• Blog Stats

    • 37,544,210 hits
  • pacaran adalah perbuatan haram, maka janganlah berpacaran. Dan jangan mau jika diajak pacaran. Akan tetapi tempuhlah jalan yang halal jika memang benar-benar cinta dan ingin menikah. Segeralah menikah dan jangan berpacaran. ================================== dan janganlah kamu mendekati zina. sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk. [QS Al Isra':32] ==================================== JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA ====================================== Asy-Sya’bi berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah)
  • Artikel Terbanyak Dibaca

  • Artikel Terbaru

  • arsip artikel

  • wasiat untuk seluruh umat manusia

    kasihilah semua makhluk yang ada di muka bumi, niscaya Tuhan yang ada di atas langit akan mengasihimu.. =============================================== Cara mengasihi orang kafir diantaranya adalah dengan mengajak mereka masuk islam agar mereka selamat dari api neraka =============================================== wahai manusia, islamlah agar kalian selamat.... ======================================================
  • wasiat untuk seluruh umat islam

    ====================================== “Janganlah kamu saling dengki, saling membenci, saling mengintip rahasia, saling bersaing, saling mencari keburukan, saling menawar lebih tinggi untuk menipu pembeli sehingga menawar tinggi, saling memutuskan hubungan, saling bermusuhan, janganlah sebagian kalian menjual atas jualan yang lain. Jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang diperintahkan Allah. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh menganiaya, tidak boleh menelantarkannya dan tidak boleh menghinanya. ============================================= Taqwa ada di sini, taqwa ada di sini, taqwa ada di sini kata Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam sambil menunjuk dadanya. ================================================= Cukuplah merupakan kejelekan seseorang apabila menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain adalah haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. Hati-hatilah bersangka buruk, karena sesungguhnya bersangka buruk adalah omongan yang paling dusta. ==================================================== Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk kamu dan hartamu, tetapi ia melihat hati dan perbuatanmu.” (riwayat Muslim dan Bukhari). ==========================================
  • BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR

    BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- -------------------------------------------------------------------------------------------- Orang yang mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi janda dan orang miskin ibarat berjihad di jalan Allah dan ibarat orang shalat malam (HR. Bukhari) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain. (HR. Ahmad) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersodaqoh dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana. (HR. Ath-Thabrani) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sodaqoh. (HR. Al-Baihaqi) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Tiap-tiap amalan makruf (kebajikan) adalah sodaqoh. Sesungguhnya di antara amalan makruf ialah berjumpa kawan dengan wajah ceria (senyum) dan mengurangi isi embermu untuk diisikan ke mangkuk kawanmu. (HR. Ahmad) ------------------------------------------------------------------------------------------------------------
  • berbuat baiklah pada semua binatang, termasuk kepada anjing

    Kita tidak diperbolehkan menyiksa binatang dengan cara apa pun, atau membuatnya kelaparan, memukulinya, membebaninya dengan sesuatu yang ia tidak mampu, menyiksa atau membakarnnya. --------------------------------------------------- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Seorang wanita masuk neraka karena seekor kucing yang ia kurung hingga mati. Maka dari itu ia masuk neraka gara-gara kucing tersebut disebabkan dia tidak memberinya makan dan tidak pula memberinya minum di saat mengurung nya, dan dia tidak membiarkannya (melepaskannya) supaya memakan serangga di bumi.” (HR. al-Bukhari) ------------------------------------------------------- Dan ketika beliau melewati sarang semut yang telah dibakar, beliau bersabda, “Sesungguhnya tidak ada yang berhak menyiksa dengan api selain Rabb (Tuhan) pemilik api.” (HR. Abu Dawud, hadits shahih) ---------------------------------------------- “Barangsiapa yang tidak berbelas kasih niscaya tidak akan dibelaskasihi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) ------------------------------------------------- “Kasihanilah siapa saja yang ada di bumi ini, niscaya kalian akan dikasihani oleh yang ada di langit.” (HR. at-Tirmidzi) -------------------------------------------------- Dibolehkan membunuh hewan-hewan yang membahayakan atau mengganggu seperti anjing buas, serigala, ular, kalajengking, tikus dan lain-lain karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Ada lima macam hewan fasik (buruk) yang boleh dibunuh di waktu halal (tidak ihram) dan di waktu ihram, yaitu ular, burung gagak yang putih punggung dan perutnya, tikus, anjing buas, dan rajawali.” (HR. Muslim). Juga terdapat hadits shahih yang membolehkan untuk membunuh kalajengking. ================================================
  • JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA

    ====================================== ‘Amr bin Syarahil Asy-Sya’bi rahimahullahu berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah, 2/636. Dihasankan oleh Al-Albani dalam At-Tahrim, hal. 148) ----------------------------------------------------------------------------- Ibnu Abdil Barr rahimahullahu berkata: “Termasuk hasil usaha yang disepakati keharamannya adalah riba, upah para pelacur, sogokan (suap), mengambil upah atas meratapi (mayit), nyanyian, perdukunan, mengaku mengetahui perkara gaib dan berita langit, hasil seruling dan segala permainan batil.” (Al-Kafi hal. 191) ---------------------------------------------------------------------- Ath-Thabari rahimahullahu berkata: “Telah sepakat para ulama di berbagai negeri tentang dibenci dan terlarangnya nyanyian.” (Tafsir Al-Qurthubi, 14/56) ------------------------------------------------------------------- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “Mazhab empat imam menyatakan bahwa alat-alat musik semuanya haram.” Lalu beliau menyebutkan hadits riwayat Al-Bukhari rahimahullahu . (Majmu’ Fatawa, 11/576) --------------------------------------------------------------- ------------------------------------------
  • wasiat bagi para pemuda

    ====================================== ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Barangsiapa di antara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya mereka adalah ummat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, dan paling lurus petunjuknya, serta paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya, karena mereka berada di jalan yang lurus.” [Dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Baar dalam kitabnya Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih II/947 no. 1810, tahqiq Abul Asybal Samir az-Zuhairy] ======================================
  • wasiat Imam al-Auza’i

    ====================================== Imam al-Auza’i rahimahullah (wafat th. 157 H) mengatakan: “Bersabarlah dirimu di atas Sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para Shahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan Salafush Shalih, karena akan mencukupi kamu apa saja yang mencukupi mereka.” [Syarh Ushul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah 1/174 no. 315] --------------------------------------------------------------- Beliau rahimahullah juga berkata: “Hendaklah kamu berpegang kepada atsar Salafush Shalih meskipun orang-orang menolaknya dan jauhkanlah diri kamu dari pendapat orang meskipun ia hiasi pendapatnya dengan perkataannya yang indah.” [Imam al-Aajury dalam as-Syari’ah I/445 no. 127, di-shahih-kan oleh al-Albany dalam Mukhtashar al-‘Uluw lil Imam adz-Dzahaby hal. 138, Siyar A’laam an-Nubalaa’ VII/120] =================================================
  • Mengutip perkataan Syaikh Bin Baz rahimahullaahu

    “Zaman ini adalah zaman kelembutan, kesabaran dan hikmah, bukanlah zaman kekerasan (kebengisan). Mayoritas manusia saat ini dalam keadaan jahil (bodoh), lalai dan lebih mementingkan duniawiyah. Maka haruslah sabar dan lemah lembut sampai dakwah ini tersampaikan dan sampai mereka mengetahuinya. Kami mohon petunjuk kepada Alloh untuk semuanya.” (Majmu’ Fatawa Samahatul Imam Ibnu Bazz (Juz VIII, hal 376) dan (Juz X, hal. 91) =================================================
  • jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara

    ====================================== Segala puji hanyalah milik Alloh yang telah mempertautkan hati kaum mukminin dan menganjurkan mereka supaya bersatu padu dan saling berhimpun serta memperingatkan dari perpecahan dan perselisihan. -------------------------------------------------------- Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq untuk disembah melainkan hanyalah Alloh semata yang tidak memiliki sekutu. Dialah yang mensyariatkan dan memudahkan, dan Dia terhadap kaum mukminin adalah sangat penyantun. ------------------------------------------------------ Saya juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang diperintahkan dengan kemudahan dan berita gembira. ----------------------------------------------------- Beliau bersabda : Permudahlah dan janganlah kamu persulit, berikanlah kabar gembira dan janganlah membuat orang lari (dari kebenaran). ------------------------------------------------------ Permisalan kaum mukminin satu dengan lainnya dalam hal kasih sayang, tolong menolong dan kecintaan, bagaikan tubuh yang satu, jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan merasa demam atau terjaga” --------------------------------------------------- Tidak ragu lagi, bahwa kewajiban Ahlus Sunnah di setiap zaman dan tempat adalah saling bersatu dan menyayangi di antara mereka serta saling bekerja sama di dalam kebajikan dan ketakwaan… ==================================================---------------
  • KHUTBATUL HAJAH

    ====================================== Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, dan meminta ampun kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami, dan dari keburukan-keburukan perbuatan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah saja, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. ================================================ “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” ================================================== “Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan darinya Allah menciptakan isterinya; dan dari keduanya Allah mengembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silatur rahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” ========================================================= “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mena’ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. ============================================================ Amma ba’du; Maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad , dan seburuk-buruk perkara dalam agama adalah yang di ada-adakan, setiap yang diada-adakan (dalam urusan agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan. (HR. Muslim, an-Nasa’i dan selain keduanya) ==================================================
  • Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka (al baqarah ayat 120)

    Wahai Kaum Muslim, Telah nyata kebencian dan makar kaum kafir untuk menghancurkan Islam dan umatnya. Mereka telah melakukan konspirasi canggih dan rapi untuk mengubur Islam. Mereka terus terjaga dan berpikir keras siang-malam untuk mencari dan mencoba cara-cara terbaru untuk menghancurkan Islam. Mereka bahu-membahu dan terus bekerjasama memikirkan bagaimana merusak Islam. Mereka tak segan-segan melakukan teror, intimidasi, hingga serangan fisik dalam rangka meluluhlantakkan Islam dan umatnya. Akankah kita berdiam diri? Ridhakah kita menyaksikan Islam diinjak-injak dan dihinakan? ---------------------------------------------------------- Wahai Kaum Muslim, Islam akan terselamatkan jika kita semua berpegang teguh dengan syariat Islam, insya allah. Artinya, kita tidak hanya meyakini Islam sebatas bibir semata. Lebih jauh, kita harus menerapkan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan kita; baik dalam ibadah ritual yang biasa kita laksanakan maupun dalam bidang akhlak dan muamalah—seperti politik, ekonomi, sosial, pendidikan, dan sebagainya. ------------------------------------------------------------ Di samping itu, harus ada institusi negara (Khilafah) yang melindungi seluruh kepentingan umat Islam. Dengan institusi inilah seluruh syariat Islam akan diterapkan secara sempurna sehingga akidah umat dapat terselamatkan. Marilah kita bahu-membahu, mencurahkan pikiran dan tenaga kita demi tegaknya Khilafah Islamiyah. ---------------------------------------------------------- Sesungguhnya barat tidak memandang kita dengan dua kaca mata, namun hanya satu kaca mata saja, yaitu kacamata fanatik buta, kedengkian dan kezhaliman yang nyata terhadap kaum muslimin. Tatkala Islam tegak dengan tanpa mempermasalahkan batas-batas wilayah, bersatu dalam amal serta telah rekat persatuannya maka tiba-tiba saja mereka merobek-robek dan mencerai beraikan kita. ================================================
  • SALAFY & WAHABI BUKANLAH ALIRAN SESAT

    Al-Malik Abdul Aziz berkata : “Aku adalah penyeru kepada aqidah Salafush Shalih, dan aqidah Salafush Shalih adalah berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang datang dari Khulafaur Rasyidin” [Al-Wajiz Fi Siratil Malik Abdul Aziz hal.216] ------------------------------------------------------------------------------------- Beliau juga berkata : “Mereka menamakan kami Wahabiyyin, dan menamakan madzhab kami adalah madzhab wahabi yang dianggap sebagai madzhab yang baru. Ini adalah kesalahan fatal, yang timbul dari propaganda-propaganda dusta yang disebarkan oleh musuh-musuh Islam. Kami bukanlah pemilik madzhab baru atau aqidah baru. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tidak pernah mendatangkan sesuatu yang baru, aqidah kami adalah aqidah Salafush Shalih yang datang di dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang ditempuh oleh Salafush Shalih. Kami menghormati imam empat, tidak ada perbedaan di sisi kami antara para imam : Malik, Syafi’i, Ahmad dan Abu Hanifah, semuanya terhormat dalam pandangan kami” [Al-Wajiz Fi Siratil Malik Abdul Aziz, hal. 217] ---------------------------------------------------------
  • mengutip perkataan Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad hafizhahullaahu:

    “Telah terjadi di zaman ini, sibuknya sebagian ahlus sunnah dengan sebagian lainnya dengan tajrih (saling mencela) dan tahdzir, dan implikasi dari hal ini menyebabkan terjadinya perpecahan, perselisihan dan saling mengisolir. Padahal sepantasnya bahkan seharusnya bagi mereka untuk saling mencintai dan berkasih sayang terhadap sesama mereka, dan menyatukan barisan mereka di dalam menghadapi ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu yang menyelisihi ahlus sunnah wal jama’ah. ---------------------------------------------------- “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- agar menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dari perkara-perkara yang tidak bermanfaat bagi mereka, sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “diantara kebaikan seorang muslim adalah meninggalkan hal-hal yang tidak berfaidah baginya.” Hadits hasan diriwayatkan oleh Turmudzi.” ------------------------------------------------------ “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- untuk bersikap pertengahan dan moderat, diantara sikap ghuluw (ekstrim) dan meremehkan, dan diantara sikap ifrath (berlebih-lebihan) dan tafrith (menggampangkan). Sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “Jauhilah oleh kalian sikap ghuluw di dalam agama, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa dikarenakan sikap ghuluw mereka di dalam agama.” Ini hadits shahih, dikeluarkan oleh an-Nasa’i dan selainnya.” ---------------------------------------------------- “Dan aku nasehatkan supaya mereka berhati-hati dari sikap zhalim, dikarenakan hadits Qudsi, “Wahai hamba-Ku, sesunguhnya Aku haramkan kezhaliman atas diri-Ku, maka aku jadikan pula haram atas diri kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi” diriwayatkan oleh Muslim, dan hadits Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “takutlah kalian dari kezhaliman, karena sesungguhnya kezhaliman itu adalah kegelapan di hari kiamat” diriwayatkan oleh Muslim. ------------------------------------------------------ Aku memohon kepada Allah Azza wa Jalla untuk menunjuki seluruh ummat kepada apa yang diridhai-Nya, agar mereka mendalami agama Islam (tafaqquh fid din) dan menetapi kebenaran, serta agar mereka menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dan menjauhkan dari apa-apa yang tidak bermanfaat. Sesungguhnya Ia berkuasa dan berkemampuan atasnya. Semoga Sholawat dan Salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya dan para sahabatnya. (selesai kutipan) ===========================================
  • mengutip perkataan Imam Albani rahimahullaahu

    “Wajib atas kita untuk berlemah lembut di dalam dakwah kita terhadap orang-orang yang menyelisihi kita, dan jadikan selalu firman Alloh Ta’ala berikut (sebagai pegangan) dan untuk selamanya : “Serulah mereka ke jalan Rabb-mu dengan hikmah dan nasehat yang baik, serta berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.” Dan mereka yang pertama lebih berhak untuk kita terapkan hikmah ini adalah mereka yang paling memusuhi kita di dalam dasar (mabda’) dan aqidah kita, hingga kita tidak menggabungkan antara beratnya dakwah yang haq yang Alloh memperteguh kita dengannya dengan beratnya cara (ushlub) kita berdakwah kepada Alloh Azza wa Jalla” ==================================================
  • Diriwayatkan bahwa Hasan Al-banna berkata: “Kami menginginkan terbentuknya sosok individu muslim, rumah tangga Islami, bangsa yang Islami, pemerintahan yang Islami, negara yang dipimpin oleh negara-negara Islam, menyatukan perpecahan kaum muslimin dan negara mereka yang terampas, kemudian membawa bendera jihad dan da’wah kepada Allah sehingga dunia mendapatkan ketentraman dengan ajaran-ajaran Islam.” ==================================================
  • warning

    dalam blog ini mungkin terdapat hadits dhoif, riwayat yang tidak valid, salah tulis, kutipan yg tidak sesuai syariat islam, dan berbagai kesalahan2 lain, dan belum sempat di sensor, jadi mohon maaf sebesar-besarnya

KUMPULAN RIBUAN HADITS VERSI ONLINE (ada juga versi offline-nya, bisa di download)

Pendahuluan

  1. Pengertian Hadits
  2. Sanad dan Matan
  3. Mengenal Ilmu Hadits

Kembali Ke Atas


Ringkasan Shahih Bukhari

Oleh : Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Pendahuluan

  1. Kitab Permulaan Turunnya Wahyu
  2. Kitab Iman
  3. Kitab Ilmu
  4. Kitab Wudhu
  5. Kitab Mandi
  6. Kitab Haid
  7. Kitab Tayammum
  8. Kitab Shalat
    - Bab-Bab Sutrah Orang yang Shalat
  9. Kitab Waktu Shalat
  10. Kitab Azan
  11. Kitab Shalat Jumat
  12. Kitab Khauf
  13. Kitab Dua Hari Raya
  14. Kitab Witir
  15. Kitab Istisqa’
  16. Kitab Kusuf (Gerhana)
  17. Kitab Sujud Al-Qur’an (Sujud Tilawah)
  18. Kitab Shalat Qashar
  19. Kitab Tahajud
    - Bab-Bab Shalat Tathawwu’
  20. Kitab Shalat di Masjid Mekkah dan Madinah
  21. Kitab Amalan dalam Shalat
  22. Kitab Sujud Sahwi
  23. Kitab Jenazah
  24. Kitab Zakat
  25. Kitab Haji
  26. Kitab Umrah
  27. Kitab Orang yang Terhalang
  28. Kitab Mengganti Buruan
  29. Kitab Keutamaan-Keutamaan Kota Madinah
  30. Kitab Puasa
  31. Kitab Shalat Tarawih
  32. Kitab Keutamaan Lailatul Qadar
  33. Kitab I’tikaf

Kembali Ke Atas


Kumpulan Hadits dari Shahih Muslim

  1. Pendahuluan
  2. Iman
  3. Bersuci
  4. Haid
  5. Salat
  6. Mesjid Dan Lokasi Salat
  7. Salat musafir dan mengqasarnya
  8. Salat Jumat
  9. Salat Ied
  10. Salat Istisqa’ (minta hujan)
  11. Gerhana
  12. Jenazah
  13. Zakat
  14. Puasa
  15. Iktikaf
  16. Haji
  17. Nikah
  18. Penyusuan
  19. Talak
  20. Sumpah Li`an
  21. Memerdekakan Budak
  22. Jual-Beli
  23. Faraid
  24. Hibah
  25. Wasiat
  26. Nazar
  27. Sumpah
  28. Tentang Sumpah (Qosamah), Kelompok Penyamun, Kisas Dan Diyat
  29. Hudud
  30. Peradilan
  31. Barang Temuan
  32. Jihad Dan Ekspedisi
  33. Pemerintahan
  34. Hewan Buruan, Hewan Sembelihan Dan Hewan Yang Boleh Dimakan
  35. Kurban
  36. Minuman
  37. Pakaian Dan Perhiasan
  38. Adab
  39. Ucapan Salam
  40. Lapal-Lapal Kesopanan Dan Lainnya
  41. Syair
  42. Mimpi
  43. Keutamaan Beberapa Perkara
  44. Keutamaan Sahabat
  45. Kebajikan, Silaturahmi Dan Adab Sopan Santun
  46. Takdir
  47. Ilmu
  48. Zikir, Doa, Tobat Dan Istigfar
  49. Tobat
  50. Sifat Orang Munafik Dan Hukum Tentang Mereka
  51. Keadaan Hari Kiamat, Surga Dan Neraka
  52. Bentuk Kenikmatan Surga Dan Penghuninya
  53. Cobaan Dan Tanda-Tanda Hari Kiamat
  54. Zuhud Dan Kelembutan Hati
  55. Tafsir

Kembali Ke Atas


Ringkasan Syarah Arba’in An-Nawawi – Syaikh Shalih Alu Syaikh Hafizhohulloh

Oleh : Ustadz Abu Isa Abdulloh bin Salam (Staf Pengajar Ma’had Ihyaus Sunnah, Tasikmalaya)

Pengantar

  1. Ikhlas
  2. Iman, Islam Dan Ihsan
  3. Rukun Islam
  4. Nasib Manusia Telah Ditetapkan
  5. Perbuatan Bid’ah Tertolak
  6. Dalil Halal Dan Haram Telah Jelas
  7. Agama Adalah Nasehat
  8. Perintah Memerangi Manusia Yang Tidak Melaksanakan Shalat Dan Mengeluarkan Zakat
  9. Melaksanakan Perintah Sesuai Kemampuan
  10. Makanlah Dari Rezeki Yang Halal
  11. Tinggalkanlah Keragu-raguan
  12. Meninggalkan Yang Tidak Bermanfaat
  13. Mencintai Milik Orang Lain Seperti Mencintai Miliknya Sendiri
  14. Larangan Berzina, Membunuh Dan Murtad
  15. Berkata Yang Baik Atau Diam
  16. Tidak Mudah Marah
  17. Berbuat Baik Dalam Segala Urusan
  18. Setelah Melakukan Kesalahan Disusul Dengan Kebaikan
  19. Mintalah Tolong Kepada Allah
  20. Milikilah Sifat Malu
  21. Berlaku Istiqomah
  22. Melaksanakan Syari’at Islam Dengan Sebenarnya
  23. Suci Adalah Sebagian Dari Iman
  24. Larangan Berbuat Zhalim
  25. Bershadaqah Dari Kelebihan Harta
  26. Segala Macam Perbuatan Baik Adalah Shadaqah
  27. Jauhilah Perbuatan Yang Meresahkan
  28. Berpegang Kepada Sunnah Rasulullah Dan Khulafaur Rasyidin
  29. Shalat Lail Menghapuskan Dosa
  30. Patuhilah Perintah Dan Larangan Agama
  31. Jauhilah Kesenangan Dunia, Niscaya Dicintai Allah
  32. Tidak Boleh Berbuat Kerusakan
  33. Orang Yang Menuduh Wajib Menunjukkan Bukti
  34. Kewajiban Memberantas Kemungkaran
  35. Jangan Saling Mendengki
  36. Membantu Kesulitan Sesama Muslim
  37. Pahala Kebaikan Berlipat Ganda
  38. Melakukan Amal Sunnah Menjadikan Kita Wali Allah
  39. Kesalahan Yang Diampuni
  40. Hiduplah Laksana Seorang Pengembara
  41. Menundukkan Hawa Nafsu
  42. Allah Mengampuni Segala Dosa Orang Yang Tidak Berbuat Syirik

Penutup

Kembali Ke Atas


Kitab Hadits Bulughul Maram Min Adillatil Ahkam

Oleh : Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Ashqolani

  1. Kitab Thaharah
  2. Kitab Shalat
  3. Kitab Jenazah
  4. Kitab Zakat
  5. Kitab Puasa
  6. Kitab Haji
  7. Kitab Jual-Beli
  8. Kitab Nikah
  9. Kitab Pidana
  10. Kitab Hukuman
  11. Kitab Jihad
  12. Kitab Makanan
  13. Kitab Sumpah dan Nadzar
  14. Kitab Putus Perkara
  15. Kitab Budak
  16. Kitab Adab dan Kesopanan

Kembali Ke Atas


1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad)

Oleh : Dr. Muhammad Faiz Almath

  1. Seruan dan Peringatan Allah Ta’ala
  2. Perihal Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul
  3. Muhammad Rasulullah Saw
  4. Ketinggian Al-Qur’an
  5. Larangan Mencaci Sahabat-Sahabat Rasulullah Saw
  6. Perintah Berpegang Pada Ad-Diin-Nya
  7. Islam – Iman – Ihsan
  8. Keistimewaan Muslimin dan Mukminin
  9. Keutamaan Mempelajari Fiqih dan Ilmu Agama
  10. Hari Kiamat dan Hisab
  11. Surga dan Neraka
  12. Sunnah-Sunnah Yang Utama
  13. Bid’ah dan Kesesatan
  14. Maut dan Kematian
  15. Syuhada
  16. Sabda Nabi Saw Tentang Kuburan
  17. Ibadah
  18. Perintah Takut Kepada Allah
  19. Keutamaan Do’a
  20. Keutamaan Zikir
  21. Niat Pangkal Seluruh Aktifitas
  22. Wudhu
  23. Shalat
  24. Shaum / Puasa
  25. Zakat dan Sodaqoh
  26. Haji dan Umrah
  27. Kebaikan dan Kebajikan
  28. Perintah Beramar Ma’ruf Nahi Mungkar
  29. Amal Perbuatan
  30. Syukur dan Tahmid
  31. Akibat Berbuat Maksiat
  32. Keutamaan Ikhlas
  33. Keutamaan Ta’at Kepada Allah
  34. Keutamaan Takwa
  35. Taubat dan Istighfar
  36. Perihal Mesjid
  37. Yang Berhak Mendapat Syafa’at
  38. Rahmat Allah
  39. Kenikmatan
  40. Bahaya Bersumpah
  41. Fitnah
  42. Kepemimpinan, Keadilan dan Politik
  43. Hakim dan Kehakiman
  44. Jihad dan Perang
  45. Mata Pencaharian dan Hasil Kerja
  46. Harta dan Kekayaan
  47. Kemiskinan
  48. Menunaikan Amanat
  49. Muamalah (Hubungan Kemasyarakatan)
  50. Dunia dan Segala Isinya
  51. Jaman
  52. Ilmu Pengetahuan dan Kebodohan
  53. Halal dan Haram
  54. Pergaulan
  55. Perkawinan
  56. Wanita
  57. Ayah – Ibu – Anak – Keluarga
  58. Tetangga
  59. Pembantu Rumah Tangga dan Para Budak
  60. Anak Yatim
  61. Akhlak
  62. Akhlak yang Buruk
  63. Adab
  64. Sabar
  65. Tolong-Menolong
  66. Benar dan Dusta
  67. Murah Hati – Boros – Kikir
  68. Keberanian dan Ketakutan
  69. Zuhud dan Tamak
  70. Kezaliman
  71. Riya dan Nifak
  72. Hasud dan Ketajaman Mata
  73. Cinta dan Benci
  74. Kesombongan
  75. Perzinaan
  76. Pembicaraan dan Ucapan
  77. Ujian dan Cobaan
  78. Perjalanan
  79. Kebersihan
  80. Makanan dan Minuman
  81. Persoalan-Persoalan Pribadi
  82. Pengobatan dan Penyakit
  83. Dukun dan Peramal
  84. Hewan

Kembali Ke Atas


Sejarah Singkat Beberapa Ahli Hadits

  1. Sejarah Singkat Imam Malik
  2. Sejarah Singkat Imam Hanafi
  3. Sejarah Singkat Imam Syafi’i
  4. Sejarah Singkat Imam Hanbali
  5. Sejarah Singkat Imam Bukhari
  6. Sejarah Singkat Imam Muslim
  7. Sejarah Singkat Imam Tirmizi
  8. Sejarah Singkat Imam Al Baihaqi
  9. Sejarah Singkat Imam An-Nawawi
  10. Sejarah Singkat Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Kembali Ke Atas


Artikel-Artikel Tentang Hadits

  1. As-Sunnah, Wahyu Kedua Setelah Al-Qur`an
  2. Kewajiban Mengikuti Syari’at dan Larangan Melakukan Bid‘ah
  3. Hadits Hudzaifah Rodhiallohu Ta’ala ‘Anhu
  4. Fiqih Islam
  5. Fiqih Nasehat
  6. Syarah Hadits Wali
  7. Sekilas Tentang Kitab Riyadhus Shalihin
  8. Sunnah dan Bid’ah
  9. Beriman dan Istiqomah
  10. Kewajiban Mengikuti Sunnah
  11. Menjadi Orang Asing di Dunia
  12. Meraih Ampunan Alloh
  13. Penyakit Riya’ dan Gila Popularitas
  14. Keutamaan Orang yang Mengetahui dan Mengajar
  15. Hadits Shahih tidak mungkin bertentangan dengan Al-Qur’an
  16. Luasnya Kekuasaan Allah Dan Ampunan-Nya
  17. Muraqabah Allah (Merasa Selalu Diawasi Allah)
  18. Interakasi Seorang Hamba Terhadap Rabb, Dirinya Dan Orang Lain
  19. Hukum Bid’ah
  20. Bahaya Hadits Dla’if Dan Mawdlu’ (Palsu)
  21. Beberapa Hadits Dla’if Dan Palsu Seputar Puasa Ramadhan
  22. Berhujjah Dengan Hadits Ahad (Khabar Al-Wahid)
  23. Berhujjah Dengan Hadits Dla’if
  24. Hadits Hasan
  25. Hadits Qudsiy
  26. Silsilah Hadits-Hadits Dla’if Pilihan-1
  27. Silsilah Hadits-Hadits Dla’if Pilihan-2
  28. Silsilah Hadits-Hadits Dla’if Pilihan-3
  29. Silsilah Hadits-Hadits Dla’if Pilihan-4
  30. Silsilah Hadits-Hadits Dla’if Pilihan-5
  31. Silsilah Hadits-Hadits Dla’if Pilihan-6
  32. Silsilah Hadits-Hadits Dla’if Pilihan-7
  33. Silsilah Hadits-Hadits Dla’if Pilihan-8
  34. Silsilah Hadits-Hadits Masyhur-1
  35. Silsilah Hadits-Hadits Masyhur-2
  36. Silsilah Hadits-Hadits Masyhur-3
  37. Silsilah Hadits-Hadits Masyhur-4
  38. Silsilah Hadits-Hadits Masyhur-5
  39. Silsilah Hadits-Hadits Masyhur-6
  40. Silsilah Hadits-Hadits Masyhur-7
  41. Silsilah Hadits-Hadits Masyhur-8
  42. Silsilah Hadits-Hadits Masyhur-9
  43. Silsilah Hadits-Hadits Masyhur-10
  44. Silsilah Hadits-Hadits Masyhur-11
  45. Silsilah Hadits-Hadits Masyhur-12
  46. Silsilah Hadits-Hadits Masyhur-13
  47. Yang Perlu Anda Ketahui Dari Hadits-1
  48. Yang Perlu Anda Ketahui Dari Hadits-2
  49. Yang Perlu Anda Ketahui Dari Hadits-3
  50. Yang Perlu Anda Ketahui Dari Hadits-4
  51. Yang Perlu Anda Ketahui Dari Hadits-5
  52. Yang Perlu Anda Ketahui Dari Hadits-6
  53. Yang Perlu Anda Ketahui Dari Hadits-7
  54. Yang Perlu Anda Ketahui Dari Hadits-8
  55. Yang Perlu Anda Ketahui Dari Hadits-9

