• Blog Stats

    • 37,732,419 hits
  • pacaran adalah perbuatan haram, maka janganlah berpacaran. Dan jangan mau jika diajak pacaran. Akan tetapi tempuhlah jalan yang halal jika memang benar-benar cinta dan ingin menikah. Segeralah menikah dan jangan berpacaran. ================================== dan janganlah kamu mendekati zina. sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk. [QS Al Isra':32] ==================================== JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA ====================================== Asy-Sya’bi berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah)
  • arsip artikel

  • wasiat untuk seluruh umat manusia

    kasihilah semua makhluk yang ada di muka bumi, niscaya Tuhan yang ada di atas langit akan mengasihimu.. =============================================== Cara mengasihi orang kafir diantaranya adalah dengan mengajak mereka masuk islam agar mereka selamat dari api neraka =============================================== wahai manusia, islamlah agar kalian selamat.... ======================================================
  • wasiat untuk seluruh umat islam

    ====================================== “Janganlah kamu saling dengki, saling membenci, saling mengintip rahasia, saling bersaing, saling mencari keburukan, saling menawar lebih tinggi untuk menipu pembeli sehingga menawar tinggi, saling memutuskan hubungan, saling bermusuhan, janganlah sebagian kalian menjual atas jualan yang lain. Jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang diperintahkan Allah. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh menganiaya, tidak boleh menelantarkannya dan tidak boleh menghinanya. ============================================= Taqwa ada di sini, taqwa ada di sini, taqwa ada di sini kata Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam sambil menunjuk dadanya. ================================================= Cukuplah merupakan kejelekan seseorang apabila menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain adalah haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. Hati-hatilah bersangka buruk, karena sesungguhnya bersangka buruk adalah omongan yang paling dusta. ==================================================== Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk kamu dan hartamu, tetapi ia melihat hati dan perbuatanmu.” (riwayat Muslim dan Bukhari). ==========================================
  • BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR

    BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- -------------------------------------------------------------------------------------------- Orang yang mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi janda dan orang miskin ibarat berjihad di jalan Allah dan ibarat orang shalat malam (HR. Bukhari) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain. (HR. Ahmad) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersodaqoh dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana. (HR. Ath-Thabrani) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sodaqoh. (HR. Al-Baihaqi) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Tiap-tiap amalan makruf (kebajikan) adalah sodaqoh. Sesungguhnya di antara amalan makruf ialah berjumpa kawan dengan wajah ceria (senyum) dan mengurangi isi embermu untuk diisikan ke mangkuk kawanmu. (HR. Ahmad) ------------------------------------------------------------------------------------------------------------
  • berbuat baiklah pada semua binatang, termasuk kepada anjing

    Kita tidak diperbolehkan menyiksa binatang dengan cara apa pun, atau membuatnya kelaparan, memukulinya, membebaninya dengan sesuatu yang ia tidak mampu, menyiksa atau membakarnnya. --------------------------------------------------- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Seorang wanita masuk neraka karena seekor kucing yang ia kurung hingga mati. Maka dari itu ia masuk neraka gara-gara kucing tersebut disebabkan dia tidak memberinya makan dan tidak pula memberinya minum di saat mengurung nya, dan dia tidak membiarkannya (melepaskannya) supaya memakan serangga di bumi.” (HR. al-Bukhari) ------------------------------------------------------- Dan ketika beliau melewati sarang semut yang telah dibakar, beliau bersabda, “Sesungguhnya tidak ada yang berhak menyiksa dengan api selain Rabb (Tuhan) pemilik api.” (HR. Abu Dawud, hadits shahih) ---------------------------------------------- “Barangsiapa yang tidak berbelas kasih niscaya tidak akan dibelaskasihi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) ------------------------------------------------- “Kasihanilah siapa saja yang ada di bumi ini, niscaya kalian akan dikasihani oleh yang ada di langit.” (HR. at-Tirmidzi) -------------------------------------------------- Dibolehkan membunuh hewan-hewan yang membahayakan atau mengganggu seperti anjing buas, serigala, ular, kalajengking, tikus dan lain-lain karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Ada lima macam hewan fasik (buruk) yang boleh dibunuh di waktu halal (tidak ihram) dan di waktu ihram, yaitu ular, burung gagak yang putih punggung dan perutnya, tikus, anjing buas, dan rajawali.” (HR. Muslim). Juga terdapat hadits shahih yang membolehkan untuk membunuh kalajengking. ================================================
  • JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA

    ====================================== ‘Amr bin Syarahil Asy-Sya’bi rahimahullahu berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah, 2/636. Dihasankan oleh Al-Albani dalam At-Tahrim, hal. 148) ----------------------------------------------------------------------------- Ibnu Abdil Barr rahimahullahu berkata: “Termasuk hasil usaha yang disepakati keharamannya adalah riba, upah para pelacur, sogokan (suap), mengambil upah atas meratapi (mayit), nyanyian, perdukunan, mengaku mengetahui perkara gaib dan berita langit, hasil seruling dan segala permainan batil.” (Al-Kafi hal. 191) ---------------------------------------------------------------------- Ath-Thabari rahimahullahu berkata: “Telah sepakat para ulama di berbagai negeri tentang dibenci dan terlarangnya nyanyian.” (Tafsir Al-Qurthubi, 14/56) ------------------------------------------------------------------- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “Mazhab empat imam menyatakan bahwa alat-alat musik semuanya haram.” Lalu beliau menyebutkan hadits riwayat Al-Bukhari rahimahullahu . (Majmu’ Fatawa, 11/576) --------------------------------------------------------------- ------------------------------------------
  • wasiat bagi para pemuda

    ====================================== ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Barangsiapa di antara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya mereka adalah ummat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, dan paling lurus petunjuknya, serta paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya, karena mereka berada di jalan yang lurus.” [Dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Baar dalam kitabnya Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih II/947 no. 1810, tahqiq Abul Asybal Samir az-Zuhairy] ======================================
  • wasiat Imam al-Auza’i

    ====================================== Imam al-Auza’i rahimahullah (wafat th. 157 H) mengatakan: “Bersabarlah dirimu di atas Sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para Shahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan Salafush Shalih, karena akan mencukupi kamu apa saja yang mencukupi mereka.” [Syarh Ushul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah 1/174 no. 315] --------------------------------------------------------------- Beliau rahimahullah juga berkata: “Hendaklah kamu berpegang kepada atsar Salafush Shalih meskipun orang-orang menolaknya dan jauhkanlah diri kamu dari pendapat orang meskipun ia hiasi pendapatnya dengan perkataannya yang indah.” [Imam al-Aajury dalam as-Syari’ah I/445 no. 127, di-shahih-kan oleh al-Albany dalam Mukhtashar al-‘Uluw lil Imam adz-Dzahaby hal. 138, Siyar A’laam an-Nubalaa’ VII/120] =================================================
  • Mengutip perkataan Syaikh Bin Baz rahimahullaahu

    “Zaman ini adalah zaman kelembutan, kesabaran dan hikmah, bukanlah zaman kekerasan (kebengisan). Mayoritas manusia saat ini dalam keadaan jahil (bodoh), lalai dan lebih mementingkan duniawiyah. Maka haruslah sabar dan lemah lembut sampai dakwah ini tersampaikan dan sampai mereka mengetahuinya. Kami mohon petunjuk kepada Alloh untuk semuanya.” (Majmu’ Fatawa Samahatul Imam Ibnu Bazz (Juz VIII, hal 376) dan (Juz X, hal. 91) =================================================
  • jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara

    ====================================== Segala puji hanyalah milik Alloh yang telah mempertautkan hati kaum mukminin dan menganjurkan mereka supaya bersatu padu dan saling berhimpun serta memperingatkan dari perpecahan dan perselisihan. -------------------------------------------------------- Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq untuk disembah melainkan hanyalah Alloh semata yang tidak memiliki sekutu. Dialah yang mensyariatkan dan memudahkan, dan Dia terhadap kaum mukminin adalah sangat penyantun. ------------------------------------------------------ Saya juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang diperintahkan dengan kemudahan dan berita gembira. ----------------------------------------------------- Beliau bersabda : Permudahlah dan janganlah kamu persulit, berikanlah kabar gembira dan janganlah membuat orang lari (dari kebenaran). ------------------------------------------------------ Permisalan kaum mukminin satu dengan lainnya dalam hal kasih sayang, tolong menolong dan kecintaan, bagaikan tubuh yang satu, jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan merasa demam atau terjaga” --------------------------------------------------- Tidak ragu lagi, bahwa kewajiban Ahlus Sunnah di setiap zaman dan tempat adalah saling bersatu dan menyayangi di antara mereka serta saling bekerja sama di dalam kebajikan dan ketakwaan… ==================================================---------------
  • KHUTBATUL HAJAH

    ====================================== Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, dan meminta ampun kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami, dan dari keburukan-keburukan perbuatan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah saja, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. ================================================ “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” ================================================== “Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan darinya Allah menciptakan isterinya; dan dari keduanya Allah mengembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silatur rahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” ========================================================= “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mena’ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. ============================================================ Amma ba’du; Maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad , dan seburuk-buruk perkara dalam agama adalah yang di ada-adakan, setiap yang diada-adakan (dalam urusan agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan. (HR. Muslim, an-Nasa’i dan selain keduanya) ==================================================
  • Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka (al baqarah ayat 120)

  • SALAFY & WAHABI BUKANLAH ALIRAN SESAT

    Al-Malik Abdul Aziz berkata : “Aku adalah penyeru kepada aqidah Salafush Shalih, dan aqidah Salafush Shalih adalah berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang datang dari Khulafaur Rasyidin” [Al-Wajiz Fi Siratil Malik Abdul Aziz hal.216] ------------------------------------------------------------------------------------- Beliau juga berkata : “Mereka menamakan kami Wahabiyyin, dan menamakan madzhab kami adalah madzhab wahabi yang dianggap sebagai madzhab yang baru. Ini adalah kesalahan fatal, yang timbul dari propaganda-propaganda dusta yang disebarkan oleh musuh-musuh Islam. Kami bukanlah pemilik madzhab baru atau aqidah baru. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tidak pernah mendatangkan sesuatu yang baru, aqidah kami adalah aqidah Salafush Shalih yang datang di dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang ditempuh oleh Salafush Shalih. Kami menghormati imam empat, tidak ada perbedaan di sisi kami antara para imam : Malik, Syafi’i, Ahmad dan Abu Hanifah, semuanya terhormat dalam pandangan kami” [Al-Wajiz Fi Siratil Malik Abdul Aziz, hal. 217] ---------------------------------------------------------
  • mengutip perkataan Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad hafizhahullaahu:

    “Telah terjadi di zaman ini, sibuknya sebagian ahlus sunnah dengan sebagian lainnya dengan tajrih (saling mencela) dan tahdzir, dan implikasi dari hal ini menyebabkan terjadinya perpecahan, perselisihan dan saling mengisolir. Padahal sepantasnya bahkan seharusnya bagi mereka untuk saling mencintai dan berkasih sayang terhadap sesama mereka, dan menyatukan barisan mereka di dalam menghadapi ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu yang menyelisihi ahlus sunnah wal jama’ah. ---------------------------------------------------- “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- agar menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dari perkara-perkara yang tidak bermanfaat bagi mereka, sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “diantara kebaikan seorang muslim adalah meninggalkan hal-hal yang tidak berfaidah baginya.” Hadits hasan diriwayatkan oleh Turmudzi.” ------------------------------------------------------ “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- untuk bersikap pertengahan dan moderat, diantara sikap ghuluw (ekstrim) dan meremehkan, dan diantara sikap ifrath (berlebih-lebihan) dan tafrith (menggampangkan). Sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “Jauhilah oleh kalian sikap ghuluw di dalam agama, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa dikarenakan sikap ghuluw mereka di dalam agama.” Ini hadits shahih, dikeluarkan oleh an-Nasa’i dan selainnya.” ---------------------------------------------------- “Dan aku nasehatkan supaya mereka berhati-hati dari sikap zhalim, dikarenakan hadits Qudsi, “Wahai hamba-Ku, sesunguhnya Aku haramkan kezhaliman atas diri-Ku, maka aku jadikan pula haram atas diri kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi” diriwayatkan oleh Muslim, dan hadits Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “takutlah kalian dari kezhaliman, karena sesungguhnya kezhaliman itu adalah kegelapan di hari kiamat” diriwayatkan oleh Muslim. ------------------------------------------------------ Aku memohon kepada Allah Azza wa Jalla untuk menunjuki seluruh ummat kepada apa yang diridhai-Nya, agar mereka mendalami agama Islam (tafaqquh fid din) dan menetapi kebenaran, serta agar mereka menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dan menjauhkan dari apa-apa yang tidak bermanfaat. Sesungguhnya Ia berkuasa dan berkemampuan atasnya. Semoga Sholawat dan Salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya dan para sahabatnya. (selesai kutipan) ===========================================
  • mengutip perkataan Imam Albani rahimahullaahu

    “Wajib atas kita untuk berlemah lembut di dalam dakwah kita terhadap orang-orang yang menyelisihi kita, dan jadikan selalu firman Alloh Ta’ala berikut (sebagai pegangan) dan untuk selamanya : “Serulah mereka ke jalan Rabb-mu dengan hikmah dan nasehat yang baik, serta berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.” Dan mereka yang pertama lebih berhak untuk kita terapkan hikmah ini adalah mereka yang paling memusuhi kita di dalam dasar (mabda’) dan aqidah kita, hingga kita tidak menggabungkan antara beratnya dakwah yang haq yang Alloh memperteguh kita dengannya dengan beratnya cara (ushlub) kita berdakwah kepada Alloh Azza wa Jalla” ==================================================
  • Diriwayatkan bahwa Hasan Al-banna berkata: “Kami menginginkan terbentuknya sosok individu muslim, rumah tangga Islami, bangsa yang Islami, pemerintahan yang Islami, negara yang dipimpin oleh negara-negara Islam, menyatukan perpecahan kaum muslimin dan negara mereka yang terampas, kemudian membawa bendera jihad dan da’wah kepada Allah sehingga dunia mendapatkan ketentraman dengan ajaran-ajaran Islam.” ==================================================
  • warning

    dalam blog ini mungkin terdapat hadits dhoif, riwayat yang tidak valid, salah tulis, kutipan yg tidak sesuai syariat islam, dan berbagai kesalahan2 lain, dan belum sempat di sensor, jadi mohon maaf sebesar-besarnya

SALING BERKASIH SAYANG ANTARA AHLUL BAYT NABI S.A.W. DENGAN SEGENAP SAHABAT RADHIYALLAHU ‘ANHUM

RUHAMAA’U BAINAHUM

(JALINAN KASIH SAYANG DI ANTARA MEREKA)

SALING BERKASIH SAYANG ANTARA AALUL BAYT NABI S.A.W. DENGAN SEGENAP SAHABAT RADHIYALLAHU ‘ANHUM

Oleh:

Shalih bin Abdul Qadir ad-Darwisy

Hakim Mahkamah Agung

al-Qathif

Po. Box 31911

Email:

Sale_d@hotmail.com

Bismillahirrahmanirrahim.

Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya dan memohon pertolong-an kepada-Nya. Kami pun berlindung kepada-Nya terhadap keburukan-keburukan hawa nafsu kami juga terhadap perbuatan-perbuatan buruk kami. Barangsiapa dikaruniai hidayah oleh Allah, niscaya ia akan berhidayah, dan barangsiapa disesatkan-Nya, niscaya tiada yang akan dapat memberinya bimbingan.

Lebih lanjut,

Sesungguhnya, Rasulullah s.a.w. adalah merupakan pemim-pin anak cucu Adam. Ini adalah hakikat syar’i yang telah di-sepakati seluruh ulama. Dan kesepakatan ini pun merupakan karunia nikmat besar atas umat Islam. Alhamdulillah. Tidak ada dasar orang-orang dari kalangan umat Islam yang melaku-kan penyelewengan dengan cara memandang unggul beberapa imam-imam tertentu melebihi Rasulullah s.a.w., baik berka-itan dengan ilmu maupun bidang-bidang lain(1). Dan riwayat-

__________

1) Di dalam kitab berjudul “Bihaaru al-Anwaar”; al-Majlisi menyusun satu bab (yang dalam bahasa Indonesia) berjudul “Bahwa para imam lebih alim dibanding para nabi”; Juz. 2; hal. 82. Baca juga Ushul al-Kaafi; juz 1; hal. 227.

riwayat seperti itu tercantum di dalam kitab-kitab. Anda bi-sa mendapati orang-orang yang mengunggul-unggulkannya atau juga melemahkannya … Yang jelas, kemuliaan Rasulullah s.a.w., kedudukan beliau, dan bahwa beliau adalah pemilik Syafaat al-Kubra (syafaat teragung), pemilik telaga (al-Haudhl), berkedudukan ting-gi baik di dunia dan juga di akhirat, ini adalah hakikat-hakikat yang tidak diingkari oleh seorang pun juga. Bahkan berkah Rasu-lullah s.a.w. tersebut juga terlimpah kepada para kerabat beliau Aalul Bayt dan juga para sahabat radhliyallahu ‘anhum.

Memang benar, kedudukan Aalul Bayt (sanak kerabat Nabi s.a.w.) itu besar sekali. Bahkan telah datang berbagai ayat-ayat al-Quran dan juga hadis-hadis mutawatir yang menegaskan hal itu. Yang demi-kian itu mencakup kepada orang-orang yang bersahabat kepada Rasu-lullah s.a.w., mencakup keturunan beliau. Disamping dijelaskan ju-ga tentang keunggulan-keunggulan serta kemuliaan mereka. Sebagai-mana diriwayatkan berkaitan para sahabat radhliyallahu ‘anhum, ma-ka Aalul Bayt (alaihimussalam) yang mana mereka sukses di dalam mendampingi Rasulullah s.a.w., maka merekalah orang-orang yang le-bih layak terkait memperoleh kemuliaan tersebut ….

Sebelumnya, pada risalah pertama telah dijelaskan hadis ten-tang nilai-nilai persahabatan dengan Rasulullah s.a.w. Sedang di dalam lembaran-lembaran kali ini, kami akan membahas tentang ja-linan kasih sayang di antara para sahabat radhliyallahu ‘anhum tersebut. Kita tidak boleh merasa jemu membicarakan tentang per-sahabatan Rasulullah s.a.w. dan keutamaan-keutamaannya. Orang-orang yang memperoleh berkah yang mana semata-mata hanya dengan beriman serta bersahabat dengan beliau, itu sudah sukses memper-oleh predikat “Sahabat“.

Terdapat kekuranglebihan berkaitan derajat masing-masing me-reka di surga penuh kenikmatan sesuai dengan amal serta kesung-guhan masing-masing bersama Sang Pemimpin para rasul. Demikian pu-la kedudukan mereka selama di dunia ini, baik dari kalangan orang-orang muhajirin, anshar, maupun orang-orang sesudah mereka. Bahkan kepada mereka semua Allah menjanjikan karunia yang baik. Allah Ta-‘ala berfirman:

لاَ يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُولَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا وَكُلاًّ وَعَدَ اللهُ الْحُسْنَى وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ.

“Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (kota Mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (har-tanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka balasan yang lebih baik. Dan Allah me-ngetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS: Al-Hadiid 10).

Memang, masing-masing memiliki keunggulan dan kedudukan sen-diri-sendiri, wajib bagi kita untuk memahami keagungan nilai per-sahabatan (dengan Rasul s.a.w.). Dan itu merupakan kedudukan yang teguh dengan sendirinya. Status kemuliaan mereka masing-masing se-suai dengan amal-amal mereka. Jadi, pada mereka terdapat klasi-fikasi, yaitu: as-Sabiqun al-Awwalun (kelas mereka yang terdahulu masuk dan berjuang di dalam Islam), itulah derajat tertinggi. Orang yang memiliki status sahabat sekaligus kerabat (mereka ada-lah keluarga suci; semoga Allah berkenan melimpahkan salam dan ri-dha kepada mereka semua), mereka ini memperoleh hak “kesaha-batan” dan juga “kekerabatan”, dan klasifikasi mereka seiring de-ngan amal-amal kebajikan masing-masing.

Pembaca budiman:

Membahas, penyebab-penyebab perpecahan di kalangan umat dan cara menanggulanginya merupakan tuntutan syariat. Pembahasan kami, menyangkut tragedi besar, dan itu meninggalkan dampak fanatisme di kalangan umat. Kami membatasi pembicaraan seputar jalinan kasih sayang para sahabat Nabi s.a.w. terhadap Aalul Bayt alaihimussalam dan juga segenap muslimin. Sekalipun pernah terjadi peperangan di antara mereka, tetapi tetaplah terjalin kasih sayang di antara me-reka. Inilah hakikat yang tidak dipahami oleh para penulis, tidak dibahas oleh para perawi. Dan hakikat ini akan tetap menjadi caha-ya putih yang akan menentang anggapan-anggapan dan khayalan-kha-yalan kebanyakan penulis yang dirancukan oleh pengikut hawa nafsu dan politisi yang ambisius beserta musuh-musuh Islam demi mencapai target-target mereka sekaligus memecah belah dan menyilangseli-sihkan umat ini.

Seruan:

Kepada para penelaah dan penulis sejarah Islam, bahkan juga kepada para dai hendaklah bersatu seia sekata dan menyatukan ba-risan. Kepada mereka yang menaruh perhatian terhadap bahaya perpe-cahan dan dampaknya serta keharusan menyatukan barisan untuk me-nanggulangi dampaknya. Bahkan kepada dengki kepada umat Islam, ka-mi katakan: “Mengapa kita mesti mengorek-ngorek peristiwa-peris-tiwa dan masalah-masalah sejarah yang berdampak perpecahan dan menjerumuskan ke dalam permusuhan tanpa melakukan penelaahan dan penelitian?? Adakah untuk memangsa masyarakat awam atau kah men-cari harta!!

Sungguh Anda akan heran kepada banyak para penulis dan pene-liti yang menghambur-hamburkan waktu dan mengerahkan daya upaya mereka dalam jumlah besar demi masalah-masalah sejarah dan pemi-kiran-pemikiran yang dilandaskan pada riwayat-riwayat dha’if, kha-yal, hawa nafsu, dan sebagainya. Bahkan ada di antara mereka yang beranggapan, bahwa ia telah berbuat sebaik-baiknya, dan bahwa ia telah sampai kepada kesimpulan ilmiah!!

Sedang sebenarnya, mereka telah berhasil memecah belah umat.

Manakala Anda bertanya kepada mereka tentang hasil kerja dan upaya mereka, maka Anda tidak akan memperoleh jawaban!! Keadaan mereka yang paling baik, adalah yang mengatakan: “Demi keilmuan itu saja!”

Manakah kiranya dasar-dasar ilmiah yang dijadikan landasan?!

Sebelum ini, di dalam risalah “Persahabatan” telah dijelaskan tentang keintiman antara Rasulullah s.a.w. dengan para sahabat be-liau orang-orang mulia. Di antara yang menjadi perhatian Rasul s.a.w., adalah mensucikan orang-orang yyang beriman kepada beliau, sedang mereka terdiri dari orang-orang tidak pandai baca tulis, yang oleh Allah telah dikaruniai kemuliaan iman terhadap Nabi s.a.w. dan bersahabat dengan beliau. Allah Ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الأُمِّيِّينَ رَسُولاً مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلاَلٍ مُبِينٍ.

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Ra-sul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (as-Sunah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya be-nar-benar dalam kesesatan yang nyata.”(QS: Al-Jumu’ah 2).

Jadi, mereka inilah orang-orang yang disikapi oleh Rasul Pem-bawa rahmat dan hidayah untuk dibimbing, disucikan, dan dibina.

Sebelumnya telah dibahas tentang peran Rasul s.a.w. selaku se-orang komandan s.a.w. dengan para laskar beliau.

Rasul s.a.w. selaku seorang teladan yang diteladani.

Rasul s.a.w. selaku seorang tetangga yang ditetanggai dan hi-dup bersama beliau. Rasul s.a.w. selaku seorang pimpinan (imam) yang mana mereka berada di bawah kekuasaan beliau dan para sahabat beliau.

Sebelumnya telah dibahas peran-peran ini di dalam risalah se-belumnya. Jika Anda kehendaki silahkan Anda telaah pada pasal per-tama.(2).

Pembaca budiman:

Anda tidak akan ragu tidak pula bimbang, bahwa Rasul s.a.w. telah melaksanakan sebaik-baiknya segala sesuatu yang diperintah-kan oleh Allah Ta’ala, berkaitan tugas menyampaikan risalah, mensucikan para sahabat beliau, membina mereka, dan sebagainya. di antara buah dari upaya pensucian ini, adalah hasil yang terpuji sehingga menjadi gelar baik para sahabat radhliyallahu ‘anhum. Cu-kuplah kiranya manaklaa mereka dinyatakan sebagi sebaik-baik umat yang dikeluarkan bagi umat manusia. Allah Ta’ala berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manu-sia.” (QS: Ali Imran 110).

Dan renungkanlah firman Allah Ta’ala: “Dilahirkan” (ukhri-jat). Siapakah kiranya yang telah melahirkan mereka dan me-nempatkan mereka kepada derajat kemuliaan seperti itu?

Dan itu serupa dengan firman Allah Ta’ala:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا.

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (per-buatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.”(QS: Al-Baqarah 148).

Ayat-ayat yang diturunkan Allah yang mana menyifatkan mereka, memuji, dan menyebut mereka itu ada banyak sekali. Sebelumnya te-

__________

2) Risalah pertama dengan judul (Bhs. Indonesia): “Jalinan persahabat dengan Rasulullah s.a.w.”.

lah kami jelaskan hadis tentang sikap-sikap mereka dan ayat-ayat yang diturunkan berkaitan dengan hal itu, maka tidak perlu lagi untuk diulang-ulang.

ooo 0 ooo

DI ANTARA SIFAT-SIFAT SAHABAT-SAHABAT RASUL S.A.W.

Pembaca budiman:

Mereka itu disebut sebagai generasi istimewa, mereka telah memperoleh kedudukan terhormat yang tidak memungkinkan untuk di-jangkau oleh kelompok lain. Mereka sukses menyandang gelar sebagai sahabat. Luar biasa, “Sahabat Rasulullah s.a.w.”. Beliau sendiri-lah yang telah membina, mengajar, dan mendidik mereka. Bersama me-reka pulalah beliau s.a.w. memerangi orang-orang kafir. Mereka pula yang membela beliau.

Kita cukupkan dengan satu saja dari sifat-sifat mereka yang harus dipelajari dan dibahas, dan diperjelas, lalu dinyatakan ke-pada khalayak muslimin dari segala kelompok dan golongan !

Mengertikah Anda sifat apakah itu??

Yaitu; kasih sayang.

Persoalannya: Mengapa harus membicarakan sifat tersebut?

Bersediakah Anda wahai pembaca budiman untuk bersama-sama saya berupaya mengungkap rahasia sifat mulia ini? Kelak tidak diragukan lagi, Anda akan mendapati banyak dasar-dasar yang merupakan do-rongan untuk membahasnya. Tetapi di sini, kami hanya akan menje-laskan sejumlah dasar-dasar saja secara ringkas di dalam risalah ini:

Dasar Pertama:

Berkaitan sifat “Penyayang” itu sendiri dengan segala kandung-an maknanya, juga riwayat-riwayat yang telah dinyatakan oleh ayat-ayat al-Quran dan hadis-hadis dari Sang Pimpinan orang-orang bakti -semoga Allah berkenan mengaruniakan sholawat serta salam kepada beliau dan juga kepada keluarga beliau orang-orang suci dan saha-bat-sahabat beliau orang-orang yang bijak. Sedangkan Allah s.w.t. Dia digelari Mahapengasih lagi Mahapenyayang. Di dalam melukiskan sifat beliau Orang Tersayang (al-Habib; Rasulullah) s.a.w., Allah Ta’ala berfirman:

لَقَدْ جَائَكُمْ رَسُولٌ مِـــــــنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيــــْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ

رَحِيمٌ.

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menging-inkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.”(QS: At-Taubah 128).

Juga, Rasulullah s.a.w. menjelaskan: “Barangsiapa yang tidak mengasihi tidak akan dikasihi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Hadis-hadis yang berkaitan dengan sifat tersebut tersedia pan-jang lebar, nash-nashnya pun banyak sekali, mudah untuk Anda keta-hui.

Dasar Kedua:

Allah s.w.t. telah berkenan memilih sifat ini sebagai pujian kepada sahabat-sahabat Rasulullah s.a.w. bukan dengan sifat-sifat lain, terkandung hikmah dan manfaat yang mendasar, dan juga termasuk mukjizat ilmiah karena Dia telah menetapkan sifat ter-se-but kepada mereka. Orang yang merenungkannya, niscaya akan dapat melihat mukjizat. Yang mana, nash tersebut mengistimewakan dengan menyebut sifat “kasih sayang” yang terjalin di antara sesama mere-ka. Mengapa Allah menegaskannya dengan sifat itu, bukan dengan si-fat-sifat lain?? Sebab, dengan itu terkandung penolakan atas tu-duhan-tuduhan yang pada masa itu belum muncul dan belum tertulis di kitab-kitab. Kemudian muncul pada masa berikutnya ucapan-ucapan tukang-tukang dongeng dan generasi sesudah mereka. Allahlah yang lebih mengetahuinya.

Allah Ta’ala berfirman:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِنَ اللهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ.

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang ber-sama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, te-tapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tan-da mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.”

(QS: Al-Fath 29).

Dasar Ketiga:

Menegaskan kenyataan ini, artinya, bahwa para sahabat saling berkasih sayang di antara sesama mereka. Bahwa sifat kasih sayang itu sudah mengalir di sekujur hati mereka, maka hakikat ini sudah menolak riwayat-riwayat dan anggapan-anggapan serta tulisan-tu-lisan yang menggambarkan bahwa para sahabat Rasulullah s.a.w. sa-ling mendengki di antara sesama mereka, dan bahwa permusuhan di antara mereka itulah yang merupakan kemuliaan!!

Memang, manakala sudah meresap dalam diri Anda bahwa para sa-habat itu saling berkasih sayang di antara sesama mereka dan prin-sip tersebut sudah bersemayam di lubuk hati Anda, niscaya hati An-da akan tenteram. Dan akan keluar pula rasa “kedengkian” terhadap orang-orang yang justru diperintahkan oleh Allah agar didoakan. Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَِلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ.

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka, mereka berdoa: “Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Eng-kau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”.”(QS: Al-Hasyr 10).

Dasar Keempat:

Di antara dasar-dasar yang dijadikan sandaran para penelaah yang menaruh perhatian kepada metode matan dan sanad, ialah dengan menelaah matan-matan riwayat setelah terbukti sanadnya kuat, lalu mensingkronisasi (mengcross-check) riwayat-riwayat tersebut dengan nash-nash al-Quran, maupun ushul-ushul keseluruhannya di dalam Is-lam. Begitu juga metode memadukan antara sesama riwayat. Itulah metode orang-orang yang mendalam ilmunya. Dan haruslah berlandas-kan pada metode ini di dalam menelaah riwayat-riwayat sejarah. Tetapi, yang perlu disesalkan, terdapat banyak penelaah yang meng-abaikan penelitian sanad-sanad tersebut, dan mereka membatasi se-batas pernyataan riwayat-riwayat yang tercantum dalam kitab se-jarah atau kitab etika tertentu!! Pun dari kalangan orang-orang yang menaruh perhatian pada kaidah kesanadan, di antara mereka ada yang melupakan penelitan pada aspek matan (pernyataan suatu ri-wayat) lalu merujukkannya kepada al-Quran.

Pembaca budiman:

Sebelum Anda menentukan ketetapan ataupun terburu-buru menye-barluaskan penilaian-penilaian Anda, bahkan berkaitan hukum-hukum yang didasarkan kepada penelitian Anda pada bidang kesejarahan, juga pernyataan-pernyataan seputar kekeluargaan, atau bahkan yang bernuansa perasaan. Maka renungkanlah dan pahamilah dasar-dasar yang kami nyatakan berikut ini. Artinya; jangan mengabaikan segi kejelasannya, kedekatannya, kekuatan aspek maknanya, dan juga ber-kaitan dalil-dalilnya. Dan itu haruslah didasarkan pada kenyataan yang dapat dipersepsi. Seperti itu pulalah kekuatan pernyataan “nash” al-Quran pada akhir surat al-Fath:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِنَ اللهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا.

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang ber-sama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, te-tapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tan-da mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demiki-anlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi be-sarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu me-nyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak men-jengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang ber-iman dan mengerjakan amal yang salih di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.”(QS: Al-Fath 29).

Juga Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَِلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ

فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَئـُوفٌ رَحِيمٌ.

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka, mereka berdoa: “Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Eng-kau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”.”(QS: Al-Hasyr 10).

ooo 0 ooo

PEMBAHASAN SATU

BUKTI MELALUI PEMBERIAN NAMA

Nama adalah isyarat yang tertuju kepada yang diberi nama. Ia merupakan alamat yang dapat membedakan seseorang dengan orang la-in. Secara umum berlaku di kalangan umat manusia untuk memberikan nama. Tidak diragukan lagi segi penting di balik status nama. Se-bab, melalui nama, maka orang yang dilahirkan akan dikenal dan dibedakan dari saudara-saudaranya sendiri maupun orang lain. Dan itu akan menjadi pengetahuan bagi diri yang bersangkutan dan juga bagi putra-putrinya kelak. Seseorang akan mati, sedang namanya te-tap hidup. Kata “al-ismu” berasal dari kata “as-sumuw” yang ber-makna mulia. Atau berasal dari kata: “al-wasmu” yang berarti alamat. Semua itu menegaskan segi pentingnya nama bagi seseorang yang dilahirkan.Kepentingan suatu nama seorang anak itu sudah jelas. Dari situ mengungkapkan segi keagamaannya dan juga kecerdasannya. Pernahkah Anda mendengar ada seorang Nashrani atau Yahudi yang memberi nama putra-putri mereka dengan nama “Muhammad” (s.a.w.)???

Ataukah ada di kalangan muslimin yang memberi nama putra-putri mereka dengan nama Lata dan Uzza, selain orang aneh??

Seorang anak bertalian dengan bapanya melalui nama. Memanggil bapa dan keluarga serta putra-putrinya dengan sebutan nama yang menjadi pilihan mereka. Jadi, terlalu banyak penggunaan nama di kalangan umat manusia baik pada masa sekarang maupun zaman dahulu. Kata orang: “Melalui nama Anda saya dapat mengerti tentang bapa Anda.”(1).

__________

1) Silahkan baca kitab berjudul “Tasmiyatu al-Mauluud”; oleh al-Alamah asy-Syeikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid.

Aspek penting suatu Nama dalam pandangan Islam

Akan cukup kiranya untuk memahami aspek penting suatu nama didasarkan pada perhatian syariat terhadap “pemberian nama-nama”. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa sallama, pernah mengganti nama sejumlah sahabat; baik la-ki-laki maupun wanita. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa sallama juga telah mengganti nama kota beliau yang pada masa lalu bernama “Yatsrib” menjadi “Madinah”. Dan beliau melarang seseorang memberi nama “Raja Diraja”, dan sebagainya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa sa-llama, bersabda: “Sesungguhnya nama orang yang paling hina di sisi Allah adalah orang yang diberi nama raja diraja.”

Sang Kekasih (Rasululullah) shalallaahu ‘alaihi wa aa-lihi wa sallam membimbing agar kita memberi nama Abdullah (hamba Allah), Abdur Rahman (hamba Allah Yang Mahapemurah), dan nama-nama sejenis, yang di dalamnya terkandung syiar-syiar ibadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Begitu juga yang bersifat pengabdian kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Rasulullah s.a.w. bersabda: “Nama yang paling disukai oleh Allah, adalah Abdullah dan Abdur Rahman.”

Rasul kita shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam sa-ngat suka kepada nama Abdur Rahman, dan menganjurkannya. Itu sudah populer sebagai suatu bimbingan dari beliau shalallaa-hu ‘alaihi wa aalihi wa sallam. Sesuatu yang telah ditegas-kan di kalangan alama ushul dan ahli-ahli lughah, bahwa na-ma-nama itu mengandung fakta-fakta dan makna-makna tertentu. Masalah tersebut juga sudah dibahas di dalam kitab-kitab lu-ghah dan ushul fikih. Para alim telah berpanjang lebar mem-bahas masalah tersebut, juga fenomena-fenomena yang berka-itan dengannya, yang bercabang beranting ke berbagai masa-lah.

APAKAH MASUK AKAL ?

Pembaca budiman:

Jangan terburu-buru, dan jangan heran. Mari kita lan-jutkan bersama saya dan jawablah pertanyaan berikut:

· Dengan nama yang bagaimanakah Anda memberi nama putra Anda?

· Apakah Anda memilih nama bagi putra Anda dengan nama yang Anda sukai, disukai ibunya, atau keluarganya?

· Apakah Anda memberi nama putra Anda dengan nama-nama musuh Anda?

Subhanallah !!

Sudah tentu kita akan memilih nama bagi diri kita sen-diri dengan nama-nama yang mengarah pada sesuatu yang bermakna bagi kita, tetapi tidak kita tolak pemberian nama seperti itu terhadap mereka, lalu kita katakan: “Tidak!? Me-reka memilih nama putra-putri mereka atas dasar politik, dan bersifat eksklusif tidak sebagaimana layaknya masyarakat!!

Pemilihan nama ini, menurut mereka bukan merupakan buk-ti!!

Orang-orang muslim berakal sehat, para pemimpin, orang-orang yang merasa diri dan keluarganya bangsawan, mereka akan melarang sikap mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan. Oleh karena itu bukan merupakan pilihan bagi mereka untuk memberi nama putra-putri mereka dengan nama-nama orang yang mereka sayangi ataupun nama saudara-saudara sendiri, sekali-pun menyadari keunggulan mereka dan rasa cinta kepada mere-ka, tetapi justru memberi nama sebagian putra-putri mereka dengan nama-nama musuh mereka sendiri!! Dapatkah Anda mem-percayai hal itu?!!

Demikian juga demi ilmu. Oleh karena itu “pemberian na-ma” tidak mengibaratkan tentang pribadi, bahkan tidak juga bagi putra-putri secara keseluruhan. Dan bukan sekedar sam-pai setelah terlupakannya permusuhan itu saja, tidak! Bahkan pemberian nama itu pun dilakukan pada masa-masa munculnya benih permusuhan (demikian menurut anggapan mereka).

Menurut hemat kami: “Bahkan pemberian nama-nama tersebut justru pada saat munculnya benih-benih kasih sayang …..”

Ini merupakan persoalan penting yang harus ditelaah dan diberi perhatian, sebab di dalamnya terkandung fakta-fakta (dalil-dalil) dalam jumlah sangat banyak, dan juga merupakan sanggahan terhadap dongeng-dongeng, anggapan-anggapan, dan kisah-kisah khayali. Dan di dalamnya juga terkandung seruan bagi jiwa dan perasaan. Dan di dalamnya terkandung penje-lasan yang memuaskan bagi orang-orang berakal sehat…. Tidak mungkin dapat disanggah ataupun ditakwil-takwilkan lagi.

Kesimpulan dari pembahasan tersebut:

Penjelasan 1 s/d 3; bahwa Sayyidina Ali a.s. atas dasar sa-ngat cinta kepada tiga khalifah sebelum beliau, maka beliau memberi nama sebagian putra-putra beliau dengan nama-nama mereka. Yaitu: Abu Bakar bin Ali bin Abi Tha-lib. Beliau ini mati syahid di Karbala’ bersama sauda-ranya, yaitu al-Husein a.s. (semoga sebaik-baik shola-wat serta sebaik-baik salam terlimpah kepada mereka be-serta kakek mereka).

Umar bin Ali bin Abi Thalib. Beliau ini mati syahid di Karbala’ bersama saudara beliau al-Husein a.s. (semoga sebaik-baik sholawat serta sebaik-baik salam terlimpah kepada mereka beserta kakek mereka).

Utsman bin Ali bin Abi Thalib. Beliau ini juga mati syahid di Karbala’ bersama saudara beliau al-Husein a.s. (semoga sebaik-baik sholawat serta sebaik-baik salam terlimpah kepada mereka beserta kakek mereka).

Penjelasan 4 s/d 6; Al-Hasan a.s. memberi nama putra-putra beliau dengan nama: Abu Bakar bin al-Hasan; Umar bin al-Hasan; dan Thalhah bin al-Hasan. Ketiga-tiganya mati syahid di Karbala’ bersama paman mereka al-Husein a.s.

Penjelasan 7; Al-Husein a.s. memberi nama putra beliau de-ngan nama Umar bin al-Husein.

Penjelasan 8-9; Sang pemimpin ulama tabi’in Ali bin al-Hu-sein Zeinal Abidin, yaitu imam keempat (a.s.) juga mem-beri nama putri beliau dengan nama Aisyah. Dan juga memberi nama Umar, dan mendatangkan keturunan bagi be-liau sesudah beliau wafat.”(3).

__________

3) Silahkan baca kitab berjudul “Kasyfu al-Ghummah” (2/334), “al-Fushuul al-Muhimmah”; hal. 283.

Demikian pula segenap “imam-imam dua belas”, Anda akan men-dapati nama-nama tersebut di dalam keturunan mereka. Perso-

Demikian juga dengan para Aalul Bayt lainnya dari keturunan al-Abbas bin Abdul Muthalib, dan juga keturunan Ja’far bin Abi Thalib, Muslim bin Uqail, dan mereka yang la-in. Tetapi di sini bukan media yang tepat untuk menjelaskan nama-nama tersebut secara panjang lebar. Yang menjadi tujuan hanyalah untuk menjelaskan maksud. Sebelumnya sudah kami je-laskan tentang putra-putra Ali, al-Hasan, dan al-Husein (alahimussalam).

PERTENTANGAN

Di kalangan Syi’ah ada orang-orang yang menentang, bahwa Ali dan putra-putri beliau (alaihimussalam) telah memberi nama putra-putri mereka dengan nama-nama tersebut. Tetapi ini cuma bualan orang-orang yang tidak berwawasan tentang nasab keturunan dan nama-nama, dan mereka hanya membaca ki-tab-kitab terbatas. Di samping itu alhamdulillah, jumlah me-reka hanya sedikit. Bahkan kelompok ini telah disanggah oleh imam-imam besar serta ulama Syi’ah sendiri, sebab bukti-bukti keberadaan nama-nama tersebut sangat jelas, dan ke-beradaan keturunan mereka. Begitu juga tercantum di dalam kitab-kitab Syi’ah yang mu’tamad (dijadikan rujukan), bahkan di dalam riwayat-riwayat tragedi Karbala’, yang mana telah gugur Abu Bakar bin Ali bin Abu Thalib bersama Imam Husien. Demikian pula Abu Bakar bin al-Hasan bin Ali (alaihi-mussalam), dan juga mereka yang telah kami jelaskan.

Memang, mereka itu telah gugur sebagai syahid bersama al-Husein, bahkan hal itu dijelaskan oleh Syi’ah di dalam kitab-kitab mereka. Tetapi jangan Anda berkeberatan manakala Anda tidak mendengar nama-nama ini di dalam upacara al-Huseiniyah, dan perayaan-perayaan hari Asyura’. Sebab, tidak disebutnya mereka itu bukan berarti mereka tidak pernah ada.

__________

alan itu juga dibahas oleh para ulama syi’ah dan mereka menyebutkannya di dalam kitab berjudul “Yaumu ath-Thaff”; hal 17-185. Untuk sekedar contoh, silahkan baca “A’laamu al-Waraa” oleh ath-Thabrisi; hal. 203. Juga “al-Irsyaad”; oleh al-Mufid; hal. 186. “Taarikh al-Ya’quubi” (2/213).

Ketika itu Umar bin Ali bin Abi Thalib dan Umar bin al-Hasan, termasuk penunggang kuda yang diakui oleh mereka se-bagai orang-orang yang juga ditimpa musibah pada hari ter-sebut.

Yang penting; masalah pemberian nama oleh imam-imam alaihimussalam kepada putra-putra mereka dengan nama Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah, dan nama-nama para sahabat be-sar lainnya, merupakan masalah yang tidak terjawab dengan jawaban yang jelas dan memuaskan oleh Syi’ah. Sebab, tidak mungkin kita memberi nama tanpa dasar tanpa makna. Pun tidak mungkin kita mengangggap itu sebuah rekayasa yang dibuat oleh Ahlus Sunah ke dalam kitab-kitab Syi’ah! Sebab itu juga berarti tuduhan terhadap seluruh riwayat-riwayat di setiap kitab-kitab, sehingga setiap riwayat yang tidak mengenakkan Syi’ah, lalu memungkinkan bagi mereka mengatakan: “Itu ada-lah rekayasa, dan dusta.”

Bahkan untuk setiap pernyataan dalam setiap riwayyat yang tidak sesuai dengan hawa nafsu sang alim, lalu dengan mudah ia menolaknya seraya mengatakan: “Itu rekayasa.”!!

Terlebih-lebih, bahwa setiap orang alim sejati di dalam menerima atau menolak riwayat-riwayat, tidak mendasarkan pa-da metode seperti itu.

Persoalan yang menarik, lucu, dan perlu disesalkan, ada (dari kalangan mereka -pen) yang mengatakan, bahwa pemberian nama-nama dengan nama para sahabat besar tersebut, adalah demi agar dapat mencela dan mencaci maki mereka!!

Ada juga yang mengatakan, bahwa pemberian nama tersebut atas dasar agar dapat merebut hati masyarakat, sehingga imam memberi nama putra-putra mereka agar masyarakat merasa, bah-wa mereka menyintai para khalifah tersebut dan ridha terhadap mereka!! (Jelasnya, taqiyah).

Subhanallah !!

Layakkan kita mengatakan, bahwa Imam melakukan sikap-si-kap untuk menipu sahabat-sahabatnya dan masyarakat umum?? Mungkinkah sang Imam akan memelaratkan keturunannya sendiri demi tujuan seperti ini??

Siapakah yang berani menuduhkan kepada para imam agar memberi nama dengan cara-cara seperti ini? Yang mana mereka harus mengorbankan keberanian dan kehormatan (alaihi-mussalam), dengan cara merendahkan diri sendiri, menistakan putra-putranya demi bani Tayyim, atau bani ‘Ady, atau bani Umayyah. Orang yang mempelajari sejarah para imam, niscaya ia akan mendapati kepastian bahwa para imam termasuk orang pemberani, berlawanan dengan riwayat-riwayat dusta, yang menganggap beliau pengecut, tidak mementingkan agamanya, ke-muliaan diri, dan kehormatannya. Dan tuduhan-tuduhan lain yang perlu disesalkan.

KESIMPULAN

Sebenarnya, apa yang telah dilakukan oleh para imam: Ali dan putra-putra beliau (alaihimussalam), termasuk bukti pa-ling kuat, baik berdasar nalar, jiwa, maupun realita, yang membuktikan rasa cinta Aalul Bayt kepada Khulafa’ ar-Ra-syidiin juga kepada segenap sahabat Nabi shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam lainnya. Anda sendiri hidup dengan sikap seperti ini. Jadi, tidak ada alasan untuk menolaknya. Dan ini juga merupakan bukti kebenaran firman Allah Ta’ala:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِنَ اللهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ.

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keri-dhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.” (QS: Al-Fath 29).

Wahai pembaca budiman, bukankah diperintahkan agar meng-ulang-ulang membaca ayat-ayat al-Quran, merenungkan makna-maknanya, dan merenungkan sifat rahmat.

ooo 0 ooo

PEMBAHASAN DUA

PERIPARAN

Pembaca budiman, belahan hati Anda, putri buah hati An-da, akan Anda serahkan kepada siapa? Relakah Anda untuk me-nyerahkannya kepada seorang penjahat, keji, atau bahkan orang yang telah membunuh ibunya dan saudaranya sendiri? Apakah yang dimaksud dengan istilah “iparku adalah kelu-argaku” ?

Istilah “al-Mushaharah” menurut tata bahasa Arab; ber-asal dari kata “Shaahara“. Dikatakan “Shaahartu al-Qoum” (saya menjadikan mereka ipar), manakala saya menikah sese-orang dari mereka. Al-Azhari menjelaskan: “Kata “ash-shihru” mengandung makna “kerabat wanita yang berstatus muhrim, dan juga para wanita yang masih berstatus muhrim, seperti kedua orang tua dan saudara-saudara perempuan…., dst. Manakala se-jak sebelum menikah berstatus selaku kerabat yang berstatus muhrim, maka (setelah menikah) juga disebut ipar wanita tersebut.”

Dengan begitu, ipar seorang lelaki, adalah kerabat is-trinya, dan ipar seorang wanita, adalah kerabat suaminya.

Kesimpulannya “periparan” menurut etika bahasa, adalah kerabat dari pihak wanita, meskipun kadang diterapkan juga pada pihak kerabat pihak lelaki. Dan Allah s.w.t. telah men-jadikan hal itu sebagai bagian tanda-tanda kekuasaan-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا.

“Dan Dialah yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa.” (QS: Al-Furqaan 54).

Renungkanlah kandungan ayat tersebut, betapa personalian yang berstatus sebagai “seseorang” dijadikan oleh Allah ber-talian dengan orang lain melalui keturunan dan periparan (mushaharah). Jadi mushaharah merupakan pertalian syar’i yang telah dijadikan oleh Allah sebagai pendamping kata “ke-turunan”. Sedang keturunan “nasab“, artinya kerabat pihak ayah. Ada juga ulama yang berpendapat bahwa “nasab”, dimak-sudkan kerabat. Sebagaimana sudah dijelaskan, bahwa Allah mendampingkan antara kata “nasab” dan “mushaharah”, di sini terkandung dalil penting. Jangan lupa hal ini.

PERIPARAN DAN SEJARAHNYA

Di kalangan masyarakat Arab, periparan mempunyai posisi istimewa. Mereka memandang bangga keturunan, dari situ me-reka pun merasa bangga atas suami putri-putri mereka dan kedudukan mereka. Orang Arab tidak akan menikahkannya dengan orang-orang yang mereka pandang berderajat rendah. Ini popu-ler di kalangan mereka. Bahkan pandangan seperti itu juga terdapat pada bangsa-bangsa lain. Perbedaan etnis sampai masa sekarang pun masih merupakan kendala sosial di Barat.

Orang-orang Arab sedemikian cemburu terhadap para wanita mereka, sehingga mendorong sebagian dari mereka memingit (menjaga ala disimpan) gadis-gadis mereka yang masih kecil lantaran takut akan terkena malu. Bahkan seringkali terjadi pertumpahan darah dan timbul berbagai peperangan sebagai dampak dari hal-hal seperti itu. Ini merupakan suatu sinyal yang tidak membutuhkan penjelasan panjang lebar. Dan kesan seperti itu masih tetap berlaku sampai masa sekarang sebagaimana Anda maklumu wahai pembaca budiman.

PERIPARAN DI DALAM ISLAM

Islam datang. Ia menerapkan nilai-nilai budi luhur dan sifat-sifat terpuji, melarang dari sikap-sikap buruk. Allah s.w.t. menjelaskan, bahwa standar ukurannya adalah “takwa”. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ.

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.”(QS: Al-Hujurat 13).

Ini menurut neraja syariat !!

Anda pun bisa mendapati para ahli fikih (rahimahumu-llah), mereka membahas persoalan “al-Kafaa-ah” (kesepadanan) berkaitan dengan agama, keturunan, bakat kemampuan, dan hal-hal terkait, melalui pembahasan panjang. (Topik-topik seper-ti): Apakah kesepadanan itu merupakan syarat bagi sahnya suatu akad nikah atau keharusan? Apakah itu merupakan hak bagi pihak istri ataukah melibatkan para wali? Dan sebagai-nya dalam pembahasan mereka seputar masalah pernikahan.

Berkaitan sikap menjaga kehormatan dan merasa cemburu kepada wanita, maka sebenarnya Nabi s.a.w. sendiri, beliau menetapkan status syahid bagi orang yang berjuang memperta-hankan kehormatannya. Dan beliau sendiri pernah menyiapkan peperangan demi seorang wanita yang dipermainkan penutup au-ratnya oleh seorang Yahudi. Kisah itu sudah populer berka-itan pelanggaran yang dilakukan bani Qainuqa’ atas janji antara mereka dengan Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam.

Ringkasan kisahnya, ada seorang Yahudi meminta kepada seorang pemudi yang hendak membeli emas kepadanya, agar ia bersedia membuka cadarnya, tetapi pemudi itu menolak. Lalu Yahudi itu mengikat tepi baju gadis itu ketika ia sedang duduk tanpa sepengetahuannya. Tatkala pemudi itu berdiri, terbukalah pakaiannya. Lalu pemudi itu berteriak-teriak me-minta tolong. Ketika itu didekatnya ada seorang pemuda mus-lim. Ia pun segera menyerang Yahudi itu dan membunuhnya. Ke-mudian orang-orang Yahudi bersatu padu menyerangnya dan mem-bunuh pemuda itu atas dalih-dalih lain yang membuktikan bah-wa mereka hendak melanggar perjanjian.

Pembaca budiman, perhatikanlah beberapa hukum syariat seperti dipersyaratkannya wali di dalam suatu akad nikah dan adanya saksi, bahkan hukuman bagi orang yang menuduh, hukum-an kepada orang yang berzina, dan hukum-hukum lain sejenis yang kesemuanya bertujuan menjaga kehormatan. Dengan mencer-mati adanya hukum-hukum tersebut beserta segala yang ter-kait, baik berupa hukum, atsar, dan hal-hal yang bersifat syar’i, niscaya akan jelas bagi Anda betapa penting perso-alan ini.

Berkaitan persoalan periparan, ia berkaitan dengan ba-nyak hukum. Pikirkanlah ketetapan “nash” tentang akad nikah (al-miitsaaq al-ghaliidh: janji nan teguh) yang dinyatakan oleh seorang lelaki di dalam meminang. Ini pun mengandung banyak hukum-hukum. Bahkan adakalanya suatu pinangan bisa diterima juga bisa ditolak. Sehingga adakalanya orang yang hendak melamar meminta bantuan kepada keluarga atau sahabat-sahabatnya, agar bisa memperoleh persetujuan. Lalu ia pun meminta kepada keluarga pihak perempuan untuk meminangnya. Pihak ini memiliki hak untuk menerima atau menolaknya, bah-kan sekalipun ia sudah memberi hadiah-hadiah atau menyege-rakan maskawin, dan sebagainya, sedemikian pun mereka mash berhak untuk menolak lamaran tersebut selama akad nikah be-lum terjalin.

Akad nikah harus melibatkan para saksi. Menyebarluaskan rencana pernikahan juga merupakan tuntutan syariat. Untuk apa??? Sebab, melalui suatu pernikahan akan muncul hukum-hukum baru, yaitu mendekatkan hubungan yang jauh lalu menjadikan masing-masing “periparan”. Diharamkan atas suami seorang wanita (terhadap istrinya) manakala pernikahan itu atas dasar paksaan. Atau selama calon istri berada di bawah tanggungannya. Tetapi tujuan risalah ini bukan membahas pan-jang lebar soal ini, semata-mata tujuannya untuk menekankan keseriusan persoalannya, untuk penjelaskan selanjutnya. Sekarang renungkanlah penjelasan berikut:

Saudara perempuan al-Hasan dan al-Husein dinikahkah oleh ba-panya (alaihimussalam ajma’in) kepada Umar bin al-Kha-thab r.a.

Dapatkah kita katakan, bahwa Ali a.s. menikahkan putri-nya atas dasar takut kepada Umar?! Manakah nilai kebe-ranian? Mana pulakah rasa sayang beliau kepada putri beliau? Mungkinkah beliau akan menyerahkan putri beliau kepada orang zalim?? Manakah sikap kecemburuan beliau kepada agama Allah? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang tiada berakhir.

Atau Anda katakan, bahwa Ali a.s. menikahkan putri beliau (Ummu Kultsum) kepada Umar atas dasar cinta ke-pada Umar dan senang kepada beliau. Memang, Umar telah menikah dengan putri (cucu) Rasulullah s.a.w. dengan pernikahan yang sah, bukan terpengaruh oleh ketuaan umur(4). Dan pernikahan ini membuktikan adanya jalinan dua keluarga dan kasih sayang. Betapa tidak, bahkan Ra-sulullah s.a.w. sendiri menikah dengan putri Umar. De-ngan begitu periparan telah menjadi teguh di antara dua keluarga sebelum pernikahan Umar dengan Ummu Kultsum (binti Ali alaihimussalam -pent).

Contoh kedua: Cukuplah kiranya pernyataan Imam Ja’far ash-Shadiq a.s. yang menyatakan: “Saya dilahirkan oleh Abu Bakar dua kali!!” Mengertikah Anda siapakah ibu Ja’far? Beliau bernama Farwah binti al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar.(5).

Wahai para cerdik pandai: Mengapa Ja’far a.s. menyebut nama Abu Bakar, dan tidak menyebut Muhammad bin Abu Bakar??? Memang, beliau secara terang-terang menyebut nama Abu Bakar, karena sebagian orang Syi’ah memuji keunggulan beliau. Se-dang berkaitan dengan putra beliau bernama Muhammad, maka Syi’ah telah sepakat memandang keunggulannya. Sekarang ba-gaimana menurut Anda, manakah dari keduanya yang menjadi pu-jaan umat manusia?!

Pembaca budiman:

Periparan juga saling bertalian di dalam keturunan para sahabat kalangan Muhajirin maupun Anshar. Itu sudah di-maklumi oleh orang-orang yang memperhatikan nasab me-reka. Bahkan dari kalangan mereka yang bekas budak (maula). Benar! Bahkan maula-maula itu pun, mereka me-

__________

4) Berikut nanti akan kami jelaskan kutipan-kutipan dari ula-ma Syi’ah yang mengakui pernikahan ini, dan juga mereka yang menolaknya dengan berbagai tuduhan-tuduhan.

5) Sedang ibunya bernama Asma’ binti Abdur Rahman bin Abu Ba-kar. Silahkan baca “‘Umdatu ath-Thaalibiin”; hal. 195; edisi Dahran. Juga “al-Kaafi”; juz 1; hal. 472.

nikah dengan para bangsawan (sayid) Quraisy dan orang-orang mulia mereka. Contohnya; Zaid bin Haritsah r.a., beliau adalah sahabat satu-satunya yang disebut namanya di dalam al-Quran, yaitu di dalam Surat al-Ahzab. Sia-pakah kiranya istri beliau? Istri beliau adalah Ummul Mukminin Zainab binti Jahasy (jelasnya; sebelum menjadi Ummul Mukminin -pent)

Dan ini, Usama bin Zaid, beliau dinikahkan oleh Rasu-lullah shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam dengan Fathimah binti Qais. Sedang Fathimah adalah wanita Quraisy(6).

Salim, seorang maula, dinikahkan oleh Hudzaifah radhi-yallahu ‘anhum dengan putri saudaranya, wanita yang bernama Hindun binti al-Walid bin Utbah bin Rabi’ah. Sedang ayah Hindun tergolong salah seorang pemuka Qu-raisy.(7).

Pembahasan tentang periparan di antara sahabat akan sa-ngat panjang. Kita cukupkan dengan beberapa contoh saja yang berkaitan dengan pernikahan antara Aalul Bayt dengan Khulafa’ ar-Rasyidiin.

Mengertikah Anda, bahwa Umar r.a. menikah dengan putri Fathimah putri Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam, semoga salam terlimpah kepada beliau dan ju-ga kepada ayah beliau dengan sebaik-baik salam.

Dengan begitu, berkaitan dengan pribadi Ja’far ash-Sha-diq a.s. sebagaimana telah dijelaskan, siapakah nenek beliau yang mulia? Kedua-duanya adalah cucu Abu Bakar ash-Shiddiq r.a.

__________

6) Riwayat Muslim; bab tentang Fathimah binti Qais radhliya-llahu ‘anha.

7) Al-Bukhari; bab tentang Aisyah radhliyallahu ‘anha.

Pembaca budiman:

Buanglah bisik-bisikan setan dari diri Anda. Hendaklah Anda memikirkannya secara sungguh-sungguh dan mendalam, se-bab Anda adalah seorang muslim, sedang kemuliaan akal pikir-an juga sudah Anda maklumi. Sedang ayat-ayat al-Quran yang menganjurkan agar Anda menelaah dan berpikir ada banyak se-kali. Di sini bukan media yang tepat untuk menjelaskannya.

Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk memikirkannya de-ngan akal pikiran kita, dan hendaklah kita tinggalkan sikap ikut-ikutan. Waspadalah agar orang-orang iseng tidak memper-mainkan akal pikiran kita. Kami berlindung kepada Allah Yang Mahamendengar lagi Mahamengetahui, dari godaan setan, baik dari kalangan manusia maupun dari jin.

Pembaca tercinta:

Relakah Anda memaki bapa Anda sendiri atau kakek-kakek Anda. Dan relakah Anda jika dikatakan, bahwa pimpinan para wanita Anda telah menikah di bawah tekanan, sekalipun itu terjadi di hadapan keluarga Anda seluruhnya?

Relakah Anda manakala dikatakan bahwa itu dilakukan se-bagai jalan keluar dari perampokannya?? Pertanyaan-pertanya-an yang tiada berakhir.

Akal siapakah yang akan rela dengan ucapan keji seperti ini? Hati siapakah yang dapat menerima riwayat seperti ini?

Kami mohon kepada Allah, semoga tidak menjadikan ke da-lam hati kami kedengkian terhadap orang-orang beriman. Wahai Allah, karuniailah kami rasa sayang kepada orang-orang salih dari kalangan hamba-hamba-Mu seluruhnya. Wahai Allah kabul-kanlah kiranya, wahai Penguasa semesta alam.

Sebelum kita melanjutkan pembahasan ketiga, akan kami sajikan “nash-nash” (pernyataan hukum-pernyataan hukum) da-ri kitab-kitab Syi’ah yang dijadikan sandaran (mu’tamad) di kalangan mereka. Dan dari kalangan ulama mereka yang mene-tapkan kebenaran riwayat pernikahan Umar dengan Ummu Kultsum binti Ali (semoga Allah meridhlai mereka semuanya).

Imam Shafiyuddin Muhammad bin Tajuddin (yang dikenal de-ngan Ibn ath-Thaqthaqi al-Hasani; wafat 709 h., gelarnya se-bagai pakar sejarah dan imam; di dalam kitabnya yang di-hadiahkan kepada Ashiluddin Hasan bin Nashiruddin ath-Thusi, penyusun kitab “Hulagu”, dan memberi nama kitab tersebut de-ngan namanya. Di dalam menjelaskan putri-putri Amirul Mukminin Ali a.s. ia menjelaskan: “Dan Ummu Kultsum, ibunya adalah Fathimah binti Rasulullah, dinikahi oleh Umar bin al-Khathab, dan melahirkan putra bagi beliau bernama Zaid. Kemudian riwayat itu ditentang oleh Abdullah bin Ja’far (pa-da halaman 58).

Perhatikan juga pernyataan Muhaqqiq as-Sayyid Mahdi ar-Raja’i. Di situ ia mengutip berbagai pernyataan. Juga ter-dapat penegasan (tahqiiq) dari Alamah Abu al-Hasan al-‘Amiri yang bernisbat kepada Umar bin Ali bin al-Husein di dalam kitabnya berjudul “al-Majdi”. Ia menjelaskan: “Kesimpulan yang dapat disimpulkan dari riwayat-riwayat yang kami telaah tadi, ialah bahwa Abbas bin Abdul Muthalib telah menikahkan-nya dengan Umar melalui kerelaan ayahnya a.s. dan atas se-izinnya. Melalui beliau Umar memperoleh putra bernama Zaid.”

Muhaqqiq tersebut juga menjelaskan berbagai pendapat, di antaranya riwayat-riwayat yang menyatakan bahwa Umar meni-kahi “wanita setan”. Atau menyatakan: “Bahwa beliau belum menggaulinya.” Atau bahwa dia menikahinya dengan paksa dan sikap merampas .. .,dst.”

Al-Alamah al-Majlisi mengatakan: “….., seperti itulah, al-Mufid mengingkari pokok persoalan. Tujuannya adalah untuk menjelaskan bahwa riwayat itu tidak kuat dari jalur mereka. Jika tidak karena demikian, maka sesudah terdapat riwayat-riwayat seperti itu dan riwayat-riwayat yang akan kami se-butkan dengan sanad-sanadnya menyatakan; bahwa Ali a.s., tatkala Umar wafat, beliau mengunjungi Ummu Kultsum, lalu membawanya ke rumahnya. Dan riwayat-riwayat serupa seba-gaimana dinyatakan di dalam “Bihaaru al-Anwaar.” Suatu peno-lakan yang ganjil. Hakikat jawabannya, ialah bahwa peristiwa itu dilakukan atas dasar taqiyah dan terpaksa ……, dst.” (Juz 2; hal. 45; dari kitab “Mir-atu al-‘Uquul”).

Menurut pendapat kami: Bahkan dijelaskan oleh pengarang kitab al-Kaafi di dalam kitabnya berbagai hadis-hadis, di antaranya; bab al-Mutawaffa ‘anha zaujuhaa al-Madkhuul bihaa aina ta’taddu wa maa yujib ‘alaihaa, dinyatakan; Humaid bin Ziyad, dari Ibnu Sama’ah, dari Muhammad bin Ziyad, dari Abdullah bin Sinan dan Mu’awiyah bin ‘Ammar, dari Abi Abdi-llah a.s., ia berkata: “Saya bertanya tentang wanita yang ditinggal mati suaminya, adakah ia melaksanakan iddah di ru-mah sendiri atau sekehendak hatinya?” Beliau menjawab: “Se-kehendak hatinya. Sebab, Ali a.s. ketika Umar wafat, beliau datang kepada Ummu Kultsum dan membawanya ke rumah beliau.” (Bacalah: al-Furuu'; dari kitab “al-Kaafi”; juz 6; hal. 115).

Pembaca budiman:

Telah banyak kalangan ulama Syi’ah moderen memperbin-cangkan perihal pernikahan. Di antara sanggahan paling in-dah, adalah apa yang dituliskan oleh Hakim Mahkamah Wakaf dan Waris, yaitu Syeikh Abdul Hamid al-Khuthi. Beliau menga-takan yang kutipannya sebagai berikut: “Adapun sikap Ali a.s. menikahkan penunggang kuda Islam dengan putri beliau Ummu Kultsum, maka itu bukan yang istimewa. Dan beliau mene-ladani teladan baik Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam. Teladan baik bagi setiap muslimin. Bahkan Rasu-lullah shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallama telah meni-kah dengan Ummu Habibah radhliyallahu ‘anha binti Abu Suf-yan. Sedang ketika itu posisi Abu Sufyan tidaklah seperti posisi Umar bin al-Khathab r.a. Tentang riwayat seputar per-nikahan dengan Ghubar, maka itu sama sekali tidak dapat diterima. Adapun pendapat kalian ……….., bahwa setan telah menjelma kepada Khalifah Umar bin al-Khathab r.a. dengan penjelmaan seperti Ummu Kultsum, maka ini adalah pendapat yang menggelikan dan mengecewakan. Tidak layak untuk diuta-rakan dan tidak ada dasarnya. Sekiranya kita ikuti khurafat-khurafat seperti ini yang dibuat-buat, niscaya kita akan mendapati hal-hal yang menggelikan dan mengecewakan.”

Syeikh tersebut juga tidak menyanggah keterangan pemba-hasan ini, artinya bahwa periparan merupakan bukti ikatan kekeluargaan, dan bahwa itu tidak mungkin dapat terwujud, kecuali atas dasar rasa suka. Dan juga merupakan bukti rasa cinta, persaudaraan, serta ikatan di antara sesama ipar.

Anda pun tentu memaklumi wahai pembaca budiman, bahwa perbedaan yang sangat menyolok, yaitu pernikahan seorang muslim (laki-laki) dengan wanita Ahli Kitab adalah diperbo-lehkan. Sedang pernikahan seorang lelaki Ahli Kitab dengan seorang wanita tidak diperbolehkan.

Renungkanlah hal itu!

ooo0ooo

KESIMPULAN

Periparan antara sahabat-sahabat Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam, sangatlah jelas adanya. Terle-bih-lebih antara keturunan Imam Ali a.s. dengan keturunan Khulafa’ ar-Rasyidin radhiyallahu ‘anhum. Demikian pula per-iparan populer antara Bani Umayah dengan Bani Hasyim sejak sebelum Islam maupun sesudahnya. Yang paling terkenal adalah pernikahan antara Rasulullah s.a.w. dengan putri Abu Sufyan radhliyallahu ajma’in. (Silahkan Anda perhatikan tabel pada akhir risalah ini).

Yang menjadi tujuan penjelasan kami di sini, ialah se-bagai isyarat tentang kesan kejiwaan dan kesan sosial yang mendalam dari periparan tersebut. Dan yang terluhur adalah terjalinnya rasa kasih sayang di antara ipar kedua belah pi-hak. Lebih dari itu, kesannya masih banyak lagi. Semoga dengan keterangan di atas sudah cukup dan memadai daripada tidak.

Dari Allahlah datangnya petunjuk.

ooo 0 ooo

PEMBAHASAN TIGA

BUKTI DARI PUJIAN-PUJIAN

Pembaca budiman:

Pernahkah Anda secara terkucil dari rekan-rekan Anda, istri Anda, keluarga, bahkan sanak kerabat Anda?

Pernahkah Anda hidup di tengah konflik militer melawan mere-ka tersebut ataupun melawan orang-orang yang Anda sa-yangi?

Pembaca budiman:

pernahkah Anda hidup di dalam kefakiran, dan tertekan bersama sahabat-sahabat Anda yang mana Anda berhimpun ber-sama mereka dalam ikatan akidah, menyatukan pemikiran dan kasih sayang? Bagaimana pendapat Anda terhadap orang-orang yang hidup dengan semua situasi itu? Dan ketika itu mereka tetap intim selaku sahabat, baik di dalam suasana suka mau-pun duka. Bahkan di antara mereka terdapat manusia terbaik, Muhammad shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallama? Sahabat-sahabat Nabi s.a.w. Terlebih-lebih mereka yang mendahului masuk Islam, maka mereka hidup dalam situasi seperti itu. Memang kehidupan sosial mereka berbeda-beda, masing-masing memiliki ciri sendiri-sendiri, dan itu dimengerti oleh orang-orang yang mempelajari sejarah, atau orang yang mena-ruh perhatian kepada kehidupan Sang Kekasih Allah Ta’ala shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam.

