepadanya untuk masuk Islam, sekaligus meminta maaf. Ia merangkai syair yang isinya memuji Nabi,
Inilah Rasul yang datang membawa cahaya,
Mengasah pedang-pedang Allah yang terhunus
Aku dengar Rasulullah telah mengancamku,
Namun ampunan darinya, tetap kuharap
Selesai mengucapkan syair itu, Nabi mengalungkan selendangnya kepada Ka’ab, dan mengampuninya.
=============================================================
Yazid bin Al-Walid berkata, “Wahai Bani Umayyah! Waspadalah kalian dari nyanyian, karena ia bisa mengurangi rasa malu, menghancurkan kepribadian, dan ia adalah pengganti khamar, sehingga membuat orang berbuat seperti orang mabuk, jika engkau terpaksa harus melakukannya maka jauhilah wanita, karena nyanyian mendorong kepada zina.”
==========================================
Muhammad bin Al-Fadhl Al-Azdi berkata, “Suatu kali Al-Huthai’ah bersama seorang puterinya menginap di suatu rumah orang Arab gunung. Ketika malam telah larut, ia mendengar suara nyanyian, maka ia pun berkata kepada pemilik rumah, ‘Hentikan nyanyian itu!’ Pemilik rumah pun terperanjat, ‘Kenapa engkau membenci nyanyian?’ Al-Huthai’ah menjawab, ‘Nyanyian adalah pendorong kepada perbuatan keji, dan aku tidak suka jika puteriku mendengarnya. Hentikan nyanyian itu, jika tidak aku akan keluar dari rumahmu sekarang juga!”
========================================
Suatu kali, Umar bin Abdul Azis menulis kepada guru akhlak dari puteranya, “Hendaknya yang pertama kali mereka yakini dari akhlak (yang engkau ajarkan) yaitu membenci berbagai bentuk nyanyian, yang awalnya adalah dari syetan dan berakhir dengan murka Ar-Rahman (Yang Maha Penyayang). Sungguh telah sampai padaku dari orang-orang ahli ilmu terpercaya bahwa suara alat-alat musik dan mendengarkan nyanyian juga keterpengaruhan dengannya bisa menumbuhkan nifaq di hati sebagaimana rumput tumbuh setelah disirami air.”*
=======================================
Ayub As-Sakhtiyani berkata, “Jika orang-orang shalih disebut maka aku adalah orang yang terasing.”
===============================================
Ketika Sufyan Ats-Tsauri dalam sakaratul maut, Abul Asyhab dan Hammad bin Salamah masuk kepadanya. Hammad berkata kepada Sufyan, “Wahai Abu Abdillah, bukankah engkau sudah merasa aman dari sesuatu yang engkau takuti? Dan engkau telah melakukan apa yang engkau harapkan, sedangkan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.” Sufyan menjawab, “Wahai Abu Salamah, apakah engkau mengharapkan orang seperti aku ini bisa selamat dari neraka?” Ia menjawab, “Ya, demi Allah, sungguh aku mengharapkanmu demikian.”
===============================================
Yunus bin Ubaid berkata, “Sesungguhnya aku mendapatkan seratus ciri kebaikan, aku tidak tahu apakah dalam diriku terdapat satu daripadanya.”
===============================================
Muhammad bin Wasi’ berkata, “Seandainya dosa memiliki aroma, tentu tak seorang pun yang kuat duduk bersamaku.”
===============================================
Pernah suatu ketika Daud Ath-Tha’i diceritakan di hadapan sebagian para raja, sehingga mereka pun memujinya, maka ia berkata, “Seandainya manusia mengetahui sebagian apa yang ada pada kami, tentu tak sepatah pun lisan yang menyebutkan kebaikan kami selamanya.”
===============================================
Al-Marwazi berkata, “Aku membantu Abu Abdillah berwudhu saat bersama orang banyak, tetapi aku menutupinya dari orang-orang agar mereka tidak mengatakan, ‘la tidak membaikkan wudhunya karena sedikitnya air yang dituangkan.’ Dan jika Imam Ahmad berwudhu, hampir saja (air bekasnya) tidak sampai membasahi tanah.”
===============================================
“Abul Faraj Al-Jauzi* menyebutkan kisah dari Abil Wafa’ bin Uqail, ada seorang laki-laki yang bertanya kepadanya, ‘Saya menyelam dalam air berkali-kali tetapi saya ragu-ragu, apakah mandi saya telah sah atau belum, bagaimana menurut pendapatmu?”
Maka Syaikh menjawab, “Pergilah, kamu sudah tidak berkewajiban lagi menunaikan shalat.”
Ia bertanya, “Bagaimana bisa begitu?” Syaikh menjawab, “Karena Nabi ShallallahuAlaihi wa Sallam bersabda, ‘Pena (catat-an amal) diangkat dari tiga jenis manusia: Orang gila hingga sembuh dari kegilaannya, orang yang tidur hingga bangun dan anak kecil sampai ia baligh.’ (Hadits shahih). Dan siapa yang menyelam dalam air berkali-kali lalu ia ragu-ragu, apakah ia telah kena air atau belum, maka dia adalah orang gila!”
=====================================================
“Tidaklah di dunia ini ada orang yang lebih menderita dari pecinta
meski ia mendapatkan cinta itu manis rasanya.
Engkau lihat ia selalu menangis pada setiap keadaan, karena takut berpisah atau karena rindu dendam.
Ia menangis jika mereka jauh, sebab didera kerinduan.
Ia menangis pula saat berdekatan, sebab takut perpisahan.
Air matanya mengalir saat bertemu.
Air matanya mengalir saat berpisah.”
===========================================
Ibnu Syuja’ Al-Kirman berkata, “Siapa yang memakmurkan lahiriahnya dengan mengikuti Sunnah, memakmurkan batiniah-nya dengan muraqabah (penjagaan kepada Allah), menahan nafsunya dari syahwat dan menahan pandangannya dari apa yang diharamkan, serta ia membiasakan diri makan yang halal, niscaya firasatnya tidak akan salah.”
===========================================
Disebutkan apa yang dilakukan oleh sebagian ahli ilmu di negeri Afrika, “Bahwasanya di pinggir negeri itu terdapat mata air yang disebut dengan mata air penyembuhan. Orang-orang awam terkena fitnah olehnya, sehingga mereka berduyun-duyun dari berbagai negeri mendatanginya. Orang yang belum menikah, belum mempunyai anak akan dikatakan padanya, ‘Ikutlah aku ke mata air penyembuhan.’ Dari sini Al-Hafizh Abu Muhammad mengetahui bahwa di dalamnya ada fitnah. Maka beliau keluar di pagi buta dan melenyapkannya, lalu beliau adzan subuh di atasnya, selanjutnya berkata, ‘Sesungguhnya aku melenyapkan ini karena-Mu, karena itu janganlah Engkau jadikan ada orang yang masih memuliakannya’.” Dan memang setelah itu tidak ada lagi orang yang memuliakannya hingga sekarang.
===============================================
=========================================
diriwayatkan al-Khathib dan Abu Na’im serta selainnya dari Mu’adz bin Jabal r.a. yang berkata, “Pelajarilah ilmu, sebab mempelajarinya karena Allah adalah ketakwaan, mencarinya ibadah, mengulanginya tasbih, mengkajinya jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak tahu sedekah, mengorbankannya kepada yang berhak adalah kurban (kedekatan kepada Allah). Dengan ilmu, Allah dikenal dan disembah serta diesakan, dengan ilmu halal dan haram diketahui, dan dengan ilmu hubungan rahim disambung.
==========================================
Imam Malik berkata, “Suatu ketika Abu Hurairah diundang ke sebuah walimah. Ia datang, tapi tak diizinkan masuk. Akhirnya beliau pulang dan mengganti baju. Ia datang lagi, dan kali ini diizinkan masuk. Ketika makanan dihidangkan, ia memasukkan lengan bajunya ke hidangan tersebut. Orang-orang serentak menyalahkan. Tapi beliau menjawab, ‘Baju inilah yang diizinkan masuk, makanya dialah yang seharusnya makan.”’ Ini diceritakan Ibnu Mazin at-Thalithaly dalam kitabnya.
===========================================
Al-Muzany bercerita, ‘Aku mendengar Imam Syafi’i mengatakan bahwa siapa yang belajar Al-Qur’ an, maka nilai dirinya tinggi. Siapa yang mempelajari masalah fikih, maka martabatnya menjadi mulia. Siapa yang mempelajari bahasa, maka perasaannya menjadi halus. Siapa yang mempelajari ilmu hitung, maka pandangannya luas. Siapa yang menulis hadits maka hujahnya akan kuat. Dan siapa yang tidak menjaga dirinya, maka ilmunya tidak berguna baginya.” Ucapan ini diriwayatkan dari Imam Syafi’i dengan versi yang berbeda-beda.
========================================
Mu’awiyah bertutur bahwa ia dengar al-A’masy berkata, “Barangsiapa tidak menuntut ilmu hadits, aku gemas untuk menamparnya dengan sandalku.” Hisyam bin Ali bertutur bahwa ia mendengar al-’Amasy berkata, “Jika kamu lihat seorang tua yang tidak membaca Al-Qur’an dan tidak menulis hadits, maka tamparlah dia karena dia termasuk syuyuukhul-qamraa \” Abu Shalih bertanya kepada Abu Jakfar, “Apa maksud syuyuukhul-qamraa itu?” Jawabnya, “Orang-orang tua yang lanjut usia yang berkumpul pada malam-malam terang bulan, mengobrol tentang orang lain sedang tak satu pun dari mereka dapat wudhu dengan baik.”
==========================================
Al-Muzany berkata, “Imam Syafii bila melihat seorang tua maka ia menanyainya tentang hadits dan fikih. Kalau dia tahu sesuatu, maka dipujinya. Tapi bila tidak, maka ia berkata kepadanya,’ Semoga Allah SWT tidak memberimu ganjaran kebaikan atas dirimu dan Islam. Engkau telah menyia-nyiakan dirimu dan menyia-nyiakan Islam.’
=========================================
Alkisah seorang khalifah Bani Abbas sedang bermain catur. Ketika pamannya meminta izin masuk, ia mengizinkannya setelah menutup meja catur. Begitu sang paman duduk, ia bertanya, “Paman, apakah engkau telah membaca Al-Qur”an?”
Jawabnya, “Tidak.”
Ia bertanya lagi, “Apakah engkau telah menulis sebuah hadits?”
“Tidak,” jawabnya.
“Apakah engkau telah membaca fikih dan perbedaan pendapat para ulama?” tanyanya.
Kembali ia menjawab, “Tidak.”
Sang khalifah bertanya lagi, “Apakah engkau telah mempelajari bahasa Arab dan sejarah?”
Ia menjawab, “Tidak.”
Setelah mendengar semua jawaban ini, sang khalifah berkata, “Bukalah meja ini dan lanjutkan permainan!”
Di sini sopan santunnya dan rasa malunya kepada sang paman hilang. Teman bermainnya bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, engkau membuka meja catur itu di hadapan orang yang patut kau hormati?”
Sang khalifah berkata, “Diamlah! Di sini tak ada siapa-siapa.”
=============================================
Ru’bah Ibnul ‘Ajjaj bercerita, “Pernah aku mendatangi an-Nassabah al-Bakry, lalu ia bertanya kepadaku, ‘Siapa kamu?’ Jawabku, ‘Aku Ibnul ‘Ajjaj.’
la berkata, ‘Aku tahu. Mungkin kamu seperti orang-orang yang bila aku diam mereka tidak menanyaiku, dan bila aku berbicara mereka tidak paham.’ Aku berkata, ‘Semoga aku tidak seperti itu.’
Ia bertanya, ‘Siapa musuh-musuh muru “ah,( ‘kewibawaan’)?’
Aku berkata, ‘Beritahukanlah kepadaku!’
Ia menjawab, ‘Teman-teman yang jahat. Bila melihat kebaikan temannya, mereka menutup-nutupinya. Tapi bila melihat keburukan, mereka menyebarkannya.’
Ia melanjutkan, ‘Ilmu itu punya aib, kemalangan, dan cacat. Aibnya adalah melupakannya, kemalangannya adalah berdusta dengannya, dan cacatnya adalah menyebarkannya kepada orang yang tidak layak.’”
=======================================
Ibnu Wahb berkisah, “Saat itu aku sedang berada bersama Imam Malik bin Anas, membaca buku di hadapannya dan mempelajari ilmu. Ketika tiba waktu shalat Zuhur atau Asar, aku kumpulkan buku-bukuku dan aku bangkit untuk shalat sunah. Imam Malik bertanya, Apa yang kamu lakukan ini?’ Aku menjawab, Aku hendak shalat.’ la berkata, Aneh sekali! Shalat yang hendak kamu lakukan itu tidaklah lebih afdhal daripada pelajaran itu, jika niatnya benar.’”
=====================================
Ar-Rabi’ mendengar Imam Syafi’i berkata, “Menuntut ilmu lebih afdhal daripada shalat sunah.”
Sufyan ats-Tsaury berkata, “Tidak ada amal yang lebih afdhal daripada menuntut ilmu agama selama niatnya lurus.”
Seorang pria bertanya kepada al-Mu’afy bin Imran, “Mana yang lebih kamu sukai, aku shalat sepanjang malam atau aku menulis hadits?” la menjawab, “Kamu menulis hadits lebih aku sukai daripada kamu shalat dari awal sampai akhir malam.”
la berkata juga, “Menulis satu hadits lebih aku sukai daripada shalat satu malam.”
Ibnu Abbas berkata, “Menelaah ilmu beberapa saat lebih aku senangi daripada shalat sepanjang malam.”
============================================
Dalam Masa ‘il-nya, Ishaq bin Manshur bertanya kepada Ahmad bin Hambal tentang maksud perkataan Ibnu Abbas di atas, “Ilmu apa yang dimaksudnya?” Ahmad menjawab, “Ilmu yang bermanfaat bagi manusia dalam agama mereka.” Ishaq bertanya lagi, “Tentang wudhu, shalat, puasa, haji, talak, dan sejenisnyakah?” la menjawab, “Benar.”
Ishaq berkata lagi, “Ishaq bin Rahawaih berkata kepadaku, ‘Maksudnya memang seperti yang dikatakan Ahmad itu.’”
Abu Hurairah berkata, “Aku lebih senang duduk sesaat untuk memperdalam ilmu agamaku daripada menghidupkan malam dengan tahajjud sampai pagi.”
Ibnu Abdil Barr menyebutkan dari hadits Abu Hurairah, “Segala sesuatu punya pilar. Dan pilar agama ini adalah ilmu. Allah SWT tidak diibadahi dengan sesuatu yang lebih afdhal dari memperdalam ilmu agama.”
Muhammad bin Ali al-Baqir berkata, “Seorang ulama yang ilmunya bermanfaat lebih baik dari seribu abid/orang yang gemar beribadah.” la berkata juga, “Meriwayatkan hadits dan menyebarkannya di tengah manusia lebih afdhal daripada ibadahnya seribu abid.”
=================================================
dikatakan seorang penyair,
“Sungguh aneh aku rindu kepada mereka
Dan kutanya orang yang kutemui tentang mereka padahal mereka bersamaku
Mataku mencarinya padahal mereka berada di bagian hitamnya
Sedang hatiku merindukan mereka padahal mereka ada di antara tulang
rusukku.”
Yang lain berkata,
“Sungguh aneh seseorang mengadu kejauhan kekasihnya
apakah seorang kekasih itu dapat hilang dari hati kekasihnya?
Bayanganmu di mataku dan sebutanmu di bibirku
tempat tinggalmu di hatiku, maka bagaimana mungkin kamu akan hilang dariku.”
===================================================
Umar bin Qais al-Malaiy (wafat tahun 143
H) berkata, “Apabila anda melihat seorang
pemuda yang tumbuh dewasa bersama
Ahlussunnah maka peliharalah, dan kalau besar
bersama pelaku bid’ah maka jagalah dirimu
darinya. Karena sifat seorang akan tumbuh
dewasa sesuai dengan masa kanaknya”.
Dalam kitab kitab yang sama ditambahkan,
“Sesungguhnya pemuda apabila bergaul dengan
orang alim maka akan selamat, tetapi apabila
bergaul dengan yang lainnya maka akan
terpengaruh
Ibnu Syaudzab (wafat tahun 120 H)
berkata, “Termasuk nikmat Allah kepada pemuda
apabila dewasa diberikan taufik untuk bergaul
dengan pelaku sunnah”
Demikian juga yang dikatakan oleh as-
Sahityani (wafat tahun 131 H), “Termasuk
kebahagiaan bagi seorang apabila diperkenankan
oleh Allah untuk bergaul dengan Ahlussunnah”
==========================================
Ahlus Sunnah memandang bahwa khalifah
setelah Rasulullah secara berurutan adalah Abu
Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali
bin Abi Thalib Radhiyallahu anhumajma’in.
Barangsiapa yang mencela salah satu di antara
mereka, maka dia lebih sesat daripada keledai
karena bertentangan dengan nash dan ijma atas
kekhalifahan mereka .Berbeda dengan sikap ahlul
bid’ah dari kalangan Rafidhoh maupun Khawarij
yang mencela dan meremehkan keutamaan para
sahabat.
==========================================
ku sakit hati ma cowok ku,,
cwok ku selingkuh ma orang lain..
eh klian prnh rsain,,rasa’Y disakiti gitu..???
Teman sejati.. adalah dia yang mau mengerti ketika kamu berkata “aku lupa”, menunggu selamanya ketika kamu berkata “tunggu sebentar”, tetap tinggal ketika kamu berkata “tinggalkan aku sendiri”, dan membukakan pintu meski kamu belum mengetuk dan berkata “bolehkah saya masuk?”
Dalam hidup ini ada begitu banyak pintu kebahagiaan yang terbuka untuk kita, tetapi kadang kita terpaku pada sebuah pintu yang tertutup dan terus berharap suatu saat pintu itu akan terbuka, sehingga kita malah tidak menyadari keberadaan pintu-pintu lain yang terbuka untuk kita
Jangan pernah mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba, jangan pernah menyerah jika kamu
masih merasa sanggup, dan jangan pernah mengatakan kamu tidak mencintainya lagi jika kamu masih tidak dapat melupakannya.
bagi anda semua yang ingin bertanya masalah agama, konsultasi/curhat masalah cinta, konsultasi masalah gangguan sihir/jin/makhluk halus/santet/guna-guna/teluh/tenung, konsultasi semua problem kehidupan, silahkan add facebook teman saya dan silahkan mengajukan pertanyaan-pertanyaan anda kepadanya: abuhaidar.riyanto@gmail.com
“Telah diwajibkan berperang kepada kalian meskipun kalian tidak menyukainya, dan bisa jadi kalian membenci sesuatu padahal itu baik bagi kalian. Dan bisa jadi kalian menyukai sesuatu padahal itu buruk bagi kalian. Allah Maha Mengetahui sementara kalian tidak mengetahui” (albaqarah 216)
Shalahudin telah membebaskan Yerussalem 800 tahun yang lalu, Al Fatih telah merebut konstantinopel 550 tahun yang lalu, kini giliran kita untuk menakhlukkan Washington, Moscow, dan Beijing.
