• Blog Stats

    • 37,545,971 hits
  • pacaran adalah perbuatan haram, maka janganlah berpacaran. Dan jangan mau jika diajak pacaran. Akan tetapi tempuhlah jalan yang halal jika memang benar-benar cinta dan ingin menikah. Segeralah menikah dan jangan berpacaran. ================================== dan janganlah kamu mendekati zina. sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk. [QS Al Isra':32] ==================================== JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA ====================================== Asy-Sya’bi berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah)
  • Artikel Terbanyak Dibaca

  • Artikel Terbaru

  • arsip artikel

  • wasiat untuk seluruh umat manusia

    kasihilah semua makhluk yang ada di muka bumi, niscaya Tuhan yang ada di atas langit akan mengasihimu.. =============================================== Cara mengasihi orang kafir diantaranya adalah dengan mengajak mereka masuk islam agar mereka selamat dari api neraka =============================================== wahai manusia, islamlah agar kalian selamat.... ======================================================
  • wasiat untuk seluruh umat islam

    ====================================== “Janganlah kamu saling dengki, saling membenci, saling mengintip rahasia, saling bersaing, saling mencari keburukan, saling menawar lebih tinggi untuk menipu pembeli sehingga menawar tinggi, saling memutuskan hubungan, saling bermusuhan, janganlah sebagian kalian menjual atas jualan yang lain. Jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang diperintahkan Allah. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh menganiaya, tidak boleh menelantarkannya dan tidak boleh menghinanya. ============================================= Taqwa ada di sini, taqwa ada di sini, taqwa ada di sini kata Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam sambil menunjuk dadanya. ================================================= Cukuplah merupakan kejelekan seseorang apabila menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain adalah haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. Hati-hatilah bersangka buruk, karena sesungguhnya bersangka buruk adalah omongan yang paling dusta. ==================================================== Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk kamu dan hartamu, tetapi ia melihat hati dan perbuatanmu.” (riwayat Muslim dan Bukhari). ==========================================
  • BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR

    BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- -------------------------------------------------------------------------------------------- Orang yang mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi janda dan orang miskin ibarat berjihad di jalan Allah dan ibarat orang shalat malam (HR. Bukhari) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain. (HR. Ahmad) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersodaqoh dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana. (HR. Ath-Thabrani) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sodaqoh. (HR. Al-Baihaqi) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Tiap-tiap amalan makruf (kebajikan) adalah sodaqoh. Sesungguhnya di antara amalan makruf ialah berjumpa kawan dengan wajah ceria (senyum) dan mengurangi isi embermu untuk diisikan ke mangkuk kawanmu. (HR. Ahmad) ------------------------------------------------------------------------------------------------------------
  • berbuat baiklah pada semua binatang, termasuk kepada anjing

    Kita tidak diperbolehkan menyiksa binatang dengan cara apa pun, atau membuatnya kelaparan, memukulinya, membebaninya dengan sesuatu yang ia tidak mampu, menyiksa atau membakarnnya. --------------------------------------------------- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Seorang wanita masuk neraka karena seekor kucing yang ia kurung hingga mati. Maka dari itu ia masuk neraka gara-gara kucing tersebut disebabkan dia tidak memberinya makan dan tidak pula memberinya minum di saat mengurung nya, dan dia tidak membiarkannya (melepaskannya) supaya memakan serangga di bumi.” (HR. al-Bukhari) ------------------------------------------------------- Dan ketika beliau melewati sarang semut yang telah dibakar, beliau bersabda, “Sesungguhnya tidak ada yang berhak menyiksa dengan api selain Rabb (Tuhan) pemilik api.” (HR. Abu Dawud, hadits shahih) ---------------------------------------------- “Barangsiapa yang tidak berbelas kasih niscaya tidak akan dibelaskasihi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) ------------------------------------------------- “Kasihanilah siapa saja yang ada di bumi ini, niscaya kalian akan dikasihani oleh yang ada di langit.” (HR. at-Tirmidzi) -------------------------------------------------- Dibolehkan membunuh hewan-hewan yang membahayakan atau mengganggu seperti anjing buas, serigala, ular, kalajengking, tikus dan lain-lain karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Ada lima macam hewan fasik (buruk) yang boleh dibunuh di waktu halal (tidak ihram) dan di waktu ihram, yaitu ular, burung gagak yang putih punggung dan perutnya, tikus, anjing buas, dan rajawali.” (HR. Muslim). Juga terdapat hadits shahih yang membolehkan untuk membunuh kalajengking. ================================================
  • JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA

    ====================================== ‘Amr bin Syarahil Asy-Sya’bi rahimahullahu berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah, 2/636. Dihasankan oleh Al-Albani dalam At-Tahrim, hal. 148) ----------------------------------------------------------------------------- Ibnu Abdil Barr rahimahullahu berkata: “Termasuk hasil usaha yang disepakati keharamannya adalah riba, upah para pelacur, sogokan (suap), mengambil upah atas meratapi (mayit), nyanyian, perdukunan, mengaku mengetahui perkara gaib dan berita langit, hasil seruling dan segala permainan batil.” (Al-Kafi hal. 191) ---------------------------------------------------------------------- Ath-Thabari rahimahullahu berkata: “Telah sepakat para ulama di berbagai negeri tentang dibenci dan terlarangnya nyanyian.” (Tafsir Al-Qurthubi, 14/56) ------------------------------------------------------------------- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “Mazhab empat imam menyatakan bahwa alat-alat musik semuanya haram.” Lalu beliau menyebutkan hadits riwayat Al-Bukhari rahimahullahu . (Majmu’ Fatawa, 11/576) --------------------------------------------------------------- ------------------------------------------
  • wasiat bagi para pemuda

    ====================================== ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Barangsiapa di antara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya mereka adalah ummat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, dan paling lurus petunjuknya, serta paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya, karena mereka berada di jalan yang lurus.” [Dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Baar dalam kitabnya Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih II/947 no. 1810, tahqiq Abul Asybal Samir az-Zuhairy] ======================================
  • wasiat Imam al-Auza’i

    ====================================== Imam al-Auza’i rahimahullah (wafat th. 157 H) mengatakan: “Bersabarlah dirimu di atas Sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para Shahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan Salafush Shalih, karena akan mencukupi kamu apa saja yang mencukupi mereka.” [Syarh Ushul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah 1/174 no. 315] --------------------------------------------------------------- Beliau rahimahullah juga berkata: “Hendaklah kamu berpegang kepada atsar Salafush Shalih meskipun orang-orang menolaknya dan jauhkanlah diri kamu dari pendapat orang meskipun ia hiasi pendapatnya dengan perkataannya yang indah.” [Imam al-Aajury dalam as-Syari’ah I/445 no. 127, di-shahih-kan oleh al-Albany dalam Mukhtashar al-‘Uluw lil Imam adz-Dzahaby hal. 138, Siyar A’laam an-Nubalaa’ VII/120] =================================================
  • Mengutip perkataan Syaikh Bin Baz rahimahullaahu

    “Zaman ini adalah zaman kelembutan, kesabaran dan hikmah, bukanlah zaman kekerasan (kebengisan). Mayoritas manusia saat ini dalam keadaan jahil (bodoh), lalai dan lebih mementingkan duniawiyah. Maka haruslah sabar dan lemah lembut sampai dakwah ini tersampaikan dan sampai mereka mengetahuinya. Kami mohon petunjuk kepada Alloh untuk semuanya.” (Majmu’ Fatawa Samahatul Imam Ibnu Bazz (Juz VIII, hal 376) dan (Juz X, hal. 91) =================================================
  • jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara

    ====================================== Segala puji hanyalah milik Alloh yang telah mempertautkan hati kaum mukminin dan menganjurkan mereka supaya bersatu padu dan saling berhimpun serta memperingatkan dari perpecahan dan perselisihan. -------------------------------------------------------- Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq untuk disembah melainkan hanyalah Alloh semata yang tidak memiliki sekutu. Dialah yang mensyariatkan dan memudahkan, dan Dia terhadap kaum mukminin adalah sangat penyantun. ------------------------------------------------------ Saya juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang diperintahkan dengan kemudahan dan berita gembira. ----------------------------------------------------- Beliau bersabda : Permudahlah dan janganlah kamu persulit, berikanlah kabar gembira dan janganlah membuat orang lari (dari kebenaran). ------------------------------------------------------ Permisalan kaum mukminin satu dengan lainnya dalam hal kasih sayang, tolong menolong dan kecintaan, bagaikan tubuh yang satu, jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan merasa demam atau terjaga” --------------------------------------------------- Tidak ragu lagi, bahwa kewajiban Ahlus Sunnah di setiap zaman dan tempat adalah saling bersatu dan menyayangi di antara mereka serta saling bekerja sama di dalam kebajikan dan ketakwaan… ==================================================---------------
  • KHUTBATUL HAJAH

    ====================================== Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, dan meminta ampun kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami, dan dari keburukan-keburukan perbuatan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah saja, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. ================================================ “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” ================================================== “Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan darinya Allah menciptakan isterinya; dan dari keduanya Allah mengembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silatur rahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” ========================================================= “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mena’ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. ============================================================ Amma ba’du; Maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad , dan seburuk-buruk perkara dalam agama adalah yang di ada-adakan, setiap yang diada-adakan (dalam urusan agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan. (HR. Muslim, an-Nasa’i dan selain keduanya) ==================================================
  • Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka (al baqarah ayat 120)

    Wahai Kaum Muslim, Telah nyata kebencian dan makar kaum kafir untuk menghancurkan Islam dan umatnya. Mereka telah melakukan konspirasi canggih dan rapi untuk mengubur Islam. Mereka terus terjaga dan berpikir keras siang-malam untuk mencari dan mencoba cara-cara terbaru untuk menghancurkan Islam. Mereka bahu-membahu dan terus bekerjasama memikirkan bagaimana merusak Islam. Mereka tak segan-segan melakukan teror, intimidasi, hingga serangan fisik dalam rangka meluluhlantakkan Islam dan umatnya. Akankah kita berdiam diri? Ridhakah kita menyaksikan Islam diinjak-injak dan dihinakan? ---------------------------------------------------------- Wahai Kaum Muslim, Islam akan terselamatkan jika kita semua berpegang teguh dengan syariat Islam, insya allah. Artinya, kita tidak hanya meyakini Islam sebatas bibir semata. Lebih jauh, kita harus menerapkan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan kita; baik dalam ibadah ritual yang biasa kita laksanakan maupun dalam bidang akhlak dan muamalah—seperti politik, ekonomi, sosial, pendidikan, dan sebagainya. ------------------------------------------------------------ Di samping itu, harus ada institusi negara (Khilafah) yang melindungi seluruh kepentingan umat Islam. Dengan institusi inilah seluruh syariat Islam akan diterapkan secara sempurna sehingga akidah umat dapat terselamatkan. Marilah kita bahu-membahu, mencurahkan pikiran dan tenaga kita demi tegaknya Khilafah Islamiyah. ---------------------------------------------------------- Sesungguhnya barat tidak memandang kita dengan dua kaca mata, namun hanya satu kaca mata saja, yaitu kacamata fanatik buta, kedengkian dan kezhaliman yang nyata terhadap kaum muslimin. Tatkala Islam tegak dengan tanpa mempermasalahkan batas-batas wilayah, bersatu dalam amal serta telah rekat persatuannya maka tiba-tiba saja mereka merobek-robek dan mencerai beraikan kita. ================================================
  • SALAFY & WAHABI BUKANLAH ALIRAN SESAT

    Al-Malik Abdul Aziz berkata : “Aku adalah penyeru kepada aqidah Salafush Shalih, dan aqidah Salafush Shalih adalah berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang datang dari Khulafaur Rasyidin” [Al-Wajiz Fi Siratil Malik Abdul Aziz hal.216] ------------------------------------------------------------------------------------- Beliau juga berkata : “Mereka menamakan kami Wahabiyyin, dan menamakan madzhab kami adalah madzhab wahabi yang dianggap sebagai madzhab yang baru. Ini adalah kesalahan fatal, yang timbul dari propaganda-propaganda dusta yang disebarkan oleh musuh-musuh Islam. Kami bukanlah pemilik madzhab baru atau aqidah baru. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tidak pernah mendatangkan sesuatu yang baru, aqidah kami adalah aqidah Salafush Shalih yang datang di dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang ditempuh oleh Salafush Shalih. Kami menghormati imam empat, tidak ada perbedaan di sisi kami antara para imam : Malik, Syafi’i, Ahmad dan Abu Hanifah, semuanya terhormat dalam pandangan kami” [Al-Wajiz Fi Siratil Malik Abdul Aziz, hal. 217] ---------------------------------------------------------
  • mengutip perkataan Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad hafizhahullaahu:

    “Telah terjadi di zaman ini, sibuknya sebagian ahlus sunnah dengan sebagian lainnya dengan tajrih (saling mencela) dan tahdzir, dan implikasi dari hal ini menyebabkan terjadinya perpecahan, perselisihan dan saling mengisolir. Padahal sepantasnya bahkan seharusnya bagi mereka untuk saling mencintai dan berkasih sayang terhadap sesama mereka, dan menyatukan barisan mereka di dalam menghadapi ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu yang menyelisihi ahlus sunnah wal jama’ah. ---------------------------------------------------- “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- agar menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dari perkara-perkara yang tidak bermanfaat bagi mereka, sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “diantara kebaikan seorang muslim adalah meninggalkan hal-hal yang tidak berfaidah baginya.” Hadits hasan diriwayatkan oleh Turmudzi.” ------------------------------------------------------ “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- untuk bersikap pertengahan dan moderat, diantara sikap ghuluw (ekstrim) dan meremehkan, dan diantara sikap ifrath (berlebih-lebihan) dan tafrith (menggampangkan). Sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “Jauhilah oleh kalian sikap ghuluw di dalam agama, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa dikarenakan sikap ghuluw mereka di dalam agama.” Ini hadits shahih, dikeluarkan oleh an-Nasa’i dan selainnya.” ---------------------------------------------------- “Dan aku nasehatkan supaya mereka berhati-hati dari sikap zhalim, dikarenakan hadits Qudsi, “Wahai hamba-Ku, sesunguhnya Aku haramkan kezhaliman atas diri-Ku, maka aku jadikan pula haram atas diri kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi” diriwayatkan oleh Muslim, dan hadits Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “takutlah kalian dari kezhaliman, karena sesungguhnya kezhaliman itu adalah kegelapan di hari kiamat” diriwayatkan oleh Muslim. ------------------------------------------------------ Aku memohon kepada Allah Azza wa Jalla untuk menunjuki seluruh ummat kepada apa yang diridhai-Nya, agar mereka mendalami agama Islam (tafaqquh fid din) dan menetapi kebenaran, serta agar mereka menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dan menjauhkan dari apa-apa yang tidak bermanfaat. Sesungguhnya Ia berkuasa dan berkemampuan atasnya. Semoga Sholawat dan Salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya dan para sahabatnya. (selesai kutipan) ===========================================
  • mengutip perkataan Imam Albani rahimahullaahu

    “Wajib atas kita untuk berlemah lembut di dalam dakwah kita terhadap orang-orang yang menyelisihi kita, dan jadikan selalu firman Alloh Ta’ala berikut (sebagai pegangan) dan untuk selamanya : “Serulah mereka ke jalan Rabb-mu dengan hikmah dan nasehat yang baik, serta berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.” Dan mereka yang pertama lebih berhak untuk kita terapkan hikmah ini adalah mereka yang paling memusuhi kita di dalam dasar (mabda’) dan aqidah kita, hingga kita tidak menggabungkan antara beratnya dakwah yang haq yang Alloh memperteguh kita dengannya dengan beratnya cara (ushlub) kita berdakwah kepada Alloh Azza wa Jalla” ==================================================
  • Diriwayatkan bahwa Hasan Al-banna berkata: “Kami menginginkan terbentuknya sosok individu muslim, rumah tangga Islami, bangsa yang Islami, pemerintahan yang Islami, negara yang dipimpin oleh negara-negara Islam, menyatukan perpecahan kaum muslimin dan negara mereka yang terampas, kemudian membawa bendera jihad dan da’wah kepada Allah sehingga dunia mendapatkan ketentraman dengan ajaran-ajaran Islam.” ==================================================
  • warning

    dalam blog ini mungkin terdapat hadits dhoif, riwayat yang tidak valid, salah tulis, kutipan yg tidak sesuai syariat islam, dan berbagai kesalahan2 lain, dan belum sempat di sensor, jadi mohon maaf sebesar-besarnya

BAHAYA PAHAM SYIAH BAGI UMAT ISLAM

Bahaya Syiah Sebuah Realita

sumber:

http://ustadzkholid.com/manhaj/bahaya-syiah-sebuah-realita/

Dewasa ini kebid’ahan telah merebak di dalam tubuh kaum muslimin sedemikian hebatnya sehingga banyak kaum muslimin yang tidak mengerti bahaya kebid’ahan padahal kebid’ahan tersebut dapat merusak mereka dan merusak keutuhan dan persatuan kaum muslimin bahkan banyak negara Islam yang hancur lantarannya seperti daulah bani Umayah yang jatuh disebabkan kebid’ahan Ja’d bin  Dirham (Jahmiyah) lihatlah pernyataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ketika mengomentari sejarah keruntuhan bani Umayah: “Sesungguhnya daulah bani Umayah hancur disebabkan oleh Ja’ad Al Mu’athil.”[1] Dan berkata:”Jika muncul kebid’ahan-kebid’ahan yang menyelisihi Rasulullah maka Allah akan akan membalas (dengan kejelekan) pada orang yang menyelisihi Rasul dan memberi kemenangan kepada yang lainnya.”[2].

Dan dalam tempat yang lain beliau berkata: “Maka iman kepada Rasul dan Jihad membela agamanya adalah sebab kebaikan dunia dan akhirat dan sebaliknya kebid’ahan dan penyimpangan agama serta penyelisihan terhadap sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam adalah sebab kejelekan dunia dan akhirat.”[3]

Bahaya syiah terhadap kaum muslimin merupakan satu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri oleh setiap muslim lebih-lebih yang telah meneliti dan membaca sejarah mereka sejak masa awal pertumbuhan dan perkembangannya sampai saat ini, rentang waktu yang cukup panjang dengan segala peristiwa berdarah yang telah menumpahkan darah ribuan bahkan jutaan kaum muslimin.

Mengenal dan meneliti bahaya dan implikasi syiah merupakan pembahasan yang cukup luas dan panjang lagi penting agar setiap muslim dapat mengambil pelajaran, kemudian tidak terperosok dalam satu lubang berkali-kali. Apalagi dimasa sekarang mereka telah berusaha dengan segala sarana dan prasarana yang mereka miliki untuk menyebarkan dakwah mereka di seluruh pelosok dunia dengan perlahan-lahan namun pasti yang pada akhirnya mereka akan menampakkan hakikatnya bila telah mencapai apa yang menjadi tujuan mereka. Oleh sebab itu memahamkan masyarakat Islam tentang bahaya mereka dalam ideologi, politik, ekonomi dan sosial kaum muslimin saat ini merupakan hal yang mendesak, karena besarnya bahaya syiah terhadap seluruh aspek kehidupan masyarakat dan Negara Islam, apalagi di Indonesia yang kebanyakan kaum muslimin belum mengenal siapa mereka dan bagaimana bahaya mereka terhadap kaum muslimin ditambah lagi dengan munculnya nama-nama baru perwujudan dari syiah ini seperti IJABI (Ikatan Jamaah Ahlil Bait Indonesia),[4] yang telah mulai menancapkan kuku-kuku beracunnya ke dalam tubuh kaum muslimin dengan tameng kecintaan ahlil bait. Mudah-mudahan dengan pembahasan ini dapat memberikan peringatan kepada segenap kaum muslimin dan menjadi teguran kepada sebagian kaum muslimin yang mencoba menganggap syiah sebagai kawan dan sahabat,  dan menganggap mereka tidak membahayakan dan merugikan kaum muslimin.

Bahaya Syiah terhadap Ideologi dan Pemikiran Kaum Muslimin

Bahaya mereka dalam bidang ini banyak sekali, diantaranya:

1. Memasukkan kesyirikan kedalam masyarakat Islam bahkan sebagian Ahlil Ilmu menetapkan mereka sebagai orang yang pertama membuat kesyirikan dan penyembahan kubur pada umat Islam.

Hal ini terjadi lantaran sikap ekstrim mereka dalam mencintai para imam Syiah, sehingga membawa mereka kepada sikap ekstrim terhadap kuburan, dan membuat riwayat-riwayat yang dijadikan oleh mereka sebagai dasar amalan tersebut.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam Ar Rodd Alal Akhnaa’iy hal.47 : “Orang pertama yang memalsukan hadits-hadits pembolehan bepergian untuk menziarohi keramat-keramat yang ada diatas kuburan adalah ahlil bidah dari kalangan Rafidhah (Syiah) dan yang sejenisnya dari orang-orang yang meninggalkan masjid dan mengagungkan tempat keramat yang ada padanya kesyirikan, kedustaan dan kebid’ahan terhadap agama Islam yang tidak ada padanya hujjah dari Allah Ta’ala , karena Al kitab dan As Sunnah hanya menyebutkan ibadah di masjid-masjid dan tidak di tempat-tempat keramat.”

Sekarang tempat-tempat keramat dan tempat-tempat ziaroh syiah menjadi tempat kesyirikan dan paganis, dan ini dapat dilihat di negeri-negeri Syiah seperti Iran demikian juga buku-buku mereka memperbolehkan bahkan menyeru kepada kesyirikan tersebut.

Syaikh Musa Jaarullah berkata, setelah menziarohi negara Iran dan Irak dan tinggal disana beberapa bulan bahwa dia telah melihat tempat-tempat keramat dan kuburan-kuburan ditempat mereka disembah.

Syaikh Abul Hasan Annadwiy berkata tentang bangunan keramat di kuburan Ali Ar Ridha dalam makalahnya Min Nahri Kaabul Ila Nahri Al Yarmuuk hal 93 majalah Al I’tishom, tahun (41) edisi ke-3 setelah menziarohi Iran : “Setiap orang asing yang menziarohi keramat Ali Ar Ridho akan merasa seakan-akan di dalam masjid Al Haram, dia mendengar teriakan, tangisan dan desis ratapan, dipenuhi oleh laki-laki dan perempuan , dihiasi dengan hiasan-hiasan yang megah yang dibuat dengan harta benda yang sangat banyak sekali.”[5]

Imam Al Aluusiy pengarang kitab At Tuhfah Al Itsba Asyariyah menyatakan, bahwa mereka (kaum syiah) selalu ekstrim menyembah dan menthawaf-i kuburan para imam mereka bahkan sampai shalat menghadapnya tidak menghadap Ka’bah dan masih banyak lagi yang lainnya yang pernah dilakukan oleh kaum musyrikin terhadap berhala mereka. [6]

Kemudian beliau berkata:  “Jika ada padamu keraguan tentang hal itu silahkan pergi ke sebagian tempat keramat-keramat mereka agar kamu melihat kenyataan ini dengan kedua matamu.”[7]

Inilah persaksian mereka yang telah melihat langsung keadaan mereka akan tetapi amat disayangkan musibah dan bencana ini akhirnya terbawa dan masuk kenegeri-negeri Islam dan menjadi kebiasaan sebagian kaum muslimin sehingga merusak aqidah dan ideologi mereka.

2. Merusak agama Islam dan menyesatkan kaum muslimin

Demikianlah pemikiran syiah dengan segala keanehan dan kesesatannya terus didakwahkan dan disebarkan dengan segala sarana yang mereka miliki untuk mengumpulkan sebanyak mungkin orang yang akan mengikutinya dan semakin banyak orang yang meninggalkan agama Islam yang shahih dengan segala provokasi para syaikh mereka yang selalu berusaha memperbanyak jumlah pengikut mereka. Provokasi ini didasarkan diatas kedustaan dan penipuan yang mereka pakai dalam menipu pengikut mereka dan orang-orang awam dari kaum muslimin diantaranya adalah slogan tidak ada perbedaan antara Sunni dan Syiah dan pernyataan mereka bahwa keganjilan ajaran syiah sesungguhnya ada dasarnya di dalam riwayat-riwayat ahli sunnah.

Tidak diragukan lagi dakwah dan penyebaran aqidah Syiah dan provokasi yang berisi ketetapan syiah merupakan bagian dari Islam adalah salah satu sebab penting dalam usaha merusak dan menyesatkan kaum muslimin, apalagi sekarang ada Negara Ayatullah di Iran yang mereka jadikan sarana untuk menghadapi kemunculan dan kebangkitan Islam karena munculnya Negara yang merusak citra keindahan dan kesempurnaan Islam, dan memberi gambaran yang berlawanan dengan keinginan dan kebangkitan Islam yang sejati akan menghapus dan mengendorkan semangat dan keinginan untuk bangkit mendirikan kekhilafahan yang berdasarkan kepada Al Quran dan As Sunnah.  Di dada para pemuda Islam, hal ini telah dimanfaatkan oleh para penjajah (kolonialis) dan mereka sangat bergembira dan memperhatikan kemunculan pemikiran dan ajaran-ajaran kebid’ahan melalui orang-orang yang dinamakan Orientalis yang memiliki kedudukan, seperti penasehat bagi kementrian luar negeri mereka dan mereka tidak pernah lupa dengan sejarah mereka terhadap kaum muslimin.

Bagaimanapun juga, munculnya Syiah dengan ajaran-ajaran anehnya tanpa diragukan lagi menghambat manusia untuk berjalan dijalan Allah dan menyesatkan kaum muslimin dari agamanya yang lurus.

3. Penyebab munculnya Golongan Zindiq

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan dasar kesesatan Ismailiyah dan Nusairiyah dan sekte-sekte lainnya dari orang-orang mulhid dan zindiq adalah pembenaran berita dan riwayat dusta Rafidhah Syiah yang mereka paparkan dalam menafsirkan Al Quran dan hadits, beliau berkata: “Para pemimpin Ubaidiyiin (bani Ubaid) hanya menegakkan dasar dakwahnya dengan kedustaan-kedustaan yang dibuat-buat oleh kaum Rafidhah, agar pengikut syiah yang sesat dapat menerimanya. Kemudian orang-orang tersebut berpindah dari mencela para sahabat kepada mencela Ali kemudian mencela Allah, oleh karena itu ajaran Syiah Rafidhah adalah pintu dan jalan yang menghantar kepada kekufuran dan penyimpanga.” [8]

Bahkan Syaikh Muhibuddib Al khothib mencatat bahwa tasayu’ (ajaran Syiah) menjadi satu faktor pendukung tersebarnya ajaran komunis dan bahaiyah di Iran[9].

4. Berusaha menyesatkan kaum muslimin dengan merusak sunnah Rasululloh shallalahu ‘alaihi wassalam.

Ini merupakan usaha yang mereka lakukan untuk menyesatkan kaum muslimin, sehingga mereka masuk ke kalangan ahlil hadits dan setelah itu memasukkan riwayat-riwayat palsu mereka sehingga banyak para ulama Islam yang terkecoh dengannya, akan tetapi Alhamdulillah Allah tidak membiarkan begitu saja bahkan membangkitkan para imam ahlil hadits untuk membongkar makar busuk mereka itu. Syaikh As Suwaidiy berkata : “Sebagian Ulama mereka bergelut dengan ilmu hadits , mendengar hadits-hadits dari para ahli tsiqat dari ahli sunnah serta menghapal sanad-sanad periwayatan ahli sunnah yang shahih, lalu menghiasi diri dengan ketakwaan dan wara’ sehingga mereka diakui termasuk kalangan ahli hadits kemudian mereka meriwayatkan hadits-hadits yang shahih dan hasan dan memasukkan hadits-hadits palsu mereka.[10]

Al Alusiy menyatakan bahwa diantara mereka itu adalah Jaabir Al Ju’fiy [11], bahkan Ibnul Qayim menjelaskan bahwa Syiah telah memalsukan hadits tentang Ali dan ahlil bait sebanyak lebih dari 3000 hadits.[12]

Bahaya Syiah terhadap Kaum Muslimin dalam Bidang Politik

Syiah seperti telah ditandaskan dalam kitab-kitab pokok mereka tidak meyakini keabsahan negera apapun juga di dunia Islam kecuali kekhilafahan Ali bin Abi Thalib dan anaknya Al Hasan dan menganggap khalifah di dunia Islam ini adalah Thaghut dan negaranya tidak sah sebagaimana dalam riwayat-riwayat mereka: “Setiap panji yang ditegakkan sebelum bangkit imam yang ditunggu-tunggu kebangkitannya, maka pelakunya adalah thoghut.

Oleh Karena itu jadilah syiah tempat yang mapan bagi musuh-musuh Islam dan orang-orang yang berkonspirasi menghancurkan Islam sampai sekarang, dan itu terbukti dengan pengakuan dari mereka seperti duta besar Rusia di Iran Kanyaz Dakurki yang mengambil nama samaran Syaikh Isa sebagaimana dijelaskan oleh majalah yang diterbitkan kementrian rusia tahun 1924-1925, demikian juga Jenderal berkebangsaan Inggris Juaifir Alikhaan dan lain-lainnya.

Syaikhul Islam menyatakan: “Kebanyakan penganut agama Syiah tidak beriman kepada Islam, akan tetapi menampakkan diri sebagai orang Syiah karena dangkal dan bodohnya akal Syiah untuk mengantarkan mereka kepada tujuan-tujuan kepentingan mereka. (Minhajus Sunnah 2/48)

Orang yang mengerti sejarah Islam akan berpendapat para pengaku Syiah ternyata adalah musuh yang paling berbahaya yang menyerang negara Islam, karena mereka itu secara lahiriyah adalah muslimin akan tetapi di bathinnya menyimpan kekufuran dan permusuhan yang besar sekali terhadap Islam, sehingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Sesungguhnya asal setiap fitnah dan bencana adalah Syiah, dan orang yang mengikuti mereka dan kebanyakan pedang yang menumpahkan darah kaum muslimin adalah dari mereka dan pada mereka bersembunyi para zindiq.”[13].