Kembali Ke Atas


HaditsWeb disusun oleh Sofyan Efendi sejak tanggal 27 Maret 2006

Please visit Sofyan Efendi’s Profile

email: sofyan@madinah.cc

http://opi.110mb.com/

Last Update : 28 Agustus 2009

Kumpulan hadis tentang Zakat dan Sodaqoh

Kumpulan hadis tentang Zakat dan Sodaqoh

1. Bersodaqoh pahalanya sepuluh, memberi hutang (tanpa bunga) pahalanya delapan belas, menghubungkan diri dengan kawan-kawan pahalanya dua puluh dan silaturrahmi (dengan keluarga) pahalanya dua puluh empat. (HR. Al Hakim)

2. Yang dapat menolak takdir ialah doa dan yang dapat memperpanjang umur yakni kebajikan (amal bakti). (HR. Ath-Thahawi)

3. Apabila anak Adam wafat putuslah amalnya kecuali tiga hal yaitu sodaqoh jariyah, pengajaran dan penyebaran ilmu yang dimanfaatkannya untuk orang lain, dan anak (baik laki-laki maupun perempuan) yang mendoakannya. (HR. Muslim)

4. Allah Tabaraka wata’ala berfirman (di dalam hadits Qudsi): “Hai anak Adam, infaklah (nafkahkanlah hartamu), niscaya Aku memberikan nafkah kepadamu.” (HR. Muslim)

5. Orang yang mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi janda dan orang miskin ibarat berjihad di jalan Allah dan ibarat orang shalat malam. Ia tidak merasa lelah dan ia juga ibarat orang berpuasa yang tidak pernah berbuka. (HR. Bukhari)

6. Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah Saw, “Sodaqoh yang bagaimana yang paling besar pahalanya?” Nabi Saw menjawab, “Saat kamu bersodaqoh hendaklah kamu sehat dan dalam kondisi pelit (mengekang) dan saat kamu takut melarat tetapi mengharap kaya. Jangan ditunda sehingga rohmu di tenggorokan baru kamu berkata untuk Fulan sekian dan untuk Fulan sekian.” (HR. Bukhari)

7. Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain. (HR. Ahmad)

8. Jauhkan dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan (sodaqoh) sebutir kurma. (Mutafaq’alaih)

9. Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sodaqoh. (HR. Al-Baihaqi)

10. Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersodaqoh dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana. (HR. Ath-Thabrani)

11. Tiada seorang bersodaqoh dengan baik kecuali Allah memelihara kelangsungan warisannya. (HR. Ahmad)

12. Naungan bagi seorang mukmin pada hari kiamat adalah sodaqohnya. (HR. Ahmad)

13. Tiap muslim wajib bersodaqoh. Para sahabat bertanya, “Bagaimana kalau dia tidak memiliki sesuatu?” Nabi Saw menjawab, “Bekerja dengan ketrampilan tangannya untuk kemanfaatan bagi dirinya lalu bersodaqoh.” Mereka bertanya lagi. Bagaimana kalau dia tidak mampu?” Nabi menjawab: “Menolong orang yang membutuhkan yang sedang teraniaya” Mereka bertanya: “Bagaimana kalau dia tidak melakukannya?” Nabi menjawab: “Menyuruh berbuat ma’ruf.” Mereka bertanya: “Bagaimana kalau dia tidak melakukannya?” Nabi Saw menjawab, “Mencegah diri dari berbuat kejahatan itulah sodaqoh.” (HR. Bukhari dan Muslim)

14. Apa yang kamu nafkahkan dengan tujuan keridhoan Allah akan diberi pahala walaupun hanya sesuap makanan ke mulut isterimu. (HR. Bukhari)

15. Sodaqoh paling afdhol ialah yang diberikan kepada keluarga dekat yang bersikap memusuhi. (HR. Ath-Thabrani dan Abu Dawud)

16. Satu dirham memacu dan mendahului seratus ribu dirham. Para sahabat bertanya, “Bagaimana itu?” Nabi Saw menjawab, “Seorang memiliki (hanya) dua dirham. Dia mengambil satu dirham dan bersodaqoh dengannya (berarti sedekah dgn 50% hartanya), dan seorang lagi memiliki harta-benda yang banyak, dia mengambil seratus ribu dirham untuk disodaqohkannya (mungkin hanya sedekah dgn 10% hartanya). (HR. An-Nasaa’i)

17. Orang yang membatalkan pemberian (atau meminta kembali) sodaqohnya seperti anjing yang makan kembali muntahannya. (HR. Bukhari)

18. Barangsiapa diberi Allah harta dan tidak menunaikan zakatnya kelak pada hari kiamat dia akan dibayang-bayangi dengan seekor ular bermata satu di tengah dan punya dua lidah yang melilitnya. Ular itu mencengkeram kedua rahangnya seraya berkata, “Aku hartamu, aku pusaka simpananmu.” Kemudian nabi Saw membaca firman Allah surat Ali Imran ayat 180: “Dan janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi.” (HR. Bukhari)

19. Tiada suatu kaum menolak mengeluarkan zakat melainkan Allah menimpa mereka dengan paceklik (kemarau panjang dan kegagalan panen). (HR. Ath-Thabrani)

20. Barangsiapa memperoleh keuntungan harta (maka) tidak wajib zakat sampai tibanya perputaran tahun bagi pemiliknya. (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Penjelasan:
Perhitungan perputaran tahun (haul) untuk menunaikan zakat ialah dengan tahun Hijriyah.

21. Tentang sodaqoh yang seakan-akan berupa hadiah, Rasulullah Saw bersabda: “Baginya sodaqoh dan bagi kami itu adalah hadiah.” (HR. Bukhari)

22. Allah Ta’ala mengharamkan bagiku dan bagi keluarga rumah tanggaku untuk menerima sodaqoh. (HR. Ibnu Saad)

Penjelasan:
Nabi Saw menolak menerima sodaqoh untuk dirinya dan keluarganya, tetapi mau menerima hadiah.

23. Tidak ada iri hati kecuali terhadap dua perkara, yakni seorang yang diberi Allah harta lalu dia belanjakan pada sasaran yang benar, dan seorang diberi Allah ilmu dan kebijaksaan lalu dia melaksanakan dan mengajarkannya. (HR. Bukhari)

24. Allah mengkhususkan pemberian kenikmatanNya kepada kaum-kaum tertentu untuk kemaslahatan umat manusia. Apabila mereka membelanjakannya (menggunakannya) untuk kepentingan manusia maka Allah akan melestarikannya namun bila tidak, maka Allah akan mencabut kenikmatan itu dan menyerahkannya kepada orang lain. (HR. Ath-Thabrani dan Abu Dawud)

25. Abu Dzarr Ra berkata bahwa beberapa sahabat Rasulullah Saw berkata, “Ya Rasulullah, orang-orang yang banyak hartanya memperoleh lebih banyak pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat dan berpuasa sebagaimana kami berpuasa dan mereka bisa bersedekah dengan kelebihan harta mereka.” Nabi Saw lalu berkata, “Bukankah Allah telah memberimu apa yang dapat kamu sedekahkan? Tiap-tiap ucapan tasbih adalah sodaqoh, takbir sodaqoh, tahmid sodaqoh, tahlil sodaqoh, amar makruf sodaqoh, nahi mungkar sodaqoh, bersenggama dengan isteri pun sodaqoh.” Para sahabat lalu bertanya, “Apakah melampiaskan syahwat mendapat pahala?” Nabi menjawab, “Tidakkah kamu mengerti bahwa kalau dilampiaskannya di tempat yang haram bukankah itu berdosa? Begitu pula kalau syahwat diletakkan di tempat halal, maka dia memperoleh pahala. (HR. Muslim)

26. Tiap-tiap amalan makruf (kebajikan) adalah sodaqoh. Sesungguhnya di antara amalan makruf ialah berjumpa kawan dengan wajah ceria (senyum) dan mengurangi isi embermu untuk diisikan ke mangkuk kawanmu. (HR. Ahmad)

Sumber: 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) – Dr. Muhammad Faiz Almath – Gema Insani Press
(hadits-hadits diatas derajatnya belum tentu sahih, kecuali yang diriwayatkan bukhari/muslim)

CONTOH HADITS MAUDHU’ (HADIS PALSU)

CONTOH HADITS MAUDHU’

Hadits maudhu’ (palsu):

“Sesungguhnya Allah menggenggam segenggam dari cahaya-Nya, lalu berfirman kepadanya, ‘Jadilah Muhammad’.”

Hadits maudhu’:

“Wahai Jabir, bahwa yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah cahaya Nabimu.”

Hadits tidak ada sumber asalnya:

“Bertawassullah dengan martabat dan kedudukanku.”

Hadits maudhu’. Demikian menurut AI-Hafizh Adz-Dzahabi:

“Barangsiapa yang menunaikan haji kemudian tidak berziarah kepadaku, maka dia telah bersikap kasar kepadaku.”

Hadits tidak ada sumber asalnya. Demikian menurut Al-Hafizh Al-’lraqi.

“Pembicaraan di masjid memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.”

Hadits maudhu’. Demikian menurut AI-Ashfahani:

“Cinta tanah air adalah sebagian daripada iman.”

Hadits maudhu’, tidak ada sumber asalnya:

“Berpegang teguhlah kamu dengan agama orang-orang lemah.”

Hadits tidak ada sumber asalnya:

“Barangsiapa yang mengetahui dirinya, maka dia telah menge-tahui Tuhannya.”

Hadis tidak ada asal sumbernya:

“Aku adalah harta yang tersembunyi.”

Hadits maudhu’:

“Ketika Adam melakukan kesalahan, ia berkata, ‘Wahai Tuhan-ku, aku memohon kepadaMu dengan hak Muhammad agar Eng-kau mengampuni padaku.”

Hadits maudhu’:

“Semua manusia (dalam keadaan) mati kecuali para ulama. Semua ulama binasa kecuali mereka yang mengamalkan (Ilmunya). Semua orang yang mengamalkan ilmunya tenggelam, kecuali me-reka yang ikhlas. Dan orang-orang yang ikhlas itu berada dalam bahaya yang besar.”

Hadits maudhu’. Lihat Silsilatul Ahaadits Adh-Dha’iifah, hadits no. 58:

“Para sahabatku laksana bintang-bintang. Siapa pun dari mere-ka yang engkau teladani, niscaya engkau akan mendapat petun-juk.”

Hadits batil. Lihat Silsilatul Ahaadits Adh-Dhaiifah, no. 87:

“Jika khatib telah naik mimbar, maka tak ada lagi shalat dan perbincangan.”

Hadits batil. Ibnu AI-Jauzi memasukkannya dalam kelompok hadits-hadits maudhu’:

“Carilah Ilmu meskipun (sampai) di negeri Cina.”

AL FIRQOTUN NAAJIYAH

JALAN GOLONGAN YANG SELAMAT

Syaikh Muhammad Jamil Zainu

Hadis-hadis Populer yang sanadnya dla’if

1. Carilah ilmu meskipun sampai di negeri Cina, karena sesungguhnya mencari ilmu adalah kewajiban atas setiap orang muslim

Hadis ini palsu. Al-Maudlu’at, Ibnu al-Jauzi, 1:215; Tartib al-Maudlu’at, adz-Dzahabi, 111; al-Fawaid al-Majmu’ah, 852; Kasyful Khafa’, al-Ajluni, 1:139.

2. Beramallah untuk duniamu seolah-olah kau akan hidup selamanya, dan berbuatlah untuk akhiratmu seolah-olah kau akan mati besok

al-Albani mengatakan; Tidak benar kalau hadis ini marfu’, maksudnya tidak benar kalau hadis ini berasa dari Nabi saw. adl-Dla’ifah:8

3. Sesungguhnya Abdurrahman bin Auf masuk sorga dengan merangkak

Hadis ini palsu, al-manar al-Munif, Ibnu al-Qayyim, 306; al-Fawaid al-Majmu’ah, asy-Syaukani, 1184;

4. Sesungguhnya segala sesuatu memiliki hati, dan sesung-guhnya hatinya Al-Qur’an adalah surat Yasin, barang siapa membaca surat Yasin, maka seolah-olah ia telah membaca Alqur’an 10 kali.

Hadis ini maudlu’. Al-Ilal Ibnu Abi Hatim, 2:55; adl-Dla’ifah, 169.

5. Menikahlah kalian dan jangan kalian bercerai, karena perceraian itu akan menggoncangkan arsy

Hadis ini maudlu’. Tartib al-Maudlu’at, 694; al-Maudlu’at, ash-Shaghani, 97; Tanzih asy-Syari’ah, 2:202.

6. Cinta tanah air sebagian dari iman

Hadis ini tidak ada asalnya, adl-Dla’ifah, 36; Kasyf al-Khafa’, 1102; al-Mashnu’, Ali al-Qari, 1:91.

7. Hikmah (ilmu pengetahuan) itu adalah barang hilang dari seorang yang hakim (bijaksana), maka apabila ia mendapatkannya maka ia adalah orang yang lebih berhak terhadapnya.

Hadis ini Dla’if. al-’Ilal al-Mutanahiyah, Ibnu al-Jauzi, 1:96; Sunan at-Tirmidzi, 5:51

8. Kami pulang dari jihad ashghar (jihad kecil) menuju jihad akbar (jihad besar). Para sahabat bertanya, apakah jihad akbar itu. Rasul saw bersabda; Jihad hati

Hadis ini tidak ada asalnya, al-Asrar al-Marfu’ah, 211; Tadzkiratu al-Maudlu’at, al-Futni, 191, Kasyf al-Khafa’, 1:511

9. Berpuasalah niscaya kau akan sehat

Hadis ini dla’if. Takhrij al-Ihya’, 3:87; Tadzkirah al-Maudlu’at, 70; al-Maudlu’at, ash-Shaghani, 72.

10. Berpikir sesaat lebih baik daripada beribadah enam puluh tahun

Hadis ini maudlu’. Tanzih asy-Syari’ah, 2:305; al-Fawa’id al-Majmu’ah, 723; Tartib al-Maudlu’at, 964.

 

11. Kalau bukan karena kamu (Nabi Muhammad saw) niscaya idak aku ciptakan dunia

Hadis maudlu’. Al-Lu’lu’ al-Marshu’, al-Musyaisyi, 454; Tartib al-Maudlu’at, 196; adl-Dla’ifah, 282.

12. Barangsiapa yang mengenal dirinya maka ia telah mengenal tuhannya

Hadis ini maudlu’, al-Asrar al-Marfu’ah, 506. Tanzih asy-Syari’ah, 2:402; Tadzkirat al-Maudlu’at,11

13. Barangsiapa tidur setelah shalat ashar maka akalnya akan terampas, maka janganlah mencaci kecuali kepada dirinya sendiri

Hadis ini disebutkan oleh Ibnu al-Jauzi di dalam maudlu’at, 3:69, as-Suyuthi menyebutkan di dalam al-La’ali’ al-Mashnu’ah, adz-Dzahabi menyebutkan di dalam Tartib al-Maudlu’at, 839.

14. Pandangan (kepada wanita yang bukan mahram) itu adalah salah satu anak panah iblis, barangsiapa yang meninggakan pandangan karena takut kepada Allah maka Alah akan mendatangkan kepadanya iman yang ia rasakan manisnya di dalam hatinya

Hadis ini dla’if sekali. At-Tarhib wa at-Targhib, al-Mundziri, 4:106; Majma’ az-Zawa’id, al-Haitsami, 8:63; Talkhish al-Mustadrak, adz-Dzahabi, 4;314.

15. Barang halal yang peling dibenci Allah adalah talaq (perceraian)

Hadis ini dla’if (lemah), al-Ilal al-Mutanahiyah. Ibnu al-Jauzi, 2:1056; adz-Dzakhirah,1:23

16. Perbedaan pendapat di kalangan ummatku adalah rahmat

Hadis ini Maudlu’. Al-Asrar al-Marfu’ah, 506; Tanzih asy-Syari’ah, 2:402. Al-Albani mengatakan; hadis ini tidak ada asalnya, adl-Dla’ifah, 57.

17. Adzan dan iqamah di telinga anak yang baru lahir

Hadis ini dla’if sekali. Bayan al-Wahm, Ibnu al-Qaththan, 4:594; al-Majruhin, Ibnu Hibban, 2:128; adl-Dla’ifah, 1:494

18. Sahabat-sahabatku bagaikan bintang-bintang, kepada siapa saja kalian mencontoh maka kalian akan mendapat petunjuk. Dalam riwayat lain dengan teks, Sasungguhnya sahabat-sahabatku seperti bintang-bintang, maka dari siapa saja kalian ambil kata-katanya maka kalian akan mendapat petunjuk

Ibnu Hazm berkata; Ini adalah khabar yang dusta, palsu, bathil dan sama sekali tidak benar. Al-Ihkam fi Ushuli al-Ahkam, 5:64; dan 6:82; Al-Albani mengatakan; Hadis ini maudlu’ (palsu), adl-Dla’ifah, 66; Lihat juga Jami’ Bayan al-Ulum wa Fadl-luhu, Ibnu Abdul Barr, 2:91

Hadis-hadis Populer yang sanadnya dla’if

penulis: Ihsan al-‘Utaibi

“Perselisihan diantara umatku adalah rahmat.” ADALAH HADIS DHAIF (LEMAH)

Diambil dari mailing list assunnah@yahoogroups.com

Message: 3        
   Date: Mon, 27 Jun 2005 15:04:12 +0700
   From: “Moch. Nur Cholis” <Moch.NurCholis@saipem.co.id>
Subject: RE: minta penjelasan Hadist

Semoga artikel dibawah bermanfaat, amin.

Hadist No. 57

“Perselisihan diantara umatku adalah rahmat.”

Hadits ini tidak ada sumbernya. Para pakar hadits telah berusaha mendapatkan sumbernya dengan meneliti dan menelusuri sanadnya, namun
tidak menemukannya. As-Subuki mengatakan “Hadits tersebut tidak dikenal di kalangan para pakar hadits dan sayapun tidak menjumpai sanadnya yang sahih, dha’if ataupun maudhu’. Pernyataan itu ditegaskan dan disepakati Syeikh Zakaria Al-Anshari dalam mengomentari tafsir Al-Baidhawi II/92.
Disitu ia mengatakan “Dari segi maknanya terasa sangat aneh dan menyalahi apa yang diketahui para ulama peneliti.” Ibnu Hazem dalam kitab Al-Ahkam fi Ushulil Ahkam V/64 menyatakan, “Ini bukan hadits.” Barangkali ini termasuk sederetan ucapan yang paling merusak dan membawa
bencana. Bila perselisihan dan pertentangan itu merupakan rahmat, pastilah kesepakatan dan kerukunan itu merupakan kutukan. Ini tidak
mungkin akan diucapkan apalagi diyakini oleh kaum muslim yang berpikir tenang dan teliti. Masalahnya hanya dua alternatif, yaitu bersepakat
atau berselisih, yang berarti pula rahmat atau kutukan (kemurkaan).
Menurut saya, kata-kata ini akan berdampak negatif bagi umat Islam dari masa ke masa. Perselisihan yang disebabkan perbedaan antar mazhab
benar-benar telah mencapai klimaksnya, bahkan para pengikut mazhab yang fanatik tidak segan-segannya mengkafirkan pengikut mazhab lain. Anehnya, jangankan para pengikut mazhab, para pemimpin atau para ulamanyapun yang mengetahui syariat dan ajaran Islam tidak seorangpun yang berusaha kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah Nabawiyah yang sahih. Padalah itulah yang diperintahkan oleh para imam mazhab yang mereka ikuti.
Imam-iman yang menjadi panutan mereka itu telah dengan tegas berpegang hanya pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, ijma dan qiyas. Karena itulah para
imam dengan tegas pula menyatakan secara bersama, “Bila hadits itu sahih, maka itulah mazhabku. Dan bila ijtihad atau pendapatku bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah yang sahih, ikutilah A-Qur’an dan Sunnah serta campakkanlah ijtihad dan pendapatku. Itulah mereka. Ulama kita dewasa ini kendatipun mengetahui dengan pasti bahwa perselisihan dan perbedaan tidak mungkin dapat disatukan kecuali dengan mengembalikan kepada sumber dalilnya, menolak yang menyalahi dalil dan menerima yang sesuai dengannya, namun tak mereka lakukan. Dengan demikian, mereka telah menyandarkan perselisihan dan pertentangan ada dalam syariat. Barangkali ini saja sudah cukup menjadi bukti bahwa itu bukan datang dari Allah SWT, kalau saja mereka itu mau benar-benar mengkaji dan mempelajari Al-Qur’an serta mencamkan firman Allah SWT dalam surat An-Nisa ayat 82, yang artinya : “…. Kalau sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (An-Nisa’ : 82).
Ayat tersebut menerangkan dengan tegas bahwa perselisihan dan perbedaan bukanlah dari Allah SWT. Kalau demikain bagaimana mungkin perselisihan itu merupakan ajaran atau syariat yang wajib diikuti apalagi merupakan suatu rahmat yang diturunkan Allah SWT? La haula wala quwwata illa billah!
Karena adanya ucapan itulah, banyak umat Islam setelah masa para imam – khususnya dewasa ini – terus berselisih dan berbeda pendapat dalam
banyak hal yang menyangkut segi akidah dan amaliah. Kalau saja mereka mau mengenali dan mencari tahu bahwa perselisihan itu buruk dan dikecam
Al-Qur’an dan Sunnah pastilah mereka akan segera kembali ke persatuan dan kesatuan.
Ringkasnya perselisihan dan pertentangan itu dikecam oleh syariat dan yang wajib adalah berusaha semaksimal mungkin untuk meniadakan dan
menjauhkannya dari umat Islam sebab hal itu menjadi penyebab utama melemahnya umat Islam seperti yang difirmankan Allah SWT : “Dan taatlah
kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu…….” (Al-Anfal : 46).
Adapun merasa rela terhadap perselisihan dan menamakannya sebagai rahmat jelas sekali menyalahi Al-Qur’an dan hadits-hadits sahih. Dan nyatanya
ia tidak mempunyai dasar kecuali ucapan diatas yang tidak bersumber dari Rasulullah SAW.
Barangkali muncul pertanyaan : para sahat Rasulullah SAW telah berselisih pendapat, padahal mereka adalah seutama-utamanya manusia.
Lalu apakah mereka juga termasuk yang dikecam Al-Qur’an dan Sunnah? Pertanyaan semacam itu dijawab oleh Ibnu Hazem : Tidak! Sama sekali
tidak! Mereka tidak termasuk yang dikecam Al-Qur’an dan Sunnah sebab mereka masing-masing benar-benar mencari mardhatillah dan demi untuk-Nya semata. Diantara mereka ada yang mendapat satu pahala karena niat yang baik dan kehendak demi kebaikan. Sungguh telah ditiadakan dosa atas
mereka karena kesalahan yang telah mereka lakukan. Mengapa? Karena mereka tidak sengaja dan tidak bermaksud (berselisih) dan tidak pula
meremehkan dalam mencari (kebenaran). Bagi mereka yang mendapat kebenaran baginya dua pahala. Begitulah umat Islam hingga hari kiamat nanti.
Adapun kecaman dan ancaman yang ada dalam Al-Qur’an dan Sunnah ditujukan bagi mereka yang dengan sengaja meninggalkan Al-Qur’an dan Sunnah setelah keduanya sampai di telinga mereka dan adanya dalil-dalil yang nyata di hadapan mereka serta kepada mereka yang menyandarkan pada si Fulan dan si Fulan, bertaklid dengan sengaja demi satu ikhtilaf, mengajak pada fanatisme sempit ala jahiliyah demi menyuburkan firqah.
Mereka sengaja menolak Al-Qur’an dan Sunnah Nabawiyah. Kecaman dan ancaman tadi khusus untuk mereka yang bila isi Al-Qur’an dan Sunnah
sesuai dengan hawa nafsu dan keinginannya lalu mereka ikuti; tetapi bila tidak sesuai, mereka kembali pada ashabiyah jahiliyahnya. Karena itu, berhati-hati dan waspadalah terhadap semua itu bila Anda mengharapkan keselamatan dan kesuksesan pada hari yang tiada guna harta dan keturunan kecuali orang-orang yang menghadap Allah SWT dengan hati bersih. (Lihat Al-Ihkam fi Ushulil-Ahkam V/67-68).

[Diambil dari SILSILAH HADITS DHA'IF DAN MAUDHU' JILID 1, Oleh Muhammad Nashiruddin Al-Albani]

DAYA RUSAK SEBUAH HADITS PALSU

DAYA RUSAK SEBUAH HADITS PALSU

Berkata sebagian kaum Muslimin : “Biarkanlah keragaman pendapat yang ada di tubuh kaum Muslimin tentang agama mereka tumbuh subur dan berkembang, asalkan setiap perselisihan dibawa ketempat yang sejuk.” Alasan mereka didasarkan pada sebuah hadits yang selalu mereka ulang-ulang dalam setiap kesempatan, yaitu hadits: Perbedaan pendapat pada umatku adalah rahmat Benarkah ungkapan ini? benarkah Rasulullah mengucapkan hadits tersebut?

Apa kata Muhadditsin tentang hadits tersebut??

Syaikh Al-Albani rahimahulah berkata: “Hadits tersebut tidak ada asalnya”. [Adh-Dha’ifah :II \ 76-85]

Imam As-Subki berkata: “Hadits ini tidak dikenal oleh ahli hadits dan saya belum mendapatkannya baik dengan sanad shahih, dha’if (lemah), maupun maudhu (palsu).”

Syaikh Ali-hasan Al-Halaby Al-Atsari berkata: “ini adalah hadits bathil dan kebohongan.” [Ushul Al-Bida’]

Dan dari sisi makna hadits ini disalahkan oleh para ulama.

Al-‘Alamah Ibnu Hazm berkata dalam Al-Ahkam Fii Ushuli Ahkam (5/64) setelah menjelaskan bahwa ini bukan hadits: “Dan ini adalah perkataan yang paling rusak, sebab jika perselisihan itu adalah rahmat, maka berarti persatuan adalah adzhab. Ini tidak mungkin dikatakan oleh seorang muslim, karena tidak akan berkumpul antara persatuan dan perselisihan, rahmat dan adzhab.”

Bagaimanakah daya rusak hadits palsu tersebut terhadap Islam ??

1. Mengekalkan perpecahan dalam Islam

Tidak ragu lagi bahwa hadits tersebut adalah tikaman para pembawanya bagi persatuan Islam yang haqiqi. Ketika para pembawa panji-panji sunnah menyeru umat kepada persatuan Aqidah dan Manhaj (jalan/metode) yang shahih. Tiba-tiba muncul orang-orang yang mengaku mengajak kepada persatuan Islam dengan berkata: “Biarkanlah kaum muslimin dengan keyakinannya masing-masing , biarkanlah kaum muslimin dengan metodenya masing-masing dalam berjalan menuju Allah, janganlah memaksakan perselisihan yang ada harus seragam dengan keyakinan dan pola pikir orang-orang arab padang pasir 15 abad yang lalu. Karena Rasulullah shallallahu’alihi wasallam bersabda: ” perselisihan pendapat pada umatku adalah rahmat.”

Allahu Akbar…!! Alangkah kejinya ungkapan tersebut dan banyak lagi perkataan yang semisalnya yang mengakibatkan kaum muslimin abadi di dalam aqidah dan manhaj yang berbeda. Padahal ayat-ayat dalam Al-Qur’an melarang berselisih pendapat dalam urusan agama dan menyuruh bersatu. Seperti Firman Allah dalam:

Ų Surat Al-Anfal ayat 46 yang artinya; “Jangan kamu berselisih, karena kamu akan menjadi lemah dan hilang kewibawaan kamu.”

Ų Surat Ar-Rum ayat 31-32: ” Jangan kamu seperti orang-orang yang musyrik, yaitu mereka mencerai-beraikan agamanya dan bergolong-golongan. Dan setiap golongan berbangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.”

Ų Surat Hud ayat: 118-119: ” Mereka terus-menerus berselisih kecuali orang yang mendapatkan rahmat dari Tuhanmu.”

Dan kita diperintah Allah Subhanahuwata’ala untuk bersatu dalam Aqidah dan manhaj diatas Aqidah dan Manhajnya Rasulullah dan para sahabatnya. Sebagaimana Firman Allah Subhhanahu wata’ala dalam surat Al-An’am ayat: 153 yang artinya: “Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.” Dan kita diperintahkan Allah untuk merujuk bersama kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah ketika terjadi perselisihan, bukannya membiarkan perselisihan aqidah dan hal-hal yang pokok dalam agama meradang di tengah ummat dengan dalih sepotong hadist palsu. Firman-Nya dalan surat An-Nisa’ ayat 59 yang artinya: ” Jika kamu berselisih pendapat maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.”

2. Kaum muslimin tidak lagi menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagi sandaran kebenaran dan hakim

Syaikh Al-Albani berkata: “Diantara dampak buruk hadits ini adalah banyak kaum muslimin yang mengakui terjadinya perselisihan sengit yang terjadi diantara 4 madzab dan tidak pernah sama sekali berupaya untuk mengembalikannya kepada Al-Qu’an dan Al-Hadits.” [Adh-Dha’ifah: I/76]

Allah berfirman menceritakan Nabi-Nya Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam ketika mengadu kepada-Nya: “Berkatalah rasul: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini suatu yang tidak diacuhkan.” [QS. Al-Furqan:30]. Sungguh hal itu terulang kembali di zaman ini dikarenakan hadist palsu yang menggerogoti ummat.

3. Umat islam tidak lagi menjadi umat terbaik yang jaya di atas umat yang lainnya.

ini dikarenakan hadits palsu tersebut menjadi dinding bagi seorang muslim untuk beramar ma’ruf nahi mungkar, seorang muslim tidak lagi menegur saudaranya yang berbuat salah dalam syirik, kekufuran, dan bid’ah serta maksiat disebabkan meyakini hadits palsu tersebut. Karena mereka menganggap semua itu sebagai suatu perbedaan yang hakikatnya adalah rahmat, sehingga tidak perlu untuk ber-nahi mungkar. Akibatnya, predikat ummat terbaik tidak lagi disandang oleh umat islam, karena telah meninggalkan syaratnya yakni Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar. Sebagaimana firman Allah dalam surat Ali-’Imran ayat:110 yang artinya: “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.