——————————————
Khaibar.. khaibar ya yahud, jaisy muhammad saufa ya’ud (ingatlah peristiwa khaibar wahai bangsa yahudi, tentara Muhammad suatu saat akan datang)
—————————————-
Mereka menamakan kami Wahabiyyin, dan menamakan madzhab kami adalah madzhab wahabi yang dianggap sebagai madzhab yang baru. Ini adalah fitnah, yang timbul dari propaganda-propaganda dusta yang disebarkan oleh musuh-musuh Islam. Kami bukanlah pemilik madzhab baru ataupun aqidah baru. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tidak pernah mendatangkan sesuatu yang baru, aqidah kami adalah aqidah Salafush Shalih yang datang di dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang ditempuh oleh Salafush Shalih. Kami menghormati imam empat, tidak ada perbedaan di sisi kami antara para imam : Malik, Syafi’i, Ahmad dan Abu Hanifah, semuanya terhormat dalam pandangan kami” [Al-Wajiz Fi Siratil Malik Abdul Aziz, hal. 217]
Islam adalah negeri kita, tanah air kita, bangsa kita, keluarga dan kerabat kita. Di belahan bumi manapun syari’at Islam ditegakkan dan kalimat Allah ditinggikan, maka di sanalah negeri kita tercinta. Di bagian bumi manapun umat islam berada, maka mereka lah saudara kita dan bangsa kita. Setiap jengkal tanah di wilayah manapun di muka bumi ini yang dikuasai oleh umat islam maka itulah bagian tanah air kita yang harus selalu kita bela.
========================
“Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanya sementara dan kepada Rabbul ‘Alamin, Allah Tabaraka Wa Ta’ala, kita semua akan kembali. Maka bertaqwalah kepada Allah dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian istiqamahlah!”
bagi anda semua yang ingin bertanya masalah agama, konsultasi/curhat masalah cinta, konsultasi masalah gangguan sihir/jin/makhluk halus/santet/guna-guna/teluh/tenung, konsultasi semua problem kehidupan, silahkan add facebook teman saya dan silahkan mengajukan pertanyaan-pertanyaan anda kepadanya: abuhaidar.riyanto@gmail.com
“Tidaklah di dunia ini ada orang yang lebih menderita dari pecinta
meski ia mendapatkan cinta itu manis rasanya.
Engkau lihat ia selalu menangis pada setiap keadaan, karena takut berpisah atau karena rindu dendam.
Ia menangis jika mereka jauh, sebab didera kerinduan.
Ia menangis pula saat berdekatan, sebab takut perpisahan.
Air matanya mengalir saat bertemu.
Air matanya mengalir saat berpisah.”
cara nyenengin cewe gimana si?
cewe q mahserba salah?
segera menikah dgnnya agar bs nyenengin dia lahir batin, kalo dah nikah ya tipsnya lain lg, he2..
Tips menghilangkan sakit hati, tips-tips melupakan mantan pacar, cara-cara menghadapi patah hati, cara mengobati putus cinta, cara meredakan kesedihan dan kekecewaan akibat putus dengan pacar, tips menyembuhkan hati yang terluka, tehnik melupakan cinta
===========================
Sumber: ISLAMUDA [ http://www.islamuda.com ]
Hati-hati Patah Hati
Ngomongin soal patah hati, pasti ga akan lepas dari yang namanya cinta. Kalo sudah ngomongin soal cinta, maka ceritanya panjang neh. Tul ga? Dari awal mula manusia diciptakan sampe nanti hari kiamat, cerita tentang cinta ga akan pernah bosan diperbincangkan dan ga akan pernah hilang ditelan zaman. Cerita cinta memang ga selamanya indah. Kadang ada yang berakhir dengan tawa, ada juga yang berakhir dengan linangan air mata. Dan patah hati adalah salah satu ending dari cerita ini. Yup. Bad ending (ihiks…..ihiks sedih sekali).
Kata Bang Meggy Z sih, patah hati itu lebih sakit daripada sakit gigi. (kok jadul banget ya…hehehe). Tapi yang paling bener adalah patah hati itu lebih sakit daripada ga patah hati (yeee… ya iyalah!). Nah, kalo sudah kena yang namanya patah hati, hidup serasa mau kiamat, langit runtuh, bumi seakan gelap meskipun ada mentari yang bersinar. Hari-hari terasa sepi karena ga ada pujaan hati. Hati ini tersiksa, seolah mendapatkan penyakit langka yang ga akan pernah ada obatnya. Diri ini semakin sendiri, tidak ada teman yang menemani. Dan kalo sudah begini seakan tidak berguna lagi hidup ini, dan hanya ingin mengakhiri. Terlalu didramatisir nih. Terlalu.
Apa emang bener begitu, kalo kita patah hati? Apa ga ada harapan lagi yang tersisa hingga kita harus mengakhiri hidup? Stop! Slow Down Baby…..Tunggu dulu. Ikutin terus. Capcus !!
Fakta Patah Hati
Emang bener kata Bang Meggy Z tadi, bukan kamu aja yang pernah patah hati. Dari zamannya Nabi Adam, sudah ada yang yang namanya patah hati, bukan barusan muncul aja. Dan gara-gara patah hati orang bisa gelap mata dan kehilangan akal sehatnya (siapa yang menemukan harap di kembalikan, emang akal sehat kaya dompet). Eit, dampaknya macem-macem ditimbulkan hanya gara-gara patah hati. Contoh saja, salah satu anak Nabi Adam, Qabil, rela membunuh saudaranya sendiri, Habil, gara-gara patah hati.
Lain lagi dengan Sri Rahayu (22), gadis asal Kabupaten Kediri. Karena patah hati, dia menenggak minuman karbonasi yang dicampur dengan 12 butir obat sakit kepala. Beruntung nyawanya dapat diselamatkan. Percobaan bunuh diri ini dilakukan korban di objek wisata Goa Selomangleng, Kota Kediri. (detiksurabaya.com).
Hal yang sama dilakukan oleh Ikasari (12). Gadis cilik asal Malang. Dia ditemukan bunuh diri. Tubuhnya tergantung di kusen pintu kamar rumahnya. Lehernya terlilit kain gorden warna pink. Di antara pesannya di buku harian, ditemukan pernyataan kecewa yang mendalam sang gadis cilik terhadap ‘pemuda’ pujaan, Sarip (15). Ini bunyi pesannya, “Sarip, gw tau elo udah nyium cewek lain. Elo nuduh gw selingkuh, tetapi sekarang siapa yang selingkuh? Hati ini hancur..!Hancur!”. (Wuih….gila ga fren, masih 12 tahun, masih bau kecut, eh salah deng, bau kencur. Innalillahi). (Man3malang.com)
Yang agak nyeleneh dilakukan oleh Hugh Hefner, pemilik Majalah Playboy, mengatakan bahwa patah hati yang pernah dialaminya telah memberikan inspirasi padanya untuk menciptakan brand ‘Playboy’ yang terkenal itu. Pria berusia 81 tahun itu mengatakan, “Saat saya berusia 16 tahun, saya pernah naksir seorang gadis. Namun kemudian ia menolak saya dan itulah yang menjadi kuncinya.” Dia kemudian mulai menulis cerita dan membuat gambar telanjang versi komik. Wacks, glodaks…..Ini patah hati, atau nepsong ga kesampaian. (kapanlagi.com).
Sobat, komputer kamu pernah kena virus hallo.roro.htt? Konon juga katanya virus ini dibuat gara-gara si pembuatnya broken heart kepada kekasihnya yang bernama Roro.
By the way, ga sedikit juga orang yang kena patah hati, larinya ke dukun. Ngapain? Pastinya bukan cari obat, kalo cari obat ya ke dokter atau ke apotek. Yup, bener banget. Ada istilah Cinta Ditolak, Dukun Bertindak. Apalagi kalo ga melet si pujaan hati biar balik lagi sama dia. Kalo sudah begini, syirik namanya fren.
Patah Hati, Bisa Mati?
Apa bener se, patah hati bisa bikin kita mati? Siapa yang bilang? Kalo kamu pikir setelah patah hati kudu mati, maka pikiran kamu sempit banget. Jangan khawatir sobat, sebab patah hati atau putus cinta itu ga akan membuat kita mati. Karena cinta itu hanyalah naluri manusia, bukan kebutuhan pokok seperti makan dan minum. Manusia bisa meninggal kalo ga makan 7 hari dan tanpa air selama 3 hari. Kalo rasa cinta ga terpenuhi, kita hanya akan merasa gelisah, ga sampe mati. Paling-paling cuma ga mandi selama 7 hari 7 malem. Ngapain aja ga enak. Tidur ga enak. Makan, ga nafsu. Kita jadi sendiri, ga ada yang mau deketin kita. Siapa yang mau deketin…..Bauuu’. Suer, ga sampe mati. Hanya tindakan apa yang kita lakukan ketika patah hati itu yang harus kita pikirkan, kita bisa memilih. Mau mati, mau bikin playboy tandingan, atau mau bangkit dan melupakan yang sudah-sudah.
Margaret Stroebe dari Universitas Utrecht, Belanda, mengatakan kehilangan seseorang yang dicintai hanya berdampak secara psikologi. Ahli jantung mengatakan orang-orang yang kehilangan pasangan biasanya hidup dengan kebiasaan yang tidak sehat seperti merokok atau diet yang tak terkendali. Nah, cuman begitu kan menurut yang ahli.
Jadi buat kamu yang patah hati karena diputusin pacar, atau gagal saat melamar, jangan sedih dulu, dunia belum kiamat. Cuma rasa patah hati ini walau sudah dikuat-kuatin, kata Mulan Jameela tetep aja kita bukan Wonder Woman yang hatinya bukan terbuat dari besi dan baja, bisa remuk dan hancur. Semua fakta di atas adalah bukti perasaan yang lebur saat menjalani hubungan yang ga resmi dan bubar di tengah jalan. Pacar-pacar mereka pergi begitu saja. Ada yang alasan ga cocok, banyak juga karena berpindah ke lain hati. Hal yang sama juga dialami ketika gagal dalam melamar. Ada perasaan perih di hati ditambah rasa malu.
Salah Pergaulan
Patah hati atau bahasa kerennya broken heart itu bisa karena dua hal, diputusin pacar atau ditolak saat ngelamar. Tapi kalo dilihat pergaulan zaman sekarang, sebab patah hati kebanyakan adalah karena pacaran. Dan pacaran adalah gaul yang salah total. Kalo dilihat dari segi apapun, pacaran lebih banyak bikin kesel hati daripada suka hati. Status hubungan pasangan ini ga jelas, ga sah dan yang pasti ga serius. Malah ga sedikit juga sampe melakukan hal-hal yang ga ga, misalnya aja sex pra nikah dengan dalih kesetiaan. Hayo ngaku!!
Ketika para aktivis pacaran itu ditanya tentang keseriusan mereka untuk merit, mereka pasti bilang, “Lihat aja nanti deh, yang sekarang kita jalanin aja dulu.” Kok mau sih digombalin sama pacar kamu? Apalagi mereka masih mengenakan putih-abu abu, putih biru dan ada juga yang putih merah, mana bisa mau dan siap nikah cepet-cepet. Artinya kamu itu sudah sejak awal bikin peluang besar untuk putus dan berlinangan air mata. Iya kan?
Sedangkan Islam ga pernah ngajarin yang namanya aktifitas pacaran. Dan itu berarti Islam memperkecil volume patah hati yang memang perih banget kalo dirasakan.
Buat yang gagal melamar, bukannya aktifitas yang kamu lakukan itu salah. Mungkin pasangan yang menolak kamu ajak menikah, memang pasangan buat kamu dan bukan jodoh kamu. Mungkin dia hanya pelangi indah yang cuma hanya sesaat menghiasi bumi, dia bukan bulan yang selalu setia menemani bumi dalam mengitari matahari. Duile puitis banget ya. Inget, Allah SWT sudah menjamin tiga hal yaitu rizki, ajal dan jodoh. Dan jangan lupa Allah SWT juga berfirman, artinya : “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (TQS. An Nuur: 26)
Resep patah hati
Kalo kamu sudah terlanjur patah hati, karena diputusin sama pacar atau mutusin pacar setelah baca buletin ini (Amiin!). Atau karena lamaranmu ditolak oleh akhwat atau ikhwan yang kamu incer, jangan gelap mata, keep positive thinking. Seperti kata iklan tipi, ambil enaknya aja ya. Kamu masih bisa memilih apa yang akan kamu lakukan kemudian. Dan itu terserah kamu, positif atau negatif.
Kita ngasih alternatif, kalo obat hati itu ada lima, maka obat patah hati juga ada lima :
1. Jangan mendramatisir keadaan
Kalo lagi patah hati, ga perlu terlarut sampe dalem banget. Hindari suasana yang membuat kamu menjadi mellow atau melankolis. Ga usah dulu deh ndengerin lagu-lagu dengan tema patah hati, Patah hati-nya Radja atau Munajat Cinta-nya The Rock. Atau ngelakuin aktifitas lain yang malah bikin sesek hati. Wah, itu sama aja naburin garam sekarung di atas luka. Perih.
2. Putus asa itu dosa
Inget bahwa berputus asa itu dosa. Rasulullah SAW bersabda : “Dosa besar itu adalah mempersekutukan Allah, putus asa dari karunia Allah dan putus harapan dari rahmat Allah.” (HR. Al Bazzar dan Thabrani)
3. Jangan malah menyendiri
Kamu jangan menyendiri.
Cari teman-teman yang bisa ngasih masukan dan support yang bisa bikin kita bangkit lagi, bukan yang malah menjerumuskan. Bukannya patah hati malah hilang, malah numpuk kayak TPA sampah.
4. Perbanyak kegiatan positif
Bayang-bayang itu semakin sering nongol apabila kita sering bengong. Biar ga sering bengong, kita harus sering bergerak. Lari marathon bisa. Nyangkul di sawah boleh. Atau kegiatan yang paling positif adalah mengaji tentang Islam, dan gabung dengan aktifitas dakwah. Insya Allah bisa ngelupain pahitnya patah hati, karena Islam itu lebih keren dari yang kita duga.
5. Bersyukur, berusaha dan doa
Kalau kamu putus dari pacar, itu berarti terbebas dari perbuatan mendekati zina. Kamu harus bersyukur. Kalo memang sudah siap nikah, nikah aja ngapain pacaran. Buktiin kamu serius. Kalo belum siap, ya jangan dipaksain nikah. Buat kamu yang ditolak saat melamar, itu tandanya Allah ngasih tahu bahwa akhwat/ikhwan itu ga matching sama kamu. Anda belum beruntung. Coba lagi. Dan jangan lupa berdoa karena Allah pasti akan kasih jalan keluar yang terbaik buat kamu. Pasti deh! (di)
Sumber: ISLAMUDA [ http://www.islamuda.com ]
banyak orang mengatakan diriki adalah wanita sholihah, dengan perangaiku yang selalu berjilbab dan santun.aq pun dulu percaya pada driku sendri bahwa driku adalah cew yang kuat dan tegar selain aq percaya pada tuhan akan sllu membantuq dalam setiap permasalahan. tapi….entahlah……sdetelah q mngenal cintaq semua brubah>apalagi ketika ku menghadapi msalah yang pelii bgt, q mrasa rapuh sampai mnjalar ke otot2 badanq hingga trasa kaku>q gak tau knp< q dah coba tanamkam postif thinkjing,berdoa< smpai q mlihat langit dn mnyadarkan driku kal dunia in lias
pleasss tlong aq ;{
o y bnarkah dalam islam ada aturan hukum bagi orang tua untuk mmberi restu atau g?
apa krna miskin orang tua jadi bolh tidak mrestui?
Edisi Patah Hati
-
by burhanshadiq
http://blog.burhanshadiq.com/2007/07/17/edisi-patah-hati/
-
Gubrakzz! Kata itu begitu menyentak. Jadi ingat ciri khas teman akhwat dulu yang suka ngomong kaya’ gitu. Hemm itu pula satu ekspresi yang sedang di alami temen baik saya. Hari-hari ini adalah hari yang sangat mendung baginya. (Loh bukannya dah musim kemarau? Kok Mendung?!) Mendung bukan langit yang mendung, tapi hati yang galau dihajar perasaan bingung sedih dan kacau bercampur menjadi satu. Dia sedang patah hati!
Seperti kata mas Once, “Cintaku bertepuk sebalah tangan…” tapi bukan bertepuk tangan. Apa yang ia pikir menjadi sebuah harapan yang membahagiakan, kini harus kandas oleh sebuah kata maaf yang sempet menghajar hatinya hingga pecah berkeping-keping. Ia sempat mengaku heran dan bingung, kenapa dia yang selama ini so mature, mateng, dewasa, bisa kena virus cinta kayak gini. Mending diterima, lha ini ditolak!
Saya Cuma bilang, “ Sing sabar yo mas…sing sabar…” Saya tahu omongan saya ga bakalan bikin dia happy atau kayak gimana, tapi paling tidak hanya itu yang bisa saya kasih. Saya tidak ingin menceritakan ‘kisah tak berujung’nya dia dengan kekasih hatinya, karena mungkin akan ada banyak orang yang akan protes sama saya. Tapi dengan melihat kasus ini saya jadi semakin yakin bahwa mengelola cinta tanpa terkena dosa amatlah susah.
Ketika cinta itu hadir di hati, ia akan merampas segala konsentrasi, insprirasi bahkan konsumsi.(halah…) Mengusirnya hilang di hati sangat susah, lebih susah dari sekedar mengundangnya hadir. Seperti mengusir ayam keluar dari kamar kita, begitu seorang teman moderator bedah buku pernah berkisah. Ayam yang masuk kamar akan susah dikeluarkan, dan dia baru akan menyerah keluar, setalah membuat kamar kita berantakan. Cinta juga kayak gitu, usirlah kalau bisa, paling tidak akan ada banyak linangan air mata, tisu yang berserakan, dan ingus pilek yang mengganggu pernafasan. Itulah kenapa ia dinamakan JATUH cinta, bukan BANGKIT cinta. Karena kalau jatuh, ia tidak akan mudah berdiri dan bangkit kembali. (Hemm, saya kayak orang yang lagi jatuh cinta ya nulisnya bisa kayak gini. Yang sedang merasa saya jatuh cintai lagi, senyum ya…)
sumber: http://blog.burhanshadiq.com/2007/07/17/edisi-patah-hati/
=
Putus Sama Pacar, Tapi Kok Masih Keingat-ingat Ya..Gimana donk?
sumber: http://pacaranislamikenapa.wordpress.com/2008/04/06/putus-sama-pacar-tapi-kok-masih-keingat-ingat-yagimana-donk/
Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh
Pernah putus “cinta” (baca: putus dari pacar)?? Kalo iya…”kacian deh kamyuuu..:)”.. :p
Ups..sorry..bukannya kita ga berempati, tapi beneran..”kasihan” deh kamu-kamu yang pernah ngerasain putus sama pacarnya
. Makanya..dibilangin jangan pacaran, kamu tetep bandel sih. Coba kalo kamu ga bla..bla..bla. Tapi “it’s OK lah”..:) anggap saja hal itu sebagai kegagalan yang mesti kamu-kamu perbaiki. Kalo udah pernah mengalami jangan mencoba lagi, bagi yang belum mengalami jangan coba-coba
.
Mungkin ada banyak sebab, seseorang bisa putus sama pacarnya. (Dari sudut pandang laki2) Ada yang menganggap sisi “petualangannya” sudah habis (ini tipe orang yang ngebetnya pas PDKT, pas udah dapet bosen), ada juga yang bosan dengan keseharian yang tidak ada “peningkatan”(dari mulai kenal sampe 3 tahun cuma dapet pegang telapak tangannya doank :d), ada juga yang hilang “cintanya” karena ada makhluk baru yang lebih cantik, atau ada juga yang putus karena si cowok atau cewek merasa dikhianati, dstnya. Sebenarnya banyak konteks yang mungkin terjadi dari realita putusnya kamu-kamu sama pacar kamu, tapi kita batasi permasalahan “putusnya” itu pada konteks kamu-kamu merasa dikhianati.