Pembaca budiman:

Seraya Anda membaca tulisan-tulisan ini, marilah bersama saya kita beralih ke dasar sejarah. Pada saat di mana Nabi s.a.w. masih di Mekah. Di rumah al-Arqam, dan berdakwah se-cara sembunyi-sembunyi. Kemudian ketika Islam tampil di si-tu. Kemudian ketika sahabat-sahabat mulia beliau berhijrah menuju ke Habasyah. Sebuah negeri asing dan jauh dari Madi-nah. Meninggalkan keluarga, harta benda, dan negeri tumpah darah. Renungkanlah kondisi mereka yang berada dalam perja-lanan jauh memayahkan. Sedang mereka berada di atas onta dan juga berjalan kaki. Mereka semuanya hidup dalam ketakutan dan pengepungan di Madinah ketika terjadi perang Khandak. Menembus padang gurun para waktu perang Tabuk. Mereka pun hidup pada periode memperoleh pertolongan pada perang Badar, Khandak, Khaibar, Hunain. Sebelum itu di Mekah dan dan dae-rah-daerah lain.

Renungkanlah kesan-kesannya terhadap kejiwaan. Memang betapa terjalin kasih sayang dan persahabatan di antara sesama mereka. Belum sirna dari ingatan Anda, bahwa Rasulu-llah s.a.w. ada bersama mereka. Beliau berperan selaku pe-nuntun mereka, pendidik, dan pengajar. Masih tersimpan dalam benak Anda,b ahwa al-Quran diturunkan dari Tuhan Penguasa semesta langit dan bumi kepada pimpinan kelompok ini, kepada Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam. Renung-kanlah keadaan mereka itu. Tersatupadukan hati mereka kepada Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam. Renung-kanlah kesan dari kebersatuan sosial di mana hati mereka te-lah terpadu dan menyatu kepada Rasulullah shalallaahu ‘alai-hi wa aalihi wa sallam. Dan Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam sendiri bangkit membina mereka, hidup bersama mereka, dan al-Quran turun kepada mereka. Marilah bersama-sama kita renungkan kondisi dan situasi masa-masa itu. Sebelumnya telah kami jelaskan hadis-hadis berkaitan kondisi tersebut pada risalah pertama, tentang persahabat Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam.

Tidak diragukanlah, kesepakatan, seia-sekata, dan cin-talah yang telah mempertalikan antara mereka. Allah Ta’ala berfirman:

وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا.

“Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh musuhan, lalu Allah mempersatukan hati-mu, maka menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara.” (QS: Ali Imran 103).

Sekiranya Anda sudi merenungkan makna-maknanya; pernya-taan dari Allah s.w.t. kepada para sahabat Rasulullah shala-llaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam, bahwa Dia telah berkenan “mempersatukan hati mereka“. Inilah karunia Allah Ta’ala ke-pada para sahabat Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam, dan tidak akan ada yang dapat menolak karunia Allah.

Memang, ketika itu pernah ada permusuhan yang berkobar antara kabilah Aus dengan Khazraj. Tetapi kemudian Allah Ta-‘ala menyirnakan permusuhan ini, dan menjadikan gantinya de-ngan rasa cinta dan seia-sekata.

Pembaca budiman:

Apakah kiranya yang menghalangi Anda untuk mengimani pernyataan ini, dan untuk berbaik sangka kepada para sahabat Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam. Sedang Tuhan mereka s.w.t. telah memberi kesaksian bagi mereka, menjelaskan kepada mereka adanya karunia-Nya kepada mereka. Dan mereka pun telah menjadi bersaudara, hati mereka menjadi jernih, tertanam di dalamnya rasa keterkaitan, cinta, dan seia-sekata. Inti pemahamannya adalah pada segi umum lafal nash, bukan didasarkan pada sebab. Yang membuktikan segi umumnya adalah ayat al-Quran berikut, Allah Ta’ala berfir-man:

وَإِنْ يُرِيدُوا أَنْ يَخْدَعُوكَ فَإِنَّ حَسْبَكَ اللهُ هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَبِالْمُؤْمِنِينَ, وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ.

“Dan jika mereka bermaksud hendak menipumu, maka se-sungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin, dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak da-pat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Per-kasa lagi Maha Bijaksana.” (QS: Al-Anfaal 62-63).

Pembaca budiman:

Renungkanlah ayat-ayat tersebut, dan bacalah berulang-ulang. Sebab di dalamnya terkandung karunia keutamaan Allah s.w.t. kepada Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam dalam bentuk pertolongan, dan juga kepada orang-orang beriman. Yang penting untuk kita tekankan di sini, ialah; sekiranya Nabi shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam mem-belanjakan harta benda di bumi seluruhnya, niscaya beliau tidak dapat memperoleh yang seperti itu. Tetapi Allah s.w.t.-lah Sang Pemilik karunia. Menghadapi kenyataan seperti itu pun masih ada orang-orang yang mengingkarinya, dirinya tidak bersedia menerima, selain hendak menentang nash-nash, dan beranggapan bahwa permusuhanlah yang ada di antara para sahabat Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam.

Allah ‘Azza wa Jalla telah menjelaskan kepada kita, bah-wa Dia telah menyatukan hati mereka satu dengan yang lain, dan mempersatukan mereka, dan menjadikan mereka saling ber-saudara. Menjadikan mereka saling berkasih sayang. Dengan kenyataan seperti itu, masih saja terdapat tulisan-tulisan dan riwayat-riwayat yang menyatakan bahwa permusuhan di antara mereka tetap eksis!!

Terdapat banyak ayat-ayat yang sudah kami jelaskan. Se-bagian daripadanya memuji para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Juga terdapat ayat-ayat yang menjelaskan sifat-sifat mereka dan tindakan-tindakan mereka. Di antaranya; sifat lebih mengutamakan (saudara muslim dari diri sendiri) yang mana dihasilkan oleh cinta tersebut.

Allah Ta’ala berfirman:

لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِنَ اللهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ, وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلاَ يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ.

“(Juga) bagi para orang-orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan (Allah Ta’ala) dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mere-ka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terha-dap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muha-jirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muha-jirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka mem-erlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang

dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS: Al-Hasyr 8-9).

Pada penjelasan sebelumnya, di dalamnya terkandung isya-rat tentang berbagai penjelasan Qur’ani, dan itu berjumlah banyak, tetapi sengaja kami membatasinya sekedar yang menun-jukkan tentang hubungan kasih sayang. Menekankan kebera-daannya. Dan bahwa perasaan tersebut mengalir dalam diri pa-ra sahabat Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam. Sebagaimana telah Anda maklumi, bahwa lebih menguta-makan (saudara muslim dari diri sendiri), persaudaraan, sa-ling melindungi, dan saling berpadu hati, semua ungkapan-ungkapan ini terkandung di dalam nash-nash Qur’ani. Itu me-nekankan pada sifat kasih sayang (cinta). Bahkan dinyatakan lebih dari satu “nash Qur’ani” yang menjelaskan hal itu. Re-nungkanlah ayat di atas. Di dalamnya menegaskan soal kasih sayang orang-orang Anshar terhadap orang-orang Muhajirin, dan renungkan pulalah akhir ayat dari Surat al-Fath.

Lebih lanjut, berikut kami sajikan kisah yang diriwa-yatkan oleh Ali al-Arbili di dalam kitabnya berjudul “Kasyfu al-Ghummah (jus 2/78; edisi Teheran): Dari Imam Ali bin al-Husein ‘alaihimassalam, beliau berkata: “Datang menghadap Imam beberapa orang dari Irak, mereka membicarakan tentang Abu Bakar, Umar, dan Utsman (radhliyallahu ‘anhum). Ketika mereka sudah selesai berbicara, Imam berkata kepada mereka: “Adakah kalian hendak mengajar kepada saya? Apakah kalian yang disebut Muhajiruunal Awwaluun? (sebagaimana firman Allah Ta’ala): “Orang-orang yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan (Nya) dan mereka menolong Allah dan Ra-sul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” ?? (QS: Al-Hasyr 8).

Mereka menjawab: “Bukan.”

Beliau kembali bertanya: “Kaliankah orang-orang yang (dinyatakan dalam firman Allah Ta’ala): Orang-orang yang te-lah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebe-lum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh ke-inginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka sendiri membutuhkan (apa-apa yang mereka berikan itu).”?? (QS: Al-Hasyr 9).

Mereka menjawab: “Bukan.”

Beliau berkata lagi: “Kalian telah mengakui, bahwa kalian bukan termasuk salah satu dari dua golongan tersebut, maka saya bersaksi, bahwa kalian juga bukan dari golongan orang-orang sebagaimana difirmankan Allah:

يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَِلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا.

“Mereka berdoa: “Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman.” (QS: Al-Hasyr 10).

Menyingkirlah kalian dariku, karena Allah akan menghukum kalian!”

Demikianlah pemahaman Zainal Abidin Ali bin al-Husein (alaihimassalam), sedang beliau dari kalangan tabi’in. Bah-kan telah banyak kitab-kitab tentang pujian sebagian mereka terhadap sebagian yang lain, baik itu di dalam kitab-kitab Ahlus Sunah demikian pula di dalam kitab-kitab Syi’ah. Orang yang meneliti kitab “Nahju al-Balaghah”, niscaya akan men-dapati banyak ceramah-ceramah dan isyarat-isyarat yang jelas yang keseluruhannya bersifat memuji para sahabat Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam. Kami pilihkan salah satu di antaranya, karena di dalamnya terdapat kutipan dari ayat al-Quranul Karim.

Imam Ali a.s. berkata: “Sungguh saya sudah menyaksikan sahabat-sahabat Muhammad shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam, tetapi saya tidak melihat satu orang pun yang me-nyerupai kalian. Siang hari mereka lusuh berdebu, tetapi me-lalui malam hari dengan bersujud, berdiri, menghadap, berpa-ling (bersalam), dan berdiri laksana berada di atas bara takut karena teringat akan akhirat mereka. Seolah-olah di antara kedua mata mereka memandang musibah karena banyaknya bersujud. Manakala teringat Allah, mengucurlah air mata me-reka, sampai memenuhi saku mereka. Teguh laksana pohon kokoh yang menghadapi angin badai lantaran takut akan azab dan sa-ngat berharap pahala..”

Ucapan beliau a.s. di dalam memuji para sahabat panjang sekali. Sementara putra beliau Imam Zainal Abidin juga mem-punyai naskah yang mengandung doa bagi para sahabat Rasu-lullah s.a.w., juga puji-pujian terhadap mereka. Bisa Anda dapati, masing-masing Imam-imam (alaihimussalam) banyak mengutarakan pernyataan-pernyataan pujian terhadap para sahabat (radhiyallahu ‘anhum). Ada banyak riwayat tentang mereka yang menjelaskan pujian-pujian terhadap Khulafa’ ar-Rasyidin (Khalifah Empat yang lurus) dan Ummahaat al-Muk-miniin (Ibu-ibu bagi orang beriman), maupun kepada salihin lainnya. Sekiranya dihimpun, tentu akan menjadi kitab yang berjilid-jilid.

Pembaca budiman:

Kiranya saya sudah terlalu banyak berbicara kepada Anda, sekalipun berupaya untuk meringkaskannya. Maka saya mohon agar dimaklumi, dan mohon kepada Allah Yang Mahapemurah, ki-ranya itu semua akan mendatangkan manfaat bagi diri saya sendiri dan juga bagi Anda. Tetapi memang dituntut untuk menjelaskan hakikatnya secara lengkap. Saya pun berharap kiranya Anda dapat bersabar bersama saya untuk sesaat lagi. Sebab risalah ini sudah hampir selesai, hanya tinggal sebuah risalah singkat untuk menjelaskan kedudukan Aalul Bayt dalam pandangan Ahlus Sunah wal Jamaah, agar dengan begitu Anda memahami (semoga Anda dibimbing Allah), bahwa Ahlus Sunah sangat bersungguh-sungguh berpegang teguh dan merealisasikan al-Quranul Karim (selaku tugas utama), dan mereka pun ber-pegang teguh kepada keluarga (Aalu) Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam (al-Itrah). Untuk ini diperlukan tinjauan serius.

Sebelumya sudah diperjelas tentang kasih sayang di an-tara sesama sahabat Nabi shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam seluruhnya, termasuk di dalamnya para kerabat beliau s.a.w. dan orang-orang istimewa yang di masukkan bersama be-liau di dalam kerudung (beliau). Maka pada penjelasan ber-ikut terkandung upaya untuk menjelaskan beberapa hak se-bagaimana ditetapkan ulama Ahlus Sunah rahimahumullahu Ta-‘ala.

ooo 0 ooo

SIKAP AHLUS SUNAH TERHADAP AALUL BAYT (ALAIHIMUSSALAM)

Di dalam tata bahasa dan peristilahan, dijelaskan: Bahwa Aalul Bayt; artinya keluarga seseorang. Kata “at-Ta-ahhul”; artinya “menikah”. Demikian menurut al-Khalil(1). Kata “Ahlul Bayt“; artinya “Penghuni rumah”. Kata “Ahlul Islam“; artinya, orang yang beragamakan Islam(2).

Berkaitan dengan kata “al-Aalu”; dinyatakan dalam Kitab Himpunan Perkiasan (Mu’jamu al-Maqaayis al-Lughah), seperti ucapan: “Aalu ar-Rajuli”; artinya, penghuni rumahnya(3).

Ibnu al-Mandhur menjelaskan: “Aalu ar-Rajul“; artinya, keluarganya. Kalimat “Aalullaahi wa rasuulih“; artinya, wa-li-wali-Nya. Asal katanya “Ahlun“, tetapi kemudian huruf “ha’” disitu ditukar dengan “hamzah / a” sehingga menjadi “a a l”. Manakala dua “hamzah” bertemu menjadi satu, lalu di-ganti lagi menjadi “alif” (panjang)(4).

Kata itu pada umumnya tidak ditujukan, kecuali untuk “kehormatan”. Sehingga tidak boleh mengatakan “Aalu al-Haa-ik” yang artinya “tukang merajut”, berbeda penggunaan dengan kata “Ahlu“, sehingga boleh mengatakan “Ahlu al-Haa-ik“. “Baitu ar-Rajuli“; bermakna; rumahnya dan kehormatannya(5).

__________

1) Silahkah baca “al-‘Ainu”; (4/28).

2) Ash-Shahaah; (4/1628). “Lisaanu al-Araab”; (11/28).

3) Mu’jam Maqaayiis al-Lughah; (1/161).

4) Lisaanul Araab; (11/31). Juga yang seperti itu, oleh al-Ashfahani, dalam kitab “al-Mufradaat fii ghariibil Qur-aan”; hal. 30.

5) Lisaanul Araab; (2/15).

Apabila disebut kata “al-Bait“, maka mengarah pada makna Baitullah, yaitu Ka’bah. Sebab, hati manusia tertambat ke sana. Jiwa manusia menjadi tenteram di dalamnya. Dan ia juga merupakan Kiblat. Sebutan “Ahlul Bayt” pada masa jahiliyah, dikhususkan hanya kepada orang-orang yang tinggal di situ. Tetapi sesudah Islam, apabila dikatakan Ahlul Bayt, maka yang dimaksud adalah keluarga Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam(6).

BAGAIMANA KEJELASAN ISTILAH AALU RASUL SHALALLAAHU ‘ALAIHI WA AALIHI WA SALLAM

Para ulama berselisih pendapat di dalam menetapkan pem-batasan menyangkut Aalul Bayt Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam. Pendapat-pendapat yang populer, adalah:

1) mereka yang diharamkan menerima sedekahan. Ini pendapat Jumhur Ulama.

2) Mereka adalah anak cucu Nabi shalallaahu ‘alaihi wa aa-lihi wa sallam, dan istri-istri beliau. Ini pendapat Ibnu al-Arabi di dalam “Ahkaamu al-Quran”, dan beliau mempertahankan pendapat tersebut. Ada juga yang berpen-dapat dengan pendapat ini, bahkan dengan mengeluarkan istri-istri Nabi s.a.w. dari predikat Aalul Bayt.

3) Bahwa yang dimaksud dengan Aalu Nabi shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam, adalah pengikut-pengikut beliau sampai Hari Kiamat. Pendapat tersebut dipertahankan oleh Imam an-Nawawi di dalam “Syarah ‘alal Muslim”, begitu juga penyusun kitab “al-Inshaaf”. Ada juga ulama

__________

6) “al-Mufradaat fii ghariibil Qur-aan”; hal. 39. Bahkan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah telah menyusun sebuah risalah khusus menyangkut bidang ini, demi memperjelas pemahaman, yaitu di dalam kitab “ash-Sholaatu ‘alaa khoiril anaam”. Silahkan Anda merujuk padanya. Dan juga merujuk pada prakata kitab “al-Muhaqqiq”. Telah banyak kitab-kitab yang membahas persoalan ini. Dari sini akan jelas bagi Anda betapa perhatian ulama Ahlus Sunah dengan persoalan ini.

yang membatasinya sebatas orang-orang takwa saja, yang mengikuti Nabi Pilihan shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam.

Tetapi pendapat yang paling kuat adalah yang pertama.

SIAPAKAH MEREKA YANG DIHARAMKAN MENERIMA SEDEKAHAN

Mereka adalah bani Hasyim, dan bani Abdul Muthalib, ini pendapat yang kuat. Seperti itu pulalah pendapat Ulama Jum-hur. Ada juga ulama yang membatasinya sebatas bani Hasyim saja, tidak termasuk bani Abdul Muthalib. Sedang yang di-maksud dengan Aalu Rasul shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam, dalam pandangan Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyyah, adalah para imam yang berjumlah dua belas, itu saja, bukan mereka yang lain. Dan mereka membahasnya bercabang be-ranting, di sini bukan merupakan media untuk menjelaskannya. Dengan begitu, perbedaan antara dua kubu ini besar sekali menyangkut masalah ini. Oleh karena itu timbul perpecahan. Silahkan baca kitab berjudul “al-Farqu asy-Syii’atu” oleh an-Naubakhti.

AKIDAH AHLUS SUNAH TERHADAP AALU RASUL SHALALLAAHU ‘ALAIHI WA AALIHI WA SALLAM

Nyaris Anda tidak bisa mendapati suatu kitab dari kitab-kitab akidah yang di dalamnya mengandung masalah-masalah akidah, selalu saja Anda dapati nash-nash menyangkut masalah ini. Yang demikian karena adanya perhatian serius. Lalu para ulama menetapkannya sebagai persoalan akidah. Dan para ulama pun menulis berbagai risalah yang menekankan aspek-aspek pentingnya.

Kesimpulan dari pembahasan menyangkut akidah Ahlus Su-nah, adalah sebagaimana ditegaskan oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah di dalam “al-‘Akiidatu al-Waasithiyyah”, dan risa-lah beliau tersebut sangat singkat. Dalam pada itu beliau rahimahullah menjelaskan: “Mereka menyintai Ahlul Bayt Rasu-lullah shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam, mengangkat mereka pada kedudukan terhormat, menjaga wasiat Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam berkaitan diri mereka, sebagaimana beliau s.a.w. bersabda pada Hari Ghadir Khum: “Kuperingatkan kalian kepada Allah berkaitan dengan Ahlul Baytku. Kuperingatkan kalian kepada Allah berkaitan dengan Ahlul Baytku.”(7).

Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam juga bersabda kepada Abbas paman beliau yng mana ketika itu me-ngadu kepada beliau bahwa beberapa orang Quraisy bersikap kasar terhadap bani Hasyim: “Demi Dzat Yang jiwaku berada dalam Genggaman-Nya, mereka belum beriman sehingga menyintai kalian karena Allah dan karena (kalian adalah) kerabat-ku.”(8).

Beliau s.a.w. juga bersabda: “Sesungguhnya Allah telah memilih bani Ismail, dan memilih dari kalangan bani Ismail itu Kinanah, dan memilih dari Kinanah itu Quraisy, dan me-milih dari Quraisy itu bani Hasyim, dan memilih diriku dari antara bani Hasyim.”(9).

Dengan nash-nash menyangkut para Imam yang seperti ini, masih juga banyak orang-orang Syi’ah yang beranggapan bahwa orang-orang Ahlus Sunah sangat memusuhi mereka, atas dasar Kitab Ahlus Sunah yang berjudul Minhaju as-Sunnah menentang pendapat Ibnu al-Muthahhar al-Hili.

__________

7) Riwayat Muslim dan mereka yang lain. Dalam kitab “Fadhaa-ilu ash-Shahaabah; bab “Fadhlu ‘Aliy ‘alaihis salaam”; 15/ 188.

8) Diriwayatkan Ahmad di dalam “Fadhlaa-ilu ash-Shahaabah”. Dan beliau menjelaskannya secara panjang lebar. Yang penting, pemahaman seperti itu benar, sebab ada penegasan ayat me-nyangkut hal itu.

9) Diriwayatkan Muslim.

RINCIAN TENTANG HAK-HAK MEREKA

Rincian hak-hak mereka adalah sebagai berikut:

Pertama hak-hak cinta dan kewalian.

Pembaca budiman:

Tentu sudah Anda maklumi, bahwa rasa cinta dari setiap mukmin maupun mukminah adalah wajib menurut syariat. Seba-gaimana sudah dijelaskan sebelumnya menyangkut kecintaan dan kewalian kepada Aalu Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam. Sikap kecintaan dan kewalian ini bersifat khusus dan tidak dapat dipersamakan dengan mereka yang lain, yaitu atas dasar sabda beliau s.a.w. : “Terhadap kerabatku.” Adapun yang paling utama, yaitu (cinta) semata-mata karena Allah, termasuk di dalamnya persaudaraan dan perwalian se-iman, dan ini tertuju kepada seluruh muslimin secara umum. Sebab seorang muslim adalah saudara muslim. Dengan begitu mencakup seluruh muslimin yang mana mereka tergolong Aalu Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam. Lalu Na-bi s.a.w. menetapkan kecintaan yang bersifat khusus bagi ke-rabat beliau, yang didasarkan karena mereka berkerabat dengan Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ لاَ أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلاَّ الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى.

“Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang terhadap kera-bat.” (QS: Asy-Syuura 23).

Inilah makna dari hadis yang lalu sesuai dengan pe-mahaman yang sesungguhnya di dalam ayat tersebut. Sebab, ada di kalangan ahli-ahli tafsir yang mengatakan: “Kalian me-nyintaiku atas dasar perkerabatanku pada kalian.” Sebab Ra-sulullah shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam, beliau mempunyai kerabat pada seluruh masing-masing kabilah Qu-raisy. Maksudnya; rasa cinta mereka, sikap mereka yang mem-perwalikan beliau, dan penghormatan mereka (terhadap be-liau), adalah didasarkan karena perkerabatan mereka kepada Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam sangatlah teguh. Dan itu bukan merupakan kewalian yang bersifat umum kepada setiap orang Islam.

Kedua: Hak Shalawat atas Mereka

Demikian pula soal bersholawat kepada mereka. Allah Ta-‘ala berfirman:

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershala-wat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershala-watlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormat-an kepadanya.”(QS: Al-Ahzab 56).

Diriwayatkan Muslim di dalam kitab Shahihnya, dari Abu Mas’ud al-Anshari r.a., ia berkata: “Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam menghampiriku di majelis Sa’ad bin Ubadah, lalu Bisyir bin Sa’ad berkata kepada beliau: “Allah Ta’ala telah memerintahkan kepada kami agar bersho-lawat kepada tuan wahai Rasulullah. Bagaimanakah cara kami bersholawat kepada tuan?”

Katanya: “Lalu Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam diam, sehingga kami memandang seolah-olah beliau seperti tidak ditanya. Kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: “Ucapkanlah ALLAAHUMMA SHOLLI ‘ALAA MUHAMADIN WA ‘ALAA AALI MUHAMMADIN KAMAA SHOLLAITA ‘ALAA IBRAAHIIM. WA BAARIK ‘ALAA MUHAMMADIN WA ‘ALAA AALI MUHAMMADIN KAMAA BARAKTA ‘ALAA IBRAAHIIM, FIL ‘AALAMIINA INNAKA HAMIIDUM MAJIID

(Wahai Allah, karuniakanlah kiranya sholawat kepada Mu-hammad dan Aalu Muhammad sebagaimana sholawat yang te-lah Engkau karuniakan kepada Ibrahim. Dan karuniakan pulalah kiranya berkah kepada Muhammad beserta Aalu Muhammad sebagaimana berkah yang telah Engkau karunia-kan kepada Ibrahim. Di semesta alam ini, Engkaulah Yang Mahaterpuji lagi Mahatersanjung).

Sedang cara mengucapkan salam, adalah sebagaimana telah kalian pahami!!”(10).

Seperti itu juga hadis Abu Humaid as-Sa’idi yang di-riwayatkan al-Bukhari dan Muslim. Dalil-dalil untuk ini ada banyak sekali. Ibnu al-Qayyim rahimahullah menjelaskan: “Se-benarnya shalawat tersebut adalah hak mereka, bukan ke-pada semua umat, tanpa membeda-bedakan di antara masing-masing imam.”(11).

Itu dibaca di dalam Shalawat Ibrahimiyyah.

Ketiga: Hak Khumus (Seper limaan)

Demikian pula dengan hak khumus bagi mereka. Allah Ta-‘ala berfirman:

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا غَنِمْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَأَنَّ ِللهِ خُمُسَهُ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ.

“Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu per-oleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seper-lima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak ya-tim, orang-orang miskin dan ibnussabil.”(QS: Al-Anfaal 41).

Juga terdapat banyak hadis-hadis, dan bagian khusus ini adalah teruntuk bagi Kerabat (Nabi s.a.w.). Dan masih tetap disalurkan kepada mereka sesudah kewafatan Rasulullah shala-llaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam. Itulah pendapat Ulama Jumhur. Dan itulah yang benar.(12).

__________

10) Muslim di dalam kitab “ash-Shalaah”; bab “ash-Shalaatu ‘ala an-Nabiyyi ba’da at-Tasyahhud” (1/305); No. 405.

11) Jalaa’u al-Afhaam. Beliau rahimahullah juga menjelaskan-nya secara panjang lebar.

Penjelasan:

Hak-hak mereka ada banyak jumlahnya. Kami akan menjelas-kan yang terpenting dari hak-hak tersebut, dan itu dilayak-kan hanya yang jelas keIslamannya dan nasabnya. Jadi harus-lah atas dasar itu, di samping harus berbudi baik.

Ketika itu, Rasul kita shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam, memperingatkan agar tidak hanya bersandar kepada na-sab keturunan. Begitu juga dengan sikap Nabi shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam, di Mekah, dalam sebuah peris-tiwa yang populer, yang mana beliau bersabda: “Wahai segenap orang-orang Quraisy, tebuslah diri kalian sendiri terhadap Allah, saya tidak dapat sedikit pun menolong kalian terhadap Allah. Hai Abbas bin Abdul Muthalib, saya tidak dapat sedi-kitpun menolong kamu terhadap Allah. Hai Shafiyah, bibi Ra-sulullah -shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam-, sayat tidak dapat sedikitpun menolong kamu terhadap Allah. Hai Fa-thimah putri Muhammad, mintalah kepadaku dari hartaku seke-hendak hatimu, sedikitpun saya tidak dapat menolong kamu terhadap Allah.” (HR. Al-Bukhari).

Yang sudah dimaklumi bersama adalah ayat yang diturunkan terhadap Abu Lahab.

Semoga Allah melindungi kita dari siksa neraka.

ooo 0 ooo

SIKAP AHLUS SUNAH WAL JAMAAH TERHADAP AN-NAWAASHIB (ORANG-ORANG YANG MEMBENCI AALUL BAYT) Penjelasan:

Untuk menyempurnakan perbincangan tentang kedudukan Aalu Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam, maka ki-ta segenap Ahlus Sunah wal Jamaah cenderung untuk menjelas-kan sikap Ahlus Sunah wal Jamaah terhadap an-Nawaashib, yai-tu sebagai berikut:

__________

12) Silahkan baca kitab “al-Mughni” (9/388), juga di dalam “Risaalah ash-Shaghiirah”; oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkaitan hak-hak Ahlul Bait, yang mendapat pujian dari Abu Turab adh-Dhahiri.

Kata an-Nashabu menurut tata bahasa, berarti menegakkan sesuatu dan mengangkatnya. Juga disebutkan; Naashibatu asy-Syarra wal Harba; Penyulut huru-hara dan perang. Sedang di dalam kamus dinyatakan, kata “an-Nawaashib“, kata “an-Naa-shibah“, dan kata “Ahlu an-Nashab“, berarti orang-orang yang berlagak alim dengan membenci Ali (a.s.). Sebab mereka; “na-shabuu lahu”, yakni memusuhi beliau.

Itulah asal katanya. Jadi, setiap orang yyang membenci Aalul Bayt, maka ia tergolong an-Nawaashib.

Pembaca budiman:

Penuturan kalangan ulama sudah nyata dan jelas, tentang pujian terhadap Imam Ali dan putra-putri beliau (alaihimu-ssalam). Berkaitan dengan akidah kita, maka kita bersaksi, bahwa Ali, al-Hasan, dan al-Husein (alaihimussalam), berada di dalam surga Na’im. Itu sudah jelas. Alhamdulillah.

Kami perjelas di sini tentang sikap Ahlus Sunah terhadap orang-orang Nawashib, dan betapa Ahlus Sunah berlepas diri dari sikap ber-nawashib. Ini termasuk masalah sangat pen-ting. Sebab, ini merupakan penyebab berbagai perpecahan dan perselisihan di kalangan umat Islam. Bisa Anda saksikan ada-nya orang-orang yang akan mengambil keuntungan dan memanfa-atkan perpecahan ini, yang mana mereka membahas persoalan-persoalan yang menyulut perpecahan, dan di berbagai ke-sempatan mereka pun menambah-nambahinya, bahkan adakalanya tanpa memandang situasi dan kondisi, dengan berbagai ucapan yang bersifat menyulut kayu, dan mengobar api. Dan ucapan-ucapan ini merupakan ucapan-ucapan licik, tipudaya, dan dusta sejati.

Bisa Anda dapati adanya orang-orang yang mengatakan, bahwa Ahlus Sunah membenci Imam Ali dan putra-putrinya (alaihimussalam), lalu mengenakan kendali pada lidahnya un-tuk mengutarakan dusta. Ucapan terbaiknya, manakala ia meng-ulang-ulang riwayat-riwayat dan kisah-kisah khayal tentang kebencian Ahlus Sunah terhadap Imam Ali a.s. Sementara Ahlus Sunah sendiri telah meriwayatkan banyak hadis-hadis tentang keutamaan beliau. Bahkan tidak Anda dapati sebuah kitab ha-dis pun, kecuali di dalam menjelaskan keutamaan-keutamaan Imam Ali (a.s.) dan sejarah emas dari kehidupan beliau.

Pembaca budiman:

Pernyataan Ahlus Sunah terhadap an-Nawaashib adalah je-las. Kiranya akan cukuplah dengan mengutip pernyataan Syei-khul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta’ala. Beliau yang alim ini berpendapat, bahwa Syi’ah memandang, bahwa ulama Sunni adalah orang-orang yang paling keras memusuhi mereka. Bahkan beliau sudah menyusun sebuah artikel besar dan indah menyangkut sanggahan terhadap Syi’ah. Beliau rahimahullah menjelaskan: “Mencaci Ali dan mengutuk beliau, termasuk tin-dakan durhaka yang layak untuk digolongkan sebagai “Kelompok Pendurhaka” (ath-Thaifatu al-Baaghiyah), sebagaimana diriwa-yatkan al-Bukhari di dalam kitab Shahih beliau, dari Khalid al-Hidza’, dari Ikrimah, ia berkata: “Ibnu Abbas berkata ke-padaku dan kepada putra beliau Ali: “Pergilah kalian berdua kepada Abu Sa’id dan dengarkanlah oleh kalian ucapan be-liau!”

Lalu kami pun berangkat. Ternyata beliau sedang membe-nahi pagar (dinding). Beliau mengambil selendangnya, mema-kainya, selanjutnya berbincang-bincang kepada kami. Sehingga ketika beliau menjelaskan tentang pembangunan masjid, lalu beliau berkata: “Ketika itu kami mengangkat batu bata satu demi satu, sedang Ammar (mengangkatnya) dua demi dua. Ketika itu Nabi -shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam- melihat-nya, lalu beliau mengibaskan debu dari (tubuh)nya, dan ber-sabda: “Aduh Ammar! Ia akan dibunuh oleh kelompok pendurhaka (al-Fiatu al-Baaghiyah). Dia mengajak mereka ke surga, se-dang mereka mengajaknya ke neraka.”

Katanya: “Lalu Ammar berkata: “A’udzu billaahi minal fitan.” (Saya berlindung dari fitnah).

Diriwayatkan Muslim yang juga dari Abu Sa’id. Ia ber-kata: “Diriwayatkan kepada saya oleh orang yang lebih mulia dari diriku, yaitu Abu Qatadah, bahwa Rasulullah -shala-llaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam- bersabda kepada Ammar ketika ia sedang menggali parit. Beliau s.a.w. mengusap ke-palanya seraya bersabda: “Alangkah malang Putra Sumayyah, ia akan dibunuh oleh kelompok pendurhaka.”

Muslim juga meriwayatkan dari Ummu Salamah, dari Nabi -shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam-, bahwa beliau ber-sabda: “Ammar akan dibunuh oleh kelompok pendurhaka.”

Kisah ini pun membuktikan akan kebenaran kepemimpinan Ali (a.s.), wajib patuh kepada beliau. Dan bahwa orang yang mengajak untuk mematuhi beliau sama dengan mengajak ke surga. Orang-orang yang mengajak untuk memerangi beliau sama dengan menyajak ke neraka (meskipun atas dasar takwil). Dan itu pun merupakan dalil, bahwa tidak diperbolehkan memerangi Ali. Dengan ini pula, orang yang memerangi beliau, adalah pihak yang keliru (atas dasar takwil), atau tanpa takwil di-sebut durhaka. Itulah pendapat yang paling sah di antara dua pendapat sahabat-sahabat kami. Artinya, menetapkan hukum “pihak bersalah” kepada orang yang memerangi Ali. Dan itulah pendapat mazhab para imam fukaha yang mengamati peristiwa perang terhadap para pendurhaka, melalui jalur takwil.”(13).

Renungkanlah penjelasan beliau berikut ini:

Beliau rahimahullah setelah berpanjang lebar membicara-kan pendirian Ahlus Sunah berkaitan Yazid, situasi yang me-manas, dan betapa telah terjadi perselisihan umat pada saat itu, lalu beliau mengatakan: “Berkaitan dengan orang yang telah membunuh al-Husein, dan yang turut serta berupaya mem-bunuh beliau, ataupun mereka rela atas pembunuhan itu, maka ia akan dikutuk oleh Allah, para malaikat, dan segenap umat manusia.”(14).

Dengan ini semua, layakkah seorang penceramah atau se-orang ustadz menuduh kepada Ahlus Sunah, dan mengatakan bah-wa mereka adalah golongan an-Nawashib? Sedang itu tadi ada-lah pernyataan salah seorang pakar imam salaf.

SEKILAS

Saudaraku yang diberkahi, boleh jadi timbul dalam diri Anda berbagai pertanyaan seputar keterangan-keterangan yang Anda baca di dalam risalah ini. Dan juga berkait dengan sejarah terjadinya perang Shiffin, dan perang Jamal di an-

__________

13) Majmu’ Fataawa; oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahima-hullahu Ta’ala (4/437).

14) Ibid (4/487).

tara sesama sahabat radhillahu ‘anhum. Sebab, pada masing-masing kelompok ada sejumlah sahabat, tetapi pada umumnya dan secara mayoritas, berada bersama Ali dan juga Aalul Bayt beliau (alaihimussalam), ini membutuhkan penjelasan (risa-lah) khusus. Kami mohon kepada Allah, kiranya membantu diri kami untuk dapat mengeluarkannya dan menjelaskan hakikat pe-ristiwa itu dengan segala yang terkait.

Saya peringatkan diri saya sendiri dan juga kepada Anda terhadap firman Allah s.w.t.

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللهِ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ. إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ . . .

“Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin ber-perang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah sa-tu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap go-longan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perin-tah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya de-ngan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah me-nyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara …., dst.” (QS: Al-Hujurat 9-10).

Jadi, mereka ditetapkan sebagai orang beriman sekalipun sudah saling berperang. Ayat tersebut begitu jelas, sehingga tidak membutuhkan ulasan maupun tafsir. Oleh karena itu, me-reka adalah orang-orang beriman, meskipun terjadi peperangan di antara mereka. Demikian juga dengan firman Allah s.w.t.:

فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ.

“Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari

saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik.” (QS: Al-Baqarah 178).

Ini terhadap orang yang membunuh secara terang-terangan ….. Allah s.w.t. masih menegaskan perihal persaudaraan imani antara si pembunuh dengan pihak yang terbunuh. Jadi, ke-jahatan membunuh yang bernilai keji, dan yang dijelaskan Allah akan disiksa dengan siksaan keras, tidaklah menge-luarkan mereka dari lingkaran iman. Dan mereka pun dengan keluarga pihak yang terbunuh masih bersaudara. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara.” (QS: Al-Hujurat 10).

Untuk persoalan ini dibutuhkan sebuah risalah yang khu-sus -sebagaimana telah dijelaskan-. Semoga dalam waktu dekat Allah berkenan memudahkan edisinya. Insya Allah Ta’ala.

ooo 0 ooo

PENUTUP

Segala puji bagi Allah, Yang telah mengaruniakan kepada kita rasa cinta kepada Nabi s.a.w., keluarga beliau orang-orang mulia, dan juga para sahabat beliau orang-orang bijak.

Pembaca tercinta:

Setelah kita hidup bersama-sama dengan Aalu Rasulullah , orang-orang suci (kiranya sholawat serta salam terlimpah ke-pada mereka semua), dan juga bersama para sahabat beliau s.a.w. selaku orang-orang bijak (kiranya mereka semua diri-dhlai Allah Ta’ala). Setelah kita hidup bersama mereka, sudah memahami jalinan kasih sayang di antara sesama mereka, baik dalam wujud silaturrahim, periparan, saling menyayang, persaudaraan, maupun keterpaduan hati, sebagaimana ditegas-kan oleh Allah di dalam al-Quranul Karim….

Wajib atas diri kita untuk bersungguh-sungguh memohon kepada Tuhan semesta alam, kiranya berkenan membimbing diri kita ke jalan yang disukai dan diridhai-Nya. Dan agar menjadikan diri kita ke dalam golongan sebagaimana dinya-takan dalam Kitab-Nya mulia, yang mana sesudah memuji kepada orang-orang Muhajirin dan Anshar, lalu Allah s.w.t. berfir-man:

وَالَّذِينَ جَائُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَِلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ.

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Tuhan kami, beri ampun-lah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Pe-nyantun lagi Maha Penyayang”.(QS: Al-Hasyr 10).

Sebagaimana ditegaskan oleh Zainal Abidin (a.s.): “Per-nah ada sejumlah orang dari Irak datang kepada Imam, lalu mereka berkata: “Lalu mereka membicarakan (ucapan-ucapan bu-ruk -pent) tentang Abu Bakar, Umar, dan Utsman (radhiyallahu ‘anhum). Ketika mereka sudah selesai berbicara. Beliau ber-kata kepada mereka: “Bersediakah kalian menjelaskan kepada saya, apakah kalian orang-orang yang digelari “al-Muhaji-ruuna al-Awwaluun” yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya.”?

Mereka menjawab: “Bukan !”

Beliau kembali bertanya: “Apakah kalian termasuk orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sen-diri. Sekalipun mereka memerlukannya?”

Mereka menjawab: “Bukan !”

Beliau berkata: “Kalian sendiri sudah mengakui tidak tergolong salah satu dari kedua golongan tersebut itu. Saya pun bersaksi, bahwa kalian bukan tergolong orang-orang yang dinyatakan oleh Allah:

يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَِلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا.

“Mereka berdoa: “Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman.”

Menjauhlah kalian dari diriku, karena Allah akan menu-runkan siksa terhadap kalian.”

(Kitab “Kasyful Ghummah”; juz 2; hal. 78; edisi Iran).

Itu penting, menampilkan penjelasan dan juga memperjelas hujah. Sebab, seseorang tidak mungkin terlepas dari Paduka-nya Yang Mahamulia lagi Mahatinggi. Sebagaimana dimaklumi, Allah ‘Azza wa Jalla telah meneguhkan Rasul -shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam- dengan mukjizat gemilang dan dengan al-Quranul Karim yang disifatkan oleh Allah sebagai “Cahaya yang Nyata” (Nuurul Mubiin), didukung dengan budi pekerti luhur Rasul -shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sa-llam-, kekuatan penjelasan beliau, kefasihan, disamping ke-jelian dalam menelaah dan mengamati, memahami karakter ma-sing-masing penduduk Mekah sejak masih kanak-kanak sampai masa beliau dibangkitkan. Dalam kondisi demikian pun, masih banyak dari kalangan penduduk Mekah yang masih tetap kafir sampai tiba masa Penaklukan. Oleh karena itu, wajib atas di-ri kita untuk bersungguh-sungguh berdoa, memohon taufik dan keteguhan di atas kebenaran dan tetap mengikuti beliau beta-papun situasinya. Sebab hidayah hanya datang dari sisi Allah ‘Azza wa Jalla.

Saudaraku budiman:

Ingatlah, bahwa diri Anda sedang menuntut segala sesuatu yang diperintahkan Allah. Sedang Allah memperhitungkan amal Anda berkaitan upaya itu. Oleh karena itu, waspadalah untuk tidak mengunggulkan ucapan seorang pun dari kalangan manusia melebihi ucapan (firman) Allah s.w.t. Sebab, Allah telah menurunkan al-Quran kepada Anda melalui lidah Arab yang je-las, dan telah menjadikannya selaku petunjuk dan penawar bagi orang-orang beriman. Menjadikannya buta (tertutup) bagi selain orang-orang beriman. Sebagaimana hal itu dijelaskan oleh Allah s.w.t.:

قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ وَالَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ فِي ءَاذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى.

“Katakanlah: “Al-Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang ti-dak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al-Quran itu suatu kegelapan bagi mereka.”

(QS: Fushshilat 44).

Oleh karena itu, carilah petunjuk melalui al-Quran ini, jadikanlah ia sasaran pandangan mata Anda. Semoga Allah me-ngaruniakan bimbingan kepada Anda ke arah yang diridhai-Nya.

Saudaraku yang diberkahi

Perhitungan (amal baik buruk) tiap-tiap orang berada di sisi Allah s.w.t., manusia tidak berhak untuk itu. Bahkan syafaat kepada orang-orang baik pun dengan berbagai per-syaratan. Wajib bagi kita untuk menghindarkan diri dari si-kap terlalu berangan-angan terhadap Allah s.w.t. sementara menyerahkan hukum (ketentuan nasib) kepada hamba-hamba-Nya. Tidak ada kerugian bagi kita untuk menyayangi Aalul Bayt Ra-sulullah shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam dan juga sekaligus menyayangi para sahabat-sahabat (radhliyallahu aj-ma’in). Bahkan sikap itu sesuai dengan al-Quranul Karim dan sesuai dengan hadis-hadis sahih.

Renungkanlah !

Pada akhirnya, hendaklah kita bersungguh-sungguh berdoa kepada Sang Paduka s.w.t., kiranya mencabut dari hati kita rasa tidak suka terhadap mereka, dan kiranya memperjelas ke-pada kita jalan yang hak. Dan kiranya Dia berkenan membantu diri kita menghadapi setan. Sesungguhnya Dialah Sang Pelin-dung dan kuasa untuk itu.

Allahlah yang lebih mengetahuinya.

Semoga sholawat serta salam terlimpah kepada Nabi kita Muhammad, para keluarga beliau, dan juga para sahabat be-liau.

ooo 0 ooo

TABEL PERIPARAN

ANTARA KELUARGA BANI HASYIM

DENGAN :

MEREKA YANG TERMASUK SEPULUH ORANG DIJAMIN MASUK SURGA

No.

Keluarga bani Hasyim

Mereka yang lain

Kitab-kitab rujukan

1

Rasulullah shalallaa-hu ‘alaihi wa aalihi wa sallama Aisyah binti ash-Shiddiq.

Hafshah binti Umar.

Ramlah binti Abu Sufyan.

Semua kitab rujukan

2

Ummu Kultsum binti Ali Umar bin al-Khathab Berbagai kitab rujuk-an, dan sudah kami je-laskan sebelumnya.

3

Fathimah binti al-Hu-sein Abdullah bin ‘Am-ru bin Utsman bin Affan. Al-Ashlu fi Ansaabi ath-Thaalibiin; hal. 65.; oleh Ibnu ath-Thaqthaqi.

‘Umdatu ath-Thaalib fii Ansaabi Aali Abi Thalib; hal. 118.; oleh Ibnu ‘Utbah dan mereka yang lain.

4

Shafiyah binti Abdul Muthalib

(bibi Rasulullah s.a.w.)

Al-Awwam bin Khu-wailid. Melahirkan bagi beliau az-Zu-beir bin al-Awwam sebelum Islam. Segenap rujukan, baik dari kalangan Syi’ah maupun Sunah.

5

Ummu al-Hasan binti al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib Dinikahi oleh Ab-dullah bin az-Zu-beir. Dan tetap tinggal bersamanya sampai wafat. Se-usai beliau terbu-nuh, lalu diambil oleh saudaranya bernama Zaid. Muntaha al-Amaal; hal. 341.; oleh Syeikh Abbas al-Qumi.

Taraajimu an-Nisaa'; oleh Muhammad al-A’la; hal. 346. Dan kitab-ki-tab lain.

6

Ruqayyah binti al-Ha-san bin Ali bin Abi Thalib Dinikah oleh ‘Amru bin az-Zubeir bin al-Awwam Muntaha al-Amaal; hal. 341.; oleh Abbas al-Qu-mi.

Taraajimu an-Nisaa'; oleh Muhammad al-A’la; hal. 346. Dan kitab-kitab lain.

7

Al-Husein al-Ashghar bin Zainal Abidin Menikah dengan Khalidah binti Hamzah bin Mush’ab bin az-Zubeir Taraajimu an-Nisaa'; hal. 361.; oleh Muhammad al-A’la.

Dan masih banyak lagi yang lain. Di samping itu, per-nikahan Sakinah binti al-Husein dengan Mush’ab bin az-Zubeir cukup populer sehingga tidak perlu pembahasan. Periparan me-reka yang berikutnya, dan catatan-catatan sejarah menyangkut hal itu bisa di dapati dalam berjilid-jilid kitab, sangat banyak sekali.

- Selesai -

sumber: http://www.hakekat.com

SIAPA PEMBUNUH AL-HUSEIN R.A. ?

SIAPA PEMBUNUH AL-HUSEIN R.A. ?

Bismillahirrahmanirrahim.

Segala puji bagi Allah. Kami memuji-Nya, memohon perto-longan, ampunan, dan juga berlindung dari keburukan hawa nafsu dan kejahatan perbuatan kami. Barangsiapa dikaruniai petunjuk oleh Allah, tiada yang akan dapat menyesatkannya, dan barangsiapa disesatkan-Nya, tiada yang kuas memberi pe-tunjuk. Saya bersaksi, bahwa tiada tuhan melainkan Allah, Yang Mahaesa tiada bersekutu. Saya pun bersaksi, bahwa Muha-mmad adalah hamba dan rasul-Nya.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-ka-li kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS: Ali Imran: 102).

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripa-danya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mem-pergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”

(QS: An-Nisaa’: 1).

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada

Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.”(QS: Al-Ahzab: 70-71).

Lebih lanjut, sebenar-benar pernyataan adalah al-Quran, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad s.a.w. Sebu-ruk-buruk cara adalah mengada-ada (ke dalam agama). Setiap pengada-adaan disebut bid’ah, dan setiap bid’ah adalah se-sat, dan setiap kesesatan masuk neraka.”

Pembunuhan al-Husein r.a. termasuk persoalan yang membe-ri peluang Syi’ah mempermainkan banyak orang. Pada peluang yang sama mereka pun berupaya merancukan sejarah umat ini. Pergulatan terjadi antara tokoh yang dilambangkan sebagai Syi’ah, yaitu al-Husein. Dengan Yazid yang dilambangkan se-bagai tokoh Ahlus Sunah. Seperti itulah lukisan yang digam-barkan Syi’ah berkaitan pergulatan tersebut. Sebenarnya, al-Husein radhiyallahu ‘anhu, juga termasuk salah seorang pim-pinan Ahlus Sunah wal Jamaah. Keyakinan Ahlus Sunah terhadap beliau, ialah, bahwa beliau mati sebagai syahid, dengan se-jahtera, beliau dimuliakan oleh Allah dengan mati sebagai syuhada, dan Allah menghinakan orang yang membunuh beliau. Jadi, kasus pembunuhan beliau itu merupakan musibah besar. Dalam kondisi demikian Ahlus Sunah pun merujuk kepada firman Allah ‘Azza wa Jalla:

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ, الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا ِللهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ. أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ.

“Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raa-ji`uun” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sem-purna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

(QS: Al-Baqarah 155-157).

Berbeda dengan sikap Syi’ah. Cukuplah kiranya bagi Anda

pernyataan dari al-Husein r.a. sendiri: ” . . . , lebih lan-jut, telah datang kepada kami kabar buruk. Muslim bin ‘Uqail telah dibunuh, juga Hani’ bin ‘Urwah, Abdullah bin Yaqthar, bahkan kami telah dihinakan oleh Syi’ah kami sendiri . . .” (1).

Bahkan ada salah seorang dari mereka sampai berkata (na-’uzubillah): “Hai Husein, bergembiralah engkau akan masuk ne-raka!”(2).

Untuk itu Zainab binti Ali radhiyallahu ‘anhuma harus menanggung penghinaan terhadap al-Husein dan pembunuhan ter-hadap beliau, sebagaimana nanti akan Anda saksikan sendiri di dalam penjelasan praktis ini, yang mana kasus tersebut telah banyak mendorong diri saya untuk banyak melibatkan di-ri ke dalam topik tersebut. Juga berkaitan sikap Syi’ah yang berlebih-lebihan berkaitan mazhab dan kelompoknya yang jauh dari sikap adil dan bijak. Dan juga untuk menentang si-kap Ahlus Sunah yang acuh ta’acuh terhadap kasus ini.

Pembahasan ini kami bagi ke dalam enam pasal, sebagai berikut:

PASAL SATU

AHLUS SUNNAH DAN ALUL BAYT RADHIYLLAHU ‘ANHUM

Terkandung dua pembahasan:

Pertama : Kedudukan Ahlul Bayt dalam pandangan Ahlus Sunah wal Jamaah

Kedua : Sikap Ahlus Sunnah terhadap pembunuhan al-Husein r.a.

PASAL DUA

APAKAH YANG ANDA KETAHUI TENTANG KUFAH?

Terkandung dua pembahasan:

Pertama : Kufah adalah sarang Syi’ah.

Kedua : Kufah negeri sumber pengkhianatan.

__________

1 dan 2) Inilah topik yang akan kita ulas di dalam pembahasan ini, melalui riwayat-riwayat dari Syi’ah sendiri.

PASAL TIGA

SYI’AH DAN ALUL BAYT RADHIYALLAHU ‘ANHUM

Terkandung delapan pembahasan:

Pertama : Pengkhianatan Syi’ah terhadap Ahlul Bayt radhi-yallahu ‘anhum.

Kedua : Surat-surat sampai kepada al-Husein radhiya-llahu ‘anhu.

Ketiga : Al-Husein mengutus Muslim bin ‘Uqail.

Keempat : Al-Husein r.a. mengarah ke Kufah.

Kelima : Pengkhianatan terhadap Muslim bin ‘Uqail.

Keenam : Kedatangan al-Husein r.a. di bumi Karbala’

Ketujuh : Siapakah yang membunuh al-Husein r.a.

Kedelapan: Siapa-siapa dari kalangan Ahlul Bayt yang terbunuh bersama al-Husein radhliyallahu ‘anhum.

PASAL EMPAT

SYIAR-SYIAR AL-HUSEINIYYAH

Terkandung empat pembahasan:

Pertama : Syi’ar al-Husainiyyah berupa perayaan yang be-lum pernah ada pada masa imam-imam.

Kedua : Syi’ah membuat bid’ah berupa aksi meratap-ra-tap dan menampar-nampar.

Ketiga : Fatwa-fatwa dari kalangan ulama besar Syi’ah yang memberlakukan bid’ah ratap-ratapan, tampar-tamparan, atau-pun sejenisnya

Keempat : Larangan penggunaan senjata maupun memukulkan ran-tai, manakala dapat merusak kehormatan Syi’ah.

PASAL LIMA

SYIAR-SYIAR AL-HUSEINIYAH HARAM MENURUT RIWAYAT SYI’AH SENDIRI SESUAI KETETAPAN AHLUSSUNNAH

Terkandung delapan pembahasan:

Pertama: Larangan meratap-ratap.

Kedua : Larangan menampar-nampar.

Ketiga : Tidak ada seragam hitam di dalam Asyura’

Keempat: Seruan kepada penceramah.

Kelima : Wanita dan ucapara al-Huseiniyah.

Keenam : Siapakah yang berdusta; Muhammad Baqir ash-Shadr ataukah at-Tijani?

Ketujuh : At-Tijani kembali berdusta sekali lagi.

Kedelapan : Syi’ah dan sikap ingkar mereka terhadap Asyura’

PASAL ENAM

PAHALA ZIARAH AL-HUSEIN R.A.

Terkandung dua pembahasan:

Pertama : Bid’ah pendirian bangunan di atas kubur.

Kedua : Kesimpulan hasil pembahasan ini.

Sedapat mungkin di dalam pembahasan menentang Syi’ah ini, kami mempergunakan riwayat-riwayat mereka sendiri yang tersusun di dalam kitab-kitab sumber mereka, baik ortodoks maupun moderen, yang dianggap terpercaya dan dijadikan pe-gangan, dan yang dijadikan dalil di kalangan mereka sendiri, yang berkaitan dengan pasal-pasal pembahasan ini semua, ke-cuali pasal pertama dimana dijelaskan sikap Ahlussunah ter-hadap Ahlul Bayt dan tentang siapa yang membunuh al-Husein radhiyallahu ‘anhu. Semoga Allah membangkitkan diri kami bersama beliau r.a.

Kami mohon kepada Allah Yang Mahakuasa, kiranya berkenan menjadikan pembahasan ini sebagai upaya tulus semata-mata demi Wajah-Nya Yang Mulia, pada hari di mana tiada berguna lagi harta maupun putra-putri, kecuali mereka yang datang dengan hati sejahtera.

“Penyusun”

PASAL SATU

AHLUS SUNNAH DAN ALUL BAYT RADHIYLLAHU ‘ANHUM

Pertama : Kedudukan Ahlul Bayt dalam pandangan Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Tidak diragukan lagi, Ahlul Bayt Nabi s.a.w. tersedia kedudukan mulia, derajat tinggi, berupa penghormatan dan ke-wibawaan dalam pandangan Ahlus Sunah wal Jamaah. Yang mana mereka menjaga hak-hak Alul Bayt tersebut sebagaimana keten-tuan yang digariskan Allah atas mereka. Ahlus Sunah menya-yangi mereka, menempatkan mereka selaku pemimpin, menjaga mereka sebagaimana diwasiatkan Rasulullah s.a.w. sebagaimana itu beliau nyatakan pada Hari Ghadir Khum: “Kuperingatkan kalian terhadap Allah berkaitan Ahlul Baytku.”(2).

Jadi, merekalah (Ahlus Sunah) orang-orang yang merasa berbahagia karena dapat memegang wasiat ini sekaligus me-realisasikannya. Tetapi mereka menghindar dari cara-cara Syi’ah yang berlebih-lebihan kepada sebagian dari Ahlul Bayt dengan sikap yang melampaui batas. Dan juga dari cara-cara kelompok Nawashib (pembenci Ahlul Bayt) yang cenderung menyakiti mereka dan mendengki mereka. Jadi, kelompok Ahlus Sunahlah kelompok yang merealisasikan kewajiban menyayangi Ahlul Bayt, melarang orang menyakiti mereka atau pun bersikap buruk terhadap mereka, baik berupa ucapan maupun tidnakan. Kitab-kitab Ahlus Sunah, alhamdulillah penuh dan sarat dengan ulasan sejarah hidup Ahlul Bayt, seperti di dalam kitab-kitab hadis, tafsir, dan sebagainya.

Berikut akan kami sajikan sebagian dari keunggulan-keunggulan Amirul Mukminin Ali, putra-putri, dan juga cucu-cucu beliau radhiyallahu ‘anhum yang oleh Syi’ah dinilai “ma’shum“, bahkan mereka beranggapan bahwa Ahlus Sunah membenci mereka dan menanam rasa permusuhan terhadap mereka.

Pertama : Amirul Mukminin ali radhiyallahu ‘anhu.

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari hadis Sahl bin Sa’ad, bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda pada Hari Khaibar: “Sungguh bendera ini esok akan saya berikan kepada seorang lelaki yang mana Allah akan mengaruniakan kemenangan melalui tangannya. Ia menyayangi Allah dan Rasul-Nya dan juga disa-yangi oleh Allah dan Rasul-Nya.” Lalu para hadirin melalui malam hari seraya merenung, kepada siapakah kiranya bendera itu akan diserahkan.”

Katanya: “Ketika tiba esok harinya, masyarakat berangkat dini menghadap Rasulullah s.a.w. semuanya berharap agar di-serahi bendera itu. Tetapi beliau bersabda: “Di mana Ali bin Abi Thalib?” Mereka menjawab: “Wahai Rasulullah, dia sedang menderita sakit mata.” Beliau s.a.w. bersabda: “Pergilah kalian kepadanya dan bawalah ia ke sini.” Lalu Rasulullah

__________

2) Diriwayatkan dalam Shahih Muslim melalui syarah an-Nawawi, dalam Kitab “Fadhlaa-ilu asy-Shahaabah; Bab; “Fadhlaa-ilu Aliyyin radhliyallahu ‘anhu (15/188).

s.a.w. mengusapkan air ludah pada kedua matanya dan men-doa-kannya. Kemudian ia pun sembuh, sehingga seolah-olah ia ti-dak pernah sakit seperti itu. Lalu beliau menyerahkan ben-dera itu kepadanya. Ali berkata: “Wahai Rasulullah, apakah saya harus memerangi mereka sampai mereka menjadi seperti kita?” Beliau bersabda: “Bersikap tenanglah sampai engkau tiba di halaman mereka, kemudian serulah mereka agar masuk ke dalam Islam dan jelaskan kepada mereka akan kewajiban-kewajiban atas mereka yang berkaitan dengan ahkhak Allah. Demi Allah, sekiranya Allah berkenan mengaruniakan petunjuk (hidayah) kepada seseorang melalui dirimu, maka itu akan lebih baik bagimu daripada harta yang banyak.”(4).

Di dalam hadis ini dinyatakan keunggulan besar dan sejarah kemuliaan bagi Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib r.a. yang mana Rasulullah s.a.w. menegaskan rasa sayang (cinta), sebagaimana beliau bersabda: “Dia menyayangi Allah dan Rasulnya, dan juga disayangi oleh Allah dan Rasul-Nya.”

Kedua : Fathimah radhiyallahu ‘anha.

Al-Bukhari rahimahullahu Ta’ala meriwayatkan di dalam bab “Manaaqib Fathiimah radhiyallahu ‘anha”, dari Nabi s.a.w., beliau bersabda: “Fathimah adalah pimpinan wanita penghuni surga.”(5).

Ketiga : Al-Hasan dan al-Husein radhiyllahu ‘anhuma.

At-Turmudzi meriwayatkan dengan sanad sampai kepada al-Barra’ bin ‘Azib r.a., bahwa Rasulullah s.a.w. memandang al-

__________

3) Artinya : Turut campur dan membahas hal itu. Baca “an-Ni-haayah”; oleh Ibnu al-Atsir (2/140).

4) Shahih al-Bukhari versi Fathul Bary; Kitab Fadhaa-ilu ash-Shahaabah; Bab “Manaaqib Aliy radhliyallahu ‘anhu”; (7/70); hadis 1-37. Shahih Muslim; kitab “Fadhlaa-ilu ash-Shahaabah; bab “Fadhlaailu Aliy radhliyallahu ‘anhu (4/1872); hadis (3406). Lafal pada Muslim.

5) Shahih al-Bukhari versi Fathul Bary; Fadhlaa-ilu ash-Shahaabah (7/105).

Hasan dan al-Husein, lalu beliau berdoa: “Wahai Allah, saya menyayangi mereka berdua. Oleh karena itu sayangilah mereka berdua.”(6).

Di dalam hadis ini terkandung keunggulan nyata bagi al-Hasan dan al-Husein radhiyallahu ‘anhuma, karena terkandung dorongan kepada umat Islam agar menyayangi mereka, dan sa-yang kepada mereka berdua juga merupakan ungkapan sayang ke-pada beliau s.a.w. Juga diriwayatkan Ahmad dengan sanadnya sampai kepada Abu Sa’id al-Khudri r.a., ia berkata: “Rasu-lullah s.a.w. bersabda: “Al-Hasan dan al-Husein adalah dua orang pemimpin pemuda penghuni surga.”(7).

Di dalam hadis ini terkandung keagungan sejarah bagi al-Hasan dan al-Husein radhiyallahu ‘anhuma, sebab Nabi s.a.w. menegaskan bahwa mereka akan masuk surga. Juga menjelaskan, bahwa mereka adapah pimpinan pemuda penghuni surga. Semoga Allah berkenan meridhai mereka berdua dan menja-dikan mereka ridha kepada-Nya.

Keempat : Ali bin al-Husain rahimahullahu Ta’ala

Berkaitan pribadi beliau ini Yahya bin Sa’id menjelas-kan: “Beliau adalah sebaik-baik bani Hasyim yang pernah saya saksikan di Madinah.”(8).

__________

6) Sunan at-Turmudzi; Kitab “alManaaqibu”; bab “Manaaqibu al-Hasani wa al-Husain”; hadis (3782), ia mengatakan: “Hadis hasan sahih.” Al-Albani menerangkan: “Sahih, sebagaimana tercantum dalam Sunan at-Turmudzi (3/226).”

7) Al-Musnad (3/3). Sunan at-Turmudzi; Kitab “Manaaqib”; Bab “Manaaqibu al-Hasan wa al-Husain” (5/656), hadis (3768). Dia mengatakan: “Hadis hasan sahih.” Al-Hakim di dalam “al-Mustadrak (3/166-167), dan disahihkannya. Juga tercantum dalam riwayat lain dengan tambahan, “dan kedua orang tua mereka lebih baik dari mereka berdua.” Kedua hadis itu disepakati dan disahihkan oleh adz-Dzahabi, Ibnu Huzaimah di dalam sahihnya (2/206). Al-Haitsami di dalam “Majma’u az-Zawaa-idi” (9/184) mengatakan: “Diriwayatkan ath-Thabrani dan isnadnya hasan.” Juga disahihkan oleh al-Albani di dalam “al-Ahaaditsu ash-Shahiihah” (2/448).

8) Al-Hilyah (3/138).

Az-Zuhri mengatakan: “Saya belum pernah menjumpai se-orang bani Hasyim yang lebih utama daripada Ali bin al-Hu-sein.”(9). Muhammad bin Sa’ad mengatakan: “Beliau seorang jujur, terpercaya, banyak menyampaikan hadis, mulia, luhur, dan wara’.” (10).

Kelima : Muhammad bin Ali (al-Baqir) rahimahullah.

Ibnu Sa’ad menjelaskan: “Beliau banyak wawasan ilmu dan hadis.”(11).

Ash-Shafadi mengatakan: “Beliau adalah salah seorang yang menghimpun ilmu, fikih, dan kesalihan.”(12).

Bahkan al-Hafidz setuju untuk berdalil dengannya, seba-gaimana juga ditetapkan oleh adz-Dzahabi.”(13).

Keenam : Ja’far bin Muhammad (ash-Shadiq) rahimahullahu Ta-’ala.

Abu Hanifah menerangkan tentang beliau ini: “Saya belum mendapati orang yang lebih luas wawasan fikihnya dibanding Ja’far bin Muhammad.” (14).

Abu Hatim mengatakan: “Terpercaya, tidak ada bandingan-nya.”(15).

Adz-Dzahabi berkata: “Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq, adalah pemula Alawiyin pada zamannya, dan salah seorang imam Hejaz, beliau tidak mendapati shahabat.”(16).

Ketujuh : Musa bin Ja’far (al-Kadhim) rahimahullahu Ta’ala.

Abu Hatim ar-Razi menjelaskan tentang pribadi beliau: “Terpercaya, jujur, salah seorang imam muslimin.”(17). Syei-khul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan: “Musa bin Ja’far dike-

__________

9) Al-Hilyah (3/141). Tahdziibu at-Tahdziib (7/305).

10) Ath-Thabaqaatu al-Kubra (5/222).

11) Ath-Thabaqaatu al-Kubra (5/324).

12) Al-Waafi bi al-Wafiyaat (4/102).

13) Siir A’laam an-Nubalaa’ (4/413).

14) Tadzkiratul Huffadz (1/166).

15) Kitabu aj-Jurhi wa at-Ta’diil (2/482).

16) Muhtashar al-‘Uluwi

nal sebagai ahli ibadah dan manasik.”(18).

Adz-Dzahabi mengatakan: “Musa termasuk paling bijak, ba-nyak beribadah, dan takwa.”(19).

Kedelapan : Ali bin Musa (ar-Ridhla) rahimahullahu Ta’ala

Adz-Dzahabi menjelaskan tentang pribadi beliau: “Sese-orang yang menghimpun ilmu, kesalihan, dan kedermawanan di dalam satu kepribadian.”(20).

Kesembilan : Muhammad bin Ali (al-Jawad) rahimahullahu Ta-’ala

Beliau termasuk pimpinan bani Hasyim, dikenal dengan si-fat pemurah serta dermawan(21).”

Al-Baghdadi(22) mengatakan: “Mereka (kalangan Ahlus Su-nah) berpendapat: “Menempatkan secara luhur istri-istri Ra-sulullah s.a.w., mengafirkan orang-orang yang mengafirkan sebagian dari istri-istri beliau s.a.w., menempatkan secara luhur al-Hasan, al-Husein, dan mereka yang dikenal sebagai cucu-cucu Rasulullah s.a.w., seperti; Al-Hasan bin al-Hasan, Abdullah bin al-Hasan, Ali bin al-Husein Zeinal Abidin, Mu-hammad bin Ali bin al-Husein yang dikenal sebagai al-Baqir . . . juga Ja’far bin Muhammad yang dikenal sebagai ash-Sha-diq, Musa bin Ja’far, Ali bin Musa ar-Ridhla.”

Demikian pula pendapat mereka terhadap seluruh putra-pu-tra keturunan Ali, seperti Abbas, Umar, Muhammad bin al-Ha-nafiah, dan mereka yang mengikuti sunah-sunah orang-orang tua mereka yang suci.”(23).

__________

17) Al-Jurhu wa at-Ta’diil (4/139).

18) Minhaaju as-Sunnah (4/57).

19) Miizaanu al-I’tidaal (4/202).

20) As-Siir; oleh adz-Dzahabi (9/387).

21) Minhaaju as-Sunnah (4/68).

22) Beliau, adalah Abdul Qahir bin Thahir bin Muhammad bin Abdullah al-Baghdadi at-Taimi al-Asfarayini. Seorang pakar fikih Syaif’iyah, etikawan. Lahir dan tumbuh remaja di Baghdad. Wafat pada th. 429 h. di Sufrain. Silahkan telaah kitab “Wafiyaatu al-A’yaan (3/203). Juga al-A’laam (4/48).

23) Al-Farqu bainal Farqi (360).

Al-Asfarayini(24) di dalam menjelaskan prinsip-prinsip Ahlus Sunah mengatakan: “Allah telah berkenan menjaga mere-ka, sehingga tidak layak menuduhkan ucapan-ucapan buruk ke-pada para pendahulu umat ini (Islam), atau menuduhkan tu-duhan buruk terhadap mereka. Mereka tidak dibenarkan meng-ucapkan kata-kata, baik yang ditujukan kepada para muha-jirin, anshar, para tokoh-tokoh Islam, para peserta perang Badar, maupun para peserta Baiat Ridhwan, kecuali dengan ucapan-ucapan yang bersifat baik. Demikian pula terhadap orang-orang yang dijamin oleh Nabi s.a.w. sebagai para peng-huni surga.

Juga terhadap para istri Nabi s.a.w., sahabat-sahabat beliau, putra-putri dan cucu-cucu beliau seperti; al-Hasan dan al-Husein, dan juga orang-orang yang dikenal sebagai ke-turunan mereka, seperti; Abdullah bin al-Hasan, Ali bin al-Husein, Muhammad bin Ali, Ja’far bin Muhammad, Musa bin Ja-’far, Ali bin Musa ar-Ridhla. Dan apa-apa yang sejatinya terjadi pada diri mereka, tidak boleh mengubah-ubah maupun menambah-nambah, tidak juga terhadap Khulafa’ Rasyidun. Tidak diperbolehkan menuduh salah seorang dari mereka. Demi-kian juga terhadap para tokoh tabi’in, dan para penerus ta-bi’in (atbaa’ut taabi’iin) yang dijaga oleh Allah Ta’ala da-ri pengada-adaan bid’ah maupun memperagakan suatu kemung-karan.”(25).

Itulah yang menjadi dasar akidah Ahlus Sunah wal Jamaah terhadap Alul Bayt (keluarga dan sanak kerabat) Rasulullah s.a.w. Bagi mereka yang hendak menambah wawasan, hendaklah ia membaca kitab-kitab hadis, sejarah, dan tafsir, niscaya insya Allah akan mendapati, bahwa Ahlus Sunah itulah yang sejatinya para penolong Ahlul Bayt radhliyallahu ‘anhum. (26).

ooo 0 ooo

__________

24) Beliau adalah Thahir al-Asfaraini asy-Syafi’i yang dike-nal “Abu al-Mudhlfar“, seorang pakar ushuluddin, fakih, dan mufassir. Beliau wafat pada th. 471 h. di Thus. Silahkan baca Thabaqaat asy-Syafi’iyyah (3/175).

25) At-Tabshiir fi ad-Diin (196).

26) Al-Aqiidah fii Ahli al-Bayt; oleh as-Sahimi.

