• Blog Stats

    • 38,101,969 hits
  • pacaran adalah perbuatan haram, maka janganlah berpacaran. Dan jangan mau jika diajak pacaran. Akan tetapi tempuhlah jalan yang halal jika memang benar-benar cinta dan ingin menikah. Segeralah menikah dan jangan berpacaran. ================================== dan janganlah kamu mendekati zina. sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk. [QS Al Isra':32] ==================================== JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA ====================================== Asy-Sya’bi berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah)
  • Artikel Terbaru

  • arsip artikel

  • wasiat untuk seluruh umat manusia

    kasihilah semua makhluk yang ada di muka bumi, niscaya Tuhan yang ada di atas langit akan mengasihimu.. =============================================== Cara mengasihi orang kafir diantaranya adalah dengan mengajak mereka masuk islam agar mereka selamat dari api neraka =============================================== wahai manusia, islamlah agar kalian selamat.... ======================================================
  • wasiat untuk seluruh umat islam

    ====================================== “Janganlah kamu saling dengki, saling membenci, saling mengintip rahasia, saling bersaing, saling mencari keburukan, saling menawar lebih tinggi untuk menipu pembeli sehingga menawar tinggi, saling memutuskan hubungan, saling bermusuhan, janganlah sebagian kalian menjual atas jualan yang lain. Jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang diperintahkan Allah. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh menganiaya, tidak boleh menelantarkannya dan tidak boleh menghinanya. ============================================= Taqwa ada di sini, taqwa ada di sini, taqwa ada di sini kata Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam sambil menunjuk dadanya. ================================================= Cukuplah merupakan kejelekan seseorang apabila menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain adalah haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. Hati-hatilah bersangka buruk, karena sesungguhnya bersangka buruk adalah omongan yang paling dusta. ==================================================== Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk kamu dan hartamu, tetapi ia melihat hati dan perbuatanmu.” (riwayat Muslim dan Bukhari). ==========================================
  • BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR

    BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- -------------------------------------------------------------------------------------------- Orang yang mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi janda dan orang miskin ibarat berjihad di jalan Allah dan ibarat orang shalat malam (HR. Bukhari) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain. (HR. Ahmad) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersodaqoh dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana. (HR. Ath-Thabrani) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sodaqoh. (HR. Al-Baihaqi) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Tiap-tiap amalan makruf (kebajikan) adalah sodaqoh. Sesungguhnya di antara amalan makruf ialah berjumpa kawan dengan wajah ceria (senyum) dan mengurangi isi embermu untuk diisikan ke mangkuk kawanmu. (HR. Ahmad) ------------------------------------------------------------------------------------------------------------
  • berbuat baiklah pada semua binatang, termasuk kepada anjing

    Kita tidak diperbolehkan menyiksa binatang dengan cara apa pun, atau membuatnya kelaparan, memukulinya, membebaninya dengan sesuatu yang ia tidak mampu, menyiksa atau membakarnnya. --------------------------------------------------- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Seorang wanita masuk neraka karena seekor kucing yang ia kurung hingga mati. Maka dari itu ia masuk neraka gara-gara kucing tersebut disebabkan dia tidak memberinya makan dan tidak pula memberinya minum di saat mengurung nya, dan dia tidak membiarkannya (melepaskannya) supaya memakan serangga di bumi.” (HR. al-Bukhari) ------------------------------------------------------- Dan ketika beliau melewati sarang semut yang telah dibakar, beliau bersabda, “Sesungguhnya tidak ada yang berhak menyiksa dengan api selain Rabb (Tuhan) pemilik api.” (HR. Abu Dawud, hadits shahih) ---------------------------------------------- “Barangsiapa yang tidak berbelas kasih niscaya tidak akan dibelaskasihi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) ------------------------------------------------- “Kasihanilah siapa saja yang ada di bumi ini, niscaya kalian akan dikasihani oleh yang ada di langit.” (HR. at-Tirmidzi) -------------------------------------------------- Dibolehkan membunuh hewan-hewan yang membahayakan atau mengganggu seperti anjing buas, serigala, ular, kalajengking, tikus dan lain-lain karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Ada lima macam hewan fasik (buruk) yang boleh dibunuh di waktu halal (tidak ihram) dan di waktu ihram, yaitu ular, burung gagak yang putih punggung dan perutnya, tikus, anjing buas, dan rajawali.” (HR. Muslim). Juga terdapat hadits shahih yang membolehkan untuk membunuh kalajengking. ================================================
  • JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA

    ====================================== ‘Amr bin Syarahil Asy-Sya’bi rahimahullahu berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah, 2/636. Dihasankan oleh Al-Albani dalam At-Tahrim, hal. 148) ----------------------------------------------------------------------------- Ibnu Abdil Barr rahimahullahu berkata: “Termasuk hasil usaha yang disepakati keharamannya adalah riba, upah para pelacur, sogokan (suap), mengambil upah atas meratapi (mayit), nyanyian, perdukunan, mengaku mengetahui perkara gaib dan berita langit, hasil seruling dan segala permainan batil.” (Al-Kafi hal. 191) ---------------------------------------------------------------------- Ath-Thabari rahimahullahu berkata: “Telah sepakat para ulama di berbagai negeri tentang dibenci dan terlarangnya nyanyian.” (Tafsir Al-Qurthubi, 14/56) ------------------------------------------------------------------- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “Mazhab empat imam menyatakan bahwa alat-alat musik semuanya haram.” Lalu beliau menyebutkan hadits riwayat Al-Bukhari rahimahullahu . (Majmu’ Fatawa, 11/576) --------------------------------------------------------------- ------------------------------------------
  • wasiat bagi para pemuda

    ====================================== ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Barangsiapa di antara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya mereka adalah ummat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, dan paling lurus petunjuknya, serta paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya, karena mereka berada di jalan yang lurus.” [Dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Baar dalam kitabnya Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih II/947 no. 1810, tahqiq Abul Asybal Samir az-Zuhairy] ======================================
  • wasiat Imam al-Auza’i

    ====================================== Imam al-Auza’i rahimahullah (wafat th. 157 H) mengatakan: “Bersabarlah dirimu di atas Sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para Shahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan Salafush Shalih, karena akan mencukupi kamu apa saja yang mencukupi mereka.” [Syarh Ushul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah 1/174 no. 315] --------------------------------------------------------------- Beliau rahimahullah juga berkata: “Hendaklah kamu berpegang kepada atsar Salafush Shalih meskipun orang-orang menolaknya dan jauhkanlah diri kamu dari pendapat orang meskipun ia hiasi pendapatnya dengan perkataannya yang indah.” [Imam al-Aajury dalam as-Syari’ah I/445 no. 127, di-shahih-kan oleh al-Albany dalam Mukhtashar al-‘Uluw lil Imam adz-Dzahaby hal. 138, Siyar A’laam an-Nubalaa’ VII/120] =================================================
  • Mengutip perkataan Syaikh Bin Baz rahimahullaahu

    “Zaman ini adalah zaman kelembutan, kesabaran dan hikmah, bukanlah zaman kekerasan (kebengisan). Mayoritas manusia saat ini dalam keadaan jahil (bodoh), lalai dan lebih mementingkan duniawiyah. Maka haruslah sabar dan lemah lembut sampai dakwah ini tersampaikan dan sampai mereka mengetahuinya. Kami mohon petunjuk kepada Alloh untuk semuanya.” (Majmu’ Fatawa Samahatul Imam Ibnu Bazz (Juz VIII, hal 376) dan (Juz X, hal. 91) =================================================
  • jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara

    ====================================== Segala puji hanyalah milik Alloh yang telah mempertautkan hati kaum mukminin dan menganjurkan mereka supaya bersatu padu dan saling berhimpun serta memperingatkan dari perpecahan dan perselisihan. -------------------------------------------------------- Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq untuk disembah melainkan hanyalah Alloh semata yang tidak memiliki sekutu. Dialah yang mensyariatkan dan memudahkan, dan Dia terhadap kaum mukminin adalah sangat penyantun. ------------------------------------------------------ Saya juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang diperintahkan dengan kemudahan dan berita gembira. ----------------------------------------------------- Beliau bersabda : Permudahlah dan janganlah kamu persulit, berikanlah kabar gembira dan janganlah membuat orang lari (dari kebenaran). ------------------------------------------------------ Permisalan kaum mukminin satu dengan lainnya dalam hal kasih sayang, tolong menolong dan kecintaan, bagaikan tubuh yang satu, jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan merasa demam atau terjaga” --------------------------------------------------- Tidak ragu lagi, bahwa kewajiban Ahlus Sunnah di setiap zaman dan tempat adalah saling bersatu dan menyayangi di antara mereka serta saling bekerja sama di dalam kebajikan dan ketakwaan… ==================================================---------------
  • KHUTBATUL HAJAH

    ====================================== Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, dan meminta ampun kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami, dan dari keburukan-keburukan perbuatan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah saja, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. ================================================ “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” ================================================== “Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan darinya Allah menciptakan isterinya; dan dari keduanya Allah mengembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silatur rahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” ========================================================= “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mena’ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. ============================================================ Amma ba’du; Maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad , dan seburuk-buruk perkara dalam agama adalah yang di ada-adakan, setiap yang diada-adakan (dalam urusan agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan. (HR. Muslim, an-Nasa’i dan selain keduanya) ==================================================
  • Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka (al baqarah ayat 120)

  • SALAFY & WAHABI BUKANLAH ALIRAN SESAT

    Al-Malik Abdul Aziz berkata : “Aku adalah penyeru kepada aqidah Salafush Shalih, dan aqidah Salafush Shalih adalah berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang datang dari Khulafaur Rasyidin” [Al-Wajiz Fi Siratil Malik Abdul Aziz hal.216] ------------------------------------------------------------------------------------- Beliau juga berkata : “Mereka menamakan kami Wahabiyyin, dan menamakan madzhab kami adalah madzhab wahabi yang dianggap sebagai madzhab yang baru. Ini adalah kesalahan fatal, yang timbul dari propaganda-propaganda dusta yang disebarkan oleh musuh-musuh Islam. Kami bukanlah pemilik madzhab baru atau aqidah baru. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tidak pernah mendatangkan sesuatu yang baru, aqidah kami adalah aqidah Salafush Shalih yang datang di dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang ditempuh oleh Salafush Shalih. Kami menghormati imam empat, tidak ada perbedaan di sisi kami antara para imam : Malik, Syafi’i, Ahmad dan Abu Hanifah, semuanya terhormat dalam pandangan kami” [Al-Wajiz Fi Siratil Malik Abdul Aziz, hal. 217] ---------------------------------------------------------
  • mengutip perkataan Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad hafizhahullaahu:

    “Telah terjadi di zaman ini, sibuknya sebagian ahlus sunnah dengan sebagian lainnya dengan tajrih (saling mencela) dan tahdzir, dan implikasi dari hal ini menyebabkan terjadinya perpecahan, perselisihan dan saling mengisolir. Padahal sepantasnya bahkan seharusnya bagi mereka untuk saling mencintai dan berkasih sayang terhadap sesama mereka, dan menyatukan barisan mereka di dalam menghadapi ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu yang menyelisihi ahlus sunnah wal jama’ah. ---------------------------------------------------- “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- agar menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dari perkara-perkara yang tidak bermanfaat bagi mereka, sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “diantara kebaikan seorang muslim adalah meninggalkan hal-hal yang tidak berfaidah baginya.” Hadits hasan diriwayatkan oleh Turmudzi.” ------------------------------------------------------ “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- untuk bersikap pertengahan dan moderat, diantara sikap ghuluw (ekstrim) dan meremehkan, dan diantara sikap ifrath (berlebih-lebihan) dan tafrith (menggampangkan). Sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “Jauhilah oleh kalian sikap ghuluw di dalam agama, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa dikarenakan sikap ghuluw mereka di dalam agama.” Ini hadits shahih, dikeluarkan oleh an-Nasa’i dan selainnya.” ---------------------------------------------------- “Dan aku nasehatkan supaya mereka berhati-hati dari sikap zhalim, dikarenakan hadits Qudsi, “Wahai hamba-Ku, sesunguhnya Aku haramkan kezhaliman atas diri-Ku, maka aku jadikan pula haram atas diri kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi” diriwayatkan oleh Muslim, dan hadits Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “takutlah kalian dari kezhaliman, karena sesungguhnya kezhaliman itu adalah kegelapan di hari kiamat” diriwayatkan oleh Muslim. ------------------------------------------------------ Aku memohon kepada Allah Azza wa Jalla untuk menunjuki seluruh ummat kepada apa yang diridhai-Nya, agar mereka mendalami agama Islam (tafaqquh fid din) dan menetapi kebenaran, serta agar mereka menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dan menjauhkan dari apa-apa yang tidak bermanfaat. Sesungguhnya Ia berkuasa dan berkemampuan atasnya. Semoga Sholawat dan Salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya dan para sahabatnya. (selesai kutipan) ===========================================
  • mengutip perkataan Imam Albani rahimahullaahu

    “Wajib atas kita untuk berlemah lembut di dalam dakwah kita terhadap orang-orang yang menyelisihi kita, dan jadikan selalu firman Alloh Ta’ala berikut (sebagai pegangan) dan untuk selamanya : “Serulah mereka ke jalan Rabb-mu dengan hikmah dan nasehat yang baik, serta berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.” Dan mereka yang pertama lebih berhak untuk kita terapkan hikmah ini adalah mereka yang paling memusuhi kita di dalam dasar (mabda’) dan aqidah kita, hingga kita tidak menggabungkan antara beratnya dakwah yang haq yang Alloh memperteguh kita dengannya dengan beratnya cara (ushlub) kita berdakwah kepada Alloh Azza wa Jalla” ==================================================
  • Diriwayatkan bahwa Hasan Al-banna berkata: “Kami menginginkan terbentuknya sosok individu muslim, rumah tangga Islami, bangsa yang Islami, pemerintahan yang Islami, negara yang dipimpin oleh negara-negara Islam, menyatukan perpecahan kaum muslimin dan negara mereka yang terampas, kemudian membawa bendera jihad dan da’wah kepada Allah sehingga dunia mendapatkan ketentraman dengan ajaran-ajaran Islam.” ==================================================
  • warning

    dalam blog ini mungkin terdapat hadits dhoif, riwayat yang tidak valid, salah tulis, kutipan yg tidak sesuai syariat islam, dan berbagai kesalahan2 lain, dan belum sempat di sensor, jadi mohon maaf sebesar-besarnya

KUMPULAN RIBUAN HADITS VERSI ONLINE (ada juga versi offline-nya, bisa di download)