“Bagaikan petir disiang hari…” kata yang doyan dangdut..atau “Baru kusadari..cinta ku bertepuk sebelah tangan..” kata yang doyan Dewa..atau eit..cukup, semakin dicari semakin banyak lagu-lagu atau syair-syair yang mengisahkan tentang putus “cinta”(baca=putus dari pacar). Bahkan mungkin kalau dikumpul-kumpulkan..jangan-jangan banyakan syair putus cinta daripada “sambung cinta”
. Kita ngga akan ngebahas syair-syair itu, tetapi yang pengen kita fokuskan adalah…ternyata…setelah(bisa seminggu, sebulan, atau lainnya) kata “putus” terucap..ada keinginan yang kuat untuk “kembali” dengan si dia. Nah..disini kamu-kamu diuji nih ke-istiqamahannya untuk tidak melanjutkan pacaran dengan si dia atau siapapun lagi sebelum adanya ijab qabul diantara kamu. Ujian itu semakin berat tatkala eks-pacar kamu mengakui kalau dia salah..dia khilaf..dia hanya manusia biasa yang mungkin saja salah. Disatu sisi kamu membenarkan(bisa menerima permintaan maafnya) akan hal itu, disisi yang lain kamu masih ingat akan pengkhianatannya dan khawatir kejadian yang sama akan terulang kembali jika kamu menerimanya lagi, dan disisi yang lain..kamu mulai memahami dan semakin meyakini bahwa jalan perkenalan yang bernama “pacaran” itu bukan jalan yang tepat bahkan menyalahi perintah Allah SWT.
Ibarat persimpangan jalan, saat ini kamu sedang menghadapi 3 persimpangan jalan. Satu..memaafkan si pacar dan melanjutkan aktifitas “perpacaran” dengannya, kedua..menolak permintaan maafnya dan mencari pacar baru, dan ketiga..memaafkannya dan juga meminta maaf kepadanya karena telah “terjebak” ke dalam situasi yang tidak mengenakkan itu, serta mengembalikannya kepada aturan Allah, ga pacaran lagi dengan siapapun…sampai ada ijab qabul yang mengawalinya
. Pilihan pertama dan kedua dijamin akan enak diawal tetapi bakalan ga jelas setelahnya, tetapi pilihan ketiga insyaAllah agak berat diawal tetapi berakhir bahagia dibelakangnya, baik bagi kamu dan bagi si dia. Tetapi kecenderungan yang terjadi pada kebanyakan kita adalah, kita kemudian terjebak pada pilihan yang pertama dan kedua, jarang sekali kemudian kita memilih pilihan yang ketiga. Akhirnya orang akan melihat kita..putus lagi..nyambung lagi, putus lagi..nyambung lagi. Atau putus sama yang ini..pacaran lagi sama yang itu, putus sama yang ntu..pacaran lagi sama yang lain. Ga cowok..ngga cewek kelakuannya kebanyakan sama saat ini, ga juga yang jenggotan..ga juga yang pake jilbab..kadang-kadang agak-agak cenderung pada pilihan pertama dan kedua.
Tetapi..kita setuju, kita bisa memahami perasaan kamu..bukan perkara yang gampang melupakan seseorang yang sering mengisi hati kita hampir disetiap waktu. Bayangin aja, bangun tidur dibanguni “dah bangun sayang..tahajud ga tadi-padahal yang nanya belon sikat gigi juga tuh..hehehe- ..”.., waktu sarapan diingetin, pas mo berangkat kuliah didoain “ati-ati dijalan”..makan siang ditanyain lagi “dah makan siang lom..? nanti pulang kuliah mo dijemput ga? bla..bla..”, jangan lupa makan yah..pas pulang kuliah disms lagi “yang..aku kayanya ga bisa jemput..lagi sibuk nih..-padahal lagi main sama temen2nya :d-”..sampai-sampai sebelum tidur pun telpon2an dulu “tadi gimana..ngapain aja..sama siapa -ceritanya laporan ni yee..hehe-” dsbnya. Makanya ga heran kalo kemudian perasaan “suka”, sama mantan kamu itu menjadi ujian yang cukup berat buat kamu untuk memilih sebuah pilihan yang tepat.
Sebenarnya yang terjadi..kesan “baik dan perhatian” dari mantan pacar kamu lah yang telah menggantikan realita hidup kamu dan dia dari yang sebenarnya. Entah disadari atau tidak kamu berdua akan menafikkan “kekurangan” yang ada pada diri kamu masing-masing, akibat “dosis” kebaikan, perhatian, dan “cinta” yang tidak pada orang yang benar dan tepat. Kemudian melenakan kamu dalam khayalan-khayalan tentang “kesempurnaan” yang ada pada pacar kamu serta “keindahan” metode perkenalan yang kamu jalani, sehingga semakin menarik kalian ke dalam dunia yang jauh dari realita. Meski kita tidak menafikkan secara keseluruhan akan “kebaikan dan perhatian” yang masing-masing kamu tunjukkan itu.. memang ada “cinta”. Tetapi cinta yang tidak sesuai dengan kadarnya itu hanya akan membawa kesedihan dan kesakitan. Ibarat memakan makanan yang enak, tetapi dengan porsi yang melebihi kemampuan kita untuk menampungnya. Yang terjadi kemudian, bukan kesenangan diawal berkelanjutan, tetapi kesedihan dan kesakitan yang dirasakan. Itulah kenapa fenomena “putus-nyambung”, atau “putus lagi pacaran lagi” menjadi realita yang tidak sulit kita temui saat ini.
Kembali kepada persoalan pilihan mana yang kamu ambil, katakanlah pilihan pertama, dimana kamu memaafkan si dia dan melanjutkan berpacaran dengannya, maka kenangan akan “pengkhianatan” yang telah dilakukannya akan selalu menimbulkan rasa was-was pada diri kamu. Kamu akan semakin tidak memberikan “ruang” untuk si dia berlaku salah atau berlaku “tidak sempurna”. Katakanlah kamu memilih pilihan yang kedua, kamu tetap putus dengannya, dan memutuskan untuk menggantikan bayangan-bayangan tentangnya dihatimu dengan orang lain. Yang terjadi kemudian, kamu akan menjadikan ukuran-ukuran “kebaikan dan perhatian” pada mantan kamu sebagai tolak ukur kebaikan dan perhatian pacar baru kamu. Awalnya mungkin masih asik-asik saja, tetapi akhirnya bisa ditebak..kamu atau pacar kamu yang baru tidak akan tahan / sulit menerima realita yang ada, bahwa pacar kamu yang baru memang berbeda dengan pacar kamu yang dulu.
Pengalaman yang salah itu, jika tidak segera direnungi akan berlanjut menjadi pengalaman-pengalaman yang “sama” dan selalu salah dikemudian hari. Entah disadari atau tidak, pengalaman berpacaran itu menjadikan sebagian dari kita kemudian terjebak dengan mind-set mencari “pasangan yang sempurna”, sehingga tidaklah mengherankan jika kita menemukan ada aktifis pacaran yang terbingung-bingung dengan banyaknya realita pernikahan sakinah yang tanpa diawali dengan pacaran. Mereka bingung, kok baru “kenal” sebulan dua bulan anaknya bisa 5, 7, 10 orang bahkan lebih, dan semua anak-anaknya menjadi anak-anak yang sejuk setiap mata yang memandangnya serta keluarganya terlihat penuh cinta. Karena dalam pandangan(baca: yang selalu digembor-gemborkan) mereka yang aktifis pacaran, tidak mungkin ada pasangan yang bisa saling “mencintai” dengan baik jika tidak berpacaran terlebih dahulu -yang kalo ditanya sampai kapan “pacaran” yang katanya baik itu, mereka pun ga punya jawaban yang jelas ).
Nah..melalui tulisan ini, semoga Allah membuka hati-hati kamu yang saat ini sedang dalam kondisi yang sama, untuk memilih pilihan yang ketiga. Tidak ada yang salah dengan cinta kamu dan dia. “Bahasa” Allah SWT melalui realita ini kepada kamu-kamu yang lagi mengalami kondisi diatas mudah-mudahan bisa kamu renungi. Allah menyadarkan kamu tentang makna cinta, tentang siapa yang memiliki cinta, tentang kesombongan kamu yang mengaku bisa menjaga “cinta” dengan berpacaran dstnya. Mantan pacar kamu tidak sepenuhnya salah dalam hal ini karena episode “pengkhianatan” ini sejatinya bagian dari “pengajaran” Allah SWT kepada kamu berdua, apakah kemudian kamu berdua kembali kepada aturan Allah SWT atau justru berpaling dan semakin sombong. Jika kamu berdua bersabar dengan episode hidup seperti ini, kamu berdua akan saling memaafkan dan akan saling mendoakan semoga Allah SWT memilihkan yang terbaik untuk kamu berdua. Kalaulah kamu berdua memang berjodoh, insyaAllah cara-cara yang ma’ruf(baca: bukan dengan berpacaran) akan mengembalikan cinta yang suci diantara kalian. Dan jikalau kamu berdua tidak berjodoh, insyaAllah..Allah akan gantikan masing-masing untuk kalian, seorang pribadi yang jauh lebih baik dari pada masing-masing dari kalian. Yang wanita akan mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari kamu, dan kamu akan mendapatkan wanita yang lebih baik dari mantan pacar kamu dahulu, karena inilah janji Allah bagi mereka yang bersabar, dimana Allah SWT akan melipatgandakan setiap nikmatNya yang bisa kita syukuri, wallahu’alam.
Semoga Allah SWT meneguhkan kita dijalanNya.
Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh
sumber: http://pacaranislamikenapa.wordpress.com/2008/04/06/putus-sama-pacar-tapi-kok-masih-keingat-ingat-yagimana-donk/
Patah Hati Itu Indah
by rahmat-antok ( http://www.makelarz.blogspot.com )
Kalo ngomongin patah hati pasti kita akan berbicara soal kesedihan yang mendalam, nelangsa, menangis berhari-hari, mengurung diri di kamar, rasa tidak percaya bahwa itu bisa terjadi, merasa terkhianati, sesak di dada, marah kadang dendam, bahkan berimbas pada irrasionalitas dengan mengulang-ulang pertanyaan “mengapa”. Kalo kita patah hati dan mengalami hal tersebut berarti kita mencapai tahap istimewa dalam kehidupan kita, karena gak semua orang bisa mengalami patah hati. Istimewa karena saat itulah potensi kemanusiaan kita muncul dengan segala daya energi dan kekuatannya.. atau dengan kata lain orang patah hati itu muncul kesaktiannya.. karena doa orang teraniaya itu gampang terkabul.
Tahap-tahap Patah hati
1. Remuk redam
“kenapa dia berubah?”.Patah hati karena .cinta bertepuk sebelah tangan, atau putus setelah pacaran 2 tahun, 3 tahun, 7 tahun atau bahkan lebih, pasti membuat kita sangat terpukul. Seperti palu godam yang menghantam dada, hati rasanya tersayat sakit luar biasa , sesak di dada, gemetar, berkunang-kunang lalu pingsan hehehe..gak ding…Intinya patah hati bikin sedih campur marah, menangislah karena semua itu WAJAR. Sangat manusiawi ketika sedih ampe berhari-hari apalagi kalo lagi teringat dulu saat bersama.. nelangsa ketika lewat tempat yang mempunyai kenangan bersamanya.. deg-degan saat lewat warung karena takut ditagih saat kita ngutang waktu kencan dulu..Pokoke patah hati bikin sedih tok, pengen nangis dan ketika itu dialami maka lepaskanlah, menangislah karena setiap orang besar pernah menangis bahkan Rasulullah SAW adalah orang yang gampang meneteskan airmata, so ga usah ditahan-tahan, banjirilah ruang-ruang hidupmu dengan keharu-biruan….Bisa sampai seminggu, atau kalo ga di menej dengan benar bisa ampe berbulan-bulan..Tapi jangan sampai kita terlalu larut dalam kesedihan karena patah hati..Lagipula kasihan para sahabat kita dicurhatin terus, padahal hati kecil mereka pasti dah bosen dengan cerita berulang-ulang.
2. Dendam Membara
Ini adalah tahap paling destruktif dalam patah hati. Marah, dendam karena terkhianati, atau ditolak, uring-uringan, BeTe…pokoke emosi jiwa deh..Biasanya muncul pemikiran : “aku ini kurang apa sih?” “apa salahku?..” dasar pengkhianat gak bisa dipercaya..dasar buaya, anjing, kucing, macan, gajah, komodo, anoa dan babirusa hewan langka se-Asia Tenggara disebut semua.. Wajar kok kalo kita marah dan emosi. Siapa sih yang gak marah ketika dikhianati? Janji palsu, gombal..!! Saat inilah ENERGI patah hati kita terkumpul. Rasanya rugi aja kalo kita cenderung menyalahkan diri sendiri trus energi kemarahan disalurkan dengan membanting piring, gelas, HP,..kan sayang belinya repot, sekalian aja banting Tivi Plasma biar bangkrut, atau membanting pintu, klo rusak trus terkunci di kamar gimana dong,…Gara-gara patah hati jadi konyol…Dan fenomena yang menarik adalah kita cenderung sirik kalo liat orang pacaran, rasanya pengen nyambit pake sepatu, kalo ada kucing kawin pengen mbanjur pake aer soale berisik, kalo ke kondangan kawinan makan berlebihan biar yang nikah tombok kehabisan makanan, dan yang paling sering adalah karena patah hati jadi dendam terhadap setiap lawan jenis. Berjanji ga akan percaya lagi ama makhluk yang namanya laki-laki, atau kalo cowok ga bakal lagi setia ama satu cewek, pokoke janji yang gak jelas dan melupakan fitrah bahwa setiap manusia diciptakan Tuhan dalam keadaan UNIK, gak bisa digeneralisir…
Energi kemarahan karena patah hati ini mending buat hal yang positif, minimal tulis aja di buku harian, atau kalo masih marah buat nyangkul aja pasti gak terasa udah sehektar, atau ikutan lomba marathon kalo menang malah dapat duit..kan lumayan..hehehe
3. Empty Space
Setelah marah karena patah hati biasanya kita merasa kosong, sendiri, kesepian, hampa terasa hidupku tanpa dirimu…malam minggu kelabu, mengurung diri, males jalan…sensi kalo ndengerin lagu bertemakan patah hati. Merasa jadi orang yang paling tidak beruntung, mengapa kok aku dikasih cobaan seperti ini,.. jadi ga pede trus jadi pengen mengisi kekososngan dengan ngawur, hura-hura, dugem atau parahnya jadi menurunkan standar calon jodoh bagi kita. Pokoke asal ada yang nembak pasti langsung diembat untuk mengisi kekosongan itu. Waduh jadi gak mutu..asal ada yang ngasih perhatian aja udah diterima…Kok karena patah hati rasanya jadi despert dan seputus asa itu sih..? Trus gimana dong? Masak bertahan jomblo terus..? Lihat sisi positifnya dong..Sendiri itu bebas, ga ada yang nyemburuin, lakukan hal-hal yang biasanya gak bisa kita lakukan saat kita punya pasangan. Waktu kita jadi banyak karena berkurangnya waktu buat pacaran, jadi ayo berkreasi dan produktif. Lagipula kita harus punya harga diri, jangan menghina diri sendiri dengan mencari pasangan untuk pengisi kekosongan karena diri kita sangat berkualitas. Gak percaya diri adalah bentuk penghinaan terhadap Tuhan yang telah menciptakan kita dengan segala kelebihan..Percayalah kalo kita punya banyak kelebihan dibanding orang lain, potensi terpendamnya belum dimaksimalkan sih…Intinya sih jangan berusaha membuat seseorang mencintai kita tapi berusahalah membuat diri kita layak dicintai…Ayo meningkatkan kualitas..!
4. Fight again..!
Nah kalo udah ga patah hati baru nyari pasangan lagi. Tips nya gampang,.. bersosialisasilah…, ikut kursus, datang ke reuni, on line chatting, obok2 friendster dsb. Awalnya pasti males, tapi paksalah diri kita, hingga terjebak di jalan yang benar …,Trus kalo masalah cara memikat pasangan kayaknya gak perlu soale rahasia dan takut disalah gunakan, takut dibaca ama pendekar aliran hitam berwatak jahat..hehehe, So Keep fighting…makasih dah baca, jangan patah hati, rugi, jangan kelamaan sedih… senyum dong..
…Jangan lupa kasih komentarnya..
Patah hati itu manusiawi, patah hati itu wajar, Patah hati itu menyenangkan, patah hati itu indah, patah hati itu pengalaman yang berharga, patah hati itu membuat kita belajar banyak, patah hati itu anugerah Tuhan, Patah hati itu ga perlu disesali, Patah hati itu bagian dari hidup, patah hati itu tidak sama dengan putus asa, patah hati itu positif, patah hati itu tidak akan membuat kita jatuh, mungkin malah jatuh cinta.. MERDEKAA..!!!!
sumber: http://makelarz.blogspot.com/2008/02/patah-hati-itu-indah.html
=
=
Bila Cinta Tak Berbalas
Oleh: Iwan Yanuar
( http://catatankecil.multiply.com/journal/item/41/Bila_Cinta_Tak_Berbalas_ )
“Maaf Akhi, bukannya saya tidak menghormati permintaan akhi. Tapi rasanya kita cukup menjalin ukhuwah saja dalam perjuangan. Saya doakan semoga akhi menemukan pasangan lain yang lebih baik dari saya.”
Amboi, bagaimana rasanya bila kalimat di atas dialami oleh para ikhwan? Bisa saja langit terasa runtuh, hati berkeping-keping. Sang pujaan hati yang kita harapkan menjadi teman setia dalam mengarungi perjalanan hidup menampik khitbah kita. Segala asa yang pernah coba ditambatkan akhirnya karam. Cinta suci sang ikhwan bertepuk sebelah tangan.
Ya drama kehidupan menuju meghligai pelaminan memang beragam. Ada yang menjalaninya dengan smooth, amat mulus, tapi ada yang berliku penuh onak duri, bahkan ada yang pupus ditengah perjalanan karena cintanya tak bertaut dalam maghligai pernikahan.
Ini bukan saja dialami oleh para ikhwan, kaum akhwat pun bias mengalaminya. Bedanya, para ikhwan mengalami secara langsung karena posisi mereka sebagai subyek/pelaku aktif dalam proses melamar. Sehingga getirnya kegagalan cinta –seandainya memang terasa getir- langsung terasa. Sedangkan kaum akhwat perasaanya lebih aman tersembunyi karena mereka umumnya berposisi pasif, menunggu pinangan. Tapi manakala sang ikhwan yang didamba memilih berlabuh dihati yang lain kekecewaan juga merebak dihati mereka.
Ikhwan dan akhwat rahimakumullah, siapapun berhak kecewa manakala keinginan dan cita-citanya tidak tercapai. Perasaan kecewa adalah bagian dari gharizatul baqa’ (naluri mempertahankan diri) yang Allah ciptakan pada manusia. Dengannya, manusia adalah manusia bukan onggokan daging dan tulang belulang. Ia juga bukan robot yang bergerak tanpa perasaan, tapi manusia memiliki aneka emosi jiwa. Ia bisa bergembira tapi juga bisa kecewa.
Emosi negatif, seperti perasaan kecewa akibat tertolak, bukannya tanpa hikmah. Kesedihan akan memperhalus perasaan manusia, bahkan akan meningkatkan kepekaannya pada sesama. Bila dikelola dengan baik maka akan semakin matanglah emosi yang terbentuk. Tidak meledak-ledak lalu lenyap seketika. Ia akan siap untuk kesempatan berikutnya; kecewa ataupun bergembira. Jadi mengapa tidak bersyukur manakala kita ternyata bisa kecewa? Karena berarti kita adalah mansia seutuhnya.
Kegagalan meraih cinta juga bukan pertanda bencana. Tapi akan memberikan pelajaran beharga pada manusia. Seorang filsuf bernama John Charles Salak mengatakan : Orang-orang yang gagal dibagi menjadi dua; yaitu mereka yang berfikir gagal padahal tidak pernah melakukannya, dan mereka yang melakukan kegagalan dan tak penah memikirkannya.