PEMBAHASAN DUA

SIKAP AHLUS SUNNAH TERHADAP PEMBUNUHAN AL-HUSEIN R.A.

Berkaitan sikap Ahlus Sunah berkaitan kasus pembunuhan al-Husein r.a., hal itu dijelaskan oleh Syeikhul Islam Ibnu Tai-miyah melalui pernyataan beliau: “Kiranya Allah telah berkenan memuliakan beliau dengan mati syahid. Dengan itu pula Allah menghinakan orang telah membunuh beliau dan me-reka yang terlibat pembunuhan beliau, atau mereka senang atas pembunuhan beliau. Berarti pula beliau telah meneladani orang-orang sebelum beliau dari kalangan syuhada’. Dengan begitu beliau beserta saudara beliau (al-Hasan r.a.) menjadi pimpinan penghuni surga. Sedang ketika itu beliau dibesarkan pada masa kejayaan Islam, sehingga tidak menjalani berhijrah maupun berjihad, bersabar, dan menanggung derita di jalan Allah, sebagaimana yang diderita oleh Ahlul Bayt beliau. Lalu Allah berkenan memuliakan beliau dengan mati syahid untuk menyempurnakan kehormatan mereka dan mengangkat derajat mereka berdua. Dan pembunuhan atas beliau itu meru-pakan musibah besar. Dan Allah s.w.t. sudah mensyariatkan agar manakala kita menderita suatu musibah, hendaklah kita merujuk kepada firman-Nya:

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ, الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا ِللهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ. أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ.

“Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raa-ji`uun” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”(27,28).

ooo 0 ooo

__________

27) QS: Al-Baqarah 155-157.

28) Majmuu’ al-Fataawa (4/511).

PASAL DUA

APAKAH YANG ANDA KETAHUI TENTANG KUFAH?

PERTAMA SATU

KUFAH ADALAH SARANG SYI’AH

Salah seorang tokoh Syi’I Baqir Syarif al-Qurasyi menga-takan: “Sebenarnya, Kufah ketika itu merupakan pangkalan Syi’ah, salah satu negeri dari negeri-negeri Alawiyin. Bah-kan telah dipandang sebagai terkhususkan bagi Ahlul Bayt oleh berbagai negeri.”(29). Ia juga menyatakan: “Bahkan te-lah tertanam benih Syi’ah di Kufah sejak pemerintahan Umar.”(30).

Seorang pemuka Syi’i Muhammad at-Tijani as-Samawi menga-takan: “Abu Hurairah masuk ke Kufah, ke negeri sarang Syi-’ah, negeri Ali bin Abi Thalib.”(31).

PEMBAHASAN DUA

KUFAH NEGERI PENGKHIANAT

Syeikh Jawad Muhaditsi mengatakan: “Penduduk Kufah di dalam sejarahnya dikenal sebagai pengkhianat, ingkar janji . . . , kesimpulannya, sejarah Islam tidak memandang positif perjanjian maupun kesungguhan penduduk Kufah.”(32).

Ia juga mengatakan: “Di antara watak-watak psikologis dan kepribadian khas yang disifatkan kepada penduduk Kufah, mungkin dapat kita gambarkan sebagai berikut: Suka melanggar jalur, licik, berubah-ubah pendirian, membangkang dan menen-tang pimpinan, buruk budi pekerti, rakus, tamak, suka kepada gosip, lemah semangat, ditambah lagi mereka terhimpun dari berbagai kabilah yang berbeda-beda. Bahkan oleh karena fak-tor-faktor itu juga sampai Imam Ali a.s. harus menderita tragedi dua kali. Imam al-Hasan a.s. juga menghadap peng-khianatan mereka. Muslim bin Uqail dibunuh secara aniaya di

__________

29) Hayaatu al-Imaam al-Husein (3/12).

30) Hayaatu al-Imaam al-Husein (3/13).

31) A’rifil Haqq; hal 161.

32) Mausuu’ah Asyuura’; hal 59.

antara mereka, al-Husein dibunuh dalam keadaan kehausan di Karbala dekat Kufah, dan di tangan para tentara Kufah.”(33).

Seorang tokoh Syi’i lain Husein Kurani mengatakan: “Ja-di, ci-ri-ciri dan watak-watak khas berkaitan iman orang Ku-fah, dapat disimpulkan sebagai berikut:

Pertama : Enggan membela Islam.

Kedua : Cinta harta.

Ketiga : Berubah-ubah pendirian.” (34).

Syeikh Jawad Muhadditsi mengatakan: “Jumlah orang-orang Syi’ah Ahlul Bayt di Kufah masih sedikit, bedanya para pim-pinan mereka ketika itu cenderung lebih banyak mengungkapkan kata-kata sayang, mengutarakan gelora dan perasaan melimpah ruah dibanding keteguhan mereka terhadap garis-garis akidah dan realisasinya kepada Keluarga Ali, ataupun turun ke medan perang untuk menghadapi musuh serta berkorban.”(35).

Seorang tokoh Syi’ah Baqir Syarif al-Qurasyi juga menga-takan: “Orang-orang Kufah berpura-pura lupa terhadap surat-surat yang telah mereka kirim kepada Imam dan baiat mereka kepada beliau melalui tangan utusan beliau.”(36).

ooo 0 ooo

PASAL TIGA

SYI’AH DAN ALUL BAYT

PEMBAHASAN SATU

PENGKHIANATAN SYI’AH TERHADAP AHLUL BAYT RADHIYALLAHU ‘AN-HUM.

Kita kembali kepada Amirul Mukminin Ali r.a., kita lihat beliau mengeluh terhadap Syi’ah beliau (penduduk Kufah), be-liau berkata: “Umat-umat lain, mereka mencemaskan kezaliman para pemimpin mereka, sementara diriku mencemaskan kezaliman orang-orang bawahanku. Kuperintahkan kalian berangkat berji-

__________

33) Ibid.

34) Fii Rihaab Karbala’; hal. 60.

35) Mausuu’ah Asyuura’; hal 60.

36) Hayaatu al-Imaami al-Husain (2/370).

had, tetapi kalian tidak bersedia berangkat. Kuperintahkan kalian bersedia mendengar, kalian pun tidak bersedia mende-ngar. Kuseru kalian secara rahasia dan secara terang-terang-an, tetapi kalian tidak menyambut seruanku. Kunasehatkan kepada kalian, kalian pun tidak menerimanya. Apakah hadir berarti sama dengan ketidakhadiran, dan budak sama seperti majikan? Kusampaikan kepada kalian ucapan hikmah tetapi ka-lian memalinginya, kusampaikan petuah-petuah menyentuh ke-pada kalian, tetapi kalian pun mengesampingkannya, kudorong agar kalian memerangi orang-orang durhaka, tetapi belum lagi sampai pada ucapan berakhir, kalian telah bercerai-berai tiada menentu, kalian pun kembali ke majelis kalian masing-masing, kalian khianati petuah-petuah terhadap kalian. Kube-rangkatkan kalian pagi dini hari, lalu kalian pun pulang pa-da sore hari seperti sikap ular. Lemah pendirian, labil pen-dirian.

Wahai orang-orang yang hadir tubuhnya tetapi lenyap akalnya, beraneka ragam hawa nafsunya, mendatangkan fitnah kepada para pemimpinnya. Sahabat-sahabat kalian saling me-matuhi Allah, sedang kalian mendurhakai-Nya. . . ., Demi Allah, saya akan merasa senang sekiranya Mu’awiyah menukar-kan kepadaku diri kalian, seperti pertukaran dinar dengan dirham. Biarlah ia mengambil dariku sepuluh orang dari ka-lian, lalu memberikan kepadaku satu orang saja dari mereka. Hai penduduk Kufah, kunilai kalian memilik tiga pasang wa-tak: Tuli meski punya telinga; bisu meski dapat berbicara; dan buat meski memiliki mata. Tiada rekan jujur pada saat terjadi pertempuran, pun tiada saudara terpercaya pada saat ditimpa musibah. Celakalah tangan-tangan kalian, hai orang-orang yang mirip onta yang kelihangan gembalanya. Setiap ka-li dihimpun dari satu sisi, kalian pun bercerai berai pada sisi yang lain. . .” (37).

Dikutipkan kepada kita oleh Doktor Ahmad Rasim an-Nafis, sikap lain mereka di dalam mencemooh dan menyakiti Amirul Mukminin Ali r.a., katanya: “Adapun Ali, ketika itu berada di antara barisan pasukan. Dikisahkan oleh Nashr bin Mu-zahim: Itu terjadi pada pagi hari menjelang malam pertum-

__________

37) Nahjul Balaghah (1/187-189).

pahan darah. Beliau telah siap menghadapi pasukan Mu-’awiyah, ketika itu datang kepadanya utusan Imam Ali a.s., menyatakan hendaklah engkau datang kepadaku. Lalu ia men-jawab: “Ini bukan saat yang layak bagi Anda untuk menurunkan saya dari kedudukan saya. Saya berharap akan menang, oleh karena itu jangan mendesak saya.” Lalu pulanglah Yazid bin Hani kepada Ali a.s. dan menjelaskan hal itu. Tetapi belum lagi ia selesai menjelaskan kepada kami, tiba-tiba telah terjadi hiruk pikuk, dan teriakan-teriakan pun kian nyaring dari kelompok as-Asytar. Kian nyata pertanda kemenangan dan pertolongan bagi penduduk Irak, dan tanda-tanda kehinaan dan kemunduran penduduk Syam. Kemudian orang ramai berkata kepa-da Ali: “Demi Allah, kami merasa Anda tidak memberi perintah lain kecuali perang.”

Beliau berkata: “Tidakkah kalian menyaksikan saya telah mengirim utusan kepadanya? Bukankah saya sudah bercakap-ca-kap kepadanya di hadapan kalian dan kalian mendengarnya sen-diri?” Mereka menjawab: “Jika demikian, utuslah seseorang agar ia bersedia datang kepada Anda, jika tidak, maka kami akan meninggalkan Anda!”(38).

Beliau berkata: “Celakalah engkau hai Yazid katakan ke-padanya: Datanglah kemari sebab (saat ini) sedang terjadi fitnah.”

Lalu Yazid datang kepadanya dan menjelaskan kepadanya. Al-Asytar menjawab: “Apakah saya harus mengangkat al-Quran ini?” Dia menjawab: “Ya !”

Ia berkata: “Demi Allah, tidak dapatkah Anda melihat (tanda-tanda) kemenangan? Tidakkah Anda melihat, bahwa mere-ka kian menyusut? Tidakkah Anda lihat apa yang telah Allah perbuat bagi kita? Layakkah kita meninggalkan situasi ini dan meninggalkannya?”

Yazid menjawab: “Sukakah engkau menang sendiri di sini sedang Amirul Mukminin berada di posisi beliau berada dan menyerahkan diri kepada musuh beliau?” Ia menjawab: “Sungguh tidak, saya tidak suka hal itu.”

__________

38) Perhatikanlah bagaimana Rafidhlah (Syi’ah) itu adalah sumber fitnah dan musibah.

Katanya: “Saya mengerti agaknya mereka telah berkata ke-padanya dan mereka pun telah bersumpah kepadanya, bahwa tuan benar-benar harus mengirim (Mu’awiyah) kepada al-Asytar, ba-rulah dia akan datang kepada Anda. Jika tidak, maka kami akan memerangi Anda dengan pedang-pedang kami sebagaimana kami membunuh Utsman(39), atau kami akan menyerahkan diri Anda kepada musuh Anda. Lalu majulah al-Asytar sehingga ber-hadapan kepada mereka dan berkata: “Wahai Amirul Mukminin rapikan barisan untuk menyerang kelompok itu (Mu’awiyah).”

Lalu sebagian orang berteriak: “Sekiranya Amirul Muk-minin a.s. dapat menerima dan suka hati, maka kami pun merasa suka.” Kemudian orang ramai pun berdatangan seraya berkata: “Amirul Mukminin sudah merasa suka. Amirul Mukminin telah menerima.” Sedang beliau tutup mulut tanpa mengucapkan sepatah kata seraya turun ke atas tanah. Kemudian berdiri tegak, maka hadirin seluruhnya terdiam. Lalu beliau berkata: “Sebenarnya, sikapku selama bersama kalian saya masih merasa senang, sampai saya menerima anjuran perang dari kalian. Ki-ni sungguh saya telah menerima dari kalian tetapi saya ting-galkan, sedang yang saya terima dari musuh kalian tidak di-tinggalkan. Sungguh di tengah kalian saya mengalah dan merasa pedih. Ketahuilah, kemarin saya selaku seorang Amirul Mukminin, lalu pada hari ini menjadi orang yang diperintah. Ketika itu saya menjadi orang yang berhak melarang, sekarang menjadi dilarang. Padahal saya menghendaki kesejahteraan kalian, bukan hendak menjerumuskan kalian ke dalam situasi yang kalian tidak sukai!” Lalu beliau duduk.” (41).

Menurut pendapat kami: Persoalannya tidak hanya sebatas ini saja, bahkan mereka (na’uzubillah) menuduh beliau ber-dusta !”

__________

39) Perhatikanlah bahwa pembunuh Utsman r.a. adalah mereka sendiri? Justru orang yang juga mengancam hendak membunuh Ali r.a. Apa pula arti (eksistensi) rafidhlah selain tukang pem-buat onar?

40) Perhatikanlah apa yang diderita Ali r.a. dari mereka.

41) ‘Ala Khathi al-Husain; hal 34-35.

Syarif ar-Ridhla (yang dikenal sebagai ar-Ridhla) mengi-sahkan tentang Amirul Mukminin Ali r.a., bahwa beliau ber-kata: “Hai penduduk Irak, kalian ini seperti wanita sedang hamil, manakala sudah melahirkan ia pun mulai beranjak, ma-ti suaminya, panjang masa jandanya, warisan pun jatuh kepada kerabat jauh. Sungguh saya tidak pernah berupaya untuk men-datangi kalian, tetapi saya dapat kepada kalian secara ter-paksa. Bahkan telah disampaikan kepada saya bahwa kalian mengatakan: “Ali berdusta! Celakalah kalian, kepada siapa saya telah berdusta . . . “(42).

Oleh karena itu beliau r.a. berkata kepada para syi-’ahnya: “Semoga Allah memerangi kalian, sebab kalian telah melumur hatiku dengan muntah-muntahan, kalian bakar dadaku dengan kedengkian, kalian jerumuskan diriku sehingga harus menelan kedukacitaan jiwa, dan kalian hancur-leburkan saran-saranku dengan kedurhakaan dan penghinaan.”(43).

Itulah kondisi Syi’ah terhadap imam mereka sang ma’shum pertama (sesuai anggapan mereka). Anehnya, mereka mengulang-ulang hadis maudhlu’ yang menyatakan: “Hai Ali, telah ter-jalin antara diri Anda dengan syi’ah Anda dalam keadaan sa-ling ridha meridhai, sedang musuh-musuh Anda akan menderita marah dan dengki.”

Mereka itukah yang akan menyambut dalam keadaan ridha meridhai?!!

Setelah itu muncul pula serangan Syi’ah terhadap al-Hasan bin Ali radhliyallahu ‘anhuma. Di sini kami kutip per-nyataan Dr. Syi’i Ahmad an-Nafis tentang perintah Imam al-Hasan kepada para syi’ah beliau dan pengikut-pengikut beliau agar bersiap siaga perang. Pada saat al-Hasan r.a. berpidato kepada mereka seraya mengatakan: “Lebih lanjut, Sebenarnya Allah telah menetapkan ketentuan jihad kepada umat manusia dan menyebutnya dengan nama “kurhun“. Kemudian Allah Ta’ala berfirman kepada para pejihad di kalangan mukminin (yang ar-tinya): “Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-

__________

42) Nahjul Balaghah (1/118, 119).

43) Nahjul Balaghah (1/70).

orang yang sabar.” Jadi, kalian wahai umat manusia tidak akan dapat memperoleh apa yang kalian cita-citakan, kecuali melalui sikap sabar terhadap hal-hal yang tidak dikehendaki. Berangkatlah, kalian ke markas kalian di Nakhilah semoga ka-lian dirahmati Allah, sehingga kalian melihat dan mengin-tai, sampai kami melihat dan kalian pun melihat.” Katanya: “Sebenarnya melalui ucapan itu beliau merasa takut akan di-hinakan hadirin.”

Katanya: “Lalu mereka pun tutup mulut, tiada ada seorang pun dari mereka yang berbicara, tiada ada yang menjawabnya walau sepatah kata. Ketika Adi bin Hatim melihat hal itu, ia pun bangkit, lalu berbicara: “Saya putra Hatim, subhanallah! Alangkah buruknya posisi ini, mengapa kalian tidak menjawab imam kalian dan putra dari putri Nabi kalian? Manakah para orator kabilah Mudhar yang lidah mereka seperti pedang pe-nikam di dalam berpidato? Manakala yang dianggap pemberani justru menyingkir dan lari seperti serigala-serigala, ti-dakkah kalian takut kepada murka Allah? Bukan hanya soal aib dan memalukan.” (44).

Kisah berikut dinyatakan oleh Syi’i Idris al-Husein(45).

Doktor Ahmad Rasim an-Nafis menambahkan ke dalam pidato Amirul Mukmin, al-Hasan, katanya: “Sebenarnya kehancuran mo-ral telah terjadi, pada diri mereka tiada lagi daya untuk berjihad, bersungguh-sungguh, berkorban, sebab mereka sudah mengenyam duniawi beserta kelezatannya, terus-menerus mereka mendambakannya. Sementara mereka tidak pernah mendapati apa-apa yang mereka idam-idamkan. Khususnya manakala pemimpin mereka bersikap adil. Sebenarnya, jiwa mereka telah tertarik kepada bani Umayyah, pimpinan sejarah masa lalu . . . , “(46).

Ia juga mengutip riwayat peristiwa pengkhianatan Syi’ah kepada Amirul Mukminin al-Hasan dan tuduhan mereka kepada beliau. Ia menerangkan: “Kemudian beliau (al-Hasan r.a.)

__________

44) ‘Ala Khathi al-Husain; hal. 38.

45) Laqad syayya’ani al-Husain; hal 274-275.

46) ‘Ala Khathi al-Husain; hal. 39.

mengumumkan di hadapan para pasukan perang. Lalu bangkitlah Qais bin Sa’ad bin Ubadah, Ma’qal bin Qais ar-Riyahi, dan mereka mengucapkan kata-kata seperti yang diucapkan oleh Adi bin Hatim. Para hadirin pun bergerak menuju ke markas mere-ka. Para hadirin mengikuti di belakang mereka. Imam al-Hasan a.s. menyeru para tentara beliau dan berpidato: ” . . . . , ” Lalu para hadirin saling memandang sebagian ke arah se-bagian yang lain, dan berkata: “Menurut pendapatmu apakah yang diinginkan dengan ucapannya itu?”

Yang lain menjawab: “Kami rasa ia hendak berdamai dengan Mu’awiyah dan menyerahkan kepemimpinan kepadanya. Sungguh telah kafirlah lelaki ini!” Kemudian mereka pun merajuk ke kemah beliau dan menghentakkannya sehingga mereka merebut tempat salat yang berada di bawah beliau. Kemudian Abdur Rahman bin Abdullah bin Ju’al al-Azadi merajuk ke arah be-liau, mencabut sarung pedang dari pundaknya sehingga ia pun duduk dengan pedang terhunus tanpa selendang. Lalu beliau meminta kuda beliau dan mengendarainya . . . , tatkala be-liau tiba pada kegelapan suatu lorong.

Datanglah seorang lelaki dari bani Asad menangkap kekang kuda beliau seraya berkata: “Allahu Akbar, hai hasan, bapamu telah musyrik, kemudian kini engkau pun musyrik.” Dan lelaki itu pun menikam beliau dengan kapaknya sehingga menancap pa-da bagian paha beliau, melukainya sampai terkelupaslah pang-kal paha beliau. Selanjutnya al-Hasan diusung di atas tempat tidur menuju ke Madain.”(47).

Seorang Syi’i fanatik lain Idris al-Huseini juga meriwa-yatkan kisah pengkhianatan terhadap para pendahulunya. Kata-nya: “Imam al-Hasan a.s. harus menghadapi upaya pengkhia-natan dari kelompok pasukan beliau sendiri. Suatu ketika da-tang kepada beliau seorang lelaki dari bani Asad, yaitu al-Jarrah bin Sinan, ia memegang kekang kuda keledai beliau dan menikam Imam pada bagian paha beliau. Lalu imam menggumulnya sehingga keduanya tersungkur ke tanah. Bahkan Abdullah bin Handhal ath-Tha’i mencabut kapak itu dan menghunjamkannya kepadanya. Dan menikam beliau sekali lagi pada kali yang

__________

47) ‘Ala Khathi al-Husain; hal. 39-40.

lain ketika beliau sedang melakukan salat.”(48).

Seorang pakar rujukan syi’ah ternama, yaitu Muhsin Amin al-‘Amili mengatakan: “Lalu al-Hasan dibaiat oleh putranya, dijanjikan, tetapi kemudian dikhianati. Kemudian datang pula masuk Islam penduduk Irak, lalu menerkam beliau sehingga me-nikam beliau dengan badik pada bagian lambung beli-au.”(49).

Muhammad at-Tijani as-Samawi menerangkan: “Sebagaimana anggapan orang-orang bodoh bahwa Imam al-Husein akan membuat hina mukminin apabila beliau berdamai dengan Mu’awiyah dan mencegah pertumpahan darah orang-orang muslim yang tu-lus.”(50).

Ayatullah ‘Udhma Husein Fadhlullah mengatakan: “Ketika itu ada sebagian dari pasukan beliau terdiri dari orang-orang Khawarij yang turut serta bersama beliau bukan atas dasar rasa sayang, tetapi karena semata-mata ingin berperang dengan Mu’awiyah dengan suatu cara apapun dan bersama siapa pun. Ada juga di kalangan pasukan beliau yang mana masuk hanya untuk memperoleh pampasan perang. Ada juga sebagian mereka, orang-orang sangat fanatik golongan, yang digerakkan oleh para tokoh mereka yang bertujuan mencari harta dan kehormatan. Ada juga yang menginginkan untuk memecah belah pasukan al-Hasan, ada juga di antara mereka orang-orang dari kalangan kerabat beliau sendiri yang dikirimi harta oleh Mu’awiyah, lalu meninggalkan pasukan tanpa pimpinan. Dan ketika itu membanjir surat-surat kepada Mu’awiyah, menyata-kan: “Sekiranya Anda inginkan, kami sanggup menyerahkan al-Hasan kepada Anda, baik dalam keadaan hidup ataupun mati.”

Bahkan Mu’awiyah mengirim surat menyatakan hal itu ke-pada beliau, dan menjelaskan tentang sikap pasukan beliau

__________

48) Laqad syayya’ani al-Husain; hal 279.

49) A’yaanu asy-Syii’ah (1/26).

50) Kullu al-Huluuli ‘inda Aali ar-Rasuuli; hal. 122-123. Terlihat di sini betapa serangan-serangan terhadap Imam dari Syi’ahnya sendiri. Tetapi at-Tijani melukiskan seolah-olah itu dilakukan oleh kelompok orang-orang bodoh, demi untuk me-ngelabuhi pembaca.

terhadap diri beliau, dan betapa mereka berusaha hendak mem-bunuh beliau.”(51).

Oleh karena itu, al-Hasan r.a., sebagaimana dinyatakan sendiri oleh seorang pakar Syi’ah Abu Manshur at-Thabrisi, beliau mengatakan: “Saya lihat, demi Allah, Mu’awiyah lebih bersikap baik terhadap diri saya dibanding mereka ini. Mere-ka menyatakan diri sebagai pengikutku, tetapi mereka ber-upaya membunuhku, memberatkan bebanku, merampok hartaku. De-mi Allah sekiranya Mu’awiyah memberikan janji kepadaku, men-jaga agar darahku tidak tertumpah, dan memberikan pengamanan kepada keluargaku, maka itu akan lebih baik daripada mereka ini membunuhku. Lalu kerabat dan keluargaku pun akan menjadi tersia-sia. Kalaupun aku memerangi Mu’awiyah, niscaya mereka akan memenggal leherku dan menyerahkannya kepadanya agar ia diselamatkan.”(52).

Seorang tokoh Syi’ah lain, yaitu Amir Muhammad Kadhim al-Qazwaini mengatakan: “Sejarah yang benar telah jelas ke-pada kami, bahwa orag-orang yang ada bersama Imam al-Hasan a.s., meskipun ketika itu berjumlah banyak, tetapi mereka terdiri dari para pengkhianat dan penipu. Jadi, jumlah ba-nyak mereka itu tidak mendukung beliau di dalam memerangi musuh beliau. Sedemikian rupa pengkhianatan dan kelicikan itu sehingga mereka sampai menulis surat kepada Mu’awiyah: “Jika Anda menghendaki kami menyerahkan al-Hasan, akan kami serahkan kepada Anda. Dan salah seorang dari mereka mencabut kapaknya lalu menikamkannya kepada Imam al-Hasan a.s. pada bagian paha beliau, sehingga tikaman itu mencapai tulang. Mereka pun mengucapkan kata-kata yang tidak layak disebutkan selain oleh mereka. Kata mereka: “Sungguh engkau telah musy-rik hai Hasan, sebagaimana sikap musyrik bapamu pada masa lalu.”

Oleh karena itu, ketika beliau sudah merasakan penyele-wengan dan pengkhianatan mereka, dan juga terhadap Ahlul

__________

51) An-Nadwah (3/208). Fii Rihaabi Ahli al-Bayt; hal 270.

52) Al-Ihtijaaj; (2/10). Pernyataan ini terdapat di dalam “Adaabu al-Manaabir”; oleh Hasan Mughniyah; hal. 20.

Bayt beliau alaihimussalam, secara sia-sia, kini tiada lagi gunanya berbalik kepada mereka, maupun kepada Islam dan mus-limin.”(53).

Juga dikutipkan oleh seorang pemuka Syi’ah fanatik Idris al-Huseini, ucapan Amirul Mukminin al-Hasan r.a. kepada syi-’ah (pengikut)nya: “Hai penduduk Irak, sungguh batinku kece-wa terhadap kalian dalam tiga hal; pembunuhan kalian terha-dap bapa saya; tikaman kalian terhadap diriku; dan perampok-an yang kalian lakukan terhadap barang-barangku!” (54).

Selanjutnya tibalah periode Syi’ah dibawah Imam-imam mereka yang juga menghadapi fitnah mereka, sesudah Ali, al-Hasan, dan al-Husein radhiyallahu ‘anhum. Dengan begitu Imam Ja’far ash-Shadiq rahimahullah pun menderita sebagaimana de-rita yang dilalui oleh kakek-kakek beliau. Kini kita dapati salah seorang Syi’ah yang mereka sebut Zurarah bin A’yan (Ia termasuk orang yang dipertahankan dengan cara-cara yang ti-dak benar oleh Abdul Husein al-Mausuwi di dalam buku Mura-ja’aat). Kita saksikan ia menyindir Imam Ja’far ash-Shadiq rahimahullah dengan sindiri buruk dan ironi. Katanya: “Semo-ga dirahmati Allah Abu Ja’far. Berbeda dengan Ja’far, karena hatiku tertambat kepadanya.”(55).

Demikian juga ketika Imam Ja’far menentang bid’ahnya yang dipautkan dengan diri beliau. Kata beliau: “Demi Allah, dia telah memberikan kepadaku suatu beban, tetapi tidak sa-dar.”(56).

Tatkala Zurarah ini meminta izin kepada Imam ash-Shadiq untuk masuk (berjumpa), beliau tidak mengizinkannya, dan berkata: “Jangan diizinkan, jangan diizinkan, dan jangan diizinkan. Sebab Zurarah hendak menyusupkan prinsip-prinsip Qadariyah kepadaku pada saat usiaku sudah tua, sedang itu bukan keyakinanku bukan pula keyakinan bapa-bapaku.”(57).

__________

53) Muhaawarah Aqaaidiyyah; hal. 122-123. Di samping itu, ti-dak ada salahnya mendorong muslimin untuk menyerahkan kepe-mimpinan kepada Mu’awiyah.

54) Laqad syayya’ani al-Husain; Catatan pinggir; hal. 283.

55) Rijaalu al-Kaasyi; hal. 131.

56) Rijaalu al-Kaasyi; hal. 134.

Mirip juga sepert itu, rekan-rekan imam lainnya seperti Abu Bashir, Jabir al-Ju’fi, Hisyam bin al-Hakam, dan mereka yang lain yang dipertahankan oleh penyusun kitab “Muraa-ja’aat“.”(58).

Sampai di sini, sampailah Ahlul Bayt pada kesimpulan bahwa para pengikutnya bersifat munafik. Dan itu dinyatalah oleh lisan Ja’far ash-Shadiq rahimahullah sendiri, melalui pernyataan beliau: “Allah s.w.t. tidak menurunkan ayat ten-tang orang-orang munafik, melainkan ke atas orang-orang yang mengaku sebagai sebagai Syi’ah.”(59).

Di lain riwayat tentang beliau, beliau menyatakan: “Se-kiranya ada kelompok kita yang bangkit dengan berpura-pura sebagai syi’ah kita, perangilah mereka.”(60).

Imam al-Kadhim rahimahullah Ta’ala mengatakan tentang mereka: “Sekiranya Anda saring mereka itu, belum tentu dari seribu orang terdapat satu orang (yang tulus).”(61). Dari Imam ar-Ridha a.s., ia berkata: “Sebenarnya orang-orang yang menyatakan cinta kepada kami Ahlul Bayt, justru orang-orang yang lebih keras di dalam memfitnah kami melebihi Dajjal.” (62).

ooo 0 ooo

PEMBAHASAN TIGA

SURAT-SURAT SAMPAI KEPADA AL-HUSEIN RADHIYALLAHU ‘ANHU

Seorang pemuka Syi’i Kadhim Hamad al-Ahsa’i an-Najafi menerangkan: “Kemudian surat-surat pun membanjiri Imam al-Husein a.s. sampai sebanyak dua kantung penuh. Surat ter-akhir yang datang kepada beliau dari penduduk Kufah, bersama

__________

57) Rijaalu al-Kaasyi; hal. 142.

58) Bacalah ulasan mereka di dalam “Rijaalu asy-Syii’ah fi al-Miizaan”, yang mana Abdul Husein al-Mausuwi berusaha dusta secara terang-terangan demi mempertahankan mereka.

59) Rijaalu al-Kaasyi; hal. 254.

60) Rijaalu al-Kaasyi; hal. 253.

61) Al-Kaafi (7/228). Majmu’atu wa Raam (2/152).

62) Wasaa-ilu asy-Syii’ah (11/441).

Hani bin Hani as-Sabi’i, dan Sa’id bin Abdullah al-Hanafi. Beliau membuka dan membacanya, ternyata di dalamnya tertulis sebagai berikut: “Bismillahirrahmanirrahim. Kepada al-Husein bin Ali, dari Syi’ah (pengikut) bapanya Amirul Mukminin. Lebih lanjut, sebenarnya masyarakat sudah menanti-nanti diri tuan, dan mereka tidak melihat ada orang lain (yang layak untuk pemimpin) selain tuan. Oleh karena itu bersegera-lah!”(63).

Doktor Syi’i Ahmad Nafis menerangkan: “Surat-surat pen-duduk Kufah kepada al-Husein a.s. menyatakan: “Kami tidak memiliki Imam, oleh karena itu datanglah, semoga Allah ber-kenan mempersatukan kita di atas kebenaran.” Surat-surat itu mengandung berbagai tanda tangan menghimbau kedatangan untuk menerima bai’at dan memimpin umat untuk gerakan menghadapi para pendurhaka bani Umayah. Begitulah, kian sempurnalah un-sur-unsur fondamental bagi gerakan al-Huseiniyah. Di anta-ranya: . . . Adanya hasrat mayoritas masyarakat yang me-nuntut reformasi dan mendorong Imam al-Husein untuk segera memegang tampuk kepemimpinan bagi gerakan tersebut.

Juga peristiwa dorongan-dorongan di Kufah ini diungkap-kan di dalam surat-surat baiat tersebut di atas dari kalang-an penduduknya.”(64).

Muhammad Kadhim al-Qazwaini asy-Syi’i menyatakan: “Bahwa penduduk Irak menulis surat kepada al-Husein, mengirim utus-an, dan memohon agar beliau berangkat ke negeri mereka untuk menerima baiat sebagai khalifah, sehingga terkumpul pada al-Husein sebanyak 12.000 surat dari penduduk Irak yang semua-nya berisikan satu keinginan. Mereka menulis: “Buah sudah ranum, tanaman sudah menghijau, Anda hanya datang untuk men-jumpai pasukan anda yang sudah bersiaga. Anda di Kufah memiliki 100.000 (seratus ribu) pedang. Apabila Anda tidak bersedia datang, maka kelak kami akan memusuhi Anda di ha-dapan Allah.”(65).

Seorang pakar hadis Syi’i, Abbas al-Qumi menerangkan:

__________

63) Asyuura'; hal 85. Tadhlimu az-Zahra': hal. 141.

64) ‘Alaa Khathi al-Husain: hal. 94.

65) Faaji’atu ath-Thaff: hal. 6.

“Melimpah ruahlah surat-surat sehingga terkumpul pada beliau di dalam satu hari sebanyak 600 surat berisikan janji hampa. Dalam pada itu pun beliau menunda-nunda dan tidak menjawab mereka. Sehingga terkumpul pada beliau sebanyak 12.000 su-rat.”(66).

Ali bin Musa bin Ja’far bin Thawus al-Huseini asy-Syi’i mengatakan: “Penduduk Kufah mendengar kedatangan al-Husein a.s. ke kota Mekah, dan bahwa beliau menolak berbaiat kepada Yazid. Lalu mereka pun berkumpul di rumah Sulaiman bin Shard al-Khuza’i. Tatkala mereka sedang berbincang-bincang. Tiba-tiba bangkitlah Sulaiman bin Shard di antara dan berpidato. Pada akhir pidatonya ia mengatakan: “Hai segenap orang-orang Syi’ah, sebenarnya kalian telah mengetahui, bahwa Mu’awiyah telah mati, dan pulang menghadap Tuhannya. Menanggung amal perbuatannya. Kini posisinya diduduki oleh putranya Yazid. Sedang al-Husein bin Ali a.s. telah menentangnya dan kini berangkat ke Mekah melarikan diri dari para pendurhaka ke-luarga Abu Sufyan. Sedang kalian adalah syi’ahnya (peng-ikutnya) dan syi’ah bapanya pada masa lalu. Kini ia membu-tuhkan dukungan kalian. Sekiranya kalian hendak mendukungnya dan berjihad melawan musuhnya, tulislah surat kepadanya. Te-tapi jika kalian takut menjadi hina dan takut kalah, jangan kalian ini dengan kedudukan lelaki itu.” Katanya: “Lalu me-reka pun menulis surat kepada beliau.”(67).

Seorang tokoh Syi’i Abbas al-Qumi menyatakan: “Lalu ber-himpunlah orang-orang Syi’ah di Kufah di rumah Sulaiman bin Shard al-Khuza’i. Mereka menyebut-nyebut kematian Mu’awiyah dan baiat kepada Yazid, lalu bangkitlah Sulaiman berpidato kepada mereka seraya berkata: “Sesungguhnya kalian telah me-ngetahui kematian Mu’awiyah dan kenaikan putranya Yazid ke jenjang kekuasaan. Lalu al-Husein a.s. menentangnya dan ke-luar menuju ke Mekah. Sedangkan kalian adalah syi’ahnya dan

__________

66) Muntaha al-Amaal; (1/430).

67) Al-Luhuuf oleh Ibnu Thawus; hal. 22. Al-Majaalisu al-Faakhirah; hal. 58-59. Muntaha al-Amaal (1/430). ‘Alaa Khathi al-Husain; hal 93.

syi’ah bapanya. Jika kalian merasa akan mendukungnya dan berperang melawan musuhnya, tulislah surat kepadanya. Jika kalian takut menjadi hina dan kalah, jangan kalian merasa iri kepada kedudukan lelaki itu.” Mereka menjawab: “Tidak, tetapi kami akan memerangi musuh beliau, bahkan kami siap mati karenanya.”

Lalu mereka pun menulis surat kepada beliau atas nama Sulaiman bin Shard, al-Musayyab bin Jajbah, Rifaa’ah bin Syidad al-Bajili, Hubaib bin Mudhahir, dan orang-orang Syi-‘ah yang beriman dari kalangan penduduk Kufah. Di antara yang tertulis di dalam surat itu, sesudah kata-kata sanjung-an dan puji-pujian adalah sebagai berikut: “Semoga kese-lamatan terlimpah atas diri tuan. Lebih lanjut, segala puji bagi Allah Yang akan memecah belah musuh-musuh tuan, para penindas dan durhana. Sesungguhnya kami tidak memiliki imam. Oleh karena itu, datanglah semoga Allah mempersatukan kita di atas kebenaran. An-Nu’man bin Bisyr berada di istana ke-pemimpinan, tetapi kami tidak bergabung dengannya di dalam salat Jum’at tidak pula berjemaat dengannya. Kami tidak per-gi melaksanakan salat Ied bersamanya. Sekiranya kelak dibe-ritakan kepada kami, bahwa tuan bersedia datang kepada kami, niscaya kami akan mengusirnya sehingga kita mendapati dia berada di Syam insya Allah.”

Kemudian mereka pun mengirimkan surat itu kepada Abdu-llah bin Musamma’ al-Hamdani bersama Abdullah bin Wal, dan memerintahkan kepada mereka agar menyampaikannya secepatnya. Mereka berdua pun berangkat secepatnya sehingga berjumpa dengan al-Husein di Mekah pada tanggal sepuluh Ramadan. Pen-duduk Kufah menanti selama dua hari sejak mengirim surat itu, lalu mereka pun mengutus pula Qais bin Mashar ash-Shai-dawi, Abdullah bin Syidad, dan ‘Amarah bin Abdullah as-Saluli kepada al-Husein a.s. Menyertakan kepada mereka sekitar 150 surat yang masing-masing ditulis oleh satu orang, dua orang, dan empat orang. Dan mereka pun menunggu lagi selama dua hari, kemudian menyusulkan pula Hani bin Ha-ni as-Sabi’i dan Sa’id bin Abdullah al-Hanafi, dan menulis surat lagi kepada beliau: “Bismillahirrahmanirrahim. Kepada al-Husein a.s., dari Syi’ah beliau dari kalangan mukminin dan muslimin. Lebih lanjut, mari datanglah, sebab masyarakat sudah menanti-nantikan tuan. Kami tidak melihat orang lain (sebagai pemimpin) bagi mereka selain tuan. Oleh karena itu bergegaslah, dan bergegaslah. Wassalam.”

Selanjutnya Syabats bin Rabi’i, Hijar bin Abjar, Yazid bin al-Harits bin Ruwaim bin Qais, Amru bin al-Hajjaj az-Zabidi, dan Muhammad bin Amru at-Taimi juga menulis surat, mengatakan: “Lebih lanjut, situasi sudah mendesak, buah-buah sudah siap dituai. Oleh karena itu jika tuan berminat, si-lahkan datang menjelang pasukan tuan yang sudah siap siaga. Wasalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”(68).

PEMBAHASAN TIGA

AL-HUSEIN MENGUTUS MUSLIM BIN ‘UQAIL

Seorang pemuka Syi’i Ridha Husein Shubh al-Hasani mengatakan: “Lalu Muslim berangkat dari Mekah pada pertengahan bulan Sya’ban, dan tiba di Kufah selepas lima hari bulan Syawal. Orang-orang Syi’ah berdatangan berbaiat kepadanya, sehingga jumlah mereka mencapai 18.000 orang. Sedang di dalam riwayat asy-Sya’bi, jumlah orang yang berbaiat kepadanya mencapai 40.000 orang.”(69).

Hasyim yang disebut al-Hasani asy-Syi’i mengatakan: “Menjadi kian jelas melalui beberapa riwayat, bahwa Muslim bin ‘Uqail tidak berpengalaman berkaitan misi perjalanannya itu, padahal ia telah mengetahui kelabilan pendirian penduduk Irak dan sikap pembelotan mereka terhadap paman beliau sang Amirul Mukminin (Ali r.a.), yang pada masa lalu telah berupaya berpisah dari mereka melalui maut ataupun perang. Dan juga pengkhinatan mereka terhadap putra paman beliau al-Hasan, sehingga secara terpaksa beliau menyerahkan kekuasaan kepada Mu’awiyah. Sedangkan al-Husein sudah menje-laskan hal itu, tetapi justru ia tidak mengabaikan pering-atan itu, dan menganggap sikap seperti itu adalah pengecut

__________

68) Muntaha al-Amaal; (1/430). Al-Luhuuf; hal. 22. Al-Majaa-lisu al-Faakhirah; hal. 58.

69) Asy-Syii’ah wa Asyuura'; hal. 167.

dan tidak berpendirian. Ia pun tetap melaksanakan perjalanan tanpa memperdulikan sisi tersebut. Tetapi ketika salah seorang penunjuk jalannya mati di tengah jalan karena kehausan sesudah tersesat, ia pun menulis surat ekpada al-Husein sekali lagi, memohon kepada beliau agar memaafkannya. Telah al-Husein a.s. berangkat menuju ke arahnya dalam perjalanan beliau menuju Kufah. Muslim pun melanjutkan perjalanan sampai ia bisa mendapati jalan dan masuk ke Kufah. Lalu diterima penduduknya dengan sambutan, sehingga berhenti sebagai tamu di rumah al-Mukhtar bin Abu Ubaid ats-Tsaqafi. Dari situ ia mulai menerima masyarakat. Dan menyebarluaslah seruan agar berbaiat kepada al-Husein a.s., sehingga jumlah orang-orang yang “bersumpah setia sampai mati” mencapai 40.000 orang. Ada juga yang mengatakan, kurang dari jumlah tersebut. Gubernur Yazid yang berada di Kufah ketika itu adalah an-Nu’man bin Basyir. Sebagaimana disifatkan oleh para sejarawan, gubernur ini seorang muslim yang tidak menyukai perpecahan dan lebih mengutamakan kesejahteraan.” (70).

Seorang Syi’i fanatik Abdu al-Husein Syarafuddin al-Mausuwi menerangkan: “Selanjutnya orang-oran Syi’ah berselisih pendapat tentang Muslim bin Uqail, sampai hal itu diketahui oleh an-Nu’man bin Basyir (Ketika itu ia menjabat sebagai gubernur sejak sebelum pemerintahan Mu’awiyah, lalu ia pun diteguhkan oleh Yasid untuk meneruskan jabatan tersebut). Dan ia pun mengetahui kedudukan Muslim, tetapi ia tidak bersikap jahat kepadanya.”(71).

Seorang pemuka Syi’i, Abdur Razaq al-Mausuwi al-Muqarram menerangkan: “Orang-orang Syi’ah menjumpai Muslim di rumah al-Mukhtar dengan sambutan hangat dan menampilkan sikap taat dan patuh. Sikap yang membuat ia lebih gembira dan lebih bersemangat. . . ., selanjutnya orang-orang Syi’ah pun datang saling berbaiat kepadanya sampai tercacat sejumlah 18.000 orang. Bahkan ada yang mengatakan sampai sejumlah 25.000 orang. Sedang di dalam riwayat asy-Sya’bi dinyatakan, orang-orang yang berbaiat kepadanya berjumlah 40.000 orang. Kemudian Muslim menulis surat kepada al-Husein bersama Abs bin Syabib asy-Syakiri, memberitakan kepada beliau tentang kebersatuan penduduk Kufah untuk patuh dan sikap mereka yang menanti-nanti. Di dalamnya ia menyatakan: “Seorang penunjuk jalan tidak akan mendustai keluarganya sendiri. Bahkan sudah terdapat 18.000 orang penduduk Kufah yang berbaiat kepadaku. . .”(72).

Seorang tokoh mereka bernama Abbas al-Qumi mengatakan: “Al-Mufid dan mereka yang lain menerangkan: “Masyarakat ber-baiat kepadanya (kepada Muslim bin Uqail) sampai jumlah me-reka mencapai 18.000 orang. Lalu Muslim menulis surat kepada al-Husein a.s. memberitahukan kepada beliau tentang 18.000 orang yang berbaiat kepadanya dan memerintahkan agar beliau datang.”(73).

Abbas al-Qumi juga menerangkan: “Melalui riwayat yang lalu, membuktikan bahwa orang-orang Syi’ah secara diam-diam menjumpai Muslim di rumah Hani, secara tertutup, dan raha-sia. Lalu mereka pun saling mengikutinya, dan Muslim mene-kankan kepada tiap-tiap orang yang berbaiat kepadanya agar tutup mulut dan merahasiakan hal itu, sampai jumlah orang yang berbaiat kepadanya mencapai 25.000 laki-laki. Sementara Ibnu Ziyad masih belum mengetahui posisinya . . .”(74).

ooo 0 ooo

PEMBAHASAN EMPAT

AL-HUSEIN R.A. MENUJU KE KUFAH

Dikutip oleh seoran pakar hadis Syi’i Abbas al-Qumi, dan juga oleh seorang tokoh penulis Syi’i Abdul Hadi ash-Shalih, bahwa al-Husein ketika hendak berangkat dari Mekah, beliau melalukan thawaf dan sa’i, memotong rambut beliau dan berta-halul dari ihram beliau. Sebab, beliau tidak tenang untuk menyelesaikan hajinya karena takut akan ditangkap atau di-bunuh di Mekah. Lalu beliau mengumpulkan sahabat-sahabat be-

___________

70) Siiratul Aimmati al-Itsna’asyar; 2/57-58.

71) Al-Majaalisu al-Faakhirah; hal. 61.

72) Maqtal al-Husain; oleh al-Muqarram; hal. 147. Ma’saatu Ihda wa Sittiin; hal. 24.

73) Muntaha al-Amaal (1/436).

74) Muntaha al-Amaal (1/437).

liau pada malam delapan Dzul Hijjah dan berpidato kepada me-reka seraya berkata: “Segala puji bagi Allah. Segala sesuatu adalah atas kehendak Allah. Tiada kekuatan melainkan dari Allah. Semoga sholawat terlimpah kepada Rasul-Nya. Dia telah menetapkan kematian atas anak Adam, dan telah pula mene-tapkan kepemimpinan kepada sebaik-baik pemuda. Alasan yang mendorongku untuk mengenang orang-orang sebelumku adalah se-bagaimana kerinduan Ya’qub kepada Yusuf. Dan sebaik-baik tempat kematianku adalah yang akan kudapati. Seolah-olah de-ngan kedatanganku terhalang oleh lebah-lebah padang belan-tara di antara an-Nawawis dan Karbala’. Lalu merenggut da-riku sepenuh perutnya dengan sangat rakus. Tiada jalan kelu-ar dari hari-hari yang telah tertulis oleh “Pena” (takdir). Kerelaan Allah adalah kerelaan kami para Ahlul Bayt. Kami akan bersabar terhadap ujian-Nya, dan semoga kami dikaruniai pahala orang-orang yang bersabar. . . ” (75).

Doktor Syi’i Ahmad Rasim an-Nafis mengatakan: “Bahkan Farazdaq si penyair telah berjumpa dengan kafilah al-Husein. Ia mengucapkan salam kepada beliau, dan berkata kepada beli-au: “Demi bapa dan ibuku, wahai putra Rasulullah, dorongan apa yang membuat tuan menyegerakan ibadah haji?” Beliau men-jawab: “Sekiranya saya tidak terburu-buru, niscaya saya akan ditangkap..,” Lalu Abu Abdillah (al-Husein a.s.) bertanya tentang keadaan masyarakat? Farazdaq menjawab: “Hati mereka ada pada tuan, tetapi pedang mereka pun akan menyerang tu-an.” Beliau a.s. menjawab: “Maha benar Allah di dalam menga-tur dan setiap hari Dia dengan urusan-Nya. Sekiranya terjadi ketentuan sesuai yang kami sukai dan kami rela, maka kami pun akan memuji karunia-Nya. Sedang Dialah tempat kita me-manjatkan syukur. Tetapi jika yang terjadi di luar harapan, maka tidak akan tersia-sia orang yang baik niatnya dan takwa batinnya.”(76).

__________

75) Muntaha al-Amaal; 1/453. Khairul Ash-haab; hal. 33.

76) ‘Alla Khathi al-Husein; hal. 99-100. Asy-Syii’ah wa Asyuura'; hal. 178. Perhatikanlah keterangan tentang ucapan beliau: “Sekiranya terjadi ketentuan sesuai yang kami sukai …”, ini berlawanan dengan pernyataan yang dikutip oleh Abbas al-Qumi: “Seolah-olah dengan kedatanganku terhalang oleh lebah-lebah padang belantara di antara an-Nawawis dan Karbala’.”

Pemuka Syi’i bernama Ali bin Musa bin Ja’far bin Thawus al-Huseini mengatakan: “Si perawi menerangkan: “Al-Husein a.s. berangkat sehingga tinggal berjarak dua hari perjalanan dari Kufah. Tiba-tiba beliau berjumpa dengan al-Hurr bin Ya-zid bersama seribu orang penunggang kuda. Al-Husein a.s. pun bertanya kepadanya: “Adakah Anda berpihak kepada kami atau-kah memusuhi kami?” Ia menjawab: “Kami akan memusuhi Anda wahai Abu Abdillah.” Beliau berkata: “Tiada daya maupun ke-kuatan melainkan dari Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung.” Selanjutnya terjadilah tanya jawab di antara mereka berdua, sehingga al-Husein a.s. berkata kepadanya: “Jika kalian pada posisi yang berbeda dari surat-surat kalian yang datang ke-padaku, dan juga utusan-utusan yang Anda utus kepadaku. Maka saya akan kembali ke tempat saya pergi.”

Al-Hurr melarang beliau bersama para sahabat beliau untuk melakukan itu. Dan ia pun berkata: “Wahai putra Rasu-lullah, ambillah jalan yang kiranya tidak memasukkan Anda ke Kufah, dan tidak pula mengantar Anda ke Madinah, agar saya dapat beralasan kepada Ibnu az-Ziyad, seolah-olah Anda telah berlawanan jalan denganku di perjalanan.”

Kemudian al-Husein a.s. berbelok ke kiri, sehingga be-liau sampai di Adzib al-Hajanat.” (77).

Ayatullah Muhammad Taqiy Ali Bahri al-Ulum menerangkan: “Al-Husein keluar seraya mengenakan kain, selendang, sepa-sang sendal, dan bersandar pada penghulu pedang beliau. Lalu beliau menghadapi kelompok tersebut, memuji dan menyanjung Allah, lalu berkata: “Dengan merendahkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan juga kepada kalian. Sebenarnya saya tidak datang kepada kalian sehingga datang kepada saya surat-surat kalian. Dan dinyatakan oleh utusan-utusan kalian: “Datanglah kepada kami karena kami tidak memiliki imam. Semoga Allah berkenan mempersatukan kita di atas petunjuk.” Jika kalian memang bersikap seperti itu, maka sekarang kami datang kepa-da kalian, maka penuhilah janji dan ikrar kalian dengan si-

__________

77) Al-Luhuuf oleh Ibnu Thawus; hal. 47. al-Majaalis al-Faakhirah; hal. 87.

kap yang baik. Tetapi sekiranya kalian tidak menyukai keha-diranku, maka saya pun akan meninggalkan kalian kembali ke tempat di mana saya berangkat.” Mereka pun terdiam semuanya. Lalu al-Hajjaj bin Masruq al-Ju’fi menyerukan salat Dhuhur. Kemudian al-Husein berkata kepada al-Hurr: “Apakah Anda hen-dak berlaku sebagai imam salat sahabat-sahabat Anda?” Ia menjawab: “Tidak: “Tetapi kami semuanya akan bermakmum kepa-da Anda.” Kemudian al-Husein pun berlaku sebagai imam salat atas mereka. Seusai salat, beliau menghadap mereka, memuji dan menyanjung Allah, dan bersholawat kepada Nabi Muhammad, beliau berkata: “Wahai hadirin, sekiranya kalian bertakwa kepada Allah dan memahami hak-hak ahli-Nya, niscaya itu le-bih diridhai Allah. Kami adalah Ahlul Bayt Muhammad s.a.w., lebih layak untuk menduduki jabatan ini dibanding mereka yang merasa memiliki apa-apa yang tiada pada mereka. Dan me-reka orang-orang yang suka melakukan kejahatan dan permu-suhan. Tetapi sekiranya kalian merasa enggan dan tidak me-nyukai kami, tidak memahami hak-hak kami, dan sekarang kali-an berpendapat (dengan pendapat baru) yang berbeda dengan pernyataan-pernyataan surat-surat kalian. Kami akan pergi meninggalkan kalian.”

Al-Hurr berkata: “Saya tidak mengerti tentang surat-su-rat yang Anda sebutkan itu?” Lalu al-Husein memerintahkan kepada Uqbah bin Sam’an (agar mengeluarkan surat-surat ter-sebut). Ia pun mengeluarkan dua kantung penuh dengan surat-surat.”

Al-Hurr berkata: “Saya bukan dari golongan mereka. Bah-kan saya diperintah untuk tidak berpisah dari Anda apabila bisa menjumpai Anda sampai saya membawa Anda ke Kufah men-jumpai Ibnu Ziyad.” Al-Husein menjawab: “Maut lebih dekat pada diri Anda daripada melaksanakan hal itu.”

Lalu beliau memerintahkan sahabat-sahabat beliau agar menunggangi kendaraan, para wanita pun sudah menunggangi kendaraan. Tetapi tiba-tiba al-Hurr melarang mereka pergi menuju ke Madinah.” Al-Husein berkata kepada al-Hurr: “Cela-kalah ibumu!, apakah yang kalian harap dari kami?”

Al-Hurr berkata: “Sekiranya yang mengucapkan kata-kata itu orang Arab lain selain Anda, dan ia dalam posisi seperti Anda sekarang, niscaya tidak akan kubiarkan ia menyebut ce-laka terhadap ibunya, betapa pun alasannya. Demi Allah, saa tidak memiliki kemampuan untuk menyebut ibu Anda, kecuali dengan ucapan yang baik dan kami hormati. Tetapi sekarang silahkan ambil jalan tengah yang mana tidak memasukkan Anda ke Kufah dan bukan ke arah Madinah, sehingga saya dapat me-nulis surat kepada Ibnu Ziyad. Semoga allah berkenan menga-runiakan kesejahteraan kepada kita, dan saya pun tidak men-dapat musibah lantaran persoalan Anda ini.”(78).

Bahkan peristiwa berkaitan upaya al-Husein r.a. hendak pulang kembali ke tempat semula, betapa beliau dihinakan oleh Syi’ah, dan juga pengkhianatan mereka, telah dikutip bukan oleh hanya seorang pakar sejarah Syi’ah. Bahkan dite-rangkan juga oleh Abbas al-Qumi(79), Abdur Razaq al-Mausuwi al-Muqarram(80), Baqir Syarif al-Qurasyi(81), Ahmad Rasim an-Nafis(82), Fadhlil Abbas al-Hayawi(83), Syarif al-Jawa-hiri(84), Asad Haidar(85), Arwa Qushair Qalith(86), Muhsin al-Huseini(87), juga oleh pemikir Syi’i Abdul Hadi ash-Sha-lih, sebagaimana diterangkan Abdul Husein Syarafuddin(88). Juga dinyatakan oleh Ridhla al-Qazwaini(89).

Abbas al-Qumi juga mengutip riwayat, bahwa al-Husein r.a. melakukan perjalanan sehingga sampai di Qashr Bani Mu-qatil. Ternyata di sana sudah tersedia tenda-tenda terben-tang, anak-anak panah yang disiagakan, kuda-kuda yang diper-siapkan. Lalu al-Husein a.s. bertanya: “Bagi siapakah tenda-tenda ini?” Mereka menjawab: “Bagi Ubaidullah bin al-Hurr al-Ju’fi. Kemudian al-Husein a.s. mengutus salah seorang sa-

__________

78) Waaqi’atu ath-Thaff; oleh Bahru al-‘Ulum; hal. 191-192.

79) Fii Muntaha al-Amaal; hal. 464, juz permata, sebagaimana dinyatakan oleh kitab tersebut; hal. 170.

80) Maqtal al-Husain; hal. 183.

81) Fii Hayaati al-Imaami al-Husain; hal. 102.

82) Alaa Khathi al-Husain; hal. 102.

83) Maqtal al-Husain; hal. 11.

84) Mutsiiru al-Ahzaan; hal. 43.

85) Ma’a al-Husaini fii Nahdhlatih; hal. 165.

86) Khuthbu al-Masiirati al-Karbala-iyyah; hal. 49.

87) Al-Imaam al-Husain Bashiiratun wan Hadhlaarah; hal. 82.

88) Al-Majaalisu al-Faakhirah; hal. 87.

89) Tadhlimu az-Zahra'; hal. 174 dan halaman berikutnya.

habat beliau bernama al-Hajjaj bin Masruq al-Ju’fi untuk menghadap kepadanya. Ia pun menghadap dan mengucapkan salam kepadanya. Ubaidullah menjawab salamnya, kemudian berkata: “Siapakah di belakang Anda?” Ia menjawab: “Dibelakang saya wahai Ibnu al-Hurr, kiranya Allah akan mengaruniakan kehor-matan kepada tuan sekiranya tuan bersedia menerima beliau.”

Ibnu al-Hurr bertanya: “Apakah karunia kehormatan itu?”

Ia menjawab: “Beliau adalah al-Husein bin Ali mengundang Anda agar bersedia membelanya. Sekiranya Anda berperang di hadapan beliau, niscaya Anda akan dikaruniai pahala, dan ji-ka Anda terbunuh di hadapannya, niscaya Anda akan mati sya-hid.”

Ubaidullah bin al-Hurr menjawab: “Demi Allah, hai Ha-jjaj, saya tidak berangkat dari Kufah melainkan karena kha-watir, bahwa al-Husein a.s. akan masuk ke sana, sedang saya berada di sana dan tidak dapat membelanya. Sebab di Kufah tidak ada orang-orang Syi’ah maupun penolong-penolong mela-inkan para materialistis, kecuali (beberapa orang) yang di-selamatkan Allah dari kalangan mereka. Sekarang kembalilah kepada beliau dan beritahukan hal itu kepada beliau.”

Kemudian al-Husein bangkit memakai sendal dan pergi men-jumpainya bersama sejumlah sahabat dari kalangan saudara-saudara dan Ahlul Bayt beliau. Tatkala masuk dan mengucapkan salam, melonjaklah Ubaidillah bin al-Hurr dari posisi du-duknya, mencium kedua tangan dan kaki beliau. Kemudian al-Husein duduk seraya memuji dan menyanjung Allah, lalu ber-kata: “Hai Ibnu al-Hurr, sebenarnya penduduk kota Anda telah menulis surat kepada saya dan menjelaskan kepada saya bahwa mereka telah berkumpul hendak membelaku, dan mereka pun me-mohon kepadaku untuk datang kepada mereka. Saya pun datang, dan persoalannya bukan seperti anggapan mereka. Sekarang sa-ya mengajak Anda untuk membela kami para Ahlul Bayt. Seki-ranya hak-hak kami diberikan, niscaya kami akan memuji Allah dan menerimanya. Tetapi sekiranya hak-hak kami ditolak dan dianggap kami melakukan kezaliman, maka sebenarnya tu-juan saya adalah menuntut kebenaran.”

Ubaidillah menjawab: “Wahai putra Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam wa aalih, sekiranya di Kufah terdapat Syi-‘ah (sejati) dan para pembela yang akan berperang bersama Anda, niscaya saya orang yang paling mengetahuinya. Tetapi saya mengetahui bahwa Syi’ah Anda di Kufah itu telah mening-galkan rumah-rumah mereka masing-masing karena takut kepada pedang-pedang bani Umayah.”

Al-Husein tidak menjawab ucapan itu, dan beliau a.s. berlalu. . . “(91).

ooo 0 ooo

PEMBAHASAN LIMA

PENKHIANATAN TERHADAP MUSLIM BIN UQAIL

Hasyim Ma’ruf asy-Syi’i menerangkan: “Gubernur baru ber-kuasa untuk membuat rekayasa untuk menangkap Hani bin Urwah pemilik rumah di mana utusan al-Husein r.a. berada, dan yang telah menjamunya dengan sangat baik, bekerja sama di dalam pemikiran-pemikiran dan strategi. Lalu Gubernur itu pun menangkapnya dan membunuhnya setelah melalui perdebatan pan-jang di antara mereka berdua. Dan ia pun melemparkan bang-kainya dari atas istana ke bahwa ke arah masyarakat yang berkerumun di sekitar istana. Lalu timbullah ketakutan dan kecemasan di kalangan masyarakat. Masing-masing orang pulang kerumahnya sendiri-sendiri. Seolah-olah tidak lagi perduli dengan situasi.”(92).

Pemuka Syi’i Muhammad Kadhim al-Qazwaini menerangkan: “Lalu Ibnu Ziyad masuk Kufah. Ia mengirim utusan kepada pa-ra pemuka setempat dan pimpinan-pimpinan kabilah, mengancam mereka dengan datangnya pasukan dari Syam, dan memikat mere-ka, sehingga mereka pun berpisah-pisah meninggalkan Muslim sedikit demi sedikit sehingga tingggal Muslim seorang di-ri.”(93).

__________

90) Itulah para pengikut Anda hai Tijani !

91) Abbas al-Qumi menerangkan peristiwa tersebut di dalam Muntaha al-Amaal (1/466). Juga di catatan pinggir (haamisy); hal. 177 dalam buku an-Nafsu al-Mahmuum. Sedang lafalnya pada kitab rujukan kedua.

92) Siiratu al-Aimmah al-Itsna ‘Asyar (2/61).

93) Faaji’atu ath-Thaffa; hal. 7. Pernyataan serupa juga ter-sebut di dalam “Tadhlimu az-Zahra'”; hal. 149. Perhatikanlah utusan al-Husein, Muslim bin Uqail pada hal. 50 dan halaman

Menurut hemat kami: “Inilah situasi yang terjadi pada diri Muslim bin ‘Uqail ketika ia meminta kepada al-Husein r.a. agar memaafkan dirinya karena situasi ini. Sebab se-karang ia telah menyadari pengkhianatan Syi’ah terhadap pa-mannya Ali, juga terhadap putra pamannya al-Hasan radhiya-llahu ‘anhum. Kini kian nyata bukti peristiwa itu. Dan Mus-lim pun di bunuh di hadapan dan di depan mata dan telinga orang-orang yang telah mengundangnya untuk dibaiat atas nama al-Husein.”

Seorang pemuka Syi’i fanatik Abdul Husein Syarafuddin dalam menyinggung pengkhianatan para pendahulunya (orang-orang Syi’ah) terhadap Muslim bin Uqail, ia mengatakan: “Te-tapi justru sesudah itu mereka mengingkarinya sesudah ber-baiat kepadadnya, mengebumikan beban tanggung jawabnya, ti-dak teguh memegang janji, pun tidak kokoh memegang ikrar. Sungguh itu merupakan peristiwa paling tragis, perobek-ro-bekan terhadap hak-hak, kehinaan paling rendah, peristiwa yang paling layak untuk dikenang. Tetapi berkaitan dengan sikapnya ketika diterima oleh para sahabatnya dan situasi kian menekan antara dirinya dengan musuh-musuhnya, terbukti ia bersikap mulia, dan berpendirian teguh. Pada saat datang

__________

berikutnya. Baca juga hal. 113. Abdul Husein Nuruddin al-‘Amili mengatakan: “Kemudian masyarakat pun bercerai-berai, Ketika itu para wanita menjumpai putranya dan saudaranya, lalu berkata: “Pulanglah! Orang lain sudah cukup bagimu !” Sementara orang-orang lelaki datang menjumpai putra dan saudaranya, lalu berkata: “Besok akan datang orang-orang Syam, apa yang akan engkau perbuat terhadap peperangan dan musibah? Pulanglah !” Kemudian ia pun membawanya pergi. Dan secara terus menerus mereka bercerai berai, sehingga ketika tiba sore harinya dan hendak melakukan salat Maghrib, sudah tidak lebih orang-orang yang tinggal bersamanya kecuali tiga puluh orang di dalam masjid. Tatkala ia melihat sudah tiba sore hari sedang ia hanya berada bersama mereka ini. Lalu ia pun keluar dari masjid dan pergi menuju gerbang-gerbang kabilah Kindah, tetapi belum lagi sampai ke gerbang-gerbang tersebut, kini orang-orang yang bersamanya sudah tinggal se-puluh orang. Dan ketika keluar dari gerbang tersebut, ia sudah tidak bersama seorang pun. Demikian dinyatakan dalam “Ma’saat Ihda wa Sittiin; hal. 27.

musuh-musuh dari atas, dari bawah, dan mengepungnya dari berbagai penjuru, sedang dia hanyalah seorang diri, tanpa penolong tak ada pembela . . . , sehingga terjatulah ia ke tangan mereka selaku tawanan perang.” (94).

ooo 0 ooo

BERITA BURUK

Abbas al-Qumi menerangkan: “Lebih lanjut perhatikanlah (maksudnya; al-Husein), sehingga ketika tiba waktu sahur, beliau berkata kepada bujang-bujang dan pelayan-pelayan be-liau: “Perbanyaklah air, sehingga kalian memiliki persediaan minum. Dan perbanyak lagi, kemudian berangkatlah. Lalu be-liau melakukan perjalanan. Sehingga ketika beliau sampai di tempat sampah, datang kepada beliau berita tentang Abdullah bin Yaqthar. Kemudian beliau mengumpulkan para sahabat be-liau. Mengeluarkan sepucuk surat di hadapan hadirin, dan be-liau membacakannya di hadapan mereka. Ternyata tertulis di dalamnya sebagai berikut: “Bismillahirrahmanirrahim. Lebih lanjut, telah datang berita buruk kepada kami, Muslim bin Uqail dibunuh, Hani bin Urwah, dan juga Abdullah bin Yaq-thar. Kita telah dihinakan oleh Syi’ah kita sendiri. Barang-siapa di antara kalian hendak pulang, silahkan pulang tanpa dipersalahkan dan tanpa dibebani sangsi.”

Kemudian para hadirin pun bercerai-berai meninggalkan beliau, yaitu dari kalangan orang-orang yang mengikuti be-liau demi memperoleh harta rampasan dan kehormatan. Sehingga beliau hanya tinggal bersama Ahlul Bayt beliau dan para sa-habat-sahabat beliau yang tetap memilih tinggal dan patuh bersama beliau atas dasar yakin dan iman.”(95).

ooo 0 ooo

__________

94) Al-Majaalisu al-Faakhirah; hal. 62.

95) Muntaha al-Amaal (1/462). Al-Majlisi di dalam “Bihaaru al-Anwaar” (44/374). Muhsin al-Amin dalam “Lawaa-ij al-Asy-Haan”; hal. 67. Abdul Husein al-Mausuwi dalam “al-Majaalisu al-Faakhirah”; hal. 85. Penulis Abdul Hadi ash-Shalih di da-lam “Khoirul Ash-haab”; hal. 37, hal. 107. Sebagaimana dije-laskan lelaki yang digelari Sulthan al-Waa’idhin (Raja pembe-ri nasehat) Muhammad al-Mausuwi asy-Syirazi di dalam “Layaali

PEMBAHASAN ENAM

KEDATANGAN AL-HUSEIN R.A. DI BUMI KARBALA’

Abdur Razaq al-Mausuwi al-Muqarram menjelaskan: “Ketika itu kedatangan beliau di Karbala’ adalah pada tanggal dua Muharram tahun 61 h.”(96). Abbas al-Qummi menerangkan: “Ke-tahuilah, terdapat perselisihan pendapat tentang keterangan hari kedatangan al-Husein a.s. di Karbala’. Tetapi pendapat yang paling sahih: “Bahwa beliau tiba di Karbala’ pada tang-gal dua Muharram tahun 61 h. Dan ketika beliau sudah tiba di situ beliau berkata: “Apakah nama daerah ini?”

Dikatakan kepada beliau: “Karbala'”

Lalu beliau berdoa: “Wahai Allah saya berlindung kepada-Mu dari duka dan musibah (Karb dan Bala’).”(97).

Muhammad Taqiy Ali Bahri al-‘Ulum mengatakan: “Para pa-kar sejarah dan militer mengatakan: “Tatkala al-Husein a.s. tiba di Karbala’, beliau mengumpulkan para sahabat dan Ahlul Bayt beliau. Lalu berdiri berpidato kepada mereka. Sesudah memuji dan menyanjung Allah, beliau berkata: “Lebih lanjut, kita dihadapkan pada situasi seperti yang kalian saksikan, sesungguhnya duniawi sudah berbalik dan ingkar, sisi baiknya sudah berlalu dan yang berlaku adalah permusuhan, tiada yang tersisa dari duniawi kecuali hanyalah setetes seperti te-tesan dari sebuah bejana, hidup secara pengecut, adalah lak-sana penggembala jahat. Tidakkah kalian lihat betapa kebe-naran tidak direalisasikan, dan betapa kejahatan tidak di-larang? Hendaklah seorang mukmin berharap dapat menjumpai Tuhannya dalam keadaan sebagai orang benar. Sungguh saya me-mandang, maut tidak lain adalah kebahagiaan, sedang hidup

__________

Basyaawir”; hal. 585. Muhammad Mahdi al-Mazindarani dalam “Ma’aali as-Sibthain”; juz pertama hal. 267. Murtadhla al-Askarai di dalam “Ma’aalim al-Madrasatain”; juz 3, hal. 67. Asad Haidar di dalam kitabnya “Ma’al Husain fii Nahdhlatih”; hal. 163. Juga tercantum dalam “Daa-iratul Ma’aarif asy-Syii-‘iyyah (8/264). Sang tokoh Ahmad Husein Ya’qub dalam kitabnya “Karbala’ ats-Tsaurah wa al-Ma’saah”; hal. 244.

96) Maqtal al-Husain; olah al-Muqarram; hal. 193.

97) Muntaha al-Amaal (1/471).

bersama orang-orang zalim adalah menjemukan.”(98).