Pendahuluan

  1. Pengertian Hadits
  2. Sanad dan Matan
  3. Mengenal Ilmu Hadits

Kembali Ke Atas


Ringkasan Shahih Bukhari

Oleh : Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Pendahuluan

  1. Kitab Permulaan Turunnya Wahyu
  2. Kitab Iman
  3. Kitab Ilmu
  4. Kitab Wudhu
  5. Kitab Mandi
  6. Kitab Haid
  7. Kitab Tayammum
  8. Kitab Shalat
    - Bab-Bab Sutrah Orang yang Shalat
  9. Kitab Waktu Shalat
  10. Kitab Azan
  11. Kitab Shalat Jumat
  12. Kitab Khauf
  13. Kitab Dua Hari Raya
  14. Kitab Witir
  15. Kitab Istisqa’
  16. Kitab Kusuf (Gerhana)
  17. Kitab Sujud Al-Qur’an (Sujud Tilawah)
  18. Kitab Shalat Qashar
  19. Kitab Tahajud
    - Bab-Bab Shalat Tathawwu’
  20. Kitab Shalat di Masjid Mekkah dan Madinah
  21. Kitab Amalan dalam Shalat
  22. Kitab Sujud Sahwi
  23. Kitab Jenazah
  24. Kitab Zakat
  25. Kitab Haji
  26. Kitab Umrah
  27. Kitab Orang yang Terhalang
  28. Kitab Mengganti Buruan
  29. Kitab Keutamaan-Keutamaan Kota Madinah
  30. Kitab Puasa
  31. Kitab Shalat Tarawih
  32. Kitab Keutamaan Lailatul Qadar
  33. Kitab I’tikaf

Kembali Ke Atas


Kumpulan Hadits dari Shahih Muslim

  1. Pendahuluan
  2. Iman
  3. Bersuci
  4. Haid
  5. Salat
  6. Mesjid Dan Lokasi Salat
  7. Salat musafir dan mengqasarnya
  8. Salat Jumat
  9. Salat Ied
  10. Salat Istisqa’ (minta hujan)
  11. Gerhana
  12. Jenazah
  13. Zakat
  14. Puasa
  15. Iktikaf
  16. Haji
  17. Nikah
  18. Penyusuan
  19. Talak
  20. Sumpah Li`an
  21. Memerdekakan Budak
  22. Jual-Beli
  23. Faraid
  24. Hibah
  25. Wasiat
  26. Nazar
  27. Sumpah
  28. Tentang Sumpah (Qosamah), Kelompok Penyamun, Kisas Dan Diyat
  29. Hudud
  30. Peradilan
  31. Barang Temuan
  32. Jihad Dan Ekspedisi
  33. Pemerintahan
  34. Hewan Buruan, Hewan Sembelihan Dan Hewan Yang Boleh Dimakan
  35. Kurban
  36. Minuman
  37. Pakaian Dan Perhiasan
  38. Adab
  39. Ucapan Salam
  40. Lapal-Lapal Kesopanan Dan Lainnya
  41. Syair
  42. Mimpi
  43. Keutamaan Beberapa Perkara
  44. Keutamaan Sahabat
  45. Kebajikan, Silaturahmi Dan Adab Sopan Santun
  46. Takdir
  47. Ilmu
  48. Zikir, Doa, Tobat Dan Istigfar
  49. Tobat
  50. Sifat Orang Munafik Dan Hukum Tentang Mereka
  51. Keadaan Hari Kiamat, Surga Dan Neraka
  52. Bentuk Kenikmatan Surga Dan Penghuninya
  53. Cobaan Dan Tanda-Tanda Hari Kiamat
  54. Zuhud Dan Kelembutan Hati
  55. Tafsir

Kembali Ke Atas


Ringkasan Syarah Arba’in An-Nawawi – Syaikh Shalih Alu Syaikh Hafizhohulloh

Oleh : Ustadz Abu Isa Abdulloh bin Salam (Staf Pengajar Ma’had Ihyaus Sunnah, Tasikmalaya)

Pengantar

  1. Ikhlas
  2. Iman, Islam Dan Ihsan
  3. Rukun Islam
  4. Nasib Manusia Telah Ditetapkan
  5. Perbuatan Bid’ah Tertolak
  6. Dalil Halal Dan Haram Telah Jelas
  7. Agama Adalah Nasehat
  8. Perintah Memerangi Manusia Yang Tidak Melaksanakan Shalat Dan Mengeluarkan Zakat
  9. Melaksanakan Perintah Sesuai Kemampuan
  10. Makanlah Dari Rezeki Yang Halal
  11. Tinggalkanlah Keragu-raguan
  12. Meninggalkan Yang Tidak Bermanfaat
  13. Mencintai Milik Orang Lain Seperti Mencintai Miliknya Sendiri
  14. Larangan Berzina, Membunuh Dan Murtad
  15. Berkata Yang Baik Atau Diam
  16. Tidak Mudah Marah
  17. Berbuat Baik Dalam Segala Urusan
  18. Setelah Melakukan Kesalahan Disusul Dengan Kebaikan
  19. Mintalah Tolong Kepada Allah
  20. Milikilah Sifat Malu
  21. Berlaku Istiqomah
  22. Melaksanakan Syari’at Islam Dengan Sebenarnya
  23. Suci Adalah Sebagian Dari Iman
  24. Larangan Berbuat Zhalim
  25. Bershadaqah Dari Kelebihan Harta
  26. Segala Macam Perbuatan Baik Adalah Shadaqah
  27. Jauhilah Perbuatan Yang Meresahkan
  28. Berpegang Kepada Sunnah Rasulullah Dan Khulafaur Rasyidin
  29. Shalat Lail Menghapuskan Dosa
  30. Patuhilah Perintah Dan Larangan Agama
  31. Jauhilah Kesenangan Dunia, Niscaya Dicintai Allah
  32. Tidak Boleh Berbuat Kerusakan
  33. Orang Yang Menuduh Wajib Menunjukkan Bukti
  34. Kewajiban Memberantas Kemungkaran
  35. Jangan Saling Mendengki
  36. Membantu Kesulitan Sesama Muslim
  37. Pahala Kebaikan Berlipat Ganda
  38. Melakukan Amal Sunnah Menjadikan Kita Wali Allah
  39. Kesalahan Yang Diampuni
  40. Hiduplah Laksana Seorang Pengembara
  41. Menundukkan Hawa Nafsu
  42. Allah Mengampuni Segala Dosa Orang Yang Tidak Berbuat Syirik

Penutup

Kembali Ke Atas


Kitab Hadits Bulughul Maram Min Adillatil Ahkam

Oleh : Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Ashqolani

  1. Kitab Thaharah
  2. Kitab Shalat
  3. Kitab Jenazah
  4. Kitab Zakat
  5. Kitab Puasa
  6. Kitab Haji
  7. Kitab Jual-Beli
  8. Kitab Nikah
  9. Kitab Pidana
  10. Kitab Hukuman
  11. Kitab Jihad
  12. Kitab Makanan
  13. Kitab Sumpah dan Nadzar
  14. Kitab Putus Perkara
  15. Kitab Budak
  16. Kitab Adab dan Kesopanan

Kembali Ke Atas


1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad)

Oleh : Dr. Muhammad Faiz Almath

  1. Seruan dan Peringatan Allah Ta’ala
  2. Perihal Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul
  3. Muhammad Rasulullah Saw
  4. Ketinggian Al-Qur’an
  5. Larangan Mencaci Sahabat-Sahabat Rasulullah Saw
  6. Perintah Berpegang Pada Ad-Diin-Nya
  7. Islam – Iman – Ihsan
  8. Keistimewaan Muslimin dan Mukminin
  9. Keutamaan Mempelajari Fiqih dan Ilmu Agama
  10. Hari Kiamat dan Hisab
  11. Surga dan Neraka
  12. Sunnah-Sunnah Yang Utama
  13. Bid’ah dan Kesesatan
  14. Maut dan Kematian
  15. Syuhada
  16. Sabda Nabi Saw Tentang Kuburan
  17. Ibadah
  18. Perintah Takut Kepada Allah
  19. Keutamaan Do’a
  20. Keutamaan Zikir
  21. Niat Pangkal Seluruh Aktifitas
  22. Wudhu
  23. Shalat
  24. Shaum / Puasa
  25. Zakat dan Sodaqoh
  26. Haji dan Umrah
  27. Kebaikan dan Kebajikan
  28. Perintah Beramar Ma’ruf Nahi Mungkar
  29. Amal Perbuatan
  30. Syukur dan Tahmid
  31. Akibat Berbuat Maksiat
  32. Keutamaan Ikhlas
  33. Keutamaan Ta’at Kepada Allah
  34. Keutamaan Takwa
  35. Taubat dan Istighfar
  36. Perihal Mesjid
  37. Yang Berhak Mendapat Syafa’at
  38. Rahmat Allah
  39. Kenikmatan
  40. Bahaya Bersumpah
  41. Fitnah
  42. Kepemimpinan, Keadilan dan Politik
  43. Hakim dan Kehakiman
  44. Jihad dan Perang
  45. Mata Pencaharian dan Hasil Kerja
  46. Harta dan Kekayaan
  47. Kemiskinan
  48. Menunaikan Amanat
  49. Muamalah (Hubungan Kemasyarakatan)
  50. Dunia dan Segala Isinya
  51. Jaman
  52. Ilmu Pengetahuan dan Kebodohan
  53. Halal dan Haram
  54. Pergaulan
  55. Perkawinan
  56. Wanita
  57. Ayah – Ibu – Anak – Keluarga
  58. Tetangga
  59. Pembantu Rumah Tangga dan Para Budak
  60. Anak Yatim
  61. Akhlak
  62. Akhlak yang Buruk
  63. Adab
  64. Sabar
  65. Tolong-Menolong
  66. Benar dan Dusta
  67. Murah Hati – Boros – Kikir
  68. Keberanian dan Ketakutan
  69. Zuhud dan Tamak
  70. Kezaliman
  71. Riya dan Nifak
  72. Hasud dan Ketajaman Mata
  73. Cinta dan Benci
  74. Kesombongan
  75. Perzinaan
  76. Pembicaraan dan Ucapan
  77. Ujian dan Cobaan
  78. Perjalanan
  79. Kebersihan
  80. Makanan dan Minuman
  81. Persoalan-Persoalan Pribadi
  82. Pengobatan dan Penyakit
  83. Dukun dan Peramal
  84. Hewan

Kembali Ke Atas


Sejarah Singkat Beberapa Ahli Hadits

  1. Sejarah Singkat Imam Malik
  2. Sejarah Singkat Imam Hanafi
  3. Sejarah Singkat Imam Syafi’i
  4. Sejarah Singkat Imam Hanbali
  5. Sejarah Singkat Imam Bukhari
  6. Sejarah Singkat Imam Muslim
  7. Sejarah Singkat Imam Tirmizi
  8. Sejarah Singkat Imam Al Baihaqi
  9. Sejarah Singkat Imam An-Nawawi
  10. Sejarah Singkat Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Kembali Ke Atas


Artikel-Artikel Tentang Hadits

  1. As-Sunnah, Wahyu Kedua Setelah Al-Qur`an
  2. Kewajiban Mengikuti Syari’at dan Larangan Melakukan Bid‘ah
  3. Hadits Hudzaifah Rodhiallohu Ta’ala ‘Anhu
  4. Fiqih Islam
  5. Fiqih Nasehat
  6. Syarah Hadits Wali
  7. Sekilas Tentang Kitab Riyadhus Shalihin
  8. Sunnah dan Bid’ah
  9. Beriman dan Istiqomah
  10. Kewajiban Mengikuti Sunnah
  11. Menjadi Orang Asing di Dunia
  12. Meraih Ampunan Alloh
  13. Penyakit Riya’ dan Gila Popularitas
  14. Keutamaan Orang yang Mengetahui dan Mengajar
  15. Hadits Shahih tidak mungkin bertentangan dengan Al-Qur’an
  16. Luasnya Kekuasaan Allah Dan Ampunan-Nya
  17. Muraqabah Allah (Merasa Selalu Diawasi Allah)
  18. Interakasi Seorang Hamba Terhadap Rabb, Dirinya Dan Orang Lain
  19. Hukum Bid’ah
  20. Bahaya Hadits Dla’if Dan Mawdlu’ (Palsu)
  21. Beberapa Hadits Dla’if Dan Palsu Seputar Puasa Ramadhan
  22. Berhujjah Dengan Hadits Ahad (Khabar Al-Wahid)
  23. Berhujjah Dengan Hadits Dla’if
  24. Hadits Hasan
  25. Hadits Qudsiy
  26. Silsilah Hadits-Hadits Dla’if Pilihan-1
  27. Silsilah Hadits-Hadits Dla’if Pilihan-2
  28. Silsilah Hadits-Hadits Dla’if Pilihan-3
  29. Silsilah Hadits-Hadits Dla’if Pilihan-4
  30. Silsilah Hadits-Hadits Dla’if Pilihan-5
  31. Silsilah Hadits-Hadits Dla’if Pilihan-6
  32. Silsilah Hadits-Hadits Dla’if Pilihan-7
  33. Silsilah Hadits-Hadits Dla’if Pilihan-8
  34. Silsilah Hadits-Hadits Masyhur-1
  35. Silsilah Hadits-Hadits Masyhur-2
  36. Silsilah Hadits-Hadits Masyhur-3
  37. Silsilah Hadits-Hadits Masyhur-4
  38. Silsilah Hadits-Hadits Masyhur-5
  39. Silsilah Hadits-Hadits Masyhur-6
  40. Silsilah Hadits-Hadits Masyhur-7
  41. Silsilah Hadits-Hadits Masyhur-8
  42. Silsilah Hadits-Hadits Masyhur-9
  43. Silsilah Hadits-Hadits Masyhur-10
  44. Silsilah Hadits-Hadits Masyhur-11
  45. Silsilah Hadits-Hadits Masyhur-12
  46. Silsilah Hadits-Hadits Masyhur-13
  47. Yang Perlu Anda Ketahui Dari Hadits-1
  48. Yang Perlu Anda Ketahui Dari Hadits-2
  49. Yang Perlu Anda Ketahui Dari Hadits-3
  50. Yang Perlu Anda Ketahui Dari Hadits-4
  51. Yang Perlu Anda Ketahui Dari Hadits-5
  52. Yang Perlu Anda Ketahui Dari Hadits-6
  53. Yang Perlu Anda Ketahui Dari Hadits-7
  54. Yang Perlu Anda Ketahui Dari Hadits-8
  55. Yang Perlu Anda Ketahui Dari Hadits-9

Kembali Ke Atas


HaditsWeb disusun oleh Sofyan Efendi sejak tanggal 27 Maret 2006

Please visit Sofyan Efendi’s Profile

email: sofyan@madinah.cc

http://opi.110mb.com/

Last Update : 28 Agustus 2009

Kumpulan hadis tentang Zakat dan Sodaqoh

Kumpulan hadis tentang Zakat dan Sodaqoh

1. Bersodaqoh pahalanya sepuluh, memberi hutang (tanpa bunga) pahalanya delapan belas, menghubungkan diri dengan kawan-kawan pahalanya dua puluh dan silaturrahmi (dengan keluarga) pahalanya dua puluh empat. (HR. Al Hakim)

2. Yang dapat menolak takdir ialah doa dan yang dapat memperpanjang umur yakni kebajikan (amal bakti). (HR. Ath-Thahawi)

3. Apabila anak Adam wafat putuslah amalnya kecuali tiga hal yaitu sodaqoh jariyah, pengajaran dan penyebaran ilmu yang dimanfaatkannya untuk orang lain, dan anak (baik laki-laki maupun perempuan) yang mendoakannya. (HR. Muslim)

4. Allah Tabaraka wata’ala berfirman (di dalam hadits Qudsi): “Hai anak Adam, infaklah (nafkahkanlah hartamu), niscaya Aku memberikan nafkah kepadamu.” (HR. Muslim)