Karenanya kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, tapi justru awal dari segala-galanya. Meski terdengar klise tapi ada benarnya; ambillah pelajaran dari sebuah kegagalan lalu buatlah perbaikan diri. Tentu saja itu dengan tetap mengimani qadla Allah SWT. Agar kegagalan mengkhitbah tidak menjadi petaka, maka ikhwan dan akhwat, persiapkanlah diri sebaik-baiknya, ada beberapa langkah yang bisa diambil:
#### Percayai qadla
Manusia tidak suka dengan penolakan. Ia ingin semua keinginannya selalu terpenuhi. Padahal ditolak adalah salah satu bagian dari kehidupan kita. Kata seorang kawan, hidup itu adakaanya tidak bisa memilih. Perkataan itu benar adanya, cobalah kita renungkan, kita lahir kedunia ini tanpa ada pilihan; terlahir sebagai seorang pria atau wanita, berkulit coklat atau putih, berbeda suku bangsa, dsb. Demikian pula rezeki dan jodoh adalah hal yang berada di luar pilihan kita. Man propose, god dispose. Kita hanya bisa menduga dan berikhtiar, tapi Allah jua yang menentukan.
“Sesungguhnya salah seorang di antara kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam rahim ibunya selama 40 hari kemudian menjadi ‘alaqah kemudian menjadi janin, lalu Allah mengutus malaikat dan diperintahkannya dengan empat kata dan dikatakan padanya: tulislah amalnya, rizkinya dan ajalnya.” (HR.Bukhari)
Maka kokohkanlah keimanan saat momen itu terjadi pada kita. Yakinilah skenario Allah tengah berlangsung, dan jadilah penyimak yang baik dengan penuh sangka yang baik padaNya. Tanamkan dalam diri kita ‘Allah Mahatahu yang terbaik bagi hamba-hambaNya’ . Jangan biarkan kekecewaan menggerogoti keimanan kita kepadaNya. Apalagi dengan terus menanamkan prasangka buruk padaNya. Segerahlah sadar bahwa ini adalah ujian dari Allah . akankah kita menerima qadla-Nya atau merutuknya?
Dengan demikian, fragmen yang pahit dalam kehidupan InsyaAllah akan memperkuat keyakinan kita bahwa Allah sayang pada kita. Demikian sayangnya, sampai-sampai Allah tidak rela menjodohkan kita dengan si fulan yang kita sangka sebagai pelabuhan cinta kita.
#### Bersiap untuk cinta dan bahagia
Seandainya ukhti menjadi istri saya, saya berjanji akan membahagiakan ukhti, demikian ungkapan keinginan para ikhwan terhadap akhwat yang akan mereka lamar. Puluhan, mungkin ratusan angan-angan kita siapkan seandainya si dia menerima pinangan cinta kita. Kita begitu siap untuk berbahagia dan membahagiakan orang lain. Sama seperti banyak orang yang ingin menjadi kaya, tenar dan dipuja banyak orang.
Sayang, banyak diantara kita yang belum siap untuk merasa kecewa. Dan ketika impian itu berakhir kita seperti terhempas. Tidak percaya bahwa itu bisa terjadi, ada akhwat yang ‘berani’ menolak pinangan kita. Bila kurang waras, mungkin akan keluar ucapan, “berani-beraninya. .. atau apa yang kurang dari saya…..
Akhi dan ukhti, jangan biarkan angan-angan membuai kita dan membuat diri menjadi tulul amal, panjang angan-angan. Sadarilah semakin tinggi angan membuai kita, semakin sakit manakala tak tergapai dan terjatuh. Ambillah sikap simbang setiap saat; bersiap diri menjadi senang sekaligus kecewa. Sikap itu akan menjadi bufferl penyangga mental kita, apapun yang terjadi kelak.
Manakala kenyataan pahit yang ada di depan mata, sang akhwat menolak khitbah kita atau sang ikhwan memilih ‘bunga’ yang lain, hati ini tidak akan tercabik. Yang akan datang adalah keikhlasan dan sikap lapang dada. Demikian pula saat ia menjatuhkan pilihannya pada kita, hati ini akan bersyukur padaNya karena doa terkabul, keinginan menjadi kenyataan.
“Menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya urusannya seluruhnya baik dan tidaklah hal itu dimiliki oleh seseorang kecuali bagi seorang mukmin. Jika mendapat nikmat ia bersyukur maka hal itu baik baginya, dan jika menderita kesusahan ia bersabar maka hal itu lebih baik baginya.” (HR. Muslim)
#### Bukan Aib
Ditolak? Emang enak! Wah, mungkin demikian pikiran sebagian ikhwan. Malu, kesal dan kecewa menjadi satu. Tapi itulah bentuk ‘perjuangan’ menuju pernikahan. Kita tidak akan pernah tahu apakah sang pujaan menerima atau menolak kita, kecuali setelah mengajukan pinangan padanya. Manakala ditolak tidak usah malu, bukan cuma kita yang pernah ditolak, banyak ikhwan yang ‘senasib’ dan ‘sependeritaan’ . Saatnya berjiwa besar ketika ditolak. Tidak perlu merasa terhina. Demikian pula saat banyak orang tahu hal itu. Bukankah apa yang kita lakukan adalah sesuatu yang benar? Mengapa mesti malu.
#### Kita mungkin takkan Bahagia’ jika dengan dia
Marah-marah karena lamaran tertolak? Mendoakan keburukan pada ikhwan yang tidak mencintai kita? Itu bukan sikap seorang muslim/muslimah yang baik. Tidak ada yang bisa melarang seseorang untuk jatuh cinta maupun menolak cinta. Sebagaimana kita punya hak untuk mencintai dan melamar orang, maka ada pula hak yang diberikan agama pada orang lain untuk menolak pinangan kita. Bahkan dalam kehidupan rumah tangga pun seorang suami dan istri diberikan hak oleh Allah SWT. Untuk membatalkan sebuah ikatan pernikahan. Mengapa ada hak penolakan cinta yang diberikan Allah pada kita? Bahkan dalam pernikahan ada pintu keluar ‘perceraian’? jawabannya adalah sangat mungkin manusia yang jatuh cinta atau setelah membangun rumah tangga, ternyata tak kunjung memperoleh kebahagiaan ( al hanaah ) dari pasangannya, maka tiada guna mempertahankan sebuah bahtera rumah tangga bila kebahagiaan dan ketentraman tak dapat diraih. Wallahu’alam bi ash shawab
Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. ( Al-Baqarah[2] :229 ) . Berpikir positiflah manakala cinta tak berbalas. Belum tentu kita memperoleh kebahagiaan bila hidup bersamanya. Apa yang kita pandang baik secara kasat mata, belum tentu berbuah kebaikan di kemudian hari. Adakalanya keinginan untuk hidup bersama orang yang kita idamkan begitu menggoda. Tapi bila ternyata cinta kita bertepuk sebelah tangan, untuk apa semua kita pikirkan lagi? Allah Maha Pangatur, ia pasti akan mempertemukan kita dengan orang yang memberikan kebahagiaan seperti yang kita angankan. Bahkan mungkin lebih dari yang kita harapkan.
Be positive thinking, suatu hari kelak ketika antum telah menikah dengan orang lain bukan dengan si dia yang antum idamkan- niscaya antum takjub dengan kebahagiaan yang antum rasakan. Percayalah banyak orang yang telah merasakan hal demikian.
Saya tak mungkin berbahagia tanpanya’
ini adalah perangkap, ia akan memenjarakan kita terus menerus dalam kekecewaan. Perasaan ini juga menghambat kita untuk mendapatkan kesempatan berbahagia dengan orang lain. Mereka yang terus menerus mengingat orang yang pernah menolaknya, dan masih terbius dengan angan-angannya sebenarnya tengah menyiksa perasaan mereka sendiri dan menutup peluang untuk bahagia. Mari berpikir jernih, untuk apa memikirkan orang lain yang sudah menjalani kehidupannya sendiri? Jangan biarkan orang lain membatalkan kebahagiaan kita. Diri kitalah yang bisa menciptakannya sendiri. Untuk itu tanamkan optimisme dan keyakinan terhadap qadla Allah SWT. Insya Allah, akan ada orang yang membahagiakan kita kelak.
Cinta membutuhkan waktu
“maukah ukhti menjadi istri saya? Saya tunggu jawaban ukhti dalam waktu 1 X 24 jam!” Masya Allah, cinta bukanlah martabak telor yang bisa di tunggu waktu matangnya. Ia berproses, apalagi berbicara rumah tangga, pastinya banyak pertimbangan- pertimbangan yang harus dipikirkan. Ada unsur keluarga yang harus berperan. Selain juga ada pilihan-pilihan yang mungkin bisa diambil. Jadi harap dipahami bila kesempatan datangnya cinta itu menunggu waktu. Seorang akhwat yang akan dilamar –contoh extrim pada kasus diatas- bisa jadi tidak serta merta menjawab. Biarkanlah ia berpikir dengan jernih sampai akhirnya ia melahirkan keputusan. Jadi cara berpikir seperti di atas sebenarnya lebih cocok dimiliki anggota tim SWAT ketimbang orang yang berkhitbah
Ideal bagus, Tapi realistik adalah sempurna
Suami yang saya dambakan adalah yang bertanggungjawab pada keluarga, giat berdakwah dan rajin beribadah, cerdas serta pengertian, penyayang, humoris, mapan dan juga tampan.” Itu mungkin suami dambaan Anda duhai Ukhti . tapi jangan marah bila saya katakan bahwa seandainya kriteria itu adalah harga mati yang tak tertawar, maka yang ukhti butuhkan bukanlah seorang ikhwan melainkan kitab-kitab pembinaan. Kenyataannya tidak ada satupun lelaki didunia ini yang bisa memenuhi semua keinginan kita. Ada yang mapan tapi kurang rupawan, ada yang rajin beribadah tapi kurang mapan, ada yang giat dakwah dakwah tapi selalu merasa benar sendiri, dsb. Ini bukan berarti kita tidak boleh memiliki kriteria bagi calon suami/istri kita, lantas membuat kita mengubah prinsip menjadi ‘yang penting akhwat” atau “yang penting ikhwan”. Tapi realistislah, setiap menusia punya kekurangan – sekaligus kelebihan. Mereka yang menikah adalah orang-orang yang berani menerima kekurangan pasangannya, bukan orang-orang yang sempurna. Tapi berpikir realistis terhadap orang yang akan melamar kita, atau yang akan kita lamar, adalah kesempurnaan. Maka doa kita kepada Allah bukanlah,”berikanlah padaku pasangan yang sempurna” tetapi “ya Allah, karuniakanlah padaku pasangan yang baik bagi agamaku dan duniaku.
Kekuatan Ruhiyah
Percaya diri itu harus, tapi overselfconfidence adalah kesalahan. Jangan terlalu percaya diri akhi bahwa lamaran antum diterima. Jangan juga terlalu yakin ukhti, bahwa sang pujaan akan datang ke rumah anti. Perjodohan adalah perkara gaib. Tanpa ada seorang pun yang tahu kapan dan dengan siapa kita akan berjodoh. Cinta dan berjodohan tidak mengenal status dan identifikasi fisik. Bukan karena ukhti cantik maka para ikhwan menyukai ukhti. Juga bukan karena akhi seorang hamalatud da’wah lalu setiap akhwat mendambakannya. Kita tidak bisa mengukur kebahagiaan orang lain menurut persepsi kita. Bukankah sering kita melihat seseorang yang menurut kita “luar biasa” berjodoh dengan yang ‘biasa-biasa’ . Seperti seringnya kita melihat pasangan yang ganteng dan cantik, populer tapi kemudian berpisah. Inilah rahasia cinta dan perjodohan, tidak bisa terukur dengan ukuran-ukuran manusia.
Maka landasilah rasa percaya diri kita dengan sikap tawakal kepada Allah. Kita berserah diri kepadaNya akan keputusan yang ia berikan. Jauhilah sikap takkabur dan sombong. Karena itu semua hanya akan membuat diri kita rendah dihadapan Allah dan orang lain. Intinya saya bermaksud mengatakan ‘jangan ke-ge-er-an’ dengan segala title dan atribut yang melekat pada diri kita.
Beri cinta kesempatan (lagi)
……….dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” ( QS. Yusuf[12]:87 )
Bersedih hati karena gagal bersanding dengan dambaan hati wajar adanya. Tapi bukan alasan untuk menyurutkan langkah berumah tangga. Dunia ini luas, demikian pula dengan orang-orang yang mencintai kita. Kegagalan cinta bukan berarti kita tidak berhak bahagia atau tidak bisa meraih kebahagiaan. Bila hari ini Allah belum mempertemukan kita dengan orang yang kita cintai, insyaAllah ia akan datang esok atau lusa, atau kapanpun ia menghendaki, itu adalah bagian dari kekuasaanNya cinta juga berproses. Ia membutuhkan waktu. Ia bisa datang dengan cepat tak terduga atau mungkin tidak seperti yang kita harapkan. Ada orang yang dengan cepat berumah tangga, tapi ada pula yang merasakan segalanya berjalan lambat, namun tidak pernah ada kata terlambat untuk merasakan kebahagiaan dalam pernikahan. Beri kesempatan diri kita untuk kembali merasakan kehangatan cinta. love is knocking outside the door.’
Kata musisi Tesla dalam senandung love will find a way. Tidak pernah ada kata menyerah untuk meraih kebahagiaan dalam naungan ridhoNya. Yang pokok, ikhwan atau akhwat yang kelak akan menjadi pasangan kita adalah mereka yang dirihoi agamanya.
“Jika melamar kepada kalian seseorang yang kalian ridho agamanya dan akhlaknya maka nikahkanlah ia, bila kalian tidak melakukannya maka akan ada fitnah di muka bumi dan kerusakan yang nyata” (HR. Turmudzi)
“Wanita dinikahi karena satu dari tiga hal; dinikahi karena hartanya, dinikahi karena kecantikannya, dinikahi karena agamanya. Maka pilihlah yang memiliki agama dan akhlak (mulia) niscaya selamat dirimu.” (HR.Ahmad)
sumber: http://pacaranislamikenapa.wordpress.com/2007/12/22/bila-cinta-tak-berbalas/
=
Tips mengatasi putus cinta ala parto
sumber: http://baliazura.wordpress.com/2008/04/11/tips-menghadapi-putus-cinta/
1.
Ikuti kesedihan yang berbumbu kekecewaan dan bertabur kejengkelan keluar dari dalam dirimu, mengamuk atau menangis yang keras (ga banget deh) sangat dianjurkan.
memukul tembok, mengigit bantal sebaiknya dihindari apalagi mengigit sandal.
2.
Jaga hubungan baik dengan diri sendiri, sadari petuah ti pat kai ‘begitulah cinta, deritanya tiada berkahir’.jangan langsung melakukan hal yang menyakiti tubuh kita, misalnya ga makan, menggundul rambut, tiba-tiba melakukan tatto, percing apa lagi klo punya niat ganti kelamin ( iich…ngerriii)
3.
Manjakan diri, untuk mengobati kekecewaan dianjurkan pergi ke tempat pijat (no ples-ples), klo ga ada duit cukup ke tukang pijat keliling. Klo masih sayang ngeluarin modal tinggal ngupil, ngorekin kuping, atau gigitin kuku ampe kuku jempol kaki juga boleh (jangan gila donk!). Makan yang banyak dan lezat jangan lupa tambahin sambel biar ga ketahuan klo kita sebenernya menangis ( buat cowo yang malu nangis ).
4.
Melepaskan beban dengan mengunting rambut,yang dipercaya bisa memberikan suasana baru.atau berpakaian dengan gaya terbalik mungkin?
siapa tau bisa menjadi tren senter.
5.
Untuk sementara buang ke kolong tempat tidur semua poto-poto dan benda-benda yang ada hubungannya dengan dia, tapi klo duit buangnya dikolong tempat tidurku( ya klo ini bisa berhasil,tiap hari berdoa ada orang yang putus ‘plak’)
6.
Jauhi tempat-tempat yang bisa mengingatkan kepada dia, apa lagi tempat-tempat maksiat ( hati-hati musim ‘grebekan’ ), jangan dengarkan lagu-lagu tentang kisah dulu meskipun dinyanyiin langsung sama penyanyinya, usir.. atau paksa ganti lagu ( ga dijamin ).
Dengerin hal-hal yang jelek tentang dia dari musuh-musuhnya pasti langsung perfikir untung..
7.
Lalukan kegiatan yang positif, menulis ( biasanya langsung dapet mood satu novel ), ng-blog, ng-game, masak, baca naruto, nonton pilem flora dan fauna atau tonton Tukul, tidur seharian juga boleh.
8.
Jangan buru-buru berfikir untuk dapet pacar baru apalagi punya pikiran ngrebut pacar temen. hindari menjalin hubungan pelarian dengan alasan ga suka jadi jablay.
9.
Pergi bersenang-senang ke tempat-tempat keramaian seperti pasar,terminal,tempat kampanye ( klo ada yang lebih ramai lebih baik ) atau ikutan demo,sangat dianjurkan setelah ngamuk,nangis dan berdiam diri menyesali keadaan.
10.
Buat semboyan, mati satu tumbuh seribu, wanita bukan satu saja, masih banyak janda-janda yang butuh kita (upps), wanita racun dunia, berakit-rakit kehulu, tak lari gunung dikejar, tak ada gading yang tak retak, satu satu aku sayang ibu ( kok..?)
11.
Bangkitkan semangatmu.rawe rawe rantas malang-malang tuntas. Tunjukkan kekuatanmu seperti pahlawan bertopeng ha ha ha( sincan is on ) atau taxedo bertopeng dalam melawan penjahat cinta.
12.
Berfikirlah ini adalah proses untuk kedewasaan dan pematangan sikapmu dalam menghadapi kenyataan hidup.
sumber: http://baliazura.wordpress.com/2008/04/11/tips-menghadapi-putus-cinta/
=
kepada hati yang diremukkan…..
sumber;
http://www.nadhiv.wordpress.com
ada tergores luka di ujung cinta
ada torehan perih di tepian kasih
ilhamkan selembar kata: benci
di lorong kalbu timbul sebuah pahatan tanda tanya
benarkah cinta itu indah?
ombak di laut menggeleng: aku tak mengerti
embun pun menjawab: tak ada dalam catatanku.
bangku kelas 3, MTs negeri tuban
==============
demi Allah, tidak ada niat untuk membuka luka lama dengan terpajangnya coretan masa kecil di atas. aku sudah menghapus semuanya, tanpa sisa. tak ada lagi benci, sungguh.
aku hanya ingin berbagi dengan seorang tetangga, yang hatinya baru saja diremukkan. aku sendiri sulit membayangkan bagaimana perih dan sakitnya, hanya bisa mengira-ngira. karena, sebagaimana terbaca dalam coretan di atas, aku pun pernah terluka, meski dengan derajat yang jauh lebih rendah dan pada usia yang jauh lebih mentah.
pernikahan tetanggaku itu hanya kurang beberapa lagi. aneka kue dan penganan sudah dibuat untuk merayakan hari bahagianya. para kerabat, handai taulan, tetangga, sahabat, dan orang-orang terdekat lainnya sudah dikabari. tapi siapa sangka, calon mempelai putri tiba-tiba membatalkan rencana pernikahan itu, dengan alasan sadis: dia memiliki calon suami yang lain!!
dan benarlah, belum genap seminggu yang lalu, kira-kira satu setengah bulan dari pembatalan pernikahan itu, perempuan itu melangsungkan pernikahan dengan calon suami yang lain yang dimaksudkannya itu, menyempurnakan remuk redamnya hati. ohh..
aku jadi teringat dongeng tentang putri kediri dan mesosuro, yang pernah diceritakan mak sukini, ibu kosku.
mesosuro, manusia sakti berkepala sapi, berniat melamar putri kediri, yang cantik rupawan. sebagaimana dalam dongeng-dongeng serupa, sang putri memberikan syarat aneh-aneh pada pelamarnya. dia meminta mesosuro membuatkannya bengkung jagat, semacam selendang untuk mengikat bumi. dengan kesaktiannya, mesosuro mampu mengabulkan permintaan itu. tapi sang putri belum puas. ia minta syarat lain: buat sumur.
nah, di saat mesosuro berusaha keras menyelesaikan tugasnya menggali sumur itulah, dari atas, putri kediri mengurugnya dengan tanah dan batu. terkuburlah mesosuro hidup-hidup di tangan orang yang dicintainya dalam usahanya mempersembahkan apa yang justru diminta pujaan hatinya itu. luka tidak hanya di hatinya, tapi juga jasadnya.
namun, sesakit apapun, itu hanya dongeng; sementara apa yang dialami tetanggaku bukan. ia ada dalam realita. lukanya nyata.