Seorang Doktor Syi’i Ahmad Rasim an-Nafis mengutipkan kepada kita beberapa pantun al-Husein r.a.(99), dan pering-atan beliau kepada Syi’ah (para pengikut) beliau yang telah mengundang beliau (dengan janji) hendak membelanya, tetapi kemudian meninggalkannya. Kata beliau: “Ketika itu mereka secara terus menerus merisaukan Abu Abdillah al-Husein, agar beliau tidak dapat menyelesaikan ibadah haji beliau. Lalu beliau berkata kepada mereka dengan murka: “Mengapa kalian tidak bersedia diam terhadapku dan mendengar tutur kataku? Sebenarnya saya mengajak kalian ke jalan lurus, sehingga orang-orang yang bersedia mengikutiku akan menjadi orang-orang yang beroleh bimbingan, sedang yang durhaka kepadaku akan menjadi orang-orang yang dibinasakan. Kalian semua telah berbuat durhaka terhadap perintahku, tidak mendengar ucapanku. Kiranya barang-barang yang kalian terima berlimpah barang haram, perut-perut kalian pun dipenuhi oleh barang haram, sehingga Allah menutup hati kalian. Celakalah kalian, mengapa kalian tiada bersedia tutup mulut? Mengapa tidak bersedia mendengar?” . . . , lalu para hadirin pun diam. Selanjutnya beliau a.s. berkata lagi: “Celakalah kalian wahai jemaah. Kalian campakkan apa-apa yang telah kalian serukan kepada kami. Kami dapati kalian dalam keadaan lemah, lalu kami pun menyeru kalian dengan siap siaga. Lalu kalian hunuskan pedang ke arah leher-leher kami. Kalian sulutkan bara api fitnah ke atas kami, sehingga menjadi peluang bagi musuh-musuh kami dan musuh kalian sendiri. Lalu kalian pun menjadi perintang orang-orang yang hendak melindungi kalian, dan pula menjadi tangan bagi musuh-musuh kalian. Tanpa adanya keadilan berlaku di antara kalian. Tak ada pula harapan kalian terhadap mereka kecuali harta duniawi haram yang akan kalian peroleh, kehidupan seorang pengecutlah yang kalian dambakan ….., alangkah buruk moral kalian. Sebenar-nya kalianlah para pendurhaka di antara umat ini, kelompok paling jahat, pencampak al-Kitab (al-Quran), sarana bisik-

__________

98) Maqtal al-Husain; oleh Bahru al-‘Ulum; hal. 763.

99) Lafal aslinya ada di dalam “al-Ihtijaaj”; oleh ath-Thab-risi (2/24) dengan sedikit editting.

bisikan setan, golongan para pendo-sa, pemanipulasi al-Kitab (al-Quran), pemadam sunah-sunah, dan pembunuh putra-putri para nabi.” (100).

Itulah lafal yang disusun oleh pemuka Syi’i tersebut. Bahkan manuskrip asli pidato tersebut dikutipkan oleh se-orang Syeikh mereka ali bin Musa bin Thawus(101), lalu di-kutip pula oleh Abdur Razaq al-Muqarram(102) dan Fadhlil Abbas al-Hayawi(103), Hadi an-Najafi(104), Hasan ash-Sha-far(105), Muhsin al-Amin(106), Abbas al-Qumi(107), dan ba-nyak dari mereka yang lain(108).

Sekarang perhatikanlah wahai orang-orang yang suka men-dendangkan “kebenaran”, betapa Imam al-Husein r.a. menyi-fatkan Syi’ah beliau sebagai orang-orang dengan sifat-sifat:

“Pendapatan kalian dipenuhi barang-barang haram.”

“Perut-perut kalian dipenuhi barang-barang haram.”

“Allah menutup hati kalian.”

Perhatikanlah mereka itu. Mereka pulalah para pengikut beliau (orang-orang Syi’ah) yang telah menyeru beliau, orang-orang yang labil …. kalian telah menyulut gelombang fitnah.

__________

100) ‘Ala Khathi al-Husain; hal. 130-131.

101) Al-Luhuuf; hal. 58.

102) Maqtal al-Husain; hal. 234.

103) Maqtal al-Husain; hal. 16.

104) Yaumu ath-Thaff; hal. 28.

105) al-Husain wa Mas-uliyati ats-Tsaurah; hal. 61.

106) Lawaa-‘iju al-Asjaan; hal. 97, dan selanjutnya. Di da-lamnya dapat disimpulkan, bahwa mereka cenderung tidak mau berbicara kepada beliau, dan juga tidak bersedia diam untuk mendengar beliau.

107) Muntaha al-Amaal (1/486).

108) Bacalah: “Ma’aalimu al-Madrasatain” (3/100). Karbala’ ats-Tsaurah wa al-Ma’saah; oleh al-Muhami Ahmad Muhsin Ya-‘qub; hal. 283-284.

Jadi orang-orang Syi’ah tersebut, adalah:

“Kelompok paling buruk.”

“Pencampak (yang membuang) al-Kitab (al-Quran).”

“Golongan para pembuat dosa (pendosa).”

“Pemanipulasi al-Kitab (al-Quran).”

“Pemadam sunah-sunah (Nabi s.a.w.).”

“Pembunuh putra-putri para nabi.”

ooo 0 ooo

PEMBAHASAN TUJUH

SIAPAKAH HAKIKAT PEMBUNUH AL-HUSEIN R.A.?

Sebenarnya, Muhammad bin Ali bin Abu Thalib yang popu-ler dengan gelar Ibnu al-Hanif, sudah menasehatkan kepada saudaranya al-Husein radhiyallahu ‘anhum seraya mengatakan: “Wahai saudaraku, penduduk Kufah sudah Anda ketahui betapa pengkhianatan mereka terhadap bapamu (Ali r.a.) dan sauda-ramu (al-Hasan r.a.). Saya khawatir nanti keadaanmu akan sa-ma seperti keadaan mereka sebelumnya!” (109).

Seorang penyair tersohor, Farazdaq berpantun berkaitan dengan al-Husein r.a., tatkala ia ditanya tentang Syi’ah beliau yang hendak dijumpai oleh beliau. Ia menjelaskan: “Hati mereka bersama Anda, sedang pedang beliau melawan An-da. Ketetapan turun dari langit, dan Allah kuasa berbuat se-kehendak-Nya.” Al-Husein menjawab: “Anda benar, Allahlah yang kuasa menetapkan persoalan. Dan setiap hari ia berada di dalam urusan. Sekiranya datang ketentuan sebagaimana kesukaan dan kerelaan kami, kami pun memuji Allah atas karu-nia-karunia nikmatnya, bahkan Dialah tempat tujuan selayak-nya untuk mengungkapkan syukur. Tetapi apabila terjadi si-tuasi yang di luar harapan, niscaya Dia tidak akan jauh dari orang-orang yang berniat baik dan berbatin takwa.”(110).

__________

109) Al-Luhuuf; oleh Ibn Thawus; hal. 39. Asyuura'; oleh al-Ihsa-i; hal. 115. Al-Majaalisu al-Faakhirah; oleh Abdu al-Hu-sein; hal. 75. Muntaha al-Amaal; (1/454). Alaa Khathi al-Hu-sain; hal. 96.

110) Al-Majaalisu al-Faakhirah; hal. 79. ‘Alaa Khathi al-Husain; hal 100. Lawaa’iju al-Asyjaan; oleh al-Amin; hal. 60. Ma’aalimu al-Madrasatain (3/62).

Imam al-Husein r.a. tatkala beliau berpidato kepada me-reka, beliau telah menyinggung sikap pendahulu mereka dan juga sikap mereka terhadap bapa dan saudara beliau. Di dalam pidato beliau itu, beliau menyatakan: ” . . ., sekiranya ka-lian tidak bersedia melaksanakannya dan kalian hendak mem-batalkan janji kalian, kalian hendak menanggalkan baiat ter-hadapku dari pundak kalian, maka memang kalian sudah di-ke-nal dengan sikap demikian, karena kalian pun telah bersikap serupa itu terhadap bapaku, saudaraku, dan juga putra pa-manku Muslim. Akan tertipulah orang-orang yang cenderung ke-pada kalian, . . . “(111).

Dan pernyataan-pernyataan Imam al-Husein r.a. sebelum-nya yang mana beliau meragukan surat-surat mereka. Kata beliau: “Sesungguhnya mereka itu telah membuat diriku cemas, dan inilah surat-surat penduduk Kufah, sedang mereka meme-rangiku.” (112).

Pada kesempatan lainnya beliau r.a. mengatakan: “Wahai Allah, turunkanlah ketetapan antara kami dengan kaum yang telah mengundang diri kami hendak membela, tetapi justru me-merangi kami!”(113).

Menurut hemat kami: “Memang, Syi’ah (pengikut) al-Hu-sein r.a. telah mengundang (dengan dalih) hendak membelanya, tetapi kemudian memerangi beliau sendiri!”

Salah seorang Syi’i bernama Husein Kurani mengatakan: “Penduduk Kufah tidak puas sekedar berpisah meninggalkan Imam al-Husein, bahkan mereka berubah sikap, mengubah pendi-rian mereka ke pendirian ketiga, yaitu kini mereka bergegas berangkat menuju Karbala’ dan memerangi Imam al-Husein a.s. Di Karbala’ mereka saling berlomba menyatakan pendirian me-reka yang sesuai dengan kepuasan setan dan mendatangkan murka Sang Mahapemurah. Contohnya, kita lihat, bahwa Amru bin al-Hajjaj, lelaki yang baru kemarin bersiap siaga di Ku-

__________

111) Ma’aalimu al-Madrasatain (3/71-72). Ma’aali as-Sibthain (1/275). Bahru al-‘Uluum; 194. Nafsu al-Mahmuum; hal. 172. Khoiru al-Ash-haab; hal. 39. Tadhlimu az-Zahraa'; hal. 170.

112) Maqtal al-Husain; hal. 175.

113) Muntaha al-Amaal (1/535).

fah seolah-olah laksana seorang penggembala gembalaan Ahlul Bayt, berjuang membela mereka, juga merupakan orang yang te-lah mengerahkan pasukan untuk menyelamatkan orang besar Hani bin Urwah, secara nyata-nyata telah berbalik pendirian, yai-tu dengan menganggap bahwa al-Imam Husein telah keluar dari agama (Islam). Marilah kita renungkan pernyataan berikut:

“Ketika itu Amru bin al-Hajjaj berkata kepada rekan-re-kannya: “Perangilah orang-orang yang telah keluar dari agama dan meninggalkan jemaah . . , dst.”(114).

Husein Kurani juga menjelaskan: “Kita lihat pendirian lain yang membuktikan sikap munafik penduduk Kufah. Abdullah bin Hauzah at-Taimi datang berdiri di hadapan Imam al-Husein a.s. seraya berteriak: “Adakah di antara kalian yang bernama Husein?”

Orang ini termasuk penduduk Kufah sedang kemarin ia tergolong Syi’ah Ali a.s., dan boleh jadi ia termasuk orang yang turut menulis surat kepada Imam, atau termasuk jemaah yang terlibat dan mereka yang lain yang juga menulis surat . . . , ” Lebih lanjut ia berkata; “Hai Husein, berbahagialah dengan masuk neraka !”(115).

Murtadha Muthahari mempertanyakan: “Bagaimana penduduk Kufah sampai berangkat untuk memerangi al-Husein a.s. pada saat menganggap cinta kepada mereka dan memiliki jalinan ka-sih sayang?”

Kemudian ia pun menjawabnya sendiri: “Jawabannya, ialah karena rasa gentar dan takut yang telah menjangkiti penduduk Kufah. Secara umum sejak masa pemerintahan Ziyad dan Mu-’awiyah, dan yang kemudian kian meningkat dan bertambah-tam-bah dengan kehadiran Ubaidillah, lelaki yang dengan serta merta telah membunuh Maitsam at-Tamar, Rasyid, Muslim, dan Hani, . . , dan ini berkaitan dengan perubahan sikap mereka yang terlibat lantaran berambisi dan berhasrat kepada peng-hasilan, harta, dan kehormatan duniawi. Sebagaimana hal itu terjadi pada diri Umar bin Sa’ad . . .,”

__________

114) Fii Rihaabi Karbalaa'; hal. 60-61.

115) Fii Rihaabi Karbalaa'; hal. 61.

“Adapun sikap orang-orang terpandang dan para tokoh, mereka ini telah dilanda takut terhadap Ibnu Ziyad, terpikat oleh harta sejak hari pertama ia memasuki Kufah. Pada saat ia berseru kepada mereka semua seraya berkata: “Barangsiapa di antara kalian berada di barisan yang menentang, maka saya akan menghapuskan soal hadiah kepadanya.”

Demikianlah, contohnya Amir bin Majma’ atau bernama Majma’ bin Amir, ia berkata: “Adapun para tokoh mereka, maka mereka telah menjadi besarlah kurupsi mereka, dan telah me-menuhi tabiat mereka.”(116).

Syi’i Kadhim al-Ihsa-i an-Najafi menjelaskan: “Pasukan yang berangkat hendak memerangi Imam Husein a.s. sebanyak 300.000. Seluruhnya adalah penduduk Kufah. Tidak ada di an-tara mereka yang berasal dari Syam, Hejaz, India, Pakistan, Sudan, Mesir, maupun Afrika, bahkan seluruhnya adalah pendu-duk Kufah yang terhimpun dari beraneka ragam kabilah.”(117).

Seorang sejarawan Syi’i Husein bin Ahmad al-Buraqi an-Najafi menerangkan: “Al-Qazwaini mengatakan: “Balasan yang perlu dilakukan terhadap penduduk Kufah, adalah lantaran me-reka telah menikam al-Hasan bin Ali a.s., dan mereka membu-nuh al-Husein a.s. setelah mereka mengundang beliau.”(118).

Seorang sejarawan Syi’i tersohor Ayatullah al-‘Udhma Muhsin Amin mengatakan: “Lalu berbaiatlah dari penduduk Ku-fah sebanyak 20.000 orang, yang mana mereka mengkhianatinya. Kemudian mereka pun berangkat memerangi beliau pada saat baiat (janji setia) masih berada di pundak mereka. Kemudian mereka pun membunuh beliau.”(119).

Jawad Muhaditsi mengatakan: “Segala penyebab-penyebab seperti ini berdampak menyusahkan Imam Ali a.s. dalam dua kasus, dan Imam al-Hasan menghadapi pengkhianatan mereka. Di antara mereka Muslim bin ‘Uqail terbunuh dalam kondisi ter-aniaya. Al-Husein mati dalam keadaan kehausan di Karbala’ dekat Kufah dan di tangan tentara Kufah.”(120).

__________

116) Al-Malhamah al-Husainiyyah; (3/47-48).

117) Asyuura'; hal. 89.

118) Tariikh Kuufah; hal. 113.

119) A’yaanu asy-Syii’ah (1/26).

120) Mausuu’atu Asyuura'; hal. 59.

Seorang tokok Syi’i Abu Manshur ath-Thabrisi, Ibnu Tha-wus, al-Amin, dan para tokoh lainnya mengutip informasi dari Ali bin al-Hasan (menurut kami: al-Husein –pent) bin Ali bin Abi Thalib yang dikenal dengan Zainal Abidin r.a., dari ba-pa-bapanya, seraya mencela Syi’ahnya yang telah menghinakan bapanya dan membunuhnya pula, ia berkata: “Wahai manusia, kuperingatkan kalian terhadap Allah, tidak sadarkah kalian, bahwa kalian telah menulis surat kepada bapaku, lalu kalian khianati? Kalian memberikan janji, ikrar, dan baiat, lalu kalian membunuhnya dan menghinakannya. Celakalah hasil dari perbuatan yang telah kalian lakukan bagi diri kalian, bu-ruknya nalar kalian. Dengan pandangan bagaimanakah kalian akan memandang kepada Rasulullah s.a.w. manakala beliau ber-tanya kepada kalian: “Kalian telah membunuh keturunanku, dan kalian telah mencemarkan kehormatanku. Jadi, kalian bukanlah umatku!”

Para wanita saling menjerit seraya menangis dari ber-bagai penjuru. Sebagian mereka berkata kepada sebagian la-innya: “Binasalah kalian lantaran perbuatan kalian.” Lalu beliau a.s. berkata lagi: “Semoga Allah merahmati orang yang suka menerima nasehatku, menjaga wasiatku berkaitan (hak-hak) Allah, Rasul-Nya, dan Ahlul Baytnya. Sebab, kami telah memperoleh teladan baik dari Rasulullah.”

Secara serentak para hadirin berseru: “Kami semua ber-sedia mendengar, patuh, siap membantu beban tuan, tidak akan mengabaikan tuan dan tidak pula melalaikan tuan. Oleh karena itu, perintahkanlah kami dengan suatu perintah, semoga tuan dirahmati Allah. Sebab, kami siap berperang kepada orang yang memerangi tuan, berdamai dengan orang yang berdamai de-ngan tuan. Benar-benar kami akan menuntut bela terhadap Ya-zid, dan kami pun memutuskan hubungan dari mereka yang men-zalimi tuan dan menzalimi kami.”

Beliau a.s. menjawab: “Aduhai, aduhai, wahai para peng-khianat penipu. Ambisi kalian telah dihalangi oleh hawa naf-su kalian. Adakah kalian akan bersikap terhadapku sebagai-mana sikap kalian terhadap bapa-bapaku sebelumnya? Tidak lagi, betapa banyak orang-orang yang suka menari-nari. Sung-guh luka ini belum lagi kering. Baru kemari bapaku terbunuh dan Ahlul Baytku pun terbunuh bersamanya. Saya belum dapat melupakan derita Rasulullah s.a.w. beserta keluarganya, de-rita bapaku beserta putra-putra bapaku. Dan itu bisa di-dapati di antara duka dan kepahitanku, di antara kerongkong-an dan tenggorokanku, sedang cabang-cabangnya mengalir di hamparan dadaku . . .,”(1).

Tatkala Imam Zain al-Abidin rahimahullahu Ta’ala lewat dan melihat penduduk Kufah sedang meratap dan menangis, lalu beliau menegurnya seraya berkata: “Kalian meratapi dan menangisi kami, lalu siapa yang telah memerangi kami?” (2).

Di dalam sebuah riwayat dikisahkan, tatkala beliau le-wat Kufah yang mana penduduknya meratap. Ketika itu beliau tinggal sebagai tamu karena terhalang oleh sakit. Dengan suara pelahan beliau berkata: “Kalian meratapi dan menangis kami? Lalu siapa yang telah memerangi kami?”(3).

Di lain riwayat tentang diri beliau rahimahullah, di-nyatakan bahwa beliau berkata dengan suara lemah karena be-liau sedang dirundung sakit: “Sekiranya mereka itu menangisi kami, lalu siapakah yang telah memerangi kami selain me-reka?”(4).

Ummu Kultsum binti Ali radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Wahai penduduk Kufah, celakalah kalian, mengapa kalian menghinakan Husein dan membunuhnya, kalian rampok harta ben-danya dan kalian warisi, kalian caci maki istri-istrinya dan kalian buat menderita. Celakalah kalian, terazablah kalian.

__________

1) Pidato ini diterangkan ath-Thabari di dalam al-Ihtijaaj (2/32). Juga Ibnu Thawus di dalam “al-Malhuuf”; hal 92. Al-Amin di dalam Lawaa’iju al-Asyjaan; hal. 158. Abbas al-Qumi di dalam Muntaha al-Amaal; Juz pertama; hal. 572. Husein al-Kurani di dalam Rihaabu Karbalaa'; hal. 183. Abdur Razaq al-Muqarram di dalam Maqtal al-Husain; hal. 317. Murtadhla ‘Iyad di dalam Maqtal al-Husain; hal. 87. Diulang pula oleh Abbas al-Qumi di dalam Nafsu al-Mahmuum; hal. 360. Juga dikemukakan oleh Ridhla al-Qazwaini di dalam Tadhlimu az-Zahraa'; hal. 262.

2) Al-Malhuuf; hal. 86. Nafsu al-Mahmuum; hal. 257. Maqtal al-Husain; oleh Murtadhla ‘Iyad; hal. 83; edisi 4, th. 1996 m. Tadhlimu az-Zahraa'; hal. 257.

3) Muntaha al-Amaal (1/570).

4) Al-Ihtijaaj (2/29).

Tragedi apakah yang menimpa kalian, beban apakah yang ter-pikulkan di punggung kalian, darah-darah manakah yang telah kalian tumpahkan, kehormatan-kehormatan mana pulakah yang telah kalian cemarkan, anak-anak manakah yang telah kalian bajak, harta-harta mana yang telah kalian rampok. Kalian telah membunuh orang-orang baik sesudah Nabi s.a.w. dan ke-luarganya, dan kasih sayang sudah tercabut dari hati kali-an!”(5).

Tentang riwayat Ummu Kultsum radhiyallahu ‘anha ini ju-ga dikutipkan kepada kita oleh ath-Thabrisi dan al-Qumi, al-Muqarram, al-Kurani, Ahmad Rasim, dan juga menjelaskan ten-tang penyelewengan para pengkhianat hina. Kata beliau ra-dhiyallahu ‘anha: “Kemudian dari itu, wahai penduduk Kufah, hai para pengkhianat, para penipu, dan tukang makar. Ingat-lah, sejarah tiada akan terlupakan dan tragedi pun tiada akan tertenteramkan. Orang-orang seperti kalian adalah lak-sana orang yang merusak jalinan tenunannya sendiri setelah kokoh hingga tercerai berai.

Kalian jadikan iman kalian selaku barang dagangan di antara kalian. Adakah pada pribadi kalian selain hasrat hati dan bangga, lirikan dan dusta, merayu budak-budak wanita, bergelimang permusuhan. Seperti seorang penggembala pada tempat sampah, atau perak di dasar tanah. Betapa buruk bi-dang-bidang yang kalian upayakan bagi diri kalian, karena kemurkaan Allah akan menimpa kalian, dan kalian pun akan ke-kal di dalam azab. Adakah kalian menangisi saudaraku? Memang, sungguh! Banyak-banyaklah menangis dan tertawalah sedikit, karena kalian mendapat tragedi kehinaan dan ter-kenang aib karenanya, dan tak akan pernah terlupakan sela-manya.

Bagaimana kalian dapat melupakan pembunuhan terhadap keturunan Sang Penutup para nabi?; sumber risalah?; pemimpin pemuda penghuni surga?; tempat berlindung perang kalian dan pembela kelompok kalian? ; pusat kesejahteraan kalian, wila-

__________

5) Al-Luhuuf; hal. 91. Nafsu al-Mahmuum; 363. Maqtal al-Hu-sain; oleh al-Muqarram; hal. 316. Lawaa’iju al-Asyjaan; hal. 157. Maqtal al-Husain; oleh Murtadhla ‘Iyad; hal.86. Tadhlim az-Zahraa'; oleh Ridhla bin Nubi al-Qazwaini; hal. 261.

yah pangkalan kalian, tempat rujukan untuk kalian mengadu, dan menara hujah kalian sendiri? Betapa buruk apa-apa yang telah kalian upayakan bagi diri kalian sendiri, betapa buruk beban yang akan kalian pikul pada hari kebangkitan kalian. Binasa, binasa, celaka, celaka, sebab upaya telah sia-sia, dan celakalah tangan-tangan manusia, tepukan-tepukan pun me-rugi. Dan kalian akan kembali dengan menghadap kemurkaan Allah. Kalian akan ditimpa kehinaan dan kenistaan. Celakalah kalian, tidakkah kalian mengerti betapa susah payah Muhammad telah kalian sia-siakan? Betapa janji telah kalian pungkiri? Betapa kehormatan beliau telah kalian cemarkan? Betapa darah beliau telah kalian tumpahkan? Sesungguhnya kalian telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karenanya, dan bumi terbelah, dan gu-nung-gunung pun runtuh. Sesungguhnya kalian telah menda-tangkan kelusuhan dan ketercabik-cabikan sepenuh bumi dan langit.”(6).

Seorang pemuka Syi’i Asad Haidar berkenaan Zainab binti Ali radhiyallahu ‘anhuma yang mana beliau berpidato kepada segenap orang yang menyambutnya dengan tangisan seraya mera-tap. Kata beliau seraya mencemooh mereka: “Adakah kalian me-nangis dan berpura-pura sayang?” Ya, benar, banyak-banyaklah menangis dan tertawalah sedikit. Sebab kalian akan menderita aib dan kenistaan karenanya, dan kalian tak akan dapat terbebas daripadanya melalui upaya pembersihan selama-lama-nya. Bagaimana mungkin kalian akan terbebas dari pembunuhan terhadap cucu Sang Penutup para nabi? . . ., dst.”(7).

Di lain riwayat dinyatakan, beliau mengeluarkan kepala dari tandu seraya berkata kepada penduduk Kufah: “Celakalah kalian hai penduduk Kufah! Para lelaki kalian membunuhi kami sementara para wanita kalian menangisi kami. Yang akan men-

__________

6) Al-Ihtijjaaj; 2/29. Muntaha al-Amaal; 1/570. Maqtal; oleh al-Muqarram; hal. 311,dan berikutnya. Fii Rihaab Karbalaa'; hal. 146, dan seterusnya. ‘Alaa Khathi al-Husain; hal. 138. Tadhlim az-Zahraa'; 258.

7) Ma’a al-Husain fii Nahdhlatih; hal. 295, dan seterusnya.

jadi hakim bagi kami atas kalian adalah Allah pada hari di-tetapkannya masing-masing hukuman.”(8).

ooo 0 ooo

PEMBAHASAN DELAPAN

SIAPA-SIAPAKAH DARI KALANGAN AHLUL BAYT YANG TERBUNUH BER-SAMA AL-HUSEIN RADHIYALLAHU ‘ANHUM

Di antara bukti-bukti, bahwa Amirul Mukminin Ali r.a. sayang kepada ketiga Khalifah (sebelum beliau), adalah bahwa beliau memberi nama putra-putra beliau dengan nama-nama kha-lifah tersebut. Tetapi mereka telah membunuh mereka tersebut bersama saudara-saudara mereka, yakni al-Husein di Karbala’. Tetapi kita lihat, para orator Syi’ah sengaja tidak menyebut nama-nama baik mereka ini agar para peneliti al-Huseiniyah tidak memperhatikan posisi mereka dari Khalifah Tiga (Abu Bakar, Umar, dan Utsman) radhiyallahu ‘anhum. Sedang putra-putra Ali r.a. tersebut bernama: “Abu Bakar bin Ali bin Abi Thalib. Itu dinyatakan oleh al-Mufid(9), at-Thabrisi(10), al-Arbali(11), Abbas al-Qumi(12), Baqir Syarif al-Qura-syi(13), Hadi an-Najafi(14), Shadiq Makki(15), Ibnu Syahr Asyuub(16).

Nama Umar bin Ali bin Abi Thalib; dinyatakan oleh al-Mufid(17), ath-Thabrisi(18), Ibnu Syahr Asyub(19), al-Arba-li(20), dan an-Najafi(21).

__________

8) Dikutip oleh Abbas al-Qumi di dalam “Nafsu al-Mahmuum”; hal. 365. Juga disebutkan oleh Syeikh Ridhla bin Nubi al-Qazwaini di dalam “Tadhlimu az-Zahraa'”; hal. 264.

9) Al-Irsyaad; oleh Al-Mufid; hal. 248.

10) I’laamu al-Wara; hal. 203.

11) Kasyfu al-Ghummah; (1/440).

12) Muntaha al-Amaal; (1/528).

13) Hayaatu al-Imaami al-Husain; (1/270).

14) Yaumu ath-Thaff; hal. 171,172,173,174.

15) Madhlaalim Ahl al-Bayt; hal. 258.

16) Manaaqib Aali Abi Thaalib; (3/305).

17) Al-Irsyaad; hal. 186.

18) I’laamu al-Waraa; hal. 203.

Nama Utsman bin Ali bin Abi Thalib; dinyatakan oleh Mu-hammad bin an-Nu’man yang disebut al-Mufid(22), Ibnu Syahr Asyub(23), ath-Thabrisi(24), al-Arbali(25), al-Qumi(26), al-Qu-rasyi(27), Hadi an-Najafi(28), Shadiq Makki(29).

Nama Abu Bakar bin al-Husein bin Ali bin Abi Thalib; dinyatakan oleh al-Mufid(30), ath-Thabrisi(31), al-Arbali (32), al-Qumi(33), al-Qurasyi(34), Hadi an-Najafi(35), dan juga Shadiq Makki(36). Bahkan nama Umar bin al-Husein bin Ali bin Abi Thalib; dinyatakan oleh al-Mufid(37), ath-Thab-risi(38), Shadiq Makki(39).

Dan semua orang-orang mulia ini sampai pada tempat ajal mereka di Karbala, sebagaimana riwayat tersebut dinyatakan oleh para penulis yang kami kutip di dalam ringkasan ini. Semoga Allah berkenan merahmati mereka dan juga bapa-bapa mereka. Sengaja kami perjelas, agar para pengarang Syi’ah

__________

19) Manaaqib Aali Abi Thaalib; (3/304).

20) Kasyfu al-Ghummah; (1/440).

21) Yaumu ath-Thaff; hal. 188.

22) Al-Irsyaad; hal. 186.

23) Manaaqibu Aali Abi Thaalib; (3/304.

24) I’laamu al-Waraa; 203.

25) Kasyfu al-Ghummah; 1/440.

26) Munataha al-Aamaal; (1/526,527).

27) Hayaatu al-Imaami al-Husain; (3/262).

28) Yaumu ath-Thaff; hal. 175,179.

29) Madhlaalim Ahl al-Bayt; hal. 257.

30) Al-Irsaad; hal. 186, 248.

31) I’laamu al-Waraa; hal. 212.

32) Kasyfu al-Ghummah; (1/575,580).

33) Muntaha al-Aamaal; (1/526).

34) Hayaatu al-Husain; (3/254).

35) Yaumu ath-Thaff; hal. 167.

36) Madhlaalimu ahl al-Bayt; hal. 258.

37) Al-Irsyaad; hal. 197.

38) I’laamu al-Waraa; hal. 112.

39) Madhlaalimu ahl al-Bayt; hal. 254.

mengetahui sikap sayang Ahlul Bayt kepada Tiga Khalifah (Abu Bakar, Umar, dan Utsman) radhiyallahu ‘anhum -pent. Bahkan persoalannya tidak sebatas itu saja, bahkan masih ada Ahlul Bayt lainnya yang menamakan putra-putra beliau dengan nama-nama khalifah-khalifah tersebut.

Cukuplah sebagai contoh bagi Anda, di antara mereka Imam Besar Ali bin al-Husein bin Ali bin Abi Thalib selaku orang “ma’shum keempat” menurut pandangan Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah, yang mana beliau mempunyai seorang putra bernama Umar. Itu dinyatakan oleh al-Mufid(40). Berkaitan Umar rahimahullah ini, al-Hurr al-Amili mengatakan: “Beliau adalah orang besar yang bijak, seorang pimpinan panitya per-belanjaan (keluarga) Nabi s.a.w., keluarga beliau, dan juga Amirul Mukminin. Beliau adalah seorang yang wara’ dan ketat terhadap pelanggaran.”(41).

Selanjutnya, kita dapati seorang pemuka Syi’ah yang di-juluki Alamah, Muhaqqiq, dan peneliti Murtadha al-Askari. Ia menyebut tentang putra-putra Ali bin Abi Thalib yang tiga tersebut: “Abu Bakar, Umar, dan Utsman di dalam kitabnya Ma-’aalimu al-Mudarrisiin, hal. 127, pada juz ketiga.

Tidak diragukan lagi, bahwa orang akan memilihkan nama-nama terbaik bagi putra-putranya. Jadi, Abu Bakar, Umar, dan Utsman adalah sahabat-sahabat yang paling disayangi dalam hati Ali radhiyallahu ‘anhum sehingga beliau memberi nama putra-putra beliau dengan nama-nama mereka.

ooo 0 ooo

__________

40) Di dalam “Al-Irsyaad”.

41) Khootimatu al-Wasaa-il.

PASAL EMPAT

SYI’AR-SYIAR AL-HUSEINIYAH

PEMBAHASAN SATU

SYI’AR-SYI’AR AL-HUSEINIYAH YANG BERUPA UPACARA-UPACARA (THUQUUS) TIDAK TERDAPAT PADA MASA PARA IMAM

Pembaca budiman, sejatinya perayaan yang dilakukan orang-orang Syi’ah yang disebut “al-Maa’tim” (berhimpun un-tuk menyatakan duka) dan “al-Huseiniyah“, seperti; menampar-nampar, meratap-ratap, dan memukulkan senjata, dan sebagai-nya tidak pernah ada pada masa para imam, sesuai pendapat para ulama Syi’ah sendiri. Bahkan diterangkan oleh Najmuddin Abu al-Qasim asy-Syi’i yang disebut Muhaqqiq moderen, bahwa duduk dalam rangka ta’ziyah bukanlah teladan dari salah se-orang sahabat maupun para imam, dan bahwa itu menyeleweng dari sunah ulama masa lalu. Dan upacara-upacara ini, artinya al-Ma’tsam dan al-Huseiniyyah termasuk bid’ah yang harus di-tinggalkan. Sebagaimana hal itu juga disadari oleh salah se-orang pakar mereka Ayatullah al-Udhma Jawad at-Tabrizi pada saat diajukan pertanyaan berikut: “Bagaimana menurut penda-pat Anda tentang upacara-upacara al-Huseiniyah, alasan apa-kah untuk menjawab orang yang menyatakan, bahwa upacara “perhimpunan duka” (thuquus) tidak terdapat pada masa imam-imam suci alaihi salam sehingga tidak disyariatkan?”

Ia menjawab: “Ketika itu orang-orang Syi’ah pada masa imam-imam alaihi salam hidup dengan cara taqiyah, dan tidak ada bentuk syiar-syiar pada masa mereka karena tidak memung-kinkan, tetapi itu tidak membuktikan bahwa hal itu tidak di-syariatkan pada masa sekarang. Sekiranya orang-orang Syi’ah pada masa itu hidup dalam kondisi seperti sekarang dalam arti memungkinkan untuk mengadakan syiar-syiar dan mereali-sasikannya, niscaya mereka sudah melakukannya sebagaimana yang kita lakukan sekarang, seperti ; memasang bendera-ben-dera hitam di pintu-pintu al-Huseiniyah, bahkan juga kelom-pok yang menyatakan duka.”(42).

__________

42) Al-Mu’tabar; hal. 94. Nanti akan kami sajikan lafalnya.

Seperti itu juga yang dipahami oleh Alamah mereka, Aya-tullah al-Udhma Ali al-Huseini al-Fani al-Ashfahani(42), ke-tika berusaha menjelaskan persoalan yang tidak jelas ini:

“Sebenarnya, upacara-upacara ini tidak pernah diadakan pada zaman para imam maksum alaihissalam, sekalipun me-reka justru keluarga orang-orang yang ditimpa musibah, paling layak untuk melakukan ta’ziyah terhadap al-Hu-sein a.s. Tidak ada hadis dari mereka yang memerin-tahkan hal itu. Jadi, cara-cara ini adalah upacara yang dibuat oleh orang-orang Syi’ah dan disebut syiar-syiar mazhab.”

Sedang di dalam riwayat dinyatakan setiap pengada-adaan adalah sesat dan setiap kesesatan akan dimasukkan ke neraka. Berkaitan ini, al-Fani al-Ashfani menjawab: “Jawabnya jelas sekali. Tidak semua yang baru itu bid’ah, sebab bid’ah itu berkaitan dengan ibarat membuat syariat yang tidak berkaitan dengan agama, tidak berasal dari agama, sedangkan riwayat-riwayat yang dinyatakan berkaitan pencelaan terhadap bid’ah dan terhadap orang yang mengadakan bid’ah, menjelaskan bahwa ia termasuk disyariatkan oleh agama. Bahkan itu (upacara tersebut) masuk riwayat di dasarkan pada hukum nalar, yang menegaskan buruknya pensyariatan suatu nonsyariat dengan mendasarkan bahwa ia syariat ilahi yang berasal dari wahyu samawi.

Jika bukan demikian, di manakah posisi status syubhat yang oleh riwayat dianjurkan agar ditinggalkan, dan dalam pandangan akal tercela? Berbeda dengan syiar-syiar al-Husei-niyah yang tidak seperti itu. Betapa tidak, sedang menangis justru diperintahkan(43), dan menangis adalah dampak dari

__________

42) Berkaitan dengan juz 2 dari kitab “Shiraathu an-Najaah; oleh al-Khu’I; hal. 562; edisi 1417 h.

43) Pada penjelasan berikut, akan diakui secara terang-te-rangan oleh al-Khunsari dan Abbas al-Qumi, bahwa para pejabat Daulat al-Buwaihi itulah yang memerintahkan kepada masyarakat agar meratap-ratap dan menangis, dan agar mendirikan “perhim-punan duka” di jalan-jalan raya dan di pasar-pasar, dst.

penyebab-penyebab. Contohnya; berkaitan dengan ucapan; mem-baca al-Quran, dan pengungkapan sikap riya’. Sedang contoh-nya berkaitan tindakan: Seperti apa yang dilakukan oleh orang-orang syi’ah. Oleh karena itu, berkaitan dengan fikih, ditetapkan boleh melakukan syiar-syiar tersebut karena di dalamnya terkandung tangisan yang mendalam. Sebagaimana ta-’ziyah mempunyai tujuan sendiri. Tetapi haruslah ada dasar. Kami berpendapat, dasar-dasar ta’ziyah berkaitan dengan duka yang beraneka ragam. Yang dipahami dalam pandangan Syi’ah, itu bukan termasuk yang dilarang syariat, tidak pula dipan-dang buruk oleh akal. Bagi orang yang masih ragu-ragu, hen-daklah ia berupaya memahami yang dimaksud dengan bid’ah, la-lu menerapkannya sesuai kehendaknya jika memungkinkan.” (44),(45).

Hasan Mu’niyah menjelaskan: “Masa al-Buwaihi tiba pada abad ke empat hijriyah. Lalu menjadi bebaslah pada hari ini(46), dan tampillah ungkapan duka sebagaimana seharusnya di Bagdad dan Irak seluruhnya, Khurasan, dan pada bagian be-lakang sungai, bahkan dunia seluruhnya. Sebab, (kini) kota-kota telah mengenakan warna hitam. Orang ramai keluar selu-ruhnya sebagaimana keluarnya ular yang menggetarkan pawang-nya. Seperti itu pula kondisinya pada masa al-Hamdani di Ha-lab, Maushul, dan negeri-negeri di bawahnya. Sedangkan pada masa Fathimiyah, maka lukisan upacara al-Huseiniyah di dalam Asyura dipandang sebagai suatu situasi Bagdad, terbatas pada

__________

44) Diriwayatkan Ahmd bin Fahd al-Hili dalam “‘Uddatu adh-Daa’I; hal. 169., dari ash-Shadiq a.s., katanya: “Setiap mata akan menangis pada Hari Kiamat, diperkecualikan tiga jenis mata, yaitu; mata yang merendah (tidak memandang) dari yang diharamkan Allah, mata yang dipergunakan berjaga (malam hari) untuk berbakti kepada Allah, dan mata yang menangis pada larut malam lantaran takut kepada Allah.” Jadi, menangis haruslah dilakukan atas dasar takut kepada Allah, bukan seperti yang dilakukan di dalam upacara al-Huseiniyah ataupun upacara-upacara perhimpunan duka.

45) Maqtal al-Husain; oleh Murtadhla ‘Iyad; hal. 192; Cet. 4.

inti-inti sederhana sebagaimana yang berlaku sekarang di se-genap penjuru negara-negara Islam dan Arab. Khususnya Irak, Iran, India, Suria, Hejaz. Dengan begitu berdirilah upacara-upacara himpunan perkabungan (al-Ma’tam) dan ratapan (al-ma-naahaat). Dilakukan untuk menuangkan air mata. Lalu menjadi tegaklah syiar-syiar al-Huseiniyah, sebagai salah satu pengabdian kepada kebenaran dan upaya mengungkap kebenaran secara terbuka.”(47),(48).

Lebih lanjut seorang imam dan syahid mereka Ayatullah Hasan asy-Syirazi menguraikan tentang masa-masa ketika syi-ar-syiar ini diberlakukan. Lalu ia pun mengeluhkan kezaliman yang telah mencegah orang-orang Syi’ah menampilkan syiar-syiar seperti ini. Katanya: “Namun, Syi’ah tidak mampu untuk melakukan penuangan air mata ini, lantaran ketika itu mereka tertekan oleh kezaliman bani Umayah dan bani Abbas. Pergan-tian situasi kekerasan dan kelembutan yang mereka ha-dapi seperti keadaan seorang pemetik bunga. Jadi perubahan-peru-bahan sikap mereka dalam menuangkan air mata, adalah sesuai dengan pergantian-pergantian tersebut.”(49).

Lebih lanjut asy-Syirazi menjelaskan lima periode:

Periode Satu: Periode para imam.

Kata asy-Syirazi: “Ungkapan duka Syi’ah terbatas dengan hanya menghimpun sejumlah orang di rumah salah seorang dari mereka. Salah seorang dari mereka mengumandangkan beberapa bait syair, atau pembacaan hadis-hadis belas kasih terhadap Ahlul Bayt. Sementara yang lain menangis dengan upaya merasiakan, bersembunyi dan bersikap pura-

__________

46) Jelasnya, upacara-upacara Perhimpunan Duka dam al-Husei-niyah belum dikenal kecuali baru pada masa itu, oleh orang-orang al-Buwaihi.

47) Adaabu al-Manaabir; hal. 192.

48) Jelasnya, bahwa sebelum masa Daulat orang-orang Buwaihi dan Fatimi, maka tiada peragaan pengabdian terhadap kebenar-an maupun pengungkapan kebenaran secara terbuka. Lalu datang-lah mereka ini, sedang mereka bukan imam-imam yang ma’shum. Lalu mereka pun menjadikannya sebagai peragaan pengabdian terhadap kebenaran.

49) Asy-Sya’aair al-Husainiyyah; oleh asy-Syirazi; hal. 97-98.

pura (taqiyah) terhadap pemerintah zalim, agar mereka tidak dianggap gila dan kepala mereka pun bisa mela-yang.”(50).

Menurut pendapat kami; ucapan seperti ini tidak dapat diterima. Dan itu berasal dari kelicikan asy-Syirazi. Sebab, di sini ia tidak menjelaskan dari mana sumber pernyataan se-perti ini.

Kedua Periode Bani Abbas:

Asy-Syirazi mengeluh berkaitan periode ini, tetapi kemu-dian ia meralatnya. Katanya: “Kemudian kian meluaslah ma-jelis-majelis persekutuan duka terhadap Imam al-Husein dan kian nyaringlah ratapan-ratapan di mimbar-mimbar. Tetapi pa-da wilayah-wilayah yang masih terbatas, karena terhalang oleh gerakan Syi’ah.”(51).

Menurut hemat kami; pernyataan asy-Syirazi kali ini pun tidak dapat diterima, yang mana hanya berupaya memper-tahankan argumennya sendiri. Dia mengatakan: ” . . . tetapi masih pada wilayah-wilayah terbatas, karena terhalang oleh gerakan Syi’ah.”

Jika demikian, apa gunanya nilai jihad Anda?

Selanjutnya asy-Syirazi menjelaskan Periode Ketiga:

Periode Ketiga.

Katanya: “Ini adalah periode Daulat orang-orang al-Bu-waihi ad-Dailami dan Fathimiy. Khususnya pada masa-masa ke-jayaan Daulat ad-Dailami, yang mana mereka menjunjung tinggi kerahiban dan memberlakukan potensi Syi’ah. Memberi kelelua-saan kepada mereka untuk keluar ke majelis-majelis perka-bungan dari rumah-rumah (tersembunyi) ke tengah masyarakat ramai, jalan-jalan raya, dan lapangan-lapangan umum. Juga mengumumkan peresmian Hari Asyura’, pasar-pasar ditutup, membuat tatanan-tatanan parade di jalan-jalan dan lapangan-lapangan kota.” (52).

Selanjutnya ia menjelaskan Periode Keempat:

__________

50) Ibid; hal. 98.

51) Ibid; hal. 98.

52) Asy-Sya’aair al-Husainiyyah; hal. 99.

Periode Keempat.

Katanya: “Periode Shafawi. Khususnya pada masa Alamah al-Majlisi yang mensupport Syi’ah agar melestarikan syiar-syiar mereka dengan segala keleluasaan. Kemudian mereka pun menambahkan dengan peragaan-peragaan yang diadakan oleh me-reka sendiri untuk memperagakan keberkabungan.”(53).

Selanjutnya ia menjelaskan tentang Periode Kelima:

Periode Kelima.

Katanya: “Periode ulama moderen, sebagai pelopornya ada-lah Syeikh Murtadhla al-Anshari dan Ayatullah ad-Durbandi. Terbukti semakin banyak orang-orang Syi’ah yang mengungkap-kan duka lewat rantai dan senjata tajam.”(54).

Lebih lanjut asy-Syirazi kembali menekankan suatu pene-kanan sebagaimana dinyatakan oleh at-Tabrizi dan al-Fani al-Ashfahani. Katanya: “Sekiranya Syi’ah pada masa-masa para imam alaihimussalam mendapati kebebasan seutuhnya, niscaya mereka pun akan melaksanakan syiar-syiar seperti yang ber-laku pada masa sekarang atau bahkan lebih dari itu. Bedanya, mereka tidak memperoleh kebebasan secukupnya untuk mengung-kapkannya secara utuh melalui upaya-upaya mereka pada setiap masa.”(55).

Pada akhirnya Asy-Syirazi mengatakan: “Dengan adanya syiar-syiar yang diberlakukan pada masa ini, merupakan buk-ti, bahwa syiar-syiar yang diberlakukan pada saat sekarang, belum diberlakukan pada masa-masa tersebut.”

Dengan begitu, syiar-syiar seperti ini tidak ada pada masa-masa para imam, juga tidak diperintahkan oleh Nabi s.a.w., dan ia termasuk aturan yang diadakan, yang justru telah diperingatkan oleh Nabi s.a.w. melalui sabda beliau: “Waspadalah kalian untuk tidak mengada-adakan aturan, sebab setiap pengada-adaan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan akan masuk neraka.”

Jadi, kepada orang-orang Syi’ah yang bijak, hendaklah ia menyadari kenyataan ini, dan hendaklah ia menelaah kembali tujuan kehadiran dan keterlibatannya pada perayaan-perayaan ini. Sebelum kita akhiri pasal ini, marilah pembaca budiman untuk sejenak kita perhatikan jawaban Muhammad Husein Fadh-lullah kepada orang yang bertanya kepadanya tentang dasar-

__________

53) Asy-Sya’aair al-Husainiyyah; hal. 99.

54) Asy-Sya’aair al-Husainiyyah; hal. 99.

55) Asy-Sya’aair al-Husainiyyah; hal. 100.

dasar syiar al-Huseiniyah. Husein Fadhlullah mengatakan: “Perhimpunan duka al-Huseiniyah ditetapkan oleh para imam Ahlul Bayt a.s. yang mana ketika itu mereka melakukannya di rumah-rumah mereka sendiri dan mengundang orang-orang yang membacakan syair-syair berisikan musibah atas al-Husein a.s. dengan retorika yang menyentuh.”(56).

Ketika ditanya pada kesempatan lain tentang penetapan perhimpunan duka al-Huseiniyah, ia menjawab: “Boleh di-bi-lang, penetapan pelaksanaan “al-Huseiniyah” beranjak dari rasa hormat kepada masjid. Sebab, masyarakat merasa perlu mendengar kisah duka al-Husein a.s., petuah-petuah, dan juga bimbingan-bimbingan. Di antara mereka ada orang-orang yang dalam keadaan berjanabat, ada pula yang sedang berhaid. Oleh karena tidak diperbolehkan menajiskan masjid, kemudian mung-kin peragaan al-Huseiniyah dilakukan di sisi masjid, bukan sebagai pengganti peragaan di dalam masjid. Inilah yang be-lum pernah terpikirkan oleh seorang pun. Tetapi demi untuk menjaga masjid-masjid, dan memperluas media untuk mendengar petuah dan penjelasan tentang al-Huseiniyah, sehingga setiap orang dapat hadir, bahkan sekalipun akan membuat najis dan sebagainya. Dan kami belum mengerti sejak kapan al-Husei-niyah itu mulai dirayakan.”(57).

Komentar kami: Perhatikanlah, pada mulianya ia berang-gapan, bahwa para imam Ahlul Bayt merekalah yang memulai perhimpunan duka al-Huseiniyah, tetapi selanjut ia menjelas-kan, bahwa perayaan itu muncul dari pemikiran hormat terha-dap masjid. Dan tidak diketahui kapan peragaan al-Huseiniyah itu bermula.”

ooo 0 ooo

PEMBAHASAN KETIGA

SYI’AH MENGADA-ADAKAN BID’AH MERATAP-RATAP DAN MENAMPAR-NAM-PAR

Saudaraku, wahai muslim, sebenarnya apa yang telah dila-kukan Syi’ah di dalam al-Huseiniyah di bawah judul syiar-syiar al-Huseiniyah, adalah bid’ah yang diada-adakan, dan dicanangkan oleh ulama Syi’ah. Bahkan salah seorang dai me-reka Abdu al-Husein Syarafuddin al-Mausuwi mengarang sebuah kitab berjudul “al-Majaalisu al-Faakhirah fii Ma-aatsimi al-‘Itrah ath-Thaahirah“, seputar masalah itu. Dan sebagaimana

__________

56) An-Nadwah; (5/509).

57) An-Nadwah; (4/478-479).

terbiasa di dalam karangan-karangannya, ia selalu memperta-hankan diri dari istilah bid’ah dan khurafat seperti yang dilakukan selaku peribadatan oleh Syi’ah, di antaranya; kitab berjudul “al-Ma-aatim” (Perkabungan Duka) sebagaimana yang dapat disimpulkan dari judul kitab itu. Di situ ia ber-upaya untuk menekankan diperbolehkannya pelaksanaan Perka-bungan Duka, dengan mendasarkan kepada tangis Nabi s.a.w. terhadap putra beliau bernama Ibrahim.”(58).

Memang ketika itu bercucur air mata Nabi s.a.w., tetapi adakah Nabi s.a.w. bersikap seperti yang dilakukan Syi’ah di dalam perayaan-perayaan mereka?

Adakah Nabi s.a.w. membuat perkabungan tahunan berkaitan hari kawafatan paman beliau Hamzah r.a. maupun mereka yang lain, lalu beliau mengumpulkan masyarakat, lalu membuat me-reka menangis atau berpura-pura menangis agar para hadirin juga turut menangis sebagaimana yang dilakukan ulama Syi’ah dan para penceramah mereka di dalam upacara al-Huseiniyah?

Adakah Nabi s.a.w. membagi-bagikan minuman juice di da-lam meriwayatkan keterbunuhan atau kematian orang-orang yang disebut orang Syi’ah?

Mengapa pula Abdu al-Husein mempergunakan kias, sedang kias itu sendiri dilarang di dalam aturan mazhabnya?

Ia mengatakan: “Perjalanan sejarah para imam telah ber-lalu di atas duka nestapa, lalu mereka memerintahkan kepada wali-walinya agar melakukan Perkabungan Duka terhadap al-Hu-sein generasi demi generasi.”(59).

Terhadap orang yang mencela tindakan Syi’ah meratap-ra-tap dan mengeluh-ngeluh, ia mengatakan: “Sekiranya orang ja-hat dan bodoh itu mengetahui apa yang ada di balik duka kami terhadap Ahlul Bayt, dan (betapa kami) membela mereka, siap berperang habis-habisan terhadap musuh-musuh mereka, niscaya ia akan tunduk terpaku di hadapan duka kami, dan juga kepada hikmah besar yang menjadi tujuan ratap-ratapan dan keluhan ini, perbendaharaan dibalik rahasia-rahasia berkaitan tradi-si kami melaksanakan seperti itu pada setiap generasi.”(60).

__________

58) Silahkan Anda telaah halaman 11, dan seterusnya di dalam kitab al-Majaalisu al-Faakhirah.

59) Al-Majaalis al-Faakhirah; hal. 17. Insya Allah Ta’ala, berikut nanti akan kami kemukakan pernyataan imam-imam mereka yang akan mengungkap kedustaan ini.

sumber: http://www.hakekat.com

Siapa Pembunuh Husain ? (bagian 2)

Seorang Doktor Syi’i Hadi Fadhlullah membagi kesepakatan ulama Syi’ah berkaitan sikap menampar-nampar dan tindakan sejenis sebagaimana dilakukan Syi’ah di dalam upacara al-Huseiniyah ke dalam dua kategori:

1. Pendidikan kedamaian (al-Madrasah al-Ishlahiyyah): Dapat menghimpun kelompok mujaddid (reformis) (sesuai ang-gapan Muhsin al-Amin. Di antara persoalan-peroslan yang dibina di dalam pendidikan kedamaian ini, adalah menja-uhi dan bahkan sebagian lainnya menetapkan hukum haram apabila sampai menimbulkan gangguan pada diri sendiri karena pukulan-pukulan yang sampai berdarah. Mengada-ada riwayat, menyebut-nyebutkannya, ataupun melakukan peragaan (artinya mengadakan semacam rekonstruksi pem-bantaian Karbala).”(61).

2. Pendidikan Hapalan (al-Madrasah al-Muhaafadhlah). Meng-himpun kelompok muhaafidhiin (para penghapal; menurut penilaian Abdu al-Husein Shadiq), maksudnya, suatu ke-tentuan yang menegaskan bahwa segala sesuatu adalah mu-bah (diperbolehkan) bagi Anda, sekalipun menjurus kepa-da menyakiti, selama tidak ada ketentuan yang melarang-nya. Konsekwensinya, maka tidak ada satupun yang perlu dipandang sebagai haram (terlarang) berkaitan segala yang disebut oleh al-Madrasah al-Ishlahiyyah.”(62).

Lebih lanjut Hadi Fadhlullah mensingkronisir dengan pen-dapat Abdul Husein Syarafuddin al-Mausuwi terhadap dua Mad-rasah tersebut. Katanya: “Pemikir kita (maksudnya; Abdul Hu-sein) cenderung meyakini, bahwa perayaan perkabungan al-Hu-seiniyyah dengan segala peragaannya sama sekali tidak haram, mendasarkan pendapat pada kaidah syariat yang menegaskan, bahwa asal segala sesuatu adalah “mubah” (boleh) bukan ha-ram. Jadi beliau tidak mengharamkan peragaan perkabungan al-Huseiniyah sebagaimana dilakukan oleh Madrasah al-Ishlahiyah …”(63).

Hasan Mughniyah mengatakan: “Berkaitan dengan soal pe-laksanaan syiar-syiar al-Huseiniyah di dalam Asyura’, maka keadaannya seperti yang dapat disaksikan. Apabila tiba waktu Muharram, Anda dapat menyaksikan para aktivis masjid-masjid

__________

60)Al-Majaalisu al-Faakhirah; hal. 26-27.

61) Ar-Raa-idu al-Fikri; oleh al-Ishlahi; hal 137.

62) Ar-Raa-idu al-Fikri; oleh al-Ishlahi; Catatan pinggir; hal 138.

63) Ar-Raa-idu al-Fikri; oleh al-Ishlahi; hal 137.

dan seruan-seruan al-Huseiniyah, pintu-pintu masuk desa di-lingkupi warna hitam, dirundung duka. Itu merupakan perlam-bang keputusasaan dan tersiksa, berkerinyut wajah-wajah pe-serta dirundung duka cita, dilingkupi kesusahan. Jiwa-jiwa tertekan, wajah-wajah murung, hati ketakutan dan gentar. Di-kuasai oleh geloran kejutan Karbala’. Di sana sini terdengar keluhan dan ratapan yang menyayat hati dan menyesakkan dada….”(64).

Ia juga mengatakan: “Pada pagi hari tanggal sepuluh, ma-ka berbondong-bondong menuju Nabatiyah sebanyak 10.000 orang putra-putra pribumi maupun mereka yang lain, untuk bersatu padu menghidupkan kenangan. Perayaan dimulai dengan membaca-kan kisah terbunuhnya al-Husein di Husainiyyah Nabatiyah, yaitu sekitar tanggal 08.00 pagi. Selesai sekitar jam 09.30. Ketika itu diperagakan rekonstruksi pembunuhan. Keti-ka itu peragaan dilaksanakan bersama-sama tua muda, wanita dan laki-laki. Sebab ada di antara anak-anak kecil yang di-nazarkan oleh keluarganya untuk turut melaksanannya. Di alun-alun Nabatiyah diperagakan peristiwa pembantaian terse-but. Di mana disaksikan oleh kelompok besar mukminin yang tidak kurang dari 50.000 orang. Peragaan itu ditutup dengan upacara pembangkit gelora keagamaan. Selanjutnya sejumlah pemuda dan anak-anak akan berkeliling kota dengan bertelan-jang dada, memukuli kepala mereka sendiri dengan pedang maupun badik, dan juga punggung-punggung mereka dengan ran-tai dengan tujuan membangkitkan jiwa dari keputusasa-an….”(65).

Seorang pemuka Syi’ah terkenal di kalangan kelompoknya, Doktor Ahmad al-Wa-ili(66) pada saat ditanya tentang sikap Syi’ah yang memukuli diri mereka sendiri dan melukai dada mereka pada hari Asyura’? Ia menjawab: “Sebelumnya sudah di-jelaskan oleh para ulama, dan mereka sudah mengutarakan pen-dapat mereka berkaitan soal ini. Mereka mengatakan: “Apabila pukulan-pukulan ini dapat membahayakan jiwa, maka itu haram, tetapi jika tidak berbahaya bagi diri, tidak haram. Dan itu merupakan upaya untuk mengungkapkan rasa cinta mereka kepada al-Husein.”(67).

Seorang penulis handal Syi’i Abdul Hadi Abdul Hamid Sha-lih menerangkan: “Dalam kondisi yang tidak mengganggu jiwa, maka menampar-nampar itu boleh. Itu merupakan ungkapan gelo-ra jiwa, dan bersifat alami. Pada seseorang dapat Anda sak-sikan ia bertepuk atau terbangun dari tempat duduknya lan-taran gembira. Dengan syarat tidak tidak berdampak mendalam

__________

64) Adaabu al-Manaabir; hal. 176.

65) Adaabu al-Manaabir; hal. 176.

66) Ia dijuluki sebagai pakar orator, ahli mimbar al-Huseini.

pada jiwa. Ada lagi beberapa fatwa yang dinyatakan dari be-berapa ulama yang mengharamkan atau sekurang-kurangnya ja-ngan menganggap baik peragaan memukuli diri dengan senjata. Kesimpulannya, saya rasa itu seperti fenomena sosial yang mana mereka menuntut untuk direalisasikan. Dan fenomena ter-sebut tidak dapat dianggap sebagai berasal dari aki-dah.”(68).

Seorang Syeikh mereka Mahdi Muhammad as-Suwaij di dalam kitabnya berjudul “Maa-atu mas-alatin muhimmatin haula asy-Syii’ah“; menjelaskan yang lafalnya sebagai berikut: “Oleh karena itu, Anda lihat orang-orang yang menampar-nampar di dalam mengenang duka cita al-Husein a.s. Mereka hanya ber-upaya mengungkapkan semangat kemiliteran. Pada satu sisi ungkapan rasa cinta yang tulus, dan pada sisi lain melalui tamparan-tamparan itu merupakan ungkapan rasa benci kepada orang-orang zalim yang bermula dari peristiwa itu dan se-karang tiba di sini, dan yang akan terus berkelanjutan sam-pai kiamat. Setiap masa akan terdapat orang seperti Yazid dan Ibnu Ziyad. Dan pada setiap masa terdapat orang-orang tertindas yang mengungkapkannya melalui tamparan-tamparan dan sebagainya.”(69).

Juga dikatakan oleh seseorang yang digelari sebagai Guru Besar Muhaqqiq (al-Ustadz al-Muhaqqiq) Thalib al-Khurasani: “Melalui peragaan-peragaan seperti ini, maka terselengga-ralah ratapan-rapatan di seluruh ibu kota-ibu kota negara Islam, meratapi al-Husein a.s. beserta mereka yang terbunuh, baik putra-putri, saudari-saudari, maupun para pendukung be-liau.”

Seorang tokoh mereka Doktor Abdul Ali Muhammad Hubail meriwayatkan dari gurunya Syeikh Hasan ad-Damastani, ia me-ngatakan: “Meratap terhadap al-Husein, adalah termasuk far-dhu ‘ain.”(70).

Ali al-Khamenei menerangkan: “Terdapat banyak cara-cara bagi manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah dan juga untuk meningkatkan keteguhan mereka di dalam mempelajari bi-dang agama. Di antara cara-cara tersebut, adalah dengan me-rayakan perkabungan duka secara ikut-ikutan. Di antara hal yang telah diwasiatkan kepada kita oleh Imam(72), adalah

__________

67) Majalah “al-Mar-aatu al-Ummah al-Kuwaitiyyah; edisi 16/ 1073. Juni 1997.

68) Ta’aal Natafaahimu.

69) Maa-atu mas-alatin muhammatin haula asy-Syii’ah; hal. 168-169.

70) Tsauratu ath-Thaff; hal. 75.

71) Malhamatu ath-Thaff; 15.

72) Maksudnya; al-Khomaini.

mendirikan perayaan perkabungan duka secara ikut-ikutan, yaitu turut serta di dalam perayaan-perayaan al-Huseiniyah, berkabung terhadap Imam al-Husein, menangisinya, menampar-nampar (memukul) dada di dalam perayaan perkabungan. Dan itu termasuk upaya-upaya meningkatkan syiar-syiar semangat ber-kabung terhadap Ahlul Bayt…., memang benar di antara pera-gaan menampar-nampar, adalah ke arah kepala dan dada.”(73).

Seorang pakar nara sumber Syi’ah Ayatullah al-‘Udhma al-Khomeini mengarahkan pembicaraannya kepada para penceramah Syi’ah. Ia mengatakan: “Wajib atas para pimpinan penceramah, untuk membacakan ucapan-ucapan duka, dan wajib bagi masya-rakat untuk turut serta ke dalam perayaan indah, yaitu pera-yaan tampar-tamparan . . ., tetapi hendaklah ia turut serta melaksanakan perayaan dan menampar dada, lalu melakukannya lagi sebagaimana sebelumnya….”(74).

Ia juga mengatakan: “Peragaan tampar-menampar inilah yang merupakan pertanda pembelaan kami demi menegakkan perayaan-perayaan al-Huseiniyah di segenap penjuru negeri. Hendaklah para nara sumber menyampaikan ucapan-ucapan duka, dan hendaklah para hadirin menangis….., hendaklah perayaan tampar-menampar, penentangan, dan syair-syair al-Huseiniyah ini dilestarikan sebagaimana diberlakukan pada masa lampau. Ketahuilah, hidup ini sulit, tergadai oleh peragaan-peraga-an, pidato-pidato duka, persekutuan, dan perayaan-perayaan ini.”(75).

ooo 0 ooo

PEMBAHASAN TIGA

FATWA-FATWA ULAMA BESAR SYI’AH YANG MEMPERBOLEHKAN BID’AH RATAPAN, TAMPARAN DAN SEJENISNYA

Berikut akan kami sajikan fatwa salah seorang tokoh me-reka, yaitu seseorang yang mereka sebut Imam Muhaqqiq Pim-pinan Para Fakih Agung, Ayatullah al-‘Udhma Syeikh Muhammad Husein an-Na-ini, pada saat ia ditanya tentang syiar-syiar dan thuqus-thuqus mereka yang dirayakan pada perhimpunan du-ka al-Huseiniyah.

Pertama: Keluarnya para peserta perayaan duka pada tang-gal 10 Asyura dan sekitarnya, menuju ke lorong-lorong dan jalan-jalan, termasuk tindakan yang sudah tidak diragukan lagi dibolehkan dan didukung. Demikian pula dengan tujuannya yang mana memperagakan kejujuran yang diperagakan melalui

__________

73) Falsafatu Asyura'; 8-9.

74) Nahdhlatu Asyura'; 107.

75) Nahdhlatu Asyura'; 108.

rasa berkabung terhadap orang yang tertindas. Dan ia merupakan metode paling praktis untuk menyampaikan seruan dakwah al-Huseiniyah, baik kepada orang-orang sekitar maupun kepada mereka yang jauh. Tetapi yang menjadi keharusan, ada-lah mensterilisasi syiar-syiar luhur ini dari upacara-upa-cara serupa yang berupa lagu-lagu atau penggunaan alat-alat mainan, dorong mendorong ke depan dan ke belakang di antara peserta sendiri, dan tindakan-tindakan serupa. Se-kiranya ada hal-hal serupa itu dilakukan, maka itu merupakan perbu-atan haram yang dilakukan pada bulan suci yaitu Muharram. Tetapi larangan tersebut tidak dibebankan kepada para pe-serta “perkabungan“, karena statusnya sama seperti orang yang memandang wanita asing (nonmuhrim) ketika ia sedang me-lakukan salat yang mana tidak membatalkan salatnya.”

Kedua: Tidak sulit untuk memperbolehkan tamparan dengan ta-ngan ke arah pipi maupun dada sampai sebatas memerah atau menghitam, bahkan untuk lebih menguatkan diperbo-lehkan memukulnya dengan rantai ke arah bahu dan pung-gung sampai pada batasan tersebut. Bahkan sekiranya pu-kulan tersebut sampai berakibat mengeluarkan sedikit darah, demikian menurut pendapat yang kuat. Adapun me-ngeluarkan dari dengan menggunakan pedang ataupun hulu pedang, menurut pendapat yang kuat, itu diperbolehkan selama madharatnya masih terjamin. Semata-mata menge-luarkan darah tanpa melukai bagian tulang dan dengan keluarnya darah itu tidak mendatangkan madharat, dan kadar-kadar serupa, sebagaimana diajarkan oleh para pe-latih yang berpengalaman dalam metode memukul, meskipun pada saat pukulan terjamin dari madharatnya hanya sebatas umum.

Sekalipun demikian sudah disepakati, bahwa keluarnya darah dalam kadar yang tidak berbahaya tidak mengarah pada ketentuan haram. Kondisinya serupa dengan orang yang berwudhu’, atau mandi, atau berpuasa atas dasar merasa aman dari bahayanya, tetapi kemudian dilanda oleh bahayanya. Tetapi yang lebih utama dan idealnya, jangan dilakukan, kecuali oleh orang-orang yang menger-ti dan berpengalaman, terlebih-lebih terhadap para pemuda yang tidak mempedulikan konsekwensi yang menimpa diri mereka, didasarkan pada besarnya musibah dan saratnya hati mereka oleh gelora cinta kepada al-Hu-seiniyah. Allah Ta’ala meneguhkan mereka dengan firman yang teguh; baik selama di dunia maupun di akhirat.”

Ketiga: Bukti, tidak sulit untuk memperbolehkan rekonstruk-si-rekonstruksi dan peragaan-peragaan sebagaimana umum dilakukan Syi’ah Imamiyah, karena mendasarkan untuk me-laksanakan perkabungan, tangisan, dan sudah dilakukan sejak berabad-abad, sekalipun termasuk di dalamnya yang mana lelaki memakai pakaian wanita, demikian menurut pendapat yang kuat.

Sekalipun pada masa lampau sulit bagi kami untuk mem-perbolehkannya, tetapi kami tetapkan diperbolehkan me-lakukan perayaan berkaitan fatwa terse-but sejak empat tahun lalu. Tetapi manakala masalah ini kita telaah kembali, niscaya akan jelas bagi kami, bah-wa larangan penyerupaan lelaki dengan wanita adalah manakala ber-akibat laki-laki menyerupai wanita seutuhnya dan bersi-kap seperti wanita, bukan ketika ia memakai pakaian wa-nita untuk sesaat tanpa mengubah profilnya, sebagaimana yang berlaku pada peragaan ini. Hal itu sudah kami uraikan pada catatan pinggir kitab “al-‘Aurat al-Wuts-qa”.

Memang harus juga tanpa melibatkan tindakan-tindakan yang dilarang syariat, dan kalaupun harus terjadi tidak sampai menodai kesuciannya yang mengarah kepada kese-rupaan, sebagaimana tersebut.

Keempat: Sarana pelumur yang dipergunakan di dalam perayaan ini yang mana sampai sekarang belum terungkap hakikat-nya, sekiranya tujuan penggunaannya dimaksudkan untuk menegakkan perkabungan dan untuk mencari masa di bawah pengawasan para pengawas terhadap peserta, dan atas da-sar gelora pendekatan diri, dan sebagainya, dan juga bukan untuk berolok-olok maupun bersenang-senang sebagaimana yang dikenal di kalangan kita di Nejef al-Asyraf, maka itu jelas diperbolehkan. . . , wallahu a’-lam.”(76).

__________

76) Dikutip dari fatwa salah seorang pemuka (syeikh) mereka Murtadha ‘Iyad di dalam “Maqtal al-Husein”; hal. 146.

Bahkan fatwa-fatwa ini telah disepakati, sebagaimana tercantum di dalam sumber-sumber tersebut. Di antara mereka:

1) Ayatullah al-Udhma Mirza Abdul Hadi asy-Syirazi, melalui pernyataannya: “Apa yang telah dijelaskan oleh beliau -semoga batin beliau disucikan- di dalam kertas ini ada-lah sahih, insya Allah Ta’ala.”(77).

2) Ayatullah al-Udhma Muhsin al-Hakim ath-Thabathaba’i. (78).

3) Ayatullah al-‘Udhma Abu al-Qasim al-Khu’i. Ia berkata: “Apa-apa yang telah dinyatakan oleh Syeikh kami al-Us-tadz tersebut (semoga ruh beliau disucikan), di dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan secara terbuka, itu be-nar, dan tidak mengapa melaksanakannya sesuai metode tersebut . .. .”(79).

4) Ayatullah al-‘Udhma Imam Mahmud asy-Syahrawadi.(80).

5) Ayatullah asy-Syeikh Muhammad Hasan al-Mudhaffar.(81).

6) Ayatullah al-‘Udhma Hasan al-Hamami al-Mausuwi(82).

7) Ayatullah Muhamamd al-Husein Ali Kasyif al-Ghitha’ (83).

8) Ayatullah al-‘Udhma Muhammad Kadhim asy-Syirazi (84).

9) Ayatullah Jamaluddin al-Kabayakani(85).

10) Ayatullah Kadhim al-Mur’asyi(86).

11) Ayatullah Mahdi al-Mur’asyi(87).

12) Ayatullah Ali Madad al-Mausuwi al-Fayini(88).

13) Ayatullah asy-Syeikh Yahya an-Nuri(89).

__________

77) Maqtal al-Husain; hal. 147.

78) Ibid; hal. 147.

79) Ibid; hal. 148.

80) Ibid; hal. 148

81) Ibid; hal. 149

82) Ibid; hal. 149

83) Ibid; hal. 149

84) Ibid; hal. 150

85) Ibid; hal. 150

86) Ibid; hal. 150

87) Ibid; hal. 151

88) Ibid; hal. 151

89) Maqtal al-Husain; hal 152.