5. Orang yang mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi janda dan orang miskin ibarat berjihad di jalan Allah dan ibarat orang shalat malam. Ia tidak merasa lelah dan ia juga ibarat orang berpuasa yang tidak pernah berbuka. (HR. Bukhari)

6. Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah Saw, “Sodaqoh yang bagaimana yang paling besar pahalanya?” Nabi Saw menjawab, “Saat kamu bersodaqoh hendaklah kamu sehat dan dalam kondisi pelit (mengekang) dan saat kamu takut melarat tetapi mengharap kaya. Jangan ditunda sehingga rohmu di tenggorokan baru kamu berkata untuk Fulan sekian dan untuk Fulan sekian.” (HR. Bukhari)

7. Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain. (HR. Ahmad)

8. Jauhkan dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan (sodaqoh) sebutir kurma. (Mutafaq’alaih)

9. Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sodaqoh. (HR. Al-Baihaqi)

10. Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersodaqoh dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana. (HR. Ath-Thabrani)

11. Tiada seorang bersodaqoh dengan baik kecuali Allah memelihara kelangsungan warisannya. (HR. Ahmad)

12. Naungan bagi seorang mukmin pada hari kiamat adalah sodaqohnya. (HR. Ahmad)

13. Tiap muslim wajib bersodaqoh. Para sahabat bertanya, “Bagaimana kalau dia tidak memiliki sesuatu?” Nabi Saw menjawab, “Bekerja dengan ketrampilan tangannya untuk kemanfaatan bagi dirinya lalu bersodaqoh.” Mereka bertanya lagi. Bagaimana kalau dia tidak mampu?” Nabi menjawab: “Menolong orang yang membutuhkan yang sedang teraniaya” Mereka bertanya: “Bagaimana kalau dia tidak melakukannya?” Nabi menjawab: “Menyuruh berbuat ma’ruf.” Mereka bertanya: “Bagaimana kalau dia tidak melakukannya?” Nabi Saw menjawab, “Mencegah diri dari berbuat kejahatan itulah sodaqoh.” (HR. Bukhari dan Muslim)

14. Apa yang kamu nafkahkan dengan tujuan keridhoan Allah akan diberi pahala walaupun hanya sesuap makanan ke mulut isterimu. (HR. Bukhari)

15. Sodaqoh paling afdhol ialah yang diberikan kepada keluarga dekat yang bersikap memusuhi. (HR. Ath-Thabrani dan Abu Dawud)

16. Satu dirham memacu dan mendahului seratus ribu dirham. Para sahabat bertanya, “Bagaimana itu?” Nabi Saw menjawab, “Seorang memiliki (hanya) dua dirham. Dia mengambil satu dirham dan bersodaqoh dengannya (berarti sedekah dgn 50% hartanya), dan seorang lagi memiliki harta-benda yang banyak, dia mengambil seratus ribu dirham untuk disodaqohkannya (mungkin hanya sedekah dgn 10% hartanya). (HR. An-Nasaa’i)

17. Orang yang membatalkan pemberian (atau meminta kembali) sodaqohnya seperti anjing yang makan kembali muntahannya. (HR. Bukhari)

18. Barangsiapa diberi Allah harta dan tidak menunaikan zakatnya kelak pada hari kiamat dia akan dibayang-bayangi dengan seekor ular bermata satu di tengah dan punya dua lidah yang melilitnya. Ular itu mencengkeram kedua rahangnya seraya berkata, “Aku hartamu, aku pusaka simpananmu.” Kemudian nabi Saw membaca firman Allah surat Ali Imran ayat 180: “Dan janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi.” (HR. Bukhari)

19. Tiada suatu kaum menolak mengeluarkan zakat melainkan Allah menimpa mereka dengan paceklik (kemarau panjang dan kegagalan panen). (HR. Ath-Thabrani)

20. Barangsiapa memperoleh keuntungan harta (maka) tidak wajib zakat sampai tibanya perputaran tahun bagi pemiliknya. (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Penjelasan:
Perhitungan perputaran tahun (haul) untuk menunaikan zakat ialah dengan tahun Hijriyah.

21. Tentang sodaqoh yang seakan-akan berupa hadiah, Rasulullah Saw bersabda: “Baginya sodaqoh dan bagi kami itu adalah hadiah.” (HR. Bukhari)

22. Allah Ta’ala mengharamkan bagiku dan bagi keluarga rumah tanggaku untuk menerima sodaqoh. (HR. Ibnu Saad)

Penjelasan:
Nabi Saw menolak menerima sodaqoh untuk dirinya dan keluarganya, tetapi mau menerima hadiah.

23. Tidak ada iri hati kecuali terhadap dua perkara, yakni seorang yang diberi Allah harta lalu dia belanjakan pada sasaran yang benar, dan seorang diberi Allah ilmu dan kebijaksaan lalu dia melaksanakan dan mengajarkannya. (HR. Bukhari)

24. Allah mengkhususkan pemberian kenikmatanNya kepada kaum-kaum tertentu untuk kemaslahatan umat manusia. Apabila mereka membelanjakannya (menggunakannya) untuk kepentingan manusia maka Allah akan melestarikannya namun bila tidak, maka Allah akan mencabut kenikmatan itu dan menyerahkannya kepada orang lain. (HR. Ath-Thabrani dan Abu Dawud)

25. Abu Dzarr Ra berkata bahwa beberapa sahabat Rasulullah Saw berkata, “Ya Rasulullah, orang-orang yang banyak hartanya memperoleh lebih banyak pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat dan berpuasa sebagaimana kami berpuasa dan mereka bisa bersedekah dengan kelebihan harta mereka.” Nabi Saw lalu berkata, “Bukankah Allah telah memberimu apa yang dapat kamu sedekahkan? Tiap-tiap ucapan tasbih adalah sodaqoh, takbir sodaqoh, tahmid sodaqoh, tahlil sodaqoh, amar makruf sodaqoh, nahi mungkar sodaqoh, bersenggama dengan isteri pun sodaqoh.” Para sahabat lalu bertanya, “Apakah melampiaskan syahwat mendapat pahala?” Nabi menjawab, “Tidakkah kamu mengerti bahwa kalau dilampiaskannya di tempat yang haram bukankah itu berdosa? Begitu pula kalau syahwat diletakkan di tempat halal, maka dia memperoleh pahala. (HR. Muslim)

26. Tiap-tiap amalan makruf (kebajikan) adalah sodaqoh. Sesungguhnya di antara amalan makruf ialah berjumpa kawan dengan wajah ceria (senyum) dan mengurangi isi embermu untuk diisikan ke mangkuk kawanmu. (HR. Ahmad)

Sumber: 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) – Dr. Muhammad Faiz Almath – Gema Insani Press
(hadits-hadits diatas derajatnya belum tentu sahih, kecuali yang diriwayatkan bukhari/muslim)

CONTOH HADITS MAUDHU’ (HADIS PALSU)

CONTOH HADITS MAUDHU’

Hadits maudhu’ (palsu):

“Sesungguhnya Allah menggenggam segenggam dari cahaya-Nya, lalu berfirman kepadanya, ‘Jadilah Muhammad’.”

Hadits maudhu’:

“Wahai Jabir, bahwa yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah cahaya Nabimu.”

Hadits tidak ada sumber asalnya:

“Bertawassullah dengan martabat dan kedudukanku.”

Hadits maudhu’. Demikian menurut AI-Hafizh Adz-Dzahabi:

“Barangsiapa yang menunaikan haji kemudian tidak berziarah kepadaku, maka dia telah bersikap kasar kepadaku.”

Hadits tidak ada sumber asalnya. Demikian menurut Al-Hafizh Al-‘lraqi.

“Pembicaraan di masjid memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.”

Hadits maudhu’. Demikian menurut AI-Ashfahani:

“Cinta tanah air adalah sebagian daripada iman.”

Hadits maudhu’, tidak ada sumber asalnya:

“Berpegang teguhlah kamu dengan agama orang-orang lemah.”

Hadits tidak ada sumber asalnya:

“Barangsiapa yang mengetahui dirinya, maka dia telah menge-tahui Tuhannya.”

Hadis tidak ada asal sumbernya:

“Aku adalah harta yang tersembunyi.”

Hadits maudhu’:

“Ketika Adam melakukan kesalahan, ia berkata, ‘Wahai Tuhan-ku, aku memohon kepadaMu dengan hak Muhammad agar Eng-kau mengampuni padaku.”

Hadits maudhu’:

“Semua manusia (dalam keadaan) mati kecuali para ulama. Semua ulama binasa kecuali mereka yang mengamalkan (Ilmunya). Semua orang yang mengamalkan ilmunya tenggelam, kecuali me-reka yang ikhlas. Dan orang-orang yang ikhlas itu berada dalam bahaya yang besar.”

Hadits maudhu’. Lihat Silsilatul Ahaadits Adh-Dha’iifah, hadits no. 58:

“Para sahabatku laksana bintang-bintang. Siapa pun dari mere-ka yang engkau teladani, niscaya engkau akan mendapat petun-juk.”

Hadits batil. Lihat Silsilatul Ahaadits Adh-Dhaiifah, no. 87:

“Jika khatib telah naik mimbar, maka tak ada lagi shalat dan perbincangan.”

Hadits batil. Ibnu AI-Jauzi memasukkannya dalam kelompok hadits-hadits maudhu’:

“Carilah Ilmu meskipun (sampai) di negeri Cina.”

AL FIRQOTUN NAAJIYAH

JALAN GOLONGAN YANG SELAMAT

Syaikh Muhammad Jamil Zainu

Hadis-hadis Populer yang sanadnya dla’if

1. Carilah ilmu meskipun sampai di negeri Cina, karena sesungguhnya mencari ilmu adalah kewajiban atas setiap orang muslim

Hadis ini palsu. Al-Maudlu’at, Ibnu al-Jauzi, 1:215; Tartib al-Maudlu’at, adz-Dzahabi, 111; al-Fawaid al-Majmu’ah, 852; Kasyful Khafa’, al-Ajluni, 1:139.

2. Beramallah untuk duniamu seolah-olah kau akan hidup selamanya, dan berbuatlah untuk akhiratmu seolah-olah kau akan mati besok

al-Albani mengatakan; Tidak benar kalau hadis ini marfu’, maksudnya tidak benar kalau hadis ini berasa dari Nabi saw. adl-Dla’ifah:8

3. Sesungguhnya Abdurrahman bin Auf masuk sorga dengan merangkak

Hadis ini palsu, al-manar al-Munif, Ibnu al-Qayyim, 306; al-Fawaid al-Majmu’ah, asy-Syaukani, 1184;

4. Sesungguhnya segala sesuatu memiliki hati, dan sesung-guhnya hatinya Al-Qur’an adalah surat Yasin, barang siapa membaca surat Yasin, maka seolah-olah ia telah membaca Alqur’an 10 kali.

Hadis ini maudlu’. Al-Ilal Ibnu Abi Hatim, 2:55; adl-Dla’ifah, 169.

5. Menikahlah kalian dan jangan kalian bercerai, karena perceraian itu akan menggoncangkan arsy

Hadis ini maudlu’. Tartib al-Maudlu’at, 694; al-Maudlu’at, ash-Shaghani, 97; Tanzih asy-Syari’ah, 2:202.

6. Cinta tanah air sebagian dari iman

Hadis ini tidak ada asalnya, adl-Dla’ifah, 36; Kasyf al-Khafa’, 1102; al-Mashnu’, Ali al-Qari, 1:91.

7. Hikmah (ilmu pengetahuan) itu adalah barang hilang dari seorang yang hakim (bijaksana), maka apabila ia mendapatkannya maka ia adalah orang yang lebih berhak terhadapnya.

Hadis ini Dla’if. al-’Ilal al-Mutanahiyah, Ibnu al-Jauzi, 1:96; Sunan at-Tirmidzi, 5:51

8. Kami pulang dari jihad ashghar (jihad kecil) menuju jihad akbar (jihad besar). Para sahabat bertanya, apakah jihad akbar itu. Rasul saw bersabda; Jihad hati

Hadis ini tidak ada asalnya, al-Asrar al-Marfu’ah, 211; Tadzkiratu al-Maudlu’at, al-Futni, 191, Kasyf al-Khafa’, 1:511

9. Berpuasalah niscaya kau akan sehat

Hadis ini dla’if. Takhrij al-Ihya’, 3:87; Tadzkirah al-Maudlu’at, 70; al-Maudlu’at, ash-Shaghani, 72.

10. Berpikir sesaat lebih baik daripada beribadah enam puluh tahun

Hadis ini maudlu’. Tanzih asy-Syari’ah, 2:305; al-Fawa’id al-Majmu’ah, 723; Tartib al-Maudlu’at, 964.

 

11. Kalau bukan karena kamu (Nabi Muhammad saw) niscaya idak aku ciptakan dunia

Hadis maudlu’. Al-Lu’lu’ al-Marshu’, al-Musyaisyi, 454; Tartib al-Maudlu’at, 196; adl-Dla’ifah, 282.

12. Barangsiapa yang mengenal dirinya maka ia telah mengenal tuhannya

Hadis ini maudlu’, al-Asrar al-Marfu’ah, 506. Tanzih asy-Syari’ah, 2:402; Tadzkirat al-Maudlu’at,11

13. Barangsiapa tidur setelah shalat ashar maka akalnya akan terampas, maka janganlah mencaci kecuali kepada dirinya sendiri

Hadis ini disebutkan oleh Ibnu al-Jauzi di dalam maudlu’at, 3:69, as-Suyuthi menyebutkan di dalam al-La’ali’ al-Mashnu’ah, adz-Dzahabi menyebutkan di dalam Tartib al-Maudlu’at, 839.

14. Pandangan (kepada wanita yang bukan mahram) itu adalah salah satu anak panah iblis, barangsiapa yang meninggakan pandangan karena takut kepada Allah maka Alah akan mendatangkan kepadanya iman yang ia rasakan manisnya di dalam hatinya

Hadis ini dla’if sekali. At-Tarhib wa at-Targhib, al-Mundziri, 4:106; Majma’ az-Zawa’id, al-Haitsami, 8:63; Talkhish al-Mustadrak, adz-Dzahabi, 4;314.

15. Barang halal yang peling dibenci Allah adalah talaq (perceraian)

Hadis ini dla’if (lemah), al-Ilal al-Mutanahiyah. Ibnu al-Jauzi, 2:1056; adz-Dzakhirah,1:23

16. Perbedaan pendapat di kalangan ummatku adalah rahmat

Hadis ini Maudlu’. Al-Asrar al-Marfu’ah, 506; Tanzih asy-Syari’ah, 2:402. Al-Albani mengatakan; hadis ini tidak ada asalnya, adl-Dla’ifah, 57.