…
…
entah apa maksud Tuhan ketika membiarkan hati hambaNya terluka. tapi aku percaya, selalu ada hikmah dalam setiap musibah. dalam kasus tetanggaku ini, bisa jadi bahwa semua ini hanya skenarioNya untuk mempertemukannya dengan isteri yang jauh lebih baik, entah di dunia atau di akhirat kelak. bisa jadi pula ini adalah skenarionaNya untuk “menyelamatkannya” dari rumah tangga yang menyesakkan dada (andai ia jadi menikah dengan wanita yang menyakitinya itu).
“tetapi mengapa mesti dengan cara seperti ini?”, begitu mungkin tanyanya, sebagaimana aku dulu. tentu hanya Tuhan yang tahu jawabnya. yang aku tahu hanyalah bahwa seringkali justru penderitaanlah yang membuat kita semakin kuat menghadapi berbagai kemungkinan. bahkan jika kita belajar pada alam, justru penderitaan adalah sarana penyempurnaan. bukankah bayi kupu-kupu harus mati-matian berjuang untuk keluar dari lubang sempit kepompongnya semata agar sayap-sayapnya nantinya kuat untuk membawanya terbang mengelilingi taman? bukankah tanah harus diluku dan dibajak dulu agar bisa menyuburkan tanaman? bukankah emas harus digosok keras-keras dulu agar bisa berkilauan?
tokoh gertruida dalam novel parijs van java dengan indahnya merenung,
“barangkali kehidupanku yang sesungguhnya harus diawali dengan kegetiran supaya aku bisa menghargai pengalaman kemenangan”
maka kepada siapapun yang disakiti, dilukai, dan diremukkan hatinya, aku bersimpati dan mengajak menikmati, sesusah apapun itu. jangan, jangan bunuh diri.
sumber: http://nadhiv.wordpress.com/2007/10/24/kepada-hati-yang-diremukkan/
http://www.nadhiv.wordpress.com
==
nasehat bagi yang patah hati – nasihat bagi yang sakit hati – saran bagi yang putus cinta – tips bagi yang lagi brokenheart
=
http://noorputri.multiply.com/
Assalamualaikum…
afwan nih….Dr. Dianputri, MD…:D banyak mendapatkan curhatan soal cinta, kehilangan, kebuntuan jalan, atau kisah-kisah sedih lainnya. Sekedar mau berbagi saja, semoga bisa bermanfaat !.
buat yang lagi sad…jangan sad mulu, hidup terlalu indah untuk tidak dinikmati..Hidup adalah jalan kemenangan…. LA TAHZAN !!!
1. ingat bahwa cinta sejati hanya kepada Allah. cintamu yang berlebihan saat ini hanya cinta semu yang suatu hari pergi dan meninggalkanmu.
Q.S. ALI IMRAN : 14
“DI hiaskan kepada manusia, mencintai syahwat (keinginan nafsu), seperti perempuan-perempuan, anak-anak, dan harta yang banyak dari emas, perak, kuda yang bagus, binatang-binatang ternak dan tanam – tanaman. Demikian itulah kesukaan hidup di dunia, dan di sisi ALLAH tempat kembali sebaik-baiknya (yaitu surga).”
2. percayalah bahwa yang hilang itu bukan yang terbaik untukmu, percayalah bahwa Allah akan mengganti apa-apa yang hilang darimu, dan mengganti hari – hari duka dengan hari-hari kebahagiaan.
]QS. ALI IMRAN : 139
“Janganlah kamu lemah dan jangan pula berduka cita, sedang kamu orang-orang yang lebih tinggi jika kamu berimanâ€.
3. Tidaklah Allah memberikan ujian bagi umat tanpa mengetahui kemampuan umat Nya. Segala cobaan dan ujian yang diberikan semata-mata sudah sesuai dengan kemampuan kita mengatasinya.
“Dan sesungguhnya Kami tetap akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang yang berjuang dan bersabar daripada kalangan kamu dan agar Kami dapat mengesahkan (benar atau tidaknya) berita mengenai keadaan kamu.” (Surah Muhammad: ayat 31)
4. Sesungguhnya kita harus bersyukur bahwa cobaan dan ujian yang kita dapat sesungguhnya adalah sebuah pembuktian cinta kita kepada Allah. sebagus kita mengatasi sebuah ujian dan cobaan, sebagus itulah kita membuktikan cinta kita kepada Allah, dan semakin bagus pulalah cinta Allah kepada kita.
5. Sesungguhnya Allah cemburu ketika kita berlebihan mencintai selain diri NYa. Nah, coba kamu fikir, Kalau kekasihmu cemburu, itu artinya ia sayang sekali padamu bukan ? dan biasanya seorang kekasih yang sangat mencintai, ia akan melakukan apapun untuk mendapatkan kembali cintanya yang mungkin saja terlupakan dan diabaikan. Ujian dan cobaan itu semata-mata mengingatkan kamu akan Cinta Nya.
“Patutkah manusia menyangka bahwa mereka akan dibiarkan dengan hanya berkata: Kami beriman sedangkan mereka tidak diuji dengan sesuatu cubaan.” (Surah Al-Ankabut: ayat 2)
6. Janganlah bersu’udzon kepada Allah, apalagi sampai berpaling. sesungguhnya Allah adalah pemberi jalan yang terbaik.
7. Jangan lari dan diam dari sebuah permasalahan. Sesungguhnya masalah itu tidak akan selesai ketika kau berlari dan berpaling meninggalkannya. Hadapi dengan kesabaran, sesungguhnya kesabaran menciptakan keberanian. Jangan takut dan jangan munafik ketika kau harus mengatakan “ya” atau “tidak”.
Katakanlah: `Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.`(QS. 5:100)
8. “Berkumpulah dengan orang saleh” begitulah pepatah lama. tetapi sungguh luar biasa khasiatnya. Selain kepada orang tua dan keluarga tentunya, mengatakan kegalauan hati, mengisi hari-hari kesedihan, adalah dekat dan berkumpul dengan mereka. Seorang sahabat yang saleh/ha pasti akan memberikan saran yang baik, memberikan semangat yang baik, dan membantu mengisi hari-hari kesedihan dengan kegiatan dan ibadah yang lebih baik.
9. Luangkan waktu bersilaturahmi. sesungguhnya silaturahmi memanjangkan usia, dan memperbanyak sahabat.
10. pernah ku membaca, “Allah mewujudkan impianku, walaupun harapan itu tinggal seiris daun bawang saja”.
sumber: http://noorputri.multiply.com/
=
nasehat bagi yang patah hati – nasihat bagi yang sakit hati – saran bagi yang putus cinta – tips bagi yang lagi brokenheart
Seharusnya para pemimpin di negeri Islam menegakkan hukum Allah ; menindak tegas dan menghentikan segala macam perbuatan syirik serta menghancurkan setiap tempat kesyirikan seperti bangunan kuburan sebab bangunan tersebut disamping haram juga menjadi penyebab kemusyrikan. [Fatawa wa Tanbihaat wa Nashaih hal. 245-246]
Wanita dilarang memakai parfum saat bertemu para pria yg bukan keluarga dekatnya(muhrim/mahromnya). “Siapa pun wanita yang mengenakan wewangian, lalu melewati segolongan orang agar mereka mencium baunya, maka ia adalah wanita pezina” (H.R Abu Daud, Nasa’i dan Tirmidzi, dan hadits ini Hasan)
Dimanakah ALLAH? di dlm hati? di setiap tempat? dimana-mana? di langit? di bumi? tidak bertempat? ataukah tidak menempati ruang dan waktu? JAWABAN YANG BENAR ADALAH ALLAH BERADA DI ATAS LANGIT (berdasar Al Quran dan hadits-hadits shahih)
Pria tidak boleh berjabat tangan dengan wanita yang bukan muhrimnya/mahromnya. Nabi Muhammad SAW berkata: “Sesungguhnya saya tidak berjabat tangan dengan wanita.” [HR Malik 2/982, Nasa'i 7/149, Tirmidzi 1597, Ibnu Majah 2874, ahmad 6/357, dll]
Jabat tangan dgn wanita di zaman ini sudah menjadi sesuatu yang lumrah, pdhl Nabi sangat mengancam keras pelakunya. Nabi berkata: “Seandainya kepala seseorang di tusuk dengan jarum dari besi itu lebih baik dari pada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (Hadits hasan riwayat Thobroni dalam Al-Mu’jam Kabir 20/174/386 dan Rauyani dalam Musnad: 1283 lihat Ash Shohihah 1/447/226)
Syiah adalah aliran sesat dan menyimpang dari ajaran islam. Mayoritas rakyat Iran, termasuk Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad adalah orang sesat. Situs2 yg menjelaskan tentang kesesatan syiah: http://www.hakekat.com , http://www.haulasyiah.wordpress.com , http://www.gensyiah.com , http://www.syiahindonesia.com
Sesungguhnya salafi dan wahabi bukanlah aliran sesat, juga bukan teroris. Bahkan salafi adalah golongan yang paling konsisten dengan ajaran islam dibanding kelompok2 lain. Situs2 yg beraliran salafi: http://www.muslim.or.id , http://www.almanhaj.or.id , http://www.alsofwah.or.id , http://www.muslimah.or.id , http://www.jilbab.or.id , http://www.salafy.or.id , dll
janganlah salah seorang di antara kamu mengharapkan kematian karena (tidak tahan dengan) musibah yang menimpanya, dan apabila dia memang harus mengharapkan, sebaiknya dia berkata: Ya Allah! Hidupkanlah aku selama kehidupan itu yang terbaik bagiku, dan matikanlah aku jika kematian itu yang terbaik bagiku. (Shahih Muslim No.4840)
Janganlah kamu saling membenci, saling mendengki dan saling bermusuhan, tetapi jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal seorang muslim mendiamkan (tidak menyapa) saudaranya lebih dari tiga hari. (Shahih Muslim No.4641)
Hindarilah oleh kamu sekalian berburuk sangka karena buruk sangka adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kamu sekalian saling memata-matai yang lain, janganlah saling mencari-cari aib yang lain, janganlah kamu saling bersaing (kemegahan dunia), janganlah kamu saling mendengki dan janganlah kamu saling membenci dan janganlah kamu saling bermusuhan tetapi jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. (Shahih Muslim No.4646)
Tidak ada seorang muslim pun yang tertimpa suatu penyakit dan lainnya kecuali Allah akan menghapus dengan penyakit tersebut kesalahan-kesalahannya seperti sebatang pohon yang merontokkan daunnya. (Shahih Muslim No.4663)
Tidak ada seorang muslim pun yang tertusuk duri atau tertimpa bencana yang lebih besar dari itu kecuali akan tercatat baginya dengan bencana itu satu peningkatan derajat serta akan dihapuskan dari dirinya satu dosa kesalahan. (Shahih Muslim No.4664)
Tidak ada satu kepedihan pun atau keletihan atau penyakit atau kesedihan yang menimpa seorang muslim kecuali akan dihapuskan dengan penderitaannya itu sebagian dari dosa kesalahannya. (Shahih Muslim No.4670)
Janganlah kamu sekalian terlalu bersedih dan tetaplah berbuat kebaikan karena dalam setiap musibah yang menimpa seorang muslim terdapat penghapusan dosa bahkan dalam bencana kecil yang menimpanya atau karena sebuah duri yang menusuknya. (Shahih Muslim No.4671)
Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lainnya, dia tidak boleh menzaliminya dan menghinakannya. Barang siapa yang membantu keperluan saudaranya (sesama muslim), maka Allah akan memenuhi keperluannya. Barang siapa yang melapangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah akan melapangkan untuknya satu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan hari kiamat nanti. Dan barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat. (Shahih Muslim No.4677)
hendaklah seseorang itu menolong saudaranya yang lain baik yang zalim maupun yang dizalimi. Kalau terhadap yang zalim hendaklah dicegah perbuatan zalimnya karena begitulah cara memberikan pertolongan kepadanya, dan terhadap yang dizalimi maka hendaklah ia membelanya. (Shahih Muslim No.4681)
Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling kasih, saling menyayangi dan saling cinta adalah seperti sebuah tubuh, jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakan sulit tidur dan demam. (Shahih Muslim No.4685)
Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut yang menyukai kelembutan. Allah akan memberikan kepada orang yang bersikap lembut sesuatu yang tidak diberikan kepada orang yang bersikap keras dan kepada yang lainnya. (Shahih Muslim No.4697)
Ya Allah! Sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa, maka siapa saja dari kaum muslimin yang aku caci atau aku laknat atau aku pukul, maka jadikanlah itu sebagai zakat dan rahmat baginya. (Shahih Muslim No.4706)
Bukanlah termasuk pendusta orang yang berdusta untuk mendamaikan antara manusia. Dia berkata yang baik dan menyampaikan yang baik pula. (Shahih Muslim No.4717)
Rasulullah SAW melarang mengapur kuburan, duduk-duduk di atas kuburan dan membina kuburan (membangun dengan bata atau dengan ubin, dll) tapi (hendaknya kuburan itu) berupa unggukan tanah saja setinggi satu jengkal. (HR. Muslim)
Barangsiapa mencari mati syahid dengan sungguh-sungguh maka akan Aku berikan kepadanya (pahala mati syahid) meskipun dia mati di atas tempat tidurnya. (HR. Muslim)
“Perbanyaklah mengingat kematian maka kamu akan terhibur dari (kelelahan) dunia, dan hendaklah kamu bersyukur. Sesungguhnya bersyukur akan menambah kenikmatan Allah, dan perbanyaklah doa. Sesungguhnya kamu tidak mengetahui kapan doamu akan terkabul.” (HR. Ath-Thabrani)
dunia di awali dengan kesulitan dan di akhiri dengan kebinasaan, yang Halal akan di hisab dan yang Haram akan berujung siksa, yang kaya iman nya akan menghadapi ujian dan fitnah, dan yang miskin iman akan dalam kesusahan …….
Anonymous
Apa kabar cinta?….Masihkah tetap untuk-NYA? Apa kabar rindu?…..Masihkah tetap untuk surgaNYA? Apa kabar hati?…Masihkah sesejuk dan sebening embun pagi….?
unknown
aku ingin mencintaimu dengan sederhana: dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada (SAPARDI DJOKO DAMONO)
“Lihatlah orang yang hidupnya lebih susah darimu dan jangan melihat orang yang hidupnya lebih enak darimu, karena hal itu lebih patut agar engkau sekalian tidak menganggap rendah nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu.” (Muttafaq Alaihi)
Barangsiapa mendatangi dukun peramal dan bertanya kepadanya tentang sesuatu (lalu mempercayainya) maka shalatnya selama empat puluh malam tidak akan diterima. (HR. Muslim)
“Pengobatan dgn ruqyah Al-Qur`an mrupakan Sunnah Nabi ¶ sahabatnya. Mreka dahulu mngobati org yg kesurupan jin, terkena sihir &sluruh penyakit dgn ruqyah. Mreka meyakini bhwa ruqyah trmasuk sarana yang halal&bermanfaat, smentara yg mnyembuhkan hanyalah Allah saja.” (Al-Muntaqa min Fatawa Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, juz 1, jawaban soal no. 77)
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mengambil gambar (makhluk hidup) dan memasukkannya ke dalam rumah dan melarang untuk membuat yang seperti itu.” (HR. At-Tirmidzi no. 1749, kitab Al-Libas ‘An Rasulillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bab Ma Ja`a fish Shurah. Dihasankan Asy-Syaikh Muqbil dalam Hukmu Tashwir, hal. 17)
“Semua tukang gambar (makhluk bernyawa) itu di neraka. Allah memberi jiwa/ruh kepada setiap gambar (makhluk hidup) yang pernah ia gambar (ketika di dunia), maka gambar-gambar tersebut akan menyiksanya di neraka Jahannam.”
Jika kamu memang terpaksa bekerja sebagai tukang gambar, maka buatlah gambar pohon dan benda-benda yang tidak memiliki jiwa/ruh.” (HR. Muslim no. 5506, kitab Al-Libas waz Zinah, bab Tahrimu Tashwiri Shuratil Hayawan …)
“Malaikat tidak akan masuk ke rumah yang di dalamnya ada anjing dan gambar-gambar (binatang/manusia).” (Hadits riwayat Bukhari)
Telah shahih riwayat dari Amirul Mukminin Umar bin Abdul ‘Aziz rahimahullahu bahwa beliau menulis surat kepada para gubernurnya ketika terjadi gempa di zamannya. Beliau menyuruh mereka untuk memerintahkan kaum muslimin supaya bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, merendahkan diri di hadapan-Nya, dan beristighfar dari dosa-dosa. (lihat Majmu’ Fatawa Asy-Syaikh Ibnu Baz, 2/126-129)
“Pudarnya Islam adalah karena ulah empat tipe manusia. Pertama: orang yang tidak mengamalkan ilmu mereka. Kedua: orang yang beramal tanpa landasan ilmu. Ketiga: orang yang tidak beramal dan tidak berilmu. Dan keempat: orang yang menghalangi manusia mencari ilmu.” (Muhammad bin al-Fadhl)
sesungguhnya acara2 buatan org kafir sperti pertandingan2 olah raga, kontes2 musik/kecantikan, dan berbagai hura2 tlah menyibukkan hati&otak umat islam shg tidak sempat lg memikirkan nasib saudara2nya yg ditindas&dibantai musuh di berbagai belahan bumi sperti Checnya, Kasymir, Pattani, Mindanao, Ethiopia, Palestina, Afganistan, Turkistan, dll
menegakkan hukum islam adalah wajib bagi pemerintah negeri ini, maka stiap partai atau anggota DPR yg menghalangi penegakan syariat islam di Indonesia brarti dia tlah berdiri di barisan balatentara iblis&setan yg brusaha mjauhkan umat islam dr agamanya. “Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” (Al Maidah ayat 44)
“Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagiamana engkau menyembunyikan keburukan-keburukanmu, dan janganlah engkau kagum dengan amalan-amalanmu, sesungguhnya engkau tidak tahu apakah engkau termasuk orang yang celaka (masuk neraka) atau orang yang bahagia (masuk surga)”. (Abu Hazim Salamah bin Dinar)
hadits2 yg populer tapi ternyata dhaif(lemah) atau maudhu(palsu): Tuntutlah ilmu walaupun ke negeri cina, Cinta tanah air adalah sebagian dari iman, Perbedaan di kalangan umat islam adalah rahmat, Barangsiapa yang mengenal dirinya maka dia telah mengenal Rabb-nya, Hadits larangan tidur setelah sholat asar,
jangan kamu membiarkan patung kecuali kamu hancurkan dan jangan kamu membiarkan kuburan yang menonjol lebih tinggi kecuali kamu ratakan’ (hadits riwayat Muslim)
Merayakan maulud nabi adalah perbuatan bid’ah(sesat), karena perayaan tersebut tidak ada dasarnya dalam Kitab dan Sunnah, juga dalam perbuatan Salaf Shalih dan pada generasi-generasi pilihan terdahulu. Perayaan maulid Nabi baru terjadi setelah abad ke empat Hijriyah. (fatwa Syaikh Dr Salih bin Fauzan)
aqidah asyairiyah (yg dianut organisasi NU) mengandung berbagai penyimpangan dari ajaran islam. Aqidah asyairiyah dianggap sesat oleh para ulama arab saudi dan seluruh ulama yg beraliran salafi/wahabi di dunia ini.
sebagian dari ajaran sufi&tasawuf adalah sesat, kesesatannya berbeda2 tergantung sufi/tasawuf yg model apa, ada yg kesesatannya ringan dan ada yg sangat berat, silahkan baca kitab TALBIS IBLIS karya Ibnul jauzi yg mengritik sufi, juga buku DARAH HITAM TASAWUF karya ihsan ilahi zhahir, juga buku2 karya HARTONO AHMAD JAIZ yg mengritik sufi
bagi anda semua yang ingin bertanya masalah2 agama,cinta,cara mengatasi gangguan sihir/jin secara islami,semua problem kehidupan, silahkan add facebook teman saya ini dan silahkan mengajukan pertanyaan2 anda kepadanya: ini alamat facebook/emailnya: abuhaidar.riyanto@gmail.com (namanya bapak Abu Abdullah, umur 26 tahun)
saya adalah seseorang yg merasakan cinta begitu dalam ..saya sangat mencintai pasangan say ,,
setuju bgt gw
Q jga bgTu….Tapi kRang “CinTa Q HiLang”
aQ pu’A pendapat yg berbda mamu. Qlo suka ma se”org jgn terlalu x, nti qlo cintamu prgi U bs hancur.
saya punya temen,dan temen saya ini disukai seorang cowok.awalnya saya tidak tau qlo yg ska ma dy tu tmn SD sy. Tmn cew sy ni tdk mw pcrn lu.dan mreka berstatus sbg tmn. Dlm prjlnn hbgn mreka slalu trjd mslah. Dan tmn cowok sy tu curhat dgn sy. Namun krna hbgn sy dgn tmn cowok sy tu dkt bgt, tmn sy curiga dan dy menuduh yg tdk2. Karena sy mrsa komunikasi mereka ptus karena sy, sy mncoba mendektkan mreka kmbali. Dan skrg sy menjauh dr mreka. Kpd tmn sy yg cewek sy ttp ngomong mady krn kami 1 kls. tp komunikasi antra sy dgn tmn cwok sy ptus. Apakah perbuatan yang saya lakukan ini benar? klo slh tlog jlasin alsnnya Y…!!
bnr. tp ga msti mnjau dri kdua nya.
aQ kan menjauh dr kdua’A, aQ cuma jauh dr teman cwokQ.
