• Blog Stats

    • 38,106,417 hits
  • pacaran adalah perbuatan haram, maka janganlah berpacaran. Dan jangan mau jika diajak pacaran. Akan tetapi tempuhlah jalan yang halal jika memang benar-benar cinta dan ingin menikah. Segeralah menikah dan jangan berpacaran. ================================== dan janganlah kamu mendekati zina. sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk. [QS Al Isra':32] ==================================== JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA ====================================== Asy-Sya’bi berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah)
  • Artikel Terbaru

  • arsip artikel

  • wasiat untuk seluruh umat manusia

    kasihilah semua makhluk yang ada di muka bumi, niscaya Tuhan yang ada di atas langit akan mengasihimu.. =============================================== Cara mengasihi orang kafir diantaranya adalah dengan mengajak mereka masuk islam agar mereka selamat dari api neraka =============================================== wahai manusia, islamlah agar kalian selamat.... ======================================================
  • wasiat untuk seluruh umat islam

    ====================================== “Janganlah kamu saling dengki, saling membenci, saling mengintip rahasia, saling bersaing, saling mencari keburukan, saling menawar lebih tinggi untuk menipu pembeli sehingga menawar tinggi, saling memutuskan hubungan, saling bermusuhan, janganlah sebagian kalian menjual atas jualan yang lain. Jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang diperintahkan Allah. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh menganiaya, tidak boleh menelantarkannya dan tidak boleh menghinanya. ============================================= Taqwa ada di sini, taqwa ada di sini, taqwa ada di sini kata Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam sambil menunjuk dadanya. ================================================= Cukuplah merupakan kejelekan seseorang apabila menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain adalah haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. Hati-hatilah bersangka buruk, karena sesungguhnya bersangka buruk adalah omongan yang paling dusta. ==================================================== Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk kamu dan hartamu, tetapi ia melihat hati dan perbuatanmu.” (riwayat Muslim dan Bukhari). ==========================================
  • BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR

    BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- -------------------------------------------------------------------------------------------- Orang yang mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi janda dan orang miskin ibarat berjihad di jalan Allah dan ibarat orang shalat malam (HR. Bukhari) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain. (HR. Ahmad) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersodaqoh dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana. (HR. Ath-Thabrani) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sodaqoh. (HR. Al-Baihaqi) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Tiap-tiap amalan makruf (kebajikan) adalah sodaqoh. Sesungguhnya di antara amalan makruf ialah berjumpa kawan dengan wajah ceria (senyum) dan mengurangi isi embermu untuk diisikan ke mangkuk kawanmu. (HR. Ahmad) ------------------------------------------------------------------------------------------------------------
  • berbuat baiklah pada semua binatang, termasuk kepada anjing

    Kita tidak diperbolehkan menyiksa binatang dengan cara apa pun, atau membuatnya kelaparan, memukulinya, membebaninya dengan sesuatu yang ia tidak mampu, menyiksa atau membakarnnya. --------------------------------------------------- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Seorang wanita masuk neraka karena seekor kucing yang ia kurung hingga mati. Maka dari itu ia masuk neraka gara-gara kucing tersebut disebabkan dia tidak memberinya makan dan tidak pula memberinya minum di saat mengurung nya, dan dia tidak membiarkannya (melepaskannya) supaya memakan serangga di bumi.” (HR. al-Bukhari) ------------------------------------------------------- Dan ketika beliau melewati sarang semut yang telah dibakar, beliau bersabda, “Sesungguhnya tidak ada yang berhak menyiksa dengan api selain Rabb (Tuhan) pemilik api.” (HR. Abu Dawud, hadits shahih) ---------------------------------------------- “Barangsiapa yang tidak berbelas kasih niscaya tidak akan dibelaskasihi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) ------------------------------------------------- “Kasihanilah siapa saja yang ada di bumi ini, niscaya kalian akan dikasihani oleh yang ada di langit.” (HR. at-Tirmidzi) -------------------------------------------------- Dibolehkan membunuh hewan-hewan yang membahayakan atau mengganggu seperti anjing buas, serigala, ular, kalajengking, tikus dan lain-lain karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Ada lima macam hewan fasik (buruk) yang boleh dibunuh di waktu halal (tidak ihram) dan di waktu ihram, yaitu ular, burung gagak yang putih punggung dan perutnya, tikus, anjing buas, dan rajawali.” (HR. Muslim). Juga terdapat hadits shahih yang membolehkan untuk membunuh kalajengking. ================================================
  • JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA

    ====================================== ‘Amr bin Syarahil Asy-Sya’bi rahimahullahu berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah, 2/636. Dihasankan oleh Al-Albani dalam At-Tahrim, hal. 148) ----------------------------------------------------------------------------- Ibnu Abdil Barr rahimahullahu berkata: “Termasuk hasil usaha yang disepakati keharamannya adalah riba, upah para pelacur, sogokan (suap), mengambil upah atas meratapi (mayit), nyanyian, perdukunan, mengaku mengetahui perkara gaib dan berita langit, hasil seruling dan segala permainan batil.” (Al-Kafi hal. 191) ---------------------------------------------------------------------- Ath-Thabari rahimahullahu berkata: “Telah sepakat para ulama di berbagai negeri tentang dibenci dan terlarangnya nyanyian.” (Tafsir Al-Qurthubi, 14/56) ------------------------------------------------------------------- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “Mazhab empat imam menyatakan bahwa alat-alat musik semuanya haram.” Lalu beliau menyebutkan hadits riwayat Al-Bukhari rahimahullahu . (Majmu’ Fatawa, 11/576) --------------------------------------------------------------- ------------------------------------------
  • wasiat bagi para pemuda

    ====================================== ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Barangsiapa di antara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya mereka adalah ummat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, dan paling lurus petunjuknya, serta paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya, karena mereka berada di jalan yang lurus.” [Dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Baar dalam kitabnya Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih II/947 no. 1810, tahqiq Abul Asybal Samir az-Zuhairy] ======================================
  • wasiat Imam al-Auza’i

    ====================================== Imam al-Auza’i rahimahullah (wafat th. 157 H) mengatakan: “Bersabarlah dirimu di atas Sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para Shahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan Salafush Shalih, karena akan mencukupi kamu apa saja yang mencukupi mereka.” [Syarh Ushul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah 1/174 no. 315] --------------------------------------------------------------- Beliau rahimahullah juga berkata: “Hendaklah kamu berpegang kepada atsar Salafush Shalih meskipun orang-orang menolaknya dan jauhkanlah diri kamu dari pendapat orang meskipun ia hiasi pendapatnya dengan perkataannya yang indah.” [Imam al-Aajury dalam as-Syari’ah I/445 no. 127, di-shahih-kan oleh al-Albany dalam Mukhtashar al-‘Uluw lil Imam adz-Dzahaby hal. 138, Siyar A’laam an-Nubalaa’ VII/120] =================================================
  • Mengutip perkataan Syaikh Bin Baz rahimahullaahu

    “Zaman ini adalah zaman kelembutan, kesabaran dan hikmah, bukanlah zaman kekerasan (kebengisan). Mayoritas manusia saat ini dalam keadaan jahil (bodoh), lalai dan lebih mementingkan duniawiyah. Maka haruslah sabar dan lemah lembut sampai dakwah ini tersampaikan dan sampai mereka mengetahuinya. Kami mohon petunjuk kepada Alloh untuk semuanya.” (Majmu’ Fatawa Samahatul Imam Ibnu Bazz (Juz VIII, hal 376) dan (Juz X, hal. 91) =================================================
  • jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara

    ====================================== Segala puji hanyalah milik Alloh yang telah mempertautkan hati kaum mukminin dan menganjurkan mereka supaya bersatu padu dan saling berhimpun serta memperingatkan dari perpecahan dan perselisihan. -------------------------------------------------------- Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq untuk disembah melainkan hanyalah Alloh semata yang tidak memiliki sekutu. Dialah yang mensyariatkan dan memudahkan, dan Dia terhadap kaum mukminin adalah sangat penyantun. ------------------------------------------------------ Saya juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang diperintahkan dengan kemudahan dan berita gembira. ----------------------------------------------------- Beliau bersabda : Permudahlah dan janganlah kamu persulit, berikanlah kabar gembira dan janganlah membuat orang lari (dari kebenaran). ------------------------------------------------------ Permisalan kaum mukminin satu dengan lainnya dalam hal kasih sayang, tolong menolong dan kecintaan, bagaikan tubuh yang satu, jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan merasa demam atau terjaga” --------------------------------------------------- Tidak ragu lagi, bahwa kewajiban Ahlus Sunnah di setiap zaman dan tempat adalah saling bersatu dan menyayangi di antara mereka serta saling bekerja sama di dalam kebajikan dan ketakwaan… ==================================================---------------
  • KHUTBATUL HAJAH

    ====================================== Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, dan meminta ampun kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami, dan dari keburukan-keburukan perbuatan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah saja, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. ================================================ “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” ================================================== “Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan darinya Allah menciptakan isterinya; dan dari keduanya Allah mengembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silatur rahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” ========================================================= “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mena’ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. ============================================================ Amma ba’du; Maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad , dan seburuk-buruk perkara dalam agama adalah yang di ada-adakan, setiap yang diada-adakan (dalam urusan agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan. (HR. Muslim, an-Nasa’i dan selain keduanya) ==================================================
  • Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka (al baqarah ayat 120)

  • SALAFY & WAHABI BUKANLAH ALIRAN SESAT

    Al-Malik Abdul Aziz berkata : “Aku adalah penyeru kepada aqidah Salafush Shalih, dan aqidah Salafush Shalih adalah berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang datang dari Khulafaur Rasyidin” [Al-Wajiz Fi Siratil Malik Abdul Aziz hal.216] ------------------------------------------------------------------------------------- Beliau juga berkata : “Mereka menamakan kami Wahabiyyin, dan menamakan madzhab kami adalah madzhab wahabi yang dianggap sebagai madzhab yang baru. Ini adalah kesalahan fatal, yang timbul dari propaganda-propaganda dusta yang disebarkan oleh musuh-musuh Islam. Kami bukanlah pemilik madzhab baru atau aqidah baru. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tidak pernah mendatangkan sesuatu yang baru, aqidah kami adalah aqidah Salafush Shalih yang datang di dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang ditempuh oleh Salafush Shalih. Kami menghormati imam empat, tidak ada perbedaan di sisi kami antara para imam : Malik, Syafi’i, Ahmad dan Abu Hanifah, semuanya terhormat dalam pandangan kami” [Al-Wajiz Fi Siratil Malik Abdul Aziz, hal. 217] ---------------------------------------------------------
  • mengutip perkataan Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad hafizhahullaahu:

    “Telah terjadi di zaman ini, sibuknya sebagian ahlus sunnah dengan sebagian lainnya dengan tajrih (saling mencela) dan tahdzir, dan implikasi dari hal ini menyebabkan terjadinya perpecahan, perselisihan dan saling mengisolir. Padahal sepantasnya bahkan seharusnya bagi mereka untuk saling mencintai dan berkasih sayang terhadap sesama mereka, dan menyatukan barisan mereka di dalam menghadapi ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu yang menyelisihi ahlus sunnah wal jama’ah. ---------------------------------------------------- “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- agar menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dari perkara-perkara yang tidak bermanfaat bagi mereka, sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “diantara kebaikan seorang muslim adalah meninggalkan hal-hal yang tidak berfaidah baginya.” Hadits hasan diriwayatkan oleh Turmudzi.” ------------------------------------------------------ “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- untuk bersikap pertengahan dan moderat, diantara sikap ghuluw (ekstrim) dan meremehkan, dan diantara sikap ifrath (berlebih-lebihan) dan tafrith (menggampangkan). Sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “Jauhilah oleh kalian sikap ghuluw di dalam agama, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa dikarenakan sikap ghuluw mereka di dalam agama.” Ini hadits shahih, dikeluarkan oleh an-Nasa’i dan selainnya.” ---------------------------------------------------- “Dan aku nasehatkan supaya mereka berhati-hati dari sikap zhalim, dikarenakan hadits Qudsi, “Wahai hamba-Ku, sesunguhnya Aku haramkan kezhaliman atas diri-Ku, maka aku jadikan pula haram atas diri kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi” diriwayatkan oleh Muslim, dan hadits Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “takutlah kalian dari kezhaliman, karena sesungguhnya kezhaliman itu adalah kegelapan di hari kiamat” diriwayatkan oleh Muslim. ------------------------------------------------------ Aku memohon kepada Allah Azza wa Jalla untuk menunjuki seluruh ummat kepada apa yang diridhai-Nya, agar mereka mendalami agama Islam (tafaqquh fid din) dan menetapi kebenaran, serta agar mereka menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dan menjauhkan dari apa-apa yang tidak bermanfaat. Sesungguhnya Ia berkuasa dan berkemampuan atasnya. Semoga Sholawat dan Salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya dan para sahabatnya. (selesai kutipan) ===========================================
  • mengutip perkataan Imam Albani rahimahullaahu

    “Wajib atas kita untuk berlemah lembut di dalam dakwah kita terhadap orang-orang yang menyelisihi kita, dan jadikan selalu firman Alloh Ta’ala berikut (sebagai pegangan) dan untuk selamanya : “Serulah mereka ke jalan Rabb-mu dengan hikmah dan nasehat yang baik, serta berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.” Dan mereka yang pertama lebih berhak untuk kita terapkan hikmah ini adalah mereka yang paling memusuhi kita di dalam dasar (mabda’) dan aqidah kita, hingga kita tidak menggabungkan antara beratnya dakwah yang haq yang Alloh memperteguh kita dengannya dengan beratnya cara (ushlub) kita berdakwah kepada Alloh Azza wa Jalla” ==================================================
  • Diriwayatkan bahwa Hasan Al-banna berkata: “Kami menginginkan terbentuknya sosok individu muslim, rumah tangga Islami, bangsa yang Islami, pemerintahan yang Islami, negara yang dipimpin oleh negara-negara Islam, menyatukan perpecahan kaum muslimin dan negara mereka yang terampas, kemudian membawa bendera jihad dan da’wah kepada Allah sehingga dunia mendapatkan ketentraman dengan ajaran-ajaran Islam.” ==================================================
  • warning

    dalam blog ini mungkin terdapat hadits dhoif, riwayat yang tidak valid, salah tulis, kutipan yg tidak sesuai syariat islam, dan berbagai kesalahan2 lain, dan belum sempat di sensor, jadi mohon maaf sebesar-besarnya

SYIAH ADALAH KELOMPOK YANG SESAT DAN MENYESATKAN (maka waspadalah wahai umat islam)

SYIAH ADALAH KELOMPOK YANG SESAT DAN MENYESATKAN (maka waspadalah wahai umat islam)

Sesungguhnya SYIAH adalah kelompok yang sesat dan menyesatkan. Ajaran-ajaran syiah penuh dengan virus kesesatan, kepalsuan, kedustaan, tipu muslihat, fitnah, dan kerancuan. Cara-cara SYIAH menyebarkan ajaran sesatnya yaitu dengan memutarbalikkan fakta, memanipulasi sejarah, memakai riwayat-riwayat palsu, kisah-kisah dusta, berita-berita bohong, dan logika yang salah kaprah.