4. Ancaman dan kecaman yang keras dari Nabi, karena berkata dengan mengatasnamakan Rasulullah secara dusta.

Rasulullah bersabda : “Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia siapkan tempat duduknya dari api neraka” [Riwayat Bukhari-Muslim]. Hendaklah takut orang-orang yang mengada-adakan perkataan dusta atas nama Rasulullah, demikian pula orang-orang yang menyebarkan dan mendongengkan kisah-kisah palsu dan lemah yang hanya muncul dari prasangka belaka yang padahal prasangka itu adalah seburuk-buruk perkataan.

5. Meninggalkan perintah Allah

Ini adalah efek lanjutan dari hadist palsu tesebut, karena ketika seseorang mentolelir perselisihan aqidah, halal dan haram, serta segala sesuatu yang telah tegas digariskan oleh dua wahyu, maka di saat yang sama ia telah meninggalkan perintah Allah untuk menuntaskan setiap perselisihan kepada Al-Qur’an, dan As-Sunnah. Sebagaimana Allah berfiman : “Jika kamu berselisih pendapat maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (As-Sunnah) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir, yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya” [An-Nisa:59]6. Melemahkan kekuatan kaum Muslimin serta membuka jalan bagi orang-orang kafir untuk menghancurkan Islam dari dalam

Syaikh Ali Hasan dalam kitabnya “ushul bida” mengisyaratkan dampak buruk hadist tersebut yang dapat melemahkan kaum muslimin dan menjatuhkan kewibawaannya, karena jelas-jelas hadist palsu tersebut menebarkan benih-benih perpecahan di tubuh kaum Muslimin, sedangkan Allah berfirman :“Jangan kamu berselisih, karena kamu akan menjadi lemah dan hilang kewibawaan kamu.” [Al-Anfal: 46]. . . . kepada mereka ! ! !
Tukang mengada-ada

Simaklah firman Allah kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut :

“Seandainya dia [Muhammad] mengada-adakan sebagian perkataan atas nama Kami [Allah], niscaya benar-benar Kami pegang ia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya”
[QS. Al-Haqqah : 44 - 46]
Mereka. . .!!!

Tukang mengada-ada atas nama Allah dan Rasul-Nya.Para pembuat hadist palsu yang telah mendahului Allah dalam Syari’at.Para penebar hadist-hadist dusta yang telah mengotori Sunnah yang suci.

Tidakkah mereka takut akan ayat di atas ? ?

Mereka bukan Rasul sebagaimana Allah telah mengangkat Muhammad sebagai Rasul. Mereka bukan kekasih Allah sebagaimana Ia telah menjadikan Muhammad sebagai kekasih-Nya. Bukan pula mereka orang-orang yang disucikan oleh Allah sebagaimana Allah telah mensucikan Muhammad dari dosa.

Sungguh Allah telah mengancam keras Kekasih-Nya dalam ayat tersebut dengan berfirman: “Kami potongan tali urat jantungnya”Lalu apakah MEREKA merasa aman ???

Al-Hafidz Abul Khathab bin Dihyah berkata : “Jagalah dirimu wahai hamba-hamba Allah dari kebohongan orang yang meriwayatkan kepadamu hadist yang dikemukakan untuk memaparakn kebaikan. Sebab melakukan kebaikan harus berdasarkan syari’at dari Rasululah Shallallahu’alaihi wa sallam. Jika ternyata dia bohong maka dia keluar dari yang disyari’atkan dan berkhidmat kepada Syaithan karena dia menggunakan hadist atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak berdasarkan keterangan dari Allah.” [Ma jaa fi Syahri Sya’ban, dinukil darinya oleh Abu Syamah dalam "Al-Baits :127"]

Maraji’:
Ushul bida’ [Syaikh Ali Hasan Ali Abdul hamid]
Sifatush shalaty An-Naby Shallallahu’alaihi wa sallam [Syaikh Muhammad Nasyaruddin Al-Albani] dan sumber-sumber lainnya

Bulletin Al Hujjah, Risalah No: 45 / Thn IV / Muharram / 1423H

sumber: http://www.abusalma.wordpress.com

Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts

Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts

Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
Oleh :
Fadhilatusy Syaikh ‘Abdul Ghoffar
Hasan ar-Rahmani al-Hindi
Rahimahullôhu wa Askanahu al-Jannata al-Fasîh
Alih Bahasa Inggris :
Abū Hibban dan Abū Khuzaymah
Alih Bahasa Indonesia :
Abū Salma bin Burhan Yūsuf al-Atsari
Sumber :

http://www.theclearpath.com

Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
Disusun oleh Al-Muhaddits ‘Abdul Ghoffâr Hasan ar-Rahmânî
Sumber : http://www.clearpath.com
© Copyleft terjemahan 2007
Ebook ini boleh disebarluaskan dalam bentuk apapun selama dalam
rangka dakwah dan tidak diperjualbelikan (komersil). Saran, kritik
atau izin mempublikasikan ebook ini silakan hubungi :
Mail : abu.salma81@gmail.com
HP : 08883535658
Homepage : http://dear.to/abusalma
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts

PENGANTAR PENTERJEMAH

Alhamdulillahi, segala puji hanyalah milik Alloh semata
yang kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan
pengampunan dari-Nya, serta kami memohon perlindungan
kepada-Nya dari keburukan amal kami dan kejelekan jiwa kami.
Siapa saja yang Alloh beri petunjuk maka tiada seorangpun
yang dapat menyesatkannya, dan siapa saja yang Alloh
leluasakan di dalam kesesatan maka tiada seorangpun yang
dapat menunjukinya. Saya bersaksi, bahwa tiada Ilah yang haq
untuk disembah melainkan hanya Alloh semata yang tiada
sekutu bagi-Nya, dan saya juga bersaksi bahwa Muhammad itu
adalah utusan dan hamba Alloh.
Amma ba’du : Alhamdulillahi, kali ini kami dapat
menghadirkan sebuah ebook (electronic book) ke hadapan para
pembaca sekalian, sebuah buku yang ditunggu-tunggu oleh para
thullabul ‘ilmi (penuntut ilmu) dan pencinta ‘Ulūmul Hadits. Buku
ini adalah buah karya dari Fadhilatusy Syaikh ‘Abdul Ghoffar
Hasan ar-Rahmani Rahimahullohu, seorang ahli hadits
kenamaan dari benua India.
Buku asli ebook ini sebenarnya dalam bahasa Urdu yang
berjudul “Intikhab-e-hadits”, lalu diterjemahkan ke dalam
bahasa Inggris oleh dua penuntut ilmu mutamakkin (mumpuni)
dari benua India yang sekarang berdomisili di Inggris dalam
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
3
rangka menyebarkan dakwah ahlul hadits salafiyah, yaitu
saudara Abū Hibban dan Abū Khuzaimah hafizhahumallohu.
Versi Inggris tersebut berjudul “The Compilation of Hadeeth”.
Dari versi Inggris inilah kami menterjemahkan buku ini sehingga
hadir di hadapan para pembaca budiman dengan judul
“Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadits”.
Tidak samar atas kita, bahwa India merupakan
gudangnya Ahlul Hadits kenamaan. Di negeri ini, muncul orangorang
seperti Muhammad Hayat as-Sindi (salah satu gurunya
al-Imam Muhammad bin ‘Abdil Wahhab), Shiddiq Hasan
Khan, Waliyulloh ad-Dihlawi, ‘Abdurrohman al-
Mubarokfūri, Badi’uddin Syah ar-Rasyidi, dan lain lain
rohimahumullohu jami’an. Hingga hari ini, kita masih mendengar
pakar hadits dari India, semisal Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir
(penulis ternama), Washiyulloh al-‘Abbas (guru besar hadits
Universitas Ibnu Su’ud), Zubair ‘Ali az-Za’i (Syaikhul hadits
India), Muhammad Ra`is an-Nadwi (Syaikhul hadits India),
Shafiyurrahman al-Mubarokfūri (penulis ar-Rahiqul
Makhtūm), Muhammad Musthofa al-A’zhami (guru besar
Universitas Ibnu Su’ud), Hafizh Ahmadullah (Dosen hadits
Jami’ah Salaf iyah Faysalabad) dan lain-lain.
Tidak sedikit pula kita dengar, banyak ‘ulama` ahlus
sunnah di luar India, mengambil ilmu dari muhaddits India,
semisal Syaikh Rabi’ bin Hadi yang belajar hadits kepada
Syaikh ‘Abdul Ghoffaar ar-Rahmani (penulis buku ini).
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
4
Demikian pula dengan Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali,
Muhammad Mūsa Nashr, ‘Ali Ridha dan selainnya, yang juga
menimba ilmu dari ‘ulama` hadits India.
Di India inilah, ahli-ahli hadits bermunculan dan akan
senantiasa muncul –insya Alloh- muhaddits-muhaddits baru di
setiap zaman. Di sini pulalah Jum’iyah Ahlil Hadits didirikan, dan
studi-studi ilmu hadits tumbuh subur dan berkembang. Semoga
Alloh senantiasa melestarikan keberadaan ahlul hadits ahlus
sunnah, salaf iyah, al-Firqoh an-Najiyah, ath-Tho`ifah al-
Manshūroh hingga hari kiamat kelak…
Malang, 29 Syawwal 1428
Abū Salma bin Burhan Yūsuf
At-Tirnati tsumma al-Malanji al-Atsari
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
5
Biografi SingkaBiografi Singkat
Syaikh ‘Abdul Ghoffâr ar-Rahmânî
Kelahiran beliau :
Nama beliau adalah ‘Abdul Ghoffar Hasan, putera dari Syaikh
al-Hafizh ‘Abdus Sattar Hasan. Beliau lahir pada tahun 1331
H. yang bertepatan dengan tahun 1913 M. di Amripur, sebuah
distrik di wilayah Muzhaffarnagar.
Keluarga beliau :
Beliau berasal dari keluarga yang berpegang teguh dengan al-
Qur`an dan as-Sunnah. Ayah dan kakek beliau, termasuk
anggota keluarga beliau lainnya, termasuk ‘ulama` besar
ternama pada zamannya. Diantara mereka adalah murid-murid
dari guru besar hadits, Syaikhul Kulli fil-Kulli Mi`an Nazhir
Husayn Muhaddits ad-Dihlawi.
Pendidikan beliau :
Syaikh menyelesaikan Dars Nizhami dari Darul Hadits ar-
Rahmaniyah di Delhi pada tahun 1933 M. Kemudian beliau
melanjutkan studinya di Universitas Lucknow dan Punjab dan
selesai pada tahun 1935 dan 1940.
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
6
Beliau pernah mengajar di berbagai institusi selama hidupnya.
Beliau mengajar hadits, bahasa ‘Arab dan ilmu-ilmu yang
berkaitan dengannya di Madrosah ar-Rahmaniyah selama 7
tahun. Beliau kemudian mengajar di Madrosah Kautsarul ‘Ulūm
dan institusi lainnya di sekitar Pakistan, seperti di Lahore,
Sialkot, Rawalpindi, Faisalabad, Sahiwal dan Karachi sampai
tahun 1964.
Pada tahun 1964, beliau diminta untuk mengajar di Jami’ah
Islamiyah Madinah Munawwaroh (Islamic University of Madinah).
Beliau mengajar di sana selama hampir 16 tahun. Beliau
mengajarkan hadits, ‘ulūmul hadits dan ‘aqidah al-Islamiyah.
Selama waktu ini pula, beliau mengajar di Kulliyatu Syari’ah
(Fakultas Syari’ah), ‘Ushūlud Din dan Kulliyatul Hadits (Fakultas
Hadits).
Kemudian pada tahun 1981 sampai 1985, beliau mengajarkan
kitab hadits monumental, Shahih al-Bukhari di Kulliyatu at-
Tarbiyah al-Islamiyah (Fakultas Pendidikan Islam), selain ilmuilmu
lainnya yang beliau ajarkan.
Usaha Dakwah beliau :
Pasca tahun 1985, beliau bekerja di Darul Ifta`(Lembaga Fatwa)
‘Arab Saudi. Hal inilah yang menyebabkan beliau harus
bepergian ke berbagai negara dalam rangka dakwah. Diantara
negara yang telah beliau kunjungi adalah :
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
7
· Uganda
· Kenya
· Inggris
· Bangladesh, dan
· India
Selama tinggal di Kenya, beliau mendirikan sebuah institusi
yang bernama Tsanawiyah dimana beliau mengajarkan berbagai
ilmu Islam di sana. Sekembalinya ke ‘Arab Saudi, beliau dikirim
kembali ke London, Inggris, dalam rangka membantu dakwah di
sana. Beliau mendirikan institusi lain di London yang bernama
“The Qur`an dan Sunnah Society” (QSS London).
Guru beliau :
Diantara guru-guru beliau adalah :
· Syaikhul Hadits Syaikh Ahmadulloh.
· Syaikhul Hadits ‘Ubaidillah al-Mubarokfūri (ar-Rahmani)
· Syaikh Nazhir Ahmad al-A’zhami.
· Syaikhul Hadits Syaikh Muhammad Sūrthi (Ustadz
Jami’ah ar-Rahmaniyah)
· Dan selama beberapa waktu singkat, beliau belajar
kepada ‘ulama` besar hadits, ‘Abdurrohman al-
Mubarokfūri. [Beliau adalah penulis Tuhfatul Ahwadzi]
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
8
Murid beliau :
Diantara murid-murid beliau adalah :
· Syaikh ‘Abdul Ghafūr Multani (Maktab ad-Da’wah as-
Su’udiyah).
· Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkholi.
· Syaikh Abu ‘Usamah Salim bin ‘Ld al-Hilali.
· Al-‘Allamah Ihsan Ilahi Zhahir.
· Syaikh ‘Abdurrohman Azhar Madani (Lahore).
· Syaikh ‘Abdulloh (Jami’ah ar-Rasyidiyah).
· Syaikh Mas’ūd ‘Allam (Alumni Universitas Madinah).
· Syaikh ‘Abdul Hakim (Jami’ Masjid Ahlul Hadits
Rawalpindi).
· Syaikh Muhammad Basyir Siyalkati (Rektor Darul ‘Ilm
Islamabad).
· Syaikh Muhammad ‘Abdulloh (Darul Qur`an Faishalabad).
· Syaikh Hafizh Ahmadulloh (Syaikhul Hadits Jami’ah
Salafiyah Faishalabad).
· Tiga putera beliau, semuanya alumni Universitas Islam
Madinah, yaitu Suhaib, Suhail dan Raghib Hasan.
Dan masih banyak lagi lainnya…
Karya beliau :
Syaikh adalah seorang penulis ulung dan kemampuan beliau
dalam berbagai bahasa adalah bukti akan karya-karya beliau.
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
9
Selama hidupnya, syaikh menulis sejumlah buku, namun syaikh
paling banyak menulis artikel untuk berbagai majalah Ahlul
Hadits di India dan Pakistan. Jawaban-jawaban beliau terhadap
berbagai macam permasalahan, berkisar mulai dari bantahan,
tanggapan dan klarifikasi, yang senantiasa dipenuhi dengan ilmu
dan penyandaran yang kokoh terhadap manhaj salaf.
Beliau banyak menulis artikel yang membantah Qadhiyaniyah.
Beliau juga menulis buku yang berjudul Qashashul Qur`an untuk
pemerintah kerajaan ’Arab Saudi yang dikirimkan untuk Afrika.
Diantara hasil karya tulis beliau adalah :
· Mukhtarul Ahadits (Seleksi Hadits Pilihan) yang berisi 400
hadits pilihan beserta syarh (penjelasan)-nya secara
ringkas.
· Makanatun Nisa` f il Islam (Status Wanita di dalam Islam)
· Haqiqotud Du’a` (Hakikat Do’a)
· Al-Ghulū fid Din (Berlebih-lebihan di dalam Agama)
· The Greatness of Hadeeth (Keagungan Hadits). Buku ini
merupakan harta karun terbesar dalam bidang hadits.
Buku ini menyediakan jawaban atas keragu-raguan dan
tuduhan para penginkar hadits (Inkarus Sunnah).
Di akhir hayatnya, syaikh tinggal di Pakistan dan hidup sampai
usia 90-an. Semoga Alloh membalas atas semua usaha beliau
dengan surga-Nya dan merahmati beliau serta mengampuni
segala dosa-dosa beliau.
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts

Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts

Dengan Nama Allôh Yang Maha Pengasih Lagi Maha
Penyayang
Penjagaan dan pemeliharaan ahadits datang dengan tiga cara :
1. Ummat yang mengamalkan ahadits tersebut.
2. Hafalan (Hifzh) dan tulisan (kitabah)
3. Meriwayatkan dan mengajarkan ahadits dalam halaqoh
dan dars.
Dengan menggunakan metode-metode ini, pengumpulan, tadwin
(penghimpunan), pengklasifikasian, tabwib (formasi) dan
penulisan ahadits dapat diklasifikasikan dalam empat empat
periode, yaitu :
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts

PERIODE PERTAMA
Periode ini bermula dari rentang hidup Nabiyulloh Muhammad
Shallallahu ‘alayhi wa Sallam sampai abad pertama hijriyah.
Pada masa ini, ahadits dikumpulkan dengan cara hafalan,
pengajaran dan penghimpunan (tadwin). Perinciannya adalah
sebagai berikut :
Penghafal Hadits Terkenal
Kalangan Shahâbah :
1. Abū Hurayrah (‘Abdurrahman) Radhiyallohu ‘anhu, beliau
wafat tahun 59 H pada usia 78 tahun. Beliau meriwayatkan
5374 ahadits. Murid beliau berjumlah hampir 800 orang.
2. ‘Abdulloh bin ‘Abbas Radhiyallohu ‘anhu, beliau wafat tahun
68 pada usia 71 tahun. Beliau meriwayatkan 2660 hadits.
3. ‘A`isyah ash-Shiddiqah Radhiyallohu ‘anha, beliau wafat
tahun 58 pada usia 67 tahun. Beliau meriwayatkan 2210
hadits.
4. ‘Abdulloh bin ‘Umar Radhiyallohu ‘anhu, beliau wafat tahun
73 pada usia 84 tahun. Beliau meriwayatkan 1630 hadits.
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
12
5. Jabir bin ‘Abdulloh Radhiyallohu ‘anhu, wafat tahun 78 pada
usia 94 tahun. Beliau meriwayatkan 1560 hadits.
6. Anas bin Malik Radhiyallohu ‘anhu, wafat tahun 93 pada
usia 103 tahun. Beliau meriwayatkan 1286 hadits, dan
7. Abū Sa’id al-Khudri Radhiyallohu ‘anhu, wafat tahun 74
pada usia 84 tahun. Beliau meriwayatkan 1170 hadits.
Mereka semua ini termasuk para sahabat yang menghafalkan
hadits lebih dari 1000. Kemudian :
8. ‘Abdulloh bin ‘Amr bin ‘Ash Radhiyallohu ‘anhu (w. 63H)
9. ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallohu ‘anhu (w. 40H), dan
10. ‘Umar ibn al-Khaththab Radhiyallohu ‘anhu (w. 33H).
Ketiga sahabat ini termasuk yang menghafalkan hadits antara
500 sampai 1000 hadits.
11. Abū Bakr ash-Shiddiq Radhiyallohu ‘anhu (w. 13H)
12. ‘Utsman bin ‘Affan Dzūn Nūr’ayni Radhiyallohu ‘anhu (w.
36H)
13. Ummu Salamah Radhiyallohu ‘anha (w. 59H)
14. Abū Mūsa al-Asy’ari Radhiyallohu ‘anhu (w. 52H)
15. Abū Dzarr al-Ghifari Radhiyallohu ‘anhu (w. 32H)
16. Abū ‘Ayyūb al-Anshari Radhiyallohu ‘anhu (w. 51H)
17. ‘Ubay bin Ka’ab Radhiyallohu ‘anhu (w. 19H), dan
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
13
18. Mu’adz bin Jabal Radhiyallohu ‘anhu (w. 81H)
Mereka semua ini termasuk sahabat yang meriwayatkan lebih
dari 100 hadits namun kurang dari 500.
Kalangan Tâbi’în :
Kita tidak dapat melupakan para Tabi’in senior, setelah
perjuangan mereka yang tidak ada hentinya, mengumpulkan
harta berharga Sunnah, sehingga Ummat Muhammad
Shallallahu ‘alayhi wa Sallam dapat diperkaya dengan khazanah
sunnah tersebut untuk selamanya. Diantara mereka adalah :
1. Sa’id ibn al-Musayyib
Beliau dilahirkan pada tahun kedua di zaman berkuasanya
‘Umar Radhiyallohu ‘anhu di Madinah dan meninggal pada
tahun 105 H. Beliau mempelajari ahadits dan seluk beluk
ilmunya dari ‘Utsman, ‘A`isyah, Abū Hurayrah dan Zayd bin
Tsabit Radhiyallohu ‘anhum.
2. ‘Urwah bin Zubayr
Beliau adalah diantara orang yang dianggap paling berilmu
dari Madinah. Beliau merupakan kemenakan dari ’A`isyah
Radhiyallohu ‘anha dan paling banyak meriwayatkan dari
bibinya tersebut. Beliau memiliki fadhilah karena menjadi
murid Abū Hurayrah Radhiyallohu ‘anhu dan Zayd bin Tsabit
Radhiyallohu ‘anhu. Shalih bin Kisan dan Imam az-Zuhri
adalah diantara murid beliau yang terkenal. Beliau
meninggal dunia pada tahun 94H.

3. Salim bin ‘Abdillah bin ‘Umar
Beliau adalah diantara tujuh qadhi (hakim) terkenal di
Madinah. Beliau mempelajari hadits dari ayahnya, ’Abdulloh
bin ’Umar Radhiyallohu ‘anhu dan sahabat lainnya. Naf i’, az-
Zuhri dan banyak ulama` tabi’in lainnya adalah murid beliau.

4. Nafi’
Beliau adalah mawla (mantan budak) ‘Abdulloh bin ‘Umar
Radhiyallohu ‘anhu dan murid utamanya. Beliau adalah
gurunya Imam Malik Rahimahulloh. Riwayat Malik dari Nafi’
dari ‘Abdulloh bin ‘Umar dari Rasululloh Shallallahu ‘alayhi
wa Sallam merupakan rantai sanad emas menurut para
‘ulama` hadits. Beliau wafat pada tahun 117.
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts

Karya Tulis Pada Periode Pertama

1. Shahifah ash-Shadiqah
Shahifah ini dinisbatkan kepada ‘Abdulloh bin ‘Amr bin ‘Ash (w.
63H pada usia 77 tahun). Beliau memiliki kecintaan yang sangat
besar di dalam menulis dan mencatat. Apa saja yang beliau
dengar dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa Sallam akan
segera beliau catat. Beliau secara pribadi mendapatkan izin
khusus dari Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam.1. Risalah beliau
ini terdiri dari sekitar 1000 ahadits. Risalah ini tetap dijaga dan
dipelihara oleh keluarga beliau dalam waktu yang lama. Semua
isi risalah ini dapat ditemukan di dalam Musnad Imam Ahmad
Rahimahulloh.