17. Adzan dan iqamah di telinga anak yang baru lahir

Hadis ini dla’if sekali. Bayan al-Wahm, Ibnu al-Qaththan, 4:594; al-Majruhin, Ibnu Hibban, 2:128; adl-Dla’ifah, 1:494

18. Sahabat-sahabatku bagaikan bintang-bintang, kepada siapa saja kalian mencontoh maka kalian akan mendapat petunjuk. Dalam riwayat lain dengan teks, Sasungguhnya sahabat-sahabatku seperti bintang-bintang, maka dari siapa saja kalian ambil kata-katanya maka kalian akan mendapat petunjuk

Ibnu Hazm berkata; Ini adalah khabar yang dusta, palsu, bathil dan sama sekali tidak benar. Al-Ihkam fi Ushuli al-Ahkam, 5:64; dan 6:82; Al-Albani mengatakan; Hadis ini maudlu’ (palsu), adl-Dla’ifah, 66; Lihat juga Jami’ Bayan al-Ulum wa Fadl-luhu, Ibnu Abdul Barr, 2:91

Hadis-hadis Populer yang sanadnya dla’if

penulis: Ihsan al-‘Utaibi

“Perselisihan diantara umatku adalah rahmat.” ADALAH HADIS DHAIF (LEMAH)

Diambil dari mailing list assunnah@yahoogroups.com

Message: 3        
   Date: Mon, 27 Jun 2005 15:04:12 +0700
   From: “Moch. Nur Cholis” <Moch.NurCholis@saipem.co.id>
Subject: RE: minta penjelasan Hadist

Semoga artikel dibawah bermanfaat, amin.

Hadist No. 57

“Perselisihan diantara umatku adalah rahmat.”

Hadits ini tidak ada sumbernya. Para pakar hadits telah berusaha mendapatkan sumbernya dengan meneliti dan menelusuri sanadnya, namun
tidak menemukannya. As-Subuki mengatakan “Hadits tersebut tidak dikenal di kalangan para pakar hadits dan sayapun tidak menjumpai sanadnya yang sahih, dha’if ataupun maudhu’. Pernyataan itu ditegaskan dan disepakati Syeikh Zakaria Al-Anshari dalam mengomentari tafsir Al-Baidhawi II/92.
Disitu ia mengatakan “Dari segi maknanya terasa sangat aneh dan menyalahi apa yang diketahui para ulama peneliti.” Ibnu Hazem dalam kitab Al-Ahkam fi Ushulil Ahkam V/64 menyatakan, “Ini bukan hadits.” Barangkali ini termasuk sederetan ucapan yang paling merusak dan membawa
bencana. Bila perselisihan dan pertentangan itu merupakan rahmat, pastilah kesepakatan dan kerukunan itu merupakan kutukan. Ini tidak
mungkin akan diucapkan apalagi diyakini oleh kaum muslim yang berpikir tenang dan teliti. Masalahnya hanya dua alternatif, yaitu bersepakat
atau berselisih, yang berarti pula rahmat atau kutukan (kemurkaan).
Menurut saya, kata-kata ini akan berdampak negatif bagi umat Islam dari masa ke masa. Perselisihan yang disebabkan perbedaan antar mazhab
benar-benar telah mencapai klimaksnya, bahkan para pengikut mazhab yang fanatik tidak segan-segannya mengkafirkan pengikut mazhab lain. Anehnya, jangankan para pengikut mazhab, para pemimpin atau para ulamanyapun yang mengetahui syariat dan ajaran Islam tidak seorangpun yang berusaha kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah Nabawiyah yang sahih. Padalah itulah yang diperintahkan oleh para imam mazhab yang mereka ikuti.
Imam-iman yang menjadi panutan mereka itu telah dengan tegas berpegang hanya pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, ijma dan qiyas. Karena itulah para
imam dengan tegas pula menyatakan secara bersama, “Bila hadits itu sahih, maka itulah mazhabku. Dan bila ijtihad atau pendapatku bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah yang sahih, ikutilah A-Qur’an dan Sunnah serta campakkanlah ijtihad dan pendapatku. Itulah mereka. Ulama kita dewasa ini kendatipun mengetahui dengan pasti bahwa perselisihan dan perbedaan tidak mungkin dapat disatukan kecuali dengan mengembalikan kepada sumber dalilnya, menolak yang menyalahi dalil dan menerima yang sesuai dengannya, namun tak mereka lakukan. Dengan demikian, mereka telah menyandarkan perselisihan dan pertentangan ada dalam syariat. Barangkali ini saja sudah cukup menjadi bukti bahwa itu bukan datang dari Allah SWT, kalau saja mereka itu mau benar-benar mengkaji dan mempelajari Al-Qur’an serta mencamkan firman Allah SWT dalam surat An-Nisa ayat 82, yang artinya : “…. Kalau sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (An-Nisa’ : 82).
Ayat tersebut menerangkan dengan tegas bahwa perselisihan dan perbedaan bukanlah dari Allah SWT. Kalau demikain bagaimana mungkin perselisihan itu merupakan ajaran atau syariat yang wajib diikuti apalagi merupakan suatu rahmat yang diturunkan Allah SWT? La haula wala quwwata illa billah!
Karena adanya ucapan itulah, banyak umat Islam setelah masa para imam – khususnya dewasa ini – terus berselisih dan berbeda pendapat dalam
banyak hal yang menyangkut segi akidah dan amaliah. Kalau saja mereka mau mengenali dan mencari tahu bahwa perselisihan itu buruk dan dikecam
Al-Qur’an dan Sunnah pastilah mereka akan segera kembali ke persatuan dan kesatuan.
Ringkasnya perselisihan dan pertentangan itu dikecam oleh syariat dan yang wajib adalah berusaha semaksimal mungkin untuk meniadakan dan
menjauhkannya dari umat Islam sebab hal itu menjadi penyebab utama melemahnya umat Islam seperti yang difirmankan Allah SWT : “Dan taatlah
kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu…….” (Al-Anfal : 46).
Adapun merasa rela terhadap perselisihan dan menamakannya sebagai rahmat jelas sekali menyalahi Al-Qur’an dan hadits-hadits sahih. Dan nyatanya
ia tidak mempunyai dasar kecuali ucapan diatas yang tidak bersumber dari Rasulullah SAW.
Barangkali muncul pertanyaan : para sahat Rasulullah SAW telah berselisih pendapat, padahal mereka adalah seutama-utamanya manusia.
Lalu apakah mereka juga termasuk yang dikecam Al-Qur’an dan Sunnah? Pertanyaan semacam itu dijawab oleh Ibnu Hazem : Tidak! Sama sekali
tidak! Mereka tidak termasuk yang dikecam Al-Qur’an dan Sunnah sebab mereka masing-masing benar-benar mencari mardhatillah dan demi untuk-Nya semata. Diantara mereka ada yang mendapat satu pahala karena niat yang baik dan kehendak demi kebaikan. Sungguh telah ditiadakan dosa atas
mereka karena kesalahan yang telah mereka lakukan. Mengapa? Karena mereka tidak sengaja dan tidak bermaksud (berselisih) dan tidak pula
meremehkan dalam mencari (kebenaran). Bagi mereka yang mendapat kebenaran baginya dua pahala. Begitulah umat Islam hingga hari kiamat nanti.
Adapun kecaman dan ancaman yang ada dalam Al-Qur’an dan Sunnah ditujukan bagi mereka yang dengan sengaja meninggalkan Al-Qur’an dan Sunnah setelah keduanya sampai di telinga mereka dan adanya dalil-dalil yang nyata di hadapan mereka serta kepada mereka yang menyandarkan pada si Fulan dan si Fulan, bertaklid dengan sengaja demi satu ikhtilaf, mengajak pada fanatisme sempit ala jahiliyah demi menyuburkan firqah.
Mereka sengaja menolak Al-Qur’an dan Sunnah Nabawiyah. Kecaman dan ancaman tadi khusus untuk mereka yang bila isi Al-Qur’an dan Sunnah
sesuai dengan hawa nafsu dan keinginannya lalu mereka ikuti; tetapi bila tidak sesuai, mereka kembali pada ashabiyah jahiliyahnya. Karena itu, berhati-hati dan waspadalah terhadap semua itu bila Anda mengharapkan keselamatan dan kesuksesan pada hari yang tiada guna harta dan keturunan kecuali orang-orang yang menghadap Allah SWT dengan hati bersih. (Lihat Al-Ihkam fi Ushulil-Ahkam V/67-68).

[Diambil dari SILSILAH HADITS DHA'IF DAN MAUDHU' JILID 1, Oleh Muhammad Nashiruddin Al-Albani]

DAYA RUSAK SEBUAH HADITS PALSU

DAYA RUSAK SEBUAH HADITS PALSU

Berkata sebagian kaum Muslimin : “Biarkanlah keragaman pendapat yang ada di tubuh kaum Muslimin tentang agama mereka tumbuh subur dan berkembang, asalkan setiap perselisihan dibawa ketempat yang sejuk.” Alasan mereka didasarkan pada sebuah hadits yang selalu mereka ulang-ulang dalam setiap kesempatan, yaitu hadits: Perbedaan pendapat pada umatku adalah rahmat Benarkah ungkapan ini? benarkah Rasulullah mengucapkan hadits tersebut?

Apa kata Muhadditsin tentang hadits tersebut??

Syaikh Al-Albani rahimahulah berkata: “Hadits tersebut tidak ada asalnya”. [Adh-Dha’ifah :II \ 76-85]

Imam As-Subki berkata: “Hadits ini tidak dikenal oleh ahli hadits dan saya belum mendapatkannya baik dengan sanad shahih, dha’if (lemah), maupun maudhu (palsu).”

Syaikh Ali-hasan Al-Halaby Al-Atsari berkata: “ini adalah hadits bathil dan kebohongan.” [Ushul Al-Bida’]

Dan dari sisi makna hadits ini disalahkan oleh para ulama.

Al-‘Alamah Ibnu Hazm berkata dalam Al-Ahkam Fii Ushuli Ahkam (5/64) setelah menjelaskan bahwa ini bukan hadits: “Dan ini adalah perkataan yang paling rusak, sebab jika perselisihan itu adalah rahmat, maka berarti persatuan adalah adzhab. Ini tidak mungkin dikatakan oleh seorang muslim, karena tidak akan berkumpul antara persatuan dan perselisihan, rahmat dan adzhab.”

Bagaimanakah daya rusak hadits palsu tersebut terhadap Islam ??

1. Mengekalkan perpecahan dalam Islam

Tidak ragu lagi bahwa hadits tersebut adalah tikaman para pembawanya bagi persatuan Islam yang haqiqi. Ketika para pembawa panji-panji sunnah menyeru umat kepada persatuan Aqidah dan Manhaj (jalan/metode) yang shahih. Tiba-tiba muncul orang-orang yang mengaku mengajak kepada persatuan Islam dengan berkata: “Biarkanlah kaum muslimin dengan keyakinannya masing-masing , biarkanlah kaum muslimin dengan metodenya masing-masing dalam berjalan menuju Allah, janganlah memaksakan perselisihan yang ada harus seragam dengan keyakinan dan pola pikir orang-orang arab padang pasir 15 abad yang lalu. Karena Rasulullah shallallahu’alihi wasallam bersabda: ” perselisihan pendapat pada umatku adalah rahmat.”

Allahu Akbar…!! Alangkah kejinya ungkapan tersebut dan banyak lagi perkataan yang semisalnya yang mengakibatkan kaum muslimin abadi di dalam aqidah dan manhaj yang berbeda. Padahal ayat-ayat dalam Al-Qur’an melarang berselisih pendapat dalam urusan agama dan menyuruh bersatu. Seperti Firman Allah dalam:

Ų Surat Al-Anfal ayat 46 yang artinya; “Jangan kamu berselisih, karena kamu akan menjadi lemah dan hilang kewibawaan kamu.”

Ų Surat Ar-Rum ayat 31-32: ” Jangan kamu seperti orang-orang yang musyrik, yaitu mereka mencerai-beraikan agamanya dan bergolong-golongan. Dan setiap golongan berbangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.”

Ų Surat Hud ayat: 118-119: ” Mereka terus-menerus berselisih kecuali orang yang mendapatkan rahmat dari Tuhanmu.”

Dan kita diperintah Allah Subhanahuwata’ala untuk bersatu dalam Aqidah dan manhaj diatas Aqidah dan Manhajnya Rasulullah dan para sahabatnya. Sebagaimana Firman Allah Subhhanahu wata’ala dalam surat Al-An’am ayat: 153 yang artinya: “Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.” Dan kita diperintahkan Allah untuk merujuk bersama kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah ketika terjadi perselisihan, bukannya membiarkan perselisihan aqidah dan hal-hal yang pokok dalam agama meradang di tengah ummat dengan dalih sepotong hadist palsu. Firman-Nya dalan surat An-Nisa’ ayat 59 yang artinya: ” Jika kamu berselisih pendapat maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.”

2. Kaum muslimin tidak lagi menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagi sandaran kebenaran dan hakim

Syaikh Al-Albani berkata: “Diantara dampak buruk hadits ini adalah banyak kaum muslimin yang mengakui terjadinya perselisihan sengit yang terjadi diantara 4 madzab dan tidak pernah sama sekali berupaya untuk mengembalikannya kepada Al-Qu’an dan Al-Hadits.” [Adh-Dha’ifah: I/76]

Allah berfirman menceritakan Nabi-Nya Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam ketika mengadu kepada-Nya: “Berkatalah rasul: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini suatu yang tidak diacuhkan.” [QS. Al-Furqan:30]. Sungguh hal itu terulang kembali di zaman ini dikarenakan hadist palsu yang menggerogoti ummat.

3. Umat islam tidak lagi menjadi umat terbaik yang jaya di atas umat yang lainnya.

ini dikarenakan hadits palsu tersebut menjadi dinding bagi seorang muslim untuk beramar ma’ruf nahi mungkar, seorang muslim tidak lagi menegur saudaranya yang berbuat salah dalam syirik, kekufuran, dan bid’ah serta maksiat disebabkan meyakini hadits palsu tersebut. Karena mereka menganggap semua itu sebagai suatu perbedaan yang hakikatnya adalah rahmat, sehingga tidak perlu untuk ber-nahi mungkar. Akibatnya, predikat ummat terbaik tidak lagi disandang oleh umat islam, karena telah meninggalkan syaratnya yakni Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar. Sebagaimana firman Allah dalam surat Ali-’Imran ayat:110 yang artinya: “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.

4. Ancaman dan kecaman yang keras dari Nabi, karena berkata dengan mengatasnamakan Rasulullah secara dusta.

Rasulullah bersabda : “Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia siapkan tempat duduknya dari api neraka” [Riwayat Bukhari-Muslim]. Hendaklah takut orang-orang yang mengada-adakan perkataan dusta atas nama Rasulullah, demikian pula orang-orang yang menyebarkan dan mendongengkan kisah-kisah palsu dan lemah yang hanya muncul dari prasangka belaka yang padahal prasangka itu adalah seburuk-buruk perkataan.

5. Meninggalkan perintah Allah

Ini adalah efek lanjutan dari hadist palsu tesebut, karena ketika seseorang mentolelir perselisihan aqidah, halal dan haram, serta segala sesuatu yang telah tegas digariskan oleh dua wahyu, maka di saat yang sama ia telah meninggalkan perintah Allah untuk menuntaskan setiap perselisihan kepada Al-Qur’an, dan As-Sunnah. Sebagaimana Allah berfiman : “Jika kamu berselisih pendapat maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (As-Sunnah) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir, yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya” [An-Nisa:59]6. Melemahkan kekuatan kaum Muslimin serta membuka jalan bagi orang-orang kafir untuk menghancurkan Islam dari dalam

Syaikh Ali Hasan dalam kitabnya “ushul bida” mengisyaratkan dampak buruk hadist tersebut yang dapat melemahkan kaum muslimin dan menjatuhkan kewibawaannya, karena jelas-jelas hadist palsu tersebut menebarkan benih-benih perpecahan di tubuh kaum Muslimin, sedangkan Allah berfirman :“Jangan kamu berselisih, karena kamu akan menjadi lemah dan hilang kewibawaan kamu.” [Al-Anfal: 46]. . . . kepada mereka ! ! !
Tukang mengada-ada

Simaklah firman Allah kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut :

“Seandainya dia [Muhammad] mengada-adakan sebagian perkataan atas nama Kami [Allah], niscaya benar-benar Kami pegang ia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya”
[QS. Al-Haqqah : 44 - 46]
Mereka. . .!!!