SYIAH terdiri dari berbagai kelompok/sekte, sehingga tingkat kesesatan mereka juga berbeda-beda. ada yang sampai derajat kafir murtad dan ada yang lebih ringan kesesatannya.

SYIAH yang dianut mayoritas rakyat negara Iran saat ini adalah syiah imamiyah itsna atsariyah (12 imam) alias syiah ja’fariyah alias syiah rafidhah. Aliran ini termasuk aliran syiah yang paling sesat, mereka mencaci sahabat-sahabat nabi seperti abu bakar, Umar, Utsman, dll. Sebagian ulama menganggap kelompok syiah ja’fariyah ini telah kafir murtad.

Sedangkan yang dianut sebagian rakyat negara Yaman adalah aliran SYIAH ZAIDIYAH, mereka masih menghormati sahabat-sahabat nabi seperti Abu Bakar dan Umar. Akan tetapi akhir-akhir ini nampaknya mereka semakin terpengaruh doktrin-doktrin syiah ja’fariyah yang sangat menyesatkan, sehingga mereka semakin jauh dari kebenaran.

MUI telah berfatwa bahwa SYIAH adalah sesat pada tahun 1984.

Akhir-akhir ini banyak blog/situs/website sesat yang membela ajaran syiah dan mempropagandakan dogma-dogma syiah. Situs-situs sampah yang penuh kebobrokan itu berusaha menipu umat islam agar terpengaruh ajaran syiah. Jika anda-menemui situs-situs itu sebaiknya tidak usah dibaca, tapi langsung ditutup saja, agar anda tidak terjerumus kedalam kesesatan dan tidak mengalami cuci otak tanpa anda sadari. Seperti kata pepatah: sesuatu yang tidak berharga maka tidak layak dihargai. Jadi situs-situs syiah itu tidak perlu dihargai, bahkan harus dihinakan.

Tokoh yang berbau SYIAH di negeri ini misalnya Dr Jalaludin Rahmat. Penerbit buku yang berbau syiah misalnya MIZAN.

Mungkin ada yang kagum dengan keberanian IRAN melawan Israel dan Amerika, maka ketahuilah bahwa semua itu hanya penipuan dan propaganda.

Dan musuhnya musuh kita pun belum tentu kawan kita. Meski iran memusuhi israel tapi Iran juga musuh kita. Contohnya adalah Jepang pada perang dunia ke-2. Saat itu indonesia dijajah belanda, Jepang memusuhi belanda, bahkan menggempur Belanda di Indonesia. Tapi apakah jepang adalah kawan sejati kita?? ternyata jepang malah gantian menjajah indonesia, bahkan lebih kejam dari belanda (1942-1945).

Jika iran memang memusuhi israel, seharusnya iran menyerang israel dengan tentaranya, dan membebaskan palestina, sebagaimana yang dilakukan solahudin al ayubi 800 tahun yang lalu. Bukankah iran punya 500.000 tentara, dan ribuan tank/pesawat tempur? atau minimal iran harus membuka jalan agar rakyat gaza dan tepi barat bisa berhijrah ke Iran, dan memberi lahan untuk tempat tinggal rakyat palestina yang ingin pindah ke iran.

Seandainya iran mau menyerahkan 10% senjatanya dan 10% pendapatan negaranya kepada HAMAS, tentu kekuatan militer HAMAS akan meningkat 1000 kali lipat. Kelemahan HAMAS saat ini adalah tidak memiliki persenjataan yang memadai.

Karena 10% senjata iran kira-kira adalah 200.000 senapan, 20.000 pistol, 200 tank, 50 pesawat tempur, 1000 truk militer. Sedangkan 10 % pendapatan negara iran pertahun kira-kira 100 trilyun.

Patut diketahui bahwa saat ini tidak boleh ada masjid beraliran ahlus sunnah wal jamaah di Teheran (ibukota iran). Ini adalah bukti nyata kesesatan mereka.

Sesungguhnya iran/syiah adalah serigala berbulu domba, musang berbulu ayam, musuh dalam selimut, duri dalam daging, pagar makan tanaman, dan ibarat kanker dalam tubuh umat islam yang harus segera diberantas habis sampai ke akar-akarnya.

======================

situs-situs yang menjelaskan semua kesesatan syiah secara detail:

http://www.hakekat.com
http://www.syiahindonesia.com
http://www.haulasyiah.wordpress.com
http://www.gensyiah.com
http://www.nahimunkar.com

PASIEN TERAKHIR (penyakit akibat kawin kontrak alias nikah mut’ah ala syiah)

AKHIR PETUALANGAN SI PASIEN TERAKHIR

Pasien Terakhir
Untuk kedua kalinya wanita itu pergi ke dokter Hanung, seorang dokter spesialis kulit dan kelamin di kota Bandung. Sore itu ia datang sambil membawa hasil laboraturium seperti yang diperintahkan dokter dua hari sebelumnya. Sudah beberapa Minggu dia mengeluh merasa sakit pada waktu buang air kecil (drysuria) serta mengeluarkan cairan yang berlebihan dari vagina (vagina discharge).

Sore itu suasana di rumah dokter penuh dengan pasien. Seorang anak tampak menangis kesakitan karena luka dikakinya, kayaknya dia menderita Pioderma. Disebelahnya duduk seorang ibu yang sesekali menggaruk badannya karena gatal. Di ujung kursi tampak seorang remaja putri melamun, merenungkan akne vulgaris (jerawat) yang ia alami.

Ketika wanita itu datang ia mendapat nomor terakhir. Ditunggunya satu per satu pasien yang berobat sampai tiba gilirannya. Ketika gilirannya tiba, dengan mengucap salam dia memasuki kamar periksa dokter Hanung. Kamar periksa itu cukup luas dan rapi. Sebuah tempat tidur pasien dengan penutup warna putih. Sebuah meja dokter yang bersih. Dipojok ruang sebuah wastafel untuk mencuci tangan setelah memeriksa pasien serta kotak yang berisi obat-obatan.

Sejenak dokter Hanung menapat pasiennya. Tidakseperti biasa, pasiennya ini adalah seorang wanita berjilbab rapat. Tidak ada yang kelihatan kecuali sepasang mata yang menyinarkan wajah duka. Setelah wawancara sebentar (anamnese) dokter Hanung membuka amplop hasil laboratorium yang dibawa pasiennya. Dokter Hanung terkejut melihat hasil laboratorium. Rasanya ada hal yang mustahil. Ada rasa tidak percaya terhadap hal itu. Bagaimana mungkin orang berjilbab yang tentu saja menjaga kehormatannya terkena penyakit itu, penyakit yang hanya mengenai orang yang sering berganti-ganti pasangan sexual.

Dengan wajah tenang dokter Hanung melakukan anamsese lagi secara cermat.

 “Saudari masih kuliah?”
 “Masih Dok”
 “Semester berapa?”
 “Semester tujuh Dok”
 “Fakultasnya?”
 “Sospol”
 “Jurusan komunikasi massa ya?”
Kali ini ganti pasien terkahir itu yang kaget. Dia mengangkat muka dan menatap dokter Hanung dari balik cadarnya.

 “Kok dokter tahu?”
 “Aah,…….. tidak, hanya barang kali saja!”

Pembicaraan antara dokter Hanung dengan pasien terakhirnya itu akhirnya seakan-akan beralih dari masalah penyakit dan melebar kepada persoalan lain yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah penyakit itu.

 “Saudari memang penduduk Bandung ini atau dari luar kota?”

Pasien terkahirnya itu tampaknya mulai merasa tidak enak dengan pertanyaan dokter yang mulai menyimpang dari masalah-masalah medis itu. Dengan jengkel dia menjawab.

 “Ada apa sih Dok …. Kok tanya macam-macam?”
 “Aah enggak,… barangkali saja ada hubungannya dengan penyakit yang saudari derita!”

Pasien terkahir itu tampaknya semakin jengkel dengan pertanyaan dokter yang kesana-kemari itu. Dengan agak kesal ia menjawab:

 “Saya dari Pekalongan”
 “Kost-nya?”
 “Wisma Fathimah, jalan Alex Kawilarang 63”
 “Di kampus sering mengikuti kajian islam yaa”
 “Ya, … kadang-kadang Dok!”
 “Sering mengikuti kajian Bang Jalal?”

Sekali lagi pasien itu menatap dokter Hanung.

 “Bang Jalal siapa?”
Tanyanya dengan nada agak tinggi.

 “Tentu saja Jalaluddin Rahmat! Di Bandung siapa lagi Bang Jalal selain dia… kalau di Yogya ada Bang Jalal Muksin”
 “Ya,…. kadang-kadang saja saya ikut”
 “Di Pekalongan,… (sambil seperti mengingat-ingat) kenal juga dengan Ahmad Baraqba?”

Pasien terakhir itu tampak terkejut dengan pertanyaan yang terkahir itu, tetapi dia segera menjawab

 “Tidak! Siapa yang dokter maksudkan dengan nama itu dan apa hubungannya dengan penyakit saya?”

Pasien terakhir itu tampak semakin jengkel dengan pertanyaan-tanyaan dokter yang semakin tidak mengarah itu. Tetapi justru dokter Hanung manggut-manggut dengan keterkejutan pasien terakhirnya. Dia menduga bahwa penelitian penyakit pasiennya itu hampir selesai.

Akhirnya dengan suara yang penuh dengan tekanan dokter Hanung berkata,

 “Begini saudari, saya minta maaf atas pertanyaan-pertanyaan saya yang ngelantur tadi, sekarang tolong jawab pertanyaan saya dengan jujur demi untuk therapi penyakit yang saudari derita,…”

Sekarang ganti pasien terakhir itu yang mengangkat muka mendengar perkataan dokter Hanung. Dia seakan terbengong dengan pertanyaan apa yang akan di lontarkan oleh dokter yang memeriksanya kali ini.

 “Sebenarnya saya amat terkejut dengan penyakit yang saudari derita, rasanya tidak mungkin seorang ukhti mengidap penyakit seperti ini”
 “Sakit apa Dok?”.

Pasien terakhir itu memotong kalimat dokter Hanung yang belum selesai dengan amat penasaran.

 “Melihat keluhan yang anda rasakan serta hasil laboratorium semuanya menyokong diagnosis gonore, penyakit yang disebabkan hubungan sexual”.

Seperti disambar geledek perempuan berjilbab biru dan berhijab itu, pasien terakhir dokter Hanung sore itu berteriak,

 “Tidak mungkin!!!”

Dia lantas terduduk di kursi lemah seakan tak berdaya, mendengar keterangan dokter Hanung. Pandang matanya kosong seakan kehilangan harapan dan bahkan seperti tidak punya semangat hidup lagi.

Sementara itu pembantu dokter Hanung yang biasa mendaftar pasien yang akan berobat tampak mondar-mandir seperti ingin tahu apa yang terjadi. Tidak seperti biasanya dokter Hanung memeriksa pasien begitu lama seperti sore ini. Barangkali karena dia pasien terakhir sehingga merasa tidak terlalu tergesa-gesa maka pemeriksaannya berjalan agak lama. Tetapi kemudian dia terkejut mendengar jerit pasien terakhir itu sehingga ia merasa ingin tahu apa yang terjadi.

Dokter Hanung dengan pengalamannya selama praktek tidak terlalu kaget dengan reaksi pasien terakhirnya sore itu. Hanya yang dia tidak habis pikir itu kenapa perempuan berjilbab rapat itu mengidap penyakit yang biasa menjangkiti perempuan-perempuan rusak. Sudah dua pasien dia temukan akhir-akhir ini yang mengidap penyakit yang sama dan uniknya sama-sama mengenakan busana muslimah. Hanya saja yang pertama dahulu tidak mengenakan hijab penutup muka seperti pasien yang terakhirnya sore hari itu. Dulu pasien yang pernah mengidap penyakit yang seperti itu juga menggunakan pakaian muslimah, ketika didesak akhirnya dia mengatakan bahwa dirinya biasa kawin mut’ah. Pasiennya yang dahulu itu telah terlibat jauh dengan pola pikir dan gerakan Syi’ah yang ada di Bandung ini. Dari pengalaman itu timbul pikirannya menanyakan macam-macam hal mengenai tokoh-tokoh Syi’ah yang pernah dia kenal di kota Kembang ini dan juga kebetulan mempunyai seorang teman dari Pekalongan yang menceritakan perkembangan gerakan Syi’ah di Pekalongan. Beliau bermaksud untuk menyingkap tabir yang menyelimuti rahasia perempuan yang ada didepannya sore itu.

 “Bagaimana saudari,… penyakit yang anda derita ini tidak mengenali kecuali orang-orang yang biasa berganti-ganti pasangan seks. Rasanya itu tidak mungkin terjadi pada seorang muslimah seperti diri anda. Kalau itu masa lalu saudari baiklah saya memahami dan semoga dapat sembuh, bertaubatlah kepada Allah, … atau mungkin ada kemungkinan lain,…?”

Pertanyaan dokter Hanung itu telah membuat pasien terakhirnya mengangkat muka sejenak, lalu menunduk lagi seperti tidak memiliki cukup kekuatan lagi untuk berkata-kata. Dokter Hanung dengan sabar menanti jawaban pasien terakhirnya sore itu. Beliau beranjak dari kursi memanggil pembantunya agar mengemasi peralatan untuk segera tutup setelah selesai menangani pasien terakhirnya itu.

 “Saya tidak percaya dengan perkataan dokter tentang penyakit saya!” katanya terbata-bata.
 “Terserah saudari,… tetapi toh anda tidak dapat memungkiri kenyataan yang anda sandang-kan?”
 “Tetapi bagaimana mungkin mengidap penyakit laknat tersebut sedangkan saya selalu berada di dalam suasana hidup yang thaat kepada hukum Allah?”
 “Sayapun berprasangka baik demikian terhadap diri anda,… tetapi kenyataan yang anda hadapi itu tidak dapat dipungkiri?”

Sejenak dokter dan pasien itu terdiam. Ruang periksa itu sepi. Kemudian terdengar suara dari pintu yang dibuka pembantu dokter yang mengemasi barang-barang peralatan administrasi pendaftaran pasien. Pembantu dokter itu lantas keluar lagi dengan wajah penuh dengan tanda tanya mengetahui dokter Hanung yang menunggui pasien terakhirnya itu.

 “Cobalah introspeksi diri lagi, barangkali ada yang salah,… sebab secara medis tidak mungkin seseorang mengidap penyakit ini kecuali dari sebab tersebut”.
 “Tidak dokter,… selama ini saya benar-benar hidup secara baik menurut tuntunan syari’at islam,… saya tetap tidak percaya dengan analisa dokter!”.

Dokter Hanung mengerutkan keningnya men-dengar jawaban pasien terakhirnya itu. Dia tidak merasa sakit hati dengan perkataan pasiennya yang berulang kali mengatakan tidak percaya dengan analisanya. Untuk apa marah kepada orang sakit. Paling juga hanya menambah parah penyakitnya saja, dan lagi analisanya toh tidak menjadi salah hanya karena disalahkan oleh paiennya. Dengan penuh kearifan dokter itu bertanya lagi….

