• Blog Stats

    • 37,612,807 hits
  • pacaran adalah perbuatan haram, maka janganlah berpacaran. Dan jangan mau jika diajak pacaran. Akan tetapi tempuhlah jalan yang halal jika memang benar-benar cinta dan ingin menikah. Segeralah menikah dan jangan berpacaran. ================================== dan janganlah kamu mendekati zina. sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk. [QS Al Isra':32] ==================================== JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA ====================================== Asy-Sya’bi berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah)
  • Artikel Terbaru

  • Artikel Terbanyak Dibaca

  • arsip artikel

  • wasiat untuk seluruh umat manusia

    kasihilah semua makhluk yang ada di muka bumi, niscaya Tuhan yang ada di atas langit akan mengasihimu.. =============================================== Cara mengasihi orang kafir diantaranya adalah dengan mengajak mereka masuk islam agar mereka selamat dari api neraka =============================================== wahai manusia, islamlah agar kalian selamat.... ======================================================
  • wasiat untuk seluruh umat islam

    ====================================== “Janganlah kamu saling dengki, saling membenci, saling mengintip rahasia, saling bersaing, saling mencari keburukan, saling menawar lebih tinggi untuk menipu pembeli sehingga menawar tinggi, saling memutuskan hubungan, saling bermusuhan, janganlah sebagian kalian menjual atas jualan yang lain. Jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang diperintahkan Allah. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh menganiaya, tidak boleh menelantarkannya dan tidak boleh menghinanya. ============================================= Taqwa ada di sini, taqwa ada di sini, taqwa ada di sini kata Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam sambil menunjuk dadanya. ================================================= Cukuplah merupakan kejelekan seseorang apabila menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain adalah haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. Hati-hatilah bersangka buruk, karena sesungguhnya bersangka buruk adalah omongan yang paling dusta. ==================================================== Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk kamu dan hartamu, tetapi ia melihat hati dan perbuatanmu.” (riwayat Muslim dan Bukhari). ==========================================
  • BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR

    BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- -------------------------------------------------------------------------------------------- Orang yang mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi janda dan orang miskin ibarat berjihad di jalan Allah dan ibarat orang shalat malam (HR. Bukhari) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain. (HR. Ahmad) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersodaqoh dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana. (HR. Ath-Thabrani) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sodaqoh. (HR. Al-Baihaqi) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Tiap-tiap amalan makruf (kebajikan) adalah sodaqoh. Sesungguhnya di antara amalan makruf ialah berjumpa kawan dengan wajah ceria (senyum) dan mengurangi isi embermu untuk diisikan ke mangkuk kawanmu. (HR. Ahmad) ------------------------------------------------------------------------------------------------------------
  • berbuat baiklah pada semua binatang, termasuk kepada anjing

    Kita tidak diperbolehkan menyiksa binatang dengan cara apa pun, atau membuatnya kelaparan, memukulinya, membebaninya dengan sesuatu yang ia tidak mampu, menyiksa atau membakarnnya. --------------------------------------------------- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Seorang wanita masuk neraka karena seekor kucing yang ia kurung hingga mati. Maka dari itu ia masuk neraka gara-gara kucing tersebut disebabkan dia tidak memberinya makan dan tidak pula memberinya minum di saat mengurung nya, dan dia tidak membiarkannya (melepaskannya) supaya memakan serangga di bumi.” (HR. al-Bukhari) ------------------------------------------------------- Dan ketika beliau melewati sarang semut yang telah dibakar, beliau bersabda, “Sesungguhnya tidak ada yang berhak menyiksa dengan api selain Rabb (Tuhan) pemilik api.” (HR. Abu Dawud, hadits shahih) ---------------------------------------------- “Barangsiapa yang tidak berbelas kasih niscaya tidak akan dibelaskasihi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) ------------------------------------------------- “Kasihanilah siapa saja yang ada di bumi ini, niscaya kalian akan dikasihani oleh yang ada di langit.” (HR. at-Tirmidzi) -------------------------------------------------- Dibolehkan membunuh hewan-hewan yang membahayakan atau mengganggu seperti anjing buas, serigala, ular, kalajengking, tikus dan lain-lain karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Ada lima macam hewan fasik (buruk) yang boleh dibunuh di waktu halal (tidak ihram) dan di waktu ihram, yaitu ular, burung gagak yang putih punggung dan perutnya, tikus, anjing buas, dan rajawali.” (HR. Muslim). Juga terdapat hadits shahih yang membolehkan untuk membunuh kalajengking. ================================================
  • JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA

    ====================================== ‘Amr bin Syarahil Asy-Sya’bi rahimahullahu berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah, 2/636. Dihasankan oleh Al-Albani dalam At-Tahrim, hal. 148) ----------------------------------------------------------------------------- Ibnu Abdil Barr rahimahullahu berkata: “Termasuk hasil usaha yang disepakati keharamannya adalah riba, upah para pelacur, sogokan (suap), mengambil upah atas meratapi (mayit), nyanyian, perdukunan, mengaku mengetahui perkara gaib dan berita langit, hasil seruling dan segala permainan batil.” (Al-Kafi hal. 191) ---------------------------------------------------------------------- Ath-Thabari rahimahullahu berkata: “Telah sepakat para ulama di berbagai negeri tentang dibenci dan terlarangnya nyanyian.” (Tafsir Al-Qurthubi, 14/56) ------------------------------------------------------------------- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “Mazhab empat imam menyatakan bahwa alat-alat musik semuanya haram.” Lalu beliau menyebutkan hadits riwayat Al-Bukhari rahimahullahu . (Majmu’ Fatawa, 11/576) --------------------------------------------------------------- ------------------------------------------
  • wasiat bagi para pemuda

    ====================================== ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Barangsiapa di antara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya mereka adalah ummat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, dan paling lurus petunjuknya, serta paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya, karena mereka berada di jalan yang lurus.” [Dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Baar dalam kitabnya Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih II/947 no. 1810, tahqiq Abul Asybal Samir az-Zuhairy] ======================================
  • wasiat Imam al-Auza’i

    ====================================== Imam al-Auza’i rahimahullah (wafat th. 157 H) mengatakan: “Bersabarlah dirimu di atas Sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para Shahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan Salafush Shalih, karena akan mencukupi kamu apa saja yang mencukupi mereka.” [Syarh Ushul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah 1/174 no. 315] --------------------------------------------------------------- Beliau rahimahullah juga berkata: “Hendaklah kamu berpegang kepada atsar Salafush Shalih meskipun orang-orang menolaknya dan jauhkanlah diri kamu dari pendapat orang meskipun ia hiasi pendapatnya dengan perkataannya yang indah.” [Imam al-Aajury dalam as-Syari’ah I/445 no. 127, di-shahih-kan oleh al-Albany dalam Mukhtashar al-‘Uluw lil Imam adz-Dzahaby hal. 138, Siyar A’laam an-Nubalaa’ VII/120] =================================================
  • Mengutip perkataan Syaikh Bin Baz rahimahullaahu

    “Zaman ini adalah zaman kelembutan, kesabaran dan hikmah, bukanlah zaman kekerasan (kebengisan). Mayoritas manusia saat ini dalam keadaan jahil (bodoh), lalai dan lebih mementingkan duniawiyah. Maka haruslah sabar dan lemah lembut sampai dakwah ini tersampaikan dan sampai mereka mengetahuinya. Kami mohon petunjuk kepada Alloh untuk semuanya.” (Majmu’ Fatawa Samahatul Imam Ibnu Bazz (Juz VIII, hal 376) dan (Juz X, hal. 91) =================================================
  • jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara

    ====================================== Segala puji hanyalah milik Alloh yang telah mempertautkan hati kaum mukminin dan menganjurkan mereka supaya bersatu padu dan saling berhimpun serta memperingatkan dari perpecahan dan perselisihan. -------------------------------------------------------- Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq untuk disembah melainkan hanyalah Alloh semata yang tidak memiliki sekutu. Dialah yang mensyariatkan dan memudahkan, dan Dia terhadap kaum mukminin adalah sangat penyantun. ------------------------------------------------------ Saya juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang diperintahkan dengan kemudahan dan berita gembira. ----------------------------------------------------- Beliau bersabda : Permudahlah dan janganlah kamu persulit, berikanlah kabar gembira dan janganlah membuat orang lari (dari kebenaran). ------------------------------------------------------ Permisalan kaum mukminin satu dengan lainnya dalam hal kasih sayang, tolong menolong dan kecintaan, bagaikan tubuh yang satu, jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan merasa demam atau terjaga” --------------------------------------------------- Tidak ragu lagi, bahwa kewajiban Ahlus Sunnah di setiap zaman dan tempat adalah saling bersatu dan menyayangi di antara mereka serta saling bekerja sama di dalam kebajikan dan ketakwaan… ==================================================---------------
  • KHUTBATUL HAJAH

    ====================================== Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, dan meminta ampun kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami, dan dari keburukan-keburukan perbuatan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah saja, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. ================================================ “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” ================================================== “Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan darinya Allah menciptakan isterinya; dan dari keduanya Allah mengembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silatur rahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” ========================================================= “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mena’ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. ============================================================ Amma ba’du; Maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad , dan seburuk-buruk perkara dalam agama adalah yang di ada-adakan, setiap yang diada-adakan (dalam urusan agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan. (HR. Muslim, an-Nasa’i dan selain keduanya) ==================================================
  • Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka (al baqarah ayat 120)

  • SALAFY & WAHABI BUKANLAH ALIRAN SESAT

    Al-Malik Abdul Aziz berkata : “Aku adalah penyeru kepada aqidah Salafush Shalih, dan aqidah Salafush Shalih adalah berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang datang dari Khulafaur Rasyidin” [Al-Wajiz Fi Siratil Malik Abdul Aziz hal.216] ------------------------------------------------------------------------------------- Beliau juga berkata : “Mereka menamakan kami Wahabiyyin, dan menamakan madzhab kami adalah madzhab wahabi yang dianggap sebagai madzhab yang baru. Ini adalah kesalahan fatal, yang timbul dari propaganda-propaganda dusta yang disebarkan oleh musuh-musuh Islam. Kami bukanlah pemilik madzhab baru atau aqidah baru. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tidak pernah mendatangkan sesuatu yang baru, aqidah kami adalah aqidah Salafush Shalih yang datang di dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang ditempuh oleh Salafush Shalih. Kami menghormati imam empat, tidak ada perbedaan di sisi kami antara para imam : Malik, Syafi’i, Ahmad dan Abu Hanifah, semuanya terhormat dalam pandangan kami” [Al-Wajiz Fi Siratil Malik Abdul Aziz, hal. 217] ---------------------------------------------------------
  • mengutip perkataan Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad hafizhahullaahu:

    “Telah terjadi di zaman ini, sibuknya sebagian ahlus sunnah dengan sebagian lainnya dengan tajrih (saling mencela) dan tahdzir, dan implikasi dari hal ini menyebabkan terjadinya perpecahan, perselisihan dan saling mengisolir. Padahal sepantasnya bahkan seharusnya bagi mereka untuk saling mencintai dan berkasih sayang terhadap sesama mereka, dan menyatukan barisan mereka di dalam menghadapi ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu yang menyelisihi ahlus sunnah wal jama’ah. ---------------------------------------------------- “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- agar menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dari perkara-perkara yang tidak bermanfaat bagi mereka, sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “diantara kebaikan seorang muslim adalah meninggalkan hal-hal yang tidak berfaidah baginya.” Hadits hasan diriwayatkan oleh Turmudzi.” ------------------------------------------------------ “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- untuk bersikap pertengahan dan moderat, diantara sikap ghuluw (ekstrim) dan meremehkan, dan diantara sikap ifrath (berlebih-lebihan) dan tafrith (menggampangkan). Sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “Jauhilah oleh kalian sikap ghuluw di dalam agama, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa dikarenakan sikap ghuluw mereka di dalam agama.” Ini hadits shahih, dikeluarkan oleh an-Nasa’i dan selainnya.” ---------------------------------------------------- “Dan aku nasehatkan supaya mereka berhati-hati dari sikap zhalim, dikarenakan hadits Qudsi, “Wahai hamba-Ku, sesunguhnya Aku haramkan kezhaliman atas diri-Ku, maka aku jadikan pula haram atas diri kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi” diriwayatkan oleh Muslim, dan hadits Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “takutlah kalian dari kezhaliman, karena sesungguhnya kezhaliman itu adalah kegelapan di hari kiamat” diriwayatkan oleh Muslim. ------------------------------------------------------ Aku memohon kepada Allah Azza wa Jalla untuk menunjuki seluruh ummat kepada apa yang diridhai-Nya, agar mereka mendalami agama Islam (tafaqquh fid din) dan menetapi kebenaran, serta agar mereka menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dan menjauhkan dari apa-apa yang tidak bermanfaat. Sesungguhnya Ia berkuasa dan berkemampuan atasnya. Semoga Sholawat dan Salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya dan para sahabatnya. (selesai kutipan) ===========================================
  • mengutip perkataan Imam Albani rahimahullaahu

    “Wajib atas kita untuk berlemah lembut di dalam dakwah kita terhadap orang-orang yang menyelisihi kita, dan jadikan selalu firman Alloh Ta’ala berikut (sebagai pegangan) dan untuk selamanya : “Serulah mereka ke jalan Rabb-mu dengan hikmah dan nasehat yang baik, serta berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.” Dan mereka yang pertama lebih berhak untuk kita terapkan hikmah ini adalah mereka yang paling memusuhi kita di dalam dasar (mabda’) dan aqidah kita, hingga kita tidak menggabungkan antara beratnya dakwah yang haq yang Alloh memperteguh kita dengannya dengan beratnya cara (ushlub) kita berdakwah kepada Alloh Azza wa Jalla” ==================================================
  • Diriwayatkan bahwa Hasan Al-banna berkata: “Kami menginginkan terbentuknya sosok individu muslim, rumah tangga Islami, bangsa yang Islami, pemerintahan yang Islami, negara yang dipimpin oleh negara-negara Islam, menyatukan perpecahan kaum muslimin dan negara mereka yang terampas, kemudian membawa bendera jihad dan da’wah kepada Allah sehingga dunia mendapatkan ketentraman dengan ajaran-ajaran Islam.” ==================================================
  • warning

    dalam blog ini mungkin terdapat hadits dhoif, riwayat yang tidak valid, salah tulis, kutipan yg tidak sesuai syariat islam, dan berbagai kesalahan2 lain, dan belum sempat di sensor, jadi mohon maaf sebesar-besarnya

PENDETA MENGHUJAT, MUALAF MERALAT (BAGIAN 1)

Sambutan KH. Abdullah Wasia’an

Berbagai macam cara ditempuh oleh pihak Wa lan Tardho untuk mendangkalkan akidah umat Islam, agar beralih kepada agama Kristen yang mereka yakini sebagai satu-satunya jalan kebenaran hidup.

Murtadin Drs. A. Poernama Winangun alias H. Amos menyusun buku-buku gaya Islam dengan mengutip, menyelewengkan dan mengomentari terjemah Al-Qur’an dan Hadits tanpa mengutip ayat Bibel sama sekali. Tujuannya untuk memurtadkan umat Islam. Gerakan pemurtadan model ini sangat berbahaya, ibarat serigala berbulu domba.

Ketika membaca buku-buku karya H. Amos, kami teringat kepada satu dialog yang sangat menarik antara H. Cahyono – pelawak nasional mantan Katolik – dengan teman lamanya yang masih beragama Kristen.

Kata orang Kristen, “Cahyono, kamu kok nekad amat, berani pindah agama ke Islam. Bagaimana seandainya nanti pada Hari Penghakiman ternyata Kristen yang benar?”

Dengan bijaksana Cahyono menjawab, “Andaikata nanti Kristen yang benar, saya tidak akan rugi karena saya tidak akan disiksa oleh Tuhan. Sebab saya tidak pernah menyakiti, menghina dan melecehkan Yesus. Islam sangat menghormati Yesus sebagai nabi dan rasul Allah dengan ucapan alaihis salam (semoga selamat sejahtera terlimpah atas beliau). Tetapi, jika kelak terbukti bahwa Islam yang benar, maka orang Kristen akan disiksa di neraka. Sebab orang Kristen tidak menghormati Nabi Muhammad, bahkan menghujat beliau.”

Semua ungkapan tokoh Kristen tentang Islam begitu menyakitkan. Maka sangat pantas apabila almarhum Khomeini, pemimpin Iran menjatuhkan vonis hukuman mati kepada Salman Rushdie yang menghujat Nabi Muhammad dan Islam dalam bukunya ‘The Satanic Verses’.

Berbeda dengan Khomeini, dalam menyikapi serangan missionaris yang mendiskreditkan Islam, H. Insan L.S. Mokoginta – muhtadin mantan Kristen – justru menyusun buku jawaban balik ‘Pendeta Menghujat Muallaf Meralat’. Tindakan ini sangat tepat, benar dan Islami.

Setelah membandingkan buku hujatan Islam karya Drs. A. Poernama Winangun (H. Amos) dan buku jawaban H. Insan L.S. Mokoginta ini, maka kami menghimbau kepada H. Amos dan pendeta lainnya yang tergabung dalam Christian Centre Nehemia Jakarta, agar sebelum mengungkapkan Islam kepada orang lain, terlebih dahulu belajar serius secara mendalam. Sebab jika tidak, justru akan merugikan pihak Kristen sendiri.

Sebagai buktinya, dapat dikemukakan tentang apa yang telah dilakukan oleh H. Amos. Melalui pendidikan evangelis, buku-buku maupun ceramah-ceramah, dia mengajarkan kepada umat Kristen bahwa umat Islam menyembah Hajar Aswad.

Tanpa disadari, hal ini justru akan mempermalukan dan merugikan umat Kristen sendiri. Suatu ketika apabila kader Kristen terlibat dialog dengan kader Islam, maka anggapan bahwa Allah adalah Hajar Aswad tersebut akan dicibir, ditertawakan dan djanggap sebagai orang yang picik ilmu oleh pihak Islam. Sebab umat Islam mencium Hajar Aswad bukan untuk menyembah. Melainkan semata-mata sebagai rangkaian ibadah haji yang bersifat ritual.

Segala aturan ibadah dalam Islam berdasarkan dalil Al-Qur’an dan Hadits Nabi yang sifatnya tauqifiy (statis) dan tidak bisa diganggu gugat.

Dalam Kristen, aturan ritual ibadah dan iman juga tidak bisa diganggu gugat (dogmatis). Narnun perlu diketahui bahwa dogma iman dan ibadah dalam Kristen tidak berdasarkan pada ajaran Yesus dalam Injjl. Dogma Kristiani semata-mata berasal dari aturan para pemimpin agama yang bersumber kepada ajaran Paulus. Hal ini tersebut dalam surat Paulus kepada jemaat Roma 7:6, yaitu cara ibadah baru (cara rohani) bukan dengan rukun-rukun sebagaimana ajaran Taurat bahwa ibadah dengan wudhu, sujud, dan lain sebagainya.

Terhadap ungkapan emosional para pendeta dan missionaris bahwa Islam dan Nabi Muhammad adalah nabi khusus untuk Bangsa Arab, perlu ditunjukkan berikut ini komentar sarjana terkemuka Eropa tentang kemuliaan Islam.

Sir Charles Edward Archibald Watkin Hamilton [*] dalam buku “Mohammedanism” halaman 47 mengatakan: “Thus Islam, although a religion physically centred on Mecca, is not an Arabian religion” (Jadi, Islam adalah agama yang dilahirkan di kota Mekkah, namun bukan Agama Bangsa Arab).

George Bernard Shaw, budayawan dan kritikus kaliber internasional dari Inggris mengatakan: “Er musz viel mehr geradezu des Heiland der Menschklichkeit genant werden”. Artinya: Seharusnya Muhammad disebut sebagai Juruselamat untuk seluruh manusia.

Memang, para tokoh Kristen memiliki satu kecenderungan untuk mengungkapkan Islam kepada orang lain, tanpa mempelajari Islam secara mendalam terlebih dahulu. Dan ini justru akan merugikan pihak Kristen sendiri.

Seperti yang dilakukan oleh Pendeta dr. Suradi, Pendeta Matius, Penginjil Jansen Litik, dan lain-lainnya. Mereka mempermasalahkan kalimat “Allah adalah Zat Yang Maha Kuasa” dalam Islam. Anggapan mereka, kalau demikian berarti Tuhannya umat Islam itu ujudnya zat (benda). Zat ada tiga macam, yaitu zat cair, gas dan padat. Mustahil kalau Tuhannya umat Islam itu zat cair mirip Aqua atau zat gas yang mirip elpiji. Satu-satunya yang mungkin, Tuhan umat Islam adalah zat padat. Sebab umat Islam menyembah Allah dalam shalat selalu menghadap Ka’bah di Mekkah.

Anggapan keliru ini mereka ajarkan di gereja-gereja tanpa menanyakan lebih dahulu kepada umat Islam. Sekali lagi, ini justru sangat merugikan dan menjatuhkan gengsi umat Kristen.

Suatu ketika apabila kader gereja berdialog dengan kader muslim, maka pihak Kristen akan dikatakan sebagai orang yang tolol dan kerdil nalarnya. Sebab tidak mengetahui apa beda antara zat dan sifat.

Zat adalah lawan daripada sifat. Misalnya, seekor gajah sirkus. Gajah itu memiliki sifat: halus, tidak beringas dan lucu. Adapun zatnya (ujudnya) adalah berbadan besar, memiliki belalai, matanya sipit, telinganya lebar, dan lain-lain.

Sedangkan dalam Islam diajarkan bahwa Allah adalah Zat Yang Maha Kuasa, ini berarti: Allah memiliki sifat Maha Kuasa. Bagaimana dengan Zat-Nya (Ujud-Nya) ? Al-Qur’an mengatakan “Laysa kamitslihi syay-un”, artinya: tidak ada sesuatu apapun yang menyerupai Allah.

Sebaliknya, jika kader muslim tersebut mengerti Kristologi, maka dia akan menyerang balik dengan mengatakan bahwa Tuhan dalam ajaran Kristen itu bertingkah aneh-aneh dan tidak masuk akal. Dalam kitab Kejadian 32:28 Tuhan turun ke bumi menjelma menjadi manusia, lalu duel dengan NabiYakub sampai kalah. Tuhan kok, kalah? Dalam Injil Yohanes 1: 32 Tuhan menjelma menjadi seekor burung merpati. Datam Injil Yohanes 1: 14 Tuhan menjelma menjadi manusia Yesus yang akhirnya menurut Kristen, Tuhan Yesus disiksa sampai mati tragis di atas gantungan tiang salib.

Sampai disini, maka pemuda Kristen jemaat gereja terdiam seribu bahasa tak berkutik dalam dialog alias terpukul knock out. Apa ini tidak memalukan dan merugikan pihak Kristen?

Saya percaya, sewaktu membaca jawaban balik H. Insan L.S. Mokoginta ini, Drs. A. Poernama Winangun (H. Amos) dan para pendeta atau missionaris lainnya tidak bergeming pendiriannya dalam Kristen karena gengsi. Namun yang penting, para pembaca Kristen lain yang memakai nalar dapat mengetahui dan membandingkan kebenaran Islam dengan ajaran Kristen.

Terlebih penting lagi, buku ini dapat membentengi umat Islam dari usaha pendangkalan akidah, sehingga semakin teguh tak tergoyahkan imannya oleh berbagai tulisan, rayuan dan serangan iman dari umat Kristen. Bahkah semakin mantap dalam keyakinan bahwa Innaddiina ‘indallohil islam.

Tulisan H. Insan L.S. Mokoginta ini adalah amar ma’ruf nahi munkar yang jauh dari sifat sentimen terhadap Kristen. Bahkan sangat sesuai dengan kitab suci umat Kristen:

“Tetapi jikalau engkau memperingatkan orang jahat dan ia tidak berbalik dari kejahatan dan dari hidupnya yang jahat, ia akan mati dalam kesalahannya. Tetapi engkau telah menyelamatkan nyawamu” (Yehezkiel 3:19).

Mudah-mudahan Allah memberikan hidayah-Nya kepada pembaca buku ini.

Sidoarjo, 9 Juni 1999

(K.H. Abdullah Wasi’an)

[*] Tokoh negarawan dan bangsawan Inggris terkemuka, masuk Islam pada tanggal 20 Desember 1923 dengan nama Islam Sir Abdullah Archibald Hamilton.

Sambutan Ketua FAKTA

FAKTA
Forum Antisipasi Kegiatan Pemurtadan)

Dalam hal pemurtadan dan permusuhan pihak Yahudi dan Kristen terhadap Islam, jauh sebelumnya Allah Swt. sudah memberikan sinyalemen dalam Kitab Suci:

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridha kepada kamu, sehingga kamu mengikuti agama (millah) mereka” (Qs. Al Baqarah 120).

Kebenaran ayat ini terbukti dengan berbagai fenomena maraknya Kristenisasi di kalangan masyarakat, antara lain beredarnya tulisan-tulisan –baik berupa brosur maupun buku-buku– yang memutar-balikkan pemahaman Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah saw.

Salah satu contoh konkritnya adalah buku berjudul “Upacara Ibadah Haji” karya Drs. H. Amos (Himar/keledai Amos ?) yang dengan begitu berani dan liciknya melecehkan Allah, Nabi Muhammad, agama Islam dan umat Islam.

Bagi orang yang memiliki wawasan Al-Qur’an dan pengetahuan tentang Bibel, buku tersebut tidak ada dampaknya sama sekali. Bahkan jelas sekali nampak kebodohan dan kebohongan Drs. Himar Amos, yang nama aslinya adalah Drs. A. Poernama Winangun, seorang murtadin.

Tetapi, bagi kaum awam, buku Upacara Ibadah Haji tersebut sangat berbahaya dan menuntut sebuah solusi yang bijaksana.

Sebagai salah satu solusinya, para tokoh masyarakat, majelis taklim, mubaligh, pemuda masjid, lembaga-lembaga dakwah dan aktivis Islam lainnya membentuk Forum Antisipasi Kegiatan Pemurtadan (FAKTA) di Cimanggis tanggal 25 April 1998 (28 Dzul Hijjah 1418 H).Tujuan utamanya adalah untuk mengantisipasi bahaya Kristenisasi dan missi pemurtadan.

Dalam menyikapi buku Upacara Ibadah Haji, FAKTA merasa berkewajiban untuk menjawab, meluruskan dan mengungkap kebohongan dan kebodohan buku tersebut.

Untuk menjawabnya, tidak perlu seorang kiyai, ulama atau ustadz yang turun tangan. Dengan jawaban Bpk. H. Insan LS. Mokoginta yang muallaf mantan Kristen saja sudah tebih dari cukup.

Jawaban beliau itulah yang sekarang ini kami hidangkan ke hadapan pembaca. Pembaca sekalian, baik dari Islam maupun Kristen, bisa menilai dengan obyektif, siapa yang lebih rasional dan ilmiah, hujatan H. Amos (mantan muslim) ataukah ralat H. Insan (mantan Kristen).

Dengan buku ini, insya Allah semakin terbukti bahwa agama yang benar di sisi Allah hanyalah Islam.

Semoga jerih payah dan usaha FAKTA ini mendapatkan berkah dari Allah Swt, Amien.

Jakarta, 8 Mei 1999

(Drs. H. Ramly Nawai, M.Sc.)

MUKADDIMAH

Bismillahirrahmanirrahim. Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Swt. yang telah menjadikan Islam sebagai agama yang paling sempurna dan unggul di atas segala agama. Shalawat dan salam kita haturkan kepada baginda Nabi Muhammad saw beserta keluarga, para sahabat dan pengikut beliau yang setia. Amien.

Adalah Drs. H. Amos yang nama aslinya Drs. Agam PoernamaWinangun. Setelah pindah iman (murtad) dari Islam ke Kristen pada usia 58 tahun, dia berubah menjadi seorang Kristen Fanatik. Dengan sangat agresif dia berusaha agar kaum muslimin lainnya mau mengikuti jejaknya untuk pindah agama.

Ditulisnya buku “Upacara Ibadah Haji” yang sangat mengelabuhi umat Islam. Dengan wajah Islam dan kutipan-kutipan Al-Qur’an dan Hadits Nabi, terkesan seolah-olah buku tersebut ditulis oleh umat Islam untuk kalangan Islam. Padahal isinya murni melecehkan dan menyerang sekaligus menantang agama Islam dan umat Islam.

Dikatakannya dalam kata pengantar halaman i bahwa buku “Upacara Ibadah Haji” tersebut disusun sebagai tambahan informasi bagi masyarakat yang akan menunaikan ibadah haji atau yang sudah menunaikan ibadah haji tetapi belum mengetahui tentang makna upacara ibadah haji.

Sementara itu dalam seluruh uraiannya dari Bab I sampai Bab V, semuanya murni melecehkan Islam dan umat Islam. Akhirnya, di bagian penutup (hal. 84), H. Amos berharap agar tambahan informasi bermuatan pelecehan itu dapat diterima dengan baik oleh para pembaca.

Sehingga, H.Amos yang mengaku-aku pernah menunaikan Ibadah Haji tahun 1983, menghimbau agar umat Islam menyadari dan tidak menutup-nutupi kekeliruan dalam hal menyembah Allah serta bertanggungjawab memperbaiki kekeliruan itu. Alasannya, karena pada dasarnya umat Islam itu menyembah setan, sesuai dengan Al-Qur’an suratYasin 60.

Pokoknya, umat Islam yang membaca buku “Upacara Ibadah Haji” tersebut pasti akan berontak dan tersulut amarahnya. Kecuali jika yang membacanya adalah muslim abangan, tentu mereka hanya tinggal diam saja, masa bodoh.

Sebagai muallaf mantan Kristen yang benar-benar sudah pernah menunaikan Ibadah Haji, kami menyambut baik risalah ‘tambahan informasi’ dari Bpk. Drs. H. Amos tersebut. Sebab risalah itu semakin membuktikan kebenaran firman Allah;

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak senang kepadamu sampai kamu mengikuti agama mereka” (Al Baqarah .120).

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kemu beriman” (Ali ‘Imran 100).

Sebagai timbal-baliknya (give and take), kami susun buku ralat yang ada di tangan pembaca ini, agar Drs. H. Amos dan para missionaris lainnya menyadari betapa parah dan rusaknya alam pikiran H. Amos setelah murtad dari Islam ke Kristen.

Dengan menyadari pemahaman yang sudah korslet tentang Islam, kami berharap kepada Drs. H. Amos cs. agar mulai mengkaji Islam dan membandingkannya dengan Kristen secara proporsional yang kami paparkan dalam buku ini.

Perlu diketahui sebelumnya, bahwa buku ini kami susun jauh dari sifat emosional, melainkan terdorong oleh perasaan iba dan kasihan kepada Drs. H. Amos yang sudah tidak bisa berpikir sehat lagi. Sebab setelah murtad, beliau dicuci otaknya oleh para pendeta dan missionaris.

Mudah-mudahan buku ini banyak manfaatnya.

Jakarta, Juni 1999

(H. Insan LS Mokoginta)

DIALOG 1 : HUJAT & RALAT ttg RUKUN IMAN

ISLAM AGAMA BANGSA ARAB, HAJI ADALAH UPACARA

Pendapat Drs. H. Amos (Pendeta Nehemia)

Upacara Ibadah Haji adalah salah satu kewajiban yang ditetapkan dalam rukun Islam yang kelima. Sebab itu sangatlah penting dan berguna untuk diketahui, apa itu rukun Islam.

Untuk mengetahui rukun Islam ada baiknya perlu terlebih dahulu memahami rukun Iman yang merupakan dasar prinsip keimanan dari agama bangsa Arab. (hal. 3).

Tanggapan H. Ihsan L.S. Mokoginta (Wenseslaus)

Dalam tiga kalimat tersebut terdapat dua kesalahan istilah yang mendasar dan sengaja dipakai dalam semua uraian dalam buku karangan H. Amos.

Pertama, menyebut Ibadah Haji (rukun Islam yang kelima) dengan istilah ‘Upacara Ibadah Haji’, ini adalah penghinaan yang nyata kepada umat Islam. Jutaan umat Islam Indonesia dilecehkan H. Amos dengan mengatakan bahwa Ibadah Haji adalah satu bentuk ‘upacara’. Jadi, ibadah haji dikonotasikan seolah-olah bukan dari ajaran Allah, melainkan tata cara ritual buatan manusia.

Hanya umat Islam dan jamaah haji yang lemah iman saja yang diam tanpa reaksi terhadap penghinaan murtadin Amos tersebut.

Kedua, mengganti istilah nama ‘Agama Islam’ dengan ‘Agama Bangsa Arab’, ini pun penghinaan yang sangat jelas dan menantang iman kepada umat Islam seluruh dunia. Dengan istilah ‘Agama Bangsa Arab’ ini, murtadin Amos menekankan seolah-olah Islam bukan agama untuk seluruh dunia, melainkan agamanya orang yang ada di Arab saja.

Oleh sebab itu, sangat tidak wajar jika Kedutaan Arab Saudi tidak melaporkan pelecehan agama ini kepada pjhak yang berwajib –dalam hal ini pemerintah Indonesia– karena hal ini jelas merupakan pelecehan secara terang-terangan terhadap bangsa, agama dan nabi mereka. Dan jika mereka mengadukan hal ini kepada pihak yang berwajib, umat Islam pasti akan mendukung.

Dari dua point tersebut, jelaslah bahwa ‘tambahan informasi’ yang dimaksudkan H. Amos dalam kata pengantarnya adalah tambahan informasi untuk menyulut api permusuhan antar agama.

Buku Amos yang beredar sejak tanggal 25 Desember 1997 itu, sampai saat ini sudah dua tahun beredar kepada puluhan ribu pembaca. Berarti, sudah dua tahun pula Drs. H. Amos menantang umat Islam secara umum.

Rukun Iman ke 1 : Percaya kepada yang Ghaib

Pendapat Drs. H. Amos (Pendeta Nehemia)

Dalam agama bangsa Arab, ada enam prinsip keimanan, yaitu: percaya kepada yang ghaib, percaya kepada malaikat, percaya kepada wahyu yang diturunkan Allah, percaya kepada adanya akhirat/kiamat, percaya kepada nabi-nabi dan percaya kepada qadar atau takdir. (hal. 3).

Tanggapan H. Ihsan L.S. Mokoginta (Wenseslaus)

Di sini terlihat jelas betapa picik dan tololnya Drs. H. Amos. Tolol dan piciknya besar sekali.

Tolol besar, karena tidak tahu kalau dirinya masih belum paham Islam dan tak punya iman di dada, tapi sudah nekad mengajarkan Islam dan Iman dalam bukunya.

Picik besar, karena sengaja memilih kata-kata dan kalimat yang negatif untuk menggambarkan Islam. Mengganti kata iman dengan kata percaya, jelas sangat keliru. Kata iman jauh lebih luas dibandingkan kata percaya.

Iman adalah kepercayaan yang ada dalam sanubari, yang diikrarkan secara lisan dan diamalkan dalam bentuk rukun-rukun.

Kemudian H. Amos mengatakan bahwa rukun iman yang pertama dalam Islam adalah “percaya kepada yang ghaib”, ini adalah kesalahan besar yang disengaja untuk menimbulkan kesan yang jelek tentang Islam. Seolah-olah, umat Islam harus beriman kepada hal-hal yang bersifat ghaib, misalnya: setan, dhemit, gendruwo, mak lampir, jailangkung, dan lain-lain. Padahal bukan demikian ajaran Islam.

Susunan rukun iman yang benar dalam Islam adalah sesuai dengan ajaran hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim. Suatu hari Jibril bertanya kepada beliau tentang iman. Maka beliau menjawab dengan sabdanya sebagai berikut:

“Hendaklah engkau beriman kepada Allah, kepada para malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada para rasul-Nya, kepada Hari Kiamat dan beriman kepada Qodar (takdir) yang baik maupun yang buruk” (HR. Muslim dari Umar bin Khatthab).

H. Amos adalah Himar Amos

Dengan terlalu minimnya wawasan Amos tentang Islam, maka kami tidak yakin bahwa nama H. Amos berarti Haji Amos. Sebaliknya, kami yakin bahwa H. Amos adalah kependekan dari Himar Amos.

‘Himar’ dalam bahasa Arab berarti binatang sejenis keledai tunggangan. Binatang jenis ini termasuk binatang yang paling bodoh. Makna filosofi himar dilukiskan Al Qur’an dalam ayat-ayat di bawah ini: “Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara himar (keledai).” (Qs. Luqmaan 19).

Dalam ayat lain dikatakan: “Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan Taurat kepadanya, kemudian mereka tidak memikulnya, adalah ibarat keledai (himar) yang mengangkut kitab-kitab yang tebal. Itulah seburuk-buruk perumpamaan bagi mereka yang mendustakan ayat-ayat Allah. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim” (Qs. Al Jumu’ah 5).

Contoh yang paling mudah dipahami, seandainya himar itu disuruh menarik gerobak, maka langsung ditariknya tanpa peduli apa isinya. Diisi emas atau berlian dia tarik, diisi pasir dia tarik pula. Bahkan diisi sampah atau kotoran pun dia tarik juga. Dia tidak pemah tahu dan tidak pernah mau tahu apa yang dia tarik. Yang penting narik, dapat makan, yah… sudah, Haleluyah. Itulah himar.

Terhadap orang yang menghina Nabi Muhammad dan ajaran Islam yang mulia, tentu tidak pantas bagi sarjana murtadin memakai titel Haji. Yang paling pantas adalah titel Himar, sebab hanya manusia yang seperti himar itulah yang cocok untuk penghujat dan penjual ayat-ayat Allah.

Iman dalam Kristen

Dalam Kristen, masalah iman tidak dijelaskan secara rinci seperti dalam Islam. Bahkan ayat-ayat tentang iman dalam Bibel, bila dikritisi akan tampak tidak masuk akalnya, tidak mungkin bisa diterapkan pada zaman modern. Semakin dipikir, semakin tak masuk akal. Perhatikan iman dalam Bibel berikut:

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu” (Matius 17:20).

Bila ayat tersebut diterapkan, maka dunia akan kacau. Tanpa alat-alat transportasi modern, gunung-gunung bisa pindah-pindah tempat dengan mudah. Mungkin gunung-gunung, gedung-gedung dan bangunan-bangunan akan pindah sekian ratus kali sehari oleh iman yang dimiliki oleh umat Kristen. Lucu, bukan !?