Dan karena mereka menganggap kaum muslimin lebih kufur dari yahudi dan nashrani, sehingga mereka bersama bahu membahu dalam menghancurkan umat Islam , Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Sungguh kami dan kaum muslimin telah melihat apabila kaum muslimin diserang musuh kafir maka Syiah bersama mereka menghadapi kaum muslimin.”[14]

Lihatlah kisah masuknya Hulaghu Khan (raja Tartar Mongol) ke negeri Syam tahun 658 H, dimana kaum Syiah menjadi penolong dan pembantu mereka yang paling besar dalam menghancurkan Negara Islam dan menegakkan Negara mereka. Dan ini telah diketahui dengan jelas dalam buku-buku sejarah khususnya di Iraq dimana menteri khalifah waktu itu yang bernama Ibnul Alqaamiy dan kaum Syiah menjadi pembantu Hulaghu Khan dalam menaklukkan Iraq dan menumpahkan darah kaum muslimin yang tidak terhitung jumlahnya. Ringkas kejadiannya Ibnul Alqaamiy adalah seorang menteri pada khalifah bani Abasiyah yang bernama Al Mu’tashim seorang Ahli Sunnah, akan tetapi dia lengah dan tidak memperhatikan bahaya Syiah sehingga mengangkat seorang Syiah sebagai menterinya, padahal menterinya ini telah merencanakan makar busuk dalam rangka menghancurkan negaranya dan kaum muslimin serta menegakkan Negara Syiah, ketika mendapat jabatan tinggi tersebut maka dia memanfaatkannya untuk merealisasikan makarnya menghancurkan Negara Islam dengan melakukan tiga marhalah:

Pertama: melemahkan tentara muslimin dengan menghapus gaji dan bantuan kepada para tentara dan mengurangi jumlahnya. Ibnu Katsir berkata: “Menteri Ibnul Alqaamiy berusaha keras untuk menyingkirkan para tentara dan menghapus namanya dari dewan kerajaan. Pada akhir masa pemerintahan Al Muntashir,[15] tentara kaum muslimin mendekati jumlah seratus ribu tentar, dan dia terus berusaha menguranginya sehingga tidak tinggal kecuali sepuluh ribu orang tentara saja.[16]

Kedua : menghubungi Tartar, Ibnu Katsir memaparkan bahwa dia menghubungi Tartar dan memotivasi mereka untuk merebut wilayah Islam serta mempermudah mereka untuk itu lalu dia menceritakan keadaan yang sesungguhnya dan menceritakan kelemahan-kelemahan para tokoh pemimpin Islam.[17]

Ketiga: melarang orang memerangi Tartar dan menipu khalifah dan masyarakat Islam, Ibnul Alqoomiy melarang orang untuk memerangi Tartar dan menipu khalifah dan para penasehatnya, dengan mengatakan bahwa Tartar tidak ingin perang akan tetapi ingin membuat perjanjian damai dengan mereka dan meminta khalifah untuk menyambut mereka untuk kemudian berdamai dengan memberi separuh hasil pemasukan negeri Iraq untuk tartar dan separuhnya untuk khalifah.  Lalu khalifah berangkat bersama tujuh ratus orang dari para hakim, ahli fiqih, amir-amir dan pembantu-pembantunya… lalu dengan tipu daya ini terbunuhlah khalifah dan orang yang bersamanya dari para panglima tentara dan prajurit pilihannya tanpa susah payah dari Tartar. Sedang orang-orang Syiah lainnya menasehati Hulaghu Khan untuk tidak menerima perdamaian kholifah dengan mengatakanbahwa kalau terjadi perdamaianpun tidak akan bertahan kecuali setahun atau dua tahu saja kemudian kembali seperti sebelumnya dan memotivasi Hulaghu khan untuk membunuh Kholifah, dan dikisahkan yang menyuruh membunuh khalifah adalah Ibnul Alqaamiy dan Nushair Ath Thusiy.[18]

Kemudian mereka masuk ke negeri Iraq dan membunuh semua orang yang dapat dibunuh dari kalangan laki-laki, perempuan, anak-anak, orang jompo, dan tidak ada yang lolos kecuali ahli dzimmah dari kalangan Nashrani dan Yahudi serta orang-orang yang berlindung kepada mereka dan ke rumah Ibnul Alqaamiy .[19]

Dalam peristiwa tragis tersebut, terbunuh lebih dari belasan juta orang dan belum ada dalam sejarah Islam bencana seperti bencana yang ditimbulkan orang tartar mongol, mereka membunuhi orang-orang bani Haasyim, menawan para wanita Abasyiyah dan selain Abasyiyah. Lalu apakah ada orang yang berloyalitas kepada ahli bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam lalu memudahkan kaum Kafir untuk membunuh dan menawan mereka dan kaum muslimin?[20]

Lihatlah dan renungkanlah kejadian besar ini dan ambillah pelajaran wahai Ahli Sunnah dalam melakukan pendekatan terhadap mereka!!!![21]

Bahaya Syiah dalam Bidang Sosial

Orang Syiah yang hidup bersama kaum muslimin selalu menyembunyikan hakikatnya dan selalu menggunakan tipu daya, khianat dan berbuat jahat cukuplah pernyataan Syaikh Islam ibnu Taimiyah tentang mereka menjadi saksi akan hal tersebut sejak dahulu kala dan dapat dirasakan di zaman kita ini, berkata Syaikhul Islam: “Adapun Rafidhah (Syiah), mereka tidak berinteraksi sosial dengan orang lain kecuali menggunakan kenifakan karena agama yang ada dihatinya adalah agama yang rusak yang membawanya untuk berdusta, khianat, menipu, dan berbuat jahat terhadap orang sehingga dia melakukan kejahatan apa saja.[22]

Ini persaksian seorang tokoh Sunni, mungkin ada yang mengatakan: “Itukan hanya tuduhan belaka tanpa bukti. Akan tetapi, jika kita melihat kembali kekitab-kitab rujukan mereka didapatkan pemaparan beliau ini sesuai. Lihatlah dalam kitab Rijal Al Kisysyiy ada kisah seorang Syiah kepada imamnya bagaiman dia membunuh sejumlah orang yang menyelisihinya, ia berkata: “Diantara mereka ada yang saya naik ke atap rumahnya dengan tangga dan saya bunuh, ada yang saya ajak keluar di malam hari, ketika dia keluar pintu langsung saya bunuh, ada yang saya temani dalam perjalannya,lalu ketika bersendirian saya bunuh.[23]

Syaikh Syiah yang bernama Ni’matullah Al Jazaairiy bercerita tentang menteri Ar Rasyid yang bernama Ali bin Yaqthiin, dia di penjara bersama sejumlah orang yang menyelisihinya (dalam madzhab), lalu dia memerintahkan para budaknya untuk merobohkan atap penjara tempat mereka lalu mereka mati seluruhnya, dan jumlah mereka waktu itu lima ratus orang, kemudian dia ingin mengelak dari tuntutan darah mereka lalu dia mengutus orang ke Imam Maulana Al kaadzim dan sang imam membalas dengan menulis jawabannya: “Seandainya engkau telah memberitahukan saya sebelum membunuh mereka, maka kamu lolos dari tuntutan darah tersebut dan ketika kamu tidak memberitahukan saya terlebih dahulu, maka bayarlah sebagain tebusannya satu kambing untuk setiap orang dan seekor kambing itu lebih baik daripada mereka.”[24]

Lihatlah bagaimana mereka tinggal ditengah-tengah kaum muslimin, bagaimana imam mereka menyetujui pembunuhan lima ratus orang, hanya sekedar mereka bukanlah orang syiah dan hanya memerintahkan membayar satu kambing per orang lantaran tidak izin dahulu kepada imam mereka dan jika sudah izin kepada imam mereka atau wakilnya yaitu para faaqiih maka bisa berbuat semaunya.

Kemudian tokoh Syiah ini berkomentar tentang kisah tersebut: “Lihatlah tebusan yang rendah ini yang tidak sampai menyamai tebusan (diyat) adik mereka yaitu anjing buruan karena diyatnya (tebusan) dua puluh dirham dan tidak pula diyat (tebusan) kakak mereka yaitu orang Yahudi atau Majusi karena diyatnya (tebusannya) delapan ratus dirham.”[25]

Sejarah membuktikan bahwa mereka banyak menyulut fitnah dikalangan kaum muslimin, karena mereka berani mencela dan melecehkan para sahabat dalam setiap pertemuan tahunan mereka, dan kalau kita melihat sejarah terjadinya pertumpahan darah antara Syiah dengan Ahlis Sunnah yang pertama di Baghdad adalah tahun 238 H, kemudian berlanjut fitnah-fitnah yang telah benyak memakan korban dari kalangan kaum muslimin.

Diantara bahaya Syiah terhadap tatanan social masyarakat Islam adalah pembolehan nikah Mut’ah yaitu kesepakatan rahasia untuk melakukan hubungan suami istri kepada wanita yang telah sepakat dengannya walaupun dari kalangan Pekerja Seks Komersil (PSK) atau wanita yang masih bersuami, lihat pendapatnya Ath Thusiy, ia berkata: “Tidak mengapa bermut’ah dengan wanita fajiroh,26] dan khumainiy juga berfatwa bolehnya bermut’ah dengan pezinah.”[27] Oleh karena itu, mereka mungkin bersepakat untuk sehari, dua hari atau sekali dan dua kali.

Al Aluusy berkata: “Barangsiapa yang melihat keadaan orang-orang Syiah sekarang dalam masalah Mut’ah tidak butuh dalam menghukum mereka berzina kepada bukti-bukti karena seorang wanita berzina dengan dua puluh laki-laki dalam satu hari satu malam dan mengatakan bahwa dia berbuat mut’ah. Dan buat mereka tersedia lokalisasi-lokalisasi untuk Mut’ah yang berpajangan, disana para wanita dan mereka memiliki mucikari-mucikari yang menghubungkan laki-laki dengan para wanita atau para wanita dengan para laki-laki sehingga mereka memilih yang mereka senangi dan memberikan upahnya dan menarik para wanita tersebut kepada laknat Allah.”[28]

Bukankah ini semua merupakan bahaya yang sangat besar, ambillah pelajaran wahai Ulil Abshar!

Bahaya Syiah dalam Bidang Ekonomi

Demikian pula Syiah memiliki pengaruh jelek dalam bidang ekonomi bagi kaum muslimin, hal ini cukup jelas kalau di pandang dari bahaya mereka dalam bidang-bidnag yang lain, sebab kerusakan politik, ideologi, dan pemikiran serta tatanan sosial amat berpengaruh dalam bidang ekonomi, lihatlah fitnah-fitnah yang mereka timbulkan banyak menghabiskan harta benda, nyawa, dan waktu sehingga memberikan kesempatan yang luas bagi musuh-musuh Islam menghancurkan ekonomi dan budaya kaum muslimin. Apalagi dipandang dari sudut aqidah, mereka yang menganggap harta dan jiwa kaum muslimin yang bertentangan dengan mereka adalah harta yang boleh dirampas dan diambil dengan dakwaan yang dusta, bahwa hal itu adalah hak ahlil bait padahal harta-harta tersebut dipergunakan untuk merealisasikan keinginan-keinginan khusus mereka dan untuk menjalankan makar dan tipu daya mereka dalam menghadapi umat Islam .

Dr Ali Assaalus berkata: “Dari kenyataan madzhab Ja’fariyah pada saat-saat ini kita dapatkan orang yang ingin berhaji harus menghitung jumlah hartanya semua, kemudian membayar seperlima harga hartanya untuk diserahkan kepada para ahli fiqih, yang berfatwa kewajiban khumus dan yang tidak membayarnya tidak dibolehkan haji dengan demikian para ahli fiqih Syiah tersebut telah menghalalakan pengambilan harta dengan kebatilan.”[29]

Berkata Syaikhul Islam : “Adapun pendapat Rafidhah bahwa Khumus hasil pendapatan kaum muslimin diambil dari mereka dan dibayarkan kepada orang yang mereka anggap sebagai pengganti imam yang maksum atau kepada yang lainnya, adalah pendapat yang tidak pernah dikatakan oleh seorang sahabatpun, tidak juga Ali, dan yang lainnya serta tidak dikatakan oleh seorang tabiin dan dari kerabat bani Hasyim atau yang lainnya.

Semua penukilan dari Ali atau Ulama ahlil bait seperti Al Hasan, Al Husein, Ali bin Al Husein, Abu Ja’far Al baaqir, Ja’far bin Muhamad adalah kedustaan karena itu menyelisihi riwayata yang mutawatir dari sejarah Ali bin Abi Thalib, karena beliau memerintah kaum muslimin selama empat tahun dan belum pernah mengambil dari kaum muslimin sedikitpun hartanya, bahkan tidak ada dimasa pemerintahannya pembagian khumus sama sekali. Adapun kaum muslimin tidak diambil khumus hartanya oleh beliau atau orang lain, dan kaum kufarlah yang kapan dirampas dari harta mereka diambil seperlimanya dengan dasar Al Kitab dan As Sunnah, akan tetapi di zaman beliau kaum muslimin tidak melakukan peperangan dengan kaum kufar, disebabkan adanya perselisihan diantara mereka dari fitnah dan perpecahan. Demikian juga telah diketahui secara pasti, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam tidak pernah mengambil khumus harta kaum muslimin dan tidak juga meminta dari seorang muslim pun khumus hartanya.[30]

Demikianlah, mereka mengambil khumus dalam rangka untuk memenuhi kepentingan dan keinginan ulama-ulama mereka dan inilah selintas tentang bahaya Syiah yang telah menjadi satu kenyataan, dan bukan untuk menjelaskan keseluruhannya dan cukuplah kitab-kitab para ulama Islam telah menjelaskan semuanya dan kita hanya dituntut unruk membaca kembali dan berhati-hati dari mereka dan gerakannya.

Semoga Allah menjaga kita dari mereka,  dan menunjuki kita ke jalan yang lurus.

Penulis : Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.

Artikel UstadzKholid.com


[1] Lihat Majmu’ Fatawa 13/182

[2] Ibid 13/177

[3] Ibid 13/179

[4] . Nama ini juga dikenal dalam istilah internasional dengan Jam’iyah Ahlil Bait, yang menunjukkan bahwa gerakan ini bersifat internasional dan bukan hanya nasional saja dan sebenarnya mereka tidak pantas dijadikan sebagai jamaah ahlil bait karena mereka telah mencela para Istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam yang merupakan ahli baitnya beliau, maka berhati-hatilah!!!.

[5] Lihat lebih detail lagi dalam kitab Ushul Madzhab Syiah Al Itsna Asyarah hal 1071-1072

[6] Mukhtashor At-Tuhfah Al Itsna Asyarah hal.300

[7] Ibid

[8] Minhajus Sunnah 4/3

[9] Lihat dalam Al-Khuthuth Al-Aridhoh hal. 44- 45

[10] Dinukil oleh penulis Ushul Madzshab Syiah Itsna Asyara dari Naqdhi Aqaaidi Syiah, lihat Ushul Madzhab hal 1194.

[11] Suyuf Al-Musyriqah hal.50

[12] Lihat kitab Manaarul Muniif. Hal.116

[13] Minhajus Sunnah 3/243

[14] Ibid 4/110.

[15] Kholifah sebelum Al Mu’tashim

[16] Al-Bidayah Wan Nihaayah 13/202.

[17] Ibid

[18] Lihat kisah lengkapnya di Al Bidayah Wan Nihayah 13/201.

[19] Al-Bidayah Wan Nihayah 13/201-202.

[20] Lihat Minhajus Sunnah 3/38.

[21] Dan masih banyak kisah-kisah lainnya seperti kisah Daulah Shofawiyah dll, yang sangat penjang sekali untuk diceritakan dalam kesempatan yang sempit ini.

[22] Minhajus Sunnah 3/260.

[23] Rijal Al Kisyi hal 342-343 (dinukil dari Ushul Madzhab Syiah hal 1232)

[24] Al Anwaar An-Nu’maniyah 2/308

[25] Ibid

[26] An-Niyaahah hal.490

[27] Tahriril Wasilah 2/292

[28] Dinukil dari Ushul Madzhab Syiah hal. 1235-1236

[29] Atsar Al-Imamah fil Fiqih Ja‘fari hal.391

[30] Minhajus Sunnah 3/154

http://ustadzkholid.com/manhaj/bahaya-syiah-sebuah-realita/

Mengungkap Hakikat Kesesatan Aqidah Syi’ah dan Pergerakannya di Indonesia

Mengungkap Hakikat Aqidah Syi’ah dan Pergerakannya di Indonesia

Aqidah Syi’ah sangat berbeda jauh dengan aqidah yang dianut oleh Ahlus Sunnah. Aqidah Syi’ah dibangun atas ajaran yang mendustakan riwayat yang berasal dari mayoritas sahabat Rasulullah Saw, sementara Ahlus Sunnah menerima semua riwayat yang dapat dipercaya dari semua kalangan sahabat tanpa membeda-bedakannya. Demikian inti pembicaraan yang disampaikan oleh Ust. Anung Al-Hamat, Lc selaku pembicara pertama, dalam acara tabligh akbar yang berjudul “Mengungkap Hakikat Aqidah Syi’ah dan Pergerakannya di Indonesia” di masjid Nurul Islam, Kel. Tugu Selatan, Koja, Jakarta Utara, pada Ahad (10/01).

Acara ini diselenggarakan oleh Majelis Ta’lim ‘Alaa Bashiiroh bekerja sama dengan Yayasan Masjid Nurul Islam dan Radio Dakta 107 FM Bekasi. Pembicara dalam acara ini adalah Ust. Anung Al-Hamat, Lc dan Ust. Hartono Ahmad Jaiz. Hadir dalam acara ini Walikota Jakarta Utara atau yang mewakilinya beserta jajaran aparat Kecamatan Koja dan Kelurahan Tugu Selatan, tokoh agama dan masyarakat setempat, jamaah majelis ta’lim, dan jamaah kaum muslimin. Sebelum dimulai, acara diawali dengan pemutaran film dokumenter yang mengupas hakikat Syi’ah. Film yang berdurasi sekitar 35 menit ini dengan jelas memperlihatkan perbedaan-perbedaan antara Syi’ah dan Ahlus Sunnah.

Ust. Anung menjelaskan, sebagai bukti bahwa antara Syi’ah dengan Ahlus Sunnah itu berbeda, maka dapat dilihat dari beberapa hal, baik perbedaan yang bersifat pokok (ushul), maupun perbedaan yang bersifat rinci (furu’). Hal ini bisa dilihat dari kitab-kitab induk yang dimiliki oleh kaum Syi’ah, seperti kitab Al-Istibshar, Ushul Al-Kafi, Furu’ Al-Kafi, dll. Perbedaan yang bersifat pokok itu misalnya berkaitan dengan rukun iman dan rukun Islam. Rukun iman Syi’ah berbeda dengan rukun iman Ahlus Sunnah, rukun Islam Syi’ah berbeda dengan rukun Islam Ahlus Sunnah.

Rukun iman Syi’ah adalah: (1) At-Tauhid (Tauhid), (2) Al-Adl (Keadilan), (3) An-Nubuwwah (Kenabian), (4) Al-Imamah (Kepemimpinan), dan (5) Al-Maad (Hari Kiamat). Adapun rukun iman Ahlus Sunnah adalah: (1) iman kepada Allah, (2) iman kepada malaikat-malaikat Allah, (3) iman kepada kitab-kitab Allah, (4) iman kepada rasul-rasul Allah, (5) iman kepada hari akhir, (6) iman kepada qada dan qadar. Rukun Islam Syi’ah adalah: (1) Al-Wilayah (loyalitas kepada 12 imam), (2) Shalat, (3) Puasa, (4) Zakat, (5) Haji. Adapun rukun Islam Ahlus Sunnah adalah (1) sahadat, (2) shalat, (3) zakat, (4) puasa, (5) haji.

Kaitannya dengan para sahabat, kaum Syi’ah sangat berbeda sikapnya dengan Ahlus Sunnah. Kaum Syi’ah berani mengafirkan mayoritas sahabat Nabi Muhammad saw. Padahal, menurut Ahlus Sunnah para sahabat adalah orang-orang yang terbaik, atau umat yang terbaik sebagaimana yang difirmankan oleh Allah SWT di dalam surah Ali Imran ayat 110. Kaum Syi’ah sangat memuja-muja Imam Ali r.a. melebihi penghormatannya terhadap Nabi Muhammad saw. Di sisi lain kaum Syi’ah sangat membenci sahabat Abu Bakar r.a., Umar r.a., Utsman r.a., Mu’awiyah r.a., Aisyah r.a., Hafshah r.a., dan yang lainnya.

Begitu juga terhadap keberadaan kitab suci Al-Qur’an, Syi’ah meyakini bahwa Al-Qur’an sekarang ini bukan Al-Qur’an yang sebenarnya. Syi’ah memiliki Al-Qur’an sendiri, yaitu mushaf Fatimah, yaitu mushaf seperti Al-Qur’an tetapi tiga kali lipat. Menurut Syi’ah, Al-Qur’an yang diyakininya itu tidak ada satu huruf pun yang sama dari Al-Qur’an yang ada saat ini. Sementara, Ahlus Sunnah meyakini bahwa Al-Qur’an yang ada saat ini adalah benar-benar firman Allah yang diterima oleh Muhammad saw. yang keseluruhan isinya sudah lengkap dan sempurna. Faktanya adalah wahyu Allah itu diturunkan kepada para nabi, sementara Nabi Muhammad itu adalah penutup para nabi. Dengan demikian, kelengkapan dan kesempurnaan apa yang telah diterima oleh Nabi Muhammad saw. dari Allah SWT yang berupa Al-Qur’an itu adalah sebuah keniscayaan.

Selain perbedaan yang bersifat pokok, perbedaan yang bersifat rinci pun tidak terhitung banyaknya (banyak sekali). Ust. Anung mengambil beberapa contoh, di antaranya perbedaan dalam cara mengucapkan syahadatain.  Cara adzan yang dikumandangkan oleh kaum Syi’ah juga berbeda dengan adzan yang dikumandangkan oleh Ahlus Sunnah. Adzan kaum Syi’ah itu sebagai berikut:

ALLAAHUAKBAR ALLAAHUAKBAR

ALLAAHUAKBAR ALLAAHUAKBAR

ASYHADU ALLAILAHAILLALLAAH

ASYHADU ALLAILAHAILLALLAAH

ASYHADUANNA MUHAMMADARRASULULLAH

ASYHADUANNA MUHAMMADARRASULULLAH

ASYHADUANNA ‘ALIYAN WALIYULLAAH

ASYHADUANNA ‘ALIYAN HUJATULLAAH

HAYYA ‘ALASHALAA

HAYYA ‘ALASHALAA

HAYYA ‘ALALFALAA

HAYYA ‘ALALFALAA

HAYYA ‘ALA KHAIRIL AMAL

HAYYA ‘ALA KHAIRIL AMAL

ALLAAHUAKBAR ALLAAHUAKBAR

LAA ILAAHA ILLALLAAH

LAA ILAAHA ILLALLAAH

Adapun adzan bagi Ahlus Sunnah bunyinya sebagaimana yang umum dikumandangkan di masjid-masjid yang ada di Indonesia.

Dalam tata cara shalat juga banyak perbedaan, misalnya setelah bacaan Al-Fatihah, kaum Syi’ah tidak mengucapkan “aamiin”, sedangkan Ahlus Sunnah mengucapkannya. Kaum Syi’ah meyakini jika mengucapkan “aamiin”, maka shalatnya batal. Kaum Syi’ah tidak melaksanakan shalat Jum’at, sementara kaum Ahlus Sunnah melaksanakannya. Dalam hal berumah tangga, kaum Syi’ah menghalalkan nikah mut’ah (nikah kontrak jangka waktu tertentu), sementara Ahlus Sunnah mengharamkannya. Menurut paham Syi’ah, seseorang yang telah mut’ah sebanyak empat kali derajatnya sama dengan Nabi Muhammad saw. Dengan logika semacam ini, Ust. Anung menanyakan, bagaimana dengan orang yang telah mut’ah lebih dari empat kali? Mungkinkah derajatnya lebih tinggi dari Nabi Muhammad saw?

Lebih janggal lagi adalah keyakinan Syi’ah berkaitan dengan masalah penciptaan. Di dalam literatur Syi’ah disebutkan pada bab Tinah, yaitu asal penciptaan manusia, bahwa orang Syi’ah diciptakan dari tanah yang suci, dan ujungnya kemudian disebutkan akan masuk surga. Adapun selain Syi’ah, maka ia diciptakan dari tanah yang berasal dari neraka. Dosa sebesar apa pun yang dilakukan oleh orang Syi’ah nanti akan dipindahkan ke orang selain Syi’ah, dan kebaikan yang dilakukan oleh orang selain Syi’ah akan dipindahkan ke orang Syi’ah.

Kejanggalan keyakinan Syi’ah itu bahkan sampai pada masalah kain kafan. Orang Syi’ah sekrang ini sudah membuat kain kafan yang disebut “kafan Husain”. Pada kafan Husain itu dituliskan Imam Husain bin Ali. Di Jakarta kain kafan Husain ini dijual di kalangan Syi’ah dengan harga sekitar Rp250.000,00. Orang Syi’ah meyakini bahwa kalau meninggal dunia kemudian dikafani dengan kain kafan Husain, maka ketika dikubur tidak akan ditanyai oleh malaikat. Malaikat yang datang itu akan balik lagi karena melihat kain kafan Husain, dan orang yang ada di dalam kain kafan itu langsung masuk surga.

Satu hal yang perlu diwaspadai bagi kaum muslimin, menurut Ust. Anung, adalah adanya ajaran “taqiyah”. Yaitu, ajaran yang membolehkan penganut Syi’ah untuk berdusta dalam rangka menyelamatkan agamanya atau mengelabuhi musuh sehingga tidak ketahuan. Dengan ajaran ini, seorang da’i yang berpaham Syi’ah kelihatannya seperti da’i Ahlus Sunnah. Sehingga, banyak orang awam yang terkecoh dan lama-kelamaan digiring untuk mengikuti ajaran Syi’ah. Dengan cara seperti ini, jika kaum muslimin tidak waspada dan tidak mengerti, maka paham Syi’ah akan semakin banyak diikuti.

Kalau sekiranya kaum Syi’ah menjadi mayoritas dan mampu menguasai sebuah negara, apa bahayanya bagi Ahlus Sunnah? Menurut Ust. Anung, jika kaum Syi’ah sudah menguasai negara, maka yang pasti adalah kaum Ahlu Sunnah akan dibantai. Menurutnya, tidak ada tempat bagi Ahlus Sunnah jika kaum Syi’ah sudah berkuasa. Hal ini terjadi seperti di negara Iran yang dikuasai oleh Syi’ah. Di Ibu Kota Iran, Teheran, tidak satu pun masjid kaum Ahlus Sunnah boleh berdiri. Semua masjid yang dimiliki kaum Ahlus Sunnah harus dirobohkan. Para ulama Ahlus Sunnah dan pendukungnya juga tidak luput dari incaran kaum Syi’ah. Di Iran, tokoh-tokoh Ahlus Sunnah ditangkap, disiksa, dan dibunuh secara sadis.

Di Indonesia sebagian kalangan Syi’ah sudah tidak lagi menggunakan taqiyah, tetapi sudah berani menampakkan jatidirinya secara terang-terangan. Ini menunjukkan bahwa penganut Syi’ah di Indonesia sudah berani menunjukkan kekuatannya.

Sementara itu, pembicara kedua yaitu Ust. Hartono, di samping melengkapi adanya penyimpangan-penyimpangan paham Syi’ah, juga menyoroti tantangan-tantangan yang dihadapi para aktivis Islam dalam menghadapi kaum Syi’ah.

Ust. Hartono melengkapi penjelasan Ust. Anung dengan mengutip dari buku karyanya yang berjudul Aliran dan Paham Sesat di Indonesia.Menurutnya, ada beberapa penyimpangan dan kesesatan Syi’ah, di antaranya:

1. Syi’ah memandang imam itu ma’sum (terbebas dari kesalahan atau dosa).

2. Syi’ah memandang bahwa menegakkan imamah atau kepemimpinan adalah rukun agama (masuk dalam rukun Islam).

3. Syi’ah menolak hadits yang tidak diriwayatkan oleh ahlul bait.

4. Syi’ah pada umumnya tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar r.a., Umar r.a., dan Utsman r.a.

5. Syi’ah menghalalkan nikah mut’ah (nikah kontrak) yang sudah diharamkan oleh Nabi Muhammad saw.

6. Syi’ah menggunakan senjata taqiyah, yaitu berbohong dengan cara menampakkan sesuatu yang berbeda dengan yang sebenarnya untuk mengelabuhi.

7. Syi’ah percaya kepada ar-raj’ah, yaitu kembalinya roh-roh ke jasadnya masing-masing di dunia ini sebelum kiamat.

8. Syi’ah meyakini imam ke-12 yang sekarang keberadaannya ghaib (tidak diketahui). Imam yang ghaib itu ketika keluar dari persembunyiannya akan menghidupkan Ali dan anak-anaknya untuk membalas dendam kepada lawan-lawannya.

Berbicara tentang masalah Syi’ah, menurut Ust. Hartono, sebetulnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga telah mengeluarkan fatwa, yaitu pada tahun 1984, yang isinya menjelaskan tentang perbedaan Syi’ah dengan Ahlus Sunnah. Dalam fatwa tersebut secara gamblang disebutkan: “Paham Syi’ah sebagai salah satu paham yang terdapat dalam dunia Islam mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan mazhab Sunni, yaitu Ahlus Sunnah wal-Jama’ah yang dianut oleh mayoritas umat Islam Indonesia.“ Selain itu, Departemen Agama Republik Indonesia (Depag) pada tanggal 5 Desember 1985 juga telah menjelaskan tentang Syi’ah yang isinya menegaskan bahwa Syi’ah itu paham yang sesat dan menyesatkan.

Ust. Hartono menceritakan pengalamannya ditantang ber-mubahalah(berdo’a saling melaknat bagi yang berbohong) oleh seorang Syi’ah melalui telepon. Orang itu mengaku bernama Abdullah dari Ciputat.

Dia mengatakan, “Abu Bakar itu munafik.”

Ust. Hartono menjawab, “Munafik bahasa Indonesia yang artinya misalnya tadi pura-pura nggak mau makan, kemudian ternyata makan, atau munafik secara istilah agama?”

Dia jawab: “Secara istilah agama.”

Ust. Hartono menyahut, “Tidak!”

Kemudian, terjadilah saling berbantahan, dan dia menantang Ust. Hartono untuk ber-mubahalah.

Ust. Hartono: “Mubahalah perlu bertemu.”

Dia jawab: “Lewat telepon saja!”

Ust. Hartono: “Kalau lewat telepon, kamu menyatakan Abu Bakar munafik dalam arti istilah agama, dalam arti kafir?”

Dia jawab: “Ya!”

Ust. Hartono: “Bukan sekadar bahasa Indonesia yang begini!”

Dia jawab: “Bukan!” Kemudian dia katakan: “Kalau begitu Anda dulu untuk menyatakan mubahalah.”

Ust. Hartono: “Lho, yang mengajak siapa? Anda yang mengajak, ya Anda dulu yang harus ber-mubahalah?” Akhirnya dia mau, terus bersahadat, dan ternyata sahadatnya ditambah dengan waasyhadu ana Ali waliyullah.

Ust. Hartono menyahut: “Tidak usah, sahadat kan sahadatain, dua kalimat sahadat, asyhadu ala ilahalillalloh waasyh hadu ana muhamadurosulullah, cukup!”

Dia jawab: “Nggak, keyakinan saya ini, ya saya harus begini.” kemudian dia menyatakan bahwasannya Abu Bakar itu benar-benar munafik.

Ust. Hartono kemudian bersahadat, kemudian menyatakan bahwasanya benar-benar Abu Bakar Sidik itu tidak munafik. “Siapa yang berbohong dalam mubahalah ini, maka agar Allah laknat.Alhamdulillah, saya sudah tiga-empat tahun ini alhamdulillah tidak apa-apa, tetapi saya tidak tahu dia, apakah sudah mati atau bagaimana?”

Kata Ust. Hartono, hal ini membuktikan bahwa aqidah Syi’ah yang mengafirkan sahabat itu sudah sampai di Indonesia, bahkan sudah berani menantang ber-mubahalah.

Sikap yang sama juga ditunjukkan oleh pemimpin di negeri kaum Syi’ah, Iran, yaitu Ahmadinejad. Dalam pidatonya yang disiarkan di televisi dua hari menjelang pemilu beberapa waktu lalu, Ahmadinejad mengumpat kepada dua sahabat Rasulullah saw., yaitu Talhah r.a. dan Zubair r.a. Ia menganggap bahwa kedua sahabat itu telah kafir dan kembali kepada kepercayaan jahiliah. Atas pernyataannya itu, maka kecaman datang dari berbagai belahan dunia. Padahal, kedua sahabat ini—Zubair dan Tolhah—termasuk kelompok sahabat yang sudah dijamin oleh Rasulullah saw. yang akan masuk surga.

Ahmadinejad memang politisi yang piawai di depan umum. Penampilannya yang tidak berdasi memperlihatkan kesederhanaan hidupnya. Dalam orasi-orasi politiknya sering memperlihatkan betapa beraninya dia terhadap negara adidaya Amerika Serikat (AS). Retorikanya menentang standar ganda kebijakan AS membuat masyarakat dunia—yang tidak mengetahui keadaan sebenarnya—terkagum-kagum. Tak heran jika media massa selalu membanggakan sosok yang satu ini. Padahal, dia berpaham Syi’ah yang telah terbukti menjelek-jelekkan sahabat Nabi saw.

Selanjutnya, Ust. Hartono memperlihatkan kepada hadirin satu buku terjemahan yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI). Buku itu berisi daftar para ulama Ahlus Sunnah di Iran yang disembelih dan masjid-masjid yang dirobohkan oleh orang-orang Syi’ah. Buku itu memperlihatkan betapa kejamnya orang-orang Syi’ah kepada Ahlus Sunnah.

Sejarah masa lalu juga telah menunjukkan bukti kekejaman kaum Syi’ah terhadap Ahlus Sunnah. Pada masa pemerintahan Abasiah, Al-Mu’tasim Billah, di Baghdad pada tahun 656 H, dua orang pejabat menteri yang berpaham Syi’ah—Ibnul ‘Alqami dan Nashirudin Ath-Thusi—membantu panglima Tar-Tar (pasukan mongol) untuk masuk dan menyerang kota Baghdad, sehingga tidak kurang dari 20.000 tentara Tar-Tar berhasil membantai ratusan ribu kaum muslimin bahkan tanpa tersisa, kecuali orang-orang Yahudi dan Nasrani. Selain itu, mereka juga membakar perpustakaan-perpustakaan yang ada hingga Sungai Dajlah, Sungai Tigris, dan Sungai Eufrat selama berhari-hari airnya menghitam. Akhirnya, kekhalifahan Al-Mu’tasim Billah hancur berkeping-keping.