Syeikh Murtadha ‘Iyad mengatakan: “Bahkan sejumlah be-sar jemaat fakih-fakih besar masa lampau telah menuliskan ketentuan-ketentuan yang secara khusus bertalian dengan per-soalan tersebut, tetapi tidak cukup leluasa untuk dijelaskan secara rinci di sini.”(90).

Lebih lanjut Murtadha ‘Iyad menerangkan tentang banyak fatwa-fatwa yang berasal dari ulama mereka dalam jumlah ba-nyak, yang mana memperbolehkan pelaksanaan bid’ah ini, yang diada-adakan di dalam agama. Kepada Anda, kami sajikan se-buah paragraf dari salah satunya, yaitu dari orang yang me-reka sebut al-Alamah Agung Sang Zahid Sang Wara’ Sang Pakar Hadis Ayatullah asy-Syeikh Hidhir bin Syilal al-Afkawi. Di antaranya: “. . ., dari nash-nash yang berkaitan dengannya, dapat disimpulkan diperbolehkan berziyarah kepadanya, meski-pun disertai rasa takut dalam batin. Dan boleh juga menampar dan mengeluh atas musibah yang menimpanya, (menampar, dan mengeluh) dalam cara apapun, dan meskipun ia menyadari diri-nya akan mati saat itu juga.”

Pernyataan ini dikutip oleh Murtadha Iyad di dalam bu-kunya “Maqtal al-Husein“; hal 153. Edisi tahun 1996 m., ce-takan berwarna dari penerbit al-‘Uluwiyyah Nejef. Tetapi ka-mi menelaah cetakan Daar az-Zahra Beirut tahun 1991 m., yang mana akan kutipan saya atas fatwa Syeikh tersebut, dalam bentuk ringkasan pada halaman 154, yang menyatakan: “Yang disimpulkan dari keseluruhan nash-nash dan sebagian daripa-danya dari berita-berita (hadis-hadis –pent) yang ber-talian soal berziarah kepada al-Husein yang tertindas (al-Madhlum), meskipun disertai rasa takut pada batin, diperbo-lehkan me-nampar (memukul) dan meratap terhadap al-Husein da-lam cara apapun, sekalipun ia menyadari bahwa ia akan mati pada saat itu juga.”

Salah seorang Syeikh mereka Ayatullah Murtadha al-Fai-rus Abadi menyatakan: “Memukul dada dan sebagainya, itu ter-masuk (budaya) yang sudah mengakar dalam sejarah Syi’ah pada masa lampau dan zaman lalu. Cara yang sama juga dila-kukan oleh para tokoh dan orang-orang besar dari kalangan para fa-kih Syi’ah masa lalu maupun moderen. Tidak terdengar dan tak

__________

90) Maqtal al-Husain; hal 152.

akan pernah terdengar, bahwa ada salah seorang dari mereka menentang ataupun menolak tradisi tersebut. Sekiranya dium-pamakan ada seseorang yang menolak atas dasar merasa belum jelas, atau atas dasar ketidakpahaman. Dan itu langka. Se-dang hukum langka sama dengan tidak ada.”(91).

Sedangkan Muhammad Husein Fadhlullah, maka berikut kami sajikan apa yang ia nyatakan berkaitan dengan tindakan me-nampar-nampar itu. Katanya: “Berkaitan hal-hal yang disebut syiar-syiar a-Huseiniyah, kami berpendapat, itu merupakan gaya pengungkapan tentang duka, tentang perwalian, gaya-gaya pengungkapan yang berbeda-beda antara satu zaman dengan za-man lainnya. Jadi, menangis adalah gaya insani (alami) dalam upaya mengungkapkan duka.”(92).

Fadhlullah mengatakan lebih lanjut: “Atas dasar ini, kami berpendapat, adalah memungkinkan bagi seseorang untuk menampar (dirinya sendiri –pent) dalam kadar sesuai dengan (daya) perwaliannya dan sesuai kadar rasa cintanya, tetapi dengan syarat tamparan tersebut tidak boleh sampai mence-de-rai tubuh.”(93).

Ia juga mengatakan: “Sebenarnya suatu tamparan yang te-nang, adalah seperti ketika Anda menampar dada Anda, semen-tara Anda menghadirkan rasa duka. Jadi setiap hal yang ber-sifat upaya pengungkapan tentang duka yang tidak membuat se-seorang mencederai tubuhnya, maka itu diperbolehkan.”(94).

ooo 0 ooo

__________

91) Maqtal al-Husain; hal 188-189.; edisi 4. 1996 m.; hal. 170 pada edisi Daar az-Zahra’.

92) An-Nadwah; 1/289. Perhatikanlah, betapa ia tidak menge-mukakan nash-nash syar’i? . . . tehnik-tehnik pengungkapan!!

93) An-Nadwah; 1/337.

94) An-Nadwah; 1/339.

PEMBAHASAN EMPAT

TIDAK DIPERBOLEHKAN MENGGUNAKAN SENJATA ATAUPUN MEMUKUL

RANTAI APABILA HAL ITU AKAN MENCEMARKAN KEHORMATAN SYI’AH

Syi’ah, selalu berupaya lari dari segala kondisi yang kiranya akan mengungkap tabir mazhab mereka, meskipun suatu tindakan itu diperbolehkan di kalangan mereka. Tujuannya adalah untuk menipu orang-orang yang menentang mereka, dan membuat pesona tampilan Syi’ah di hadapan mereka. Contoh menonjol dalam hal ini, yaitu seorang Ayatullah Besar mereka Abu al-Qasim al-Khu’i di dalam sikapnya berkaitan dengan penggunaan senjata dan memukul dengan rantai. Muhammad Hu-sein Fadhlullah mengatakan: “Bahkan sampai Sayid al-Khu’i ketika itu memfatwakan bahwa hal itu terlarang, yaitu di dalam kitab “al-Masaa-il asy-Syar’iyyah” yang diterbitkan oleh jemaah Islamiyah di Amerika dan Kanada. Sebab ketika itu beliau ditanya tentang penggunaan senjata dan memukul dengan rantai apakah itu diperbolehkan? Beliau menjawab: “Apabila akan dapat mencemarkan kehormatan mazhab, itu tidak boleh.” Mereka bertanya: “Bagaimana demikian?” Beliau menja-wab: “Apabila membuat masyarakat menertawakan orang la-in!”(95).

Perhatikanlah, betapa status haramnya semata-mata demi tidak mencemarkan kehormatan mazhab!!!

Sebelum kita kutip pendirian al-Khu’i, telah terlebih dahulu fatwa-fatwa tokoh-tokoh mereka, dan juga Ayatullah Agung (al-‘Udhma) mereka Muhammad Husein an-Naaini dan mere-ka yang memperbolehkan segala yang mereka ada-adakan di da-lam perayaan mereka, baik itu berupa tamparan dengan tangan ke arah pipi, dada sampai sebatas memerah, sampai kepada me-mukul dengan rantai ke arah bahu dan punggung, dst.”

__________

95) An-Nadwah; 1/338.

Berkaitan tradisi ini, tidak ada seorang pun yang akan merasa puas dengan apa-apa yang mereka tetapkan maupun me-reka ingkari. Sebab akidah kepura-puraan dan perahasiaan akan dapat memperburuk rekayasa mereka dalam pandangan mu-suh-musuh mereka. Dusta kepada mereka. Oleh karena itu, ma-nakala ada salah seorang Ahlussunah bertanya kepada al-Khu’i tentang hukum menampar dan memukul dengan rantai dan alat-alat lainnya yang mereka ada-adakan, niscaya al-Khu’i (pakar berpura-pura)(96). ini akan menjawab: “Bahwa hal itu haram menurutnya.” Sebab itu dapat mencemarkan mazhab. Bukan atas dasar haram menurut keyakinannya.

Dahulu saya pernah bertanya kepada salah beberapa pe-mikir mereka tentang hukum menampar dan lain-lain. Lalu me-reka menjawab kepada saya; bahwa itu adalah perbuatan orang-orang awam, dan itu adalah haram. Kemudian saya menjadi ter-kejut ketika saya dapati orang-orang ini menghadiri al-ma’atim dan al-Huseiniyaat, sedang para peserta menampar dan memukuli tubuh mereka dengan rantai, tetapi orang-orang ini tidak menjelaskannya kepada mereka. Dari situ saya pun men-jadi sangat yakin, bahwa mereka itu sengaja tidak berterus terang kepada orang-orang yang berlawanan kepada mereka.

Yang lebih mengherankan lagi, manakala kebohongan mere-ka terungkap, mereka pun tidak merasa malu !!

ooo 0 oo

PASAL LIMA

SYIAR-SYIAR AL-HUSEINIYAH HARAM MENURUT

SUMBER-SUMBER SYI’AH SENDIRI

PEMBAHASAN SATU

LARANGAN MERATAP-RATAP

Saudaraku muslim, tindakan-tindakan yang dilakukan Syi-’ah di dalam upacara al-Huseiniyah dan al-ma’aatim di bawah bendera syiar-syiar al-Huseiniyah, seperti; menampar-nampar, meratap-ratap, berpakaian hitam, dan memukulkan senjata dan

__________

96) Karena terlalu banyak menggunakan metode kepura-puraan.

sejenisnya, dan yang difatwakan oleh ulama mereka serta para tokoh mereka sebagai hal yang mereka perbolehkan, maka sebe-narnya justru diharamkan melalui pernyataan Rasulullah Saw., dan juga melalui pernyataan para imam Ahlul Bayt orang-orang mulia yang menjadi rujukan Syi’ah baik pada masa lampau, maupun masa sekarang. Pengharaman ini pun disadari oleh para pemuka dan tokoh-tokoh mazhab Syi’ah Dua Belas Imam (Itsna ‘Asyariy). Sebagai contoh di sini, salah seorang pemuka me-reka Muhammad bin al-Husein bin Babuwaih al-Qumi yang di kalangan Syi’ah digelari sebagai “Orang Jujur”, mengatakan: “Di antara pernyataan-pernyataan Rasulullah s.a.w. yang tiada dapat dilampaui, ialah: “Meratap-ratap adalah termasuk perbuatan jahiliyah.”(97).

Juga diriwayatkan oleh Muhammad Bagir al-Majlisi dengan lafal: “Meratap-ratap adalah kejemuan ala jahiliyah.”(98).

Atas dasar itu, meratap-ratap sebagaimana terus menerus dilakukan oleh Syi’ah, generasi demi generasi, adalah ter-masuk perbuatan jahiliyah, sebagaimana dinyatakan oleh Nabi s.a.w. Sebagaimana meratap-ratap juga tergolong suara yang dikutuk, yang dibenci Allah dan Rasul-Nya s.a.w. seperti yang diriwayatkan ulama mereka sendiri, seperti; al-Majlisi, an-Nuuri, dan al-Barujardi dari Rasulullah s.a.w., bahwa be-liau s.a.w. bersabda: “Dua jenis suara yang terkutuk yang keduanya dimurkai Allah, adalah mengeluh-ngeluh celaka pada saat ditimpa musibah dan suara ketika bernyanyi. Artinya; meratap-ratap dan menyanyi.”(99).

Oleh karena itu, hendaklah orang-orang Syi’ah waspada agar tidak tertipu daya menghadiri perayaan-perayaan ini, sebab di dalamnya terkandung ratap-ratapan dan keluh menge-

__________

97) Diriwayatkan oleh ash-Shaduuq di dalam “man laa yah-dhuruhu al-fiqhu”; 4/271-272. Sebagaimana diriwayatkan juga oleh al-Hurr al-‘Amili di dalam “Wasaa-ilu asy-Syi-’ah; 2/915. Yusuf al-Bahrani di dalam “al-Hadaa-iqu an-Naadhlirah; 4/167. Al-Hajj Husein al-Barujardi di dalam “Jaami’u Ahaaditsi asy-Syii’ah”; ?/?? (nomor halaman tidak terbaca).

98) Bihaaru al-Anwaar; 82/103.

luh kemalangan. Dan itu termasuk suara-suara terkutuk yang dimurkai Allah dan Rasul-Nya s.a.w. Di antara riwayat-riwa-yat yang nyata-nyata membuktikan pengada-adaan syi’ah di da-lam upacara al-Huseiniyah, adalah pernyataan yang tersebut di dalam surat Amirul Mukminin Ali r.a. kepada Rifaah bin Syidad: “Waspadalah untuk tidak meratap-ratapi mayit di ne-geri di mana engkau berkuasa.”(100).

Juga hadis beliau shallallaahu ‘alaihi wa aalih: “…, dan saya melarang kalian untuk tidak meratap-ratap atau me-ngeluh-eluh kemalangan.”(101).

Selain kedua hadis itu, terdapat riwayat dari Jabir da-ri Nabi s.a.w., beliau bersabda: “Dan saya melarang agar ti-dak meratap-ratap, agar tidak mengeluarkan dua jenis suara bodoh dan jelek, yaitu suara nyanyian beserta seruling setan, dan suara pada saat ditimpa musibah, memurungkan wajah, merobek-robek saku baju, dan jeritan setan.”(102).

Riwayat dari a.s.: “Ada tiga perbuatan jahiliyah yang terus-menerus akan dilakukan oleh umat manusia sampai Hari Kiamat: Meminta hujan kepada bintang-bintang; menggosip na-sab keturunan; dan meratapi mayit.”(103).

Termasuk di dalamnya, riwayat yang dikemukakan al-Ku-laini, dari ash-Shadiq a.s., bahwa ia berkata: “Tidak sela-yaknya meratapi mayit, dan tidak diperbolehkan, tetapi ba-nyak orang yang tidak mengerti.”(104).

__________

99) Diriwayatkan al-Majlisi di dalam “Bihaaru al-Anwaar“; 82/101. Mustadrak al-Wasaa-il; 1/143-144, Jaami’u Ahaaditsi asy-Syii’ah; 3/488.

100) Diriwayatkan an-Nuri di dalam “Mustadrak al-Wasaa-il“; 1/144. Al-Barujardi di dalam “Jaamu’u Ahaadiitsi asy-Syii’ah“; 1/-144. Juga tercantuk di dalam “al-Bihaar“; 82/101.

101) Diriwayatkan dengan lafal seperti tersebut oleh al-Haj Husein al-Barujardi di dalam “Ahaadiitsu asy-Syii’ah; 3/372.

102) Sebagaimana tersebut di dalam “Mustadrak al-Wasaa-il“; 1/145, “Jaami’u Ahaadiitsi asy-Syii’ah”; 3/486.

103) Diriwayatkan oleh al-Majlisi di dalam “Bihaaru al-An-waar; 82/101. Mustadrak al-Wasaa-il;1/143-144. Dan Jaami’u Ahaadiitsi asy-Syii’ah; 3/488.

Diriwayatkan al-Kulaini yang juga dari ash-Shadiq a.s., ia berkata: “Tidak selayaknya meratapi mayit dan tidak boleh merobek pakaian.”(105).

Pernah Imam Musa bin Ja’far ditanya tentang mengeluh-eluh terhadap mayat, lalu beliau tidak menyukainya.(106).

Diriwayatkan oleh Muhammad Baqir al-Majlisi, dari Ali r.a., bahwa beliau berkata: “Tatkala Ibrahim putra Rasulu-llah sallallahu ‘alaihi wa ‘alaih wafat, beliau memberikan tugas kepada saya, lalu saya memandikannya, Rasulullah sa-llallahu ‘alaihi wa ‘alaih. Mengkafaninya dan memberinya balsam, dan beliau bersabda kepada saya: “Angkatlah dia hai Ali.” Lalu saya mengangkatnya sehingga sampai di pekuburan al-Baqi’. Beliau bersalat untuknya. . . , tatkala beliau me-lihatnya terbujur, beliau sallallahu ‘alaihi wa ‘alaih pun menangis, maka orang-orang muslim pun menangis dikarenakan tangis beliau itu, sehingga semakin nyaringlah hiruk pikuk suara laki-laki melebihi suara para wanita. Lalu Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa ‘alaih melarang mereka, dan melarang-nya dengan keras pula seraya berkata: “Mata mencucur air ma-ta, hati pun duka, tetapi kita tidak akan mengucapkan ucap-

__________

104) Dinyatakan al-Kulaini di dalam al-Kaafi; 3/226. Mala Muhsin yang bergelar al-Faidh al-Kaasyani di dalam “al-Waa-fi”; 13/88. Al-Hurr di dalam Wasaa-ilusy Syii’ah; 2/916. Al-Barujardi di dalam Jaami’u Ahaadiitsi asy-Syii’ah; 3/483.

105) Al-Kulaini di dalam “al-Kaafi”; 3/225. Diriwayatkan juga oleh al-Faqih al-Akbar Muhammad bin Makki al-‘Amili di dalam “Nukra asy-Syii’ah”; hal. 72. Al-Faidh di dalam 106) “Al-Waafi”; 13/88. Al-Hurr di dalam “al-Wasaa-il”; 3/914. An-Najafi di dalam “al-Jawaahir; 4/369. Al-Barujardi di dalam Jaami’u Ahaadiitsi asy-Syii’ah; 3/483.

106) Diriwayatkan al-Hurr al-‘Amili di dalam Wasaa-ilu asy-Syii’ah; 12/92. Jelaslah, bahwa segi makruhnya yang dimaksud adalah “pengharaman”, sebagaimana diri-wayatkan oleh al-Bahrani di dalam “al-Hadaa-iq”; 4/ 139. Juga dinyatakan oleh al-Barujardi di dalam Jaa-mi’u Ahaaditsi asy-Syii’ah; 3/488. Hadis serupa terda-pat di dalam “Bihaaru al-Anwaar”; 82/105.

an-ucapan yang mendatangkan murka Tuhan. Sungguh kami men-derita musibah karenamu (wahai Ibrahim), dan kami pun merasa berduka cita, . . “(107).

Perhatikanlah wahai saudaraku muslim, betapa beliau Sang Pilihan sallallahu ‘alaihi wa ‘alaih wa sallam, menentang tangis mereka dengan penolakan yang keras lantaran mereka

mengeraskan suara di dalam tangis. Sebagaimana beliau sa-llallahu ‘alaihi wa ‘alaih wa sallam juga melarang orang me-ratap pada saat ditimpa musibah, dan di larang meratap-ratap dan menujukan pembicaraan kepadanya.(108).

Al-Kulaini meriwayatkan dari Fadhlu bin Muyassir, ia berkata: “Suatu ketika kami berada di rumah Abu Abdullah a.s.. Tiba-tiba datanglah kepada beliau seorang lelaki, me-ngeluh kepada beliau tentang musibah yang dideritanya. Lalu Abu Abdillah a.s. berkata kepadanya: “Sekiranya Anda ber-sabar, niscaya Anda akan diganjar. Sekiranya Anda tidak ber-sabar, maka ketetapan Allah (takdir) yang ditetapkan atas diri Anda akan tetap berlaku, bahkan Anda menanggung dosa.” (109).

Dari ash-Shadiq Ja’far bin Muhammad, ia berkata: “Se-sungguhnya kesabaran dan musibah keduanya saling berpacu terhadap diri seorang mukmin. Musibah datang kepada seorang beriman, tetapi ia sangat penyabar. Musibah dan mengeluh berpacu terhadap diri orang kafir. Maka datanglah musibah kepadanya sedang ia suka berkeluh kesah.”(110).

Muhammad bin Makki al-‘Amili yang digelari Syahid Perta-ma (asy-Syahiidu al-Awwal) berkata: “Asy-Syeikh dan Ibnu Hamzah, keduanya mengharamkan keluh kesah. Dan asy-Syeikh

__________

107) “Bihaaru al-Anwaar”; 82/100-101.

108) Diriwayatkan dengan lafal seperti ini oleh al-Hurr al-‘Amili di dalam Wasaa-ilu asy-Syii’ah; 2/915. Juga al-Majlisi di dalam Bihaaru al-Anwaar; 82/104. Yusuf al-Bahrani di dalam “al-Hadaaiq”; 4/167. Tercantum pula di dalam kitab fikih ka-rangan asy-Syirazi; 5/253.

109) “Al-Kaafi; 3/225. Adz-Dzikra; hal. 71. Wasaa-ilu asy-Syii’ah; 2/913.

110) “Adz-Dzikra”; hal. 71.

menilai, ketetapan tersebut merupakan kesepakatan.”(111).

Yang digelari dengan asy-Syeikh, adalah Abu Ja’far Mu-hammad bin al-Hasan ath-Thusi yang bergelar “Pimpinan Ke-lompok” (Syeikhu ath-Thaaifah), bahkan mengharamkan sikap berkeluh kesah, dan ia menilai hal itu sudah kesepakatan. Jelasnya, sikap seperti itu, bahkan sampai pada masa ath-Thusi, orang-orang Syi’ah sudah sepakat mengharamkan tindak-an mengeluh-eluh dan merasa sial seperti yang sering kita dengar sekarang ini di dalam upacara al-Huseiniyah. Demi Allah, perbandingkanlah kenyataan ini dengan penegasan ulama mereka yang telah disebut. Ayatullah al-‘Udhma Muhammad al-Huseini asy-Syirazi mengatakan: “Tetapi riwayat dari asy-Syeikh di dalam mengulas Ibnu Hamzah berkaitan pengharaman itu bersifat mutlak.”(112).

Asy-Syirazi mengatakan: “Sedang di dalam “al-Jawaahir”, diserukan secara mutlak agar mengharamkan menampar (tubuh sendiri) dan meratap-ratap.”(113).

Najmuddin Abu al-Qasim Ja’far bin al-Hasan yang digelari Muhaqqiq al-Hily yang wafat pada tahun 676 h., mengatakan: “Dan asy-Syeikh membuktikan terjalinnya ijma’ yang memakruh-kan –duduk-duduk (tinggal dan berdiam) ketika berta’ziyah-, sebab tidak ada diriwayatkan dari sahabat maupun para imam yang menyatakan duduk-duduk untuk itu. Jadi, sikap seperti menentang sunah ulama salaf.”(114).

Muhammad bin Makki al-‘Amili mengatakan: “Dan asy-Syeikh mengutip pernyataan ijma’ tentang makruhnya duduk-duduk (tinggal; berdiam) untuk ta’ziyah selama dua atau tiga hari. Tetapi Ibnu Idris menolaknya, bahwa yang disepakati (ijma’) adalah soal berziarah. Tetapi sang Muhaqqiq berdalih, tidak ada diriwayatkan dari salah seorang sahabat maupun para imam yang menyatakan tinggal berdiam untuk ta’ziyah. Dengan begitu berarti menentang sunah salaf, tetapi tidak mencapai derajat haram.” Menurut pendapat saya: “Riwayat-riwayat ter-

__________

111) “Adz-Dzikra”; hal. 72. “Bihaaru al-Anwaar”; 82/107.

112) “Al-Fiqhu”; 15/253.

113) “Al-Fiqhu”; 15/260.

114) “Al-Mu’tabar”; hal. 93.

sebut dapat dipahami, sebab tidak ada perlunya berkunjung di samping pernyataan-pernyataan yang sudah ditetapkan di atas …”(115).

Yusuf al-Bahrani mengatakan: “Saya bersandar pada riwa-yat-riwayat yang mengharamkan meratap-ratap, yang mana nash-nya menyatakan: “Terdapat mayoritas orang-orang yang meng-abaikan riwayat-riwayat ini beserta penafsirannya, bahkan penafsiran dari ucapan asy-Syeikh itu pun demikian. Berka-itan persoalan mengeluh-eluh yang mengarah pada sikap-sikap terlarang, sebagaimana terlihat jelas pada pernyataan hadis pertama.”

Selanjutnya di dalam “adz-Dzikra”, setelah mengutip per-nyataan pengharaman oleh asy-Syeikh dan Ibnu Hamzah, ia me-nyatakan: “Yang jelas, keduanya memaksudkan sikap mengeluh-eluh dengan cara batil, atau mengarah pada sikap haram, se-bagaimana itu ditegaskannya pada bagian akhir. Kemudian beliau mengutip sejumlah riwayat larangan dan mengatakan: “Jawabnya mengarah seperti apa yang telah kami jelaskan atas dasar memadukan di antara sesama riwayat. Sebab, sikap ratap-meratap ala jahiliyah secara umum seperti itu. Sedang riwayat-riwayat kami bersifat khusus, sedang yang khusus ha-rus dikedepankan.” Saya katakan: “Di antara kesimpulan yang paling praktis, adalah mendasarkan periwayatan yang akhir itu atas dasar “taqiyah”. Sebab, pernyataan larangan telah dikutip secara kongkrit dari banyak ahli hadis jumhur.” (116).

Penegasan asy-Syeikh berkaitan hal itu pada bagian akhir, seandainya seperti yang dikutip al-Bahrani, tidak da-pat diterima, atas dasar penegasan asy-Syeikh sendiri yang menyatakan adanya ijma’ dari kelompoknya yang mana mengha-ramkannya.

Kemudian apa lagi yang Anda tunggu wahai orang Syiah yang berkesadaran?!!

__________

115) “Adz-Dzikra”; hal. 70.

116) Al-Hadaa-iq; 4/168.

PEMBAHASAN DUA

PENGHARAMAN MENAMPAR-NAMPAR

Di antara dasar yang dijadikan landasan Syi’ah terhadap bid’ah buruk ini, ialah pernyataan Imam al-Baqir: “Keluh ke-sah terkuat adalah berteriak merasa sial dan mengeluh-eluh, menampar-nampar wajah dan dada, mencabut-cabut rambut pada bagian ubun-ubun. Orang yang bersikap meratap-ratap samalah halnya ia telah meninggalkan “sabar”, dan mengambil sikap lain.”(117).

Juga di antaranya, pernyataan ash-Shadiq rahimahullahu Ta’ala: “Barangsiapa memukulkan tangannya ke pahanya sendi-ri pada saat ditimpa musibah, niscaya akan terhapuslah paha-lanya.”(118).

Kami berpendapat: Lalu bagaimana pandangan Anda terhadap orang yang menampar-nampar wajah dan dadanya sendiri? Ti-dakkah pahala-pahalanya justru lebih layak untuk terhapus, karena sikap menentang sunah Nabi sallallahu ‘alaihi wa ‘alaih wa sallam?

Termasuk di dalamnya sabda beliau salla-llahu ‘alaihi wa ‘alaih wa sallam: “Bukan dari golongan kami orang-orang yang suka memukul-mukul pipi dan merobek-robek saku.”(119).

__________

117) Diriwayatkan al-Kulaini di dalam al-Kaafi; 3/222-223. Juga dijelaskan oleh al-Fakih al-Akbar Muhamma bin Makki al-‘Amili yang digelari “asy-Syahid al-Awwal”, di dalam adz-Dzikra asy-Syii’ah; hal. 71. Al-Faidhl al-Kasyani di dalam “al-Wafi; 13/87. Al-Hurr al-‘Amili di dalam “Wasaa-ilu asy-Syii’ah”; 2/915. Al-Majlisi di dalam “Bihaaru al-Anwaar”; 82/89. Al-Bahrani di dalam al-Hadaa-iq; 4/167. Al-Barujardi di dalam Jaami’u Ahaadiitsi asy-Syii’ah; 3/483-484, an-Najafi di dalam Jawaahiru al-Kalaam; 4/371.

118) Hadis tersebut Anda dapati di dalam al-Kaafi; 3/225; Dzikra asy-Syii’ah; hal. 71. Al-Wasaa-il; 2/914.

119) Mustadraaku al-wasaa-il; 1/144. Jaami’u Ahaadiitsi asy-Syii’ah; 3/489. Jgua tercantum di dalam Jawaahiru al-Kalaam; 4/370.

Doktor Muhammad at-Tijani as-Samawi asy-Syi’I menjelas-kan; pernah Imam Muhammad Baqir ash-Shadr ditanya tentang hadis tersebut, lalu beliau menjawab: “Itu hadis sahih yang tidak diragukan lagi.”(120).

Juga pernyataan riwayat dari Yahya bin Khalid, bahwa ada seorang lelaki datang kepada Nabi sallallahu ‘alaihi wa ‘alaih wa sallam, lalu bertanya: “Perbuatan apakah yang da-pat menghapuskan pahala berkaitan dengan musibah?” Beliau menjawab: “Orang yang menepukkan tangan kanannya ke atas tangan kirinya. Sabar adalah pada saat dilanda pukulan per-tama. Barangsiapa merasa rela, ia akan memperoleh keridhaan, dan barangsiapa merasa benci, ia akan mendapat kebencian.” Lebih lanjut Nabi sallallahu ‘alaihi wa ‘alaih wa sallam bersabda: “Saya berlepas diri dari orang yang suka memotong rambut dan berteriak-teriak (pada saat ditimpa musi-bah).”(121).

Termasuk di antaranya riwayat yang disampaikan oleh Ja-’far bin Muhammad dari kakek-kakeknya, dari Nabi sallallahu ‘alaihi wa ‘alaih berkaitan hadis larangan, bahwa beliau me-larang teriak-teriak pada saat ditimpa musibah, dan melarang meratap-ratap dan mengungkap-ungkapkan perkataan kepada si mayat, dan juga melarang tindakan menampar wajah sendi-ri.”(122).

Muhammad bin Makki al-‘Amili berkata: “Telah disepakati secara ijma’; diharamkan menampar-nampar, mencakar-cakar, dan memotong-motong rambut.” Itu dinyatakannya di dalam “al-Mabsuuth”. Dan atas dasar, karena sikap itu berarti tidak menyukai ketetapan Allah.”(123).

__________

120) Tsummah tadaitu; hal. 58.

121) Jaami’u Ahaadiitsi asy-Syii’ah; 3/489. Mustadrak al-Wa-saa-il;1/144.

122) Diriwayatkan oleh asy-Shaduq di dalam “man laa yahdhlu-rohul fiqih”;4/3-4. Al-Majlisi di dalam “Bihaaru al-Anwaar”; 82/104. Al-Hurr al-‘Amili di dalam “Wasaa-ilu asy-Syii-’ah”;12/91.

123) Adz-Dzikra; hal 72. Juga dikutip oleh penyusun kitab “al-Jawaahir”; di dalam pasal 4/367.

Asy-Syirazi mengatakan: “Riwayat dari al-Muntaha menya-takan dilarang memukul pipi dan mencabuti rambut.”(124).

Seorang doktor Syi’i Muhammad at-Tijani al-Samawi me-nyinggung tentang tangis Nabi sallallahu ‘alaihi wa ‘alaih wa sallam terhadap paman beliau Abu Thalib, Hamzah, dan istri beliau Khadijah, ia menjelaskan: “Tetapi di dalam se-gala situasi, beliau menangis sebagai ungkapan kasih sayang …, tetapi beliau melarang sikap duka orang yang bersang-kutan yang mana menjurus kepada tindakan menampar-nampar pipi dan merobek-robek saku.” Betapa pula dengan tindakan memukul-mukul tubuh dengan besi sampai darah mengucur?” (125).

Lebih lanjut at-Tijadi menerangkan, bahwa Amirul Muk-minin Ali sepeninggal Nabi sallallahu ‘alaihi wa ‘alaih wa sallam tidak pernah melakukan tindakan-tindakan sebagaimana dilakukan masyarakat awam Syi’ah(126) pada masa sekarang, pun tidak pernah dilakukan oleh al-Hasan, al-Husein, maupun as-Sajjad, yang berkaitan beliau at-Tijani mengatakan: “Per-nah beliau mendatangi suatu tempat yang belum pernah didatangi seorang pun, dan beliau menyaksikan sendiri tempat tragedi Karbala, lokasi dimana ayahnya, paman-paman, dan saudara-saudaranya semua terbunuh. Dan ia pun menyaksikan tragedi dahsyat yang layaknya dapat meruntuhkan gunung-gu-nung. Tetapi tidak ada cacatan sejarah yang mana salah se-orang imam alaihimussalam melakukan satu pun upacara seperti

__________

124) Al-Fiqhu; 15/260.

125) Di dalam kitabnya “Kullu al-Huluul”; hal. 151. Wajib ba-gi at-Tijani untuk menjelaskan bahwa cara itu terlarang, bah-kan pada saat ditimpa musibah, dan tidak boleh dilestarikan. Jadi, orang-orang Syi’ah tidak sekedar menghindari sikap menentang, tetapi justru suka melestarikan penentangan.

126) Sikap-sikap Syi’ah didasarkan pada fatwa-fatwa para tokoh ulama mereka. Tetapi sebelumnya sudah kami jelaskan fatwa-fatwa berkaitan masalah ini yang mana tidak ada sikap penentangan dari kalangan ulama mereka, sebagaimana ungkapan Ayatullah mereka Murtadha al-Fairuzi Abadi. Silahkan menelaah tanggapan al-Husein kepada Murtadha ‘Iyadh; hal 170; edisi Daaru az-Zahra’

itu, ataupun memerintahkan agar dilakukan yang seperti itu kepada para pengikut dan syi’ahnya.”(127).

Beliau juga mengatakan: “Pada umumnya, Ahlussunnah wa Jamaah mereka menentang perbuatan-perbuatan yang dilakukan Syi’ah yang dilaksanakan pada bulan Asyura, berupa memukul tubuh dan melukai tubuh dengan rantai maupun besi sampai me-ngucurkan darah. Sekalipun Syi’ah di India dan Pakistan me-reka melakukannya lebih dari itu. Bedanya, sarana-sarana komunikasi visual seperti teve justru tidak menayangkannya, kecuali Syi’ah Iran, atas dasar tujuan tertentu. Itu dimak-lumi oleh setiap orang yang mengikuti berita. Dan semua fe-momena tersebut dianggap sebagai sikap Islam dan musli-min.”(128).

At-Tijani as-Samawi yang fanatik menambahkan seraya me-ngatakan: “Yang layak untuk dikatakan, ialah bahwa sebenar-nya tindakan-tindakan yang dilakukan sebagian orang Syi’ah dalam bentuk praktek-praktek seperti itu, bukan berasal dari agama (bukan dari Islam –pen) sama sekali. Meskipun dasar-dasarnya diupayakan bagaimana pun juga, dan meskipun difat-wakan para mufti (dengan dalih) agar memperoleh pahala ba-nyak dan ganjaran besar. Tetapi itu hanyalah tradisi, tak-lid, dan ungkapan-ungkapan perasaan yang menggelora pada diri orang-orang yang bersangkutan (hawa nafsu –pen), se-hingga keluar dari ikatan dan berlanjut menjadi budaya se-tempat yang juga diwarisi oleh para nabi dari bapa-bapa me-reka dalam bentuk taklid buta tanpa pertimbangan. Bahkan ada sebagian orang awam yang merasa bahwa mengucurkan darah melalui pukulan merupakan pendekatan diri kepada Allah Ta-’ala. Sedang sebagian yang lain beranggapan, bahwa orang

__________

127) Kitab “Kullu al-Huluuli ‘inda aali Rasuulillaahi salla-llahu ‘alaihi wa sallam; hal. 151.

Kami nyatakan: “Bersyukur kepada Allah yang telah berkenan mengungkap hakikat tindakan tidak masuk seperti ini. Dengan begitu menjadi jelas, bahwa upacara-upacara yang dilestarikan Syi’ah tidak tercatat dalam sejarah sebagai berasal dari sa-lah seorang imam pun yang mereka jadikan sumber.

128) Kullu al-Huluul; hal. 147-148.

yang tidak berbuat seperti itu berarti tidak cinta kepada al-Husein.”(129).

Ia juga mengatakan: “Tidak sekedar terjadi pemandangan yang merisaukan jiwa seperti itu saja, yang tidak dapat diterima akal sehat(130), yaitu situasi ketika seorang laki-laki melepas bajunya lalu mengambil sebatang besi dan memukuli dirinya sendiri dalam cara seperti orang gila, seraya berteriak-teriak dengan suara nyaring: “Husein, . . Husein.” Segi anehnya, dan yang membangkitkan keragu-raguan, ialah ketika Anda melihat, mereka yang sudah bersikap keluar batas, dan Anda kira bahwa “duka cita” telah menguasai diri mereka secara total, ternyata dalam beberapa saat saja se-usia perkabungan itu, Anda lihat mereka sudah tertawa, makan manisan, minum, dan berpesta buah-buahan. Segalanya berakhir seiring berakhirnya perayaan. Yang lebih aneh lagi, mayo-ritas dari mereka ini justru orang-orang yang tidak teguh menjalankan agama. Oleh karena itu saya mencoba membulatkan tekad diri saya untuk menolak mereka secara terang-terangan beberapa kali. Dan saya katakan kepada mereka: “Sebenarnya tindakan-tindakan yang kalian lakukan itu adalah tradisi setempat dan taklid buta.”(131).

__________

129) Kullu al-Huluul; hal. 148.

130) Ayatullah ‘Udhma Murtadha al-Fairuz Abadi mengatakan se-bagai berikut: “Menampar-nampar dada dan sebagainya, termasuk tradisi Syi’ah yang mengakar pada masa-masa lalu, dan zaman lampau, termasuk di dalamnya para tokoh dan para fakih besar Syi’ah ortodoks maupun moderen. Tidak terdengar, dan tidak akan pernah terdengar seorang pun dari mereka menentang dan menolak tradisi itu. Sekiranyapun terdapat orang yang menen-tang atas dasar ketidakjelasannya, atau atas dasar kesalah-pahaman, maka itu jarang adanya.” (Maqtal al-Husain; oleh Murtadhla ‘Iyad; hal. 188-189, cet. 1996; edisi 170, cet. Az-Zahra).

Jelasnya, ulama besar mereka telah sepakat memperbolehkan tindakan-tindakan yang merisaukan jiwa dan tidak masuk akal. Oleh karena itu, wahai at-Tijani, apakah Anda masih akan ber-upaya lagi menyusun naskah-naskah Anda?

131) Kullu al-Huluul; hal. 149.

Itulah yang diakui oleh si fanatik ambisius ini, yang secara khusus mengalamatkan sandaran akidah kepada Ahlus-sunah wa Jamaah. Ungkapan serupa seperti yang dinyatakan asy-Syeikh Hasan Mughniyah: “Jelasnya, pukulan ke arah kepa-la dengan badik dan pedang dan mengucurkan darah, sama seka-li bukan dari Islam, juga tidak ada riwayat yang jelas ten-tang itu. Tetapi itu adalah ungkapan rasa hormat yang men-jalar dalam jiwa orang-orang beriman atas tertumpahnya darah suci melalui penyembelihan sadis Karbala(132).

Kita tidak mengerti, bagaimana cara menyelaraskan per-nyataan Hasan Mughniyah: “Jelasnya, pukulan ke arah kepala dengan badik dan pedang . . , sama sekali bukan dari Islam.” Dengan kata-katanya: “Tetapi itu adalah ungkapan rasa hormat …”

Apakah Hasan Mughniyah belum memahami bahwa cara-cara seperti ini termasuk kemungkaran dan bid’ah keji?

ooo 0 ooo

PEMBAHASAN TIGA

MENGENAKAN PAKAIAN HITAM DALAM BULAN ASYURA

Orang-orang Syi’ah menetapkan pengenaan pakaian hitam pada bulan Asyura, pada saat mereka mengetahui, bahwa pa-kaian hitam adalah pakaian penghuni neraka. Bahkan pernah al-Imam ditanya tentang salat dengan menggunakan peci hitam? Ia menjawab: “Jangan engkau salat dengan mengenakan itu, se-bab itu (warna hitam) adalah pakaian penghuni neraka.”(133).

Mereka juga meriwayatkan riwayat dari Amirul Mukminin Ali, sebagaimana diketahui dari para sahabat beliau. Beliau berkata: “Janganlah kalian mengenakan pakaian hitam, sebab itu adalah pakaian Fir’aun.”(134).

__________

132) Adaabu al-Manaabir; hal. 182.

133) Man laa yahdhlurahu al-fiqh; 1/162. Wasaailu asy-Syii’ah; 3/281. Najaatu al-Ummah; hal. 85.

134) Fikih “man laa yahdhlurahu al-fiqh”; 1/163. Wasaailu asy-Syii’ah; 3/278. Najaatu al-Ummah; hal. 84.

Mereka meriwayatkan dari Nabi sallallahu ‘alaihi wa sa-llam, bahwa ketika itu beliau membenci warna hitam berkaitan tiga hal: Imamah, sepatu, dan pakaian.(135).

Dari Jibril a.s., bahwa beliau pernah turun menghadap Rasulullah s.a.w. seraya membawa kubah berwarna hitam dan belahan bumi yang di situ terdapat badik. Lalu Nabi salla-llahu ‘alaihi wa ‘alaih bertanya kepadanya: “Permisalan ten-tang apakah ini?”

Jibril a.s. menjawab: “Ini adalah permisalan putra paman Anda Abbas, wahai Muhammad. Celakalah putra Anda oleh ancam-an putra paman Anda Abbas. Lalu Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menghadap kepada Abbas, dan beliau bertanya: “Wahai paman, ancaman apakah yang ditujukan oleh putraku da-ri putra Anda?”

Abbas (r.a.) menjawab: “Wahai Rasulullah, tidakkah saya menyayangi tuan?” Beliau bersabda: “Pena (takdir) telah me-nuliskannya dengan segala kaitannya.”(136).

Salah seorang tokoh mereka Muhammad Ridhla al-Huseini al-Hairi mengatakan: “Yang populer di kalangan para sahabat kami orang-orang (Syi’ah) Imamiyah dengan popularitas yang tinggi, bahkan telah dianggap ijma’ sebagaimana juga perso-alan sebaliknya, adalah dimakruhkan memakai pakaian hitam di dalam salat, bahkan bersifat mutlak, kecuali sepatu, imamah (ikat kepala), dan pakaian. Sedang di dalam “al-Mu’tabar al-Iqtishaar” diperkecualikan soal imamah dan sepatu. Dan itu dirujukkan kepada riwayat para sahabat. Tetapi di dalam “al-Muntaha” dirujukkan kepada ulama kami. Seperti itu jugalah pembatasan yang ditetapkan di dalam syariat, kaidah, bim-bingan, maupun pendidikan, dan juga pembatasan oleh al-Mu-fid, Silar, Ibnu Hamzah sebatas pada persoalan imamah saja. Sedang di dalam “adz-Dzikra” tidak diperkecualikan me-lalui pembahasan panjang dari para sahabat. Sedang di dalam “Kasy-

__________

135) Fikih “man laa yahdhlurahu al-fiqh”; 1/163. Najaatu al-Ummah; hal. 84.

136) Man laa yahdhlurahu al-faqiih; 1/163. Wasaa-ilu asy-Syii’ah; 3/279. Najaatu al-Ummah; 84-85. Telaah pula “Mustad-rak al-Wasaa-il; 1/208.

fu al-Litsaam”, soal pakaian tidak diperkecualikan oleh sa-lah seorang sahabat pun, kecuali Ibnu Sa’id.”(137).

Al-Hairi menutup penjelasannya dengan mengatakan: “Ini-lah riwayat-riwayat yang dijadikan bukti oleh para sahabat berkaitan makruhnya memakai pakaian hitam dan melakukan sa-lat dengan pakaian tersebut dalam kaitannya dengan pemahaman yang sudah dimaklumi tentang anggapan, bahwa ijma’ persoalan itu sudah populer.”(138).

Menurut pendapat kami: Apabila riwayat-riwayat ini meru-pakan riwayat-riwayat mereka sendiri, dan ijma’ (seperti ini) merupaka ijma’ mereka, mengapa orang-orang Syi’ah pada masa sekarang justru mengenakan pakaian hitam pada sepuluh hari pertama bulan Muharram?

Mengapa orang-orang Syi’ah tidak mengharamkan apa-apa yang dinyatakan oleh riwayat mereka dan ijma’ ulama mereka?

ooo 0 ooo

PEMBAHASAN EMPAT

SERUAN KEPADA ORANG-ORANG YANG MENYATAKAN DIPERBOLEHKAN MERATAP-RATAP DAN MENAMPAR-NAMPAR

Seorang fakih besar Syi’ah, Muhammad bin Makki al-Amili dan juga orang yang digelari sebagai asy-Syahiid al-Awwal (syuhada pertama), menerangkan: “Asy-Syeikh di dalam “al-Mabsuuth”, dan juga Ibnu Hamzah, keduanya mengharamkan me-ngeluh-eluh. Dan asy-Syeikh menganggap, bahwa yang demikian sudah merupakan ijma’.”(139).

Ayatullah al-Udhma Muhammad al-Huseini asy-Syirazi me-ngatakan: “Tetapi asy-Syeikh di dalam “al-Mabsuuth”, juga Ibnu Hamzah, menyatakan pengharaman yang bersifat mut-lak.”(140).

__________

137) Najaatu al-Ummati fii iqaamati al-‘izaa-I ‘ala al-Hu-saini wa al-A-immah; hal. 82.

138) Ibid; hal. 85.

139) Adz-Dzikra; hal. 72.

140) Al-Fiqhu; 15/253.

Asy-Syirazi mengatakan: “Sedang di dalam “al-Jawaahir” terdapat anggapan yang jelas, diharamkan menampar-nampar dan mengeluh sial.” (141).

Asy-Syahid al-Awwal mengatakan: “Diharamkan menampar dan memotong dan mencabut-cabut rambut secara ijma’. Itu dinya-takan di dalam “al-Mabsuuth, dan karena di dalamnya terkan-dung rasa benci kepada ketentuan Allah.”(142).

Asy-Syirazi mengatakan: “Sedang di dalam “al-Muntaha” diharamkan memukul pipi dan mencabuti rambut.” (143).

Hasyim al-Hasyimi di dalam diskusi dengan Fadhlullah, mengatakan: “Memang Ibnu Hamzah dan asy-Syeikh mengarah pada mengharamkan meratap-ratap, dan asy-Syeikh di dalam kitab “Mabsuuth“-nya menilai bahwa hal itu merupakan ijma’.” (144).

Lebih lanjut, ia mengatakan: “Memang diriwayatkan la-rangan meratap-ratap di dalam sejumlah riwayat …,”(145).

__________

141) Al-Fiqhu; 15/260.

142) Adz-Dzikra; hal. 77. Al-Jawaahir; 4/367.

143) Al-Fiqhu; 15/260.

144) Hawar ma’a Fadhlillah haula az-Zahra’; hal. 231.

145) Ibid; hal. 232. Memang salah satu dari dua riwayat ini lemah. Riwayat ini disebutkan di dalam al-Kaafi, dan telah kami sajikan pada bab “Larangan menampar-nampar tubuh sendi-ri”. Al-Kaafi, adalah salah satu dari Kitab Empat yang ada pada mereka, dan atas dasar karena ia suka menjadikan bukti dan juga puas dengan pemikiran Abdul Husein Syarafuddin. Se-dang Abdul Husein ini menilainya seluruh pernyataan yang terdapat di dalam Kitab Empat sebagai riwayat-riwayat sahih, di antaranya al-Kaafi. Silahkan Anda telaah pernyataannya di dalam kitab “al-Muraaja’aa”; hal. 110, di mana ia mengatakan: “Al-Kaafi, at-Tahdziib, al-Ibtishaar, dan “maa yahdhluruhu al-fiqhu”, dan itu mutawatir yang telah diakui kesahihannya.” Sedang al-Kaafi tergolong yang utama, terbaik, dan paling me-nyentuh.” Yang aneh pada Abdul Husein, adalah anggapannya bahwa para imam telah memerintahkan para pengikut mereka agar menyesali dan merasa sial, padahal itu dilarang di dalam sum-bersumber yang ia nilai sebagai sahih !!

Itulah nash-nash dari para ulama mereka yang mengha-ramkan meratap-ratap dan menyatakan kesialan, dan menampar-nampar, menurut ijma’ yang didasarkan pada nash-nash syariat yang telah kami sajikan sebagiannya. Tetapi mengapa masih diperagakan al-Huseiniyah dan perhimpunan-perhimpunan duka tersebut, dengan menabrak ijma’ yang seluas dinding itu?

Lebih lanjut, hai para pembicara, dengarlah bagaimana para Ahlul Bayt radhiyallahu ‘anhuma berupaya membina dan membangun para sahabat mereka supaya bersabar dan berharap pahala, bukan bersikap meratap-ratap ataupun merasa sial, sebagaimana yang Anda lakukan di dalam perhimpunan “al-maatim” dan “al-husainiyyaat“:

“Riwayat dari Musa bin Ja’far rahimahullah, ia berkata: “Diberitakan kepada ash-Shadiq Ja’far bin Muhammad, tentang kematian Ismail bin Ja’far, yaitu salah seorang putra sulungnya, sedang beliau bersiap sedia hendak makan dan sahabat-sahabatnya sudah berkumpul. Lalu ia pun tersenyum dan meminta disediakan sarana makannya. Beliau pun duduk bersama sahabat-sahabatnya dan makan dengan sikap makan yang paling baik dibanding hari-hari lain. Mengajak sahabat-sahabat beliau seraya tangan beliau menghela tangan-tangan mereka (agar makan tanpa ragu-ragu). Mereka pun merasa heran kepada beliau yang mana tidak terlihat kesan duka. Tatkala usai makan me-reka pun bertanya: “Wahai putra Rasulullah, kami merasa heran, karena tuan begitu dekat dengan anak itu, tetapi mengapa sikap tuan seperti ini?”

__________

==> Bagaimana pula jawaban terhadap pernyataan yagn diri-wayatkan al-Majlisi di dalam Bihaaru al-Anwaar (6/219, 33, 63/99, dan 79/247), dari Jabir, dari Nabi sallallahu ‘alaihi wa ‘alaih. Beliau bersabda: “Sebetulnya Iblislah yang perta-ma-tama meratap, yang pertama-tama menyanyi, dan yang perta-ma-tama marah-marah . . .?”

Apa pula jawaban terhadap riwayat-riwayat lainnya?

Apa yang menjadi jawaban terhadap kesadaran at-Tijani, bahwa segala yang mereka selenggarakan di dalam perayaan-perayaan ini termasuk tindakan-tindakan yang merisaukan jiwa dan tidak masuk akal?

Beliau menjawab: “Mengapa saya harus bersikap lain? Pa-dahal sudah datang penjelasan dari Dia Yang Mahabenar, bahwa saya akan mati dan juga kalian. Suatu kaum sudah mengerti tentang maut, tetapi masih saja suka menangis dan tidak memikirkan siapa-siapa yang akan mati dan me-nyerahkan urusannya kepada pencipta mereka Yang Maha-mulia lagi Mahaagung.”(146).

Bagaimana pendapat Anda setelah menyaksikan bahwa Ahlul Bayt radhiyallahu ‘anhum berlepas tangan dari segala yang diberlakukan di dalam perayaan-perayaan ini?

ooo 0 ooo

PEMBAHASAN LIMA

WANITA DAN PERAGAAN AL-HUSEINIYAH

Peringatan-peringatan yang sudah dikemukakan melalui riwayat-riwayat di atas termasuk di dalamnya terhadap para laki-laki dan perempuan dalam kadar sama. Agar lebih men-jelaskan, kami kemukakan beberapa riwayat yang berkaitan kepada perempuan dalam bentuk khusus, agar hal itu dapat me-nyadarkan dan menjadi dasar renungan para wanita Syi’ah yang suka datang ke acara renungan duka dan al-Huseiniyah, se-hingga tidak terjerumus dalam perbuatan terlarang.

Al-Husein r.a. kepada saudarinya bernama Zainab pada saat ia menampar wajahnya sendiri, menarik saku bajunya sampai robek, dan terjatuh pingsan: “Wahai saudariku, takut-lah kepada Allah, berkabunglah dengan cara Allah. Keta-huilah, bahwa penghuni bumi akan mati, dan penghuni langit pun tiada akan hidup abadi, bahwa segala sesuatu akan binasa kecuali Wajah Allah Ta’ala yang menciptakan makhluk melalui Kudrat-Nya, lalu mengembalikan penciptaan. Dialah Yang Mahaesa Mahatunggal. Ayaku lebih baik dibanding diriku, ibu-ku pun lebih baik dibanding diriku, saudaraku lebih baik dibanding diriku, untukku dan untuk seluruh muslim telah ada

__________

146) ‘Uyuunu al-Akhbaar ar-Ridhla; 2/2. Bihaaru al-Anwaar; 82/128. Jaami’u Ahaaditsi asy-Syii’ah; 3/511.

teladan pada diri Rasulullah. Lalu beliau mengucapkan ucapan berkabung dengan kalimat-kalimat ini dan yang serupa. Lebih lanjut beliau berkata kepada Zainab r.a.: “Wahai saudariku, sungguh aku tekankan sumpah kepada-Mu, maka penuhilah sum-pahku, bahwa sekiranya aku mati, janganlah engkau merobek-robek saku karena diriku, jangan memurungkan wajah karena diriku, dan jangan menyatakan sial dan malang karena diri-ku!”(147).

Di lain riwayat dinyatakan, beliau berkata: “Hai sauda-riku, hai Ummu Kultsum, hai Fathimah, hai Rabbab, perhati-kanlah. Sekiranya aku terbunuh, jangan kalian merobek saku dan jangan memurungkan wajah !”(148).

Di lain riwayat lagi: “Hai saudariku, kunyatakan sumpah-ku atasmu, penuhilah sumpahku, jangan engkau merobek saku karenaku, jangan memurungkan wajah karenaku, dan jagnan me-nyatakan kata-kata sial karenaku apabila aku binasa.”(149).

__________

147) Diriwayatkan Ibnu Thawus di dalam “al-Malhuuf”; hal. 50. Syeikh Abbas al-Qumi dalam Muntaha al-Aamaal; 1/48. Tersebut juga di dalam “asy-Sya’aair al-Huseiniyyaat”; oleh asy-Syi-razi; hal. 106. Juga dinyatakan oleh Syeikh Muhammad Husein Fadhlullah di dalam “an-Nadwah; 5/209.

148) Riwayat ini dinyatakan oleh Abdur Razzaq al-Mausuwi al-Muqarram di dalam “Maqtal al-Husain”; hal 218. Juga dinyata-kan oleh al-Fairuzi di dalam “Tadhlimu az-Zahra’; hal 190.

149) Riwayat tersebut bisa kita dapati dalam “Mustadrak al-Wasaa-il”; 1/144. Madhaalim Ahlil Bayt; hal. 264. Juga dike-mukakan oleh Muhammad Taqiy Ali Bahr ‘Ulum di dalam “Maqtal al-Husain”; hal. 286. Doktor Ahmad Rasim an-Nafis di dalam kitabnya “’alaa Khathi al-Husain”; hal. 116. Ridhla al-Qaz-waini di dalam “Tadhlimu az-Zahra’”; hal. 190. Muhammad ash-Shadr di dalam Adhlwa’ ‘ala tsaurah al-Husain; hal 103. Dike-mukakan pula oleh asy-Syeikh Abdul Husein al-‘Amili di dalam kitabnya “al-Mufiid fii dzikri as-Sibthi asy-Syahiid”; hal 67, dengan lafal “Saya sumpah engkau wahai Zainab atas dasar hakku atas dirimu, dan juga engkau hai Ummu Kultsum, juga engkau hai Sakinah, dan engkau hai Rabab, apabila aku ter-bunuh di bumi ini, jangan kalian merobek-robek saku, jangan menampar pipi, jangan mengucapkan ucapan ingkar.”

Ash-Shaduq serta mereka yang lain meriwayatkan sebuah riwayat dari Umar bin Abu al-Miqdam. Ia berkata: “Saya mendengar al-Hasan dan Abu Ja’far alaihimasalam, berkaitan firman Allah ‘Azza wa Jalla yang artinya: “Dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik.” (QS: al-Mumtahanah; 12). Dia mengatakan: “Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sa-llam berkata kepada Fathimah a.s.: “Apabila saya mati, ja-nganlah kamu memurungkan wajah karena saya, jangan mengurai rambut karena saya, jangan merasa sial, dan jangan pula me-ratap-ratap.” Katanya: “Lebih lanjut beliau berkata: “Itulah makna kata “al-Makruuf” sebagaimana difirmankan Allah ‘Azza wa Jalla: “walaa ya’shiinaka fii ma’ruuf“.”(150).

Riwayat dari Abu Abdillah a.s. berkaitan firman Allah ‘Azza wa Jalla yang artinya: “Dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik.” Beliau mengatakan: “Makna kata “makruf” di sini, ialah tidak merobek-robek saku, tidak me-nampar-nampar pipi, tidak mengucapkan kata-kata kesialan, dan (para wanita) tidak berdiri di kubur.” (151).

Riwayat dari Abu Sa’id, bahwa Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam mengutuk orang yang meratap-ratap hingga terdengar.” (152).

__________

150) Riwayat ini diriwayatkan oleh Ibnu Babuwaih yang digelari ash-Shaduuq did alam “Ma’aaniyu al-Akhbaar”; hal. 390. Asy-Syeikh al-Bahrani di dalam “al-Hadaa-iq an-Naadhlirah”; 4/167-168. Al-Hurr di dalam “Wasaa-ilu asy-Syii’ah”; 2/915-916. An-Nuri di dalam Mustadrak al-Wasaa-il; 1/144. Asy-Syirazi di dalam “al-Fiqhu”; 15/254. Syeikh Muhammad Husein Fadhlullah di dalam “an-Nadwah”; 5/72. Baca juga “Bihaaru al-Anwaar”; 82/76.

151) Sebagaimana di dalam tafsir “Nuuru ats-Tsaqalain”; 5/308. Mustadrak al-Wasaa-il; 1/144. Juga tercantum di dalam “Bihaaru al-anwaar; 82/77.

152) Diriwayatkan oleh al-Haj an-Nuri di dalam Mustadrak al-Wasaa-il; 1/144. Al-Aqa Husein al-Barujardi dalam Jaami’u Ahaadiitsi asy-Syi’ah; 3/487. Juga tercantum dalam “al-Bihaar”; 82/93.

Kami katakan: “Lalu apa gunanya mengikuti persekutuan al-Huseiniyah sesudah berhadapan dengan hadis-hadis jelas seperti ini?

Waspadalah, dan waspadalah !

Di dalam kitab “al-Lubb al-Lubaab”(153), al-Quthb ar-Rawandi meriwayatkan, bahwa Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa ‘alaih mengutuk empat golongan: Wanita yang mengkhianati suaminya baik berkaitan harta suami maupun berkaitan diri wanita itu sendiri, orang yang suka meratap-ratap, orang yang suka ber-maksiat kepada suaminya, dan orang yang durhaka.”

Tatkala Amirul Mukminin Ali r.a. mendengar tangis se-orang wanita terhadap mayat orang yang terbunuh di perang Shiffin, yang mana ketika itu Harb bin Syurahbil asy-Syami menghadap kepada beliau, sedangkan Harb adalah salah seorang tokoh kaumnya, maka berkatalah Ali r.a.: “Apakah sudah men-jadi kebiasaan di kalangan para wanita kalian seperti yang saya dengar ini? Mengapa kalian tidak mencegah sikap me-ratap-ratap seperti ini.”(154).

Riwayat dari Abu Abdillah a.s., beliau mengatakan: “Barangsiapa dikaruniai Allah dengan suatu karunia nikmat, lalu mengadakan pada karunia tersebut terdapat sebutir paku, samalah artinya ia mengingkarinya. Barangsiapa ditimpa suatu musibah, lalu melakukan tindakan meratap-ratap atas musibah tersebut, samalah artinya ia mengingkarinya.” Di lain riwa-yat dinyatakan: “Itu dapat memusnahkan (pahala-pahala)nya.” (155).

__________

153) Sebagaimana dikutip oleh al-Haj an-Nuri dalam Mustadrak al-Wasaa-il; 2/431.

154) Jaami’u Ahaaditsi asy-Syii’ah; 3/387. Silahkan baca juga “al-Bihaar”; 82/89.

155) Riwayat ini dinyatakan oleh al-Hurr al-‘Amili di dalam “Wasaa-ilu asy-Syii’ah”; 12/90. Yusuf al-Bahrani di dalam “al-Hadaa-iq; 18/139, sebagaimana dinyatakan oleh al-Majlisi di dalam “Bihaaru al-Anwaar”; 82/103.

Perhatikanlah, wahai orang-orang Syi’ah, betapa ulama Syi’ah

Dari Ja’far bin Muhammad, dari bapa-bapa beliau radhiya-llahu ‘anhum berkaitan wasiat Nabi sallallahu ‘alaihi wa ‘alaih kepada Ali: “Hai Ali, barangsiapa menuruti is-trinya, niscaya Allah ‘Azza wa Jalla akan menyungkurkan wajahnya ke dalam neraka.” Ali r.a. menjawab: “Menuruti dalam hal apa itu?” Beliau bersabda: “Mengizinkan mereka pergi ke tempat-tempat pemandian umum, tempat-tempat resepsi, meratap-ratap, dan memakai pakaian-pakaian tipis.”(156).

Diriwayatkan oleh ash-Shaduuq dan mereka yang lain, dari Ja’far bin Muhammad, dari bapa-bapanya, dari Ali r.a., beliau berkata: “Rasul sallallahu ‘alaihi wa ‘alaih bersab-da: “Empat golongan akan terus ada di kalangan umatku sampai hari kiamat: Bangga dengan kebangsawanan, melecehkan ketu-runan, meminta hujan kepada bintang-bintang, dan meratap-ra-tap. Sedangkan orang yang suka meratap-ratap, apabila ia tidak bertobat sebelum matinya, niscaya pada Hari Kiamat akan bangkit dalam keadaan dirundung kutu dari polong, dan baju tebal dari kudis.”(157).

Dari Abu Ja’far, dari bapa-bapanya radhiyallahu ‘anhum, ia berkata: “Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa ‘alaih bersab-da: “Tatkala saya diisra’kan ke langit, aku menyaksikan se-orang wanita dalam wujud seperti seekor anjing, sedang api masuk ke dalam duburnya, lalu keluar dari mulutnya. Semen-tara para malaikat memukuli kepala dan tubuhnya dengan pemu-kul besi dari api. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘alaih wa sallama bertanya tentang itu. Lalu dijawab: “Dahulu ia

__________

==> telah mengabaikan fatwa-fatwa ulama mereka berkaitan dengan pahala yang dapat diperoleh dari suatu musibah.

156) Riwayat tersebut ada pada al-Hurr al-‘Amili dalam “Wasaa-ilu asy-Syii’ah;1/376.

157) Di dalam “al-Hishaal”; hal. 226. Jgua dinyatakan oleh al-Bahrani did alam “al-Hadaa-iq; 3/68, dan diulangi lagi di; 18/139. Juga dinyatakan oleh al-Hurr di dalam “Wasaa-ilu asy-Syii’ah; 12/91. Al-Majlisi di dalam “Bihaaru al-Anwaar”; 22/451, 58/226, 73/290, 82/74-75. Dan halaman 93 dalam bentuk ringkasan.

seorang penyanyi, suka meratap-ratap, dan pendengki.”(158).

Riwayat dari Ja’far bin Muhamamd radhiyallahu ‘anhuma. Tatkala beliau menjelang ajal berwasiat, kata beliau: “Ja-ngan menampar-nampar pipi, jangan merobek-robek saku, sebab tidak seorang pun wanita merobek sakunya, melainkan pastilah ia akan disungkurkan ke neraka Jahannam karenanya. Semakin terbiasa semakin pula diberatkan pula tersungkurnya.”(159).

Riwayat dari Ali r.a., beliau berkata: “Rasulullah sha-llallahu ‘alaihi wa ‘alaih menerima baiat (janji setia) dari para wanita, dengan syarat tidak boleh meratap, tidak boleh memurungkan (wajah), tidak boleh duduk-duduk bersama lelaki di tempat-tempat buang air.” (160).

ooo 0 ooo

PEMBAHASAN ENAM

SIAPAKAH YANG BERDUSTA; MUHAMMAD BAQIR ASH-SHADR

ATAUKAH AT-TIJANI?!

Dr. Muhammad at-Tijani as-Samawi asy-Syi’I meriwayatkan dari syeikhnya Ayatullah Muhammad Baqir ash-Shadr, bahwa ia berkata kepadanya: “Hal-hal yang Anda saksikan seperti memu-kuli tubuh dan mengucurkan darah, adalah sikap masyarakat awam dan orang-orang bodoh. Dan tidak ada seorang pun yang berbuat seperti itu di kalangan para ulama. Bahkan mereka selalu menentang dan mengharamkannya.”(161).

Betapa anehnya! Ayatullah Murtadhla al-Fairuzi Abadi se-bagaimana sebelumnya mengatakan: “Sebenarnya menampar-nampar dada dan sejenisnya, termasuk tradisi yang sudah membudaya di dalam sejarah Syi’ah . . ., dan tidak terdengar dan tidak

__________

158) ‘Uyuunu Akhbaar ar-Ridha; 2/11. Bihaaru al-Anwaar; 82/ 76. Jaami’u Ahaadiitsi asy-Syii’ah; 3/487-488. Sedang lafal-nya ada pada rujukan kedua.

159) Bihaaru al-Anwaar; 82/101. Jaami’u Ahaadiitsi asy-Syii’ah; 3/490.

160) Bihaaru al-Anwaar; 82/101. Jaami’u Ahaadiitsi asy-Syii-’ah; 3/484.

161) Kullu al-Huluul ‘nda Aali ar-Rasuul; oleh at-Tijani; hal. 150.

akan pernah terdengar adalah seorang pun (artinya; dari kalangan ulama mereka) yang menentang hal itu dan menolaknya …” Sedangkan ash-Shadr mengatakan: “Sebenarnya ulama mere-ka senantiasa menentang dan mengharamkannya. Apakah ash-Shadr yang berdusta ataukan at-Tijani yang mengada-ada?”

Menurut pendapat kami, sumber dusta di sini adalah at-Tijani, sebab, ia menyatakan bahwa dirinya bertanya kepada Muhammad Baqir ash-Shadr pada saat berkunjung kepadanya di Nejef, dengan pertanyaan sebagai berikut: “Mengapa orang-orang Syi’ah menangis, menampar-nampar, dan memukuli diri mereka sendiri sampai mengucurkan darah, sedang itu haram di dalam Islam. Bahkan beliau sallallahu ‘alaihi wa ‘alaih wa sallam telah bersabda: “Bukan dari golongan kami orang-orang yang menampar-nampar pipi dan merobek-robek saku dan menye-rukan kalimat-kalimat jahiliyah?”

Lalu Muhammad Baqir ash-Shadr menjawab dengan lafal seperti yang dikutip at-Tijani sendiri, yaitu sbb.: “Hadis itu sahih, tidak diragukan lagi, tetapi tidak layak dite-rapkan pada persekutuan duka Abu Abdillah. Jadi, orang-orang yang menyerukan kedukaan al-Husein, berjalan di jalan al-Husein, maka seruan-seruannya bukanlah seruan jahiliyah. Le-bih lanjut, di dalam Syi’ah sendiri ada yang alim ada pula yang bodoh, sedang mereka memiliki gelora. Manakala gelora mereka tersebut menguasai diri mereka atas dasar terkenang oleh kesyahidan Abu Abdillah beserta apa-apa yang terjadi kepada beliau dan juga kepada Ahlul Bayt dan para sahabat beliau yang dibunuh, dituduh, ditawan, maka mereka justru akan dikaruniai pahala, karena tekad mereka fisabili-llah.”(162),(163).

__________

162) Tsummah tadaitu; oleh at-Tijani; hal. 58.

163) Sekiranya benar niat-niat mereka demi fisabilillah, nis-caya mereka akan mendengar dan mematuhi Sang Pilihan sallallahu ‘alaihi wa ‘alaih wa sallam, berkaitan larangan beliau terhadap mereka dan orang-orang yang bersikap serupa mereka, atas dasar sabda beliau: “Bukan dari golongan kami orang-orang yang menampar-nampar pipi dan merobek-robek sa-ku.” Sedang ucapan ash-Shadr di sini bersifat aneh. Padahal

Jadi, lelaki ini memahami status sahnya hadis yang mela-rang tindakan menampar pipi dan merobek saku, tetapi ia me-nolaknya, secara takabur menolak Rasulullah sallallahu ‘ala-ihi wa ‘alaih, atas dasar anggapan, bahwa itu tidak layak diterapkan terhadap kemungkaran para pengikutnya dan bid’ah mereka. Sementara at-Tijani beranggapan, bahwa dirinya dan para ulama Syi’ah sudah mengharamkannya. Siapakah yang pen-dusta?

ooo 0 ooo

PEMBAHASAN TUJUH

AT-TIJANI MENGULANGI BERDUSTA SEKALI LAGI

At-Tijani mengatakan: “Bukan rahasia lagi, terdapat ba-nyak ulama yang seperti Muhsin Amin, dan pada masa sekarang Yang Mulia Sayid al-Qaid Ali Khamenei, dan Ayatullah Mu-hammad Husein Fadhlullah, dan banyak lagi ulama yang memfat-wakan tidak diperbolehkan …”(164).

Menurut pendapat kami: “Kedustaan yang dicetak oleh at-Tijani di dalam seluruh buku-buku karangannya yang telah ka-mi pelajari, dalam pandangannya; termasuk bab “taqiyah” (si-kap berpura-pura), yang mana orang Syi’ah akan memperoleh pahala apabila melakukannya. Karena ia hendak menghias pe-nampilan Syi’ah di hadapan muslimin, sebab buku-bukunya te-lah disebarluaskan dalam jumlah banyak(165) di tengah-tengah

__________

==> ia mengetahui sahnya hadis itu, bahkan ia tidak ragu-ragu lagi. Tetapi ia tetap memalingi hadis yang dipahami segi sah-nya itu, melalui ucapan: “Tetapi tidak diterapkan pada perse-kutuan duka Abu Abdillah,” dan seterusnya, sampai ia menga-takan: “Orang-orang Syi’ah akan diberi pahala atas ungkapan gelora yang dapat menekan larangan Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami mohon kesejahteraan kepada Allah, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

164) “Kullu al-Huluul ‘inda Aali ar-Rasuul; hal. 153.

165) Bahkan mereka sudah disanggah oleh lebih dari satu ulama Ahlussunah yang mana mereka ini mengungkapkan kedok kedustaan dan kelicikan mereka. Di antara mereka Syeikh Utsman al-Khu-mayyis di dalam “Kasyfu al-Jaani”, Khalid al-‘Asqalaani di dalam “Bal Dhlalaltu”, lalu Dr. Ibrahim ar-Rahili di dalam “al-Intishar li ash-Shuhbi wal Aal”.

masyarakat Ahlussunah wal Jamaah. Jadi ucapannya yang ada di hadapan Anda ini adalah ucapan dusta terang-terangan. Se-mentara Khamenei (yang adalah pemain watak) memperbolehkan-nya, sebagaimana pernyataan yang telah kami kutipkan, yang kemudian ditolak jauh-jauh oleh at-Tijani.