 “Barangkali anda biasa kawin mut’ah?”

Pasien terakhir itu mengangkat muka.

 “Iya dokter!”
“Apa maksud dokter?”
 “Itukan berarti anda sering kali ganti pasangan seks secara bebas!”
 “Lho,… tapi itukan benar menurut syari’at Islam Dok!”

Pasien terakhir itu membela diri

 “Ooo,… jadi begitu,… kalau dari tadi anda mengatakan begitu saya tidak bersusah payah mengungkapkan penyakit anda. Tegasnya anda ini pengikut Syi’ah yang bebas berganti-ganti pasangan mut’ah semau anda. Ya itulah petualangan seks yang anda lakukan. Hentikan itu kalau anda ingin selamat”.

 “Bagaimana dokter ini, saya kan hidup secara benar menurut syari’at Islam sesuai dengan keyakinan saya, dokter malah melarang saya dengan dalih-dalih medis”.

Sampai disini dokter Hanung terdiam. Sepasang giginya terkatup rapat dan dari wajahnya terpancar kemarahan yang sangat terhadap perkataan pasien terakhirnya yang tidak punya aturan itu. Kemudian keluarlah perkataan yang berat penuh tekanan.

 “Terserah apa kata saudari membela diri,…. Anda lanjutkan petualangan seks anda. Dengan resiko anda akan berkubang dengan penyakit kelamin yang sangat mengerikan itu, dan sangat boleh jadi pada suatu tingkat nanti anda akan mengidap penyakit AIDS yang sangat mengerikan itu,…..atau anda hentikan dan bertaubat kepada Allah dari mengikuti ajaran bejat itu kalau anda menghendaki kesembuhan”.
 “Ma…maaf Dok, saya telah membuat dokter tersinggung!”

Dokter Hanung hanya mengangguk menjawab perkataan pasien terakhirnya yang terbata-bata itu.

 “Begini saudari,…tidak ada gunanya resep saya berikan kepada anda kalau toh tidak berhenti dari praktek kehidupan yang selama ini anda jalani. Dan semua dokter yang anda datangi pasti akan bersikap sama,…sebab itu terserah kepada saudari. Saya tidak bersedia memberikan resep kalau toh anda tidak mau berhenti”.
 “Ba…BBaik Dok,…Insya Allah akan saya hentikan!”

Dokter Hanung segera menuliskan resep untuk pasien yang terakhirnya itu, kemudian menyodorkan kepadanya.

 “Berapa Dok?”
 “Tak usahlah,…saya sudah amat bersyukur kalau anda mau menghentikan cara hidup binatang itu dan kembali kepada cara hidup yang benar menurut tuntunan yang benar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Saya relakan itu untuk membeli resep saja”.

Pasien terakhir dokter Hanung itu tersipu-sipu mendengar jawaban dokter Hanung.

 “Terimah kasih Dok,…permisi!”

Perempuan itu kembali melangkah satu-satu di peralatan rumah Dokter Hanung. Ia berjalan keluar teras dekat bougenvil biru yang sekana menyatu dengan warna jilbabnya. Sampai digerbang dia menoleh sekali lagi ke teras, kemudian hilang di telan keramaian kota Bandung yang telah mulai temaran di sore itu.

Ibnu

[ simpan sebagai pdf ]

Sumber: Buku Mengapa Kita Menolak Syi’ah, Hal.254-256, dikutip dari ASA edisi 5, 1411 H.

http://haulasyiah.wordpress.com/2009/08/28/akhir-petualangan-si-pasien-terakhir/

KUMPULAN ARTIKEL YANG MEMBONGKAR KESESATAN SYIAH DAN MENJELASKAN KEBUSUKAN AJARAN SYIAH

KUMPULAN ARTIKEL YANG MEMBONGKAR KESESATAN SYIAH
silahkan klik judul artikel yang anda pilih  untuk membaca

Daftar Isi

DAFTAR ISI

Mengoreksi Keabsahan Keyakinan Ibnu Taimiyyah: “Istiwa’ Allah Sama Seperti Istiwa’ Makhluk-Nya.”

Menilik Keabsahan Ucapan Ibnu Taimiyyah: “Allah turun ke langit dunia seperti turunnya aku dari mimbar ini.”

Betapa Besar Kecintaanmu wahai Ibnu Taimiyyah kepada Ahlul Bait Nabi

Ummu Darda’ Ash-Shughra

Biografi Syaikh Abdullah bin Mar’i Al ‘Adni

Mengenal Al-Fuqaha’ As-Sab’ah (4), Sulaiman bin Yasar

Ahlul Hadits dan Keutamaannya

Mengenal Al-Fuqaha’ As-Sab’ah (3), Abu Bakr bin ‘Abdirrahman bin Al-Harits

Mengenal Al-Fuqaha’ As-Sab’ah (2), ‘Urwah bin Zubair

Mengenal Al-Fuqaha’ As-Sab’ah (Tujuh Tokoh Ulama dari Madinah) Bag: 1

Ummu Habibah binti Abu Sufyan (wafat 44 H/664 M)

Penghinaan Syi’ah Terhadap Al-Hasan bin ‘Ali

Kata Mereka: “Ali Lebih Dulu Masuk Surga dari Nabi”

Penghinaan Syi’ah Terhadap Rasulullah dan Fathimah (2)

Sikap Berlebihan Syi’ah Terhadap Ali dan Fathimah

Syi’ah dan Klaim Mereka Sebagai Pengikut ‘Ali

Ternyata Rabb Mereka berbeda dengan Rabbnya Abu Bakar Ash Shiddiq

Kata Mereka: “Umar bin Khattab Tukang Homo”

Kata Mereka: “‘Aisyah Adalah Keledai Betina Kecil”

Penghinaan Syi’ah Terhadap Rasulullah dan Fathimah

Kata Mereka: “‘Aisyah, Zubair, dan Tholhah Lebih Buruk dari Anjing dan Babi”

Kata Mereka: “Imam Ali Lebih Pemberani dari Rasulullah”

Ternyata Al-Qur’an Kita Berbeda dengan Al-Qur’an Mereka

Imam Syi’ah Makan dan Minum dengan Tangan Kiri

Lelucon Konyol Imam Syi’ah

Kajian Hadits: “Apabila kamu melihat Mu’awiyah diatas mimbarku maka bunuhlah ia.”

AKHIR PETUALANGAN SI PASIEN TERAKHIR

Mutiara Berkilau dari Bukhara (Biografi Al Imam Al Bukhari)

Audio: Ajaran Syi’ah dalam Pandangan Islam

Di antara keutamaan Hasan dan Husain radhiallahu anhuma

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Sikap Para Shahabat Dalam Menyikapi Hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Kisah Pengangkatan Sahabat Nabi Sebagai Khulafur Rasyidin

Biografi Asy Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di

Tokoh Penyesat Umat

Pandangan Syaikhul Islam dalam Masalah Uluhiyah

Ternyata Abdullah bin Saba’ bukan Tokoh Rekaan

FATAWA: NIKAH MUT’AH TELAH DIMANSUKH (DIHAPUS) DARI SYARI’AT ISLAM

FATAWA: MENJAWAB SYUBUHAT SEPUTAR MUT’AH

SEBAB DILARANGANNYA JENIS NIKAH MUT’AH

FATWA: HUKUM NIKAH MUT’AH (1)

Kisah ‘Aisyah yang Begitu Indah

Berilah Mereka Nasehat!

Keistimewaan Kitab Minhajus Sunnah

Keistimewaan Sepuluh Shahabat Peraih Janji Surga

ABU HURAIRAH, SHAHABAT MULIA YANG TERZHALIMI (1)

Fathimah bintu Qais Al-Fihriyyah radhiyallahu ‘anha

Audio: Menyingkap Hakekat Ajaran Syi’ah Rafidhah

Download E-book; Mengenal Lebih Dalam Kitab Minhajus Sunnah

Download E-book; Fadak, Kisah yang Tak Kunjung Berakhir

Download E-book: Fatawa Ulama Islam tentang Syi’ah Rafidhah

Download E-book; Menilik Kitab-kitab Hadits Kaum Syi’ah

Pujian Para Ulama Terhadap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Akibat Belajar Islam di Negeri Iran

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Keutamaannya dalam Ilmu Tafsir

Tuduhan dan Kedustaan Terhadap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Kumpulan Artikel tentang Syi’ah

Sumbangsih Ibnu Taimiyah Terhadap Islam dan Muslimin

Sejarah Hidup Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Rembulan di Langit Zaman

Antara Saudi dan Iran

Selang Waktu Pembangunan Masjidil Haram dengan Masjidil Aqsha

Apakah Saudi Arabia Loyalis Amerika

Hati-hati dari Teman yang Buruk

Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu (Wafat 18 H)

Abu Dzar Al Ghifari radhiyallahu’anhu

Meneliti Kembali Sanad Hadits: Wanita yang paling dicintai Rasulullah SAW adalah Fatimah”

AHLUL BAIT BAGAIKAN PINTU PENGAMPUNAN?

Kedudukan Hadits: “Ahlul baitku yang paling aku cintai adalah Hasan dan Husein.”

Kedudukan Hadits: “Ahlul Bait Tidak Masuk Neraka.”

Kedudukan Hadits: “Ali adalah Ash Shiddiq Terbaik.”

Kedudukan hadits, “Manusia yang paling dicintai rasulullah adalah Fathimah dan ‘Ali”

PERINTAH MERATAKAN KUBURAN, BUKTI KEDUSTAAN SYI’AH

Kedudukan Hadits “Memandang Ali adalah Ibadah”

Sekelumit Tentang Keutamaan Ummul Mukminin ‘Aisyah

Sekelumit Tentang Keutamaan Kaum Anshar

Sekelumit tentang keutamaan kerabat dekat rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam

Sekelumit Tentang Keutamaan Abu Bakar dan Umar

Fadak, Kisah Yang Tak Kunjung Berakhir

MENYIKAPI SHAHABAT NABI, ANTARA ISLAM DAN SYI’AH

Dari Ibnu Taimiyyah untuk Sang Bunda

Mencintai Para Sahabat dan Ahlul Bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Haah, Arah Kiblatnya beda?!!!

Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Penutup Pintu Kenabian

SIAPAKAH AHLUS SUNNAH?

Ibnu Jarir Ath Thabary (Wafat 310 H)

Imam Abu Dawud

Siapa Para Ulama ?

‘Umar bin ‘Abdul Aziz (wafat 101 H)

Ummu Athiyyah Al-Anshariyah radhiyallahu ‘anha

Imam Muslim (wafat 271 H)

Imam Al-Bukhari (wafat 256)

KEUTAMAAN SHAHABAT RASULULLAH shalallahu ‘alaihi wasallam

Al Qosim bin Muhammad (Tabi’in)

MENGENAL SYI’AH LEBIH DALAM LAGI 2

MENGENAL SYI’AH LEBIH DALAM LAGI

Ikrimah (Wafat 105 H)

CD Kedustaan Agama syi’ah

Abdullah bin Abbas (wafat 68 H)

Hat-hati dari Mereka!

Nestapa Pengekor Hawa Nafsu

AHLUL BAIT DIMATA AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH

Juwairiah binti Harits bin Abu Dhirar (wafat 56H)

Karbala Bukan Tanah Suci

Zainab binti Muhammad (Wafat 8 H)

PERNYATAAN PARA ULAMA’ ISLAM TENTANG SYI’AH RAFIDHAH 3

Ketika sang pendusta sok berbicara (2) (Ibnu Taimiyyah bukan Ahlussunnah?)

Ummi Kultsum binti Ali bin Abu Thalib (wafat.75H)

HADITS: ABU BAKAR BERGELAR SHIDDIQ PALSU?

Ketika sang pendusta sok berbicara

Kasyfu Syubhat adalah kitab yang mengungkap kebathilan penentang Tauhid Bag.Terakhir (6)

Kasyfu Syubhat adalah kitab yg mengungkap kebathilan penentang Tauhid Bag.5

Kasyfu Syubhat adalah kitab yg Mengungkap Kebathilan Argumen Penentang Tauhid(4)

Kasyfu Syubhat adalah kitab yg Mengungkap Kebathilan Argumen Penentang Tauhid(3)

PERNYATAAN PARA ULAMA’ ISLAM TENTANG SYI’AH RAFIDHAH 2

Kasyfu Syubhat adalah kitab yg Mengungkap Kebathilan Argumen Penentang Tauhid(2)

Kasyfu Syubhat adalah kitab yg Mengungkap Kebathilan Argumen Penentang Tauhid(1)

Dakwah Imamus Sunnah, Muhammad bin Abdul Wahhab

Tafsir Ibnu Katsir: Salah Satu Kitab Tafsir Al Qur’an Terbaik

Muawwiyah bin Abu Sofyan (20 SH-60 H/ 603-680 M)

Hakekat Abu Bakar dan Umar di mata Ja’far Ash-Shadiq

Abu Hurairah (wafat 57 H)

Abbas bin Abdul Muthalib (wafat 32 H/653 M)

AKIBAT MELANGGAR KETENTUAN ALLAH

Hamzah bin Abdul Mutalib (wafat 3 H)

Siapakah Wahhabi? Selubung Makar di Balik Julukan Wahhabi

Ibnu Qoyyim Al Jauziyyah rohimahulloh

Zainab binti Jahsy radhiallaahu ‘anha

Abu Thalib bin Abdul Muthalib (wafat 3 SH)

Ali bin Al-Husein Zainal Abidin (Wafat 93 H)

Hukum mencela Mu’awiyah (1)

Syaikh Abdul Aziz Bin Abdullah Bin Baz

Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’I (Wafat 1423 H)

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah

Syaikh Al-Mujaddid Muhammad bin Abdil Wahhab

Fatimah Az Zahra Binti Rasulullah (Wafat 11 H)

Husain bin Ali bin Abu Talib (4-61 H)

Hasan bin Ali bin Abu Talib (3-50 H.)

MENILIK KITAB-KITAB HADITS KAUM SYI’AH 3

MENILIK KITAB-KITAB HADITS KAUM SYI’AH 2

MENILIK KITAB-KITAB HADITS KAUM SYI’AH 1

SHAHIH BUKHARI dan SHAHIH MUSLIM Kitab Hadits Paling Shahih

MENGENAL LEBIH DALAM KITAB MINHAJUS SUNNAH (bag:4)

Apa Makna Wahabi?