2. Shahifah ash-Shahihah
Shahifah ini dinisbatkan kepada Humam bin Munabbih (w.
101H). Beliau termasuk murid terkenal Abū Hurayrah
Radhiyallohu ‘anhu. Beliau menuliskan semua ahadits dari
gurunya. Salinan manuskrip ini masih tersedia di Perpustakaan
Berlin di Jerman dan di Perpustakaan Damaskus (Suriah). Imam
Ahmad bin Hanbal Rahimahulloh telah mengkategorisasikan
semua isi Shahifah ini di dalam Musnad-nya di bawah bab
1 Lihat : Mukhtashor Jami’ Bayanil ‘Ilm; hal. 36-7
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
16
riwayat Abū Hurayrah Radhiyallohu ‘anhu.2 Risalah ini, setelah
upaya tahqiq mengagumkan yang dilakukan oleh Dr.
Hamidullah, telah dicetak dan didistribusikan di Hyderabad
(Deccan). Risalah ini mengandung 138 riwayat. Shahifah ini,
merupakan bagian (juz`) dari ahadits yang diriwayatkan dari
Abū Hurayrah dan mayoritas riwayat-riwayatnya terdapat di
dalam Bukhari dan Muslim, yang kata-kata dalam ahadits-nya
hampir sama semua dan tidak ada perbedaan mencolok.
3. Shahifah Basyir bin Nahik
Beliau adalah murid Abū Hurayrah Radhiyallohu ‘anhu. Beliau
juga mengumpulkan dan menulis sebuah risalah ahadits yang
beliau bacakan kepada Abū Hurayrah Radhiyallohu ‘anhu,
sebelum mereka meninggal dunia beliau telah memeriksanya.3
4. Musnad Abū Hurayrah Radhiyallôhu ‘anhu
Musnad ini ditulis selama masa sahabat. Salinan Musnad ini ada
pada ayahanda ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz Radhiyallohu ‘anhu, yaitu
‘Abdul ‘Aziz bin Marwan, seorang Gubernur Mesir yang
meninggal pada tahun 86H. Beliau menulis kepada Katsir bin
Murrah memerintahkannya untuk menulis semua hadits yang
didengarnya dari para sahabat lalu mengirimkannya kepadanya.
Di dalam surat perintahnya ini, beliau mengatakan pada Katsir
2 Perincian lebih jauh, silakan lihat Shahifah Humam yang ditahqiq oleh Dr.
Hamidullah dan Musnad Ahmad (II/312-18).
3 Lihat Jami’ul Bayan (I/72) dan Tahdzibut Tahdzib (I/470).
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
17
tidak perlu mengirimkan ahadits riwayat Abū Hurayrah, karena
beliau telah memilikinya.4
Musnad Abū Hurayrah Radhiyallohu ‘anhu ini ditulis kembali
dalam bentuk tulisan tangan oleh Ibnu Taymiyah Rahimahulloh,
dan tulisan tangan ini masih tersedia di Perpustakaan Jerman.5
5. Shahifah ‘Ali Radhiyallôhu ‘anhu
Kita dapati dari penelitian Imam Bukhari bahwa Shahifah ini
cukup besar dan di dalamnya berisi masalah zakat, ‘amaliyah
yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan di Madinah,
Khuthbah Hajjatil Wadda’ dan petunjuk-petunjuk Islami.6
6. Khutbah Terakhir Nabi Shallâllâhu ‘alayhi wa Sallam
Pada Fathul Makkah (Penaklukan Kota Makkah), Nabi Shallallahu
‘alayhi wa Sallam memerintahkan Abū Syah Yamani
Radhiyallohu ‘anhu untuk menuliskan khutbah terakhir beliau.7
7. Shahifah Jabir Radhiyallôhu ‘anhu
Murid beliau, Wahb bin Munabbih (w. 110H) dan Sulayman bin
Qays al-Asykari, menghimpun riwayat Jabir Radhiyallohu ‘anhu.
4 Lihat Shahifah Humam (hal. 50) dan Thobaqot Ibnu Sa’ad (VII/157)
5 Lihat Muqoddimah Tuhfatul Ahwadzi Syarh Jami’ ath-Tirmidzi (hal. 165)
6 Lihat Shahih al-Bukhari, Kitab al-I’tisham bil Kitabi was Sunnah (I/451).
7 Lihat Shahih al-Bukhari (I/20), Mukhtashor Jami’ Bayanil ‘Ilm (hal. 36) dan
Shahih Muslim (I/349).
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
18
Di dalamnya, mereka menuliskan permasalahan haji dan
Khuthbah Hajjatul Wadda’.8
8. Riwayat ‘A`isyah ash-Shiddiqah Radhiyallôhu ‘anhâ
Riwayat ‘A`isyah ash-Shiddiqah Radhiyallohu ‘anha ditulis oleh
murid beliau, ‘Urwah bin Zubayr.9
9. Ahâdîts Ibnu ‘Abbas Radhiyallôhu ‘anhu
Ada cukup banyak kompilasi ahadits Ibnu ‘Abbas Radhiyallohu
‘anhu. Sa’id bin Jubair diantara yang menghimpun ahadits
beliau.10
10. Shahifah Anas bin Malik Radhiyallôhu ‘anhu
Sa’id bin Hilal meriwayatkan bahwa Anas bin Malik Radhiyallohu
‘anhu akan menyebutkan semua hadits yang beliau tulis dengan
ingatan/hafalan. Ketika menunjukkan kepada kami, beliau
mengatakan :
“Saya mendengarkan langsung riwayat ini dar i Rasūlulloh
Shallallahu ‘alayhi wa Sallam, saya akan menuliskannya dan
membacanya kembali di hadapan Rasūlulloh Shallallahu ‘alayhi
wa Sallam sehingga beliau menyetujuinya.”11
8 Lihat Tahdzibut Tahdzib (IV/215)
9 Lihat Tahdzibut Tahdzib (VIII/183)
10 Lihat ad-Darimi (hal. 68)
11 Lihat Shahifah Humam (hal. 34) dari al-Khathib al-Baghdadi dan al-Hakim
(III/574).
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
19
11. ‘Amru bin Hazm Radhiyallôhu ‘anhu
Ketika beliau diangkat menjadi Gubernur dan dikirim ke Yaman,
beliau diberi perintah dan petunjuk tertulis. Beliau tidak hanya
menjaga petunjuk tersebut, namun beliau juga menambahkan
21 perintah Rasūlulloh Shallallahu ‘alayhi wa Sallam dan beliau
jadikan dalam bentuk buku.12
12. Risalah Samūroh bin Jundub Radhiyallôhu ‘anhu
Risalah ini diberikan kepada putera beliau dalam bentuk sebuah
wasiat. Risalah ini adalah ‘harta’ yang besar.13
13. Sa’ad bin ‘Ubadah Radhiyallôhu ‘anhu
Beliau telah mengetahui bagaimana cara membaca dan menulis
semenjak zaman Jahiliyah.
14. Maktūb Nafi’ Radhiyallôhu ‘anhu
Sulayman bin Mūsa meriwayatkan bahwa ‘Abdulloh bin ‘Umar
Radhiyallohu ‘anhu mendiktekan hadits sedangkan Nafi’
menulisnya.14
15. ‘Abdulloh bin Mas’ūd Radhiyallôhu ‘anhu
Ma’an meriwayatkan bahwa ‘Abdurrahman bin ‘Abdulloh bin
Mas’ūd mengeluarkan sebuah buku, ketika beliau membuka
12 Lihat al-Watsa`iq as-Siyasah (hal. 105) dan ath-Thobari (hal. 104).
13 Lihat Tahdzibut Tahdzib (IV/236)
14 Lihat ad-Darimi (hal. 69) dan Shahifah Humam (hal. 45) dari Thobaqot Ibnu
Sa’ad.
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
20
penutup buku tersebut, beliau berkata : “Ayahku yang menulis
ini.”15
Apabila penelitian ini dilanjutkan dengan menyebutkan jumlah
contoh-contoh lainnya, niscaya jumlahnya akan terlalu besar.
Selama periode pertama ini, para sahabat Radhiyallohu ‘anhum
dan ulama` Tabi’in besar, lebih menfokuskan menggunakan
hafalan mereka daripada menulis. Pada periode kedualah,
pengumpulan ahadits (dalam bentuk buku) bermula.
15 Lihat Mukhtashor Jami’ Bayanil ‘Ilm (hal. 37)
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
21
PERIODE KEDUA
Periode kedua dimulai dari sekitar pertengahan abad kedua
hijriyah. Selama periode ini, sejumlah besar tabi’in mulai
menghimpun karya mereka dalam bentuk buku.
Penghimpun Hadits
1. Muhammad bin Syihab az-Zuhri Rahimahullôh (w.
124H)
Beliau dianggap sebagai ‘ulama` hadits terbesar di
zamannya. Beliau menimba ilmu dari orang-orang besar.
Diantara kalangan sahabat radhiyallohu ‘anhum ajma’iin
yang menjadi gurunya adalah :
· ‘Abdulloh bin ‘Umar Radhiyallohu ‘anhu
· Anas bin Malik Radhiyallohu ‘anhu, dan
· Sahl bin Sa’ad Radhiyallohu ‘anhu.
Diantara Tabi’in yang menjadi gurunya adalah :
· Sa’id ibn al-Musayyib Rahimahulloh
· Mahmūd bin Rabi’ah Rahimahulloh
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
22
Diantara murid beliau adalah :
· Imam al-Awza’i Rahimahulloh (w. 167H).
· Imam Malik Rahimahulloh (w. 179H), dan
· Sufyan bin ‘Uyainah Rahimahulloh (w. 1668H).
Murid-murid beliau termasuk imam- imam hadits terbesar.
Pada tahun 101H, beliau diperintahkan oleh ‘Umar bin ‘Abdil
‘Aziz Rahimahulloh untuk mengumpulkan dan menghimpun
hadits. Selain itu juga, ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz Rahimahulloh
memberikan perintah kepada Gubernur Madinah, Abū Bakr
Muhammad bin ‘Amrū bin Hazm untuk menuliskan semua
ahadits yang dimiliki oleh ‘Umrah bintu ‘Abdirrahman dan
Qasim bin Muhammad.
Ketika ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz Rahimahulloh memerintahkan
semua orang yang bertanggung jawab di negara Islam untuk
mengumpulkan ahadits, kumpulan itu berbentuk sebuah
buku. Ketika mereka sampai ke ibukota Damaskus, salinan
kopi buku tersebut dikirimkan ke semua penjuru negeri
Islam.16 Setelah Imam az-Zuhri Rahimahulloh mulai
mengumpulkan ahadits, ahli ‘ilmu lainnya mulai turut
bergabung dengan beliau, yang terutama diantara mereka
adalah :
16 Lihat Tadzkiratul Huffazh (I/106) dan Mukhtashor Jami’ Bayanil ‘Ilm (hal. 38)
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
23
2. ‘Abdul Malik bin Juraij Rahimahullôh (w. 150H) di
Makkah
3. Imam al-Awza’i Rahimahullôh (w. 157H) di Syam
(Suriah)
4. Mu’ammar bin Rasyid Rahimahullôh (w/ 153H) di
Yaman
5. Imam Sufyan ats-Tsauri Rahimahullôh (w. 161H) di
Kūfah
6. Imam Hammad bin Salamah Rahimahullôh (w. 167H)
di Bashra
7. ‘Abdulloh ibn al-Mubarok Rahimahullôh (w. 181H) di
Khurosan,
8. Malik bin Anas Rahimahullôh (93-179H)
Imam Malik memiliki kedudukan di dalam mengajarkan
hadits di Madinah setelah Imam az-Zuhri. Beliau menimba
ilmu dari Imam az-Zuhri, Imam Nafi’ dan ulama` besar
lainnya. Murid beliau mencapai 900 orang dan pelajaran
beliau menyebar sampai ke Hijaz, Syam, Palestina, Mesir,
Afrika dan Andalusia (Spanyol). Diantara murid-murid beliau
adalah :
· Laits bin Sa’ad Rahimahulloh (w. 175H).
· ’Abdulloh ibn al-Mubarok Rahimahulloh (w. 181H).
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
24
· Imam asy-Syafi’i Rahimahulloh (w. 204H), dan
· Imam Muhammad bin Hasan asy-Syaibani Rahimahulloh
(w. 189H).
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
25
Karya Tulis Periode Kedua
Karya Tulis pada Periode Kedua
1. Muwaththo` Imam Malik
Selama rentang waktu ini, sejumlah buku hadits telah
disusun, Muwaththo` memiliki kedudukan tersendiri pada
periode ini. Buku ini ditulis antara tahun 130H sampai 141H.
Buku ini memiliki kurang lebih 1.720 ahadits, dimana :
· 600 hadits-nya marfū’ (terangkat sampai kepada Nabi
Shallallahu ’alayhi wa Sallam).
· 222 hadits-nya mursal (adanya perawi sahabat yang
digugurkan)17
17 Catatan Penterjemah : Definisi yang diberikan oleh penterjemah Inggris
(i.e. Abū Hibban dan Abū Khuzaimah) ini kurang tepat. Apabila hadits mursal
didefinisikan dengan hilangnya atau digugurkannya perawi sahabat, niscaya
hadits mursal ini merupakan hujjah, karena semua sahabat menurut ijma’ ahlus
sunnah adalah tsiqqoh (kredibel). Yang benar, menurut penulis Nuzhatun
Nazhor, hadits mursal adalah : “yang digugurkan perawi akhir setelah tabi’i.
Gambarannya adalah, seorang tabi’i baik senior maupun junior yang
mengatakan Rasūlulloh Shallallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda atau berbuat
demikian atau ada yang berbuat sesuatu dihadapan beliau, atau yang
semisalnya.” Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabi mengomentari : “Pada ucapan ini
terdapat bantahan terhadap Baiqūni yang mengatakan di dalam Manzhūmah-nya
yang terkenal, yaitu “Mursal minhu ash-Shohabi saqotho” (Mursal adalah perawi
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
26
· 617 hadits-nya mauquf (terhenti sampai kepada tabi’i)
· 275 sisanya adalah ucapan tabi’ūn.18
Buku hadîts yang dihimpun pada periode ini
2. Jami’ Sufyan ats-Tsauri (w. 161H).
3. Jami’ ’Abdulloh ibn al-Mubarok (w. 181H).
4. Jami’ Imam al-Auza’i (w. 157H).
5. Jami’ Ibnu Juraij (w. 150H).
6. Kitabul Akhraj karya Qadhi Abū Yūsuf (w. 182H).
7. Kitabul Atsar karya Imam Muhammad (w. 189H).
Pada rentang periode dua inilah, ahadits Nabiyulloh Shallallahu
’alayhi wa Sallam, atsar para sahabat dan fatawa para tabi’in
dihimpun beserta syarh (penjelasan) tertentu dari ucapan
sahabat, tabi’in atau hadits Nabi Shallallahu ’alayhi wa Sallam.
sahabat yang digugurkan). Lihat : an-Nukat ‘ala Nuzhatin Nazhor fi Taudhihi
Nukhbatil Fikri oleh Syaikh ‘Ali Hasan, hal. 110. Lihat pula at-Ta’liqot al-
Atsariyah hal. 23.
18 Catatan Abū Hibban & Abū Khuzaimah : Berdasarkan Syaikh Muhammad
‘Abduh Falah al-Bakistani hafizhahullohu, Muwaththo` memiliki 1720 ahadits,
dengan 600 hadits marfu’, 222 mursal, 613 mauquf dan 285 merupakan fatawa
dan ucapan tabi’in, sedangkan 75 merupakan pernyataan. Lihat buku beliau
Imam Malik wal Muwaththo`.
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
27
PERIODE KETIGA
Periode ini dimulai dari abad kedua hijriyah dampai akhir abad
keempat hijriyah.
Karakteristik Periode ini
1. Ahadits Nabi, atsar sahabat dan aqwal (ucapan) tabi’in
dikategorisasikan, dipisahkan dan dibedakan.
2. Riwayat yang maqbūlah (diterima) dihimpun secara
terpisah dan buku-buku pada abad kedua diperiksa kembali
dan di-tashhih (diautentikasi).
3. Selama periode ini, bukan hanya riwayat yang
dikumpulkan, namun untuk memelihara dan menjaga
hadits, para ulama` menformulasikan ilmu yang berkaitan
dengan hadits (lebih dari 100 ilmu19) dimana ribuan buku
mengenai ini telah ditulis.
19 Catatan Abū Hibban & Abū Khuzaimah : Imam Hazimi (w. 784H), penulis
Kitabul I’tibar fi Naskhi mengatakan : “Macam dan jenis ilmu Mushtholahul
Hadits mencapai hampir 100 macam, dan tiap pembahasan memiliki ilmunya
sendiri. Apabila seorang penuntut ilmu menghabiskan seluruh waktu hidupnya
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
28
’Ulūmul Hadits
1. Asma`ur Rijal
Pada ilmu ini, keadaan, lahir, wafat, guru dan murid-murid
perawi dikumpulkan dan dihimpun secara terperinci, dan
berdasarkan perincian perawi ini, seorang perawi dapat
dinilai akan sifat shidq (kejujuran), tsiqqoh (kredibilitas)
atau ketidak-tsiqqoh-annya. Ilmu ini sangat menarik.
Perincian sebanyak lebih dari 500.000 perawi telah disusun.
Banyak buku telah ditulis di dalam bidang ilmu ini,
diantaranya adalah :20
· Tahdzibul Kamil karya Imam Yūsuf al-Mizzi (w. 742H),
salah satu buku terpenting dalam ilmu ini.
· Tahdzibut Tahdzib karya al-Haf izh Ibnu Hajar. Beliau juga
menulis syarh (penjelasan) Shahih Bukhari dalam 12 jilid
dengan judul Fathul Bari Syarh Shahihil Bukhar i.21
untuk mempelajari bidang ini, niscaya tidak akan mencapai akhirnya.” Lihat
Tadribur Rawi (hal. 9). Muhaddits Ibnu Sholah sendiri, menyebutkan 65 macam
jenis ilmu ini di dalam bukunya ‘Ulūmul Hadits.
20 Catatan Abū Hibban & Abū Khuzaimah : ‘Izzuddin Ibnul ‘Atsir (w. 630H)
juga menulis buku berjudul Asadul Ghobah fi Asma`is Shohabah.
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
29
· Tadzkiratul Huffazh karya al-’Allamah adz-Dzahabi
(w.748H).
2. ’Ilmu Mushtholahul Hadits (’Ushūlul Hadits)
Dengan arahan ilmu inilah, standar dan hukum ahadits
serta keshahihan dan kedha’ifan suatu hadits dapat
ditegakkan. Buku yang terkenal di dalam bidang ini adalah :
· ’Ulūmul Hadits al-Ma’rūf bi Muqoddimati Ibni ash-
Sholah22 oleh Abū ’Ammar ’Utsman ibn ash-Sholah
(w.557H).
· Taujihun Nazhor karya al-’Allamah Thahir bin Shalih al-
Jaza’iri (w. 1338H).
· Qowa’idut Tahdits karya al-’Allamah Sayyid Jamaluddin
al-Qashimi (w.1332H).
3. ’Ilmu Ghoribul Hadits
Di dalam ilmu ini, kata-kata dan makna yang sulit diteliti
dan dipelajari.23 Diantara buku dalam ilmu ini adalah :
21 Catatan Abū Hibban & Abū Khuzaimah : Beliau juga menulis Al-Ishabah fi
Tamyizi ash-Shohabah, yang kemudian diringkas oleh muridnya as-Suyuthi
(w.911H) dengan judul ‘Ainul Ishabah.
22 Catatan Abū Hibban & Abū Khuzaimah : Syaikh Nawwab Shiddiq Hasan
Khan (w.1307H), mengatakan di dalam bukunya yang berjudul Manhajul Wushūl
fi Ishthilah Ahadits ar-Rasūl bahwa Imam Ibnu Katsir telah menulis sebuah
ringkasan terhadap buku Ibnu Sholah ini, yang berjudul al-Baits al-Hatsits ‘ala
Ma’rifati ‘Ulūmil Hadits.
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
30
· Al-Fa`iq24 karya az-Zamakhsyari.
· An-Nihayah25 karya al-Ma’rūf Ibnu ’Atsir.
4. ’Ilmu Takhrijul Hadits
Dari ilmu ini kita dapat menemukan dimana (sumber) suatu
hadits yang berkaitan dengan ilmu tertentu yang banyak
ditemukan dari buku-buku tafsir, ’aqidah ataupun f iqh,
seperti :
· Al-Hidayah26 karya Burhanuddin ’Ali bin Abi Bakr al-
Marghani (w.592H).
· Ihya` ’Ulūmuddin karya Abū Hamid al-Ghozali (w.505H).
Kedua buku di atas ini, memiliki banyak riwayat tanpa isnad
atau sumber. Apabila seseorang ingin mengetahui derajat
23 Catatan Abū Hibban & Abū Khuzaimah : Buku pertama yang ditulis di
dalam ilmu ini adalah oleh Abū ‘Ubaidah Mu’ammar bin Mutsanna al-Bashri
(w.210H) dalam bentuk yang ringkas. Karya lebih panjang dilakukan oleh Abūl
Hasan Nadar bin Syamil al-Mazini (w. 204H), kemudian Abū ‘Ubaid bin Qasim bin
Sallam (w.222H) yang meniulis buku menghabiskan hampir seluruh hidupnya.
Kemudian Ibnu Qutaybah (w.276H).
24 Catatan Abū Hibban & Abū Khuzaimah : Judul lengkapnya adalah Al-Fa`iq
fi Gharibil Hadits.
25 Catatan Abū Hibban & Abū Khuzaimah : Judul lengkapnya adalah An-
Nihayah fi Gharibil Hadits wal Atsar. Al-Armawi menuliskan sebuah apendiks bagi
buku ini, kemudian Imam as-Suyūthi (w.911H) menuliskan ringkasan an-
Nihayah ini dengan judul Ad-Darrun Natsir Talkhish Nihayah Ibn Atsir.
26 Catatan Abū Hibban & Abū Khuzaimah : Buku Fiqh Hanafi terkenal yang
banyak mengandung pembahasan yang menyelisihi al-Qur`an dan as-Sunnah.
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
31
atau sumber ahadits pada kedua buku ini dari buku hadits
terkenal, maka buku-buku pertama yang bisa dirujuk adalah
:
· Nashbur Rayah karya al-Hafizh Zaila’i (w. 792)
· Kitabud Diroyah karya al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolani
(w.852H)
· Al-Mughni ’an Hamlil Ashfar karya al-Hafizh Zainuddin al-
Iraqi (w.806H).
5. ’Ilmu al-Hadits al-Maudhū’ah
Dalam ilmu ini, ahli ilmu menuliskan sebuah buku khusus,
dimana mereka memisahkan antara hadits maudhū’ (palsu)
dengan hadits shahih. Diantara buku terbaik yang terkenal
dalam masalah ini adalah :
· Fawa`id al-Majmū’ah karya al-Qodhi asy-Syaukani
(w.1255H).
· ‘Ilalul Masnū’ah27 karya Jalaluddin as-Suyūthi (w.911H).
6. ’Ilmu Nasikh wal Mansūkh28
27 Catatan Abū Hibban & Abū Khuzaimah : Judul lengkapnya adalah ‘Ilalul
Masnū’ah fil Ahadits al-Maudhū’ah. Buku ini merupakan ringkasan Kitabul
Maudhū’at karya Ibnul Jauzi.
28 Catatan Abū Hibban & Abū Khuzaimah : Ilmu ini adalah ilmu tentang
nash yang membatalkan/abrogasi (nasikh) dan yang dibatalkan/diabrogasi
(mansūkh). Diantara buku yang ditulis di dalam bidang ini adalah buku-buku
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
32
Di dalam ilmu ini, salah satu karya terkenal adalah Kitabul
I’tibar karya Muhammad Mūsa al-Hazimi (w.784H pada usia
35 tahun).29
7. ’Ilmu at-Taufiq Baynal Hadits
Di dalam ilmu ini, ahadits shahihah yang saling kontradiktif
(tanaqudh) satu dengan lainnya, dibahas dan diselesaikan.
· Imam asy-Syafi’i (w.204H) adalah orang pertama yang
membicarakan ilmu ini di dalam buku beliau ar-Risalah,
yang dikenal dengan ilmu Mukhtaliful Hadits.
· Karya Imam ath-Thohawi (w.321), Musykilul Atsar juga
merupakan buku yang bermanfaat.
8. ’Ilmu Mukhtalif wal Mu’talaf
Ilmu ini menyebutkan nama-nama perawi, kunyah
(julukan), gelar, orang tua, ayah atau guru mereka, yang
sama/mirip antara perawi satu dengan yang lainnya,
sehingga seorang peneliti dapat melakukan kesalahan
karenanya.
karya Ahmad bin Ishaq ad-Dainari (w.318H), Muhammad bin Bahr al-Ishbahani
(w.322), Hibatullah bin Salamah (w.410) dan Ibnul Jauzi (w.597).
29 Catatan Abū Hibban & Abū Khuzaimah : Buku ini telah dicetak di
Hyderabad (India), Mesir dan Halab (Aleppo-Suriah). Judulnya : Al-I’tibar fi
Bayanin Nasikh wal Mansūkh minal Atsar.
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
33
· Buku Ibnu Hajar (w.852H) yang berjudul Ta’birul
Munabbih adalah salah satu contoh utama dalam ilmu ini.
9. ’Ilmu Athroful Hadits
Ilmu ini memudahkan untuk mencari sebuah riwayat dan
buku hadits serta para perawinya dapat ditemukan di dalam
ilmu ini. Sebagai contoh, penggalan pertama hadits :
”Sesungguhnya setiap ’amal itu tergantung niatnya…”,
apabila anda ingin mendapatkan semua kata pada hadits
tersebut sekaligus perawinya, maka anda perlu merujuk
pada ilmu ini dan buku-buku yang ditulis dalam bidang ilmu
ini, seperti :
· Kitab Tuhfatul Asyraf karya al-Haf izh al-Muzanni
(w.742H). Buku ini mengandung daftar seluruh ahadits di
dalam kutubus sittah (kitab induk hadits yang enam). Al-
Muzanni menghabiskan waktu selama 26 tahun untuk
karyanya ini yang melibatkan pengkategorisasian yang
melelahkan. Setelah upaya yang besar ini akhirnya buku
beliau ini dapat diselesaikan.
10. Fiqhul Hadits
Di dalam ilmu ini, semua hadits shahih yang berkaitan
dengan ahkam dan perintah dikumpulkan. Di dalam bidang
ilmu ini, buku-buku yang dapat diambil faidahnya adalah :
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
34
· I’lamul Muwaqqi’in30 karya Syaikhul Islam Ibnu Qoyyim
al-Jauziyah (w.751).
· Hujjatullah al-Balighah karya Syah Waliyullah ad-Dihlawi
(w.1176).
Selain itu, ada juga buku-buku yang ditulis berkenaan
dengan permasalahan dan topik lainnya, seperti misalnya
dalam bidang harta:
· Kitabul Amwal yang terkenal, karya Abū ’Ubaid Qasim bin
Sallam (w.224H).
· Kitabul Akhraj karya Qadhi Abū Yūsuf (w.182H).
Bagi mereka para pengingkar hadits (inkarus sunnah), maka
mereka adalah sasaran dari pemahaman yang bathil. Bagi
mereka buku-buku di bawah ini bisa memberikan faidah, apabila
mereka mau menelaahnya :
· Kitabul Umm karya Imam asy-Syafi’i (w.204H), juz VII.
· Ar-Risalah karya Imam asy-Syafi’i (w.204H).
· Al-Muwafaqat karya Imam Abū Ishaq asy-Syathibi
(w.790), juz IV.
· Ash-Showa`iqul Mursalah karya Ibnu Qoyyim al-Jauziyah
(w.751), juz II dan
30 Catatan Abū Hibban & Abū Khuzaimah : Judul lengkapnya adalah I’lamul
Muwaqqi’in ‘an Rabbil ‘Alamin.
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
35
· Al-Ahkam karya Ibnu Hazm al-Andalūsi (w.456H).
Juga buku di bawah ini yang berbahasa Urdu :
· Muqoddimah Tarjamanus Sunnah karya Maulana Badrul
Alam Mirthi dan
· Itsbatul Khabar karya ayahku, Maulana ’Abdus Sattar
Hasan al-Amrifūri (Amrpoor) (w.1916M/ 1324H pada usia
34 tahun).31
Untuk buku yang berkenaan dengan sejarah ilmu hadits, maka
buku-buku di bawah ini memiliki kedudukan tersendiri :
· Muqoddimah Fathul Bari karya Ibnu Hajar al-Asqolani
(w.852H).
· Jami’ Bayaanil ’Ilmi karya Hafizh Ibnu ’Abdil Barr al-
Andalūsi (w.463H).
· Ma’rifatu ’Ulūmil Hadits karya Imam Hakim (an-
Naisaburi) (w.405H) dan
· Muqoddimah Tuhfatul Ahwadzi Syarh Sunan at-Tirmidzi
karya ’Abdurrahman al-Mubarokfūri (w.1353H/1935M).
Di zaman kami, buku ini dari sisi kekomprehensivitasan
dan isinya, tidak ada bandingannya.
31 Pada masa kakekku, Hafizh ‘Abdul Jabbar al-Amrifūri, fitnah penolakan
terhadap hadits dimulai oleh orang yang bernama ‘Abdulloh al-Jakrawali
(Chakarwali). Orang ini dibantah oleh kakekku di dalam buletin bulanan yang
bernama Risalah Dhiya’us Sunnah.
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
36
Penyusun Hadits Pada Periode Ketiga
1. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullôhu (164-241H)
Karya beliau yang paling utama adalah Musnad Ahmad yang
tersusun dari 30.000 ahadits dalam 24 juz dan kebanyakan
riwayat terdapat dalam buku ini. Imam Ahmad
rahimahullohu tidak mengkategorisasikan bukunya menurut
tema, namun beliau lebih cenderung
mengkategorisasikannya menurut riwayat-riwayat sahabat
berdasarkan nama-nama mereka yang meriwayatkan hadits.
Ulama` mesir terkemuka, Muhaddits Muhammad Ahmad
Syakir mengambil tanggung jawab mengkategorisasikan
buku ini berdasarkan tema dan sejauh ini beliau telah
mencetak 15 jilid dan pekerjaan beliau masih berlangsung
hingga kini.32
2. Imam Muhammad bin Isma’il al-Bukhari
rahimahullôhu (194-246H)
Shahih al-Bukhari adalah karya utama Imam Bukhari. Judul
lengkap buku beliau ini adalah Al-Jami’ ash-Shahih al-
Musnad al-Mukhtashor min Umūri Rasūlillah Shallallahu
32 Catatan Abū Hibban & Abū Khuzaimah : Perlu diketahui, risalah ini ditulis
oleh Syaikh ‘Abdul Ghaffar Hasan pada tanggal 20 November 1956 dan ketika itu
Syaikh Ahmad Syakir masih hidup.
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
37
’alayhi wa Sallam wa Ayyamihi. Beliau menghabiskan waktu
selama 16 tahun untuk menyusun bukunya ini. Jumlah murid
beliau yang membaca buku Shahih ini bersama beliau adalah
sebanyak 90.000 orang. Terkadang, dalam satu kali
pertemuan, yang menghadiri majlis beliau mencapai 30.000
orang. Standar penelitian Imam Bukhari terhadap hadits
adalah yang paling ketat dibandingkan ulama` hadits
lainnya.
3. Imam Muslim bin Hajjaj al-Qushayri rahimahullôhu
(202-261H)
Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Bukhari adalah termasuk
diantara guru-guru beliau. Adapun Imam at-Tirmidzi, Abū
Hatim ar-Razi dan Abū Bakr bin Khuzaimah termasuk muridmurid
beliau. Buku beliau memiliki derajat tertinggi di dalam
pengkategorisasian (tabwib).
4. Abū Dawud Asy’ats bin Sulayman as-Sijistani
rahimahullôhu (204-275H)
Karya utama beliau dikenal dengan sebutan Sunan Abi
Dawud. Buku beliau ini, utamanya menggabungkan antara
riwayat-riwayat yang berkaitan dengan ahkam dengan
ringkasan (kompendium) permasalah f iqh yang berkaitan
dengan hukum. Bukunya tersusun dari 4.800 ahadits.
5. Imam Abū sa at-Tirmidzi rahimahullôhu (209-279H)
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
38
Buku beliau, Jami’ at-Tirmidzi menyebutkan seputar
permasalah fiqh dengan penjelasan yang terperinci.
6. Imam Ahmad bin Syu’aib an-Nasa`i rahimahullôhu
(w.303H)
Buku beliau bernama Sunan al-Mujtaba. Buku beliau lainnya
adalah as-Sunan al-Kubra, dimana beberapa bagiannya telah
dicetak di Bombay oleh Maulana ‘Abdush Shomad al-Katibi.
7. Imam Muhammad bin Yazid bin Majah al-Qazdiani
rahimahullôhu (w.273H)
Buku beliau dikenal dengan sebutan Sunan Ibnu Majah.
Selain buku-buku diatas, banyak buku lainnya lagi yang telah
dihimpun dan dicetak yang tidak dapat kita sebutkan di sini
semuanya secara mendetail. Buku Bukhari, Muslim dan Timidzi
disebut dengan Jami’, disebabkan buku mereka mengandung
masalah ’Aqo`id, ’ibadah, akhlaq, khobar dan lainnya. Adapun
buku Abū Dawud, an-Nasa’i dan Ibnu Majah disebut dengan
Sunan, karena buku-buku ini mengandung ahadits yang
menyinggung masalah duniawi (mu’amalah).
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
39
Thobaqot (Tingkatan) Buku-Buku Hadits
1. Berdasarkan landasan dan istilah hadits serta
keterpercayaan para perawinya, Muwaththo’ Imam Malik,
Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, memiliki derajat
tingkatan tertinggi.
2. Abū Dawud, at-Tirmidzi dan an-Nasa`i, keterpercayaan para
perawinya di bawah kategori pertama, namun mereka masih
dianggap dan dipercaya. Kategori ini juga mencakup Musnad
Ahmad.
3. Ad-Darimi (w.225H), Ibnu Majah, al-Baihaqi, ad-Daruquthni
(w.358H). buku-buku ath-Thabrani (w.360H), buku-buku
ath-Thohawi (w.321H), Musnad Imam asy-Syafi’i dan
Mustadrak al-Hakim (w.405H), buku-buku ini mengandung
semua macam hadits, baik yang shahih maupun yang dha’if.
4. Buku-buku Ibnu Jarir ath-Thobari (w.310H), buku-buku al-
Khathib al-Baghdadi (w.463H), Abu Nu’aim (w.403H), Ibnu
’Asakir (w.571H), ad-Daylami (w.509H) penulis Firdaus, al-
Kamil karya Ibnu ’Adi (w.35H), buku-buku Ibnu Marūdiyah
(w.410H), al-Waqidi (w.207H) dan buku-buku lainnya yang
termasuk dalam kategori ini. Kesemua buku-buku ini adalah
himpunan riwayat yang mengandung riwayat-riwayat palsu
(maudhū’). Sekiranya buku-buku ini diteliti, niscaya akan
banyak faidah yang dapat diperoleh.
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
40
PERIODE KEEMPAT
Periode ini, dimulai dari abad kelima hijriyah sampai hari ini.
Karya-karya yang telah dihasilkan pada periode ini antara lain :
1. Penjelasan (Syarh), catatan kaki (hasyiah) dan
penterjemahan buku-buku hadits ke dalam berbagai bahasa.
2. Lebih banyak buku-buku dalam ilmu hadits yang disebutkan,
disyarh dan diringkas.
3. Para ’ulama`, dengan kecerdasan dan didorong kebutuhan
mereka terhadap ilmu hadits, menyusun buku-buku hadits
yang dicuplik dari buku-buku yang telah ditulis dan disusun
pada abad ketiga. Diantaranya adalah :
· Misykatus Mashabih karya Waliyuddin Khathib.
Di dalam buku ini, riwayat-riwayatnya disusun
berdasarkan masalah ’aqidah, ’ibadah, mu’amalah dan
akhlaq.
· Riyadhush Shalihin33 karya Imam Abū Zakariya Yahya bin
Syarf an-Nawawi (w.676H), pensyarah kitab Shahih
Muslim.34
33 Catatan Abū Hibban & Abū Khuzaimah : Judul lengkapnya adalah
Riyadhush Shalihin min Kalami Sayyidil Mursalin.
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
41
Buku ini menghimpun masalah akhlaq dan adab secara
umum. Tiap temanya senantiasa diawali dengan ayatayat
al-Qur`an yang berkaitan dengan tema. Hal ini
merupakan ciri utama buku ini, dan metode ini pula yang
ditempuh di dalam Shahih al-Bukhari.
· Muntaqa al-Akhbar karya Mujaddid ad-Din Abūl Barakat
’Abdus Salam bin Taimiyah (w.652H).
Beliau adalah kakek dari Syaikhul Islam Taqiyuddin
Ahmad bin Taimiyah (w.728H). Qadhi asy-Syaukani
menulis sebuah syarh buku ini dalam 8 jilid, yang
berjudul Nailul Awthar.
· Bulūghul Maram35 karya Ibnu Hajar al-Asqolani (w.852H),
pensyarah kitab Shahih al-Bukhari.
Buku ini, utamanya tersusun atas hadits-hadits yang
berkaitan dengan ‘ibadah dan mu’amalah. Syarh
(penjelasan) buku ini dilakukan oleh Muhammad Isma’il
ash-Shon’ani (w.1182H) di dalam buku beliau yang
berjudul Subulus Salam Syarh Bulūghil Maram. Adalagi
syarh dalam bahasa Farsi (Persia) yang ditulis oleh
Syaikh Nawwab Shiddiq Hasan Khan al-Bupali (w.1307)
34 Catatan Abū Hibban & Abū Khuzaimah : Beliau pula-lah yang
bertanggung jawab dalam pemberian judul –judul bab dalam Shahih Muslim.
35 Catatan Abū Hibban & Abū Khuzaimah : Judul lengkapnya adalah
Bulūghul Maram min ‘Adillatil Ahkam.
Pengantar Sejarah Tadwîn (Pengumpulan) Hadîts
42
yang berjudul Masakul Khatam Syarh Bulūghil Maram.
Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Urdu.
Syaikh ‘Abdul Haqq Muhaddits ad-Dihlawi bin Saif at-Turki
(w.1052) yang menyebarkan pengajaran hadits di India. Setelah
beliau, dakwah ini disebarkan oleh Syah Waliyullah ad-Dihlawi
(w.1176) dan keturunan beliau serta murid-murid beliau.
Penterjemahan buku-buku hadits ini memulai babak baru,
dimana buku-buku hadits disyarh, dicetak dan disebarkan, dan
hal ini tetap terus berlangsung sampai hari ini. Risalah yang ada
di tangan anda sekarang ini juga merupakan salah satu bagian
dari upaya ini. Saya sendiri juga telah menulis sebuah risalah,
dimana saya menghimpun di dalamnya kurang lebih sebanyak
400 ahadits. Risalah ini dicetak tahun 1956 dengan judul
Intikhab-e-hadits.

sumber: http://www.abusalma.wordpress.com

KUMPULAN HADITS QUDSI (BAGIAN 5)

  
 
 
——————————————————————————–

ALLAH MENGGENGGAM BUMI …. KEMUDIAN BERFIRMAN : “AKULAH RAJA”.
——————————————————————————–

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda : Allah menggenggam bumi dan rnelipat langit dengan tangan kanan-Nya, kemudian bertirman : “Akulah Raja, dimanakah raja-raja bumi ?” (Hadits ditakhrij oleh Rukhari).