Tetapi, sampai saat ini tak ada umat Kristen yang mengaku beriman kepada Yesus (baik pendeta, pastur, evangelis atau paus) yang mampu memindahkan gunung dengan imannya yang sebesar biji sawi.

Ajaran iman dalam ayat Bibel yang lain adalah berikut: “Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya (beriman, ed.): mereka akan mengusir setan-setan demi namaku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya di atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.” (Markus 16:17-18).

Ayat tersebut, bila diterapkan, maka sepanjang sejarah di dunia modern takkan pernah ada ilmu kedokteran, ilmu bahasa dan sastra.

Sebab cukup dengan percaya kepada Yesus, umat Kristen mampu berbicara dalam segala bahasa apapun tanpa harus belajar terlebih dahulu di Akademi Bahasa Asing. Juga dapat menyembuhkan segala macam penyakit tanpa kuliah dulu di fakultas kedokteran. Cukup dengan menumpangkan tangan di atas pasien, langsung sembuh. Langsung enaak….!!!

Karena ajaran iman dalam Bibel itu tidak benar, maka sampai saat ini tak ada orang Kristen yang bisa membuktikan ayat Bibel tersebut. Sampai saat ini, belum ada seorang pendeta pun yang berani minum racun untuk membuktikan kebenaran imannya sesuai ajaran Injil. Bahkan, Paus tertinggi di Vatikan pun belum pernah minum racun untuk membuktikan kebenaran ayat tersebut.

Rukun Iman ke 2 : Percaya kepada Malaikat Jahat & Baik

Pendapat Drs. H. Amos (Pendeta Nehemia)

2. Percaya kepada Malaikat

Dalam iman Islam, pembantu Allah adalah malaikat-malaikat, yaitu makhluk yang tidak tampak dan masing-masing mempunyai fungsi tertentu, yaitu terdiri dari dua kelompok, yakni malaikat yang baik dan malaikat yang jahat.

a. Malaikat yang baik terdiri dari:

- Malaikat Penghulu, yaitu:
Jibril (malaikat yang menyampaikan wahyu), Mikhael (malaikat pemelihara), Israfil (malaikat malapetaka), Izrail (malaikat kematian), Malik (malaikat penjaga neraka), Ridwan (malaikat penjaga surga).

- Malaikat yang memerintah, yaitu: malaikat pencatat, pemakai-pemakai mahkota dan penanya orang mati (malaikat Munkardan Nakir).

b. Malaikat yang jahat terdiri dari:

Iblis atau setan yaitu malaikat jatuh dan Jin, yang tergolong dua, yakni muslim dan jin Kafir (surat 72 Al Jin ayat 14). Adapun Jin Muslim dianggap baik karena mengakui Muhammad sebagai rasul. Tetapi baik jin Muslim maupun jin kafir kedua-duanya adalah iblis (surat 6 Al Anaam ayat 128, surat 18 Al Kahfi ayat 50). (hal. 5).

Tanggapan H. Ihsan L.S. Mokoginta (Wenseslaus)

Dari uraian itu.jelas sekali nampak bahwa Himar Amos sedang atraksi memamerkan ketololannya. Kalau memiliki pengetahuan Islam atau Al Qur’an, tidak mungkin dia menulis uraian yang keliru semacam itu. Sebab pendapat semacam itu hanya bisa dilontarkan oleh orang yang betul-betul awam dan buta datam hal Islam. Maka sungguh pantas bila penulis semacam itu disebut sebagai Sarjana Murtadin Himar Amos.

Dalam Islam tidak ada ajaran yang mengatakan bahwa malaikat itu ada yang jahat. Menurut Islam, malaikat adalah makhluk ciptaan Allah yang terpelihara dari segala kesalahan dan dosa, karena malaikat tidak diberi nafsu. Semua malaikat tunduk dan patuh kepada perintah Allah. Tidak ada istilah malaikat pembangkang dalam Islam. Tidak ada satu pun keterangan dalam Al Qur’an yang mengatakan bahwa malaikat itu ada yang jahat.

Semua malaikat itu tunduk, patuh dan taat kepada segala perintah Allah tanpa tawar-menawar sedikit pun, sesuai dengan ayat-ayat berikut ini:

- An Nahl 49-50 yang menyatakan bahwa malaikat tidak sombong, melainkan takut kepada Allah serta patuh melaksanakan perintah-Nya.
– Al Anbiyaa 19-20 dan 27 yang menyatakan bahwa malaikat patuh kepada Allah.
– At Tahrim 6 yang menyatakan bahwa malaikat tidak mendurhakai perintah Allah.

Lebih konyol lagi, Drs. Himar Amos menerangkan bahwa jin adalah bagian dari malaikat yang jahat. Ini sama sekali tidak benar. Menurut Islam, jin itu tercipta dari api, sedangkan malaikat dari cahaya (nur). Dari segi penciptaannya saja sudah berbeda. Perhatikan hadits berikut:

“Dari Aisyah r.a. dinyatakan, sesungguhnya Nabi saw. pernah bersabda: “Malaikat itu diciptakan dari cahaya (nuur) dan jin itu diciptakan dari percikan api (naar), sedang Adam diciptakan dari sesuatu yang sudah engkau kenal.” (HR. Muslim).

Malaikat masuk neraka dalam ajaran Kristen

Setelah kami selidiki, ternyata Himar Amos keliru paham terhadap Islam tersebut berangkat dari pemahaman akan keterangan Bibel yang diajarkan oleh para pendeta dan evangelis seniornya.

Sebab dalam Alkitab atau Bibel disebutkan bahwa malaikat itu ada yang baik dan ada yang jahat. Mari perhatikan ayat-ayat berikut ini:

1. Malaikat pembangkang dan tidak taat ?
“Dan bahwa ia (Yesus. ed.) menahan malalkat-malaikat yang tidak taat pada batas-batas kakuasaan mereka, tetapi yang meninggalkan tempat kediaman mereka, dengan belenggu abadi di dalam dunia kekelaman sampai penghakiman pada hari besar” (Yudas 1:6).

2. Iblis bisa menyamar jadi malaikat gadungan?
“Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblis pun manyamar sebagai malaikat Terang.” (II Korintus 11:14).

3. Malaikat diadili manusia?
“Tidak tahukah kamu, bahwa kita akan manghakimi malaikat-malaikat? Jadi apa lagi perkara-perkara biasa dalam hidup kita sehari-hari.” (I Korintus 6:3).

4. Malaikat masuk ke neraka berkumpul jadi satu dengan ibils.
“Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang yang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah disediakan untuk iblis dan malaikat-malaikatnya.” (Matius 25:41).

Ayat-ayat Alkitab di atas mengajarkan bahwa malaikat ada yang tidak taat dan ada iblis yang bisa menyamar jadi malaikat. Bahkan malaikat akan diadili oleh manusia. Lucunya, malaikat akan masuk neraka bersama-sama dengan iblis.

Kalau melihat malaikat saja belum pernah, bagaimana mungkin ada manusia yang akan menilai, kesalahan dan menghakimi malaikat??!! Justru malaikatlah nanti yang akan menghakimi manusia, sebab selama hidupnya manusia senantiasa diawasi oleh malaikat.

Kalau begitu, fungsi malaikat Tuhan dalam kepercayaan Kristen itu macam apa ? Apakah umat Kristen harus mengadakan ujian/testing terhadap malaikat yang diutus Tuhan ?

Apakah kalau malaikat pencabut nyawa yang datang kepada mereka, mesti ditanya, dites dan dibuktikan dulu apakah dia itu benar-benar malaikat yang diutus oleh Tuhan atau iblis yang menyamar jadi malaikat ? Lucu, bukan ??

Demikianlah ajaran Bibel tentang malaikat yang sangat kacau dan meragukan.

Rukun Iman ke 3 : Percaya kepada Bibel yg diterjemahkan & masuk Qur’an

Pendapat Drs. H. Amos (Pendeta Nehemia)

Percaya kepada Wahyu yang diturunkan Allah

Umat Islam mengakui ada 4 kitab yang diwahyukan yaitu Taurat, Zabur, Injil dan Al-Qur’an. Oleh sebab itu penganut agama bangsa Arab harus percaya kepada empat kitab suci tersebut.

Mengapa Taurat, Zabur dan Injil harus diimani oleh penganut agama bangsa Arab? Hal ini disebabkan sebahagian dari ayat-ayat Taurat, Zabur (Mazmur) dan Injil yaitu kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang disebut Alkitab telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan dimasukkan ke dalam ayat-ayat Al Qur’an. Hal ini dikonfirmasikan pada ayat-ayat Al-Qur’an sebagai berikut:

“Dan sesungguhnya Al-Qur’an dalam induk Alkitab di sisi Kami adalah tinggidan penuh hikmat.” (Az Zukhruf 43:4). (hal. 6-7).

Tanggapan H. Ihsan L.S. Mokoginta (Wenseslaus)

Tuduhan murahan seperti itu sudah sejak lama dan terlalu sering dilontarkan pihak Kristen untuk mengguncang kemuliaan Al-Qur’an. Kuno!! Karena mereka kurang memahami isi kandungan Alkitab/Bibel dan buta akan Al Qur’an, ditambah lagi dengan kebencian dan antipati terhadap Islam dalam hati dan pikiran mereka.

Kalaupun dikatakan bahwa Al-Qur’an mengandung unsur Taurat, Zabur dan Injil, itu bukan masalah. Tetapi itu bukan berarti bahwa Nabi Muhammad saw yang memasukkan unsur-unsur tersebut dalam Al Qur’an, sama sekali bukan. Yang memasukkan unsur-unsur Taurat, Zabur dan Injil kedalam Al Qur’an adalah Allah Swt. sendiri melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw.

Adanya persamaan ayat antara Al Qur’an dengan ketiga kitab tersebut, tentu saja bukan berarti Al Qur’an menjiplak dari ketiga kitab itu. Tapi karena memang sumbernya sama, yaitu sama-sama dari Allah Swt. Tentu saja yang masuk ke dalam Al Qur’an itu adalah firman-Nya yang benar dan belum diubah oleh umat Yahudi dalam ketiga kitab sebelumnya. Sebab ayat-ayat tersebut merupakan wahyu yang diwahyukan kembali oleh Allah Swt. kepada baginda Muhammad saw.

Oleh sebab itu semua keterangan tentang kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya itu telah tercakup dalam satu kitab saja yaitu Al Qur’an.

Tentu saja yang dimaksud dengan Taurat, Zabur dan Injil di sini bukan Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama dalam Bibel milik umat Kristen seperti sekarang ini. Kitab yang ada sekarang ini sudah tidak asli lagi, melainkan sudah dikotori oleh tangan-tangan jahil manusia.

Tertiadap kitab Taurat, Zaburdan Injil yang ada sekarang ini, Rasulullah berpesan agar jangan percaya keseluruhannya dan jangan pula ditolak keseluruhannya. Itu berarti di dalamnya masih mengandung kebenaran, walau sedikit.

Ayat-ayat yang masih benar dan asli itu misalnya dalam Kitab Ulangan 6:4 tentang keesaan Tuhan, ini tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan bisa diterima. Sedangkan kitab Roma 10: 9 yang menyatakan bahwa Allah telah membangkitkan Yesus sebagai Tuhan, ini jelas ditolak umat Islam karena bertentangan dengan Al Qur’an.

Tentang mana ayat yang benar, mana ayat yang tidak benar, mana yang ditambah, dikurangi, dirobah dan lain-lain, itulah tugasnya para Kristolog dalam rangka membuktikan kebenaran Al Qur’an. Sebab dengan banyak menemukan kesalahan, pertentangan, kekeliruan, penambahan, pengurangan dan lain-lain dalam Alkitab/Bibel, hal ini justru menambah keyakinan akan kebenaran Al Qur’an sebagai wahyu Allah.

Korelasi Al Qur’an dengan Taurat, Zabur dan Injil

Antara Al Qur’an dengan kitab-kitab wahyu sebelumnya (Taurat, Zabur dan Injil), masih ada korelasi, antara lain:

1. Kitab-kitab terdahulu sudah tidak orsinil karena dirobah oleh tangan-tangan jahil manusia yang tidak bertanggung jawab.

“Maka kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya, “Ini dari Allah”, karena mereka hendak memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu” (Qs. Al Baqarah 79).

Maka Al Qur’an sebagai kitab penggantinya, dijamin keotentikannya sepanjang zaman oleh Allah Swt.

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Qur’an dan sesungguhnya Kami pula yang benar-benar memeliharanya.” (Qs. Al Hijr 9).

Dalam hal ini, Al Qur’an berfungsi sebagai kitab pengganti untuk menguji ayat-ayat yang telah dirubah tersebut.

“Sesungguhnya Al Qur’an ini menjelaskan kepada Bani Israel sebagian besar dari (perkara-perkara) yang mereka berselisih tentangnya.” (Qs. An Naml 76).

Maka tak heran apabila terdapat persamaan antara Al Qur’an dengan Taurat dan Injil. Sebab sisa-sisa kebenaran dalam Taurat, Zabur dan Injil, diwahyukan kembali oleh Allah Swt. ke dalam Al Qur’an melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw.

2. Kitab-kitab suci sebelumnya banyak yang disembunyikan kebenarannya.

“Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya tatkala mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia”. Katakanlah, “Siapa yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebagiannya) dan kamu sembunyikan sebagian besarnya. Padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui ?” (Qs. Al An’aam 91).
Maka Nabi Muhammad diutus Allah untuk menjelaskan isi Alkitab yang disembunyikan tersebut.

“Hai Ahli Kitab, sungguh telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan kepada kamu banyak dari isi Alkitab yang kamu sembunyikan dan (pula yang) dibiarkannya. Sungguh telah datang kepada kamu cahaya dari Allah dan Kitab yang terang.” (Qs. Al Maa-idah 15).

3. Nabi Musa as. dengan Tauratnya dan Nabi Isa as. dengan Injilnya adalah khusus untuk Bani Israel saja.

“Dan Kami jadikan Al Kitab (Taurat) itu petunjuk bagi Bani Israil.” (Qs. As Sajdah 23).

“Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani Israil.” (Qs. Az Zukhruf 59).

Maka Al Qur’an sebagai kitab suci pamungkas diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad, untuk seluruh alam semesta, termasuk orang-orang sebelumnya (pengikut Nabi Isa as).

“Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya ? Katakanlah. “Datangkanlah keterangan-keterangan kamu. Al Qur’an ini adalah pengajaran bagi orang-orang yang bersamaku dan pengajaran bagi orang-orang sebelumku”. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui kebenaran, karena itu mereka berpaling.” (Al Anbiyaa’ 24).

“Dan tiadalah ia (Al Qur’an) melainkan pengajaran untuk semesta alam.” (Al Qalam 52 dan At Takwiir 27).

“Dan Al Qur’an ini diwahyukan kepadaku (Muhammad), supaya dengannya (Al Qur’an itu) aku memberi peringatan kepada kamu dan kepada orang-orang yang sampai (Al Qur’an) kepadanya.” (Al An’aam 19).

Rukun Iman ke 4 : Percaya pada Hari Kiamat yg akan diadili oleh yesus

Pendapat Drs. H. Amos (Pendeta Nehemia)

Percaya kepada adanya akhirat/kiamat.

Menurut agama bangsa Arab kehidupan akhirat adalah kelanjutan dari kehidupan dunia ini. Semua orang yang berbuat baik dan mengikuti ajaran agama bangsa Arab dijanjikan mendapat pahala untuk masuk surga pada hari penghakiman. Sedangkan yang berbuat jahat akan disiksa dalam neraka.

Oleh karena penghakiman adalah awal dari kehidupan sebenarnya, maka perlu untuk diketahui, siapakah sesungguhnya yang menjadi hakim yang adil pada waktu hari penghakiman ini ?

Menurut Hadits Shahih Bukhari, Hadits Shahih Muslim dan Al Qur’an maka yang menjadi hakim yang adil pada waktu hari penghakiman ialah Isa Almasih sebagaimana tertera berikut ini:

1. Hadits Shahih Muslim 127 dan Shahih Bukhari 1090

“Dari Abu Hurairah r.a. katanya Rasulullah saw. Bersabda: “Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, sesungguhnya telah dekat masanya Isa anak Maryam akan turun di tengah-tengah kamu. Dia akan menjadi hakim yang adil, akan dihancurkannya salib, dibunuhnya babi, dihapuskannya pajak, dan kekayaan akan melimpah ruah, sehingga tidak seorang pun lagi bersedia menerima pemberian.” (HR. Muslim No. 127).

“Dari Abu Hurairah r.a, katanya Rasulullah saw. bersabda: “Demi Allah yang diriku dalam genggaman-Nya. Sesungguhnya akan turun kepadamu Ibnu Maryam (Isa Almasih) menjadi hakim yang adil. Maka dipecahnya salib, dibunuhnya babi, dihapuskannya pajak, dan harta kekayaan akan melimpah ruah, sehingga tidak seorang jua pun yang menerima.” (HR. Bukhari No. 1090).

2. Surat 43 Az-Zukruf ayat 61:

‘Dan sesungguhnya dia (Isa Almasih) adalah suatu tanda bagi kiamat, maka janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutlah Aku, inilah jalan yang lurus”.

3. Surat 4 An Nisaa ayat 159:

“Dan tidak ada seorang pun dari ahli kitab melainkan akan beriman kepada Isa Almasih sebelum matinya, dan pada hari kiamat dia menjadi saksi terhadap mereka”.

Dengan demikian menurut ayat-ayat tersebut di atas, Isa Almasih adalah hakim yang adil pada waktu hari penghakiman karena dialah yang berkuasa dan yang mempunyai kedudukan yang paling tinggi di dunia dan akhirat. (hal. 7-10).

Tanggapan H. Ihsan L.S. Mokoginta (Wenseslaus)

Dengan uraian yang sangat ngawur, Himar Amos ingin membuktikan bahwa keselamatan semua manusia di akhirat nanti hanya ada di tangan Yesus. Sebab dialah satu-satunya Hakim Akhir Zaman Yang Maha Adil.

Dengan kengawuran itu, Himar Amos merasa bahwa dirinya adalah pahlawan besar pembela ajaran Yesus. Padahal, kalau dia menyadari, dia akan malu besar dengan tulisannya itu. Sebab tulisan itu justru menunjukkan bahwa Himar Amos tidak punya agama dan dasar pijak berpikir yang jelas.

Islam bukan, Kristen pun tidak! Sebab dia tidak mengikuti ajaran Al Qur’an maupun Bibel yang sama-sama mengatakan bahwa Hakim AkhiratYang Maha Adil itu hanyalah Allah Swt. saja, sesuai dengan ayat Al Qur’an berikut:

“Maka patutkah aku mencari hakim selaln Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Qur’an) kepadamu dengan terperinci?” (Qs. Al An’aam 114).

“Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya” (Qs. Yunus 109).

“Sesungguhnya janji-Mu itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya” (Huud 45).

“Bukankah Allah adalah Hakim yang seadil-adilnya ?” (Qs. At Tiin 8).

Ayat-ayat Bibelnya sebagai berikut:

“Tetapi Allah adalah Hakim, direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain” (Mazmur 75:8).

“Sebab Engkau (Allah, ed.) membela perkaraku dan hakku, sebagai Hakim yang adil Engkau duduk di atas takhta.” (Mazmur 9:5).

“Allah adalah Hakim yang adil dan Allah yang murka setiap saat” (Mazmur 7:12).

“Tetapi, TUHAN samesta alam, yang menghakimi dangan adil, yang menguji batin dan hati, biarlah aku melihat pembalasan-Mu terhadap mereka, sebab kepada-Mulah kuserahkan perkaraku” (Yeremia 11:20).

“Langit memberitakan keadilan-Nya, sebab Allah sendirilah Hakim” (Mazmur 50:6).

Dari keterangan Al Qur’an maupun Bibel, ternyata hanya Allah saja satu-satunya Hakim Yang Adil yang akan menghakimi semua manusia, tidak ada yang lain.

Kalau Himar Amos masih tegar tengkuk mempertahankan keyakinan bahwaYesus adalah Hakim Yang Adil pada hari Kiamat, maka dia tidak bisa disebut sebagai umat pengikut Yesus, apalagi sebagai umat Islam. Sebab dia sudah berani melawan aturan Al Qur’an dan Bibel.

Lebih tegas lagi, Yesus berkata dengan sejujur-jujurnya bahwa dia bukan datang untuk menghakimi dunia seperti ayat di bawah ini:

“Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.” (Yohanes 3:17).

Yang dimaksud menyalamatkan dalam konteks ayat ini adalah mengajarkan petunjuk dan ajaran yang benar kepada Bani Israel untuk memperoleh keselamatan sorgawi. Jadi bukan untuk menyelamatkan dalam arti menebus dosa semua manusia di bumi ini, tidak !!

Jelaslah bahwa yang benar-benar menjadi hakim dan penyelamat di akhirat nanti hanya Allah Swt., tidak ada yang lain. Bahkan Nabi Isa as. (Yesus) itu sendiri diselamatkan oleh Allah.

Tentang penyelewengan Himar Amos terhadap Hadits Shahih Muslim 127, Shahih Bukhari 1090, Az Zukhruf 61 dan An Nisaa 159, pembaca dapat membandingkan jawaban kami dalam tiga buku kami terdahulu yaitu:
1. Pembelaan Seorang Muallaf
2. Muallaf Meluruskan Pendeta
3. Muallaf Membimbing Pendeta Ke Surga

Rukun Iman ke 5 : Percaya bahwa yesus nabi yang paling ditinggikan

RUKUN IMAN KE-5:
PERCAYA BAHWA YESUS ADALAH NABI YANG PALING DITONJOLKAN DAN DITINGGIKAN AL QUR’AN

Pendapat Drs. H. Amos (Pendeta Nehemia)

Rukun Iman yang kelima: Percaya kepada nabi-nabi

Agama bangsa Arab mengakui adanya 25 nabi yaitu nabi-nabi 1). Adam, 2). Idris, 3). Nuh, 4). Hud, 5). Shaleh, 6). Ibrahim, 7). Luth, 8). Ismail, 9). Isak, 10).Yakub, 11). Yusuf, 12). Ayub, 13). Zulkifli, 14). Syuaib, 15). Musa, 16). Harun, 17). Daud, 18). Suleiman, 19). Ilyas, 20). Ilyasa, 21).Yunus, 22). Zakaria, 23). Yahya, 24). Isa Almasih, 25). Muhammad, (hal. 11).

Sudah tentu dari 25 orang nabi tersebut di atas maka yang paling ditonjolkan dan ditinggikan oleh Al Qur’an hanyalah nabi Isa Almasih, sedangkan ke 24 nabi lainnya diceriterakan hanya secara sepintas saja. Bukan hanya dalam Al Qur’an Isa Almasih ditonjolkan dan ditinggikan, tetapi juga dalam Hadits Shahib Bukhari dan Hadits Shahih Muslim.

Simaklah bukti-bukti di bawah ini untuk mendukung kebenaran pernyataan di atas:

- Isa Almasih dilahirkan dari seorang perawan suci Maryam (surat 3 Aali Imraan ayat 42).
– Isa Almasih dilahirkan dari Roh Allah (surat 4 An Nisaa ayat 171).
– Isa Almasih diperkuat dengan Roh Kudus (surat 2 Al Baqarah ayat 253).
– Isa Almasih menciptakan burung yang identik dengan Allah menciptakan manusia (surat 5 Al Maidah 110, surat 3 Aali Imraan ayat 49).
– Isa Almasih adalah manusia suci oleh sebab itu tidak berdosa (surat 19 Maryam ayat 19).
– Isa Almasih yang tertinggi kedudukannya didunia dan akhirat (surat 3 Aali Imraan ayat 45).
– Isa Almasih langsung berbicara firman Allah sejak bayi (Maryam 19:30-32).
– Isa Almasih dilahirkan, diwafatkan dan dibangkitkan hidup kembali (Maryam 19:33).
– Isa Almasih disamakan kejadiannya seperti kejadian Adam (Aali Imraan 3:159).
– Isa Almasih menyembuhkan orang sakit dan menghidupkan orang mati (Aali Imraan 3:49).
– Isa Almasih adalah orang yang paling kudus oleh sebab itu tidak bisa disentuh setan (Hadits Shahih Bukhari 1493).
– Isa Almasih lahir firman Allah oleh Roh Allah dan firman kalimahNya (Hadits Shahih Bukhari nomor 1496).
– Isa Almasih adalah hakim yang adil pada akhir zaman (Hadits Shahih Bukhari nomor 1090 dan Hadits Shahih Muslim nomor 127). (hal. 12-14).

Tanggapan H. Ihsan L.S. Mokoginta (Wenseslaus)

Apa yang dipaparkan Himar Amos tersebut sebenarnya bukan pemikirannya sendiri, melainkan murni menjiplak tulisan penginjil seniornya, Dr. Ev. Suradi Ben Abraham. Sebelumnya, Suradi telah menulis ayat-ayat tersebut dalam brosur Kristen yang berwajah Islam “Dakwah Ukhuwah” dua seri. Pembaca bisa membaca jawaban tuntas kami dalam dua buku kami sebelumnya, yaitu: “Muallaf Meluruskan Pendeta” dan “Muallaf Mambimbing Pendata Ke Sorga”.

Memang, ada kecenderungan baru dalam dunia penginjilan. Para pendeta, evangelis dan missionaris lebih suka mengutip ayat-ayat Al Qur’an dan Hadits Nabi yang dianggap mendukung doktrin Kristen tentang ketuhanan Yesus. Dengan demikian, mereka berharap agar kaum muslimin akan dapat ditarik ke Kristen dengan mudah.

Tetapi, usaha ini akan sia-sia saja. Buang-buang energi percuma saja. Sebab umat Islam sudah memiliki dasar tauhid yang pasti dan mantap. Dalam hal iman kepada para nabi Allah, umat Islam tidak membeda-bedakan semua nabi Allah (Qs. Al Baqarah 285). Sebab semua nabi sama-sama mengajarkan tauhid dan menentang syirik (Qs. 21:35).

Apapun gelar dan titel yang dipikul oleh Yesus (Nabi Isa as), semua bisa diterima umat Islam, kecuali gelar bahwa Yesus Tuhan, Yesus Anak Tuhan, Yesus Penjelmaan Tuhan, Yesus Juru Selamat Penebus dosa, dll.

Jadi, usaha Himar Amos dan Ev. S. Ben Abraham untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan berdasarkan Al Qur’an dan Hadits, sernuanya akan sia-sia tak bermakna dengan alasan:

Pertama, banyaknya mukjizat Yesus sama sekali tidak menunjukkan bahwa Yesus adalah Tuhan atau penjelmaan Tuhan. Sebab semua mukjizat yang ditunjukkan itu terjadi atas izin Allah (bi idznillah), bukan atas kehendak Isa as. sendiri. Tanpa izin Allah, tidak ada satu pun mukjizat yang bisa dia lakukan. Jadi yang hebat itu bukannya Isa as. tapi Allah Swt.

Tentang mukjizat yang aneh-aneh dan ajaib tersebut, tidak usah terlalu diistimewakan. Sebab Allah memberikan berbagai mukjizat kepada para nabi yang diutusnya sesuai dengan kebutuhan zaman masing-masing nabi.

Jadi, mukjizat yang dimiliki Yesus tidak menunjukkan bahwa dia memiliki unsur ketuhanan. Lagi pula, setelah Yesus tidak ada di dunia, semua mukjizatnya punah tanpa ada seorang pun yang mewarisinya.

Semua kehebatan Yesus hanya tinggal kisah saja, tak ada pengikut beliau yang mewarisi. Sampai detik ini, tak ada pendeta ataupun pastur yang bisa berjalan di atas air, mendatangkan makanan dari langit, menghidupkan mayat, serta menyembuhkan orang buta sejak lahir, dll. seperti yang dilakukan Yesus.

Inilah yang membedakan antara Nabi Isa (Yesus) dengan Nabi Muhammad saw. Yesus pergi menjnggalkan dunia tanpa meninggalkan kitab suci, sedangkan Nabi Muhammad wafat dengan mewasiatkan pusaka peninggalan Al Qur’an wahyu Allah.

Hebatnya, mukjizat Nabi Muhammad yaitu Al Qur’an, sampai saat ini masih dapat disaksikan dan diwarisi oleh umat Islam. Sampai kapanpun Al Qur’an tidak akan pernah mengalami perubahan. Hebat, bukan ?

Kedua, semakin banyak dan semakin hebat bin aneh mukjizat Yesus, justru semakin membuktikan bahwa Yesus bukanlah Tuhan. Dalam hal ini, yang hebat bukanlah Yesus selaku penerima/diberi mukjizat, melainkan Allah yang mencipta dan memberi mukjjzat.

Tanpa karunia hadiah dari Allah, mustahil Yesus dapat menunjukkan mukjizat. Jangankan membuat mukjizat, menguap saja, Yesus tidak bisa bila tanpa karunia Allah. Yesus tidak dapat berbuat apa-apa.

“Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diriku sendiri. Aku menghakimi sesuai dengan apa yang aku dengar, dan penghakimanku adil, sebab aku tidak menuruti kehendakku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus aku.” (Yohanes 5:30).

Usaha Himar Amos untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan dengan mencari-cari ayat Al Qur’an dan Hadits Nabi tidak akan membuahkan hasil, sia-sia belaka. Bahkan merugikan Kristen sendiri.

Sebab hal itu berarti Himar Amos tetah mengkebiri kitab sucinya sendiri. Dalam Bibel tidak terdapat satu pun ayat yang menyatakan bahwaYesus bersabda: “Akulah Allah, sembahlah aku”. Tidak ada! Justru banyak sekali bukti dalam Bibel bahwa Yesus adalah manusia, bukan Tuhan. Buktinya:

a. Segala kehendak Yesus disetir Tuhan
“Aku tidak dapat beruat apa-apa dari diriku sendiri. Aku menghakimi sesuai dengan apa yang aku dengar, dan panghakimanku adil, sebab aku tidak menuruti kehandakku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus aku” (Yohanes 5:30).

b. Yesus bersyukur kepada Tuhan
“Pada waktu itu berkatalah Yesus: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang barkenan kepada-Mu.” (Matius 11:25).

c. Yesus leblh kecil dari Tuhan
“Kamu telah mendangar, bahwa aku tetah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi aku, kamu tentu akan bersukacita karena aku pergi kepada Bapaku, sebab Bapa lebih besar dari pada aku.” (Yohanes 14:28).

d. Yesus pergi menghadap Tuhan
“Sekarang aku pergi kapada Dia yang telah mengutus aku, dan tiada seorang pun di antara kamu yang bertanya kepadaku: Ke mana engkau pergi?” (Yohanes 16:5).

Segala kehendak Yesus disetir Tuhan, Yesus bersyukur kepada Tuhan, Yesus lebih kecil daripada Tuhan dan Yesus pergi menghadap Tuhan. Hal ini jelas menunjukkan bahwa Yesus bukanlah Tuhan, Yesus tidak sama dengan Tuhan dan bukan satu pribadi dengan Tuhan.

Jadi, sekali lagi, usaha Himar Amos untuk mengelabuhi dan membujuk halus kaum muslimin agar mau mempertuhankan manusia Yesus tidak akan pernah berhasil. Sebab umat Islam tidak akan mempertuhankan Yesus karena takut dikatakan sebagai ‘orang kafir’ dan diancam dengan hukuman neraka oleh Al Qur’an surat Al Maa-idah 72.

“Sungguh kafirlah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya Allah itu adalah Al Masih putra Maryam”, padahal Al Masih sendiri telah berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu’. Sesungguhnya barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sesungguhnya Allah haramkan surga atasnya, dan tempatnya di neraka, dan tidaklah ada penolong bagi orang-orang yang zalim.”

Sumber: “Pendeta Menghujat Muallaf Maralat”, Insan L.S. Mokoginta (Wenseslaus), FAKTA (Forum Antisipasi Kegiatan Pemurtadan), Jakarta, 1999.

DIALOG 2 : HUJAT & RALAT TTG RUKUN ISLAM

Pendapat Drs. H. Amos (Pendeta Nehemia)

Rukun Islam

Rukun Iman harus diamalkan dan untuk mengamalkan rukun Iman ini ditetapkan kewajiban-kewajiban yang disebut rukun Islam.

Rukun Islam terdiri dari 5 Kewajiban: mengucapkan dua kalimat syahadat, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, puasa dalam bulan Ramadhan dan melakukan upacara ibadah haji. (hal. 15).

Tanggapan H. Ihsan L.S. Mokoginta (Wenseslaus)

Kelima rukun Islam yang disebutkan oleh Amos tersebut, diatur secara rinci dalam Hadits shahih berikut:

“Islam itu didirikan atas lima dasar, yaitu: (1) Bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan Allah; (2) Mendirikan shalat; (3) Mengeluarkan zakat; (4) Puasa Ramadhan; dan (5) Beribadah Haji.” (HR. Muslim dari Umar bin Khatthab).

Adanya rukun Islam itu adalah satu bukti nyata bahwa Islam lebih unggul dibanding Kristen. Rukun Islam memberikan kemudahan bagi umat Islam sejagat untuk mengabdi dan beribadah kepada Tuhan dengan tata cara dan pedoman yang sama, seragam.

Sedangkan Kristen, tidak memiliki rukun agama yang jelas dan pasti dari Bibelnya, sehingga kesulitan untuk mengabdi kepada Tuhan. Bahkan rasul palsu Paulus dalam Bibel mengatakan bahwa untuk mengabdi kepada Tuhan supaya selamat dunia dan akhirat, manusia cukup dengan beriman saja, tanpa perbuatan. Perhatikan ucapan Paulus berikut:

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” (Efesus 2:8-9).

Rukun Islam 1a : Syahadat bersaksi bahwa Allah adalah sebuah Zat

Pendapat Drs. H. Amos (Pendeta Nehemia)

1. Mengucapkan dua kalimat Syahadat

Syarat untuk menjadi pengikut agama bangsa Arab ialah diwajibkan membaca dua kalimat Syahadat sebagai berikut: “Asy hadu allaa ilaaha illalaah, wa asy hadu anna Muhammadar rasuulullaah”, yang artinya: “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah. Dan aku bersaksi bahwa nabi Muhammad adalah utusan Allah”.

Kalimat yang pertama ialah suatu pernyataan yang hanya mengakui dan mempercayai kepada Allah yang Esa.

Adapun mengenai definisi daripada Allah itu, Al Qur’an mempunyai penafsiran tersendiri. Siapa yang dimaksud dengan Allah dalam hal ini?

Menurut surat 1 Al Faatihah ayat 1 dalam foot note-nya kitab Al Qur’an terjemah Indonesia terbitan PT Sari Agung berbunyi demikian:

“Ayat ini dinamakan ‘Basmalah’ diutamakan membacanya pada tiap-tiap akan memulai perkerjaan yang baik. ‘Allah’ ialah zat yang maha suci yang disembah dengan sebenarnya”.

Menurut kamus lengkap bahasa Indonesia karangan Audi C, maka zat berarti asal sesuatu benda.

Dengan demikian yang dimaksud dengan ‘Allah’ di sini ialah zat atau asal sesuatu benda atau sebuah benda. (hal. 15-17)

Tanggapan H. Ihsan L.S. Mokoginta (Wenseslaus)

Dalam Islam, Allah itu tidak boleh diterjemahkan apalagi disamakan dengan benda apapun. Maka mengatakan Allah itu sama dengan suatu zat berupa benda, apalagi sebagai benda padat, itu sangat keliru.

Allah adalah nama pribadi dari Tuhan itu sendiri. Kita mengetahui nama-Nya sebab Dia sendiri yang memperkenalkan bahwa nama-Nya adalah Allah.

“Sesungguhnva Aku ini adalah Allah, tiada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (Thaahaa 14).

Jadi, Allah itu adalah suatu ZatYang Maha Suci, Yang Maha Mulia, Maha Tinggi, yang lebih besar dari apa yang dikuasai oleh akal manusia, unik tidak terjangkau oleh pikiran-pikiran manusia.

Allah Swt. menguasai segala batas yang membatasi akal pikiran manusia. Karena itu akal pikiran manusia tidak akan pernah mampu mengetahui Zat Allah.

Allah Swt. mempunyai nama-nama yang baik, yang tidak ada celanya yang disebut ‘Al Asmaa-ul Husna’. Allah dalam Islam mempunyai sifat Maha atas segala sesuatu. Dan kemahaan-Nya tidak ada batasnya, meliputi atas segala-galanya.

Adapun kata zat dalam sebutan “Allah adalah Zat Yang Maha Suci”, ini tidak dapat disamakan dengan zat cair, zat padat, zat gas, zat arang, zat lemas, zat pembawa warna, dan zat lain-lainnya yang semuanya adalah ciptaan Allah.

Sebutan ‘zat’ yang dirangkai dengan sifat kemahaan Allah, dipaka! untuk menyebut kepada Allah, pencipta jagad raya. Sedangkan hakikat daripada Allah, tidak dapat ditangkap dengan indera makhluk-Nya. Allah tidak sama, berbeda dengan zat-zat apapun yang diciptakan-Nya. Sebab Allah memiliki sifat mukhalafatu lil hawaditsi (berbeda dengan makhluk).

“Tidak ada sesuatu apapun yang serupa dengan Dia (Allah). Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Qs. As Syuuraa 11).

“Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia (Allah).” (Qs. Al Ikhlash 4).

Allah versi Bibel

Jika dia menganggap bahwa Allah itu Tuhannya orang Arab, atau Tuhannya Muhammad, mengapa dalam Alkitab (Bibel) memakai nama Allah? Mestinya kalau mau konsekwen, dalam Alkitab/injil jangan memakai nama Allah, tapi Elohim atau Eloah atau Yahweh atau Kuryos atau Yehovah.

Kalau Himar Amos mau teliti dan jujur, seharusnya dia malu menghujat keberadaan Allah dalam Islam. Sebab konsep Alkitab (Bibel) tentang Allah sangat kacau balau. Disebutkan di dalamnya bahwa Allah itu milik suku Bangsa Israel, sebagaimana ayat-ayat sebagai berikut:

“Orang-orang sengsara dan orang-orang miskin sedang mencari air, tetapi tidak ada, lidah mereka kering kehausan; tetapi Aku, TUHAN, akan menjawab mereka, dan sebagai Allah orang Israel Aku tidak akan meninggalkan mereka.” (Yesaya 41:17).

“Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah orang Israel.” (Yeremia 31:23).

“Ia mendirikan maezbah disitu dan dinamainya itu: “Allah Israel ialah Allah.” (Kejadian 33:20).

“Kemudian Musa dan Harun pergi menghadap Firaun, lalu berkata kepadanya: “Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Biarkanlah umat-Ku pergi untuk mengadakan perayaan bagiKu di padang gurun.” (Keluaran 5:1).

“Lalu mereka melihat Allah Israel; kaki-Nya berjejak pada sesuatu yang buatannya seperti lantai dari batu nilam dan yang terangnya seperti langit yang cerah.” (Keluaran 24:10).

“Pada waktu itulah Yosua mendirikan mezbah digunung Ebal bagi TUHAN, Allah Israel” (Yosua 8:30).

“Sekarang aku bermaksud mengikat perjanjian dengan TUHAN, Allah Israel, supaya murka-Nya yang menyala-nyala itu undur daripada kita” (II Tawarikh 29:10).

Karena Tuhan dalam Bibel itu milik orang Israel, maka sangat pantas jika Tuhan umat Kristen punya banyak kelemahan yang menunjukkan kurang Maha atas segala sesuatu. Perhatikan ayat-ayat di bawah ini:

a. Tuhan mikir-mikir “Berpikirlah TUHAN: “Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini?” (Kejadian 18:17).

b. Tuhan mengerang kesakitan seperti perempuan hamil “Aku membisu dari sejak dahulu kala, Aku berdiam diri, Aku menahan hati-Ku; sekarang Aku mau mengerang seperti perempuan yang melahirkan, Aku mau mengah-mengah dan megap-megap.” (Yesaya 42:14).

c. Tuhan pikun, lupa alas kaki-Nya ketika marah “Ah, betapa Tuhan menyelubungi puteri Sion denga awan dalam murka-Nya! Keagungan Israel dilemparkan-Nya dari langit ke bumi. Tak diingat-Nya akan tumpuan kaki-Nya tatkala Ia murka” (Ratapan/Nudub Yeremia 2:1 ).

Itulah sebagian ayat-ayat Bibel mengenai Allah yang diimani oleh Drs. H. Amos. Masih terlampau banyak ayat-ayat aneh tentang Tuhan dalam Bibel. Namun tidak kami muat seluruhnya, kasihan nanti Bapak Amos jadi pusing.

Sumber: “Pendeta Menghujat Muallaf Maralat”, Insan L.S. Mokoginta (Wenseslaus), FAKTA (Forum Antisipasi Kegiatan Pemurtadan), Jakarta, 1999.

PENDETA MENGHUJAT, MUALAF MERALAT (BAGIAN 2)

Rukun Islam 1b : Bersaksi bahwa Muhammad Nabi Khusus bangsa Arab

Pendapat Drs. H. Amos (Pendeta Nehemia)

Selanjutnya, kalimat yang kedua dari syahadat ialah suatu pernyataan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

Sesuai surat 3 Aali lmraan ayat 164 dan surat 62 Al Jumu’ah ayat 2, maka Muhammad diutus sebagai nabi untuk bangsa Arab. Renungkanlah ayat-ayat berikut ini:

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang mukmin, ketika Allah mengutus kepada mereka seorang rasul dari kalangan meraka sendiri (Arab), dia membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah dan mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah, sesungguhnya keadaan mereka sebelum itu adalah dalam kesesatan yang nyata” (Surat 3 Aali Imraan ayat 164).

“Dia (Allah) yang membangkitkan di antara orang-orang ummi seorang rasul dari kalangan meraka (Arab) yang membacakan kepada mereka ayat-ayatnya, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya adalah dalam kesesatan yang nyata.” (Surat 62 Al Jumu’ah ayat 2). (hal. 19).

Tanggapan H. Ihsan L.S. Mokoginta (Wenseslaus)

Permainan istilah dalam tulisan itu amat lihai meski licik. Mungkin roh jahat sedang berdiam, bekerja dan melakukan pekerjaannya dalam diri Himar Amos. Sehingga dia tidak bisa mernfungsikan akal sehatnya.

Sebaiknya, kalau sedang kerasukan roh jahat, jangan coba-coba menulis buku, supaya tidak memalukan diri sendiri. Bahkan menjatuhkan titel sarjananya dari doktorandes menjadi doktorambles.

Al Qur’an surat Aali lmraan ayat 164 dan Al Jumu’ah ayat 2 yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad saw. semasa hjdupnya diutus Allah untuk mengajarkan Islam kepada kaumnya (bangsa Arab). Ayat ini, oleh Himar Amos dipahamkan bahwa kalau begitu, Nabi Muhammad itu diutus khusus hanya untuk bangsa Arab saja, bukan kepada yang lain.

Itulah penafsiran modern sarjana primitif Himar Amos.

Jika karena Nabi Muhammad itu dari bangsa Arab dan memakai bahasa Arab, lalu diambil kesimpulan bahwa Nabi Muhammad adalah rasul untuk bangsa Arab dan Islam juga hanya untuk bangsa Arab, ini jelas sangat keliru. Picik sekali alam pikiran Drs. Himar Amos.

Dua ayat yang dianggap menyudutkan Islam dikutip terjemahannya lalu dikomentari secara negatif. Sementara ayat-ayat lain yang jumlahnya sangat banyak yang mendukung kebenaran Islam, sengaja ditutup-tutupi. Kelihatan dengan sangat mencolok kebencian dan sentimen Himar Amos terhadap Islam.

Sebagai contohnya, ayat-ayat yang mendukung kerasulan Nabi Muhammad saw. Dan Al Qur’an untuk segenap alam, itu sengaja tidak dikutip, seperti:

“Dan Kami tiada mengutusmu (Muhammad) melainkan menjadi rahmat bagi semesta alam.” (Al Anbiyaa 107).

“Dan tiadalah Kami mengutus angkau (Muhammad) melainkan untuk seluruh manusia sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Qs. Saba’ 28).

“Al Qur’an adalah suatu peringatan untuk semesta alam” (Qs. At Takwiir 27 dan Al Qalam 52).

“Dan Kami turunkan Al Qur’an kepadamu (Muhammad) supaya engkau jelaskan kapada umat manusia, apa-apa yang diturunkan kepada mereka, supaya mereka berpikir.” (Qs. An Nahl 44).

“Muhammad bukanlah bapak salah seorang dari laki-laki diantara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (Qs. AlAhzaab 40).

Lima ayat tersebut, menyatakan bahwa Nabi Muhammad beserta Al Qur’an bukan hanya untuk Bangsa Arab saja, melainkan untuk semua manusia dan seluruh makhluk di alam semesta ini. Ayat-ayat tersebut sengaja tidak dikutip oleh Drs. Himar Amos.

Dan kalau mau teliti dalam membaca Alkitab (Bibel) milik umat Kristen, justru Nabi Isa (Yesus) beserta Injilnya itulah yang hanya dikhususkan bagi suatu bangsa tertentu, yaitu untuk Bani Israel saja.

Sebab kedatangan Yesus ke dunia ini untuk meneruskan risalah Nabi Musa as. kepada Bani Israel.

Jadi, kitab Injil dan Taurat merupakan kitab suci yang berisi petunjuk dan pengajaran, tapi hanya ditujukan bagi Bani Israel saja, sebagaimana kesaksian Yesus sendiri bahwa dia diutus untuk Bani Israel. Simak sabda Yesus berikut:

“Jawab Yesus: ‘Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” (Matius 15:24).

“Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan ia berpesan kepada mereka: “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel” (Matius 10:5-6).

Dua ayat tersebut membuktikan bahwa yang dimaksud dengan surat Al Maa-idah 46 isinya meginformasikan bahwa kitab Taurat dan Injil memang merupakan pengajaran dan petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa dari Ahli Kitab, yaitu Yahudi dan Nashara saja. Penjelasan ini diperkuat dengan sabda Yesus di bawah ini:

“Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia aku berdoa, tetapi untuk mereka (Bani Israel) yang telah Engkau berikan kepadaku, sebab mereka adalah milik-Mu” (Yohanes 17:9).

Jelaslah bahwa misi Yesus itu bukan untuk seluruh dunia, tapi khusus untuk Bani Israel saja.

Sebaiknya, Himar Amos lebih rajin lagi membaca buku-buku kaliber dunia internasional, supaya tidak ketinggalan zaman. Sebab jauh sebelum Amos menulis buku picisan, para tokoh ilmuwan dunia yang non muslim sudah mengakui dengan jujur dan ilmiah tentang kemuliaan nabi Muhammad saw kelas dunia:

a. Muhammad adalah Pahlawan kebaikan sepanjang masa “Mohammed was the soul of kindness and his influence was left and never forgotten by those around him” “Muhammad adalah jiwa bagi seluruh kebaikan dan pengaruhnya terasa serta tidak pernah terlupakan oleh orang yang berada di sekelilingnya”. (Diwan Chans Sharma, The Propets of the East, Calcutta 1935, hal. 122.)

b. Muhammad adalah tokoh dunia pelopor anti rasialis “FourYears after the death or Justinian, A.D. 569, was born at Mecca, in Arabia the man who, of all men exercised the greatest influence upon the human race, Mohammed” “Empat tahun setelah kematian Justinian, 569 M, lahirlah di Makkah, jazirah Arabia, seorang yang kemudian mempunyai pengaruh sangat besar terhadap ras manusia, yaitu Muhammad”. (John William Drapper, M.D. LL.D.A., History of Intelectual Development of Europe, London 1875, vol. I, hal. 329).

c. Muhammad adalah pejuang harkat dan emansipasi untuk wanita sejagad “That his (Mohammed’s) reforms enhanced the status of women in general is universally admitted” (Dobrakan “Muhammad yang telah mengangkat kedudukan wanita dalam skala yang luas diakui secara universal”) (H.A.R. Gibb, Mohammedanism, London, 1953, hal. 33).

Sumber: “Pendeta Menghujat Muallaf Maralat”, Insan L.S. Mokoginta (Wenseslaus), FAKTA (Forum Antisipasi Kegiatan Pemurtadan), Jakarta, 1999.

Rukun Islam 1c : Bersaksi bahwa Muhammad mengajar Quran utk org Arab

Pendapat Drs. H. Amos (Pendeta Nehemia)

Oleh karena ayat-ayat di atas tadi menyatakan bahwa Muhammad adalah nabi untuk bangsa Arab maka kitab Al Qur’an hanya ditulis dalam bahasa Arab. (hal. 20).

Tanggapan H. Ihsan L.S. Mokoginta (Wenseslaus)

Memang Al Qur’an itu berbahasa Arab dan diturunkan di negara Arab. Tapi tidaklah berarti bahwa Al Qur’an itu hanya untuk Bangsa Arab saja. Ini pemahaman yang keliru.

Setiap menurunkan wahyu kepada suatu kaum, Allah menggunakan bahasa kaum itu juga. Sebab kalau memakai bahasa lain, tentu tidak mungkin dimengerti oleh mereka. Bagaimana Rasul itu akan menerangkan kepada umatnya, bila bahasa yang dipakai tidak dimengerti oleh bangsa itu, tentu mustahil. Anak kecil juga paham akan hal ini.

Karena Al Qur’an itu diwahyukan di negara Arab dan nabi yang menerima wahyu itu juga orang Arab, jelas dong… bahasa yang digunakan tentunya Bahasa Arab ! Lha, mana mungkin wahyu Allah diturunkan di Arab, lalu bahasa yang dipakai adalah bahasa Jepang ? Tentu harus Bahasa Arab juga agar dapat dimengerti dan dipahami oleh mereka, bukan?

Demikian juga dengan Nabi Isa ketika menerima wahyu. Apakah beliau menerima wahyu dalam bahasa Indonesia ? Mustahil ! Wahyu yang beliau terima ketika itu pasti menggunakan bahasa yang berlaku menurut suku bangsanya, yaitu Bahasa Ibrani.

Maka seharusnya Injil yang tertua pun ditulis dalam bahasa Ibrani. Tapi sayangnya bahasa Injil yang asli ketika Nabi Isa as. menerimanya sudah tidak ada lagi. Naskah Injil yang tertua dan dianggap asli saat ini justru ditulis dalam Bahasa Yunani. Padahal Yesus tidak pernah tour ke Yunani.

Sebenarnya, kalau Himar Amos mau sedikit lebih teliti dan kritis, justru Alkitab/Injil itulah yang dikhususkan bagi golongan tertentu saja, yaitu Bani Israel, bukan untuk seluruh dunia. Hal ini tidak diketahui oleh penulis kitab tersebut, disebabkan minimnya ilmu tentang agama Kristen itu sendiri, apalagi ilmu tentang Islam.

Bukti lain bahwa Al Qur’an adalah kitab suci untuk seluruh manusia sejagad adalah adanya seruan dan peringatan yang memakai kata ‘wahai manusia’, misalnya:

“Wahai manusia, makanlah olah kamu apa-apa yang ada di bumi, segala yang halal lagi baik.” (Qs. Al Baqarah 168).

“Wahai manusia, sudah datang kepada kamu seorang Rasul (Muhammad saw) dengan membawa kebenaran dari Tuhan kamu”(Qs. An Nisaa 170).

“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya (Al Qur’an) yang terang benderang” (Qs. An Nisaa 174).

“Wahai manusia, sesungguhnya aku ini adalah Rasul untuk kamu semua (manusia sejagad)” (Qs. Al A’raaf 158).

Sumber: “Pendeta Menghujat Muallaf Maralat”, Insan L.S. Mokoginta (Wenseslaus), FAKTA (Forum Antisipasi Kegiatan Pemurtadan), Jakarta, 1999

Rukun Islam 1d : Bersaksi bahwa Muhammad Celaka di Akhirat

Pendapat Drs. H. Amos (Pendeta Nehemia)
Karena tidak tampak adanya penjelasan yang menyatakan bahwa Muhammad akan diselamatkan setelah dia meninggal dunia, maka Allah dan setiap pengikut agama bangsa Arab harus bershalawat yaitu memohon kepada Allah semoga Allah melimpahkan berkah dan kesejahteraan kepada Muhammad sebagaimana yang disebut dalam Surat 33 Al Ahzaab ayat 56 yang berbunyi:

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat atas nabi: Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kepadanya dan berilah salam dengan sungguh-sungguh.”

Dengan demikian bukan pengikut agama bangsa Arab saja yang harus bershalawat atas nabi Muhammad, tetapi juga Allah harus bersalawat yaitu memohon kepada Allah semoga Allah melimpahkan berkah dan kesejahteraan bagi Muhammad.

Sudah pasti hal ini sangatlah aneh, sebab itu tentu menjadi pertanyaan bagi para pembaca mengapa Allah harus memohon kepada Allah untuk berkat dan kesejahteraan bagi Muhammad?

Juga menjadi suatu keanehan jikalau Allah harus memohon kepada Allah, yang berarti hal itu menyatakan bahwa Allah lebih dari pada satu.

Apakah memang demikian? Menurut logika Allah adalah yang paling tinggi kedudukannya. Oleh sebab itu mungkin ada alasan lain mengapa Allah harus memohon berkat kesejahteraan bagi Muhammad, kepada Allah, (hal. 23-24).

Tanggapan H. Ihsan L.S. Mokoginta (Wenseslaus)
Jika ada orang berpendapat seperti itu, meskipun dia seorang sarjana, jelas menunjukkan betapa minim pengetahuannya tentang Islam. Penafsiran demikian itu amat kacau, hanya berdasarkah harfiah saja.

Tapi anehnya, dengan modal pengawuran seperti itu, sarjana murtadin Himar Amos malah dikagumi oleh umat Kristen. Mestinya umat Kristen menolak tulisan yang sepenuhnya tidak berbobot, tidak ilmiah, tidak rasional dan tidak bisa dipertanggung-jawabkan. Bahkan hanya memalukan umat Kristen saja.

Apabila terjadi tuntutan dari umat Islam kepada pihak yang berwajib, maka yang repot dan rugi adalah umat Kristen, bukan? Apalagi jika ada kelompok Islam yang terpancing emosinya. Gawat lagi, bukan?

Supaya situasi tidak semakin keruh, kami tetap menjawab sekaligus meluruskan hujatannya, dengan harapan agar Himar Amos dan umat Kristen lainnya dapat mengetahui makna dan filosofi shalawat nabi.

Shalawat artinya kemuliaan atau kesejahteraan. Shalawat Allah kepada Nabi Muhammad bukan berarti bahwa Allah memohonkan kemuliaan atau kesejahteraan kepada Allah yang lainnya untuk Muhammad, melainkan Allah memberikan rahmat, kesejahteraan dan kemuliaan atas beliau.

Maksud malaikat bershalawat kepada Nabi yaitu malaikat turut memohon ampunan kepada Allah. Sedangkan shalawat orang-orang beriman kepada Nabi maksudnya mendoakan agar diberi rahmat dan kesejahteraan atas Nabi Muhammad saw. Dan kesemuanya itu bukan berarti karena Nabi Muhammad saw. belum selamat atau tidak mendapat keselamatan dari Allah Swt.

Tujuan Allah bershalawat kepada Nabi Muhammad ialah agar umat Islam seluruhnya menaruh rasa hormat kepada beliau. Sebab beliau adalah pilihan-Nya untuk menjadi nabi terakhir dan penutup para nabi, yang membebaskan manusia dari kehidupan jahiliyah yang bagaikan binatang. Atas perjuangan beliau, umat manusia bisa dihantarkan ke alam yang terang benderang. Beliaulah yang mengantarkan umat manusia dari kehidupan hewani menjadi kehidupan yang manusiawi. Jika tidak ada beliau, entah kebejatan moral apa yang dilakukan oleh umat manusia.

Oleh sebab itu, sebagai orang yang tahu diri, umat manusia sangat wajib untuk mensyukuri jasa beliau. Untuk mengabadikan rasa syukur dan jasa beliau inilah maka ‘shalawat serta salam’ dijadikan sebagai salah satu rukun dzikri, yaitu suatu bacaan rukun bagi umatnya setiap mengerjakan shalat.

Tetapi harus diingat bahwa pembacaan shalawat terhadap Nabi Muhammad tersebut bukan berarti bahwa beliau tidak selamat di akhirat. Tanpa ada satupun umat Islam yang bershalawat, beliau tetap mendapatkan keselamatan dari Allah Swt. Sebab beliau telah dijamin masuk sorga oleh Allah Swt.

Meskipun Rasulullah sudah pasti masuk sorga, umat Islam masih saja mengirim bacaan shalawat kepada beliau, sebab pahala doa shalawat itu kembali lagi kepada umat yang bershalawat. Dengan bershalawat kepada Nabi berarti telah tunduk dan patuh kepada perintah Allah Swt. pada ujung surat Al Ahzaab 56 tersebut:

“Wahai orang-orang yang beriman, barshalawatlah kepadanya (Muhammad) dan berilah salam dengan sungguh-sungguh”.

Kalau diperhatikan, perintah pada ayat tersebut dimulai dengan perintah atau suruhan ‘Wahai’. Ditujukan kepada siapa perintah ‘Wahai’ ini? Jelas ditujukan kepada orang-orang yang beriman. Apa perintah dan suruhan Allah tersebut ? Tiada lain untuk ‘bershalawat dan mengucapkan salam’. Kepada siapa ? Jelas kepada ‘Nabi Muhammad saw’. Caranya bagaimana ? Yaitu dengan ‘bersungguh-sungguh mengikuti perintah dan aturan Allah.

Seandainya Allah tidak memberikan contoh dan petunjuk tentang tata cara mensyukuri karunia-Nya yang telah diberikan melalui baginda Nabi, tentu akan terjadi bermacam-macam cara dalam mensyukuri nikmat tersebut. Misalnya, dengan memberikan sesajian, tumbal, korban hewan dan lain-lain menurut selera dan keinginan masing-masing.

Oleh karena Allah memberikan petunjuk Al Qur’an dalam hal etika menghormati manusia pilihan-Nya itu, maka umat Islam mematuhi perintah tersebut agar tidak terjadi kekacauan dalam beribadah kepada-Nya.

Kemudian dalam satu hadits disebutkan sebagai berikut:

“Dari Anas bin Malik ra, ia berkata: telah bersabda Rasulullah saw.: “Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali saja, niscaya Allah akan memberikan sepuluh kesejahteraan kepadanya dan dihapuskan darinya sepuluh kesalahan dan diangkat baginya sepuluh derajat.” (HR. Bukhari, Nasa’i, Ibnu Hibban dan Hakim).

Atas dasar hadits di atas, maka umat Islam di manapun berada selalu membacakan shalawat kepada Rasulullah setiap waktu shalat maupun setiap kali mendengar namanya disebut. Sebab dengan membacakan satu kali shalawat kepada Rasulullah, maka balasannya adalah mendapat sepuluh kebaikan dan dihapuskan sepuluh keburukan. Nah, siapa yang tidak mau mendapat pahala sebanyak itu?

Dengan demikian, keberadaan Nabi Muhammad sebagai utusan Allah sungguh membawa berkah dan rahmat bagi umatnya. Sebab dengan bershalawat kepadanya satu kali saja, akan memperoleh pahala sepuluh kebaikan dan menghilangkan sepuluh keburukan. Subhanallah, sungguh beruntung menjadi pengikut beliau.

Analogi yang mudah dipahami, bayi yang meninggal dunia sebelum berbuat dosa, dia pasti akan langsung masuk sorga. Apakah karena dia pasti akan masuk sorga lantas orangtuanya langsung menguburkannya tanpa harus mendoakannya? Tidak !! Bahkan lebih dari itu, sebagai manusia yang berakhlak mulia umat Islam juga memohon kepada Allah agar bayi tersebut diberi tempat yang layak di sisi-Nya. Pahala dalam mendoakan dan memohon kepada Allah untuk anak bayi yang tersayang itu, kembali lagi kepada orang yang mendoakan.

Kalau terhadap anak bayi yang belum memberikan jasa saja, perlu mendoakan kepada Allah tempat yang layak di sisi-Nya, mengapa terhadap seseorang yang telah begitu besar jasanya bagi umat manusia sejagad raya ini, tidak kita doakan dan mohonkan kepada Allah tempat yang layak di sisi-Nya? Tentu lebih pantas, bukan?

VPendapat Drs. H. Amos (Pendeta Nehemia)

Lebih lengkap lagi pertanyaan menjadi: “Mengapa Allah dan pengikut agama bangsa Arab harus bersalawat atas nabi Muhammad?”

Hal ini disebabkan karena Muhammad memang belum memperoleh keselamatan karena dia tidak diberi kuasa apapun oleh Allah.

Setiap pengikut agama bangsa Arab harus terus-menerus bershalawat untuk Muhammad dengan pengharapan agar Muhammad memperoleh keselamatan. Kenyataan ini dapat dilihat dari ayat-ayat Al Qur’an berikut:

Katakanlah, “Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat dan tidak pula kuasa menolak mudarat untuk diriku, kecuali dikehendaki Allah … ” (Surat 7 Al Araaf ayat 188).

“Katakantah, “Aku tidak kuasa menolak mudarat dari diriku dan tidak mendatangkan manfaat kecuali dikehendaki Allah. ……………..” (Surat 10 Yuunus ayat 49). (hal. 25-26)

ZTanggapan H. Ihsan L.S. Mokoginta (Wenseslaus)

Surat Al A’raaf 188 dan Yunus 49 itu justru menunjukkan kejujuran Muhammad saw. Beliau mengatakan apa adanya tanpa menyombongkan diri dan menyadari bahwa beliau hanyalah seorang rasul, bukan Tuhan. Beliau mengakui tidak bisa mendatangkan manfaat dan tidak kuasa menolak mudharat baik untuk dirinya maupun orang lain, kecuali atas kehendak Allah Swt. semata.

Beliau menyampaikan apa adanya sesuai dengan yang diwahyukan oleh Allah swt., agar umatnya tidak tersesat. Sebab jika tidak demikian, maka dikhawatirkan umatnya akan selalu meminta dan memohon lewat beliau, atau paling tidak menjadikan beliau sebagai perantara. Inilah yang tidak dikehendaki oleh Allah. Jika memohon sesuatu hendaklah langsung kepada Allah tanpa perantara.

Kalau mau pakai pikiran yang jernih, justru itulah bukti bahwa Nabi Muhammad saw. adalah seorang manusia yang super tinggi kejujurannya. Beliau tidak mau disamakan dengan Tuhan, disembah dan dipuja-puja melampaui batas.

Di sinilah letak perbedaan antara Nabi Muhammad dalam pandangan Islam dengan Nabi Isa as. (Yesus) menurut pandangan Kristen. Menurut Kristen, Yesus bukan manusia biasa seperti Nabi Muhammad. Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat pusat meminta dan beribadah. Padahal Yesus tidak pernah mengajarkan demikian. Ajaran Yesus adalah ajaran Tauhid, sama seperti ajaran Nabi Muhammad saw. Perhatikan sabda Yesus pada ayat-ayat berikut ini:

“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” (Yohanes 17:3).

Pada ayat tersebut Yesus mengajarkan Tauhid kepada umatnya, yaitu mengenal Allah Yang Esa dan dirinya sebagai seorang utusan-Nya.

Ayat di bawah ini menunjukkan bahwa hanya kepada Allah sajalah tempat menyembah dan berbakti, bukan kepada manusia dan juga bukan terhadap Yesus sendiri. Perhatikan sabda Yesus di bawah ini:

“Berkatalah Yesus kepadanya: ‘Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti’ …” (Matius 4:10).

Karena umat Kristen menjadikan Yesus sebagai Tuhan yang menjelma jadi manusia, maka jelas menurut mereka Yesus itu adalah Allah itu sendiri. Keyakinan ini justru menjadikan mereka tersesat, karena mereka menganggap dia itu Tuhan, maka di mana-mana mereka memohon dan meminta serta berbakti tertuju kepada Yesus. Padahal Yesus sendiri ternyata tidak bisa juga mendatangkan manfaat maupun menolak mudharat yang menimpa pada dirinya sendiri. Yesus juga tidak tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari, karena dia hanyalah manusia biasa, bukan Tuhan.

Buktinya, ketika Yesus ditangkap oleh pasukan yang disuruh oleh tua-tuaYahudi yang bekerja sama dengan salah seorang muridnya sendiri sebagai penghianat, Yesus tidak bisa menghindar (Matius 26:47-48). Juga ketika orang-orang memperlakukan seenaknya, Yesus tidak bisa menghindar. Perhatikan ayat berikut ini:

“Lalu mereka meludahi mukanya dan meninjunya, orang-orang lain memukul dia” (Matius 26:67).

Bahkan lebih parah lagi -menurut cerita Bibel- ketika Yesus disalibkan, dia benar-benar tidak berdaya, tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri, sehingga dia berteriak histeris minta pertolongan kepada Allah. Perhatikan ayat di bawah ini:

“Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabakhtani ?”Artinya: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” (Matius 27:46).

Sampai soal musim saja Yesus tidak tahu, perhatikan ayat di bawah ini:

“Keesokan harinya sesudah Yesus dan kedua belas muridnya meninggalkan Betania, Yesus merasa lapar. Dan dari jauh Ia melihat pohon ara yang sudah berdaun. Ia mendekatinya untuk melihat kalau-kalau Ia mendapat apa-apa pada pohon itu. Tetapi waktu Ia tiba di situ, Ia tidak mendapat apa-apa selain daun-daun saja, sebab memang bukan musim buah ara. Maka katanya kepada pohon itu: “Jangan lagi seorang pun makan buahmu selama-lamanya!” (Markus 11:12-14).

Hal-hal yang ghaib pun Yesus tidak tahu, buktinya Yesus tidak tahu kapan hari kiamat. Perhatikan ayat di bawah ini:

“Tetapi tentang hari atau saat itu (kiamat, ed.) tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja” (Markus 13:32).

Itulah beberapa kelemahan Yesus sebagai bukti bahwa dia manusia biasa dan sama sekali bukan Tuhan. Maka pantas sekali jika dia tidak bisa mendatangkan manfaat maupun menolak mudharat yang menimpa dirinya maupun orang lain. Yesus juga tidak tahu hal yang ghaib, sebab dia bukan Tuhan.

Jadi bukan hanya Nabi Muhammad saja yang tidak bisa mendatangkan manfaat maupun menolak mudharat, tapi demikian juga dengan Nabi Isa as. serta nabi-nabi lainnya, kecuali atas izin Allah atau hanya Allah Swt.

Rukun Islam 1e : Bersaksi Muhammad Konsultasi kpd Yahudi & Kristen

Pendapat Drs. H. Amos (Pendeta Nehemia)
Lain dari itu ada satu hal yang penting dan patut disimak, yaitu di mana Muhammad diperintahkan oleh Allah agar selalu belajar dan bertanya kepada orang-orang Kristen ataupun orang-orang yang beragama Yahudi, terutama pada waktu nabi Muhammad berada dalam keadaan ragu-ragu.

Hal itu membuat orang Kristen mengambil kesimpulan, bahwa Nabi Muhammad harus percaya kepada orang-orang Kristen dan orang yang beragamaYahudi, karena merekalah yang membaca dan menguasai Taurat dan Injil yang benar, original dan sempurna serta relevan walaupun Al Qur’an telah diturunkan dan Muhammad diutus sebagai nabi yang terakhir menurut umat Muslim, (hal. 26)

Hal ini dapat dilihat dari ayat-ayat Al Qur’an sebagai berikut:

“Maka jika engkau (Muhammad) dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum engkau (Orang Kristen dan Orang Yahudi). Sungguh telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali engkau termasuk orang-orang yang ragu” (Surat 10 Yuunus ayat 94). (hal. 27).

Tanggapan H. Ihsan L.S. Mokoginta (Wenseslaus)

Dalam ayat tersebut Allah mengingatkan kepada Nabi Muhammad, apabila beliau ragu terhadap wahyu yang diterimanya, agar bertanya kepada orang-orang yang membaca kitab sebelumnya. Yang dimaksud dengan “orang-orangyang membaca Kitab sebelumnya” yaitu orang-orang jujur yang mengerti dan memahami kebenaran dalam kitab-kitab suci sebelum Al Qur’an. Orang seperti ini tidak banyak, di antaranya adalah rahib Waraqah bin Naufal.

Perlu dicatat bahwa Waraqah bin Naufal ini bukan beragama Kristen pengikut Paulus. Beliau adalah rahib Nasrani yang yang setia dan jujur mengikuti Nabi Isa as. Rahib saleh seperti Waraqah inilah yang menjelaskan kepada Rasulullah tentang masalah-masalah yang berhubungan dengan kenasranian yang asli sesuai dengan ajaran Nabi Isa as. Misalnya, mengenai nubuat Nabi Musa dan Isa as. tentang tanda kerasulan Nabi Besar Muhammad saw. dalam Taurat dan Injil.

Ketika Siti Khadijah menceritakan kepada Waraqah tentang peristiwa turunnya wahyu pertama di Gua Hira, maka spontanitas dia berkata: “Quddus, quddus! Demi Tuhan yang jiwa Waraqah ada dalam tangan-Nya. Jika engkau membenarkan aku, ya Khadijah, sesungguhnya telah datang kepada Muhammad namus akbar (petunjuk yang maha besar), sebagaimana yang pernah datang kepada Musa as. Sesungguhnya dia akan menjadi Nabi bagi umat kita ini”.

Orang Nasrani yang seperti Waraqah bin Naufal yang benar, jujur dan terpercaya itu sekarang sudah tidak ada lagi.

Yang ada saat ini adalah umat Kristen yang tidak taat kepada Nabi Isa, melainkan taat kepada Paulus, pendiri Kristen.

Kemudian yang dimaksud dengan kata ‘Al Kitab’ pada ayat tersebut adalah kitab Taurat dan Injil yang masih asli sebelum dikotori oleh tangan-tangan jahil manusia.

Salah besar jika yang dimaksud kata ‘Al Kitab’ oleh Himar Amos itu adatah Alkitab (Bibel), kitab agama Kristen yang berjumlah 66 kitab, antara lain:

a. Taurat = 5 kitab b. Kitab Para Nabi besar/kecil = 34 kitab c. Injil = 4 kitab d. Kisah Para Rasul = 1 kitab e. Surat-Surat Paulus = 13 kitab f. Surat kepada jemaat Ibrani = 1 kitab g. Surat Yakobus =1 kitab h. Surat Petrus = 2 kitab i. Surat Yohanes = 3 kitab j. Surat Yudas = 1kitab, dan k. Mimpi Yohanes = 1 surat.

Dari keterangan tersebut, jelas sekali bahwa Al Kitab yang dimaksud dalam surat Yunus 94 bukanlah Alkitab (Bibel) milik orang Kristen seperti sekarang ini. Dan Nabi Muhammad saw. tidak pernah bertanya kepada orang Kristen, tapi kepada orang Nasrani yang terpercaya. Sebab agama Nasrani tidak identik dengan agama Kristen seperti sekarang ini.

Rukun Islam 1f : Bersaksi Muhammad Memperkosa gadis dibawah umur

BERSAKSI BAHWA MUHAMMAD MEMPERKOSA GADIS DI BAWAH UMUR

Pendapat Drs. H. Amos (Pendeta Nehemia)
Menurut Hadits Shahih Bukhari nomor 1557 Muhammad kawin dengan Aisyah sewaktu Aisyah masih jauh di bawah umur yaitu berusia 6 tahun dan tinggal serumah pada waktu Aisyah berumur 9 tahun. (hal. 30)

“Dari Hisyam r.a. katanya: Siti Khadijah wafat tiga tahun sebelum nabi s.a.w. pindah ke Medinah. Beliau tidak kawin selama dua tahun kurang. Dan beliau mengawini Siti Aisyah ketika ia berusia enam tahun. Kemudian beliau serumah dengan dia setelah Aisyah berusia sembilan tahun ” (Hadits Shahih Bukhari nomor 1557).

Pada zaman modern sekarang ini jika seorang laki-laki mengawini anak perempuan di bawah umur maka laki-laki tersebut dianggap memperkosa anak perempuan dan dapat dikenakan sanksi hukuman.

Oleh sebab itu di banyak negeri termasuk negara Republik Indonesia, orang yang dinyatakan dewasa ialah yang berumur 17 tahun ke atas, sehingga orang yang telah dinyatakan dewasa dianggap layak dan syah melaksanakan perkawinan (hal.31).

Tanggapan H. Ihsan L.S. Mokoginta (Wenseslaus)
Memang sebagian besar negara memberlakukan batas umur perkawinan pada umur sekitar 17 tahun ke atas. Tetapi itu bukan berarti bahwa wanita baru bisa menikah pada urnur 17 tahun ke atas. Buktinya banyak juga wanita yang kawin jauh di bawah urnur, bahkan sebelum umur 17 tahun ada yang sudah jadi janda. Kenyataan ini banyak dijumpai di negara kita sendiri, Indonesia. Tapi masalah seperti itu merupakan kasus, bukan keharusan.

Dan perlu digarisbawahi, bahwa undang-undang perkawinan yang menetapkan batas minimal nikah umur 17 tahun itu adalah buatan manusia dengan pertimbangan kondisi fisik dan kedewasaan berpikir wanita sesuai suatu daerah tertentu. Soal kawin harus 17 tahun ke atas tidak ada dalilnya sama sekali baik dalam kitab suci.

Oleh sebab itu tidak boleh dijadikan suatu keharusan yang mutlak harus dipatuhi. Dalam Islam, wanita dianggap sudah cukup dewasa apabila telah baligh, yang ditandai dengan haid/menstruasi. Terhadap orang yang telah baligh inilah dianggap telah dewasa dan wajib melaksanakan ajaran agama, dan berdosa bila mengabaikan ajaran agama.

Pada umur sembilan tahun, umumnya wanita Indonesia belum haid, sebab kondisi atau postur tubuhnya kecil. Sehingga wanita di Indonesia kebanyakan baru haid pada umur 12 tahun atau lebih .Tapi wanita keturunan Arab, mereka memiliki postur tubuh yang besar, sehingga pada usia 9 tahun sebagian besar sudah haid. Maka wanita Arab tempo dulu sudah layak nikah pada umur 9 tahun, karena sudah dewasa.

Memang Rasulullah menikah dengan Siti Aisyah ketika berusia 6 tahun. Tetapi beliau baru bercampur dengan Siti Aisyah pada usia 9 tahun. Pernikahan seperti ini disebut ‘Nikah Gantung’.

Oleh sebab itu jika dikatakan Nabi Muhammad saw. memperkosa Aisyah, itu hanyalah tuduhan atas kebencian yang luar biasa terhadap Nabi Muhammad saw. untuk menjatuhkan nama beliau, agar misi Kristen dapat diterima. Cara-cara mereka memang licik, curang, dan tak terpuji menghalakan segala cara.

Jadi tuduhan seperti itu tidak punya alasan yang pasti, sebab umat Kristen tidak bisa menujukkan satu dalil pun dalam kitab suci mereka tentang batasan umur perkawinan.

Seharusnya Himar Amos tahu diri jika benar bahwa dia itu sarjana. Jangan selalu mencari-cari dan mengada-ada dalam melecehkan agama lain, sementara ajaran agama sendiri yang memang sudah leceh dianggap baik.

Orang type seperti itu oleh Yesus dicap sebagai orang munafik yang ceroboh dan tidak tahu diri. Kesalahan orang saleh dicari-cari, sedangkan kesalahan besar pada diri-sendiri dipiara subur.

“Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?” (Matius 7:3).