Pengalaman sejarah yang kelam ini seharusnya menjadi pelajaran yang berharga bagi kaum muslimin Ahlus Sunnah. Tetapi, sayangnya pengalaman pahit itu seolah sudah dilupakan, setidaknya oleh beberapa tokoh terkemuka dari dua organisasi terbesar di Indonesia (NU dan Muhammadiyah) belakangan ini. Sikap tokoh-tokoh terkemuka tersebut sangat menguntungkan bagi pergerakan Syi’ah. Sehingga, bukannya berperan di baris depan untuk menghadang gerakan Syi’ah, malahan menjadi tameng bagi kaum Syi’ah untuk menghadapi penolakan dari kaum Ahlus Sunnah.

Pada tahun 1997 di masjid Istiqlal Jakarta diadakan seminar tentang Syi’ah. Seminar yang dibuka oleh KH Hasan Basri, ketua MUI saat itu, mendapatkan komentar miring dari Wakil Khatib Syuriah PBNU KH Said Agil Siraj. Ia pasang badan menghadapi serangan terhadap Syi’ah. Ia mengatakan saat menjadi pembicara dalam acara do’a kumel (do’a-nya orang Syi’ah), “Tak perlu ulama Syi’ah turun tangan, cukup saya dan Gus Dur dari NU, Cak Nur (Nurkholis Majid), MH Ainun Najib, Pak Amin Rais dari Muhamadiyah yang melakukan pembelaan.” Gus Dur juga melontarkan tanggapan yang keras. Ia menyebut seminar tadi kurang kerjaan. Gus Dur siap menggelar demonstrasi jika Syi’ah dilarang. Ketua PP Muhammadiyah Dinsyamsudin juga menolak usulan ormas-ormas Islam agar pemerintah melarang keberadaan paham Syi’ah di Indonesia. Hal yang sama dilakukan oleh Ketua PBNU KH Hasyim Muzadi. Ia menyalahkan orang-orang NU di daerah, seperti di Pasuruan dan Bangil, yang memprotes keras keberadaan Syi’ah.

Sikap-sikap yang telah ditunjukkan oleh beberapa tokoh tersebut sangat jauh berbeda dengan yang telah ditunjukkan oleh para pendahulu mereka. Seharusnya para yunior itu meneladani sikap terpuji yang telah dilakukan oleh para seniornya. Dulu KH Irfan Zidni dari PBNU dan KH Dawam Anwar dari Wakil Khatib Syuriah NU sangat menentang Syi’ah. KH Dawam Anwar pernah menyatakan, ketika kita membaca sejarah, maka orang Syi’ah sampai dibakar oleh Ali bin Abi Thalib r.a. Mengapa sampai dibakar, karena orang Syi’ah mengatakan kepada Ali: “Anta-Anta”, artinya adalah “Engkau-Engkau”, maksudnya adalah bersifat Tuhan. Maka, mereka dihukum mati dengan cara dibakar.

Akibat dari sikap sebagian para tokoh terkemuka yang membela Syi’ah, maka Syi’ah dengan mudah dapat menerobos ke tempat-tempat yang strategis. Sekarang ini telah didirikan sebanyak 12 Iranian Counter di seluruh Indonesia. Irian Counter ini didirikan oleh Iran di perguruan-perguruan tinggi Islam. Sebagai contoh adalah Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Dan alhamdulillah, ternyata sudah dimusnakah oleh Allah waktu banjir Situ Gintung tahun 2009. Kejadian itu memusnahkan Iranian Counter di UMJ. Selain di perguruan tinggi Islam, Irian Counter juga telah didirikan di kantor pusat PBNU Kramat Raya di lantai lima. Menurut keterangan di situs resmi NU (www.nu.org), di dalam Iranian Counter tersebut terdapat tidak kurang dari 500 buah buku dari Iran.

Strategi Syi’ah di dalam menghancurkan kaum Ahlus Sunnah di Indonesia juga terlihat semakin bervariasi. Hal itu terlihat setelah ditangkapnya para pendatang dari Iran yang menyelundupkan narkoba. Modus baru kaum Syi’ah seperti ini perlu diwaspadai oleh kaum muslimin. Dengan demikian, serangan orang-orang Syi’ah sekarang ini mengandung dua hal yang sangat membahayakan, yaitu serangan yang membahayakan aqidah berupa penyebaran ajaran Syi’ah, dan serangan yang membahayakan jiwa dan raga berupa penyelundupan narkoba. Jika kaum muslimin Ahlus Sunnah tidak siap siaga menghadapi serangan kaum Syi’ah, maka tunggulah saat yang menentukan itu tiba: kaum Syi’ah yang akan membantai kaum muslimin Ahlus Sunnah atau Ahlus Sunnah yang akan memberantas kesesatan kaum Syi’ah?. [Aislm/Abu Annisa]

http://syiahindonesia.com/index.php/kajian/makalah-a-artikel/218-mengungkap-hakikat-aqidah-syiah-dan-pergerakannya-di-indonesia

-

FATWA MATI BAGI PENGHINA NABI (jangan menulis komentar yang menghina ajaran islam di blog ini)

FATWA MATI BAGI PENGHINA NABI (jangan menulis komentar yang menghina ajaran islam di blog ini)

Salah satu kaidah dalam penerapan Sunnah adalah menyampaikan Sunnah dan tidak memperdebatkannya. Karena memperdebatkan Sunnah hanya akan membawa pada pertikaian yang berbuntut pelecehan terhadap Sunnah Nabawiyah itu sendiri. Berkata Imam Malik rahimahullah: “Perdebatan hanyalah akan membawa pada pertikaian dan menghilangkan cahaya ilmu dari dalam hati, serta mengeraskan hati dan melahirkan kedengkian. (Syiar a’lamin Nubala’, 8/ 106). Demikian pula dikatakan oleh Imam Syafii dan lain-lain. (Syiar A’lamin Nubala’, 10/28)

Dalam pengamalan atau penyampaian sunnah kita hanya diperintahkan untuk menyampaikan dengan jelas dan bukan memperdebatkannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Dan ta’atlah kalian kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. Jika kalian berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (al-Maidah: 92)

================================
1. Hukuman bagi yang menghina Nabi Muhammad SAW adalah dibunuh,

2. Barangsiapa yang mencela Allah Subhanahu wa Ta’ala maka dia kafir, baik bercanda atau serius. Demikian pula orang yang menghina Allah, ayat-ayat-Nya, Rasul-Nya, dan kitab-kitab-Nya.

3. Para ulama secara pasti telah bersepakat bahwa ketika seorang muslim mencela dan merendahkan agamanya atau mencela Rasul dan merendahkannya, maka dia murtad, kafir, halal darah dan hartanya. Jika bertaubat maka diterima taubatnya. Jika tidak, maka dibunuh.” (Diambil dari Fatawa Nur ‘alad Darbi (melalui) CD)

4. Jika Nabi Ibrahim AS tidak bisa meng-islamkan ayahnya, dan nabi Muhammad SAW tidak bisa mengislamkan pamannya, maka wajar jika kita tidak bisa mengislamkan orang-orang kafir yang menjadi lawan debat/diskusi kita, maka tidak usah memaksakan diri dalam mendebat mereka, bahkan jika mereka keras kepala sebaiknya kita berhenti mendebat mereka, karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi hati yang ada di dalam dada merekalah yang buta

5. Tugas kita hanya menyampaikan ajaran islam, jika mereka mau menerima maka itu yang kita harapkan. Dan jika mereka menolak maka mereka sendiri yang menanggung akibatnya. Jika debat sudah menjurus kearah yang tidak sehat maka sebaiknya dihentikan.

6. Sesungguhnya orang-orang kafir yang keras kepala dan suka mendebat mungkin tidak banyak, tapi karena mereka aktif menggunakan internet maka seolah-olah mereka tampak banyak dan kuat, padahal orangnya hanya itu-itu saja.

7. Jangan heran dengan keras kepala dan sengitnya permusuhan orang-orang kafir, lihat surat al baqarah ayat 120

8. Dalam islam, kebebasan menyampaikan pendapat/pikiran itu ada batasannya, jadi bukan kebebasan mutlak. Dalam negara islam, tidak boleh menyebarkan pendapat yang bertentangan dengan ajaran islam, pelakunya akan dihukum.

9. Dalam negara islam, hukuman bagi orang yang murtad dari agama islam adalah dibunuh
keterangan lebih lanjut bisa dibaca di:
www.asysyariah.com
www.almanhaj.or.id
www.alsofwah.or.id
www.muslim.or.id

SEKILAS TENTANG PEMIKIRAN KHUMAINI

SEKILAS TENTANG PEMIKIRAN KHUMAINI
Oleh
DR Mani’ bin Hammad Al-Juhani

Khumaini, beberapa kalangan menyebutnya sebagai pencetus revolusi Iran yang mengusung kebangkitan Islam. Dia dipandang paling berjasa dalam menumbangkan rezim Iran Syah Pahlevi, yang dicap sebagai diktator. Dengan keberhasilannya ini, Khumaini seolah-olah menyerukan untuk meninggikan kalimat Islam. Padahal, jika merunut pemikirannya, dia tidak berbeda dengan penganut Syi’ah lainnya, yang memiliki penyimpangan aqidah ataupun akhlak pada dirinya. Selain itu , ia ternyata memiliki pemikiran-pemikiran hasil perasaan benaknya, yang setali tiga uang dengan pemikiran dan aqidah Syi’ah secara umum. Yakni melencengkan dan penuh dengan kedengkian terhadap kaum muslimin. Anehnya, masih ada saja yang menganggapnya sebagai sang pembaharu, dan kemudian mengidolakannya.

Di antara pemikiran yang digagas Khumaini, sebagiannya belum pernah muncul dari seorang kepala mubtadi dari kalangan Syi’ah ataupun firqah lainnya pada masa lampau. Berikut ini beberapa pernyataan Khumaini dalam berbagai masalah, yang sangat nyata penyimpangannya.

Khumaini mempunyai pemikiran tentang Wilayatul al-Faqih. Maksud dari gagasan ini adalah, orang faqih yang mempunyai keilmuan yang sudah memadai dan sifat ‘adalah (adil), ia berhak menggenggam wilayah amah (khilafah) dan kekuasaan yang mutlak untuk menangani urusan rakyat dan negara, lantaran ia dipandang sebagai washi (pemegang mandat) untuk mengambil alih urusan mereka, saat imam yang ditunggu kedatangannya masih belum tiba. Pemikiran Khumaini yang seperti ini, tidak pernah disebutkan oleh satu pun ulama pada masa lalu, baik dari kalangan ulama madzhab maupun ahli hadits.

Klaimnya sebagai orang yang memegang mandat kekuasaan, secara otomatis telah mampu mengangkat kedudukannya munuju martabat imam yang ma’shum. Sebagai konsekwensinya, pemegang mandat tadi merupakan orang yang berhak memonopoli kendali kekuasaan, menetapkan hukum syari’at dan fiqih, dan memahami hukum-hukum. Tidak ada seorangpun yang boleh menyalahkan atau menggagalkan usulannya, meskipun itu sebuah majlis syura.

Dia juga melontarkan pernyataan, bahwa para nabi dan rasul belum sempat menyempurnakan syari’at dari langit (syari’at Allah). Menurut Khumaini, para nabi dan rasul juga belum berhasil menancapkan tonggak-tonggak keadilan di dunia ini. Adapun tokoh yang nantinya berhasil membumikan keadilan secara sempurna, menurut Khumaini adalah Imam Mahdi (versi Syi’ah) yang akan datang.

Klaim ini dilontarkan Khumaini saat merayakan hari kelahiran Al-Mahdi menurut versi Syi’ah pada 15 Sya’ban 1400H

Pemikiran lainnya yang juga aneh, Khumaini pernah memaparkan tentang martabat para imam. Dia mengatakan ; “Sesungguhnya seorang imam mempunyai kedudukan yang terpuji dan derajat yang tinggi, serta memiliki kewenangan mengatur alam semesta. Seluruh partikel yang ada di alam semesta tunduk pada kekuasaan dan kontrolnya”.

Dia juga pernah melontarkan : “Para imam (Syi’ah), kami tidak pernah membayangkan terjadinya kealpaan dan kelalaian pada diri mereka”.

Menurut Khumaini, di antara hal yang prinsip pada madzhab Syi’ah, para imam menduduki tempat yang tidak bisa dicapai oleh malaikat terdekat, juga nabi yang diutus sekalipun. Khumaini menambahkan, ajaran-ajaran para imam persis seperti ajaran-ajaran Al-Qur’an yang harus diaplikasikan dan diikuti.

Khumaini juga memiliki konsep wala dan bara. Dalam perspektif Syi’ah wala dan bara adalah setia terhadap para imam dan memusuhi para musuh imam. Musuh para imam yang dimaksud adalah generasi para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapun pandangannya tentang jihad, Khumaini mengatakan, bahwa jihad diberhentikan saat imam tidak ada. Dia juga memandang, bahwa pemerintah Islam tidak pernah tegak kecuali pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Ali Radhiyallahu ‘anhu saja. Sungguh pernyataan ini sangat bertentangan dengan fakta. Karena kita mengetahui, betapa banyak para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat berjasa memegang amanah kekhalifahan, seperti Abu Bakar Ash-Shidiq, Umar bin Al-Khaththab maupun Utsman bin Affan, juga Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu. Mengenai permusuhan terhadap para sahabat Nabi, tidak perlu lagi diangkat. Kitab-kitab mereka sudah menjadi saksi atas perbuatan tercela tersebut .

Dengan mencermati pemikirannya yang miring tentang pemerintahan Islam, maka tidak aneh jika akhirnya kita mengetahui, ternyata Khumaini menyanjung menteri Holagukhan yang berhasil membantu kehancuran khilafah Islam di Baghdad. Dengan sanjungan tersebut menunjukkan, jika Khumaini memiliki sifat hasad terhadap kaum muslimin. Sementara itu dia juga menyelenggarakan hari raya Nairuz, hari perayaan warisan bangsa Persia (Majusi). Bahkan memandang sunnahnya mandi dan berpuasa pada hari tersebut.

Pada kitab hasil karyanya, Tahriru Al-Wasilah, Khumaini juga memiliki pendapat-pendapat dalam bidang fiqih yang aneh, dan menyelisihi dalil yang shahih. Di antaranya ;

[1]. Sucinya air yang telah dipakai istinja.
[2]. Menurut Khumaini, di antara yang membatalkan shalat adalah meletakkan tangan di atas tangan lainnya.
[3]. Dia juga berpendapat, boleh menyetubuhi isteri melalui lubang dubur
[4]. Dalam masalah poligami, Khumaini berpendapat boleh memperisteri seorang wanita dan bibinya sekaligus

Dari pemaparan singkat di atas, kita bisa melihat secara sangat jelas besarnya kekeliruan (baca : penyimpangan) yang telah ditorehkan Khumaini melalui pernyataan maupun tulisannya. Waliyatu Al-Faqih yang ia lontarkan, merupakan cerminan kelumpuhannya untuk menjawab tertundanya kedatangan Imam Mahdi Syi’ah yang telah sembunyi dalam sebuah gua selama beratus-ratus tahun lamanya, sebagaimana sering mereka propagandakan. Sebuah bid’ah yang terpaksa dimunculkan dalam masalah aqidah yang diada-adakan oleh Syi’ah tentang imam dua belas.

Dalam perspektif Ahlus Sunnah, Imam Mahdi juga ada, namun kemunculannya pada akhir zaman nanti. Meski demikian, tidak berarti umat tidak tertuntut melaksanakan kewajiban-kewajiban yang bisa dilaksanakan.

Manusia yang ma’shum itu hanya para nabi dan rasul saja. Tidak ada yang lain.bahkan para khalifah empat pun tidak ma’shum. Sehingga, manusia-manusia yang didaulat Khumaini (dan Syi’ah) sebagai imam yang memiliki kemampuan tidak terbatas, sesungguhnya, pendapat ini jelas-jelas bertentangan dengan rububiyah Allah Ta’ala.

Sementara itu, tentang pendapat-pendapat fiqih yang tercantum dalam kitab Tahriru Al-Wasilah, seorang muslim yang awam sekalipun mengetahui kesalahan yang teramat fatal dan keliru dalam pendapat-pendapatnya tersebut.

Pantas untuk menjadi peringatan bagi kita, bahwa perbuatan bid’ah hanya akan mengantarkan seseorang kepada kebingungan, kesalahan dan tidak menutup kemungkinan menjerumuskan kepada kekufuran. Wal iyyadzu billah. Oleh karena itu, menjadi keharusan bagi kita kaum muslimin, hendaklah berkaca terhadap generasi Salaf adalah pilihan tepat dalam mengamalkan Islam dan kandungannya.

[Diangkat berdasarkan kitab Al-Mausu’ah Al-Musyassarah oleh DR Mani’ bin Hammad Al-Juhani hal1/440-443, dengan tambahan seperlunya oleh Abu Minhal]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun X/1427H/2006. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
Sumber : http://www.almanhaj.or.id/content/1785/slash/0
 

KESESATAN NII KW 9


 

AWASS!!! WASPADALAH !!!
BAHAYA ALIRAN ISLAM SESAT NII KW9 AL ZAYTUN MENGEPUNG KAMPUS,RUMAH DAN MASJID
ATAUPUN LINGKUNGAN WILAYAH ANDA!
KENALI, CERMATI & WASPADAI CIRI-CIRI VIRUS INDOKTRINASI GERAKANNYA.

Sekarang ini telah marak usaha usaha musuh-musuh Islam wal Muslimin untuk menyesatkan dan menghancurkan ke islaman ummat melalui cara-cara atau isue-isue Islam, diantaranya mereka membawa nama dan ide menegakkan Daulah Islamiyah (Negara Islam) melalui gerakan gerakan yang mengatasnamakan pendidikan pesantren yang modern dan terpadu yang siap untuk menggelarnya secara nasional dan besar-besaran.Mereka mengajak melalui promosi penjualan media cetak dalam bentuk majalah Al Zaytun dan mengajak ziyarah majelis taklim-majelis taklim serta mempromosikan kehebatan ma’had Al Zaytun sebagai pesantren kebanggaan milik ummat Islam bangsa Indonesia. Padahal sesungguhnya mereka itu tidak lebih dari para penjahat dan penipu yang berkedok dan mengatasnamakan agama untuk menyesatkan kaum muslimin.

Boleh jadi diantara keluarga kita, pembantu rumah tangga kita, teman-teman kita maupun tetangga kita atau lingkungan kita telah masuk dalam lingkaran setan jeratan doktrin atau ajaran sesat dan menyesatkan tersebut, bahkan mungkin telah menjadi anggota dan kaki tangan atau sekedar sebagai partisipan. Oleh karena itu kenalilah, cermatilah dan waspadailah melalui indikator karakter tata cara, sifat maupun bentuk dan wujud gerakan maupun pemahaman mereka

CIRI-CIRI CARA HIDUP BERMASYARAKAT

Tempat Kajian dan berkumpul mereka namakan (Malja’) dan bahasa gaulnya Mall. Untuk
meminimalisir pergerakan mereka membuat dua malja, Malja tilawah berstatus kontrak
bulanan, tidak ada perabot rumah tangga selain karpet, ada telpon Ratelindo, di tempat ini biasanya calon ummat digarap, dan kedua Malja’ khos yang biasanya sudah memenuhi standart berkeluarga (memiliki barang-barang berkeluarga) biasanya ditinggali oleh mas’ul (aparat) yang sudah berkeluarga sebagai kamuflase, di tempat ini biasanya sebagai pembinaan ummat (indoktrinisasi) dan sebagai pusat kegiatan.

Untuk sarana komunikasi kebanyakan mereka menggunakan fasilitas pager, namun sudah banyak pula yang menggunakan handphone. Satu Malja’ biasa dihuni sekitar 10 s/d 20 orang lelaki dan wanita tanpa ada hijab, rata-rata masih muda semua dan pakai motor, keluar masuk rumah secara aktif namun sepatu dan sendal tidak ada yang tertinggal di depan pintu. Aktivitas mereka ada yang sedang baca Al Qur’an atau Hadits, ada yang ngobrol dan ada pula yang terlibat dalam pembicaraan yang serius.

Keberadaan mereka biasanya mengatas namakan sebuah keluarga ketika melakukan transaksi kontrak tempat tersebut, namun mereka hampir tidak pernah ada yang mau lapor atau berhubungan dengan RT / RW. Ciri mereka yang lain adalah sikapnya yang exclusif bahkan jarang sekali yang mau bersosialisasi dengan masyarakat sekitar.

Penyelenggaraan shalat berjama’ah nyaris sama sekali tidak ada, dan bila ada pertanyaan dari masyarakat tentang kegiatan mereka yang selalu ramai dikunjungi orang itu, mereka pun menjawab itu adalah keluarganya atau tempat tersebut sebagai tempat kursus private bahasa Inggris atau lainnya. Pergerakan mereka nyaris tidak mengenal waktu, karena pemenuhan program yang dituntut secepatnya mengakibatkan intensitas kerja mereka secara otomatis akan lebih cepat.

POLA DASAR PEREKRUTAN KEANGGOTAAN (Mereka menamakan diri NII)
NII dalam pelaksanaaan program – programnya menitik beratkan pada dua hal utama
1. sistem recruitment
2. sistem finansial
Dua hal inilah yang nanti akan dikembangkan menjadi beberapa sub bagian dalam rangka menguatkan mereka dari luar dan dari dalam.

Sistem Recruitment (Hujumat Tabsyiriah)
Berikut cara-cara yang biasa di lakukan dalam rangka perekrutan :

- Mengenali calon “tilawah” (orang yang akan dibawa) , dengan menyelidiki kegiatan rutinnya, keluarganya (ada unsur militer atau tidak), dan hobby serta self interestnya.
- Bicara tentang Islam dari sisi yang calon ummat suka untuk membuat mereka interest .
- Mulai mengajak calon ummat ke tempat pengajian, atau dengan menipu korban untuk ikut dengan berbagai macam alasan, seperti : minta diantar ke rumah temannya, yang setibanya disana akan diberikan pemahaman Islam.
- Bila calon ummat sudah tiba di maljanya (kantornya / tempat pengajiannya) pertama kali diarahkan untuk bicara Qur’an. Bila mereka sudah mulai hanyut dengan arahan yang ada, lalu mereka diajak untuk memulai acara pengkajian dan dimasukkan di dalam kamar yang sudah ada di dalamnya white board, spidol yang mushaf yang telah disediakan.
- Dengan segala logika dan analoginya yang didukung dengan ayat-ayat Al-qur’an mereka menancapkan keyakinan secara mendalam pada calon umat bahwa yang mereka sampaikan adalah kebenaran yang harus diperjuangkan.
- Bila calon ummat telah menerima apa yang mereka sampaikan, yang akhirnya adalah kewajiban hijrah ke NII, maka calon ummat diwajibkan membayar shadaqah.

Sebelum tahap hijrah ada dua macam shadaqah yang harus dipenuhi :
a. shadaqah Aqabah yang digunakan untuk penyeleksian sebelum tahap akhir (hijrah), untuk shadaqah Aqabah dikenakan Rp 100.000 s/d Rp 200.000. Untuk Aqabah calon ummat akan di cek lebih dahulu pemahamannya oleh pimpinan yang lebih tinggi setingkat (kabupaten/Disrtric t Officer), dan bila District Officer (D.O) menyatakan bisa dikirim (di hijrahkan ) maka mereka tinggal menunggu panggilan hijrah, yang waktunya antara 1 s/d 3 hari.
b. Shadaqah hijrah diterapkan sebagai syarat mutlak hijrah, dan juga untuk membersihkan diri dari dosa – dosa yang pernah di lakukan sewaktu masih menjadi warga RI (Republik Indonesia). Untuk shadaqah hijrah diambil dari seluruh harta yang dicintainya, baik berupa apapun yang nanti diukur dalam nominal uang. Dan itu berkisar dari Rp 500.000 s/d Rp 5.000.000 bahkan bisa lebih bila ummat masih mempu nyai harta yang lebih dari itu.
- Setelah calon ummat melewati persyaratan tersebut tibalah waktunya hijrah yang
dilaksanakan 1 hari 1 malam yang berarti calon ummat harus menginap. Sebelum keberangkatan ( hijrah) mereka lebih dahulu dibawa ke suatu tempat atau sering disebut sebagai “transit” untuk selanjutnya bersama-sama diangkut bersama calon ummat lain untuk ke tempat hijrah. Setelah semua calon ummat berkumpul mereka dinaikkan didalam mobil yang berkaca ray-ban, lalu mereka harus menutup mata dalam perjalanan ke tempat hijrah.
- Setibanya disana mereka diabsen dan diberi pemahaman sedikit sebelum istirahat. Jam 05.00 mereka bangun untuk shalat shubuh dan makan pagi, lalu jam 06.00 mereka masuk ke ruangan yang telah disediakan untuk didata administrasi tentang identitas diri dan harus disertai dengan Kartu Tanda Penduduk. Jam 07.00 baru dimulai acaranya yang dihadiri dua orang pembina yang namanya ISA dan ILYAS.


Acara dibagi dua session :
a. Session pertama berisi tentang pemahaman dari sisi aqidah, ibadah, muamalah yang menuju kepada pengabdian penuh kepada NII.
b. Session kedua berisi tentang sejarah berdirinya NII sebagai negara yang sah di bumi Indonesia, yang materinya menyatakan selama ini telah terjadi pemutarbalikkan fakta oleh pihak RI secara membabi buta.
- Setelah dua session tersebut selesai, menuju ke acara final yaitu melepaskan kewarganegaraan RI dan masuk ke kewarganegaraan NII yang dilambangkan dengan penyandangan nama tsani (nama kedua) juga sebagai nama hijrah atau nama madinahnya dan sekaligus sebagai pengesahan kewarganegaraan dengan mengucapkan janji setia dalam bentuk bai’at yang dilantunkan oleh ISA dan ILYAS yang kemudian harus diikuti oleh semua calon ummat, setelah selesai acara tersebut maka sah sudah para calon ummat resmi menjadi ummat dan warga negara NII dan secara langsung harus mengemban misi-misi NII.
- Setelah prosesi selesai mereka dipulangkan jam 17.00, diantar ke tempat “transit” yang langsung disambut oleh mas’ulnya yang siap untuk menyampaikan misi dan visi tersebut kepada ummat.
- Indoktrinasi yang sudah memiliki pondasi yang disampaikan pada forum hijrah akan diteruskan dengan pola pembinaan yang disebut “tazkiyah”. Dalam tazkiyah inilah ummat mendapatkan pemahaman atau doktrin secara lebih mendalam tentang NII beserta seluruh programnya, yang tujuan akhirnya melaksanakan program sesuai dengan janji yang telah diucapkan dalam forum musyahadatul hijrah.
- Program tazkiyah dilakukan kontinyu dan berjenjang. Minimal dalam satu bulan ummat harus ikut tazkiyah di tingkat desa selama 3 kali, jenjang kecamatan sebanyak 2 kali dan jenjang distrik 1 kali, adapun tazkiyah daerah 1 kali. Dan dalam setiap tazkiyah harus membawa uang untuk akomodasi, mardhotilah (uang cape pembina), dan cicilan program finansial, yang besarnya bervariasi setiap jenjang minimal Rp 20.000 s/d Rp 50.000 dan kalau bisa lebih.
- Bila ummat telah memahami semua program dan permasalahan maka tinggal pelaksanaan
program yang nanti akan diarahkan dan dikawal langsung oleh mas’ul desanya, yang dalam praktek lapangannya mereka bebas melakukan pengembangan tekhnik dan improvisasinya dalam berprogram untuk meningkatkan kualitas dan prestasi dirinya sebagai warga dengan cara apapun yang penting hasilnya memadai atau lebih (ziyadah). Namun bila hasilnya tidak memenuhi target (nuqson) ummat akan mendapatkan sanksi (iqob) dari mas’ulnya.

Sistem finansial
Sistem finansial (maliyah) yang ada dalam program NII dibagi menjadi 9 pos mawarid (sumber pendanaan) yang ke semuanya harus diisi setiap bulannya, ada yang dibayar
penuh dan ada yang dicicil bila program tahunan. Berikut penjelasan 9 pos mawarid
1. Nafaqah Daulah (Infaq Negara), dibagi dua:
a. Infaq adalah kewajiban rutin umat untuk negara sebesar US$ 25 yang akan dialokasikan untuk mizaniyah (APBN), sebagai gaji mas’ul dan tanmiyah (pembangunan & pengembangan) .
b. Tazkiyah bi Baitiyah adalah pembersihan harta yang dipunyai yang nominalnya sebesar 2,5% dari harga seluruh harta yang dimiliki.
2. Harakah Qiradh adalah pinjaman negara kepada umat dalam bentuk emas, yang dalam 5 tahun akan dikembalikan sebesar 150% dari pinjaman. Harakah ini dialokasikan untuk penguasaan arodhi dan titik-titik strategis (ekonomi makro).
3. Harakah Idikhor adalah tabungan umat minimal sebesar Rp 6.000 yang akan dialokasikan untuk pengembangan hajat hidup pribadi (ekonomi mikro) dalam bentuk suntikan dana (huknatul rosmal) yang dipinjamkan kepada orang yang mempunyai usaha yang sudah berjalan. Setiap paket huknatul rosmal sebesar Rp 300.000.
4. Harakah Ramadhan adalah zakat ramadhan setahun sekali yang bisa dicicil sampai batas akhir ramadhan. Kewajiban pembayaran Harakah Ramadlan dibedakan menjadi tiga :
a. Nafsihi (pribadi), untuk mas’ul Rp 100.000 dan untuk umat Rp 50.000.
b. Hadona (tanggungan istri dan anak) masing-masing Rp 50.000.
c. Ziyadah (lebih/surplus) masing-masing Rp 50.000.
Harakah Ramadhan di alokasikan untuk pembangunan fisik negara (Al-zaytun)
5. Harakah Qurban adalah gerakan kurban setiap Ied al-Adha setahun sekali dan bisa dicicil sampai batas akhir bulan dzulhijjah. Kewajiban membayar Harakah Qurban dibedakan menjadi tiga:
a. Abdika (pribadi), untuk mas’ul Rp 300.000 dan untuk umat Rp 150.000.
b. Ahlihi abdika (tanggungan istri dan anak) masing-masing Rp 150.000.
c. Ummati abdika (lebih) masing-masing Rp 150.000.
Harakah qurban dialokasikan untuk pembangunan fisik negara Madinah (Al-zaytun)
6. Aqiqah adalah kewajiban bagi orang tua yang sudah mempunyai anak. Untuk anak rijal dikenakan sebesar 2 akbas dan untuk nisa sebesar 1 akbas. Aqiqah dialokasikan untuk pembangunan.
7. Shadaqah Khas adalah shadaqah khusus yang dulu dialokasikan untuk pembelian tanah namun sekarang untuk pembangunan masjid Rahmatan Lil’Alamin. Tiap umat dikenakan minimal Rp 1.000.000.
8. Shadaqah minal shadaqah adalah shadaqah yang diambil dari pos shadaqah lain, antara lain:
- Shadaqah isti’dzan (izin setiap keluar dari wilayah teritori)
- Shadaqah munakahat (menikah)
- Shadaqah istighfar (mohon ampun)
- Shadaqah tahkim (sidang mahkamah)
- Shadaqah Iqob/kifarat (sanksi)
- Shadaqah Hijrah
Semuanya itu dialokasikan untuk beaya pembangunan.
9. Khasilatul kasab adalah hasil usaha BUMN (Badan Usaha Milik NII) yang langsung
dialokasikan di baitul mal sebagai dana abadi.
Tsanamiyah mawarid pada tahun 1421 H mengalami penambahan pos yang berkaitan dengan subsidi pendidikan bagi warga yang mempunyai anak yang kelak akan di sekolahkan di Al-zaytun. Pos-pos tersebut antara lain :

a. Tabungan Pendidikan Anak (TPA) adalah tabungan yang akan dialokasikan bagi santri yang orangtuanya asli warga NII, dan bagi tiap umat dikenakan Rp 5.000 per bulan.
b. Finansial adalah tabungan yang dialokasikan untuk subsidi pendidikan santri yang disetorkan cuma sampai tingkat Distrik. Digunakan juga sebagai dana operasional TPA (Taman Pendidikan Al-qur’an) yang diadakan tiap Distrik sebagai persiapan masuknya calon
santri. Dan tiap umat dikenakan Rp 5.000. Dari sembilan pos mawarid yang wajib disetorkan penuh per bulan adalah :
- Infaq
- Harakah idikhor
- TPA
- finansial
Yang bisa di istimrar sampai batas waktu akhir dalam satu tahun :
- Harakah Ramadhan
- Harakah Qurban
Dan Harakah Qirodh Wajib disetorkan bagi tiap umat apabila masuk kedalam forum munakahat atau tahkim sebagai wujud kecintaannya kepada negara.