Berkaitan Muhammad Husein Fadhlullah, sebagaimana sudah kami kutipkan kepada Anda, ia memperbolehkan menampar-nampar yang diiringi dengan suasana tenang. Tetapi pada kesempatan lain, ia mengatakan: “Ia boleh menampar-nampar sekadar de-ngan sikapnya dalam memandangan kepemimpinan.”

Lebih lanjut, silahkan Anda menilai at-Tijani menurut pertimbangan Anda sendiri.

Tentang pernyataannya: “Banyak dari kalangan ulama yang memfatwakan tidak diperbolehkan.” Itu adalah dusta terang-terangan. Sebab Ayatullahnya, yaitu Murtadha al-Fairuzi Aba-di telah menyia-nyiakan peluang at-Tijani tanpa memperha-tikan kedustaannya. Yaitu ketika ia mengucapkan: “Tidak ter-dengar, dan tidak akan perah terdengar, bahwa ada salah se-orang dari mereka (jelasnya; dari kalangan para tokoh dan orang-orang besar, baik pada masa lampau maupun moderen; yang menentang dan menolak (tradisi itu …).”

Dapatkah kita mempercayai at-Tijani yang sudah didusta-kan oleh nash-nash dan fatwa-fatwa tersebut? Ataukah justru ulama-ulama besar mereka?

ooo 0 ooo

PEMBAHASAN DELAPAN

SYI’AH DAN SIKAP MEREKA MENENTANG PUASA ASYURA

Syi’ah menyebut-nyebut soal puasa pada hari-hari ini, tetapi mereka menuduh bani Umayah telah membuat-buat riwayat yang mendorong agar berpuasa. Bahkan ada salah seorang dari mereka yang digelari Jamaluddin (Keindahan Agama) bin Abdu-llah, telah menyusun sebuah kitab dalam judul “Shiyaam Asyuura’”, terhimpun di dalamnya berbagai riwayat yang sa-ling berlawanan berkaitan puasa pada hari tersebut, baik ri-wayat-riwayat yang memerintahkan maupun yang melarang. Se-lanjutnya berupaya membela mazhabnya. Bagaimana mungkin le-laki ini akan sukses?!

Ia telah menghimpun riwayat-riwayat yang melarang puasa pada hari ini (Asyura’). Perlukah kiranya kami sampaikan ke-pada Anda sebagian daripadanya? Alhamdulillah, ternyata berlawanan, bersilang selisih, dan saling mendustakan seba-gian terhadap yang lain. Di antara riwayat-riwayat tersebut, adalah riwayat yang dinyatakan dari ar-Ridhla, bahwa beliau pernah ditanya tentang puasa pada hari Asyura’, dan apakah yang harus dijelaskan kepada masyarakat tentang puasa ter-sebut?”

Beliau menjawab: “Adakah Anda bertanya kepada saya ten-tang cara puasa Ibnu Marjanah? Hari itu puasa dilakukan oleh para musuh dari keluarga az-Ziyad untuk membunuh al-Husein a.s. Dan itu juga merupakan hari masuknya keluarga Muhammad sallallahu ‘alaihi wa ‘alaih wa sallam ke dalam Syi’ah dan masuk Syi’ah pula orang-orang berpribadi Islam. Hari di ma-na orang-orang berpribadi Islam masuk Syi’ah tidak boleh dipuasai maupun diharap berkahnya. Hari Senin, adalah hari sial (na’as). Pada hari itu Allah mewafatkan Nabi-Nya sha-llallahu ‘alaihi wa sallam, dan musibah tiada menimpa kelu-arga Muhammad, kecuali pada hari Senin…, barangsiapa ber-puasa pada hari itu atau berharap berkah dengannya, niscaya ia akan menghadap Allah Tabaraka wa Ta’ala dengan hati ber-ubah (tidak Islam –pen), dan akan dihimpun bersama orang-orang yang mensunahkan berpuasa dan bertabarruk pada kedua-nya (hari Asyura’ dan hari Senin).”(166).

Diriwayatkan dari Zaid an-Narsi, ia mengatakan: “Saya mendengar Ubaid bin Zurarah bertanya kepada Abu Abdillah a.s. tentang puasa pada hari Asyura’?, lalu beliau menjawab: “Barangsiapa berpuasa pada hari itu, maka hasil yang diper-oleh atas puasa tersebut adalah seperti hasil yang diperoleh Ibnu Marjanah dan keluarga Ziyad.”

Katanya: “Saya bertanya: “Apakah yang merupakan hasil mereka pada hari itu?” Beliau menjawab: “Neraka, semoga Allah menyelamatkan kami dari neraka, dan dari amal perbu-atan yang berasal dari neraka.”(167).

__________

166) Shiyaam Asyuura’; hal 117-118.

167) Shiyaam Asyuura’; hal 118.

Dari Abu Ja’far dan Abu Abdillah a.s., keduanya berkata: “Jangan berpuasa pada hari Asyura’, jangan pula hari Arafah di Mekah.”(168).

Riwayat dari Najiyah, ia berkata: “Saya bertanya kepada Abu Ja’far a.s. tentang berpuasa pada hari Asyura’? Lalu be-liau menjawab: “Puasa itu sudah ditinggalkan dengan turunnya (kewajiban puasa) Ramadan, sedang yang ditinggalkan itu ber-nilai bid’ah.” Kata Najiyah: “Lalu kepada Abu Abdillah a.s. sepeninggal ayah beliau a.s., saya pun bertanya tentang itu. Beliau menjawab kepada saya seperti jawaban ayahnya. Lebih lanjut beliau berkata: “Itu hanyalah puasa, hari di mana ti-dak diturunkan Kitab Suci, tidak ditetapkan sunah, kecuali sunah keluarga Ziyad dengan membunuh al-Husein bin Ali alai-himassalam.”(169).

Perhatikanlah wahai saudaraku pembaca budiman, bahwa riwayat pertama menjelaskan, bahwa puasa Asyura’ adalah hari puasa keluarga Ziyad. Tetapi di dalam satu riwayat yang ju-ga disampaikan oleh pengarang yang sama dinyatakan dari Ja-’far asy-Shadiq, di antaranya menerangkan: ” … ketika al-Husein a.s. terbunuh, maka orang-orang berdatangan ke Syam menghadap Yazid, lalu mereka menyampaikan berita itu, dan mereka pun memperoleh hadiah-hadiah harta. Dan di antara mereka yang menyampaikan berita tersebut menetapkan ketentu-an berkaitan hari ini, bahwa hari ini adalah Hari Berkah, agar masyarakat membuat perubahan dari keluhan, tangis, dan duka, menjadi riang gembira …”(170).

__________

168) Ibid: hal. 114.

169) Ibid: hal. 144.

170) Shiyam Asyura’; hal 122. Kemudian disebut lagi pada hal. 188. Riwayat dari ash-Shadiq, dinyatakan di dalamnya: “… , keluarga Umayyah bernazar dengan suatu nazar, sekiranya al-Husein a.s. dapat dibunuh, mereka akan menjadikan hari terse-but sebagai Hari Raya bagi mereka di mana mereka akan mela-kukan puasa sebagai ungkapan terima kasih. Dan begembiralah putra-putra mereka. Sejak itu di kalangan keluarga Sufyan menjadi satu sunah sampai sekarang. Oleh karena itu mereka berpuasa pada hari itu . . ., dst.”

Seperti itu juga riwayat kedua dan ketiga, sedang riwa-yat keempat justru menggugurkan dua riwayat sebelumnya yang menekankan bahwa puasa pada hari iin sudah terdapat sebelum diwajibkannya puasa Ramadan. Jelasnya, bahwa puasa pada hari ini (Asyura’) memang sudah ada sebelum terbunuhnya al-Husein bin Ali radhiyallahu ‘anhuma.

Perhatikanlah wahai pembaca budiman, betapa kebatilan ini saling menggugurkan satu dengan yang lain.

Lebih lanjut lelaki yang disebut Muhammad at-Tijani al-Mausuwi ini juga menentang puasa Asyura’ dan menisbatkan puasa tersebut kepada kelompok bani Umayah. Ia mengatakan: “Juga kian menjadi jelas pada kami, bahwa kelompok Ahlus-sunah wal Jamaah, mereka saling berselisih pendapat berka-itan hari Asyura’, sebab mereka mengikuti sunah Yazid bin Mu’awiyah dan bani Umayah di dalam pesta-pesta mereka pada hari tersebut. Sebab mereka mendukung peristiwa tersebut di dalam memerangi al-Husein. Mereka memadamkan gelora yang sebelumnya mengancam eksistensi mereka, dan dalam anggapan mereka dengan itu mereka telah dapat melenyapkan biang huru-hara…, dst. ,… kemudian berdatanganlah para ulama jahat dari kalangan Ahussunnah wal Jamaah kepada mereka, dan me-nyediakan bagi mereka hadis-hadis tentang keutamaan hari itu.

Bahwa Asyura’ merupakan hari di mana Allah mengaruniakan tobat kepada Adam. Hari itu juga merupakan hari diselamat-kannya perahu Nuh di atas Gunung al-Judi. Hari itu jugalah yang merupakan hari di mana api menjadi dingin dan sejahtera terhadap Ibrahim. Hari itu jugalah yang merupakan hari di mana Yusuf dikeluarkan dari penjara dan sembuh kembali pan-dangan mata Ya’kub. Hari itu pulalah hari di mana Allah menolong Musa dari kekejaman Fir’aun. Hari itu juga di mana turun hidangan makanan dari langit kepada Isa. ..,. Bahkan berlebih-lebihan di dalam berdusta, pada saat menyatakan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘alaih wa sa-llam ketika beliau masuk kota Madinah, sengaja beliau mema-sukinya pada Hari Asyura’. Lalu beliau mendapati orang-orang Yahudi Madinah melakukan puasa. Beliau bertanya tentang sebab mereka berpuasa. Mereka menjawab: “Inilah hari di mana Musa memperoleh pertolongan terhadap Fir’aun.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘alaih wa sallam bersabda: “Kami le-bih layak terhadap Musa dibanding kalian. Kemudian beliau memerintahkan kepada Muslimin agar berpuasa Asyura dan ber-puasa juga pada Hari Tasu’ah (tanggal sembilan –pen), agar tidak menyerupai Yahudi. Ini adalah dusta yang terang-te-rangan.”(1).

Menuduh Ahlussunah sebagai melakukan penyelewengan de-ngan berpuasa pada Hari Asyura’, dengan anggapan bahwa itu adalah Hari Sunah Bani Umayyah dengan mengenang terbunuhnya al-Husein r.a. Pernyataan serupa juga diungkapan melalui suara dalam sebuah kaset, dalam suatu kupasan panjang, di antaranya: “Pada saat riwayat-riwayat Ahlul Bayt a.s. mela-rang puasa pada hari ini.”

Dengar hai Tijani: “Kami tidak menghimbau atau memaksa Anda, kecuali melalui riwayat-riwayat Syi’ah sendiri yang dapat Anda peroleh di depan Anda, di belakang, di kanan, dan di kiri Anda…, insya Allah Ta’ala.

Berikut ini seorang Syeikh yang 100 persen dari kelompok Anda, Abu Ja’far Muhammad bin al-Hasan ath-Thusi, ia meri-wayatkan di dalam dua buah kitabnya berjudul “Tahdziibu al-Ahkaam”, dan “al-Ibtishaar”. Dan dua kitab yang termasuk Dua Kitab Ushul dari empat kitab pokok kalian . Yang oleh Abdul Husein Syarafuddin al-‘Amili salah seorang pakar kalian dinyatakan: “Kitab “al-Kaafi”, “at-Tahdziib”, “al-Ibtishaar”, dan “man laa yahdhluruhu al-faqiihu”, adalah ki-tab-kitab mutawatir seluruh sinya dan telah ditetapkan ke-sahihannya.”(2).

Diriwayatkan dari Abu Abdillah a.s. dari ayahnya, bahwa Ali a.s. berkata: “Lakukanlah puasa pada Hari Asyura’ – per-hatikanlah– pada tanggal sembilan dan sepuluh, sebab itu da-

__________

1) Asy-Syii’atu hum Ahlus as-Sunnah; oleh at-Tijani; hal. 301-302, terbitan Syamsu al-Masyriq – Beirut, dan perusahaan al-Fakhru Buldaan. Kedustaan-kedustaan seperti ini diulang-ulang di dalam kitab “Fasiiru fil Ardhl”; hal. 276.

2) Al-Muraaja’aat; Al-Muraaja’ah (dialog); 110; hal. 311.

pat menghapuskan dosa-dosa selama satu tahun.”(3).

Diriwayatkan dari Abu al-Hasan a.s., bahwa beliau ber-kata: “Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa ‘alaih berpuasa pada Hari Asyura’.”(4).

Diriwayatkan dari Ja’far, dari bapanya a.s., beliau ber-kata: “Puasa Hari Asyura’ dapat menghapuskan (dosa-dosa) se-tahun.”(5).

Dari ash-Shadiq rahimahullah, ia berkata: “Barangsiapa memungkinkan baginya berpuasa di dalam bulan Muharram, maka itu dapat menyelamatkan orang yang bersangkutan dari segala keburukan.”(6).

Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘alaih, beliau bersab-da: “Sebaik-baik salat sesudah salat fardhu adalah di kege-lapan malam, dan sebaik-baik puasa sesudah puasa Ramadan adalah puasa dalam bulan Allah yang mereka sebut Muha-rram.”(7).

__________

3) Riwayat ini diriwayatkan ath-Thusi dalam “Tahdziibu al-Ahkaam”; 4/299, “al-Ibtishaar”; 2/134, juga diriwayatkan oleh al-Faidhl al-Kasyani dalam “al-Waafi”; 7/13, al-Hurr al-‘Ami-li di dalam “Wasaa-ilu asy-Syii’ah”; 7/337, al-Barujardi di dalam “Jaami’u Ahaadiitsi asy-Syii’ah”; 9/474-475, dinyatakan juga oleh Jamaluddin di dalam “Shi-yaamu Asyuura’”; hal. 112.

4) “Tahdziibu al-Ahkaam”; 4/29. “Al-Ibtishaar”; 2/134. Al-Faidhl al-Kasyani di dalam “al-Waafi”; 7/13. Al-Hurr di dalam Wasaa-ilu asy-Syii’ah; 7/227. Juga tercantum dalam Jaami’u Ahaadiitsi asy-Syii’ah”; 9/475. Di dalam Hadaa-iqu an-Naa-dhlirah; 13/370-371. Dinyatakan pula oleh Jamaluddin di dalam “Shiyaamu Aasyuura’; hal.112.

5) Di dalam “Tahdziib al-Ahkaam; 3/300. “Al-Ibtishaar; 2/134. Jaami’u Ahaadiitsi asy-Syii’ah; 9/475. Al-Hadaa—iqu an-Naa-dhlirah; 13/371. Juga dinyatakan oleh Jamaluddin di dalam “Shiyaamu ‘Aasyuura’; ha. 113. Al-Waafi; oleh al-Ka-syani;2/13. Al-Hurr di dalam “Wasaa-ilu asy-Syii’ah; 7/337.

6) Riwyaat ini diriwayatkan al-Hurr di dalam Wasaa-ilu asy-Syii’ah; 7/2237. Al-Bahrani di dalam Hadaa-iqu an-Naadhlirah; 13/388. Al-Haj Aaqa Husein Barujardi dalam Jaami;u ahaadiitsi asy-Syii’ah;9/474.

7) Ibid, pada halaman yang sama.

Dengan kenyataan ini, tidakkah Anda saksikan hai at-Ti-jani, bahwa orang yang menetapkan sunah berpuasa pada Hari Asyura’ adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘alaih wa sallam sendiri, dan bukan bani Umayyah seperti anggapan An-da. Anda berdosa karena mengada-adakan kedustaan terhadap Allah, terhadap Rasul-Nya, dan juga terhadap orang-orang beriman. Tidakkah Anda menyadari bahwa Anda telah mengada-adakan kedustaan terhadap Ahlul Bayt Nabi shallallahu ‘alai-hi wa ‘alaih wa sallam pada saat Anda beranggapan mereka mengharamkan puasa pada hari itu?

Dari Ali r.a., beliau bersabda: “Berpuasalah pada Hari Asyura; hari kesembilan dan kesepuluh dengan penuh kewaspa-daan, sebab itu dapat menghapuskan dosa-dosa setahun sebe-lumnya. Sekalipun seandainya ada salah seorang tidak menya-darinya sehingga ia (terlanjur) makan, hendaklah ia melan-jutkan puasanya.”(8).

Tidak mengertikah Anda, hai pendusta, betapa hasrat Ali r.a. untuk berpuasa pada hari tersebut, yang oleh Anda sen-diri dan orang-orang seperti Anda, kalian upayakan agar mus-limin tidak berhasil memperoleh pahalanya. Perhatikanlah, betapa beliau justru memerintahkan kepada orang yang terlan-jur makan pada hari itu, agar berhenti dan melanjutkannya.”

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: “Apabila Anda menyaksikan hilal bulan Muharram, maka hitunglah, dan apabila sudah mencapai hari kesembilan, laksanakanlah puasa!” Saya bertanya(kata perawi): “Adakah seperti itu juga Muhammad sallallahu ‘alaihi wa ‘alaih?” Ia menjawab: “Ya.”(9).

Berkaitan dasar penolakan dan juga mengalamatkannya ke-

__________

8) Riwayat tersebut dicantumkan oleh ahli hadis Syi’i al-Haj Husein an-Nuri ath-Thusi di dalam Mustadrak al-Wasaa-il; 1/ 594. Al-Haj al-Barujardi di dalam Jaami’u Ahaadiitsi asy-Syii’ah; 9/475.

9) Riwayat ini dinyatakan oleh seorang Syeikh Syi’I Radhli-yuddin Abu al-Qasim Ali binn Musa bin Ja’far bin Thawus di dalam kitabnya berjudul Iqbaalu al-A’maal; hal. 554. Al-Hurr al-‘Amili di dalam “Wasaa-ilu asy-Syii’ah; 7/347.

pada ulama Ahlussunah, bahwa mereka (ulama Ahlussunah) telah menyatakan pernyataan ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘alaih wa sallam, bahwa hari itu adalah hari dimana Allah mengaruniakan tobat kepada Adam, dan pada hari itu pula di-sandarkannyaa perahu Nuh, dst. Justru itu merupakan bukti kebodohannya, atau berpura-pura bodoh, dan juga bukti ke-dangkalan wawasannya. Bahkan Syeikh dari golongannya sendi-ri, yaitu Abu Ja’far Muhammad bin al-Hasan ath-Thusi meriwa-yatkan dari Abu Ja’far rahimahullah, ia berkata: “Perahu itu bersandar pada Hari Asyura di atas (gunung) al-Judi.

Lalu Nuh a.s. memerintahkan kepada mereka yang bersama beliau, baik dari kalangan jin maupun manusia, agar berpuasa pada hari itu. Kata Abu Ja’far a.s.: “Mengertikah kalian ha-ri apakah hari ini? Ini adalah hari di mana Allah ‘Azza wa Jalla mengaruniakan tobat kepada Adam dan Hawa, dan ini ada-lah hari di mana Allah membelah laut bagi bani Israil se-hingga tenggelamlah Fir’aun bersama para pengikutnya. Dan ini pulalah hari di mana Musa a.s. dapat mengalahkan Fir-’aun. Dan ini adalah hari di mana Ibrahim dilahirkan a.s. Dan ini pulalah hari di mana Allah mengaruniakan tobat ke-pada kaum Yunus. Ini adalah hari di mana Isa putra Maryam dilahirkan, dst.”(10).

Seorang Syi’i Radhliyuddin Abu al-Qasim Ali bin Musa bin Ja’far bin Thawus meriwayatkan seraya berkata: “Dinyatakan dalam berbagai riwayat yang menganjurkan agar melakukan pua-sa pada hari itu.”(11).

Riwayat ini juga disinggung oleh al-Hurr al-‘Amili(12), An-Nur ath-Thabrisi(13), Husein al-Barujardi(14), Yusuf al-Bahrani(15).

__________

10) Tahdziibu al-Ahkaam; oleh ath-Thusi; 4/300.

11) Di dalam al-Iqbaalu al-A’maal; hal. 558, edisi Daru al-Kutub al-Islamiyyah di Thahran.

12) Wasaa-ilu asy-Syii’ah; 7/337.

13) Dinyatakan oleh An-Nuri di dalam Mustadrak al-Wasaa-il; 1/594.

14) Jaami’u Ahaadiitsi asy-Syii’ah; 9/475-476.

15) Hadaa-iqu an-Naadhlirah; 13/371. Juga dinyatakan oleh Syeikh Jamaluddin bin Abdillah dalam Shiyaamu ‘Aasyuura’; hal. 112-113.

Diriwayatkan oleh an-Nuri at-Tabrisi dari Ja’far bin Mu-hammad a.s., ia berkata: “Perahu itu berlabuh pada hari Asyura’, di atas (gunung) al-Judi. Kemudian Nuh memerintah-kan kepada mereka yang bersama beliau, baik dari golongan manusia maupun jin agar berpuasa pada hari itu. Dan (Asyu-ra’) itu juga merupakan hari di mana Allah mengaruniakan to-bat kepada Adam a.s.”(16).

Apakah itu juga termasuk riwayat-riwayat yang dinyatakan oleh ulama Ahlussunnah wal Jamaah?!

Diriwayatkan oleh ash-Shaduq di dalam “al-Muqna’: “Bahwa di dalam hari kesepuluh bulan Muharram, yaitu Hari Asyura’, Allah menurunkan karunia tobat kepada Adam a.s. Pada hari itu juga bersandarlah perahu Nuh di atas al-Judi. Pada hari itu, Musa menyeberangi laut. Pada hari itu Isa bin Maryam a.s. dilahirkan. Pada hari itu, Allah mengeluarkan Yunus da-ri perut ikan. Pada hari itu, Allah mengeluarkan Yusuf dari dasar sumur. Pada hari itu Alah mengaruniakan tobat kepada kaum Yunus. Pada hari itu Dawud dapat membunuh Jalut. Ba-rangsiapa berpuasa pada hari itu, niscaya akan diampunkan dosa-dosanya selama tujuh puluh tahun, dan diampunkan pula baginya perbuatan-perbuatannya yang disembunyikan.”(17).

Sedang di dalam hadis az-Zuhri, dari Ali bin al-Husein alaihimassalam, tentang bilangan puasa yang secara tekun di-laksanakan oleh orang-orang bijak: Puasa Asyura’(18).” Riwa-yat serupa juga tercantum dalam “al-Fiqhu ar-Ridhlawi”.(19).

Apa yang akan dikatakan oleh at-Tijani sesudah terbukti seperti ini?!!

Dengan ini, haruslah at-Tijani berupaya memahami, bahwa riwayat-riwayat puasa Asyura berlaku melalui jalur Syi’ah

__________

16) Diriwayatkan an-Nuri at-Tabrisi riwayat tersebut di dalam Mustadrak al-Wasaa-il; 1/594. Silahkan Anda merujuk kitab itu agar jelas bagi Anda, bahwa orang-orang yang menyanggah (ri-wayat-riwayat ini) tidak mempunyai kejujuran ilmiah di ka-langan mereka.

17) Al-Muqna’; oleh Ash-Shaduq; hal. 101. Shaama Asyuura’; hal. 113, dalam bentuk ringkasan.

18) Al-Hidaayah; oleh ash-Shaduq; hal. 303.

19) Shiyaamu Asyura’; hal. 113.

sendiri, dengan sanad-sanad yang mu’tabar, pada saat ada ju-ga riwayat-riwayat yang melarang puasa pada hari itu dengan sanad-sanad lemah. Kondisi ini disadari oleh Syeikh mereka al-Haj as-Sayid Muhammad Ridhla al-Huseini al-Hairi di dalam kitabnya: “Najaatu al-Ummah fii Iqaamati al-‘Izaa’I ‘ala al-Husain wa al-Aimmah”; hal. 145, 146, dan 148. Edisi Qum – Iran 1413h.

Lalu apa yang akan dikatakannya?

Apa pula jawaban Doktor Syi’I Ahmad Rasim an-Nafis yang mengatakan: “Sebenarnya sarana-sarana publikasi bani Umayyah telah menerima kenyataan-kenyataan, tetapi ia mengubah hari duka ini menjadi hari lebaran dan hari gembira. Dan inilah yang terus-menerus berlaku sampai pada masa kita sekarang ini.”(20).

Apakah kiranya ath-Thusi, ash-Shaduq, al-Hurr, al-‘Ami-li, an-Nur ath-Tabrisi, dan Ibnu Thawus yang mereka ini me-riwayatkan keutamaan-keutamaan berpuasa Asyura’ tergolong para petugas dan orang-orang bayaran untuk seruan bani Uma-yyah yang menerima kenyataan?

Mengapa Anda masih mengulang-ulang dusta hai Doktor?

Mengapa Anda tidak mencontohkan Ahlussunah dan menjelas-kan kepada orang-orang Syi’ah bahwa Ahlussunah melakukan puasa pada hari ini atas dasar mengikuti Nabi mereka Mu-hammad Sang Pilihan shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui riwayat-riwayat yang sahih pada masing-masing, baik di Sunni maupun di Syi’ah yang mana itu sudah disadari oleh Syeikh kalian Ibnu Thawus bahwa itu ada banyak jumlahnya?!

Apabila Anda memang dengki kepada Ahlussunah atas dasar mereka tidak turut serta berduka pada hari terbunuhnya al-Husein radhillahu ‘anhu, sebagaimana sikap orang-orang Syi-’ah, maka akan kami jawab melalui dua dasar:

Pertama: Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak me-merintahkan agar menjadikan hari ini sebagai hari duka

__________

20) ‘Alaa Khathi al-Husain; hal. 106. Perhatikanlah kebera-nian lelaki ini! Apakah ada di persada bumi ini seorang Sunni pun yang menjadikan hari terbunuhnya al-Husein sebagai Hari Raya?!!!

dan ratapan seperti yang dilakukan orang-orang Syi’ah. Bahkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang sikap seperti itu, melalui sabda beliau: “Meratap-ratap termasuk praktek jahiliyah.” Dan hadis ini sepakat di-riwayatkan bersama oleh kedua pihak. Bahkan kami sudah mengulasnya bersama hadis-hadis lain di dalam pasal “Larangan Meratap-ratap”, silahkan Anda telaah lagi.

Lebih lanjut, musibah terbesar yang pernah diderita mus-limin adalah kewafatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, berdasar pernyataan sabda beliau s.a.w. sendiri: “Barangsia-pa dilanda suatu musibah, hendaklah ia memperbandingkannya dengan musibah diriku, sebab musibah(ku) adalah musibah ter-besar.”(21).

Sekalipun demikian orang-orang muslim tidak menjadikan hari kewafatan beliau itu sebagai hari duka dan ratapan, wa-laupun itu merupakan musibah terbesar. Begitu juga kewafatan ash-Shiddiq, terbunuhnya al-Faruq, (terbunuhnya) Dzu Nurain, maupun (terbunuhnya) Ali al-Murtadhla radhiyallahu ‘anhum. Orang-orang muslim tidak menjadikan kewafatan mereka sebagai hari duka ataupun ratapan seperti yang dilakukan Syi’ah.

Mengapa orang-orang Syi’ah tidak menghidupkan hari kewa-fatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang adalah musibah lebih besar dibanding terbunuhnya al-Husein r.a.?!!

Mengapa al-Hasan dan al-Husein tidak melakukan himpunan perkabungan berkaitan terbunuh bapa mereka Ali radhiyallahu ‘anhum?!!

Bukankah bapa al-Hasan lebih baik dibanding al-Hasan dan al-Husein?!!(22).

__________

21) Hadis ini statusnya disepakati oleh dua kelompok. Diri-wayatkan oleh al-Kulaini di dalam “al-Kaafi”; 3/220, dan juga oleh al-Hurr di dalam Wasaa-ilu asy-Syii’ah; 2/911. Lafal ada pada buku kedua. Silahkan Anda telaah kedua sumber tersebut, niscaya akan Anda dapati hadis tersebut dinyatakan dengan la-fal yang saling menyerupai.

22) Silahkan menelaah “asy-Sya’aairu al-Husainiyyah”; oleh Thawus, bahwa budaya itu tidak terdapat pada masa imam-imam.

Sebenarnya putra-putri dari darah dagingmu sendirilah yang telah mengundang beliau, menghinakan beliau, kemudian membunuh beliau. Berikut pernyataan seorang cucu Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa ‘alaih menjelaskan: “Bismillahirrah-manirrahim. Lebih lanjut, sebenarnya telah datang berita bu-ruk kepada kami. Muslim bin ‘Uqail terbunuh, Hani’ bin ‘Ur-wah, dan juga Abdullah bin Yaqthar. Kami telah dihinakan oleh Syi’ah kami sendiri. Barangsiapa di antara kalian yang hendak pergi, silahkan pergi tanpa dipersalahkan, tidak di-jatuhi sangsi. Kemudian bercerai-berailah para hadirin me-ninggalkannya, mereka berlalu ke arah kanan dan ke kiri. Se-hingga yang tersisa hanyalah sahabat-sahabat yang datang bersama beliau, dan beberapa orang lagi yang bergabung kepa-da beliau.”(23).

Jadi, kelompok pendahulu kalianlah yang telah mengundang beliau lalu menghinakan beliau. Bukankah Anda sendiri yang telah mengatakan, hai Doktor: ” …, oleh karena itu Syi’ah-lah yang orang-orang Islam, …. Sebagaimana dimaklumi orang yang merujuk kepada kitab-kitab akidah mereka, niscaya Anda dapat menyaksikan pola pikir mereka, akidah mereka, bukan untuk membaca kitab-kitab itu semata. Khususnya yang me-ngandung pengada-adaan dan kedustaan-kedustaan yang tidak diridhai agama, dan tidak pula dibenarkan akal sehat.”(24).

Tetapi buktinya, kitab-kitab yang jadi pedoman Anda sen-diri, menegaskan sunah berpuasa Asyura’ dan melarang tindak-an meratap-ratap, tetapi kalian sendiri justru menentangnya.

Ini bukti, bahwa diperintahkan agar berpuasa Asyura, tetapi kalian justru menisbatkannya kepada bani Umayyah.

Berkaitan rasa perlawanan Syi’ah, cukuplah bagi Anda tentang tuduhan adanya pengubah-ubahan terhadap al-Quran. Sekiranya Anda amati riwayat-riwayat mutawatir dan yang di-tegaskan oleh tokoh-tokoh Anda, bahwa sudah dimaklumi secara

__________

23) Kutipan ini dikutip oleh Abdul Husein Syarafuddin di da-lam “al-Majaalisu al-Faakhirah”; hal. 85. Sebelum-nya sudah dikutip riwayat darinya dan dari mereka yang lain. Silahkan ditelaah kembali.

24) Ar-Rasaa-il; oleh al-Khumaini; 2/185.

spontanitas pada agama kalian. Dan bahwa, apabila berupaya menolaknya dan menentangnya, maka konsekwensinya akan meno-lak seluruh periwayatan. Saya rasa Anda tidak sebodoh itu, tetapi semata-mata sikap kepura-puraan (taqiyah) yang dinya-takan oleh imam Anda al-Khomaini: ” … , dan sekiranya bu-kan karena taqiyah, niscaya mazhab ini (Syi’ah) berada diam-bang kehancuran dan punah.”(25).

Dan sebagaimana dinyatakan oleh Ja’far ash-Shadiq rahi-mahullah (menurut nama yang mereka sebut!!): “Kalian meme-gang suatu agama yang barangsiapa merahasiakannya, niscaya agama itu akan dimuliakan Allah, dan barangsiapa mempubli-kasikannya, niscaya akan dihinakan Allah.”(26).

Juga diriwayatkan dari beliau: “Bukan dari Syi’ah Ali orang yang tidak bertaqiyah (berpura-pura/bermunafik).”(27).

Diriwayatkan oleh al-Kulaini dan al-Kasyani, dari Abu Abdillah rahimahullah, ia berkata: “Barangsiapa pada siang hari membuka rahasia kami, niscaya Allah akan menyiksanya dengan panasnya besi dan sempitnya majelis.”(28).

Di dalam sebuah riwayat dari ash-Shadiq: “Bukan dari kami orang yang tidak membiasakan diri bertaqiyah.”(29).

Apakah orang-orang dengan akhlak seperti ini ucapannya dapat dipercaya hai Doktor?!!

Anda –wahai Doktor- tidak harus berlindung di balik di-perbolehkannya “taqiyah” pada saat merasa berbahaya bagi di-ri, sebab Imam Anda al-Khumaini telah memperbolehkannya, bahkan sekalipun seorang Syi’ah merasa dirinya aman. Ia me-nyatakan: “Lebih lanjut, tidak perlu merasa takut diperbo-lehkannya taqiyah ini, tetapi ia hanya diwajibkan bagi orang yang mencemaskan dirinya atau diri orang lain. Yang jelas, bahwa kemaslahatan persoalanlah yang merupakan dasar diwa-jibkannya taqiyah terhadap orang-orang yang berbeda penda-

__________

25) Al-Kaafi; 2/222. Ar-Rasaa-il: 2/185.

26) Jaami’ul Akhbaar; oleh Asy-Sya’iri; hal. 95.

27) Al-Kaafi: 2/372. Al-Waafi: 3/159.

28) Wasaa-ilu asy-Syii’ah: 11/466.

29) Ar-Rasaa-il; oleh al-Khumaini: 2/201.

pat. Jadi, wajib bertaqiyah dan menyembunyikan rahasia, se-kalipun merasa aman dan tidak mengkhawatirkan dirinya.”(30).

Jadi, bagaimana dapat dibedakan –hai Doktor- antara ke-jujuran kalian dengan taqiyah kalian?!!

Apakah Anda masih akan berusaha menjawab pertanyaan yang membingungkan ini?!! Adakah riwayat-riwayat dan keterangan-keterangan yang kami sajikan dan kami utarakan di dalam buku ini termasuk kelompok kitab-kitab musuh kalian ataukah ter-masuk kitab-kita kalian?!!

Pada hakikatnya, orang yang telah memerintahkan masya-rakat agar meratap-ratap, menangis, dan melakukan perhimpun-an perkabungan terhadap al-Husein di lorong-lorong dan pa-sar-pasar, dan dengan riang dan senang hati pada Hari Gha-dir, adalah Pemuka Daulah al-Buwaihi, sedang ia tergolong ulama Syi’ah Imamiyah, bukan Ahlul Bayt radhiyallahu ‘anhum … , apakah Anda mengerti hal itu hai Doktor ?!!

Adapun Ahlul Bayt radhiyallahu ‘anhum, mereka (dengan setia) mendengar kakek mereka shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda: “Meratap-ratap tergolong tindakan jahiliyah.”

Aduhai, aduhai, mereka hendak memerintahkan pelaksanaan perhimpunan perkabungan yang didirikan atas sikap-sikap ja-hiliyah.

Belumkah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Fatimah radhiyallahu ‘anha: “Apabila saya mati, ja-ngan engkau memurungkan wajah karena saya, jangan pula eng-kau mengurai rambut karena saya, jangan menyerukan kalimat-kalimat sial dan na’as, dan jangan menyerukan ratapan-ratap-an karena saya …?!!”(31).

Belumkah Sang Pakar Kaum Abu Ja’far ath-Thusi mengemu-kakan riwayat larangan meratap-ratap dalam bentuk ijma’?” (32).

__________

30) Sebagaimana riwayat ini telah dikutipkan kepada kami oleh Syeikh kalian Muhamamd Baqir al-Khunsari, di dalam Raudhlaatu al-Jannaat; 6/139. Juga oleh ahli hadis kalian Abbas al-Qumi di dalam “al-Kuna wa al-Alqaab”; 2/430.

31) Silahkan telaah lagi pasal “Wanita dan Upacara al-Hu-seiniyat”

32) Silahkan telaah “Sikap terhadap orang yang memperbolehkan meratap-ratap dan menampar-nampar”.

Ini terjadi atas dasar kerancuan Syi’ah di dalam me-ngutip hadis dan sikap over mereka dalam hal itu. Contohnya, seorang Pelindung Syi’ah Ahmad Husein Ya’qub menyatakan se-bagai berikut: “Demi untuk membunuh Imam al-Husein dan meng-hadapi rumah nabawi, maka Ubaidillah menghimpun sebanyak 30.000 (tiga puluh ribu) laskar.”(33). Selanjutnya, untuk meneguhkan ucapannya itu, ia mengutarakan riwayat yang dikutip dari al-Husein r.a., katanya: “Hai Keluargaku dan Syi’ahku, jadikanlah malam ini sebagai malam indah bagi kalian, dan selamatkanlah diri kalian. Sebab, yang dituntut bukan orang lain, kecuali diriku. Kalaupun mereka (berhasil) membunuhku, niscaya mereka tidak akan berpikir tentang diri kalian. Oleh karena itu, selamatlah kalian, semoga kalian dirahmati Allah, karena kalian berada dalam kebebasan dan kelonggaran dari baiat dan janji terhadapku yang pernah kalian nyatakan kepadaku.”(34).

Jadi, Imam al-Husein di sini telah berterus terang, bah-wa diri beliaulah yang dituntut, kalaupun mereka telah dapat menangkap beliau, tidak lagi berpikir kepada selain beliau. Sedang Anda mengatakan, bahwa yang dituntut adalah mengha-dapi Ahlul Bayt, manakah kebenaran ucapan Anda wahai pelin-dung?!!

Sebenarnya, riwayat-riwayat yang kalian nyatakan ber-ulang-ulang berkaitan pembunuhan al-Husein radhiyallahu ‘anhu, dan pada biasnya kalian menuduh, mencaci, mendengki, dan membuat huru-hara, adalah berasal dari riwayat-riwayat batil dan dusta yang tidak ada dasarnya. Bahkan hal ini te-lah dimengerti oleh tokoh dan mujtahid kalian Abdul Husein al-Hili, yang mana ia menyatakan: “Memang sebenarnya riwa-yat-riwayat itu tidak sepenuhnya benar. Demikian pula dengan

__________

33) Karbala’ ats-Tsauratu wa al-Ma’saah; hal. 280. Silahkan telaah pula; hal. 269, dan berikutnya.

34) Karbala’ ats-Tsauratu wa al-Ma’saah; hal. 297. Silahkan telaah pula; hal. 295, 296. Yang mana si pelindung menyanggah ucapannya sendiri. Lebih lanjut, kita pun akan merasa heran dengan permainan para pendengki ini terhadap kejadian-ke-jadian sejarah.

seluruh riwayat-riwayat lainnya tanpa diperkecualikan. Ada dua hal antara dipahami sebagai dusta dengan tidak dime-ngerti sebagai kejujuran. Sekiranya umat manusia senantiasa tidak seorang pun dari mereka mengutip kecuali hanya yang bersifat jujur, atau dimaklumi sebagai suatu kejujuran, mes-kipun dengan cara-cara nyata sesuai yang populer di kitab-kitab ushul dan hadis, niscaya akan tertutuplah pintu “me-ngutip riwayat”, dan tidak ada gunanya berdalil dengan pen-dapat para ahli sejarah.”(35).

Lebih lanjut, riwayat yang menyatakan: ” … hai keluar-gaku dan Syi’ahku, jadikanlah malam ini malam indah . . ” Itu bertentangan dan juga membantah riwayat yang dikutip oleh Doktor Ahmad Rasim an-Nafis maupuan emreka yang lain, yang menyatakan, bahwa Imam al-Husein radhiyallahu ‘anhu berkata kepada orang yang menganjurkan beliau agar tidak membawa serta para wanita bersama beliau. Orang itu adalah saudara beliau bernama Muhammad bin al-Hanafiyah, riwayat dari kakek beliau, yaitu beliau Sang Pilihan shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak me-lihat para wanita Anda menjadi tawanan.”(36).

Biarlah dijelaskan kepada kita oleh Doktor an-Nafis dua riwayat yang saling bertentangan tersebut.

Abdul Husein al-Hili asy-Syi’i yang sangat fanatik itu mengatakan: “Peristiwa Lorong (ath-Thaffu; artinya Lorong; di Karbala), belum juga sampai kepada kami, sampai kami men-cari-carinya melalui bantuan al-Mufid, asy-Syeikh, dan as-Sayyid, beserta kelompok mereka, hanyalah riwayat “mursal” (bukan sahih). Dan kebanyakan pernyataan sejarah bersifat mursal, sedang yang paling terpercaya adalah Ibnu Jarir ath-Thabari yang berasal dari riwayat dari Abu Mukhannif, sedang ia sendiri tidak menghadiri tragedi tersebut.”(37).

Mengertikah Anda wahai doktor, betapa kalian mengulang-ulang pernyataan berkait perhimpunan berkabung atas dasar riwayat-riwayat mursal, bukan yang dinilai jujur, dan kalian

__________

35) Asy-Sya’aair al-Husainiyyah fii al-Miizaani al-Fiqhi; hal. 29.

36) ‘Alaa Khathi al-Husain; hal 97, 101.

37) Asy-Sya’aair al-Husainiyyah; hal. 27.

menentang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkaitan la-rangan beliau terhadap sikap meratap-ratap. Kalian pun me-nentang puasa Asyura’ sekalipun puasa itu telah ditegaskan di kalangan kalian.

Sekarang terangkanlah kepada kami, hai doktor, mengapa Imam al-Husein ‘alaihi ridhlwanullah wa rahmatuhu menge-rahkan para wanita, lalu menjadi bingung dan mendorong agar semuanya kembali. Padahal sudah dinyatakan dari Nabi shalla-llahu ‘alaihi wa ‘alaih, bahwa Allah bertujuan hendak me-nyaksikan para wanitanya menjadi para tawanan?!!!

ooo 0 ooo

PASAL ENAM

PAHALA BERZIARAH KEPADA AL-HUSEIN DAN

BID’AH MEMBUAT BANGUNAN DI ATAS KUBUR

PEMBAHASAN SATU

PAHALA BERZIARAH KEPADA AL-HUSEIN R.A.

Syi’ah meriwayatkan dari Abu al-Hasan al-Madhi, ia me-ngatakan: “Barangsiapa berziarah kepada al-Husein a.s. atas dasar memahami hak beliau, nsicaya Allah mengampunkan dosa-dosanya yang telah lampau dan yang akan datang.” (38).

Riwayat dari Abu Abdillah, ia berkata: “Barangsiapa ber-ziarah kepada al-Husein a.s., akan dituliskan oleh Allah ba-ginya (pahala) delapan puluh haji mabrur.”(39).

Dari Abu Abdillah, ia berkata: “Barangsiapa mengunjungi kubur al-Husein atas dasar menyadari hak beliau, maka itu seperti berhaji tiga kali haji bersama Rasulullah shalla-llahu ‘alaihi wa ‘alaih.”(40).

Dari Abu Abdillah, ia berkata: “Barangsiapa mengunjungi kubur al-Husein atas dasar menyadari hak beliau, maka itu seperti berhaji seratus haji.”(41).

__________

38) Kaamilu az-Ziyaaraat; hal. 262.

39) Al-Mazaaru; oleh al-Mufid; hal. 47.

40) Kaamilu az-Ziyaaraat; hal. 267.

41) Kaamilu az-Ziyaaraat; hal. 304. Wasaa-ilu asy-Syii’ah; 10/350.

Dari Huzaifah bin Manshur, ia berkata: “Abu Abdillah bertanya kepadaku: “Sudah berapa kali engkau berhaji?” Saya menjawab: “Sembilan belas kali.” Katanya: “Lalu beliau ber-kata: “Adapun jika engkau sempurnakan sebanyak 21 kali haji, niscaya akan ditetapkan bagimu seperti (pahala) orang yang berziarah kepada al-Husein.”(42).

Riwayat dari Muhammad bin Muslim dari Abu Abdillah, ia berkata: “Barangsiapa berziarah kubur al-Husein atas dasar memahami hak beliau, niscaya Allah akan menuliskan pahala baginya seribu haji makbul (yang terkabul), dan diampunkan pulalah dosa-dosanya yang telah lampau maupun yang akan da-tang.”(43).

Di antara hadis-hadis batil yang beraneka ragam yang mereka unggulkan, termasuk di dalamnya bersujud di atas ben-da yang mereka sebut “at-Turbah al-Husainiyah” di tanah su-ci. Pernah salah seorang ulama mereka Ayatullah Udhma Mu-hammad al-Huseini asy-Syirazi ditanya persoalan ini: “Dika-takan, bahwa bumi Karbala’ lebih utama dibanding bumi Mekah, dan bersujud pada at-Turbah al-Husainyah (tanah kubur al-Husein r.a.) lebih utama dibanding bersujud di bumi al-Haram (Mekah), . . . apakah itu benar?”

Ia menjawab: “Benar.”(44).

Sebagaimana salah seorang Syeikh dan Ayatullah mereka Muhammad al-Husein Kasyifu al-Ghitha’ sering mengulang-ulang syair (yang artinya kurang lebih seperti) berikut:

Di antara pernyataan (tentang) Karbala dengan Ka’bah, tentulah Karbala’

atas dasar pengetahuan-pengetahuan (‘uluum) tentang

tanah kubur adalah Karbala’

atas dasar pengetahuan-pengetahuan tentang tanah ku-bur.”(45).

__________

42) Kaamilu az-Ziyaaraat; hal. 303-304. Wasaa-ilu asy-Syii’ah; 10/350.

43) Wasaa-ilu asy-Syii’ah; 10/347.

44) Al-Fiqhu al-‘Aqaa-id; hal 37.

45) Al-Ardhlu wa at-Turbatu al-Husainiyyah; hal 26.

Ayatullah mereka Abdul Husein (akan celaka): “Kiranya “Tuhan semesta alam telah berbelas kasih kepada hamba-hamba-Nya yang berziarah ke kubur al-Husein a.s. sebagai ganti berhaji ke Baitullah al-Haram, agar dipegang teguh oleh orang-orang yang tidak diberi kemampuan melaksanakan Haji, bahkan pahalanya pada sebagian orang-orang beriman yang mana mereka memperhatikan syarat-syarat berziarah, adalah lebih besar dibanding pahala ibadah haji, sebagaimana itu dite-gaskan oleh banyak riwayat yang disampaikan dengan penger-tian seperti ini.”(46).

Mereka menisbatkan riwayat kepada hadis Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau s.a.w. bersabda tentang Kar-bala: “Itu adalah belahan bumi paling suci dan paling agung kehormatannya, dan ia berasal dari sungai surga.”(47).

Sebenarnya, berziarah kepada al-Husein r.a. bukan ber-asal dari agama. Sebab Islam sudah sempurna sebelum adanya kuburan beliau, yang selanjutnya kuburan itu ada pada masa sesudahnya. Di dalam menyikapi ucapan-ucapan yang berlebih-lebihan seperti itu, cukuplah bagi Anda firman Allah ‘Azza wa Jalla: “

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا.

“Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini te-lah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucu-kupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS: Al-Maa-idah 3).

Sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak meme-rintahkan pelaksanaan seperti itu kepada Amirul Mukminin Ali, al-Hasan, al-Husein, Abu Dzar, Miqdad bin al-Aswad, Ammar bin Yasir, Hudzaifah bin al-Yaman, Abu Sa’id al-Khud-

__________

46) Ats-Tsaurah al-Husainiyyah; oleh D. Sataghayab; hal. 15, cet. Daar at-Ta’aaruf – Beirut

47) As-Sujuud ‘ala at-Turbati al-Husainiyyah oleh Muhammad Ibrahim al-Qazwaini; hal. 25. Juga tercantum dalam as-Sujuud ‘alal ‘Ardhl; oleh Ayatullah Ali al-Ahmadi; hal. 140.

ri, dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum lainnya, maka tidak tersedia bagi mereka keutamaan berziarah ke kubur ini?!!

Adapun orang-orang yang datang sesudah pembunuhan beliau r.a., di antaranya Imam ash-Shadiq ‘alaihi rahmatullah, maka diriwayatkan oleh Syi’ah, dari Hanan bin Sadir, ia berkata: “Saya bertanya kepada Abu Abdillah a.s.: “Apakah pendapat tuan tentang berziarah ke kubur al-Husein, karena telah di-sampaikan kepada kami oleh seseorang dari kelompok tuan, ia berkata: “Itu setara dengan haji dan umrah.”

Beliau menjawab: “Betapa beratnya ucapan seperti ini, ia tidak sebanding dengan itu semua. Tetapi berziarahlah ka-lian, dan jangan mengada-ada. Karena dia adalah seorang pe-mimpin pemuda penghuni surga. . . “(48).

PEMBAHASAN DUA

BID’AH MEMBUAT BANGUNAN DI ATAS PEKUBURAN

Syi’ah melakukan perbuatan dosa berkaitan mendirikan ba-ngunan di atas kubur beliau r.a. Salah seorang imam mereka, asy-Syirazi menegaskan: “Syi’ah berkeyakinan, bahwa memba-ngun kuburan dan kubah-kubah di atas kubur-kubur para nabi, para imam, maupun pribadi-pribadi muslim termasuk pendekatan diri kepada Allah s.w.t. yang paling utama.”(49).

Itu adalah pendapat yang batil, sebab Nabi s.a.w. mela-rang pengadaan bangunan di atas pekuburan. Bahkan Syi’ah

__________

48) Wasaa-ilu asy-Syii’ah 10/352. Hadis ini menentang ri-wayat-riwayat yang lalu, dan yang hanya diriwayatkan oleh Syi’ah. Sebenarnya, tidak diragukan lagi, itu semua adalah ziarah-ziarah yang tidak ada dasarnya, oleh karena itu sudah nyata batil. Pembaca budiman, Anda layak mempertanyakan: “Apabila ziarah tersebut mengandung kepentingan seperti itu, mengapa justru tidak dijelaskan di dalam Kitabullah maupun sunah Rasulullah s.a.w.? Jadi kenyataannya; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan tentang terbununya al-Husein r.a., tetapi beliau tidak memerintahkan agar berziarah ke kuburnya, tidak pula agar menjadikan hari pembunuhan beliau itu sebagai upacara tahunan seperti yang dilakukan Syi’ah.

49) Al-Fiqhu al-Aqaaid; hal. 365.

sendiri meriwayatkannya, dari Abu Abdillah a.s., beliau ber-kata: “Rasululah shallallahu ‘alaihi wa ‘alaih seseorang me-lakukan salat di atas kubur, atau duduk di atasnya, atau membuat bangunan di atasnya.”(50).

Diriwayatkan dari Nabi s.a.w., bahwa beliau melarang se-seorang melabur (melabur dengan kapur) kubur, atau membuat bangunan di atasnya, atau duduk di atasnya.”(51).

Dengan begitu para imam sendiri telah mengutip larangan-larangan ini. Diriwayatkan dari Imam ash-Shadiq rahimahu-llah, beliau berkata: “Di antara tindakan makan barang-ba-rang kotor, adalah; Harta suap di dalam pemerintahan, mas-kawin pelacur, upah dukun, harga (jual) anjing, dan orang-orang yang membangun bangunan di atas kubur.”(52).

Riwayat dari Ali bin Ja’far, ia berkata: “Saya bertanya kepada Abu al-Hasan Musa a.s., tentang mendirikan bangunan di atas kubur dan duduk-duduk di atasnya. Apakah itu di-perbolehkan?” Beliau menjawab: “Tidak diperbolehkan mendi-rikan bangunan di atasnya, tidak pula duduk-duduk, dan tidak pula melaburnya ataupun menyemennya.”(53).

Kami menasehatkan kepada orang-orang Syi’ah agar menia-dakan pembangunan di atas kubur. Demikian pun sekiranya me-reka meneladani Amirul Mukminin Ali r.a. dan sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang untuk itu Nabi s.a.w. diutus, hen-daklah mereka meruntuhkan kubur-kubur dan menghancurkan gedung-gedungnya, sehingga kelak akan menjadi teladan bagi generasi berikut. Sebagaimana nanti akan kami jelaskan.

Waspadalah, dan waspadalah untuk tidak mendirikan masjid di atas kuburan. Diriwayatkan dari Sama’ah bin Mahran, bahwa ia pernah bertanya kepada Abu Abdillah a.s. tentang berzia-rah kekubur dan membangun masjid-masjid di pekuburan. Beliau menjawab: “Berkaitan berziarah kubur, itu tidak mengapa, te-

__________

50) Wasaa-ilu asy-Syii’ah; 2/869.

51) Mustadrak al-Wasaa-il; 1/127.

52) Ibid.

53) Wasaa-ilu asy-Syii’ah; 3/869. Jaami’u Ahaadiitsi asy-Syii’ah; 3/444.

tapi jangan membangun masjid-masjid di atasnya.”(54).

Juga Waspadalah, dan waspadalah untuk tidak menjadikan-nya sebagai kiblat ataupun masjid, atas dasar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘alaih: “Jangan kalian jadikan kubur-ku sebagai kiblat, jangan pula sebagai masjid. Sebab Allah ‘Azza wa Jalla telah mengutuk orang-orang Yahudi dan Nash-rani pada saat mereka menjadikan kubur-kubur para nabi me-reka sebagai masjid-masjid.”(55).

Diriwayatkan dari Amirul Mukmini Ali r.a., beliau ber-kata: “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘alaih bersabda: “Janganlah kalian menjadikan kuburku seba-gai masjid, jangan pula rumah-rumah kalian sebagai pekubur-an. Bersalawatlah kepadaku di mana pun kalian berada, sebab shalawat kalian dan salam kalian itu dapat sampai kepadaku.” Di lain riwayat ditambahkan: “Dan jangan pula kalian jadikan kubur-kubur kalian sebagai masjid-masjid.”(56).

Pada saat salah seorang Syeikh mereka Muhammad al-Hu-seini Alu Kasyif al-Ghitha’ menyanggah masalah pendirian bangunan di atas kubur di dalam risalahnya berjudul “Naqdhlu Fataawa al-Wahaabiyyah; hal. 27″, maka itu tidak tersanggah. Di samping ia pun sengaja menggunakan riwayat-riwayat yang diriwayatkan dari jalur-jalur Syi’ah, agar para pembaca ber-anggapan, bahwa larangan mendirikan bangunan di atas kubur dan sanggahan tersebut berasal dari jalur-jalur Ahlussunah, dan ia pun menuduhnya sebagai orang-orang pengikut Wahabi. Demikian anggapan-anggapan mereka atas dasar pemahaman yang keliru. Bahkan telah dinyatakan sebagaimana diriwayatkan Muslim, dari Ali r.a., bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘alaih memerintahkan kepada saya agar saya tidak membi-arkan suatu kubur yang dibangun tinggi (di atas tanah) ke-cuali (harus) saya ratakan dengan tanah!”(57).

__________

54) Al-Kaafi; 3/218. Man laa yahdhluruhu al-faqiih; 1/114. Wasaa-ilu asy-Syii’ah; 2/887.

55) Man laa yahdhluruhu al-faqiih; 1/114. ‘Ilal asy-Syaraa-I’; hal. 358. Al-Waafi; 5/72. Wasaa-ilu asy-Syii’ah; 2/887, dan 3/455.

56) Mustadrak al-Wasaa-il; oleh an-Nuri; 1/225.

Ia pun tidak mengutarakan riwayat-riwayat lain yang me-larang dengan larangan tegas tentang mendirikan bangunan di atas kubur dari jalur kedua belah pihak. Dan ini termasuk bukti yang jelas, bahwa ulama kelompok ini (Syi’ah) sengaja menuduh, berdusta, dan melakukan manipulasi, demi membela mazhab mereka.

Dengan ini Anda dapat melihat keterusterangan al-Kho-maini pada saat ia menyatakan: “Sekiranya tidak karena “ta-qiyah” (sikap berpura-pura), niscaya mazhab ini mengarah ke-pada sirna dan punah.”(58).

Tahukah Anda, hai saudara muslim, bahwa berkaitan dengan upaya memanipulasi riwayat-riwayat di atas, segnaja ia meng-utarakan dua riwayat Syi’ah sendiri yang jelas menguatkan riwayat Muslim berkaitan hadis Ali. Yang pertama, adalah riwayat yang dikemukakan oleh al-Kulaini dan al-Hurr al-‘Amili dari Abu Abdillah rahimahullah. Amirul Mukmini Ali a.s. berkata: “Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa ‘alaih meng-utusku ke Madinah, lalu beliau bersabda: “Jangan engkau bi-arkan suatu gambar pun, kecuali engkau sirnakan, dan jangan pula engkau biarkan suatu kubur, melainkan engkau ratakan (dengan tanah), dan jangan pula seekor anjing, melainkan engkau bunuh.”(59).

Riwayat kedua, adalah yang diriwayatkan oleh al-Kulaini dan al-Hurr al-‘Amili, dari Abu Abdillah rahimahullah, beli-au berkata: “Amirul Mukminin a.s. berkata: “Rasululalh s.a.w. mengutusku untuk meruntuhkan kubur dan merusak gambar.”(60).

__________

57) Dengan begitu, ia memperbandingkan riwayat ini dengan re-kayasa memadukan kepada riwayat yang berlawanan, bukan atas dasar, bahwa hadis itu benar diriwayatkan di dalam jalur-ja-lur Syi’ah sendiri. Silahkan Anda menelaah hal. 31 dan sete-rusnya.

58) Ar-Rasaa-il; oleh al-Khumaini; 2/185.

59) Al-Kaafi; 6/528. Wasaa-ilu asy-Syii’ah; 2/869.; Jaami’u Ahaadiitsi asy-Syii’ah; 3/445.

60) Al-Kaafi; 6/528. Wasaa-ilu asy-Syii’ah; 2/870.; Jaami’u Ahaadiitsi asy-Syii’ah; 3/445.

Sikap aneh masih belum berakhir, bahkan Kasyifu al-Ghi-tha’ diikuti pula oleh Syi’I lain bernama Hasan Sa’id, yang mana ia meriwayatkan riwayat Muslim dari Ali r.a., kemudian mengemukakan riwayat lain pada Muslim, dan juga at-Turmudzi tentang larangan melabur kubur dan mendirikan bangunan di atasnya.”(61). Lebih lanjut, ia memanipulasi bahwa ulama te-lah sepakat memperbolehkan mendirikan bangunan di atas kubur dan melakukan kesepakatan (menulis; al-kitaabah) di atas-nya.”(62). Ini adalah dusta yang mengagumkan. Apabila Anda ingin menelaahnya, silahkan merujuk kitab “Tahdziiru al-ma-saajid min ittikhoodzi al-qubuur masaajid”; oleh al-Albani.

Juga ia menisbatkan kepada para imam, bahwa mereka ijma’ pada ketentuan itu. Ini pun dusta, karena terdapat riwayat-riwayat lain yang berlawanan dari para imamnya, yang mana mengharamkan mendirikan bangunan di atas kubur, hanya saja disembunyikan oleh Kaasyifu al-Ghitha’, dan hukum tentang masalah ini (di kalangan mereka) masih merupakan polemik. Salah seorang Syeikh mereka Yusuf al-Bahrani mengatakan: “Secara tegas dinyatakan oleh sejumlah rekan-rekan berkaitan hukum makruh melabur kubur dan membuat bangunan di atasnya. Tetapi yang jelas dianggap ijma’.”(63)

Asy-Syeikh pada bagian akhir menyatakan: “Makruh melabur kubur dan mendirikan atap di atasnya.” Sedang di dalam “al-Mabsuuth” dinyatakan: “Melabur kubur dan mendirikan bangunan di atasnya di tempat-tempat yang mubah adalah makruh menurut ijma’.”

Seorang alamah dan muhaqqiq mereka bernama al-Mala Mu-hammad Baqir as-Sabzuari mengatakan: “Berkaitan soal mendi-rikan bangunan di atas kubur, itu makruh menurut rekan-re-kan.” Dikutip oleh pengarang tersebut di dalam “at-Tadz-kirah”, bahwa itu merupakan ijma’. Demikian pula asy-Syeikh di dalam “adz-Dzikra” menyatakan: “Pendapat yang masyhur adalah makruh mendirikan bangunan di atas kubur dan menja-

__________

61) Di dalam kitabnya berjudul “ar-rasuul wa asy-Syii’ah”; hal. 132,136.

62) Ibid; hal. 137.

63) Al-Hadaa-iq; 4/130.

dikannya sebagai masjid.” Setelah meriwayatkan riwayat-ri-wayat tersebut, ia pun mengatakan: “Riwayat-riwayat ini juga diriwayatkan oleh ash-Shaduq, asy-Syaihan, dan jemaah ulama moderen di dalam kitab-kitab mereka, dan mereka tidak mem-perkecualikan tentang kubur.”(64).

Ijma’ di kalangan mereka yang menyatakan makruh membuat bangunan di atas kubur, juga dikutipkan oleh seorang syeikh mereka Muhammad Jawad al-Huseini al-‘Amili(65). Seiring de-ngan itu seorang syeikh mereka yang lain, as-Sabzuwari me-ngutip pernyataan syeikh mereka asy-Syahid al-Awal, bahwa (Syi’ah) Imamiyah telah bersatu menentang ijma’ yang dikutip oleh syeikh kelompok mereka Abu Ja’far ath-Thusi dan alamah mereka al-Hili beserta mereka yang lain dari kalangan ulama mereka(66). Sebagaimana mereka pun menentang ijma’ mereka yang mengharamkan perbuatan meratap-ratap dan menampar-nampar.

Oleh karena itu renungkanlah, wahai orang yang bermata hati!

Sebenarnya, mereka tidak menghormati, tidak pula patuh kepada riwayat-riwayat serta ijma’ ulama mereka. Jadi, me-reka dapat menyatakan ijma’ lalu menyanggahnya sendiri.

ooo 0 ooo

__________

64) Dzuhratu al-Ma’aad fii syarhi al-irsyaad; oleh as-Sabzuwari; hal 343.

65) Miftaahu al-Karaamah; Syarah “Qawaa-‘idu al-‘Alaamah”; oleh al-‘Amili; 2/856.

66) Dzuhratu al-Ma’aad fii syarhi al-Irsyaad; hal. 344.

PENUTUP

Pada bagian penutup pembahasan ini, akan saya sajikan sejumlah kesimpulan yang diperoleh daripadanya:

1. Bahwa penduduk Kufahlah orang-orang yang telah menulis surat kepada al-Husein r.a., dan nmereka meminta agar beliau datang. Tetapi selang beberapa lama mereka ber-balik menghinakan orang yang menjadi utusan beliau, yaitu Muslim bin ‘Uqail dan berkhianat terhadapnya. Ke-mudian datang pula sejumlah orang kepada al-Husein agar beliau menderita pengkhianatan dari mereka sebagaimana diderita oleh Muslim bin Uqail. Bahkan bukan al-Husein seorang yang telah dikhianati Syi’ah, tetapi mereka te-lah mengkhianati pula sebelum itu, ayah beliau dan juga saudara beliau. Selanjutnya juga terhadap para imam Ahlul Bayt radhiyallahu ‘anhuma.

2. Bukti rasa cinta Ali dan Ahlul Bayt beliau kepada para sahabat (sahabat Rasul s.a.w. –pen), beliau berkenan memberi nama putra-putra beliau dengan nama-nama para sahabat tersebut, seperti nama; Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Seseorang tentu akan memberi nama putra-pu-trinya dengan nama orang yang tersayang di hatinya.

3. Bahwa yang disebut sebagai syiar-syiar al-Huseiniyah, adalah perayaan yang tidak ada pada masa para imam. Te-tapi kemudian diadakan pada masa belakangan. Jadi, me-ratap-ratap dan menampar-nampar, memakai pakan hitam justru secara ijma’ dilarang sebagaimana telah kami ku-tip pernyataan dari ulama mereka.

4. Orang-orang Syi’ah menentang puasa Asyura, dan menuduh-kannya sebagai buatan bani Umayah. Padahal sudah sepe-nuhnya jelas tersebut di dalam kitab-kitab mereka sen-diri anjuran berpuasa pada hari tersebut.

5. Syi’ah memperbolehkan pendirian bangunan di atas kubur sekalipun terdapat ketentuan larangan dari Nabi s.a.w. tentang itu, melalui riwayat-riwayat dan ijma’ ulama mereka sendiri.

Tidak terlewatkan, pada bagian penutup pembahasan ini, kami hendak menjelaskan kepada setiap orang Syi’ah, bahwa tidak ada kewajiban untuk menyerahkan “al-Khumus” (seperlima pendapatan) kepada orang-orang yang mereka sebut “Para Sa-yid” dan para penerus imam. Yaitu didasarkan pada dua ala-san:

Pertama: Al-Khumus tidak disalurkan, kecuali dari hasil pam-pasan perang itu saja. Dengan dasar, riwayat dari Abdu-llah bin Sinan: “Saya mendegnar Abu Abdillah a.s. ber-kata: “Tidak disebut “al-Khumus“, kecuali berkaitan de-ngan pampasan perang secara khusus.”(67).

Diriwayatkan dari Abu Abdillah a.s. dan Abu al-Hasan alaihimassalam: “Bukanlah disebut al-Khumus, kecuali berkaitan dengan pampasan perang.” (68).

Kedua : Para imam memperbolehkan (penyaluran) al-Khumus bagi syi’ah mereka. Diriwayatkan dari Dharis al-Kunnasi, ia mengatakan: “Abu Abdillah a.s. mengatakan: “Tahukah engkau dari manakah masuknya perzinahan kepada manu-sia?” Saya menjawab: “Saya tidak tahu.” Lalu beliau berkata: “Sejak sebelum kami Ahlul Bayt menyalurkan al-khumus kepada syi’ah kami dari kalangan orang-orang ba-ik. Sebab al-Khumus itu halal bagi mereka dan juga bagi orang-orang yang dilahirkan oleh mereka.”(69).

Riwayat dari Abu Ja’far a.s., ia berkata; “Sesungguhnya Amirul Mukminin a.s. menghalalkan bagi mereka (syi’ah) untuk menanggulangi kebutuhan rumah mereka.” (70).

Dan masih banyak lagi riwayat-riwayat yang memperboleh-kan Syi’ah menyalurkan al-Khumus, yang sengaja kami tidak mengutarakannya karena khawatir akan berpanjang lebar. Se-orang syeikh pimpinan al-Imamiyah Abu Ja’far Muhammad bin

__________

67) Jaami’u Ahaadiitsi asy-Syii’ah; 10/8, 17, 23, 24. Wasaa-ilu asy-Syii’ah; 6/336.

68) Jaami’u Ahaadiitsi asy-Syii’ah; 10/8, 17. Wasaa-ilu asy-Syii’ah; 6/336.

69) Wasaa-ilu asy-Syii’ah; 5/379. Jaami’u Ahaadiitsi asy-Syii’ah; 10/88.

70) Wasaa-ilu asy-Syii’ah; 6/383. Jaami’u Ahaadiitsi asy-Syii’ah; 10/88-89.

al-Hasan ath-Thusi mengatakan: “Adapun di dalam kondisi yang tidak kondusif, maka mereka mengizinkan syi’ah mereka untuk menyalurkan hak-hak mereka kepada orang-orang yang bertalian dengan khums, dan juga mereka yang lain sesuai kewajiban yang terkait, baik berupa pernikahan, perdagangan, maupun kemiskinan.”(71).

Fatwa seperti ini juga dikemukakan oleh al-Muhaqqiq al-Hili di dalam “Syaraa-I’u al-Islaam”, Muhammad Baqir as-Sab-zuwardi di dalam “Dzakhiiratu al-Ma’aad”; al-Mala Muhsin yang digelari al-Faidhl al-Kasyani di dalam “Mafaatiihu asy-Syaraa-i’, dan ulama lainnya yang mereka jadikan sandaran. Dengan ini, tidak terdapat (hukum) yang mengharuskan Syi’ah menyalurkan khums, tetapi justru dasar-dasar yang ada menyatakan sebaliknya.

Itulah yang dimudahkan penyusunannya kepada saya oleh Allah, seraya berharap kepada Paduka (Allah) ‘Azza wa Jalla, kiranya akan mendatangkan manfaat.

Segala puji bagi Allah dengan pujian sebanyak-banyaknya.

Sholawat serta salam semoga terlimpah kepada Muhammad beserta keluarga beliau.

Penyusun

Sabtu kedua Ramadan 1422 h.

Bertepatan,

17/11/2001 h.

__________

71) An-Nihaayatu fii mujarradi al-fiqhi wa al-fataawa; hal. 200, edisi Daar al-Kitaab al-‘Urthubi – Beirut.

REFERENSI KITAB

HURUF ALIF:

· Al-Ihtijaaj; oleh Ahmad bin Ali ath-Thabrisi; Syarikah al-Kubti – Beirut 1414 h.

· Adaabu al-Manaabir al-Husainiyyati; oleh Hasan Mughni-yah; Edisi pertama, cet. Daar al-Mujtaba – Beirut 1415 h.

· I’rifil Haqqa; oleh Muhammad at-Tijani al-Samawi; edisi pertama, cet. Daar al-Mujtaba – Beirut 1415 h.

· Al-Ibtishaar fiimaa khtalafa mina al-akhbaar; oleh Abu Ja’far Muhammad bin al-Hasan ath-Thusi; cet. An-Najaf.

· A’yaanu asy-Syii’ah; oleh Muhsin al-Amin; cet. Daar at-Ta’aaruf – Beirut.

· Al-Irsyaad; oleh Muhammad an-Nu’man; edisi ketiga; mua-ssasatul a’lami – Beirut 1979 m.

· Adhlwaa-u ‘alaa tsaurati al-Husain; oleh Muhammad ash-Shadr.

· Al-Ardhlu wa at-Turbatu al-Husainiyyah; oleh Muhammad bin al-Husein Kasyiful Ghitha’; cet. Muassasah Ahlil Bayt – Beirut 1402 h.

· Iqbaal al-A’maal; oleh Ibn Thawus; cet. Daar al-Kutuub al-Islamiyyah – Teheran.

HURUF BA’:

· Bihaaru al-Anwaar al-Jaami’ah li Durari Akhhbaari al-Aaimah al-Athhaar; oleh Muhamamd bin Baqir al-Majlisi; edisi kedua; Daar Ihyaa’ at-Tiraats al-‘Arabi – Beirut 1403 h.

HURUF TA’:

· Ta’aal natafaahimu; oleh Abdul Hadi Abdul Hamid; cet. Kuwait.

· Tahdziibu al-Ahkaam; oleh Syeikh ath-Tha-ifah ath-Thusi; cet. Teheran.