MENGENAL LEBIH DALAM KITAB MINHAJUS SUNNAH (bag:3)

MENGENAL LEBIH DALAM KITAB MINHAJUS SUNNAH (bag:2)

MENGENAL LEBIH DALAM KITAB MINHAJUS SUNNAH (bag:1)

MELURUSKAN PEMAHAMAN TENTANG SHAHABAT MU’AWIYAH RADHIALLAHU ‘ANHU (BAG:3)

MELURUSKAN PEMAHAMAN TENTANG SHAHABAT MU’AWIYAH RADHIALLAHU ‘ANHU (BAG:2)

MELURUSKAN PEMAHAMAN TENTANG SHAHABAT MU’AWIYAH RADHIALLAHU ‘ANHU (BAG:1)

HADITS: “Semoga Allah tidak akan mengenyangkan perutnya” YAKNI PERUT MU’AWIYAH. ANTARA CELAAN DAN PUJIAN

Istri-istri Rasulullah : Khodijah binti Khuwailid

Imam Ahmad Bin Hambal

Tarikh Al-Khulafa’ Ar-Rasyidin

Ruqoyyah dan Ummu Kultsum radhiallahu ‘anhuma Kisah Perjalanan Dua Cahaya

Keutamaan Keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

Ringkasan Minhajus Sunnah Ibnu Taimiyyah

Bantahan & Peringatan atas Agama Syiah Rafidhah

Abu Bakr Ash Shiddiq Kholifah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam

Sahabat Rasulullah – generasi pertama ummat Islam

Istri-istri Rasulullah : Saudah binti Zam’ah

AUDIO: SEKALI LAGI TENTANG AGAMA SYI’AH, bag: 2

Istri-istri Rasulullah : Aisyah binti Abu Bakar

AUDIO: SEKALI LAGI TENTANG AGAMA SYI’AH, bag: 1

KELOMPOK SYI’AH (OLEH SYAIKH SHALIH AL FAUZAN

SIKAP TENGAH AHLUSSUNNAH THD KEMATIAN HUSEIN

SEKELUMIT TENTANG KEUTAMAAN MU’AWIYAH BIN ABI SUFYAN

SEKELUMIT TENTANG KEUTAMAAN ‘ALI BIN ABI THOLIB

SEKELUMIT TENTANG KEUTAMAAN ‘UTSMAN BIN ‘AFFAN

SAUDARAKU, KOREKSILAH PERGAULANMU

BANTAHAN SINGKAT TERHADAP KEYAKINAN SYI’AH TENTANG IMAM MAHDI VERSI MEREKA

HADITS: PERUMPAMAAN AHLUL BAITKU SEPERTI KAPAL NABI NUH…(BAGIAN 2)

PERBEDAAN IMAM MAHDI AHLUSSUNNAH DENGAN MAHDI SYI’AH

IMAM MAHDI ADALAH KETURUNAN NABI MUHAMMAD

HADITS: PERUMPAMAAN AHLUL BAITKU SEPERTI KAPAL NABI NUH…(BAGIAN 1)

MAHDI, YANG DIIMANI DAN DINANTI

PENYIMPANGAN-PENYIMPANGAN DALAM PERKARA AL-MAHDI

MENGENAL IMAM MAHDI

KEUTAMAAN AL-HASAN DAN AL-HUSEIN RADHIALLAHU ‘ANHUMA, bantahan syubuhat syi’ah ke 7

IBNU TAIMIYAH DAN SHAHABAT NABI

AHLUSSUNNAH MENGAKUI KEUTAMAAN AHLUL BAIT, bantahan syubuhat syi’ah ke 6

ISYARAT RASULULLAH ABU BAKAR SEBAGAI KHALIFAH, bantahan syubuhat syi’ah ke 5

TIDAK ADA IBADAH KHUSUS DI BULAN RAJAB

DI BALIK MAKAR KHAWARIJ DAN SYI’AH, Merunut Aksi-aksi Jahat Yahudi

WASIAT RASULULLAH DENGAN AL-QUR’AN, Bantahan syi’ah ke 4

HADITS “AKU KOTA ILMU DAN ALI PINTUNYA”

DO’A BULAN RAJAB

SHALAT RAGHAIB DI BULAN RAJAB

HADITS-HADITS YANG BERKAITAN DENGAN BULAN RAJAB

PERNYATAAN PARA ULAMA’ ISLAM TENTANG SYI’AH RAFIDHAH

KHILAFAH TIDAK HARUS ADA PADA AHLUL BAIT, bantahan syi’ah ke 3

KAJIAN ILMIYAH TENTANG KEDUA ORANG TUA NABI (menjawab syubuhat syi’ah 2)

TAFSIR SURAT AL-BAYYINAH AYAT YANG KE 7, menurut syi’ah

KEUTAMAAN ABU BAKAR DAN UMAR DI ATAS ALI RADHIALLAHU ‘ANHUM, bantahan syubuhat syi’ah kedua

KAJIAN ILMIYAH TENTANG KEDUA ORANG TUA NABI (menjawab syubuhat syi’ah 1)

SYI’AH DAN ISLAM

KEABSAHAN KHILAFAH ABU BAKAR ASH SHIDDIQ, bantahan syubuhat syiah pertama

PERBEDAAN ANTARA AGAMA ISLAM DENGAN AGAMA SYI’AH, BAG:1

SYI’AH DAN IMAMAH (KEPEMIMPINAN)

AQIDAH SYI’AH TENTANG AL QUR’AN

SYI’AH DAN TAQIYYAH

SYI’AH MENGHALALKAN ZINA

AKHIR PERJALANAN AHLI BID’AH

HADITS ABU AYYUB AL ANSHORI

KEDUDUKAN PARA SHAHABAT, DISISI ALLAH DAN RASUL-NYA SERTA KAUM MUKMINIIN

HADITS ABDULLAH BIN ‘UMAR

HADITS ABDULLAH BIN ‘ABBAS

SYI’AH MENGHINA PARA SHAHABAT NABI

CINTA PALSU SYI’AH TERHADAP AHLUL BAIT

SYI’AH MENCELA ISTRI-ISTRI RASUL (UMMAHATUL MUKMINIIN)

MEWASPADAI KEDUSTAAN ATAS NAMA RASULULLAH SHALALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM

MENOLAK PENYATUAN SUNNI DAN SYI’AH

MEMBONGKAR KESESATAN SYI’AH

Awas, Syi’ah Mengancam Kita !!! (SYIAH ADALAH ALIRAN YANG SESAT DAN MENYESATKAN)

Awas Syi’ah Mengancam Kita!

Mayoritas kaum muslimin menilai bahwa menentukan sikap terhadap Syi’ah adalah sesuatu yang sulit dan membingungkan. Kesulitan ini terpulang kepada banyak hal. Di antaranya karena kurangnya informasi tentang Syi’ah. Syi’ah menurut mayoritas kaum muslimin adalah eksistensi yang tidak jelas. Tidak diketahui apa hakikatnya, bagaimana ia berkembang, tidak melihat bagaimana masa lalunya, dan tidak dapat diprediksi bagaimana di kemudian hari. Berangkat dari sini, sangat banyak di antara kaum muslimin yang meyakini Syi’ah tak lain hanyalah salah satu mazhab Islam, seperti mazhab Syafi’i, Maliki dan sejenisnya.
Ia tidak memandang bahwa perbedaan antara Sunnah dan Syi’ah bukan pada masalah furu’ (parsial) saja, akan tetapi banyak juga menyinggung masalah ushul (fundamental).

Hal lain yang menyulitkan untuk menentukan sikap terhadap Syi’ah adalah; bahwa mayoritas kaum muslimin tidak bersikap realistis dan praktis. Mereka sekedar berangan-angan dan berharap tanpa mengkaji…

Dengan bahasa yang sok logis, sebagian kaum muslimin mengatakan: “Lho, mengapa harus terjadi perselisihan? Ayolah kita duduk bersama dan melupakan perselisihan di antara kita… yang Sunni meletakkan tangannya di atas yang Syi’i dan berjalan sama-sama. Toh kita semua juga beriman kepada Allah, Rasul-Nya dan hari kiamat?”

Orang ini lalai bahwa masalah yang sesungguhnya jauh lebih rumit dari ini…

Sebagai contoh, orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir namun menghalalkan khamr (miras) atau zina misalnya, hukumnya kafir. Menghalalkan maksudnya memandang bahwa hal tersebut boleh-boleh saja, dan mengingkari pengharamannya dalam Al Qur’an atau Sunnah Nabi.

Nah berangkat dari asumsi ini, kita akan melihat hal-hal yang sangat berbahaya dalam sejarah kaum Syi’ah, yang mengharuskan para ulama Islam untuk merenung kembali dan menentukan sudut pandang Islam terhadap bid’ah-bid’ah kaum Syi’ah yang demikian besar.

Hal lain yang turut merumitkan masalah ini adalah; banyaknya luka Islam di mayoritas negeri kaum muslimin, di samping banyaknya yang memusuhi mereka dari kalangan Yahudi, Nasrani, kaum salibis, komunis, Hindu dan sebagainya.

Dari sini, sebagian mereka yang ‘intelek’ memandang agar kita jangan membuka front permusuhan baru. Hal ini bisa saja dibenarkan jika front tersebut mulanya tertutup lalu kita berusaha membukanya. Namun jika sejak semula telah terbuka lebar dan serangan mereka datang siang dan malam, maka mendiamkan hal tersebut berarti suatu kehinaan…

Kita tidak perlu lagi mengulang pertanyaan yang sering dilontarkan kebanyakan orang: “Apakah mereka (Syi’ah) lebih berbahaya dari Yahudi?”

Sebab hakikat dari pertanyaan ini adalah untuk membungkam lisan mereka yang sadar akan penderitaan umat, sekaligus membikin kikuk mereka yang berusaha menjaga dan melindungi kaum muslimin.

Saya akan menyanggah mereka dan mengatakan kepada mereka: “Memang apa salahnya kalau umat Islam menghadapi dua bahaya yang mengintai secara bersamaan? Apakah muslimin Ahlussunnah yang mencari-cari alasan untuk menyerang Syi’ah, ataukah realita di lapangan membuktikan berulang kali bahwa merekalah yang memulai serangan?”

Kita menyaksikan gencarnya serangan Syi’ah terhadap umat Islam, dan saya rasa realita kita saat ini tak jauh berbeda dengan masa lampau. Bahkan saya bersaksi bahwa sejarah akan mengulangi dirinya, dan generasi muda akan mewarisi dendam kesumat nenek moyang mereka.

Tak ada kebaikan sedikit pun yang bisa diharapkan dari kelompok yang menganggap bahwa 99% sahabat Nabi adalah bejat, mengingat hal itu merupakan pengingkaran yang nyata akan sabda Rasulullah e:

“خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي”

“Sebaik-baik generasi adalah generasiku.” (HR. Bukhari no 3451 dan Muslim no 2533)

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan yang lainnya.

Realita Syi’ah –dari dulu sampai sekarang- adalah amat sangat menyakitkan…

Mari kita tengok kembali beberapa masalah yang akan menjadikan visi kita lebih jelas, sehingga dapat membantu kita untuk menentukan sikap paling tepat yang mesti kita ambil terhadap Syi’ah; lalu kita tahu: lebih baik bicara ataukah diam saja!

PERTAMA:
Semua orang tahu bahwa sikap Syi’ah terhadap para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai dari Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar Al Faruq, Utsman Dzin Nuurain, lalu isteri-isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terutama Aisyah radhiallahu ‘anha hingga para sahabat secara umum, sebagaimana yang dinyatakan terang-terangan oleh referensi dan narasumber mereka yang telah mereka yakini; adalah bahwa para sahabat tadi adalah orang-orang fasik dan murtad. Mayoritas mereka telah sesat dan berusaha menyembunyikan serta menyelewengkan ajaran Islam.

Dari sini apakah kita harus mengawasi dan diam saja ‘demi menghindari fitnah’?

Fitnah apakah yang lebih besar dari pada menuduh generasi teladan sebagai masyarakat ‘bejat dan pendusta’?!?

Marilah kita merenungi sama-sama perkataan bijak salah seorang sahabat yang bernama Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu:

“إذا لَعَنَ آخرُ هذه الأمَّة أوَّلها، فَمَنْ كان عنده علمٌ فليظْهره، فإنَّ كاتم ذلك ككاتم ما أُنزل على محمدٍ صلى الله عليه وسلم”.

“Bila umat Islam di akhir zaman mulai melaknat pendahulunya, maka siapa saja yang berilmu hendaklah menunjukkan ilmunya. Bila ia menyembunyikan, maka ia seperti yang menyembunyikan ajaran Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Nisbat riwayat ini kepada Nabi sanadnya dha’if, namun riwayat ini adalah dari perkataan Jabir bin Abdillah)

Bisakah Anda menangkap kedalaman makna ucapan ini?

Hujatan terhadap generasi sahabat bukan sekedar hujatan terhadap mereka yang telah tiada… tidak juga seperti ucapan sebagian orang bahwa: “Hujatan tersebut tidak berbahaya bagi para sahabat, karena mereka telah masuk Surga meski Syi’ah tidak suka.” Akan tetapi bahaya besar di balik ucapan ini ialah karena hujatan terhadap para sahabat pada hakikatnya adalah hujatan terhadap Islam secara langsung. Sebab kita tidak mendapatkan ajaran Islam kecuali melalui para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

Kalau berbagai hujatan yang menimbulkan keraguan akan akhlak, niat, dan perbuatan para sahabat dibiarkan; lantas agama model apa yang akan kita anut?

Hilanglah agama kita kalau kita terima semua itu… hilanglah hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ajaran beliau.

Justeru kita bertanya kepada Syi’ah: “Al Qur’an apa yang kalian baca sekarang? Bukankah yang menyampaikannya adalah mayoritas sahabat yang kalian hujat? Bukankah yang berjasa mengumpulkannya adalah Abu Bakar Ash Shiddiq radhiallahu ‘anhu, yang kalian anggap berbuat licik untuk menjadi khalifah? Lantas mengapa ia tidak merubah-rubah Al Qur’an sebagaimana merubah-rubah Sunnah menurut tuduhan kalian?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits:

“عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ المهديين مِنْ بَعْدِي”.

“Kalian wajib berpegang teguh pada Sunnahku dan Sunnahnya Khulafa’ur Rasyidin yang telah mendapat hidayah sepeninggalku.” (HR. Tirmidzi no 2676, Ibnu Majah no 42 dan Ahmad no 17184)

Jadi, Sunnah Khulafa’ur Rasyidien adalah bagian tak terpisahkan dari agama Islam. Hukum dan sikap yang diputuskan oleh Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali adalah hujjah (dalil) bagi setiap muslim, kapan, di mana pun, dan sampai hari kiamat… lantas bagaimana mungkin hujatan terhadap mereka kita biarkan?!
Sebab itulah, ulama-ulama kita yang mulia demikian berang bila mendengar ada orang yang berani menghujat sahabat. Imam Ahmad bin Hambal misalnya, beliau pernah mengatakan:

إذا رأيت أحدًا يذكر أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم بسوءٍ، فاتهمه على الإسلام

“Kalau engkau mendapati seseorang berani menyebut para sahabat dengan tidak baik, maka tuduhlah dia sebagai musuh Islam.” (Ash Sharimul Maslul ‘ala Syaatimir Rasul 3/1058 oleh Ibnu Taimiyyah)

Al Qadhi Abu Ya’la (salah seorang fuqaha mazhab Hambali) mengatakan: “Para fuqaha sepakat bahwa orang yang mencaci-maki para sahabat tak lepas dari dua kondisi: kalau dia menghalalkan hal tersebut maka dianggap kafir, namun jika tidak menghalalkannya maka dianggap fasik (bejat)” (Ibid, 3/1061)

Abu Zur’ah Ar Razi (salah seorang pakar hadits yang wafat th 264 H) mengatakan:

“إذا رأيتَ الرجلَ ينتقص من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم، فاعلم أنّه زنديق”

“Kalau engkau mendapati seseorang mengkritik sahabat Nabi saw, maka ketahuilah bahwa dia itu Zindiq (munafik).” (Al Kifayah fi ‘Ilmir Riwayah hal 49 oleh Al Khatib Al Baghdadi)

Sedangkan Ibnu Taimiyyah berkata: “Barang siapa menganggap bahwa para sahabat telah murtad sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali segelintir orang yang jumlahnya tak sampai belasan orang, atau menganggap fasik (bejat) mayoritas sahabat; maka orang ini kekafirannya tidak diragukan lagi.” (Ash Sharimul Maslul 3/1110 oleh Ibnu Taimiyyah)

Sikap yang keras terhadap para penghujat sahabat ini, tak lain adalah karena para sahabatlah yang menyampaikan agama ini kepada kita. Kalau salah seorang dari sahabat dihujat, berarti Islam jadi meragukan. Mengingat banyaknya pujian yang Allah berikan kepada mereka dalam Al Qur’an, maupun dalam Sunnah Nabi-Nya, jelaslah bahwa orang yang menghujat para sahabat berarti mendustakan ayat-ayat dan hadits yang cukup banyak tadi.