Seharusnya, Himar Amos malu menuduh Rasulullah pernah melakukan perzinahan, padahal kenyataannya tidaklah demikian. Justru dalam Bibel, kitab suci Kristen, bertebaran ayat-ayat panas yang mengekspos skandal seksual:

a. Yesus tidak menghukum WTS yang ketangkap basah sedang melakukan hubungan zinah, bahkan membebaskannya tanpa syarat (Yohanes 8:1-11). Padahal, pada zaman modern ini, seseorang yang terbukti melakukan perbuatan zinah, pasti dijatuhi hukuman berat. Dan orang yang melindungi pezinah pun bisa dijatuhi hukuman yang sangat berat, karena berarti dia telah mendukung tindak perzinahan. Apakah dengan demikian Himar Amos berani mengatakan bahwa Yesus telah berkomptot dengan pezinah, sehingga perlu dipecat dari jabatannya, disidang, didenda dan dipenjara sesuai dengan hukum modem ??

b. Tuhan berkata-kata porno dalam Bibel “Ketika TUHAN mulai berbicara dengan perantaraan Hosea, berfirmanlah Ia kepada Hosea: “Pergilah, kawinilah seorang perempuan sundal (pelacur) dan peranakkanlah anak-anak sundal, karena negeri ini bersundal hebat dengan membelakangi TUHAN” (Hosea 1:2).

c. Tuhan menyukai pelacur “Berfirmanlah TUHAN kepadaku: “Pergilah lagi, cintailah perempuan yang suka bersundal dan berzinah, seperti TUHAN juga mencintai orang Israel, sekalipun mereka berpaling kepada allah-allah lain dan menyukai kue kismis” (Hosea 3:1).

Langsung enaaaakkk…… seorang nabi disuruh bermain cinta dengan pelacur dan pezinah oleh Tuhan.

d. Tuhan yang romantis “Engkau bersundal juga dengan orang Asyur, oleh karena engkau belum merasa puas; ya, engkau bersundal dengan mereka, tetapi masih belum merasa puas. Engkau memperbanyak lagi persundalanmu dengan negeri perdagangan Kasdim, tetapi dengan itu juga engkau belum merasa puas. Betapa besar hawa nafsumu itu, demikianlah firman Tuhan ALLAH” (Yehezkiel 16:28-30).

Wahai Himar Amos, siapakah sesungguhnya yang pro zinah, dan siapa pula yang anti zinah? Jangan sekali-sekali menuduh Islam mengajarkan perzinahan. Sebab dengan tegas Islam melarang segala tindak perzinahan.

“Dan janganlah kamu mendekati zinah. Sesungguhnya zinah itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk” (Qs. Al Israa 32).

Rukun Islam 1g : Bersaksi Muhammad Hobby Kawin Cerai

Pendapat Drs. H. Amos (Pendeta Nehemia)
Mengapa Muhammad begitu mudah dapat kawin lagi atau menceraikan isteri-isterinya ?

Muhammad dapat dengan mudah menceraikan isteri-isterinya karena jika Muhammad menceraikan isterinya maka menurut surat 66 At Tahrim ayat 5, Tuhan akan memberi Muhammad pengganti isteri yang lebih cantik dan lebih baik budi pekertinya baik pengganti isteri itu seorang janda maupun seorang perawan.

“Jika dia menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya memberi ganti kepadanya dengan isteri-isteri yang lebih baik daripada kamu, (yaitu) yang muslimat, yang mukminat, yang taat, yang bertaubat, yang beribadah, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan” (Surat 66 At Tahrim ayat 5)

Oleh sebab itu para isteri Muhammad tidak boleh menyusahkannya, karena jika isteri-isterinya menyusahkan Muhammad maka Muhammad dapat langsung menceraikan isteri-isteri yang tidak lagi dia ingini atau sukai. (hal. 32)
Tanggapan H. Ihsan L.S. Mokoginta (Wenseslaus)
Menurut Himar Amos, sang murtadin, surat At Tahrim ayat 5 di atas berarti bahwa Tuhan telah menjamin Rasulullah dengan istri-istri baru yang lebih cantik, apabila beliau mau menceraikan istri lamanya. Sehingga, dengan jaminan itu maka Rasulullah menjadi hoby kawin-cerai berulang-ulang.

Itu menunjukkan bahwa Amos yang Himar itu tidak mengerti gaya bahasa.

Ketahuilah, bahwa ayat tersebut berkaitan sangat erat dengan tugas dan risalah yang diemban oleh Rasulullah. Mengingat beratnya tugas dan amanat beliau, yaitu memimpin umat manusia keluar dari gelap gulitanya alam yang penuh dengan syirik dan budaya jahiliyah menuju alam tauhid yang terang benderang di bawah naungan cahaya ilahi.

Sehubungan dengan itu, maka Allah memberikan peringatan kepada para istri Nabi agar tidak sombong dan merasa dirinya paling penting, seolah-olah Nabi tidak bisa berjuang di jalan Allah tanpa adanya mereka.

Maka Allah memberikan ancaman kepada para istri Nabi dengan At Tahrim ayat 5 yang mengatakan bahwa dengan sangat mudah Allah dapat mengganti posisi mereka dengan istri lain yang jauh lebih baik, lebih salehah dan lebih taat.

Dengan peringatan tersebut, maka para istri Nabi saling berlomba-lomba untuk memiliki sifat-sifat utama, menjadi mar’atus salehah, ummahatul muslimin.

Jadi, sama sekali tidak benar tuduhan Himar Amos bahwa Rasulullah hoby kawin cerai, begitu mudah menceraikan dan menikah lagi terus-terusan. Tuduhan ini, selain tidak ilmiah, juga tidak sesuai dengan fakta dan data. Sepanjang sejarah, tidak ada bukti bahwa beliau kawin-cerai dengan istrinya

Rukun Islam 2a : Sholat Menyembah Allah yg bertempat di dalam Ka’bah

Pendapat Drs. H. Amos (Pendeta Nehemia)
Mendirikan Shalat
Shalat adalah cara sembahyang agama bangsa Arab yang pada waktu melakukannya yaitu ruku’ dan sujud harus menghadap ke Ka’bah di Mekkah. (hal. 33)

Orang-orang yang bodoh di antara manusia akan berkata: “Apakah gerangan (sebabnya) mereka (orang Islam) beralih dan kiblat mereka semula (dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram?) Katakanlah Timur dan Barat kepunyaan Allah. Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus. (Surat 2 Al Baqarah ayat 142). (hal. 34).

Mengapa shalat agama bangsa Arab harus mengahadap ke arah Ka’bah di Mekkah? Karena Ka’bah adalah tempat tinggal Allah yaitu rumah Allah sebagaimana yang disebut dalam Surat 22 Al Hajj ayat 26.

“Dan (ingatlah) ketika Kami tempatkan Ibrahim pada tempat Baitullah (dengan firman): janganlah engkau menyekutukan Aku dengan sesuatu, dan sucikanlah rumahKu (Ka’bah) untuk orang-orang yang tinggal (itikaf) dan orang-orang yang ruku dan sujud (shalat)”. (Surat 22 Al Hajj ayat 26). (hal. 35).

Tanggapan H. Ihsan L.S. Mokoginta (Wenseslaus)
Dengan mengatakan bahwa shalat adalah ruku’ dan sujud menghadap Ka’bah, membuktikan bahwa Himar Amos belum pernah belajar Islam dengan baik. Mungkin pengakuannya bahwa dia adalah mantan muslim yang pernah menunaikan ibadah haji tahun 1983 adalah kebohongan yang besar, untuk mengelabuhi umat Islam. Tujuannya, agar kaum muslimin mudah dipengaruhinya sehingga mengikuti jejaknya murtad ke Kristen.

Ibadah shalat itu bukan hanya ruku’ dan sujud saja, seperti anggapan Himar Amos. Shalat adalah ibadah umat Islam kepada Allah yang terdiri dari bacaan-bacaan dan amalan-amatan tertentu sesuai dengan tuntunan Al Qur’an dan Hadits, yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Inilah definisi shalat yang benar. Sekali lagi, shalat bukan hanya ruku’ dan sujud saja.

Selanjutnya, dengan disebutkannya kata ‘Ka’bah Baitullah (rumah Allah)’, Himar Amos menuding bahwa umat Islam shalat menghadap Ka’bah karena Ka’bah adalah rumah tinggal Allah. Ini membuktikan bahwa dia tidak mengerti ‘gaya bahasa’.

Kata Baitullah (bait Allah/rumah Allah) dipahami oleh Amos bahwa kalau begitu, Allah itu punya rumah tempat tinggal. Karena disebutkan dalam Al Qur’an bahwa Ka’bah adalah Baitullah, maka Amos memahamkan bahwa kalau begitu, Allah itu bertempat tinggal, makan, minum dan tidur dalam Ka’bah di Mekkah. Inilah pemahaman orang yang sangat tidak cerdas. Mungkin Legion (roh-roh jahat) sedang merasuki Himar Amos.

Dalam Al Qur’an ada istilah abdullah (hamba Allah), aduwwullah (musuh Allah), ansharullah (penolong Allah), dan tain-lain. Kalau sistem berpikir Himar Amos dipakai untuk memahami Istilah-istllah tersebut, pastilah akan negatif jadinya.

a. Abdullah (hamba Allah)

Adanya istilah hamba, berarti ada pula istilah tuan atau juragan. Tapi, adanya Istilah hamba Allah bukan berarti bahwa Allah itu juragan/boss yang memperkerjakan makhluk-Nya karena tenaga dan kemampuan Allah sangat terbatas. Hamba Allah berarti para nabi dan orang-orang saleh yang berbuat kebajikan dengan ikhlas (Qs. 4:172, 19:30, 37:40,74,128 dan 72:19).

b. Aduwwullah (musuh Allah)

Adanya istilah ‘musuh Allah’ bukan berarti bahwa Allah itu sumber keonaran yang selalu membuat permusuhan, bukan! Sebab istilah ‘musuh Allah’ berarti orang-orang musrik, kafir dan pengkhianat yang mempersekutukan Allah dengan yang lain (Qs. 8:60 dan 9:114).

c. Ansharullah (penolong Allah)

Istilah ini juga bukan bearti bahwa Allah itu serba kekurangan sehingga perlu bantuan dari regu penolong dari manusia. Sebab Istilah ‘penolong Allah’ berarti orang-orang beriman yang memperjuangkan agama Allah (jihad fii sabiilillah) (Qs. 3:10 dan 61:14).

Kembali kepada istilah Baitullah (rumah Allah). Istilah ini terbatas kepada satu pengertian ‘rumah ibadah kepunyaan Allah’ saja, bukan rumah tempat tinggal Allah.

Istilah Baitullah (rumah Allah) dipakai untuk membedakan rumah ibadah dengan rumah-rumah lain milik manusia, seperti: rumah sakit, rumah bersalin, rumah makan, rumah kontrakan dan lain-lain.

Baitullah (rumah Allah) adalah rumah suci untuk beribadah kepada Allah. Karena rumah yang suci ini digunakan untuk beribadah kepada Allah, maka tidak boleh dikontrakkan, diperjual-belikan dan dibisniskan.

Beda Islam dan Kristen

Dalam Islam, ditegaskan ajaran Tauhid kepada Allah, bahwa Allah itu Maha Esa, tidak dipengaruhi dan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Ajaran tauhid inilah yang membedakan Islam dengan Kristen.

Dalam Bibel, Tuhan masih dibatasi oleh ruang dan waktu, bisa dilihat, diajak ngobrol, makan-makan, bisa disiksa dan dibunuh sampai mati teler di tiang salib.

Dijelaskan dalam Bibel (Alkitab), kilab suci Kristen, bahwa Tuhan adalah Roh (Yohanes 4:24) yang menjelma menjadi Yesus (Yohanes 1: 14). Dalam penjelmaan (inkarnasi) ini, Tuhan berubah ujud menjadi janin yang dikandung oleh Maria (Siti Maryam), lalu dilahirkan melalui liang kemaluan Maria.

Kemudian Tuhan Yesus dilahirkan, lalu dibesarkan oleh lingkungannya. Setelah dewasa, Tuhan (Yesus) dicobai oleh iblis (Matius 4:1 dan Lukas 4:2). Setelah lulus dari permainan iblis, Tuhan Yesus ditangkap oleh penguasa Romawi lalu dianiaya tiada berdaya. Akhirnya, Tuhan Yesus menghembuskan nafasnya yang terakhir di atas gantungan tiang salib dengan memakai secarik kain yang menutupi auratnya dengan ditonton oleh massa yang sangat banyak.Tragis sekali!!

Itulah konsep Bibel tentang ketuhanan.TuhanYesus Juru Selamat mereka masih dibatasi oleh ruang dan waktu, sehingga mati disalib

Rukun Islam 2b : Waktu Shalat sangat kacau

Pendapat Drs. H. Amos (Pendeta Nehemia)
Shalat Fardhu (shalat wajib).
Menurut Surat 17 Al Israa ayat 78 maka shalat wajib ditentukan 2 kali sehari, tetapi menurut Surat 11 Huud ayat 114, maka shalat wajib ditetapkan sebanyak 3 kali sehari.

Dan dirikan shalat pada kedua tepi siang dan sebahagian dari malam (3 kali sehari). (Surat 11 Huud ayat 114).

Dirikanlah shalat diwaktu tergelincir matahari sampai gelap malam, dan (dirikanlah) shalat subuh, sesungguhnya shalat subuh disaksikan (2 kali sehari). (Surat 17 Al Israa ayat 78). (hal. 38)

Menurut Hadits Shahih Bukhari nomor 211, maka Allah menetapkan bahwa shalat dilakukan sebanyak 50 kali sehari.

Kemudian atas perintah Musa kepada Muhammad maka terjadilah tawar menawar antara Allah dan Muhammad mengenai banyaknya jumlah shalat per hari yang harus dilaksanakan.

Adapun proses tawar menawar antara Allah dan Muhammad adalah sebagai berikut: – Dari jumlah shalat sebanyak 50 kali sehari, menjadi 25 kali sehari. – Dari jumlah shalat sebanyak 25 kali sehari, menjadi 12 kali sehari. – Dari jumlah shalat sebanyak 12 kali sehari, menjadi 5 kali sehari. (hal. 39)

Dengan demikian jumlah kewajiban shalat yang ditentukan dalam Al Qur’an terdapat tiga versi, yaitu menurut surat 17 Al Israa ayat 78 ditentukan 2 kali sehari. Menurut Surat 11 Huud ayat 114 ditentukan 3 kali sehari, sedangkan yang ditentukan dalam Hadits Shahih Bukhari nomor 211, adalah 5 kali sehari yang terdiri dari: 1. Shalat Subuh; dimulai fajar sebelum matahari terbit. 2. Shalat Zhuhur; setelah matahari mulai turun. 3. Shalat Azhar; setelah matahari turun sebelum terbenam. 4. Shalat Maghrib; pada saat matahari terbenam. 5. Shalat Isya; pada saat warna merah di langit lenyap. (hal. 40)

Ternyata dalam hubungan ini kedudukan Hadits Shahih Bukhari lebih tinggi dari pada kedudukan Al Qur’an, karena pelaksanaan shalat yang diikuti adalah apa yang disebut dalam Hadits Shahih Bukhari dan bukan dari apa yang disebut dalam Al Qur’an. (hal. 41).

Tanggapan H. Ihsan L.S. Mokoginta (Wenseslaus)
Memang, kalau dibaca atau diterjemahkan secara harfiah sesuai dengan yang tertulis dalam terjemahan dua ayat Al Qur’an tersebut, maka akan terkesan bahwa sebenarnya shalat itu hanya dua atau tiga kali sehari.

Itulah sistem berpikir orang awam setingkat anak TK.

Nah, kalau shalatnya umat Islam dituduh kacau, justru otaknya Himar Amos itulah yang kacau. Maklum saja, namanya saja Himar. Berarti otak dan pikirannya baru sebatas seekor himar.

Oleh sebab itu kalau ada umat Kristen yang mau percaya dengan bualan si Himar Amos tersebut, maka mereka akan jadi lebih himar daripada Himar Amos.

Hanya umat Kristen yang punya akal sehat dan hati yang bersih saja yang tidak mau ikut-ikutan dibodohi oleh penjelasan tersebut.

Pengertian dua ayat yang diselewengkan Himar Amos itu adalah sebagai berikut:

1. Al Israa’ 78

“Dirikanlah shalat di waktu tergelincir matahari sampai gelap malam, dan (dirikanlah) shalat subuh, sesungguhnya shalat subuh disaksikan”.

Jumlah waktu shalat yang dimaksud ayat ini adalah lima waktu, bukan dua waktu seperti penafsiran Himar Amos. Lima waktu tersebut adalah:

a. Waktu tergelincir matahari yaitu waktu untuk dua shalat, antara lain:

- Shalat Zhuhur, ketika matahari baru mulai tergelincir, kurang lebih jam dua belas siang. – Shalat Ashar, ketika matahari sudah lebih tergelincir kearah barat sebelum terbenam.

b. Waktu ‘sampai gelap malam’, yaitu dua waktu shalat:

- Shalat Maghrib, ketika mulai gelap – Shalat Isya’, ketika sudah gelap malam.

c. Kemudian bunyi ayat terakhir sudah jelas dikatakan shalat Subuh.

Kalau dihitung, jelas sekali yang dimaksud ayat tersebut yaitu untuk shalat lima waktu (2 + 2 +1 = 5). Kepada Drs. Himar Amos kami sarankan agar belajar matematika lagi di SD supaya tidak mengatakan 2+2+1=2.

2. Huud 114

“Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang dan sebagian dari malam” (Huud 114).

Yang dimaksud dengan shalat pada ‘dua tepi siang’ tersebut adalah:

a. Tepi yang pertama, yaitu shalat di waktu pagi (Shubuh) dan lepas tengah hari (Zuhur) dan setelah tergelincir matahari (Ashar).

b. Tepi yang kedua, yaitu bagian terdekat dari malam: .

- Shalat Maghrib, ketika matahari terbenam. – Shalat Isya’, yaitu waktu terdekat dengan malam.

Dengan demikian jelas bahwa maksud ayat tersebut adalah juga untuk shatat lima waktu, bukan tiga waktu seperti tuduhan Himar Amos.

Dia lupa atau memang tidak tahu bahwa waktu siang itu memang ada dua tepi atau ada dua waktu pembagian. Dunia internasional pun mengakui bahwa waktu atau hari itu dibagi dalam dua tepi juga. Pertama sebelum pagi disebut dengan istilah a.m. = ante meridiem (before noon). Dan setelah lewat zhuhur yaitu ketika matahari mulai tergelincir, mereka sebut dengan istilah p.m. = post meridiem (between noon and midnight; afternoon).

Dengan keterangan di atas, maka jelas bahwa surat Al Israa’ 78 dan Huud 114 tidak bertentangan, keduanya sama-sama menunjukkan adanya shalat lima waktu, bukan dua atau tiga. Oleh sebab itu Al Qur’an tidak bertentangan dengan Hadits Shahih Bukhari nomor 211 yang mengatakan bahwa perintah shalat kepada Nabi Muhammad saw. adalah lima kali. Jadi, keterangan hadits maupun Al Qur’an tidak bertentangan atau tidaklah kacau, yang kacau adalah cara berpikir Drs. Himar Amos sendiri.

Mudah-mudahan saja kekeliruan Bapak Amos itu bukan kesengajaan, tapi karena ketololan dan kepicikan serta minimnya ilmu Al Qur’an. Maka pantas sekali dia memakai nama Himar Amos.

3. Hadits Shahih Bukhari nomor 211

Kemudian tentang permohonan Rasul kepada Allah agar perintah shalat 50 waktu diringankan menjadi 5 waktu, ini bukan tawar-menawar antara Allah dan nabi-Nya.

Permohonan Nabi tersebut tidak sama dengan tawar menawar, melainkan perjuangan beliau bagi umatnya, sebab beliau tahu bahwa sangat sulit bagi umatnya untuk melaksanakan shalat lima puluh kali sehari.

Itu pun hanya ujian Allah bagi Nabi, apakah beliau punya kepedulian dalam membela umatnya atau tidak. Ternyata beliau orang yang cerdas dan penuh tanggungjawab. Beliau bisa membayangkan kalau sehari saja harus shalat lima puluh kali, lantas kapan umatnya bisa mencari nafkah? Bukankah masih banyak hal-hal lain yang penting dalam mengisi waktu dalam kehidupan demi untuk beribadah kepada Allah? Yang namanya ibadah itu bukan hanya shalat saja.

Terjadinya permohonan Nabi Muhammad kepada Allah itu bukan main-main, tapi dilakukan Nabi Muhammad saw. dengan penuh pengharapan dan sungguh-sungguh sebagai manusia biasa dan untuk umatnya yang juga manusia biasa yang sudah barang tentu punya banyak kelemahan. Alhamdulillah, ternyata permohonan beliau dikabulkan oleh Allah Swt. yattu kewajiban shalat lima kali dalam sehari.

Sebenarnya permohonan Nabi Muhammad kepada Allah Swt. tidaklah aneh, sebab manusia yang sifatnya serba lemah, wajar saja jika dia memohon keringanan kepada Allah. Setiap manusia, siapapun dia, pasti selalu menginginkan keringanan dari Allah Swt. Umur yang sudah ditetapkan oleh Allah Swt. batasannya, tetap saja setiap kita berdoa kepada Allah, selalu memohon umur panjang.

Seandainya Himar Amos diberi tahu oleh Allah Swt. bahwa dia akan mati tepat pada usia 64 tahun, dia pasti terus berdoa dan memohon kepada Tuhan untuk diberikan umur yang lebih panjang lagi, malah kalau bisa hidup 1000 tahun lagi. Apalagi umur bapak saat ini sudah 63 tahun lebih beberapa bulan, tentu tinggal beberapa tahun atau beberapa bulan lagi waktu yang tersisa untuk hidup di dunia.

Apakah Himar Amos diam seribu bahasa dan masa bodoh saja tanpa memohon kepada Tuhan supaya jangan dimatikan dulu pada usia 64 ? Barangkali setiap hari bisa 100 kali dia mohon keringanan kepada Tuhan agar umurnya diperpanjang.

Apakah lucu jika Amos memohon keringanan kepada Tuhan untuk diberikan umur panjang, walaupun Tuhan sudah katakan bahwa Amos akan mati tepat umur 64 tahun ? Tentu tidak, bukan ? Walaupun Amos yakin bahwa Yesus akan menebus segala dosa, tapi kami yakin Amos tetap saja akan memohon keringanan kepada Tuhan untuk diberikan umur panjang bukan ?

Oleh sebab itu tuduhan Himar Amos kepada Islam tidak beralasan, selain hanya karena kebencian kepada Islam serta karena kebodohan dan ketololan tentang ajaran Islam saja.

Yang jelas hikmahnya Allah menginginkan agar manusia selalu mempergunakan akal sehat dan ilmu dalam mengkaji segala sesuatu. Dan setiap kali mendengar sesuatu informasi, hendaklah dipikir dahulu sebelum memutuskan baik-buruk dan untung-ruginya.

Rukun Islam 2c : Kumandang Azan Melanggar Al-Quran

Pendapat Drs. H. Amos (Pendeta Nehemia)
Dalam banyak hal memang apa yang disebut dalam Al Qur’an diabaikan oleh pengikut agama bangsa Arab, bahkan dianggap tidak berlaku.

Tidak memperdulikan ayat-ayat Al Qur’an atau mengabaikan ayat-ayat Al Qur’an oleh pengikut agama bangsa Arab dapat dijumpal di mana-mana terutama di Indonesia, misalnya menurut Surat 7 Al A’raaf ayat 205 yang berbunyi:

“Dan sebutlah Tuhanmu dalam hatimu dengan penuh kerendahan dan rasa takut dan dengan tidak mengeraskan suara di waktu pagi dan petang, dan janganlah engkau termasuk orang-orang yang lalai”.

Itulah bunyi ayat dalam Al Qur’an, akan tetapi dalam kenyataannya sebahagian besar pengikut agama bangsa Arab melalui mesjid-mesjid dengan sengaja mengeraskan suara sekuat-kuatnya dengan pengeras suara pada waktu menyebut nama Tuhan justru di pagi hari dan petang menjetang malam tanpa memperhatikan keadaan sekitarnya dan sama sekali mengabaikan apa yang diperintahkan dalam Al Qur’an. (hal. 41-42)

Tanggapan H. Ihsan L.S. Mokoginta (Wenseslaus)
Surat Al A’raaf ayat 205 tersebut mengatakan bahwa apabila menyebut nama Tuhan, hendaklah dilakukan dengan kerendahan hati, penuh rasa takut dan tanpa mengeraskan suara. Tapi maksudnya dalam konteks berdoa atau berzikir kepada Allah.

Dalam ayat tersebut Allah memberikan tuntunan tentang etika zikir atau mengingat akan Allah, di antaranya adalah:

1. Senantiasa mengingat Allah dalam hati serta merenungkannya. Sebab bila selalu kita renungkan yang mendalam, maka akan memperkuat rasa ikhlas dalam beramal.

2. Senantiasa merendahkan diri dan tidak sombong, sebab di hadapan Allah yang Maha Mulia, Maha Kaya dan Maha Kuasa, manusia tidak lebih hanyalah seorang hamba yang berasal dari air yang hina dina saja.

3. Senantiasa merasa takut akan Allah, sebab apabila pertolongan dan nikmat-Nya dicabut, niscaya manusia tidak kuasa menggantikan-Nya.

4. Tidak boleh bersorak-sorak atau berteriak-teriak (mengeraskan suara) dalam menyebut nama Allah, sebab Allah itu tidak tuli dan dekat dengan manusia.

5. Setiap saat senantiasa mengingat Allah di waktu pagi dan petang, agar jangan termasuk orang-orang yang lalai.

Jadi, surat Al A’raaf ayat 205 tersebut jelas melarang berzikir dengan suara yang keras. Hal ini sesuai pula dengan penjelasan Hadits Nabi:

Diriwayatkan oleh Abu Musa Al Asy’ari ra. berkata: “Seseorang mengangkat suaranya tinggi-tinggi ketika berdoa dalam suatu perjalanan. Maka Rasulullah menegur mereka: “Hai sekalian manusia! Tahanlah diri kalian, karena kalian tidak menyeru orang tuli dan tidak pula Dia Ghaib. Yang kamu seru itu Maha Mendengar lagi sangat dekat, bahkan lebih dekat dari tempat dudukmu sendiri!”

Hadits tersebut melarang bersuara keras-keras dalam berzikir kepada Allah, sebab suara yang keras dan gaduh bisa merubah keadaan menjadi tidak khusyu’. Oleh sebab itu Al Qur’an dan Hadits Nabi tidak bertentangan, sama-sama melarang bersuara keras-keras apabila berzikir dalam mengingat Allah.

Rupanya yang dimaksud oleh Himar Amos dengan suara yang keras pakai pengeras suara di masjid-masjid adalah suara Azan saat masuk waktu shalat. Sebab dalam azan memang menyebut nama Tuhan beberapa kali dengan keras bahkan pakai pengeras suara. Sehingga menurut dia, hal itu bertentangan dengan surat Al A’raaf ayat 205. Akhirnya disimpulkan bahwa umat Islam Indonesia suka mengabaikan Al Qur’an.

Maka kami berkesimpulan bahwa Himar Amos, penulis buku ‘Upacara Ibadah Haji’ benar-benar tidak bisa membedakan mana yang boleh dikeraskan dan mana yang tidak boleh dikeraskan suaranya.

Dari sini dapat dilihat sejauh mana ilmu dan wawasan Ors. Himar Amos. Selama 58 tahun beragama Islam, dia tidak bisa menbedakan antara zikir dan azan. Padahal bedanya sangat mencolok. Yang namanya zikir, pasti dengan suara pelan dan yang namanya Azan, pasti dengan suara keras. Lucu sekali kalau ada azan yang menyeru kaum muslimin, mengingatkan masuknya waktu shalat dan mengajak orang shalat jamaah, lalu harus berbisik-bisik ?

Jangan-jangan selama beragama Islam Himar Amos ini tidak pernah berzikir kepada Allah, sehingga tidak tahu bagaimana berzikir itu. Pantas saja kalau dia sampai pindah agama menjadi murtadin, membedakan antara zikir dan azan saja tidak becus!!

Oleh sebab itu untuk menjawab tulisan dia yang sangat tidak bermutu, tidak perlu harus dari seorang ustadz, kiyai atau sarjana muslim, dengan kami yang muallaf mantan Kristen dan baru punya sedikit ilmu Islam saja sudah lebih dari cukup

Rukun Islam 3 : Zakat Syariat Meniru Ajaran Bibel

Pendapat Drs. H. Amos (Pendeta Nehemia)
Mengeluarkan Zakat
Menurut Surat 9 At Taubah ayat 60 setiap orang muslim harus memberikan zakat atau sedekah kepada fakir miskin pengurus zakat, muallaf (orang yang condong menjadi muslim) musafir, fie sabilillah (keperluan agama, pesantren dll). Besarnya zakat atau sedekah yang dikeluarkan ialah 2,5% dari kekayaan yang tertimbun dalam satu tahun.

Memberikan zakat atau sedekah sebagaimana yang diwajibkan dalam Taurat dan Injil berupa perpuluhan dan persembahan, juga diterapkan dalam rukun Islam yang ketiga ini. Dengan demikian rukun Islam yang ketiga pun mengandung unsur-unsur Taurat dan Injil. (hal. 42-43)

Tanggapan H. Ihsan L.S. Mokoginta (Wenseslaus)
Seperti yang pernah kami jelaskan terdahulu, bahwa kalaupun dalam Al Qur’an terdapat persamaan dengan apa yang ada dalam Taurat dan Injil, itu tidak berarti bahwa Al Qur’an menjiplak dari Alkitab (Bibel) milik Himar Amos. Persamaan itu karena sumbernya satu, yaitu sama-sama berasal dari Allah Swt. Barangkali di sinilah letak kekeliruan pemikiran Himar Amos yang buta akan Al Qur’an maupun Bibel, kitab sucinya sendiri.

Mengingat kondisi Alkitab (Bibel) belum sempurna, bahkan telah dirobah, ditambah dan banyaknya kebenaran yang disembunyikan di dalamnya, maka diturunkantah Al Qur’an untuk menyempurnakan sekaligus mengganti kitab tersebut.

Zakat dalam ajaran Al Qur’an, berbeda dengan persepuluhan dalam Bibel. Jika berbeda, tentu salah satu dari dua pasti lebih baik, lebih unggul dan lebih sesuai dengan kemajuan zaman. Untuk itu, mari kita uji.

1. Zakat dalam Al Qur’an

Dalam Al Qur’an, zakat diwajibkan hanya setahun sekali atas barang-barang yang telah dimiliki selama satu tahun penuh, yang nilainya telah mencapai batas-batas ukuran yang disebut nisab.

Jenis yang harus dizakati antara lain, emas dan perak (At Taubah 34), hasil pertanian (Al An’aam 141), laba perniagaan (Al Baqarah 267), tambang (Al Baqarah 267) dan ternak.

Besarnya zakat, hampir semuanya berlaku 2,5 % saja, itupun jika sudah sampai nisab dan haulnya. Jadi segala sesuatu sudah ada aturan mainnya. Yang diberlakukan zakat 10% hanya dari hasil pertanian saja, itupun masih bersyarat.

2. Persepuluhan dalam Bibel

Persepuluhan yaitu mengeluarkan 10 % (sepuluh persen) dari hasil pertanian dan peternakan sebagaimana ayat berikut:

“Demikian juga segala persembahan persepuluhan dari tanah, baik dari hasil benih di tanah maupun dari buah pohon-pohonan, adalah milik TUHAN; itulah persembahan kudus bagi TUHAN. Tetapi jikalau seseorang mau menebus juga sebagian dari persembahan persepuluhannya itu, maka ia harus menambah seperlima. Mengenai segala persembahan persepuluhan dari lembu sapi atau kambing domba, maka dari segala yang lewat dari bawah tongkat gembala waktu dihitung, setiap yang kesepuluh harus menjadi persembahan kudus bagi TUHAN” (Imamat 27:30-32).

Dari bunyi ayat di atas, jelas bahwa persepuluhan itu hanya untuk jenis pertanian dan peternakan saja. Apabila kesulitan dalam menyalurkan persepuluhan tersebut karena tempatnya jauh, maka boleh diberikan berupa uang senilai barang yang dihitung menurut persepuluhan, sesuai dengan ayat berikut:

“Haruslah engkau benar-benar mempersembahkan sepersepuluh dari seluruh hasil benih yang tumbuh di ladangmu, tahun demi tahun. Di hadapan TUHAN, Allahmu, di tempat yang akan dipilih-Nya untuk membuat nama-Nya diam di sana, haruslah engkau memakan persembahan persepuluhan dari gandummu, dari anggurmu dan minyakmu, ataupun dari anak-anak sulung lembu sapimu dan kambing dombamu, supaya engkau belajar untuk selalu takut akan TUHAN, Allahmu. Apabila, dalam hal engkau diberkati TUHAN, Allahmu, jalan itu terlalu jauh bagimu, sehingga engkau tidak dapat mengangkutnya, karena tempat yang akan dipilih TUHAN untuk menegakkan nama-Nya di sana terlalu jauh dari tempatmu, maka haruslah engkau menguangkannya dan membawa uang itu dalam bungkusan dan pergi ke tempat yang akan dipilih TUHAN. Allahmu” (Ulangan 14:22-25).

Jadi dalam Bibel tidak ada yang mengatur soal persepuluhan dari uang tunai baik berupa gaji, deposito, emas, perak serta barang dagangan lainnya selain daripada hasil pertanian dan peternakan. Selama ini, persepuluhan itu diberlakukan pada segala penghasilan berupa apapun, sehingga gaji pegawai juga dipotong 10 % sebelum diterima oleh yang berhak. Bagi pedagang, diwajibkan menyetor sepersepuluh dari penghasilan mereka kepada pimpinan mereka.

Akibatnya, dewasa ini di negara Amerika dan Eropa yang mayoritas beragama Kristen menyatakan keluar dari agama Kristen supaya gaji mereka tidak dipotong 10% lagi. Oleh sebab itu jangan heran jika di negara-negara Eropa seperti Belanda dan Amerika, ternyata 51 % warganya tidak punya agama. Sebab persepuluhan itu ternyata memberatkan mereka, padahal mereka tidak aktif ke gereja. Itulah yang terjadi di negara Eropa dan Amerika.

Setelah memperbandingkan ajaran zakat dalam Islam dengan persepuluhan dalam Kristen, terbukti bahwa umat Islam jauh lebih patuh dari umat Kristen dalam hal zakat dan persepuluhan.

Apakah Himar Amos pernah mendengar ada orang Islam yang berhenti jadi orang Islam atau keluar dari Islam hanya karena takut bayar zakat? Tidak ada, bukan? Bahkan umat Islam sendiri yang menghitung besar zakatnya untuk dikeluarkan demi membersihkan hartanya. Umat Islam tidak merasa terpaksa dalam hal mengeluarkan zakatnya.

Rasanya sangat jarang ada orang Kristen yang punya penghasilan besar, lalu mau mengeluarkan sepersepuluh dari penghasilannya. Sangat disayangkan, hanya sekedar menghindar dari perpuluhan, sebagian umat Kristen di Eropa dan Amerika keluar dari agama Kristen. Ini tentu sangat tragis sekali, padahal mestinya mereka harus patuh, jika ajaran persepuluhan itu benar-benar wahyu Allah.

Jika tidak percaya silahkan Himar Amos cek ke Eropa, apakah benar atau tidak bahwa persepuluhan itu sudah ditinggalkan oleh mereka sendiri. Bahkan banyak yang sudah beralih pindah ke Islam, sebab menurut mereka Islam agama yang rasional.

Rukun Islam 4 : Puasa Ramadhan Syariat Puasa digali dari Bibel

Pendapat Drs. H. Amos (Pendeta Nehemia)
Puasa dalam bulan Ramadhan
Puasa yang dianjurkan dalam Taurat dan Injil juga diterapkan dalam rukun Islam yang keempat. Menurut Surat 2 Al Baqarah ayat 183 setiap orang muslim harus berpuasa dalam bulan Ramadhan selama 29 hari atau 30 hari.

“Hai sekalian orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu puasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang yang terdahulu dari kamu supaya kamu bertaqwa.” (Surat 2 Al Baqarah ayat 183).

Dengan demikian rukun Islam yang keempat ini, juga mengandung unsur-unsur Taurat dan Injil. (hal. 43-44).

Tanggapan H. Ihsan L.S. Mokoginta (Wenseslaus)
Antara Al Qur’an, Injil, Zabur dan Taurat memang terdapat persamaan, disamping perbedaan-perbedaan yang jumlahnya tidak sedikit.

Persamaan tersebut terjadi bukan karena Muhammad saw. menjiplak kitab-kitab sebelumnya. Melainkan karena Allah yang pernah mewahyukan Taurat dan Injil, mewahyukan kembali kepada beliau dalam Al Qur’an.

Jadi, dalam hal ini tidak perlu dipersoalkan. Umat Kristen tidak perlu memandang rendah Al Qur’an gara-gara ada persamaan dengan Taurat dan Injil. Sebab umat Islam pun tidak pernah menuduh Yesus sebagai orang yang menjiplak Taurat, meskipun banyak terdapat persamaan antara Taurat dan Injil.

Dalam surat Al Ahzaab 40 dijelaskan bahwa Rasulullah adalah nabi terakhir (khataman nabiyyin) di antara seluruh nabi yang ada terdahulu. Sebagai nabi yang terakhir, beliau telah berhasil menyempurnakan bangunan dienullah yang telah mulai dikerjakan oleh para nabi dan rasul sebelumnya. Sehingga sekarang bangunan agama yang indah dan sempurna itu telah selesai.

Perumpamaan itu diberikan sendiri oleh Rasulullah saw

“Perumpamaan antara aku dan seluruh nabi-nabi lainnya adalah seperti seorang yang mendirikan sebuah bangunan. Dia telah manyempurnakan dan memperindah bangunan-Ku kecuali hanya sebuah batu bata yang belum dipasang di salah satu sudut bangunan itu. Orang-orang mengelilingi dan mengagumi bangunan itu berkomentar: “Alangkah bagusnya kalau batu bata itu diletakkan di tempat yang kosong itu”. Ketahuilah, akulah batu bata itu. Dan akulah penutup para nabi (Muttafaqun ‘alaih).

Sebagai nabi yang terakhir dengan ‘bangunan dinullah’ yang indah dan sempurna, Muhammad diutus oleh Allah untuk seluruh umat manusia sepanjang zaman sampai hari kiamat.