PERISTILAHAN STRUKTUR PEMERINTAHAN NII

Struktur pemerintahan NII mengalami beberapa perubahan dari tahun ke tahun. Berikut tiga jenis struktur yang digunakan dalam NII Abu Toto Al Zaytun :

I. Struktur pemerintahan tahun 1416H s/d 1418H
- Adam (Imam)
- Idris (Komandemen Wilayah Besar)
- Nuh (Komandemen Wilayah)
- Hud (Komandemen Daerah)
- Soleh (Komandemen Kabupaten)
- Ibrahim (Komandemen Kecamatan)
- Musa (Komandemen Desa)
II. Struktur Pemerintahan tahun 1419H s/d 1420H
- Imam
- Riasyah Ullya
- Riasyah Wilayah
- Riasyah Daerah
- Riasyah Kabupaten
- Riasyah Kecamatan
- Riasyah Desa
III. Struktur Pemerintahan tahun 1421H s/d sekarang.
- Majelis Syuro
- Imam
- Gubernur Wilayah
- Keresidenan
- District Officer (D.O) :

1. DO
2. Wk DO
3. Sekretaris
4. Kabag Keu
5. Kabag Personalia
6. Kabag Pendidikan
7. Kabag Logistik
- Onder District Officer (O.D.O) :
1. O.D.O(Disesuaikan dgn struktur NKRI)
2. Kabag Pendidikan
3. Kabag Personalia
4. Kabag Keuangan
5. Kabag Logistik

- Petinggi Tingkat Desa (PTD) :
1. Petinggi Desa : Mempertanggung jawabkan program yang ada di desanya dalam urusan amwal & anfus (financial & rekrutmen) controlling.
2. Sekretaris Desa : Bertanggung jawab pada bidang anfus, mentilawah calon ummat di Malja’
3.Kabag Keuangan : Bertanggungjawab Pada bidang pemungutan program Maliyah dan Disribusi serta Logistik (setor ke PTD & kebutuhan Malja serta administrasi)

- Ummat dibagi menjadi :
1.Qabilah (Rijal) : – Mencari calon tilawah, melakukan seleksi dan pemahaman dasar kemudian di hadirkan ke malja’.
- – Mengkordinir program keuangan utk disetor ke Kabag Keuangan.

2.Shaffatun Nisaa : Ibid
Dalam tahun-tahun terakhir selain Qoror dan MKT, NII juga mengeluarkan PERPU (Peraturan Pengganti Undang-undang) sebagai tahap penyempurnaan bernegara yang konstitusional. Sejauh ini baru dua point yang dikeluarkan oleh pemerintahan pusat.
PERPU No.I berisi tentang PINKA (Pengaturan Ikhsan Negara Kurnia Allah) atau pengaturan gaji mas’ul yang sudah menggunakan NDQ (Nomer Data Qoid) atau nomor induk pegawai yang dibedakan menjadi dua, yaitu :
Teritorial bagi mas’ul yang ada di teritorial RI atau diluar Al-zaytun, NDQ-nya diawali dengan huruf T , contoh (T100.337.0251)
Fungsional bagi mas’ul yang difungsikan atau dipekerjakan didalam lingkup pembangunan dan pendidikan Al-zaytun, NDQ-nya diawali dengan huruf F, contoh (F100.337.0252)
PERPU No.II berisi tentang penyempurnaan teritorial di nusantara yang mencakup 28 provinsi yang terdiri dari jalur utara dan jalur selatan serta struktur pemerintahannya yang mengacu kepada civil society dan sistem distrik.
Untuk wilayah Jabotabek sudah sempurna secara struktural, namun untuk wilayah jawa baru sampai tingkat Distrik, dan selebihnya sudah sampai tingkat Residen (daerah) kecuali Maluku dan Irian Jaya yang baru sampai tingkat Gubernur Wilayah. Maka untuk keperluan pemenuhan struktur di seluruh Indonesia sejak 1421 H diadakan tartib tahawul (mutasi) besar-besaran untuk menyempurnakan strukturnya, dan wilayah 9 (jabotabek) adalah sebagai supplier utama akan kebutuhan aparat. Untuk itu dibutuhkan sebanyak-banyaknya ummat rijal untuk di kader sebagai mas’ul yang akan menggantikan pendahulunya yang akan di mutasi.

Dalam nidzham pergerakan NII Abu Toto Al Zaytun terhitung sangat rapi, mereka juga menggunakan istilah-istilah yang mereka kembangkan sendiri secara spesifik untuk mengelabui musuh. Berikut beberapa istilah yang sering digunakan dalam gerakan mereka :

- PAKET (Calon Tilawah) – TL (Tilawah)
- AQ (Aqabah) – MH (Musyahadatul ijrah)
- SDQ (Shadaqah) – - I.P (Infaq)
- I.D (Harakah Idikhor) – HR (Harakah Ramadlan)
- HQ (Harakah Qurban) – THK (Tahkim)
- MN (Munakahat) – MK (Mekkah / RI) Mekky
- MD (Madinah / NII) – MALL (Malja / kantor)
- QOB (Qabilah) – D.O (Kabupaten)
- Nama awal (Nama di RI) – Nama tsani (Nama di NII)
- MAKANAH (Jabatan) – UNWAN (Alamat )
- IDARIAH (Teritorial NII yang ditempati) – KASAB (Pekerjaan)
- SANAH (Umur)
- TAQRIR (Pelaporan), biasa diplesetkan NAIK atau ATAS – BOIM (Ibrahim / O.D.O)
- ZIYADAH (Lebih) – NUQSON (Kurang)
- JAWALAH (Motor) – SAYAROH (Mobil)
- Mas’ul Teritorial : Mas’ul yang berada di wilayah NKRI
- Mas’ul Fungsional : yang difungsikan sebagai pekerja di Ma’had Al Zaytun

(Muwadhaf Pasukan Kuning, GARDA, TIBMARA Ma’had)

PROGRAM KEGIATAN SELALU BERHUBUNGAN DENGAN NAMA MA’HAD AL ZAYTUN

Pengenalan kepada Ma’had Al Zaytun diberikan setelah seseorang resmi tercatat sebagai ummat melalui forum MH (Musyahadatul Hijrah atau Pembai’atan berdasarkan teks bai’ah NII atau M-9 Mubaya’ah Sembilan).
- Pertama dikenalkan melalui Majalah Al Zaytun.
- Kemudian memperkenalkan dan menyatakan keberadaaan ma’had Al Zaytun sebagai saluran seluruh gerakan program pos Mawarid serta sebagai wujud konkret pahala hasil kerja keras atau bukti diterimanya amal warga NII.
- Mengindoktrinasikan bahwa ma’had Al Zaytun sebagai pusat pegiatan pemerintahan dan sebagai ibukota NII lantas Syaykh Al Ma’had sebagai Imam NII.
- Menanamkan rasa kebanggaan terhadap keberadaan dan keserba-canggihan sistem yang berlaku di Ma’had Al Zaytun.
- Memberikan janji-janji (iming-iming) bahwa Al Zaytun adalah kelak domisili bagi warga yang sedang berjuang hari ini. Oleh karenanya menjadi kewajiban mutlak setiap warga NII untuk memenuhi seluruh kebutuhan ma’had Al Zaytun selain yang sudah dibebankan pada pos mawarid, diantaranya seperti kesediaan dan kesanggupan untuk menunaikan berbagai shadaqah, seperti shadaqah tiang Masjid Rahmatan lil ‘Alamin, harakah semen, karpet dan lain-lain juga termasuk menjual Majalah Al Zaytun secara sukarela.

Indoktrinasi kesiapan berkorban atas ummat demi tegaknya wujud konkret Daulah NII, yang diterapkan pada kesempatan acara tazkiyah menekankan kepada aspek pemenuhan target amwal & anfus sesuai dengan janji setia atau bai’at yang dinyatakan dalam forum MH. Maka setiap warga dituntut untuk memenuhi target kebutuhan pribadinya, dan bila target kebutuhan desanya masih belum terpenuhi maka wajib bagi setiap warganya untuk memenuhi kebutuhan target bagaimana pun caranya.

Melalui syura Desa setiap ummat diberi tugas untuk mencari kekurangan target yang ada di desanya, maka diputuskankan cara-cara bagi terpenuhinya target desa tersebut
: melalui hutang-piutang (pinjam), menjual segala harta yang dimilikinya seperti tanah, mobil, motor, perhiasan, radio, tv, pakaian dll. Apabila cara-cara tersebut masih belum bisa memenuhi target maka dilakukan cara-cara atau praktek kriminal seperti menipu orang terdekat (orang tua, saudara dan sanak famili melalui alasan uang kuliah, mau bantu teman atau mengganti barang milik teman yang terpakai dll), mencari sumbangan dengan dalih bhakti sosial, pembangunan masjid dan panti asuhan.

Bila masih kurang juga, maka dilakukanlah langkah-langkah konvensional alias mengutil, mencuri, merampok. Falam kondisi seperti ini masalah ibadah mahdhah nyaris sama sekali sudah ditinggalkan, bahkan malah sudah dijadikan sebagai olok-olok, dan yang tertinggal
hanyalah membaca serta menghafalkan al Qur’an pada ayat-ayat tertentu. Akan tetapi dalam waktu yang bersamaan mereka menganggapnya sedang dalam kondisi berjuang dan
darurat (jihad). Sehingga seluruh keputusan dan amal ibadah ummat sepenuhnya bergantung kepada pimpinan, dalam hal ini adalah terdiri dari tiga unsur tingkat pimpinan, yaitu D O (District Officer) Shaleh atau Bupati, O D O (Onder District Officer) Ibrahim atau Camat dan PTD (Petinggi Tingkat Desa) Lurah atau Musa.

Dan hal ini akan terus berlanjut selama kebutuhan rutin / reguler target yang dibebankan desa tidak terpenuhi, sehingga seluruh tindakan-tindakan yang kriminal tersebut sudah menjadi kebiasaan bahkan ada yang menjadikannya sebagai hobby dan ketagihan, karena tindakan kriminal tersebut akhirnya menjadi tolok ukur ketha’atan, pengorbanan dan pembelaan terhadap pimpinan serta negara nya sebagai perwujudan pelaksanaan M-9 (Mubaya’ah 9) secara murni dan benar. Oleh pihak-pihak komunitas NII juga dianggap sebagai suatu prestasi dan kebanggaan.

Kini mereka telah menyebar keseluruh penjuru wilayah Indonesia, daerah-daerah prioritas yang di targetkan menjadi basic dan pusat kegiatan pendidikan NII Ma’had Al Zaytun adalah Subang, Serang, Rembang, Gersik dan Bali serta Sumatra Selatan. Ma’had Asas (SD-NII) pun sudah siap pula untuk diselenggarakan di 324 Kota kabupaten diseluruh wilayah Indonesia Korban penyesatan NII Al Zaytun yang berjatuhan telah mencapai puluhan ribu, bahkan banyak keluarga yang kehilangan anak gadisnya demikian pula pemuda-pemuda. Banyak keluarga yang jatuh miskin dan berantakan serta menjadi rusak dan menderita lahir batin.

Bila anda bertemu dan pernah terlibat dalam gerakan yang ciri-cirinya seperti ini hendaknya segera menghubungi :

- SIKAT (Solidaritas Ummat Islam untuk Korban NII Abu Toto Al Zaytun & Aliran Sesat) Tel-Fax : 021- 829 9979 umar-abduh@priest.com
- MUI (Majelis Ulama Islam) Pusat Tel :021 345 5471, 3455472 Fax : 021-85 5412
- LPPI (Lembaga Penelitian & Pengkajian Islam) Tel-Fax : 021 828 1606
____________ _________ _________ _________ _________ _______
Brosur ini diterbitkan oleh Lembaga Pengkajian & Taushiyah ‘Alam Islami, SOLO
bekerjasama dengan FORMAT, Ampenan Nusa Tenggara Barat. abusunyi@telkom.net.

geovisit();1

Hakekat Tasawuf

Hakekat Tasawuf

Aliran Tasawwuf / Sufi begitu suburnya tumbuh di Indonesia belakangan ini. Banyak orang yang tidak mengenal aliran ini dari sumbernya menjadikannya obat penawar didalam menghadapi permasalahan hidup yang ada. Alhamdulillah, para ulama kita telah menjelaskan kepada kita tentang siapa aliran Tasawwuf / sufi ini, tentunya didalam timbangan Al-Quran dan As-Sunnah.
Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

1. Landasan Menilai benar tidaknya tasawuf

Kita wajib kembali kepada Al-Kitab dan As-Sunnah yang shahih untuk dapat mengetahui hakikat tasawwuf ini, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“…Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya, jika engkau benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama bagi kamu dan lebih baik akibatnya.”(An-Nisaa’ :59)

Jadi, segala penyimpangan yang akan kita bicarakan tentang tasawwuf ini berdasarkan pertimbangan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW dengan pemahaman salafus shalih.

Rasulullah SAW bersabda :
Aku tinggalkan kepada kalian suatu perkara yang bila kalian berpegang teguh dengannya maka tidak akan menyesatkan kalian selamanya, (yaitu) Kitabulah dan Sunnahku.
(Hadits Shahih riwayat Imam Malik dalam Al-Muwatha (II/1899) dan Imam Hakim dalam Mustadrak I/93) secara bersambung dari Abu Hurairah r.a.)

Pada saya ada dua buku yang mengupas tentang sufi, yang ditulis oleh ulama Ahlu Sunnah Wal Jamaah untuk menerangi aliran ini agar kita kaum muslimin mengetahui siapa sebenarnya sufi/tasawuf itu, sesuaikah dia dengan tuntunan yang AL-Quran dan As-Sunnah ? simaklah ringkasan dari buku :
a. Aliran Sufi dengan timbangan Al-Qur’an dan As-Sunnah (Sufiyah fi Mizanil Kitab wa Sunnah, karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu)
b. Menguak Dunia Tasawuf Tarekat Naqsyabandiyyah (An-Naqsyabandiyyah Ardhu wa Tahlilun, karya Syaikh Abdurrahman Dimasyqiyah)
Disini saya ringkaskan perkara-perkara yang saya anggap penting diketahui dan mudah dikenali dengan kondisi aliran sufi yang ada di Indonesia ini. Namun kesesatan aliran ini sesungguhnya melebihi dari apa yang saya sampaikan. Untuk lebih lengkapnya silahkan merujuk kepada dua kitab diatas atau kitab lainnya yang ditulis para ulama yang mumpuni dibidang ilmu.

2. Awal munculnya tasawuf / sufi

Pada jaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Islam tidak mengenal aliran tasawwuf, juga pada masa shahabat dan tabi’in (yaitu generasi setelah shahabat yang mereka itu menuntut ilmu dari para shahabat). Kemudian datang setelah masa tabi’in suatu kaum yang mengaku zuhud yang berpakaian shuf (pakaian dari bulu domba), maka karena pakaian inilah mereka mendapat julukan sebagai nama bagi mereka yaitu Sufi dengan nama tarekatnya Tasawwuf. (Dari kitab Sufiyyah fi mizanil kitab wa sunnah, karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu).

Adapun hanya sekedar pengakuan tanpa adanya dalil yang menerangkan ataupun dari berita-berita dusta yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW dan para sahabatnya ra. adalah juga golongan tasawwuf maka cara berhujjah seperti ini tidaklah dapat diterima oleh orang yang berakal.

3. Aliran Sufiyyah mempunyai banyak tarekat (jalan)

Antara lain : Tijaniyyah, Qadariyyah, Naqsyabandiyyah, Syadzaliyyah, Rifa’iyyah dan lainnya yang semuanya mengaku diatas jalan yang benar dan menganggap jalan yang lain adalah batil/salah.
Padahal Islam telah melarang adanya perpecahan (membuat jalan baru), seperti firman Allah :
“…dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar-Rum :31-32)

4. Aliran sufi memeliki sifat fanatisme terhadap syaikh-syaikh mereka

Sekalipun mereka menyelisihi Allah dan Rasul-Nya. Padahal Allah SWT berfirman :
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya. (Al-Hujurat : 1)

Dan rasulullah SAW bersabda :
Tidak ada ketaatan bagi seseorang dalam berbuat maksiat kepada Allah, ketaatan itu hanya dalam berbuat baik. (HR. Bukhari & Muslim)

Namun kebanyakan manusia sekarang ini mengambil apa saja yang dikatakan oleh gurunya tanpa mau memeriksa apakah perkataan gurunya itu sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah atau tidak. Dia menelan apa saja yang dikatakan oleh gurunya yang disangkanya gurunya bebas dari kesalahan, maka jika gurunya sesat maka sesat pulalah dia, padahal dia bertanggung jawab terhadap setiap amalan dirinya kelak di hadapan Allah SWT.

Demikianlah yang menimpa ummat-ummat terdahulu, mereka mengikuti saja apa yang dikatakan oleh para guru-guru mereka, tanpa menyesuaikannya dengan Kitab yang telah diturunkan kepada mereka.
Allah berfirman :
Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Rabb selain Allah, dan (juga mereka menjadikan Rabb) al-Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah Yang Maha Esa. Tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (At-Taubah : 31)

Saat Rasulullah SAW membaca ayat ini didepan para Shahabatnya, maka berkata seorang Shahabat yang bernama ‘Adiy bin Hatim ; “Sungguh kami tidak menyembah mereka.” Beliau SAW bertanya ;”Tidakkah mereka itu mengharamkan apa yang telah dihalalkan Allah, lalu kamupun mengharamkannya ? dan tidakkah mereka itu menghalalkan apa yang telah diharamkan oleh Allah, lalu kamupun menghalalkannya ?”
Aku (‘Adiy)menjawab, “Ya”. Maka beliau bersabda;”Itulah bentuk penyembahan kepada mereka.”
(Hadits Riwayat Imam Ahmad dan At-Tirmidzi dengan sanad Hasan)

Jadi, orang-orang terdahulu tersesat karena mereka mengikuti secara membabi buta guru-guru mereka tanpa menghiraukan apakah yang diserukan oleh guru mereka itu sesuai dengan Kitabullah ataukah tidak, demikian pengalaman ‘Adiy bin Hatim saat belum memeluk Islam.

Persis seperti apa yang dialami oleh sufi tarekat naqsyabandiyyah :
Ia (Syaikh Naqsyaband) pernah diundang oleh sebagian sahabatnya di Bukhara. Ketika hendak menuju Maroko, ia berkata kepada Maula Najmuddin Dadark,
Apakah engkau akan melaksanakan semua yang aku perintahkan kepadamu ?
Ia menjawab : Ya.
Ia berkata :Jika aku memerintahkanmu untuk mencuri, apakah engkau akan melakukannya ?
Ia berkata :Tidak.
Ia berkata :Mengapa ?.
Ia menjawab :Karena hak-hak Allah itu bisa dihapus dengan taubat, sedangkan ini termasuk hak-hak hamba.
Ia berkata :Jika engkau tidak mau melaksanakan perintah kami maka jangan bersahabt dengan kami.
Maula Najmuddin sangat terkejut mendengar hal itu dan bumi yang luas telah terasa sempit olehnya. Dan ia kemudian menampakkan taubat dan penyesalannya serta berketetapan hati untuk tida melanggar perintahnya. Para hadirinpun menaruh rasa kasihan kepadanya dan mereka meminta syafaat dan maaf kepada Syaikh Naqsyaband untuknya. Ia pun memaafkannya. (AL-Mawahibus Sarmadiyyah, 138, Al-Anwarul Qudsiyyah, 140 dan Jamiu Karamatil Auliya, 1/ 150)

Tanggapan :
Ini adalah kebiasaan syaikh-syaikh tasawuf. Mereka biasa melatih murid-muridnya untuk taat buta sekalipun didalamnya terdapat perihal meninggalkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya dan memperingatkan mereka bila bersikap ingkar dan menyanggah. Mereka memiliki jargon yang terkenal : Jangan menyanggah, niscaya engkau akan tersisih.

Padahal Rasulullah SAW telah bersabda :
Tidak ada ketaatan dalam berbuat maksiat, sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam perbuatan maruf (baik). (HR. Muslim (1840), dan Bukhari 8/106 Kitabul Ahkam dan 8/135 bab Ijazati Khabaril Wahid)

Rasulullah SAW juga bersabda :
Wajib atas seorang muslim untuk patuh dan taat dalam hal-hal yang ia sukai dan hal-hal yang ia benci kecuali jika ia disuruh untuk melakukan maksiat, maka tidak ada kepatuhan dan ketaatan dalam hal itu. (HR. Muslim (1839) dan Al-Bukhari 8/106 Kitabul Ahkam)

5. Manaqib dan Keramat-keramat tokoh-tokoh sufi

Pengarang kitab Al-Mawahibus Sarmadiyyah Fi Manaqibis Sadatin Naqsyabandiyyah, Syaikh mereka Muhammad Amin Al-Kurdi meriwayatkan dari Syaikh Naqsyabandiyyah bahwasanya ia berkata : Aku bersahabat dengan Ad-Darwisy Khalil. Kemudian ia memerintahkanku untuk mengabdi kepada hewan-hewan. Hingga ketika dijalan aku bertemu dengan seekor anjing, lalu aku berhenti sampai anjing tersebutberlalu terlebih dahulu supaya aku tidak mendahuluinya. Aku terus melakukan hal yang demikian selama tujuh tahun. Kemudian setelah itu ia menyuruh aku untuk mengabdi kepada anjing-anjing milik paduka yang mulia ini dengan sikap jujur dan tunduk dan au meminta pertolongan dari mereka. Syaikhnya berkata : Sesungguhnya engkau akan sampai kepada seekor anjing diantara mereka (anjing-anjing itu) yang dengan mengabdi kepadanya engkau akan memperoleh kebahagiaan yang besar. Aku lalu memanfaatkan nikmat untuk mengabdi ini dan aku tida memperdulikan upaya yang keluar dengan melaksanakannya berdasarkan petunjuknya dan dalam rangka ingin mendapatkan kabar gembira yang dituturkannya. Hingga pada suatu saat aku bertemu dengan seekor anjing. Lalu dengan pertemuan tersebut terjadilah pada diriku suatu keadaan yang luar biasa. Akupun berhenti dihadapnnya dan aku menangis sejadi-jadinya. Pada saat itulah aku merebahkan diri diatas punggungnya dan iapun mengangkat kakinya yang empat kearah langit. Kemudian aku mendengar darinya suara sedih, keluhan dan rintihan. Lalu aku mengangkat kedua tanganku sebagai sikap tawadhu dan aku berkata : Amin hingga ia (anjing itu) diam dan kembali seperti semula.
Kemudian setelah itu ia menyebutkan bahwa ia juga pernah menemukan seekor bunglon. Lalu terbesit dihatinya untuk meminta syafaat darinya. Ia pun segera mengangkat kedua tangannya, lalu ia menjatuhkan dirinya diatas punggungnya dan menghadap kelangit seraya mengucapkan Amin.

Jawaban :
Subhanallah! Apakah pintu-pintu untuk memperoleh syafaat dan pertolongan telah tertutup dari dirinya hingga ia tidak mendapatkan keduanya kecuali dari diri seekor anjing dan bunglon ? Dan siapakah yang mengatakan bahwa anjing itu mengangkat keempat kakinya apabila hendak berdoa ? Jikalau ia meminta pertolongan dan syafaat dari seorang manusia niscaya hal itu tidak boleh, lalu bagaimana pula jika ia meminta keduanya kepada seekor anjing dan bunglon ?

6. Sekelumit Mengenai Keramat-keramat dan Perkataan-perkataan Para Syaikh Tarekat Sufi

Syaikh Muhammad Al-Mashum berkata :Aku melihat kabah yang dimuliakan merangkul dan menciumku dengan kerinduan yang mendalam. Tatkala aku selesai melaksanakan thawaf ziarah, datanglah kepadaku seorang malaikat membawa sebuah kitab tentang diterimanya haji yang au laksanakandari Rabb semesta alam. (Al-Mawahibus Sarmadiyyah 213, Jamiu Karamatil Auliya 1/204 dan Al-Anwarul Qudsiyyah 196, semuanya kitab-kitab referensi tasawuf aliran Naqsyabandiyyah)

Dinukil darinya bahwa dia telah mampu mengucapkan tauhid, padahal ia beru berumur tiga tahun sehingga ia mengatakan :Akulah bumi, akulah langit. (Al-Mawahibus Sarmadiyyah 202 dan Al-Anwarul Qudsiyyah 192)

Syaikh Ahmad Al-Furuqi berkata : Diperlihatkan kepadaku Kabah yang disucikan sedang melakukan thawaf diseputar diriku sebagai pemuliaan dan penghormatan dari Allah untuk diriku. (Al-Mawahibus Sarmadiyyah 184 dan Al-Anwarul Qudsiyyah 182)

Ini adalah sekelumit tentang perkataan-perkataan para Syaikh tarekat sufi, dan masih begitu banyak hal yang senada seperti diatas dari ucapan-ucapan mereka yang didalamnya terdapat penyimpangan-penyimpangan terhadap syariat yang tidak tersembunyi atas seorang pembaca yang bersikap adil dan memiliki akal sehat.

Bahkan saya katakan bahwa hal ini pun telah terjadi dikantor kita, dimana beberapa orang pegawai pernah menceritakan kepada saya tentang perkataan seorang pegawai yang sangat menggeluti pemahaman sufi ini.
Disuatu waktu ia berkata bahwa, dikala ia sedang melaksanakan ibadah haji dan dia berdoa dihadapan kabah, maka dia melihat begitu banyak wanita-wanita yang cantik jelita sedang mengitarinya. Ia berkata bahwa mereka adalah para bidadari yang menampakkan diri pada dirinya.
Dalam kesempatan lain dia pernah berkata bahwadia pernah pergi ke langit ketujuh. Dan dia berkata kepada seorang pegawai kita bahwa apabila ingin melihat padang masyhar maka lakukanlah ini dan itu (ia menyebutkan beberapa amalan yang tidak ada diperintahkan didalam agama ini sebagai syarat untuk mencapai keinginan tersebut). Banyak lagi perkataan-perkataannya yang tidak sepantasnya diucapkan oleh orang yang berakal.

7. Memohon Pertolongan / Istighasah Kepada Para Syaikh Mereka

Diriwayatkan bahwa salah seorang murid Syaikh Muhammad Al-Mashum sedang mengendarai seekor kuda, laul kuda tersebut membuang kotorannya sehingga membuat sang murid terjatuh ke tanah dan kakinya tergantung di tempat pelana kuda. Kemudian kuda tersebut membawanya lari hingga ia berkeyakinan akan binasa. Lau ia meminta pertolongan kepada yang mulia al-qayyum (yaitu Syaikh Muhammad Al-Mashum-disifati dengan sifat yang hanya dimiliki Allah SWT). Sang murid berkata : Lalu aku melihat sang Syaikh datang sambil memberhentikan kuda tersebut serta menaikkanku keatasnya. (Al-Mawahibus Sarmadiyyah 210-213, Jamiu Karamatil Auliya 1/199-200 dan Al-Anwarul Qudsiyyah 195-196)

Pada suatu hari datang banjir besar melanda desa Maulana Arif, lalu penduduknya takut tenggelam/hanyut. Mereka pun segera meminta pertolongan kepada Syaikh Muhammad Al-Mashum). Maka ia keluar dan duduk ditempat air bah, dan ia berkata kepada air itu :Sesungguhnya jika engkau memiliki kekuatan, maka bawalah aku. Kemudian banjir tersebut berhenti. (Al-Mawahibus Sarmadiyyah 107, Jamiu dan Al-Anwarul Qudsiyyah 125)

Padaha Alah berfirman :
Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu sebagai khalifah di bumi ? Apakah disamping Alah ada tuhan (yang lain) ? (Al-Anam : 62)

8. Pengkultusan Kuburan Para Syaikh Mereka

Syaikh mereka AL-Kurdi di dalam kitab Tanwirul Qulub berkata : Sebagian Syaikh mengatakan bahwa Allah mewakilkan dalam kuburan wali seorang malaikat yang memenuhi hajat-hajat dan kadang-kadang wali tersebut keluar dari kuburnya dan ia sendiri yang memenuhi hajatnya. (Tanwirul Qulub 534)

Rasulullah SAW mengetahui bahaya tipu daya ini, lalu beliau memberitahukannya serta memperingatkan darinya sebelum menghadap Allah Yang Maha Tinggi (menjelang wafatnya beliau SAW). Adalah beliau setiap kali sadar dari sakaratul maut bersabda : Semoga Allah melaknat kaum Yahudi dan Nasrani yang telah menjadikan kuburan-kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid-masjid . Aisyah ra. berkata :Jikalau tidak karena hal itu niscaya aku akan menampakkan kuburan beliau, tetapi aku takut bahwa ia akan dijadikan masjid. (HR. Bukhari 2/90 Kitabul Janaiz, Muslim (530), Amad 6/146, dan Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah 1/415)

Masjid adalah tempat ibadahnya kaum muslimin, yang disana kita menegakkan shalat, berdoa kepada Allah dan melakukan ibadah-ibadah lainnya. Namun para pengikut sufi melakukan amalan-amalan yang layaknya dilakukan di masjid, mereka lakukan di kuburan-kuburan para syaikh mereka.

Dan dari Jundub bin Abdullah Al-Bajali ra. bahwasanya ia mendengar Nabi SAW bersabda sebelum wafatnya : Ingatlah! Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah menjadikan kuburan-kuburan nabi-nabi dan orang-orang shaleh mereka sebagai masjid. Ingatlah! Maka janganlah kalian menjadikan kuburan-kuburan itu sebagai masjid-masjid, karena sesungguhnya aku melarang kelian dari hal itu. (HR. Muslim (532) dalam Kitabul Masajid)

Demikian juga beliau SAW melarang mengapur/mengecat kuburan atau mendirikan bangunan atau duduk diatasnya. (HR. Muslim (970), At-Tirmidzi 2/155 dan ia menshahihkannya, Ahmad dalam Al-Musnad 3/339 dan AL-Baihaqi dalam AL-Musnad 142)

Syaikh mereka AL-Kurdi berkata : Ketika Syaikh Naqsyaband meningga dunia, para pengikutnya membangun suatu kubah yang besar diatas kuburannya dan mereka menjadikannya sebagai masjid yang luas. (Al-Mawahibus Sarmadiyyah 142)

Pengarang kitab Al-Anwirul Qudsiyyah menambahkan terhadap perihal kuburan itu hal berikut ini : Ia masih tetap seperti itu hingga zaman kita ini; Dirinya dimintai pertolongan, debu tanahnya dijadikan celak dan pintu-pintunya dijadikan tempat berlindung. (Al-Anwirul Qudsiyyah 142)

Bantahan :
Berkata Syaikh Abdurrahman Dimasyqiyyah : Demi Allah, tunjukkan kepadaku, manakah perihal mengikuti syariat, mencocoki As-Sunnah dan jalan para sahabat yang mulia seperti yang mereka akui ? Adakah jalan mereka itu mencium kuburan, berguling-guling diatasnya dan meminta pertolongan kepadanya, ataukah bau pemujaan berhala telah berhembus dan bertiup anginnya di kelompok yang para pengakutnya mengaku sangat antusias untuk mengambil ibadah-ibadah mereka dari Kitab Allah dan Sunnah Rasulul-Nya ?