Oye, boleh G’ aQ tw alamat e-mailmu.
Q tkut….bila harus terluka kembali
Q tkut….bila kan dikhianati lagi
dan Q takut…..bila harus sendiri….
dalam arungi hidup yang penuh cobaan,
dalam lengkapi hidup yang penuh lobang,
Tuhan…dapatkah Q pinta….
pengganti dirinya yang tlah pergi….
yang dapat kasihi..
yang dapat sayangi….
yang dapat cintai….
Q dengan ketulusan jiwa dan kemurnian hati,,,
kini,,,,tlah Qdapat penggantinya, da ragu dalam hati…
da tanya dalam jiwa….yakinkah ini semua kan Q jalani bersamanya……
Mengapa setiap senyuman datang, selalu saja ada yang mengmbilnya” perasaan ini tak salah… tapi mengapa pada saat aku tak memerlukan peluang kau selalu hadir dan memberikan peluang yang sangat jelas… lalu kau pergi dengan seenaknya tanpa memikirkan hati yang sakit….
cnt tak bisa d pksa,cinta tak bs bicara,cnt bisa dtng bisa jg prgi. prcy lh cntmu ada. hnya sj btu wktu.
cinta gue hari ini berantakan yang satu kayanya menjauh gtu trus yang laend udah mulai pada curiga ma gw gmana donk…….!!!!
tunggu dlu dehh..
kLo kya gtu berarti loe punya pcr lebihh dr satu doonkk???
mnurut gw, jln yg pLing ampuh adLh.. yaa putusin salah satu,, kLo loe ga mau jujur sama ke2′y..
CIA YIO YAA!!
Cinta gue sudah berantakan mulai hari ini, sejak someone memutuskan hubungannya dengan gue krn dy gak bisa mengerti perasaan gue betapa hancurnya hati gue saat ini.. gimana donk………..?
kLo someoNe Loe ga bs ngertiin prasaan Lo,, brarti dia bukan someone yg pntss untuk Lo..
ko gw jadi Lo,, gw aka berterimakasih udah diputusin,, bukannya malah bersedih..
Cinta Lo ga berantakan… tp salah pilih pondasi sja… jadinya kurang kokoh…
jgn hancur doongg..
cukup patah aja, biar bisa ada someone yg dtg truz nge Lem hati Lo dehh…
stiap q lht dy, q pzt brusaha gmna crany biar dy bz cmbru.. aq sndri tau gmna rsny skt klw lg cmbru. krn aq sndri sring bnget cmbru klw lht dy ma cew laen mskpun mreka hnya brtman dngan sewajarny. q sm dy da pcran sjk januari thn ni. yg aq lkuin pn aq ngrti klw tu slh tp aq g tau knpa q hrz bwt dy cmbru. klw dy da mrh sm aq krn dy cmbru, yg aq rsain pzt rs nysal n brslh bnget. untng ny,, pcr gw tu org ny baek n q jnji kn brsha ngjaga hti ny dy biar g skt krn cmbru ma q lg..
setiap dia gag di samping w . . .
w merasa kesepian …..
itlh nm nya cnt, pengen z rasanya sllu d smpg org yg kt syg. jk gw jd lo,gw akn mncari kramaian untk mnghps kspian.
dulu saya punya cewe orang manado, saya sangat sayang sekali sama dia tapi kenapa dia mutusin saya tanpa ada kesalahan yang saya perbuat!!!
apapun yang dia minta udah aku turutin, apa yang dia mau udah aku penuhin, dan segala sesuatu yang saya lakukan hanya untuk dia tapi kena dia tetap ninggalin saya,
jujur sekarang saya bingung saya harus lakuin apa lagi supaya dia bisa betul2 sayang dan mencintai saya sepenuh hatinya,???
tolong bantuin aku dan berikan solusinya??
mf bget qlo psnQ ni nyakitin hatiU. Tuk ska ma se”org jgn terlalu x, cinta tu indah bGt QlO lg dirasakan, tp sungguh skit qlo ditinggalkan.
Coba bwt janji jumpa dgn dy, dan selesaikan dgn baik” apa kslhanmu dgn dy. qlO dy uda ksh tw pa slhmu, coba mnt mf dgn dy. Insya allah dy mw mfinmu.
Tapi igt ya NYELESAIIN MSLH’A dgn hati yg lapang, jgn terus terbawa emosi.
aq tau dirimu tak pernah anggap kehadiran q
aq tau kau sll hiraukan cinta & sayang ne
karna driku bukan se”orang yg sempurna untukmu
mungkin ne sangat menyakitkan
karna cinta q,, hanyalah cinta q
pernah q mencoba tuk hapuskan rasa ne
namn meski q cba s.ribu x pun rasa ne sll melekat d hati & jiwa q
karna.a izinkan aq tuk sll mencintaimu & menyayangimu
karna tu semua adalah kenangan yg terindah bagi q
emhh…knp kl qt dah lupain org yg qt syg tb2 dia muncul lagi,n bikin qt g bs melupakannya???why??
krn itulah yg diberikan kehidupan kepadamu,.
hidup ingin kmu bertanya,,
hidup ingin kmu mersa,,
dan hidup ingin kmu mencoba..
mencoba melupakannya sekali lg.. atau mencoba untuk menyayanginya sampai dia meyakini bahwa kmuLah yg mencintainya, sampai dia kembali pdmu..
aq pny cew, tp dia krng prhtian sm q, pdhl q tau dia tu emg cnt sm q. buktinya apapn yg q mnt dia sllu mnuruti q. tp yg aq bnci dia tu krg prhatian n kurang romantis.
jjr q bkn org baik tp smjk q sm do,i q brubh 360 drjt.
krn q emg uda nemui org yg bnr2 q syg n q cnt.
jd inti nya q ingin dia mau meratiin q truz,
gmn donk cra nya ngasi tau dia…….
bntuin q y sob………………………
G smw orG pu’A sft romantis, smw org puA sft yg berbda”. dy kan da baik dgnmu, dy mw lakuin pa pun yg U minta. tu smw dy lakuin krn dy syg n perhatian mamu.
Y blg z pa yg U pgin dr dy tp ngomong ma dy jgn pd wkt dy lg mrah. Okay…..!
silahkan juga curhat ke: http://www.pacaranislamikenapa.wordpress.com
-
KUMPULAN SMS LUCU – SMS-SMS HUMOR – SMS JAYUS – SMS- ANEH – SMS HUMOR – SMS CINTA – SMS GAUL – SMS RAMUTU
BERHATI-HATILAH DARI PARA PRIA SERIGALA BERBULU DOMBA (Sebab Mekarmu Hanya Sekali)
“Tiba-tiba lelaki yang ku kenal baik berubah menjadi buas, aku pun tak berdaya untuk melawan dan… akhirnya kesucianku terenggut.!!!”
Begitu kutipan dan penggalan pengalaman, sebut saja Bunga, yang hancur masa depannya seoerti dilansir sebuah harian ibukota. Sedih, pastinya begitu. Betapa tidak, kesucian yang dijaga sejak lama yang hanya akan dipersembahkan kepada lelaki yang sudah sah sebagai suami, kini pecah dalam beberapa saat.
Bunga tak sendiri. Masih banyak Bunga-Bunga lain yang ‘madunya sudah dihisap oleh kumbang jantan’. Ada yang frustasi, tak sedikit pula yang ‘menjual’ diri karena kecewa dengan perlakuan pacar yang tak bertanggung jawab. Seperti yang dialami oleh Kembang (21), sebut saja begitu, seorang mahasiswi di kota kembang yang menjadi pramunikmat di sebuah diskotik. Dara yang berasal dari keluarga berada ini mengaku memberikan kegadisannya kepada lelaki yang ia anggap baik dan berjanji menikahinya. “Karena aku sangat mencintainya, akupun memberikan ‘segalanya’ pada dia, karena janjinya akan menikahiku”, ungkapnya getir.
Tapi apa yang terjadi? Lanjutnya gusar, “Empat tahun hubunganku dengannya sia-sia saja. Apalagi saat kukatakan padanya, bahwa aku tengah ‘berbadan’ dua, dia pun tak peduli bahkan menyuruhku menggugurkannya. Aku pun menurutinya.” Inikah namanya cinta?
Survei Membuktikan
Sebuah penelitian yang sempat menyentak semua kalangan, dilakukan oleh Lembaga Studi Cinta dan Pusat Pelatihan Bisnis dan humaniora (LSC Pusbih). Hasilnya, hampir 97,5% mahasiswi di Yogyakarta sudah kehilangan keperawanannya. Yang lebih mengenaskan lagi, ternyata semua responden mengaku melakukan hubungan seks di luar nikah tanpa paksaan alias dilakukan suka sama suka. Nah lho…!
Kita sudah berkali-kali dikejutkan dengan hasil penelitian serupa. Mulai dari penelitian ‘kumpul kebo’ tahun 1984 yang lalu, hingga penelitian sejenis yang banyak dilakukan di berbagai kota di Indonesia. Hasilnya, membuat kita mengelus dada… betapa rusaknya generasi muda sekarang.
Kenapa Terjadi?
Seperti seloroh orang yang pernah menjadi nomor satu di negeri ini, ‘dari mata turun ke hati, dari hati turun ke celana’ sungguh sangat mengenaskan dan benar-benar terjadi. Isyarat mata yang penuh makna mendapat sambutan hangat, saling sapa dan berbincang, berlanjut hingga hati menjadi ‘klik’. Berpisah membuat makan tak enak, tidurpun tak nyenyak. Di benak yang terbayang hanya si dia, lagi-lagi si dia.
Pertemuan pun berulang kembali dalam tahap mengungkap rasa, ‘nembak’, begitu istilah gaul kawula muda sekarang. Bahagia rasanya bagi sang dara karena yang ditunggu tibalah saatnya, diapun mengangguk setuju untuk ‘jalan bareng’ dalam suka dan duka. Ada rindu menggebu bila tak bertemu, ada cinta yang bersemayam dalam dada. Bila bersua ada kasih yang terukir dalam diri untuk pujaan hati…
Sudah bisa ditebak, seperti sebuah iklan, kesan pertama begitu menggoda selanjutnya penuh dosa… pegangan bahkan sampai dengan hal yang belum patut untuk dilakukan seperti pengakuan Bunga dan Kembang tadi. Bisa sudah pacaran, istilah gaul jalan bareng, hampa tanpa pegangan, dan maaf… selanjutnya anda pun sudah bisa menebaknya, karena tak pantas kami ungkapkan.
Islam telah mewanti-wanti agar tidak mendekati zina. Norma yang bersifat pencegahan ini lebih efektif dalam menjaga hal-hal yang tidak baik. Menundukkan pandangan, istilah anak ta’lim ghadul bashar adalah permulaan yang sangat bagus. “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya…” (QS. an-Nuur : 31)
Memandang pun dilarang, apalagi lebih dari itu. Apakah ada orang yang berpacaran menjaga pandangan? Apakah ada orang yang berpacaran tanpa jalan bareng dan berdua-duaan di tempat yang sepi? Laki-laki mana yang mau pacaran tanpa pegang sana – pegang sini?
Ketahuilah wahai adikku, jika kalian mencintai laki-laki dengan jalan yang salah, maka akhirnya pun akan salah, menyesal. Laki-laki seperti itu sebenarnya tidak serius dalam menjalin kasih denganmu. Jika memang serius, tentu ia akan masuk lewat pintu resmi sebagaimana yang diajarkan oleh agama kita. Tak mengenal pacaran apalagi jalan bareng. Kebanyakan mereka mengaku pacaran hanya untuk having fun, maka jangan heran bila meninggalkanmu begitu saja setelah ‘madu’ dihisap dan mencampakkan dirimu begitu saja.
Laki-laki, apalagi pada zaman sekarang, berpikir seribu kali –sekali lagi-, seribu kali untuk memilih pendamping hidup yang tidak perawan dan mana mau menikah dengan wanita yang sudah ‘turun mesin’, istilah gaul anak lelaki sekarang.
Sementara sekarang sudah banyak remaja putri kehilangan, minimal harga diri. Kalaupun keperawanan masih utuh, yang lain? Karena itu, jagalah harga dirimu, karena mekarmu hanya sekali…!!! (Andita SB)
http://gugundesign.wordpress.com/2008/04/11/sebab-mekarmu-hanya-sekali/
KUMPULAN SMS LUCU – SMS-SMS HUMOR – SMS JAYUS – SMS- ANEH – SMS HUMOR – SMS CINTA – SMS GAUL – SMS RAMUTU
Pertanyaan:
Saya sering mendengar sebagian orang, bila ingin memberikan tekanan
terhadap ucapannya ia mengatakan: “Demi Nabi,” apakah itu boleh?
Jawab:
Itu termasuk bersumpah atas nabi. Perbuatan tersebut haram, termasuk
perbuatan syirik. Bersumpah atas nama sesuatu merupakan pengagungan
terhadap sesuatu tersebut. Sementara makhluk tidak boleh mengagungkan
sesama makhluk, maksudnya dalam pengagungan ibadah. Oleh sebab itu
Rasulullah bersabda,
“Barangsiapa yang bersumpah dengan selain Allåh, berarti telah berbuat
kafir atau syirik.” (Sahih, diriwayatkan oleh Ahmad II/125, Abu Dawud no.
3251, dan Al-Tirmidzi no. 1535) Larangan itu mencakup sumpah demi para
nabi, para malaikat, orang-orang shalih dan seluruh makhluk.
“Barangsiapa yang bersumpah, hendaknya bersumpah demi Allåh atau
diam saja.” (Al-Bukhari no. 4860, Fathul Bari (VIII/611, 6107) Fathul Bari
(X/516), oleh Muslim no. 1647), Ahmad II/309, Abu Dawud no. 3247, Al-
Nasai no. 3775, Al-Tirmidzi no. 1545, dan Ibnu Majah no. 2096.
Adapun yang disebutkan dalam al-Quran berupa sumpah demi mursalat (para
malaikat yang diutus membawa kebaikan), dzariyat (angin yang bertiup
dengan kencang), An-Naazi’aat (para malaikat yang mencabut nyawa
dengan kasar), demi fajar, demi masa, demi waktu dhuha, demi letak letak
bintang, dan seterusnya, semua itu adalah hak Allåh Subhanahu wa
Ta’ala. Allåh berhak bersumpah atas makhluk-Nya yang manapun. Adapun
makhluk, hanya boleh bersumpah demi Rabb-nya.
Al-Lu-lu’ al-Makin min Fatawa Ibni Jibrin hal. 32
CAHAYA PENCERAHAN
Seperti Apa Hatimu?
Keadaan-keadaan hati digambarkan oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullohu ta’ala dengan sebuah perumpamaan yang sangat indah, yakni keadaannya seperti tiga buah rumah ;
1. Rumah milik raja, yang didalamnya terdapat harta simpanan yang melimpah serta perhiasan yang mulia.
2. Rumah milik budak, yang didalamnya tersimpan harta milik budak itu dan simpanannya, yang tentu saja tidak seperti harta benda milik sang raja.
3. Rumah yang kosong tidak ada isinya sedikitpun.
Pencuri datang untuk menkarah salah satu dari tiga rumah tersebut. Lalu rumah manakah yang akan menjadi sasarannya?
Jika engkau menjawab, “ia akan menggasak rumah kosong”, tentu tidak akan mungkin dan hanya akan sia-sia, sebab didalamnya tidak ada sesuatupun yang bisa dijarah.
Suatu ketika datang seseorang berkata kepada Ibnu Abbas radhiallohu ‘anhu, “sesungguhnya orang-orang Yahudi beranggapan bahwa mereka tidak bisa diganggu oleh berbagai macam bisikan syeithan ketika shalat.”
Maka Ibnu Abbas mengomentari, “apakah yang bisa dilakukan syeithan terhadap hati yang sudah roboh?”
Kemudian, jika engkau berkata, “Dia akan menjarah rumah milik raja”, sepertinya juga mustahil dan terlalu sulit, karena disana ada para penjaga dan juga mata-mata yang selalu mengintai. Jangankan untuk menjarah, mendekatpun sudah sulit, karena para pengawal, tentara dan penjaga selalu siap.
Maka tidak ada pilihan lain bagi pencuri itu kecuali rumah yang satu lagi, yang ada kemungkinan baginya untuk memasukinya dan menjarah isinya.
Orang yang berpikir hendaknya menyimak permisalan ini dengan seksama lalu meresapinya didalam hati, karena gambaran tentang dirinya ada pada permisalan itu.
Hati yang kosong sama sekali dari kebaikan adalah hatinya orang-orang kafir dan munafik. Itu merupakan rumah Syeithan, tempat tinggal dan tempat bersemayamnya. Lalu apa yang bisa dicuri dari hati yang seperti itu, sementara tidak terdapat apapun didalamnya, yang ada hanyalah hayalan dan lintasan pikiran.
Ada hati yang diisi dengan pen-ta’dhiman kepada Allah Ta’ala, cinta, rasa malu dan takut kepada-Nya. Lalu syeithan manakah yang berani mendekati hati semacam ini? Kalaupun syeithan mencuri darinya, lalu apa yang bisa dicuri? Namun tetap saja syeithan akan mencari-cari kesempatan untuk menjarah dengan merampas dan menyambar ketika orang tersebut dalam keadaan lalai. Karena bagaimanapu ia juga manusia biasa yang bisa lalai, lupa, ada syahwat dan lain-lain.