Mungkin ada yang berkata: “Lho, kami tidak pernah mendengar si Fulan dan si Fulan yang Syi’ah itu menghujat para sahabat?”

Kepada mereka, kami ingin agar memperhatikan poin-poin berikut:

Pertama: Kaum Syi’ah Itsna Asyariyah pada dasarnya meyakini bahwa para sahabat telah bersekongkol melawan Ali bin Abi Thalib, Ahlul Bait, dan Imam-imam yang diyakini oleh mereka. Intinya, tidak ada seorang Syi’i pun (baik di Iran, Irak, maupun Lebanon) melainkan ia meyakini kefasikan para sahabat. Sebab jika mereka menganggap para sahabat adalah orang shalih, hancurlah rukun iman mereka sebagai Syi’ah. Jadi, telah menjadi suatu keniscayaan pabila setiap orang Syi’ah baik pejabat, ulama, maupun rakyat jelata untuk bersikap tidak hormat kepada para sahabat, dan tidak menerima agama yang mereka bawa dalam bentuk apa pun.

Kedua: Tokoh-tokoh Syi’ah senantiasa mengelak untuk menampakkan kebencian mereka kepada para sahabat, meski terkadang nampak juga dalam sebagian statemen atau perilaku mereka, sebagaimana firman Allah:

لَتَعْرِفَنَّهُمْ فِي لَحْنِ الْقَوْلِ

“Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka.” (Qs Muhammad: 30)

Banyak di antara kita yang menyaksikan debat antara DR. Yusuf Al Qardhawi dengan Rafsanjani (mantan presiden Iran) di TV Al Jazeera. Kita sama-sama menyaksikan bagaiman Rafsanjani selalu mengelak dari setiap usaha DR. Qardhawi agar ia menyebut sahabat dan ummahatul mukminin (isteri-isteri Nabi) dengan baik.

Dan ketika Khamenei (pemimpin Revolusi Iran sekarang) ditanya tentang hukum mencaci-maki para sahabat, dia tidak mengatakan bahwa hal itu keliru atau haram. Namun ia menjawab secara dusta dengan berkata: “Semua perkataan yang mengakibatkan perpecahan di antara kaum muslimin pasti diharamkan dalam syari’at.” Intinya, haramnya mencaci-maki sahabat menurutnya ialah karena hal itu menimbulkan perselisihan di antara kaum muslimin, bukan karena haram menurut syari’at, sebagaimana yang dilansir oleh koran Al Ahraam Mesir tanggal 23 November 2006.

Ketiga: Kita harus waspasa terhadap akidah ‘taqiyyah’ (bermuka dua) yang menurut syi’ah adalah sembilan persepuluh dari agama mereka. Artinya, mereka biasa mengatakan perkataan yang bertentangan dengan keyakinan mereka selama mereka belum berkuasa. Namun setelah berkuasa mereka akan menampakkan jati dirinya terang-terangan.

Dalam sejarah Syi’ah, kita menyaksikan bahwa tatkala mereka menguasai beberapa wilayah Daulah Abbasiyah yang Sunni di Irak, Mesir, Afrika Utara (Maghrib) dan semisalnya; mereka langsung terang-terangan menghujat para sahabat, dan menjadikan hal itu sebagai pokok agama mereka.

Jadi, jelaslah bagi kita dari sini akan pentingnya menjelaskan hakikat Syi’ah terhadap para sahabat yang mulia. Kalau tidak, maka orang yang menyembunyikan kebenaran ini ibarat syaithan yang bisu, dan sikap ini akan mengakibatkan kehancuran Islam…

KEDUA:
Bahaya Doktrinasi Syi’ah di Dunia Islam…. tidak diragukan lagi bahwa doktrinasi Syi’ah (tasyayyu’) demikian gencar dilakukan di berbagai negara Islam. Ia tidak hanya marak di tempat asalnya seperti Iran, Irak dan Lebanon, namun kini berlangsung sangat kuat di Bahrain, Emirat Arab, Suriah, Yordania, Saudi Arabia, Mesir, Afghanistan, Pakistan dan negara-negara muslim lainnya… (Termasuk Indonesia yang dalam lima tahun terakhir meningkat secara drastis, lewat tokoh-tokoh mereka macam Jalaluddin Rakhmat, Quraish Shihab dan sebagainya. Bahkan menurut pengamatan sebagian pihak, jumlah murid Kang Jalal mencapai lebih dari 10 juta! –pent)

Parahnya lagi, banyak orang yang menganut pemikiran-pemikiran Syi’ah tanpa mengira bahwa mereka adalah Syi’ah. Bahkan setelah menulis beberapa artikel ini, kami –yaitu Dr. Raghib Sirjani- mendapat banyak e-mail yang penulisnya mengaku Sunni, namun isinya penuh dengan pemikiran dan gaya Syi’ah.

Kita juga tidak menutup mata akan perang global yang ditujukan kepada para sahabat lewat media massa (Yakni media massa di Mesir tempat penulis tinggal -pent) dan saluran-saluran televisi di negeri-negeri Sunni. Yang paling masyhur ialah hujatan salah satu koran Mesir terhadap Siti Aisyah radhiallahu ‘anha beberapa hari terakhir. Demikian pula perang yang dilancarkan terhadap Shahih Bukhari, termasuk acara televisi yang dibawakan oleh wartawan terkenal dan selalu mengkritik para sahabat dalam setiap episode.

Masalah semakin rumit dan tidak bisa didiamkan, mengingat adanya perkawinan silang antara manhaj (metode) Syi’ah dengan Tasawuf, dengan klaim bahwa keduanya mencintai Ahlul bait.

Dan kita semua tahu bahwa faham tasawuf demikian merebak di banyak negara di dunia. Dan faham ini telah terjangkiti virus bid’ah, khurafat dan kemunkaran yang demikian banyak, dan bertemu dengan Syi’ah dalam hal mengultuskan Ahlul bait. Dari sini, penyebaran Syi’ah sangat mudah ditebak seiring dengan menyebarnya tarekat-tarekat Sufi.

KETIGA:
Kondisi di Irak demikian mencekam. Pembunuhan muslimin Ahlussunnah tersebab identitas mereka adalah fenomena biasa yang sering terjadi. Sekjen ulama Ahlussunnah di Irak yang bernama Harits Adh Dhaary menyebutkan bahwa ada lebih dari 100 ribu muslim Sunni yang tewas di tangan Syi’ah sejak th 2003 hingga 2006. Ditambah proses deportasi yang terus menerus di beberapa lokasi demi mempermudah kekuasaan Syi’ah di sana. Dan mayoritas mereka yang dideportasi (diusir) keluar dari Irak adalah Ahlussunnah; dan ini menyebabkan perubahan susunan masyarakat yang sangat berbahaya akibatnya nanti.

Pertanyaannya sekarang: “Apakah fitnah yang timbul ketika membahas masalah Syi’ah lebih berbahaya dari fitnah terbunuhnya sekian banyak warga Ahlussunnah tadi? Lantas sampai kapan masalah ini harus didiamkan? Padahal semua orang tahu betapa solidnya dukungan Iran dalam pembersihan mereka yang beridentitas Sunni?”

KEEMPAT:
Ambisi Iran terhadap Irak demikian besar, bahkan hal nampak nyata. Mengingat kedua negara sebelumnya pernah terlibat perang sengit selama 8 tahun penuh, dan sekarang jalannya terbuka lebar bagi Iran. Apalagi Irak memiliki nilai religius penting bagi kaum Syi’ah, mengingat adanya wilayah-wilayah suci di sana, termasuk enam makam Imam Syi’ah. Di Najaf terdapat makam Ali bin Abi Thalib, lalu di Karbala’ terdapat kuburan Husein, dan di Baghdad terdapat makam Musa Al Kadhim dan Muhammad Al Jawwad, tepatnya di wilayah Al Kadhimiyyah. Sedangkan di Samarra terdapat makam Muhammad Al Hadi dan Hasan Al ‘Askari; dan masih banyak kuburan-kuburan palsu lain yang diklaim sebagai kuburan para Nabi seperti Adam, Nuh, Hud dan Shalih di Najaf; namun semuanya palsu.

Selain Ambisi Iran terhadap Irak yang sangat berbahaya, Amerika juga mendukung terwujudnya ambisi tersebut. Kita semua menyaksikan bagaimana pemerintahan Syi’ah bentukan Amerika di Irak. Sandiwara saling tuduh antara Amerika dan Iran sudah tidak mempan lagi sekarang, sebab tidak pernah terlintas dalam benak Amerika untuk menyerang Iran sama sekali, akan tetapi yang sangat mencemaskan bukanlah ambisi untuk menguasai minyak atau kekayaan Irak saja, bukan pula sekedar memperluas kekuasaan Syi’ah; namun parahnya mereka menjadikan kebrutalan dan sadisme tersebut sebagai bagian dari agama mereka. Sebab Syi’ah menuduh para sahabat dan pengikut mereka dari kalangan Ahlussunnah sebagai musuh-musuh Ahlulbait dan menjulukinya dengan naashibah atau nawaashib. Padahal kita lebih menghargai Ahlulbait daripada mereka.

Mereka lalu mengeluarkan vonis-vonis mengerikan atas tuduhan tersebut. Misalnya Khumaini yang mengatakan: “Pendapat yang lebih kuat ialah memasukkan nawashib sebagai ahlul harbi (lawan perang), yang hartanya halal di mana pun didapati, dan dengan cara apa pun.” (Tahrirul Wasilah 1/352 oleh Al Khumaini)

Lalu tatkala imam mereka yang bernama Muhammad Shadiq Ar Ruhani ditanya tentang hukum orang yang mengingkari keimaman dua belas imam, dia mengatakan sesuatu yang sangat aneh: “Sesungguhnya imamah (jabatan imam) lebih tinggi dari nubuwah (kenabian) dan kesempurnaan agama ini ialah dengan menjadikan Amirul mukminin alaihissalam sebagai imam; Allah ta’ala berfirman: alyauma akmaltu lakum dienakum (pada hari ini telah kusempurnakan bagimu agamamu). Maka siapa yang tidak mempercayai keimaman dua belas imam niscaya ia akan mati dalam kekafiran” (Lihat fatwa ini dalam link berikut: http://www.imamrohani.com/fatwa-ar/viewtopic.php)

Khumaini dalam bukunya Al Hukumatul Islamiyyah mengatakan bahwa para imam akan mencapai kedudukan yang tidak pernah dicapai oleh malaikat terdekat maupun rasul sekalipun. Karenanya, tidak mengakui keimaman menurut mereka lebih berat dari pada tidak mengakui kenabian, dan inilah tafsiran atas pengkafiran Syi’ah atas Ahlussunnah, yang diikuti dengan penghalalan darah mereka di Irak dan negeri-negeri lainnya. Oleh karena itu, Irak harus dimasukkan dalam kekuasaan mereka karena banyaknya tempat-tempat ’suci’ mereka yang masih dikuasai oleh orang-orang yang mereka anggap kafir.

KELIMA:
Ancaman langsung tak berhenti di Irak saja, namun ambisi mereka terus meningkat untuk menguasai daerah sekitarnya. Mereka menganggap Bahrain sebagai bagian dari Iran, sebagaimana pernyataan kepala pemeriksa umum Ali Akbar Nathiq Nuri di kantor pemimpin revolusi saat peringatan 30 tahun revolusi Iran. Ia mengatakan: “Bahrain pada dasarnya adalah propinsi Iran yang keempat belas, yang diwakili oleh seorang legislatif di majelis permusyawaratan Iran.” (Lihat situs al jazirah berikut: http://www.aljazeera.net/NR/exeres/684338CB-837A-4879-8C7A-1A1B995DD286.htm)

Kita juga tahu bahwa Iran menduduki tiga pulau milik Emirat Arab di teluk Arab, dan jumlah mereka makin bertambah di Emirat hingga nisbahnya mencapai 15% dari total jumlah penduduk, dan menguasai pusat-pusat perdagangan terutama di Dubai.

Demikian pula kondisinya di Arab Saudi yang tidak statis; sebab sejak revolusi Iran tahun 1979, berbagai gangguan stabilitas terjadi berulang kali di Arab Saudi. Bahkan itu terjadi langsung setelah revolusi Iran, dengan munculnya demonstrasi Syi’ah di Qathif dan Saihat (dua wilayah Saudi), yang paling gencar di antaranya adalah tanggal 19 November 1979.

Masalah pun kadang semakin parah hingga berubah menjadi tindak anarkhis dan kejahatan di Baitullah Makkah. Sebagaimana yang terjadi pada musim haji tahun 1987 dan 1989. Bahkan pasca jatuhnya pemerintahan Saddam Husein, sekitar 450 tokoh Syi’ah di Saudi mengajukan proposal kepada putera mahkota ketika itu, yaitu Pangeran Abdullah dan meminta agar diberi jabatan-jabatan tinggi di dewan parlemen, jalur diplomasi, badan militer dan keamanan, serta menambah jumlah mereka di majelis syuro.

Bahkan Ali Syamkhani, yang merupakan penasehat tertinggi masalah militer bagi pimpinan umum revolusi Iran mengatakan, bahwa bila Amerika menyerang proyek nuklir Iran, maka Iran tidak sekedar membalas dengan menyerang fasilitas milik Amerika di teluk, namun akan menggunakan rudal-rudal balistiknya untuk menyerang target-target strategisnya di teluk Arab. Pernyataan ini dilansir oleh majalah Times Inggris pada hari Ahad 10 November 2007.

Inikah semuanya?

Tidak… namun masih banyak sekali hal-hal yang belum kami sebutkan.
Dalam tulisan ini kami baru menyebutkan lima poin yang menjelaskan bahaya Syi’ah dan gentingnya masalah ini. Dan masih ada lima poin lagi yang tak kalah penting yang akan saya sampaikan dalam tulisan berikutnya atas izin Allah. Dan setelah itu kami akan paparkan metode paling tepat untuk mengatasi kondisi yang sangat berbahaya ini.