Dari Abdullah bin Umar ra. Sesungguhnya Allah menggenggam bumi atau bumi-bumi dan langit-langit dengan tangan kanan-Nya, kemudian Dia berfirman : “Aku Raja”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).
Dari Abdullah ra. dia berkata : “Datanglah salah seorang pendeta kepada Rasulullah saw. pendeta itu berkata : “Wahai Muhammad, sesungguhnya kami dapati bahwa Allah menjadikan langit atas satu jari dan bumi-bumi atas satu jari, pohon atas satu jari dan semua makhluk atas satu jari, dan Allah berfirman : “Akulah Raja”. Nabi saw tertawa sehingga tampak gigi taring beliau, membenarkan kata-kata pendeta itu, kemudian Rasulullah saw. membaca : “Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya, Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).
 
Dari Ubaidillah bin Muqassim, bahwasanya dia melihat kepada Abdullah bin Umar ra., bagaimana Rasulullah mengisahkan, beliau bersabda : “Allah mengambil langit dan bumi-bumi dengan keduanya-Nya dan berfirman : “Akulah Allah sambil menggenggam jari-jari-Nya serta membentangkannya, Akulah Raja”, sehingga saya melihat mimbar, bahagian bawahnya itu bergerak, sampai saya berkata : “Apakah mimbar itu akan menjatuhkan Rasulullah saw. ?”. (Hadits ditakhrij oleh Ibnu Majah).

Dari Ibnu Umar ra. bahwasanya ia berkata : Saya mendengar Rasulullah saw bersabda diatas mimbar : “Allah Yang Maha Pemaksa itu mengambil langit dan bumi­bumi dengan kedua tangan-Nya dan menggenggam dengan tangan-Nya. Ia mulai menggenggam dan membentangkannya, kemudian berfirman : “Akulah Pemaksa, dimanakah para tukang paksa ? dimanakah orang-orang yang sombong?”. Rasulullah mencontohkan dengan tangan kanannya dan dengan tangan kirinya, sehingga saya melihat mimbar bergerak dari bahagian bawahnya, sampai aku berkata : “Apakah mimbar itu akan jatuh, wahai Rasulullah saw. ?”. (Hadits ditakhrij oleh Ibnu Majah).
 
Dari Ibnu Umar ra., ia berkata : Rasulullah saw bersabda : “Allah menggulung langit pada hari Qiamat, kemudian Ia mengambil dengan tangan kanan-Nya, lalu Allah berfirman “Akulah Raja, dimanakah para tukang paksa ? Dimanakah orang-orang yang sombong ? Kemudian Dia menggulung bumi-bumi, kemudian mengambilnya. Ibnu ‘Ala’ berkata: “Dengan tanganNya yang lain lalu berfirman : “Akulah Raja, dimanakah para tukang paksa ? Dimanakah orang­-orang yang sombong?”. (Hadits ditakhrij oleh Abu Dawud).
——————————————————————————–
  
 
 
——————————————————————————–

BALASAN MEMUSUHI WALI-WALI ALLAH DAN SEUTAMA-UTAMA AMAL UNTUK MENDEKAT KAN DIRI KEPADA ALLAH TA’ALA
——————————————————————————–
Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. bersabda : “Sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman: “Barangsiapa yang memusuhi waliKu, maka Aku telah mengumumkan perang kepadanya. HambaKu tidak mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu yang paling Aku sukai dari pada sesuatu yang Aku fardhukan atasnya. HambaKu senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan sunnat-sunnat sampai Aku mencintainya. Apabila Aku mencintainya maka Aku menjadi pandangan yang untuk mendengarnya, penglihatan yang untuk melihatnya, tangan yang untuk menamparnya dan kaki yang untuk berjalan olehnya. Jika ia memohon kepadaKu, niscaya Aku benar­benat memberinya. Jika ia memohon kepadaKu, niscaya Aku benar-benar melindunginya. Dan Aku tidak bimbang terhadap sesuatu yang Aku iakukan seperti kebimbanganKu terhadap jiwa hambaKu yang beriman yang mana ia tidak senang mati sedang Aku tidak senang berbuat buruk terhadapnya”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).
 
 
——————————————————————————–

BELAS KASIH DAN DO’A NABI BAGI UMAT BELIAU
——————————————————————————–

Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra. bahwasanya Nabi saw membaca firman Allah tentang Ibrahim saw. :

“RABBI INNAHUNNA ADL-LALNA KATSIRAN MINAN NAASI FAMAN TABIANII FA INNAHU MINNI”

(Wahai Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari pada manusia, maka barang siapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan Ku). (Ibrahim : 36).
 

Dan ‘Isa saw berkata :

“IN TU’ADZDZIBHUM FA INNAHUM IBAADUKA WA IN TAGHFIR LAHUM FA INNAKA ANTAL ‘AZIIZUL HAKIIM”

(Jika engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana). (Al Maidah : 118).

Beliau mengangkat kedua tangan seraya bersabda : “Wahai Umatku, … umatku”, dan beliau menangis, Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Wahai Jibril, pergilah kepada Muhammad – sedang Tuhanmu lebih mengetahui – tanyalah kepadanya : “Apakah yang menyebabkan kamu menangis ?”. Jibril as datang kepada beliau lalu bertanya kepada beliau, maka utusan Allah itu memberitahukan kepadaNya akan apa yang disabdakan beliau, – padahal Allah lebih mengetahui, – lalu Allah Ta’ala berfirman kepada Jibril : “Pergilah kepada Muhammad dan katakan : “Sesungguhnya Kami akan ridha terhadap umatmu dan Kami tidak berbuat buruk kepadamu”. (Hadits ditakhrij oleh Muslim).
Dari Tsauban, ia berkata : Rasulullah saw: bersabda : “Sesungguhnya Allah memperlihatkan bumi kepadaku, lalu aku melihat timur dan baratnya, dan sungguh kerajaan umatku akan sampai kepada bumi yang ditampakkan kepadaku. Aku diberi dua perbendaharaan yaitu merah dar putih. Sungguh aku mohon kepada Tuhanku bagi umatku agar tidak dihancurkan dengan tahun yang umum, dan tidak dikuasai oleh musuh selain diri mereka sendiri, lalu ia memusnahkan golongan mereka”. Sesungguhnya Tuhanku berfirman : “Wahai Muhammad, sesungguhnya apabila saya menetapkan suatu ketetapan maka ketetapan itu tidaklah tertolak. Dan sesungguhnya Aku memberi kamu akan umatmu tidak Aku hancurkan dengan tahun yang umum, dan Aku tidak menguasakan musuh atas mereka selain diri mereka sendiri yang memusnahkan golongan mereka, walaupun berkumpul atas mereka dari seluruh penjuru” – atau Dia berfirman : “Dari seluruh penjuru bumi – sehingga sebagian dari mereka menghancurkan sebagian yang lain, dan sebagian dari mereka menawan terhadap sebagian yang lain”. (Hadits ditakhrij oleh Muslim).
——————————————————————————–

BARANG SIAPA YANG SENANG UNTUK BERTEMU DENGAN ALLAH MAKA ALLAH SENANG UNTUK BERTEMU DENGANNYA
——————————————————————————–
Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Apabila hamba-Ku senang bertemu dengan Ku, maka Aku senang untuk bertemu dengan-Nya, apabila ia benci bertemu dengan-Ku, maka Aku benci bertemu dengannya. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).

Dari Ubaidah bin Ash Shamit ra. dari Nabi saw, beliau bersabda : “Barang siapa yang senang untuk bertemu dengan Allah, maka Allah senang untuk bertemu dengannya, dan barang siapa yang benci untuk bertemu dengan-Nya (Allah), maka Allah benci untuk bertemu dengannya”. Aisyah atau sebagian isteri beliau berkata : “Sesungguhnya kami tidak senang kematian”. Beliau bersabda : “Bukan begitu, tetapi seorang Mu’min apabila kedatangan maut (mati) diberi khabar gembira dengan keridhaan dan kemurahan Allah, sehingga tidak ada sesuatu yang lebih disukai dari pada apa yang dihadapinya, maka ia senang bertemu dengan Allah dan Allah senang bertemu dengannya. Dan sesungguhnya orang-orang katir, apabila kedatangan maut diberi khabar gembira dengan azab dan siksaan Allah, maka tidak ada sesuatu yang lebih dibenci dari pada apa yang dihadapinya. Ia tidak senang bertemu dengan Allah dan Allah tidak senang bertemu dengannya”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).

Dari Nabi saw, beliau bersabda : “Barang siapa yang senang bertemu dengan Allah, maka Allah senang bertemu dengannya, dan barang siapa yang benci bertemu dengan Allah, maka Allah benci bertemu dengannya”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).
 
Dari Aisyah ra., ia berkata : Rasulullah saw. bersabda : “Barang siapa yang senang bertemu dengan Allah maka Allah senang bertemu dengannva, dan barang siapa yang benci bertemu dengan Allah, maka Allah benci bertemu dengannya . Sedang mati adalah sebelum bertemu dengan Allah”. (Hadits ditakhrij oleh Muslim).
 

Dari Aisyah ra., ia berkata : Rasulullah saw. bersabda : “Barang siapa yang senang bertemu dengan Allah, maka Allah senang bertemu dengannya. Dan barang siapa yang benci bertemu dengan Allah maka Allah benci bertemu dengannya. Saya berkata : “Wahai Nabi Allah, apakah benci mati itu ? “Masing-masing dari kami membenci mati”. Beliau bersabda : “Bukanlah demikian, tetapi orang Mu’min apabila diberi khabar gembira dengan rahmat dan keridhaan Allah serta surga-Nya, maka ia senang bertemu dengan Allah, dan A’lah senang bertemu dengannya, dan sesungguhnya orang kafir apabila diberi khabar gembira dengan siksa Allah dan kemurkaan-Nya, maka ia benci bertemu dengan Allah dan Allah benci bertemu dengannya”. (Hadits ditakhrij oleh Muslim).
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah saw bersabda : “Barang siapa yang senang bertemu dengan Allah, maka Allah senang bertemu dengannya, dan barang siapa yang benci bertemu dengan Allah, maka Allah benci bertemu dengannya”. Syuraih berkata : Saya datang kepada Aisyah ra. saya berkata : “Wahai Ummul Mu’minin, saya mendengar Abu Hurairah menyebutkan sebuah hadits dari Rasulullah saw., jika demikian, kami telah binasa”. Aisyah berkata : “Sesungguhnya orang yang binasa adalah orang yang binasa dengan sabda Rasulullah saw Apakah itu ?”. Ia berkata : Rasulullah saw bersabda : “Barang siapa yang senang bertemu dengan Allah maka Allah senang bertemu dengannya. Dan barang siapa yang benci bertemu dengan Allah, maka Allah benci bertemu dengannya. Tidak seorang pun diantara kami melainkan ia benci kematian”. Aisyah bekata : Rasulullah saw telah menyabadakannya ; Bukan seperti pendapatmu tetapi apabila penglihatan telah membalik, dada telah kembang kempis, kulit telah menggigil, dan jari-jari telah menggenggam, ketika itulah …. “Barang siapa yang senang bertemu dengan Allah maka Allah senang bertemu dengannya. Dan barang siapa benci bertemu dengan Allah maka Allah benci bertemu dengannya”. (Hadits ditakhrij oleh Muslim).
Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda : “Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi berfirman : “Apabila hamba-Ku senang bertemu dengan Ku, maka Aku senang bertemu dengan-Nya, dan jika ia benci bertemu dengan-Ku, maka Aku benci bertemu dengannya”. (Hadits ditakhrij oleh Malik).
——————————————————————————–

BESOK DIHARI QIYAMAT AKAN DIKATAKAN KEPADA NABI ADAM : “KELUARKAN KETURUNANMU YANG MASUK NERAKA”.
——————————————————————————–
Dari Abu Said Al Khudri ra., ia berkata : Nabi saw bersabda : “Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman pada hari Qiyamat : “Wahai Adam”. Adam lalu menjawab : “Ya”, wahai Tuhan kami”, dan Adam dipanggil dengan suara : “Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu untuk mengeluarkan utusan dari keturunanmu ke neraka”. Ia menjawab: “Wahai Tuhanku, berapa utusan keneraka itu ?” Dia berfirman : “Dari setiap seribu Aku kira sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang, ketika itu orang yang hamil melahirkan kandungannya dan anak menjadi beruban, kamu melihat orang-orang itu mabuk, namun (sebenarnya) mereka tidak mabuk tetapi siksa Allah itu amat hebat, dimana hal itu menyempitkan manusia sehingga wajah-wajah mereka berubah. Nabi saw bersabda : “Dari Ya’juj dan Ma’juj sembilan ratus sembilan puluh sembilan dan dari kamu seorang, kemudian kamu dikalangan manusia seperti rambut hitam dilambung lembu putih atau seperti rambut putih di lambung lembu hitam. Dan sungguh aku berharap kamu menjadi seperempat penghuni syorga”. Maka kami bertakbir. Kemudian “sepertiga” penghuni syorga, maka kami bertakbir, kemudian “Separoh” penghuni syorga”, maka kami bertakbir”. Abu Usamah berkata dari Al A’masy, kamu lihat manusia itu mabuk, namun mereka tidaklah mabuk”. Beliau bersabda : “Dari setiap seribu orang sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).
——————————————————————————–

BERDIRINYA HAMBA DI HADAPAN TUHAN PADA HARI QIYAMAT DAN PARA NABI DITANYA TENTANG TABLIGH
——————————————————————————–
Dari Adi bin Hatim ra., ia berkata : Dulu saya disisi Rasulullah saw kemudian datanglah dua orang laki-laki : Salah satunya mengadukan kemiskinan dan yang lain mengadukan penyamun. Maka Rasulullah saw bersabda : “Adapun penyamun, sesungguhnya datang kepadamu hanya sedikit, sehingga keluarlah kafilah ke Makkah tanpa penjaga. Dan kemiskinan, maka sesungguhnya Qiyamat itu tidak terjadi sehingga seseorang diantaramu mengedarkan sedekahnya, ia tidak mendapati orang yang mau menerima sedekahnya itu. Kemudian sungguh seseorang diantaramu berdiri dihadapan Allah, yang diantaranya dan diantara Tuhan tidak ada tabir dan tidak ada penterjemah yang menterjemahkannya. Kemudian sungguh Dia berfirman kepadanya : “Tidakkah aku memberikan harta kepadamu ?” Maka sungguh ia menjawab : “Ya”. Lalu sungguh Tuhan berfirman lagi : “Tidakkah diutus kepadamu seorang Rasul ?” Maka sungguh dia menjawab : “Ya”. Kemudian dia melihat ke kekanannya, maka dia tidak melihatnya kecuali api. Lalu ia melihat ke kirinya, maka dia tidak melihatnya kecuali api, maka hendaklah seseorang diantaramu takut kepada neraka walaupun dengan separuh kurma, dan jika dia tidak mendapati, maka dengan kata­kata yang baik”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).
Dari Shafwan bin Muhriz, ia berkata : “Ketika Ibnu Umar sedang thawaf, tiba-tiba datanglah seorang lelaki, lalu berkata : “Wahai ayah Abdur Rahman, atau ia berkata “Wahai Ibnu Umar, apakah engkau mendengar Nabi saw tentang percakapan ?”. Maka Ibnu Umar menjawab : “Saya mendengar Nabi saw bersabda : “Orang mu’min dekat dari TuhanNya – Dan Hisyam berkata : orang mu’min dekat yakni dari Tuhannya, sehingga Dia meletakkan lambung Nya atasnya, lalu ia mengakui dosa-dosanya : “(Tuhan berfirman) : Mengakui”. Ia berkata : “Tuhan, saya mengakuinya”, dua kali. Tuhan berfirman : “Aku menutupi dosa-dosa itu di dunia, dan hari ini Aku mengampuninya”, Kemudian dilipat lembaran (catatan) kebaikan-kebaikannya, adapun orang-orang lain – atau orang-orang kafir, mereka itu dipanggil diatas para saksi yaitu:

‘HA-ULA-ILLADZIINA KADZABUU ‘ALLA RABBI­HIMALAA LA’NATULLAAHI ‘ALAZHZHAALIMIIN”

(Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka. Ingatlah la’nat Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zhalim). (Hud : 18). (Hadits ditakharij oleh Bukhari).

——————————————————————————–

DORONGAN UNTUK MENGERJAKAN KEUTAMAAN DAN LARANGAN DARI MELAKUKAN KEHINAAN
——————————————————————————–
Dari Rib’i bin Hirasy bahwasanya Hudzaifah ra. bercerita kepada mereka : “Rasulullah saw. bersabda : Malaikat menemui Ruh seseorang sebelummu, mereka bertanya : “Tahukah kamu, apakah kamu mengamalkan kebaikan barang sedikit ?”. Ia menjawab : “Tidak”. Mereka berkata : “Ingat-ingatlah !”. Ia berkata : “Saya menghutangi manusia, lalu saya menyuruh bujang-bujangku untuk memberi tangguh kepada orang-orang yang sulit dan memaafkan orang yang dalam kemudahan”. Beliau bersabda : “Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Maafkanlah dia !”. (Hadits ditakhrij oleh Muslim).
Dari Hudzaifah ra., ia berkata : “Allah mendatangi salah seorang hambaNya yang telah diberiNya harta”. Lalu Dia berfirman kepadanya: “Apakah yang kamu kerjakan di dunia ? “. Ia berkata : “Allah tidak menyembunyikan pembicaraan”. Ia menjawab : “Wahai Tuhanku, Engkau memberikan harta Mu kepadaku, lalu saya berjual beli kepada manusia, termasuk peri laku saya adalah memaafkan. Aku memudahkan kepada orang yang kaya dan memberi tangguh kepapa orang yang sedang dalam kesulitan’. Maka Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Maafkanlah hamba-Ku”. Uqbah bin Amir Al Juhanni dan Abu Mas’ud al Anshari berkata : “Demikianlah saya mendengarnya dari mulut Rasulullah saw”.
 
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah saw bersabda : “Pada hari Qiyamat Allah berfirman : “Di manakah orang­orang yang senang kepada kebesaran Ku ?”, pada hari ini Aku menaunginya dalam naunganKu, pada hari tidak ada naungan selain naungan Ku”. (HR. Muslim).
Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. bahwasanya ada seseorang meninjau saudaranva di desa lain. Maka Allah mengintaikan Malaikat di jalannya dengan bertanya : “Mau kemanakah kamu?”. Ia menjawab : “Saya mau (pergi) kepada saudaraku di desa ini’. Malaikat bertanya : “Apakah ada kenikmatan yang kamu peroleh ?”. Ia menjawab : “Tidak hanya saya mencintainya karena Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar”. Malaikat berkata : “Sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu, karena Allah telah mencintaimu sebagaimana kamu mencintainya karena Allah”.
Dari Mu’adz bin Jabal ra., ia berkata : Saya mendengar Rasulullah saw bersabda : “Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi berfirman : “Pastilah kecintaan Ku bagi orang-orang yang cinta karena Ku, orang-orang yang duduk karena Aku, orang-orang yang berkunjung karena Aku, dan orang-orang yang memberi karena Aku”. (Hadits ditakhrij oleh Malik).

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman pada hari Qiyamat : “Wahai anak Adam, Aku sakit namun kamu tidak menjenguk Ku”. Ia berkata : “Wahai Tuhan saya, bagaimana saya menjenguk Mu sedang Engkau adalah Tuhan semesta alam ?”. Dia berfirman : “Tidakkah kamu mengetahui bahwa hambaKu Fulan sakit, namun kamu tidak menjenguknya ?, Tidakkah kamu mengetahui, seandainya kamu menjenguknya niscaya kamu mendapati Aku di sisi nya. Wahai anak Adam Aku minta makan kepadamu namun kamu tidak memberi makan kepadaKu”. Ia berkata : “Wahai Tuhan saya, bagaimanakah saya memberi makan kepadaMu, sedangkan Engkau Tuhan semesta alam ?”. Allah berfirman : “Tidakkah kamu mengetahui bahwasanya hambaKu si Fulan minta makan kepadamu, tetapi kamu tidaklah memberi makan kepadanya ? Apakah kamu tidak mengetahui bahwasanya seandainya kamu memberi makan kepadanya, niscaya kamu mendapatkannya di sisi Ku ? Wahai anak Adam, Aku minta minum kepadamu, tapi kamu tidak memberi minum kepada Ku”. Ia berkata : “Bagaimanakah saya memberi minum kepada Mu sedang kamu adalah Tuhan alam semesta ?”. Allah berfirman : “Hamba Ku si Fulan minta minum kepadamu, tetapi kamu tidak memberinya minum, niscaya kamu mendapatinya di sisi Ku”. (Hadits ditakhrij oleh Muslim).

Dari Abu Dzar ra. dari Nabi saw. dalam hal yang diriwayatkan dari Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi bahwasanya Dia berfirman: “Wahai hamba Ku, sesung­guhnya Aku mengharamkan kezhaliman atas diriKu dan zhalim itu Aku haramkan di antara kalian, maka janganlah kalian zhalim menzhalimi. Wahai hambaKu, masing-masing dari kamu itu sesat kecuali orang yang Aku beri petunjuk kepadamu. Wahai hambaKu, masing-masing dari kamu itu lapar kecuali orang yang Aku beri makan, mintalah makan kepadaKu, maka Aku memberi makan kepadamu. Wahai hambaKu, masing-masing dari kamu itu telanjang, kecuali orang yang Aku beri pakaian, mintalah pakaian kepadaKu maka Aku memberi pakaian. Wahai hambaKu, sesung­guhnya kamu bersalah siang dan malam, sedang Aku mengampuni seluruh dosa, mintalah ampun kepadaKu, maka Aku mengampunimu. Wahai hambaKu, sesung­guhnya kamu tidak akan terhindar dari kemadharatan Ku, maka berlindunglah dari kemadharatan Ku dan kamu tidak akan memperoleh kemanfa’atan-Ku maka mohonlah kemanfaatan kepadaKu. Wahai hambaKu seandainya or­ang yang pertama dan terakhir dari kamu, jin dan manusia dari kalanganmu itu berada pada hati seseorang yang paling taqwa dari padamu, hal itu tidak menambah kerajaanKu sedikit juapun. Wahai hambaKu, seandainya orang yang awal dan terkemudian dari padamu, manusia dan jin itu ada pada orang yang paling jahat dari padamu niscaya tidaklah berkurang dari kerajaanKu barang sedikit juapun. Wahai hambaKu, seandainya orang yang pertama dan terkemudian, manusia dan jin di kalanganmu berdiri di satu bukit lalu minta kepadaKu, dan Aku beri setiap or­ang akan permintaannya, maka hal itu tidak mengurangi apa yang ada di sisi Ku melainkan seperti berkurangnya air laut apabila dimasukkan jarum kepadanya. Wahai hambaKu, itu amal-amalmu, Aku hitung semuanya untukmu, kemudian Aku sempurnakan bagimu. Barangsiap yang mendapatkan kebaikan maka pujilah Allah, dan barangsiapa yang mendapati selain itu maka janganlah mencela selain dirinya”. (Hadits ditakhrij oleh Muslim).

Dari Abu Dzar ra., ia berkata : Rasulullah saw bersabda Allah Ta’ala berfirman : “Wahai hambaKu, masing-masing dari kamu itu sesat, kecuali orang yang Aku beri petunjuk, mintalah petunjuk maka Aku akan memberimu petunjuk. Masing-masing dari kamu itu fakir kecuali orang yang Aku beri kekayaan, mintalah kepadaKu maka Aku akan memberimu. Masing-masing dari kamu berdosa kecuali orang yang Aku ampuni. Barangsiapa di antaramu yang mengetahui bahwa Aku mempunyai kekuasaan untuk mengampuni, lalu ia minta ampun kepadaKu, maka Aku mengampuninya dan Aku tidak mengindahkan (kesalahan itu). Seandainya orang yang pertama dan terkemudian dari padamu, yang hidup dan mati dari padamu, basah dan keringmu itu terkumpul pada hati orang yang paling taqwa dari hamba Ku, maka hal itu tidak menambah kerajaan Ku sesayap nyamuk. Dan seandainya orang yang pertama dan terakhir dari padamu, yang hidup dan mati dari padamu, basah dan keringmu berkumpul pada satu padang lalu setiap orang dari padamu minta apa yang diangan­angankannya, dan Aku memberi setiap orang yang minta itu akan permintaanya maka hal itu tidak mengurangi kerajaan Ku, kecuali seperti seandainya salah seorang di antaramu melewati lautan lalu memasukkan jarum di dalamnya, kemudian jarum itu di tariknya. Demikian itu karena Aku Maha Pemurah dan Dermawan, Aku berbuat apa yang Aku kehendaki, pemberianKu adalah satu perkataan, dan siksaan Ku adalah satu perkataan, karena urusanKu adalah apabila Aku menghendaki sesuatu maka Aku ucapkan : “Jadilah, maka sesuatu itupun menjadi ada”. (Hadits ditakhrij oleh Abu Isa At Tirmidzi).
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Rasulullah saw. bersabda : “Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Sombong itu selendang Ku dan kebesaran itu sarung Ku, barangsiapa yang melawan Ku dalam salah satunya maka ia Aku lemparkan ke dalam neraka”. (Hadits ditakhrij oleh Abu Dawud).

——————————————————————————–

DIMUDAHKAN BACAAN AL QUR’AN
——————————————————————————–
Dari Ubay bin Ka’ab ra. bahwasanya Rasulullah saw. berada di Bani Ghifar, datanglah Jibril as. berkata : “Sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar menyuruh engkau untuk membacakan Al Qur’an kepada umatmu atas satu huruf (Qira’at). Beliau bersabda : “Aku memohon kepada Allah akan maaf dan ampunan-Nya, karena sesungguhnya umatku tidak mampu atas yang demikian itu”. Jibril datang yang kedua kalinya dan berkata : “Sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar menyuruh engkau agar membacakan Al Qur’an kepada umatmu atas dua huruf (Qira’at)”. Beliau bersabda : “Aku mohon kepada Allah akan ma’af dan ampunan-Nya, karena sungguh umatku tidak mampu atas yang demikian itu”. Kemudian Jibril datang pada beliau untuk yang ketiga kalinya, lalu berkata : “Sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar memerintahkan engkau untuk membacakan Al Qur’an kepada umatmu atas tiga huruf (Qira’at). Beliau bersabda : “Sesungguhnya umatku tidak mampu atas yang demikian itu”. Kemudian Jibril datang kepada beliau yang keempat kalinya, lalu ia berkata : “Sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar memerintahkan engkau untuk membacakan Al Qur’an kepada umatmu atas tujuh huruf (Qira’ah), huruf (Qira’ah) manapun (dari tujuh itu) yang mereka baca maka mereka telah betul”. (Hadits ditakhrij oleh An Nasa’i.)
  
 
 
——————————————————————————–

DIKUMPULKANNYA MAKHLUQ DENGAN KETAKUTANNYA
——————————————————————————–
Dari Ibnu Abbas ra. dari Nabi saw, beliau bersabda : “Sesungguhnya kamu dikumpulkan dengan kaki terbuka, telanjang dan tidak berkhitan. Kemudian beliau membaca : “Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya, itulah suatu janji yang pasti Kami tepati”. Orang yang pertama kali diberi pakaian pada hari qiamat adalah Ibrahim as. sesungguhnya beberapa shahabatku dituntut sebagai golongan kiri, maka aku katakan : “Shahabatku, shahabatku, lalu dikatakan : “Sesungguhnya mereka senantiasa berbalik atas tumit mereka sejak kamu berpisah dengan mereka”. Maka aku katakan sebagaimana yang dikatakan oleh hamba yang shalih : “Dan aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada diantara mereka … sampai firman Allah. Sesungguhnya Engkaulah Maha Kuasa Lagi Maha Bijaksana”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).
——————————————————————————–

DIKUMPULKANNYA HAMBA DAN MEREKA DISERU OLEH TUHAN
——————————————————————————–
Dari Ibnu Unais ra., ia berkata : Saya mendengar Rasulullah saw bersabda : Allah mengumpulkan hamba-hamba, lalu Allah memanggil mereka dengan suara yang didengar oleh orang yang jauh sebagaimana yang didengar oleh orang yang dekat : “Akulah Maha Raja, Akulah yang memberi balasan”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).
 
——————————————————————————–

FIRMAN ALLAH KEPADA RAHIM
——————————————————————————–

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw., beliau bersabda : “Allah menciptakan makhluq, ketika selesai dari padanya rahim berdiri lalu memegangi ikat pinggang Allah Yang Maha Pemurah. Allah berfirman kepadanya : “Jangan”. Ia menjawab : “Ini adalah tempat orang yang berlindung kepadaMu dari memutuskan”. Allah berfirman : “Tidakkah kamu rela, Aku menyambung orang yang menyambungmu, dan Aku memutuskan orang yang memutuskanmu?”. Ia berkata “Ya, wahai Tuhanku”. Allah berfirman : “Itulah untukmu”. Abu Hurairah berkata : Bacalah jika kamu mau :

“FAHAL ASAITUM IN TAWALLAITUM AN TUF­SIDUU FIL ARDLI WATUQATHTHI-’UU ARHAA­MAKUM”

(Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?) (Muhammad : 22). (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).

Dari Abdur Rahman bin Auf ra., ia berkata : Saya mendengar Rasulullah saw bersabda : Allah berfirman : “Akulah Allah, Akulah Yang Maha Pemurah, Aku menciptakan rahim (persaudaraan) dan Aku pecahkan dari namaKu, barangsiapa yang menyambungnya maka Aku menyambung orang itu, dan barangsiapa yang memutuskannya maka Aku putuskan dia”. (Hadits ditakhrij oleh Tirmidzi).