Begitu pula pegawai dikantor kita yang kita maksud sebelumnya. Disaat dia mengetahui saya adalah orang Aceh dan berdomisili di banda Aceh, yang dia tanyakan terlebih dahulu adalah pernahkah saya pergi ke kuburan Syah Kuala ? Dan ternyata Beliau sudah beberapa kali pergi kesana, entah apa yang dia lakukan.
Sungguh saya pernah melihat kuburan tersebut dan mengetahui keadaannya yang sebenarnya. Kuburan tersebut berukuran cukup besar dengan diberi batu di kaki dan kepalanya dengan batu yang besar dan tinggi serta dibatu tersebut dibentangkan kain putih diatasnya. Dan dikuburan tersebut dididrikan bangunan sehingga terlindung dari terik panas matahari dan basahan hujan. Inilah ciri-ciri kuburan yang diagungkan yang telah dilarang oleh Rasulullah SAW.

9. Sikap berlebih-lebihan dalam memuji para syaikh tarekat sufi

Yasin As-Sanhuti didaam kitabnya Al-Anwar bercerita tentang Ubaidullah Ahrar : Adapun perihal penyingkapannya terhadap perkara-perkara yang ghaib dan pemberitahuannya tentang hal-hal yang tersembunyi. Maka hal itu tidak terbatas atau terhitung. Demikian juga ia mensifati Yaqub Al-Jarkhi bahwa ia merupakan Pewaris Ilmu Ghaib.

Petakanlah dengan kondisi di Indonesia dari beberapa point diatas, disaat sekarang banyak orang yang memuji, menyanjung dan bahkan siap mati untuk seseorang yang orang tersebut sangat dimuliakan tanpa mempertimbangkannya dengan ilmu syariat yang shahih. Dan lihat pula di negeri kita ini ada tokoh yang dianggap dapat mengetahui suatu perkara yang akan terjadi, dan mudah mengetahui siapa pelaku dari suatu peristiwa, tidak lain hal ini adalah seperti orang yang mengetahui hal-hal yang ghaib. Ambillah pelajaran ini agar kita tida terjebak dalam kesesatan.

10. Membenci Ilmu dan Malas Menuntut Ilmu

Abu Yazid Al-Busthomi berkata seraya mengajak bicara Ahlul Hadits : Kalian telah mengambil ilmu kalian dari orang mati melalui orang mati, sedangkan kami mengambil ilmu kami dari Dzat Yang Maha Hidup Yang tidak akan mati. (Thabaqatusy Syarani 1/5, Al-Futuhatul Makkiyyah 1/365, Talbisu Iblis 344, 322, A-Mawahibus Sarmadiyyah 49 dan Al-Anwarul Qudsiyyah 99)

Al-Qusyairi telah meriwayatkan perkataan Abu Bakar Al-Warraq : Penyakit yang bisa merusak seorang murid ada tiga : menikah, mencatat/menulis hadits dan kitab-kitab. (Ar-Risalatul Qusyairiyyah 92)

Sulaiman Ad-Daroni (ia adalah seorang tokoh besar kaum sufi) berkata : Apabila seseorang mencari/mempelajari hadits atau bepergian untuk mencari rezeki dan menikah, maka berarti ia telah cenderung kepada dunia. (Al-Futuhatul Makkiyyah 1/37)

Mereka tidak butuh lagi dengan As-Sunnah, padahal Allah SWT berfirman :Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya.
Lalu bagaimana bisa mentaati Allah dan rasul-Nya jika ia tidak mengetahui perintah-perintah dan larangan-larangan yang tersebut dalam As-Sunnah, apalagi yang tersebut dalam Al-Quran , sebab didalam As-Sunnah terdapat hal-hal yang tidak terdapat dalam Al-Quran.

11. Aliran sufi menyeru untuk zuhud kepada dunia dan meninggalkan sebab-sebab (kerja) serta meninggalkan jihad

Padahal Allah SWT berfirman :
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kenikmatan) di negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu (dari kenikmatan ) di dunia.” (Al-Qashash : 72)
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu miliki.” (Al-Anfal : 59)

Hal seperti ini telah dialami oleh Ustadz Abdurrahman Mubarak ketika ikut bergabung dengan mujahidin di Maluku. Disana para mujahidin biasa melakukan ribath, yakni berjaga-jaga di daerah perbatasan untuk mengantisipasi sedini mungkin bila terjadi penyerangan dari pihak Nasrani. Akan tetapi ada sekelompok orang dari kalangan Firqah Tabligh (yang mereka itu adalah kelompok yang berpemahaman sufi) berkata kepada orang-orang yang mengamalkan suatu amalan yang sangat agung seperti yang diberitakan oleh Rasulullah SAW dalam hadits-hadits yang shahih (yakni ribath) dengan perkataan :Wahai fulan kemarilah bergabung bersama kami di masjid Allah untuk dzikrullah, bertawakkal-lah kepada Alah dari serangan mereka. Perkataan mereka ini tidak lain karena kebodohan mereka terhadap agama ini. Sesungguhnya Allah menyuruh kita untuk ikhtiar (berusaha) kemudian barulah bertawakkal kepada Allah seperti apa yang difirmankan oleh Allah SWT diatas, tidak seperti mereka kalangan firqah tabligh.

12. Sebagian aliran Sufi meyakini adanya wihdatul wujud (menyatunya hamba kepada Allah)

Sehingga tidak berbeda antara pencipta dan makhluk dan semua makhluk bisa menjadi sesembahan. Hal ini dikatakan oleh Ibnu Arabi (tokoh sufi) yang dikubur di Damsyiq, dia mengatakan :
Hamba ini adalah Tuhan dan Tuhan adalah hamba
Wahai siapa yang dibebani (ibadah) ?
Jika saya katakan saya adalah hamba itu betul.
Dan jika saya katakan saya adalah Tuhan, maka bagaimana akan dibebani ?
(Al-Futtuhat al Makiyyah, Ibnu Arabi)

Ini adalah kesyirikan yang Akbar yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam. Bagaimana seorang manusia mengaku bahwa dirinya adalah Tuhan, yang berikutnya ia mengatakan bahwa ia terbebas dari kewajiban ibadah (karena ia sudah berkedudukan sebagai Tuhan ) ?

13. Sufiyyah berdo’a kepada selain Allah yaitu kepada Nabi, para Wali yang hidup dan yang telah mati.

Mereka mengucapkan : “Yaa Jailani!, Yaa Rifa’i!, dan Yaa Rasulullah!”, sebagai tujuan istighatsah dan memohon pertolongan atau dengan ucapan, “Yaa Rasulullah! Engkaulah tempat bersandar.”

Sementara Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :”Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak pula memberi mudharat kepadamu selain Allah, sebab jika engkau berbuat yang demikian itu maka sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang zhalim(musyrik).”(Yunus :106)

Rasulullah SAW telah bersabda :
“Doa itu adalah ibadah.” (HR Tirmidzi dengan sanad hasan shahih)
Maka do’a itu adalah ibadah seperti halnya shalat yang tidak boleh ditujukan kepada selain Allah, sekalipun kepada Rasul dan para Nabi. Karena hal itu termasuk perbuatan syirik besar yang dapat menghapus amal baiknya di dunia dan menjadikan pelakunya kekal dineraka (kafir).

Demikian pula yang kita lihat dikitab-kitab rujukan mereka yang mereka memuji para syaikh mereka pada tingkat pujian yang sampai kepada perbuatan syirik. Namun sayangnya syair-syair dalam bahasa arab yang biasa mereka bacakan dari kitab-kitab tersebut tidak dipahami oleh kaum muslimin pada umumnya karena keterbatasan mereka untuk memahami bahasa arab dan jauhnya mereka dari ulama ahlus sunnah, sehingga merekapun tertipu olehnya.

14. Aliran Sufi memberikan kedudukan ihsan kepada Syaikh-Syaikh mereka

Dan meminta kepada pengikut-pengikutnya untuk menggambarkan (membayangkan) syaikh-syaikh mereka itu ketika berdzikir kepada Allah, bahkan dalam shalat mereka sekalipun. Aku (Syaikh Jamil Zainu) pernah melihat seorang dari mereka meletakkan gambar syaikhnya dihadapannya ketika shalat.

Sedangkan Rasulullah SAW bersabda :
“Al-Ihsan adalah kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, dan jika kamu tidak dapat melihat-Nya ketahuilah bahwa sesungguhnya Dia melihat-Mu.” (HR. Muslim)

15. Aliran Sufi mengatakan bahwa beribadah kepada Allah itu jangan takut neraka-Nya atau mengharap surga-Nya

Hal ini seperti yang dikatakan oleh Rabi’ah al-‘Adawiyyah (salah seorang tokoh sufi wanita, yang pekerjaannya adalah sebagai biduwanita):
“Ya Allah ! Jika aku beribadah kepada-Mu karena takut neraka-Mu maka tenggelamkanlah aku didalamnya,
Dan jika aku beribadah kepada-Mu karena mengharap surga-Mu maka haramkanlah aku darinya.”
(Dan perkataan ini pernah diucapkan oleh presenter pada saat kita melakukan Team Building di Cibubur)

Dan saya juga pernah mendengar pengikut aliran sufi menyanyikan perkataan Abdul Ghani an-Nabilisy :
“Barangsiapa beribadah karena takut neraka Allah, berarti dia penyembah api.
Dan barangsiapa yang beribadah karena menginginkan surga berarti dia penyembah berhala.”

Sementara Allah SWT memuji para Nabi yang mereka itu berdo’a untuk mendapatkan surga Allah dan takut dengan neraka-Nya. Allah SWT berfirman :
“Sesungguhnya mereka adalah orang yang selalu bersegera dalam mengerjakan kebaikan dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap dan cemas.” (Al-Ambiyaa’:90)
Maksudnya, mereka sangat berharap dengan surga Allah dan takut pada siksa (neraka) Allah. Allah menerangkan kepada Rasul-Nya :
“Katakanlah : Sesungguhnya aku takut akan azab yang besar (hari kiamat) jika kamu mendurhakai Tuhan-ku.” (Al-An’am : 15)

Rasulullah SAW saja, yang orang paling bertaqwa dibawah kolong langit ini pun dalam keadaan takut akan adzab Allah. Begitupula Beliau SAW sering berdoa diakhir shalatnya : Ya Allah, Sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari siksa kubur, dan dari siksa jahannam…. (HR. Bukhari & Muslim)

16. Aliran Sufi suka bermain musik yang mereka namakan dengan gambus dalam dzikir

Ini sesungguhnya adalah seruling-seruling syaithan. Sungguh Abu Bakar Ash-Shidiq ra. pernah masuk dirumah Aisyah ra. dan disana ada dua anak perempuan kecil yang sedang bermain rebana, maka berkata Abu Bakar ra. : Ini adalah seruling-seruling syaithan, ini adalah seruling syaithan. Maka Rasulullah SAW bersabda kepada Abu Bakar ra. : Biarkan mereka wahai Abu Bakar! Karena keduanya sedang merayakan hari raya. (HR. Bukhari dengan lafadz yang berbeda)

Darti hadits diatas Rasulullah SAW mengakui perkataan Abu Bakar ra. tanpa membantahnya (menyebut seruling syaithan) tetapi hanya karena pada saat itu sedang hari raya dan pelakunya adalah anak perempuan kecil maka dibolehkan.

Dan tidak ada dalil bahwa para sahabat dan tabiin, mereka itu bermain rebana (gambus) dalam berdzikir. Bahkan ini adaah perbuatan bidah yang dibuat oleh orang-orang sufi yang semua ini telah diperingatkan oleh Rasulullah SAW dengan sabdanya:
Barang siapa yang beramal dengan suatu amalan yang bukan atas perintah kami, maka tertolak. (HR. Bukhari dan Muslim).

17. Aliran Sufi membolehkan menari, bermain musik dan mengeraskan suara ketika berzikir

Kita dapat menyaksikan pengikut aliran sufi itu berdzikir dengan lafadz Allah saja dan pada akhirnya berdzikir dengan lafadz Hu (Dia) saja.
Padahal Rasulullah SAW bersabda :
“Dzikir yang paling utama adalah Laa Ilaaha Illallah (HR. Tirmidzi dengan sanad hasan shahih). Jadi, tidak dengan Allah dan Hu saja.

Di dalam berdzikir mereka mengangkat suaranya dengan keras dan bersamaan (koor/berjama’ah),
Padahal berdo’a seperti itu terlarang berdasarkan firman Allah SWT :
“Berdo’alah kepada Tuhan-mu dengan merendahkan diri dan suara yang lembut, sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-A’raaf : 55)
Maksudnya Allah tidak menyukai orang yang berlebihan dalam berdo’a dengan terlalu cepat dan dengan suara yang keras. (lihat tafsir Jalalain Imam Suyuthi).

Rasulullah SAW pernah mendengar para shahabat meninggikan suaranya dalam berdzikir, maka Beliau SAW bersabda kepada mereka :
“Wahai manusia ! rendahkanlah suaramu, sesungguhnya kalian tidak menyeru kepada Dzat yang tuli dan tidak ada, tetapi kalian berdo’a kepada Dzat Yang Maha Mendengar dan Maha Dekat dan Allah senantiasa bersamamu.” (HR. Muslim)
Allah bersamamu dengan Pendengaran dan Ilmu-Nya dan Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat.

Demikianlah yang kita lihat dijaman kita ini, dimana orang berdzikir dengan cara koor (bersama-sama) dan mengeraskan suaranya, bahkan menggunakan pengeras suara dicorong-corong speaker masjid.

18. Aliran Sufi mengaku mempunyai ilmu kasyaf (tersingkapnya segala rahasia-pent.) dan mengetahui yang ghaib

Ini adalah kedustaan yang telah dibantah oleh Allah SWT dengan firman-Nya :
Katakanlah : tidak ada seorangpun dilangit dan dibumi yang mengatahui perkara yang ghaib kecuali Allah. (An-Naml : 65)

Rasulullah SAW bersabda :
Tidak ada yang mengetahui perkara yang ghaib selain Allah. (HR. Thabrani dengan sanad Hasan)

19. Mereka suka menyertai ibadah mereka dengan Siulan dan Tepuk Tangan

Padahal siulan dan bertepuk tangan itu merupakan adat bagi kaum musyrikin dan ibadahnya mereka. Allah SWT berfirman :
Maka shalat mereka (kaum musyrikin) disekitar Baitullah itu tidak lain hanyalah siulan dan tepuk tangan. (Al-Anfaal : 35)
Al-Mukaa pada ayat ini adalah siulan dan At-Tashdiyah adalah tepuk tangan.

20. Aliran sufi beranggapan bahwa manusia bisa melihat Allah di dunia

Namun Al-Quran mendustakannya lewat lisan Nabi Musa as.:
…Berkata Musa : Ya Tuhanku ! Tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar dapat melihat kepada-Mu. Dia berkat : Engkau tidak akan dapat melihat-Ku (didunia). (Al-Araaf : 143)
Al-Ghazali (seorang tokoh sufi) telah menyebutkan daam kitabnya Ihya Ulumuddin (kitab terkenalnya) dalam bab Hikayatul Muhibbin wa Mukasyafatuhum,Pada suatu hari berkata Abu Turab :Coba sekiranya engkau melihat Abu Yazid, maka berkatalah temannya :Sesungguhnya aku tida butuh itu, sungguh au telah melihat Allah Taala sehingga mencukupi bagiku daripada melihat Abu Yazid. Berkata Abu Turab :Celakalah kamu ! Kamu telah tertipu dengan melihat Allah ! Sekiranya kamu melihat Abu Yazid (Al-Busthomi, tokoh sufi-pent.) sekali saja, itu lebih bermanfaat bagi kamu daripada melihat Allah 70 kali.
Kemudian berkata Al-Ghazali :Maka hendaknya orang mukmin tida mengingkari mukasyafah seoperti ini.
Saya (Syaikh Jamil Zainu) berkata :Bahkan wajib atas kaum mukminin untuk mengingkarinya karena ini adalah kedustaan dan kekufuran, menyelisihi Al-Quran, Hadits dan akal.

21. Aliran Sufi meyakini bahwa mereka itu mengambil ilmu dari Allah SWT secara langsung tanpa perantara Rasulullah SAW

Seperti apa yang dikatakan Ibnu Arabi (seorang tokoh besar sufi yang dikubur di Damaskus) dalam kitabnya Al-Fushush :Maa diantara kita ada khalifah dari Rasulullah yang mengambil hukum dari beliau SAW atau dari ijtihad yangtelah dikatakan oleh beliau SAW, dan diantara kami ada orang yang mengambil hukum langsung dari Allah maka ia adalah khalifah Allah !

Saya (Syaikh Jamil Zainu) katakan :Ini adalah ucapan yang batil, menyelisihi Al-Quran yang mengandung dalil bahwa Allah SWT mengutus Nabi SAW untuk menyampaikan Islam / Risalah kepada ummat manusia. Allah SWT berfirman :
Hai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan Allah kepadamu dari Tuhanmu. (Al-Maidah : 67)

Tidak mungkin seseorang mengambil ilmu langsung dari Allah SWT, itu kedustaan yang dibuat-buat.

22. Aliran sufi sering bepergian / ziarah ke kuburan-kuburan untuk memohon berkah dari penghuninya, thawaf atau berkurban kepadanya.

Kontributor: Abu Abdirrahman Uli
dikutip dari: http://www.perpustakaan-islam.com

Membongkar kesesatan dan kedustaan Ahmadiyah

Membongkar kesesatan dan kedustaan Ahmadiyah

Ahmadiyah adalah suatu aliran yang meyakini ada nabi setelah Nabi Muhammad saw, mereka meyakini Mirza Gulam Ahmad sebagai nabi mereka. Selain itu mereka mempunyai kitab suci yang dikenal dengan nama Tadzkirah sebagaimana umat Islam mempunyai Al-Qur`an. Semoga artikel ini dapat sebagai peringatan akan bahaya aliran sesat ini. Artikel ini dikutip dari Buletin LPPI.

1.Aliran Ahmadiyah-Qadiyani itu berkeyakinan bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Nabi dan Rasul, kemudian barangsiapa yang tidak mempercayainya adalah kafir murtad

2.Ahmadiyah-Qadiyani memang mempunyai Nabi dan Rasul sendiri yaitu Mirza Ghulam Ahmad dari India

3.Ahmadiyah-Qadiyan mempunyai kitab suci sendiri yaitu kitab suci Tadzkirah

4.Kitab suci”Tadzkirah” tersebut adalah kumpulan wahyu yang diturunkan “tuhan” kepada Mirza Ghulam Ahmad yang kesuciannya sama dengan kitab suci Al-Qur’an, karena sama-sama wahyu dari Tuhan, tebalnya lebih tebal dari Al-Qur’an, dan kitab suci Ahmadiyah tersebut ada di kantor LPPI

5.Kalangan Ahmadiyah mempunyai tempat suci tersendiri untuk melakukan ibadah haji yaitu Rabwah dan Qadiyan di India. Mereka mengatakan: “Alangkah celakanya orang yang telah melarang dirinya bersenang-senang dalam haji akbar ke Qadiyan. Haji ke Makkah tanpa haji ke Qadiyan adalah haji yang kering lagi kasar”. Dan selama hidupnya “nabi” Mirza tidak pernah haji ke Makkah

6.Kalau dalam keyakinan umat Islam para nabi dan rasul yang wajib dipercayai hanya 25 orang, dalam ajaran Ahmadiyah Nabi dan Rasul yang wajib dipercayai harus 26 orang, dan Nabi dan Rasul yang ke-26 tersebut adalah “Nabi Mirza Ghulam Ahmad”

7.Dalam ajaran Islam, kitab samawi yang dipercayai ada 4 buah yaitu: Zabur, Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Tetapi bagi ajaran Ahmadiyah Qadiyan bahwa kitab suci yang wajib dipercayai harus 5 buah dan kitab suci yang ke-5 adalah kitab suci “Tadzkirah” yang diturunkan kepada “Nabi Mirza Ghulam Ahmad”

8.Orang Ahmadiyah mempunyai perhitungan tanggal, bulan dan tahun sendiri. Nama bulan Ahmadiyah adalah: 1. Suluh 2. Tabligh 3. Aman 4. Syahadah 5. Hijrah 6. Ihsan 7. Wafa 8. Zuhur 9. Tabuk 10. Ikha’ 11. Nubuwah 12. Fatah. Sedang tahunnya adalah Hijri Syamsi yang biasa mereka singkat dengan H.S. Dan tahun Ahmadiyah saat ini adalah tahun 1373 H.S (1994 M atau 1414 H). Kewajiban menggunakan tanggal, bulan dan tahun Ahmadiyah tersendiri tersebut di atas perintah khalifah Ahmadiyah yang kedua yaitu Basyiruddin Mahmud Ahmad

9.Berdasarkan firman “tuhan” yang diterima oleh “nabi” dan “rasul” Ahmadiyah yang terdapat dalam kitab suci “Tadzkirah” yang artinya: “Dialah tuhan yang mengutus rasulnya “Mirza Ghulam Ahmad” dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya atas segala agama-agama semuanya.(“kitab suci Tadzkirah” hal. 621)

Berdasarkan keterangan yang ada dalam kitab suci Ahmadiyah di atas BAHWA AHMADIYAH BUKAN SUATU ALIRAN DALAM ISLAM, TETAPI MERUPAKAN SUATU AGAMA YANG HARUS DIMENANGKAN TERHADAP SEMUA AGAMA-AGAMA LAINNYA TERMASUK AGAMA ISLAM

10.Ahmadiyah mempunyai nabi dan rasul sendiri, kitab suci sendiri, tanggal, bulan dan tahun sendiri, tempat untuk haji sendiri serta khalifah sendiri yang sekarang khalifah yang ke-4 yang bermarkas di Inggris bernama: Thahir Ahmad. Semua anggota Ahmafiyah di seluruh dunia wajib tunduk dan taat tanpa reserve pada perintah dia. Orang di luar Ahmadiyah adalah kafir dan wanita Ahmadiyah haram kawin dengan laki-laki di luar Ahmadiyah. Jika tidak mau menerima Ahmadiyah tentu mengalami kehancuran

11.Berdasarkan “ayat” kitab suci Ahmadiyah “Tadzkirah” bahwa tugas dan fungsi Nabi Muhammad saw sebagai nabi dan rasul yang dijelaskan oleh kitab suci umat Islam Al-Qur’an, dibatalkan dan diganti oleh “nabi” orang Ahmadiyah Mirza Ghulam Ahmad

11.1. Firman “tuhan” dalam “kitab suci” Tadzkirah:
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab suci’Tadzkirah” ini dekat dengan Qadiyan-India. Dan dengan kebenaran Kami menurunkannya dan dengan kebenaran dia turun.” (“kitab suci” Tadzkirah hal.637)
11.2. Firman “tuhan” dalam “kitab suci” Tadzkirah:
Artinya: ”Katakanlah-wahai Mirza Ghulam Ahmad-jika kamu benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku”
(“kitab suci” Tadzkirah hal. 630)
11.3.Firman “tuhan” dalam “kitab suci” Tadzkirah
Artinya: “Dan Kami tidak mengutus engkau-wahai Mirza Ghulam Ahmad-kecuali untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam”. (kitab suci “Tadzkirah” hal. 634)
11.4. Firman “tuhan” dalam kitab suci “Tadzkirah”:
Artinya: “Katakan wahai Mirza Ghulam Ahmad-sesungguhnya aku ini manusia biasa seperi kamu, hanya diberi wahyu kepadaku”.(“kitab suci Tadzkirah hal. 633)
11.5. Firman “tuhan” dalam “kitab suci” Tadzkirah:
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu – wahai Mirza Ghulam Ahmad – kebaikan yang banyak” (“kitab suci” Tadzkirah hal.652)
11.6. Firman “tuhan” dalam “kitab suci” Tadzkirah:
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menjadikan engkau – wahai Mirza Ghulam Ahmad – imam bagi seluruh manusia” (“kitab suci” Tadzkirah hal. 630)
11.7. Firman “tuhan” dalam “kitab suci” “Tadzkirah”:
Artinya: “Oh, pemimpin sempurna, engkau – wahai Mirza Ghulam Ahmad – seorang dari rasul, yang menempuh jalan betul, diutus oleh Yang Maha Kuasa, Yang Rahim” (“kitab suci” Tadzkirah hal. 658-659)
11.8. Firman “tuhan” dalam “kitab suci” Tadzkirah:
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam lailatul qadr” (kitab suci Tadzkirah hal. 519)
11.9. Firman “tuhan” dalam “kitab suci” Tadzkirah:
Artinya: “Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar tetapi Allah-lah yang melempar. (Tuhan) Yang Maha Pemurah, yang telah mengajarkan Al-Qur’an” (“kitab suci” Tadzkirah hal.620)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat kitab suci Al-Qur’an yang dibajaknya. Ayat-ayat “kitab suci” Ahmadiyah Tadzkirah yang dikutip di atas, adalah penodaan dan bajakan-bajakan dari kitab suci Umat Islam Al-Qur’an.
Dan Mirza Ghulam Ahmad mengaku pada umatnya -orang Ahmadiyah-bahwa ayat-ayat tersebut adalah wahyu yang dia terima dari “tuhannya” di I N D I A.

12. PENODAAN AGAMA DAN HUKUMNYA

12.1 Pada Kitab Undang-undang Hukum Pidana diadakan pasal baru yang berbunyi sbb: PASAL 56 a:
Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun, barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan: a. yang pokoknya bersifat permusuhan. Penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama di Indonesia.

12.2 Surat edaran Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji Nomor D/BA.01/3099/84 tanggal 20 September 1984, a.l.:
2. Pengkajian terhadap aliran Ahmadiyah menghasilkan bahwa Ahmadiyah-Qadiyan dianggap menyimpang dari Islam karena mempercayai Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi, sehingga mereka percaya bahwa Nabi Muhammad saw bukan nabi terakhir.

13.1. Malaysia telah melarang ajaran Ahmadiyah di seluruh Malaysia sejak tanggal 18 Juni 1975.

13.2. Brunei Darussalam juga telah melarang ajaran Ahmadiyah di seluruh Brunei Darussalam.

13.3. Rabithah `Alam Islami yang berkedudukan di Makkah telah mengeluarkan fatwa bahwa Ahmadiyah adalah KAFIR dan KELUAR DARI ISLAM.

13.4. Pemerintah Kerajaan Arab Saudi telah mengeluarkan keputusan bahwa Ahmadiyah adalah KAFIR dan TIDAK BOLEH pergi haji ke Makkah.

13.5. Pemerintah Pakistan telah mengeluarkan keputusan bahwa Ahmadiyah adalah golongan MINORITAS NON MUSLIM.

14. K E S I M P U L A N

a.Ahmadiyah sebagai perkumpulan atau jemaat didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad di Qadiyan – I N D I A (sekarang Pakistan) tahun 1889, yang karena perbedaan pandangan tentang penerus kepemimpinan dalam Ahmadiyah dan ketokohan pendirinya berkembang dua aliran, yaitu Anjuman Ahmadiyah (Ahmadiyah Qadiyan) dan Anjuman Ishaat Islam Lahore (Ahmadiyah Lahore).Kedua aliran tersebut mengakui kepemimpinan dan mengikuti ajaran serta paham yang bersumber pada ajaran Mirza Ghulam Ahmad.

b.Jemaat Ahmadiyah masuk dan berkembang di Indonesia sejak tahun 1920-an dengan menamakan diri Anjuman Ahmadiyah Qadiyan Departemen Indonesia dan kemudian dinamakan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) yang dikenal dengan Ahmadiyah Qadiyan, dan Gerakan Ahmadiyah Lahore Indonesia (GIA) yang dikenal dengan Ahmadiyah Lahore.

c.Mirza Ghulam Ahmad mengaku telah menerima wahyu, dan dengan wahyu itu dia diangkat sebagai nabi, rasul, al-Masih Mau`ud dan Imam Mahdi. Ajaran dan faham yang dikembangkan oleh pengikut Jemaat Ahmadiyah Indonesia khususnya terdapat penyimpangan dari ajaran Islam berdasarkan Al-Qur`an dan Al-Hadits yang menjadi keyakinan umat Islam umumnya, antara lain tentang kenabian dan kerasulan Mirza Ghulam Ahmad sesudah Rasulullah saw.(BALITBANG DEPAG RI, Jakarta, 1995 hal. 19, 20,21)

P E N U T U P

Sebagai penutup brosur ini, kami kutip sebuah ayat Al-Qur`an yang mengancam orang yang mengaku menerima wahyu serta menulis kitab dengan tangannya sendiri, kemudian dikatakannya dari Allah swt dengan dusta yang amat keji seperti yang dilakukan oleh nabi Mirza di atas.
Allah swt berfirman:
Maka kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri lalu dikataknnya: Ini dari Allah, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaanlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka akibat dari apa yang mereka kerjakan. (Q.S. Al-Baqarah 79)

Cat: Apabila PB Ahmadiyah berkeberatan dengan isi brosur ini, alangkah baiknya diselesaikan melalui debat terbuka yang disaksikan oleh umat.

Sumber: Buletin LPPI. Masjid Al-Ihsan Lt.III Proyek Pasar Rumput Jakarta 12970 Telp/Fax. (021)8281606

[Kontributor : Muslim, 02 Juni 2002 ]

dikutip dari: http://www.perpustakaan-islam.com

Sikap Syi’ah Itsna Asyriyah terhadap Abu Bakar dan Umar Radiyallahu ‘Anhuma

Sikap Syi’ah Itsna Asyriyah terhadap Abu Bakar dan Umar Radiyallahu ‘Anhuma.

 

                        Ketiganya menyerbu dengan penuh ketangkasan

                        Hidup mereka tiada terpisahkan

                        Mati pun berkumpul tatkala dikuburkan

                        Tak seorang muslimpun yang memiliki mata pengelihatan

                        Mengingkari  yang ada pada mereka berupa keutamaan

 

 

            Tahukah kalian siapakah yang dimaksud oleh Hasan Bin Tsabit Radiyallahu ‘Anhu ” ketiganya menyerbu“?

 

            Sungguh mereka adalah Rasul Shalallohu Alaihi Wasalam  dan dua sahabatnya, kekasihnya, , wazir beliau dari penduduk dunia, Abu Bakar dan Umar Radiyallahu ‘Anhuma.

 

 

            Saya telah kemukakan contoh-contoh cercaan kaum Syi’ah yang ditujukan pada masing-masing sahabat ini. Kaum Syi’ah masih memiliki ‘stok’ hinaan yang siap ditikamkan kepada kedua sahabat ini secara bersamaan. Saya akan sebutkan beberapa diantaranya”

 

1. Keyakinan mereka akan wajibnya melaknat keduanya.

 

Syi’ah Itsna Asyriyah mewajibkan golongannya melaknat Syaikhoni,Abu Bakar dan Umar Radiyallahu ‘Anhuma dan menyatakan  bahwa sebagian Imam merekapun  telah melaknatnya.