Puasa dalam Al Qur’an dan Bibel

Jika memang ada anjuran puasa menurut Taurat dan Injil, justru kami yang bertanya kepada Himar Amos, mengapa anda tidak menjalankan puasa seperti yang diajarkan oleh Taurat dan Injil itu? Apakah puasa yang dianjurkan tersebut juga dijalankan oleh umat Kristen dewasa ini? Kalau ya, bagaimana caranya, berapa lamakah puasa dan sejak kapan memulainya?

Bapak Himar Amos yang terkasih, coba simak apa kata kitab suci Bapak tentang puasa berikut ini:

Menurut Perjanjian Lama, Nabi Musa berpuasa selama 40 hari 40 malam:

“Dan Musa ada di sana bersama-sama dengan TUHAN empat puluh hari empat puluh malam lamanya, tidak makan roti dan tidak minum air, dan ia menuliskan pada loh itu segala perkataan perjanjian, yakni Kesepuluh Firman” (Keluaran 34:28).

Menurut Perjanjian Baru, Yesus juga berpuasa selama 40 hari 40 malam:

“Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus” (Matius 4:2).

Menurut Injil Lukas, Yesus disunahkan berpuasa setiap minggu dua kali, yaitu setiap hari Senin dan Kamis. Perhatikan ayat di bawah ini: “Aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku” (Lukas 18:12).

Yang menjadi pertanyaan adalah, Kenapa Himar Amos beserta umat Kristen lainnya tidak berpuasa seperti teladan Nabi Musa dan Isa (Yesus) ? Jawaban yang pasti, karena mereka tidak sanggup, sebab kalau Himar Amos melakukannya, tidak makan dan tidak minum selama 40 hari 40 malam, pasti akan mati, bukan ?

Tapi pernahkah Himar Amos dengar kalau ada umat Islam yang mati karena berpuasa selama 30 hari (bukan 30 hari 30 malam)? Tidak ada, bukan ? Nah, inilah yang namanya ajaran puasa yang rasional, disempumakan dalam kitab suci Al Qur’an oleh Allah Swt. kepada Nabi Muhammad saw.

Kenapa Himar Amos dan umat Kristen lainnya tidak berpuasa seminggu dua kali seperti dalam Injil Lukas 18:12? Bukankah justru umat Islam yang memelihara puasa seminggu dua kali tersebut? Dalam Bibel sekarang ini, hari Senin dan kamis sudah dihilangkan yang ada hanya seminggu dua kali. Tapi dalam Ensikiopedi Alkitab, ternyata yang dimaksud dengan puasa seminggu dua kali tersebut, jatuh pada hari Senin dan Kamis.

Nah, karena dalam Bibel sudah dirobah dan dihilangkan, maka Allah wahyukan kembali kepada Muhammad dalam Al Qur’an segala yang benar yang pernah diwahyukan-Nya itu, termasuk puasa pada bulan Ramadhan.

DIALOG 3 : RUKUN ISLAM KE 5 – HAJI

Pendapat Drs. H. Amos (Pendeta Nehemia)
5. Melakukan Upacara Ibadah Haji
Upacara Ibadah Haji ini diuraikan di dalam bab tersendiri yaitu Bab III, karena Upacara Ibadah Haji merupakan puncak daripada penyempurnaan pernyataan agama bangsa Arab yang menentukan tingginya derajat seorang dalam kehidupan masyarakat muslim. (hal.44).

Tanggapan H. Ihsan L.S. Mokoginta (Wenseslaus)
Kami pun menjawab secara tuntas dalam Dialog ke-3 dengan judul ‘Hujat dan Ralat tentang Ibadah Haji’. Tekad perjuangan kami sudah bulat. Gayung bersambut, kata berjawab. Pendeta menghujat Islam, muallaf datang meralat dengan kasih dan buku jawaban balik. Selamat membaca.

Rukun Islam 5.1 : Dihalalkan Mencuri dan Korupsi untuk Haji

Pendapat Drs. H. Amos (Pendeta Nehemia)
Maka tidak heranlah jika orang-orang miskin yang tidak mampu pun berlomba-lomba mencari uang untuk biaya metaksanakan upacara ibadah haji ini.

Untuk mencari dana atau uang untuk biaya ibadah haji ini orang tidak segan-segan menjual seluruh harta bendanya yang jumlahnya sudah terbatas.

Bahkan ada orang yang sampai melakukan penipuan demi memperoleh uang untuk biaya melakukan upacara ibadah haji tersebut. Ada sementara orang bahkan mencuri atau berkorupsi agar memperoleh uang untuk biaya upacara ibadah haji. (hal. 52)

Tanggapan H. Ihsan L.S. Mokoginta (Wenseslaus)
Tuduhan itu sama sekali tidak benar, hanya mengada-ada saja. Fitnah!! Tidak mungkin ada orang Islam yang mau menipu, mencuri dan korupsi demi untuk bisa menunaikan ibadah haji. Sebab ibadah haji hanya diwajibkan bagi orang yang mampu saja.

Kalau konsekwen dengan ajaran Islam, tidak mungkin ada orang yang menjadi penipu, maling dan koruptor, dengan alasan apapun. Sebab Al Qur’an melarang dengan tegas segala tindak kriminal tersebut, lengkap dengan sangsi yang cukup berat dunia dan akhirat.

a. Allah mewajibkan umat manusia untuk berlaku adil dan amanat (Qs. An Nisaa 58 dan Al Anfaal 27). b. Allah melarang keras perbuatan curang dan korupsi (Qs. Al Muthaffifiin 1). c. Allah melarang keras tindakan dusta dan tipuan (Qs. Al Muthaffifiin 10). d. Seorang yang terbukti melakukan pencurian dihukum potong tangan/qishash (Qs. Al Maa-idah 38). e. Dan lain-lain.

Jangan-jangan Himar Amos pernah melakukan korupsi dan penipuan untuk biaya hajinya tahun 1983, kalau benar bahwa dia itu sudah haji.

Dengan memahami dan mengamalkan ayat-ayat Al Qur’an tersebut, mustahil ada umat Islam yang menjadi penipu, pencuri dan koruptor seperti yang dituduhkan oleh Himar Amos.

Justru, orang akan menjadi penipu super kawakan apabila mau mengamalkan ajaran Bibel. Sebab masalah tipu menipu, dusta dan kebohongan sudah menjadi tradisi yang diyakini dapat mendatangkan berkat dan rahmat Tuhan. Perhatikan ayat-ayat berikut:

a. Rasul Paulus mengajarkan bahwa semakin dosa berlimpah, maka karunia Tuhan semakin melimpah ruah.

“Dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah” (Roma 5:20).

“Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa?” (Roma 3:7).

b. Yakub diberkati Tuhan setelah menipu ayahnya dan merampas hak milik kakak kandungnya sendiri.

Dalam Bibel kitab Kejadian 27: 1-40 diceritakan bahwa Ishak, putra Ibrahim yang kedua mempunyai seorang Istri (Ribkah) dan dua orang putra yaitu Esau dan Yakub.

Ribkah yang adalah menantu Ibrahim itu pilih kasih kepada anaknya. Dia lebih mengasihi Yakub daripada Esau, anak sulungnya.

Karena Ishak sudah tua dan sudah tidak bisa melihat, maka sesuai dengan tradisi turun-temurun, dia harus memberkati anaknya yang sulung, yaitu Esau. Tetapi, dengan sangat liciknya Ribkah dan Yakub menyusun rekayasa jahat agar yang diberkati oleh Ishak adalah Yakub itu.

Maka dengan satu tipuan ulung, Yakub dapat mengelabuhi Ishak yang sudah buta, sehingga dia dianggap sebagai Esau, akhirnya Yakublah yang diberkati oleh Ishak sebagai anak sulung yang istimewa, leluhur bangsa Yahudi, nenek moyang Yesus.

Penipuan anak kepada bapaknya dan pengkianatan ibu terhadap anak kandungnya dan sentimen adik kepada kakak kandungnya itu diceritakan dengan jelas tanpa malu-malu dalam Bibel (ingat, bukan datam Al Qur’an).

Yang lebih tidak tahu malu lagi adalah para ahli tafsir Bibel LAI yang dengan bangganya menyebut perikop ayat tersebut dengan judul ‘Yakub diberkati Ishak sebagai Anak Sulung”. Padahal, judul yang lebih tepat adalah:

- Ishak ditipu oleh anak dan istrinya, – Esau dikhianati oleh adik dan ibu kandungnya, – Anak dan ibu yang durhaka kepada ayah dan adiknya, – Pemberkatan yang salah alamat kepada penipu, pengkianat dan durhaka.

Demikianlah sekilas info teladan perbuatan tipu-tipu dalam Bibel. Supaya Himar Amos menyadari bahwa ajaran tipuan tidak ada dalam Al Qur’an, justru yang ada adalah dalam Bibel.

Rukun Islam 5.2 : Islam agama Tauhid yg menyembah satu buah berhala

Pendapat Drs. H. Amos (Pendeta Nehemia)
Jika kita perhatikan dalam Al Qur’an surat 1 Al Faatihah ayat 1 yaitu ayat Basmalah yang menyatakan bahwa Allah ialah zat atau asal mula benda yang maha suci yang disembah dengan sebenarnya, maka benda yang dimaksud adalah benda batu hitam Hajar Aswad yang oleh bangsa Arab disembah dan dipuja sejak jaman dahulu sebelum Islam disiarkan oleh Muhammad.

Hanya pada waktu itu Hajar Aswad disembah dan dipuja bersama-sama dengan 359 berhala lainnya termasuk berhala-berhala perempuan Laata, Manaata dan Uzza.

Pada waktu itu agama bangsa Arab sifatnya polytheisme yaitu menyembah banyak Tuhan sampai jumlahnya 360 patung berhala yang didewakan sebagai Tuhan-Tuhan.

Tetapi setelah agama bangsa Arab disiarkan oleh Muhammad maka 359 patung-patung berhala disingkirkan dari Ka’bah (Hadits Shahih Bukhari nomor 832) kecuali Hajar Aswad yang tetap tinggal, karena agama bangsa Arab yang baru mengajarkan hanya menyembah satu Tuhan sehingga agama bangsa Arab yang bersifat polytheisme dirubah menjadi monotheisme yaitu hanya menyembah satu Tuhan yang didalam hal ini menyembah satu berhala batu hitam yang bernama Hajar Aswad. (hal. 60-61).

Tanggapan H. Ihsan L.S. Mokoginta (Wenseslaus)
“Manis serasa madu, pahit serasa empedu”, kata-kata yang manis tetapi menyakitkan hati. Itulah pepatah yang tepat bagi perkataan orang munafik.

Demi tercapainya misi pemurtadan, tidak tanggung-tanggung Himar Amos bersikap mendua. Di satu tempat dilecehkannya Islam, sementara di tempat lain dipujinya Islam. Sambil merangkul, Amos memukul Islam. Liciknya Amos setelah sering diundang ke gereja-gereja untuk ceramah.

Himar Amos memuji keberhasilan Nabi Muhammad yang sukses merubah agama bertuhan banyak (politheisme) menjadi bertuhan satu (monotheisme).

Tapi sayangnya, dikatakan lagi bahwa Rasulullah melenyapkan sebanyak 359 berhala dengan menyisakan sebuah berhala. Dan berhala yang disisakan satu itu, adalah batu hitam ‘HajarAswad’ yang dikatakan sebagai Tuhannya orang Islam atau Allah-nya Agama Bangsa Arab. Dan ini tentunya sangat menghina umat Islam Indonesia, bahkan dunia.

Hadits Shahih Bukhari nomor 832 yang tidak dilampirkan teksnya, setelah kami cek, ternyata tidak benar. Dalam hadits tersebut tidak ada keterangan yang menyebutkan bahwa Hajar Aswad bagian dari 360 berhala dalam Ka’bah. Selengkapnya, Hadits tersebut sebagai berjkut:

Dari Ibnu Abbas ra., katanya: “Ketika Rasulullah saw. mula-mula tiba di Mekkah, beliau enggan hendak masuk Ka’bah karena di dalamnya banyak patung. Beliau memerintahkan supaya mengeluarkan patung-patung itu di dalamnya, maka dikeluarkan mereka semuanya termasuk patung Nabi Ibrahim dan Ismail yang sedang memegang azlam (alat untuk mengundi). Melihat itu Rasulullah saw. bersabda: “Terkutuklah yang membuat patung itu! Demi Allah! Sesungguhnya mereka tahu bahwa keduanya tidak pernah melakukan undian dengan azlam, sekali-kali tidak”. Kemudian beliau masuk ke dalam Ka’bah, lalu takbir di setiap pojok dan beliau tidak shalat ketika itu di dalamnya” (Shahih Bukhari nomor 832).

Dari teks lengkap hadits tersebut, jelas bahwa Hajar Aswad bukanlah salah satu dari berhala yang disisakan oleh Nabi Muhammad. Ini membuktikan bahwa berhala yang ada di dalam Ka’bah semuanya dikeluarkan atas perintah Nabi Muhammad tanpa terkecuali, termasuk patung Nabi Ibrahim dan Ismail as.

Jadi, refrensi Hadits Bukhari nomor 832 yang disebutkan tanpa memuat teksnya oleh Murtadin Himar Amos tersebut, jelas tujuannya untuk mengelabui umat Islam yang awam. Inilah kelicikan dan kebohongan yang sengaja dilakukan untuk misi Kristen, walaupun dengan cara-cara yang tidak halal.

Yang benar yaitu semua berhala disingkirkan oleh Nabi Muhammad tanpa menyisakan satu pun. Dan Islam tidak menyembah berhala apapun. Islam tidak menyembah tuhan apapun, selain kepada Allah Swt. Inilah yang disebut ajaran Tauhid, Laa llaaha illallaah (tiada Tuhan yang disembah selain Allah).

Sebaliknya, kalau mau jujur, justru sangat banyak berhala di dalam gereja. Buktinya, dalam gereja banyak terdapat patung-patung maupun gambar-gambar Yesus, Maria, dua belas rasul (murid Yesus) dan lain-lain.

Nah, ini ibarat pepatah “Gajah dipelupuk mata tiada tampak, kuman di seberang lautan tampak”.

“Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu. sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu” (Matius 7:3-5).

Rukun Islam 5.3 : Al Qu’ran sudah tidak relevan dan ketinggalan zaman

Pendapat Drs. H. Amos (Pendeta Nehemia)
Adapun tempat-tempat yang menjadi lokasi dari upacara ibadah haji ialah kota Mekkah dan sekitarnya yaitu Muzdalifah, Mina, padang pasir Arafah.

Menurut Surat 2 Al Baqarah ayat 125 maka tempat-tempat tersebut di atas adalah tempat yang aman untuk manusia berkumpul.

“Dan (ingatlah) ketika kami menjadikan rumah ini (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumahKu untuk orang-orang yang thawaf, yang itikaf yang ruku dan yang sujud” (Surat 2 Al Baqarah ayat 125).

Pada masa kini apakah tempat-tempat yang harus dikunjungi dalam rangka melaksanakan upacara ibadah haji masih aman untuk manusia berkumpul? Dalam kenyataannya keamanan sudah tidak lagi bisa dijamin.

Karena banyaknya terjadi malapetaka di sekitar Mekkah, misalnya sering terjadi kebakaran, demikian pula stampede, yaitu banyak jemaah haji yang mati terinjak-injak oleh jemaah haji lainnya.

Dengan demikian Surat 2 Al Baqarah ayat 125 pada saat ini sudah tidak tepat lagi karena tidak sesuai dengan kenyataannya. (hal. 64-66).

Tanggapan H. Ihsan L.S. Mokoginta (Wenseslaus)
Tudingan Himar Amos itu, sepintas kelihatan benar bagi anak TK. Dia mengaitkan antara Al Qur’an dan peristiwa yang terjadi di Mekkah dan sekitarnya yang setiap tahun banyak jemaah haji yang meninggal dunia, baik karena sakit, atau karena musibah seperti terinjak-injak, kebakaran dan lain-lain. Sehingga terkesan seolah-olah ayat Al Qur’an surat Al Baqarah 125 tersebut sudah tidak sesuai dengan kenyataan, sehingga tidak tepat dan tidak relevan.

Dasar pemikirannya hanya terletak pada potongan ayat yang berbunyi ‘tempat yang aman’.

Itulah penafsiran yang sesat dan menyesatkan, disebabkan karena rasa sentimen terhadap Islam ditambah dengan wawasan Islamnya yang baru setingkat anak TK. Dengan modal yang tidak cukup, tidak mungkin bisa menafsirkan Al Qur’an dengan baik dan benar.

Agar Himar Amos paham dan umat Kristen lainnya mengerti, baiklah kami jelaskan di sini makna kalimat ‘tempat yang aman’ pada surat Al Baqarah 125, paling tidak ada dua makna, antara lain:

Pertama, aman dalam arti sebagai tempat berlindung. Siapa saja yang masuk atau berada di kawasan Baitullah di Masjidil Haram, maka terjaminlah keamanannya. Hal ini dijelaskan dalam surat Ali Imraan ayat 97. Bukan hanya manusia saja, bahkan binatang buruan pun tidak boleh disakiti apalagi dibunuh di dalamnya. Namanya saja Tanah Suci, berarti daerah itu adalah daerah yang dihormati. Musuh sekalipun, tidak boleh ditangkap dan dianiaya dalam Masjidil Haram, kecuali bila berada di luar areal Baitullah tersebut.

Kedua, aman dalam arti bebas dari segala macam penyembahan berhala dan bersih dari segala bentuk syirik.

Ayat ini sangat erat kaitannya dengan sejarah perjuangan Nabi Muhammad dalam menegakkan ajaran Tauhid. Ketika ayat ini turun, pada waktu itu ka’bah memang tidak aman, karena pada waktu itu di sana tetah ditegakkan penyembahan terhadap 360 berhala. Kaum musyrikin mengerjakan thawaf dengan kotor. Ada yang bersorak-sorak, ada yang bertepuk-tepuk tangan dan bahkan ada laki-laki perempuan yang telanjang ketika thawaf.

Untuk membangkitkan dan menegakkan kembali kesucian Baitullah itu, maka Rasulullah memerintahkan menghancurkan dan meruntuhkan semua berhala tanpa menyisakan satupun. Kemudian beliau juga melarang, tidak boleh ada lagi yang thawaf telanjang mengelilingi Ka’bah.

Jadi jelaslah bahwa makna potongan ayat ‘tempat yang aman’ adalah aman dalam segala bentuk peribadatan syirik. Keliru besar jika ayat tersebut ditafsirkan oleh Himar Amos bahwa di kawasan Baitullah bebas dari kematian, musibah dan stampede.

Secara utuh, ayat ini merupakan perintah Allah kepada Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail untuk mendirikan Baitullah sebagai tempat berkumpul semua umat manusia, menjadikannya sebagai tempat yang aman untuk beribadah dan membersihkannya dari berbagai macam bentuk penyembahan berhala dan amalan syirik, sehingga menimbulkan ketentraman bagi yang thawaf, itikaf, ruku maupun yang sujud menyembah kepada Allah Swt.

Rukun Islam 5.4 : Misi Muhammad membenarkan Bibel

Pendapat Drs. H. Amos (Pendeta Nehemia)
Perubahan agama bangsa Arab dengan landasan Alkitab
Muhammad telah berhasil mengubah agama bangsa Arab yang bersifat polytheisme yaitu agama yang berketuhanan banyak sampai sejumlah 360 Tuhan yang berbentuk patung-patung berhala menjadi agama yang bersifat monotheisme yaitu agama yang berketuhanan satu.

Dalam proses perubahaan agama bangsa Arab ini, Muhammad melalui isterinya Khadijah dan pamannya Waraqah bin Naufal yang adalah seorang pendeta Kristen dan menguasai bahasa Ibrani, telah berhasil memasukkan sebagian dari ayat-ayat Taurat, Zabur dan Injil ke dalam Al Qur’an. Oleh sebab itulah dapat kita lihat pernyataan dari Al Qur’an yang membenarkan berlakunya Taurat dan Injil sebagalmana yang disebut dalam Surat 2 Al Baqarah ayat 41, 89, 91 dan 97. Surat 3 Ali Imraan ayat 3, Surat 12Yuusuf ayat 111, Surat 35 Faathir ayat 31, Surat 46 Al Ahqaaf ayat 30, Surat 10 Yuunus ayat 37, Surat 4 An Nisaa ayat 47, 136. Surat 6 Al Anaam ayat 92. (hal. 67).

Untuk jelasnya kami kutipkan beberapa ayat-ayat tersebut di atas yang membenarkan berlakunya Taurat dan Injil sebagai berikut:

“Dia menurunkan Kitab (Al Qur’an) kepadamu (Muhammad) dangan sebenarnya; membenarkan kitab yang diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil” (Surat 3 Aali Imraan ayat 3).

“Dan inilah Kitab (Al Qur’an) yang telah Kami turunkan lagi berkahi membenarkan kitab-kitab sebelumnya (Taurat, Injil)” (Surat 6 Al An’aam ayat 92).

Dan sebelum Al Qur’an, telah ada kitab Musa sebagai ikutan dan rahmat. (Surat 46 Al Ahqaaf ayat 12). (hal. 68).

Tidaklah Al Qur’an ini diadakan oleh siapapun selain Allah, bahkan membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya (Taurat, Injil) dan menerangkan kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya dari Tuhan semesta alam. (Surat 10 Yuunus ayat 37). (hal. 69).

Tanggapan H. Ihsan L.S. Mokoginta (Wenseslaus)
Ayat-ayat tersebut memang menceritakan tentang keberadaan kitab yang turun sebelum Al Qur’an. Dinyatakan bahwa Al Qur’an mambanarkan adanya kitab yang turun sebelumnya yaitu Taurat, Zabur dan Injil, bukan seperti tulisan Himar Amos bahwa Al Qur’an membenarkan berlakunya kitab tersebut.

Tetapi tidak benar bila dikatakan bahwa Al Qur’an membenarkan berlakunya Taurat dan Injil, apalagi untuk selamanya. Di sinilah letak kesalahan H. Amos. Dia menekankan kata ‘membenarkan berlakunya’ untuk mencari legalitas Al Qur’an guna menjunjung derajat Taurat dan Injil. Padahal Al Qur’an tidak mengatakan demikian.

Sebelum Al Qur’an diturunkan oleh Allah, Islam tidak mengingkari berlakunya Taurat dan Injil yang masih orisinil untuk Bani Israel pada zaman Nabi Musa dan Isa as. pada waktu itu. Tetapi setelah Al Qur’an diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad, maka Taurat dan Injil yang sudah dirobah-robah sudah tidak berlaku lagi. Sebab Al Qur’anlah sebagai penggantinya sudah diturunkan Allah.

Salah satu bukti bahwa Taurat dan Injil yang asli –bukan seperti milik Kristen saat ini– hanya berlaku selagi Al Qur’an belum diturunkan, adalah firman Allah berikut:

“Dan sesungguhnya di antara orang-orang Ahli Kitab ada yang beriman kepada Allah dan apa yang di turunkan kepadamu, dan apa yang telah diturunkan kepada mereka, sedang mereka merendahkan diri kepada Allah dan mereka tidak menjual ayat-ayat Allah, dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhannya. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungan-Nya” (Ali Imraan: 199).

Penjelasan:

1. Yang dimaksud dengan Ahli Kitab di sini adalah Yahudi dan Nasrani (bukan Kristen).

2. Maksud apa yang di turunkan kepadamu yaitu Al Qur’an yang diturunkan kepada Muhammad saw.

3. Apa yang telah diturunkan kepada mereka, maksudnya: Taurat yang diturunkan kepada Musa untuk kaum Yahudi dan Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa untuk kaum Nasrani, bukan kepada pengikut Paulus.

4. Tidak menjual ayat-ayat Allah, maksudnya: istiqomah di jalan Allah dengan mengikuti petunjuk yang benar dari kitab mereka saat itu.

5. Beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepadamu dan yang diturunkan kepada mereka, maksudnya, beriman kepada satu-satunya Allah yang benar, beriman kepada apa yang sedang diturunkan kepada Muhammad (Al Qur’an) dan beriman kepada kitab suci mereka (Taurat dan Injil) yang masih asli pada saat itu.

6. Mereka memperoleh pahala, maksudnya, mereka yang diperhitungkan oleh Allah Swt. karena telah mengenal satu-satunya Allah yang benar untuk disembah, mengimani kitab Taurat dan Injil yang sebenarnya, dan percaya kepada Al Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. Dan setelah Al Qur’an genap diturunkan, mereka semua mengimani Al Qur’an sebagai pengganti kitab yang sudah dirusak oleh tangan-tangan jahil manusia. Itulah yang disebut golongan yang selamat.

Jelasiah bahwa Al Qur’an hanya membenarkan adanya kitab sebelumnya, yaitu Taurat dan Injil yang asli. Al Qur’an tidak membenarkan berlakunya Taurat dan Injil milik umat Kristen yang sudah tidak orsinil, justru Al Qur’anlah yang menjadi kitab pengganti atas kitab-kitab suci yang turun sebelumnya.

Rukun Islam 5.6 : Yg tdk menyembah batu hitam dikafirkan Muhammad

Pendapat Drs. H. Amos (Pendeta Nehemia)
Pada umumnya bangsa Arab yang beragamaYahudi dan yang beragama Kristen yang pada waktu itu sudah ada dan hidup di Mekkah dan Madinah, tidak mau menyembah dan mencium batu hitam Hajar Aswad karena mereka tahu bahwa hal ini bertentangan dengan kententutan yang berada dalam Tauratnya agama Yahudi dan Injilnya agama Kristen.

Tetapi anehnya orang-orang yang tidak mau menyembah dan mencium batu hitam Hajar Aswad tersebut oleh Muhammad dinyatakan sebagai orang musyrik dan orang kafir. (hal. 73-74)

Tanggapan H. Ihsan L.S. Mokoginta (Wenseslaus)
Himar Amos menuduh bahwa Rasulullah memvonis orang yang tidak mau menyembah dan mencium Hajar Aswad sebagai orang kafir dan musyrik. Dengan tuduhan ini, Amos ingin memutarbalikkan fakta kebenaran. Dijunjungnya Kristen sambil menginjak dan merendahkan Nabi Muhammad. Pencuri berteriak maling. Thief cry thief, itulah ciri khas Himar Amos.

Himar Amos tidak tahu dan musti tahu bahwa tak satu pun umat Islam yang menyembah Hajar Aswad. Sekali lagi, tidak ada dan tidak pernah ada dari 14 abad yang lalu sampai kapan pun.

Umat Islam sejak SD sudah diajarkan arti ikhlas lillahi ta’ala. Bahwa ibadah akan diterima Allah dengan syarat dilakukan dengan ikhlas hanya karena dan untuk Allah Ta’ala saja.

Tentang siapa yang kafir serta musyrik, dan siapa yang bukan, perhatikan dan ingat baik-baik:

1. Musyrik, adalah orang yang mempersekutukan Allah dengan menyembah dan beribadah kepada selah Allah (Qs. 2: 165, 10:18,19:81). Dalam Islam, syirik adalah dosa yang besar dan tak berampun (Qs. 4:48). Islam bukanlah agama yang syirik, sebab Islam tak kenal toleransi sedikit pun terhadap hal-hal yang berhubungan dengan syirik.

2. Kafir, adalah orang yang ingkar atau durhaka kepada Allah. Siapapun orangnya, asalkan durhaka dan ingkar serta berpaling dari ayat-ayat Allah, maka dia telah menyimpan sifat kafir (Qs. 6: 12-13).

- Orang Yahudi disebut kafir, karena ingkar kepada ayat-ayat Allah, durhaka melampaui batas, bahkan membunuh nabi Allah (Qs. 2:61).

- Orang Kristen juga disebut kafir karena meyakini ajaran Trinitas (Tritunggal), bahwaYesus adalah oknum Tuhan (Qs. 5:17,72,73).

Jelaslah bahwa orang Kristen disebut kafir karena meyakini Trinitas. Karena Himar Amos meyakini Trinitas, maka dia adalah kafir. Orang kafir semacam ini dicap Allah sebagai binatang yang paling buruk.

“Sesungguhnya binatang yang paling buruk di sisi Allah adalah orang-orang kafir, karena mereka itu tidak beriman” (Qs. Al Anfaal 55).

Semua amalan orang kafir itu seperti fatamorgana. Mereka mengira akan mendapatkan sorga, tetapi sorga yang ditunggu-tunggu itu tak pernah kunjung tiba. Bahkan sebaliknya, mereka akan dicemplungkan ke dalam neraka.

“Dan orang-orang yang kafir, segala amal mereka itu laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang haus, tetapi bila didatanginya air itu, tidak didapatinya sesuatu pun” (Qs. An Nuur 39).

Baik kafir maupun musyrik, keduanya sama-sama tidak menghendaki kebaikan dari Allah (Qs. 2:105).

Akhirnya, di hari yang kekal nanti orang-orang kafir dari Ahli Kitab (Yahudi dan Kristen) dan orang musyrik akan diazab di neraka Jahannam selama-lamanya.

“Sesungguhnya orang-orang kafir yakni Ahli Kitab (Yahudi dan Kristen) dan orang-orang musyrik akan masuk ke neraka Jahannam. Mereka kekal di dalamnya. Mereka itulah seburuk-buruk makhluk” (Qs. Al Bayyinah 6).

Rukun Islam 5.8 : Haji adalah pekerjaan Syirik kepada Allah

Pendapat Drs. H. Amos (Pendeta Nehemia)
Pada kenyataannya sebagian besar pengikut agama bangsa Arab tidak mengetahui dan tidak menyadari bahwa yang disembah dan dipuja adalah pada hakekatnya batu hitam Hajar Aswad.

Penyembahan pada batu Hajar Aswad ini baru disadari pada waktu pengikut agama bangsa Arab ini melakukan rukun Islam yang kelima yaitu pergi ke Ka’bah di Makah dan harus menyembah dan mencium batu hitam HajarAswad tersebut.

Pada saat mencium batu hitam Hajar Aswad ini barulah orang tersadar bahwa yang dilakukan tidak lain adalah pekerjaan syirik yaitu mempersekutukan Allah dengan batu hitam tersebut. (hal. 83)

Tanggapan H. Ihsan L.S. Mokoginta (Wenseslaus)
Pada kenyataannya, justru umat Kristen yang keliru menilai Islam. Mereka keliru karena dibodoh-bodohi oleh para penginjil dan evangelis macam Himar Amos, dr. Suradi Ben Abraham dan Pdt. M. Matius cs. dengan mengatakan bahwa umat Islam melakukan perbuatan syirik karena menyembah Hajar Aswad. Alasannya, karena umat Islam mencium Hajar Aswad dalam ibadah haji.

Mereka tidak bisa membedakan kata ‘menyembah’ dengan kata ‘mencium’. Karena menyembah disamaartikan dengan mencium, maka mereka menganggap bahwa umat Islam melakukan perbuatan syirik dengan mencium atau menyembah Hajar Aswad.

Padahal mencium Hajar Aswad itu bukan untuk menyembah, melainkan semata-mata sebagai ritual dan karena kepatuhan pada perintah Allah. Karena Allah memerintahkan untuk menciumnya, maka umat Islam mematuhi.

Dan perlu diingat, bahwa mencium Hajar Aswad bukanlah kewajiban atau keharusan, melainkan hanya sunnah saja.

Rahasia dan keistimewaan Hajar Aswad

Yang menarik untuk dikaji adalah pertanyaan mengapa Rasulullah menyuruh meraba/memegang batu Hajar Aswad, bahkan kalau bisa menciumnya?

Sejarahnya, batu hitam Hajar Aswad tersebut sudah ada ribuan tahun sebelum Nabi Muhammad dan Nabi Isa lahir ke dunia. Bermula ketika NabiYakub dalam suatu perjalanan dari Bersyeba menuju Paran. Karena merasa lelah, dia beristirahat pada suatu tempat sambil mengambil sebuah batu menjadi bantalnya. Saat itu Tuhan memberikan mimpi kepadanya, bahwa dari bumi tempat dia bermalam itu ada didirikan tangga yang ujungnya menjulang sampai ke langit. Dan pada tangga tersebut para malaikat Tuhan naik-turun. Ketika Nabi Yakub terbangun dari tidurnya, ia merasa takut dan berkata: “Sesungguhnya Tuhan berada di tempat ini tanpa aku ketahui, dan sungguh dahsyat tempat ini. Tempat ini pasti rumah dari Allah, dan pasti daerah inilah pintu gerbang menuju sorga”.

Ketika Nabi Yakub bangun pagi-pagi, diambilnya batu tersebut, dituangkan minyak wangi pada batu itu, kemudian diambilnya batu tersebut, lalu mendirikannya sebuah tugu tanda peringatan sebagai rumah Allah. Maka tempat itu dinamakannya Bethel (Baitullah) yang artinya rumah Allah.

Apa yang dialami oleh NabiYakub hampir 40 abad yang lalu adalah mukjizat besar, sebab batu hitam yang dituangi minyak tersebut sampai saat ini masih tetap wangi.

Karena tempat NabiYakub bermimpikan tersebut adalah pintu gerbang menuju sorga, maka Nabi Ibrahim as. mewajibkan umatnya untuk berziarah ke sana setiap tahun bagi yang mampu. Sebab dengan berziarah ke tempat tersebut, akan bisa dilihat langsung kebesaran Allah, antara lain:

a. Ka’bah (Baitullah), merupakan salah satu dari tujuh keajaiban dunia yang dibangun oleh Nabi Ibrahim as.

b. Sumur Zam-Zam, bukti kebesaran Allah atas Nabi Ismail.

c. Batu hitam Hajar Aswad yang masih tetap wangi sampai sekarang sebagai bukti kebesaran Allah atas nabiYakub as.

d. Maqam (tanda telapak kaki) Nabi Ibrahim ketika membangun Baitullah.

e. Makam (kuburan) Rasulullah saw. bersama sahabat-sahabatnya yang masih terpelihara sampai sekarang dll.

Haji itu sama artinya dengan ziarah. Maka umat yang melakukan ibadah haji itu sama artinya mereka melakukan ziarah ke tempat-tempat yang bersejarah dalam rangka melakukan perintah agama, sekaligus melihat langsung kebesaran Allah yang ada di sana.

Khusus terhadap batu hitam Hajar Aswad, Nabi Muhammad saw. menciumnya, karena dengan mencium bau wangi dari batu tersebut, memberikan kesan akan kebesaran Allah swt., karena atas kehendak Allah swt. batu hitam tersebut tetap wangi sampai saat ini. Dengan bisa memegang dan mencium harumnya batu hitam tersebut, yang tadinya hanya ‘ilmul yaqin, maka sekarang menjadi ‘ainul yaqin, bahkan haqqul yaqin.

Oleh karena itu memegang atau meraba dan mencium batu hitam Hajar Aswad oleh Nabi Muhammad saw. disunnahkan saja, bukan wajib.

PENUTUP & HIMBAUAN

Pendapat Drs. H. Amos (Pendeta Nehemia)
Demikianlah telah digambarkan secara singkat makna dari upacara ibadah haji dengan pengharapan agar informasi tulisan ini dapat diterima dengan baik oleh para pembaca yang budiman. Di dalam hubungan ini ingin penyusun mengajak para pembaca untuk ikut merenungkan.

Dari renungan hal-hal tersebut di atas itulah, maka dihimbau agar setiap pengikut agama bangsa Arab ini mempelajari dengan sungguh-sungguh isi daripada Al Qur’an dan Hadits-Hadits shahih yang ada, serta berdoa agar memperoteh hikmat pengetahuan tentang penyembahan Allah yang benar sehingga tidak berjalan ke arah yang keliru.

Wassalammu’alaikum Wr. Wb. (hal. 84-86)

Tanggapan H. Ihsan L.S. Mokoginta (Wenseslaus)
Sebenarnya itu bukan himbauan, melainkan penghinaan dan tantangan terbuka kepada seluruh umat Islam.

Pada kata pengantar, Himar Amos menyebutkan bahwa buku ‘Upacara Ibadah Haji’ dimaksudkan sebagai tambahan informasi bagi semua orang beriman yang ingin mengetahui arti dan makna ibadah haji yang benar. Sementara itu dalam seluruh uraiannya dari Bab I sampai Bab V, semuanya tak pernah tidak melecehkan Islam dan umat Islam. Kini di bagian penutup, Amos berharap agar tambahan informasi bermuatan pelecehan itu dapat diterima dengan baik oleh para pembaca.

Kami teringat akan kasus Arswendo Atmowiloto dengan tabloid Monitor yang dipimpinnya. Hanya mendudukkan Nabi Muhammad pada ranking ke-11 di bawah nama dia sendiri, kok dia bisa diseret ke meja hijau, bahkan divonis penjara beberapa tahun.

Dibandingkan kasus Drs. H. Amos ini, kasus Arswendo tersebut jauh tidak ada apa-apanya. Seharusnya, sanksi terhadap H. Amos ini juga jauh lebih berat daripada Arswendo.

Maka kami menghimbau, seyogianya Himar Amos, penulis kitab tersebut diadili untuk mempertanggungjawabkan isi bukunya. Jika dia tidak bisa mempertanggungjawabkan, tentu sangat pantas untuk menerima resiko sesuai dengan hukum negara yang berlaku. Semuanya kami serahkan sepenuhnya kepada yang berwajib.

Kami sekedar hanya bisa meluruskan semua kekeliruan yang dia tulis, agar umat Islam tidak terpancing dan tidak diperdayakan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab yang sengaja menulis buku-buku penghujatan untuk mendangkalkan aqidah umat Islam, agar mau menerima ajaran Kristen.

Menyikapi tantangan tersebut, maka sudah selayaknya apabila para tokoh Islam dari MUI, DDII, Muhammadiyah, NU, Al Irsyad Al Islamiyah, KISDI, Jam’iyatul Wasliyah dan para ulama lainnya merasa tertantang dan mengambil tindakan yang sesuai dengan jalur hukum yang berlaku.

Kalau tidak mengambil tindakan antisipasi secepatnya, kami khawatir kalau-kalau umat Islam tidak bisa menahan emosi lalu melakukan pengadilan ilegal.

Kepada pihak Kristen, kami ingatkan agar melaksanakan apa yang tertulis dalam kitab sucinya, termasuk dalam menghadapi Himar Amos, sesuai dengan ayat berikut:

“Siapa yang menghujat nama TUHAN, pastilah ia dihukum mati dan dilontari dengan batu oleh seluruh jemaah itu. Baik orang asing maupun orang Israel asli, bila ia menghujat nama TUHAN, haruslah dihukum mat!” (Imamat 24:16).