Tukang mengada-ada atas nama Allah dan Rasul-Nya.Para pembuat hadist palsu yang telah mendahului Allah dalam Syari’at.Para penebar hadist-hadist dusta yang telah mengotori Sunnah yang suci.

Tidakkah mereka takut akan ayat di atas ? ?

Mereka bukan Rasul sebagaimana Allah telah mengangkat Muhammad sebagai Rasul. Mereka bukan kekasih Allah sebagaimana Ia telah menjadikan Muhammad sebagai kekasih-Nya. Bukan pula mereka orang-orang yang disucikan oleh Allah sebagaimana Allah telah mensucikan Muhammad dari dosa.

Sungguh Allah telah mengancam keras Kekasih-Nya dalam ayat tersebut dengan berfirman: “Kami potongan tali urat jantungnya”Lalu apakah MEREKA merasa aman ???

Al-Hafidz Abul Khathab bin Dihyah berkata : “Jagalah dirimu wahai hamba-hamba Allah dari kebohongan orang yang meriwayatkan kepadamu hadist yang dikemukakan untuk memaparakn kebaikan. Sebab melakukan kebaikan harus berdasarkan syari’at dari Rasululah Shallallahu’alaihi wa sallam. Jika ternyata dia bohong maka dia keluar dari yang disyari’atkan dan berkhidmat kepada Syaithan karena dia menggunakan hadist atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak berdasarkan keterangan dari Allah.” [Ma jaa fi Syahri Sya’ban, dinukil darinya oleh Abu Syamah dalam "Al-Baits :127"]

Maraji’:
Ushul bida’ [Syaikh Ali Hasan Ali Abdul hamid]
Sifatush shalaty An-Naby Shallallahu’alaihi wa sallam [Syaikh Muhammad Nasyaruddin Al-Albani] dan sumber-sumber lainnya

Bulletin Al Hujjah, Risalah No: 45 / Thn IV / Muharram / 1423H

sumber: http://www.abusalma.wordpress.com

Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts

Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts

Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
Oleh :
Fadhilatusy Syaikh ‘Abdul Ghoffar
Hasan ar-Rahmani al-Hindi
Rahimahullôhu wa Askanahu al-Jannata al-Fasîh
Alih Bahasa Inggris :
Abū Hibban dan Abū Khuzaymah
Alih Bahasa Indonesia :
Abū Salma bin Burhan Yūsuf al-Atsari
Sumber :

http://www.theclearpath.com

Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
Disusun oleh Al-Muhaddits ‘Abdul Ghoffâr Hasan ar-Rahmânî
Sumber : http://www.clearpath.com
© Copyleft terjemahan 2007
Ebook ini boleh disebarluaskan dalam bentuk apapun selama dalam
rangka dakwah dan tidak diperjualbelikan (komersil). Saran, kritik
atau izin mempublikasikan ebook ini silakan hubungi :
Mail : abu.salma81@gmail.com
HP : 08883535658
Homepage : http://dear.to/abusalma
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts

PENGANTAR PENTERJEMAH

Alhamdulillahi, segala puji hanyalah milik Alloh semata
yang kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan
pengampunan dari-Nya, serta kami memohon perlindungan
kepada-Nya dari keburukan amal kami dan kejelekan jiwa kami.
Siapa saja yang Alloh beri petunjuk maka tiada seorangpun
yang dapat menyesatkannya, dan siapa saja yang Alloh
leluasakan di dalam kesesatan maka tiada seorangpun yang
dapat menunjukinya. Saya bersaksi, bahwa tiada Ilah yang haq
untuk disembah melainkan hanya Alloh semata yang tiada
sekutu bagi-Nya, dan saya juga bersaksi bahwa Muhammad itu
adalah utusan dan hamba Alloh.
Amma ba’du : Alhamdulillahi, kali ini kami dapat
menghadirkan sebuah ebook (electronic book) ke hadapan para
pembaca sekalian, sebuah buku yang ditunggu-tunggu oleh para
thullabul ‘ilmi (penuntut ilmu) dan pencinta ‘Ulūmul Hadits. Buku
ini adalah buah karya dari Fadhilatusy Syaikh ‘Abdul Ghoffar
Hasan ar-Rahmani Rahimahullohu, seorang ahli hadits
kenamaan dari benua India.
Buku asli ebook ini sebenarnya dalam bahasa Urdu yang
berjudul “Intikhab-e-hadits”, lalu diterjemahkan ke dalam
bahasa Inggris oleh dua penuntut ilmu mutamakkin (mumpuni)
dari benua India yang sekarang berdomisili di Inggris dalam
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
3
rangka menyebarkan dakwah ahlul hadits salafiyah, yaitu
saudara Abū Hibban dan Abū Khuzaimah hafizhahumallohu.
Versi Inggris tersebut berjudul “The Compilation of Hadeeth”.
Dari versi Inggris inilah kami menterjemahkan buku ini sehingga
hadir di hadapan para pembaca budiman dengan judul
“Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadits”.
Tidak samar atas kita, bahwa India merupakan
gudangnya Ahlul Hadits kenamaan. Di negeri ini, muncul orangorang
seperti Muhammad Hayat as-Sindi (salah satu gurunya
al-Imam Muhammad bin ‘Abdil Wahhab), Shiddiq Hasan
Khan, Waliyulloh ad-Dihlawi, ‘Abdurrohman al-
Mubarokfūri, Badi’uddin Syah ar-Rasyidi, dan lain lain
rohimahumullohu jami’an. Hingga hari ini, kita masih mendengar
pakar hadits dari India, semisal Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir
(penulis ternama), Washiyulloh al-‘Abbas (guru besar hadits
Universitas Ibnu Su’ud), Zubair ‘Ali az-Za’i (Syaikhul hadits
India), Muhammad Ra`is an-Nadwi (Syaikhul hadits India),
Shafiyurrahman al-Mubarokfūri (penulis ar-Rahiqul
Makhtūm), Muhammad Musthofa al-A’zhami (guru besar
Universitas Ibnu Su’ud), Hafizh Ahmadullah (Dosen hadits
Jami’ah Salaf iyah Faysalabad) dan lain-lain.
Tidak sedikit pula kita dengar, banyak ‘ulama` ahlus
sunnah di luar India, mengambil ilmu dari muhaddits India,
semisal Syaikh Rabi’ bin Hadi yang belajar hadits kepada
Syaikh ‘Abdul Ghoffaar ar-Rahmani (penulis buku ini).
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
4
Demikian pula dengan Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali,
Muhammad Mūsa Nashr, ‘Ali Ridha dan selainnya, yang juga
menimba ilmu dari ‘ulama` hadits India.
Di India inilah, ahli-ahli hadits bermunculan dan akan
senantiasa muncul –insya Alloh- muhaddits-muhaddits baru di
setiap zaman. Di sini pulalah Jum’iyah Ahlil Hadits didirikan, dan
studi-studi ilmu hadits tumbuh subur dan berkembang. Semoga
Alloh senantiasa melestarikan keberadaan ahlul hadits ahlus
sunnah, salaf iyah, al-Firqoh an-Najiyah, ath-Tho`ifah al-
Manshūroh hingga hari kiamat kelak…
Malang, 29 Syawwal 1428
Abū Salma bin Burhan Yūsuf
At-Tirnati tsumma al-Malanji al-Atsari
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
5
Biografi SingkaBiografi Singkat
Syaikh ‘Abdul Ghoffâr ar-Rahmânî
Kelahiran beliau :
Nama beliau adalah ‘Abdul Ghoffar Hasan, putera dari Syaikh
al-Hafizh ‘Abdus Sattar Hasan. Beliau lahir pada tahun 1331
H. yang bertepatan dengan tahun 1913 M. di Amripur, sebuah
distrik di wilayah Muzhaffarnagar.
Keluarga beliau :
Beliau berasal dari keluarga yang berpegang teguh dengan al-
Qur`an dan as-Sunnah. Ayah dan kakek beliau, termasuk
anggota keluarga beliau lainnya, termasuk ‘ulama` besar
ternama pada zamannya. Diantara mereka adalah murid-murid
dari guru besar hadits, Syaikhul Kulli fil-Kulli Mi`an Nazhir
Husayn Muhaddits ad-Dihlawi.
Pendidikan beliau :
Syaikh menyelesaikan Dars Nizhami dari Darul Hadits ar-
Rahmaniyah di Delhi pada tahun 1933 M. Kemudian beliau
melanjutkan studinya di Universitas Lucknow dan Punjab dan
selesai pada tahun 1935 dan 1940.
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
6
Beliau pernah mengajar di berbagai institusi selama hidupnya.
Beliau mengajar hadits, bahasa ‘Arab dan ilmu-ilmu yang
berkaitan dengannya di Madrosah ar-Rahmaniyah selama 7
tahun. Beliau kemudian mengajar di Madrosah Kautsarul ‘Ulūm
dan institusi lainnya di sekitar Pakistan, seperti di Lahore,
Sialkot, Rawalpindi, Faisalabad, Sahiwal dan Karachi sampai
tahun 1964.
Pada tahun 1964, beliau diminta untuk mengajar di Jami’ah
Islamiyah Madinah Munawwaroh (Islamic University of Madinah).
Beliau mengajar di sana selama hampir 16 tahun. Beliau
mengajarkan hadits, ‘ulūmul hadits dan ‘aqidah al-Islamiyah.
Selama waktu ini pula, beliau mengajar di Kulliyatu Syari’ah
(Fakultas Syari’ah), ‘Ushūlud Din dan Kulliyatul Hadits (Fakultas
Hadits).
Kemudian pada tahun 1981 sampai 1985, beliau mengajarkan
kitab hadits monumental, Shahih al-Bukhari di Kulliyatu at-
Tarbiyah al-Islamiyah (Fakultas Pendidikan Islam), selain ilmuilmu
lainnya yang beliau ajarkan.
Usaha Dakwah beliau :
Pasca tahun 1985, beliau bekerja di Darul Ifta`(Lembaga Fatwa)
‘Arab Saudi. Hal inilah yang menyebabkan beliau harus
bepergian ke berbagai negara dalam rangka dakwah. Diantara
negara yang telah beliau kunjungi adalah :
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
7
· Uganda
· Kenya
· Inggris
· Bangladesh, dan
· India
Selama tinggal di Kenya, beliau mendirikan sebuah institusi
yang bernama Tsanawiyah dimana beliau mengajarkan berbagai
ilmu Islam di sana. Sekembalinya ke ‘Arab Saudi, beliau dikirim
kembali ke London, Inggris, dalam rangka membantu dakwah di
sana. Beliau mendirikan institusi lain di London yang bernama
“The Qur`an dan Sunnah Society” (QSS London).
Guru beliau :
Diantara guru-guru beliau adalah :
· Syaikhul Hadits Syaikh Ahmadulloh.
· Syaikhul Hadits ‘Ubaidillah al-Mubarokfūri (ar-Rahmani)
· Syaikh Nazhir Ahmad al-A’zhami.
· Syaikhul Hadits Syaikh Muhammad Sūrthi (Ustadz
Jami’ah ar-Rahmaniyah)
· Dan selama beberapa waktu singkat, beliau belajar
kepada ‘ulama` besar hadits, ‘Abdurrohman al-
Mubarokfūri. [Beliau adalah penulis Tuhfatul Ahwadzi]
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
8
Murid beliau :
Diantara murid-murid beliau adalah :
· Syaikh ‘Abdul Ghafūr Multani (Maktab ad-Da’wah as-
Su’udiyah).
· Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkholi.
· Syaikh Abu ‘Usamah Salim bin ‘Ld al-Hilali.
· Al-‘Allamah Ihsan Ilahi Zhahir.
· Syaikh ‘Abdurrohman Azhar Madani (Lahore).
· Syaikh ‘Abdulloh (Jami’ah ar-Rasyidiyah).
· Syaikh Mas’ūd ‘Allam (Alumni Universitas Madinah).
· Syaikh ‘Abdul Hakim (Jami’ Masjid Ahlul Hadits
Rawalpindi).
· Syaikh Muhammad Basyir Siyalkati (Rektor Darul ‘Ilm
Islamabad).
· Syaikh Muhammad ‘Abdulloh (Darul Qur`an Faishalabad).
· Syaikh Hafizh Ahmadulloh (Syaikhul Hadits Jami’ah
Salafiyah Faishalabad).
· Tiga putera beliau, semuanya alumni Universitas Islam
Madinah, yaitu Suhaib, Suhail dan Raghib Hasan.
Dan masih banyak lagi lainnya…
Karya beliau :
Syaikh adalah seorang penulis ulung dan kemampuan beliau
dalam berbagai bahasa adalah bukti akan karya-karya beliau.
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
9
Selama hidupnya, syaikh menulis sejumlah buku, namun syaikh
paling banyak menulis artikel untuk berbagai majalah Ahlul
Hadits di India dan Pakistan. Jawaban-jawaban beliau terhadap
berbagai macam permasalahan, berkisar mulai dari bantahan,
tanggapan dan klarifikasi, yang senantiasa dipenuhi dengan ilmu
dan penyandaran yang kokoh terhadap manhaj salaf.
Beliau banyak menulis artikel yang membantah Qadhiyaniyah.
Beliau juga menulis buku yang berjudul Qashashul Qur`an untuk
pemerintah kerajaan ’Arab Saudi yang dikirimkan untuk Afrika.
Diantara hasil karya tulis beliau adalah :
· Mukhtarul Ahadits (Seleksi Hadits Pilihan) yang berisi 400
hadits pilihan beserta syarh (penjelasan)-nya secara
ringkas.
· Makanatun Nisa` f il Islam (Status Wanita di dalam Islam)
· Haqiqotud Du’a` (Hakikat Do’a)
· Al-Ghulū fid Din (Berlebih-lebihan di dalam Agama)
· The Greatness of Hadeeth (Keagungan Hadits). Buku ini
merupakan harta karun terbesar dalam bidang hadits.
Buku ini menyediakan jawaban atas keragu-raguan dan
tuduhan para penginkar hadits (Inkarus Sunnah).
Di akhir hayatnya, syaikh tinggal di Pakistan dan hidup sampai
usia 90-an. Semoga Alloh membalas atas semua usaha beliau
dengan surga-Nya dan merahmati beliau serta mengampuni
segala dosa-dosa beliau.
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts

Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts

Dengan Nama Allôh Yang Maha Pengasih Lagi Maha
Penyayang
Penjagaan dan pemeliharaan ahadits datang dengan tiga cara :
1. Ummat yang mengamalkan ahadits tersebut.
2. Hafalan (Hifzh) dan tulisan (kitabah)
3. Meriwayatkan dan mengajarkan ahadits dalam halaqoh
dan dars.
Dengan menggunakan metode-metode ini, pengumpulan, tadwin
(penghimpunan), pengklasifikasian, tabwib (formasi) dan
penulisan ahadits dapat diklasifikasikan dalam empat empat
periode, yaitu :
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts

PERIODE PERTAMA
Periode ini bermula dari rentang hidup Nabiyulloh Muhammad
Shallallahu ‘alayhi wa Sallam sampai abad pertama hijriyah.
Pada masa ini, ahadits dikumpulkan dengan cara hafalan,
pengajaran dan penghimpunan (tadwin). Perinciannya adalah
sebagai berikut :
Penghafal Hadits Terkenal
Kalangan Shahâbah :
1. Abū Hurayrah (‘Abdurrahman) Radhiyallohu ‘anhu, beliau
wafat tahun 59 H pada usia 78 tahun. Beliau meriwayatkan
5374 ahadits. Murid beliau berjumlah hampir 800 orang.
2. ‘Abdulloh bin ‘Abbas Radhiyallohu ‘anhu, beliau wafat tahun
68 pada usia 71 tahun. Beliau meriwayatkan 2660 hadits.
3. ‘A`isyah ash-Shiddiqah Radhiyallohu ‘anha, beliau wafat
tahun 58 pada usia 67 tahun. Beliau meriwayatkan 2210
hadits.
4. ‘Abdulloh bin ‘Umar Radhiyallohu ‘anhu, beliau wafat tahun
73 pada usia 84 tahun. Beliau meriwayatkan 1630 hadits.
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
12
5. Jabir bin ‘Abdulloh Radhiyallohu ‘anhu, wafat tahun 78 pada
usia 94 tahun. Beliau meriwayatkan 1560 hadits.
6. Anas bin Malik Radhiyallohu ‘anhu, wafat tahun 93 pada
usia 103 tahun. Beliau meriwayatkan 1286 hadits, dan
7. Abū Sa’id al-Khudri Radhiyallohu ‘anhu, wafat tahun 74
pada usia 84 tahun. Beliau meriwayatkan 1170 hadits.
Mereka semua ini termasuk para sahabat yang menghafalkan
hadits lebih dari 1000. Kemudian :
8. ‘Abdulloh bin ‘Amr bin ‘Ash Radhiyallohu ‘anhu (w. 63H)
9. ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallohu ‘anhu (w. 40H), dan
10. ‘Umar ibn al-Khaththab Radhiyallohu ‘anhu (w. 33H).
Ketiga sahabat ini termasuk yang menghafalkan hadits antara
500 sampai 1000 hadits.
11. Abū Bakr ash-Shiddiq Radhiyallohu ‘anhu (w. 13H)
12. ‘Utsman bin ‘Affan Dzūn Nūr’ayni Radhiyallohu ‘anhu (w.
36H)
13. Ummu Salamah Radhiyallohu ‘anha (w. 59H)
14. Abū Mūsa al-Asy’ari Radhiyallohu ‘anhu (w. 52H)
15. Abū Dzarr al-Ghifari Radhiyallohu ‘anhu (w. 32H)
16. Abū ‘Ayyūb al-Anshari Radhiyallohu ‘anhu (w. 51H)
17. ‘Ubay bin Ka’ab Radhiyallohu ‘anhu (w. 19H), dan
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
13
18. Mu’adz bin Jabal Radhiyallohu ‘anhu (w. 81H)
Mereka semua ini termasuk sahabat yang meriwayatkan lebih
dari 100 hadits namun kurang dari 500.
Kalangan Tâbi’în :
Kita tidak dapat melupakan para Tabi’in senior, setelah
perjuangan mereka yang tidak ada hentinya, mengumpulkan
harta berharga Sunnah, sehingga Ummat Muhammad
Shallallahu ‘alayhi wa Sallam dapat diperkaya dengan khazanah
sunnah tersebut untuk selamanya. Diantara mereka adalah :
1. Sa’id ibn al-Musayyib
Beliau dilahirkan pada tahun kedua di zaman berkuasanya
‘Umar Radhiyallohu ‘anhu di Madinah dan meninggal pada
tahun 105 H. Beliau mempelajari ahadits dan seluk beluk
ilmunya dari ‘Utsman, ‘A`isyah, Abū Hurayrah dan Zayd bin
Tsabit Radhiyallohu ‘anhum.
2. ‘Urwah bin Zubayr
Beliau adalah diantara orang yang dianggap paling berilmu
dari Madinah. Beliau merupakan kemenakan dari ’A`isyah
Radhiyallohu ‘anha dan paling banyak meriwayatkan dari
bibinya tersebut. Beliau memiliki fadhilah karena menjadi
murid Abū Hurayrah Radhiyallohu ‘anhu dan Zayd bin Tsabit
Radhiyallohu ‘anhu. Shalih bin Kisan dan Imam az-Zuhri
adalah diantara murid beliau yang terkenal. Beliau
meninggal dunia pada tahun 94H.

3. Salim bin ‘Abdillah bin ‘Umar
Beliau adalah diantara tujuh qadhi (hakim) terkenal di
Madinah. Beliau mempelajari hadits dari ayahnya, ’Abdulloh
bin ’Umar Radhiyallohu ‘anhu dan sahabat lainnya. Naf i’, az-
Zuhri dan banyak ulama` tabi’in lainnya adalah murid beliau.

4. Nafi’
Beliau adalah mawla (mantan budak) ‘Abdulloh bin ‘Umar
Radhiyallohu ‘anhu dan murid utamanya. Beliau adalah
gurunya Imam Malik Rahimahulloh. Riwayat Malik dari Nafi’
dari ‘Abdulloh bin ‘Umar dari Rasululloh Shallallahu ‘alayhi
wa Sallam merupakan rantai sanad emas menurut para
‘ulama` hadits. Beliau wafat pada tahun 117.
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts

Karya Tulis Pada Periode Pertama

1. Shahifah ash-Shadiqah
Shahifah ini dinisbatkan kepada ‘Abdulloh bin ‘Amr bin ‘Ash (w.
63H pada usia 77 tahun). Beliau memiliki kecintaan yang sangat
besar di dalam menulis dan mencatat. Apa saja yang beliau
dengar dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa Sallam akan
segera beliau catat. Beliau secara pribadi mendapatkan izin
khusus dari Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam.1. Risalah beliau
ini terdiri dari sekitar 1000 ahadits. Risalah ini tetap dijaga dan
dipelihara oleh keluarga beliau dalam waktu yang lama. Semua
isi risalah ini dapat ditemukan di dalam Musnad Imam Ahmad
Rahimahulloh.