Ada pula hati yang didalamnya ada tauhid kepada Allah Ta’ala, iman, ma’rifat, cinta kepada-Nya dan pembenaran terhadap janji-Nya, namun didalamnya juga ada syahwat, nafsu dan naluri. Hati yang ada diantara dua hal ini (Iman dan syahwat) terkadang condong kepada Iman, cinta dan pen-ta’dziman kepada Allah dan terkadang condong kepada hawa nafsu dan nalurinya. Maka hati yang semacam inilah yang menjadi incaran jarahan syeithan. Namun Allah tetap memberikan pertolongan kepada siapapun yang dikehendaki-Nya.
Allah Ta’ala berfirman,
”Dan kemenangan itu hanyalah dari Allah yang maha Perkasa lagi maha Bijaksana.” [Ali-Imran:126]
Ketahuilah, bahwa syeithan tidak akan dapat berbuat banyak terhadap seorang hamba kecuali jika ia (syeithan) mendapatkan senjatanya. Dengan membawa senjata itu dia menyusup dan melumpuhkan hati seorang hamba. Senjata syeithan itu adalah syahwat, syubhat, hayalan, angan-angan yang kosong, yang semuanya ada didalam hati. Jika seorang hamba mempunyai iman yang dapat menyadari dan menghadang serangan syeithan itu, maka syeithan itu pasti akan kalah. Jika tidak, maka dia akan mudah dikuasi syeithan.
Jika seorang hamba memberikan peluang kepada musuh dan memberikan pintu baginya serta menyodorkan senjata kepada syeithan yang justru senjata itu akan digunakan untuk menguasai dirinya, berarti dia adalah yang bodoh dan tercela.
[Dinukil dari kitab Shohihul wabilus shoyyib minal kalimit Thayyib, karya Ibnu Qayyim]
http://gugundesign.wordpress.com/2008/02/09/seperti-apa-hatimu/
Butuhnya Manusia akan ilmu
Penulis: Ustadz Abdul Aziz
Sebagaimana halnya makanan, yang dipergunakan manusia untuk kelangsungan hidup. Karena seandainya keimanan tidak dipupuk dengan ilmu, maka ibarat tanaman menjadi layu bahkan hancur.
Sehingga tidaklah terwujud keberadaan iman seorang kecuali dengan ilmu. Al Imam Ahmad menyatakan : “Manusia sangat membutuhkan ilmu dari sekedar menyantap makanan dan minuman; karena makanan dan minuman dibutuhkan oleh manusia sekali atau dua kali dalam sehari.
Sedangkan ilmu ilmu dibutuhkan setiap saat.” (Thobaqot Al Hanabilah 1/147)
Bahkan seluruh makhluk Allah sangat butuh kepada ilmu. Karena tidak akan tegak urusan makhluk kecuali dengan ilmu.
Langit-langit dan bumi bisa berdiri kokoh adalah dengan ilmu, begitu pula diturunkannya para rasul dan kitab-kitab-Nya juga dengan ilmu. Serta tidak akan diketahui perkara halal-haram kecuali dengan ilmu.
Oleh karena itu, kewajiban seseorang dalam menuntut ilmu syar’i berlangsung hingga menjelang wafat.
Sebagaimana Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam senantiasa menyampaikan dakwah dan nasehat hingga menjelang wafat beliau.
Diriwayatkan oleh Al Hakim di dalam Mustadraknya dan dia berkata : -di atas syarat dua syaikh- dari hadits Anas radliyallahu’anhu dari Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda : “Dua keinginan yang tidak pernah merasa puas darinya : “Keinginan terhadap ilmu dan tidak pernah merasa puas darinya, dan keinginan terhadap dunia dan tidak pernah merasa puas darinya.”
Nabi menjadikan keinginan terhadap ilmu dan tidak pernah merasa puas darinya sebagai komitmen iman dan sifat-sifat kaum mukminin. Oleh karena itu para imam kaum muslimin apabila dikatakan kepada mereka : “Sampai kapan engkau menuntut ilmu?” maka dia mengatakan : “sampai wafat!”
Nu’aim bin Hammad berkata : “Aku mendengar Abdullah ibnul Mubarak radliyallahu’anhu berkata – sekelompok kaum mencelanya karena beliau sering menuntut ilmu hadits.
Maka mereka mengatakan ; “sampai kapan engkau mendegarkan (hadits)? Beliau menjawab : “sampai mati!”
Al Hasan bin Manshur Al Jashshosh berkata : “Aku mengatakan kepada Ahmad bin Hambal radliyallahu’anhu : “Sampai kapan engkau akan menulis hadits?” maka beliau mejawab : “Hingga wafat!”
Abdullah bin Muhammad Al Baghawi berkata : “Aku mendengar Ahmad bin Hambal berkata : “Sesungguhnya aku menuntut ilmu sampai masuk ke liang kubur.”
Muhammad bin Isma’il As Shooigh berkata : “Aku tinggal bersama ayahku di Baghdad, kemudian lewat di hadapan kami Ahmad bin Hambal dalam keadaan memegang sandal. Lantas ayahku menarik bajunya, dan berkata : “Wahai Abu Abdillah (panggilan Ahmad bin Hambal), apakah engkau tidak malu! sampai kapan engkau menuntut ilmu? Beliau menjawab : “sampai mati!”
Demikianlah beberapa perkataan para ulama yang menerangkan begitu semangatnya mereka dalam menuntut ilmu. Sehingga mereka mencurahkan waktu dan tenaga untuk meraih lezatnya ilmu.
Sesungguhnya bagi siapa saja yang memahami hikmah dibalik perintah menuntut ilmu tersebut niscaya dia tidak akan pernah menyia-nyiakan waktunya sedikitpun dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Dia akan merasa rugi tatkala luput dari manisnya ilmu.
Dia akan memanfaatkan masa sehatnya untuk banyak menimba ilmu sebelum tiba masa sakit. Serta dia akan mengisi waktu hidupnya dengan hal-hal yang mengundang keridhoan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebelum ajal tiba.
Begitulah seharusnya cerminan seorang mukmin yang mengharapkan perjumpaan Rabbnya.
Seiring dengan itu, syetan juga tak pernah menyerah untuk menjerumuskan manusia ke lembah kebodohan. Sehingga dengan kebodohan seseorang terhadap ilmu mengakibatkan lemahnya keimanan dan minimnya ketaqwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sesungguhnya orang yang bodoh tidak mengetahui hakekat iman dan taqwa. Dan tidak mengetahui pula jalan untuk menuju keselamatan berdasarkan ilmu dan keyakinan yang mantap.
Tentu saja hal ini semakin membuka peluang bagi syetan untuk menggiring orang tersebut kepada kemaksiatan dan kesesatan. Tatkala kebodohan telah merajalela, maka akan meningkat pula kemaksiatan, kriminalitas, cinta kepada dunia yang berlebihan dan takut apabila kematian menjemputnya, dan sebagainya.
Semua Ini merupakan diantara sebab lemahnya kaum muslimin, sehingga Allah menimpakan kehinaan kepada mereka. Rasa gentar yang menghunjam pada jiwa-jiwa musuh-musuh Islam hilang seiring dengan dicabutnya kewibawaan kaum muslimin.
Sehingga musuh-musuh kaum Muslimin tidak segan-segan untuk mengintimidasi dan memberangus persatuan kaum muslimin.
Sementara mayoritas manusia terlena dengan kehidupan dunia yang fana ini dan melupakan akherat yang kekal abadi.
Oleh karena itu diantara sifat-sifat penuntut ilmu yang diajarkan oleh rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam adalah ihklas dalam menuntut ilmu. Sebab dengan keikhlasan ini akan menghantarkan seseorang kepada tingkatan hamba yang sangat butuh kepada ilmu dan membentenginya dari riya’ (ingin dipuji oleh orang lain) dan sebagainya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Barangsiapa yang mempelajari ilmu dari apa-apa yang dia cari dengannya wajah Allah Azza wa Jalla. Tidaklah dia belajar kecuali untuk memperoleh bagian dari dunia, maka dia tidak akan mencium wangi syurga pada hari kiamat.” (HR Ibnu Majah, Al Muqadimah 1/252 dan Ahmad, Al Musnad 2/338)
Dalam berhias dengan keikhlasan ini juga harus dibimbing dengan ilmu dan tidak cukup dengan modal semangat semata. Sebab berapa banyak orang yang pada awalnya ikhlas dalam melaksanakan amalan, namun tatkala berada di tengah perjalanan mengalami penurunan secara drastis.
Ini semua tidak lepas daripada peran syetan dalam menggoda bani Adam. Syetan berupaya untuk memberikan rasa was-was di dalam diri manusia sehingga memperngaruhi keikhlasan. Oleh karena itu peran ilmu sangat besar terhadap keikhlasan seseorang.
Cukuplah bagi seorang muslim akan berita Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa ilmu merupakan sebaik-baik ganjaran dalam berbuat kebaikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa. Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki pada sisi Tuhan mereka.
Demikianlah balasan bagi orang yang berbuat baik, agar Allah akan menutupi (mengampuni) bagi mereka perbuatan yang paling buruk yang mereka kerjakan dan membalas mereka dengan ganjaran yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.” (Az Zumar 33-35). Dan ini menunjukkan dua ganjaran baik di dunia dan akherat.
Al Hasan Berkata : “Barangsiapa yang sangat baik peribadatannya kepada Allah pada masa mudanya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menganugerahkan hikmah (Ilmu) kepadanya tatkala beranjak dewasa.”
Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : “Dan tatkala dia (Nabi Yusuf) cukup dewasa kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Al Ilmu Fadluhu wa Syarfuhu 226-227)
Demikian sifat dan kedudukan ilmu yang sangat mulia sebagai ganjaran yang paling berharga bagi seorang muslim yang ingin menggapainya.
Oleh karena itu kebutuhan manusia terhadap ilmu merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Jikalau ingin mendapatkan keberuntungan dunia dan akherat maka tempuhlah jalan ilmu syari’at. Sehingga dengan demikian Allah akan mempermudah baginya untuk menuju surga yang diidam-idamkan.
Kita memohon kepada Allah agar dibukakan pintu hati kita dengan taufik dan hidayah-Nya. Sehingga kita senantiasa butuh kepada ilmu yang bermanfaat. Dan mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa mencurahkan kepada jiwa kita perasaan cukup terhadap nikmat-nikmat yang diberikan-Nya. Amin Yaa Mujibas Saailin.
Sumber artikel : http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=38
Memotivasi Diri Untuk Belajar Ilmu Syar’i (ilmu agama)
Saat ini, orang yang mau belajar dan menekuni ilmu syar’i sudah sangat langka, yang banyak adalah belajar ilmu syar’i sekedarnya. Misalnya sekedar mengikuti mata pelajaran agama di sekolah yang porsinya sangat kurang. Akibatnya, banyak umat Islam yang buta akan ajaran agamanya. Jangankan pengetahuan ilmu syar’i secara umum, hal-hal yang wajib diketahui dalam urusan agama pun banyak yang tidak tahu.
Yang dimaksud ilmu syar’i (agama) di sini adalah ilmu syar’i yang benar-benar shahih berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan manhaj (pemahaman dan pengamalan) para ulama Salaf.
Kedua, yang dimaksud ilmu syar’i di sini adalah yang menghantarkan seseorang kepada takwa (Lihat QS. Fathir: 28), sehingga ia selalu menjaga keta’atan kepada Allah, baik ketika sendiri maupun di tengah banyak orang.
Ketiga, ilmu syar’i yang kita maksud di sini adalah yang mendorong pemiliknya untuk mengamalkannya. Ia tidak sekedar wacana, teori atau sekedar pengetahuan.
Sebab Kurangnya Motivasi
Ada banyak sebab sehingga seseorang kurang atau tidak termotivasi belajar ilmu syar’i. Di antara yang terpenting adalah:
Pertama, Tidak Mengetahui Tingginya Kedudukan Ilmu Syar’i.
Padahal Nabi Shallallaahu alaihi wasalam menyatakan, artinya: “Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan untuknya, niscaya ia dipahamkan dalam urusan agamanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Bukti Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba adalah dengan menganugerahinya pemahaman ilmu syar’i. Mereka itulah ulama, pewaris para nabi, penjaga syari’ah dan kemurnian agama Allah (Lihat QS. At-Taubah: 122). Ibnu Qayyim Rahimahullaah berkata: “Barangsiapa mencari ilmu untuk menghidupkan Islam, maka ia termasuk orang-orang shiddiqin, yang derajatnya setelah derajat para nabi ‘alaihimus salam.”
Kedua, Tidak Mengetahui Kewajiban Mencari Ilmu Syar’i.
Memang, tidak semua ilmu syar’i wajib kita ketahui secara luas dan mendalam. Misalnya harus memahami ilmu tafsir, hadits, aqidah, fiqh, faraidh dsb, sebab yang demikian itu adalah tugas para ulama (Lihat QS. At-Taubah: 122). Tetapi di dalam Islam, ada ilmu yang hukum mempelajarinya adalah fardhu ain (wajib bagi setiap individu muslim). Yaitu ilmu syar’i yang berkaitan dengan ibadah dan muamalah yang dikerjakan seseorang. Seperti syahadat, shalat, puasa, zakat, haji bagi yang mampu, dsb. Artinya, orang yang mengerjakan shalat misalnya, harus terlebih dahulu belajar tentang shalat secara benar sesuai tuntunan RasulAllah . Bila tidak belajar tentang tata cara shalat, maka dia berdosa sebab berakibat pada berbagai kesalahan dalam shalatnya, demikian juga dengan amalan yang lain.
Ketiga, Terjangkit Penyakit Cinta Dunia dan Takut Mati.
Kini mayoritas umat Islam memandang sesuatu dengan kaca mata duniawi. Artinya, sejauh mana sesuatu itu bisa mendatangkan manfaat materiil dan bisa menjamin kesejahteraannya di dunia. Karena dalam pandangan mereka ilmu syar’i tidak menjanjikan kekayaan, jabatan dan popularitas maka mereka enggan mempelajarinya. Padahal bila manusia hidup sekedar untuk memenuhi kebutuhan jasmani (materi), maka tidak ada bedanya dengan binatang. (Lihat QS. Muham-mad:12) Pemenuhan kebutuhan jasmani tidak menjamin kebahagiaan dan ketenangan. Kebahagiaan letaknya di hati, sedangkan hati makanannya adalah ilmu syar’i yang mendekatkannya kepada Allah Maha Pemberi, yang memberikan kebahagiaan hakiki, di dunia maupun di akhirat.
Agar TermotivasiI Belajar Ilmu Syar’i
1. Ikhlas Karena Allah.
Sarana terbesar untuk memotivasi seseorang belajar ilmu syar’i adalah niat yang ikhlas dan jujur kepada Allah. Orang yang belajar karena Allah semata, akan mendapatkan pertolongan Allah, sehingga semangatnya terus berkobar. Imam Ibnu Jamaah rahima-hullah menegaskan tentang ikhlas: “Hendaknya dalam belajar ia memaksudkan hanya untuk mengharapkan ridha Allah, mengamalkannya, menghidupkan syari’ah-Nya, menerangi hatinya, menghiasi batinnya dan untuk mendapatkan janji Allah bagi para ahli ilmu. Sebaliknya, tidak untuk mendapatkan hal-hal duniawi, seperti kepemimpinan, jabatan, harta, dan pujian manusia !
Jika seseorang merasa kurang ikhlas, maka jangan lantas berhenti menuntut ilmu, tetapi wajib memaksa dirinya untuk ikhlas karena Allah, berusaha terus memperbaiki niat dan membersihkannya. Bila dia benar-benar jujur kepada Allah untuk mencapai keikhlasan, insya Allah ia akan dimudahkan Allah.
2. Mengenal Perjuangan Ulama Salaf Dalam Menuntut Ilmu.
Imam Syafi’i rahimahullah pernah ditanya, “Bagaimana hasrat tuan terhadap ilmu?”Beliau manjawab, “Saya seperti mendengar kata-kata yang tidak pernah saya dengar. Saya bahkan ingin agar saya punya banyak pendengaran, supaya bisa menikmati seperti yang dinikmati oleh kedua telinga saya”. “Bagaimana kerakusan anda terhadap ilmu?” Beliau menjawab,“Seperti rakusnya pencari harta yang mencapai puncak kenikmatan karena hartanya.’ ‘Bagaimana tuan mencari ilmu?’ beliau menjawab ‘Seperti seorang ibu yang bingung mencari anaknya, yang semata wayang’. Ibnu Asakir dalam menceritakan Abu Manshur Muhammad bin Husain An-Naisaburi berkata, ‘Beliau terus bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, meski dalam kondisi fakir. Bahkan beliau mengulangi dan menulis pelajarannya di bawah sinar rembulan, karena tidak mampu membeli minyak lampu.’
Ibnu Katsir berkata, ‘Ilmu tidak bisa diperoleh dengan leha-leha.’ Muhammad bin Thahir Al-Maqdisi berkata, ‘Untuk menuntut ilmu hadits, saya mengalami kencing darah dua kali, pertama di Baghdad dan kedua di Makkah. Hal itu karena saya berjalan dengan kaki telanjang di tengah sengatan terik matahari. Saya tidak pernah naik kendaraan saat mencari hadits kecuali sekali, dan saya selalu membawa kitab-kitab di punggung saya.’ Sementara Imam Baqi bin Mukhallad Al-Andalusi pada tahun 221H berjalan kaki dari Andalus (Spanyol) ke Baghdad untuk menemui dan belajar kepada Imam Ahmad.
3.Mengetahui Penyesalan Ulama Salaf Atas Hilangnya Kesempatan Menuntut Ilmu.
Ahmad bin Ibrahim Al-Abbas berkata, ‘Ketika sampai berita wafatnya Imam Muhammad Ar-Razi, saya masuk kamar dan menangis. Keluargaku mengerumuniku dan bertanya, ‘Apa yang menimpamu?’ ‘Imam Muhammad Ar-Razi telah wafat, kalian melarangku ke sana untuk menuntut ilmu,’ jawab-ku. Akhirnya mereka mengizinkanku mencari ilmu kepada Syaikh Hasan bin Sinan.’ Abu Ali Al-Farisi berkata: ‘Terjadi kebakaran besar di Baghdad, semua kitabku terbakar, padahal saya menulisnya dengan kedua tanganku. Selama dua bulan saya tidak kuasa berbicara dengan seorang pun, karena kesedihan dan duka yang dalam, bahkan beberapa saat saya dalam keadaan linglung.’ Imam Syu’bah bin Al-Hajjaj berkata, ‘Saya ingat, saya pernah ketinggalan tidak mendengar satu hadits dari Syaikh saya, sehingga saya sakit (karena sangat menyesal dan sedih akibat ketinggalan tersebut).
4. Mengetahui Bagaimana Para Ulama Salaf Tidak Tidur Untuk Menuntut Ilmu.
Dikisahkan, Imam Asad bin Al-Furat melakukan perjalanan ke Iraq un-tuk belajar kepada Syaikh Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani Rahimahullaah. Imam Asad berkata, “Saya orang asing dan bekalku hanya sedikit, bagaimana agar saya bisa belajar lebih dari sekedar mengikuti kajian tuan?” Syaikh Asy-Syaibani menjawab, “Tetaplah ikut kajian pada siang hari, dan saya khususkan waktu malam untuk mengajarimu sendirian. Menginaplah di rumahku dan kamu akan saya ajari ilmu’. Imam Asad berkata, “Maka saya pun menginap di rumah beliau, beliau mendatangiku dengan membawa seember air. Beliau lalu membacakan ilmu untukku, jika malam telah larut dan aku mengantuk, beliau mengambil air dan memercikkannya ke mukaku, sehingga saya bersemangat lagi. Demikian terus berlalu, sehingga saya selesai belajar ilmu apa saja yang saya inginkan.”