Masalah Syi’ah bukanlah catatan kaki dalam sejarah umat Islam, hingga pantas untuk ditinggalkan atau ditunda… namun ia merupakan masalah yang menduduki prioritas utama bagi umat Islam.

Kita semua mengetahui bagaimana Palestina dibebaskan dari tangan kaum Salibis lewat tangan Shalahuddien; dan itu tidak terjadi kecuali setelah beliau membebaskan Mesir dari kekuasaan Syi’ah Ubeidiyyah. Dan ketika itu Shalahuddien tidak mengatakan bahwa perang salib harus lebih diprioritaskan daripada menyingkirkan kekuasaan Syi’ah dari Mesir. Hal itu karena beliau yakin bahwa kaum muslimin tidak akan mendapat pertolongan kecuali bila akidah mereka bersih dan tentara mereka ikhlas.

Shalahuddien juga tidak memaksa rakyat Mesir untuk berperang bersamanya demi target utamanya (yaitu pembebasan Palestina), kecuali setelah membebaskan mereka dari belenggu-belenggu Syi’ah Ubeidiyyah.

Apa yang kami sebutkan tentang Mesir di masa Shalahuddien sama dengan yang kami sebutkan tentang Irak sekarang, demikian pula dengan setiap negara yang terancam oleh Syi’ah… dan kita harus mengambil pelajaran dari sejarah!

Semoga Allah memuliakan Islam dan kaum muslimin…

***

Sumber: http://www.albrhan.com
Artikel www.muslim.or.id

DARAH HITAM SYIAH (Sejarah Suram Aliran Syiah Sepanjang Masa)

dari www.muslim.or.id

 

-
Pasca wafatnya Hasan Al ‘Askari (yang dinobatkan sebagai imam ke-11 oleh mereka), Syi’ah memasuki masa kebingungan besar yang terkenal dalam sejarah dengan periode ‘hairatusy syi’ah’. Dalam masa tersebut mereka saling terpecah menjadi banyak firqah (sekte), dan setiap firqah memoles agamanya semaunya demi mendapat keuntungan politis yang lebih baik… dan konon firqah yang paling terkenal adalah firqah “itsna ‘asyariyah” (12 imam),
-
Namun firqah Itsna Asyariah ini bukanlah satu-satunya di lapangan, di sampingnya juga tumbuh firqah lain yang lebih berbahaya. Munculnya firqah yang satunya ini pernah menjadi malapetaka bagi umat Islam. Firqah ini bernama Isma’iliyyah.
-
Syi’ah Isma’iliyah telah sesat terlampau jauh hingga mayoritas ulama mengeluarkannya dari Islam. Munculnya sekte Isma’iliyah adalah lewat skenario hebat seorang Yahudi yang ingin membuat makar bagi umat Islam, orang tersebut bernama Maimun Al Qaddah.
-
Mulanya orang ini menampakkan diri sebagai muslim dan mendekati Muhammad bin Isma’il bin Ja’far Ash Shadiq, bahkan berteman akrab dengannya. Muhammad bin Isma’il termasuk ahlul bait, karena merupakan cucu dari Ja’far Ash Shadiq, imam keenam kaum Syi’ah Itsna Asyariyah. Ayahnya adalah Isma’il, saudara Musa Al Kazhim yang notabene imam ketujuh menurut Syi’ah Itsna Asyariyah.
-
Maimun telah melakukan sesuatu yang luar biasa, yang menunjukkan betapa jahatnya makar dia terhadap umat Islam. Tujuan makar tersebut ialah menghancurkan Islam walau sekian abad kemudian setelah kematiannya! Maimun menamakan anaknya dengan nama anak Muhammad bin Isma’il, yaitu Abdullah. Ia berwasiat kepada sang anak agar kelak menamai anak cucunya dengan nama-nama anak cucu Muhammad bin Isma’il. Hingga suatu ketika nanti kaum Yahudi tersebut akan mengklaim dirinya sebagai ahlul bait anak cucu Muhammad bin Isma’il bin Ja’far Ash Shadiq!
Bahkan tidak sekedar itu, mereka kelak akan mengklaim bahwa Al Imamah Al Kubra (kepemimpinan terbesar) yang seharusnya memimpin umat Islam seluruhnya, haruslah dari keturunan Isma’il bin Ja’far Ash Shadiq, bukan dari keturunan Musa Al Kazhim bin Ja’far Ash Shadiq sebagaimana yang diklaim oleh Syi’ah Itsna Asyariyah. Maimun si Yahudi akhirnya mendapatkan cita-citanya… firqah Isma’iliyah pun berkembang, dan anak cucunya mulai meracik pemikiran dan keyakinan sesat mereka yang bertentangan dari A-Z dengan akidah Islam. Keyakinan terburuk mereka di antaranya ialah bahwa Allah menitis kepada Imam mereka saat itu, hingga mereka menganggapnya sebagai Ilah.
-
Mereka juga meyakini adanya reinkarnasi arwah, alias bahwa arwah yang telah tiada, lebih-lebih arwah para imam akan hidup kembali di tubuh orang lain yang masih hidup. Mereka meyakini bahwa semua imam mereka akan kembali ke dunia setelah wafat. Di samping itu mereka juga sangat liberal dan menganggap halal semua maksiat. Mereka terang-terang menghujat sahabat, bahkan menghujat Rasulullah yang kepadanya mereka menisbatkan diri.
Di antara misi terbesar mereka ialah melakukan pembunuhan tersembunyi terhadap tokoh-tokoh Ahlussunnah wal Jama’ah di dunia Islam, dan kami akan menjelaskan betapa besar sepak terjang mereka selanjutnya.
-
Dakwah Isma’iliyah dengan segala pemikiran merusaknya pun semakin marak. Ia tersebar di tengah-tengah kaum muslimin yang bodoh dan memanfaatkan kecintaan masyarakat terhadap ahlul bait. Mereka berhasil meyakinkan sejumlah orang bodoh tadi bahwa mereka adalah anak cucu Rasul (?)! Sejumlah besar orang keturunan Persia juga terlibat dalam dakwah mereka yang menampakkan keislaman, namun menyembunyikan kemajusian.
-
Di antara orang Persi tadi adalah Husein Al Ahwazi, yang tergolong pendiri dan da’i Ismai’iliyah paling terkenal. Ia konon beraktivitas di wilayah Basrah, dan di sana ia berkenalan dengan tokoh yang sangat jahat dalam sejarah Islam, namanya Hamdan bin Asy’ats.
-
Orang terakhir ini asal usulnya masih diperselisihkan… ada yang bilang bahwa ia majusi asal Persia, namun ada yang bilang dia yahudi asal Bahrain. Hamdan bin Asy’ats lalu menjuluki dirinya dengan nama ‘Qirmith’, dan seiring dengan berjalannya waktu ia membentuk kelompok khusus yang dinisbatkan kepadanya. Kelompok ini bernama ‘Qaramithah’ yang merupakan cabang dari Isma’iliyah meski sebenarnya lebih berbahaya lagi.
-
Sekte Qaramithah meyakini bahwa harta dan wanita adalah milik bersama. Mereka menghalalkan semua kemunkaran seperti pembunuhan, perzinaan, pencurian dan merekalah yang bertindak sebagai perampas, perampok, dan penyamun. Lalu secara ikut-ikutan, seluruh penyamun dan pemberontak pun bergabung dengan mereka, hingga mereka menjadi salah satu firqah yang paling berbahaya dalam sejarah umat Islam.
-
Semua perkembangan ini –dan perkembangan-perkembangan lain yang belum dijelaskan– terjadi di paruh kedua abad 3 hijriyah. Kemudian setelah itu muncul lagi firqah-firqah besar yang masing-masing mengaku paling benar. Mereka saling berselisih dalam hal akidah, prinsip, hukum-hukum dan semuanya. Ketiga firqah tadi; yaitu Syi’ah Itsna Asyariyah, Syi’ah Ismai’iliyah, dan Syi’ah Qaramithah, sama-sama memusuhi Ahlussunnah di samping juga saling bermusuhan satu sama lain karena tidak puas dengan keyakinan pihak lain. Hal ini wajar mengingat ketiganya tumbuh dari hawa nafsu dan bid’ah dalam agama.
-
Sampai periode ini, semua firqah tadi sekedar gerakan-gerakan yang menimbulkan kekacauan dalam tubuh umat Islam, dan belum memiliki kekuasaan yang mampu mengatur jalannya sejarah. Tapi seiring berakhirnya abad ketiga hijriyah dan permulaan abad keempat, kondisi mulai berubah drastis dan menimbulkan dampak yang sangat berbahaya…
-
Konon yang paling awal mencapai kekuasaan dari ketiga firqah tadi adalah sekte Qaramithah, mengingat mereka lah yang paling ganas dan buas. Salah seorang da’i mereka yang bernama Rustum bin Husein berhasil mendirikan daulah Qaramithah di Yaman. Ia lalu menyurati orang-orang di berbagai tempat dan mengajak mereka kepada akidahnya. Bahkan suratnya ada yang sampai ke wilayah Maghrib (Maroko & sekitarnya)! Akan tetapi daulah ini segera lenyap seiring dengan munculnya Qaramithah model lain, yaitu di Jazirah Arab, tepatnya di wilayah Bahrain (Bahrain tempo dulu bukan kerajaan Bahrain yg ada sekarang, tapi mencakup sebelah timur Jazirah Arab). Di wilayah ini berdirilah daulah Qaramithah yang sangat mengancam eksistensi kaum muslimin. Mereka melakukan pembantaian terhadap jemaah haji, dan yang paling sadis di antaranya ialah serbuan mereka ke Masjidil Haram saat hari tarwiyah (8 Dzulhijjah) tahun 317 H. Di sana mereka membantai jemaah haji dalam mesjid, dan mencuri Hajar Aswad setelah menghancurkannya!
-
Mereka lalu mengirim Hajar Aswad tadi ke ibukota daulah mereka di daerah Hajar, timur jazirah Arab dan Hajar Aswad tetap berada di sana selama 22 tahun penuh, hingga akhirnya dikembalikan ke Ka’bah tahun 339 H!
-
Sedangkan sekte Isma’iliyah mendapatkan bumi maghrib sebagai lahan subur mereka. Di sana pemikiran Rustum bin Husein yang tadinya menguasai Yaman mulai berkembang. Hal itu terjadi lewat seseorang yang bernama Abu Abdillah Asy Syi’i. Kita sama-sama tahu bahwa kedua sekte alias Isma’iliyah dan Qaramithah sama-sama menganggap Isma’il bin Ja’far Ash Shadiq sebagai imam; karenanya, salah seorang cucu Maimun Al Qaddah yang bernama Ubeidullah bin Husein bin Ahmad bin Abdillah bin Maimun Al Qaddah mendapat kesempatan emas untuk mendirikan daulah di Maghrib. Ia berangkat ke Maghrib dan bersama sejumlah pengikutnya mengumumkan berdirinya daulah Isma’iliyah, lalu menjuluki dirinya dengan nama Al Mahdi. Ia mengaku sebagai imamnya ajaran Isma’iliyah, dan mengaku sebagai anak cucu Isma’il bin Ja’far Ash Shadiq, dan mengatakan bahwa imam-imam sebelumnya dari leluhurnya hingga Isma’il bin Ja’far Ash Shadiq konon bersembunyi selama ini.
-
Ia berusaha menarik simpati masyarakat dengan menamakan daulahnya dengan daulah Fathimiyah, yang secara dusta mengaku keturunan Fathimah binti Rasulillah! Padahal asal usulnya adalah Yahudi!!
-
Dakwahnya berkembang pesat memanfaatkan kebodohan dan simpati masyarakat terhadap hakikat mereka. Mereka mulai melebarkan sayap kekuasaanya hingga mencakup Afrika Utara. Mereka menyebarkan berbagai bid’ah, kemunkaran, dan caci makian terhadap sahabat. Mereka mengatakan bahwa roh-roh dapat menitis dan reinkarnasi, dsb. Ekspansi daulah ini berhasil menguasai Mesir pada tahun 359 H, lewat salah seorang panglima mereka yang bernama Jauhar As Siqilli Al Isma’iliy di masa Al Mu’izz lidienillah Al Ubeidy. Inilah nama yang tepat untuk mereka: ‘al ubeidy’, nisbat kepada Ubeidillah Al Mahdi; dan bukannya ‘al Fathimiy’!
-
Al Mu’izz lidienillah Al Ubeidy lalu masuk ke Mesir dan mendirikan kota Cairo. Ia juga menguasai mesjid Al Azhar demi menyebarkan faham Syi’ah Isma’iliyah di sana. Ia membantai ulama-ulama Ahlussunnah dan menampakkan caci makian terhadap para sahabat. Hal itu terus dilanjutkan oleh imam-imam Isma’iliyah setelahnya. Bahkan sebagian dari mereka lebih gila lagi dengan mengaku sebagai Ilah, seperti Al Haakim biamrillah. Mereka konon banyak membangun mesjid untuk menyebarkan pemikiran mereka. Mereka tetap menguasai Mesir, Syam, dan Hijaz selama dua abad, hingga kebusukan mereka akhirnya dihapus oleh Shalahuddien Al Ayyubi pada tahun 567 H, dan beliau membebaskan Mesir dari kekuasaan sekte Isma’iliyah.
-
Adapun firqah ketiga yaitu sekte Itsna Asyariyah, meskipun sarat dengan berbagai macam bid’ah, mereka relatif lebih ringan bahayanya dibanding dua firqah sebelumnya. Mereka mengaku beriman kepada Allah (?) kepada Rasul-Nya (?) dan kepada hari kebangkitan, namun membikin bid’ah-bid’ah dan kemunkaran besar yang menjijikkan dalam agama. Sebagian da’i mereka berhasil merasuki sejumlah keluarga besar di wilayah Persia dan Irak, hingga akibatnya mereka dapat mencapai kekuasaan di berbagai daerah.
-
Mereka berhasil merasuki keluarga Bani Saman yang berasal dari Persia hingga keluarga ini menjadi syi’ah, dan mereka konon menguasai banyak wilayah di Persia (Iran yg sekarang). Daulah Bani Saman ini berlangsung sejak tahun 261 H hingga 389 H, akan tetapi kesyi’ahan mereka baru nampak di awal abad keempat hijriyah kira-kira.
-
Mereka juga merasuki keluarga Bani Hamdan yang berasal dari Arab, dari kabilah Bani Tighlab yang mulanya menguasai wilayah Mosul di Irak sejak tahun 317 H hingga 369 H. Kekuasaan mereka terus berkembang hingga meliputi kota Halab (Aleppo, Suriah) pada tahun 333 hingga 392 H. Sedangkan penetrasi mereka yang paling berbahaya ialah terhadap keluarga Bani Buwaih yang berasal dari Persia. Mereka berhasil mendirikan sebuah daulah di wilayah Persia, lalu berkembang hingga akhirnya menguasai khilafah Abbasiyah tahun 334 H, dengan tetap membiarkan Khalifah Bani Abbas di pusatnya agar tidak memicu pemberontakan kaum muslimin Ahlussunnah terhadap mereka. Selama lebih dari seratus tahun penuh mereka menguasai khilafah Abbasiyah, dari tahun 334 hingga 447 H, hingga muncullah orang-orang Turki Seljuk yang bermazhab Ahlussunnah, dan menyelamatkan Irak dari kekuasaan syi’ah ini.
-
Dalam rentang waktu tersebut, kaum syi’ah menampakkan betapa besar dendam mereka terhadap ulama-ulama Ahlussunnah dan khalifah mereka. Mereka bahkan menulis caci-makian terhadap sahabat di gerbang-gerbang mesjid. Mereka bahkan mencaci Abu Bakar dan Umar secara nyata dalam khutbah-khutbah mereka, dan ini merupakan periode yang sangat menyedihkan dalam sejarah kita umat Islam.
-
Sebagaimana yang kita saksikan, abad keempat memang murni abad syi’ah. Kaum Syi’ah Buwaihiyun berhasil menguasai sejumlah wilayah Iran dan seluruh wilayah Irak. Sedangkan kaum Samaniyun menguasai Iran timur, sejumlah wilayah Afghanistan dan timur dunia Islam. Adapun Hamdaniyun menguasai wilayah antara Mosul hingga Aleppo, dan Qaramithah menguasai timur Jazirah Arab, dan kadang-kadang sampai ke Hijaz, Damaskus, dan Yaman. Adapun daulah Ubeidiyyah (yang sering disebut Fathimiyah), maka lebih liar lagi… mereka berhasil menguasai Afrika Utara bahkan mencaplok Palestina, Suriah dan Lebanon!
-
Di akhir abad keempat hijriyah, daulah Qaramithah runtuh. Lalu di pertengahan abad kelima hijriyah (th 447), daulah Bani Buwaih juga sirna. Sedangkan daulah Isma’iliyah Ubeidiyah tetap eksis hingga pertengahan abad keenam (th 567 H), dan dengan begitu dunia Islam kembali ke kuasaan Ahlussunnah di seluruh wilayahnya, meskipun dakwah kaum Syi’ah Itsna Asyariyah tetap ada di sejumlah wilayah Persia dan Irak, namun tanpa kekuasaan.
-
Kondisi tetap seperti itu hingga tahun 907 H, ketika Isma’il Ash Shafawi mendirikan daulah Syi’ah Shafawiyah Itsna Asyariyah di Iran. Istilah ’shafawiyah’ ialah nisbat kepada leluhurnya yang bernama Shafiyuddin Al Ardabiliy, seorang keturunan Persia yang wafat tahun 729 H. Daulah ini semakin melebarkan kekuasaannya, dan menjadikan kota Tabriz (yg terletak di barat laut Iran sekarang) sebagai ibukotanya. Daulah Shafawiyah terlibat perang sengit dengan tetangganya, yaitu Khilafah Turki Utsmani yang bermazhab Sunni. Kaum Shafawiyyin bahkan bersekutu dengan orang-orang Portugis untuk melawan Utsmaniyyin dan berhasil menduduki sejumlah wilayah di Irak yang semula dikuasai Utsmaniyyin. Mereka hampir berhasil menyebarkan faham syi’ah di sana, kalau saja Sultan Turki Utsmani yang bernama Saliem I berhasil mengalahkan mereka dalam sebuah pertempuran besar yang bernama Perang Jaldeiran tahun 920 H. Sultan Saliem I berhasil memukul telak mereka dan mengusir mereka dari Irak.
-
Hari-hari terus berlalu dan perseteruan berlanjut antara Shafawiyyin dan Utsmaniyyin. Sebagian besar pertempuran mereka terpusat di bumi Irak, dan hal ini berlanjut selama lebih dari dua abad. Daulah Shafawiyah berkuasa di Iran sejak tahun 907-1148 H, kemudian jatuh pada pertengahan abad ke-18 masehi, tepatnya tahun 1735. Akibatnya, Iran terpecah menjadi beberapa wilayah yang diperebutkan antara Turki Utsmani, Rusia, Afghanistan dan beberapa panglima perang bawahan Sultan Abbas III, yang merupakan Sultan terakhir daulah Shafawiyah.
Daulah Utsmaniyah pun mulai memasuki periode lemahnya… ia dikeroyok oleh kaum Eropa dan Rusia, dan hal ini mengakibatkan lemahnya kekuasaan Utsmani terhadap wilayah barat Iran. Wilayah ini silih berganti dipimpin oleh banyak pemimpin, namun mereka selalu loyal kepada orang Barat. Sesekali mereka loyal kepada Inggeris yang menguasai India dan Pakistan, sesekali kepada Perancis, dan di lain waktu kepada Rusia.
-
Pada tahun 1193 H/1779 M, Agha Muhammad Gajar mengambil alih kekuasaan di Iran. Ia berasal dari keturunan Persia dan bermazhab syi’ah meski cenderung kepada sekulerisme. Dia tidak mengajak orang kepada mazhab Itsna Asyariyah dan tidak memerintah dengan ajaran tersebut. Kekuasaan Iran silih berganti dipegang oleh anak cucunya dengan luas wilayah yang mengalami pasang-surut. Mereka konon menggunakan gelar ‘Shah’, hingga keluarga ini jatuh saat Reza Pahlevi mengadakan pemberontakan terhadap mereka tahun 1343 H/1925 M.
-
Reza Pahlevi lalu mengumumkan dirinya sebagai Shah Iran atas bantuan Inggeris. Akan tetapi Inggeris lalu menjatuhkannya tahun 1941 M karena perselisihan di antara mereka. Inggeris mencopotnya dan menggantinya dengan puteranya yang bernama Muhamad Reza Pahlevi, yang menjadi penguasa sekuler Iran hingga tahun 1399 H/1979 M. Setelah itu bangkitlah Revolusi Syi’ah Itsna Asyariyah yang dipimpin oleh Khomeini untuk mengembalikan kekuasaan syi’ah di wilayah Persia (Iran).
-
Demikianlah kisah kekuasaan syi’ah atas dunia Islam sejak munculnya firqah-firqah syi’ah hingga zaman kita sekarang. Dari ini semua, jelaslah bagi kita bahwa gerakan-gerakan syi’ah seluruhnya muncul dalam bentuk pemberontakan dan konfrontasi terhadap pemerintahan Sunni. Mereka selalu memakai ‘baju agama’ dengan mengaku cinta kepada ahlul bait atau mengaku keturunan ahlul bait. Kita juga menyaksikan bahwa dalam seluruh periode tadi tidak pernah sekalipun terjadi pertempuran antara firqah-firqah syi’ah tadi dengan musuh-musuh Islam; baik terhadap kaum Salibis Rusia, Inggeris, Perancis dan Portugis, maupun terhadap kaum Tartar (Mongol) dan lainnya. Akan tetapi yang kita saksikan adalah kerjasama nyata yang terjadi berulang kali antara syi’ah dengan musuh-musuh Islam sepanjang sejarah.
-
Pun demikian, kita tidak menyalahkan generasi yang sekarang akibat kesalahan leluhur mereka, namun kita mendiskusikan akidah, pemikiran, dan manhaj mereka yang sama persis dengan akidah, pemikiran, dan manhaj leluhur mereka. Inilah problem utama dan akar masalahnya… Selama mereka semua meyakini bahwa kepemimpinan harus dipegang oleh keturunan tertentu, dan meyakini bahwa Imam-imam mereka itu ma’shum, dan menghujat Abu Bakar, Umar, Utsman dan seluruh sahabat beserta ummahatul mu’minin… selama itu semua masih mereka lakukan, maka kita tidak boleh berprasangka baik kepada mereka. Akan tetapi kita mesti mengatakan bahwa anak cucu masih mengikuti ajaran leluhurnya…
-
Menurut Anda, bagaimana sikap kita terhadap syi’ah? Bagaimana kita harus bermuamalah dengan mereka? Adakah sebaiknya kita diamkan mereka atau kita jelaskan apa adanya? Apakah sebaiknya kita acuhkan masalah ini ataukah kita pelajari? Inilah yang akan kita bahas dalam tulisan berikutnya…
-
Semoga Allah memuliakan Islam dan kaum muslimin…
-
***
-
Penulis: Dr. Ragheb Sirjani
Penerjemah: Abo Hozaifah Al Atsary
-
dicopy dari:
www.muslim.or.id
-
http://muslim.or.id/manhaj/hegemoni-syiah.html