2. Shahifah ash-Shahihah
Shahifah ini dinisbatkan kepada Humam bin Munabbih (w.
101H). Beliau termasuk murid terkenal Abū Hurayrah
Radhiyallohu ‘anhu. Beliau menuliskan semua ahadits dari
gurunya. Salinan manuskrip ini masih tersedia di Perpustakaan
Berlin di Jerman dan di Perpustakaan Damaskus (Suriah). Imam
Ahmad bin Hanbal Rahimahulloh telah mengkategorisasikan
semua isi Shahifah ini di dalam Musnad-nya di bawah bab
1 Lihat : Mukhtashor Jami’ Bayanil ‘Ilm; hal. 36-7
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
16
riwayat Abū Hurayrah Radhiyallohu ‘anhu.2 Risalah ini, setelah
upaya tahqiq mengagumkan yang dilakukan oleh Dr.
Hamidullah, telah dicetak dan didistribusikan di Hyderabad
(Deccan). Risalah ini mengandung 138 riwayat. Shahifah ini,
merupakan bagian (juz`) dari ahadits yang diriwayatkan dari
Abū Hurayrah dan mayoritas riwayat-riwayatnya terdapat di
dalam Bukhari dan Muslim, yang kata-kata dalam ahadits-nya
hampir sama semua dan tidak ada perbedaan mencolok.
3. Shahifah Basyir bin Nahik
Beliau adalah murid Abū Hurayrah Radhiyallohu ‘anhu. Beliau
juga mengumpulkan dan menulis sebuah risalah ahadits yang
beliau bacakan kepada Abū Hurayrah Radhiyallohu ‘anhu,
sebelum mereka meninggal dunia beliau telah memeriksanya.3
4. Musnad Abū Hurayrah Radhiyallôhu ‘anhu
Musnad ini ditulis selama masa sahabat. Salinan Musnad ini ada
pada ayahanda ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz Radhiyallohu ‘anhu, yaitu
‘Abdul ‘Aziz bin Marwan, seorang Gubernur Mesir yang
meninggal pada tahun 86H. Beliau menulis kepada Katsir bin
Murrah memerintahkannya untuk menulis semua hadits yang
didengarnya dari para sahabat lalu mengirimkannya kepadanya.
Di dalam surat perintahnya ini, beliau mengatakan pada Katsir
2 Perincian lebih jauh, silakan lihat Shahifah Humam yang ditahqiq oleh Dr.
Hamidullah dan Musnad Ahmad (II/312-18).
3 Lihat Jami’ul Bayan (I/72) dan Tahdzibut Tahdzib (I/470).
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
17
tidak perlu mengirimkan ahadits riwayat Abū Hurayrah, karena
beliau telah memilikinya.4
Musnad Abū Hurayrah Radhiyallohu ‘anhu ini ditulis kembali
dalam bentuk tulisan tangan oleh Ibnu Taymiyah Rahimahulloh,
dan tulisan tangan ini masih tersedia di Perpustakaan Jerman.5
5. Shahifah ‘Ali Radhiyallôhu ‘anhu
Kita dapati dari penelitian Imam Bukhari bahwa Shahifah ini
cukup besar dan di dalamnya berisi masalah zakat, ‘amaliyah
yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan di Madinah,
Khuthbah Hajjatil Wadda’ dan petunjuk-petunjuk Islami.6
6. Khutbah Terakhir Nabi Shallâllâhu ‘alayhi wa Sallam
Pada Fathul Makkah (Penaklukan Kota Makkah), Nabi Shallallahu
‘alayhi wa Sallam memerintahkan Abū Syah Yamani
Radhiyallohu ‘anhu untuk menuliskan khutbah terakhir beliau.7
7. Shahifah Jabir Radhiyallôhu ‘anhu
Murid beliau, Wahb bin Munabbih (w. 110H) dan Sulayman bin
Qays al-Asykari, menghimpun riwayat Jabir Radhiyallohu ‘anhu.
4 Lihat Shahifah Humam (hal. 50) dan Thobaqot Ibnu Sa’ad (VII/157)
5 Lihat Muqoddimah Tuhfatul Ahwadzi Syarh Jami’ ath-Tirmidzi (hal. 165)
6 Lihat Shahih al-Bukhari, Kitab al-I’tisham bil Kitabi was Sunnah (I/451).
7 Lihat Shahih al-Bukhari (I/20), Mukhtashor Jami’ Bayanil ‘Ilm (hal. 36) dan
Shahih Muslim (I/349).
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
18
Di dalamnya, mereka menuliskan permasalahan haji dan
Khuthbah Hajjatul Wadda’.8
8. Riwayat ‘A`isyah ash-Shiddiqah Radhiyallôhu ‘anhâ
Riwayat ‘A`isyah ash-Shiddiqah Radhiyallohu ‘anha ditulis oleh
murid beliau, ‘Urwah bin Zubayr.9
9. Ahâdîts Ibnu ‘Abbas Radhiyallôhu ‘anhu
Ada cukup banyak kompilasi ahadits Ibnu ‘Abbas Radhiyallohu
‘anhu. Sa’id bin Jubair diantara yang menghimpun ahadits
beliau.10
10. Shahifah Anas bin Malik Radhiyallôhu ‘anhu
Sa’id bin Hilal meriwayatkan bahwa Anas bin Malik Radhiyallohu
‘anhu akan menyebutkan semua hadits yang beliau tulis dengan
ingatan/hafalan. Ketika menunjukkan kepada kami, beliau
mengatakan :
“Saya mendengarkan langsung riwayat ini dar i Rasūlulloh
Shallallahu ‘alayhi wa Sallam, saya akan menuliskannya dan
membacanya kembali di hadapan Rasūlulloh Shallallahu ‘alayhi
wa Sallam sehingga beliau menyetujuinya.”11
8 Lihat Tahdzibut Tahdzib (IV/215)
9 Lihat Tahdzibut Tahdzib (VIII/183)
10 Lihat ad-Darimi (hal. 68)
11 Lihat Shahifah Humam (hal. 34) dari al-Khathib al-Baghdadi dan al-Hakim
(III/574).
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
19
11. ‘Amru bin Hazm Radhiyallôhu ‘anhu
Ketika beliau diangkat menjadi Gubernur dan dikirim ke Yaman,
beliau diberi perintah dan petunjuk tertulis. Beliau tidak hanya
menjaga petunjuk tersebut, namun beliau juga menambahkan
21 perintah Rasūlulloh Shallallahu ‘alayhi wa Sallam dan beliau
jadikan dalam bentuk buku.12
12. Risalah Samūroh bin Jundub Radhiyallôhu ‘anhu
Risalah ini diberikan kepada putera beliau dalam bentuk sebuah
wasiat. Risalah ini adalah ‘harta’ yang besar.13
13. Sa’ad bin ‘Ubadah Radhiyallôhu ‘anhu
Beliau telah mengetahui bagaimana cara membaca dan menulis
semenjak zaman Jahiliyah.
14. Maktūb Nafi’ Radhiyallôhu ‘anhu
Sulayman bin Mūsa meriwayatkan bahwa ‘Abdulloh bin ‘Umar
Radhiyallohu ‘anhu mendiktekan hadits sedangkan Nafi’
menulisnya.14
15. ‘Abdulloh bin Mas’ūd Radhiyallôhu ‘anhu
Ma’an meriwayatkan bahwa ‘Abdurrahman bin ‘Abdulloh bin
Mas’ūd mengeluarkan sebuah buku, ketika beliau membuka
12 Lihat al-Watsa`iq as-Siyasah (hal. 105) dan ath-Thobari (hal. 104).
13 Lihat Tahdzibut Tahdzib (IV/236)
14 Lihat ad-Darimi (hal. 69) dan Shahifah Humam (hal. 45) dari Thobaqot Ibnu
Sa’ad.
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
20
penutup buku tersebut, beliau berkata : “Ayahku yang menulis
ini.”15
Apabila penelitian ini dilanjutkan dengan menyebutkan jumlah
contoh-contoh lainnya, niscaya jumlahnya akan terlalu besar.
Selama periode pertama ini, para sahabat Radhiyallohu ‘anhum
dan ulama` Tabi’in besar, lebih menfokuskan menggunakan
hafalan mereka daripada menulis. Pada periode kedualah,
pengumpulan ahadits (dalam bentuk buku) bermula.
15 Lihat Mukhtashor Jami’ Bayanil ‘Ilm (hal. 37)
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
21
PERIODE KEDUA
Periode kedua dimulai dari sekitar pertengahan abad kedua
hijriyah. Selama periode ini, sejumlah besar tabi’in mulai
menghimpun karya mereka dalam bentuk buku.
Penghimpun Hadits
1. Muhammad bin Syihab az-Zuhri Rahimahullôh (w.
124H)
Beliau dianggap sebagai ‘ulama` hadits terbesar di
zamannya. Beliau menimba ilmu dari orang-orang besar.
Diantara kalangan sahabat radhiyallohu ‘anhum ajma’iin
yang menjadi gurunya adalah :
· ‘Abdulloh bin ‘Umar Radhiyallohu ‘anhu
· Anas bin Malik Radhiyallohu ‘anhu, dan
· Sahl bin Sa’ad Radhiyallohu ‘anhu.
Diantara Tabi’in yang menjadi gurunya adalah :
· Sa’id ibn al-Musayyib Rahimahulloh
· Mahmūd bin Rabi’ah Rahimahulloh
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
22
Diantara murid beliau adalah :
· Imam al-Awza’i Rahimahulloh (w. 167H).
· Imam Malik Rahimahulloh (w. 179H), dan
· Sufyan bin ‘Uyainah Rahimahulloh (w. 1668H).
Murid-murid beliau termasuk imam- imam hadits terbesar.
Pada tahun 101H, beliau diperintahkan oleh ‘Umar bin ‘Abdil
‘Aziz Rahimahulloh untuk mengumpulkan dan menghimpun
hadits. Selain itu juga, ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz Rahimahulloh
memberikan perintah kepada Gubernur Madinah, Abū Bakr
Muhammad bin ‘Amrū bin Hazm untuk menuliskan semua
ahadits yang dimiliki oleh ‘Umrah bintu ‘Abdirrahman dan
Qasim bin Muhammad.
Ketika ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz Rahimahulloh memerintahkan
semua orang yang bertanggung jawab di negara Islam untuk
mengumpulkan ahadits, kumpulan itu berbentuk sebuah
buku. Ketika mereka sampai ke ibukota Damaskus, salinan
kopi buku tersebut dikirimkan ke semua penjuru negeri
Islam.16 Setelah Imam az-Zuhri Rahimahulloh mulai
mengumpulkan ahadits, ahli ‘ilmu lainnya mulai turut
bergabung dengan beliau, yang terutama diantara mereka
adalah :
16 Lihat Tadzkiratul Huffazh (I/106) dan Mukhtashor Jami’ Bayanil ‘Ilm (hal. 38)
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
23
2. ‘Abdul Malik bin Juraij Rahimahullôh (w. 150H) di
Makkah
3. Imam al-Awza’i Rahimahullôh (w. 157H) di Syam
(Suriah)
4. Mu’ammar bin Rasyid Rahimahullôh (w/ 153H) di
Yaman
5. Imam Sufyan ats-Tsauri Rahimahullôh (w. 161H) di
Kūfah
6. Imam Hammad bin Salamah Rahimahullôh (w. 167H)
di Bashra
7. ‘Abdulloh ibn al-Mubarok Rahimahullôh (w. 181H) di
Khurosan,
8. Malik bin Anas Rahimahullôh (93-179H)
Imam Malik memiliki kedudukan di dalam mengajarkan
hadits di Madinah setelah Imam az-Zuhri. Beliau menimba
ilmu dari Imam az-Zuhri, Imam Nafi’ dan ulama` besar
lainnya. Murid beliau mencapai 900 orang dan pelajaran
beliau menyebar sampai ke Hijaz, Syam, Palestina, Mesir,
Afrika dan Andalusia (Spanyol). Diantara murid-murid beliau
adalah :
· Laits bin Sa’ad Rahimahulloh (w. 175H).
· ’Abdulloh ibn al-Mubarok Rahimahulloh (w. 181H).
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
24
· Imam asy-Syafi’i Rahimahulloh (w. 204H), dan
· Imam Muhammad bin Hasan asy-Syaibani Rahimahulloh
(w. 189H).
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
25
Karya Tulis Periode Kedua
Karya Tulis pada Periode Kedua
1. Muwaththo` Imam Malik
Selama rentang waktu ini, sejumlah buku hadits telah
disusun, Muwaththo` memiliki kedudukan tersendiri pada
periode ini. Buku ini ditulis antara tahun 130H sampai 141H.
Buku ini memiliki kurang lebih 1.720 ahadits, dimana :
· 600 hadits-nya marfū’ (terangkat sampai kepada Nabi
Shallallahu ’alayhi wa Sallam).
· 222 hadits-nya mursal (adanya perawi sahabat yang
digugurkan)17
17 Catatan Penterjemah : Definisi yang diberikan oleh penterjemah Inggris
(i.e. Abū Hibban dan Abū Khuzaimah) ini kurang tepat. Apabila hadits mursal
didefinisikan dengan hilangnya atau digugurkannya perawi sahabat, niscaya
hadits mursal ini merupakan hujjah, karena semua sahabat menurut ijma’ ahlus
sunnah adalah tsiqqoh (kredibel). Yang benar, menurut penulis Nuzhatun
Nazhor, hadits mursal adalah : “yang digugurkan perawi akhir setelah tabi’i.
Gambarannya adalah, seorang tabi’i baik senior maupun junior yang
mengatakan Rasūlulloh Shallallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda atau berbuat
demikian atau ada yang berbuat sesuatu dihadapan beliau, atau yang
semisalnya.” Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabi mengomentari : “Pada ucapan ini
terdapat bantahan terhadap Baiqūni yang mengatakan di dalam Manzhūmah-nya
yang terkenal, yaitu “Mursal minhu ash-Shohabi saqotho” (Mursal adalah perawi
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
26
· 617 hadits-nya mauquf (terhenti sampai kepada tabi’i)
· 275 sisanya adalah ucapan tabi’ūn.18
Buku hadîts yang dihimpun pada periode ini
2. Jami’ Sufyan ats-Tsauri (w. 161H).
3. Jami’ ’Abdulloh ibn al-Mubarok (w. 181H).
4. Jami’ Imam al-Auza’i (w. 157H).
5. Jami’ Ibnu Juraij (w. 150H).
6. Kitabul Akhraj karya Qadhi Abū Yūsuf (w. 182H).
7. Kitabul Atsar karya Imam Muhammad (w. 189H).
Pada rentang periode dua inilah, ahadits Nabiyulloh Shallallahu
’alayhi wa Sallam, atsar para sahabat dan fatawa para tabi’in
dihimpun beserta syarh (penjelasan) tertentu dari ucapan
sahabat, tabi’in atau hadits Nabi Shallallahu ’alayhi wa Sallam.
sahabat yang digugurkan). Lihat : an-Nukat ‘ala Nuzhatin Nazhor fi Taudhihi
Nukhbatil Fikri oleh Syaikh ‘Ali Hasan, hal. 110. Lihat pula at-Ta’liqot al-
Atsariyah hal. 23.
18 Catatan Abū Hibban & Abū Khuzaimah : Berdasarkan Syaikh Muhammad
‘Abduh Falah al-Bakistani hafizhahullohu, Muwaththo` memiliki 1720 ahadits,
dengan 600 hadits marfu’, 222 mursal, 613 mauquf dan 285 merupakan fatawa
dan ucapan tabi’in, sedangkan 75 merupakan pernyataan. Lihat buku beliau
Imam Malik wal Muwaththo`.
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
27
PERIODE KETIGA
Periode ini dimulai dari abad kedua hijriyah dampai akhir abad
keempat hijriyah.
Karakteristik Periode ini
1. Ahadits Nabi, atsar sahabat dan aqwal (ucapan) tabi’in
dikategorisasikan, dipisahkan dan dibedakan.
2. Riwayat yang maqbūlah (diterima) dihimpun secara
terpisah dan buku-buku pada abad kedua diperiksa kembali
dan di-tashhih (diautentikasi).
3. Selama periode ini, bukan hanya riwayat yang
dikumpulkan, namun untuk memelihara dan menjaga
hadits, para ulama` menformulasikan ilmu yang berkaitan
dengan hadits (lebih dari 100 ilmu19) dimana ribuan buku
mengenai ini telah ditulis.
19 Catatan Abū Hibban & Abū Khuzaimah : Imam Hazimi (w. 784H), penulis
Kitabul I’tibar fi Naskhi mengatakan : “Macam dan jenis ilmu Mushtholahul
Hadits mencapai hampir 100 macam, dan tiap pembahasan memiliki ilmunya
sendiri. Apabila seorang penuntut ilmu menghabiskan seluruh waktu hidupnya
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
28
’Ulūmul Hadits
1. Asma`ur Rijal
Pada ilmu ini, keadaan, lahir, wafat, guru dan murid-murid
perawi dikumpulkan dan dihimpun secara terperinci, dan
berdasarkan perincian perawi ini, seorang perawi dapat
dinilai akan sifat shidq (kejujuran), tsiqqoh (kredibilitas)
atau ketidak-tsiqqoh-annya. Ilmu ini sangat menarik.
Perincian sebanyak lebih dari 500.000 perawi telah disusun.
Banyak buku telah ditulis di dalam bidang ilmu ini,
diantaranya adalah :20
· Tahdzibul Kamil karya Imam Yūsuf al-Mizzi (w. 742H),
salah satu buku terpenting dalam ilmu ini.
· Tahdzibut Tahdzib karya al-Haf izh Ibnu Hajar. Beliau juga
menulis syarh (penjelasan) Shahih Bukhari dalam 12 jilid
dengan judul Fathul Bari Syarh Shahihil Bukhar i.21
untuk mempelajari bidang ini, niscaya tidak akan mencapai akhirnya.” Lihat
Tadribur Rawi (hal. 9). Muhaddits Ibnu Sholah sendiri, menyebutkan 65 macam
jenis ilmu ini di dalam bukunya ‘Ulūmul Hadits.
20 Catatan Abū Hibban & Abū Khuzaimah : ‘Izzuddin Ibnul ‘Atsir (w. 630H)
juga menulis buku berjudul Asadul Ghobah fi Asma`is Shohabah.
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
29
· Tadzkiratul Huffazh karya al-’Allamah adz-Dzahabi
(w.748H).
2. ’Ilmu Mushtholahul Hadits (’Ushūlul Hadits)
Dengan arahan ilmu inilah, standar dan hukum ahadits
serta keshahihan dan kedha’ifan suatu hadits dapat
ditegakkan. Buku yang terkenal di dalam bidang ini adalah :
· ’Ulūmul Hadits al-Ma’rūf bi Muqoddimati Ibni ash-
Sholah22 oleh Abū ’Ammar ’Utsman ibn ash-Sholah
(w.557H).
· Taujihun Nazhor karya al-’Allamah Thahir bin Shalih al-
Jaza’iri (w. 1338H).
· Qowa’idut Tahdits karya al-’Allamah Sayyid Jamaluddin
al-Qashimi (w.1332H).
3. ’Ilmu Ghoribul Hadits
Di dalam ilmu ini, kata-kata dan makna yang sulit diteliti
dan dipelajari.23 Diantara buku dalam ilmu ini adalah :
21 Catatan Abū Hibban & Abū Khuzaimah : Beliau juga menulis Al-Ishabah fi
Tamyizi ash-Shohabah, yang kemudian diringkas oleh muridnya as-Suyuthi
(w.911H) dengan judul ‘Ainul Ishabah.
22 Catatan Abū Hibban & Abū Khuzaimah : Syaikh Nawwab Shiddiq Hasan
Khan (w.1307H), mengatakan di dalam bukunya yang berjudul Manhajul Wushūl
fi Ishthilah Ahadits ar-Rasūl bahwa Imam Ibnu Katsir telah menulis sebuah