Abul Qasim Al-Muqri’ berkata, Imam Al-Hazimi senantiasa menelaah kitab dan mengarang hingga terbit fajar. Seseorang kemudian berkata kepada pembantunya, ‘Jangan kamu berikan minyak untuk pelitanya, barangkali beliau istirahat malam itu.’ Ketika malam tiba, Imam Al-Hazimi meminta minyak kepada pembantunya. Lalu dijawab, minyaknya telah habis. Imam Al-Hazimi lalu masuk ke rumahnya dan shalat di dalam kegelapan malam sampai terbit fajar.’
5. Menjauhi Teman-Teman Yang Merugikan agama kita.
Di antara pembunuh semangat belajar ilmu syar’i adalah berteman dengan orang-orang ahli maksiat. Tidak kalah bahayanya adalah bergaul dengan orang-orang yang malas serta enggan melakukan kegiatan positif dan bermanfaat. Abu Hurairah berkata, Rasulullah Shallallaahu alaihi wasalam bersabda: “Seseorang itu tergantung agama kawannya. Karena itu, hendaknya salah seorang dari kamu melihat siapa temannya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).
6. Merasakan Bahwa Anda Terus Berperang dengan Setan.
Setan adalah musuh bebuyutan anak cucu Adam. Mereka menghalangi setiap muslim dari menjalankan kebaikan, termasuk mencari ilmu. Di antara cara setan dalam menghalangi manusia dari mencari ilmu syar’i adalah:
Pertama, menunda-nunda belajar. Setiap kali seseorang ingin mempelajari ilmu dan membaca, setan membisikinya dengan mengatakan, tunda saja besok pagi, sekarang waktunya tidak tepat. Demikian dilakukan setan setiap saat, sampai orang itu menjadi tua, dan tidak berkesempatan mempelajari agamanya.
Kedua, dibisiki bahwa ilmu syar’i tidak akan bisa mengubah sesuatu pun bagi kondisinya sekarang. Argumen ini dapat kita bantah dengan melihat keadaan para pembaharu dan ulama Salaf. Seperti yang terjadi pada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab. Senjata mereka dalam memperbaiki keadaan adalah hujjah (dalil) dan ilmu.
Ketiga, membisiki bahwa dirinya tidak akan mampu belajar ilmu syar’i. Apalagi jika yang bersangkutan adalah orang awam yang baru saja bertaubat kepada Allah. Ia merasa tidak bisa menuntut ilmu agama karena terbiasa dengan kemaksiatan dan kemalasan. Ia merasa sulit menghilangkan masa lalunya, sehingga sulit pula belajar ilmu syar’i.
Untuk mengobati penyakit ini ada dua hal penting yang harus diingat, pertama, merubah kebiasaan masa lalu yang buruk menjadi kebiasaan yang terpuji dengan terus melawan hawa nafsu dan membiasakan kebaikan, dan kedua, hendaknya ia merenungkan keadaan para penuntut ilmu. Di antara mereka dahulunya ada orang-orang yang sesat, kemudian Allah menganugerahkan hidayah dan istiqamah kepada mereka, maka mereka menjadi giat menuntut ilmu. Mengapa ia tidak berusaha seperti mereka?
(Dra. Zakiyah)
Sumber: http://www.alsofwah.or.id (buletin An Nur)
Membuka Cakrawala dengan Banyak Membaca
Membaca adalah kunci ilmu. Dan tidak diragukan lagi bahwa membaca adalah salah satu sebab yang paling penting untuk mendapatkan ilmu. Jikalau seseorang tidak mau membaca maka dia tidak akan dapat belajar dengan baik, dan tidak akan dapat merealisasikan hikmah dari penciptaannya di dunia, yakni agar beribadah kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala, taat kepada-Nya dan memakmurkan bumi.
Membaca memungkinkan bagi seseorang untuk mengetahui berbagai hal yang ingin diketahuinya dengan tanpa harus melalui orang lain. Dan membaca memberikan banyak sekali manfaat. Secara ringkas dapat disebutkan sebagai berikut:
· Bahwa membaca -termasuk menulis- merupakan kunci ilmu.
· Membaca merupakan sebab terbesar untuk dapat mengenal Allah Subhannahu wa Ta’ala, beribadah kepada-Nya, taat kepada-Nya dan Rasul-Nya.
· Bahwa membaca merupakan salah satu sebab paling dominan bagi kemakmuran bumi dan kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi.
· Dengan membaca kita dapat mengetahui keadaan umat-umat yang terdahulu dan dapat mengambil manfaat dari mereka.
· Membaca merupakan sebab bagi seseorang untuk memiliki berbagai ketrampilan dan mengetahui berbagai perusahaan dan mesin-mesin yang bermanfaat.
· Dengan membaca orang akan mengetahui hal-hal yang bermafaat dan yang berbahaya di dalam kehidupan ini.
· Membaca merupakan salah satu sebab seseorang memiliki akhlak yang terpuji, sifat-sifat yang tinggi serta perilaku yang lurus.
· Dengan membaca seseorang dapat memperoleh pahala yang besar dan balasan yang banyak, terutama jika yang dibaca adalah Kitabullah atau buku-buku yang bermanfaat yang menunjukkan kepada kebaikan dan mencegah dari keburukan.
· Membaca merupakan salah satu sebab seseorang memperoleh derajat yang tinggi di dalam kehidupan dunia dan akhirat. Karena membaca merupakan salah satu sebab untuk mendapatkan ilmu. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman,
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. 58:11)
· Bahwa membaca merupakan salah satu sebab terbesar untuk mengetahui berbagai tipu daya musuh Islam dan kaum muslimin dari kalangan orang kafir, mulhidin (penyeleweng) dan kelompok-kelompok sesat. Juga tahu bagaimana cara membantah mereka dan agar berhati-hati dari mereka.
· Membaca merupakan salah satu sebab untuk menggapai ketentraman dan ketenangan jiwa serta salah satu sarana untuk mengisi waktu yang terluang dengan hal-hal yang positif.
Mengapa Harus Membaca?
Membaca adalah kenikmatan tersendiri dalam jiwa, merupakan hidangan bagi akal, ilmu dan ruh. Dengan membaca seseorang dapat merasa bersatu dengan berbagai zaman dan tempat, seakan-akan dia bersama dengan seluruh ummat manusia di mana pun mereka berada dan ke mana pun mereka pergi. Membaca merupakan mata air yang jernih, karena merupakan pengalaman yang teruji coba, yang mengguyurkan petunjuk dan penjelasan, nasihat, bimbingan dan pengetahuan.
Membaca adalah wisatanya akal manusia menuju taman-taman kehidupan di masanya, menuju atsar peninggalan orang yang terdahulu dan menuju harapan di masa yang akan datang. Membaca akan mengantarkan kita dari alam yang sempit dan terbatas menuju alam lain yang lebih luas cakrawalanya dan lebih jauh batasnya. Orang yang sedang membaca seakan-akan hidup di seluruh masa, di segenap kerajaan dan negeri, di seluruh kota dan perkampungan. Membaca ibarat sebuah rihlah (perjalanan) di muka bumi menuju berbagai tempat yang beraneka ragam. Seorang penulis terkadang mengajak kita untuk mendaki sebuah gunung, kemudian membawa kita turun ke lembah, lalu mengajak kita berjalan di antara taman-taman nan hijau, kemudian berpindah menuju bebatuan yang bercadas, dan seakan-akan kita bersama dengannya, tidak terpisah walau hanya sebentar. Tempat yang berjauhan tidak memisahkan antara kita dengan sang penulis tersebut. (silakan baca buku tentang pengembaraan Ibnu Bathuthah).
Dengan membaca anda seakan-akan berada di samping para penulis, para ulama dan pemikir yang anda rasakan keutamaan dan keberadaan mereka. Seorang pembaca buku sedang mengambil sesuatu yang paling baik dan indah yang diberikan oleh sahabatnya. Karena penulis tidak akan menulis di dalam kitabnya kecuali apa-apa yang memberikan faidah, pengalaman, manfaat atau memberikan pengarahan dengan memilih kalimat yang terbaik.
Membaca menjadikan seseorang tahu tafsir dari firman-firman Allah Subhannahu wa Ta’ala yang merupakan masalah paling penting. Dia dapat menggali perbendaharaannya, ilmu dan hukum-hukumnya, dia akan tahu yang halal dan yang haram, yang muhkam dan mutasyabih, tahu perumpamaan, kabar gembira, peringatan, nasehat dan kisah-kisah yang berguna. Dengan membaca pula seseorang akan tahu sunnah Rasul Shalallaahu alaihi wasalam yang merupakan bagian dari al-Qur’an dan sumber hukum ke dua dalam syari’at Islam. Dia menafsirkan dan menjelaskan al-Qur’an, menjadi dalil dan memberikan pelajaran serta ibrah.
Dengan membaca anda tahu perjalanan hidup Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dan akhlaq beliau yang merupakan nasehat dan pelajaran bagi kita semua. Pada diri beliau terdapat contoh yang baik bagi kita. Semoga Allah Subhannahu wa Ta’ala melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau. Dengan membaca pula anda tahu ilmu-ilmu orang yang terdahulu dan yang akhir, tahu keadaan manusia di masa lampau dan penerusnya. Seorang yang membaca meskipun sedang duduk di dalam rumah atau di perpustakaan, namun akal dan fikirannya sedang berjalan-jalan menuju seluruh penjuru bumi.
Melalui membaca akan diketahui dan dibedakan antara yang halal dan yang haram, yang wajib, yang mustahab (sunnah), yang makruh dan yang mubah. Dengannya diketahui pula jalan kebaikan dan kebahagiaan, jalan yang buruk dan menuju kecelakaan, bagaimana amalan yang dapat mengantarkan ke surga, mana perbuatan-perbuatan yang dapat menjerumuskan ke neraka dan diketahui pula sifat-sifat surga, sifat-sifat neraka serta para penghuni dari masing-masing keduanya. Dengan membaca anda akan mengetahui adanya ganjaran dan balasan bagi orang yang berbuat taat, serta hukuman dan adzab bagi orang-orang yang bermaksiat.
Demikian juga untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat serta terlepas dari kecelakaannya maka kita juga harus membaca serta mengamal kan kebaikan yang telah kita ketahui lewat membaca tersebut.
Demikanlah, dan dikarenakan ilmu adalah lautan luas yang tiada bertepi sedangkan umur manusia adalah sesuatu yang sangat pendek dan singkat maka selayaknya manusia menjaga umurnya dengan banyak membaca buku-buku yang bermanfaat serta mengamalkannya, memulai dari yang terpenting kemudian yang penting, mempelajari kitabullah dan tafsirnya serta mengamalkannya, juga mempelajari dan mengamalkan Sunnah Rasul Shalallaahu alaihi wasalam. Keduanya adalah sumber kebahagiaan dan keselamatan. Beliau telah bersabda, artinya,
“Sesungguhnya telah aku tinggalkan di tengah-tengah kalian sesuatu yang jika kalian semua bepegang teguh dengannya, maka tidak akan sesat selama-lamanya,(yaitu) Kitabullah dan sunnah Nabi-Nya.”
Karakteristik Buku
Buku adalah sebaik-baik teman dalam kesendirian dan sebaik-baik sahabat di negeri asing. Dia adalah bejana yang penuh dengan ilmu, dan tiada teman yang paling baik melebihi kitab. Tidak ada pula pohon yang umurnya lebih panjang dan buahnya lebih baik serta gampang untuk dipetik dibandingkan buku. Buku adalah sahabat yang tidak pernah menyanjungmu dan tidak pula mencelamu, teman yang tidak membuatmu bosan dan tidak pula menipumu. Jika engkau melihatnya maka ia membuatmu senang, dia pengasah otakmu, meluaskan lisanmu, memberimu penjelasan dengan baik, makanan bagi ruhmu dan terus memberimu informasi. Dia adalah pengajar yang jika engkau merendah maka dia tidak akan merendahkanmu, jika engkau selesai satu madah darinya, maka dia tidak akan putus dalam memberikan kebaikan kepadamu.
Seandainya buku itu tidak memberikan sesuatu kecuali hanya penjagaan terhadap waktu agar bermanfaat serta menjaga dari hal-hal yang membahayakan, maka bagi para pecinta buku, hal itu sudah merupakan nikmat paling luas dan perolehan paling besar. Buku adalah sahabat yang akan menebas waktu-waktu luangmu, menyelamatkanmu dari kesendirian yang membosankan. Dia mampu bercerita kepadamu tentang kabar suatu negeri, sehingga engkau tahu beritanya, sebagaimana engkau mengetahui kabar negerimu sendiri.
Membaca buku-buku yang baik akan mendatangkan manfaat baik, sedangkan membaca buku-buku yang sesat akan merugikan kita. Buku-buku yang baik adalah buku-buku yang selaras dengan ajaran Al Quran dan As sunnah. Sedangkan buku-buku yang sesat adalah buku-buku yang mengajarkan bid’ah, kesesatan, penyimpangan, dosa, dan maksiat. Karena itu hati-hatilah memilih buku yang akan dibaca karena betapa banyak buku sesat yang ternyata dihiasi ayat-ayat Al Quran dan hadits-hadits nabi, misalnya buku-buku dari aliran sesat.
Urutan buku yang layak dibaca:
Buku-buku tentang aqidah islam yang sesuai dengan manhaj ahlus sunnah wal jamaah (manhaj salaf), misalnya karya ibnu Taimiyah, ibnul qayyim al jauziyah, syaikh Abdullah bin Baz, syaikh Muhammad Nashirudin Al Albani, syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, dll
Buku-buku tentang fiqh, cara-cara ibadah fardhu (shalat, zakat, puasa, dll), cara-cara ibadah sunnah, dll yang sesuai dengan manhaj ahlus sunnah wal jamaah (manhaj salaf)
Buku-buku hadits shahih yang sesuai dengan manhaj ahlus sunnah wal jamaah (manhaj salaf), misalnya Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Shahih Sunan Abu Dawud, Shahih Sunan An Nasa’i, dll
Buku-buku tafsir yang sesuai dengan manhaj ahlus sunnah wal jamaah (manhaj salaf), misalnya Tafsir Ibnu Katsir
Buku-buku sejarah islam yang sesuai dengan manhaj ahlus sunnah wal jamaah (manhaj salaf), misalnya kitab Al Bidayah Wan Nihayah karya ibnu katsir
Buku-buku bantahan terhadap perbuatan sesat dan aliran sesat, misalnya Minhajus sunnah karya ibnu taimiyah yang membantah aliran syiah, atau buku-buku karya Hartono Ahmad Jaiz, dll
Buku-buku lain yang bermanfaat
Contoh buku sesat yang tidak boleh dibaca: buku-buku karya orang syiah, jaringan islam liberal, tokoh-tokoh bid’ah, aliran sesat, kaum orientalis, dll
Disadur dari kutaib, “Ahmiyatul Qira’ah wa Fawaiduha,” hal 8-14, Syaikh Abdullah bin Jarullah al-Jarullah. (Abu Ahmad Taqiyudin)
Sumber: http://www.alsofwah.or.id (buletin an Nur)
kalo gua sayang sama sepupu gua hukumnya apa??
sepupu 100% halal asal dinikahi dulu, sepupu itu bukan muhrim
nabi juga menikah dgn sepupunya, yaitu zainab, dll
klo selalu merasa sendiri….?!
klo selalu merasa sendiri…?!
klo selalu gelisah bil;a jauh dengan pacar patu…gmana
knapa smw cow brengsek qw bnci cw,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
dia manggil aku pake sapaan spesial….pertama aku anggap biasa….tapi kemudian,dia mulai perhatian lewat sms,telfon, salah kah klu rasa sayang tu muncul…..
tapi aku masih gak ngerti sampek sekarang….dia beneran sayng ma aku ato gak…
gak da tanda2 yang bisa dijadiin kepastian….
tiap hari ketemu…..dia slalu yang mulai telfn….aku dah mulai lelah dengan mua ni…..
aku butuh kepastian…..
biar gak bingung kayak sekarang ni…
kmo tanya dunk ma dia..
kmo minta kpastian mma diia..
emg qm mauu ngjalanin hbungan yg gk jelas..
kea yg qm alamin skrg..
aku bingung bangeet ad co yang suka am aq dia cinta bgt am a pi aq g cinta am dia aq hrz gimn nih…………
kalo qm gk cnta..
qm jant kasi hrapan lbih untk dia..
dri pada entar mala tmbh sakit htti..
da cow yg ska ma Q n dia mw bRubh lbh baik low Q mw jd cewny,,,,Q hrz trima dia ga za????????
slah gx sih klo kt mo nyadarin mantan kta yg dah brbwt sswt yg gx hrus dia lakuin??????????????truz gmn cra’y biar rsa bnci ini hilang????????????
qmmo eggk salah qoo..
malah ittu bguuss..
untuk saat ini kamo tingglin dulu rasa benci kamo sesaat ..
kamo but dia berubh dulu
supaya dia eggk gt lgii..
okoko
ku takut banget kalo co ku tinggalin ku, coz ku sayang bangt m dia
kamo eggk ussa tkudh..
qm ykin ajjh mma cinta qmmo ma dia..
kalo dia syg qm..
dia gk kan tingglin kamo
dan qm jant ngelakuinn hal yng di gk suka..
ku takut banget kalo co ku tinggalin ku, coz ku sayang bangt m dia, mank sih dia jg syg aku
Qmu haRuz jga baik2.
kaRna di TinggaL kN oR/ yaNg sangT Qt CinTai & sayang’N iTu SAKIT & M’deRita……^_^
hadooh..
knapah iaa
sakit beudh rasa nyah kalo ditinggalin orang yang aqqu syangin..
trus jugga aqqu merasa khilangan diia dsaat aqqu lagii ksepiiant taw sndrii,,
aqq hruss gmnah ..
aqqu bngung..
aqq syoung beudh mma diia tapi disisi laen orang tua dia eggk stuju ma aqq..
aqq hrus gmnh..??????????
dda yg bisa kasi solusi eggk..
hey getz aq lg binggung niuehhhhhhhh
ad co yang dkt banget am qa
dia suka am aq
aqpun suka am dia
dia sudah ajak jadian aq g mau coz nantinya loe pts ki dah g bs bersm ap yang aq lakuin ini slh
assalam….
saya pernah mendem perasan sama cow dari saya kelas 1 smp sampe sekarang,,,(udah lulus sma….)
saya kira dia punya perasaan yang sama,,,,,,tapi ternyata tidak……saya menyatakan perasaan saya ini sama dya,,,,dan ternyata dia gak mau buat nerima perasan saya ini.,.,.,.,tapi kalo kata temennya dya pernah menanyakan keadaan saya.,.,.hubuingan saya sama dia bukan teman,musuh ataupun deket,,,yah…bisa dibilang HTS(hubungan tanpa status)
jujur…sampe sekarang saya masih mengharapkan dya & saya yakin dya punya perasaan yang sama….salahkah saya????apa yang harus saya lakukan…..
aduh……. syp aja! akhi wa ukhty….
tlng ksh saran buat ana dunk!
ana agy pth hti gra2 ikhwan yang ana ska,mlh ska ma sobat ana…
kasih saran buat ana dunk
hmm_
aLLow ,,
aKk mAu cRitA nEeh ,,
aKk bArU pTus m pCr aKk ,,
dyA mTUs.n aKK gRa”_pngeNd fkuS k.pLajArAn ,,
tApi Akk tAu kLow dyA bhOnk m aKk ,,
aKk Cyank bAngEt m dyA ,,
tLonk kAsii sArAn buAd aKk , aKk hArUs gMn ?
sbbar jjh ych !!!
gue jgga prnahh d.gittooin .
nd trnytta dia mllah pcaran cma sobbat gue . !!!
gue cyank dia .
v gue gga taoo , dia cyank cma gue atau gga !!!
dia prnahh brulang kli blang cyank cma gue v ttep gue gga ykin cma dia . !!!
gue takut suattu saat nanti dia bkal ninggalin gue kya waktu it . !!!
knpp ych koq gue gga ykin cma dia . ???
lupphyouagustam.