Dari Abdur Rahman bin Auf ra., ia berkata : Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda : Allah berfirman : Akulah Yang Maha Pemurah, dan dia adalah rahim (persaudaraan) aku ambilkan namanya dari namaKu. Barangsiapa yang manyambungnya maka Aku menyambungnya, dan barangsiapa yang memutuskannya maka Aku putuskan ia”. (Hadits ditakhrij oleh Abu Dawud).
——————————————————————————–

FIRMAN ALLAH : APAKAH MEREKA TERTIPU DENGANKU ?
ATAU MEREKA BERANI TERHADAPKU ?
——————————————————————————–

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah saw. bersabda : “Di akhir masa akan keluar beberapa orang yang mengambil keduniaan dengan Agama, mereka mengenakan kulit kambing kepada manusia karena halusnya. Lidah mereka lebih manis dari pada gula, namun hati mereka seperti hati serigala. Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Apakah mereka tertipu dengan Ku, ataukah mereka berani terhadap-Ku ? Demi Aku, Aku bersumpah, sungguh akan Aku bangkitkan fitnah kepada mereka dari kalangan mereka, yang meninggalkan kebingungan kepada orang yang penyantun dari mereka”. (Hadits ditakhrij oleh Tirmidzi).

Dari Abdullah bin Umar, Nabi saw. bersabda : “Sesung­guhnya Allah berfirman : “Sungguh Aku telah menciptakan makhluk, yang mana lidah mereka lebih manis dari pada madu dan hati mereka lebih pahit dari pada pahitan. Demi Aku, Aku bersumpah akan Aku pastikan fitnah bagi mereka yang meninggalkan kebingungan bagi orang yang penyantun di antara mereka. Tertipulah mereka denganKu? ataukah mereka berani terhadapKu ?” (Hadits ditakhrij oleh Tirmidzi).

Dari Anas bin Malik ra. bahwasanya Rasulullah saw. membaca ayat : “Huwa Ahlut Taqwa wa Ahlul maghfirah”. Beliau bersabda : Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Aku layak untuk tempat bertaqwa, maka janganlah menjadikan Tuhan lain bersamaKu, maka barangsiapa yang menjaga untuk tidak menjadikan Tuhan lain bersamaKu maka Aku layak untuk memberi ampun kepadanya”. (Hadits ditakhrij oleh Ibnu Majah).

——————————————————————————–

FIRMAN ALLAH KEPADA PENGHUNI SORGA
——————————————————————————–

Dari Atha’ bin Yasar dari Abu Sa’id Al Khudri ra., ia berkata : “Rasulullah saw. bersabda : “Sesungguhnya Allah berfirman kepada penghuni sorga : “Wahai penghuni sorga”. Mereka menjawab : “Kami perkenankan panggilan Mu, dan kebahagian Mu, wahai Tuhan kami”. Tuhan berfirman : “Apakah kalian ridha ?” Mereka menjawab : “Mengapa kami tidak ridha, sedangkan Engkau telah memberikan kepada kami sesuatu yang tidak diberikan kepada seseorang dari makhluk Mu ?” Tuhan berfirman : “Aku memberikan kepadamu yang lebih utama dari itu”. Mereka berkata : “Wahai Tuhan, apakah yang lebih utama dari itu?”. Tuhan berfirman : “Aku tempatkan keridhaan Ku atasmu, Aku tidak murka kepadamu selamanya”. (Hadits ditakhirj oleh Bukhari).

——————————————————————————–

HUSNUZH ZHAN (BAIK SANGKA) KEPADA ALLAH TA’ALA
——————————————————————————–

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Nabi saw. bersabda : “Allah Ta’ala berfirman : “Aku menurut sangkaan hambaKu kepadaKu, dan Aku bersamanya apabila ia ingat kepadaKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam dirinya maka Aku mengingatnya dalam diriKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam kelompok orang-orang yang lebih baik dari kelompok mereka. Jika ia mendekat kepadaKu sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta. jika ia mendekat kepadaKu sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepadaKu dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya Allah berfirman : “Aku menurut dugaan hambaKu kepadaKu, dan Aku bersamanya apabila ia ingat kepadaKu. (Hadits ditakhrij oleh Turmidzi).
 
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah saw. bersabda : Allah swt. berfirman : “Aku menurut sangkaan hambaKu kepadaKu, dan Aku bersamanya ketika ia mengingatKu. Jika ia mengingatKu dalam dirinya maka Aku mengingatnya dalam diriKu. Jika ia mengingatKu dalam kelompok orang-orang yang lebih baik dari padanya. Jika ia mendekat kepadaKu sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepadaKu sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepadaKu dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil”. (Hadits ditakhrij oleh At Turmidzi).

Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi saw, bersabda : “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman : “Aku bersama hambaKu apabila ia ingat kepadaKu dan kedua bibirnya bergerak (mengucapkan dzikir) kepadaKu”. (Hadits ditakhrij oleh Ibnu Majah).

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasuulullah saw. bersabda : “Allah swt. berfirman : “Aku menurut sangkaan hambaKu kepadaKu, dan Aku bersamanya ketika ia mengingatKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam dirinya maka Aku ingat kepadanya dalam diriKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam kelompok orang banyak maka Aku mengingatnya dalam kelompok yang lebih baik dari padanya. Jika ia mendekat kepadaKu sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia datang kepadaKu dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil”. (Hadits ditakhrij oleh Ibnu Majah).
——————————————————————————–

INFAQ DAN KEUTAMAANNYA
——————————————————————————–

Dari Abu Hurairah ra. sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda : Allah berfirman : “Wahai anak Adam belanjakanlah, maka Aku akan memberi belanja kepadamu”. (Hadits ditakhrij olah Bukhari).
 
Dari Abu Hurairah ra. sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda : Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Belanjakanlah maka Aku memberi belanja kepadamu”. Beliau bersabda : “Tangan Allah itu penuh, tidak terkurangi oleh nafkah, terus memberi siang dan malam”. Beliau bersabda : “Tahukah kaliari sesuatu yang sudah di nafkahkanNya sejak Dia menciptakan langit dan bumi, sesungguhnya apa yang di tanganNya tidaklah berkurang, pada waktu itu singgasanaNya di atas air dan ditanganNya memegang timbangan (mizan)”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).

Dari Abu Hurairah ra. sampai kepada Nabi saw, beliau bersabda: “Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi berfirman : “Wahai anak Adam, berikanlah nafkah maka Aku beri nafkah atasmu”. Beliau bersabda : “Tangan Kanan Allah itu penuh, banyak memberi di siang dan malam hari, dan tidak kurang sedikit pun karenanya”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).
Dari Anas bin Malik ra. dari Nabi saw, beliau bersabda : “Ketika Allah menciptakan bumi, bumi itu goyang, maka Dia menciptakan gunung-gunung, lalu bumi itu menjadi tetap (tidak bergoyang). Maka Malaikat heran terhadap kehebatan gunung, mereka bertanya : “Wahai Tuhanku, adakah makhlukMu yang lebih hebat dari pada gunung ?” Dia berfirman: “Ya, besi”. Mereka bertanya : “Wahai TuhanKu, adakah makhlukMu yang lebih hebat dari pada besi ?” Dia berfirman : “Ya, api”. Mereka bertanya : “Wahai TuhanKu, adakah makhlukMu yang lebih hebat dari pada api ?” Dia berfirman : “Ya, air”. Mereka bertanya : “Wahai TuhanKu, adakah makhlukMu yang lebih hebat dari pada air. ?” Dia berfirman : “Ya, angin”. Mereka bertanya : “Wahai TuhanKu, adakah dari makhlukMu yang lebih hebat dari pada angin ?”Dia berfirman : “Ya, anak Adam yang tangan kanannya mensedekahkan sesuatu dengan tersembunyi dari tangan kirinya”. (Hadits ditakhrij oleh Tirmidzi).
HIMPUNAN
HADIST QUDSI
Penyusun: Achmad Sunarto
Penata Letak: Tim Setia Kawan
Disain sampul: Setia Kawan Grafis
Cetakan: I-2000
Penerbit: Setia Kawan

www.pakdenono.com

komentarku: hadist2 ini belum tentu sahih.., lagi pula tidak disebutkan derajat hadisnya..

KUMPULAN HADITS QUDSI (BAGIAN 4)

  
 
 
——————————————————————————–

INFAQ DAN KEUTAMAANNYA
——————————————————————————–

Dari Abu Hurairah ra. sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda : Allah berfirman : “Wahai anak Adam belanjakanlah, maka Aku akan memberi belanja kepadamu”. (Hadits ditakhrij olah Bukhari).
 
Dari Abu Hurairah ra. sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda : Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Belanjakanlah maka Aku memberi belanja kepadamu”. Beliau bersabda : “Tangan Allah itu penuh, tidak terkurangi oleh nafkah, terus memberi siang dan malam”. Beliau bersabda : “Tahukah kaliari sesuatu yang sudah di nafkahkanNya sejak Dia menciptakan langit dan bumi, sesungguhnya apa yang di tanganNya tidaklah berkurang, pada waktu itu singgasanaNya di atas air dan ditanganNya memegang timbangan (mizan)”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).

Dari Abu Hurairah ra. sampai kepada Nabi saw, beliau bersabda: “Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi berfirman : “Wahai anak Adam, berikanlah nafkah maka Aku beri nafkah atasmu”. Beliau bersabda : “Tangan Kanan Allah itu penuh, banyak memberi di siang dan malam hari, dan tidak kurang sedikit pun karenanya”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).

Dari Anas bin Malik ra. dari Nabi saw, beliau bersabda : “Ketika Allah menciptakan bumi, bumi itu goyang, maka Dia menciptakan gunung-gunung, lalu bumi itu menjadi tetap (tidak bergoyang). Maka Malaikat heran terhadap kehebatan gunung, mereka bertanya : “Wahai Tuhanku, adakah makhlukMu yang lebih hebat dari pada gunung ?” Dia berfirman: “Ya, besi”. Mereka bertanya : “Wahai TuhanKu, adakah makhlukMu yang lebih hebat dari pada besi ?” Dia berfirman : “Ya, api”. Mereka bertanya : “Wahai TuhanKu, adakah makhlukMu yang lebih hebat dari pada api ?” Dia berfirman : “Ya, air”. Mereka bertanya : “Wahai TuhanKu, adakah makhlukMu yang lebih hebat dari pada air. ?” Dia berfirman : “Ya, angin”. Mereka bertanya : “Wahai TuhanKu, adakah dari makhlukMu yang lebih hebat dari pada angin ?”Dia berfirman : “Ya, anak Adam yang tangan kanannya mensedekahkan sesuatu dengan tersembunyi dari tangan kirinya”. (Hadits ditakhrij oleh Tirmidzi).
——————————————————————————–

IKHLAS DALAM BERAMAL, CELAAN RIA DAN MENINGGALKAN NAHI MUNGKAR
——————————————————————————–

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Rasulullah saw. bersabda : “Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Aku adalah penyekutu yang paling tidak membutuhkan sekutu, barang siapa yang beramal suatu amal di dalamnya ia mensekutukan kepada selain Ku, maka Aku meninggalkannya dan sekutunya”. (Hadits ditakhrij oleh Muslim).
Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda : “Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Aku adalah penyekutu yang paling tidak membutuhkan sekutu, barang siapa yang beramal sesuatu amal ia mensekutukan kepada selainKu, maka Aku terlepas dari padanya, amal itu untuk sesuatu yang ia sekutukan”. (Hadits ditakhrij oleh Ibnu Majah).
Artinya :

Dari Abi Sa’id bin Abu Fadhalah ra., ia berkata : Rasulullah saw bersabda : “Apabila Allah mengumpulkan orang-orang yang terdahulu dan terkemudian pada hari Qiyamat, suatu hari yang tidak diragukan lagi, maka berserulah penyeru : “Barang siapa yang mensekutukan dalam amal yang dikerjakannya karena Allah maka mintalah pahalanya kepada selain Allah, karena Allah itu penyekutu yang paling tidak membutuhkan sekutu”.
 
——————————————————————————–

KEUTAMAAN DZIKIR DAN KALIMAH TAUHID
——————————————————————————–
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Ra;uluilah saw bersabda : “Sesungguhnya Allah mempunyai malaikat yang mondar mandir di jalan mencari ahli dzikir. Apabila mereka mendapat kaum yang sedang berdzikir kepada Allah mereka memanggil-manggil : “Marilah kepada keperluanmu”.

Beliau bersabda : “Malaikat itu mengitari dengan sayap mereka ke langit dunia. Beliau bersabda : Tuhan mereka berfirman pada hal Dia lebih mengetahui tentang mereka : “Apakah yang diucapkan oleh para hambaKu?”. Beliau bersabda : Malaikat menjawab : “Mereka sedang me Maha Sucikan Mu, me Maha Besarkan Mu, memujiMu dan me Maha Muliakan Mu”. Tuhan berfirman : “Apakah mereka melihat Ku?”. Beliau bersabda : “Mereka menjawab : “Tidak, demi Allah mereka tidak melihatMu”. Beliau bersabda : “Tuhan berfirman : “Bagaimana seandainya mereka melihatKu?”. Beliau bersabda : “Mereka menjawab: “Seandainya mereka melihatMu, niscaya mereka lebih beribadah kepadaMu, lebih memuliakan, lebih memuji dan lebih mensucikanMu”. Beliau bersabda : Tuhan berfirman : “Apakah yang mereka pinta kepadaKu?”. Beliau bersabda : “Mereka meminta surga kepada Mu”. Beliau bersabda : “Mereka menjawab : “Apakah mereka melihatnya?” Beliau bersabda : Malaikat menjawab : “Tidak, demi Allah mereka tidak melihatnya”. Tuhan berfirman : “Bagaimanakah seandainya mereka melihatnya ?”. Beliau bersabda : “Mereka menjawab : “Seandainya mereka melihatnya, niscaya mereka lebih loba terhadapnya, lebih meminta dan lebih gemar terhadapnya”. Tuhan berfirman : “Terhadap apa mereka berlindung ?”. Beliau bersabda : Malaikat menjawab : “Dari neraka”. Beliau bersabda : Tuhan berfirman: “Apakah mereka melihatnya ?”. Beliau bersabda : “Mereka menjawab : “Tidak, demi Allah wahai Tuhan, mereka tidak melihatnya”. Beliau bersabda : Tuhan berfirman : “Bagaimanakah seandainya mereka melihatnya ?”. Beliau bersabda” : Mereka menjawab : “Seandainya mereka melihatnya, niscaya mereka lebih sangat lari dan sangat takut”. Beliau bersabda : “Tuhan berfirman : “Aku persaksikan kepadamu bahwa Aku telah mengampuni mereka”. Beliau bersabda : “Salah satu malaikat berkata: “Diantara mereka ada Fulan yang bukan dari golongan mereka. Kedatanganya hanya karena ada keperluan”. Tuhan berfirman : “Mereka teman-teman duduk, dimana orang yang duduk bersama mereka tidak celaka”. (HR. Bukhari)

Dari Abu Hurairah ra. dan Abu Said Al Khudri ra. berkata : Rasulullah saw. bersabda : “Sesungguhnya Allah mempunyai malaikat yang berkelana di bumi sebagai tambahan dari para pencatat manusia. Apabila mereka menjumpai kaum yang berdzikir kepada Allah, mereka memanggil-manggil : “Marilah kepada tujuanmu”.

Malaikat berdatangan, dan mengitari mereka kelangit dunia. Allah berfirman : “Kalian tinggalkan hamba-hamba Ku sedang mengerjakan apa ?”. Mereka menjawab : “Kami tinggalkan mereka sedang memujiMu, memuliakan Mu dan berdzikir kepadaMu”. Beliau menjawab : Dia berfirman ” “Apakah mereka melihat Aku ?”. Mereka menjawab : “Tidak”. Dia berfirman : “Bagaimanakah seandainya mereka melihat Aku ?”. Beliau bersabda : Mereka menjawab : “Seandainya mereka melihat Mu niscaya mereka lebih memujiMu, lebih memuliakan Mu dan lebih berdzikir kepadaMu”.

Beliau bersabda : Dia berfirman : “Apakah yang mereka inginkan ?” Beliau bersabda : “Mereka berkata : “Mereka memohon surga”. Beliau bersabda: “Dia berfirman : “Apakah mereka melihatnya ?”. Beliau bersabda : “Dia berfirman : “Bagaimanakah seandainya mereka melihatnya ?”.

Beliau bersabda : “Mereka menjawab : “Seandainya mereka melihatnva niscaya mereka lebih meminta dan loba atasnya”. Beliau bersabda : “Dari apakah mereka berlindung ?” Mereka menjawab : “Seandainya mereka melihatnya niscaya mereka lebih lari, lebih takut dan lebih mohon perlindungan dari padanya”. Beliau bersabda : Dia berfirman : “Sungguh Aku mempersaksikan kepadamu bahwa Aku mengampuni mereka”. Mereka menjawab : “Sesungguhnya di kalangan mereka terhadap Fulan yang salah yang datang hanya karena keperluan”. Dia berfirman : “Mereka adalah kaum yang teman duduknya tidak celaka”. (HR. Tirmidzi).
 

Dari Abu Ishaq dari Al Agharr Abu Muslim bahwasanya ia menyaksikan Abu Hurairah dan Abu Said Al Khudri ra., bahwasanya kedua orang itu menyaksikan Rasulullah bersabda : “Apabila hamba mengucapkan :

‘LAA ILAAHA ILLALLAAH WALLAHU AKBAR ” (Tidak ada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar).

Beliau bersabda : Allah yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Benarlah hambaKu, tidak ada Tuhan selain Aku, dan Akulah Allah Maha Besar”.

Apabila hamba mengucapkan :

‘LAA ILAAHA ILLALLAAH WAHDAH” (Tiada Tuhan selain Allah sendiri).

Dia berfirman : “Benarlah hambaKu, tiada Tuhan selain Aku sendiri”.

Apabila hamba mengucapkan :

‘LAA ILAAHA ILLALLAAH WAHDAHU LAA SYA­RIIKA LAH ” (Tiada Tuhan selain Allah, sendirian tiada sekutu bagiNya).

Dia berfirman : “Benarlah hamba-Ku, tiada Tuhan selain Aku, dan tidak ada sekutu bagiKu”.

Apabila hamba mengucapkan :

‘LAA ILAAHA ILLALLAAHLAHUL MULKU WALA­HUL HAMDU”

(Tiada Tuhan selain Allah, bagiNya kerajaan itu, dan bagiNya segala puji).

Dia berfirman : Benarlah hambaKu, tiada Tuhan selain Aku, bagiKu kerajaan itu dan bagiKu segala puji”. Apabila hamba mengucapkan :

‘LAA ILAAHA ILLALLAAH WALAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAH”

(Tiada Tuhan selain Allah, dan tiada daya dan kekuatan melainkan pertolongan Allah)

Dia berfirman : “Tiada Tuhan selain Aku, dan tiada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Ku”.

Abu Ishaq berkata : Kemudian Al Agharr mengatakan sesuatu yang tidak saya pahami. Ia Berkata : Lalu saya bertanya kepada Abu Ja’far : “Apakah yang ia ucapkan ?”. Ia berkata : “Barang siapa yang pada waktu menjelang mati mengucapkan kalimat-kalimat itu maka ia tidak tersentuh neraka”. (Hadits ditakhrij oleh Ibnu Majah).
Dari Abdullah bin Umar ra., bahwasanya Rasulullah saw bercerita kepada mereka bahwa salah seorang hamba Allah mengucapkan :

“YAA RABBI LAKAL HAMD U YANBAGHII LIJALAA­LI WAJHIKA WALI ‘AZHIIMI SULTHAANIKlA” (Wahai Tuhanku, hanya bagimulah segala puji, sebagaimana seyogya dengan kebesaran DzatMu dan keagungan kekuasaanMu ), maka bersungguh-sungguhlah dua malaikat namun mereka tidak tahu bagaimana mencatatnya. Lalu keduanya naik ke langit dan berkata : “Wahai Tuhan kami, sesungguhnya hambaMu mengucapkan dzikir, kami tidak mengetahui bagaimana mencatatnya. Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman pada hal Dia lebih mengetahui terhadap apa yang dikatakan oleh hambaNya : “Apakah yang diucapkan hambaKu ?”. Keduanya menjawab : “Bahwasanya ia mengucapkan : “Wahai Tuhanku, hanya bagiMu segala puji sebagaimana seyogya dengan kebesaran Dzat Mu dan keagungan kekuasaan Mu”. Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Tulislah seperti apa yang diucapkan oleh hamba-Ku, sehingga ia menjumpai Aku, lalu Aku membalasnya dengan apa yang diucapkan itu”. (Hadits ditakhrij oleh An Nasa’i).
 

Dari Aisyah ra., ia berkata : Rasulullah saw memperbanyak ucapan:

“SUBHAANALLAAHI WABIHAMDIHI ASTAGH­FIRULLAAHA WA ATUUBU ILAIH”

(Maha Suci Allah, dengan pujiNya saya memohon ampun kepada Allah dan saya bertaubat kepada-Nya).

Saya bertanya : “Wahai Rasulullah, saya melihat engkau memperbanyak ucapan : “Maha Suci Allah dengan pujiNya saya memohon ampun kepada Allah dan saya bertaubat kepadaNya”. Beliau bersabda: “Tuhanku Yang Maha Mulia dan Maha Besar memberitakan kepadaku bahwa aku akan melihat tanda pada umatku. Apabila aku telah melihatnya maka aku memperbanyak ucapan :

“SUBHAANALLAAHI WABIHAMDIHI ASTAGH­FIRULLAAHA WA ATUUBU ILAIH”

Saya telah melihatnya :

“IDZAA JAA-A NASHRULLAAHI WALFATHU WARA-AITANNAASA YADKHULUUNA FII DIINI­LLAAHI AFWAAJAN FASABBIHBIHAMDI RABBIKA WASTAGHFIRHU INNAHU KAANA TAWWAABA”

(Apabila datang pertolongan Allah dan penaklukan (Kota Mekah). Dan kamu melihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong. Maka bertasbilah dengan memuji Tuhanmu dan memohon ampunlah kepadaNya karena sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat). Dalam riwayat Muslim dari Aisyah ada tambahan :

‘ALLAAHUMMAGHFIR LII YATA-AWWALUL QUR­AANA “

(Wahai Allah ampunilah saya, karena mengamalkan perintah Al Qur’an). (HR. Muslim).
Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra., ia berkata : Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya Allah akan membersihkan salah seorang umatku atas para kepala makhluk pada hari qiyamat. Lalu Allah menebarkan sembilan puluh sembilan catatannya. Setiap’ catatan seperti pandangan mata. Kemudian Dia berfirman : “Apakah kamu mengingkari hal ini barang sedikit ?”. Apakah tukang catatKu Malaikat Hafazhah menganiaya kamu ?”. Ia menjawab : “Tidak wahai Tuhan”. Dia berfirman : “Apakah kamu punya alasan ?” Ia menjawab : “Tidak”. Dia berfirman : “Baiklah, kamu mempunyai kebaikan. Sesungguhnya pada hari ini tidak ada penganiayaan atasmu”. Maka dikeluarkan secarik kertas yang didalamnya terdapat :

‘ASYHADUALLAA ILAAHA ILLALLAH WA ASYHA­DUANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WARA­SUUL UH”

(Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan saya bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusanNya).

Dia berfirman : “Datangkan timbanganmu”. Ia menjawab : “Wahai Tuhanku, apakah (artinya) secarik kertas ini dibandingkan dengan catatan-catatan ini ?”. Dia berfirman : “Sungguh kamu tidak dizhalimi”. Beliau bersabda : “Catatan-catatan itu diletakkan pada sebuah piringan neraca dan secarik kertas itu di dalam piringan neraca. Secarik kertas itu berat, karena tidak ada sesuatu yang mempunyai timbangan berat dibandingkan dengan sesuatu yang bersama nama Allah”. (Hadits ditakhrij oleh Tirmidzi).
Dari Anas bin Malik ra., ia berkata : Rasulullah saw. .       . bersabda : “Dua malaikat Hafazhah menghadapkan kepada Allah akan apa yang ia jaga baik siang maupun malam, di mana Allah mendapatkan baik pada awal dan akhir halaman itu, kecuali Allah berfirman : “Sesungguh Aku meinpersaksikan kepadamu bahwa Aku mengampuni ” hambaKu yang tercatat di antara dua ujung halaman (catatan) ini”. (Hadits ditakhrij oleh Tirmidzi).
Dari Anas ra dari Nabi saw., beliau bersabda : Allah berfirman : “Keluarkanlah dari neraka orang yang ingat kepadaKu pada suatu hari atau takut kepadaKu pada suatu tempat”. (Hadits ditakhrij oleh Tirmidzi).
Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw, beliau bersabda : “Sesungguhnya Allah berfirman : “Wahai anak Adam (manusia) luangkanlah waktu untuk ibadah kepadaKu maka Aku isi dadamu dengan kekayaan, dan Aku tutup kekafiranmu. Jika tidak demikian maka Aku isikan kesibukan di mukamu dan Aku tidak menutup kefakiranmu”. (Hadits ditakhrij oleh At Tirmidzi)

Dari Uqbah bin Amir ra., ia berkata : Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda : “Tuhanmu kagum. terhadap penggembala kambing di ujung bukit yang di kala didengungkan adzan ia mendirikan Shalat”. Lalu Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Lihatlah hambaKu ini, didengungkan adzan kemudian ia shalat karena takut terhadapKu, Aku telah mengampuni hambaKu dan memasukkannya ke Sorga”. (Hadits di takhrij oleh An Nasa’i).

Dari Iyadh bin Khammar saudara Bani mujasyi’, ia berkata : Rasulullah saw. pada suatu hari berdiri di tempat kami dengan berkhuthbah, lalu beliau bersabda : “Sesungguhnya Tuhanku menyuruh aku dan meneruskan hadits itu seperti hadits Hisyam dari Qatadah dan ia menambahNya :

“WA ANNALLAAHA AUHA ILAYYA AN TAWAADLA ‘UU HATTAA LAA YAFKHARA AHADUN ‘ALAA AHADIN WALAA YABGHII AHADUN ‘LAA AHADIN”

(Sesungguhnya Allah memberi wahyu kepadaku agar kamu merendahkan diri, sehingga seseorang tidak berbangga terhadap orang lain, dan seseorang tidak menganiaya terhadap orang lain).

Dan menurut haditsnya beliau saw bersabda :

“WAHUM FIIKUM TABA’AN LAA YABGHUUNA AHLAN WALAA MAALAN” (Mereka sebagai pengikutmu, dengan tidak mencari keluarga dan harta).

Lalu aku bertanya : “Kedaannya demikian itu wahai Abu Abdillah?” Ia menjawab : “Ya, demi Allah aku telah menjumpai mereka pada masa Jahiliyah, dan seseorang laki­laki menggembala di kampung, yang ada hanya ibunya dimana ia mensetubuhinya”. (HR. Muslim).

——————————————————————————–

KEMURAHAN ALLAH TA’ALA DALAM MELIPAT GANDAKAN PAHALA AMAL SALEH
——————————————————————————–
 
Dari Ibnu Abbas ra. dari Nabi saw bersabda dalam apa yang diriwayatkan dari Tuhan Yang Maha Mulia dan Maha Besar : “Sesungguhnya Allah mencatat kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan”. Kemudian Beliau menjelaskan hal itu : “Barang siapa yang bermaksud kebaikan namun tidak mengamalkannya maka Allah mencatat di sisiNya sebagai kebaikan yang sempurna untuknya. Jika ia bermaksud baik lalu mengamalkannya maka Allah mencatat di sisiNya sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus lipat sampai banyak. Barang siapa yang bermaksud buruk namun tidak mengamalkannya maka Allah mencatat di sisi-Nya suatu kebaikan yang sempurna. Jika ia bermaksud buruk lalu mengamalkannya maka Allah mencatatnya sebagai satu keburukan”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).
Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda : Allah berfirman : “Apabila hamba-Ku berkehendak untuk beramal buruk maka jangan kamu catat sehingga ia mengamalkannya. Jika ia mengamalkannya maka catatlah serupa itu. Jika ia meninggalkannya karena Aku maka catatlah sebagai satu kebaikan. Jika hamba-Ku mau berbuat kebaikan namun tidak mengamalkannya maka tulislah satu kebaikan baginya. Jika mengamalkannya maka catatlah sepuluh kalinya sampai tujuh ratus lipat. Dan dalam sebagian riwayat ada tambahan sampai kelipatan yang banyak” . (Hadits ditkhrij oleh Bukhari) .
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah saw. bersabda : Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Apabila hambaKu bermaksud pada keburukan maka jangan kamu catat. Jika ia melakukannya maka catatlah satu keburukan. Apabila ia bermaksud pada kebaikan namun tidak melakukannya maka catatlah satu kebaikan. Jika ia mengamalkannya maka catatlah sepuluh lipat”. (Hadits ditakhrij oleh Muslim).
Dari Abu Hurairah ra. dari Rasulullah saw., beliau bersabda : Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Apabila hamba Ku bermaksud pada kebaikan namun tidak mengamalkannya maka Aku catat sebagai satu kebaikan baginya sampai tujuh ratus kali. Apabila ia bermaksud pada keburukan dan tidak mengamalkannya maka Aku tidak mencatatnya. Jika ia melakukannya maka Aku catat satu keburukan”. (Hadits ditakhrij oleh Muslim).
Dari Ibnu Abbas ra. dari Rasulullah saw dalam apa yang diriwayatkan dari Tuhannya Yang Maha Mulia dan Maha Besar bersabda: “Sesungguhnya Allah mencatat kebaikan dan keburukan”. Kemudian beliau menjelaskan : Barang siapa yang bermaksud pada kebaikan namun tidak mengamalkannya maka Allah mencatat di sisiNya satu kebaikan yang sempurna. Jika ia bermaksud pada keburukan lalu mengamalkannya maka Allah mencatatnya satu keburukan”.

Dalam riwayat yang lain ia menambahkan :

‘AU MAHAAHALLAAHU WALAA YAHLIKU ‘ALALLAAHIILLAHA HAALIKUN”

(atau Allah menghapusnya dan tidak membinasakan Al­lah kecuali orang yang berbuat kebinasaan). (Hadits ditakhrij oleh Muslim).

Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. berkata : “Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman dan firmanNya itu benar : “Apabila hamba Ku bermaksud pada kebaikan maka catatlah sebagai satu kebaikan. Jika ia melakukannya maka catatlah sepuluh lipat baginya. Apabila ia berrhaksud pada keburukan maka jangan kamu mencatatnya, jika ia melakukannya maka catatlah serupa itu, jika ia meninggalkannya – barangkali Tuhan berfirman : “Tidak melakukannya” maka catatlah baginya satu kebaikan”. Kemudian ia membaca :

‘MAN JAA-A BILHASANATI FALAHU ‘ASYRU AMTSAALIHAA”

(Barang siapa yang membawa satu kebaikan maka baginya sepuluh kalinya). (Hadits ditakhrij oleh At Turmidzi).
Dari Abu Dzar ra. ia berkata : Rasulullah saw bersabda : Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi berfirman : “Barangsiapa yang membawa kebaikan maka baginya sepuluh kalinya atau Aku tambah. Barangsiapa yang membawa keburukan maka balasan keburukan itu keburukan yang semisal dengannya atau Aku ampuni. Barangsiapa yang mendekatkan diri kepadaKu sejengkal maka Aku mendekatkan Diri kepadanya satu hasta. Dan barangsiapa yang mendekatkan diri kepadaKu satu hasta maka Aku mendekatkan Diri kepadanya satu depa. Barangsiapa yang datang kepadaKu berjalan, maka Aku mendatanginya dengan lari-lari kecil. Barangsiapa yang menemui Aku dengan kesalahan sepenuh bumi maka aku menemuinya dengan ampunan”. (Hadits ditakhrij oleh Ibnu Majah).

——————————————————————————–

KECINTAAN ALLAH TA’ALA TERHADAP HAMBANYA DAN PENGARUHNYA KEPADA KECINTAAN MAKHLUK
——————————————————————————–

Dari Abu Hu.airah dari Nabi saw. bersabda : “Apabila Allah mencintai hamba, maka Jibril memanggil :

“Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka cintailah ia”. Maka Jibril mencintainya. Lalu Jibril memanggil penghuni langit : “Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka cintailah ia”. Maka penghuni langit mencintainya, kemudian di bumi ia menjadi orang yang diterima”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya apabila Allah mencitai seorang hamba, maka dia memanggil Jibril ra., seraya berfirman : “Sesungguhnya Aku mencintai Fulan, maka cintailah dia”. Beliau bersabda : “Maka Jibril mencintainya. Kemudian Jibril memanggil (penghuni langit) di langit, lalu berkata : “Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka cintailah ia”. Maka penghuni langit mencintainya. Beliau bersabda : “Kemudian di bumi ia diterima”: Apabila Allah membenci hamba, maka Dia memanggil Jibril seraya berfirman : “Sesungguhnya Aku membenci Fulan, maka bencilah ia”. Lalu ia di benci oleh Jibril. Kemudian Jibril memanggil penghuni langit : “Sesungguhnya Allah membenci Fulan, maka bencilah kamu sekalian terhadapnya”. Beliau bersabda : “Kemudian ia di bumi dibenci oleh orang-orang”. (Hadits ditakhrij oleh Imam Muslim).

Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda : “Apabila Allah mencintai hamba maka Dia berfirman kepada Jibril : – “Saya mencintai Fulan maka cintailah ia”. Maka Jibril mencintainya. Kemudian ia memanggil terhadap. penghuni langit : “Sesungguhnya Allah telah mencintai Fulan, maka cintailah ia”. Maka penghuni langit mencitainya. Kemudian di bumi ia diterima. Jika Allah membenci hamba -Malik- berkata : “Saya tidak menduga, hanya saja dalam kebencian itu Dia berfirman seperti itu”. (Hadits ditakhrij oleh Imam Malik).
Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda : “Apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Allah memanggil Jibril: “Sesungguhnya Aku mencintai Fulan maka cintailah ia”. Beliau bersabda: “Jibril memanggil di langit, kemudian turunlah kecintaan baginya oleh penduduk bumi. Itulah firman Allah :

“INNALLADZIINA AAMANUU WA ‘AMILUSH SHAALIHAATI SAYAJALULAHUMURRAHMAANU WUDDAA “

(Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, Allah yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati mereka) rasa kasih sayang).

Apabila Allah membenci seseorang hamba maka Allah memanggil Jibril : “Sesungguhnya Aku membenci Fulan dan dikumandangkan panggilan di langit; kemudian turunlah kebencian terhadapnya oleh penduduk bumi”. (Hadits ditakhrij oleh Turmudzi).
——————————————————————————–

KEUTAMAAN SHALAT DHUHA KEUTAMAAN SHALAWAT DAN SALAM ATAS NABI SAW.
——————————————————————————–
Dari Abu Darda dan Abu Dzarr ra. dari Rasulullah saw. dari Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : Wahai anak Adam, ruku’lah (Shalatlah) kepadaKu di awal siang dengan empat raka’at maka Aku akan mencukupimu di akhir siang itu”. (hadist ditakhrij olej Tirmidzi)

Dari Na’im bin Hammaz ra., ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda : “Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Wahai anak Adam, janganlah kamu lemah terhadaKu dari (melakukan) empat rakaat di awal harimu, maka Aku cukupkan kamu di akhir hari itu”. (Hadits ditakhrij oleh Abu Dawud).

Dari Abdullah bin Abu Thalhah dari ayahnya ra., ia berkata : Bawasanya Rasulullah saw. pada suatu hari datang dengan wajah gembira, lalu kami berkata : “Sesungguhnya kami melihat kegembiraan di wajah engkau”. Beliau bersabda : “Sesungguhnya datanglah Malaikat kepadaku. Ia berkata : “Wahai Muhammad, bukankah menjadikan engkau ridha, bahwasanya tidaklah seseorang membaca shalawat (memohon rahmat) atasmu melainkan Aku melimpahkan rahmat atasnya sepuluh kalinya, dan tidak seorangpun memohon keselamatan atasmu, melainkan Aku mem­berikan keselamatan atasnya sepuluh kalinya”. (Hadits ditakhrij oleh An Nasa’i).

——————————————————————————–

MEMBENARKAN AKIDAH
——————————————————————————–
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Rasulullah bersabda : Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Anak Adam (manusia) menyakiti Aku dengan mencaci maki tahun, dan Akulah tahun. Dan di tangan Akulah segala urusan, Aku balik siang dan malamnya”. (HR. Bukhari).

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Rasulullah saw. Bersabda : “Allah berfirman : “Bani Adam (manusia) mencaci maki masa, Akulah masa, di tangan Akulah siang dan malam”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw., beliau bersabda : Allah Ta’ala berfirman : “Anak Adam (manusia) men­dustakan Aku dan tidak pantas hal itu padanya. Ia mencaci maki Aku dan tidak pantas hal itu baginya. Adapun pendustaannya kepadaku adalah perkataannya : “Tuhan tidak akan mengembalikan aku sebagaimana ia telah menciptakan aku”, padahal menciptakan pada mula pertamanva tidak mudah atasKu dari pada mengembalikannva. Adapun caciannya kepadaKu adalah perkataannya : “Allah mengambil anak dan Akulah Yang Maha Esa dan tempat meminta. Aku tidak melahirkan, tidak dilahirkan dan tidak ada satupun yang menyamai Aku”. (Hadits ditakhrij oleh Al Bukhari).

Dari Abu Hurairah ra. dari Rasulullah saw., beliau bersabda : Allah vang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Anak Adam mendustakan Aku dan tidak seyogya baginya untuk mendustakan Aku. Anak Adam mencaci maki Aku dan tidak seyogya baginya untuk mencaci maki Aku. Adapun pendustaannya kepadaKu adalah perkataannya : “Sesungguhnya Aku tidak mengembalikannya sebagaimana Aku menciptakannya pada hal akhir penciptaan itu tidaklah lebih sukar atasKu dari pada menciptakan pertama kalinya. Adapun caciannya kepadaKu adalah perkataannya : “Allah mengambil anak, dan Akulah yang Maha Esa dan tempat meminta, Aku tidak dilahirkan, tidak melahirkan dan tidak ada satupun yang menyamai Aku”. (Hadits ditakhrij oleh An Nasa’i)
Dari Zaid bin Khalid Al Juhanni ra., ia berkata : Rasulullah saw shalat Subuh untuk kami di Hudaibiyah mengiringi langit malam. Ketika Nabi saw. berpaling, beliau menghadap ke arah orang-orang seraya bersabda : “Apakah kalian mengctahui sesuatu yang difirmankan oleh Tuhanmu ?”. Mereka menjawab : “Allah dan RasulNya lebih mengetahui” Dia berfirman : “Dari hambaKu ada vang masuk pagi beriman kepadaKu dan sorenya kafir”. Adapun orang yang berkata : “Kami diberi hujan dengan karunia dan rahmat Allah”. Itulah yang beriman kepadaKu dan kafir terhadap bintang. Adapun orang yang berkata : “Kami diberi hujan karena bintang ini dan ini”., itulah orang yang kafir kepadaKu dan Iman kepada bintang”. (Hadits ditakhrij oleh Al Bukhari).
Dari Zaid bin Khalid Al Juhanni ra., ia berkata : Nabi saw diberi hujan lalu beliau bersabda : Allah berfirman : “Dari hambaKu ada yang kafir kepadaKu dan iman kepadaKu”. (Hadits ditakhrij oleh Al Bukhari).
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah saw bersabda : Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Aku tidak memberi kenikmatan kepada hamba Ku kecuali sekelompok dari mereka menjadi kafir dengan mengu­capkan : “Bintang dan karena bintang”. (Hadits di takhrij oleh An Nasa’i).

Dari Zaid bin Khalid Al Juhanni ra., ia berkata : Nabi saw. diberi hujan lalu beliau bersabda : “Tidakkah kalian mendengar apa yang difirmankan Allah tadi malam ?” Dia berfirman : “Aku tidak memberikan keni’matan kepada hambaKu kecuali sekelompok dari mereka menjadi kafir, dengan berkata : “Kami diberi hujan oleh bintang ini dan ini”. Adapun orang yang beriman kepadaKu dan memujiKu atas diturunkannya hujan itu, maka itulah orang yang beriman kepadaKu dan kafir terhadap bintang. Dan barang siapa yang berkata : “Kami diberi hujan oleh bintang ini dan ini, itulah orang yang kafir kepadaKu dan iman kepada bintang”. (Hadits ditakhrij oleh An Nasa’i).
Dari Abu Zur’ah, ia mendengar Abu Hurairah ra. berkata : Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda : Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat seperti buatanKu, maka hendaklah ia membuat semut kecil, atau membuat biji dan gandum”. (HR. Al Bukhari).

Dari Anas bin Malik ra. dari Rasulullah saw., beliau bersabda : Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Sesungguhnya umatmu senantiasa berkata : “Apakah ini, apakah ini ?”, sehingga mereka berkata : Ini adalah Allah, yang menciptakan makhluk. Maka siapakah yang menciptakan Allah?” (Hadits ditakhrij oleh Imam Muslim).
 

Dari Jundub ra. bahwasanya Rasulullah saw. bercerita bahwa seseorang berkata : “Demi Allah, Allah tidak mengampuni Fulan”. Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman : “Siapakah yang bersumpah atas Ku bahwa Aku tidak mengampuni Fulan, sesungguhnya Aku telah mengampuni Fulan dan Aku menghapus amal atau seperti apa yang ia ucapkan”. (Hadits ditakhrij oleh Imam Muslim).

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda : “Dua orang Bani Israil saling bersaudara (orang lain yang sudah diangkat sebagai saudara). Salah satunya berdosa dan yang lain tekun beribadah. Orang yang tekun beribadah itu melihat orang lain itu selalu berdosa lalu ia berkata kepadanya : “Hentikanlah”. Ia menjawab : “Biarkanlah saya dan Tuhan saya. Apakah kamu diutus sebagai pengawas atasKu?”. Lalu ia menjawab : “Demi Allah, Allah tidak mengampuni kamu, atau Allah tidak memasukkan kamu ke sorga”. Lalu Allah mencabut ruh dua orang itu, dan keduanya berkumpul di hadapan Tuhan semesta alam. Allah berfirman kepada orang yang tekun ini : “Apakah kamu mengetahui tentang Aku ?” Ataukah kamu kuasa terhadap apa yang ada dalam tangan (kekuasaan) Ku ?”. Allah berfirman kepada orang yang berbuat dosa : “Pergilah kamu, masuklah ke sorga dengan rahmat Ku, dan berkata kepada yang lalu : “Bawalah ia ke neraka”.

Abu Hurairah berkata : Demi Dzat yang diriku di tangan (kekuasaan) Nya sungguh ia mengatakan kalimat yang menghancurkan dunia dan akhiratnya. (Hadits ditakhrij Abu Dawud).

——————————————————————————–

MANUSIA YANG PERTAMA KALI DIADILI PADA HARI QIYAMAT
——————————————————————————–

Dari Abu Hurairah ra., diceritakan : Orang-orang berkelompok-kelompok dari Abu Hurairah, Natil penduduk Syam berkata padanya : “Wahai Tuan, ceritakanlah kepadaku sebuah hadits yang engkau dengar dari Rasulullah saw. !”. Ia berkata : “Ya, saya mendengar Rasulullah saw. bersabda : “Sesungguhnya orang yang paling pertama diadili pada hari qiyamat adalah seseorang yang mati syahid, ia didatangkan dan ditanyakan ni’mat­-ni’matnya, lalu ia mengakuinya. Dia berfirman : “Apakah yang kamu amalkan di dunia ? “. Ia menjawab : “Saya berperang sampai mati syahid”. Dia berfirman : “Kamu berdusta, tetapi kamu berperang agar dikatakan sebagai pemberani dan itu telah dikatakan”. Kemudian ia diperintahkan, lalu wajahnya ditarik sehingga ia dilemparkan kedalam neraka. Seorang yang memperlajari Ilmu, mengajarkannya dan membaca Al Qur’an di­datangkan. Nikmat-nikmatnya, ditanyakan dan ia mengakuinya. Dia berfirman : “Apakah yang kamu kerjakan di dunia ?”. Ia menjawab : “Saya mempelajari Ilmu, mengajarkannya, dan saya membaca Qur’an karena-Mu”. Dia berfirman : “Kamu berdusta, karena kamu mempelajari Ilmu agar dikatakan pandai dan kamu membaca Al Qur’an agar dikatakan sebagai qari’, dan itu semua telah diucapkan”. Kemudian diperintahkan, lalu wajahnya ditarik sampai dicampakkan kedalam neraka. Dan seorang yang diberi kelapangan oleh Allah dan diberi berbagai macam seluruh harta didatangkan dan ditanyakan ni’mat-ni’matnya lalu ia mengakuinya. Dia berfirman : “Apakah yang kamu kerjakan di dunia ?”. Ia menjawab : “Saya tidak meninggalkan jalan yang mana engkau senang untuk di infakkannya (harta) melainkan saya menginfakkannya karena-Mu”. Dia berfirman : “Kamu berdusta, tetapi kamu kerjakan agar dikatakan sebagai dermawan, dan itu telah dikatakan”. Ia diperintahkan, lalu ditarik wajahnya kemudian dilemparkan kedalam neraka”. (Hadits ditakhrij oleh Muslim).

Dari Abu Said ra., ia berkata : “Rasulullah saw bersabda : “Seseorang diantaramu janganlah menghina dirinya”. Mereka berkata : “Wahai Rasulullah, bagaimanakah salah seorang dari pada kami menghinakan dirinya ?”. Beliau bersabda : “Ia melihat urusan Allah yang didalamnya ada tempat untutk berpendapat, ia tidak berpendapat. Besok pada hari Qiyamat Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman kepadanya: “Apakah yang mencegah kamu untuk berpendapat begini dan begitu?”. Ia menjawab : “Karena takut kepada manusia : “Dia berfirman : “Hanya Akulah yang berhak ditakuti”. (Hadits ditakhrij oleh Ibnu Majah).

——————————————————————————–

NERAKA MENGADU KEPADA TUHANNYA
——————————————————————————–
 

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah saw bersabda : “Neraka mengadu kepada Tuhan, lalu berkata : “Tuhan, sebahagianku makan sebahagian yang lain”. Maka Tuhan mengizinkan bagi neraka dua nafas yaitu : Nafas pada musim dingin dan nafas pada mu sim panas, maka itulah panas yang sangat panas yang kamu dapati, dan itulah dingin yang sangat dingin yang kamu dapati”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).

——————————————————————————–

ORANG-ORANG MU’MIN MELIHAT TUHAN DAN ALLAH BERFIRMAN KEPADA PENGUNI SORGA
——————————————————————————–
Dari Syuhaib ra. dari Nabi saw, beliau bersabda : “Ketika penghuni sorga masuk ke sorga”, beliau bersabda : “Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi berfirman : “Kamu menghendaki agar aku menambahkah sesuatu untukmu ?” Mereka berkata : “Tidakkah Engkau mencemerlangkan wajah kami ? Tidakkah Engkau memasukkan kami ke sorga ? dan menyelamatkan kami dari neraka ?”. Rasulullah saw. bersabda : “Maka dibukalah tirai dan tidaklah mereka diberi sesuatu yang lebih mereka sukai dari pada melihat Tuhan mereka”. (Hadits ditakhrij oleh Muslim).
Dari Jabir bin Abdullah ra., ia berkata : Rasulullah saw. bersabda : “Ketika penghuni sorga dalam keni’matannya tiba-tiba memancar cahaya kepada mereka, maka mereka mengangkat kepala, tiba-tiba Tuhan telah muncul di hadapan mereka dari atas, lalu berfirman : “Selamat sejahtera wahai penghuni sorga”, Rasulullahlah saw. bersabda: “Itulah firman Allah :

“SALAAMUN QAULAM MIRRABBIRRAHIIM” (Kepada mereka dikatakan) : “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang. (Yaasiin : 58).

Rasulullah saw. bersabda : “Maka Tuhan melihat mereka dan mereka melihat Nya ; dan mereka tidak menghiraukan keni’matan keni’matan lain, selama mereka melihat Nya, sehingga Tuhan tertutup dari mereka dan tetaplah cahaya dan keberkahan Nya pada mereka di tempat-tempat mereka itu. (Hadits ditakhrij oleh Ibnu Majah).
HIMPUNAN
HADIST QUDSI
Penyusun: Achmad Sunarto
Penata Letak: Tim Setia Kawan
Disain sampul: Setia Kawan Grafis
Cetakan: I-2000
Penerbit: Setia Kawan

www.pakdenono.com

komentarku: hadist2 ini belum tentu sahih.., lagi pula tidak disebutkan derajat hadisnya..

KUMPULAN HADITS QUDSI (BAGIAN 3)

——————————————————————————–

SESEORANG ITU MEMBUTUHKAN ANUGERAH ALLAH TA’ALA

——————————————————————————–

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw, beliau bersabda : “Ketika Ayyub mandi dengan telanjang, jatuhlah belalang emas, lalu Ayub menangkap dan meletakkan dalam pakaiannya. Lalu Tuhannya memanggilnva : “Bukankah Aku telah membuatmu tidak membutuhkan terhadap apa yang kamu lihat ?”. Ia menjawab : “Ya, demi kemuliaan­Mu, tetapi Aku membutuhkan terhadap berkah-Mu”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).

——————————————————————————–

SYAFA’AT

——————————————————————————–

Dari Abu hurairah ra., ia berkata : “Kami bersama Nabi saw. dalam suatu undangan, maka diangkatlah hasta (kambing) oleh beliau, di mana hasta itu menarik beliau, maka beliau menggigitnya dan beliau bersabda: “Saya adalah penghulu manusia pada hari Qiamat, apakah kamu tahu sebabnya ? Allah mengumpulkan orang yang terdahulu dan terkemudian di satu tanah lapang, dan pemandangan akan memandang mereka dan orang yang memanggil akan terdengar oleh mereka, matahari dekat, sebagian manusia berkata : “Tidakkah kamu melihat apa yang ada pada kamu sekalian ? Apa yang sampai kepadamu ? Tidakkah kamu memikirkan orang yang memohon syafa’at bagimu kepada Tuhanmu ?” Dan sebagian yang lain berkata : “Ayahmu Adam”, maka mereka mendatanginya dan berkata : “Wahai Adam, engkau adalah ayah manusia, Al­lah menjadikanmu dengan tangan-Nya, meniupkan ruh­Nya kepadamu, memerintahkan Malaikat lalu mereka sujud kepadamu dan menempatkan engkau di sorga, tidakkah kamu memohonkan syafa’at untuk kami kepada Tuhanmu. Tidakkah kamu melihat apa yang ada pada kami dan apa yang sampai kepada kami ?” Maka Adam menjawab : “Tuhanku murka yang mana sebelum dan sesudahnya Dia tidak pernah murka seperti itu. Dia mencegah saya dari pohon, lalu saya mendurhakainya. Oh diriku, diriku, pergilah kepada selainku, pergilah kepada Nuh !”, maka mereka mendatangi Nuh dan berkata : “Wahai Nuh, engkau adalah Rasul pertama kepada penduduk bumi, Allah menyebut engkau sebagai hamba yang bersyukur. Tidakkah melihat apa yang ada pada kami ? tidakkah engkau memohon syafa’at bagi kami kepada Tuhanmu ?” Maka ia menjawab : “Tuhanku pada hari ini murka, yang mana sebelum dan sesudahnya tidak pernah murka seperti itu, oh diriku, oh diriku datanglah Nabi saw”, maka mereka mendatangi aku, dan aku dibawah Arasy, maka diserukan : “Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, mintalah syafa’at, kamu akan diberi syafa’at dan mintalah perantara kamu akan diberi”. Muhammad bin Ubaid berkata : “Saya tidak hafal kelanjutannya”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).

Dari Anas ra., ia adalah Ibnu Malik ra., ia berkata : “Rasulullah saw. bersabda : “Allah mengumpulkan manusia pada hari Qiyamat, maka mereka berkata : “Seandainya kita mohon syafa’at kepada Tuhan kita, sehingg Tuhan memberikan kelonggaran kepada kita ditempat kita” lalu mereka datang kepada Adam dan berkata : “Engkaulah yang telah diciptakan Allah dengan tanganNya, Dia meniupkan ruh Nya padamu, dan Allah telah memerintahkan Malaikat, sehingga mereka sujud kepadamu, maka mohonlah syafa’at untuk kami di sisi Tuhan kami”. Ia menyebutkan kesalahan-kesalahannya dan berkata : “Datanglah kepada Nuh, seorang Rasul pertama yang diutus oleh Allah”. Lalu mereka datang kepada Nuh, maka Nuh menjawab : “Saya tidak menempati tempat itu -dan ia menyebutkan kesalahannya itu- datangilah Ibrahim yang mana Allah menjadikannya sebagai kekasih !”, lalu mereka datang kepadanya, maka ia menjawab : “Saya tidak menempati tempat itu -dan ia menyebutkan kesalahan- datangilah Musa yang telah diajak bicara oleh Allah !”. Lalu mereka datang kepadanya, maka Musa menjawab : “Saya tidak menempati tempat itu -ia menyebutkan kesalahannya- datangilah Isa”, lalu mereka datang kepadanya, maka ia menjawab : “Saya tidak menempati tempat itu, datangilah Muhammad saw. yang telah diampuni dosa-dosanya yang telah terdahulu dan yang terkemudian !”. Lalu mereka datang kepadaku, dan aku minta izin kepada Tuhanku. Ketika aku melihat Nya aku sujud dan Tuhan meninggalkan aku sesuai dengan apa yang dikehendakiNya, kemudian diserukan : “Angkatlah kepalamu, mintalah perantara maka kamu akan diberi dan berkatalah maka akan didengar, mohonlah syafa’at maka akan diberi svafa’at,” Kemudian aku mengangkat kepala dan memuji Tuhan dengan pujian vang telah diajarkan kepadaku, lalu aku mohon syafa’at, maka Aku membatasinya kepadaku, lalu aku mengeluarkan mereka dari neraka dan aku memasukkan mereka ke sorga, kemudian aku kembali dan sujud seperti itu, pada vang ketiga atau keempat kalinya, sehingga yang ada di neraka itu hanyalah orang-orang yang telah dicegah oleh Al Qur’an.” (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).

Dari Humaid, ia berkata : Aku mendengar Anas ra. berkata : Sava mendengar Nabi saw. bersabda : “Apabila hari Qiamat tiba, Aku diberi syafa’at, kemudian aku berkata : “Wahai Tuhan, masukkanlah ke sorga orang yang di dalam hatinva ada seberat biji sawi”. Maka mereka masuk, kemudian aku berkata : “Masukkanlah ke sorga orang yang didalam hatinya ada sedikit dikitnva sesuatu”. Maka Anas ra. berkata seolah-olah sa’ya melihat jari-jari Rasulullah saw. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).

Dari Abu Said Al Khudri ra. bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Allah memasukkan penghuni Sorga ke Sorga, Dia memasukkan orang yang di kehendakiNya dengan rahmatnya dan memasukkan penghuni Neraka ke Neraka, kemudian Dia berfirman : “Lihatlah orang yang kamu sekalian dapati di dalam hatinya iman seberat biji sawi, maka keluarkanlah ia”. Kemudian mereka dikeluarkan dari neraka seperti arang, mereka telah terbakar maka mereka dilemparkan di sungai hidup (Nahrul hayat), lalu mereka tumbuh di dalamnya, sebagaimana biji-bijian itu tumbuh di tanah yang dibawa banjir, tidaklah kamu melihatnva, bagaimana ia tumbuh dengan kuning emas”. (Hadits ditakhrij oleh Muslim).

Dari Abu Sa’id ra., ia berkata : Rasulullah saw. bersabda : “Adapun penghuni neraka yang memang jadi penghuninya, mereka itu tidak mati dan tidak hidup, akan tetapi orang­orang yang masuk neraka, karena dosa-dosa mereka,” atau beliau bersabda : “Karena kesalahan-kesalahan mereka, maka Allah mematikan mereka dengan benar-benar mati, sehingga mereka menjadi arang, ia diberi idzin untuk diberi syafa’at, mereka didatangi dengan berkelompok-kelompok kemudian mereka di sebarkan disungai sorga. Lalu dikatakan : “Wahai penghuni sorga berangkatlah bersama mereka, kemudian mereka tumbuh seperti tumbuhnya biji-bijian di tanah yang dibawa banjir. Seseorang berkata : “Seolah­olah Rasulullah saw. ada di perkampungan”. (Hadits ditakhrij oleh Muslim).

Dari Abdullah bin Mas’ud ra., ia berkata : Rasulullah saw. bersabda: “Sungguh aku mengetahui penghuni neraka yang paling akhir keluar dari neraka dan penghuni sorga yang paling akhir masuk sorga. Yaitu orang laki-laki yang keluar dari neraka dengan merangkak, kemudian Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi berfirman kepadaNya : “Pergilah, dan masuklah ke sorga”. Rasulullah saw. bersabda : “Maka ia datang ke sorga dan terbayang olehnya bahwa sorga itu sudah penuh, lalu ia kembali dan berkata : “Wahai Tuhan, saya mendapati sorga itu penuh”. Kemudian Tuhan berfirman kepadanya : “Pergilah, dan masuklah ke Sorga. “Rasulullah saw. bersabda : “Maka ia datang ke sorga dan terbayang olehnya bahwa sorga itu sudah penuh, lalu ia kembali dan berkata : “Wahai Tuhan, saya mendapati sorga itu penuh”. Kemudian Tuhan berfirman kepadanya : “Maka ia datang ke Sorga”, dan di bayangkan olehnya bahwasanya Sorga itu penuh. Lalu ia kembali dan berkata : “Wahai Tuhan, saya mendapati sorga itu penuh”. Kemudian Tuhan berfirman kepadanva : “Pergilah dan masuklah ke sorga”. Sesungguhnya bagimu seperti dunia dan sepuluh kalinya”, atau bagimu sepuluh kali dunia”. Rasulullah saw bersabda : “Maka ia berkata : “Apakah Engkau mentertawakan aku, sedangkan Engkau Raja”. Ibnu Mas’ud berkata : “Sungguh aku melihat Rasulullah saw. tertawa sehingga tampaklah gigi taringnya”. Beliau bersabda : “Maka dikatakan : “Itulah penghuni sorga yang tempatnya paling bawah”. (Hadits ditakhrij oleh Muslim).

Dari Abu Sa’id Al Khudri ra., ia berkata : Rasulullah saw bersabda : “Tidaklah perdebatan seseorang dari padamu dalam menuntut hak yang ada di dunia lebih keras dari pada perdebatan orang-orang mu’min dengan Tuhan mereka bagi saudara-saudara mereka yang masuk neraka. Rasulullah saw. bersabda : “Mereka berkata : “Wahai Tuhan kami, saudara-saudara kami shalat bersama kami, mereka puasa bersama kami, haji bersama kami, namun mereka Engkau masukkan ke nereka”. Rasulullah saw. bersabda : Maka Tuhan berfirman : “Pergilah dan keluarkanlah orang kamu kenal di antara mereka !”. Rasulullah saw bersabda : “Maka orang-orang mu’min itu datang kepada mereka dan orang-orang mu’min itu mengetahui rupa-rupa mereka”. Diantara mereka ada orang yang sudah dibenamkan ke neraka sampai kepertengahan dua betisnya, dan diantara mereka ada yang sudah dibenamkan sampai kedua mata kakinya. Lalu orang-orang mu’min itu mengeluarkan mereka, dan berkata : “Wahai Tuhan kami, kami mengeluarkan orang-orang yang telah Engkau perintahkan kepada kami”. Rasulullah saw. bersabda dan Tuhan berfirman : “Keluarkanlah orang-orang yang di dalam hatinya ada iman seberat satu dinar”. Kemudian Rasulullah saw bersabda : “Orang-orang yang didalam hatinya ada seberat setengah dinar, sampai Tuhan berfirman : “Orang yang di dalam hatinva ada seberat semut kecil”. Abu Sa’id berkata : “Barang siapa yang tidak membenarkan, maka bacalah ayat ini :

“INNALLAAHA LAA YAGHFIRU AN YUSYRAKA BIHI WAYAGHFIRU MAADUUNA DZAALIkA LIMAN YASYAA-U WAMAN YUSYRIK BILLAAHI FAQADIFTARAA ITSMAN ‘AZHILMAA”.

(Sesungguhnva Allah tidak akan mengampuni dosa syvirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendakiNya. Barang siapa vang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa besar). (An Nisa’ : 48).