===

Bid’ah lebih disukai iblis daripada maksiat ?!

Kita memaklumi bahwa kemaksiatan yang paling besar setelah dosa kufur dan syirik adalah kebid’ahan di dalam agama. Sebuah kemaksiatan yang paling dicintai dan disukai oleh iblis. Hal ini ditegaskan oleh Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu: “Sesungguhnya kebid’ahan amat sangat disenangi oleh iblis daripada perbuatan maksiat. Karena (orang yang melakukan) perbuatan bid’ah tidak akan (kecil kemungkinan) bertaubat darinya. Sedangkan kemaksiatan akan (memungkinkan pelakunya) bertaubat darinya.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu menjelaskan, makna pernyataan bahwa kebid’ahan tidak akan diberi taubat, karena seorang mubtadi’ (ahli bid’ah) menjadikan sesuatu yang tidak pernah disyariatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya sebagai agama. Dan kebid’ahan itu telah dihiasi dengan kejelekan amalannya sehingga nampaknya baik. Tentunya dia tidak akan bertaubat selama dia menganggap perbuatannya adalah baik, karena awal dari pintu bertaubat adalah mengetahui tentang kejelekan tersebut.” (At-Tuhfatul ‘Iraqiyyah, hal. 7)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan dari perbuatan yang disukai iblis ini sebelum terjadinya, dalam banyak sabdanya. Di antaranya:
وَإِيَّاكُمْ وُمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Dan berhati-hatilah kalian dari perkara-perkara baru dalam agama, dan setiap perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah dan setiap kebid’ahan itu sesat.” (HR. Abu Dawud no. 4607 dan At-Tirmidzi no. 2678 dan selain beliau berdua dari sahabat ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu. Dan disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam khutbatul hajah dalam riwayat Al-Imam Muslim dari sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu)

Tentang pelakunya, beliau telah memperingatkan dengan tegas dan keras sebagaimana ucapan beliau tentang Khawarij. Dalam sebuah kesempatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Dari keturunan orang ini muncul suatu kaum yang mereka membaca Al-Qur`an namun tidak sampai tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana keluarnya anak panah dari sasarannya. Mereka membunuh orang-orang Islam dan membiarkan para penyembah berhala. Jika saya menjumpai mereka, akan saya perangi mereka sebagaimana Allah memerangi kaum ‘Ad.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu)

Dalam kesempatan yang lain beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Di mana saja kalian menjumpai mereka maka bunuhlah mereka, karena membunuh mereka mendapatkan pahala bagi pembunuhnya pada hari kiamat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat ‘Ali radhiyallahu ‘anhu)

Juga sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa membunuh mereka maka dialah orang yang paling utama di sisi Allah.” (HR. Abu Dawud no. 4765 dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu dan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)

Dalam kesempatan yang lain beliau bersabda: “Berbahagialah orang yang membunuh mereka dan terbunuh oleh mereka.” (HR. Abu Dawud no. 4765 dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu)

Dalam kesempatan yang lain beliau bersabda: “(Mereka adalah) sejelek-jelek orang yang terbunuh di bawah kolong langit.” (HR. Ahmad no. 19172 dari sahabat Abdullah bin Abi Aufa radhiyallahu ‘anhu)

Tidak termasuk seorang yang benar imannya jika dia menganggap banyak perkara syariat yang belum disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak termasuk berjalan di atas jalan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika kita bergandengan tangan dengan ahli bid’ah dan duduk bersamanya dalam satu majelis.

Para ulama salaf telah mengajarkan kita sikap bergaul yang baik dengan ahli bid’ah.

Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu berkata: “Barangsiapa mendengar ucapan ahli bid’ah maka dia telah keluar dari pemeliharaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dia dilimpahkan kepada kebid’ahan tersebut.”

Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullahu berkata: “Barangsiapa duduk bersama ahli bid’ah maka dia tidak akan diberikan hikmah.”

Beliau juga berkata: “Jangan kalian duduk bersama ahli bid’ah karena aku takut laknat menimpamu.“

Beliau berkata pula: “Barangsiapa mencintai ahli bid’ah maka telah batal amalannya dan telah keluar cahaya Islam dari dalam hatinya.”

Beliau berkata juga: “Barangsiapa yang duduk bersama ahli bid’ah di sebuah jalan (dan kamu lewat di majelis tersebut) maka hendaklah kamu mengambil jalan yang lain.”

Beliau juga berkata: “Barangsiapa memuliakan ahli bid’ah berarti dia telah membantunya untuk menghancurkan Islam. Barangsiapa memberikan senyumnya kepada ahli bid’ah maka sungguh dia telah menyepelekan apa yang diturunkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Barangsiapa yang menikahkan anaknya bersama ahli bid’ah maka sungguh dia telah memutuskan hubungan kekeluargaan. Dan barangsiapa yang mengikuti jenazah ahli bid’ah maka dia terus berada dalam murka Allah Subhanahu wa Ta’ala sampai dia kembali.”

Bahkan beliau berkata: “Aku bisa saja makan bersama seorang Yahudi dan Nasrani, namun aku tidak akan makan bersama ahli bid’ah. Aku senang bila ada benteng dari besi antara diriku dengan ahli bida’h.” (Lihat Syarhus Sunnah, Al-Imam Al-Barbahari rahimahullahu hal. 137-139)
Adapun mereka yang terjatuh dalam kebid’ahan dalam keadaan tidak mengetahui itu adalah sebuah kebid’ahan dalam agama, kita berharap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan hidayah kepada mereka dan memaafkan kesalahan mereka. Sikap kita kepada mereka adalah sebagaimana sikap kita terhadap orang yang awam, yang butuh diselamatkan dan diajak kepada jalan yang benar.

Terkadang seseorang tergiur dengan sebuah penampilan sunnah seperti pakaian sunnah, jenggot sunnah, ‘imamah sunnah, dan sebagainya. Namun apalah artinya jika engkau menampilkan sunnah sementara engkau tidak berjalan di atas jalan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Engkau tidak beraqidah di atas aqidah beliau, engkau tidak beribadah sesuai dengan tuntunan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sebagainya. Butuh alat pembanding dan penilai, itulah kebenaran. Oleh karena itu “kenalilah kebenaran, engkau akan mengenal pemeluk kebenaran.” Wallahu a‘lam bish-­shawab.
 

 Penulis : Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah
 Judul asli: Saudaraku, Koreksilah Pergaulanmu
 sumber: www.asysyariah.com

MENGENAL PERAWI SYIAH

MENGENAL PERAWI SYIAH

Contoh kasus : Zurarah bin A’yun

Muhammad Abdurrahman

Riwayat yang datang dari para imam sangat banyak jumlahnya, maka kita memerlukan penelitian guna membedakan antara yang sahih dan cacat. Kita harus meneliti mana yang benar-benar perkataan para imam dan mana yang bukan. Mengapa tidak? Mereka juga berdusta atas nama Penghulu para imam, yaitu Muhammad saw, oleh karena itu maka berdusta atas nama para imam sangat mungkin terjadi.