 

Kepada Ali mereka nisbahkan suatu kebohongan, tatkala ada seseorang yang ingin membaiatnya atas apa yang telah dilakukan Abu Bakar ia membentangkan kedua tanganya dan berkata,” Bertepuklah, Allah telah melaknat dua orang”. [94]

 

Sulaim Bin Qois mengatakan Ali senantiasa melaknat syaikhoni[95]. Demikian pula- menurut anggapan mereka- Imam Ja’far Ash Shadiq melaknat keduanya setiap selesai shalat wajib.[96]

 

Kaum Syi’ah juga kreatif mengarang banyak do’a guna melaknat Syaikhani  dalam kitab-kitab mereka. Memalsukan hadits tentang keutamaan do’a tersebut agar orang syi’ah bersemangat dalam membaca, mengulang-ulang dan berdo’a dengannya. Diantaranya satu do’a yang berjudul ” Do’a untuk dua berhala quraisy”. Do’a ini merupakan do’a khusus bagi kaum Syi’ah dalam melaknat Syaikhoni dan dua putrinya yang menjadi isteri Rasul Shalallohu Alaihi Wasalam. Menurut mereka Ali Bin Abi Thalib Radiyallahu ‘Anhu juga berqunut dengan do’a ini dalam shalat witirnya[97]. Ia berkata,” Sesungguhnya orang yang berdo’a dengannya laiknya orang yang melempar panah bersama Nabi dalam Perang Badar Dan Hunain”. ” Do’a ini merupakan rahasia yang samar dan dzikir yang mulia”[98]. Dan beliau rajin membacanya pada siang, malam maupun diwaktu sahur –menurut anggapan mereka-.[99]

 

Kepada Imam Ahli Bait mereka menisbahkan keutamaan hadits ini- yang semuanya adalah dusta- bahwa barang siapa yang membaca do’a ini sekali Allah akan menulis baginya 70.000 kebaikan, menghapus 70.000 keburukan dan mengangkat 70.000 derajat serta memenuhi puluhan ribu kebutuhannya.[100] Dan Barangsiapa melaknat Abu Bakar dan Umar -Radiyallahu ‘Anhuma- pada pagi hari, takkan ditulis baginya satu kejelakan pun hingga sore, dan barangsiapa melaknat keduanya pada sore hari, takkan ditulis baginya satu kejelakn pun hingga pagi tiba.[101]

 

Kaum Syi’ah sangatlah memperhatikan do’a ini, mereka menganggapnya termasuk do’a yang masyru[102]. Mereka pun mengarang syarhnya  yang jumlahnya lebih dari sepuluh syarh(penjelasan).[103]

 

Para penulis Syi’ah banyak yang menyebutkan do’a ini, sebagian atau kesuluruhan. Diantara yang menyebutkan secara keseluruhan adalah Al Kaf’amy[104], Al Ka syany[105], An Nury At Tabrasy[106], Asadullah At Tahrany Al Ha’iry[107], Sayyid Murtadzo Husein[108], MandzurBin Husein[109] dan lainnya. Dan yang hanya menyebutkan petikannya saja diantaranya Al Kurky dalam” Tufahat Al Lahutu fie la’ni Al Jibti wa At Thaghut”[110] dan AL Kasyany dalam “Kurratu Al Ain”[111]. Ad Damadi Al Huseini dalam” Syir’atu At Tasmiyah Fie Az Zamani Al Ghibah[112]’, Al Majlisi dalam ” Mir’atu Al ‘Uqul”[113], At Tusturi dalam ” Ihqaqu Al Haq”[114], Abu Hasan Al ‘Amily dalam Muqadimah tafsir Al Burhannya[115], Al Ha’iry dalam “Ilzami An Nashib”[116], An Nury At Tabrasy dalam ” Fashlu AL Khitab”[117], Abdullah Sybr dalam ” Haq Al Yaqin”[118] dan lainnya.

 

Disebut do’ a untuk dua berhala Quraisy karena awalnya berbunyi,” Ya Allah berikanlah salam sejahtera Atas Muhammad dan keluarganya dan laknatlah dua berhala Quraisy, dua jabatihima, dua thagutnya dan kedustaannya dan dua putrinya….dst.

 

Maksud dari dua berhala Quraisy  adalah Abu Bakar dan Umar Radiyallahu ‘Anhuma – semoga Allah meridhai keduanya dan mengadili orang yang membencinnya- sebagaimana banyak diterangkan orang syi’ah dalam banyak literatur mereka. Diantaranya:  Al Kaf’amy dalam syarh do’a ini[119], Al Kurky dalam” Tufahat Al Lahat”[120], Al Majlisy[121], Ad Damadi Al Huseini[122], At Tusturi dalam ” Ihqaqu Al Haq[123], Al Ha’iry dalam “Ilzami An Nashib”[124] An Nury At Tabrasy dalam ” Fashlu Al Khitab”.[125]

 

Sebagian kaum syi’ah tidak secara jelas menyatakan makna kedua berhala itu adalah Abu Bakar dan Umar- ini adalah taktik taqiyah yang mereka gunakan untuk bermuamalah dengan Ahli sunnah tapi hanya menyebutkan isyarat berupa gelar yang dengannya sesama orang Syi’ah akan tahu maksud dari gelar tersebut. Al Kasyani  menyebutkan  :” Maksud dua berhala itu adalah Fir’aun dan Haman”. Ia juga berkata,” Makhluq paling rendah adalah dua berhala Quraisy laknatullah alaih, keduannya adalah Fir’aun dan Haman “[126]. Sedang Fir’aun dan Haman adalah gelar yang mereka sandangkan untuk syaikhoni – Abu Bakar dan Umar Radiyallahu ‘Anhuma-.

 

Abu Al Hasan Al Amily mengisyaratkan makna dua berhala Quraisy dengan “Fulan dan Fulan atau Jibt dan Thaghut[127] yang maksudnya adalah syaikhoni.

 

Do’a yang oleh kaum Syi’ah dinamakan” Do’a Dua Berhala Quraisy “ ini sangat sarat dengan laknat, umpatan,hinaan dan do’a demi kecelakaan untuk syaikhoni[128]. Pula penuh dengan kisah-kisah palsu dan tuduhan keji tak berdasar yang kentara sekali kebohongannya. Semua tuduhan itu mereka hunjamkan pada diri orang yang paling mulia setelah Nabi Shalallohu Alaihi Wasalam. Sebagai contoh : Dakwaan mereka bahwa keduanya mengingkari wahyu, merubah Al Qur’an, menyelisihi Syar’i, menghapus hukum, membakar negeri, merusak para hamba, merobohkan rumah Nabi Shalallohu Alaihi Wasalam dan banyak lagi kedustaan lainnya yang kesemuanya tidak dilandasi petunjuk atau diperkuat dalil dan hujjah. Sehingga apa yang ada dalam diri Kaum Syi’ah yang sebenarnya tersingkap jelas, yaitu kedengkian yang mendalam serta rasa benci yang tak terkira pada para sahabat Rasul Shalallohu Alaihi Wasalam, bahkan pada yang paling afdhol dari mereka semua, yang Rasul memerintahkan kita beriqtida’(mencontoh) pada mereka sepeninggal beliau.

 

 

Adapun Aqidah Syi’ah dalam hal bara’ kepada Syaikhoni sebagaiman berikut :

 

Dalam aqidah mereka, berlepas diri dari keduanya juga dari Utsman dan Muawiyah dianggap sebagai dharuriyat mazhab mereka. Barangsiapa tidak berlepas diri dari mereka ia bukan termasuk golongan mereka.

 

Al Majlisi –referensi Syi’ah Muashir- berkata :” Termasuk dari dharuriyat agama Imamiyah adalah bara’ (berlepas diri) dari Abu bakar, Umar, Utsman dan Muawiyah……..”[129]

 

Bahkan bara’ terhadap mereka dipercaya menjadi sebab hilangnya penyakit dan obat bagi tubuh,[130] barangsiapa yang telah berlepas diri dari mereka kemudian mati pada malam harinya ia akan masuk jannah. Diriwayatkan Al Kulainy dalam Kitabnya ” Al Kafy” –termasuk salah satu dari empat ushul yang terkenal di kalangan Syi’ah- dengan sanad dari keduanya[131] ia berkata,” Barangsiapa berdo’a” Ya Allah aku bersaksi kepadamu dan bersaksi pada malaikat-malaikat Al Muqarrabien, para pembawa Arsy yang terpilih bahwa engkaulah Allah yang tiada ilah selain engkau. Maha pengasih lagi Maha Penyayang dan bahwa Muhammad adalah hamba dan RasulMu dan Fulan adalah Imam dan Waliku[132],dan bahwa ayahnya Rasulullah Shalallohu Alaihi Wasalam, juga Ali bin Abi Talib, Al Hasan dan Al Husein, fulan, fulan –dan seterusnya hingga berakhir padanya-[133] adalah waliku. Untuk itu aku hidup dan mati serta dibangkitkan dihari Kiamat Aku berlepas diri dari fulan, fulan dan fulan. Jika ia mati pada malam harinya ia akan masuk surga”[134]

 

Yang dimaksud Fulan, Fulan dan Fulan adalah Abu Bakar Umar dan Utsman.

 

Menurut mereka tidak hanya kaum Syi’ah saja yang melaknat dan belepas diri dari Abu Bakar Umar dan Utsman, tapi ada suatu golongan yang Allah ciptakan khusus untuk melaknat mereka.

 

Kaum  Syi’ah menisbatkan riwayat dusta pada Ja’far Ash Shadiq bahwa ia berkata :” Sesungguhnya di balik matahari kalian ini ada empat puluh planet yang didalamnya terdapat makhluk yang banyak. Dan di balik bulan kalian ini ada empat puluh bulan yang didalamnya juga terdapat makhluk yang banyak jumlahnya. Mereka tidak tahu apakah Allah mencipta atau tidak, hanya mereka dilhami satu ilham berupa laknat atas Fulan dan fulan….”.

 

Dalam riwayat Al Kulainy pengarang Al Kafy :” Mereka tidak bermaksiat kepada Allah sekejap matapun dan berlepas diri dari Abu Bakar dan Umar”[135].Al Majlisi mengkaitkan perkataan ini dengan perkataanya ” Fulan dan Fulan” maksudnya Abu Bakar dan Umar Radiyallahu ‘Anhuma[136].

 

Ringkasnya :

 

Syi’ah Itsna Asyriyah sepakat untuk melaknat Abu Bakar dan Umar Radiyallahu ‘Anhuma, berlepas diri dari mereka dan mewajibkannya kepada para pemeluknya.

 

Dan tentu saja, apa yang diyakini  Imam-imam mereka menyelisihi apa yang mereka katakan berkenaan dengan syaikhani khususnya dan para sahabat pada umumnya. Akan kami ketengahkan sebagian perkataan para Imam itu. Dan semua yang mereka nisbahkan pada mereka tidak lain hanyalah kedustaan yang mereka karang. Pernyataan Imam tersebut diantaranya:

 

Adalah Amirul Mu’minin Radiyallahu ‘Anhu melarang sebagian tentaranya  mencela Muawiyah Radiyallahu ‘Anhu –padahal dibanding Syaikhani keutamaan beliau lebih rendah sebagaimana diakui kaum Syi’ah sendiri- dan berkata pada mereka,” Tentang apa yang dinisbahkan kaum Syi’ah dalam kitab-kitab mereka aku tidak menyukainya dan melarang kalian menjadi para pencela dan pelaknat”[137]. Dan menurut pandangan mereka apa yang Ia benci  dari kaumnya ia membenci pula hal itu atas dirinya.

 

Pada dasarnya Amirul Mu’minin tidak saja membenci bahkan menyuruh untuk membunuh orang yang berani melaknat Abu Bakar dan Umar Radiyallahu ‘Anhu

 

Imam Ahmad dan At Tabrani[138] meriwayatkan dengan sanad hasan dari Amirul Mukninin Ali Bin Abi Talib Radiyallahu ‘Anhu bahwa ia berkata,” Akan datang suatu kaum setelah kita yang mengaku dari golongan kita tapi sebenarnya bukan golongan kita, mereka memiliki An Nibz[139] atau gelar-gelar dan tanda untuk mencela Abu Bakar dan Umar Radiyallahu ‘Anhuma. Jika kalian menemui mereka maka bunuhlah karena mereka adalah orang musyrik”.[140]

 

Tatkala dikabarkan pada beliau bahwa ada orang yang mencela Syaikhani, beliau mengancamnya dengan had (hukuman)  seorang Muftary  (pembuat dusta besar) yaitu 80 kali jilid. Diriwayatkan Syaikh Muhammad bin Abdil Wahid Al Maqdisy dengan sanadnya dari Amirul Mukminin bahwa telah sampai kabar padanya bahwa ada beberapa orang yang mencela Abu Bakar dan Umar Radiyallahu ‘Anhuma, maka beliau berkata ” Semoga Allah melaknat orang yang dihatinya terdapat perasaan tentang keduanya selain dari yang baik. Lalu beliau naik mimbar dan berkhotbah dihadapan mausia dengan khutbah yang sangat menyentuh dihati :” Apa urusan orang-orang itu menyebut-nyebut dua penghulu Quraisy, dua bapak kaum muslimin?! Saya berlepas diri dari apa yang mereka katakan, dan atas perkataan mereka akan ada balasan. Ketahuilah …demi yang membelah biji dan Yang menghembuskan angin, tidaklah mencintai keduanya selain seorang mukmin yang bertakwa dan tidaklah seseorang membencinya selain pendosa yang rendah”.

 

Kemudaian beliau terus menerus menyebutkan  keutamaan keduanya Radiyallahu ‘Anhuma. Dari keredhoan Nabi ketika wafat, kerelaan manusia membaiatnya, kisah-kisah keduanya dalam kekhalifahan hingga sampai pada perkataannya,” Ketahuilah, barangsiapa yang mencintaiku maka cintailah keduanya, dan barang siapa tidak mencintai keduanya maka ia telah membenciku dan aku berlepas diri darinya. Ketahuliah siapa saja yang pada saat aku mendatanginya mengatakan hal ini- celaan pada Syaikhani-  maka baginya hukuman seorang muftary. Ketahuilah orang terbaik setelah Nabi Adalah Abu bakar dan Umar jika aku mau niscaya aku sebutkan yang ketiga. Aku memohon ampun kepada Allah bagiku dan kalian semua”.[141]

 

Sangat urgen bagi Kaum Syi’ah untuk memperhatikan ucapan agung dari Imam yang mulia ini. Sungguh beliau tidak hanya melarang dari mencela dan membenci dua sahabat tersebut beliau bahkan menjadikan kecintaan terhadap mereka sebagai tanda kecintaan terhadap dirinya yang mulia, mengutamakan keduanya atas dirinya sendiri dengan menjadikan keduanya orang  terbaik  setelah Nabi Shalallohu Alaihi Wasalam.

 

Dan bahwa dalam mengutamakan keduanya terdapat riwayat yang mutawatir dari beliau dengan berbagai bentuk, suatu ketika beliau naik mimbar Kufah dan seluruh yang hadir pun mendengarnya, lalu berkata :” Sebaik-baik umat setelah Nabinya adalah Abu Bakar dan Umar!”[142]

 

Al Bukhary dalam shahihnya meriwayatkan dari Muhammad bin Al Hanafiyah – beliau putra Ali dari isterinya yang berasal dari kabilah Hanafiyah-  ia berkata,” Aku berkata pada bapakku,” Siapakah manuisa terbaik setelah Nabi ?” Beliau menjawab,” Abu Bakar”. ” Lalu ?” lanjutku.” Kemudian Umar”.[143]

 

Dan ketika Ibnu Saba’ terang-terangan menghina Abu Bakar, Ali Bin Abi Thalib menyuruh untuk membunuhnya tapi sebagian orang memintakan ampunan atasnya maka dibatalkanlah hukuman bunuh ,kemudian dia di asingkan ke Mada’in –sebagaimana diakui oleh sebagian Syi’ah-.[144]

 

Semoga Allah meridhai Amirul Mu’minin dan membalasnya dengan kebaikan atas kebajikannya yang telah menempatkan hak keduanya  sesuai proporsinya dan mengakui keutamaan pada yang memilikinya. Hanyasanya yang mengakui keutaman dari pemilik keutamaan adalah orang yang memiliki keutamaan pula.

 

Keyakinan beliau tentang Syaikhani sebgaimana keyakinan Syi’ah di zaman dahulu. Mereka tidak menghujat Abu Bakar dan Umar. Inilah pernyataan ulama besar Syi’ah, Abu Al Qasim menuturkan bahwa ada seorang bertanya kepada Syuraik bin Abdillah bin Abi Numair – termasuk kibaru sahabat Ali Radiyallahu ‘Anhu – ,” Siapa yang lebih utama, Abu Bakar atau Ali ?” Syuraik menjawab,” Abu Bakar”. ” Apakah engkau  mengatakan hal ini sedang engkau berasal dari golongan kami?”. Lanjutnya.” Ya”, jawab Syuraik” .”Yang disebut orang Syi’ah adalah orang yang mengatakan hal seperti ini. Demi Allah Ali RA telah menaiki kaki-kaki mimbar ini – yang dimaksud adalah mimbar Kufah- dan berkata,” Ketahuilah, umat terbaik setelah Nabinya adalah Abu Bakar dan Umar”. Apakah kita menyanggah perkataan beliau? Atau mendustakannya? Demi Allah beliau tidaklah berbohong.!”[145]

 

Imam Ali Bin Muhammad, Abu Ja’far Al Baqir mutlak melarang laknat dan celaan juga memberitahukan bahwa Allah membenci hal itu, beliau berkata,” Sesungguhnya Allah membenci orang yang suka melaknat, mencela, mencerca,dan suka berbuat fahisah (zina)”. Ini pengakuan salah seorang Syi’ah sendiri[146], maka apakah Imam yang maksum –menurut mereka – melakukan hal yang dibenci Allah?!

 

Beliau juga berwala’ pada Abu Bakar dan Umar RA dan mengkhabarkan bahwa tak seorang Ahli Bait pun yang mencela keduanya. Ketika Jabir Al Ja’fi bertanya kepadanya tentang Syakhani “Adakah diantara kalian, ahli bait yang yang menghina Abu Bakar dan Umar?”, beliau jawab,” Tidak. Dan aku mencintai keduanya, berwala’ dan memohonkan ampun untuk mereka,”[147]

 

Adapun Imam Ja’far Ash Shadiq – Imam Kaum yang keenam- beliau bahkan tidak hanya berwala’ saja tapi juga menyuruh para pengikutnya untuk memberikan wala’nya pada kedua sahabat ini. Al Kulaini meriwayatkan dalam Kitab Al Kafi – Kitab ini menurut Syi’ah setara dengan Sahih Bukhari – dengan sanadnya dari Ash Shadiq bahwa ia berkata pada seorang wanita Syi’ah yang  bertanya kepadanya tentang Abu Bakar, haruskah aku memberikan wala’ pada keduanya?”. “Berwla’lah pada keduanya!” jawab beliau.” “Kemudian jika aku bertemu Rabku aku katakan  pada Nya bahwa engkaulah yang menyuruhku?”. Beliau menjawab ,” Ya”.[148]

 

Zaid Bin Ali bin Abi Thalib menceritakan bahwa beliau belum pernah mendengar dari bapak-bapaknya  seorangpun yang berlepas diri terhadap Abu Bakar dan Umar Radiyallahu ‘Anhuma –seperti di nukilkan kaum Syi’ah-[149]. Diantara mereka adalah: Zainul Abidin, Ali Bin Al Husein, Al Hasan Bin Ali, dan Ali bin Abi Talib.

 

Tidakkah kaum Syi’ah bisa berlapang dada sebagaimana Imam mereka dari berwala’ kepada Syaikhani dan ridha terhadap mereka, tidak bara’ ataupun melaknat keduanya?!

 

Tak hanya itu, Zaid Bin Ali bahkan mengaplikasikan wala’nya dengan perbuatan, yaitu tatkala datang padanya satu kaum yang menyatakan diri bergabung dengan Syi’ah dan mencintai Ahli Bait memintanya agar berlepas diri dari dua syaikh tersebut untuk kemudian mereka akan berbaiat kepadanya –terjadi ketika beliau keluar memerangi Umawiyun-.maka beliau mengucapkan kalimat yang membuat mulut-mulut mereka bungkam. Dan beliau menerangkan pada mereka makna tasyayu’ yang benar :” Aku berlepas diri dari orang yang berlepas diri dari keduanya[150], bara’ah dari Abu Bakar dan Umar berarti bara’ah dariku”[151]. Lalu mereka berkata,” Jika demikian kami menolakmu”.[152]

 

Demikianlah ucapan orang-orang yang dianggap Syi’ah sebagai Imam. Beginilah sikap mereka, berwala’ kepada Abu Bakar dan Umar juga seluruh sahabat. Mengasihi dan tidak berlepas diri serta menghasung manusia agar memberikan wala’nya pada mereka dan mencintai mereka, mewanti-wanti mereka agar jangan membenci ataupun mencela mereka. Maka bagaimana mungkin mereka mengklaim berintisab pada para Imam tersebut sedangkan bara’ah dari syaikhani  dan para sahabat menurut Syi’ah adalah wajib. Sebuah  pertanyaan yang jawabanya kita serahkan pada mereka.

 

2.Anggapan kaum Syi’ah perihal akan dikembalikannya Abu Bakar dan Umar Radiyallahu ‘Anhuma kedunia sebelum hari Kiamat untuk diqishas dan diazab dengan keras.

 

Syi’ah Itsna Asyriyah meyakini, Abu Bakar dan Umar akan dikembalikan kedunia sebelum Kiamat untuk diqishah dengan tangan  Sang Pembangkit Ahli Bait – Mahdi Kaum Syi’ah yang ditunggu-tunggu- . Menurut mereka Al Qur’an Al Kariem memberitahukan akan kembalinya mereka dan akan diazab dengan berbagai macam sikasaan. Mereka mengambil dalil dari AlQuran tentang kisah kaum Musa AS dan peristiwa yang menimpa Fir’aun dan tentaranya.

 

Dan kami hendak memberi karunia kepada oran-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-rang yang mewarisi (bumi)

Dan akan kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan kami perlihatkan kepada Fir’aun dan haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu. ( Al Qosos Ayat5-6)

 

Maksud dari Firaun dan Haman disitu adalah Abu Bakar dan Umar – sungguh keduanya jauh dari apa yang mereka tuduhkan-. Mereka di bangkitkan oleh Al Qo’im ( Sang pembangkit) di hari Kiamat sebagai obat penawar bagi orang-orang Syi’ah.

 

Muhammad Bin Al Hasan Asy Syaibani dalam kitabnya ” Kasyfi Nahji AL Haq” menyandarkan riwayat pada Muhammad bin Ali Al Baqir dan Ja’far Ash Shadiq Rahimahumallah – keduanya berlepas diri dari tuduhan ini- perkataan keduanya tentang tafsir ayat ini:” Sesungguhnya Firaun dan Haman  disini adalah dua orang dari Jabarah( pembesar) nya[153] Quraisy yang Allah ta’ala hidupkan tatkala bangkitnya Al Qoim dari keluarga Muhammad di akhir zaman untuk kemudian membalas keduanya atas apa yang telah mereka kerjakan di masa lampau”.[154]

 

Sebagian Ulama Syi’ah malah terang-terangan mengatakan bahwa maksud dari Fir’aun dan Haman disini adalah Abu Bakar dan Umar. Lalu Ia akan menyalib keduanya di batang kurma dan membunuhnya setiap hari seribu kali kematian sebagai balasan atas kezaliman yang mereka lakukan serta permusuhan terhadap Ahli Bait.

 

Diantara ulama’ tersebut adalah: Al Bayadhi[155], Hasan Bi nSulaiman Al Ahly[156], At Ayasy an Najsy[157], Al Bahrani[158], Al Jaza’iry[159], Ahmad Al Ahsa’i[160], Ali Al Ha’iry[161], Abdullah Syibr[162] dan lainya.[163]

 

Al Majlisy menta’liq riwayat  Al Kulaini yang diisnadkan pada Ja’far Ash Shadiq satu perkataan yang dinisbahkan kepada Amirul Mu’minin Ali Radiyallahu ‘Anhu ,” Allah telah membunuh Pembesar Quraisy dalam kondisi yang paling baik….membunuh Haman dan membinasakan Fir’aun” dengan perkataanya :” Membunuh Haman maksudnya Umar dan membinasakan Fir’aun[164] maksudnya Abu Bakar bisa juga sebaliknya yang jelas maksudnya adalah dua pendosa ini”.[165]

 

Abu Al Hasan Al Amili[166] mengutarakan hal senada. Al Kasyani menjulukinya ‘Dua berhala Quraisy’[167].

 

 

Adapun anggapan mereka tentang bangkitnya Al Qo’im kemudian menghidupkan Abu Bakar dan Umar  dan menyalibnya serta tuduhan bohong lain banyak terdapat dalam kitab-kitab mereka. Tak sedikit pun mereka menjaga diri dari berdusta atas  nama Allah Azza Wa Jalla yang berfirman :

 

Artinya ” Siapakah yang lebih zalim dari orang yang mengada-adakan kedustaan atas Allah ..”[168]

 

Dan terhadap Rasul Yang bersabda dalam hadits mutawatir :

من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار[169]

 

Anda akan melihat mereka berdusta dengan mengatakan bahwa Allah mengkabarkan pada Nabinya peristiwa tersebut pada malam Isra’ :

 

Ash Shaduq menyandarkan pada Ja’far Ash Shadiq kisah tentang Isra’ dan Mi’raj, bahwa Nabi melihat cahaya Imam-imam yang dua belas yang ditengah mereka Muhammad bin Al Hasan Sang Pembangkit, lalu beliau bertanya pada Rabbnya,” Wahai Rabb siapakah mereka..?” Allah berfirman,” Para Imam dan ini adalah Sang Pembangkit yang menghalalkan apa yang aku halakan dan mengharamkan apa yang aku haramkan serta  membalas musuh-musuhku, dialah rahah para waliku. Dia penawar luka pengikutmu dari kejahatan orang-orang zalim, para penentang serta orang kafir. Mengeluarkan Lata dan Uzza lalu membakar keduanya, pada hari itu fitnah keduanya lebih dasyat dari fitnah Sapi dan Samiri.[170]

 

 

Maksud dari” Lata dan Uzza” menurut kaum Syi’ah adalah Abu Bakar dan Umar. Didukung dengan periwayatan salah satu Ulama Syi’ah Syaikh Ad Damadi Al Huseini katanya,” Perhatikanlah, hendaklah basirahmu tak tertutup demi melihat bahwa Lata dan Uzza adalah dua berhala Quraisy yang Amirul Mu’minin mendo’akan keduanya dalam do’anya dan keduanya dikubur di rumah Rasulullah Shalallohu Alaihi Wasalam di area makam beliau tanpa seijin ahli baitnya yang suci yang senantiasa melaksanakan perintahNya”.[171]

 

Kaum Syi’ah mengatakan Ali telah mendengar hal itu dari  pengkhabaran Rasulullah kemudian beliau beritahukan pada Umar Radiyallahu ‘Anhu : Ibnu Rustum At Thabary mengisnadkan kepada Abi Tufail Amir bi Watsilah[172] bahwa dia berkata – dan tidaklah beliau mengatakan hal dusta ini- ,” Aku melihat Amirul Mukminin berjalan sendirian  di sudut kota madinah , lalu aku mengikuti beliau hingga sampai di rumah Ats Tsani,[173] lalu beliau meminta ijin dan dijinkan masuk, akupun ikut masuk. Setelah mengucapkan salam kepada Ats Tsani –Umar Radiyallahu ‘Anhu– yang pada waktu itu menjabat khalifah, beliau duduk seraya berkata,” Siapakah yang mengajarimu kebodohan ini hai orang yang tertipu?! Demi Allah jika saja engkau mengendarai Alqafra dan memakai Syir akan lebih baik bagimu dari pada duduk di sini….”sampai pada perkataan,” Demi Allah seakan aku meliahat diriku telah mengeluarkan dirimu dan sahabatmu –Abu Bakar- Toriyaini( kalau tidak salah dalam keadan buta)  untuk disalib di Al Baida’…hingga Umar berkata,” Wahai Abu Al Hasan sungguh aku mengetahui yang engkau katakan adalah kebenaran, dengan nama Allah aku bertanya padamu, apakah Rasulullah menyebut diriku dan Sahabatku ?”. Beliau berkata,” Demi Allah, Rasulullah menyebut dirimu dan sahabatmu…dst”.[174]

 

Kitab-kitab kaum Syi’ah sarat dengan riwayat yang secara dusta mereka nisbahkan kepada sejumlah Imam yang berisi tentang keyakinan mereka bahwa syaikhani akan dibangkitkan dari kubur dan di salib sebelum kiamat tiba serta diazab dengan azab yang sangat pedih……seperti riwayat dusta yang  dinisbahkan kepada Abu Ja’far Al Baqir : mereka menganggap beliau meriwayatkannya dari beberpa perawi Syi’ah semisal Abu Bashir[175], Al Mufdhil Bin Umar[176], Salam bin Al Mustanir[177], Abdul A’la Al Ahlaby[178] dan lainnya. Semua riwayat palsu yang mengada-ada ini berisi seputar kisah dibangkitkannya Syaikhani dari kuburnya Ghodhiyani thoriyani lalu disalib. Hari itu manusia terfitnah karena keduanya.

 

Riwayat dusta yang disandarkan pada Abi Abdullah Ash Shadiq mereka yakini juga diriwayatkan beberapa perawi Syi’ah lainnya seperti Abu Al Jarud[179], Al Mufdhil Bin Umar[180], Basyir An Nubal [181]serta Ishaq bin Amar dan lainnya. Demikian pula Abdul Adhim Bin Abdullah Al Hasani meriwayatkan kisah serupa dari Muhammad bin Ali Al Jawad yang terkenal dengan sebutan Abi Ja’far Ats Tsani.[182]

 

 

Dari Muhammad Bin Al Hasan Al  Askari – Dia adalah Al Qoim yang nantinya menyalib Syaikhani, pada dasarnya beliau bukan anak Al Hasan Al Askari karena ia mandul-, yang meriwayatkan darinya adalah Ali Bin  Abi Ibrahim Bin Mahziar. Riwayat ini berisi kisah panjang yang didalamnya mereka menyebutkan perkataan Muhammad Bin Al Hasan Al Mahdi Al Maz’um : Aku datang ke Yatsrib untuk menghancurkan Batu berikut dua orang didalamnya toriyani ghodiyani . lalu kuperintahkan keduanya menuju Baqi’ untuk disalib di dua batang kayu, keduanya tawarraqa , maka manusia saat itu terfitnah oleh keduanya dengan fitnah yang lebih dasyat dari fitnah pertama…dst.”[183]

 

Suatu keyakinan kotor yang menyelisihi Kitab, Sunnah dan Ijma’ kaum Muslimin ini di kalangan Syi’ah disebut dengan Roj’ah, mereka menganggap hari itu adalah hari dikumpulkannya jasad dan arwah atau serupa dengan Yaumul Hasr pada hari Kiamat. Roj’ah termasuk asas aqidah Syi’ah, mereka mendasarkan aqidah ini pada lebih dari seratus ayat dari Kitab yang mereka takwilkan tanpa dalil yang mendukung atau hujjah yang menguatkan. Bagi Syi’ah, orang yang tidak meyikini roj’ah maka ia tidak disebut Imam atau golongan mereka sama sekali. Oleh itu ,  Abu Bakar dan Umar RA bukanlah orang yang memiliki keimanan, tapi keduanya adalah fariq (sempalan) yang lain dengan dalil: Ijma’ kaum Syi’ah seperti yang terdapat dalam kitab-kitab mereka bahwa keduanya akan dibangkitkan dan merasakan berbagai macam siksa di tangan Sang Pembangkit yang diutus untuk membalas dendam atas keduanya, menyalib, memukul mereka dengan cemeti dari neraka, membunuh keduanya seribu kali setiap hari dan menenggelamkan keduanya di laut seperti yang dilakukan Musa terhadap patung sapi lalu  membakarnya,  bahkan Ia juga membunuh orang-orang yang mencintai keduanya.

 

Orang yang membaca buku-buku do’a kaum Syi’ah akan mendapati buku-buku tersebut dipenuhi do’a-do’a kepada Sang Pembangkit agar mengeluarkan Syaikhani dan membalaskan dendam Ahli Bait Rasul SAW. Kebanyakan doa tersebut berbentuk sya’ir seperti :

            Wahai Hujjatullah,wahai makhluk terbaik

            wahai cahaya di kegelapan,

 wahai putra bintang kejora

            Aku berharap pada rabku

            tuk bisa melihat dua terlaknat

            dibangkitkan dari lahat

dengan mata telanjangku

            Seperti sabda Nabiku

            Tanpa keraguan ataupun syubhat

 Tuk disalib didua batang pohon

            Dan dibakar

            Saat itu….

            Hati manusia kan sembuh dari dendam

            Yang sekian lama mendekam

            Dan kesedihan berganti kegembiraan

 

 

            Menurut Syi’ah, masa penyaliban Abu Bakar dan Umar ini tidak hanya pada saat Raj’ah yaitu saat keduanya dibangkitkan di hari Kiamat saja melainkan keduanya di salib setiap tahun sesuai dengan riwayat dari As Sofar dan Al Mufid dengan sanad yang bersambung dengan para pendusta dari Isa Bin Abdillah Bin Abi Tohir Al Alwi meriwayatkan dari bapaknya dari kakeknya  Ia menceritakan Bahwa saat itu   Ia bersama Abu Ja’far Bin Ali Al Baqir di Mina untuk melempar Jumrah, lalu Abu Ja’far melemparkan beberapa batu, manakala tersisa lima batu beliau melemparkan tiga batu ke satu penjuru dan dua batu ke penjuru lainnya, maka kakekku bertanya,” Demi diriku menjadi tebusanmu, Sungguh engkau telah  melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan seorangpun. Aku melihatmu melemparkan beberapa jumrah, lalu engkau melempar lima sisanya, tiga ke satu penjuru dan dua ke yang lain?”. Beliau berkata,” Benar. Pada satiap musim dua orang fasiq yang telah merampas hak dibangkitkan, lalu keduanya dipisah di tempat ini. Tiada yang melihatnya selain Imam yang adil. Karena itu aku melempar yang pertama – Abu Bakar- dengan dua kerikil dan yang kedua – Umar- dengan tiga kerikil karena yang terakhir lebih buruk dari yang pertama”.