Dari Abu Sa’id Al Khudri ra., ia berkata : Rasulullah saw. bersabda : “Apabila Allah menyelamatkan orang-orang mu’min dari neraka, dan mereka beriman, maka seseorang diantaramu tidak mendebatkan hak sahabatnya di dunia lebih keras dari pada perdebatan orang-orang mu’min dengan Tuhan mereka bagi saudara-saudara mereka yang dimasukkan ke neraka”. Rasulullah saw. bersabda : “Mereka berkata : “Wahai Tuhan kami, saudara-saudara kami shalat bersama kami, berpuasa bersama kami dan hajji bersama kami, namun Engkau memasukkan mereka ke neraka”. Lalu Tuhan berfirman : “Pergilah kalian dan keluarkanlah orang-orang yang kamu kenal diantara mereka”, maka orang-orang mu’min datang kepada mereka, lalu mengetahui rupa-rupa mereka karena neraka tidak memakan rupa-rupa mereka. Diantara mereka ada orang yang telah dibenamkan di neraka sampai pertengahan betisnya dan diantara mereka ada yang dibenamkan sampai kedua mata kakinya. Lalu orang-orang mu’min mengeluarkan mereka, kemudian mereka itu berkata : “Tuhan kami, kami telah mengeluarkan orang-orang yang telah Engkau perintahkan kepada kami”, Lalu Allah berfirman : “Keluarkanlah orang-orang yang didalam hatinya ada iman seberat dinar, kemudian orang­orang yang di dalam hatinya ada iman seberat setengah dinar, kemudian orang yang didalam hatinya ada iman seberat biji sawi”. Abu Sa’id berkata : “Barang siapa yang tidak membenarkan hal ini maka bacalah ayat ini :

“INNALLAAHA LAA YAZHLIMU MITSQAALA DZARRATIN WA INTAKU HASANATAN YUDLAA­’IFHAA WAYU’TI MILLADUNHU AJRAN ‘AZHIIMAA “

(Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendakiNya, barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa besar). (An Nisa’ : 48).

——————————————————————————–

SORGA ITU DIHARAMKAN ATAS ORANG-ORANG KAFIR DAN KERABAT TIDAK BERGUNA BAGI MEREKA

——————————————————————————–

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw, beliau bersabda : “Ibrahim bertemu dengan ayahnya Azar pada hari Qiamat, pada wajah Azar terdapat hitam-hitam dan berdebu, maka Ibrahim bertanya kepadanya : “Tidakkah aku telah berkata kepadamu : “Janganlah engkau durhaka kepadaku”. Lalu ayahnya menjawab : “Pada hari ini saya tidak durhaka kepadamu”. Maka Ibrahim berkata : “Wahai Tuhan, sesungguhnya Engkau telah berjanji kepadaku untuk tidak menyusahkan aku pada hari kebangkitan. Kesusahan manakah yang lebih susah dari pada ayahku yang jauh ?” Allah Ta’ala berfirman . “Sesungguhnya Aku mengharamkan sorga atas orang-orang kafir, kemudian dikatakan : “Wahai Ibrahim, apa yang dibawah kakimu ?” Maka Ibrahim melihat, tiba-tiba ada seperti serigala yang berlumuran darah dan ditarik kaki-kakinya, kemudian dilemparkan ke neraka”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).

Dari Anas bin Malik ra. dari Nabi saw., beliau bersabda : “Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi berfirman kepada ahli neraka vang paling ringan siksanya : “Seandainya kamu mempunyai dunia dan seisinya, apakah kamu mau menebusinya ?” Ia menjawab : “Ya”. Kemudian Tuhan berfirman : “Aku telah menghendaki kamu akan sesuatu yang lebih ringan dari pada ini semenjak kamu dalam tulang rusuk Adam agar kamu tidak mensekutukan”. Saya duga Dia berfirman : Dan Aku tidak memasukkan kamu ke neraka, namun kamu enggan, kecuali kamu mensekutukan”. (Hadits ditakhrij oleh Muslim).

Dari Anas bin Malik ra. bahwasanva Nabi saw. bersabda : “Dikatakan kepada orang kafir pada hari Qiamat : “Bagaimanakah pendapatmu, seandainva kamu mempunyai emas sepenuh bumi, apakah kamu menebus dengannya ?” Ia menjawab : “Ya”. Lalu dikatakan kepadanya : “Kamu telah dimintai yang lebih mudah dari pada itu”. (Hadits ditakhrij oleh Muslim).

——————————————————————————–

SESUATU YANG MELINGKARI SORGA DAN NERAKA DAN MAKANAN PENGHUNI NERAKA

——————————————————————————–

Dari Abu Hurairah ra. dari Rasulullah saw, beliau bersabda : “Ketika Allah menciptakan sorga dan neraka, Allah mengutus Jibril ke sorga, kemudian Dia berfirman : “Lihatlah kepadanya dan kepada apa yang telah Aku sediakan bagi penghuninya di dalamnya”. Rasulullah saw. bersabda : Maka Jibril datang dan melihatnya dan kepada apa yang telah disediakan Allah untuk penghuninya. Rasulullah saw. bersabda : Kemudian Jibril kembali kepadaNya. Jibril berkata : “Demi KemuliaanMu, tidak ada seorangpun yang mendengar sorga kecuali ia memasukinya”. Lalu Dia memerintahkan sorga, lalu sorga dikelilingi dengan hal-hal yang tidak menvenangkan. Kemudian Dia berfirman : “Kembali kamu ke sorga, tiba­tiba sorga telah dikelilingi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan. Kemudian Dia berfirman : “Kembali kamu ke sorga, tiba-tiba sorga telah dikelilingi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan. Lalu Jibril kembali kepadaNya, dan berkata : “Demi kemuliaan Mu, sungguh aku takut, tidak ada seorangpun vang memasukinya”. Dia berfirman : “Pergilah kamu keneraka dan lihatlah kepadanya, dan kepada apa yang telah Aku sediakan untuk penghuninya”, maka tiba-tiba neraka itu naik sebahagiannya pada sebahagian yang lain. Lalu Jibril kembali padaNya dan berkata : “Demi kemuliaanMu, seseorang tidak mendengar neraka, maka ia memasukinya”. Lalu Tuhan memerintahkannya, kemudian neraka telah dikelilingi dengan hal-hal yang menyenangkan. Tuhan berfirman : “Kembalilah kepadanya”, maka Jibril kembali ke neraka. Lalu Jibril berkata : “Sungguh saya khawatir seseorang tidak selamat dari padanya kecuali ia akan memasukinva”. (Hadits ditakhrij oleh Tirmidzi).

Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda : “Ketika Allah menciptakan sorga, Allah berfirman kepada Jibril : “Pergilah dan lihatlah ia !”, maka Jibril pergi dan melihatnya, kemudian dia datang lalu berkata : “Wahai Tuhan, demi kemuliaan Mu, seseorang tidak mendegarnya kecuali dia memasukinya”. Lalu Dia mengelilingi sorga dengan hal-hal yang tidak menyenangkan. Kemudian Tuhan berfirman : “Wahai Jibril, pergilah kau lihatlah ia”. Maka Jibril pergi dan melihatnya, kemudian Jibril datang dan berkata : “Wahai Tuhan, demi Kemuliaan Mu, sungguh saya khawatir seseorang tidak masuk kepadanya”. Rasulullah saw. bersabda : “Ketika Allah menciptakan neraka, Allah berfirman : “Wahai Jibril, pergilah dan lihatlah ia !”, maka Jibril pergi dan melihat kepadanya, kemudian Jibril datang dan berkata : “Demi kemuliaan Mu, tidaklah seseorang mendengarnya lalu dia memasukinya”, lalu Allah mengelilinginya dengan hal-hal yang menyenangkan. Kemudian Tuhan berfirman : “Wahai Jibril, pergilah dan lihatlah ia !”, maka jibril pergi dan melihatnya dan berkata : “Wahai Tuhan, demi kemuliaan Mu sungguh saya khawatir, seseorangpun tidak selamat kecuali ia akan memasukinya”. (Hadits ditakhrij oleh Abu Dawud).

——————————————————————————–

SEBAGIAN PENGHUNI SORGA MOHON IZIN UNTUK BERCOCOK TANAM

——————————————————————————–

Dan Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. : “Pada suatu hari Nabi saw bercerita dan disampingnya ada seorang lelaki dari penduduk kampung, bahwasanya seorang lelaki dari penghuni sorga, minta izin kepada Tuhannya untuk bercocok tanam. Tuhan berfirman : “Tidakkah kamu mendapati apa yang kamu inginkan ?” Ia menjawab : “Ya, akan tetapi saya senang bercocok tanam,” maka dia bersegera dan menyemai dan sangat cepat tumbuhnya ujung, tegak dan panennya tumbuh-tumbuhan itu, dan digulungnya seperti gunung. Lalu Allah Yang Maha Tinggi berfirman : “Ambillah wahai anak Adam, sesungguhnya kamu tidak dikenyangkan oleh sesuatu”. Maka berkatalah orang dusun itu : “Wahai Rasulullah, engkau tidak mendapati orang ini kecuali orang-orang Quraisy atau or­ang-orang Anshar. Sesungguhnya mereka itu pemilik tanaman. Adapun kami bukanlah pemilik tanaman”. Maka Rasulullah saw. tertawa. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).

——————————————————————————–

TAKUT DAN KHAWATIR TERHADAP ALLAH TERMASUK SEBAB DIAMPUNINYA DOSA

——————————————————————————–

Dari Rib’i bin Hirasy berkata : “Uqbah bin ‘Amr berkata kepada Hudzaifah : “Tidakkah kamu bercerita kepada kami sesuatu yang kamu dengar dari Rasulullah saw. ?” Ia menjawab : “Sesungguhnya sava mendengar beliau bersabda : “Sesungguhnya apabila Dajjal keluar, maka ia membawa air dan api”. Adapun sesuatu yang dipandang oleh manusia bahwa sesuatu itu api maka sesungguhnya sesuatu itu air dingin, dan sesuatu vang dipandang oleh manusia bahwa sesuatu itu air maka sesungguhnva sesuatu itu api yang membakar. Barangsiapa di antaramu yang menjumpai, maka hendaklah ia menempatkan diri pada rang dipandang bahwa sesuatu itu api, karena sesungguhnya dia adalah air dingin (sejuk)”. Hudzaifah berkata . “Saya mendengar beliau bersabda: “Sesungguhnya ada seorang laki-laki sebelum kamu didatangi oleh malaikat untuk mencabut ruhnya, lalu ditanyakan kepadanya : “Apakah kamu mengetahui kebaikanmu?”. Ia menjawab : “Saya tidak tahu”. Dikatakan kepadanya : “Lihatlah”. Ia berkata : “Saya tidak tahu sesuatu, hanya saja pernah berbai’at kepada manusia di dunia, dan aku membalas mereka lalu saya memberi tangguh kepada orang kaya dan membebaskan kepada orang yang kesulitan. “Lalu Allah memasukkannya ke sorga”. Ia berkata : “Saya mendengar beliau bersabda : “Sesungguhnya seorang laki­laki hampir meninggal. Ketika ia putus asa terhadap hidupnya, ia berpesan kepada keluarganya : “Apabila saya mati, maka kumpulkanlah kayu bakar yang banyak dan nyalakanlah api padanya, sehingga apabila api itu telah membakar daging dan tulangku, maka ambillah dan tumbuklah. Kemudian carilah hari yang berangin keras dan taburkanlah ke sungai”. Maka mereka melaksanakannya, lalu Allah menghimpunnya dan bertanya kepadanya: “Kenapakah kamu perbuat itu semua ?” Ia menjawab : “Karena takut kepadaMu” maka Allah mengampuninya. Uqbah bin Amr berkata : “Saya mendengar beliau menyabdakan hal itu dan orang tersebut tukang gali”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).

Dari ‘Uqbah bin Abdul Ghafir dari Abu Sa’id Al Khudri ra. dari Nabi saw. bahwasanya seorang yang sebelummu diberi kenikmatan harta oleh Allah. Ketika ia akan meninggal ia berkata kepada anak-anaknya : “Aku ini ayah macam apa bagimu ?”. Mereka menjawab : “Ayah yang terbaik”. Ia berkata : “Sesungguhnya saya tidak pernah berbuat baik, apabila aku meninggal maka bakarlah sava, kemudian hancur luluhkan dan taburkanlah pada hari yang berangin kencang”. Maka mereka melakukannya. Lalu Allah Azza wa jalla menghimpunnya dan berfirman : “Apakah yang membebani kamu ?” Ia menjawab : “Takut kepadaMu”. Maka Allah memberikan rahmatNya”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).

Dari Rib’i bin Hirasy berkata : “Uqbah bin Amr A1 Anshari berkata kepada Hudzaifah : “Tidakkah kamu bercerita kepada kami akan sesuatu yang kamu dengar dari Nabi saw. ?” Ia menjawab : “Saya mendengar beliau bersabda : “Sesungguhnya seseorang yang hampir mati, ketika ia putus asa dari hidup ia berpesan kepada keluarganya : “Apabila saya mati maka kumpulkanlah kayu yang banyak untukku. Kemudian nyalakan api, sehingga apabila api itu telah memakanku (membakarku) dan terus sampai ke tulangku maka ambillah dan tumbuklah dan tebarkanlah di dalam sungai pada hari yang panas atau hari yang berangin. Lalu Allah menghimpunnya dan berfirman : “Kenapakah kamu memperlakukan ini ?” Ia menjawab : “Karena takut kepadaMu”. Maka Dia mengampuninya”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw, beliau bersabda : “Ada seseorang yang keterlaluan terhadap dirinya. Ketika menjelang mati ia berkata kepada anak-anaknya : “Jika saya mati bakarlah saya, remukkanlah saya kemudian taburkanlah saya di angin. Demi Allah jika Tuhanku mampu terhadapku niscaya Dia menyiksaku dengan siksaan yang tidak ditimpakan kepada orang lain”. Ketika ia meninggal, hal itu dilaksanakan terhadapnya. Tiba-tiba ia dapat berdiri (setelah dihidupkan lagi) lalu Allah berfirman : “Apakah yang mendorongmu untuk berbuat demikian itu ?” Ia menjawab : “Wahai Tuhanku, yang mendorong adalah ketakutanku kepadaMu”. Lalu Allah mengampuninya”. Selain Abu Hurairah berkata : “Takut kepadaMu wahai Tuhan-ku” (Hadits di takhrij oleh Bukhari).

Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda : “Seorang laki-laki yang tidak pernah berbuat kebaikan berkata : “Apabila ia meninggal maka bakarlah ia dan tebarkanlah separohnya di lautan, maka demi Allah jika Allah mampu atasnya niscaya Dia menyiksanya yang tidak pernah ditimpakan kepada seseorangpun di dunia. Maka Allah memerintahkan kepada lautan lalu mengumpulkan apa yang ada didalamnya, dan memerintahkan daratan lalu mengumpulkannya. Kemudian Allah berfirman : “Kenapakah kamu berbuat (demikian) ?”. Ia menjawab : “Karena takut kepadaMu sedang Kamu lebih mengetahui” maka Dia mengampuninya”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).

Dari Abu Said ra. dari Nabi saw. bahwasanya belaiu menuturkan seorang laki-laki yang telah lampau atau or­ang yang sebelummu mengatakan suatu perkataan yakni ia diberi anak dan harta benda oleh Allah. Ketika-mati hampir tiba, ia berkata kepada anak-anaknya : “Ayah macam apa saya ini bagimu ?”. Mereka menjawab : “Sebaik­baik ayah”. Ia-berkata : “Sesungguhnya ia tidak menyimpan atau menanam kebaikan di sisi Allah. Jika Kuasa atasnya niscaya Dia menyiksanya. Maka perhatikanlah.

Jika saya mati maka bakarlah saya, sehingga bila saya telah menjadi arang (abu) lumatkanlah saya, atau ia berkata : “Hancurkanlah saya. Jika ada hari yang berangin ribut, taburkanlah saya- padanya”. Nabi saw. bersabda : “Ia mengambil perjanjian mereka atas yang demikian itu. Demi Tuhanku, mereka melaksanakannya kemudian menaburkan pada hari yang berangin ribut”.

Allah Azza wa Jalla berfirman : “Jadilah” tiba-tiba ia menjadi seorang yang berdiri, lalu Allah berfirman : “Hai hambaKu apakah yang mendorongmu untuk melakukan apa vang telah kamu lakukan itu ?”. Ia menjawab : Takut kepadaMu atau untuk berpisah dari padaMu”. Beliau bersabda : “Ketika Tuhan bertemu dengannya, Dia memberikan rahmat”. Beliau bersabda pada lain kali : “Dia tidak menjumpainya selain dengan rahmat”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw., beliau bersabda : “Seorang laki-laki berlebih-lebihan terhadap dirinya. Ketika hampir meninggal, ia pesan kepada anak-anaknya, dengan berkata : “Jika saya mati maka bakarlah saya kemudian lumatkanlah. Kemudian taburkanlah saya di lautan. Demi Allah jika Tuhan mampu atasKu niscaya Dia menyiksaku dengan siksaan yang belum pernah ditimpakan pada seseorangpun”. Mereka mengerjakannya. Allah berfirman kepada bumi : “Tunaikanlah apa yang kamu ambil”. Tiba­tiba ia berdiri (hidup lagi = pen). Allah berfirman kepadanya : “Apakah yang mendorongmu berbuat (berpesan) seperti itu ?” Ia menjawab : “Takut kepadaMu wahai Tuhanku” atau “ketakutan kepadaMu”. Maka Allah mengampuninya karena (alasan) itu. (Hadits ditakhrij oleh Muslim).

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda : Seseorang berlebih-lebihan terhadap dirinya, sampai ketika mati hampir datang kepadanya, ia berkata kepada keluarganya : “Apabila saya telah mati maka bakarlah saya kemudian taburkanlah saya di angin di lautan. Demi Allah jika Allah kuasa atas saya niscaya Dia menyiksa saya dengan siksaan yang belum pernah untuk menyiksa makhlukNya seorangpun”. Beliau bersabda : “Maka keluarganya melaksanakannya. Allah Azza wa Jalla berfirman kepada segala sesuatu yang telah memungutnya barang sedikit : “Tunaikanlah apa yang telah kamu pungut”. Tiba-tiba dia berdiri (hidup lagi = Pen). Allah Azza wa Jalla berfirman : “Apakah yang mendorong berbuat (berpesan) itu ?” Ia menjawab : “Takut kepadaMu”. Maka Allah mengampuni-Nya. (Hadits ditakhrij oleh An Nasa’i).

Dari Abu Hurairah ra. dari Rasulullah saw, beliau bersabda : “Ketika kematiannya hampir tiba ia berpesan kepada anak­anaknya dengan berkata : “Jika saya telah mati maka bakarlah saya kemudian lumatkanlah saya dan tebarkanlah saya di angin di lautan. Demi Allah jika Tuhanku mampu atasku niscaya Dia menyiksa saya dengan siksaan yang tidak pernah untuk menyiksa seseorangpun”. Beliau bersabda : “Mereka melaksanakannya, Allah berfirman kepada bumi : “Tunaikanlah apa yang telah kamu pungut”. Tiba-tiba ia berdiri, Allah berfirman kepadanya : “Apakah yang mendorongmu untuk melakukan hal itu ?”. Ia menjawab. “Takut kepadaMu atau khawatir kepadaMu wahai Tuhanku”. Maka Allah mengampuninya. (Haditsd ditakhrij oleh Ibnu Majah).

——————————————————————————–

TIGA ORANG YANG DICINTAI OLEH ALLAH AZZA WA JALLA

——————————————————————————–

Dari Abu Dzar ra. dari Nabi saw, beliau bersabda : Tiga orang yang dicintai oleh Allah Maha Muliia dan Maha Besar, yaitu : Seseorang yang mendatangi suatu kaum, ia minta kepada mereka dengan nama Allah, dan ia tidak minta karena kekerabatan antara dia dan mereka, namun mereka mencegahnya, lalu ada seseorang yang mengiringinya; dia memberinya secara rahasia, yang hanya diketahui oleh Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Besar dan orang yang diberinya. Dan suatu kaum vang berjalan di malam hari sehingga ketika ia lebih senang tidur dari pada apa yang sedang mereka jalankan, mereka singgah dan meletakkan kepala mereka, lalu di antara mereka ada seorang yang bangun untuk merendahkan diri kepada-Ku dan membaca ayat-ayatKu. Dan seseorang yang berada di daslam pasukan, mereka bertemu musuh lalu mereka berbalik ke belakang namun ia maju lagi sehingga ia terbunuh atau mendapat kemenangan”. (Hadits ditakhrij oleh An Nasa’i).

——————————————————————————–

TURUNNYA SURAT AL KAUTSAR

——————————————————————————–

Dari Anas bin Malik ra., ia berkata : Pada suatu hari di hadapan kami (ia maksudkan Nabi Muhammad saw.) ketika beliau tidur sejenak kemudian beliau mengangkat kepala serava tersenyum, lalu kami berkata kepada beliau : “Apakah yang menjadikan engkau tertawa wahai Rasulullah ?” Beliau bersabda : “Tadi telah turun kepadaku sebuah surat yaitu : “Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni’mat yang banyak. Maka shalatlah karena Tuhanmu dan sembelihlah binatang korban. Sesungguhnya orang-orang yang membencimu dialah orang-orang yang terputus”. Kemudian Beliau bersabda : “Tahukah kamu, apakah Kautsar (ni’mat yang banyak) itu ?”. Kami menjawab : “Allah dan Rasulnya lebih mengetahui”. Beliau bersabda : “Kautsar adalah sungai dan bengawan Tuhanku di syurga. Tempatnya (tempat minumnya) lebih banyak dari pada jumlah bintang. Bengawan itu didatangi umatku, lalu di antara mereka ada yang ditarik, maka aku berkata : “Wahai Tuhanku, sesungguhnya dia adalah umatku”. Dia berfirman : “Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang terjadi sesudahmu”. (Hadits ditakhrij oleh An Nasa’i).

——————————————————————————–

TABLIGH

——————————————————————————–

Dari ‘Adi bin Hatim ra., ia berkata : “Ketika saya ada disisi Nabi saw. tiba-tiba datanglah seorang laki-laki kepada beliau, dia mengadukan kepada beliau tentang kemiskinan, kemudian datanglah kepada beliau orang lain yang mengadukan kepada beliau tentang penyamun. Lalu Rasulullah saw, bersabda : “Wahai Adi, apakah kamu melihat Hirah ?” Saya menjawab : “Belum melihatnya, saya telah diberi tahu tentang Hirah itu”. Rasulullah saw. bersabda : “Jika kamu hidup lama (panjang umur) niscaya kamu akan melihat sekedup berangkat dari Hirah sehingga thawaf di Ka’bah, sekedup itu tidak takut pada seseorang kecuali kepada Allah”. Saya berkata tentang sesuatu antara saya dan diri saya (berguman) : “Dimanakah penyamun yang membuat keonaran di suatu negara ?” (Nabi saw. bersabda) : “Jika kamu hidup lama (panjang umur), kamu akan menaklukkan perbendaharaan Kisra”. Saya bertanya : “Kisra bin Hurmuz ?” Nabi saw. bersabda : “Kisra’ bin Hurmuz, dan jika kamu hidup lama (panjang umur), niscaya kamu akan melihat seorang laki-laki mengeluarkan emas atau perak sepenuh telapak tangannya, mencari or­ang yang mau menerimanya namun ia tidak mendapat seorangpun yang mau menerimanya. Dan seseorang diantaramu akan bertemu Allah pada hari pertemuan itu, yang antara dia dengan Tuhan tidak ada penterjemah yang menterjemahkan. Maka sungguh Dia (Tuhan) berfirman kepadanya: “Tidakkah aku mengutus kepadamu seorang Rasul yang menyampaikan kepadamu (kerisalahan) ?” Ia menjawab : “Ya”. Lalu ia melihat sebelah kanannya, ia tidak melihat kecuali Jahannam dan melihat kesebelah kirinya, ia tidak melihat kecuali Jahannam. ‘Adi berkata : “Saya mendengar Nabi saw. bersabda : “Jagalah dari neraka walaupun dengan separoh kurma, jika kamu tidak mendapati separoh kurma maka dengan kata-kata yang baik. ‘Adi ra. berkata : Lalu saya melihat sekedup yang berangkat dari Hirah sehingga thawaf di Ka’bah sekedup itu tidak takut kecuali kepada Allah. Dan saya termasuk orang-orang yang menaklukkan perbendaharaan Kisra bin Hurmuz dan sungguh jika kalian hidup lama (panjang umur), niscaya kalian akan menyaksikan apa yang telah disabdakan oleh Nabi, ayah Qasim saw. yaitu : “Orang mengeluarkan sepenuh telapak tangannya”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Orang-orang bertanya : “Wahai Rasulullah, apakah kami melihat Tuhan kami dihari Qiamat?”. Beliau bersabda : “Apakah kamu saling memadharatkan dalam melihat matahari di siang hari yang tidak berawan ?” Mereka menjawab : “Tidak” Rasulullah saw. bersabda : “Demi Dzat yang jiwaku ditanganNya, tidaklah kamu saling memadharatkan dalam melihat Tuhanmu, kecuali sebagaimana kamu saling memadharatkan dalam melihat salah satu dari keduanya (matahari atau bulan purnama)”. Beliau bersabda : “Maka Tuhan menemui hamba”. Lalu Tuhan berfirman : “Wahai Fulan, tidakkah aku memuliakanmu ?, tidakkah Aku menjadikanmu sebagai tuan ? tidakkah Aku menjodohkanmu ?, tidakkah Aku menundukkan bagimu kuda dan unta ? Aku biarkan kamu sebagai pemimpin dan mendapat seperempat (rampasan)”. Maka ia menjawab : “Ya” Rasulullah saw bersabda : “Maka Tuhan berfirman : “Apakah kamu menduga bahwa kamu akan bertemu Aku ?” Dia menjawab : “Tidak”. Lalu Tuhan berfirman : “Sesungguhnya Aku melupakanmu, sebagaimana kamu melupakan Ku”. Kemudian Tuhan menemui orang yang kedua, lalu Dia berfirman : “Wahai Pulan, tidakkah Aku memuliakanmu ?, tidakkah Aku menjadikanmu sebagai tuan ?, tidakkah aku menjodohkanmu ?, tidakkah aku menundukkan kuda dan unta ? Dan Aku biarkan kamu sebagai pemimpin dan mendapat seperempat (rampasan) ?”. Maka Dia menjawab : “Ya, wahai Tuhan”. Lalu Tuhan berfirman : “Apakah kamu menduga bahwa kamu akan bertemu dengan Ku ?”. Dia menjawab : “Tidak”. Maka Tuhan berfirman: “Maka sesungguhnya Aku melupakanmu, sebagaimana kamu melupakanKu”. Kemudian Tuhan bertemu dengan orang yang ketiga, maka Tuhan berfirman kepadanya seperti itu juga. Lalu dia menjawab : “Wahai Tuhan, saya beriman kepada Mu, kepada Kitab Mu dan kepada Rasul-rasul Mu, saya shalat, berpuasa dan bersedekah”, dan la memuji dengan kebaikan yang di bawah kemampuannya. Maka Tuhan berfirman: “Jika demikian, disini”. Rasulullah saw. bersabda : “Kemudian dikatakan kepadanya : “Sekarang Kami bangkitkan saksi-saksi Kami atasku”. Dia berfikir dalam hatinya : “Siapakah orang yang menjadi saksi atasku ?” Lalu mulutnya dikunci,dan dikatakan pada pahanya, daging dan tulangnya : “Berkatalah !”, maka paha, daging dan tulangnya mengatakan amalnya. Yang demikian itu agar dapat membuat alasan bagi dirinya, itulah orang munafik dan itulah orang yang dimurkai Allah”. (Hadits ditakhrij oleh Muslim).

Dari Anas bin Malik ra., la berkata : “Kami ada di sisi Rasulullah saw beliau tertawa, lalu bersabda : “Tahukah kalian sebab apakah aku tertawa ?”. Kami menjawab : “Al­lah dan Rasul Nya lebih tahu”. Rasulullah saw. bersabda : “Termasuk percakapan hamba pada Tuhan Nya Yang Maha Mulia lagi Maha Besar berkata : “Wahai Tuhan, tidakkah Engkau menyelamatkan aku dari kezhaliman ?” Rasulullah saw. bersabda : “Tuhan bertirman : “Ya” Rasulullah saw. bersabda : “Ia berkata : “Sesungguhnya saya tidak melewatkan diriku, kecuali ada saksi dariku”. Rasulullah saw. bersabda : “Maka Tuhan berfirman : “Cukuplah dirimu sebagai saksi pada hari ini, juga malaikat Kiraman Katibin sebagai saksi”. Rasulullah saw. bersabda : “Kemudian mulutnya dikunci, dan dikatakan kepada anggota-anggota badannya : “Berkatalah”. Rasulullah saw. bersabda : “Maka anggota-anggota badannya mengatakan amalnya”. Rasulullah saw. bersabda : Kemudian antara dia dengan perkataan itu diputuskan. Rasulullah saw bersabda : “Or­ang itu berkata : “Jauhlah dan binasalah kamu, untukmulah saya membela”. (Hadits ditakhrij oleh Turmidzi).

Dan Abu Hurairah dan Abu Said ra. berkata : Rasulullah saw bersabda : “Pada hari Qiamat hamba didatangkan, kemudian Allah berfirman kepadanya : “Tidakkah Aku jadikan bagimu pendengaran dan penglihatan, harta dan anak-anak, Aku tundukkan bagimu binatang ternak dan tumbuh-tumbuhan, dan Aku membiarkan kamu menjadi pemimpin dan mendapat seperempat (rampasan) ? Tidakkah kamu menyangka bahwa kamu akan ketemu dengan Ku pada hari ini ?” Rasulullah saw. bersabda : “Lalu ia menjawab : “Ya”. Maka Tuhan berfirman kepadanya: “Pada hari ini Aku melupakanmu, sebagaimana kamu melupakan Ku”.

Dan Anas ra. dari Nabi saw. bersabda : “Pada hari Qiamat anak Adam dibawa, seolah-olah dia anak kambing lalu dihadapkan Allah. Kemudian Allah berfirman kepadanya : “Aku telah memberimu, menganugerahkan kepadamu dan Aku telah memberikan ni’mat atasmu, apakah yang telah kamu kerjakan ?”. Lalu ia menjawab : “Wahai Tuhan, saya telah mengumpulkan dan membuahkannya, kemudian sebagian besarnya telah saya tinggalkan, maka kembalikanlah saya, lalu saya kembalikan lagi kepada Mu”. Apabila seorang hamba tidak mengamalkan kebaikan, maka ia diteruskan ke neraka”. (HR. Turmudzi).

HIMPUNAN
HADIST QUDSI
Penyusun: Achmad Sunarto
Penata Letak: Tim Setia Kawan
Disain sampul: Setia Kawan Grafis
Cetakan: I-2000
Penerbit: Setia Kawan

http://www.pakdenono.com

komentarku: hadist2 ini belum tentu sahih.., lagi pula tidak disebutkan derajat hadisnya..

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 296 pengikut lainnya.