Himbauan

Kemudian, Himar Amos yang beragama Kristen menghimbau agar umat Islam mempelajari lagi Al Qur’an dan Hadits dengan sungguh-sungguh, serta minta petunjuk dengan berdoa, agar Allah memberi hikmat pengetahuan tentang penyembahan yang benar terhadap Allah.

Menurut kami, isi himbauan Drs. Himar Amos tersebut ibarat pepatah yang mengatakan “menggarami air laut” atau “mengajari ikan barenang”. Justru dialah yang harus belajar Islam lagi dari awal, supaya bisa membedakan zikir dengan azan, supaya tidak menyamakan kata mencium dengan menyembah, dan supaya tahu beda Tuhan Pencipta dengan benda dan makhluk yang diciptakan Tuhan.

Bapak Amos yang terkasih, sebaiknya Bapak pensiun saja secepatnya dari aktivitas menulis berbagai buku yang menghujat Islam, sebab sama halnya Bapak membuka aib diri sendiri. Kalau hanya Amos yang rugi, itu masih tidak seberapa. Tapi Bapak harus ingat bahwa semua orang Kristen akan turut malu atas ulah Bapak tersebut.

Oleh sebab itu, Bapak H. Amos yang terkasih, segeralah bertobat sebelum ajal tiba. Apabila ajal tiba sementara Bapak belum bertobat, Bapak akan menyesal.

Bapak H. Amos mengira bahwa Yesus akan menebus dosa Bapak. Padahal sebaliknya, Yesus akan mengusir Bapak di sorga, sesuai dengan Injil Matius 7:22-23 berikut:

“Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepadaku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi namamu, dan mengusir setan demi namamu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-mu juga? Pada waktu itulah aku (Yesus) akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah daripadaku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”

Oleh sebab itu kami menghimbau agar Bapak Amos segera sadar, bertobat dan kembali ke jalan yang lurus. Sebab Allah dalam Islam itu Maha Pengampun, Maha Penyayang dan Maha menerima tobat.

Asalkan Bapak Amos sungguh-sungguh bertobat, berjanji tidak akan mengulanginya dan mengerjakan amal sholeh untuk menutupi kesalahan-kesalahan masa lalu, Allah akan mengampuni segala dosa Bapak. Kecuali dosa syirik. Itulah ajaran Islam yang tidak bertentangan dengan fitrah manusia, termasuk Bapak sendiri. Saat ini Bapak telah syirik kepada Allah, karena telah mempertuhankan manusia Yesus.

Apabila Bapak sudah bertobat, maka titel ‘Himar’ untuk Bapak akan kami cabut. Kami tidak akan memanggil Bapak dengan sebutan ‘Himar Amos’ lagi.

Bapak Amos yang terkasih, walaupun Bapak telah menghina agama dan nabi kami, namun dengan segala kerendahan hati, kami tetap tekun berdoa selalu, mudah-mudahan Bapak diberi hidayah oleh Allah Swt, menyadari segala kesalahan masa lalu dan kembali kepada jalan yang benar.

Itulah ajaran ‘kasih’ yang hakiki dalam Islam. Karena ajaran ‘kasih’ itu sangat diutamakan dalam Islam, asal Bapak benar-benar mau mempelajari ajaran Islam yang sebenarnya.

Terakhir, kami berdoa agar Allah mengaruniakan hidayah dan hikmat yang benar kepada Bapak. Jangan sia-siakan doa dan nasehat kami ini.

Dengarkan dengan telinga, lihatlah dengan mata, bacalah dengan akal pikiran logis dan renungkan dengan kejujuran hati nurani, diiringi doa yang khusyu memohon agar Allah berkenan menurunkan hidayah-Nya.

Selamat berdoa, semoga Bapak H. Amos bisa menemukan kembali ‘mutiara yang hilang’.

PENDETA MENGHUJAT MUALLAF MERALAT
Menanggapi Buku Kristen

“UPACARA IBADAH HAJI”
Karya Drs. H. Amos

Penulis : H. Insan L.S. Mokoginta (Wenseslaus)

Editor: Abu Mumtaz
Setting: Fakta Comp.

Penerbit: Forum Antisipasi Kegiatan Pemurtadan
(FAKTA)

PO Box 1426 Jkt 13014
Cetakan 1, Juni 1999 @All Right Reserved
Kompilasi ke format chm: pakdenono
http://www.pakdenono.com

Siapa Sebenarnya Juru Selamat Dunia ?

Siapa Sebenarnya Juru Selamat Dunia ?

 

 

Bab 1.1 STRUKTUR ORGANISASI GEREJA KATOLIK

Bab 1.1 Sri Paus dan Negara Vatikan

Menurut kepercayaan dalam Agama Katolik, maka kepala Gereja adalah Sri Yesus yang dalam bentuk nampak sehari-hari di dunia diwakili oleh Sri Paus. Jadi Sri Paus adalah Wakil Yesus Kristus sebagai Kepala Gereja. Gereja Katolik mendasarkan Hal ini pada ayat dalam Injil Mateus 16:18: “Petrus, engkau adalah batu karang; di atas karang padas ini akan kudirikan Gerejaku. Kuasa mautpun tidak dapat mengalahkannya.” Jadi menurut tradisi Gereja Katolik Petrus diakui sebagai Paus yang Pertama.

Pelantikan Petrus sebagai Paus yang pertama, kemudian diikuti juga dengan penugasannya yang tertera dalam dialog Yesus dan Petrus seperti ditulis dalam Injil Yohanes 21:15-19, dimana Sri Yesus bertanya: “Petrus, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari yang lain?” Jawab Petrus: “Ya Tuhan, Tuhan mengetahui bahwa hamba mengasihi Tuhan.” Yesus berkata: “Gembalakanlah segala dombaku.” Dialog itu berlangsung sampai tiga kali dengan kata-kata yang sama.

Gereja Protestanpun mengakui bahwa Sri Yesus Kristus adalah Kepala Gerejanya, tetapi tidak mengakui kekuasaan Petrus sebagai Paus pertama dan dengan demikian juga tidak mengakui penggantinya sampai yang sekarang.

Semenjak Petrus sebagai Paus pertama sampai kepada Paus Paulus VI terdapat 263 orang Paus. Jadi Sri Paus Paulus VI adalah Paus yang ke 263. Bagaimana cara memilib nama seorang Paus? Seorang Kardinal yang terpilih menjadi Paus bebas memilih namanya. Jika dia memilih nama Yohanes, maka dilihat dalam daftar para Paus nama itu sudah dipakai oleh 23 orang Paus terdahulu, maka Paus yang sekarang bergelar Sri Paus Yohanes ke XXIV. Jika dia memilih nama Pius, sedang nama itu pernah dipakai oleh 12 pendahulunya, maka dia bergelar Paus Pius XIII; jika pengganti Paus Paulus VI memilih nama Paulus, maka dia bergelar Sri Paus Paulus VII, demikian seterusnya.

Gelar-gelar Sri Paus adalah: Kepala Gereja Katolik. pengganti Petrus, Primas (Pangeran) Gereja Katolik, Uskup kota Roma, Kepala Negara Vatikan.

Dalam urusan dunia Sri Paus adalah Kepala Negara Vatikan; Vatikan adalah negara kota seperti Singapura atau Monaco, yang luasnya 44 Ha. Didalamnya terdapat jalan raya, 2 buah Gereja besar diantaranya basilika St. Petrus, istana Sri Paus cita del Vatikano, gedung-gedung Kementerian (Konggregasi) yang berjumlah 10 dan sebuah Universitas Kepausan Gregorian. Vatikan sebagai negara terletak ditengah kota Roma (Itali) tetapi lepas dari pengaruh negara Italia.

Negara Vatikan mulai berdiri semenjak abad ke VIII, tetapi kemudian oleh gerakan Persatuan Itali Raya dibawah pimpinan Garibaldi dicaplok dan dijadikan bagian dari Negara Itali Raya semenjak tahun 1871. Jadi semenjak tahun itu Sri Paus hanya menjadi kepala Gereja saja, bukan seorang Kepala Negara yang berdaulat dan merdeka; bahkan dia lalu menjadi warga negara Italia. Usaha ke arah pemulihan kemerdekaan terus diusahakan dan baru tahun 1929 berhasil ditanda tangani Perjanjian Veteranen antara Sri Paus Pius XI dan Benedicto Musolini pemimpin Negara Itali waktu itu. Dalam Perjanjian itu ditegaskan bahwa kedaulatan Sri Paus dikembalikan dan diakui oleh Itali sebagai negara yang merdeka lepas dari Itali. Semua milik Gereja yang pernah disita dikembalikan.

Negara Vatikan juga disebut Negara Gereja. Dan sebagai negara, maka Vatikan juga mempanyai alat-alat perlengkapan sebagai negara. Terdapat 10 Kementerian yang disebut Konggregasi misalnya Konggregasi Suci Kepausan untuk urusan ibadat Suci, Konggregasi Kepausan untuk urusan orang-orang Kudus, dan lain-lain. Untuk urusan luar negeri diurus oleh Seketariat Negara. Sebagai suatu negara maka Vatikan juga mempunyai Duta Besar di negara lain, yang disebut Pro Nuncio atau Nunciatur; dan juga negara lain ada juga yang mempunyai Duta Besar Vatikan; Kedutaan Besar Vatikan di Indonesia di Jalan Medan Merdeka Timur, sedang pada waktu ini (1977) yang menjabat Nunciatur adalah Mgr. (di baca Monsinyur) Vincentio Varargo, sedang duta Besar kita di Vatikan adalah RM. Soebadio. Vatikan juga mempunyai gedung penjara yang praktis tidak pernah digunakan. Mata uang dan perangko juga diterbitkan. Dengan demikian maka Vatikan memang merupakan suatu negara dalam arti yang sesuugguhnya.

Pakaian kebesaran Sri Paus adalah; tiara yaitu mahkota berlapis tiga yang melambangkan bahwa Sri Paus di samping seorang Raja, juga dalam memerintah mewakili Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus. Lalu Cincin bergambar Petrus sedang menjala ikan yang melambangkan bahwa Sri Paus meneruskan pekerjaan Petrus. Tongkat melambangkan bahwa karya gembala seperti ditugaskan Sri Yesus kepada Petrus memang sungguh diteruskan. Kasula merah, lambang Sri Paus sebagai Guru yang rela mengorbankan hidupnya (merah warna darah). Sri Yesus menurut kepercayaan orang Kristen, baik Katolik maupun Protestan berfungsi sebagai: Raja, Guru dan Gembala. Fungsi ini tampak dalam pakaian kebesaran Sri Paus.

Bagaimana cara pemilihan Paus? Pada zaman dulu, pemilihan Paus selalu mengikut sertakan Kaisar, Kepala Negara yang beragama Katolik di samping para Kardinal sebagai pembantu-pembantu Paus. Namun kebiasaan itu hapus semenjak abad ke XVI. Dan mulai waktu itu maka pemilihan Sri Paus hanya diikuti oleh para Kardinal saja. Jika terdengar kabar bahwa Sri Paus meninggal dunia, maka semua Kardinal dari seluruh dunia menuju ke kota Roma (Vatikan) tanpa diundang. Disana mereka bersidang dalam ruang tertutup. Dan selama sidang para Kardinal dilarang berhubungan dengan dunia luar. Sidang dipimpin oleh Kardinal yang tertua dibantu oleh Kardinal termuda dalam usia. Selain para Kardinal hadir juga Sekretaris Negara Vatikan yang biasanya bukan seorang Kardinal.

Tempat duduk para Kardinal merupakan kursi gantung yang bisa dinaikkan dan diturunkan. Kursi gantung itu disebut baldakim. Kaki para Kardinal tidak menyentuh tanah, sebagai lambang bahwa masalah duniawi (ras, bangsa, pandangan politis) tidak akan dijadikan bahan pertimbangan dalam memilih Paus. Warna baldakim-pun bermacam-macam; ada yang berwarna merah, ada yang berwarna kuning dan ada yang berwarna hijau. Kardinal yang duduk di baldakim merah, artinya Kardinal yang diangkat oleh Paus yang baru saja meninggal dunia. Baldakim yang berwarna kuning disediakan untuk para Kardinal yang diangkat oleh Paus sebelumnya lagi, jadi dengan demikian berarti Kardinal yang duduk pada baldakim kuning pernah dua kali mengikuti pemilihan Paus dan baldakim yang berwarna hijau untuk para Kardinal yang pernah mengikuti pemilihan Sri Paus sampai tiga kali, jadi diangkat oleh Paus yang memerintah dua periode sebelum Paus yang meninggal ini. Lazimnya tidak ada Kardinal yang duduk di baldakim hijau. Pernah pemilihan Paus didalamnya tidak ada Kardinal yang duduk di baldakim merah, karena Paus yang meninggal baru 3 hari menduduki tahta, belum sempat mengangkat Kardinal, bahkan para Kardinal yang memilihnya belum semua pulang ke negerinya. Yang sudah pulang dan baru sampai dipertengahan jalan dan mendengar bahwa Paus yang baru dipilih 3 hari yang lalu meninggal, cepat-cepat kembali ke Vatikan lagi.

Sementara pemilihan Paus berlangsung, di luar gedung pemilihan telah berkumpul umat Katolik yang ingin mengetahui hasil pemilihan Paus Jika pemilihan tidak memenuhi syarat yang ditentukan misalnya Kardinal yang mendapat suara terbanyak belum mencapai prosentase yang ditentukan, maka pemilihan dianggap belum berhasil dan diulang kembali. Kertas pemungutan suara dikumpulkan dan dibakar dengan jerami basah. Dari cerobong yang dapat dilihat oleh rakyat yang menunggu di luar tampak asap hitam. Umat di luar gedung pemilihan tahu bahwa pemilihan belum berhasil. Jika sudah berhasil maka kertas pemilihan dibakar dengan jerami kering sehingga asap putihlah yang keluar dari dalam cerobong.

Begitu Paus baru terpilih, maka semua Kardinal menarik tali baldakimnya sehingga baldakim menyentuh tanah, sedang Kardinal yang terpilih sebagai Paus menarik tali baldakim bukan ke bawah tetapi keatas; ini sebagai lambang bahwa kedudukan mereka sekarang berlainan tidak lagi sejajar. Para Kardinal yang tak terpilih bersujud menyatakan kesetiaan mereka kepada hasil pilihan dan Paus terpilih. Kemudian Paus terpilih memberikan berkatnya yang pertama sebagai Paus. Paus terpilih dengan diantar oleh pimpinan sidang, yaitu dua Kardinal yang tertua dan yang termuda serta Sekretaris Negara membuka jendela di mana rakyat yang berkumpul di lapangan St. Petrus bersorak-sorak: “Viva il Santo Papa! Viva il Santo Papa! (Hidup Santo Bapa, Hidup Santo Bapa).
Kardinal yang tertua, yang memimpin sidang, kecuali jika dia sendiri yang terpilih menjadi Paus, maka pimpinan sidang yang lain yakni yang Kardinal termuda, mengenalkan kepada rakyat banyak yang kebanyakan umat Katolik itu:

“Saudara-saudara, Yang Mulia Kardinal … dari Negara …, telah terpilih menjadi Paus baru dan beliau memilih nama:
Sri Paus … Rakyat kemudian bersujud dan Paus terpilih memberikan berkat kepausannya yang kedua.
Menurut pengajaran Gereja Ratolik, maka Sri Paus tidak mungkin sesat dalam menetapkan hukum yang berhubungan dengan masalah Agama. Surat edaran Sri Paus yang menerangkan suatu masalah disebut Ensiklik. Biasanya memang setiap Ensiklik Sri Paus selalu diterima dengan penuh ketaatan oleh dunia Katolik. Namun berbeda dengan Ensiklik Humanea Vitae yang dikeluarkan oleh Sri Paus Paulus VI sempat menggegerkan dunia, bukan saja dunia Katolik tetapi dunia pada umumnya: sebab untuk pertama kalinya Ensiklik Paus mendapat tantangan yang begitu hebat dan berakibat kewibawaan Sri Paus merosot dimata dunia. Ensiklik Humanea Vitae itu menegaskan bahwa masalah pengaturan kelahiran hanya diperbolehkan dengan metode pantang-berkala, sedang metode yang lain ditolak karena tidak sesuai dengan martabat manusia. Para Uskup di Negeri Belanda minta agar Ensiklik itu dicabut. Para Uskup di Indonesia dalam sidangnya memberikan penjelasan Pastoral tentang Ensiklik Humanea Vitae menjelaskan; “Bahwa Ensiklik itu lahir setelah penyelidikan yang cukup lama dengan penelitian yang biayanya tidak sedikit, serta banyak doa yang diarahkan untuk maksud itu. Maka bagaimanapun Ensiklik itu wajib kita hormati. Kepada saudara yang dengan terpaksa menjalankan dengan metode yang menyimpang dari yang dianjurkan oleh seruan Sri Paus, maka masalahnya harus dibicarakan antara suami isteri dengan sikap yang dewasa.” Namun para Uskup tidak membenarkan usaha-usaha yang bersifat perkosaan terhadap martabat manusia, misalnya pengguguran dan pemandulan tetap.

 

Bab 1.2. Kardinal

Kardinal adalah pembantu Paus, sebagai Dewan Penasehat, Dewan Paus. Ada Kardinal yang bertempat tinggal di Negara Vatikan, yang biasanya memimpin suatu Konggregasi (Kementerian) dan ada pula yang bertempat tinggal di luar Vatikan, umpamanya Kardinal Darmoyuwono, Uskup Agung Semarang.

Pada jaman dulu jumlah Kardinal hanya 70, dan jumlah ini terus dipertahankan. Jika ada yang meninggal maka diangkat yang baru. Tetapi semenjak Paus Yohanes XXIII, maka tradisi yang menetapkan Kardinal hanya berjumlah 70 dihapuskan dan jumlahnya tidak dibatasi, sekarang jumlah para Kardinal lebih dari 120 orang dan jumlah itu bisa terus bertambah. Rupanya tradisi yang menetapkan jumlah Kardinal 70 diperoleh dari nas Injil Lukas 10:1 di mana diceritakan bahwa Yesus menyuruh 70 orang muridnya.

Menurut teori Kardinal itu bukan jabatan atau pangkat di atas Uskup, bahkan boleh seorang Pastor biasa diangkat Kardinal, bahkan seorang awam (dalam arti tidak ditahbiskan sebagai imam atau biarawan) dapat saja diangkat menjadi Kardinal, asal Katolik dan laki-laki. Tetapi dalam kenyataannya sekarang semua Kardinal yang diangkat itu umumnya Uskup atau Uskup Agung.

 

Bab 1.3. Uskup

Lain halnya dengan Kardinal, maka Uskup tidak boleh di sebut pembantu Paus; sebab pada hakekataya Paus juga Uskup kota Roma. Dalam tradisi Gereja Katolik, maka setiap Uskup harus sumpah setia dan tunduk dibawah pengganti Petrus yaitu Paus.

Kita mengenal istilah Uskup Agung dan Uskup, seolah-olah Uskup Agung membawahi Uskup. Setiap Uskup (Uskup Agung dan Uskup biasa) bertanggung jawab langsung kepada Sri Paus, namun mereka adalah Kepala Daerah otonom. Memang Uskup Agung merupakan koordisnator para Uskup di dalam wilayah Propinsi Gerejani

Jika suatu daerah dinilai belum dewasa sehingga belum diberi pemerintahan sendiri (hirarkie gereja), maka di daerah itu belum ada Keuskupan Agung atau Keuskupan. Untuk daerah itu, seperti Indonesia sebelum tahun 1961, dibentuk Vikariat atau Prefektur, yang dikepalai oleh seorang yang berpangkat Uskup. Bedanya Keuskupan (dan atau Keuskupan Agung) dengan Vikariat atau Apostolik ialah: bahwa Uskup yang memimpin sebuah Keuskupan bertindak atas nama dirinya sendiri, sedang Uskup yang memimpin Vikariat Apostolik bertindak atas nama Sri Paus.

Karena pangkat Uskup harus dikaitkan dengan nama daerah, maka Uskup yang tidak memimpin sebuah Keuskupan, yaitu jika dia memimpin sebuah Vikariat atau tugas lain misalnya sebagai Duta Besar, maka dia diberi sebutan tituler dan dikaitkan dengan nama daerah, yang biasanya daerah sebuah Keuskupan kuno yang sekarang telah musnah. Misalnya sebelum tahun 1961, belum ada Keuskupan Agung Jakarta yang ada Vikariat Apostolika de Jakartae; maka juga tidak ada Uskup Agung Jakarta; pimpinan Vikariat Jakarta diberi gelar: Uskup Agung tituler Trisaba mewakili Sri Paus memimpin Vikariat de Apostolika de Jakartae. Semarang: pada waktu Uskup Agung tituler Danaba. Purwokerto: Uskup tituler Balburu. demikianlah, keadaan sebelum tahun 1961. Setelah pemberian hirarkie Gereja di Indonesia sesuai dengan Dekrit Sri Paus Acta Apostolicae Sedis LIII hal. 244; tgl. 14 Januari 1961, maka lalu muncul Keuskupan Agung dan Keuskupan di Indonesia, maka dengan demikian dikenal jabatan Uskup Agung Jakarta, Uskup Agung Semarang dan lain-lain.

Uskup tituler juga diperuntukkan bagi Uskup yang tidak aktif lagi menjalankan fungsinya sebagai pemimpin Gereja (pensiun), misalnya Mgr. Adrianus Djajaseputro S.J. sewaktu memimpin Vikariat Jakartae bergelar Uskup Agung Tituler Trisaba; dan sekarang setelah tidak memimpin Keuskupan Agung Jakarta lagi, maka beliau bergelar Uskup Agung tituler Bolsena. Pada waktu Mgr. Pius Batubara menjabat sebagai Uskup Muda/Uskup Pembantu Keuskupan Agung Medan beliau bergelar: Uskup tituler Ubaba. Pada waktu dulu, jabatan Uskup selalu dipangku untuk masa seumur hidupnya, tetapi semenjak Paus Paulus VI menetapkan bahwa Uskup yang sudah berusia 75 tahun boleh mengajukan permohonan non aktif (pensiun). Jabatan Uskup bisa pensiun, tetapi pangkat yang melekat karena tahbisan (pelantikan) dibawa mati. Itu pula sebabnya pakaian kebesaran seorang Uskup yaitu tongkat, mahkota, Injil, kasula dibawakan sampai mati. Dan upacara penguburan seorang Uskup hanya boleh dilakukan oleh Uskup juga.

Uskup diangkat oleh Sri Paus dari 3 calon yang diusulkan oleh Dewan Keuskupan. Namun Sri Paus bebas juga mengangkat calon lain, namun hal yang demikian itu jarang sekali dilakukan. Dalam keputusan Sri Paus selalu disebutkan bahwa Pastor yang diangkat menjadi Uskup, pentahbisannya (upacara pelantikannya) boleh meminta kepada seorang Uskup yang lain. Pakaian kebesaran Uskup sama dengan pakaian kebesaran Sri Paus hanya berbeda dalam warna saja, dan tingkatan yang lebih rendah misalnya mahkotanya bukan tiara bertingkat tiga.

Dalam melaksanakan pekerjaan seorang Uskup dibantu oleh sebuah Staf yang biasanya terdiri dari Vikaris Jenderal (Wakil) bisa disebut juga Vikaris Epikopus (Wakil Uskup) dan biasanya hanya seorang, tetapi Keuskupan Agung Semarang mempunyai 4 orang Wakil Uskup; yang setiap Wakil Uskup membawahi bagian dari daerah Keuskupan itu, yakni: Semarang, Magelang, Yogyakarta dan Surakarta. Selain Vik.Jen. atau Vik. Ep. Uskup juga dibantu oleh seorang Sekretaris yang biasanya dijabat oleh seorang Pastor. Beberapa Delegatus, yang mengurus suatu bidang, misalnya Delegatus Sosial (Del.Sos.), Delegatus Pendidikan (Del.Pen.) dll, merupakan suatu Staf yang membantu Uskup.

Daerah Keuskupan terbagi atas beberapa Paroki yang dikepalai oleh seorang Pastor Paroki; mungkin dibantu oleh Pastor lain mungkin juga tidak.

 

 

Bab 1.4. Konferensi Uskup Nasional

Walaupun setiap Uskup langsung bertanggung jawab kepada Sri Paus dan daerahnya adalah otonom dan berdaulat penuh, namun Uskup yang bertempat tinggal di satu negara mempunyai persoalan yang sama dalam hal hidup di negara yang sama. Maka Uskup-Uskup tersebut membentuk suatu Sekretariat Bersama yang untuk Indonesia disebut MAWI, singkatan dari Majelis Agung Wali Gereja Indonesia berkantor di Jalan Taman Cut Mutiah No. 6 Jakarta.

Ini bukan berarti bahwa MAWI merupakan lembaga di antara Paus dan Uskup. Uskup berdaulat penuh atas daerahnya dan setiap 5 tahun sekali masing-masing Uskup mempunyai kewajiban menghadap Sri Paus. Kunjungan wajib ini disebut “ad limina.” Di Indonesia terdapat 33 orang Uskup sehingga dengan demikian dapat dipastikan bahwa setiap tahun pasti ada Uskup dari Indonesia yang menghadap Paus.

MAWI setiap takun mengadakan Konferensi Para Uskup, biasanya menjelang akhir tahun. Selain membicarakan beberapa masalah juga dipilih Presidium MAWI yang baru. Presidium MAWI yang sekarang, diketuai oleh Yustinus Kardinal Darmoyuwono, Uskup Agung Semarang, dan 2 orang Wakil, yakni Mgr. Dr. Th. Lumanauw Pr. Uskup Agung Ujung Pandang dan Mgr. Donatos Djagom SVD, Uskup Agung Ende; Sekretaris Jenderal dijabat oleh Mgr. Dr. Leo Sukoto SJ, Uskup Agung Jakarta; Bendahara oleh Mgr. P.S. Hardjosoemarto, MSc. Uskup Purwokerto.

Pekerjaan Sekretariat MAWI dipimpin oleh seorang Pro Sekretaris. Pada MAWI ada bagian-bagian yang mengurusi suatu masalah, yang disebut PWI (Panitya Wali Gereja Indonesia), misalnya PWI Sosial, PWI Liturgi, PWI Seminari, dan lain-lain yang jumlahnya disesuaikan menurut kebutuhan. Selain itu juga ada bagian-bagian seperti Bagian Keuangan, Bagian Pendidikan, dll.

 

 

Bab 1.5. Hirarkie Gereja Katolik Di Indonesia

Seperti diuraikan di atas bahwa sebelum th. 1961 di Indonesia belum ada Keuskupan Agung dan ke uskupan yang ada ialah Vikariat Apastolik (Perwakilan Takhta Suci) atau Prefektur Apostolik. Dengan Dekritnya tgl. 3 Januari 1961, Acta Apostolicae Sedis LIII (l961) hal: 244 Sri Paus Yohanes XXIII memberikan hirarkie Gereja kepada Gereja Katolik di Indonesia.

Menteri Agama RI dengan surat keputusan No. 89 tanggal: 13 Desember 1965; atas usul Kepala Biro Urusan Katolik Departemen Agama (sekarang Direktorat Jenderal) No. B. IX/I/7/616 tgl 10 Februari 1965 dan usul MAWI No. A/12174/211/00, tanggal 2 Oktober 1964 telah menetapkan:
1. Merobah nama Vikariat dan Prefektur Apostolik menjadi Keuskupan Agung dan Keuskupan, kecuali Prefektur Apostolik Sibolga, dan juga Prefektur Weetebula.
2. Menetapkan pembentukan hirarkie baru bagi Gereja Katolik di Indonesia sebagai berikut:

a. Keuskupan Agung Semarang: meliputi wilayah-wilayah bekas Vikariat Apostolik Semarang, Keuskupan Purwokerto (bekas V.A. = Vikariat Apostolik Purwokerto), Keuskupan Surabaya (bekas V.A, Surabaya), Keuskupan Malang (bekas V.A. Malang).

b. Keuskupan Agung Jakarta: meliputi wilayah bekas V.A. Jakarta, Keuskupan Bandung (bekas V A. Bandung), Keuskupan Bogor (bekas V.A Bogor).

c. Keuskupan Agung Pontianak: meliputi wilayah bekas V.A. Pontianak, Keuskupan Banjarmasin (bekas V. A. Banjarmasin), Keuskupan Samarinda (bekas V.A. Samarinda), Keuskupan Sintang (bekas V. A. Sintang), Keuskupan Ketapang (bekas V.A. Ketapang).

d. Keuskupan Agung Medan: meliputi bekas V.A. Medan, Keuskupan Palembang (bekas V.A. Palembang), Keuskupan Pangkalpinang (bekas V.A. Pangkalpinang), Keuskupan Tanjungkarang (bekas V.A. Tanjungkarang), Keuskupan Padang (bekas V.A. Padang) dan Prefektur Apostolik Sibolga.

e. Keuskupan Agung Ende: meliputi bekas Vikariat Apostolik Ende, Keuskupan Larantuka (bekas V.A. Larantuka), Keuskupan Ruteng (bekas V.A. Ruteng), Keuskupan Atambua (bekas V.A. Atambua), Keuskupan Denpasar (bekas Prefekur Apostolik Denpasar) dan Prefekur ApostolikWeetebula.

f. Keuskupan Agung Makasar: meliputi bekas VA. Makasar, Keuskupan Manado (bekas V.A. Manado) dan Keuskupan Amboina (bekas V.A. Amboina) dalam bagian lain dalam S.K. Menteri Agama itu disebut bahwa mempunyai daya surut 3 Januari 1961 sesuai Keputusan Sri Paus.

Dalam perkembangan selanjutnya, Sri Paus membentuk propinsi Gerejani di Irian Jaya, yakni: Keuskupan Agung Merauke, Keuskupan Agats-Asmat, Keuskupan Manokwari dan Keuskupan Jayapura.

 

Bab 1.6. Keuskupan di Indonesia

Di Indonesia terdapat 7 Keuskupan Agung dan 26 Keuskupan, yakni:

 

  1. Keuskupan Agung Jakarta: di bawah pimpinan Uskup Agung Mgr. Leo Sukoto S.J. meliputi daerah DKI Jaya, Kabupaten Tangerang dan Kabupaten Bekasi.
  2. Keuskupan Bogor: Uskup Mgr. Drs. Ignatius Harsono Pr., meliputi wilayah Kabupaten: Bogor, Sukabumi, Cianjur, Serang, Pandeglang dan Lebak.
  3. Keuskupan Bandung: Uskup Petrus Arntz OSC. meliputi Karesidenan Priangan dan Cirebon, Kabupaten Krawang dan Purwakarta.
  4. Keuskupan Agung Semarang: di bawah pimpinan Uskup Agung Yustinus Kardinal Darmoyuwono Pr., meliputi Ex. Karesidenan Semarang, Surakarta, Pati (kecuali Rembang dan Blora), Kabupaten Magelang dan Temanggung, DIY.
  5. Keuskupan Purwokerto: Uskup Mgr. PS. Hardjosoemarto MSC meliputi Ex. Karesidenan Pekalongan, Banyumas dan Kedu (kecuali Magelang dan Temanggung).
  6. Keuskupan Surabaya: Uskup Drs. Yohanes Kloster CM, meliputi Ex. Karesidenan Surabaya, Kediri, Madiun, Bojonegoro dan Kabupaten Rembang dan Blora.
  7. Keuskupan Malang: Uskup Mgr. Drs. FX. Sudartanto Hadisumarto O. Carm. meliputi: ex. Karesidenan Malang, Besuki dan pulau Madura.
  8. Keuskupan Agung Medan: di bawah pimpinan Uskup Agung Pius AG. Datubara OFM. Cap meliputi Propinsi Aceh dan propinsi Sumatra Utara, kecuali Kabupaten Nias, Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan.
  9. Keuskupan Sibolga: (telah ditingkatkan dari Prefektur) Uskup Mgr. Bernhard Erich Willing OFM. Cap. meliputi Kabupaten Nias, Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan.
  10. Keuskupan Padang: Uskup Mgr. Reimondo C. Bergamin S.G. meliputi Sumaters Barat, Riau Daratan dan Kabupaten Kerinci.
  11. Keuskupan Palembang: Uskup J. Hubertus Soudant SCJ. meliputi Propinsi Sumatera Selatan, Bangkahulu dan Jambi kecuali Kabupaten Kerinci.
  12. Keuskupan Tanjungkarang: Uskup Mgr, Dr. Andreas Henri Soesanto SCJ. meliputi propinsi Lampung.
  13. Keuskupan Pangkalpinang: Uskup Nicolaas P. van der Wessten SS.CC. meliputi Bangka, Belitung dan Kepulauan Riau.
  14. Keuskupan Agung Pontianak: di bawah pimpinan Uskup Agung Mgr. Drs. Hieronimus Bumbun SFM. Cap. meliputi Kabupaten: Pontianak, Sambas dan Sanggau, (bag. Utara) semua terletak di Kalimantan Barat.
  15. Keuskupan Sintang: Uskup Mgr. L. van de Boorn S.M.M. meliputi Kabupaten Sintang dan Kapuas Hulu (di Kalimantan Barat).
  16. Keuskupan Ketapang: Uskup Mgr. Drs. Gabriel W. Silekens C.P. meliputi Kabupaten Ketapang
  17. Prefektur Apostolik Sekadau, Prefek Mgr, Lukas Spinoso C.P. meliputi Kabupaten Sanggau sebelah selatan Sungai Kapuas dan daerah sebelah utara sungai Kapuas yang termasuk daerah ex. Karesidenan Sekadau.
  18. Keuskupan Banjarmasin: Uskup Mgr Gielmus Demarteau MSF. meliputi Propinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.
  19. Keuskupan Samarinda: Uskup Mgr. Chr. V. Weegberg meliputi Propinsi Kalimantan Timur.
  20. Keuskupan Agung Ujung Pandang: di bawah pimpinan Uskup Agung Mgr Dr. Th. Lumanauw Pr, meliputi Propinsi Sulawesi Tenggara.
  21. Keuskupan Manado: Dr. Th. Hubertus Antonius JAC Moors MSC, meliputi Propinsi Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah.
  22. Keuskupan Amboina: Uskup And PC. Sol MSC. meliputi Propinsi Maluku.
  23. Keuskupan Agung Merauke: di bawah pimpinan Uskup Agung Mgr. Yohanes Divenvoorde MSC, meliputi sebagian Kabupaten Merauke.
  24. Keuskupan Agats-Asmat: Uskup Mgr. Alphonse Sowada OSC, sebagian Kab. Merauke dan Daerah Cicak.
  25. Keuskupan Jayapura: Uskup Mgr. Herman FM Munninghoff OFM. meliputi Kabupaten Jayapura, Teluk Cenderawasih, Jayawijaya, Saniai, Fak-Fak sebelah Timur mulai kota Kaimana.
  26. Keuskupan Manokwari: Uskup Mgr. Petrus van Diepen CSA. meliputi Manokwari, Sorong dan Fak-Fak sebelah barat
  27. Keuskupan Agung Ende: dibawah pimpinan Uskup Agung Mgr. Donatus Dagom SVD, meliputi Kabapaten Sikka, Ende dan Ngada.
  28. Keuskupan Larantuka: Uskup Mgr. Daritus Nggawa SVD, meliputi Flores Timur, Pulau-pulau Adonara, Solor, Lembata, Alor dan Pantar.
  29. Keuskupan Ruteng: Uskup Mgr Vitalis Djebarus SVD. meliputi Flores Barat.
  30. Keuskupan Atambua: Uskup Mgr. Th. van den Tillaart SVD, meliputi Kabupaten: Belu dan Timor Tengah Utara.
  31. Keuskupan Kupang: Uskup Grehorius Manteiro SVD, meliputi Kabupaten Kupang dan Timor Tengah Selatan.
  32. Keuskupan Weetebula: (peningkatan dari Prefektur Apostolik) meliputi pulau Sumba dan Sumbawa. Uskup: Mgr. Haripranoto SJ.
  33. Keuskupan Denpasar: Uskup Mgr. A. Hubertus Thijssen SVD, meliputi pulau pulau Bali dan Lombok.

Selain itu kita mengenal istilah Uskup ABRI yang dijabat oleh Yustinus Kardinal Darmoyuwono Pr. Uskup ABRI bukan merupakan suatu lembaga di bawah pimpinan ABRI, melainkan Uskup yang bertanggung jawab akan rawatan rokhani terhadap anggota ABRI yang beragama Katolik.

 

 

Bab 1.7. Tarekat Religius

Kalau kita perhatikan daftar nama Uskup di atas maka di belakang nama-nama itu kita jumpai singkatan: SJ, SVD, SCJ, OFM, dll.

Singkatan-singkatan itu adalah menunjukkan nama Organisasi Tarekat Relegius, Pimpinan Tarekat itu biasanya bermarkas besar di Roma dan disebut Jenderal, sedang wakilnya di tiap negara disebut Propincial.

Tarekat itu misalnya: SJ, (Tarekat Jesuit), SVD (Kalam Allah) MSC (Hati-Kudus), OFM (Fransiskan), OFM Cap (Fransiskan Capusin), O. Carm (Ordo Karmelit), CM Conggregasi Maria) dll.

Seorang Pastor ketika akan ditahbiskan mengucapkan kaul (ikrar: kemiskinan tidak menguasai harta pribadi), ketaatan kepada Pimpinan Tarekat dan hidup selibat (tidak menikah). Untuk Pastor dari tarekat masih ditambah satu kaul lagi ialah: taat secara mutlak kepada Santo Bapa (Sri Paus). Untuk Pastor Praja (Pr) tidak harus berkaul kemiskinan, dan ketaatannya bukan kepada Pimpinan Tarekat melainkan kepada Uskup setempat.