 

Beginilah, kaum Syi’ah seakan tak merasa berdosa setiap kali mehujamkan berbagai tuduhan kepada dua orang yang paling utama setelah para Nabi dan Rasul, Abu Bakr dan Umar. Dua wazir Nabi SAW yang telah diakui kedudukannya. Amirul Mukminin Ali bin  Talib pun telah bersaksi akan hal itu :

 

Dari Ibnu Abbas berkata,” Jasad Umar diletakkan diatas ranjang, maka manusia pun mengelilinginya  sebelum diangkat untuk dimakamkan,waktu itu tak satupun orang yang memperhatikanku, tiba-tiba seorang lelaki memegang pundakku yang ternyata beliau adalah Ali Bin Abi Talib, beliau mendoakan kerahmatan atas Umar dan berkata,” Sepeninggalmu tak seorang pun yang lebih aku sukai agar amalku serupa dengan  amalnya ketika berjumpa dengan Allah selain dirimu, demi Allah aku kira Allah akan mempertemukanmu dengan dua sahabatmu, aku telah banyak mendengar Nabi bersabda ,” Aku pergi bersama Abu Bakar dan Umar, Aku masuk bersama Abu Bakar dan Umar, aku keluar bersama Abu Bakar dan Umar” aku yakin AllAh akan menempatkanmu bersama keduanya”.[184]

 

Aqidah Raj’ah yang diyakini kaum Syi’ah ini sangatlah bertentangan dengan nash-nash Kitab maupun sunnah :

 

Terdapat beberapa ayat yang dengan jelas membatilkan keyakinan ini :

(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu ), sehingga datang kematian kepada seseorang dari mereka dia berkata,” Ya tuhanku kembalikanlah (aku kedunia)

agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak sesungguhnya itu hanyalah perkatan yang diucapkan saja . dan dihadapan mereka ada sampai mereka dibangkitkan .(Al Mukminun 99-100)

 

Tinggal di alam barzakh hingga kiamat tiba adalah hal yang telah disepakati. Dan ayat ini telah memutus angan-angan untuk kembali kedunia, entah itu supaya bisa beramal baik atau sebaliknya.

 

Rabb Tabaraka wata’ala telah menjelaskan akan mustahilnya seseorang kembali kedunia dikarenakan adanya barzakh yang tak seorangpun bisa menembusnya, suatu batas diantara maut dan dan kebangkitan juga dunia dan Akhirat.

 

Ada beberapa hadits yang yang secara sharih menafikan raj’ah sebelum hari Kebangkitan akan tetapi terlalu panjang untuk mencantumkannya.

 

Akan tetapi karena ayat Qur’an ataupun hadits tak sedikitpun memberi pengaruh bagi orang Syi’ah, akan saya kumpulkan aqwal beberapa orang yang mereka anggap sebagai Imam tentang batilnya aqidah raj’ah, agar tampak kedustaan yang mereka nisbahkan pada mereka:

 

1. Diantaranya: Amirul Mukminin Ali Bin Abi  Talib yang dalam beberapa riwayat mengkhabarkan akan mustahilnya seseorang kembali kedunia setelah mati. Seperti perkataan yang mereka  nisbahkan pada beliau dalam Kitab Syi’ah ” Tihajul Balaghah” :” Segeralah beramal, Dan takutlah akan ajal yang sekonyong-konyong. Karena kembalinya umur tak bisa diharapkan seperti kembalinya rizki”. Juga,” Diantara kalian dan surga tak ada sesuatu selain maut yang akan menjemput”,

 

 

 

Ref:

 

[94] Diriwayatkan oleh ash-Shafar dalam Bashairud Darajah Al kubra hal. 412. Al Mufid fie Al Ikhtshas hal. 312

[95] As Saqifah, Sulaim bin Qs

[96] Nufatu Al Lahut, Al Kurky, q 6/alif 774/ba’.

[97] Al Baladu Al Amin, Al Kaf/amy hal.511.Al Misbah.hal 511. Nafhatu Al Nufhatu Al Lahut, Al Kurky., AL Kurky. Q 74/ba’. Ilmu Al Yaqin, Al Kasyani2/701. Fashlul Khitab, An nury At Tabrisi hal.221-222.

[98] idem

[99] idem

[100] Dhiya’u Ash Shalihin hal.513.

[101] idem

[102] Adz Dzari’ah , Agha Bazrak At Tahrani 8/192.

[103] Lihat : [103] Al Baladu Al Amin, Al Kaf’amy hal.511.Al Misbah.hal 551. Nafhatu Al Nufhatu Al Lahut, Al Kurky., AL Kurky. Q 74/ba’. Ilmu Al Yaqin, Al Kasyani2/701. Fashlul Khitab, An nury At Tabrisi hal.221-222. [103] Adz Dzari’ah , Agha Bazrak At Tahrani 8/192.Amalul Amal, Al Hur Al Amili 2/32.

[104] Al Baladul Amien hal.511-514. Al Mishbahu Al Jannah Al Waqiyah hal. 548-557.

[105] Ilmu l Ayqin 2/701-703.[106] Fashlul Khitab hal.9-10.

[107] Miftahul Jinan hal.113-114.[108] Shahifah Alawiyah hal.200.202

[109] Tuhfatul Awam Maqbul 213-214.[110] Qaf 6/alif 74/ba’.

[111] Hal. 426.[112] Qaf 26/alif.

[113] 4/356.[114] Hal. 58. 133-134.

[115] Hal.113, 174, 226, 250, 290, 294, 313, 339.[116] 2/95

[117] 221-222[118] 1/219

[119] 1/219Al Mishbah, Al Kafamy ha’. Hal.552-554.[120] Bukunya yang berjudul  Nufhatu Al Lahut Fie la’ni Jibt w At taghut khusus ia karang untuk melaknat Abu Bakar dan Umar, dau sahabat mulia inilah yang dimaksud dengan Jibt dan At Taghut ia sebutkan dalam buku ini bahwa Ali bin Abi Thalib berkunut dalm shalat witir melaknat dua ‘berhala Quraisy’. Lalu ia berkata : Yang dimaksud Ali adalah Abu Bakar dan Umar, telah kami sebutkan perihal disunahkannya  berdo’a atas musuh-musuh Allah dalam sholat witir.Nufhatu Al Lahut, Al Kurky. Qof.74/ba’.

[121] Mir’atu Al Uqul 4/356.[122] Orang yang mengisyaratkan do’a untuk dua berhala Quraisy berkata,” Maksud dari dua berhala quraisy adalah dau orang yang dimakamkan bersama Rasulullah shollalahu ‘alahi wasallam .” Syir’atu At Tasmyah fie Zamani Al Ghaibah qaf 26/alif.

[123] Hal. 133-134.[124] 2/95. Diantara yang ia katakan ,” Dua berhala Quraisy adalah Abu Bakar dan Umar……keduanya merampas  kekhilafahan setelah Rasulullah…”

[125] hal.9-10. Ia mengatakan seperti yang dikatakan Al Ha’iry.[126] Qurratu Al Uyun , Al Kasyani hal.432-433.

[127] Muqadimah Al Burhan, Al Amily hal.133.[128] Mereka mengakhiri do’a ini dengan ,” kemudian katakanlah empat kali,”Ya Allah azablah mereka denganazab yang Ahli nereka sekalipun memohon selamat darinya….”

[129] Al I’tiqodat, Al Majlisi, Qaf 17.[130] Ilzamu An Nashib, Al Ha’iry.2/9.

[131] Istilah yang dipakai Syi’ah yang bermaksud salah satu dari dua Imam, Ja’far Ash Shadiq atau bapaknya Al Baqir.[132] Disebut Imam Zamannya.

[133] Artinya: sampai pada Imam Zaman itu.[134] Al Ushul min Al Kafi, Al Kulaini 2/389.

[135] Yang meriwyatkan As Shafar dan Al Kulaini dengan sanad keduanya. Basha’iru Ad Darjat Al Kubra, As Shafar hal.510-513.Ar Raudhah min Al Kafi, Al Kulaini hal. 347. Al Kharayij wa Al Jarayih, Ar Rawandi hal.127.Mukhtasar Basha’iru Ad Darajat. Hasan Al halyhal. 12.Kurratu Al uyun, Al Kasyani hal.433.Al Burhan Al Bahrani 1/48,4/216. Mir’atu Al uqul – Syarh Ar Raudhah-, Al Majlisi 4/347.Rajab Al Barsi ikut  meriwayatkan dan menambahkan Utsman bin Affan. Masyariqu Al Anwar.Rajab Al barsi hal.42.[136] Mir’atu Al uqul – Syarh Ar Raudhah-, Al Majlisi4/347

[137] Lihat : Waq’atu As Sifin, Nasr bin Muzahim hal.102.Al Akhbar At tiwal Ad Dainury hal.1965.Syarh Nahju Al balaghah Ibnu Abi Al Hadid 11/92.Ad Darajah Ar Rafi’ah, Asy Syairazi hal.424.[138] Al Haitsami berkata,” Diriwyatkan At Tabrani dan sanadnya hasan. Majma’u Az Zawa’id, Al Haitsami 11/22.

[139] An Nibz : Gelar, dalam Ash Shihah karangan Al Jauhary. Yang mereka maksud adalah menjuluki mereka dengan Ar Rafidhah ( Para pembangkang).[140] Fadha’ilu Ash Shahabah, Imam Ahmad 1/441.

[141] Kitab An Nahyu ‘An Sabbi Al Ahshab Wa Mawarada Fihim  minal Itsmi Wal Iqob. Qof.4/ba’-6/alif.[142] Minhaju As sunnah An Nabawiyah 1/11-12.

[143] Shahih Al bukhari, kitab Fadha’ilu Ashabi An Nabi bab. Hadatsana Al humaidi dan Muhamad Bin Abdullah…[144] Firaqu Asy Syi’ah, Naubakhty hal.44.

[145] Ibnu Taimiyah berkata dalam Minhaju As Sunnah 1/13-14 :”Abul Qasim Al Bakly menyebutkan riwayat ini dalam menyanggah ibnu Rawandi…………….[146] Dia adalah Al Ya’quby dalam tarikhnya 2/321.

[147] Tabaqat Ibnu Sa’ad 5/236.[148] Ar Raudhah min Al Kafi. Al Kulaini hal.101.

[149] Al Intiqodhot Asy Syi’iyah,Hasyim Al Husaini hal. 497.[150] Mir’atu Al Jinan, Al Ya’ifi hal.257.

[151] Al Ansab, Al Baladziri 3/241.[152] Mir’atu Al jinan, Al Ya’ifi hal.257. Muruju Adz Dzahb, Al Mas’udi 3/220.. Raudhatu Al Jannat, Khawanisary 1/324.

[153] Al Jaza’iri, Al Ha’iri, dan Syibr –dari Syi’ah- meletakan nama Abu Bakar dan Umar sebagai ganti dari ” dau orang dari jabarati Quraisy.dan menyandarkan perkataan ini pada As Shadiq saja. Al Anwar An nu’aniyah, Al Jaza’iri 2/89. Ilzamu An Nasib, Al ha’iri 2/366-273.Haq Al yaqin, Syibr 2/10,25,28.[154] Yang menukil darinya adalah Al Bahrani dalam Al Burhan 3/220.Lihat Al Iqadz minal Al  huj’ah, Al Hurry Al Amily. Hl 256-342.Al Anwar An Nu’maniyah , Al Jaza’iry 2/89.Ilzamu An Nasib, Al Ha’iry 1/81-82, 2/66-274-338. Haqqul yaqin, Syibr 2/10-25-28.

[155] As Shirat Al Mustaqim.[156] Mukhtasar Basha’iru Ad Darajah hal.191.

[157] As Syi’ah wa Ar Raj’ah  hal.139.[158] Al Burhan 3/220.

[159] An Anwar An Nu’maniyah 2/89.[160] Ar Raj’ah hal 191.

[161] Ilzamu An Nasib, Al Ha’iry 1/81-82, 2/66-274-338[162] Haqqul yaqin, Syibr 2/10-25-28.

[163] Perlu diketahui , mereka ini termasuk Syi’ah Mutaakhirin, setelah abad kesembilan Hijriyah sampai hari ini. Generasinya menukil dari para pendahulunya dan sepakat atas suatu kebohongan. Hal ini wajar karena  orang-orang tersebut menukil pendapat untuk menguatkan pendapat mereka. Sedangkan telah jelas bagimu wahai saudaraku, pecinta Rasulullah shollalahu ‘alahi wasallam bahwa membenci sahabat apalagi mencela mereka termasuk kaidah Syi’ah dan aqidah dasar  mereka maka janganlah engkau tertipu dengan kesepakatan mereka dalam menukil riwayat busuk ini yang kemudian mereka nisbahkan pada Imam-Imam mereka. Padahal mereka sama sekali suci dari apa yang mereka nisbahkan, karena Syi’ah adalah kaum pembohong dan dien mereka adalah kedustaan.[164] Ar Raudhah minal Kafi, Al Kulaini hal 277

[165] Mir’atu Al uqul –Syarh Ar Raudah, Al Majlisi 4/277.[166] Muqaddimah Al Burhan, A Amily hal.263-341

[167]. Qurratu Al uyun, Al Kasyani hal.432-433[168]. Terdapat dalam Surat Al An’am 21-93, Surat Hud ayat 18, Surat Al Ankabut ayat 68

[169]. Az zubaidi menyebutkan dalam Luqatu Al Lali’ Al mutanatsirah fie al hahadits Al mutawatirah hal261-282 bahwa sebanyak 99 sahabat meriwayatkan hadits ini, diantaranya Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib. Ditakhrij oleh Bukhari da Muslim dan lainnya[170]. Ikmalu AD Dien, Ash Shaduq hal.246.Lihat muqaddimah Al Burhan, Abi Hasan Al Amili hal 249

[171]. Syir’atu At Tasmiyah fie Zamani Al Ghaibah,Ad Damadi Al Husaini q 26/alif[172] Seorang Sahabat yang wafat pada tahun + 100 Hijriyah. Lihat Al Isti’ab Ibnu Abdil Bar 4/115-118. Al Ishabah, Ibnu Hajar 4/113.

[173]..Menurut  Al Ahsa’i, Umar diganti dengan Ats Tsani hal. 130-133. Yang mereka maksud adalah Amirul mukminin Umar RA karena beliau adalah khalifah kedua setelah Ash shidiq.

[174] Dala’ilu Al imamah, Ibnu Rusum At Tabary hal.257-258. Lihat huliyatu Al Abrar, Hasyim Al Bahrani 5/594-606.Ar raj’ah, Al Ahsa’i hal 130-133.. Lihat juga Kitab-kitab An Nasiriyah  Al hidayah Al Kubra, Al husein bin Hamdan Al Khadiby hal 162-164

[175] Su’du As Sa’ud, Ibnu Tawus 116. Lihat buku-buku Nushairiyah : Al Laftu Asy Syarif riwayatu Al Mufdhil bin Umar Al Ja’fi hal164. [176] Al Iqadh min Al Huj’ah, Al Hurr Al Amili hal.286-288. Muqadimah Al Burhan, Abi Al Hasan Al Amili hal.361. Ilzamu An Nashib, Al Ha’iri 1/81-82.

[177] Ikmalu Ad Dien, As Shaduq 626.[178] Tafsir Al Ayashi 2/57-58. Al Burhan, AL Bahrani 2/81-83.. Biharu Al Anwar, AL Majlisi 13/188-189.

[179] Dala’ilu AL Imamah, Ibnu Rustum Ath Thabari hal.242. Ar Raj’ah, Ahmad Al ihsa’I hal. 128-129.[180] Ikmalu Ad Dien, As Shaduq 392, Uyun Akhbar Ridha miliknya 1/58.Hulyatu Al Abrar, Hasyim Al Bahrani 2/652-676. Biharu Al Anwar, AL Majlisi 25/379,53/1-38, Haqqu Al Yaqin miliknya – farisi- 526. Al Anwar An Nu’maniyah, Al Jaza’iri 2/85. Muqaddimah Al Burhan, AL Amili hal. 360-362. Ar Raj’ah, Al Ihsa’I hal 182-200. Haqqu Al Yaqin 2/23. Ilzamu An Nashib, Al Ha’iri 2/262-337. Bayanu Ghaibah Hadhrata Imam Mau’ud, Muhammad Karala’I qaf 48/qaf55. Asy Syi’ah wa Ar Raj’ah, Thibsi hal. 139. Dawa’iru Al Ma’arif As Syi’iyah, Muhammad Hasan Al A’lami 1/350-351.

[181] Di sandarkan kepada beliau oleh AL Mufdhil bin Syadzan fie Kitab Ar Raj’ah seperti disebutkan Al Majlisi dalam Biharu Al Anwar 52/386.[182] Ikmalu Ad Dien, Ash shaduq, 361.I’lamu Al wara

[183] Mukhtasar Basha’iru Ad Darajah, Al Haly hal.172-177. Al Iqadz min Al Huj’ah, Al huri Al Amily hal.286.[184] Sahih Al Bukhari 5/77. Sahih Muslim 4/1859. masing-masing dalam kitab Fadhoilu As sahabah bab Fadhlu Umar Author: unknown

Dikutip dari: www.hakekat.com

Aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah Sesat

 dikutip dari:

http://suryaningsih.wordpress.com/2007/10/24/aliran-al-qiyadah-al-islamiyah-sesat/

Akhir-akhir ini berkembang aliran sesat yang meresakan dikalangan umat Islam, aliran yang bernama Al-Qiyadah Al-Islamiyah ini yang didirikan oleh Ahmad Moshaddeq alias H. Salam yang cikal bakal pendirian di Kampung Gunung Sari, Desa Gunung Bunder, Bogor ini sudah mulai merambah ke propinsi lain di Indonesia.

Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa bahwa aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah adalah sesat karena bertentangan dengan ajaran Islam. Karena mempercayai Syahadat baru, mempercayai adanya Nabi/ Rasul baru sesudah Nabi Muhammad SAW, dan tidak mewajibkan pelaksanaan sholat, puasa dan haji. “Kenapa sesat, karena dia itu, pertama mempercayai adanya nabi sesudah nabi Muhammad SAW, padahal itu sudah jelas nabi terakhir yang kedua membuat syahadat baru, yang paling meresahakan sholat, puasa dan juga haji belum wajib dianggap masih periode Makkah, padahal Islam itu sudah sempurna,” jelas Ketua DPP MUI KH. Ma’ruf Amin dalam jumpa pers, di Sekretariat MUI, Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu(4/10).

Sehubungan dengan itu, MUI meminta pemerintah untuk melarang menyebaran paham tersebut, serta penegak hukum melakukan penegakan langsung misalnya dengan menangkap tokohnya. Sedangkan, untuk seluruh umat Islam hendaknya berhati-hati untuk mengikuti pengajian, sebab ajaran bukan hanya Al-Qiyadah Al-Islamiyah saja, karena saat ini masih ada aliran yang sedang juga berkembang di kampus-kampus.

“Kepada umat Islam supaya tidak mencari aliran yang aneh-aneh, yang umum sajalah, ormas-ormas yang sudah jelas ajarannya yang sudah baku. Tidak usahlah menjadi muslim yang aneh sebab ini bisa sesat dan menyimpang. Pemerintah diminta untuk menghentikan dan mencegah, jadi eksekusi ada pada pemerintah, “ujar Ma’ruf.

Dalam kesempatan itu, Ketua Komisi Pengkajian dan Pengembangan MUI Utang Ranuwijaya menjelaskan, sebelum ditetapkan sebagai aliran sesat tim yang dipimpinnya itu selama tiga bulan meneliti aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah, dan pada bulan terakhir setelah menimbulkan di Sumatera Barat, Batam, Yogyakarta, dan Jakarta, penelitian diintesifkan dengan mengumpulkan dokumen asli dan mewawancarai tangan kanan Ahmad Moshaddeq.

“Al-Qiyadah didirikan sejak tahun 2000, sejak tahun 2000-2006, itu situasinya tidak ada masalah. Tapi ketika masuk tahun 23 Juli 2006, terjadi hal yang spektakuler, setelah bertapa selama 40 hari 40 malam mendapat wahyu dari Allah dan diangkat menjadi rasul, dan para sahabatnya membenarkan itu, “ungkapnya.

Di tempat yang sama, Komisi Fatwa MUI Anwar Ibrahim menilai ajaran itu jelas menyimpang dari firman Allah dalam Al-Quran yang menyatakan, bahwa Nabi Muhammad SAW adalah rasulullah dan juga nabi penutup, tidak ada nabi lain setelah itu.

Ia mengingatkan kepada masyarakat agar berhati-hati dan waspada, serta tidak main hakim sendiri kepada pengikut aliran sesat itu. (novel)

Al-Qiyadah Al-Islamiyah Anut Sistem Sel Terputus

eramuslim.com – Al-Qiyadah Al-Islamiyah ini yang didirikan oleh Ahmad Moshaddeq alias H. Salam yang berpusat di Kampung Gunung Sari, Desa Gunung Bunder, Kecamatan Cibungbulan, 20 KM dari Bogor ini, meski memiliki kesamaan dengan cara penyebaran Islam zaman Rasulullah SAw, tetapi struktur dalam struktur keorganisasiannya tidak saling mengenal.

“Rekrutmen sangat rapi dan rahasia, “ujar Ketua Komisi Pengkajian dan Pengembangan MUI Utang Ranuwijaya dalam jumpa pers, di Sekretariat MUI, Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu(4/10).

Menurutnya, berdasarkan informasi yang diperoleh dilapangan sistem rekruitmen dikuatkan oleh faktor financial, apabila bisa merekrut 40 orang, akan mendapatkan sumbangan kendaraan roda dua, dan jika berhasil merekrut 70 orang akan mendapatkan kendaraan roda empat,

“Jadi luar biasa sekali, kami tidak tahu dari mana sumber dana itu, tapi itu dengan cara seperti itu dakwah mereka menjadi sangat sistematis, dan optimal, “ujarnya.

Perpaduan Kristen dan Islam?

Lebih lanjut Utang mengatakan, aliran Al-Qiyadah ini selain merekrut orang Islam kalangan ekonomi menengah ke bawah yang masih awan dengan ajaran Islam, juga berisi para sarjana yang bertitel sarjana agama, namun sarjana agama belum pasti berasal dari sarjana Islam. Karena, ketika menyampaikan ajaran agama ada semacam sinkretisme, jadi dipadukan ajaran kristen dan Islam.

Sedangkan untuk profil sang pendiri Al-Qiyadah Al-Islamiyah, MUI belum mengetahui secara jelas, karena masih dirahasiakan dan perlu melakukan penelitian lanjutan. Tetapi berdasarkan keterangan yang didapat, tambanya, Ahmad Moshaddeq merupakan tipe orang sangat luwes, ramah, antusias dengan keluhan dan penderitaan orang. Sehingga, membuat orang cepat tertarik, cepat simpati.

“Dalam situasi psikologi seperti ini, masyarakat yang sedang kesulitan ekonomi, sedang punya banyak masalah ketika didatangi orang seperti itu, cukup menyejukan mereka, sehingga mereka tertarik untuk masuk jadi pengikutnya, “imbuhnya.

Angka pasti jumlah pengikutnya belum bisa terlacak, tapi dalam laporan rapat akbar 2007, seluruh Indonesia yang masuk pada bulan Juni 1. 349 jiwa, sedangkan pada bulan Juli 1. 412 jiwa, jadi naik 5 persen. Pengikutnya tersebar di kota-kota besar, bahkan pengikut mereka di Batam adalah orang terkaya di Batam. (novel)

salafi.or.id -

Tafsir Al-Quran Gaya Rasul Baru

(Membongkar Kesesatan Al-Qiyadah Al-Islamiyah)

Penulis: Lajnah pembela sunnah, memerangi bid’ah, dan kesyirikan

Al-Hafizh Ibnu Katsir -rahimahullah- dalam muqadimah kitab tafsirnya menyatakan tentang kaidah menafsirkan Al-Qur’an. Beliau -rahimahullah- menyampaikan bahwa cara menafsirkan Al-Qur’an adalah sebagai berikut:

1. Menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an. Metodologi ini merupakan yang paling shalih (valid) dalam menafsirkan Al-Qur’an.

2. Menafsirkan Al-Qur’an dengan As-Sunnah. Kata beliau -rahmahullah-, bahwa As-Sunnah merupakan pensyarah dan yang menjelaskan tentang menjelaskan tentang Al-Qur’an. Untuk hal ini beliau -rahimahullah- mengutip pernyataan Al-Imam Asy-Syafi’i -rahimahullah- : “Setiap yang dihukumi Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, maka pemahamannya berasal dari Al-Qur’an. Allah -Subhanahu wata’ala- berfirman:
<!–[if !supportLineBreakNewLine]–>
<!–[endif]–>

إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللّهُ وَلاَ تَكُن لِّلْخَآئِنِينَ خَصِيماً

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan Kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) membela orang-orang yang khianat.” (An-Nisaa’:105)

3. Menafsirkan Al-Qur’an dengan pernyataan para shahabat. Menurut Ibnu Katsir -rahimahullah- : “Apabila tidak diperoleh tafsir dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, kami merujuk kepada pernyataan para shahabat, karena mereka adalah orang-orang yang lebih mengetahui sekaligus sebagai saksi dari berbagai fenomena dan situasi yang terjadi, yang secara khusus mereka menyaksikannya. Merekapun adalah orang-orang yang memiliki pemahaman yang sempurna, strata keilmuan yang shahih (valid), perbuatan atau amal yang shaleh tidak membedakan diantara mereka, apakah mereka termasuk kalangan ulama dan tokoh, seperti khalifah Ar-Rasyidin yang empat atau para Imam yang memberi petunjuk, seperti Abdullah bin Mas’ud -radliyallahu anhu-.

4. Menafsirkan Al-Qur’an dengan pemahaman yang dimiliki oleh para Tabi’in (murid-murid para shahabat). Apabila tidak diperoleh tafsir dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah atau pernyataan shahabat, maka banyak dari kalangan imam merujuk pernyataan-pernyataan para tabi’in, seperti Mujahid, Said bin Jubeir. Sufyan At-Tsauri berkata : “Jika tafsir itu datang dari Mujahid, maka jadikanlah sebagai pegangan”.

Ibnu Katsir -rahimahullah- pun mengemukakan pula, bahwa menafsirkan Al-Qur’an tanpa didasari sebagaimana yang berasal dari Rasulullah -shallallahu’alaihi wasallam- atau para Salafush Shaleh (para shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in) adalah haram. Telah disebutkan riwayat dari Ibnu Abbas -radliyallahu ‘anhuma- dari Nabi -shallallahu’alaihi wasallam-:


من قال في القرأن برأيه او بما لايعلم فليتبوأ مقعده من النار


“Barangsiapa yang berbicara (menafsirkan) tentang Al-Qur’an dengan pemikirannya tentang apa yang dia tidak memiliki pengetahuan, maka bersiaplah menyediakan tempat duduknya di Neraka.”
(Dikeluarkan oleh At Tirmidzi, An Nasa’i dan Abu Daud, At Tirmidzi mengatakan : hadist hasan).

Al-Qiyadah Al-Islamiyyah sebagai sebuah gerakan dengan pemahaman keagamaan yang sesat, telah menerbitkan sebuah tulisan dengan judul “Tafsir wa Ta’wil”. Tulisan setebal 97 hal + vi disertai dengan satu halaman berisi ikrar yang menjadi pegangan jama’ah Al-Qiyadah Al-Islamiyyah.

Sebagai gerakan keagamaan yang menganut keyakinan datangnya seorang Rasul Allah yang bernama Al-Masih Al-Maw’ud pada masa sekarang ini, mereka melakukan berbagai bentuk penafsiran terhadap Al-Qur’an dengan tanpa kaidah-kaidah penafsiran yang dibenarkan berdasarkan syari’at, ayat-ayat Al-Qur’an dipelintir sedemikian rupa agar bisa digunakan sebagai dalil bagi pemahaman-pemahamannya yang sesat. Sebagai contoh, bagaimana mereka menafsirkan ayat:
<!–[if !supportLineBreakNewLine]–>
<!–[endif]–>

فَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِ أَنِ اصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا


“Lalu Kami wahyukan kepadanya: “Buatlah bahtera dibawah penilikan dan petunjuk Kami.” (Al-Mu’minuun :27)

Maka, mereka katakan bahwa kapal adalah amtsal (permisalan,ed) dari qiyadah, yaitu sarana organisasi dakwah yang dikendalikan oleh Nuh sebagai nakoda. Ahli Nuh adalah orang-orang mukmin yang beserta beliau, sedangkan binatang ternak yang dimasukkan berpasang-pasangan adalah perumpamaan dari umat yang mengikuti beliau. Lautan yang dimaksud adalah bangsa Nuh yang musyrik itu….. (lihat tafsir wa ta’wil hal.43).

Demikianlah upaya mereka mempermainkan Al-Qur’an guna kepentingan gerakan sesatnya. Sungguh, seandainya Al-Qur’an yang diturunkan kepada Rasulullah -shallallahu ‘alihi wasallam- boleh ditafsirkan secara bebas oleh setiap orang, tanpa mengindahkan kaidah-kaida penafsiran sebagaiman dipahami slaful ummah, maka akan jadi apa islam yang mulia itu ditengah pemeluknya ? Al-Qiyadah Al-Islamiyyah hanya sebuah sample dari sekian banyak aliran/paham yang melecehkan Al-Qur’an dengan cara melakukan interpretasi atau tafsir yang tidak menggunakan ketentuan yang selaras dengan pemahaman yang benar.

Buku Tafsir wa Ta’wil ini berusaha menyeret pembaca kepada pola pikir sesat melalui penafsiran ayat-ayat mutasyabihat menurut versi Al-Qiyadah Al-Islamiyyah sebagaimana diungkapkan pada hal. iii poin 4 : “Kegagalan orang-orang memahami Al-Qur’an adalah mengabaikan gaya bahasa Al-Qur’an yang menggunakan gaya bahasa alegoris. Bahasa simbol untuk menjelaskan suatu fenomena yang abstrak.”

Mutasyabihat dianggap sebagai majazi sebagaimana pada hal. 39 alenia terakhir.

Penyimpangan-penyimpangan yang ditemukan dalam buku ini adalah sebagai berikut:

A. Secara garis besar ayat-ayat mutasyabihat (menurut versi mereka) ialah yang berbicara tentang Hari Kiamat dan Neraka dianggap simbol dari hancurnya struktur tentang penentang Nabi dan Rasul, dan pada masa Rasulullah hancurnya kekuasaan jahiliyyah Quraisy yang dihancurkan oleh Rasul dan para shahabatnya.

Lihat:

1. Tafsir Al-Haqqah:16;21
2. Tafsir ayat 6 dari surat Al-Ma’arij hal 30.
3. Tafsir ayat 17 dari surat Al-Muzammil hal. 62.
<!–[if !supportLineBreakNewLine]–>
<!–[endif]–>

B. Pengelompokan manusia menjadi tiga golongan:

1. Ashabul A’raf adalah Assabiqunal awwalun.
2.Ashabul yamin adalah golongan anshar.
3. Ashabul syimal golongan oposisi yang menentang Rasul, lihat hal. 24.

C. Penafsiran Malaikat yang memikul ‘Arsy pada surat Al-Haqqah ayat 17 diartikan para ro’in atau mas’ul yang telah tersusun dalam tujuh tingkatan struktur serta kekuasaan massa yang ada dibumi. Lihat hal. 24.

D. Penafsiran (man fis samaa’/siapakah yang ada di langit) dalam surat Al-Mulk ayat 16 diartikan benda-benda angkasa dan pada ayat 17 diartikan yang menguasai langit, menunjukkan bahwa mereka tidak tahu sifat ‘uluw/ketinggian Allah atau bahkan mereka mengingkarinya.