· Tadhlimu az-Zahra’; oleh Ridha bin Bani al-Qazwaini; cet Beirut Lebanon.

· Taariikh al-Kuufah; oleh Husein bin Ahmad al-Baraqi; edisi keempat; Daar al-Adhlwaa’ – Beirut 1407 h.

· Tafsiir Nuur ats-Tsaqalain; oleh Abdu Ali al-Arusi al-Huwaizi – cet. Qum – Iran.

· Tafsir ash-Shafi; oleh al-Fadhl al-Kasyani; cet. Al-Muassasah al-A’lami – Beirut 1413 h.

· Tsaurah at-Taff; oleh Thalib al-Khursan; edaran Anwaar al-Hadi – Qum 1413 h.

· At-Tsaurat al-Husainiyyah; oleh Abdu al-Husein D. Sataghayyib; cet. Daar at-Ta’aaruf – Beirut.

· Tsummah tadaitu; oleh Ahmad at-Tijani – cet. Mu-assasah al-Fakhr – London.

HURUF JIM:

· Jaami’u Ahaadiitsi asy-Syii’ah; al-Mathba’ah al-‘Alami-yyah – Qum – Iran.

· Jawaahir al-Kalaam; oleh Muhammad bin al-Hasan an-Na-jafi – Daar Ihyaa’ at-Tiraats al-‘Arabi – Beirut.

HURUF HA’:

· Huwaar ma’a Fadhlillaah haula az-Zahra’; oleh Hasyim al-Hasyimi; edisi keempat; cet. Madrasah al-Irwani.

· Al-Hadaa-iq an-Naadhlirah; oleh Yusuf al-Bahrani; edisi kedua; Daar al-Adhlwa’ – Beirut 1405 h.

· Al-Husain wa Mas-uliyyat al-Tsaurah; oleh Hasan ash-Shaffar.

HURUF KHO’:

· Khoiru al-Ash-haab; oleh Abdul Hadi Abdul Hamid; edisi pertama 1421 h.

· Khathbu al-Masiirah al-Karbalaiyyah; oleh Qashir Qa-lith; edisi al-Awwal; Daar al-Balaghah – Beirut 1417 h.

HURUF DZAL:

· Dzikra asy-Syii’ah fii ahkaami asy-Syar’iyyah; oleh Muhammad bin Makki al-‘Amili – Cet. Maktabah Bashiirati.

· Dzakhiirahtu al-Ma’aad fii Syarhi al-Irsyaath; oleh Mu-hammad Baqir as-Sabiswari – Cet. Muassasah Alil Bayt li Ihyaa’ at-Tiraats.

HURUF RA’:

· Raudhlatu al-Jannaat fii Ahwaali al-‘Ulamaa’ wa as-Saa-daat; oleh Muhammad Baqir al-Khunsari – Beirut 1991 m.

· Raa-idu al-Fikri al-‘Arabi; oleh Hadi Fadhlullah.

· Ar-Rasaa-il; oleh Ruhullah al-Khumaini; Cet. Qum – Iran.

· Rijaalu al-Kasyi – Muassasah al-A’lami li al-Mathbuu-’aat – Karbala.

· Ar-Rasul wa asy-Syii’ah; oleh Hasan Sa’id; Cet. Makta-bah al-Alfain – Kuwait.

HURUF SIN:

· Siiratu al-A-imah al-Itsna ‘Asari; oleh Hasyim Ma’ruf al-Huseini; Cet. Asy-Syariifu ar-Ridhla – Qum – Iran.

· Safiinatu an-Najaah;oleh Abdul Husein Ibrahim al-‘Ami-li; edisi dua puluh; Edisi dua puluh; Cet. Daar al-Hau-ra’ – Beirut 1407 h.

· As-Sujuud ‘ala at-Turbah al-Huseiniyyah; oleh Muhammad bin Ibrahim al-Qazwaini; Edisi kedua 1402 h.

· Safiir al-Husain Muslimu bni ‘Uqail; oleh Muhammad Ni-’mat as-Samawi; Daar al-Murtadhla – Beirut.

HURUF SYIN:

· Asy-Sya’aair al-Husainiyyah fi a-Miizaani al-Fiqhi; oleh Abdu al-Husein al-Hili; Cet. Maktabah at-Thaff – Damaskus 1995 m.

· Asy-Sya’aair al-Husainiyyah; oleh hasan asy-Syirazi; Cet. Daar ash-Shadiq; Beirut 1419 h.

· Asy-Syii’ah hum Ahlu as-Sunnah; oleh Muhammad at-Tijani; Nasyr Syams al-Musyarraf; Beirut.

· Asy-Syii’ah wa Asyuura’; oleh Ridhla Husein al-Huseini; edisi pertama; Daar al-Murtadhla – Bbeirut 1996.

HURUF SHAD:

· Shiyaamu Aasyuura’; oleh Jamaluddin bin Abdullah; edisi pertama; Beirut 1418 h.

· Shiraath an-Najaah; oleh Abu al-Qasim al-Khu-i, diser-tai kupasan dan lampiran oleh Miza Jawwad at-Tabrizi; Cet. Maktabah al-Faqiih – Kuwait.

HURUF THA’:

· Ath-Thariq ilaa Madzhabi Ahli al-Bayt; oleh Dr. Ahmad Rasim an-Nafis; Cet. Al-Ghadir – Beirut.

HURUF ‘AIN:

· ‘Uyuunu Akhbaar ar-Ridhla; oleh Muhammad bin Ali bin Babuwaih al-Qumi; Cet. Teheran – Iran.

· ‘Uddatu ad-Daa’i wa Najaahu as-Saa’I; oleh Ahmad bin Fahd al-Halbi; Edisi Daar al-Kitab al-Islami 1407 h.

· Aasyuura’; oleh Syeikh Kadhim Hamd al-Ihsaa-I an-Naja-fi; Edisi pertama; Muassasah al-Ballagh – Beirut 1411 h.

· ‘Ala Khathi al-Husain; oleh Dr. Ahmad Rasim an-Nafis; al-Ghair – Beirut 1418.

· ‘Ilal asy-Syaraayi’; oleh Muhammad bin Ali bin Babuwaih ash-Shaduq; Cet. An-Najaf.

HURUF FA’:

¨ Al-Fiqhu al-‘Aqaa-id; oleh Muhammad al-Husaini asy-Syi-razi; edisi pertama 1412 h.

¨ Faqiih man laa yahdhluruhu al-Faqiih; oleh Muhammad bin Ali bin Babuwaih al-Qumi; Cet. Daar al-Kutub al-Islami-yyah – Teheran.

¨ Fii Rihaabi Ahli al-Bait; oleh Muhamamd Husein bin Fadhlullah; Cet. Maktabah al-Faqiih – Kuwait.

¨ Fii Rihaabi al-Karbalaa’; oleh Syeikh Husein Kurani; Daar at-Ta’aaruf li al-Mathbu’aat – Beirut 1413 h.

¨ Al-Fiqhu; oleh Muhammad al-Husaini asy-Syirazi; edisi kedua; Daar al-‘Uluum – Beirut 1408 h.

¨ Faaji’atu ath-Thaff; oleh Amir Muhammad Kadhim al-Qaz-waini; edisi delapan 1971 m.

¨ Falsafatu Asyuura’; oleh Ali al-Khameini; Maktabah al-Asfar – Kuwait.

HURUF KAF:

· Al-Kaafi; oleh Muhamamd bin Yakub al-Kulaini; Cet. Daar al-Kutub al-Islaamiyyah; Teheran – Iran.

· Karbala’ ats-Tsauratu wa al-Maasaah; oleh al-Mahami Ah-mad Husein Ya’qub; al-Ghadir; Beirut 1418 h.

· Kullu al-Huluul; oleh Muhammad at-Tijani; edisi perta-ma; Daar al-Mujtaba – Beirut 1416 h.

· Kaamilu az-Ziyaaraat; oleh Ibnu Quluwiyah; edisi perta-ma; Daar as-Suruur – Beirut 1418 h.

HURUF LAM:

· Lawaa-ij al-Asyjaan; oleh Muhsin al-Amin al-‘Amili; Cet. Daar al-Amiir – Beirut 1996 m.

· Laqad syayya’ani al-Husain; oleh Idrsi al-Huseini; edi-si pertama; Daar an-Nakhil – Beirut 1414 h.

HURUF MIM:

· Muhaawarah ‘Aqaa-idiyyah; oleh Amir Muhammad Kadhim al-Qazwaini; edisi pertama.

· Maqtal al-Husain Yaumi ‘Aasyura’; oleh Fadhlil Abbas al-Hanawi; Cet. Qum 1412 h.

· Malhamatu ath-Thaff; oleh Abdu Ali. Muhammad Hubail; edisi pertama; Daar Ahli al-Bayt Jad Hafsh al-Bahrain 1412 h.

· Al-Mu’tabar fii Syarh al-Mukhtashar; oleh Najmuddin Abu al-Qasim Ja’far bin al-Hasan al-Hili; Majma’ adz-Dza-khaair al-Islaamiyyah; Qum – Iran.

· Mausuu’ah Asyuura’; Jawwad Muhadditsi; edisi pertama; Daar ar-Rasuul al-Akram – Beirut 1418 h.

· Mustadrak al-Wasaa-il; oleh Mirza Husein an-Nuri ath-Thabrisi; Cet. Daar al-Kutub al-Islamiyyah – Teheran.

· Ma’aani al-Akhbaar; oleh Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Babuwaih al-Qumi (digelari ash-Shaduq); Cet. Daar al-Ma’rifah; Beirut 1388 h.

· Manaaqib Ali Abii Thaalib; oleh Ibn Shar Asyub; Cet. Iran.

· Maa-atu Mas-alati Haula asy-Syii’ah; oleh Mahdi Mu-hammad as-Suwaij; Daar al-Bayaan al-‘Arabi.

· Al-Muraaja’aat; oleh Abdu al-Husain Syaraf al-Mausuwi.

· Al-Mufiidu fii Dzikri as-Sibthi asy-Syahiid; oleh Abdu al-Husain al-‘Amili; Cet. Daar Maktabah al-Hilal – Bei-rut 1974 m.

· Al-Mazaar; oleh Muhammad bin Muhammad al-Mufid; Edisi pertama – Qum – Iran 1409 h.

· Mutsiiru al-Ahzaan; oleh asy-Syeikh Syarif al-Jawahiri; Edaran Daar al-Kitaab al-Islaami – Beirut.

· Al-Malhamah al-Husainiyyah; oleh Murtadhla Muthahari; Cet. Ad-Daar al-Islaamiyyah – Beirut 1413 h.

· Al-Muqna’; oleh Muhammad bin Ali bin al-Husein bin Babuwaih; edisi pertama; Daar al-Muhajjat al-Baidhla’ – Beirut 1414 h.

· Madhlaalim Ahl al-Bayt; oleh Shadiq Makki; Cet. Daar al-‘Ilmiyyah – Beirut 1404 h.

· Majmu’atu Waraam (Tahbiihu al-Khawaathir wa Nuzhatu an-Nawaadhir); oleh Amir Waram; Cet. Muassasah al-A’lami lil Matbu’aat – Beirut.

· Ma’saatu Ihda wa Sittiin; oleh Abdu al-Hasan Nuruddin al-‘Amili; edisi pertama; Daar al-Firdaus – Beirut 1986 m.

· Miftaahu al-Karaamah, Syarh Qawaa’id al-‘Alamah; oleh Muhammad Jawad al-Huseini al-‘Amili; edisi pertama; Mua-ssasatu Fiqhi asy-Syii’ah – Beirut 1996 m.

· Maqtal al-Husain; oleh Murtadhla ‘Iyad; Edisi keempat 1417 h.; Cet Daar az-Zahraa’ – Beirut 1412 h.

· Maqtal al-Husain; oleh Ali bin Musa bin Thawus (al-Lu-huuf); Muassasah al-A’lami – Beirut 1414 h.

· Al-Majaalisu al-Faakhirah fii Ma’tami al-Qadati ath-Thaahirah; oleh Abdu al-Husein al-‘Amili; Cet Muassasah al-Wafa – Beirut.

· Maqtal al-Husain; oleh Abdur Razaq al-Mausuwi al-Muqa-rram; Daar al-Kitaab al-Islaami – Beirut 1399 h.

· Maqtal al-Husain (Waaqi’atu ath-Thaff); oleh Muhammad Taqiy Ali Bahri al-‘Uluum; Daar az-Zahra’ – Beirut – 1412 h.

· Muntaha al-Amaal fii Taariikhi an-Nabiy wa al-Aal; ad-Daar al-Islaamiyyah – Beirut 1414 h.

· Ma’aalimu al-Madrasatain; oleh Murtadhla al-Askari; Maktabah al-Faqiih – Kuwait.

· Ma’aali as-Sibthain; oleh Muhammad Mahdi al-Ha-iri; Cet. Qum – Iran 1407 h.

· Ma’al Husain fii Nahdhlatih; oleh Asad Haidar; Daar at-Ta’aaruf lil Mathbuu’aat – Beirut 1399 h.

HURUF NUN:

· Najaatu al-Ummah fii Iqaamati al-‘Izaa’ ‘ala al-Husain wa al-Aimmah; Edisi pertama – Qum 1413 h.

· Naqdhu Fataawa al-Wahaabiyyah; oleh Muhammad al-Husein Kasyifu al-Ghitha’; Al-Ghadir – Beirut.

· Nafsu al-Mahmuum; oleh asy-Syeikh Abbas al-Qumi; Daar al-Muhajjah al-Baidhla’ – Beirut 1412 h.

· Nahju al-Balaaghah; oelh Syarif ar-Ridhla; Cet. Daar al-Ma’rifah – Beirut Lebanon.

· Nahdhlatu Asyuura’; oleh Ruhullah al-Khumaini.

· An-Naadwah hiya Silsilatu Hawaraat; oleh asy-Syeikh Mu-hammad Husein Fadhl.

· Al-Hidaayah; oleh Muhammad bin Ali bin al-Husein bin Babuwaih (tercetak bersama al-Muqna’).

HURUF WAW:

· Wasaa-ilu asy-Syii’ah ilaa Tahshiili Masaa-ili asy-Syar’iyyah; oleh Muhammad bin al-Hasan al-Hurr al-‘Ami-li; Cet. Daar Ihya’ at-Tiraats al-‘Arabi – Beirut.

· Al-Waafi; oleh Mala Muhsin, dikenal sebagai al-Faidhl al-Kasyani; Cet. Qum – Iran 1404 h.

HURUF YA’:

· Yaumu ath-Thaff; oleh Hadi an-Najafi; Cet. Qum. 1413 h.

ooo 0 ooo

sumber: http://www.hakekat.com

Sumber Ajaran Syi’ah

Sumber Ajaran Syi’ah

Sebenarnya dari mana sih umat syiah mengambil ajaran agamanya? Mengapa kita sering mendengar kawan-kawan syiah berdalil dari Shahih Bukhari?

Sebagaimana Ahlussunah memiliki kitab hadits yang berasal dari Nabi, maka sebagai mazhab, syiah harus memiliki kitab-kitab yang berisi sabda para imam ahlulbait, mereka yang wajib diikuti bagi penganut syiah. Lalu mengapa syiah mengemukakan dalil dari kitab-kitab hadits sunni seperti shahih Bukhari dan Muslim? Mereka menggunakan hadits-hadits itu dalam rangka mendebat ahlussunah, bukan karena beriman pada isi hadits itu. Lalu apa saja rujukan syiah Imamiyah?

Syiah Imamiyah menganggap sabda 12 imam ahlulbait sebagai ajaran yang wajib diikuti, ini sesuai dengan ajaran mereka yang menganggap 12 imam ahlulbait sebagai penerus risalah Nabi. Sabda-sabda tersebut tercantum dalam kitab-kitab syiah, namun sayangnya kitab-kitab itu tidak begitu dikenal atau tepatnya sengaja tidak disebarluaskan oleh penganut syiah di Nusantara. Insya Allah kami akan memudahkan pembaca untuk mendownload sebagian kitab rujukan mereka yang memuat sabda-sabda para imam ahlulbait. Tapi pembaca pasti penasaran untuk membaca sabda ahlulbait, karena salah satu murid Imam Ja’far As Shadiq yang bernama Zurarah mengatakan : Al Kisyi meriwayatkan dalam bukunya Rijalul Kisyi dengan sanadnya dari Muhammad bin Ziyad bin Abi Umair dari Ali bin Atiyyah bahwa Zurarah berkata: jika aku menceritakan seluruh yang kudengar dari Abu Abdillah (Ja’far Asshadiq) maka laki-laki yang mendengar perkataan Imam Ja’far pasti akan berdiri kemaluannya. Rijalul Kisyi hal 134 (kira-kira cerita apa yang dibawa oleh Imam Ja’far sehingga membuat kemaluan berdiri?)

Sedangkan umat syiah mengatakan bahwa para imam mendapat ajaran dari imam sebelumnya yang mendapatkan ajaran dari Nabi. Juga umat syiah mengajarkan bahwa ajaran para imam harus diikuti. Tapi ternyata imam yang satu ini suka mengajarkan cerita-cerita yang membuat kemaluan berdiri. Jangan-jangan ajaran di atas sudah disensor. Lalu bagaimana hukum menyensor ajaran ahlulbait yang wajib diikuti?

Literatur syiah yang dianggap sebagai literatur utama yang memuat riwayat sabda ahlulbait ada 8 kitab utama, ulama mereka menyebutnya dengan sebutan “al jawami’ ats tsamaniah” (kitab kumpulan yang delapan) ini sesuai dengan yang tercantum dalam kitab Muftahul Kutub Al Arba’ah jilid 1 hal 5 dan A’yanus Syiah jilid 1 hal 288. Dalam makalahnya yang berjudul metode praktis untuk pendekatan sunnah syiah (dimuat dalam masalah Risalatus Islam, juga dimuat bersama makalah lain yang diambil dari majalah yang sama dengan judul “persatuan islam” hal 233, Muhammad Shaleh Al Ha’iri mengatakan: kitab shahih imamiyah ada delapan, empat di antaranya di tulis oleh tiga orang yang bernama Muhammad yang hidup terdahulu, tiga lagi ditulis oleh tiga orang yang bernama Muhammad yang hidup setelah tiga yang pertama, yang kedelapan ditulis oleh Al Husein Nuri Thabrasi.

Kitab pertama dan yang tershahih di antara delapan kitab di atas adalah Al Kafi. Ini seperti disebutkan dalam kitab Adz Dzari’ah jilid 17 hal 245, Mustadrak Al Wasa’il jilid 3 ha 432, Wasa’il Asy Syi’ah jilid 20 hal 71. kitab-kitab di atas menyebutkan bahwa kitab Al Kafi adalah kitab yang tershahih dari empat kitab utama mereka, karena kitab Al Kafi ditulis pada era Ghaibah Sughra, yang mana saat itu masih mungkin untuk mengecek validitas riwayat yang ada dalam kitab itu. karena pada era ghaibah sughra imam mahdi masih dapat dihubungi melalui “duta yang empat” yang dapat berhubungan dengan imam mahdi dan menerima seperlima bagian dari harta syiah.

Jumlah riwayat kitab Al Kafi ada 16099, seperti diterangkan dalam kitab A’yanus Syi’ah jilid 1 hal 280. Kitab Al Kafi dijelaskan oleh para Ulama Syi’ah, di antaranya adalah Al Majlisi –penulis Biharul Anwar- yang menulis penjelasan kitab Al Kafi dan diberi judul Mir’aatul Uquul. Dalam kitabnya itu Majlisi juga menilai validitas hadits Al Kafi, di antara hadits yang dianggapnya shahih adalah hadits yang menerangkan bahwa Al Qur’an telah diubah. Berikut terjemahan nukilan dari Mir’atul Uqul:

Abu Abdillah berkata: “Al Qur’an yang diturunkan Jibril kepada Muhammad adalah 17 ribu ayat”. Al Kafi jilid 2 hal 463. Muhammad Baqir Al Majlisi berkata bahwa riwayat ini adalah muwathaqoh. Lihat di Mir’atul Uqul jilid 2 hal 525.

Begitu juga ada kitab lain yang berisi penjelasan riwayat Al Kafi, yaitu Syarh Jami’ yang ditulis oleh Al Mazindarani begitu juga terdapat kitab yang berjudul As Syafi fi Syarhi Ushulil Kafi, ada lagi kitab yang judulnya At Ta’liqah Ala Kitabil Kafi yang ditulis oleh Muhammad Baqir Al Husaini, tapi hanya menjelaskan sampai Kitabul Hujjah saja. Ada lagi kitab Al Hasyiyah Ala Ushulil Kafi karangan Rafi’uddin Muhammad bin Haidar An Na’ini, juga Badruddin bin Ahmad Al Husaini Al Amili.

Kitab kedua adalah Man la Yahdhuruhul Faqih yang ditulis oleh Muhammad bin Babawaih Al Qummi, yang juga dikenal dengan sebutan As Shaduq, keterangan mengenai kitab ini adapat dilihat dalam kitab Raudhatul Jannat jilid 6 hal 230-237, A’yanus Syi’ah jilid 1 hal 280, juga dalam Muqaddimah kitab Man La Yahdhuruhul Faqih, kitab ini memuat 176 bab, yang pertama adalah bab Thaharah dan ditutup dengan bab Nawadir. Kitab ini memuat 9044 riwayat.

Disebutkan dalam pengantar bahwa penulisnya sengaja menghapus sanad dari setiap riwayat agar tidak terlalu memperbanyak isi kitab, juga disebutkan bahwa penulisnya mengambil riwayat untuk ditulis dalam buku ini dari kitab-kitab yang terkenal dan dapat diandalkan, penulis hanya mencantumkan riwayat yang diyakini validitasnya. Ditambah lagi dengan kitab Tahdzibul Ahkam, keterangan mengenai kitab ini dapat ditemui dalam kitab mustadrakul wasa’il jilid 4 hal 719, kitab adzari’ah jilid 4 hal 504, juga dalam pengantar tahdzibul ahkam sendiri. Kitab ini ditulis untuk memecahkan kontradiksi yang terjadi pada banyak sekali riwayat syiah, kitab ini berisi 393 bab. Mengenai jumlah haditsnya akan kita bahas kemudian.

Begitu juga kitab Al Istibshar, yang terdiri dari tiga jilid, dua jilid memuat bab ibadah, sementara pembahasan fiqih lainnya dicantumkan pada jilid ketiga. Kitab ini memuat 393 bab, dalam kitabnya ini penulis hanya mencantumkan 5511 hadits dan mengatakan: saya membatasinya supaya tidak terjadi tambahan maupun pengurangan. Sementara dalam kitab Adz Dzari’ah ila Tashanifisy Syi’ah disebutkan bahwa jumlah haditsnya ada 6531, berbeda dengan penuturan penulisnya sendiri. Silahkan dirujuk ke Ad Dzari’ah jilid 2 hal 14, A’yanus Syi’ah jilid 1 hal 280, pengantar Al Istibshar, tulisan Hasan Al Khurasan. Kedua kitab di atas – Tahdzibul Ahkam dan Al Istibshar- adalah karya ulama tersohor syiah yang bergelar ” Syaikhut Tha’ifah” yaitu Abu Ja’far Muhamamd bin Hasan Al Thusi (wafat 360 H). Al Faidh Al Kasyani dalam Al Wafi jilid 1 hal 11 mengatakan: seluruh hukum syar’i hari ini berporos pada empat kitab pokok, yang seluruh riwayat yang ada di dalamnya dianggap shahih oleh penulisnya.

Agho Barzak Tahrani – salah satu mujtahid syiah masa kini- mengatakan dalam kitab Adz Dzari’ah jilid 2 hal 14 : empat kitab ditambah dengan kitab kumpulan hadits adalah dasar bagi hukum syar’I hingga saat ini. Pada abad 11 Hijriah para ulama syiah menyusun beberapa kitab, empat di antaranya disebut oleh ulama syiah hari ini dengan : Al Majami’ Al Arba’ah Al Mutaakhirah” (empat kitab kumpulan hadits belakangan); empat kitab itu adalah: Al Wafi yang disusun oleh Muhamad bin Murtadha yang dikenal dengan julukan Mulla Muhsin Al Faidh Al Kasyani –wafat tahun 1091 H– terdiri dari tiga jilid tebal, dicetak di Iran, memuat 273 bab. Muhammad Bahrul Ulum mengatakan bahwa kitab Al Wafi memuat 50 000 hadits (lihat footnoote kitab Lu’lu’atul Bahrain hal 122) sementara Muhsin Al Amin mengatakan bahwa Al Wafi memuat 44244 hadits, bisa dilihat dalam A’yanus Syi’ah.

Lalu kitab Biharul Anwar Al Jami’ah Li Durar Akhbar Aimmatil At-har karya Muhammad Baqir Al Majlisi –wafat tahun 1110 atau 1111 H-. Ulama syiah menyatakan bahwa Biharul Anwar adalah kitab terbesar yang memuat hadits dari kitab-kitab rujukan syiah, bisa dilihat keterangan mengenai kitab ini dalam Adz Dzari’ah jilid 3 hal 27, juga A’yanus Syi’ah jilid 1 hal 293. selain itu juga ada kitab wasa’ilus syi’ah ila tahsil masa’ilisy syari’ah yang disusun oleh Muhammad bin Hasan Al Hurr Al Amili, yang dianggap sebagai kitab terlengkap yang memuat hadits hukum fiqih bagi syiah imamiyah.

Dalam kitab ini terkumpul riwayat dari kitab empat utama dan ditambah dengan riwayat lain dari kitab-kitab lain yang dianggap sebagai rujukan, yangkonon jumlahnya mencapai tujuh puluh kitab-seperti dikatakan oleh penulis kitab Adz Dzari’ah. Tetapi Syirazi dalam pengantar kitab wasa’il menyebutkan jumlah kitab yang menjadi rujukan adalah 180 kitab lebih, Al Hurr Al Amili menyebutkan judul-judul kitab yang menjadi rujukannya yang berjumlah lebih dari delapan puluh kitab, dia juga menyebutkan bahwa dia mengambil rujukan dari kitab0kitab selain yang telah disebutkan, tetapi dia merujuknya dengan perantaraan nukilan kitab lain. Silahkan merujuk pada Muqaddimatul Wasa’il yang situlis oleh Asyirazi, begitu juga A’yanus Syi’ah jilid 1 hal 292-293, Adz Dzari’ah jilid 4 hal 352-353, Wasa’ilusy Syi’ah jilid 1 hal 408, jilid 20 hal 36-49.

Lalu kitab mustadrakul wasa’il wa mustanbtul masa’il yang disusun oleh Husein Nuri Thabrasi –wafat 1320 H-. Agho Barzak Tahrani mengatakan: kitab mustadrak wasa’il menjadi seperti kitab kumpulan hadits lainnya yang harus ditelaah dan dijadikan rujukan oleh para mujtahid dalam memutuskan hukum syareat, kebanyakan ulama kami saat ini tunduk mengikuti kitab itu. Lihat kitab Adz Dzari’ah jilid 2 hal 110-111. lalu Agho Barzak memperkuat pernyataannya dengan nukilan dari ulama-ulama syiah yang menjadikan kitab mustadrak wasa’il sebagai rujukan utama mereka. Adz Dzari’ah jilid 2 hal 111.

Jika pembaca merasa pernah mendengar nama Nuri Thabrasi, dia adalah penyusun kitab Fashlul Khitab fi Itsbati Tahriifi Kitaabi Rabbil Arbab – pemutus perkara, pembuktian bahwa kitab Tuhan telah dirubah-, kitab itu menyebutkan dalil-dalil yang memperkuat pendapat bahwa Al Qur’an yang ada hari ini telah diselewengkan dan diubah oleh “tangan-tangan kotor”. Dalam muqaddimah mustadrakul wasa’il, Agha Barzak Tahrani mengatakan : Dia adalah salah seorang imam ahli hadits dan rijalul hadits di masa ini, termasuk jajaran ulama besar syiah dan ulama besar islam di abad ini.

Bagaimana orang yang tidak beriman pada Al Qur’an menjadi ulama besar syiah? Pada pengantar mustadrak wasa’il, Agha Barzak Thrani mengatakan bahwa salah satu karya Husein Nuri Thabrasi adalah kitab Fashlul Khitab.

http://www.arrahmah.com/blog/detail/sumber-ajaran-syiah/

Validitas Literatur Induk Ajaran Syiah

Validitas Literatur Induk Ajaran Syiah

Kita patut meragukan apakah sumber mereka masih orisinil atau sudah dipermak sana sini. Dengan mengetahui validitas sumber sebuah ajaran, kita bisa menilai validitas ajaran tersebut.

Ada beberapa kitab yang dianggap oleh syiah sejajar dengan kitab empat di atas, artinya derajat validitas riwayatnya tidak berbeda, sehingga kitab itu berisi dalil-dalil yang valid untuk penyimpulan hukum syareat menurut syiah imamiyah. Hal ini seperti disebutkan oleh Al Majlisi pada pengantar Biharul Anwar –bisa dilihat pada jilid 1 hal 26-: kitab-kitab karya Ash Shaduq –selain lima kitab- sama terkenalnya dengan kitab empat. Majlisi meneruskan begitu; juga kitab Basha’ir Darajat termasuk literatur pokok yang juga dijadikan rujukan oleh Kulaini dan lainnya. Bisa dilihat di halaman yang sama, Majlisi juga menyebutkan kitab-kitab lain yang sederajat dengan kitab empat. Pendapat yang sama juga dinyatakan oleh Al Hurr Al Amili dalam kitab Wasa’il Syi’ah jilid 20. juga dalam pengantar setiap kitab disebutkan bahwa kitab itu sama validnya dengan kitab yang empat .

Nampaknya yang disebut adalah dua kitab itu, yaitu kitab-kitab As Shaduq dan Bashair Darajat karena kitab-kitab itu adalah kitab-kitab besar kumpulan hadits, atau bisa jadi juga untuk menyaingi mazhab ahlussunnah dan untuk sekedar promosi. Nampak hal itu jelas ketika kita melihat kitab Al Wafi dimasukkan ke delapan kitab rujukan utama, dan kitab itu dianggap sebagai kitab tersendiri, padahal isi kitab Al Wafi hanyalah kumpulan dari empat kitab utama (Al Kafi, Tahdzib, Al Istibshar dan Man La Yahdhuruhul Faqih), mengapa dianggap sebagai kitab baru, padahal isinya hanyalah pengulangan dari empat kitab yang terdahulu. Ini semua dalam rangka membuat image bahwa syiah memiliki banyak rujukan, padahal isinya itu-itu juga, pengulangan dari empat kitab rujukan.

Begitu juga kitab AL Istibshar dianggap sebagai kitab tersendiri, padahal kitab Al Istibshar hanyalah ringkasan dari kitab Tahdzibul Ahkam, seperti dijelaskan oleh Thusi sendiri pada pengantar kitab Al Istibshar – jilid 1 hal 2-3- begitu juga siapa saja yang menelaah kedua kitab itu akan jelas mendapati bahwa kitab Al Istibshar hanyalah ringkasan dari kitab Tahdzibul Ahkam. Semua ini jelas dalam rangka promosi mazhab.

Begitu juga anda akan menemukan bahwa kitab Biharul Anwar karya asli penulisnya hanya sebanyak 25 jilid, lalu karena jilid ke 25 nampak terlalu besar maka dipisah menjadi 2 jilid, akhirnya jumlah keseluruhan kitab Biharul Anwar hanyalah 26 jilid. Bisa dilihat hal ini dalam kitab Dzari’ah jilid 3 hal 27. Tetapi kitab Biharul Anwar hari ini berjumlah 110 jilid, dimulai dari jilid 0, supaya nampak intelek. Pembaca yang “intelek” akan bertanya-tanya tentang asal tambahan kitab Biharul Anwar dari jilid 27 sampe jilid 110, hasil karya Majlisi sendiri –yang menulis 26 jilid- atau ada tangan-tangan lain yang menambah supaya nampak tebal?

Syiah memang senang sekali dengan yang demikian, biasanya ada sekelompok orang yang digaji khusus oleh hauzah ilmiyah untuk menulis sebuah buku, lalu buku itu dibuat seolah ditulis oleh satu orang, seakan orang itu menulis buku yang besar yang sangat sulit utnuk ditulis oleh sendirian, seperti bisa kita perhatikan kitab Al Ghadir – yang konon ditulis oleh seorang bernama Abdul Husein Al Amini-, selain itu syiah juga gemar mengaku-aku, bahwa syiah adalah pionir dalam semua cabang ilmu, padahal pengetahuan mereka hanyalah mengambil dari kitab-kitab Ahlussunnah, mereka memiliki pendapat-pendapat aneh yang membongkar kebohongan mereka. Dalam kitab A’yanus Syi’ah banyak sekali ulama ahlussunnah yang dianggap sebagai syiah imamiyah hanya karena mereka memiliki sedikit kecondongan kepada Ali, padahal hal demikian itu tidak sampai membuat mereka masuk menjadi syiah rafidhah, karena kecintaan ahlussunnah pada ahlulbait adalah kecintaan sejati, lebih dari kecintaan syiah rafidhah pada ahlulbait.

Isi kitab-kitab utama syiah hanyalah maslah fiqih, kecuali dua jilid pertama dari kitab Al Kafi memuat tentang akidah syiah. Jika kita perhatikan, isi kitab fiqih mereka mirip dengan fiqih ahlussunnah, membuat kita makin percaya dengan keterangan para ulama yang menyebutkan bahwa ulama syiah banyak yang mencontek kitab ahlusunnah, di antaranya adalah Ibnu Taimiyah dalam Minhajussunnah jilid 3 hal 264. Syiah memiliki pendapat-pendapat aneh dalam fiqih, yang berbeda dengan ulama ahlusunah, pendapat-pendapat itu kadang begitu aneh dan tak terbayangkan bahwa pendapat-pendapat itu perlu ditulis dalam kitab tersendiri. Asy Syarif Al Murtadha mengumpulkan pendapat-pendapat syiah yang berbeda dengan ulama ahlussunah dalam kitabnya Al Intishar.

Sebagai selingan, tidak ada salahnya bila kita menyimak sedikit pendapat-pendapat yang hanya dimiliki oleh syiah dari kitab Al Intishar:

* Keluar Madhi dan Wady tidak membatalkan wudhu –hal 119
* Wajib mengucapkan Hayya Ala Khairil Amal dalam adzan – hal 137
* Wajib hukumnya shalat gerhana matahari maupun bulan, siapa yang ketinggalan harus mengqadha’ –hal 173
* Barangsiapa berpuasa ramadhan dalam keadaan musafir maka harus membayar puasanya –hal 190 –kasihan sungguh-
* Orang sakit yang memaksakan diri berpuasa di bulan Ramadhan –padahal dia dibolehkan untuk tidak berpuasa- maka puasanya tidak sah dan tetap harus mengqadha’ – hal 192
* Jika menemukan bangkai ikan di tepi sungai, sedangkan dia tidak tahu apakah ikan tersebut mati atau disembelih, maka dicelupkan di air, jika ikan tersebut mengambang di atas dadanya maka ikan itu disembelih, jika mengambang di atas punggungnya maka ikan itu mati dengan sendirinya tanpa disembelih – hal 402 [di mana letak perbedaan antara punggung dan dada ikan?]
* Sembelihan ahli kitab haram dimakan –hal 403
* Haram memakan makanan buatan orang kafir – hal 409

Ibnu Aqil Al Hanbali menukil pendapat-pendapat itu dan dia pun merasa heran, tulisan Ibnu Aqil dinukil juga oleh Ibnul Jauzi dalam kitab Al Muntazham –jilid 8 hal 120- juga Ibnul Jauzi menuliskan dalam Al Maudhu’at: Rafidhah telah membuat kitab fiqih yang mereka sebut sebagai mazhab imamiyah, di dalamnya memuat pendapat yang menyimpang dari ijma’ kaum muslimin tanpa dalil apa pun. Lihat Al Maudhu’at jilid 1 hal 338.

Sementara bahasan lain yang terdapat dalam Al Kafi dan Biharul Anwar adalah tentang tauhid, al adl , imamah.. kebanyakan berisi keyakinan mereka tentang imamah dan para imam yang dua belas, tentang penunjukan mereka dari Allah, sifat-sifat para imam, kisah hidup mereka dan keutamaan berziarah ke kubur mereka. Begitu juga membahas tentang musuh para imam, terutama para sahabat Nabi SAAW, jika kita perhatikan, mayoritas bahasan adalah tentang imamah dan para imam.

Pembaca yang menelaah kitab hadits syiah akan mendapati jurang perbedaan antara kitab hadits syiah dan kitab hadits ahlussunnah, begitu juga perbedaan yang ada para riwayat ahlussunnah dan syiah imamiyah. Kitab sunnah yang meriwayatkan hadits, hanyalah meriwayatkan hadits Nabi, dan hanya hadits Nabi-lah yang disebut dengan hadits. Sedangkan kitab hadits syiah mayoritas memuat riwayat dari salah satu dari dua belas imam mereka, selain itu mereka juga berkeyakinan bahwa riwayat yang berasal dari imam sama dengan riwayat yang berasal dari Nabi, artinya sabda imam sama seperti sabda Nabi.

Jika kita perhatikan kitab hadits syiah, kita akan menemukan bahwa hadits yang berasal dari Nabi sangatlah sedikit, sedangkan mayoritas riwayat Al Kafi adalah dari Ja’far Ash Shadiq, sangat jarang sekali yang berasal dari ayahnya Muhammad Al Baqir, apalagi yang berasal dari Amirul Mukminin Ali, jumlahnya lebih sedikit, begitu juga yang berasal dari Nabi SAW, jauh lebih sedikit

Begitu juga kita perhatikan, empat kitab utama syiah disusun pada abad ke sebelas Hijriyah, dan setelahnya, yang terakhir ditulis oleh Husein Nuri Thabrasi, -judulnya Mustadrakul Wasa’il- yang wafat tahun 1320 H –hidup sejaman dengan syaikh Muhammad Abduh-

Kitab itu memuat 23000 hadits dari para imam syiah [lihat Ad Dzari’ah jilid 7 hal 21] yang belum pernah ditemukan sebelumnya. Kitab itu ditulis ratusan tahun setelah wafatnya para imam, jika memang benar kitab itu berisi riwayat bersanad dari para imam bagaimana orang berakal bisa percaya pada riwayat yang belum pernah ditulis sejak 11 abad atau 13 abad lalu ? jika memang riwayat itu tertulis dalam kitab, mengapa kitab itu baru ditemukan di abad 14 Hijriah?

Sebagian penulis kitab syiah menyatakan bahwa merka menemukan buku yang belum pernah ditemukan sebelumnya, Al Majlisi mengatakan: Alhamdulillah, di depan kami terkumpul sebanyak 200 judul buku, seluruh isinya telah kunukil dalam Biharul Anwar, [lihat I’tiqadat Al Majlisi hal. 24, lihat juga Al Fikr Asy Syi’I hal. 61]sementara Al Hurr Al Amili menyatakan bahwa dirinya memiliki delapan puluh kitab selain empat kitab rujukan mereka, isi kitab-kitab itu dituliskan dalam Wasa’ilusy Syi’ah [lihat Wasa’ilusy Syi’ah jilid 1, pengantar. Juga lihat Adz Dzari’ah jilid 4 hal 352-353].

Begitu juga Nuri Thabrasi ikutan mengklaim bahwa dirinya menemukan kitab-kitab yang belum pernah ditulis sebelumnya walaupun dirinya hidup di abad 14 Hijriyah, Agho BArzak Tahrani mengatakan: hal yang mendorong Husein Nuri Thabrasi untuk menulis mustadrak Al Wasa’il adalah karena Thabrasi menemukan kitab-kitab penting yang belum pernah ditulis dalam kitab-kitab kumpulan hadits syiah sebelumnya [lihat Ad Dzari’ah jilid 21 hal 7]. Ulama syiah menganggap hadits-hadits baru hasil penemuan Nuri Thabrasi yang dituliskan dalam Mustadrak Al Wasa’il sebagai hadits-hadits yang sangat penting dan diperlukan, tidak bisa ditinggalkan, ulama syiah yang bernama Al Khurasani –seperti dinukil dalam Adz Dzari’ah- mengatakan: setiap mujtahid tidak boleh berijtihad sebelum merujuk ke kitab Mustadrak Al Wasa’il dan menelaah hadits-hadits yang termuat di dalamnya, [lihat Ad Dzari’ah jilid 2 hal 111], apakah ini berarti sebelum adanya kitab Mustadrak Al Wasa’il ucapan ulama mereka tidak dapat dijadikan pegangan? Silahkan anda merasa heran, barangkali masih ada lagi hadits yang baru ditemukan.

Riwayat-riwayat itu tidak ditemukan di literatur kuno syiah, mengapa demikian? Mengapa Kulaini tidak meriwayatkannya padahal dia dapat menghubungi empat “dubes” imam Mahdi?Kulaini memberi judul kitabnya dengan Al Kafi karnea dianggapnya cukup bagi syiah, bahkan kitab Al Kafi telah ditunjukkan kepada imam Mahdi –yang bersembunyi hingga hari ini- melalui “duta besar “, kemudian Imam Mahdi memberikan komentar: kitab ini cukup bagi syiah kami, begitu juga At Thusi menyatakan, bahwa dirinya mengumpulkan hadits-hadits syiah yang berkaitan dengan fiqih dari kitab-kitab literatur inti syiah, dalam kitabnya Tahdzibul Ahkam, tidak ada yang terlewatkan kecuali hanya sedikit saja [lihat Al Istibshar jilid 1 hal 2].

Apakah kitab-kitab ini ditulis pada era dinasti shafavid di iran lalu ditulis atas nama para ulama klasik syiah? Bisa jadi, dan sangat mungkin.

Bahkan empat kitab syiah yang utama [Al Kafi, Tahdzibul Ahkam, Al Istibshar dan Man La Yahdhuruhul Faqih] tidak luput dari tambahan dari tangan-tangan tidak bertanggung jawab. Salah satu buktinya, bisa dilihat dalam kitab Ad Dzari’ah –jiild 4 hal 504- dan A’yanus Syi’ah –jilid 1 hal 288- juga keterangan ulama syiah hari ini, bahwa jumlah hadits Tahdzibul Ahkam adalah 13950 hadits, tetapi penulisnya sendiri menyatakan dalam kitab Iddatul Ushul [jilid 1 hal 139 ,cetakan sitarah-Qum] bahwa jumlah hadits Tahdzibul Ahkam hanya 5000 lebih, artinya tidak mencapai jumlah 6000. bisa dilihat dalam kitab Al Imam As Shadiq hal 485.

Ternyata jumlah hadits Tahdzibul Ahkam bertambah lebih dari dua kali lipat, inilah bukti nyata yang ada di depan mata.

Begitu juga ulama syiah masih berbeda pendapat, apakah kitab Raudhatul Kafi –kitab Al Kafi jilid 8- termasuk dalam kitab Al Kafi yang ditulis oleh Kulaini, ataukah merupakan tambahan yang ditulis setelah kitab Al Kafi, bisa dilihat dalam kitab Raudhatul Jannat jilid 6hal 176-188, seolah-olah penambahan dalam kitab adalah hal biasa dan sangat mungkin terjadi..

Yang lebih berbahaya, seorang ulama syiah terkemuka yang bernama Husein bin Haidar Al Karki Al Amili [wafat th 1076 H] mengatakan: kitab Al kafi berjumlah lima puluh jilid, memuat riwayat dengan sanad yang bersambung pada para imam [Raudhatul Jannat jilid 6 hal 114], sementara Thusi [wafat 360 h] mengatakan bahwa kitab Al Kafi berjumlah 30 jilid,…. [lihat Al Fahrasat hal 161].

Apakah kitab Al Kafi mengalami penambahan selama kurun waktu antara abad ke lima dan sebelas hijiriyah? Tambahannya pun bukan sedikit, tapi 20 jilid, padahal setiap jilid terdiri dari banyak bab yang memuat banyak hadits. Mungkin hal ini tidak menjadi masalah bagi syiah, jika mereka berani memalsu riwayat dari Nabi SAAW dan Ahlulbait, mestinya memalsu buku dari gurunya bukanlah hal susah, bukti dalam hal ini sangat banyak, yang kami paparkan sudah cukup bagi mereka yang mau menggunakan akalnya yang masih sehat.

Kita tanyakan lagi pada penganut syiah, mana sumber ajaran agama kalian? Kalian banyak menggunakan logika dan mantiq karena miskin dalil naqli, apalagi setelah tahu bahwa kitab literatur kalian terbukti masih harus diragukan lagi validitasnya.

http://www.arrahmah.com/blog/detail/validitas-literatur-induk-ajaran-syiah/

APA AQIDAH ORANG RAFIDHAH

APA AQIDAH ORANG RAFIDHAH TERHADAP PARA IMAM MEREKA ?

Disusun oleh
Abdullah bin Muhammad As Salafi
Bagian Keenam dari Tigabelas Tulisan 6/13

Rafidhah mendakwakan kema’suman (terjaga dari dosa) bagi para imam, dan bahwasanya mereka mengetahui hal ghaib. Dinukil oleh Al Kulaini dalam Usulul Kafi : “Telah berkata Imam Ja’far as Shodiq : “Kami adalah perbendaharaan ilmu Allah, kami adalah penterjemah perintah Allah, kami adalah kaum yang maksum, telah diperintahkan untuk menta’ati kami, dan dilarang untuk menentang kami, kami adalah hujjah Allah yang kuat terhadap siapa yang berada di bawah langit dan di atas bumi” [1].

Al Kulaini meriwayatkan di Al Kafi : Bab “Sesungguhnya para imam, jika mereka berkehendak untuk mengetahui, maka mereka pasti mengetahuinya”. Dari Jafar ia berkata : “Sesungguhnya Imam jika ia berkehendak mengetahui, maka ia pasti mengetahui, dan sesungguhnya para imam mengetahui kapan mereka akan mati, dan sesungguhnya mereka tidak akan mati kecuali dengan pilihan mereka sendiri.” [2]

Khumaini yang celaka menyebutkan dalam salah satu tulisannya bahwa para imam lebih afdhal (mulia) dari para nabi dan rasul, ia berkata – semoga Allah menghinakannya : “Sesungguhnya imam-imam kita mempunyai suatu kedudukan yang tidak bisa dicapai oleh malaikat yang didekatkan, dan tidak pula oleh nabi yang diutus” [3].

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : “Orang Rafidhah mendakwakan sesungguhnya agama ini diserahkan kepada pendeta-pendeta dan rahib-rahib, maka yang halal itu adalah yang dihalalkan mereka, dan yang haram itu adalah yang diharamkan mereka, serta agama itu adalah apa yang mereka syariatkan”. [4]

Jika pembaca ingin melihat kekufuran, kesyirikan dan ghuluw (sikap berlebih-lebihan mereka) semoga Allah melindungi kita- maka bacalah syair-syair yang diungkapkan oleh syaikh mereka zaman sekarang ini yaitu Ibrahim Al Amili, terhadap Ali bin Abi Thalib semoga Allah meridhai Ali- :

Abu hasan, engkaulah hakikat Tuhan (yang diibadati),
dan alamat kekuasaan-Nya yang tinggi.
Engkaulah yang menguasai ilmu ghaib,
maka mungkinkah tersembunyi bagimu akan sesuatu yang hasul.
Engkaulah yang mengendalikan poros alam,

Bagimu para ulamanya yang tinggi.
Bagimu amar (urusan) bila engkau menghendaki, kau menghidupkan besok,
bila engkau menghendaki kau cabut ubun-ubun.

Ali bin Sulaiman Al Mazidi mengutarakan syairnya dalam memuji Ali bin Abi Thalib :

Abu Hasan engkaulah suami orang yang suci,
Dan (engkaulah) sisi tuhan yang diibadati serta jiwa rasul.
Dan (engkaulah) pernama kesempuranaan dan matahari akal,
(engkau) Hamba dari tuhan, dan engkaulah yang Maha Raja.
Engkau dipanggil oleh nabi di hari kadir,

Dan telah menaskan atas dirimu sesuai dengan kejadian Ghadir
Bahwasanya engkau bagi kaum mukminin adalah amir (pemimpin),
dia telah mengkalungkan kepadamu buhul kekuasaannya.
Kepadamulah kembalinya seluruh perkara,
dan engkaulah yang maha mengetahui dengan kadungan dada.
Engkaulah yang akan membangkitkan apa yang ada dalam kubur

Bagimulah pengadilan hari kiamat berdasarkan kepada nas.
Engkaulah yang maha mendengar dan engkaulah yang maha melihat
Engkau atas setiap sesuatu maha mampu.
Kalaulah tidak karena engkau, pasti bintang tidak berjalan
Kalaulah tidak karena engkau, pasti planet tidak berputar.
Engkaulah, dengan setiap makhluk mengetahui,

Engkaulah yang berbicara dengan ahli kitab.
Kalaulah tidak karena engkau, tidak mungkin musa
akan diajak berbicara, Maha suci Dzat yang telah menciptakanmu
Engkau akan melihat rahasia namamu di jagat raya,

Kecintaan terhadap dirimu seperti matahari di atas kening.
Kebencian terhadap dirimu di wajah orang yang membenci,
Bagaikan peniup api, maka tidak akan beruntung yang membencimu.
Siapa itu yang telah ada, dan siapa itu yang ada,
Tidak para nabi dan tidak (pula) para rasul,
Tidak (pula) qalam lauh dan tidak (pula) alam semesta,
(kecuali) Seluruhnya adalah hamba-hamba bagimu.

Wahai Abu Hasan wahai yang mengatur wujud,
(wahai) goa orang yang terusir, dan tempat berlindung pendatang.
yang memberi minum pengagungmu pada hari berkumpul (hari kiamat).
orang yang mengingkari hari berbangkit, adalah orang yang mengingkarimu.

Wahai Abu Hasan wahai Ali yang gagah.
Kesetiaan padamu bagiku di dalam kuburku sebagai tanda penunjuk,
Namamu bagiku dalam keadaan sempit merupakan lambang
Dan kecintaan kepadamu adalah yang memasukkanku ke dalam surgamu
Dengan lantaran dirimu kemulian yang ada pada diriku.

Bila datang perintah Tuhan yang Maha Mulia
Menyeru penyeru, berangkat-berangkat (kematian-kematian).
Dan tidaklah mungkin engkau akan meninggalkan orang yang berlindung denganmu.

Apakah syi’ir seperti ini diucapkan oleh seorang muslim yang memeluk agama Islam?, Demi Allah, bahkan sesungguhnya orang-orang jahiliyah (Kafir) sekalipun belum pernah jatuh dalam kesyirikan dan kekufuran, terlalu muja-muji/ghuluw seperti yang diperbuat oleh orang rafidhah celaka ini. [5]

[Disalin dari kitab Diantara Aqidah Syi'ah, Disusun oleh Abdullah bin Muhammad As Salafi, Diterjemahkan oleh Abu Abdillah Muhammad Elvi Syam, Lc.]
_________
Foote Note
[1] Usulul_Kafi, hal : 165. (mari kita simak apa firman Allah yang menerangkan tentang sifat nabi Muhammad, Allah berfirman dalam surat Al An’am ayat 50 : (artinya) : “Katakanlah : “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengatakan yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku..”(pent).
[2] Usulul_Kafi, di dalam kitabul Hujjah : (1/258). (mengetahui mati dan di mana akan mati itu adalah rahasia yang tidak diketahui kecuali hanya Allah semata, Allah berfirman dalam surat Lukman ayat 34, (artinya) : “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yagn dapat mengetahui (denga pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahi lagi Maha Mengenal.” (pent)
[3] Hukumatul Islamiyah, Khumaini, (berarti para imam mereka lebih mulia dari Rasulullah sendiri, apakah perkataan seperti ini boleh keluar dari mulut seorang muslim yang memeluk agama Islam???? pent)
[4] Minhajus Sunnah, oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah (1/482).
[5] Penterjemah melihat sendiri bagaimana cara mereka membaca syair-syair di kuburan baqi’ (madinah), dibacakan dan dinyanyi-nyanyikan oleh kepada regunya, yang lain menangis dan merapat seperti orang Yahudi meratap di depan dinding mesjid Aqsha.

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=441&bagian=0
———————————-

APA AQIDAH RAFIDHAH DALAM MASALAH SIFAT ?

Disusun oleh
Abdullah bin Muhammad As Salafi
Bagian Ketiga dari Tigabelas Tulisan 3/13

Adalah Rafidhah orang yang pertama kali mengatakan tajsiim (bersifat seperti tubuh manusia). Sungguh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah menentukan bahwa sesungguhnya orang yang melakukan kedustaan ini dari kalangan kaum Rafidhah adalah Hisyam ibnul Hakam[1], dan Hisyam bin Salim Al Jawaliqi, Yunus bin Abdurrahman Al Qummi, dan Abu Ja’far Al Ahwal[2].

Seluruh orang yang disebutkan tadi termasuk syaikh-syaikh besar golongan Itsna Asyariyah (Rafidhah), kemudian mereka menjadi pemeluk paham Jahmiyah mu’athilah, sebagaimana sekumpulan riwayat mereka menyifati Rabb semesta alam dengan sifat-sifat negetif yang mereka masukkan sebagai sifat yang tetap bagi Allah. Dan sungguh Ibnu Babawaih meriwayatkan lebih dari tujuhpuluh riwayat yang mengatakan bahwa Allah Ta’ala, tidak disifiti dengan jaman, tidak dengan tempat, tidak dengan bagaimananya, tidak dengan gerak, tidak dengan berpindah, tidak dengan sesuatupun dari sifat-sifat tubuh, Dia bukan yang bisa diraba, bukan bertubuh dan berbentuk.” [3] Maka syeikh-syeikh mereka mengikuti jalan (metode) yang sesat ini dengan menta’til (menghilangkan) sifat-sifat yang tercantum dalam Al-Quran dan Sunnah.

Sebagaimana mereka mengingkari turunnya Allah yang Maha Agung. Mereka mengatakan Al Quran makhluk, mereka mengingkari ru’yah (melihat kepada Allah) pada hari akhirat. Tercantum dalam kitab “Biharul Anwar”, bahwasanya Abu Abdillah Ja’fat As Shodiq ditanya tentang Allah ta’ala, apakah bisa dilihat pada hari akhirat? Beliau berkata : “Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari hal itu dengan ketinggian yang besar, sesungguhnya pandangan tidak akan bisa mencapai kecuali hal-hal yang mempunyai warna dan bentuk, dan Allah yang menciptakan warna-warni dan bentuk”.

Bahkan mereka mengatakan : “Jika seandainya dinisbatkan kepada Allah sebagian sifat seperti ru’yah, maka dihukum sebagai murtad, sebagaimana yang didapatkan dari syeikh mereka Ja’far Al Najfi di kitab “Kasyful Ghitho'” hal : 417. Perlu diketahui bahwasanya melihat kepada Allah pada hari akhirat adalah benar adanya dan sudah konsisten dalam Kitab dan Sunnah tanpa meliputi seluruhnya dan tanpa bagaimananya, sebagaimana firman Allah :

“Artinya : Wajah-wajah pada saat itu berseri-seri, kepada Rabbnya melihat”[Al Qiyamah : 22,23]

Dan dari sunnah apa yang tercantum dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari hadits Jarir bin Abdillalh Al Bajali, berkata : “Adalah kami duduk-duduk bersama Rasulullah, lalu beliau melihat kepada purnama, pada malam empat belas, lalu bersabda : “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian dengan mata telanjang, sebagaimana kalian melihat ini (purnama), dimana kalian tidak berdesakan melihatnya” [4]. Dan ayat-ayat serta hadits-hadits dalam masalah itu banyak sekali, yang tidak memungkinkan kita untuk menyebutkannya. [5]

[Disalin dari kitab Diantara Aqidah Syi'ah, Disusun oleh Abdullah bin Muhammad As Salafi, Diterjemahkan oleh Abu Abdillah Muhammad Elvi Syam, Lc.]
_________
Foote Note
[1] Minhaaj sunnah (1/20) oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah.
[2] ‘Itiqadaat Firaqul Muslimin Wal Musyrikin, hal : 97.
[3] At Tauhid, oleh Abu Babawaih, hal : 57.
[4] Bukhari no : 544, dan Muslim no : 633.
[5] Lihat karangan-karangan Ahli Sunnah Wal Jamaah dalam menetapkan ru’yah, seperti kitab Ar Ru’yah oleh Daruqutni, dan kitab imam Al Lalikai dan lainnya.

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=378&bagian=0
————————————–

APA AQIDAH RAJ’AH YANG DIIMANI OLEH ORANG RAFIDHAH ?

Disusun oleh
Abdullah bin Muhammad As Salafi.
Bagian Ketujuh dari Tigabelas Tulisan 7/13

Orang Rafidhah telah membuat bid’ah raj’ah, berkata Al Mufid : “Telah sepakat mazhab imamiyah atas wajibnya terjadi raj’ah di kebanyakan dari para orang yang telah mati” [1]. Yaitu (yang mereka maksudkan dengan raj’ah ini) bangkitnya penutup imam-imam mereka, yang bernama Al Qaaim pada akhir zaman, ia keluar dari bangunan di bawah tanah, lalu menyembelih seluruh musuh-musuh politiknya, dan mengembalikan kepada syiah hak-hak mereka yang dirampas oleh kelompok-kelompok lain sepanjang masa (yang telah berlalu) [2].

Berkata sayid Al Murtadho di dalam kitabnya “Al Masail An Nashiriyah” : “Sesungguhnya Abu Bakr dan Umar disalib pada saat itu di atas suatu pohon di zaman Al Mahdi yakni imam mereka yang kedua belas- yang mereka beri nama Qaaim Ali Muhammad (penegak keluarga Muhammad), dan pohon itu pertamanya basah sebelum penyaliban, lalu menjadi kering setelahnya[3].

Berkata Al Majlisi di dalam Kitab “Haqul Yakin” dari Muhammad Al Baqir (berkata) : “Jika Al Mahdi telah keluar, maka sesungguhnya ia akan menghidupkan ‘Aisyah Ummul Mukminin dan ia melaksanakan (menjatuhkan) hukum had (hudud) atas diri Aisyah”. [4]

Kemudian bagi mereka pemahaman raj’ah ini berkembang, dan mengatakan (berlakunya) raj’ah (kembali hidup) seluruh orang syiah dan imam-imam mereka dan seluruh musuh mereka bersama imam-imam mereka. Aqidah khurafat ini mengungkapkan rasa dengki yang tersembunyi di dalam diri mereka, yang mereka mengungkapkan rasa dengki itu dengan cerita dongeng seperti ini. Dan adalah keyakinan ini merupakan sarana (jembatan) yang diambil oleh orang-orang Sabaiyah untuk mengingkari hari akhirat.

APA AQIDAH TAQIYAH MENURUT ORANG RAFIDHAH ?
Taqiyah didefinisikan oleh salah seorang ulama mereka zaman sekarang dengan ucapannya : “Taqiyah yaitu kamu mengatakan atau melakukan (sesuatu), berlainan dengan apa yang kamu yakini[5]; untuk menolak bahaya dari dirimu atau hartamu atau untuk menjaga kehormatanmu” [6]. Bahkan mereka mendakwakan bawah sesungguhnya Rasulullah telah melakukannya (Taqiyah) tatkala Abdullah bin Ubai bin Salul kepala orang-orang munafik meninggal, dimana beliau datang untuk menyolatkannya, lalu Umar berkata kepadanya : Tidakkah Allah telah melarangmu dari hal itu? yakni berdiri di atas kuburan munafik ini-, lalu Rasulullah menjawabnya : “Celaka kamu, kamu tidak tahu apa yang saya ucapkan : sesungguhnya saya mengucapkan : Ya Allah isilah perutnya dengan api, dan penuhilah kuburannya dengan api dan selalulah api membakar dirinya “. [7]

Lihatlah wahai saudaraku muslim, bagaimana mereka telah menyandarkan kepada diri Rasulullah kedustaan. Apakah masuk akal, bahwa para sahabat Rasulullah mendoakan rahmat untuknya (Abdullah bin Ubai), sedangkan Nabi rahmat melaknatnya?

Al Kulaini menukilkan di usul Kafi : ” Berkata Abu Abdillah: “wahai Abu Umar sesungguhnya sembilan per sepuluh (sembilan puluh persen) agama ini terletak pada (akidah) taqiyah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak melakukan taqiyah, taqiyah ada pada setiap sesuatu kecuali di nabidz (korma yang direndam dalam air untuk membuat arak) dan di dalam menyapu atas khuuf (kaus atau kulit kulit).” Dan dinukilnya juga dari Abi Abdillah ia berkata : “Jagalah agama kalian dan tutuplah agama itu dengan taqiyah, karena tidak ada iman bagi orang yang tidak mempunyai taqiyah.” [8]

Maka orang Rafidhah memandang taqiyah itu adalah fardu (wajib), tidak akan berdiri mazhab ini kecuali dengan taqiyah, dan mereka menerima pokok-pokok mazhab secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan. Mereka selalu melaksanakannya taqiyah itu terlebih-lebih, bila konsisi yang sulit telah mengepung mereka, maka hati-hatilah dari orang Rafidhah wahai kaum muslimin.

[Disalin dari kitab Diantara Aqidah Syi'ah, Disusun oleh Abdullah bin Muhammad As Salafi, Diterjemahkan oleh Abu Abdillah Muhammad Elvi Syam, Lc.]
_________
Foote Note
[1] Awaailul Maqaalaat, oleh Al Mufiid, Hal : 51.
[2] Al Khuthuthul ‘Ariidhah, oleh Muhibbudin Al Khatiib, hal : 80.
[3] Awaailul Maqaalaat, oleh syeikh mereka yang bergelar Al Mufiid, Hal : 95.
[4] Haqul Yakiin, oleh Muhammad Al Baqir Al Majlisi, hal : 347.
[5] Inilah hakikat kemunafikan, yaitu menampakkan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang dibatin, atau menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekafiran. Dengan kata lain, takiyah / nifak itu adalah lain di mulut lain di hati. Itulah akidah orang syiah, maka hati-hatilah dari tipu muslihat mereka, (pent).
[6] As Syi’ah fil Mizaan, oleh Muhammad Jawaad Mughniyah, hal : 48.
[7] Furuu’ul Kafii, kitab AL Janaaiz, hal : 188.
[8] Usuulul Kafii, hal : 482-483.

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=467&bagian=0
——————————–

APAKAH PERKATAAN PARA IMAM TERDAHULU DAN BELAKANGAN TENTANG RAFIDHAH (SYI’AH) ?

Disusun oleh
Abdullah bin Muhammad As Salafi
Bagian Terakhir dari Tigabelas Tulisan 13/13

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah telah berkata : “Dan sungguh telah sepakat ahli ilmu dalam bidang naqal, riwayat dan sanad, bahwasanya Rafidhah adalah yang paling pendusta dari kalangan kelompok-kelompok (yang sesat), berbohong terdapat dalam diri mereka sudah sejak lama, oleh karena inilah para imam-imam Islam metitelkan keistimewaan mereka dengan sering (banyak) berdusta.

Asyhab bin Abdul Aziz telah berkata : Imam Malik telah ditanya tentang Rafidhah, maka beliau menjawab : Janganlah kamu berbicara dengan mereka, dan janganlah mengambil riwayat dari mereka, sesungguhnya mereka itu orang-orang yang berdusta (pembohong).

Dan berkata Imam Malik : orang yang mecaci maki para sahabat Rasulullah, maka ia tidak berhak mendapatkan nama, atau tempat di dalam Islam.

Berkata Ibnu Katsir di dalam firman Allah.

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka: kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda meraka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min)”. [Al Fath : 29].

“Dari ayat ini, maka Imam Malik menyimpulkan di dalam satu riwayat darinya, dengan mengkafirkan orang-orang rafidhah dimana mereka membenci para sahabat, beliau berkata : “Karena para sahabat menjengkelkan hati mereka (orang-orang rafidhah), barangsiapa yang dijengkeli oleh para sahabat maka ia adalah kafir oleh ayat ini”.

Al Qarthubi telah berkata : “Sungguh Imam Malik telah berbuat baik dalam ucapannya dan ia telah benar dalam menafsirkannya, maka barangsiapa mencela seorang saja dari mereka atau mencela riwayatnya maka ia sungguh telah membantah Allah Rabb semesta alam, dan telah menggugurkan syari’at-syari’at kaum muslimin.” [1]

Abu Hatim telah berkata : ” Telah menceritakan kepada kami Harmalah, ia berkata : Saya telah mendengar Imam Syafi’i berkata : “Saya belum pernah melihat seseorang yang lebih mudah bersaksi dengan kepalsuan daripada Rafidhah”.

Muammil bin Ahab telah berkata : “Saya telah mendengar Yazid bin Harun berkata : “Ditulis (riwayat hadits) dari setiap pelaku bid’ah bila tidak mengajak ke bid’ahnya, kecuali Rafidhah, sesungguhnya mereka itu pendusta.”

Dan Muhammad bin Sa’ad Al Ashbahaani telah berkata : “Saya telah mendengar syeikh Syuraik berkata : “Ambillah ilmu itu dari setiap orang yang kamu jumpai kecuali Rafidhah, sesungguhnya mereka membuat-buat (memalsukan) hadits, dan mereka menjadikan hal itu sebagai agama”. Syuraik ini adalah Syuraik bin Abdullah Qodhi (hakim) kota Kufah.

Mu’awiyah telah berkata : “Saya telah mendengan Al ‘Amasy berkata : Saya menjumpai sekelompok manusia, dan mereka tidaklah menyebutkan tentang mereka (rafidhah) kecuali (digolongkan kepada) orang-orang sangat pembohong”, maksudnya (mereka pembohong itu) adalah pengikut AL Mughirah bin Sa’id yang bermadzhab rafidhah lagi pendusta, seperti yang disifati oleh imam Adz Dzahabi. [2]

Syeikhul Islam telah berkata dalam mengomentari apa yang dikatakan oleh para imam salaf : “Dan adapun Rafidhah asal usul bid’ah mereka diambil dari Zindiq dan kufur serta unsur kesengajaan, kebohongan banyak sekali di tengah-tengah mereka, dan mereka mengakui hal itu, dengan mengatakan : Agama kita adalah Taqiyah, yaitu salah seorang dari mereka mengucapkan dengan lidahnya berbeda dengan apa yang ada di hatinya. Dan inilah hakikat kebohongan dan kemunafikan, maka mereka dalam hal itu sebagaimana pepadah : “Ia telah melemparku dengan penyakitnya lalu ia lari”. [3]

Berkata Abdullah bin Ahmad bin Hambal : Saya telah bertanya kepada bapakku tentang Rafidhah, maka ia mengatakan : “Yaitu orang-orang yang mencaci maki atau mencela Abu Bakr dan Umar”. Dan Imam Ahmad ditanya tentang Abu Bakr dan Umar, maka ia menjawab : Doa’kanlah mereka berdua agar diberi rahmat, dan berlepas dirilah dari orang yang membenci mereka berdua”. [4]

Al Khallal meriwayatkan dari Abu Bakr Al Marwazi, ia berkata : Saya telah bertanya kepada Abu Abdillah (Imam Ahmad) tentang orang yang mencaci maki Abu Bakr dan Umar serta ‘Aisyah, maka ia berkata : “Saya tidak memandangnya di dalam Islam (artinya orang yang mencaci itu telah keluar dari Islam-pent). [5]

Al Khallal meriwayatkan, ia berkata : Saya telah diberi tahu oleh Harb bin Ismail Al Karmaani, ia berkata : Telah bercerita kapada kami Musa bin Harun bin Ziad, ia berkata : saya telah mendengar Al Firyaabi sedangkan seorang laki-laki bertanya kepadanya tentang orang yang mencaci maki Abu Bakr, ia berkata : Kafir. Lalu ia berkata lagi, apakah disolatkan? Ia berkata : Tidak.”

Ibnu Hazam telah berkata : tentang Rafidhah tatkala ia berdebat dengan orang Kristen, dan orang-orang memberikan kepadanya kitab-kitab Rafidhah untuk bantahan terhadapnya (Ibnu Hazam dan berkata) : sesungguhnya Rafidhah bukanlah kaum muslimin, dan perkataan mereka bukanlah argumen terhadap agama, akan tetapi Rafidhah itu hanyalah suatu golongan, mula terjadinya kira-kira duapuluh lima tahun setelah Nabi Wafat, dan permulaannya adalah merespon pangilan orang yang hampir masuk islam dari orang-orang yang dihina Allah. Rafidhah itu adalah kelompok yang berjalan atas jalan ajaran Yahudi dan Nasrani dalam kebohongan dan kekufuran.” [6]

Abu Zur’ah Ar Raazi berkata : “Bila kamu melihat seseorang yang mencaci salah seorang dari para sahabat Rasulullah, maka ketahuilah sesungguhnya dia itu Zindiq.”

Lajnah Daimah Lil Ifta (Lembaga Tetap untuk Fatwa) di Kerajaan Saudi Arabia pernah ditanya dengan satu pertanyaan, dalam pertanyaan itu penanya mengatakan bahwa ia dan sekelompok teman bersamanya berada di perbatasan utara berdekatan dengan cek point negara Iraq. Di sana ada sekelompok penduduk yang bermadzhab Al Ja’fariyah, dan diantara mereka (kelompok penanya) ada orang yang enggan untuk memakan sembelihan penduduk itu, dan diantara mereka ada yang makan, maka kami bertanya : Apakah halal bagi kami untuk memakan sembelihan mereka, ketahuilah sesungguhnya mereka berdoa minta tolong kepada Ali, Hasan dan Husain serta seluruh pemimpin-pemimpin mereka di dalam keadaan sulit dan keadaan lapang ? Lalu Lajnah (lembaga) yang diketuai oleh Syeikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baz dan (anggota-anggotanya); Syeikh Abdul Razaq ‘Afifi, Syeikh Abdullah bin Ghudayan, dan Syeikh Abdullah bin Qu’uud, semoga Allah memberi pahala kepada mereka semua.