Perbedaan Pastor anggota Tarekat Religius dg Pastor Praja ialah:

  1. Anggota Tarekat tidak mengikatkan kepada Keuskupan tertentu, sedang Pastor Praja mengikatkan diri sepenuhnya kepada Keuskupan tertentu.
  2. Praja, adalah bukan nama suatu tarekat melainkan bahwa
    Pastor tersebut Pastor yang tidak mempunyai tarekat (organisasi). Mereka juga mempunyai organisasi UNIO, tetapi hakekatnya lain sekali dengan Organisasi Tarekat. UNIO tidak mempunyai kekuasaan mutlak kepada anggotanya.
  3. Keperluan hidup anggota tarekat (makan, pakaian) menjadi tanggung jawab tarekat, sedang kebutuhan untuk melaksanakan tugas (kendaraan) menjadi tanggung jawab Uskup di mana dia berkarya, sedang untuk Pastor Praja baik keperluan hidupnya maupun kebutuhan untuk melaksanakan tugas menjadi tanggung jawab sepenuhnya dari Uskup.

 

 

Bab 1.8. Direktorat Jenderal Bimasa Katolik

Departemen Agama Rl mempunyai 5 Direktorat Jenderal:
Dir.Jen. Bimasa Islam, Dir.Jen. Bimasa Kristen, Dir.Jen. Bimasa Katolik, Dir.Jen Bimasa Hindu dan Budha, Dir.Jen. Urusan Haji, Dir.Jen. Bimasa Katolik adalah instansi pemerintah yang tidak ada hubungan hirarkie dengan Gereja Katolik.

Sebelum th 1967, kedudukan Dir.Jen. Bimasa Katolik belum ada, Urusan Katolik diurus oleh Biro Urusan Katolik yang dipimpin pada waktu itu oleh Sp. M J. Oentoe yang kemudian diangkat menjadi Sekretaris Direktorat Jenderal Bimasa Katolik pada waktu Biro Urusan Katolik ditingkatkan menjadi Direktorat Jenderal Bimasa Katolik.

Direktur Jenderal Bimasa Katolik yang pertama ialah Ibu B. Kwari Sosrosoemarto sampai akhir tahun 1974 yang kemudian diganti oleh Bapak Mayor Jenderal Ignatius Joko Mulyono.

Literatur
1. Ensiklopedi Indonesia.
2. Sejarah Gereja Katolik lndonesia, jilid 4 tentang: Pengintegrasian di Alam Indonesia, Dr. M.P.M. Muskens Pr.
3. Riwayat hidup Paus Pius X, khususnya tentang tata cara pemilihan Paus.
4. Kitab Suci Perjanjian Baru, terbitan Departemen Agama,
5. Majalah Bimas Katolik No. 2 Tri Wulan I tahun VIII-1976.
6. Buku Petunjuk Gereja Katolik tahun 1976.

 

 

Oleh
Yohannes Baptista Sariyanto Siswosoebroto

Penerbit
PERSATUAN
Jln. KHA Dahlan 103, Yogyakarta, 1977

Kompilasi ke format chm: pakdenono
download dalam bentuk seperti di:
www.pakdenono.com
atau
http://www.geocities.com/pakdenono

 

www.swaramuslim.net

 

KISAH SEORANG MUALAF

Bab 2. PENGALAMAN PRIBADI

 

Bab 2.1. Menjadi Guru Agama Katolik

Selama aku di SMP dan SMA kakekku selalu menganjurkan agar aku mengikuti kursus, entah itu kursus tertulis entah itu kursus lesan. Demikian maka aku mengikuti Kursus Tata Buku, mengetik, Bahasa Inggris, dan banyak lagi Tetapi tidak semua berakhir dengan mendapat Ijazah.

Selain itu tidak kulupakan pelajaran Agama selalu kuikuti di luar sekolah, melalui seorang Pastor. Itu kuikuti walaupun aku sendiri sudah dibaptis. Pada waktu itu yang menjadi Pastor Kepala di Magelang (Pastor Paroki) adalah: Rama H. van Heusden S.J. seorang Belanda yang lebih senang menggunakan bahasa Jawa dari pada Bahasa Indonesia. Pernah ada seorang Jawa bercakap-cakap dengan beliau mulai menggunakan bahasa Belanda, beliaupun melayaninya. Ketika pembicaraannya sudah selesai, Rama van Heusden bertanya:
“Menapa panjenengan boten saget boso Jawi?” (Apakah anda tidak bisa bahasa Jawa?).

Pastor pembantunya ada dua: Rama Knooren S.J. yang lebih banyak berkarya dan bergaul di lingkungan keluarga Tionghoa, sehingga beliau mendapat predikat Pastor Cina. Kemudian beliau pindah ke Jakarta memimpin Mingguan Hidup Katolik yang kemudian berubah HIDUP. Sekarang di Nederland lkabarnya sudah meninggal.

Pastor pembantu yang lain-lain ialah Pastor de Keyper S.J. umurya paling tua di antara 3 Pastor yang lain, bahkan katanya beliau Guru dari pada Pastor Knooren dan van Heusden. Dari dia aku belajar banyak akan menularkan agama kepada orang lain, atau dengan istilah Katolik, karya kerasulan. Mulai itu aku menemukan diriku keinginan untuk menjadi Guru Agama, orang yang tugasaya merasul (mengajar).

Saya sendiri sebetulnya kurang tertarik pada jabatan Pastor.

Yang ketika itu mengherankan aku ialah, mengapa saya sebagai orang Katolik tidak boleh membaca buku SUCI (Kitab SUCI kami) yaitu Injil. Padahal tidak demikian orang Protestan dan orang Islam. Mereka bebas untuk membaca Kitab Sucinya. Ketika hal itu aku tanyakan kepada Pastor de Keyper S.J, beliau berkata bahwa hal itu supaya orang tidak menafsirkan salah tentang Ritab Sucinya. Kuasa menafsirkan Kitab Suci hanyalah wewenang Gereja saja. Ketika aku bertanya mengapa hanya Gereja saja yang boleh menafsirkan kitab Suci beliau tidak menjawab hanya berceritera atau boleh juga dikatakan bahwa jawabannya diberikan dalam bentuk suatu ceritera:

“Dahulu kala ada 2 orang katak beradik. Ketika ayahnya meninggal sebelumnya berpesan dua hal: pertama jangan menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadanya, dan kedua jika mereka pergi dari rumah ke toko jangan sampai mukanya terkena sinar matahari. Waktu berjalan terus. Dan kenyataan terjadi, bahwa beberapa tahun setelah ayahnya meninggal anak yang sulung bertambah kaya sedang yang bungsu menjadi semakin miskin. Ibunya yang masih hidup menanyakan hal itu kepada mereka. Jawab anak yang bungsu: Inilah karena saya mengikuti pesan ayah. Ayah berpesan bahwa saya tidak boleh menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadaku, dan sebagai akibatnya modalku susut karena orang yang berhutang kepadaku tidak membayar sementara aku tidak boleh menagih. Juga ayah berpesan supaya kalau saya pergi atau pulang dari rumah ke toko dan sebaliknya tidak boleh terkena sinar matahari. Akibatnya saya harus naik becak atau andong. Sebetulnya dengan jalan kaki saja cukup, tetapi karena pesan ayah demikian maka akibatnya pengeluaranku bertambah banyak.”

“Kepada anak yang sulung yang bertambah kaya, ibupun bertanya hal yang sama. Jawab anak sulung: Ini semua adalah karena saya mentaati pesan ayah. Karena ayah berpesan supaya saya tidak menagih kepada orang yang berhutang kepada saya, maka saya tidak menghutangkan sehingga dengan demikian modal tidak susut. Juga ayah berpesan agar supaya jika saya berangkat ke toko atau pulang dari toko tidak boleh terkena sinar matahari, maka saya berangkat ke toko sebelum matahari terbit dan pulang sesudah matahari terbenam. Akibatnya toko saya buka sebelum toko lain buka, dan tutup jauh sesudah toko yang lain tutup. Sehingga karena kebiasaan itu, orang menjadi tahu dan tokoku menjadi laris karena mempunyai jam kerja lebih lama.”

“Demikianlah, Sariyanto,” kata Rama de Keyper S.J. menutup keterangannya, “jadi walaupun Injil orang Katolik dan Protestan sama tetapi harus ada penafsiran yang satu yang hanya boleh di buat secara resmi oleh Gereja supaya tidak keliru. Puas dengan keterangan saya?”

“Ya, Pastor,” jawabku dan memang ketika itu saya juga merasa puas dengan keterangannya.

Aku mengakhiri masa sekolahku di SMA dengan lancar. Setelah selesai belajar saya bekerja pada Lembaga Pembinaan Kesatuan Bangsa. Tokoh LPKB ini kebanyakan adalah orang Katolik: K. Sindhunata S,H. dulu Mayor ALRI, sekarang Pimpinan I.L.C. (lnternational Legal Consultant) di Jakarta; Bapak Wignyosumarsono, bekas Kep. Bag. Urusan Katolik di Perwakilan Departemen Agama Jawa Tengah, sekarang Pegawai Tinggi di BPK dan salah seorang pimpinan DPP PDI, Hary Tjan Silalahi S.H. bekas anggota DPR, Cosmas Batubara dan masih banyak orang-orang Katolik di LPKB itu. Karena dalam tubuh LPKB itu yang dominan orang Katolik Di sinilah maka jiwa kerasulan saya mendapat siraman yang baik. Saya membina hubungan baik dengan pejabat Gereja, saya menentang rapat-rapat Organisasi Massa yang diadakan pada hari Minggu karena mengganggu orang bisa mengikuti Misa dengan baik.

Dalam pekerjaanku sebagai pegawai LPKB saya sudah mulai turut serta dan dipercaya oleh Pastor untuk membantu mengajar Agama. Pada waktu itu pelajaran Agama yang diberikan oleh orang awam, bukan Pastor masih jarang sekali, lebih-lebih oleh orang muda seusia saya dan belum pernah mendapat pendidikan khusus, Tahun 1966 saya dipindahkan dari LPKB Pusat ke LPKB Daerah Propinsi Lampung, yang kemudian akan membawa riwaayat hidup lain.

 

 

Bab 2.2. Mahasiswa Kateketik

Agama yang benar untuk umat manusia ialah Agama Katolik, demikianlah pendapatku. Agama yang mengajarkan cinta kasih secara murni dan konsekwens. Dengan bekal keyakinan yang semacam ini aku pindah dari Jakarta ke Lampung Ada dua hal yang menyenangkan aku pindah ke Lampung. Pertama ialah dekat dengan tempat orang tua dan kedua Staf LPKB Lampung semuanya part-timer, jadi dengan kedatanganku menjadi satu-satunya orang yang full-timer. Sehingga memang dengan demikian saya menjadi orang yang menentukan policy LPKB.

Karena sering tugas luar, saya banyak bergaul dengan masyarakat luas. Keinginan untuk melaksanakan ajaran Yesus: “Pergilah dan ajarlah semua bangsa menjadi muridKu dan permandikanlah mereka atas nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus” menjadi demikian bernyala-nyala. Keinginan itu kulaksanakan juga dengan menyerahkan waktuku untuk maksud itu.

Rupanya hal itu menarik perhatian Bapak Uskup Lampung Mgr. Albertus Hermelink Gentiaras SCY. Seorang Uskup yang begitu rendah hati, bisa dijumpai oleh siapa saja kapan saja. Jika seorang ingin menghadap beliau tidak perlu mendaftar terlebih dahulu kepada Sekretaris Keuskupan seperti lajimnya dibuat oleh kebanyakan Uskup. Oleh beliau aku kemudian dikirim ke Fakultas Pendidikan Kateketik di Madiun di bawah pimpinan Pastor Dr. Paulus Janssen C.M seorang yang suka sekali bekerja keras seorang theolog dan social worker.

Pada waktu aku belum masuk ke Fakultas Pendidikan Kateketik saya telah meragukan 2 hal. Yang pertama ialah: Dosa asal dan tentang Santo dan &Santa (orang Suci). Bagaimana mungkin seorang yang baru lahir dari rahim ibunya sudah berdosa karena mewarisi dosa asal? Dan bagaimana mungkin Bapa Paus di Vatikan bisa menetapkan bahwa seorang yang meninggal dunia bisa ditetapkan sudah masuk surga. Ada juga hal lain, yaitu tentang api pensucian. Sementara semua agama mengajar bahwa hanya ada dua tempat ialah neraka dan surga di alam sana, Gereja Katolik mengajarkan ada tempat lain ialah api pencuci.

Tetapi semua kebimbangan itu kubiarkan saja, karena saya berpendapat bahwa dengan menjadi Mahasiswa pada Fakutas Pendidikan Kateketik keraguan dan kebimbangan itu akan menjadi hilang atau sekurang-kurangnya bahkan menjadi jelas.

Tentang dosa asal, ada dosen yang menjelaskan bahwa semua perbuatan orang tua bagaimanapun pasti berakibat pada anak.

Misalnya jika orang tuanya suka pergi ke wanita pelacur, maka penyakit yang di derita bukan saja oleh dia tetapi
anak-cucunya ikut menanggung akibatnya. Hal itu untuk sementara cukup memuaskan hatiku; walaupun dalam perkembangan selanjutnya kebimbangan tentang hal ini muncul lagi dan tetap tidak terjawab.

Tentang Santo dan Santa tidak ada jawaban yang memuaskan. Yah, terima begitu saja. Bukankah ada suatu dogma bahwa Sri Paus tidak bisa keliru dalam menentukan kaidah agama. Jawaban itu bukan saja tidak memuaskan, bahkan keraguan bertambah satu, yaitu apakah betul Sri Paus tidak bisa salah dalam memutuskan kaidah agama? Hilang satu keraguan yakni tentang dosa asal, muncul satu keraguan lain, yaitu tentang ketidak-mungkinan salah dari Sri Paus di Vatikan.

Aku mulai banyak mengenal pendeta Protestan. Pada saat itu Gereja Katolik, sudah maju dalam hal keinginan untuk ekomune (hidup bersama dalam persatuan). Tetapi rupanya Gereja Protestan masih memandang dengan mata curiga akan keinginan-baik Gereja Katolik. Ada memang Gereja Protestan yang sudah maju, misalnya Kristen Jawa, tetapi aliran Pantekosta sukar sekali untuk bisa mengerti hal ini. Sehingga dari aliran Pantekosta selalu ada usaha supaya mendapat pemeluk yang sebanyak-banyaknya. Sedangkan, pandangan Gereja Katolik dan Kristen Indonesia atau yang sejenis, orang yang sudah mempercayai Kristus- sebagai juru Selamat tidak usah ditarik lagi, barlah mereka tetap tenang pada agamanya entah itu Katolik entah itu Protestan.

Perkenalan dangan para Pendeta menyebabkan saya bisa menerima pandangan agama Protestan yang wajar tentang tidak adanya pentahbisan (pelantikan) Santo-Santa, tentang tidak ditekankannya masalah dosa asal. Dari mereka saya mendapatkan buku Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Saya simpan Kitab Suci itu dengan nada agak takut sebab bagaimanapun Gereja Katolik belum mengijinkan secara luas orang Katolik menyimpan buku-buku Kitab Suci terbitan Protestan, bahkan pendeknya pada teorinya orang Katolik dilarang membaca buku-buku tanpa Imprimatur (persetujuan Uskup setempat) dan atau Nihil Obstat (tidak ada keberatan).

Suatu ketika Rama Janssen yang memberikan kuliah Kitab Suci (sebelum itu Bruder Honorius) memulai kuliahnya dengan berkata: “Seperti kalian tahu, bahwa tidak boleh seorang Katolik memakai kitab Injil terbitan Protestan.” Hatiku berdebar-debar juga, jangan jangan kena sanksi administrasi saya. Tetapi beliau melanjutkan: “Tetapi berhubung dari Katolik sendiri belum banyak usaha penerbitan Kitab Suci, dan karena Saudara calon Guru Agama yang harus lebih tahu dari pada umat biasa tentang Kitab Suci, maka Saudara perlu mempunyai. Untuk memakai buku Injil terbitan Protestan harus ada ijin dari Bapak Uskup setempat dalam hal ini Uskup Surabaya, Mgr. Drs. J. Kloster CM. Saya, selaku pimpinan Fakultas atas nama Bapa Uskup memberikan ijin secara umum, khusus kepada para Mahasiswa saya untuk mempergunakan Bijbel Protestan.” Saya lega sekali. Keesokan harinya teman-temanku mencari Injil itu sedang saya sendiri menjadi bebas mengeluarkan Kitab Suci itu.

Yang saya kagumi dari golongan Protestan ialah mereka dapat hafal ayat-ayat Injil itu. Sedang saya, calon Guru Agama Katolik untuk mencari tempat-tempatnya dalam Injil masih merasa sulit. Hal ini juga berlaku untuk semua orang Katolik bahkan guru Agamanya juga.

Aku berpendapat, bahwa dengan mempunyai Injil imanku akan bertambah kuat, tetapi tidak demikian halnya. Dalam suatu tempat di dalam Pe:rjanjian Lama, sayang saya tidak bisa mengingat lagi di mana letaknya dan untuk mencarinya kembali ternyata sulit sekali, saya menemukan: “Bahwa dosa orang lain tidak bisa dipertanggung jawabkan kepada orang lain walaupun itu anaknya sendiri.” Yah, dengan demikian jelas bahwa dosa dan akibat dosa itu berlainan. Akibat dosa bisa diwariskan tetapi dosa itu sendiri tidak bisa. Umpamanya, anak seorang pembunuh dijauhkan dari pergaulan oleh kawan-kawannya, tetapi dia sendiri tidak bisa dianggap salah karena menjadi anak seorang pembunuh.”

Kemudian hal ini di luar waktu kuliah saya tanyakan kepada Pastor Bartels C.M., beliau hanya menjawalb: “ Itu bukan hal yang penting. Jika kau tidak percaya kepada dosa asal, engkau engkau tidak dosa dan tetap bisa menjadi orang Katolik yang baik.” Saya berkata lagi: “Kalau demikian apa bukan lebih baik saya menjadi Protestan saja, Rama?”

Rama menjawab: “Pikiranmu yang kacau anggap saja sebagai godaan setan, dan sekarang banyaklah berdoa dengan tekun lewat perantaraan bunda Maria.”

Dari akibat membaca Bijbel saya mendapatkan hal lain yang terasa ganjil. Hal itu ialah silsilah Yesus. Sebaiknya tidak usah saya kutipkan Silsilah itu, tetapi saudara buka saja Kitab Perjanjian Baru pada halaman pertama Injil Mateus. Setelah Mateus memproklamirkan bahwa Yesus adalah Anak Ibrahim, Anak Daud, dan menyuguhkan deretan nama-nama, maka pada akhir silsilah itu Mateus berkata: “Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yarng melahirkan Yesus yang disebut Kristus.” Hal ini saya fikir aneh. Jika Yesus adalah putera (keturunan) Ibrahim, maka lebih tepat jika yang disebut keturunan Ibrahim itu Maria saja, bukan Yusuf yang bukan saja Bapa dari jasmani Yesus.

Hal ini saya tanyakan kepada Rama Wignyopranoto C.M. beliau menjawab: “Orang Yahudi itu garis keturunan adalah garis Bapak sehingga lebih mudah jika yang disebut keturunan Ibrahim itu Bapanya, bukan Ibunya. Tetapi itu tidak penting, yang penting YESUS secara fakta sudah turun ke dunia menyelamatkan umat manusia. Itu inti iman kita.” Jawaban itu tidak memuaskan saya, namun kesempatan tidak banyak untuk mendiskusikan, karena katanya akan ada kesempatan untuk mendiskusikannya dalam pelajaran yang akan datang waktu membicarakan persoalan itu. Tetapi sampai Rama Wignyo studi di Universitas Gregorian di Roma dan sampai saya keluar dari pendidikan itu tidak ada kesempatan lagi untuk omong-omong tentang hal itu.

Tetapi yang lebih mengherankan lagi ialah, saya mendapatkan silsilah Yesus dalam Injil yang lain, yakni Injil Lukas. Di
situ dilukiskan bahwa Yesus adalah keturunan Daud dari garis Natan yang ke 43, sedang dalam Injil Mateus adalah anak Daud yang ke 27 dari garis Sulaiman. Terhadap ini belum pernah saya tanyakan.

 

 

Bab 2.3. Pribadi Yesus dan Ajarannya

Yesus yang menurut orang Kristen dan Katolik adalah Allah Putera yang turun ke dunia untuk menjadi manusia dan penebus dosa umat manusia, memang dapat diakui sebagai tokoh sejarah yang hebat. Tahun dibagi menjadi dua ialah sebelum Masehi dan sesudah Masehi. Terhadap tokoh ini beraneka ragam pendapat. Golongan Yahudi, berpendapat bahwa Yesus itu tokoh pemberontak dan pengacau. Golongan Kristen, memujanya sebagai pribadi Allah yang turun mengejawantah. Golongan Islam berpendapat bahwa Yesus seorang Nabi besar, tetapi bukan putera Allah.

Lepas dari semua pandangan yang berbeda, kalau kita meninjau tokoh ini memang merupakan tokoh yang boleh dibanggakan pengajaran-pengajarannya. Beliau mengajarkan kerendahan hati yang tulus: “Jika engkau ditampar pipamu yang kiri; serahkanlah yang kanan.” Sikap munafik ditentangnya

hebat-hebatan. “Jika engkau berdoa, masuklah kedalam rumah, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi” (Mateus 6: 6). Dan sabdanya: “Janganlah berdoa seperti orang munafik, yang suka bertdoa ditepi-tepi jalan dan ditikungan jalan supaya dilihat orang.”

Dalam memberi dermapun Yesus mengutuk sikap munafik, “Jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui oleh tangan kiri apa yang dibuat oleh tangan kanan” (Mateus 6: 3). Juga dalam hal berpuasa sikap munafik yang hanya ingin dilihat orang lain sangat dicela oleh Yesus: “Jika engkau berpuasa jangan muram mukamu, tetapi minyakilah rambutmu dan cucilah mukamu supaya orang lain tak melihat engkau sedang berpuasa” (Mateus 6: 16-18).

Yesus mengajar kepada kita untuk percaya betul kepada penyelenggaraan Ilahi, supaya kita tidak membalas dendam kepada orang lain. Untuk itu periksalah Mateus pasal 6. Orang dari agama apapun bisa menghargai Yesus dan semua ajarannya. Bagiku Yesus adalah Guru yang baik, Guru yang mengajarkan kebaikan dan kesolehan yang tidak dibuat-buat.

Beliau paling membenci sesuatu hal yang dibuat-buat, hari Sabat yang dianggap keramat oleh golongan Parisi didobraknya karena mereka melaksanakan hukum hari Sabat secara berlebih-lebihan sehingga cinta kasih kepada sesama diabaikan demi kekeramatan hari Sabat.

Yesus mengajar dengan bahasa rakyat, bahasa yang bisa dimengerti oleh rakyat jelata. Beliau bukan saja mengajarkan kesederhanaan, tetapi beliau juga melaksanakan kesederhanaan itu. Beliau tidak hanya mengajar supaya kita mencintai orang lain, tetapi beliau juga melaksanakan cinta kasih dengan menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, menolong penganten yang nyaris kehabisan anggur di tengah-tengah pesta mereka.

Yesus juga contoh pribadi yang tidak segan-segan berkata:
“Tidak” jika memang keyakinannya demikian. Beberapa kali orang Parisi mencoba menjebak dia, namun dia bisa membalikkannya dengan begitu tepat. Ketika orang Parisi bertanya: “Perlukah kita membayar pajak?” Yesus dengan pertanyaan ini dihadapkan kepada buah simalakama, pata posisi yang sulit. Jika dia berkata: ‘~tidak,, dia dianggap pemberontak. Jika menjawab: “ya,” mereka akan berkata mengapa utusan Allah lebih rendah dari pada Kaisar. Dalam keadaan seperti itu Yesus balik bertanya: “Coba tunjukkan uang itu. Gambar siapakah itu?” Jawab kaum Parisi: “Gambar Kaisar.” Kemudian Yesus berkata: “Serahkanlah kepada kaisar yang menjadi hak kaisar dan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan.”

Saya mengakui bahwa pribadi Yesus begitu agungnya, sampai-sampai seluruh hidupnya dicurahkan untuk memberikan perhatian kepada orang kecil. Saya menghormati pribadi ini sebagai pribadi yang mendobrak ketidakadilan, dan menolak kultus individu. Kepada orang yang disembuhkan dari sakit, dia selalu berpesan agar tidak dikatakan kepada orang lain peristiwa penyembuhannya itu.

Tentang kemurnian hidup beliau mengajarkan: “Setiap orang yang memandang seorang wanita, dan menginginkannya sudah berzina di dalam hatinya” (Mateus 5: 28). Dalam memilih murid-muridnya Yesus tidak memandang dari mana asal usulnya. Mateus, seorang penarik bea yang dalam pandangan masyarakat Yahudi bukan profesi yang baik, dipilih sebagai seorang muridnya. Petrus seorang nelayan sederhana, dipilih sebagai tua-tua murid yang lain.

Yesus tidak menyukai kekerasan, walaupun itu kepada musuhnya. Ketika Petrus memarang telinga tentara yang akan menangkap Yesus sehingga daun telinganya putus, daun telinga itu justru diambil oleh Yesus dan dilekatkan kembali ketempat asalnya.

Kepada orang yang mendengarkan pengajarannya, beliau tidak melupakan kesejahteraannya. Ketika pada waktu makan dan tidak tersedia makanan, Yesus mengambil sepotong roti kecil dan dua ekor ikan yang dibawa oleh anak kecil kemudian diperbanyak olehnya dan dibagikan kepada orang-orang itu; tetapi manakala pada kesempatan lain orang berbondong-bondong mengikuti, justru Yesus menolaknya karena tahu bahwa motivasinya karena ingin roti hasil mukjijat Yesus.

Tiada suatu pengaruh lain yang bisa melenyapkan peoghormatanku pada Yesus Kristus sebagai pribadi pembaharu peradaban manusia.

 

Bab 2.4. Kebimbangan Berjalan Terus

Terhadap pribadi Yesus, saya tidak mempunyai keraguan tentang pengajarannya. Tentang hukum etis dan moral yang diajarkannya sungguh bernilai tinggi. Tetapi tentang dosa asal, tentang Santo dan Santa, tentang silsilah Yesus; bolehkah semua itu kuanggap tidak penting? Yang penting inti iman. Sampai aku menjadi Guru Agama, kebimbangan itu berjalan terus. Yang saya herankan sekarang ialah, apakah orang yang saya ajar itu tidak bimbang bila saya sendiri yang mengajar sesungguhnya hatiku juga bimbang. Saya tidak tahu, dan belum pernah menanyakan kepada katekumers saya (orang yang aya ajar agama) dan dari mereka saya tidak pernah menerima pertanyaan itu.

Lebih aneh lagi sebetulnya, kalau aku mengingat bahwa ketika aku menjadi mahasiswa di Fakultas Pendidikan Kateketik dan berpraktek Stasi di kota kecil Walikukun, Kabupaten Ngawi begitu banyak orang yang saya Katolikkan. Cara pendekatan saya begitu baik sehingga kepada Kepala Desa Mengger, Kepala Desa Karangbanyu dan Kepala Desa Dirgo (Bau) saya bisa minta dikumpulkan orang-orang desa untuk saya ajar agama Katolik.

Setelah saya menjadi Guru Agamapun saya boleh dikatakan sebagai Guru Agama yang berhasil dalam hal meng-Katolik-kan banyak orang, atau sekurang-kurangaya membuat suatu masyarakat bernafaskan Katolik. Akhirnya masa tugasku sebagai Guru Agama kujalani di kota kecil Sumpiuh, Kabupaten Banyumas dalam Keuskupan Purwokerto. Tempat tugasku hanya berjarak 5 km dari tempat kelahiranku, Tambak. Di dalam Injil ada disebut: “Seorang nabi tak dihargai di negerinya,” walaupun begitu tugasku di Sumpiuh dapat kunilai dan dinilai orang lain: sukses. Dalam waktu tiga tahun saya di Sumpiuh saya melayani tiga orang Pastor berturut-turut yaitu: Rama A. Wahyo Bawono Pr, bekas Letnan Kolonel Kostrad Tituler, Rama Antonius Willing MSC, Rama H. Obbens MSC.

Dengan dua Pastor yang terdahulu saya bisa bekerja sama dengan baik tidak pernah ada misunderstanding, tetapi dengan Rama Obbens keadaannya lain. Tetapi hubungan yang kurang baik antara saya dengan beliau tidak menjadi alasan yang penting mengapa saya masuk Islam. Kalau hal itu dianggap sebagai proses yang mempercepat mungkin boleh, tetapi jika ini dianggap sebagai penyebab utama tidak mungkin.

Seperti lajimnya keluarga Katolik, lebih-lebih saya Guru Agama, maka anak yang baru lahir itupun kumintakan baptis. Ketika aku menyaksikan upacara baptis anakku timbullah suatu pertanyaan besar: “Apakah betul anakku sudah punya dosa asal warisan zaman Adam dan Hawa akibat dosa mereka?” Gereja Protestan memang lebih rationil dalam hal pembaptisan ini, yang tidak mau membaptis seseorang tanpa kemauan bebas dan kehendak orang yang bersangkutan.

Seperti halnya kakekku yang meletakkan dasar pada pendidikanku sehingga seluruh pribadinya sempat mewarnai juga pribadiku, maka pergaulanku tidak tertutup pada suatu kelompok masyarakat. Dengan orang Protestan dan Islam saya banyak bergaul. Dengan pejabat-pejabat setempat selalu saya memelihara hubungan baik. Tetapi juga dengan kalangan masyarakat yang diemohi oleh masyarakat saya usahakan hubungan yang baik.

Dengan wanita pelacur saya tidak segan-segan untuk bergaul dan mengunJungi mereka. Itu semua kulakukan bersama-sama isteriku bila aku mengunjungi tempat-tempat pelacuran. Bukan karena isteriku tidak percaya kepada kesetiaanku, tetapi suara masyarakat yang negatif hampir tidak pernah saya dengar dengan selalu mengajak isteri saya bila ke sana.

Di situlah saya berpikir, mengapa Pimpinan Gereja tidak pernah mempunyai konsepsi dan buah pemikiran untuk wanita P? Bukankah Kristus memberi contoh dengan membela Maria Magdalena yang akan dihukum rajam (lempar batu) karena kedapatan sedang berjina? Yesus dengan kewibawaanya berkata:
“Siapa yang tidak mempunyai; dosa silakan lempar batu dahulu!”

Kebimbangan itu pada akhirnya sampai pada puncaknya ialah, mula pertama dengan tidak meyakini peranan Bunda Maria sebagai perantara manusia kepada Allah Bapa dan Allah Putera. Jadi imanku Katolik saya kurangi dengan dosaasal, pembaptisan bayi, peranan Bunda Maria. Bolehlah dikatakan saya sudah menjadi Protestan secara praktis.

Hal itu memang benar, jika saja proses. itu berhenti sampai di sini saia. Tetapi proses ini berkembang dengan tidak meyakini lagi pada diri saya bahwa Yesus itu Allah, walaupun saya tetap meyakini bahwa Kristus adalah Guru yang baik.

Soal Trinitas dan lain-lainnya dapat Saudara baca pada bagian karangan saya yang berjudul: “Siapakah Juru Selamat Dunia?,” yang dimuat bersama-sama serial ini. Perlu kiranya saya tambahkan bahwa buku: “Yesus Kristus dalam Al Quran dan Mohammad dalam Bijbel,” karya Drs. Hasbullah Bakri, telah mendorong saya dan membantu studi tentang masalah ketuhanan Yesus.

Bab 2.5. Putusan Terakhir

Memang tidak mudah untuk mengambil keputusan terakhir, lebih-lebih jika ini menyangkut soal iman. Pada studi saya lebih lanjut disamping saya sampai pada kesimpulan bahwa Yesus bukan pribadi Allah, sampai juga saya mengimani bahwa Muhammad itu adalah Nabi Utusan Allah.

Sebetulnya dengan ini saya sudah menjadi orang Islam dalam batin. Saya seorang yang dalam mengambil keputusan tidak begitu tergesa-gesa, segi-segi saya pertimbangkan dengan betul.

Dalam awal tahun 1977, saya pergi ke Lampung menghadap orang-tuaku untuk mohon doa restu. Keputusanku sudah bulat pada waktu itu ialah: “masuk Islam.” Teringatlah saya akan sabda Yesus “Carilah dulu Kerajaan Allah dan segala kebenarannya yang lain akan diberikan sebagai tambahan” (Mateus 6: 33).

Ujian pertama, ialah kemarahan orang tuaku, ibuku marah dengan sangat begitu mendengar keputusanku. Saya: pulang dari rumah ibu dengan hati yang berkeping-keping. Di Jakarta saya istirahat beberapa hari. Dan akhirnya saya bisa bertemu dengan Bapak Mollammad Natsir gelar Datuk Sinaro Panjang. Beliau sekarang menjabat sebagai Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Pusat. Akhirnya dengan bantuan beliau saya berkuliah untuk memperdalam Agama Islam pada IAIN “Sunan Kalijogo,” Fakultas Ushuludin Yogyakarta.

Keputusanku masuk Islam kutuangkan dalam Pernyataan didepan Bapak Syamsuri Ridwan, Kepala Dep. Agama Kab. Banyumas di Purwokerto disaksikan oleh: AK. Ansori, Somad, Moh. Tohar BA, tgl. 14 Januari 1977.

Perpisahan dengan Gereja Katolik bukan berarti perpisahan dengan Yesus atau Isa a.s. Guruku yang pengajarannya kukagumi.

Selamat tinggal Gereja Katolik saya merasa berhutang budi kepadamu karena engkau telah mendewasakan pribadiku dan mengembangkannya. Seminggu setelah aku mengambil keputusan ini, aku masih tetap menangis. Bukan menangis menyesal telah mengambil keputusan yang engkau anggap salah, namun perpisahan dengan engkau almamater yang telah sekian lama aku berkecimpung di dalamnya cukup mengharukan dan menyedihkan hatiku.

Walaupun pengajaran-pengajaranmu banyak yang tidak kupercaya lagi namun aku ingin menjadi sahabatmu yang baik, walaupun aku sudah dalam biduk lain.

Akhir tulisan saya, saya ingin minta maaf kepada para Wali Gereja Katolik terlebih-lebih Bapa Uskup Alb. Hermelink Gentiaras SCY, bekas Uskup Tanjungkarang, Mgr. P.S. Harjosumarto MSC, Uskup Purwokerto, para Pastor yang telah mengenal saya, sesama rekan Guru Agama dan saudara-saudara yang beragama Katolik, barangkali saya dianggap telah mengambil keputusan yang sesat. Namun keputusan itu telah saya ambil dalam kedewasaan pribadi, waktu yang lama, studi yang mendalam dan doa kepada Tuhan. Akhirnya saya mengucapkan selamat tinggal.

 

Bab 3. AGAMA NASRANI

Bab 3.1. Trinitas
Dogma yaag terbesar dalam Agama Kristen, baik Protestan maupun Katolik adalah tentang: TRINITAS. Kepadanya semua ajaran dan dogma yang ditetapkan kemudian tergantung. Yang dimaksud dengan Trinitas ialah suatu kepercayaan bahwa Tuhan adalah satu dalam tiga pribadi, yakni Allah Bapa, Allah Putera (anak) yaitu Yesus Kristus dan Roh Kudus.

Dogma tentang Trinitas baru dirumuskan dalam abad ke IV dalam suatu Konsili di Nicea. Konsili itu diikuti oleh para Uskup, Theolog kenamaan dan banyak Sarjana Gereja. Keputusan Konsili itu dirumuskan dalam 12 Sahadat para Rasul, di mana dirumuskan bahwa ketiga pribadi dalam Allah yang satu itu adalah sejajar, walaupun digunakan istilah Bapa dan Anak; Dalam doa litani Umat Katolik sebutan Trinitas dirumuskan dengan kata-kata: “Allah Tritunggal Kudus Tuhan Yang Maha Esa.”

Rumusan Konsili Nicea abad ke IV tentang TRINITAS itu mendasarkan pada ucapan Yesus Kristus sendiri dalam Injil Mateus 28: 19 “Karena itu pergilah, jadikan semua bangsa murid-KU dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus “

Tetapi apakah benar bahwa ucapan Yesus itu dimaksudkan oleh Yesus sendiri untuk mengajar bahwa dalam Allah yang Esa itu terdapat tiga pribadi, sebab Yesus sendiri secara explicit tidak pernah mengatakan hal itu.

Apakah pengakuan orang Kristen tentang Allah tidak bertentangan dengan Ke-ESA-an Allah itu sendiri? Umat Eristen sendiri sulit untuk menjelaskannya; karena itu mereka selalu melarikan diri pada jawaban: misteri Tuhan yang sulit diungkapkan.” Bahkan untuk memperkuat jawaban itu, mereka selalu menceriterakan kisah Agustinus, Uskup Hipo yang juga pernah mengalami kebimbangan tentang TRINITAS. Untuk memecahkan hal itu Uskup Agustinus berjalan-jalan di tepi laut. Di situ Agustinus bertemu dengan seorang anak kecil yang sedang membuat sumur-sumuran dengan menggali pasir di tepi laut itu. Uskup Hipo itu bertanya: “Untuk apakah sumur-sumur itu, nak?” Anak itu menjawab, “Saya akan memasukkan semua air laut ke dalam sumur ini.”

Akhirnya, Agustinus mengambil kesimpulan, misteri Tuhan adalah begitu luas seperti luasnya samudera yang tak kelihatan tepinya; sedang otak manusia hanya terbatas seperti sumur-sumuran yang dibuat oleh anak kecil
itu. Jadi tidak mungkin kita dapat mengerti dengan jelas misteri Allah; oleh karena itu walaupun Trinitas merupakan
hal yang sulit, terimalah saja seperti itu, Marilah kita membuka halaman pertama dari Al-Kitab, pada Kitab Kejadian (Genesis = Purwaning Dumadi) pada pasal yang pertama.

Pada Kejadian 1:26, kita baca: Berfirmanlah Allah:
“Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita “
Dalam anak ayat yang sependek itu kita menjumpai 2 kata “kita,” sebagai kataganti untuk Allah. Bukankah dengan kata “kita” terkandung pengertian ada lebih dari satu Allah? Mungkinkah kataganti untuk Allah memang dipakai kata “kita”? Tetapi kalau kita membuka lebih lanjut pada Kejadian 1:29 kita baca : Berfirmanlah Allah: “Lihatlah, AKU memberikan kepadamu.” Mengapa di sini dipakai kata AKU untuk ganti Allah? Bukankah dengan melihat kenyataan ini kita bisa menarik kesimpulan bahwa memang sungguh ada lebih dari satu Allah?