E. Penafsiran (As-Saaq/betis) pada surat Al-Qalam ayat 42, dengan dampak dari perasaan takut ketika menghadapi hukuman atau adzab, lihat hal 18, ini menunjukkan bahwa mereka tidak tahu bahwa Allah memiliki betis atau mengingkarinya.

F. Kapal Nuh adalah bahasa mutasyabihat dari Qiyadah yaitu sarana organisasi dakwah yang dikendalikan oleh Nuh sebagai nakoda ….lihat hal. 42 dan 43.

G. Mengingkari hakekat jin dan diartikan sebagai manusia jin yaitu jenis manusia yang hidupnya tertutup dari pergaulan manusia biasa, yaitu manusia yang mamiliki kemampuan berpikir dan berteknologi yang selalu menjadi pemimpin dalam masyarakat manusia. Golongan jin yang dimaksud pada surat Al-Jin adalah orang-orang Nasrani yang shaleh yang berasal dari utara Arab, lihat tafsir surat Al-Jin hal.16…dst. Dan raja Habsyi yang bernama Negus termasuk golongan manusia jin yang dimaksud dalam Al-Qur’an dalam surat Al-Jin, lihat hal.52.

H. Mengingkari pengambilan persaksian dari anak-anak Adam dialam ruh atas rububiyah Allah yang merupakan penafsiran surat Al-A’raf ayat 173, lihat tafsir surat Al-Insan hal. 85.

I. Menyatakan bahwa penciptaan Adam dan Isa bin Maryam adalah unsur-unsur mineral menjadi kromosom yang kemudian diproses menjadi sperma, lihat hal. 85.

Dan masih banyak lagi penyimpangan-penyimpangan yang lainnya.

Selanjutnya melalui buletin ini kami menghimbau kepada seluruh kaum muslimin dimana saja berada untuk senantiasa waspada dan mewaspadai gerakan sesat ini yang menamakan dirinya dengan Al-Qiyadah Al-Islamiyyah, diantara ciri-ciri mereka ialah tidak menegakkan shalat lima waktu, berbicara agama dengan dengan menggunakan logika, mencampuradukan antara Islam dengan Kristen,… dll.

alatsar.wordpress.com

Rusaknya Pemahaman Al-Qiyadah Al-Islamiyah

terhadap Kedudukan Hadits

Ingkarussunnah, apapun namanya senantiasa menolak hadits-hadits dengan berbagai macam kerancuan berpikir. Syubhat-syubhat yang basi mereka lontarkan ketengah-tengah ummat dengan harapan mereka akan meraih pengikut banyak.

Bagi orang yang mengamati perkembangan firqah-firqah dalam Islam, tentunya akan mendapati bahwa sebenarnya sudah dibantah oleh para ulama. Namun kebodohan atawa kejahilan para pengekor Al-Qiyadah Al-islamiyah (pengikar sunnah) ini membangkitkan kembali isu lama yang sebenarnya telah terpendam.

Namun, Subhanalloh, Alloh senantiasa menjaga agama ini dengan membangkitkan generasi yang senantiasa berpegang teguh pada Al-Quran dan As-Sunnah sebagai Dua pedoman hidup, yang siapa saja berpegang kepada keduanya maka tidak ada sesuatupun yang akan menyesatkan mereka selama-lamanya.

Pengekor Al-Qiyadah Al-Islamiyah dengan kejahilannya melontarkan syubhat-syubhat yang antara lain akan kita perhatikan pembahasannya berikut ini, semoga hal ini menjadi bahan masukan bagi kita untuk menolak segala syubhat-syubhat pengekor Ingkarussunnah. Insya Alloh.

Mereka berkata ;

Kitab al-Qur’anul Karim adalah sebuah kitab yang dipelihara dan dijamin keotentikannya oleh Allah Subhanahu waTa’ala, tidak demikian halnya dengan hadits-hadits. sebagaimana firman Allah:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Quran, dan Kamilah yang memeliharanya. [al-Hijr 15:09]

Jawaban :

Ketahuilah bahwa jika Allah Ta’ala menjamin keotentikan alQur’an, hal ini bukan berarti sekedar memelihara dan menjaga huruf-hurufnya saja, tetapi meliputi semua yang berkaitan dengan Alqur’an, termasuk memelihara dan menjaga maksud, pengajaran serta qaidah pengamalannya. 3 hal yang terakhir inilah yang diwakili oleh As-Sunnah atau hadits Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam.

Maka tidaklah mungkin Alloh hanya memelihara huruf-huruf Alqur’an saja sementara ajaran dan maksudnya dibiarkan saja menjadi mainan yang ditolak dan ditarik sesuka hati oleh ummat. Perlu difahami juga bahwa apabila Allah berjanji memelihara Alquran Alkarim, maka maksud pemeliharaan itu adalah dari dua sudut, yang pertama sudut material yaitu sebutan, lafaz dan susunan ayat-ayat Alquran dan yang kedua adalah dari sudut non material, yakni maksud ayat, pengajaran dan qaidah pengamalan ayat. Hadits dan sunnah Nabi sentiasa dipelihara oleh Allah Subhanahu wata’ala dengan adanya para ahli hadits di setiap generasi yang sentiasa mempelajari, menganalisa dan mengkaji kedudukan isnad sebuah hadits untuk kemudian dibedakan antara yang benar dan yang palsu.

Maka, kejahilan para Ingkarussunnah dengan apapun sebutan kelompoknya telah nyata-nyata diketahui banyak orang dari dahulu hingga sekarang. Karenanya Sungguh benar Firman Alloh Ta’ala, “Telah datang Kebenaran maka lenyaplah kebatilan”.

Namun, tentunya selama syeitan belum pensiun akan tetap ada orang-orang yang menebarkan syubhat, racun-racun yang dihembuskan kedalam pikiran ummat islam ini sehingga dengan perlahan-lahan akan keluar dari Agama Islam yang mulia ini.

Kita mohon kepada Alloh agar ditetapkan kaki kita diatas jalan yang benar, yakni jalan orang-orang yang telah diberikan nikmat atas mereka, jalan generasi salafus sholih.

alatsar.wordpress.com

Kejahilan Al-Qiyadah Terhadap Tafsir

Sudah menjadi ciri pengikut aliran sesat bahwa mereka menggunakan ayat-ayat Alquran untuk membela alirannya dan pemahamannya, padahal Ayat tersebut jauh dari apa yang mereka fahami, bahkan mereka tidak mengerti Asbabunnuzul nya, serta tafsir ayat yang mereka bawakan.

Ingkarussunnah, demikian pemahaman aliran sesat Al-Qiyadah Al-Islamiyah. Kebodohan yang menyelimuti kepala mereka telah menyebabkan mereka tidak menyadari bahwa tidak ada hujjah sedikitpun yang dapat mereka gunakan dihadapan Ahlussunah waljamaah, Apalagi dihadapan Alloh Subhanahu wata’ala. Berikut ini mari kita menyimak pembahasan tentang kelemahan serta kejahilan hujjah pengikut atau bahkan pentolan dari Aliran sesat Al-Qiyadah Al-Islamiyah.

Hujah Aneh seorang pengikut Al-Qiyadah Al-Islamiyah

Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam sendiri pernah mengadu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa umat Islam telah membelakangi al-Qur’an dan hanya mengutamakan hadits saja. Sebagaimana disebutkan dalam AlQuran:

Dan berkatalah Rasululloh: “Wahai Tuhanku sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Quran ini satu perlembagaan yang ditinggalkan, tidak dipakai”. [al-Furqan 25:30]

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُوراً

Jawaban:

Syubhat ini mudah dijawab apabila kita perhatikan benar-benar kepada siapakah pengaduan Rasulullah tersebut ditujukan. Perhatikan bahwa istilah yang digunakan dalam surah al-Furqan di atas adalah “kaumku” dan bukannya “umatku”. Perkataan kaum lazimnya merujuk kepada satu bangsa, suku atau kabilah, Namun jika dikatakan “umat” maka lazimnya merujuk kepada satu kumpulan manusia yang mengikuti satu jalan atau pimpinan. Seruan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap kaumnya dalam ayat di atas adalah mirip kepada seruan beberapa Rasul dan Nabi sebelum baginda terhadap kaum mereka masing-masing sebagaimana yang telah diungkap oleh al-Qur’an:

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ أَنفُسَكُمْ بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ

Dan (ingatlah) ketika Nabi Musa berkata kepada kaumnya: “Wahai kaumku! Sesungguhnya kamu telah menganiaya diri kamu sendiri dengan sebab kamu menyembah patung anak lembu itu.” [al-Baqarah 2:54]

قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلاً وَنَهَارا

Nabi Nuh berdoa dengan berkata: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam (supaya mereka beriman).” [Nuh 71:05]

وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُوداً قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُواْ اللّهَ

Dan kepada kaum Aad, Kami utuskan saudara mereka: Nabi Hud ia berkata: “Wahai kaumku! Sembahlah Allah !” [Hud 11:50]

Nukilan 3 ayat di atas jelas menunjukkan bahwa para Nabi dan Rasul menggunakan panggilan kaumku untuk memaksudkan kepada kaum atau masyarakat yang hidup bersama mereka (Nabi atau Rosul ‘alaihimussalam). Akan tetapi istilah “kaumku” akan berubah kepada “umatku” atau umat saja apabila yang ditujukan adalah sekumpulan manusia yang mengikuti jalan atau pimpinan seseorang Rasul, baik yang hidup sejaman dengan Rasul tersebut ataupun sesudahnya. Perhatikan ayat-ayat berikut:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولٌ فَإِذَا جَاء رَسُولُهُمْ قُضِيَ بَيْنَهُم بِالْقِسْطِ وَهُمْ لاَ يُظْلَمُون

Dan bagi tiap-tiap satu umat ada seorang Rasul (yang diutuskan kepadanya). [Yunus 10:47]

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus di kalangan tiap-tiap umat seorang Rasul (dengan memerintahkannya menyeru mereka): “Hendaklah kamu menyembah Allah dan jauhilah Taghut.” [an-Nahl 16:36]

كَذَلِكَ أَرْسَلْنَاكَ فِي أُمَّةٍ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهَا أُمَمٌ

Demikianlah, Kami utuskan engkau (wahai Muhammad) kepada satu umat yang telah berlalu sebelumnya beberapa umat yang lain. [ar-Ra’d 13:30]

Perbandingan antara ayat-ayat di atas jelas menunjukkan kepada kita perbedaan antara istilah kaum dan umat. Diulangi bahwa perkataan kaum itu biasanya ditujukan kepada satu bangsa, suku atau kabilah, dan perkataan umat biasanya ditujukan kepada satu kumpulan manusia yang mengikuti satu jalan atau pimpinan.

Maka Penggunaan Kata kaum, juga berbeda dengan penggunaan kata Umat. Simaklah hadits berikut ini ;

Dari Ibnu Abbas (radiallahu-anhu), beliau berkata, telah bersabda Rasulullah sallallahu-alaihi-wasallam tentang Kota Mekah: “Alangkah baiknya engkau (Mekkah) sebagai satu negeri dan alangkah aku sukai, seandainya kaumku tidak mengusirku darimu (Mekkah), niscaya aku tidak tinggal ditempat selainmu (Mekkah).” [Mu’jam al-Kabir) dan al-Hakim, dinilai sahih oleh Syu’aib al-Arnuth dalam Sahih Ibnu Hibban – no: 3709 (Kitab al-Hajj, Bab Keutamaan Makkah)]

Namun jika Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam menyampaikan urusan orang-orang Islam seluruhnya hingga akhir zaman, beliau akan menyebut dengan “umatku” sebagaimana terukir dalam hadits berikut:

Sesungguhnya Allah memberi keampunan dan tidak menghisab segala pembicaraan hati umatku selama mereka tidak mengatakannya atau melakukannya.[HR Bukhari, Muslim]

Perumpamaan umatku adalah seperti hujan, tidak diketahui apakah awalnya yang baik atau akhirnya. [Imam Suyuthi, Jamii-us-Sagheir – hadits no: 8161]

Oleh karenanya pengaduan Rasululloh sallallahu ’alaihi wasallam terhadap “kaumku” dalam ayat diatas sebenarnya merujuk kepada bangsa atau sukunya sendiri pada saat itu, yakni bangsa Quraish.[ al-Zamakhsyari – Tafsir al-Kasysyaf, jld 3, hal 282] Ayat ini tidak ditujukan kepada kita umat Islam karena kita tetap merujuk kepada al-Qur’an serta merujuk kepada Hadits.

Kesimpulan ;

Alangkah Jahilnya orang-orang Al-Qiyadah Al-Islamiyah jika menggunakan ayat tersebut untuk menolak Hadits-hadits Rosululloh shallallohu ‘alaihi wasallam.

Mereka tidak mengerti tafsir, tidak juga ilmu hadits.

abasalma.wordpress.com 

 

Permurtadan Dibalik

Al-Qiyadah Al-Islamiyah

Oleh : Abu Salma Mohammad Fachrurozi

Al-hamdulillah pada Ahad, 29 Juli 2007 saya dapat menghadiri tablig akbar di Masjid Kampus UGM Jogjakarta, dengan tema Pemurtadan Dibalik Al-Qiyadah Al-Islamiyah. Acara yang diselenggarakan oleh Yayasan Asy-Syariah ini menghadirkan pemateri Al Ustadz Abu Abdillah Luqman bin Muhammad Baabduh di samping itu dihadirkan pula saksi-saksi yang menjelaskan keberadaan kelompok / aliran sesat menyesatkan yang menganggap pemimpinnya adalah Rasul Baru yang bernama Al-Masih Al-Maulud.

Sekilas Al-Qiyadah Al-Islamiyah.

Kelompok ini aliran baru yang muncul di Jakarta dan mulai perengahan 2006 tercium menyebarkan keyakinannya di kota gudeg Jogjakarta dengan obyek dakwah utama adalah para mahasiswa yang secara umum mereka adalah intelektual dalam dunia ilmu pengetahuan, biasa menggunakan akalnya dalam mengambil simpulan-simpulan.

Dari penjelasan para saksi dapat diambil suatu kesimpulan bahwa Al-Qiyadah Al-Islamiyah memiliki ajaran-ajaran yag jauh menyimpang dari pokok-pokok Ajaran Islam, antara lain :

  1. Mereka menghilangkan Rukun Islam yang telah dipegangi oleh seluruh Kaum Muslimin dan jelas-jelas bersumber dari hadits-hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh para ulama ahli hadits yang diterima oleh seluruh kaum uslimin dari kalangan ahlussunnah (Suni)
  2. Mereka menganggap bahwa pimpinannya adalah Rasulullah yaitu bernama Al-Masih Al Maulud (Al Masih yang dijanjikan /dilahirkan)
  3. Menghilangkan syariat sholat lima waktu dalam sehari semalam, dengan diganti sholat lail, mereka mengatakan bahwa dalam dunia yang kotor (belum menggunakan syariat Islam-penulis) seperti ini tidak layak kaum muslimin melakukan sholat lima waktu.
  4. Menganggap orang yang tidak masuk kepada kelompoknya dan mengakui bahwa pemimpin mereka adalah Rasul adalah orang musyrik. Hal ini sesuai yang di ungkapkan oleh seorang saksi yang anak kandungnya sampai saat ini setia dan mengikuti kajian-kajian kelompok ini. Anak kesayangannya tersebut tidak mau pulang ke rumah bersama kedua orang tua karena menganggap kedua orangtuanya musyrikin.
  5. Dalam dakwah, mereka menerapkan istilah sittati aiyyam (enam hari) yang mereka terjemahkan menjadi enam tahapan, yaitu :
    1. Sirron (Diam-diam / Sembunyi-sembunyi / Bergerilya – penulis)
    2. Jahron (Terang-terangan)
    3. Hijrah
    4. Qital
    5. Futuh (Meniru NAbi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam, membuka Mekah – Penulis)
    6. Khilafah

Tampak dari enam tahapan ini mereka mencoba mengaplikasikan tahapan dakwah Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam dalam berdakwah di jazirah Arab dahulu.

Bantahan terhadap kelompok ini.

Salah satu kelebihan Ahlussunnah dan para pengusungnya adalah kepedulian mereka terhadap penyimpangan-penyimpangan ajaran Islam yang lurus, mereka selalu tapil di garda depan menjelaskan kekeliruan-kekeliruan faham yang tersebar di kalangan kaum muslimin. Al hamdulillah dalam kesibukan yang menyita Al Ustadz Abu Abdillah Luqman bin Muhammad Baabduh menyempatkan diri hadir ke Jogja untuk menjelaskan syubhat-syubhat murahan yang berusaha ditebarkan oleh Al-Qiyadah Al-Islamiyah.

Dengan mengutip Ayat-ayat ayat alqur’an dan penjelasan para Ahli Tafsir dengan sabar Al Ustadz membantah satu persatu keyakinan mereka, tidak lupa Beliau membacakan hadits-hadits Nabi yang menjelaskan dan membantah keyakinan mereka. (Maaf karena sempitnya waktu kami tidak uraiakan penjelasan-penjelasan Ustadz Luqman pada kesempatan ini, semoga lain kali ada kesempatan bagi kami atau ikhwah lain yang lebih mumpuni dari saya ambil bagian ini)

Sungguh bagi kita atau siapa saja yang telah merasakan nikmatnya belajar Islam dengan pemahaman Salafush shalih sedikitpun syubhat mereka dengan Ijin Allah tidak akan membingungkan dan merubah keyakinan akidah kita.

Tidak seperti mereka syubhat murahan seperti itu mampu menggoyahkan Iman dan Islam mereka sehingga dengan tegas dan gagah berani meninggalkan orangtuanya dengan menganggap orangtuanya adalah kafir / Musyrik.

Pada kesempatan akhir pembicaraan al Ustadz Luqman menghimbau kepada Sseluruh kaum muslimin dan seluruh lembaga-lembaga terkait untuk mengantisipasi dakwah mereka, karena dakwah mereka akan menjurus kepada ancaman pembunuhan / memerangi terhadap seluruh kaum muslimin yang tidak mengakui ajaran mereka. Hal semacam ini tentunya akan mengancam ketentraman Kaum Muslimin dan mengancam Stabilitas Nasional.

Dijelaskan pula bahwa aliran ini berusaha menyatukan ajaran trinitas yang ada pada agama Nasrani, jadi ditengarahi bahwa aliran ini adalah pemurtadan atas nama Islam.Hal ini ditunjukkan oleh nama-nama mereka setelah masuk kelompok ini berubah semisal Emmanuel Fadhil atau semisalnya.

Mereka juga mengajarkan bahwa Tuhan Bapak adalah Rab, Yesus adalah Al Malik, Ruhul quddus adalah Ilah. Sungguh ini bukan ajaran Islam.

Semoga Allah mudahkan acara seperti ini di kota-kota lain seagaimana yang diucapkan oleh al Ustadz Luqman.

Pelajaran Yang dapat diambil.

Bagi saya sendiri dengan petunjuk dari Allah melalui pengalaman perjalanan keagamaan saya, alhamdulillah saya sedikit dapat mencium model gerakan ini. Model gerakan ini Insya Allah bersumber dari pemikiran wajibnya tegaknya Khilafah / Syariat Islam. Mereka menganggap bahwa tujuan hidup ini adalah menjadikan syariat Islam / Hukum-hukum Islam harus tegak dimuka bumi, harus menggantikan hukum-hukum kafir yang sekarang sedang mendominasi di tubuh kaum muslimin. Dalam perkara ini Al-Qiyadah sebenarnya tidak berbeda dengan gerakan Islam yang lain seperti LDII, Jamaah Muslimin (Hizbullah), NII, Ikhwanul Muslimin, Hizbu Tahrir dll. Hanya saja kelompok-kelompok yang saya sebutkan dengan hidayah Allah mereka masih menggunakan Hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam sehingga mereka masih melakukan peribadatan selayaknya kaum muslimin. Namun dalam tujuan pokok gerakan mereka adalah sama yaitu menegakkan khilafah dan syariat Islam dan mengajak seluruh kaum muslimin masuk kepada kelompoknya. Siapa yang masuk adalah Ikhwannya adapun kaum muslimin yang belum / tidak mau bukan bagian dari kelompoknya. Inilah Hizbiyyah, semoga Allah selamatkan kita dari hal semacam ini.

Yang paling mirip dengan mereka adalah aliran Isa Bugis, kesamaan pada kedua aliran ini adalah sama-sama menafsirkan al-qur’an dengan akalnya pemimpinnya belaka dan meninggalkan Hadits-hadits rasulullah, sehingga mereka meninggalkan syariat-syariat Islam yang mulia sebagaimana rukun Islam.

Akhirnya saya mengatakan, bahwa bertujuan memwujudkan khilafah, menjalankan syariat Islam adalah tujuan mulia, namun tujuan mulia, niat ikhlas tidaklah cukup. Harus terus ditanamkan pada masing-masing diri kita bahwa kita ini bodoh, butuh bimbingan dari Rasulullah dalam memahami al-Qur’an, butuh penjelasan para ulama ahlussunnah dalam memahami hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam.

Maka marilah terus kita belajar Islam, belajar Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman Salafush sholih agar kita tidak terjebak memahami al-Qur’an dengan nafsu dan ro’yu kita yang bodoh. Wallahu ta’ala a’lam.

http://suryaningsih.wordpress.com/2007/10/24/aliran-al-qiyadah-al-islamiyah-sesat/

Penyimpangan Aliran Syi’ah “Imamiyah Al-Itsna-’Asyariyyah” Dan Khomeini

Penyimpangan Aliran Syi’ah “Imamiyah Al-Itsna-’Asyariyyah”

Aliran Syi’ah “Imamiyah Al-Itsa-’Asyariyyah” membawa beberapa penyimpangan. Penyimpangan-penyimpangan tersebut jelas disebutkan dalam referensi-referensi yang mereka miliki. Dalam artikel ini akan disebutkan beberapa penyimpangan aliran Syi’ah “Imamiyah Al-Itsna-’Asyariyyah” (inhirafu manhaj “Imamiyyah Itsna Asyariyyah”) berdasarkan referensi mereka sendiri.

A. Fatwa-fatwa Sesat dari Khomeini Tentang Aqidah dalam kitabnya Kasyful-Asrar[1]:

1. Meminta Sesuatu Kepada Orang yang Telah Mati Tidak Termasuk Syirik.

“Ada yang berkata, bahwa meminta sesuatu pada orang yang telah mati baik itu Rasul maupun Imam adalah syirik, karena mereka tidak bisa memberi manfaat dan madharrat pada orang yang masih hidup. Maka saya (Khomeini) katakan: Tidak, hal tersebut tidak termasuk syirk, bahkan meminta sesuatu pada batu atau pohon juga tidak termasuk syirik, walaupun perbuatan tersebut adalah perbuatan orang yang bodoh. Maka jika yang demikian itu bukanlah syirik apalagi meminta pada Rasul dan Imam-imam yang telah wafat, karena telah jelas dalam dalil maupun akal bahwa ruh yang telah mati malah memiliki kekuatan yang lebih besar dan lebih kuat dan ilmu filsafat pun telah membenarkan dan membahas hal tersebut secara panjang lebar.” (hal. 49)

2. Tuduhan Penyimpangan Abubakar dan Umar terhadap al-Qur’an.

“Disini saya katakan dengan tegas bahwa Abubakar dan Umar menyelisihi al-Qur’an dan mempermainkan Tuhan dan menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal menurut hawa nafsu mereka dan bagaimana mereka berdua juga telah berbuat kezhaliman dengan melawan Fathimah putri nabi SAW dan oleh karenanya mereka berdua menjadi bodoh terhadap hukum ALLAH dan hukum agama.” (hal. 126)

“Kita juga melihat ketika ia (Umar ra) yang buta mata hatinya itu mengeluarkan kata-kata yang menunjukkan kekafiran dan ke-zindiq-annya, yaitu penolakannya pada al-Qur’an surat an-Najm, ayat-3.” (hal. 137)

3. Dalil-Dalil Tentang Disyariatkannya Taqiyyah (Boleh Berdusta kepada selain orang Syi’ah):

“Dan kami tidak mengerti bagaimana mereka (ahlus-sunnah) menjauhi hikmah dan menyimpang karena hawa nafsu mereka, bagaimana tidak? Sedangkan TAQIYYAH adalah hukum akal yang paling jelas. Dan TAQIYYAH maknanya: Seorang manusia berkata dengan perkataan yang berbeda dengan kenyataannya atau melakukan perbuatan yang bertentangan dengan timbangan syariat karena menjaga darahnya, kehormatannya atau hartanya.” (hal. 148) “Maka termasuk bab taqiyyah jika kadangkala diperintahkan menyelisihi hukum-hukum ALLAH, sampai dibolehkan seorang pengikut Syi’ah berbeda dengan apa yang dihatinya untuk menyesatkan selain mereka (Syi’ah) dan agar mereka itu (selain Syi’ah) terjatuh dalam kebinasaan.” (hal. 148)

4. Mengapa Imamah (Aqidah tentang Imam yang Dua Belas -pen) Tidak Disebutkan dalam Al-Qur’an?

“Setelah aku jelaskan bahwa Keyakinan akan 12 Imam adalah ushuluddin (dasar aqidah Islam), dan bahwa al-Qur’an telah mengisyaratkan tentang hal tersebut secara tersirat. Dan aku jelaskan bahwa nabi SAW sengaja menyembunyikan ayat-ayat tentang Imamah dalam al-Qur’an karena takut al-Qur’an tersebut diselewengkan setelahnya, atau karena beliau SAW takut terjadinya perselisihan di antara kaum muslimin sehingga akan berdampak yang demikian itu terhadap aqidah Islam.” (hal. 149)

5. Khulafa Rasyidun adalah Ahlul Bathil

“Dan telah kukatakan beberapa potongan dari kitab Nahjul-Balaghah[2] yang menetapkan bahwa Ali ra berpandangan bahwa para Khulafa selainnya adalah bathil.” (hal. 186)

6. Penetapan Ratapan atas Husein dan Menjambak Rambut serta Merobek-robek Baju baginya setiap tahun (saat memperingati peristiwa Karbala -pen) sebagai Bagian dari ajaran Agama.

“Tidak ada dalam majlis tersebut kekurangan, karena semua itu adalah pelaksanaan perintah agama dan akhlaqiyyahnya dan tersebarnya fadhilah dan akhlaq yang paling tinggi serta aturan dari sisi ALLAH serta hukum yang lurus yang merupakan pencerminan dari madzhab Syi’ah yang suci yang ittiba’ pada Ali alaihis salam.” (hal. 192)

7. Wilayatul Faqih (Penetapan Kepemimpinan para Ulama Besar Syi’ah sampai saat Bangkitnya Kembali Imam ke-12 Syi’ah -pen)

“Syaikh ash-Shaduq dalam kitab Ikmalud-Din, dan syaikh ath-Thusiy dalam kitab al-Ghaybah, dan at-Thabrasiy dalam kitab al-Ihtijaj menukil dari Imam yang Ghaib (Imam ke-12 Syi’ah yang sekarang sedang menghilang -pen), sbb: Adapun hadits-hadits yang jelas maka hendaklah merujuk pada para periwayat hadits-hadits kami (syi’ah -pen), karena mereka semua adalah hujjahku atas kalian dan aku adalah hujjah ALLAH! Lalu kata Khomeini selanjutnya: Maka wajib atas manusia pada masa ghaibnya Imam (ke-12 tersebut -pen) untuk merujuk semua urusan mereka pada para periwayat hadits (syi’ah) dan taat pada mereka karena Imam telah menjadikan mereka itu hujjahnya.” (hal. 206) “Maka jelaslah dari hadits tersebut bahwa para Mujtahid adalah hakim dan barangsiapa yang menolak maka sama dengan menolak Imam dan barangsiapa menolak Imam maka berarti menolak ALLAH dan menolak ALLAH berarti syirik kepada-NYA.” (hal. 207)

B. Ushul Fiqh Menurut Syi’ah[3]:

1. Bahwa Dalil Sunnah (menurut Syi’ah -pen) adalah Hadits Nabi SAW dan Hadits dari Imam Syi’ah Yang 12 Orang

Dalil Sunnah (menurut Syi’ah -pen) definisinya = Perkataan (qawlan) dari AL-MA’SHUM, perbuatan (fi’li) dan persetujuannya (taqrir). Definisi AL-MA’SHUM (menurut Syi’ah -pen): Semua yang ditetapkan kema’shumannya dengan dalil, yaitu nabi SAW dan 12 orang Imam ahlul-bait. (hal. 22)

Adapun kehujjahan as-sunnah yang bersumber dari ahlul-bait baik perkataan mereka, perbuatan mereka maupun persetujuan mereka maka dikembalikan keimaman mereka, kema’shuman mereka dan kebenaran mereka SAMA DENGAN KEDUDUKAN nabi SAW. (hal. 23)

2. Dirasah Sanad Hadits Menurut Syi’ah:

a. Pembagian Hadits dikelompokkan dari sisi banyak sanadnya dan hubungannya dengan para ma’shum/al-ma’shumiin (yaitu nabi SAW dan 12 Imam Syi’ah -pen) (hal. 26):

i. Hadits yang Terpaut Hati dengan Para Ma’shum (yang dibagi lagi menjadi mutawatir dan muqtarin)

ii. Hadits yang Tidak Terpaut Hati dengan Para Ma’shum (yaitu hadits ahad)

b. Pembagian Hadits dari sisi penerimaannya (mu’tabar) (hal. 29-30):

i. Hadits Shahih (menurut Syi’ah -pen): Yaitu hadits yang seluruh periwayatnya adil dan sesuai dengan aqidah Syi’ah 12 Imam.

ii. Hadits Mawtsiq: Yaitu yang seluruh periwayatnya tsiqah dari muslimin secara umum (ahlus-sunnah -pen), atau sebagiannya dari tsiqat muslimin dan sebagian lagi dari perawi yang adil dari Syi’ah 12 Imam.

iii. Hadits Hasan: Yaitu yang kumpulan perawinya orang yang kurang kuat dari ulama hadits, atau dari percampuran antara yang adil yang tsiqat dan yang kurang kuat, atau dari percampuran antara yang adil dengan yang kurang kuat, atau yang tsiqat dengan yang kurang kuat.

3. Ijma’ Menurut Syi’ah (hal 76):

a. Yaitu kesepakatan jama’ah ulama yang salah seorangnya adalah Imam yang ma’shum (salah seorang dari 12 Imam Syi’ah -pen).

b. Maksudnya adalah tegaknya ijma’ yaitu jika para ulama tersebut mampu menyingkap makna salah satu pernyataan Imam yang ma’shum dalam suatu masalah.

c. Pembagian Ijma’ (hal. 77):

i. Ijma’ Muhshal: Yaitu semua ijma’ yang dihasilkan oleh wilayatul faqih dari dirinya dan sesuai dengan perkataan para mufti.

ii. Ijma’ Manqul: Yaitu semua ijma’ yang tidak dihasilkan oleh wilayatul faqih dari dirinya tetapi hanyalah dinukil darinya oleh para fuqaha yang lain.

___

Catatan Kaki:

[1] Kasyful Asrar, oleh: AyatuLLAH RuhuLLAH Khomeini. Alih-bahasa (dr bhs Parsi): DR Muhammad al-Bandari, Ta’liq hadits: Salim bin ‘Ied al-Hilali, Kata Pengantar: DR Ahmad al-Khatib, Kritik: Nashiruddin al-Albani. Th 1408 H/1987 M. Penerbit: Daar al-’Imaar Lin-Nasyr wat-Tauzi’, Amman-Urdun.

[2] Kitab tersebut adalah kitab palsu yang mengatasnamakan Ali ra (lih. Al-Mizan, oleh Imam Adz-Dzahabi III/124, juga Al-Lisan oleh Imam Ibnu Hajar, IV/223)

[3] Mabadi’ Ushulul Fiqh (Muwajjiz Wafin Li Ahammi Mawdhu’at Ushulul Fiqh: Ta’rifat, Mushthalahat, Adillatisy Syari’ al-Islamiy). Oleh: DR Abdul Hadi al-Fadhli. Penerbit: Mathabi’ Dar wa Maktabah al-Hilal. Th 1986. Bairut-Lubnan.

URL:

http://www.al-ikhwan.net/index.php/aqidah-daiyah/2007/penyimpangan-aliran-syiah-imamiyah-al-itsna-asyariyyah/

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 296 pengikut lainnya.