Untuk itu disini kami paparkan salah satu gambaran perawi mereka yang paling terkenal dan masyhur, kita lihat sejauh mana kedudukan dan posisinya dikalangan syiah. Dia adalah Zurarah, siapa sebenarnya Zurarah ???

Dia adalah Zurarah ibn A’yun ibn Sansan, kunyahnya adalah Abul Hasan dan juga Abu Ali. Sanan adalah seorang budak orang Romawi, sebagaimana di kalatakan dalam Fahrasat karya ath Thusiy hal. 104.

Zurarah telah banyak meriwayatkan riwayat-riwayat yang jumlahnya mencapai 2094 sebagaimana disebutkan dalam Mu’jamul Hadits juz. 8 hal 254. Oleh karena itu dia diberi gelar “Gudang Hadits Para Imam” sebagaimana disebutkan dalam Rijal Haulal Ahlul Bait juz 2 hal. 94.

Zurarah juga banyak dikuatkan oleh masyayikh kalangan syiah diantaranya adalah ath Thusiy, an Najasyi, Ibnu Mutohhar dan yang lainnya.

Akan tetapi hal yang aneh tersembunyi dibalik sosok Zurarah yang terkenal itu, Dia yang terkenal banyak meriwayatkan hadits, dikuatkan para ulama, riwayatnya banyak dijadikan sandaran ternyata telah di anggap lemah. Misalnya apa yang dikatakan Sufyan Atsauri dalam Lisanul Mizan (juz 2, hal 474) tentang Zurarah :” Dia tidak pernah bertemu Abu Ja’far”, dan ketika dikatakan kepadanya Zurarah meriwayatkan dari Ja’far, dia berkata :”Zurarah tidak pernah melihat Abu Ja’far dia hanya menulis ucapannya saja”.

Sebagian para ulama Syiah sekarang ini, seperti Musawi mengatakan dalam Muraja’at (hal. 313): “Saya tidak mendapatkan satu atsar yang membicarakan tentang Zurarah ibn A’yun, Muhammad ibn Salim dan Mukmin Thoq dan yang semisalnya. Meskipun saya telah membolak-balik dan mengkajinya dengan teliti. Hal itu tidak lain hanyalah kebohongan dan kezaliman semata. Hal ini menunjukkan pembelaan terhadap Zurarah.

Saya berusaha untuk memiliki prasangka yang baik dengan mengatakan: “Mungkin dia belum pernah menemukan riwayat itu walaupun telah mencari dengan susah payah Saya sendiri telah menemukan ada kurang lebih 36 hadits yang disebutkan oleh penulis Mu’jamu Rijal al hadits, dan sebagian dianggap lemah”.

Pada tempat yang lain dia juga mengemukakan alasan, dan sebagian lain hanya dikomentari dengan komentar yang sifatnya umum atau mengatakan bahwa Zuroroh berbuat/berkata seperti itu hanya untuk taqiyyah. Untuk itu saya bermaksud memaparkan sebagaian hadits/riwayat tersebut yang berasal dari imam yang mereka yakini memiliki sifat ma’shum. Kemudian akan saya beri catatan komentar dan saya persilahkan anda untuk memperhatikan dan mengambil kesimpulan sendiri. Semoga Allah memberikan taufiq, hidayah dan kebenaran kepada kita semua dan menyelamtkan dari hawa nafsu dan mengikuti syahwat .

RIWAYAT PERTAMA,

Kisyi meriwayatkan dari Zurarah bahwasanya dia berkata : “Saya bertanya kepada Abu Abdillah r.a tentang tasyahud….saya berkata : “Attahiyatwash sholawat….kemudian saya bertanya tentang bulan, maka dia menjawab dengan jawaban yang sama yaitu: “At Tahiyyat wash sholawat”. Dan ketika saya keluar maka saya kentut pada jenggotnya. Kemudian saya berkata : “Dia tidak akan beruntung selamanya”. (dalam Ma’rifatu Akhbarir Rijal hal 106)[1]

Penghinaan mana yang lebih besar dari hal ini, setiap orang akan merasa dihinakan dengan perlakuan ini, bagaiamana halnya dengan seorang Imam seperti Ja’far Shodiq. Barangkali perkataan ini muncul dari diri Zurarah sendiri, adapun keberanian berbuat seperti itu tidak akan pernah ditemukan selain pada dirinya. Riwayat ini cukuplah sebagai bukti dengan sendirinya dan akal pun akan bisa menilainya.

RIWAYAT KEDUA,

Wahai pembaca yang budiman jangan heran terhadap penuturan diatas. Riwayat berikut merupakan riwayat yang benar berasal dari Imam Ja’far. Ziad ibn Abi Halal meriwayatkan, bahwasanya dia berkata : “Saya bertanya kepada Abu Abdullah : “Sesungguhnya Zurarah meriwayatkan tentang “istithoah(mampu)” dari kamu suatu hal, kemudian kami terima riwayat itu dan kami benarkan. Disini kami ingin menanyakan kembali kepada anda. Maka Abu Abdillah berkata :” Ya”. Saya berkata : “Dia mengklaim bahwasanya dia pernah bertanya kepada mu tentang fiman Allah : “Dan diwajibkan bagi manusia untuk menunaikan ibadah hajji, bagi siapa saja yang mempunyai kemampuan”. Kemudian kamu menjawab : “Bagi siapa saja yang memiliki bekal dan kendaraan”. Maka dia berkata kepadanya : “Siapa saja yang memiliki harta dan kendaraan berarti dia mampu untuk mengerjakan haji, meskipuin dia tidak pergi haji ? Maka anda menjawab : “Ya”

Maka Abu Abdullah berkata : “Bukan demikan dia bertanya dan juga bukan demikian saya menjawab, demi Allah dia telah berdusta kepadaku, demi Allah semoga Allah melaknat Zurarah, Zurarah terlaknat, semoga Allah melaknat Zurarah. Sesungguhnya apa yang sebenarnya dia katakan adalah : “Barang siapa yang memiliki harta dan kendaraan, apakah dia dikatagorikan mampu menunaikan haji? Saya menjawab : “Telah wajib baginya”. Dia berkata : “Apakah dia mampu ?”, Maka saya berkata : “Tidak sehingga diijinkan”. [2]

Abu Abdillah berkata : “Beritahukan hal ini kepada Zurarah!” Maka ketika kami datang di Kufah dan kami bertemu dengan Zurarah, saya beritahukan kepadanya yang telah dikatakan Abu Abdullah dan dia pun tidak bereaksi dengan ucapan laknat Abu Abdullah. Dia berkata: “Dia memberi pengertian “istitho’ah” dengan sesuatu yang tidak bisa difahami”. Sesungguhnya Abu Abdillah adalah orang yang tidak begitu faham akan orang lain “.

Riwayat ini di nukilkan oleh Kasyi sebagaimana disebutkan Kho’ui dalam Mu’jamur Rijalil Hadits ( juz. 8, hal. 236-247) dan tidak ada komentar tentangnya.

Tidak diragukan bagi anda sekalian, bahwa laknat adalah diusir dan dijauhkan dari rahmat Allah, Laknat ini pun keluar dari -yang menurut aqidah syiah- orang yang mereka anggap ma’shum. Dengan demikian apakah kiranya orang yang sudah dilaknat oleh imamnya akan masih diterima dan riwayatnya dianggap kuat? Ada yang mengatakan hal ini adalah taqiyah, bentuk perlindungan Abu Abdillah kepada Zurarah, sebagaimana dikatakan sebagian ulama syiah. Akan tetapi bukankah yang menjadi lawan bicara Abdullah adalah juga seorang syiah, untuk kepentingan apa Abu Abdillah mengadakan taqiyah???? Zaid bin Halal dianggap tsiqoh oleh Najasyi, untuk apa Abu Abdillah bertaqiyyah?

Jika memang benar itu untuk taqiyyah, lalu apa alasan Zurarah mencela Abu Abdillah dan mengatakan dia tidak faham omongan orang? Perhatikanlah wahai pembaca, jika anda membaca dan meneliti riwayat-riwayat syiah maka anda akan menemukan kontradiksi yang mengherankan.

Kemudian sebagian ulama syiah mengatakan : “Bahwa ketika Imam mencela Zurarah tujuannya adalah untuk membela dan menjaganya dari aniaya musuh”. Hal ini diriwayatkan oleh Abdullah ibn Zurarah. Dan tidak disangsikan lagi bahwa riwayat anak yang tujuannya mengadakan pembelaan terhadap bapaknya, adalah riwayat yang cacat.

RIWAYAT KETIGA ,

Kisyi menukilkan sebuah riwayat yang disebutkan pengarang kitab Mu’jamu Rijalil Hadits (juz.8, hal 234) setelah menyebutkan urutan sanad dari Zurarah berkata : “Berkata kepadaku Abu Ja’far: “Ceritakan tentang Bani Israel maka (hal itu)tidak apa-apa”. Saya berkata : “Demi Allah sesungguhnya dalam hadits syiah ada kisah-kisah yang lebih aneh dari kisah Bani Israel” Berkata : “tentang hal apa wahai Zurarah?”. Berkata rowi : “maka hatiku seperti tercuri, sehingga aku berdiam untuk beberapa waktu dan aku tidak mengetahui apa yang aku maksudkan”. Kemudian dia berkata :” Barangkali yang anda maksudkan adalah masalah ghaibah”. Saya berkata : “Ya”. Berkata : “percayalah pada hal itu karena itu merupakan kebenaran”.

Bukankah riwayat ini menunjukkan keraguan yang ada pada diri Zurarah terhadap akidah tentang ghaibah. Seolah-olah dia belum yakin dengannya. Padahal soal aqidah tidak boleh ada keraguan didalamnya. Dan bagaimana mungkin keraguan datang dari seorang yang merupakan gudangnya hadits para imam?

RIWAYAT KEEMPAT,

Disebutkan oleh Khou’i dalam Mu’jamul Rijalil Hadits (juz 8 hal. 243-244) setelah menyandarkan sanadnya kepada Isa ibn Abi Manshur dan Abi Usamah Asyahham dan Ya’kub ibn Ahmar (semuanya) berkata: “Kami sedang duduk-duduk bersama Abu Abdillah, kemudian masuklah Zurarah dan berkata: ” Sesungguhnya Hakam ibn ‘Ayyinah menceritakan dari bapakmu bahwasanya dia berkata : “Sholatlah maghrib sebelum sampai di Muzdalifah”, Maka berkata Abu Abdillah: “setelah saya ingat-ingat, bapakku tidak mengatakan demikian, Hakam telah berdusta kepada bapakku. Maka keluarlah Zurarah sambil berkata: “menurut saya Hakam tidak berdusta pada bapaknya(abu Abdillah)”

Perhatikanlah perkataan Zurarah, bagaimana mendustakan Imam yang ma’shum dan menganggapnya salah hanya karena perkataan imam tadi berbeda dengan perkataannya. Dan bagaimana mungkin orang semacam ini dipercaya ?

RIWAYAT KELIMA,

Dalam Mu’jam Rijal ul Hadits disebutkan ( juz8, hal 239) Kisyi menukilkan dari Jamil ibn Darraj dan yang lainnya bahawasanya dia berkata: “Zurarah mengutus anaknya yang bernama Ubaid ke Madinah guna mencari berita tentang Abil Hasan dan Abdullah ibn Abi Abdillah. Akan tetapi anaknya meninggal dunia sebelum pulang sampai ke rumahnya”.

Maha Suci Allah, seorang Nara sumber hadits tidak mengetahui Imam zamannya padahal dia termasuk orang yang paling dekat dengan bapaknya ? Dan pantaskah kalau dia lupa terhadap orang yang sudah jelas di nashkan keimamahannya dan diturunkan wahyu tentang keimamahannya???.

Ada yang mengatakan bahwa sebenarnya dia sudah mengetahui Imam pada masa itu akan tetapi dia mengirim anaknya untuk mengenal lebih dekat dan dengan alasan taqiyah. Bukahkah hal ini bertentangan dengan perkataannnya sendiri ketikan mengatakan: “Untuk mencari berita tentang Abul Hasan dan Abdullah ibn Abi Abdullah, siapakah diantara keduanya yang menjadi imam???. Maka kita dapati perkataan para imam syiah banyak bertentangan dengan hadits yang mereka sendiri menganggapnya sahih, seperti riwayat ini. …….

Pembaca yang budiman, ini adalah sebagaian riwayat yang hanya saya sebutkan sebagian saja supaya tidak terlalu panjang. Akan tetapi saya sangat terheran-heran ketika saya mendapatkan komentar tentang sebagian riwayat yang mencela Zurarah. Kita dapati disana sebagaian riwayat akan dianggap lemah padahal di buku lain perawinya dianggap kuat oleh sebagian ulama syiah lainnya, seperti Muhammad ibn Isa ibn Ubaid. Dan apabila Muhammad ibn Isa kebetulan meriwayatkan satu ahal yang berisi celaan terhadap Zurarah, maka mereka lemahkan. Sebaliknya apabila meriwayatkan satu riwayat yang mengandung pujian terhadap Zurarah maka mereka bersedia menggunakan Muhammad ibn Isa. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Hawil Aqwal fii ma’rifatir Rijal (juz.1 hal 393) ketika memuji Zurarah dalam satu riwayat dari Abi Abdullah.

Pembaca budiman, ini adalah sebagaian riwayat yang kami paparkan kepada anda. Saya menunggu komentar dan kajian anda dengan kajian yang teliti. Seandainya anda benar, maka itu adalah dari Allah, akan tetapi jika salah itu berasal dari itu adalah dari diriku dan dari setan. Dan jangan sekali-kali menggunakan pandangan orang yang taklid, akan tetapi gunakan akalmu, sehingga kita bisa mengatakan bahwa ini adalah salah dan itu adalah benar. Sehingga kita bisa lebih banyak mendapatkan kesepakatan. Dan semoga Allah menunjukkan kita kepada seluruh jalan menuju kebaikan dan kebenaran. Amin

[1] Inilah akhlak perawi utama “mazhab ahlul bait”. Jika perbuatan ini dilakukan oleh orang sunii, maka dia akan dikutuk oleh Syi’ah hingga hari kiamat, karena telah melakukan penghinaan terhadap Ahlul bait. Tapi karena yang berbuat di sini adalah “teman sendiri” maka tidak apa apa, malah riwayatnya dijadikan pedoman.

[2] Menurut Syiah, para imam adalah maksum, terbebas dari kesalahan. Sementara Imam telah mengutuk Zurarah, mestinya kaum syiah merasa malu karena nama orang ini menghiasi buku yang paling sohih bagi Syiah, yaitu Al Kafi. Tapi, lagi-lagi karena Zurarah adalah “teman semazhab”, maka tidak mengapa.

sumber: http://www.hakekat.com

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 299 pengikut lainnya.