Sekarang yang hendak kita persoalkan ialah Sabda Yesus pada Injil Mateus 28: 19; siapakah sebetulnya Bapa, Anak dan Roh Kudus seperti sabda Yesus dalam Mateus 28: 19? Sering orang Kristen mengatakan bahwa pengertian Umat Islam tentang Allah masih kurang lengkap, sebab orang Islam hanya mengenal Allah Bapa saja. Baiklah, kita setuju saja dengan mereka bahwa yang kita imani sebagai Allah adalah Allah Bapa seperti yang diimani oleh orang Kristen, tetapi siapakah anak dan siapakah Roh Kudus?

Kalau kita membaca seluruh isi Perjanjian Lama, maka semua Nabi dan orang Kudus pada waktu itu disebut sebagai Anak Allah. Bahkan oleh Yesus sebutan “Anak Allah” itu diperluas bagi mereka yang membawa damai. Dalam kotbah di bukit yang kemudian terkenal dengan Delapan Sabda Bahagia Yesus bersabda: “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Mateus 5: 9).

Jadi jelas bahwa sebutan Anak Allah bukan monopoli pribadi Yesus sendiri, tetapi untuk semua Nabi dan mereka yang membawa damai, Yesus sendiri dalam Mateus 6:9 mengajar murid-murid-NYA sebuah doa yang kemudian menjadi terkenal dengan sebutan: “DOA BAPA KAMI.” Dalam doa itu Yesus mengajar kepada kita agar menyebut “Bapa” kepada Allah yang ada di Surga. Hal ini nyata juga kalau kita perhatikan sabda Yesus pada Mateus 15: 13. Jawab Yesus: “Setiap tanaman yang ditanam Bapa-Ku” Dalam ayat itu Yesus menyebut Allah dengan perkataan Bapa-KU, sedang di ayat lain Yesus menyebut Allah dengan perkataan Bapa-mu (Mateus 10:20). Yesus sendiri rupanya lebih senang dengan predikat “Anak manusia.” (Periksalah Injil Mateus pasal 16 keseluruhan).

Sekarang siapakah Roh Kudus itu? Untuk itu Yesus menjelaskan sebagai berikut: “AKU (Yesus) akan minta kepada Bapa, dan IA akan memberikan kepadamu seorang Ponolong yang lain, supaya IA menyertai kamu, yaitu Roh Kebenaran (Injil Yohanes 14: 16). Jadi Penolong yang akan datang adalah seorang (tentunya seorang manusia). Sedang sesuatu disebut Roh ialah jika ia sudah mati atau belum lahir. Jadi jelaslah bahwa Penolong yang dijanjikan Yesus adalah seorang yang belum lahir. Siapakah dia? Mungkinkah Paulus? Baiklah, hal ini akan kita tinjau lebih lanjut.

Bila kembali kepada ucapan Yesus pada Mateus 28: 19: “, dan baptislah mereka dengan nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, “ Apakah artinya baptis? Orang Yahudi mempunyai kepercayaan bahwa Allah akan menyelamatkan setiap manusia. Tetapi dari fihak manusia ada yang menerima penyelamatan dari Allah dan ada yang tidak mau. Mereka yang mau menerima penyelamatan itu diharuskan bertobat, dan sebagai tanda tobat mereka dibaptis. Upacara baptis biasanya dilakukan di sungai dengan mencelupkan kepala mereka ke dalam air. Upacara baptis sekarang diteruskan oleh semua Gereja Kristen dan Katolik sebagai lambang penerimaan mereka akan iman Kristen, hanya caranya yang berbeda. Ada Gereja yang membaptis dengan betul-betul mencelupkan kepala calon baptis di sebuah sungai, ada yang hanya mencucurkan air pada salah satu bagian tubuh yang biasanya adalah kepala.

Upacara baptis itu kemudian diakui sebagai Sakramen.
(Sakramen = setiap ucapan dan perbuatan Yesus yang mendatangkan Rahmat). Jadi dapatlah disimpulkan bahwa baptis ialah tanda bahwa manusia itu telah diselamatkan, karena menurut kepercayaan umat Kristen pada waktu sekarang dibaptis (= dipermandikan) semua dosanya dihapus.

Jadi ucapan Yesus dalam Mateus 28: 19: “ dan baptislah mereka dengan nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dapatlah diartikan, “ selamatkanlah mereka dengan nama (ajaran) Allah dan seorang nabi dan lebih-lebih ajaran seorang penolong yang datang sesudah Yesus.”

Tetapi siapakah “Penolong yang datang sesudah Yesus?”
Pauluskah? Karena Paulus adalah seorang pembaharu yang datang sesudah Yesus. Pada peninjauan lebih lanjut kita akan membahas siapakah Penolong itu.

 

Bab 3.2. Keturunan Ibrahim

Orang Yahudi, yang kemudian juga orang Kristen (Protestan dan, Katolik) mempunyai kepercayaan bahwa Messias atau penyelamat dunia, Juru Selamat; adalah berasal dari keturunan Ibrahim, keturunan Daud. Sadar akan kepercayaan ini, maka Mateus pada permulaan Injil-nya menulis bahwa Yesus adalah keturunan Ibrahim, keturunan Daud. “Inilah sisilah Yesus Kristus, maka Daud, anak Ibrahim “ (Mt. 1: 1). Sedangkan silsilah itu ternyata merupakan sesuatu yang dipaksakan. Perhatikanlah: setelah Mateus menyuguhkan kepada kita deretan nama-nama yang merupakan deretan keturunan Ibrahim dalam Injilnya pada pasal 1 ayat 2 sampai dengan 15, maka pada ayat ke 16, Mateus menulis: “Yakub memperanakan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.

Kalau kita perhatikan dengan baik, maka yang menjadi keturunan Ibrahim adalah Yusuf bukan Maria, Padahal orang Kristen mengimani bahwa Yesus tidak lahir dari “hubungan” Yusuf dan Maria. Jadi jelas bahwa Yesus sendiri menurut Mateus adalah bukan keturunan Ibrahim, keturunan Daud.

Menurut kepercayaan orang Kristen bahwa Penyelamat dunia akan lahir dari anak Ibrahim. Ibrahim sendiri beranak 2 dari 2 orang isteri pula, yakni Sara dan Hagar. Tetapi umat Kristen menekankan bahwa anak Ibrahim yang syah adalah Ishak, yang lahir dari Sara: sedang Ismail bukanlah anak Ibrahim yang syah karena lahir dari seorang budak, jadi tidak mungkin Juru Selamat Dunia lahir dari keturunan Ismail. Betulkah Ismail bukan anak Ibrahim yang syah?

Sebagai dasar untuk membuktikan bahwa hanya Ishak yang merupakan anak Ibrahim yang syah, umat Kristen mempergunakan Kitab Kejadian 22: 2, Firman-NYA: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak.” Apakah Ismail bukan anak Ibrahim yang syah? Hal ini nyata dibantah sendiri oleh Kitab Kejadian pasal 21: 13: “Tetapi keturunan dari hambamu itu (Ismail) juga akan KU-buat menjadi suatu bangsa, karena iapun anakmu.”

Bangsa Yahudi (Israel) mempercayai bahwa mereka adalah bangsa pilihan dimana sejarah penyelamatan manusia akan selalu bersumber kepada dan dari bangsa itu. Jadi menurut kepercayaan mereka Juru Selamat Dunia akan datang dari bangsa Israel. Tetapi apakah keturunan Ibrahim itu hanya yang lahir sebagai anak- anak Ishak? Rupanya hal ini dibantah sendiri oleh Yesus Kristus: “Dan janganlah mengira, kamu dapat berkata dalam hatimu: Ibrahim adalah bapa kami. Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak Ibrahim dari batu-batu itu.” (Mateus 3: 9).

Jadi jelaslah bahwa keturunan Ibrahim bukan saja yang lahir sebagai anak-anak Ishak tetapi juga dari batu-pun bisa jadi keturunan Ibrahim, lebih-lebih anak-anak Ismail yang nyata diakui dalam Kiitab Kejadian.

Kalau Juru Selamat Dunia harus lahir sebagai keturunan Ibrahim maka tentu tidak menutup kemungkinan bahwa Juru Selamat itu adalah lahir dari garis Ismail. Tetapi kalau juga ditentukan bahwa Juru Selamat itu lahir dari garis
Ishak, tetapi apakah Juru Selamat itu juga harus “Anak Daud?” Hal itupun akan ditinjau pada pasal-pasal berikut.

 

Bab 3.3. Yesus dan Hukum Taurat

Apakah yang disebut Kitab Taurat? Taurat adalah merupakan kumpulan lima buah Kitab yang kemudian dikenal sebagai dikarang oleh Musa yang sekarang diterima oleh Umat Kristen sebagai lima Kitab pertama dalam Perjanjian Lama. Ke-lima Kitab itu ialah: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulang-tutur (Ulangan). Di dalam Kitab Taurat memuat Kisah penciptaan bumi langit, sejarah manusia pertama, panggilan Tuhan kepada Ibrahim, riwayat keturunan Ishak yang kemudian dikenal sebagai bangsa Israel, perbudakan bangsa Israel oleh Bangsa Mesir, panggilan Tuhan kepada Musa untuk menyelamatkan Bangsa Israel juga memuat tentang hukum-hukum moral yang wajib ditaati oleh Bangsa Israel.

Apakah tugas Yesus sehubungan dengan Hukum Taurat? Yesus sendiri menegaskan misinya: “Janganlah kamu menyangka, bahwa AKU datang untuk meniadakan hukum Taurat atau Kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena itu aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat, sekalipun yang paling kecil dan mengajarkan demikian, ia akan menduduki tempat yang paling rendah dalam Kerajaan Sorga” (Mateus 5: 17-19).

Salah satu HUKUM TAURAT ialah tentang SUNAT. Sunat dalam Hukum Taurat dipandang sebagai satu perjanjian dengan Tuhan. Hal ini dapat kita baca dalam Perjanjian Lama. “Lagi firman Allah kepada Ibrahim: -Dari fihakmu, engkau harus memegang perjanjian-KU, engkau dan keturunanmu turun-temurun. Inilah perjanjian-KU, yang harus kamu pegang, perjanjian antara AKU dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat; haruslah dikerat kulit khatannya dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara AKU dan kamu” (Kejadian 17: 9-11).

Sunat, yang dipandang oleh Tuhan sebagai tanda perjanjian antara Tuhan dan Ibrahim (serta keturunannya) telah dianggap sesuatu yang tidak ada gunanya oleh Paulus. “Sunat memang ada gunanya, jika engkau menaati Hukum Taurat; tetapi jika engkau melanggar hukum Taurat, maka sunatmu tidak ada lagi gunanya. Jadi jika orang yang tak bersunat memperhatikan hukum Taurat, tidakkah ia dianggap sama dengan orang yang telah sunat?” (Surat Paulus kepada orang Kristen di Rom 2: 25-26).

Ternyata Paulus begitu pandai sekali memutar-balikkan kalimat. Bagaimana mungkin orang yang tak bersunat bisa dikatakan memperhatikan Hukum Taurat, jika Sunat itu sendiri merupakan suatu kewajiban dari Hukum Taurat? Kalau kita perhatikan ucapan Yesus di atas, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa: Paulus akan menduduki tempat yang paling rendah dalam Kerajaan Allah. Paulus dapat dianggap penyesat dari Hukum Taurat yang Yesus sendiri tidak berani merubahnya.

Kita ambil contoh lain dari begitu banyak Hukum Taurat yang dilanggar oleh murid-murid Yesus sendiri, Hukum itu ialah tentang hukum hari Sabat. “Katakanlah kepada orang Israel, demikian: Akan tetapi hari-hari Sabat-KU harus kamu pelihara, sebab itulah peringatan antara AKU dan kamu, turun-temurun, sehingga kamu mengetahui, bahwa Aku-lah TUHAN, yang menguduskan kamu. Haruslah kamu pelihara hari Sabat, sebab itulah hari Kudus bagimu; siapa yang melanggar kekudusan hari Sabat, pastilah ia dihukum mati, sebab setiap orang yang melakukan pekerjaan pada hari itu, orang itu harus dilenyapkan dari antara bangsanya. Enam hari lamanya boleh dilakukan pekerjaan, tetapi pada hari yang ketujuh haruslah ada sabat, hari perhentian penuh, hari kudus bagi Tuhan; setiap orang yang melakukan pekerjaan pada hari Sabat, pastilah ia dihukum mati” (Kejadian 31: l3-15).

Hari Sabat dan segala kekudusannya yang sudah begitu tinggi ditegaskan oleh Tuhan sampai-sampai kepada siapa yang melanggar ancaman hukumannya adalah mati, telah dilanggar sendiri oleh para murid Yesus dengan memetik gandum pada hari Sabat (Mateus 12: 2). Akan kita menaruh hormatkah kepada mereka yang melanggar hukum Taurat padahal guru mereka sendiri mengatakan bahwa kedatangan-NYA bukan untuk merubah hukum Taurat melainkan untuk menggenapinya.

Kita kembali pada pertanyaan: Siapakah Penolong yang datang sesudah Yesus? Pauluskah? Sekarang kita sendiri dapat menjawab dengan tegas bahwa Penolong yang dimaksud oleh Yesus yang akan datang sesudah beliau adalah bukan PAULUS, karena Paulus telah menyelewengkan salah satu hukum Taurat tentang sunat yang oleh Yesus orang semacam Paulus dikatakan sebagai orang yang paling rendah dalam Kerajaan Allah.

Kalau kita mau kembali ucapan Yesus: “ dan baptislah mereka dengan nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,” dan dapat kita baca, “ selamatkanlah mereka dalam ajaran Allah, ajaran para nabi dan ajaran seorang penolong yang datang sesudah Yesus, “ Pertanyaan siapakah penolong itu ternyata belum dapat kita jawab sekarang.

 

Bab 3.4. Hal Masuk Surga

Setiap orang tentu menginginkan bahwa setelah kehidupan di dunia dia akan berpindah kekehidupan di akhirat yang membahagiakan, atau masuk surga. Kebahagiaan di surga sebagai suatu hal yang tak dapat diceriterakan dan dibayangkan oleh panca indera.

Tentang hal in, Yesus menandaskan bahwa: “Aku berkata kepadamu sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk kedalam Kerajaan Surga. Sekali lagi AKU berkata kepadamu lebih mudah seekor unta masuk melalui tubang jarum daripada seorang kaya masuk kedalam Kerajaan Allah” (Mateus 19: 23-24).

Kita melihat bahwa lembaga yang disebut Gereja lebih-lebih Gereja Katolik, secara nyata adalah suatu lembaga yang kaya. Kekayaan mereka nampak pada Gedung-gedung Gereja, Rumah, Sekolah milik mereka. Juga mobil-mobil mewah milik Gereja. Walaupun mereka berkata bahwa itu semua dibutuhkan demi charitatif (cinta-kasih), namun mereka toh tidak dapat menyembunyikan kekayaan mereka.

Padahal Yesus sendiri menyuruh murid-muridnya supaya jangan membaws emas dan perak atau tembaga dalam ikat pinggang, jangan membawa bekal dalam perialanan, jangan membawa baju dua helai, kasut atau tongkat (Mateus 10:9-10). Sudah benarkah Gereja dalam menjalankan amanat Agung junjungan mereka, Yesus Kristus? Mereka mungkin akan berkata, bahwa setiap ayat Injil harus ditafsirkan dengan benar oleh kuasa Gereja. Tetapi apakah tafsirannya yang tepat jika dikatakan bahwa kita tidak boleh membawa emas, membawa perak dan sebagainya?

Sesungguhnya semua orang di dunia ini dapat menjadi Kristen, jika saja Gereja percaya penuh kepada Yesus tanpa reserve. Apa yang diminta dengan penuh kepercayaan tentu akan diberi. “AKU berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu percaya dan tidak bimbang, kamu bukan saja dapat berbuat apa yang Kuperbuat dengan pohon ara itu, tetapi juga jikalau kamu berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah kedalam laut. Hal itu akan terjadi. Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kami menerimanya.” (Mateus 91: 21-22)

Gereja ternyata tidak mempunyai iman yang mendalam kepada Yesus disamping dalam perjalanan sejarahnya membuat banyak perobahan-perobahan sendiri terhadap ajaran-ajaran Yesus.

Itu pula sebabnya mengapa tidak semua orang di dunia ini memeluk agama Kristen.

 

Bab 3.5. Yesus Juru Selamat Bangsa Israel

Kepada siapakah sebetulnya Yesus diutus oleh Allah? Dalam Injil Yohannes 20: ayat 21, Yesus bersabda: “Sama seperti Bapa mengutus AKU, demikian juka sekarang AKU mengutus kamu.” Luas perutusan Yesus kepada murid-murid-NYA adalah sama dengan luas perutusan yang diterima oleh Yesus dari Bapa. Jadi tidak mungkin Yesus mengutus murid-murid-Nya lebih luas dari perutusan-Nya sendiri yang diterima-Nya dari Bapa. Yesus dalam salah satu sabda-Nya pernah. bersabda bahwa Dia diutus hanya kepada domba hilang dari Bangsa Israeli.

Rupanya Yesus-pun mengutus murid-murid-Nya hanya kepada Bangsa Israel saja. “Janganlah kamu menyimpang ke jalan Bangsa lain atau masuks ke dalam kota orang Samaria melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari pada Umat Israel” (Mateus 10: 5-6).

Bahwa Yesus adalah Utusan Allah khusus untuk Bangsa Israel, menjadi lebih jelas lagi, ketika beliau menegaskan bahwa para murid-Nya yang berjumlah 12 orang itu akan duduk pada 12 tahta untuk mengadili orang Yahudi. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu pencitaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di tahta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku akan duduk juga di atas dua belas tahta untuk menghakimi dua belas suku Israel” (Mateus 19:28).

Bagaimana ciri, Juru Selamat dunia yang dijanjikan oleh Allah? Juru Selamat itu bukan hanya diutus untuk sesuatu bangsa tertentu saja, akan tetapi haruslah dimaksudkan untuk seluruh Bangsa. Yang kepadanya bangsa-bangsa akan berharap, Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa (semua bangsa), bukan hanya kepada satu bangsa tertentu saja. Untuk ini maka Nabi Yesaya, tokoh Perjanjian Lama yang terkenal meramalkan: “Lihatlah, itu Hamba-KU yang KU-pilih, yang Ku-kasihi yang kepadanya jiwa-KU berkenan; Aku akan menaruh roh-KU keatas-Nya, dan ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa” (Mateus 12: 18). “Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap” (Mateus 12: 21).

Sabda Yesus yang perlu juga kita perhatikan adalah yang tercantum dalam Injil Mateus 10:41: “Barang siapa yang menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima ubah nabi, dan barang siapa yang menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah sebagai orang benar.”

Kita kembali kepada pertanyaan pada pasal-pasal yang lalu:
Siapakah Penolong yang dijanjikan oleh Yesus yang akan datang sesudah Yesus? Tentu seorang nabi, karena jelas bukan Paulus? Sekarang pertanyaan kita: “Siapakah nabi itu?” Kita belum tahu, tetapi pasti harus seorang nabi, utusan Allah.

Yesus memang Juru Selamat, tetapi seperti apa yang pernah ditandaskan-Nya sendiri bahwa beliau datang untuk domba bangsa Israel yang hilang. Kalau Yesus sudah memberikan pertanyaan tentang dirinya dan murid-murid-Nya begitu jelas, apakah kita harus berkata bahwa Yesus dikirim Allah untuk semua bangsa? Dengan menyatakan hal itu maka berarti bahwa kita tidak menaruh hormat kepada beliau, baik selaku pribadi maupun selaku Nabi Allah yang besar. Kalau Yesus sendiri lebih senang memakai predikat: “Anak manusia,” mengapa kita harus memaksakan dengan mengatakan bahwa beliau adalah:

“Anak Allah?” Apakah Yesus sendiri tidak akan marah kalau diri-Nya disebut dengan cara yang tidak benar, walaupun predikat yang kita berikan kepadanya lebih tinggi?

Pernah pada suatu waktu Bapak Presiden Soeharto begitu marah sekali ketika majalah “POP” menulis tentang silsilahnya dimana dikatakan bahwa sesungguhnya beliau adalah keturunan bangsawan, keturunan kraton. Artikel semacam itu kemudian dibantah sendiri oleh beliau, bahkan dianggap sebagai penghinaan; dalam kesempatan itu beliau menandaskan bahwa beliau hanya seorang anak petani biasa.

Dengan menyebut Yesus sebagai Anak Allah, kita telah berbuat kesalahan yang besar, sebab Yesus sendiri tidak pernah menyatakan bahwa Dia adalah Anak Allah, bahkan sebutan itu ternyata berlaku untuk semua orang yang membawa damai seperti yang pernah kita singgung pada bab pertama tentang TRINITAS. Dengan menyebut sesuatu yang tidak benar yang menyimpang dari apa yang dikatakan Yesus sendiri berarti kita tidak menyambut Yesus sebagai Nabi Allah yang benar.

Dan apakah Umat Kristen telah menyambut Utusan Allah sesudah Yesus dengan benar? Apakah Muhammad itu utusan Allah? Apakah ada bukti-bukti kenabian melekat pada diri beliau? Apakah Yesus juga menyebut hal itu? Semoga pasal yang terakhir dan uraian kami akan dapat menjawab pertanyaan di atas. Mungkin jawaban yang akan diperoleh tidak begitu memuaskan pada saat permulaan tetapi jika Saudara mau merenungkan, dan lebih-lebih mempelajari dari buku-buku yang bobot ilmlyahnya lebih tinggi dari ini; kami percaya bahwa Saudara akan
mempunyai kepuasan yang Saudara harapkan. Semoga.

 

Bab 3.6. Siapakah Sebetulnya Juru Selamat Dunia?

Bangsa Yahudi/Israel mempunyai keyakinan bahwa Juru Selamat Dunia adalah keturunan Ibrahim dan juga keturunan Daud, hal ini berarti Juru Selamat Dunia adalah keturunan Ibrahim dari garis Ishak bukan dari garis Ismail. Tetapi ternyata keyakinan itu sendiri disangkal oleh Yesus sendiri.

Ketika orang-orang Farisi sedang berkumpul, Yesus bertanya kepada mereka, kata-Nya: “Apakah pendapatmu tentang Mesias (Juru Selamat)?” “Anak siapakah Dia?” Kata mereka kepada-Nya: “Anak Daud.” Kata Yesus kepada mereka: “Jika demikian, bagaimanakah Daud oleh pimpinan Roh dapat menyebut Dia Tuhan-nya, ketika ia berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuhan-ku: duduklah di sebelah kanan-Ku sampai musuh-musuh-Mu kutaruh dibawah kaki-Mu. Jadi jika Daud menyebut Dia Tuhannya, bagaimana mungkin Ia anaknya pula?” Tidak ada seorangpun yang berani menanyakan sesuatu kepada-Nya” (Mateus 22: 41-46).

Untuk mengklaim bahwa Juru Selamat Dunia adalah Bangsa Yahudi/Israel maka Mateus tidak segan-segan untuk memaksakan silsilah Yesus menjadi sedemikian rupa, sehingga Yesus menjadi “Anak Ibrahim, Anak Daud.” Tetapi jika ada bukti bahwa Yesus memang benar Anak Daud, namun kenyataan ini tidak bisa membuktikan bahwa Dia adalah Mesias, karena terhadap itu Yesus bahkan telah membantahnya.

Yesus memang Mesias tetapi hanya untuk Bangsa Israel saja.

Pada suatu hari Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya:
“Menurut kamu, siapakah Aku?” Jawab Petrus: “Messias dari Allah.” Dalam sejarah umat manusia telah beberapa saja Tuhan mengirim Nabi kepada Bangsa Israel, tetapi ternyata seperti Yesus sering-kali ucapkan bahwa Bangsa Israel adalah bangsa yang tegar hati; maka untuk itulah kiranya Tuhan mengirim Nabi Bangsa Israel, Nabi yang terbesar dari nabi-nabi sebelumnya agar bangsa Israel menjadi selamat. Jadi Yesus memang Juru Selamat Bangsa Israel. Kita tidak boleh menyangkal kenyataan ini, sebab setiap orang yang mengakui Yesus di depan manusia akan diakui juga oleh Yesus di hadapan Tuhan, dan barang siapa yang menyangkal Yesus di hadapan manusia akan disangkal Yesus dihadapan Allah. (Mateus 10: 32-33). Alhamdulillah, Umat Islam bukan termasuk Umat yang menyangkal Yesus Umat Islam mengakui bahwa beliau adalah Utusan Allah, Nabi Besar dari deretan Nabi-Nabi sebelumnya.

Rupanya karena Bangsa lsrael memang merupakan bangsa yang tegar hati sampai-sampai Yesus bersabda: “Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan Allah” (Mateus 21: 43)

Bangsa apa yang dimaksud oleh Yesus? Janji Tuhan akan tetap terlaksana. Demikian juga janji Tuhan kepada Ibrahim. Ibrahim mempunyai dua orang anak, yaitu Ishak dan Ismail. Keduanya menurunkan bangsa yang besar, ialah Bangsa Israel dan Bangsa Arab. Jadi jika Kerajaan diambil dari bangsa Israel, maka akan lebih mudah masuk pada akal jika kemudian diserahkan kepada Bangsa Arab. Jadi akan masuk diakal jikBa Juru Selamat Dunia akan lahir dari Bangsa Arab, yakni keturunan Ibrahim dari garis Ismail. Apakah hal ini mungkin?

Dalam Mateus 21: 42 dan juga Mazmur 118: 22-23, kita membaca: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru; hal itu terjadi dari fihak Tuhan suatu perbuatan ajaib di mata Kita. Apakah yang dimaksud batu yang dibuang itu? Dan apakah yang dimaksud dengan batu penjuru? Atas anjuran dari Sarah: “Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya!” (Kejadian 21 : 10) maka Ibrahim lalu membuang Hagar dan Ismail. Bukankah hal itu jelas bagi kita, bahwa keturunan Ibrahim dari garis Ismail telah dibuang oleh Ibrahim sendiri sebagai tukang bangunan? Apakah batu penjuru itu? Kita tahu bahwa semua orang Islam yang bersembahyang menghadap kepada penjuru yang samas yakni Ka’bah.

Kita kembali kepada pertanyaan “Siapakah Penolong yang dijanjikan oleh Yesus yang datang sesudah beliau?”

“ dan baptislah mereka demi nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Mateus 28: 19), yang dapat kita artikan: “ dan selamatkanlah mereka demi nama Tuhan, dengan ajaran para Nabi dan lebih-lebih ajaran Nabi sesudah Yesus “

Siapakah Nabi sesudah Yesus? Ia adalah batu yang di buang oleh tukang bangunan dan sekarang menjadi batu penjuru. Ia tentu harus keturunan Ismail. Siapakah dia? Jawab-nya tidak ada dua: Muhammad! Apakah Muhammad juru selamat dunia? “Ya, pasti.”

 

Bab 4. KRISTENISASI

Bab 4.1. Arti Kristenisasi

  1. Yang dinamakan kristenisasi ialah mengkristenkan orang atau membuat seseorang memeluk agama Kristen. Arti kata-kata itu menurut istilah ialah: mengkristenkan orang secara besar-besaran dengan segala daya upaya yang mungkin agar supaya adat dan pergaulan dalam masyarakat mencerminkan ajaran agama Kristen. Masyarakat yang demikian akan lebih melancarkan tersiar luasnya agama Kristen. Akhirnya kehidupan rohani dan sosial penduduk diatur dan berpusat ke gereja.
  2. Kristenisasi tidak hanya dilancarkan terhadap orang-orang yang belum memeluk agama atau mereka yang memeluk agama animisme saja, tetapi juga ditujukan terhadap orang yang telah memeluk agama Islam. Pengkristenan dipercayai sebagai satu tugas suci yang dalam keadaan bagaimanapun tidak boleh ditinggalkan. Mengkristenkan orang dianggap sebagai membawa kembali anak-anak domba yang tersesat, dibawa kembali kepada induknya. Manusia-manusia sebagai anak domba akan dibawa kepada kerajaan Allah.
  3. Kristenisasi adalah usaha internasional, artinya mereka bermaksud menyebarkan agama Kristen ke seluruh dunia. Dapat diakui bahwa ini adalah mutlak hak asasi mereka, sebagaimana orang Muslimin-pun mempunyai tugas menyiarkan Islam ke seluruh dunia. Namun demikian memang perlu sama-sama disadari perlunya suatu garis pengamanan yang dapat menghindarkan terjadinya pergesekan dan perselisihan, sehingga masing-masing pemeluk agama tertentu tidak merasa cemas untuk dipaksa atau dibujuk atau diusahakan pindahnya kepada agama lain. Garis ini harus jelas dan ditaati terutama oleh para pemeluk agama yang telah disahkan oleh Negara Republik Indonesia seperti misalnya agama Islam dan Kristen (Masehi).
  4. Pada tanggal 30 Nopember 1967 Pemerintah mengadakan Musyawarah Antar Agama bertempat di gedung Dewan Pertimbangan Agung Jakarta, dengan maksud antara lain untuk membina saling pengertian dan saling toleransi antara pemeluk-pemeluk agama terutama Islam dan Masehi. Dalam sambutan tertulis Jenderal Suharto pada waktu itu, Pejabat Presiden Republik Indonesia, menyatakan keprihatinannya atas kenyataan bahwa penyiaran agama masih dilakukan orang terhadap mereka yang telah memeluk agama tertentu. Dijiwai oleh sambutan Pejabat Presiden itu maka pihak umat Islam mengusulkan rumusan persetujuan, yaitu: rakyat yang telah beragama jangan dijadikan sasaran penyebaran agama lain. Pihak Masehi menolak keras usul itu. Maka dicoba untuk mengadakan pertukaran pikiran dan pendekatan-pendekatan namun sia-sia, yang mengakibatkan musyawarah yang berlangsung hampir 24 jam itu tidak menghasilkan sesuatu yang kongkrit.
  5. Kristenisasi dalam pengertian politik ialah: berusaha untuk lahirnya undang-undang ataupun peraturan atau tindakan dan sikap penguasa, yang memberi kesempatan lebih banyak lagi bagi tersiarnya agama itu atau menguntungkan bagi agama itu. Apabila penyebaran dalam masyarakat telah berhasil dan dalam bidang politik berhasil pula, maka terbukalah jalan yang selebar-lebarnya untuk menjadikan keseluruhan masyarakat bernapaskan Kristen, sehingga diharapkan dengan cepat umat Kristen akan menjadi mayoritas, seperti umpamanya kejadian di Pilipina, yang sekarang ini ternyata menjadi basis perluasan ke seluruh Asia Tenggara.
  6. Usaha Kristenisasi itu dilakukan dengan segala daya, beaya peralatan yang lengkap, rencana yang masak, tehnik yang tinggi, kemauan dan kesungguhan yang mantap dan kuat, keyakinan yang mendalam serta melalui segala jalan dan saluran yang meresap dalam hampir semua aspek kehidupan manusia: sosial, budaya, ekonomi, pendidikan, politik dan segala macam hiburan.

 

Oleh
Yohannes Baptista Sariyanto Siswosoebroto

Penerbit
PERSATUAN
Jln. KHA Dahlan 103, Yogyakarta, 1977

Kompilasi ke format chm: pakdenono
download dalam bentuk seperti di:
www.pakdenono.com
atau
http://www.geocities.com/pakdenono

 

 

 

Mu’tamar Iblis dan anak buahnya (Syaiton dan Jin Kafir)

Dalam pembukaannya konferensi tsb dikatakannya: “Kita tidak dapat melarang kaum muslim ke Mesjid, Kita tidak dapat melarang mereka  membaca  Al-Qur’an  dan  mencari kebenaran, bahkan kita tidak dapat melarang  mereka  mendekatkan  diri dengan tuhan kita Allah SWT dan pembawa risalahNya  Muhammad, pada saat mereka melakukan hubungan dengan Allah SWT, maka kekuatan kita akan lumpuh.”

“Oleh  sebab  itu,  biarkanlah mereka pergi ke Masjid; biarkan mereka tetap melakukan  kesukaan mereka, tetapi curi waktu mereka, sehingga mereka tidak lagi punya waktu untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT”.

“Alihkan perhatian mereka dari usaha meningkatkan kedekatannya kepada Allah SWT  dan awasi terus kegiatannya sepanjang hari!”

“Inilah yang akan kita lakukan,” kata iblis .

Terjadi kegaduhan.., kemudian..

“Bagaimana  kami  melakukannya?”  tanya para hadirin yaitu Syaitan, dan jin Kafir.

Iblis tertawa.. kemudian memberikan “pelajaran” bagi anak buahnya..

“Sibukkan  mereka dengan hal-hal yang tidak penting dalam kehidupan mereka, dan ciptakan tipudaya untuk menyibukkan fikiran mereka,” jawab sang iblis .

“Rayu  mereka  agar  suka  BELANJA,  BELANJA  DAN  BELANJA SERTA BERHUTANG, BERHUTANG DAN BERHUTANG”.

Bujuk  para istri untuk bekerja diluar rumah sepanjang hari dan para suami bekerja  6  sampai  7  hari  dalam seminggu, 10 – 12 jam seminggu, sehingga mereka  merasa  bahwa  hidup  ini  sangat  kosong.  Jangan  biarkan  mereka menghabiskan  waktu  bersama  anak-anak  mereka. Jika keluarga mereka mulai tidak  harmonis, maka mereka akan merasa bahwa rumah bukanlah tempat mereka melepaskan  lelah sepulang dari bekerja. Dorong terus cara berfikir seperti itu sehingga mereka tidak merasa ada ketenangan dirumah.”

Kemudian  Iblis  pun  melanjutkan…  dan  anak buahnyapun mendengar dengan penuh perhatian.

“Pikat   mereka   untuk   membunyikan   radio   atau  kaset  selama  mereka berkendaraan.  Dorong  mereka  untuk  menyetel  TV,  VCD, CD dan PC dirumah sepanjang  hari. Bunyikan musik terus menerus disemua restoran maupun toko2 didunia  ini.  Tanamkan  tipu  daya  bahwa  ada  musik  yang islami seperti
“Dang-Dut  Islami” ataupun “Nada disertai Dakwah” Hal ini akan mempengaruhi fikiran mereka dan merusak hubungan mereka dengan Allah dan RasulNya bahkan sesama mereka

“Penuhi  meja-meja  rumah mereka dengan majalah-majalah dan tabloid. Cekoki mereka dengan berbagai berita dan gosip selama 24 jam sehari. Serang mereka dengan  berbagai  iklan-iklan  dijalanan. Banjiri kotak surat mereka dengan informasi tak berguna, katalog-katalog, undian-undian, tawaran-tawaran dari
berbagai macam iklan.”

“Muat  gambaran  wanita  yang  cantik itu adalah yang langsing dan berkulit mulus  dimajalah  dan  TV,  untuk  menggiring  para  suami  berfikir  bahwa PENAMPILAN  itu menjadi unsur terpenting, sehingga membuat para suami tidak tertarik lagi pada istri-istri mereka dan buatlah para istri menjadi sangat
letih  pada malam hari, buatlah mereka sering sakit kepala. Jika para istri tidak  memberikan cinta yang diinginkan sang suami, maka akan mulai mencari diluaran”.

“Hal inilah yang akan mempercepat retaknya sebuah keluarga”

“Terbitkan  buku-buku  cerita  untuk  mengalihkan  kesempatan  mereka untuk mengajarkan  anak-anak  mereka  akan makna shalat. Sibukkan mereka sehingga tidak lagi punya waktu untuk mengkaji bagaimana Allah SWT  menciptakan alam semesta.     Arahkan   mereka    ketempat-tempat   hiburan,   fitness, pertandingan-pertandingan, konser musik dan bioskop.”

“Buatlah mereka menjadi SIBUK, SIBUK DAN SIBUK.”

Salah satu Jin Kafir menginterupsi pidato Iblis tadi, Jin Kafir berkata : “Wahai  Tuanku…  Bagaimana  bila mereka berjumpa dengan orang -orang yang shaleh  yang  mewariskan ilmu dari para nabi dan mereka mengambil ilmu dari orang-orang shaleh tersebut??!!” Sela Jin Kafir.

Mendapatkan  pertanyaan  seperti  ini,  Iblis  terdiam  cukup lama.. hingga
membuat resah anak buahnya. Tetapi kemudian…

“Perhatikan,  jika  mereka  jumpa dengan orang shaleh, bisikkan gosip-gosip dan  percakapan  tidak  berarti, sehingga percakapan mereka tidak berdampak apa-apa.  Tumbuhkan  rasa  benci  di  dalam  hati mereka kepada Ulama Ahlul Hadits,  karena bila mereka telah mempercayai ulama ahlul hadits, tipu daya kita akan menjadi sia-sia”.

“Isi  kehidupan  mereka  dengan  keindahan-keindahan semu yang akan membuat mereka  tidak  punya  waktu  untuk  mengkaji  kebesaran  Allah  SWT  dengan mendatangi  majelis-majelis yang mengajarkan betapa pentingnya ilmu sebelum berkata dan beramal.”

“Dan    dengan    segera    mereka    akan   merasa   bahwa   keberhasilan, kebaikan/kesehatan keluarga adalah merupakan hasil usahanya yang kuat (bukan atas izin Allah SWT).”

“PASTI BERHASIL, PASTI BERHASIL.”

“INI ADALAH RENCANA YANG BAGUS.”

Iblis  sangat  bersemangat  dengan  pidato  yang  dia sampaikan kepada anak buahnya  tadi..  dan  Iblispun  mendapatkan  TEPUK  TANGAN meriah dari anak buahnya.  Iblis, syaitan dan jin Kafir kemudian pergi dengan penuh semangat
melakukan tugas, yaitu

“MEMBUAT  MUSLIM  MENJADI  LEBIH  SIBUK,  LEBIH  KALANG  KABUT,  DAN SENANG
HURA-HURA”.

“Dan hanya menyisakan sedikit saja waktu buat Allah SWT sang Pencipta.”

“Tidak  lagi  punya waktu untuk bersilaturahim dan saling mengingatkan akan Allah SWT dan RasulNya.

author: unknown

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 296 pengikut lainnya.