ringkasan terhadap buku Ibnu Sholah ini, yang berjudul al-Baits al-Hatsits ‘ala
Ma’rifati ‘Ulūmil Hadits.
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
30
· Al-Fa`iq24 karya az-Zamakhsyari.
· An-Nihayah25 karya al-Ma’rūf Ibnu ’Atsir.
4. ’Ilmu Takhrijul Hadits
Dari ilmu ini kita dapat menemukan dimana (sumber) suatu
hadits yang berkaitan dengan ilmu tertentu yang banyak
ditemukan dari buku-buku tafsir, ’aqidah ataupun f iqh,
seperti :
· Al-Hidayah26 karya Burhanuddin ’Ali bin Abi Bakr al-
Marghani (w.592H).
· Ihya` ’Ulūmuddin karya Abū Hamid al-Ghozali (w.505H).
Kedua buku di atas ini, memiliki banyak riwayat tanpa isnad
atau sumber. Apabila seseorang ingin mengetahui derajat
23 Catatan Abū Hibban & Abū Khuzaimah : Buku pertama yang ditulis di
dalam ilmu ini adalah oleh Abū ‘Ubaidah Mu’ammar bin Mutsanna al-Bashri
(w.210H) dalam bentuk yang ringkas. Karya lebih panjang dilakukan oleh Abūl
Hasan Nadar bin Syamil al-Mazini (w. 204H), kemudian Abū ‘Ubaid bin Qasim bin
Sallam (w.222H) yang meniulis buku menghabiskan hampir seluruh hidupnya.
Kemudian Ibnu Qutaybah (w.276H).
24 Catatan Abū Hibban & Abū Khuzaimah : Judul lengkapnya adalah Al-Fa`iq
fi Gharibil Hadits.
25 Catatan Abū Hibban & Abū Khuzaimah : Judul lengkapnya adalah An-
Nihayah fi Gharibil Hadits wal Atsar. Al-Armawi menuliskan sebuah apendiks bagi
buku ini, kemudian Imam as-Suyūthi (w.911H) menuliskan ringkasan an-
Nihayah ini dengan judul Ad-Darrun Natsir Talkhish Nihayah Ibn Atsir.
26 Catatan Abū Hibban & Abū Khuzaimah : Buku Fiqh Hanafi terkenal yang
banyak mengandung pembahasan yang menyelisihi al-Qur`an dan as-Sunnah.
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
31
atau sumber ahadits pada kedua buku ini dari buku hadits
terkenal, maka buku-buku pertama yang bisa dirujuk adalah
:
· Nashbur Rayah karya al-Hafizh Zaila’i (w. 792)
· Kitabud Diroyah karya al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolani
(w.852H)
· Al-Mughni ’an Hamlil Ashfar karya al-Hafizh Zainuddin al-
Iraqi (w.806H).
5. ’Ilmu al-Hadits al-Maudhū’ah
Dalam ilmu ini, ahli ilmu menuliskan sebuah buku khusus,
dimana mereka memisahkan antara hadits maudhū’ (palsu)
dengan hadits shahih. Diantara buku terbaik yang terkenal
dalam masalah ini adalah :
· Fawa`id al-Majmū’ah karya al-Qodhi asy-Syaukani
(w.1255H).
· ‘Ilalul Masnū’ah27 karya Jalaluddin as-Suyūthi (w.911H).
6. ’Ilmu Nasikh wal Mansūkh28
27 Catatan Abū Hibban & Abū Khuzaimah : Judul lengkapnya adalah ‘Ilalul
Masnū’ah fil Ahadits al-Maudhū’ah. Buku ini merupakan ringkasan Kitabul
Maudhū’at karya Ibnul Jauzi.
28 Catatan Abū Hibban & Abū Khuzaimah : Ilmu ini adalah ilmu tentang
nash yang membatalkan/abrogasi (nasikh) dan yang dibatalkan/diabrogasi
(mansūkh). Diantara buku yang ditulis di dalam bidang ini adalah buku-buku
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
32
Di dalam ilmu ini, salah satu karya terkenal adalah Kitabul
I’tibar karya Muhammad Mūsa al-Hazimi (w.784H pada usia
35 tahun).29
7. ’Ilmu at-Taufiq Baynal Hadits
Di dalam ilmu ini, ahadits shahihah yang saling kontradiktif
(tanaqudh) satu dengan lainnya, dibahas dan diselesaikan.
· Imam asy-Syafi’i (w.204H) adalah orang pertama yang
membicarakan ilmu ini di dalam buku beliau ar-Risalah,
yang dikenal dengan ilmu Mukhtaliful Hadits.
· Karya Imam ath-Thohawi (w.321), Musykilul Atsar juga
merupakan buku yang bermanfaat.
8. ’Ilmu Mukhtalif wal Mu’talaf
Ilmu ini menyebutkan nama-nama perawi, kunyah
(julukan), gelar, orang tua, ayah atau guru mereka, yang
sama/mirip antara perawi satu dengan yang lainnya,
sehingga seorang peneliti dapat melakukan kesalahan
karenanya.
karya Ahmad bin Ishaq ad-Dainari (w.318H), Muhammad bin Bahr al-Ishbahani
(w.322), Hibatullah bin Salamah (w.410) dan Ibnul Jauzi (w.597).
29 Catatan Abū Hibban & Abū Khuzaimah : Buku ini telah dicetak di
Hyderabad (India), Mesir dan Halab (Aleppo-Suriah). Judulnya : Al-I’tibar fi
Bayanin Nasikh wal Mansūkh minal Atsar.
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
33
· Buku Ibnu Hajar (w.852H) yang berjudul Ta’birul
Munabbih adalah salah satu contoh utama dalam ilmu ini.
9. ’Ilmu Athroful Hadits
Ilmu ini memudahkan untuk mencari sebuah riwayat dan
buku hadits serta para perawinya dapat ditemukan di dalam
ilmu ini. Sebagai contoh, penggalan pertama hadits :
”Sesungguhnya setiap ’amal itu tergantung niatnya…”,
apabila anda ingin mendapatkan semua kata pada hadits
tersebut sekaligus perawinya, maka anda perlu merujuk
pada ilmu ini dan buku-buku yang ditulis dalam bidang ilmu
ini, seperti :
· Kitab Tuhfatul Asyraf karya al-Haf izh al-Muzanni
(w.742H). Buku ini mengandung daftar seluruh ahadits di
dalam kutubus sittah (kitab induk hadits yang enam). Al-
Muzanni menghabiskan waktu selama 26 tahun untuk
karyanya ini yang melibatkan pengkategorisasian yang
melelahkan. Setelah upaya yang besar ini akhirnya buku
beliau ini dapat diselesaikan.
10. Fiqhul Hadits
Di dalam ilmu ini, semua hadits shahih yang berkaitan
dengan ahkam dan perintah dikumpulkan. Di dalam bidang
ilmu ini, buku-buku yang dapat diambil faidahnya adalah :
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
34
· I’lamul Muwaqqi’in30 karya Syaikhul Islam Ibnu Qoyyim
al-Jauziyah (w.751).
· Hujjatullah al-Balighah karya Syah Waliyullah ad-Dihlawi
(w.1176).
Selain itu, ada juga buku-buku yang ditulis berkenaan
dengan permasalahan dan topik lainnya, seperti misalnya
dalam bidang harta:
· Kitabul Amwal yang terkenal, karya Abū ’Ubaid Qasim bin
Sallam (w.224H).
· Kitabul Akhraj karya Qadhi Abū Yūsuf (w.182H).
Bagi mereka para pengingkar hadits (inkarus sunnah), maka
mereka adalah sasaran dari pemahaman yang bathil. Bagi
mereka buku-buku di bawah ini bisa memberikan faidah, apabila
mereka mau menelaahnya :
· Kitabul Umm karya Imam asy-Syafi’i (w.204H), juz VII.
· Ar-Risalah karya Imam asy-Syafi’i (w.204H).
· Al-Muwafaqat karya Imam Abū Ishaq asy-Syathibi
(w.790), juz IV.
· Ash-Showa`iqul Mursalah karya Ibnu Qoyyim al-Jauziyah
(w.751), juz II dan
30 Catatan Abū Hibban & Abū Khuzaimah : Judul lengkapnya adalah I’lamul
Muwaqqi’in ‘an Rabbil ‘Alamin.
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
35
· Al-Ahkam karya Ibnu Hazm al-Andalūsi (w.456H).
Juga buku di bawah ini yang berbahasa Urdu :
· Muqoddimah Tarjamanus Sunnah karya Maulana Badrul
Alam Mirthi dan
· Itsbatul Khabar karya ayahku, Maulana ’Abdus Sattar
Hasan al-Amrifūri (Amrpoor) (w.1916M/ 1324H pada usia
34 tahun).31
Untuk buku yang berkenaan dengan sejarah ilmu hadits, maka
buku-buku di bawah ini memiliki kedudukan tersendiri :
· Muqoddimah Fathul Bari karya Ibnu Hajar al-Asqolani
(w.852H).
· Jami’ Bayaanil ’Ilmi karya Hafizh Ibnu ’Abdil Barr al-
Andalūsi (w.463H).
· Ma’rifatu ’Ulūmil Hadits karya Imam Hakim (an-
Naisaburi) (w.405H) dan
· Muqoddimah Tuhfatul Ahwadzi Syarh Sunan at-Tirmidzi
karya ’Abdurrahman al-Mubarokfūri (w.1353H/1935M).
Di zaman kami, buku ini dari sisi kekomprehensivitasan
dan isinya, tidak ada bandingannya.
31 Pada masa kakekku, Hafizh ‘Abdul Jabbar al-Amrifūri, fitnah penolakan
terhadap hadits dimulai oleh orang yang bernama ‘Abdulloh al-Jakrawali
(Chakarwali). Orang ini dibantah oleh kakekku di dalam buletin bulanan yang
bernama Risalah Dhiya’us Sunnah.
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
36
Penyusun Hadits Pada Periode Ketiga
1. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullôhu (164-241H)
Karya beliau yang paling utama adalah Musnad Ahmad yang
tersusun dari 30.000 ahadits dalam 24 juz dan kebanyakan
riwayat terdapat dalam buku ini. Imam Ahmad
rahimahullohu tidak mengkategorisasikan bukunya menurut
tema, namun beliau lebih cenderung
mengkategorisasikannya menurut riwayat-riwayat sahabat
berdasarkan nama-nama mereka yang meriwayatkan hadits.
Ulama` mesir terkemuka, Muhaddits Muhammad Ahmad
Syakir mengambil tanggung jawab mengkategorisasikan
buku ini berdasarkan tema dan sejauh ini beliau telah
mencetak 15 jilid dan pekerjaan beliau masih berlangsung
hingga kini.32
2. Imam Muhammad bin Isma’il al-Bukhari
rahimahullôhu (194-246H)
Shahih al-Bukhari adalah karya utama Imam Bukhari. Judul
lengkap buku beliau ini adalah Al-Jami’ ash-Shahih al-
Musnad al-Mukhtashor min Umūri Rasūlillah Shallallahu
32 Catatan Abū Hibban & Abū Khuzaimah : Perlu diketahui, risalah ini ditulis
oleh Syaikh ‘Abdul Ghaffar Hasan pada tanggal 20 November 1956 dan ketika itu
Syaikh Ahmad Syakir masih hidup.
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
37
’alayhi wa Sallam wa Ayyamihi. Beliau menghabiskan waktu
selama 16 tahun untuk menyusun bukunya ini. Jumlah murid
beliau yang membaca buku Shahih ini bersama beliau adalah
sebanyak 90.000 orang. Terkadang, dalam satu kali
pertemuan, yang menghadiri majlis beliau mencapai 30.000
orang. Standar penelitian Imam Bukhari terhadap hadits
adalah yang paling ketat dibandingkan ulama` hadits
lainnya.
3. Imam Muslim bin Hajjaj al-Qushayri rahimahullôhu
(202-261H)
Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Bukhari adalah termasuk
diantara guru-guru beliau. Adapun Imam at-Tirmidzi, Abū
Hatim ar-Razi dan Abū Bakr bin Khuzaimah termasuk muridmurid
beliau. Buku beliau memiliki derajat tertinggi di dalam
pengkategorisasian (tabwib).
4. Abū Dawud Asy’ats bin Sulayman as-Sijistani
rahimahullôhu (204-275H)
Karya utama beliau dikenal dengan sebutan Sunan Abi
Dawud. Buku beliau ini, utamanya menggabungkan antara
riwayat-riwayat yang berkaitan dengan ahkam dengan
ringkasan (kompendium) permasalah f iqh yang berkaitan
dengan hukum. Bukunya tersusun dari 4.800 ahadits.
5. Imam Abū sa at-Tirmidzi rahimahullôhu (209-279H)
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
38
Buku beliau, Jami’ at-Tirmidzi menyebutkan seputar
permasalah fiqh dengan penjelasan yang terperinci.
6. Imam Ahmad bin Syu’aib an-Nasa`i rahimahullôhu
(w.303H)
Buku beliau bernama Sunan al-Mujtaba. Buku beliau lainnya
adalah as-Sunan al-Kubra, dimana beberapa bagiannya telah
dicetak di Bombay oleh Maulana ‘Abdush Shomad al-Katibi.
7. Imam Muhammad bin Yazid bin Majah al-Qazdiani
rahimahullôhu (w.273H)
Buku beliau dikenal dengan sebutan Sunan Ibnu Majah.
Selain buku-buku diatas, banyak buku lainnya lagi yang telah
dihimpun dan dicetak yang tidak dapat kita sebutkan di sini
semuanya secara mendetail. Buku Bukhari, Muslim dan Timidzi
disebut dengan Jami’, disebabkan buku mereka mengandung
masalah ’Aqo`id, ’ibadah, akhlaq, khobar dan lainnya. Adapun
buku Abū Dawud, an-Nasa’i dan Ibnu Majah disebut dengan
Sunan, karena buku-buku ini mengandung ahadits yang
menyinggung masalah duniawi (mu’amalah).
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
39
Thobaqot (Tingkatan) Buku-Buku Hadits
1. Berdasarkan landasan dan istilah hadits serta
keterpercayaan para perawinya, Muwaththo’ Imam Malik,
Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, memiliki derajat
tingkatan tertinggi.
2. Abū Dawud, at-Tirmidzi dan an-Nasa`i, keterpercayaan para
perawinya di bawah kategori pertama, namun mereka masih
dianggap dan dipercaya. Kategori ini juga mencakup Musnad
Ahmad.
3. Ad-Darimi (w.225H), Ibnu Majah, al-Baihaqi, ad-Daruquthni
(w.358H). buku-buku ath-Thabrani (w.360H), buku-buku
ath-Thohawi (w.321H), Musnad Imam asy-Syafi’i dan
Mustadrak al-Hakim (w.405H), buku-buku ini mengandung
semua macam hadits, baik yang shahih maupun yang dha’if.
4. Buku-buku Ibnu Jarir ath-Thobari (w.310H), buku-buku al-
Khathib al-Baghdadi (w.463H), Abu Nu’aim (w.403H), Ibnu
’Asakir (w.571H), ad-Daylami (w.509H) penulis Firdaus, al-
Kamil karya Ibnu ’Adi (w.35H), buku-buku Ibnu Marūdiyah
(w.410H), al-Waqidi (w.207H) dan buku-buku lainnya yang
termasuk dalam kategori ini. Kesemua buku-buku ini adalah
himpunan riwayat yang mengandung riwayat-riwayat palsu
(maudhū’). Sekiranya buku-buku ini diteliti, niscaya akan
banyak faidah yang dapat diperoleh.
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
40
PERIODE KEEMPAT
Periode ini, dimulai dari abad kelima hijriyah sampai hari ini.
Karya-karya yang telah dihasilkan pada periode ini antara lain :
1. Penjelasan (Syarh), catatan kaki (hasyiah) dan
penterjemahan buku-buku hadits ke dalam berbagai bahasa.
2. Lebih banyak buku-buku dalam ilmu hadits yang disebutkan,
disyarh dan diringkas.
3. Para ’ulama`, dengan kecerdasan dan didorong kebutuhan
mereka terhadap ilmu hadits, menyusun buku-buku hadits
yang dicuplik dari buku-buku yang telah ditulis dan disusun
pada abad ketiga. Diantaranya adalah :
· Misykatus Mashabih karya Waliyuddin Khathib.
Di dalam buku ini, riwayat-riwayatnya disusun
berdasarkan masalah ’aqidah, ’ibadah, mu’amalah dan
akhlaq.
· Riyadhush Shalihin33 karya Imam Abū Zakariya Yahya bin
Syarf an-Nawawi (w.676H), pensyarah kitab Shahih
Muslim.34
33 Catatan Abū Hibban & Abū Khuzaimah : Judul lengkapnya adalah
Riyadhush Shalihin min Kalami Sayyidil Mursalin.
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
41
Buku ini menghimpun masalah akhlaq dan adab secara
umum. Tiap temanya senantiasa diawali dengan ayatayat
al-Qur`an yang berkaitan dengan tema. Hal ini
merupakan ciri utama buku ini, dan metode ini pula yang
ditempuh di dalam Shahih al-Bukhari.
· Muntaqa al-Akhbar karya Mujaddid ad-Din Abūl Barakat
’Abdus Salam bin Taimiyah (w.652H).
Beliau adalah kakek dari Syaikhul Islam Taqiyuddin
Ahmad bin Taimiyah (w.728H). Qadhi asy-Syaukani
menulis sebuah syarh buku ini dalam 8 jilid, yang
berjudul Nailul Awthar.
· Bulūghul Maram35 karya Ibnu Hajar al-Asqolani (w.852H),
pensyarah kitab Shahih al-Bukhari.
Buku ini, utamanya tersusun atas hadits-hadits yang
berkaitan dengan ‘ibadah dan mu’amalah. Syarh
(penjelasan) buku ini dilakukan oleh Muhammad Isma’il
ash-Shon’ani (w.1182H) di dalam buku beliau yang
berjudul Subulus Salam Syarh Bulūghil Maram. Adalagi
syarh dalam bahasa Farsi (Persia) yang ditulis oleh
Syaikh Nawwab Shiddiq Hasan Khan al-Bupali (w.1307)
34 Catatan Abū Hibban & Abū Khuzaimah : Beliau pula-lah yang
bertanggung jawab dalam pemberian judul –judul bab dalam Shahih Muslim.
35 Catatan Abū Hibban & Abū Khuzaimah : Judul lengkapnya adalah
Bulūghul Maram min ‘Adillatil Ahkam.
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
42
yang berjudul Masakul Khatam Syarh Bulūghil Maram.
Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Urdu.
Syaikh ‘Abdul Haqq Muhaddits ad-Dihlawi bin Saif at-Turki
(w.1052) yang menyebarkan pengajaran hadits di India. Setelah
beliau, dakwah ini disebarkan oleh Syah Waliyullah ad-Dihlawi
(w.1176) dan keturunan beliau serta murid-murid beliau.
Penterjemahan buku-buku hadits ini memulai babak baru,
dimana buku-buku hadits disyarh, dicetak dan disebarkan, dan
hal ini tetap terus berlangsung sampai hari ini. Risalah yang ada
di tangan anda sekarang ini juga merupakan salah satu bagian
dari upaya ini. Saya sendiri juga telah menulis sebuah risalah,
dimana saya menghimpun di dalamnya kurang lebih sebanyak
400 ahadits. Risalah ini dicetak tahun 1956 dengan judul
Intikhab-e-hadits.

sumber: http://www.abusalma.wordpress.com

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 299 pengikut lainnya.