Jawabannya : Segala puji bagi Allah semata, dan shalawat dan salam semoga dianugerahkan kepada rasul-Nya dan keluarga beliau serta sahabat-sahabatnya, dan adapun selanjutnya :

Jika permasalahannya seperti yang disebutkan oleh penanya, bahwa sesungguhnya jamaah (kelompok) yang memiliki ajaran Ja’fariyah, mereka berdo’a dan meminta tolong kepada Ali, Hasan dan Husain serta pemimpin-pemimpin mereka, maka mereka itu adalah orang-orang musyrik murtad, kelaur dari agama Islam, semoga Allah melindungi kita dari itu, tidaklah halal memakan sembelihan mereka, karena sembelihan itu adalah bangkai, walaupun mereka menyebut nama Allah saat menyembelihnya.” [7]

Syeikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin ditanya, soal itu berbunyi : wahai syeikh yang mulia, di negeri kami terdapat seorang rafidhah (bermadzhab syi’ah rafidhah) bekerja sebagai tukang sembelih, maka ahlusunnah datang kepadanya untuk menyembelih sembelihan mereka, dan begitu juga sebagian rumah makan, bekerja sama dengan orang rafidhah ini, dan dengan rafidhah lainnya yang berprofesi sama, apakah hukumnya bertransaksi atau berkoneksi dengan orang rafidhah ini dan semisalnya? Apakah hukum sembelihannya, apakah sembelihannya halal atau haram, berikanlah kepada kami fatwa, semoga syeikh diberi pahala oleh Allah.

Wa’alaikum salam warahmatullah wabarakatuh wa ba’du:

Tidaklah halal sembelihan orang rafidhah, dan juga memakan sembelihannya, sesungguhnya orang rafidhah pada umumnya adalah orang-orang musyrik, dimana mereka selalu menyeru Ali bin Abi Thalib di waktu sempit dan lapang, sampai di Arafah dan saat tawaf dan sa’i, mereka juga menyeru anak-anak beliau dan imam-imam mereka seperti yang sering kita dengar dari mereka, perbuatan ini adalah syirik akbar dan keluar dari agama Islam yang berhak dihukum mati atasnya.

Sebagaimana mereka sangat berlebih-lebihan dalam menyifati Ali, mereka menyifati beliau dengan sifat-sifat yang tidak layak kecuali hanya untuk Allah, sebagaimana kita mendengarnya dari mereka di Arafah, dan mereka disebabkan perbuatan itu telah murtad, yang mana mereka telah menjadikannya sebagai Rabb, Sang Pencipta, dan Yang mengatur Alam, Yang mengetahui ghaib, yang menguasai kemudaratan dan manfaat, dan semisal itu.

Dan sebagaimana mereka mencela Al Quran, mereka mendakwakan bawah para sahabat telah merubah, menghilangkan dari Al Quran ayat-ayat yang banyak berhubungan dengan Ahlu Bait dan musuh-musuh mereka, lalu mereka tidak berpedoman kepada Al Quran dan mereka tidak memandangnnya sebagai dalil dan argumen.

Sebagaimana mereka mencela pemuka-pemuka sahabat, seperti tiga orang khalifah rasyidin, dan selain mereka dari orang yang diberi kabar gembira jaminan masuk surga, para umul mukminin (istri-istri rasulullah), para sahabat yang terkenal, seperti Anas, Jabir, Abu Hurairah dan semisalnya, maka mereka tidak menerima hadits-hadits para sahabat tersebut, karena mereka itu orang kafir menurut dakwaan mereka, mereka tidak mengamalkan hadits-hadits di Bukhari Muslim kecuali yang berasal dari Ahlu Bait. Mereka bergantung dengan hadits-hadits palsu atau hadits-hadits yang di dalamnya tidak ada bukti atas apa yang mereka katakan. Akan tetapi walaupun demikian, mereka itu adalah bersikap munafik, maka mereka mengucapkan dengan lidah mereka apa yang tidak ada pada hati mereka (yang tidak mereka yakini), mereka menyembunyikan di diri mereka apa yang tidak mereka tampakkan kepadamu, mereka berkata : barangsiapa tidak bersikap taqiyah (nifaq) maka tidak ada agama baginya. Maka dakwaan mereka itu tidak bisa diterima dalam ukhwah persaudaraan, dan dakwaan mereka akan cinta syari’at… dan seterusnya. Sikap nifaq adalah merupakan akidah bagi mereka. Semoga Allah menjaga (kita) dari kejelekan mereka, semoga Allah menganugerahkan shalawat dan salam keada Muhammad, dan keluarga beliau serta para sahabatnya. [8]

[Disalin dari kitab Diantara Aqidah Syi'ah, Disusun oleh Abdullah bin Muhammad As Salafi, Diterjemahkan oleh Abu Abdillah Muhammad Elvi Syam, Lc.]
_________
Foote Note
[1] Ushul Madzhab As Syi’ah Al Imamiyah Al Itsna Asyara, oleh Dr. Nashir AL Qafaari, (3/1250).
[2] Minhaajus Sunnah, oleh Syeikhul Islam Ibnu Timiyah, (1/59-60).
[3] Minhaajus Sunnah, oleh Syeikhul Islam Ibnu Timiyah, (1/68).
[4] Al Masail dan Al Rasail Al Mawiyah ‘An Imam Ahmad bin Hambal, oleh Abdul Ilah bin Sulaiman Al Ahmadi, (2/357).
[5] As Sunnah oleh Khalal (3/493). Ini merupakan pernyataan yang jelas dari imam Ahmad dalam menghukum kafir orang Rafidhah.
[6] Al Fashlu Fi Al Milal wa An Nihal, oleh Ibnu Hazam (2/78).
[7] Fatwa Lajnah Daimah Lil Iftak, (2/264).
[8] Fatwa ini keluar dari syeikh setelah dilontarkan kepada beliau suatu soal yang berhubungan dengan sikap bergaul sama orang rafidhah pada tahun 1414 H, dan penyusun ingin menerangkan sekitar apa yang terdengar bahwa syeikh Abdullah Al-Jibrin semoga Allah melindunginya- beliau seorang yang mengkafirkan orang-orang Rafidhah, yang benarnya adalah bahwa para imam dari terdahulu sampai belakangan ini mengkafirkan kelompok ini, hal itu disebabkan karena hujjah telah ditegakkan kepada mereka, dan hilangnya uzur kebodohan dari mereka. (Insya Allah penerjemah akan membuat edisi khusus tentang perkataan ulama salaf terhadap rafidhah).

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=641&bagian=0
———————————————–

APA KEYAKINAN ATH-THIINAH (TANAH) YANG DIIMANI OLEH ORANG RAFIDHAH ?

Disusun oleh
Abdullah bin Muhammad As Salafi.
Bagian Kedelapan dari Tigabelas Tulisan 8/13

Yang dimaksud dengan At-Thiinah (tanah) menurut orang Rafidhah adalah tanah perkuburan Husain radhiallhu ‘anhu-. Salah seorang dari orang-orang sesat mereka yang bernama Muhammad An Nu’man Al Haritsi yang bergelar dengan “Syeikh Al Mufid”, menukilkan di kitabnya “Al Mazaar” dari Abi Abdillah ia berkata : “Di tanah perkuburan Husain terdapat obat untuk segala penyakit dan ia merupakan obat yang paling besar (ampuh)”.

Berkata Abdullah : “Oleskanlah di mulut bayi kalian tanah (perkuburan) Husain”

Ia berkata : Telah dikirim kepada Abi Hasan Al Ridha dari negeri Khurasan sebuah bungkusan kain di antaranya terdapat segumpal tanah, maka dikatakan kepada utusan itu : Apa ini? Ia berkata : Tanah perkuburan Husain, tidaklah ia mengirim sedikitpun dari bungkusan kain atau lainnya, kecuali ia meletakkan di dalamnya tanah itu, dan berkata tanah itu pengaman insya Allah. Dikatakan kepadanya : Sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada Shadiq tentang pengambilannya akan tanah perkuburan Husain, maka Shodiq menjawab : “Apa bila kamu mengambilnya maka ucapkanlah : “Ya Allah sesungguhnya saya meminta kepadamu disebabkan oleh hak malaikat yang telah mengenggamnya (tanah ini), dan meminta kepadamu, disebabkan oleh hak Nabi yang telah menyimpannya, dan oleh hak Al Washi (Ali) yang telah bersatu di dalamnya agar Engkau melimpahkan Shalawat kepada Muhammad dan atas keluarga Muhammad dan agar Engkau menjadikannya obat penawar untuk seluruh penyakit, dan pengaman dari seluruh ketakutan, dan penjaga dari seluruh kejahatan.

Abu Abdillah ditanya tentang penggunaan dua jenIs tanah dari perkuburan Hamzah dan pekuburan Husain serta mana yang paling utama diantara keduanya, maka ia berkata : “Tasbih yang dibuat dari tanah perkuburan Husain akan bertasbih (sendirinya) ditangan, tanpa (pemiliknya) bertasbih.”. [1]

Sebagaimana orang Rafidhah mendakwakan, sesungguhnya orang syi’ah tercipta dari tanah yang khusus dan orang Sunni tercipta dari tanah yang lain, lalu terjadilah pengadukkan antara kedua tanah tadi dengan cara tertentu, maka apa-apa yang terdapat pada orang syiah dari kemaksiatan dan kejahatan, maka itu merupakan pengaruh dari tanah sunni, dan apa-apa yang terdapat pada orang sunni dari kebaikan dan amanah, maka itu disebabkan oleh pengaruh tanah syi’ah. Dan apabila pada hari Kiamat nanti, maka kejelekan dan dosa-dosa orang syi’ah diletakkan di atas Ahli Sunnah, dan kebaikan (pahala) Ahli Sunnah akan diberikan kepada orang syi’ah. [2]

APA AQIDAH ORANG RAFIDHAH TERHADAP AHLI SUNNAH ?
Aqidah orang Rafidhah berdiri di atas penghalalan harta dan darah ahli sunnah. Al Shoduq di kitab (Al ‘Ilal) meriwayatkan dengan sanadnya kepada Daud bin Farqad, ia berkata : “Saya telah berkata kepada Abi Abdillah : Apa yang anda katakan terhadap An Naashib (Ahli Sunnah), ia berkata : “Darahnya halal, akan tetapi saya bertaqiyah atasmu, jika kamu mampu untuk membalikkan dinding atas dirinya (ahli sunnah) atau menenggelamkannya di laut, agar ia tidak akan bersaksi atas dirimu, maka lakukanlah. Saya berkata : Apa pandanganmu di hartanya? Ia menjawab : “Ambillah semampumu”. [3]

Bahkan orang syi’ah Rafidhah memandang, bahwa kekafiran Ahli Sunnah lebih berat dari kekafiran orang Yahudi dan Nasrani, karena mereka (Yahudi dan Nasrani) menurut Rafidhah orang-orang kafir asli, dan mereka ini (ahli sunnah) adalah kafir murtad, dan kafir murtad lebih berat menurut ijma’, oleh karena itu mereka (mau) berkerja sama dengan orang-orang kuffar untuk melawan kaum muslimin, hal itu seperti yang disaksikan oleh sejarah [4].

Terdapat di dalam kitab “Wasaail As Syi’ah” (diriwayatkan) dari Al Fudhail bin Yasaar, ia berkata : saya telah bertanya kepada Abu Ja’far tentang wanita ‘Arifah (yakni wanita bermazhab Rafidhah) apakah saya menikahkannya dengan An Nashib (ahli Sunnah)? Maka ia berkata : “Tidak; karena Nashiba (ahli sunnah ) orang kafir.” [5]

An Nawasib (orang-orang An Nasib) menurut pemahaman Ahli sunnah adalah mereka yang membenci Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu-, akan tetapi menurut orang Rafidhah, mereka menamakan Ahli sunnah dengan Nawashib (An Nashib), karena mereka mendahulukan keimaman Abu Bakr, dan Umar dan Utsman atas Ali, padahal sesungguhnya mengutamakan Abu Bakr dan Umar atas diri Ali telah terjadi sejak zaman Nabi, dalilnya perkataan Ibnu Umar : “Adalah kami di zaman rasulullah memilih di antara sahabat siapa yang terbaik, maka kami memilih (orang yang terbaik) Abu Bakr, kemudian Umar kemudian Utsman”. (H.R. Bukhari), dan ditambah oleh At Thabrani di Kitab “Mu’jam Al Kabir” : Nabi pun mengetahui hal yang demikian dan tidak mengingkarinya”. Dan bagi Ibnu Asaakir : “Adalah kami mengutamakan Abu Bakr, dan Umar, dan Utsman dan Ali”.

Imam Ahmad dan lainnya meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib sesungguhnya ia berkata : “Sebaik-baik umat ini setelah nabinya adalah Abu Bakr, kemudian Umar, kalau aku berkehendak pasti aku telah menyebutkan orang yang ketiga”. Berkata Adz Dzahabi : Ini (Hadits ini) Mutawatir.” [6]

[Disalin dari kitab Diantara Aqidah Syi'ah, Disusun oleh Abdullah bin Muhammad As Salafi, Diterjemahkan oleh Abu Abdillah Muhammad Elvi Syam, Lc.]
_________
Foote Note
[1] Kitab Al Mazaar, oleh syeikh mereka yang bergelar “Syeikh Al Mufid” hal : 125.
[2] ‘Ilal-As Syaraai’ hal : 490-491, Bihar Al Anwar : 5/247-248.
[3] Al Mahasin An Nafsaaniyah, Hal : 166.
[4] Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : “Sesungguhnya orang Rafidhah berkerjasama dengan orang-orang Tatar tatkala orang Tatar menyerang negeri kaum Muslimin. (Fatawa : 35/151). Lihatlah kitab :Kaifa Dakhalat Tatar Bilaadal Muslimin (Bagaimana orang Tartar (bisa) masuk ke negeri kaum muslimin) oleh Dr. Sulaiman bin Hamd Al Audah.
[5] Wasaail As Syi’ah, oleh Al Hur Al ‘Amili (7/431), At Tahdzib (7/303).
[6] At Ta’liiqaat ‘Ala Matan Lum’atil ‘Itiqaad, oleh Syeikh kita Al Allamah Abdullah bin Jibrin semoga Allah menjaganya-, hal : 91.

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=483&bagian=0

APAKAH KEYAKINAN ORANG RAFIDHAH TENTANG BAI’AT

Disusun oleh
Abdullah bin Muhammad As Salafi
Bagian Keduabelas dari Tigabelas Tulisan 12/13

Orang Rafidhah menganggap setiap pemerintahan selain pemerintahan Itsna ‘Asyara (syi’ah Itsna “asyarah / Imammiyah / Rafidhah ) adalah pemerintahan yang batil (tidak sah). Diriwayatkan di dalam kitab “Al Kaafii” dengan syarahan (uraian) Al Mazandaraani dan di dalam kitab Al Ghaibah oleh An Nu’mani, dari Abi Ja’far, ia berkata : “Setiap bendera yang diangkat (dikibarkan) sebelum bendera Al Qaaim Mahdinya orang Rafidhah- maka pemiliknya adalah thoghut” [1].

Dan tidak boleh menta’ati seorang hakim yang bukan dari Allah, kecuali dengan cara taqiyah (kemunafikan), penguasa yang absolut dan zholim tidaklah pantas untuk menjadi pemimpin, dan setiap pemimpin yang bersifat yang serupa dengan itu. Seluruhnya gelar itu mereka memberikan nama itu kepada penguasa kaum muslimin yang bukan dari imam-imam mereka, orang paling utama dari mereka itu adalah khulafaurasyidin semoga Allah meridhoi mereka- yaitu : Abu Bakr, Umar dan Utsman.

Tokoh Rafidhah Al Majlisi, dimana ia merupakan salah seorang dari orang-orang yang sesat dari mereka, pengarang kitab “Bihaarul Anwar”, berkata tentang tiga orang khalifah rasyidin : “Sesungguhnya mereka tiada lain kecuali perampas yang zholim, murtad dari agama, semoga laknat Allah atas mereka dan terhadap orang-orang yang mengikuti mereka di dalam menzholimi ahlu bait dari pertama sampai terakhir” [2]. Inilah yang dikatakan oleh imam mereka Al Majlisi yang kitabnya dikatagorikan ke dalam referensi mereka (rujukan) yang pokok dan perpenting dalam hadits mengenai umat yang paling mulia setelah para rasul dan nabi.

Berdasarkan kepada keyakinan mereka terhadap khilifah kaum muslimin, maka mereka menganggap setiap orang yang bekerjasama dengan mereka adalah thoghut dan zholim. Al Kulaini meriwayatkan dengan sanadnya dari Umar bin Hanzholah, ia berkata : “Saya telah bertanya kepada Abu Abdillah tentang dua orang dari golongan kita, di antara mereka berdua terjadi perselisihan dalam masalah agama atau harta warisan, lalu mereka berdua berhukum (minta diselesaikan secara hukum) kepada penguasa dan kepada hakim, apakah hal itu halal? Ia berkata : barangsiapa berhukum (meminta diselesaikan secara hukum) kepada mereka, dengan kebenaran atau kebatilan, maka sesungguhnya mereka berhukum kepada thoghut, dan apa yang telah diputuskan untuknya sesungguhnya yang ia ambil adalah harta haram, walaupun sebenarnya itu haknya, karena ia telah mengambilnya dengan hukum thoghut” [3].

Berkata Khumaini yang celaka semoga Allah menghukumnya dengan hukum sepantas dan setimpal- dalam mengomentari pembicaraan mereka ini : “Imam itu sendiri dilarang untuk merujuk kepada penguasa-penguasa dan hakim-hakim mereka, dan merujuk kepada mereka dikatagorikan merujuk kepada thoghut.” [4]

APAKAH HUKUM USAHA MENDEKATKAN ANTARA AHLIS SUNNAH YANG BERTAUHID DENGAN RAFIDHAH YANG MUSYRIK ?
Saudaraku pembaca yang budiman, saya cukupkan saja dalam masalah ini, dengan mencantumkan tulisan dari tulisan-tulisan DR. Nashir AL Qafari di dalam kitabnya : “Masalah At Taqriib”, yaitu tulisan yang ke tujuh, dimana beliau berkata -semoga Allah menjaganya :

“Bagaimana mungkin mendekatkan antara orang yang mencaci kitab Allah dan menafsirkannya tidak sesuai dengan tafsirannya, dan mendakwakan turunnya kitab-kitab ilahi (wahyu) kepada imam-imamnya setelah Al Quranul Karim?, dan ia memandang keimaman itu adalah kenabian, para imam baginya seperti para nabi dan bahkan lebih mulia, dan ia menafsirkan mengibadati Allah semata yang mana itu adalah inti dari misi (ajaran) para rasul seluruhnya tidak sesuai dengan maknanya yang hakiki, dan mendakwakan bahwa sesungguhnya ibadah itu adalah ta’at kepada para imam. dan sesungguhnya syirik kepada Allah adalah mentaati selain mereka (para imam) bersama mereka, ia mengkafirkan orang-orang yang terbaik dari para sahabat rasulullah, dan mengkliem seluruh para sahabat dengan murtad, kecuali tiga atau empat atau tujuh sesaui dengan perbedaan riwayat mereka. Dan orang ini (orang Syiah) tampil berbeda dengan keganjilan dari jamaah kaum muslimin dengan masalah-masalah akidah dan keyakinan di dalam keimaman, kemaksuman (terjaga dari dosa), taqiyah (kemunafikan), dan mengatakan raj’ah (imam kembali ke dunia), Al qhaibah (menghilangnya As Kaari) dan Al Bada’[5].”[6]

[Disalin dari kitab Diantara Aqidah Syi'ah, Disusun oleh Abdullah bin Muhammad As Salafi, Diterjemahkan oleh Abu Abdillah Muhammad Elvi Syam, Lc.]
_________
Foote Note.
[1] Kitab “Al Kaafii” dengan syarahan (uraian) Al Mazandaraani, dan lihat kitab Al Bihaar (25/113).
[2] Kitab Al Bihaar oleh Al Majlisi (4/385).
[3] Kitab “Al Kaafii” oleh Al Kulaini (1/67), kitab At Tahdziib (6/301) dan kitab Man Laa Yahsuruhu Al Faqiih : (3/5).
[4] Al Hukumaatul Islamiyah, hal : 74.
[5] Defenisi ini lihat kembali edisi-edisi yang telah berlalu, diantaranya edisi : 2, 6 dan 7.
[6] “Masalah At Taqriib” DR. Nashir Al-Qafari (2/302

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=604&bagian=0

—————————————

APA KEYAKINAN ORANG RAFIDHAH TENTANG NIKAH MUT’AH ? DAN APA KEUTAMAANNYA MENURUT MEREKA ?

Disusun oleh
Abdullah bin Muhammad As Salafi.
Bagian Kesembilan dari Tigabelas Tulisan 9/13

Nikah mut’ah mempunyai keutamaan yang agung sekali di sisi orang Rafidhah Al’iyaadzu billah-. Tercantum dalam kitab “Manhaj As Shodiqin” karangan Fathullah Al Kaasyaani dari As Shodiq (menerangkan) bahwasanya nikah mut’ah itu adalah dari ajaran agamaku dan agama bapak-bapakku, dan orang yang melaksanakannya berarti dia mengerjakan ajaran agama kita, dan orang yang mengingkarinya berarti dia mengingkari ajaran agama kita, bahkan ia memeluk agama lain dari agama kita. Dan anak (hasil) nikah mut’ah lebih mulia dari anak istri yang tetap. Orang yang mengingkari nikah mut’ah adalah kafir murtad.” [1]

Al Qummi menukilkan di dalam kitab “Man Laa Yahduruhu Al Faqiih” dari Abdulah bin Sinan dari Abi Abdillah, ia berkata : “Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala telah mengharamkan atas golongan kita setiap yang memabukkan dari sertiap minuman, dan telah mengganti mereka dari hal itu dengan nikah mut’ah” [2].

Orang Rafidhah tidak pernah menyaratkan (membatasi) bilangan tertentu dalam nikah mut’ah. Tercantum dalam kitab “Furuu’ Al Kafi” dan At Tahdziib” dan “Al Istibshoor” dari Zaraarah, dari Abi Abdillah, ia berkata : “Saya telah menyebutkan kepadanya akan nikah mut’ah apakah nikah mut’ah itu (terjadi) dari empat (yang dibolehkan), ia berkata : nikahilah dari mereka-mereka (para wanita) seribu, sesungguhnya mereka-mereka itu adalah wanita yang disewa (dikontrak). Dan dari Muhammad bin Muslim dari Abi Ja’far sesungguhnya ia berkata tentang nikah mut’ah : “Bukan nikah mut’ah itu (dilakukan) dari empat (istri yang dibolehkan), karena ia (nikah mut’ah) tidak ada talak, tidak mendapat warisan, akan tetapi ia itu hanyalah sewaan” [3].

Bagaimana mungkin ini, padahal Allah telah berfirman :

Artinya : “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas”. [Al Mukminun : 5-7]

Maka jelaslah dari ayat yang mulia ini bahwa sesungguhnya apa yang dihalalkan dari nikah adalah istri dan budak perempuan yang dimiliki, dan diharamkan apa yang lebih dari (selain) itu. Wanita yang dimut’ah adalah wanita sewaan, maka ia bukanlah istri (yang sah), dan ia tidak bisa mendapatkan warisan dan tidak bisa ditalak, jadi dia itu adalah pelacur / wanita pezina waliyaadzubillah-. Syeikh Abdullah bin Jibriin berkata : “Orang Rafidhah berdalih dalam menghalalkan nikah mut’ah dengan ayat di surat An Nisa’ yaitu firman Allah :

Artinya : “Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka istri-istri yang telah kamu nikmati (campur) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban;”. [An Nisa : 24]

Jawab : Sesungguhnya ayat ini semuanya dalam masalah nikah; dari firman Allah ayat 19 di surat An Nisa sampai 23, setelah Allah menyebutkan wanita-wanita yang haram dinikahi karena nasab dan sebab, kemudian Allah berfirman :

Artinya : “Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian.”

Maksudnya dihalalkan bagimu menikahi selain wanita-wanita (yang disebutkan tadi) bila kamu menikahi mereka untuk bersenang-senang yaitu bersetubuh yang halal, maka berikanlah mahar mereka yang telah kamu wajibkan untuk mereka, dan jika mereka mengugurkan sesuatu dari mahar-mahar itu berdasarkan dari jiwa yang baik (keridhoan hati), maka tidak mengapa atas kamu dalam hal itu. Beginilah ayat ini ditafsirkan oleh jumhur (mayoritas) sahabat dan orang-orang setelah mereka [4].

Bahkan di sisi (menurut) orang Rafidhah perkaranya telah sampai menghalalkan menyetubuhi wanita di lubang anusnya. Tercantum dalam kitab “Al Istibshoor” dari Ali bin Al Hakam ia berkata : “Saya telah mendengar Shofwan berkata : “Saya telah berkata kepada Al Ridha : Sesungguhnya seorang laki-laki dari budak-budakmu memerintahkan saya untuk menanyakan kepadamu akan suatu masalah, maka dia takut dan malu kepadamu untuk menanyakanmu, ia berkata : apa itu? Ia berkata : Apakah boleh bagi laki-laki untuk menyetubuhi wanita (istrinya) di lubang anusnya? Ia menjawab : Ya, hal itu boleh baginya” [5].

[Disalin dari kitab Diantara Aqidah Syi'ah, Disusun oleh Abdullah bin Muhammad As Salafi, Diterjemahkan oleh Abu Abdillah Muhammad Elvi Syam, Lc.]
________
Foote Note
[1] Manhaj As Shodiqiin, karangan Mulla Fathullah al Kasyaani, hal : 356.
[2] “Man Laa Yahduruhu Al Faqiih”, hal : 330.
[3] Al Furuu’ min Al Kafii, (2/43), dan kitab ” At Tahdziib” (2/188).
[4] Dari perkataan Syeikh Ibnu Jibrin semoga Allah mengangkat darajatnya, adapun dalil dari Sunnah dalam mengharamkan nikah mut’ah adalah hadits Ar Rafi’ bin Sirah Al Juhani, sesungguhnya bapaknya menceritakan kepadanya bahwa sesungguhnya ia (bapaknya) bersama rasulullah, maka beliau bersabda : wahai Manusia sesungguhnya saya pernah mengizinkan untuk kalian bersenang-senang dengan perempuan (nikah mut’ah), dan sesungguhnya Allah sungguh telah mengharamkan hal itu (nikah mut’ah) sampai hari Kiamat, barangsiapa yagn memiliki seseorang wanita darinya maka hendaklah ia melepaskannya, dan janganlah kalian mengambil sedikitpun dari apa yang telah kalian berikan kepadanya.” (H.R. Muslim no : 1406).
[5] Al Istibshoor, (3/243).

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=516&bagian=0

———————-

APA KEYAKINAN ORANG RAFIDHAH TERHADAP NAJAF DAN KARBALA ? DAN APA KEUTAMAAN MENZIARAHINYA MENURUT MEREKA ?

Disusun oleh
Abdullah bin Muhammad As Salafi
Bagian Kesepuluh dari Tigabelas Tulisan 10/13

Orang syi’ah sungguh telah menjadikan tempat-tempat perkuburan imam-imam mereka baik imam dakwaan mereka belaka atau hakiki, sebagai tempat yang haram dan suci (seperti haram Makkah) : maka kota Kufah adalah haram, Karbala haram, Qum haram. Dan mereka meriwayatkan dari As Shidiq : “Sesungguhnya Allah memiliki haram yaitu kota Mekkah, dan Rasulullah memilik haram yaitu kota Madinah, dan Amirul mukminin memiliki haram yaitu kota Kufah dan kita memiliki haram yaitu Qum.

Karbala menurut mereka lebih afdhol (utama) dari Ka’bah. Hal ini tercantum dalam kitab “Al Bihaar” dari Abi Abdillah bahwasanya ia berkata : “Sesungguhnya Allah telah mewahyukan ke Ka’bah; kalaulah tidak karena tanah Karbala, maka Aku tidak akan mengutamakanmu, dan kalaulah tidak karena orang yang dipeluk oleh bumi Karbala (Husain), maka Aku tidak akan menciptakanmu, dan tidaklah Aku meciptakan rumah yang mana engkau berbangga dengannya, maka tetap dan berdiamlah kamu, dan jadilah kamu sebagai dosa yang rendah, hina, dina, dan tidak congkak dan sombong terhadap bumi Karbala, kalau tidak, pasti Aku telah buang dan lemparkan kamu ke dalam Jahanam. [1]

Dan tercantum juga di dalam kitab “Al Mazaar” karangan Muhammad An Nu’man yang diberi gelar dengan syeikh Mufid, di dalam Bab “Ucapan saat berdiri di atas kuburan” yaitu orang yang menziarahi kuburan Husain mengisyaratkan dengan tangan kanannya sambil mengucapkan doa yang panjang, diantaranya :

“Saya datang berziarahmu, untuk mencari keteguhan kaki di dalam berhijrah kepadamu, dan sungguh saya telah meyakini bahwasanya Allah Jalla Tsanaauhu, dengan lantaranmu Dia melapangkan kesulitan, dan dengan lantaranmu Dia menurunkan Rahmat, dan dengan lantaranmu Dia menahan bumi yang jatuh bersama penduduknya, dengan lantaramu Allah mengokohkan gunung-gunung di atas pondasinya, dan sungguh saya telah menghadap (munajat) kepada Rabbku, bahwa dengan lantaranmu wahai tuanku untuk menyelesaikan hajat kebutuhan dan keampunan dosa-dosaku.”

Dan tercantum dalam kitab “Al Mazaar” tentang keutamaan kota Kufah, dari Ja’far Al Shodiiq ia berkata : “Tempat yang paling mulia (utama) setelah haram Allah dan haram rasul-Nya adalah kota Kufah, karena kota Kufah Suci bersih, di sana terdapat kuburan para nabi dan rasul dan ahli wasiat yang jujur, dan di sana terlihat keadilan Allah, dan di sana datang Qaimah (penegak) dan pengegak-penegak setelahnya, Kota Kufah itu tempat turunnya para nabi dan ahli wasiat serta orang-orang yang sholeh [2].

Lihatlah wahai pembaca yang budiman, bagaimana mereka itu jatuh dalam kesyirikan, karena mereka meminta kepada selain Allah dalam menyelesaikan dan memenuhi hajat kebutuhan, meminta dan memohon pengampunan dosa-dosa kepada manusia, bagaimana mungkin hal itu terjadi, sedangkan Allah telah berfirman :

“Artinya : Siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah” [Ali Imran : 135]

Kita berlindung dengan Allah dari perbuatan syirik.

[Disalin dari kitab Diantara Aqidah Syi'ah, Disusun oleh Abdullah bin Muhammad As Salafi, Diterjemahkan oleh Abu Abdillah Muhammad Elvi Syam, Lc.]
_________
Foote Note
[1] Kitab Al Bihaar : (10/107)
[2] Kitab Al Mazaar, karangan Muhammad An Nu’man yang diberi gelar dengan syeikh Mufid, hal : 99.

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=543&bagian=0

————————–

APA KEYAKINAN RAFIDHAH (SYI’AH) TERHADAP AL-QUR’AN-UL KARIM YANG ADA DI TENGAH-TENGAH KITA SEKARANG, PADAHAL ALLAH TELAH BERJANJI UNTUK MENJAGANYA ?

Disusun oleh
Abdullah bin Muhammad As Salafi.
Bagian Keempat dari Tigabelas Tulisan 4/13

Sesungguhnya Rafidhah yang dinamakan pada zaman kita sekarang ini dengan syiah, mengatakan sesungguhnya Al-Qur’an yang ada di pada kita, bukanlah Al-Qur’an yang telah diturunkan kepada nabi Muhammad, akan tetapi telah dirubah, ditukar, ditambah dan dikurangi. Jumhur ahli hadits dari kalangan syi’ah meyakini adanya pelencengan (perubahan) dalam Al-Qur’an seperti yang disebutkan oleh An Nuuri Al Tibrisi dalam kitabnya “Fashlul Khithab Fi Tahrifil Kitabi Rabbil Arbab”. [1]

Dan Muhammad bin Ya’qub Al Kulaini berkata di “Usulul Kafi” di bawah Bab bahasan : “Sesungguhnya tidak ada yang bisa mengumpulkan Al Qur’an seluruhnya, kecuali para imam” dari Jabir ia berkata : saya telah mendengar Abu Ja’far berkata : “Tidaklah seseorang dari manusia mendakwakan bahwasanya dia telah mengumpulkan Al Qur’an secara keseluruhannya sebagaimana Allah telah menurunkannya, kecuali ia itu adalah orang pendusta. Tidak ada yang mempu mengumpulkannya dan menghafalnya seperti yang telah diturunkan Allah kecuali Ali bin Abi Talib dan para imam setelah mereka”.

Dan Ahmad Al Tibrisi dalam kitab “Al-Ihtijaaj” dan Al Mulla Hasan dalam tafsirnya ” As Shaafi” sesungguhnya Umar telah berkata kepada Zaid bin Tsabit : Sesungguhnya Ali telah datang kepada kita dengan membawa Al Qur’an, yang di dalamnya tercantum aib-aib orang muhajirin dan anshor. Dan sungguh kami telah memandang untuk mengumpulkan Al-Qur’an dan menghilangkan setiap apa-apa yang di dalamnya terdapat aib-aib muhajirin dan anshr. Dan Zaid pun telah memenuhinya untuk itu, kemudian berkata : “Jika saya telah selesai dari (mengumpulkan) Al-Qur’an sesuai yang anda minta, lalu jelas atas saya akan Al-Qur’an yang dikumpulkannya (Ali), bukankah itu menghancurkan setiap apa yang telah anda kerjakan? Maka berkata Umar : “Jadi bagaimana jalan keluarnya? Berkata Zaid : Anda lebih tahu dengan jalan keluarnya”, berkata Umar : Tiada jalan keluar kecuai kita harus membunuhnya agar kita lega darinya. Lalu ia pun merancang pembunuhannya (Ali) lewat tangan Khalid bin Walid, akan tetapi dia tidak mempu melakukannya[2].

Tatkala Umar menjadi khalifah, mereka (para sahabat) meminta Ali untuk mendatangkan Al Qur’an kepada mereka, agar mereka sama mereka merubahnya. Lantas Umar berkata : Wahai Abul Hasan, alangkah baiknya kalau seandainya kamu membawa Al Qur’an yang pernah kamu bawa ke hadapan Abu Bakr, agar kita bersatu atasnya. Lalu Ali berkata : Tidak mungkin, dan tidak mungkin ada jalan untuk itu, sebenarnya saya membawanya ke hadapan Abu Bakr hanyalah untuk menegakkan hujjah atasnya, agar kalian tidak mengatakan pada hari kiamat “Sesungguhnya kami akan hal ini dalam keadaan lengah” (Al ‘Araf :172), atau agar kalian tidak mengatakan ; “Kamu tidak pernah mendatangkannya kepada kami” (Al ‘Araf : 129). Sesungguhnya Al Qur’an ini tidak ada yang menyentuhnya kecuali orang-orang yang suci, dan orang-orang yang diwasiatkan dari kalangan anakku. Lalu berkata Umar : “Apakah ada waktu untuk menampakkannya diketahui ? Lantas Ali berkata : “Ya, jika telah bangkit seseorang dari anakku, ia akan menampakkannya dan membawa manusia atasnya[3].

Walau bagaimanapun orang syiah menampakkan sikap berlepas dirinya terhadap buku An Nuri al Tibrisi ini, demi mengamalkan akidah taqiyah, akan tetapi kitab itu terselubung dan tersimpan dalam ratusan nas-nas (pernyataan-pernyataan) dari ulama mereka dalam kitab-kitab yang diakui, menetapkan hal itu, dan bahwasanya mereka betul-betul yakin dengan perubahan itu, dan beriman dengannya, akan tetapi mereka tidak ingin timbul kehebohan sekitar akidah mereka ini terhadap alquran.

Dan tinggal setelah itu, bahwa ada dua Al Qur’an, yang pertama yang diketahui, dan yang lain khusus, tersembunyi. Diantaranya surat Wilayah, dan diantara yang didakwakan oleh syi’ah Rafidhah, bahwa ada satu ayat telah dihapus dari Al Qur’an yaitu :

“Dan kami telah menjadikan Ali sebagai menantumu”, Mereka mendakwakan ayat ini dihapus dari surat Alam Nasyrah, sementara mereka tidak pernah malu dangan dakwaan mereka ini, karena mereka mengetahui bahwa surat itu adalah makkiyah, dan Ali belum menjadi menantu Nabi saat di Mekah.

[Disalin dari kitab Diantara Aqidah Syi'ah, Disusun oleh Abdullah bin Muhammad As Salafi, Diterjemahkan oleh Abu Abdillah Muhammad Elvi Syam, Lc.]
_________
Foote Note
[1] Fashlul Khithab, oleh Hasan bin Muhammad Taqiyun Nuri Al Tibrisi, hal : 32.
[2] Lihatlah saudara seiman, alangkah kejinya kisah yang dibuat-buat oleh kaum syiah terhadap para sahabat.
[3] Al Ihtijaaj oleh Al Tibrisi hal :225, kitab Fashlul Khithab, hal : 7.

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=379&bagian=0

———————————–

APA SEGI PERBEDAAN ANTARA SYI’AH RAFIDHAH DENGAN AHLIS SUNNAH ?

Disusun oleh
Abdullah bin Muhammad As Salafi.
Bagian Kesebelas dari Tigabelas Tulisan 11/13

Berkata : Nizhomuddin Muhammad Al ‘Azhomi di dalam mukaddimah buku “Syiah dan Nikah Mut’ah” : Sesungguhnya perbedaan antara kita dengan mereka bukanlah terpokus di perbedaan cabang-cabang fikih, seperti masalah nikah mut’ah saja, sama sekali tidak, sesungguhnya perbedaan itu pada dasarnya adalah perbedaan dalam masalah pokok-pokok prinsip, ya.. perbedaan dalam aqidah terpokus di beberapa point dibawah ini :

[1]. Rafidhah mengatakan sesungguhnya Al Quran dirubah (diselewengkan) dan kurang.

Sedangkan kita (Ahli Sunnah) mengatakan : Sesungguhnya Al Quran adalah kalamullah lengkap tanpa ada kekurangan, tidak pernah dan tidak akan dihinggapi oleh penukarbalikan, mengurangan dan perubahan sampai Allah mewariskan bumi ini dan orang-orang yang ada di atasnya (hari Kiamat), sebagaimana Allah berfirman :

“Artinya : Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” [Al-Hijr :9]

[2]. Rafidhah mengatakan sesungguhnya para sahabat Rasulullah terkecuali beberapa orang, telah murtad setelah Rasulullah wafat, dan mereka berbalik 180 derajat, dan mereka mengkhianati amanah dan agama, terutama tiga orang khalifah ; As Shidiq (Abu Bakr), Al Faruq (Umar) dan Dzu Nurain (Utsman), oleh karena itu mereka yang bertiga ini menurut mereka (Rafidhah) adalah termasuk orang yang paling bersangatan kekufuran, kesesatan dan kesalahannya.

Sedangkan kita (Ahlis-Sunnah) mengatakan sesungguhnya para sahabat Rasulullah adalah sebaik-baik manusia setelah para nabi, dan sesungguhnya mereka itu adalah adil (istiqomah) seluruhnya, tidak pernah sengaja berdusta atas nabi mereka, mereka orang-orang yang terpercaya dalam menukilkan berita.

[3]. Rafidhah mengatakan sesungguhnya para imam adalah imam-imam Rafidhah yang dua belas yang ma’shum (terjaga dari dosa), mereka mengetahui hal ghaib, dan mengetahui seluruh ilmu yang dikeluarkan (diajarkan) kepada para malaikat, para nabi dan para rasul, dan sesungguhnya mereka mengetahui ilmu yang terdahulu dan sekarang, dan tidak ada yang tersembunyi bagi mereka sesuatu apapun, dan sesungguhnya mereka mengetahui seluruh bahasa alam semesta, dan sesungguhnya seluruh bumi ini adalah milik mereka.

Sedangkan kita (Ahli Sunnah) mengatakan, sesungguhnya mereka itu adalah manusia biasa seperti manusia-manusia lainnya, tiada perbedaan antara mereka, diantara imam-imam itu adalah ahli fikih, ulama dan khalifah, dan kita tidak menisbahkan kepada mereka apa yang tidak pernah mereka katakan terhadap diri mereka sendiri, bahkan kita berlepas diri darinya dan mereka pun (para imam) berlepas diri dari hal itu. [1]

APA KEYAKINAN ORANG RAFIDHAH PADA HARI ASY-SYURA (10 MUHARRAM) DAN APA KEUTAMAANNYA MENURUT MEREKA ?
Sesungguhnya Rafidhah mengadakan perayaan dan perkumpulan dan ratapan tangis, mereka melakukan demonstrasi di jalan-jalan dan di lapangan-lapangan umum. Mereka memakai pakaian hitam tanda duka cita dalam memperingati mati syahidnya Husain dengan mengonsentrasikan pada sepuluh hari pertama dari bulan Muharram di setiap tahun, dengan keyakinan sesungguhnya perbuatan itu termasuk dari sebaik-baik untuk mendekatkan diri kepada Allah. Maka mereka memukul-mukul pipi mereka dengan tangan mereka sendiri, memukul-mukul dada dan punggung mereka. Mereka merobek-robek baju sambil menangis dan berteriak-teriak dengan menyeru : wahai Husain, wahai Husain. Terlebih-lebih pada hari ke sepuluh setiap bulan Muharram, bahkan mereka memukul diri mereka sendiri dengan rantai besi dan pedang, seperti yang terjadi di negeri-negeri yang dihuni oleh Rafidhah seperti Iran.

Dan para ulama mereka mendorong mereka untuk melakukan hal-hal yang bodoh ini dimana hal itu menjadi bahan tertawaan semua umat. Sungguh salah seorang dari pembesar mereka yaitu Muhammad Hasan Alu Kasyif al Ghatha, telah ditanya tentang apa yang dilakukan oleh pengikut golongannya seperti menukul dan menampar wajah…. dst, ia berkata : Sesungguhnya ini termasuk dari mengagungkan syiar-syiar Allah : [2]

“Artinya : Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati”. [Al-Hajj : 32]

[Disalin dari kitab Diantara Aqidah Syi'ah, Disusun oleh Abdullah bin Muhammad As Salafi, Diterjemahkan oleh Abu Abdillah Muhammad Elvi Syam, Lc.]
_________
Foote Note
[1] Mukaddimah kitab As- Syi’ah wal Mut’ah, oleh Nizhomuddin Muhammad Al ‘Azhomi, Hal : 6.
[2] Perbuatan yang bodoh dan lucu ini dilakukan mereka setiap tahun. Dan ketahuilah sesungguhnya Nabi telah melarang di dalam hadits yang shahih yang dikeluarkan oleh Muslim dengan no : 103, melarang menampar wajah (pipi) dan merobek baju…, akan tetapi orang Rafidhah semoga Allah mempermalukan mereka- membuang hadits ini jauh-jauh, karena mereka ini adalah firqah (golongan) yang paling pendusta terhadap Rasulullah.

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=567&bagian=0

———————————-

BAGAIMANA AQIDAH RAFIDHAH TERHADAP PARA SAHABAT RASULULLAH ?

Disusun oleh
Abdullah bin Muhammad As Salafi.
Bagian Kelima dari Tigabelas Tulisan 5/13

Aqidah Rafidhah berdiri atas caci maki, mencela dan mengkafirkan para sahabat -semoga Allah meridhoi para sahabat-. Al Kulaini menyebutkan di “Furu’ Al Kafi” dari Ja’far ‘alaihi salam : “Manusia menjadi murtad setelah Nabi (meninggal) kecuali tiga orang, lalu aku bertanya : siapa tiga orang itu ? beliau berkata : Al miqdaad bin Aswad, Abu Dzar Al Ghifari dan Salman Al Farisi[1].

Al Majlisi dalam kitab “Haqqul Yakin” menyebutkan : “Bahwasanya seorang budak Ali bin Hasein berkata kepadanya : saya mempunyai hak pelayanan yang wajib atas dirimu, maka beritahu aku tentang Abu Bakr dan Umar, lalu ia menjawab : “Mereka berdua adalah orang kafir, dan orang yang mencintai mereka maka ia orang kafir juga.” [2]

Dalam tafsir Al-Qummi pada firman Allah [An Nahl : 90]:

Mereka mengatakan : al fahsyaa’ (keji) adalah Abu Bakr, mungkar adalah Umar dan baghyi (kezoliman) adalah Utsman[3].

Mereka mengatakan dalam buku mereka “Miftahul Jinaan” : Ya Allah anugerahkanlah salawat atas Muhammad dan atas keluarga Muhammad dan laknatlah dua berhala kaum Quraisy dan dua yang mereka sembah selain Allah[4]. dan dua taghut serta anak perempuan mereka berdua….dan seterusnya[5]. Dan yang mereka maksudkan dengan itu adalah Abu Bakr, Umar, Aisyah dan Hafshah.

Pada hari asyura (hari ke sepuluh bulan Muharram), mereka membawa seekor anjing lalu mereka namakan dengan umar, kemudian mereka menghujani dengan pukulan pakai tongkat, serta melontarnya dengan batu sampai mati, kemudian mereka menghadirkan seekor anak kambing, mereka beri nama dengan Aisyah, kemudian mereka mulai mencabut bulunya, dan menghujani dengan pukulan pakai sandal, sampai mati[6].

Sebagaimana mereka merayakan hari terbunuhnya Faruq Umar bin Khatab dan mereka memberi nama pembunuh umar yaitu abu Lukluk al Majusi dengan nama Baba Syujaa’uddin (bapak) pemberani agama (pahlawan agama) [7], semoga Allah meridhoi seluruh sahabat dan para ummul mukminin.

Lihatlah wahai saudaraku muslim, alangkah dengkinya dan alangkah kejinya golongan yang keluar dari agama ini, tentang apa yang telah mereka katakan terhadap manusia pilihan setelah para nabi, yang mana Allah dan rasul-Nya telah memuji mereka. Dan telah sepakat umat ini atas keadilan (kelurusan dan keterpercayaan) dan keutamaan mereka. Sejarah dan kenyataan pun telah membuktikan dan menyaksikan serta perkara-perkara ini sudah merupakan pengetahuan yang wajib diketahui (oleh setiap umat) atas kebaikan, dan posisi mereka selalu di depan serta jihad mereka dalam Islam.

APA SEGI KESAMAAN ANTARA YAHUDI DENGAN RAFIDHAH ?
Syakh Islam Ibnu Taimiyah berkata : Bukti dari, sesungguhnya bencana Rafidhah adalah bencana Yahudi, hal itu terlihat pada :

Sesungguhnya orang Yahudi mengatakan : Tidak boleh yang menjadi raja kecuali dari keluarga nabi Daud, Rafidhah berkata : Tidak boleh menjadi imam kecuali dari anak Ali.

Yahudi mengatakan : Tidak ada jihad di jalan Allah sampai keluar Masehid Dajjal dan diturunkan pedang. Orang Rafidhah mengatakan : Tidak ada jihad di jalan Allah sampai keluar Al Mahdi, dan datingnya penyeru menyeru dari langit.

Orang Yahudi mengakhirkan (mengundurkan) shalat sampai bintang bertebaran, begitu juga orang Rafidhah mereka mengundurkan shalat maghrib sampai bintang-bintang bertebaran, padahal hadits mengatakan : “Senantiasa umatku di atas fitrah, selama mereka tidak mengakhirkan shalat maghrib sampai bintang bertebaran[8].

Orang Yahudi telah merubah taurat, begitu juga orang Rafidhah, mereka telah merubah Al Quran.

Orang Yahudi tidak memandang bolehnya mengusap khuf (sepatu kulit yang menutupi mata kaki), begitu juga orang Rafidhah.

Orang Yahudi membenci malaikat Jibril, mereka mengatakan : Malaikat Jibril adalah musuh kita dari kalangan malaikat. Begitu juga orang Rafidhah, mereka mengatakan : Malaikat Jibril telah salah menyampaikan wahyu kepada Muhammad[9].

Begitu juga orang Rafidhah meyerupai orang kristen pada satu ajaran nasrani yaitu, wanita-wanita mereka tidak memiliki hak mendapatkan mahar, akan tetapi hanya bersenang-senang dengan mereka dengan kesenangan, begitu juga orang Rafidhah, mereka menikah dengan cara mut’ah, dan mereka menghalalkan itu.

Orang yahudi dan kristen lebih utama dari orang Rafidhah dengan satu sifat (yaitu) :

Orang yahudi jika ditanya : siapakah orang yang terbaik di kalangan pemeluk agamamu? Mereka menjawab : adalah sahabat-sahabat Musa.

Orang Kristen jika ditanya : siapakah orang yang terbaik di kalangan pemeluk agamamu? Mereka menjawab : adalah Hawari (sahabat-sahabat) Isa.

Orang rafidhah jika ditanya : siapakah orang yang terburuk di kalangan pemeluk agamamu? Mereka menjawab : adalah sahabat-sahabat Muhammad. [10]

[Disalin dari kitab Diantara Aqidah Syi'ah, Disusun oleh Abdullah bin Muhammad As Salafi, Diterjemahkan oleh Abu Abdillah Muhammad Elvi Syam, Lc.]
_________
Foote Note.
[1] Furuu’ Al Kafi, oleh Al Kulaini, hal : 115.
[2] Haqqul Yakiin, oleh Al Majlisi, hal : 522. Di sini perlu di isyaratkan bahwa sesungguhnya Ali bin Hasein dan Ahlu Bait semuanya berlepas diri dari semua ini yaitu kedustaan yang diada-adakan oleh kaum Rafidah atas diri mereka, semoga Allah memerangi kaum rafidhah, alangkah jeleknya kedustaan yang mereka buat. (Insya Allah penterjemah akan membuat satu edisi yang berisikan sikap Ahlul Bait terhadap para sahabat, yang akan diambil dari buku-buku pegangan mereka sendiri, agar pembaca mengetahui sebenarnya mereka telah menyelisihi ahlul Bait sendiri dalam bersikap terhadap para sahabat Rasul.)
[3] Tafsir Al Qummi, hal : 218.
[4] Ketahuilah pembaca budiman : Mereka sendiri telah menjadikan kuburan Kumaini sebagai tempat yang suci, dan mendirikan di atasnya bangunan seperti Ka’bah sebagai tandingan Ka’bah kita yang mulia.
[5] Miftahul Jinaan, hal : 114. Lihat doa dua berhala Quraisy, insya Allah di edisi ke 15.
[6] Tabdiidul Zhilaam wa tanbiihun Niyam, oleh Ibrahim Al Jabhaan, hal : 27.
[7] Abbas Al Qummi, (Alkuna wal Alqaab) 2/55.
[8] Hadits diriwayatkan oleh : Imam Ahmad : 4/147. 5/417, 422, Abu Daud, no : 418, dan Abnu Majah, no : 689, di dalam jawaid dikatakan : sanadnya hasan (baik).
[9] Ada juga suatu kelompok yang mengatakan yang aneh-aneh, mereka mengatakan : sesungguhnya Jibril telah berkhianat, dimana ia menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad, sedangkan yang lebih utama dan lebih berhak terhadap risalah adalah Ali bin Abi Thalib, oleh karena inilah mereka mengatakan : telah berkhianat Amiin (malaikan jibril) dan ia telah menghalang risalah sampai ke Haidari (Ali).
Wahai saudaraku muslim, bagaimana mungkin mereka menuduh Jibril Alaihi salam telah berkhianat, sedangkan Allah telah menyifatinya dengan amanah (terpercaya), sebagaimana Allah telah berfirman : Telah dibawa oleh Ruhul Amiin (malaikat Jibril), dan firman-Nya : selalu taat kemudian terpercaya”. Apakah yang akan anda katakan wahai muslin terhadap keyakinan yang diimani oleh orang-orang rafidhah ini?
[10] Minhaajul Sunnah, oleh syeikhul Islam Ibnu Taimiyah : 1/24.

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=413&bagian=0

——————————–

KAPAN MUNCULNYA FIRQAH RAFIDHAH ?

Disusun oleh
Abdullah bin Muhammad As Salafi.
Bagian Pertama dari Tigabelas Tulisan 1/13

SEPATAH KATA DARI PENTERJEMAH.
Segala puji hanya bagi Allah semata, dan shalawat dan salam semoga senantiasa dianugerahkan atas Rasulullah dan atas keluarga beliau serta sahabat-sahabatnya.

Amma ba’du :
Sebenarnya, sudah lama saya ingin menterjemah buku kecil ini, yang penuh dengan bukti yang akurat dari buku-buku pegangan kaum syi’ah. Tatkala salah seorang ikhwan yang mulia mengirim email kepada saya untuk minta dikirimi makalah tentang syi’ah, disebabkan di kampusnya sedang gencar-gencarnya dakwah syi’ah, maka saya semakin terdorong untuk cepat-cepat menterjemahkan buku ini, agar kerusakan aqidah golongan yang sesat ini bisa diketahui oleh masyarakat umum.

Tulisan ini insya Allah akan saya kirim lewat group diskusi ini secara bertahap menjadi 16 edisi. Terjemahan ini diizinkan untuk disebarluaskan bagi siapa yang ingin menyebarkannya secara cuma-cuma, asalkan tidak dirobah sedikitpun dari tulisannya.

Akhirnya kepada Allah lah kita memohon agar kita semua diberi keikhlasan dalam beramal shaleh, dan ditetapkan di atas agama-Nya yang lurus, dianugerahkan niat yang baik, dan pemahaman yang benar terhadap Al Quran dan Sunnah sesuai dengan pemahaman sahabat. Serta dijauhkan dari segala yang merusak akidah, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat. Amiin.

Ditulis oleh :
Abu Abdillah Muhammad Elvi Syam, Lc.
Hail

PENDAHULUAN
Segala puji hanya bagi Allah semata, dan shalawat dan salam semoga senantiasa dianugerahkan atas Rasulullah dan atas keluarga beliau serta sahabat-sahabatnya.

Amma ba’du :
Sesunguhnya motivasi yang mendorong untuk menulis makalah ini adalah apa yang terlihat belakangan ini, yakni, semakin gencarnya kegiatan Rafidhah (syi’ah) dalam mendakwahi ajaran mereka setaraf dunia Islam, dan bahaya terhadap agama Islam yang dimiliki oleh golongan yang keluar ini, serta kelengahan dari kebanyakkan dari awam kaum muslimin terhadap bahaya mereka, serta apa-apa yang terdapat dalam aqidah mereka berupa syirik, celaan terhadap Al Quran, celaan terhadap para sahabat, ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap para imam. Sungguh penyusun telah bertekad untuk menulis makalah ini, dan menjawab apa yang menjadi problem dalam permasalahan ini secara ringkas, mengikuti metode syeikh kita Syeikh Alaamah abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin semoga Allah menjaganya- dalam kitab beliau (At Ta’liiqaatu ‘Ala Matni Lum’atil ‘Itiqaad), dan dengan cara menukil dari buku-buku Rafidhah yang terkenal dan tersohor di kalangan mereka, serta dari buku-buku ahli sunnah dari kalangan para imam-imam terdalulu dan belakangan, dimana mereka telah membantah dan menerangkan kerusakan akidah mereka yang berdiri atas kesyirikan, ghuluw (sikap berlebih-lebihan), kedustaan, caci maki, celaan, tikaman, dll.

Sesungguhnya penyusun telah berusaha dalam makalah yang singkat dan kurang berharga ini, untuk membuktikan kesalahan mereka dari buku-buku mereka dan karangan-karangan yang terpercaya di kalangan mereka, sebagaimana perkataan Syeikh Ibrahim bin Sulaiman Al Jabhan semoga Allah menjaganya- : “Dari mulutmu aku menghukummu wahai pemeluk syi’ah”.

Akhirnya, penyusun memohon kepada Allah ‘Ajja wa Jalla semoga makalah ini bermanfaat bagi orang-orang yang bisa memandang dengan baik, sebagaimana firman Allah :

“INNA FII DZAALIKA LADZIKRA LIMAN KAANA LAHUU QALBUN AW ALQAA-SSAM’A WA HUWA SYAHIID”

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya ” [Qoof : 37]

Dan penyusun mengucapkan terima kasih, kepada setiap orang yang ikut menanam saham bersama penyusun dalam menerbitkan buku kecil ini, Wallahu ‘Alam, semoga Allah senantiasa menganugerahkan shalawat dan salam atas Rasulullah dan atas keluarga beliau serta sahabat-sahabatnya.

Ditulis oleh
Abdullah bin Muhammad As Salafi.

KAPAN MUNCULNYA FIRQAH RAFIDHAH ?
Firqah ini tumbuh tatkala muncul seorang Yahudi mendakwakan dirinya sudah masuk Islam, namanya Abdullah bin saba. Mendakwakan kecintaan terhadap ahli bait, dan terlalu memuja-muji Ali, dan mendakwakan, bahwa Ali punya wasiat untuk mendapatkan khalifah, kemudian ia mengangkat Ali sampai ke tingkat Ketuhanan, hal ini diakui oleh buku-buku syi’ah sendiri.

Al Qummi berkata dalam bukunya “Al Maqaalaat wal Firaq”[1] : Ia mengakui keberadaannya, dan menganggabnya orang pertama yang berbicara tentang wajibnya keimaman Ali, dan raj’iyah Ali[2], dan menampakkan celaan terhadap Abi Bakr, Umar dan Utsman serta seluruh sahabat, seperti yang dikatakan oleh An Nubakhti di bukunya “Firaqus Syi’ah”[3]. Sebagaimana Al Kissyi mengatakan demikian juga di bukunya yang dikenal dengan “Rijaalul Kissyi”[4]. Pengakuan adalah tuan argumen (argumen yang akurat), dan mereka-mereka ini semuanya adalah syeikh-syeikh besar Rafidhah.

Al Baghdadi berkata : Kelompok Sabaiyah adalah pengikut Abdullah bin Saba yang telah berlebih-lebihan (dalam memuji) Ali, dan mendakwakkan, bahwasanya Ali adalah nabi, kemudian bersikap berlebih-lebihan lagi, sehingga ia mendakwakan bahwasanya Ali adalah Allah.

Al Baghdadi berkata juga : adalah ia (Abdullah bin Saba) anak orang berkulit hitam, asal usulnya adalah orang Yahudi dari penduduk Hirah (Yaman), lalu mengumumkan keislamannya, dan menginginkan agar ia mempunyai kerinduan dan kedudukan di sisi penduduk negeri Kufah, dan ia juga menyebutkan kepada mereka, bahwasanya ia membaca di Taurat, bahwa sesungguhnya bagi tiap-tiap nabi punya orang yang diwasiatkan, dan sesungguhnya Ali adalah orang yang diwasiatkan Muhammad Sholallahu ‘alaihi wassalam.

Dan As Syahrastaani menyebutkan dari ibnu Saba, bahwasanya ia adalah orang yang pertama kali menyebarkan perkataan keimaman Ali secara nas/ telah ditetapkan, dan ia menyebutkan juga dari kelompok Sabaiyah, bahwa kelompok ini adalah firqah (golongan) yang pertama sekali mengatakan masalah ghaibah[5] dan akidah raj’iyah, kemudian syiah mewarisinya setelah itu, meskipun mereka itu berbeda, dan pecahan golongan mereka banyak. Perkataan tentang keimaman dan kekhilafan Ali merupakan nas dan wasiat, itu merupakan dari kesalahan-kesalahan Ibnu Saba. Yang akhirnya syi’ah sendiri berpecah menjadi golongan-golongan dan perkataan-perkataan yang banyak sampai puluhan golongan dan perkataan.

Begitulah syiah membuat bid’ah dalam perkataan tentang keyakinan wasiat, raj’iyah, ghaibah, bahkan perkataan menjadikan imam-imam sebagai tuhan[6], karena mengikuti Ibnu Saba orang yahudi itu.

[Disalin dari kitab Diantara Aqidah Syi'ah, Disusun oleh Abdullah bin Muhammad As Salafi, Diterjemahkan oleh Abu Abdillah Muhammad Elvi Syam, Lc.]
_________
Foote Note
[1] Lihat “Al Maqaalaat wal Firaq” oleh Al Qummi, hal : 10-21.
[2] Keyakinan bahwa Ali akan kembali ke dunia sebelum hari kiyamat.
[3] Lihat “Firaqus Syi’ah” oleh An Nubakhti, hal : 19-20.
[4] Lihat : apa yang dicantumkan oleh Al Kissyi dalam beberapa riwayat dari Ibnu Saba dan akidah-akidahnya, lihat no : 170, 171, 172, 173, 174, dari hal : 106-108.
[5] Keyakinan menghilangnya imam Askari yang mereka tunggu-tunggu.
[6] Ushul ‘Itiqad Ahli Sunnah Wal Jama’ah, Al Lalikaai, 1/22-23.

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=376&bagian=0

——————————–

KENAPA SYI’AH DINAMAKAN DENGAN RAFIDHAH ?

Disusun oleh
Abdullah bin Muhammad As Salafi.
Bagian Kedua dari Tigabelas Tulisan 2/13

Penamaan ini disebutkan oleh Syaikh mereka Al Majlisi dalam bukunya “Al-Bihaar” dan ia mencantumkan empat hadits dari hadits-hadits mereka[1].

Ada yang mengatakan : mereka dinamakan rafidhah, karena mereka datang ke Zaid bin Ali bin Husein, lalu mereka berkata : “Berlepas dirilah kamu dari Abu Bakr dan Umar sehingga kami bisa bersamamu!”, lalu beliau menjawab : “Mereka berdua (Abu Bakr dan Umar) adalah sahabat kakekku, bahkan aku setia kepada mereka”. Mereka berkata : “Kalau begitu, kami menolakmu (rafadhnaak) maka dinamakanlah mereka Raafidhah (yang menolak), dan orang yang membai’at dan sepakat dengan Zaid bin Ali bin Husein disebut Zaidiyah[2].

Ada yang mengatakan : mereka dinamakan dengan Raafidhah, karena mereka menolak keimaman (kepemimpinan) Abu Bakr dan Umar[3].

Dan dikatakan mereka dimanakan dengan Rafidhah karena mereka menolak agama[4].

RAFIDHAH TERPECAH MENJADI BEBERAPA FIRQOH (GOLONGAN)
Ditemukan di dalam buku Daairatul Ma’arif bahwasanya : golongan yang muncul dari cabang-cabang syi’ah jauh melebihi dari angka tujuhpuluh tiga golongan yang terkenal itu [5].

Bahkan dikatakan oleh seorang rafidhah Mir Baqir Ad Damaad [6], sesungguhnya seluruh firqoh-firqoh yang tersebut dalam hadits, yaitu hadits berpecahnya umat ini menjadi tujuhpuluh tiga golongan, maksudnya adalah firqoh-firqoh syi’ah. Dan sesungguhnya golongan yang selamat itu dari mereka adalah golongan Imamiyah.

Al Maqrizi menyebutkan bahwa jumlah firqoh-firqoh mereka itu sampai 300 (tiga ratus) firqoh [7].

As Syahrastaani berkata : Sesungguhnya Rafidhah terbagi menjadi lima bagian : Al Kisaaniyah, Az Zaidiyah, Al Imamiyah, Al Ghaliyah dan Al-Ismailiyah [8].

Al Baghdadi berkata : Sesungguhnya Rafidhah setelah masa Ali ada empat golongan : Zaidiyah, Imamiyah, Ghulaah dan Kisaaniyah. [9]

Perlu diperhatikan bahwa sesungguhnya Az Zaidiyah tidak termasuk dari firqoh-firqoh Rafidhah, kecuali kelompok Al Jarudiyah.

APAKAH YANG DIMAKSUD AQIDAH AL-BADAA YANG DIIMANI OLEH RAFIDAH?
Al Badaa’ yaitu bermakna tampak (muncul) setelah sembunyi, atau bermakna timbulnya pandangan baru. Al Badaa’ sesuai dengan kedua makna itu, haruslah didahului oleh ketidaktahuan, serta baru diketahui. Keduanya ini merupakan suatu hal yang mustahil atas diri Allah, akan tetapi orang Rafidhah (syiah) menisbatkan kepada Allah sifat Al Badaa’.

Telah diriwayatkan dari Ar Rayaan bin Al Sholt, ia berkata : “Saya telah mendengar Al Ridha berkata : “Tidaklah Allah mengutus seorang nabi kecuali mengharamkan khamar, dan mengakui bahwa Allah itu memiliki sifat Al Badaa'” [10]. Dan dari Abi Abdillah ia berkata : “Tidak pernah Allah diibadati dengan sesuatu apapun seperti (mengibadatinya dengan) Al Badaa’[11]. Maha Tinggi Allah dari hal itu dengan ketinggian yang besar.

Lihatlah wahai saudarku muslim, bagaimana mungkin mereka menisbatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala sifat jahal (ketidaktahuan), sedangkan Dia mengatakan tentang diri-Nya :

Artinya : “Katakanlah : Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang tahu ghaib kecuali Allah.”

Dan di sisi lain Rafidhah (syi’ah) meyakini bahwa sesungguhnya para imam mengetahui seluruh ilmu, dan tidak akan tersembunyi baginya sesuatu apapun.

Apakah ini keyakinan Islam (aqidah Islam) yang dibawa oleh nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam- ??????

[Disalin dari kitab Diantara Aqidah Syi'ah, Disusun oleh Abdullah bin Muhammad As Salafi, Diterjemahkan oleh Abu Abdillah Muhammad Elvi Syam, Lc.]
_________
Foote Note
[1] Lihat buku : Al Bihaar, oleh Al Majlisi, hal : 68-96-97. (Dia ini merupakan salah seorang tempat bertanya orang-orang rafidhah (syi’ah) untuk zaman-zaman terakhir).
[2] At Ta’liiqaatu ‘Ala Matni Lum’atil ‘Itiqaad, oleh : Syeikh Alaamah Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin, -semoga Allah menjaganya-, hal : 108.
[3] Lihat : catatan kaki buku Maqaalaat Al Islamiyiin, oleh Muhyiddin Abdul Hamid, (1/89).
[4] Lihat : di buku Maqaalaat Al Islamiyiin, (1/89).
[5] Daairatul Ma’arif, (4/67).
[6] Dia adalah Muhammad Baqir bin Muhammad Al Asadi, termasuk tokoh besar syi’ah.
[7] Dia adalah Al Maqrizi du Al Khuthath, ((2/351).
[8] Al Milal wan Nihal, oleh As Syahrastani, hal :147.
[9] Al Farqu Bainal Firaq, oleh Al Baghdadi, hal : 41.
[10] Ushulul Kafi, hal :40
[11] Ushulul Kafi, oleh Al Kulaini di kitab tauhid : 1/133.

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=377&bagian=0

————————————-

Syi’ah Imamiah 12

Syi’ah Imamiyah 12 adalah sebuah kelompok yang berpegang teguh pada keyakinan bahwa Ali adalah yang berhak mewarisi khilafah, dan bukan Abu Bakar, Umar, atau Utsman r.a. Mereka meyakini adanya 12 imam. Imam yang terakhir menurut mereka sedang menghilang, masuk dalam gua di Sammara (sebuah kota di Irak dekat sungai Tigris, arah utara dari Baghdad).

Sejarah Berdiri dan Tokoh-tokohnya

Dua belas imam yang dijadikan imam oleh dan untuk mereka adalah sebagai berikut:

Ali bin Abi Thalib r.a., digelari “Al-Murtadha,” khalifah ke empat khulafaurrasyidin, menantu Rasulullah saw., dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljim di Masjid Kufah pada tanggal 17 Ramadan tahun 40 H.
Hasan bin Ali r.a., digelari “Al-Mujtaba”.
Husein bin Ali r.a., digelari “Asy-Syahid” (yang mati syahid).
Ali Zainal Abidin bin Husein (80–122 H), digelari “As-Sajjad”.
Muhammad Baqir bin Ali Zainal Abidin (wafat tahun 114 H), digelari “Baqir”.
Jafar Shadiq bin Mohammad Baqir (wafat tahun 148 H), digelari “As-Shadiq” (sejati).
Musa Kadzim bin Jafar Shadiq (wafat tahun 183 H), digelari “Kadzim” (yang mampu menahan diri).
Ali Ridha bin Musa Kadzim (wafat tahun 203 H), digelari “Ridha”.
Muhammad Jawwad bin Ali Ridha (195–226 H), digelari “Taqy” (yang banyak takwa).
Ali Hadi bin Muhammad Jawwad (212–254 H), digelari “Naqy” (suci bersih).
Hasan Askari bin Ali Hadi (232–260 H), digelari “Zaky”(yang suci).
Muhammad Mahdi bin Muhammad al-Askari yang digelari “Imam Muntadhar” (imam yang dinantikan).
Mereka meyakini bahwa imam yang kedua belas telah masuk ke dalam gua.

Secara historis, di antara tokoh-tokohnya yang menonjol ialah Abdullah bin Saba, seorang Yahudi dari Yaman, yang berpura-pura memeluk Islam. Ditransfernya apa-apa yang ditemukannya dalam ide-ide Yahudi kepada Syi’ah, seperti Raj’ah (munculnya kembali imam), tidak mati, menjadi raja di bumi, berkemampuan untuk melakukan sesuatu yang tak ada seorang pun yang mampu melakukannya, mengetahui apa yang tidak diketahui orang, ditetapkan sifat berpermulaan dan sifat lalai bagi Allah. Adalah Abdullah bin Saba yang pernah berkata ketika ia masih menganut agama Yahudi, bahwa Yusa bin Nun telah mendapat wasiat dari Musa a.s., sebagaimana di dalam Islam, bahwa Ali r.a. juga telah mendapat wasiat dari Muhammad saw.

Abdullah bin Saba telah berpindah dari Madinah ke Mesir, Kufah, Fusthath, dan Basrah, kemudian berkata kepada Ali r.a., “Engkau, engkau!” dengan maksud engkaulah Allah. Sesuatu yang mendorong Ali r.a. memutuskan diri untuk membunuhnya, tetapi Abdullah bin Abbas r.a. menasihatinya agar keputusan itu tidak dilaksanakan. Kemudian, tokoh itu dibuang ke Madain.

Mansyur Ahmad bin Abi Thalib al-Thabrassyi, wafat tahun 588 H, pengarang buku Al-Ihtijaj (Sebelum Protes, dicetak di Irak tahun 1302 H).

Kulainy, pengarang kitab Al-Kafi, dicetak di Iran pada tahun 1278 H. Buku tersebut di kalangan mereka setara dengan kitab Shahih Bukhari di kalangan Ahli Sunnah. Diyakininya bahwa di dalam kitab itu terdapat 16199 buah hadis. Hadis yang diriwayatkan dari Rasulullah saw. kira-kira 6000 buah hadis. Di dalam kitab itu banyak terdapat hal-hal khurafat dan palsu.

Haj Mirza Husein bin Muhammad Taqi an-Nuri at-Thabrasyi, wafat tahun 1320 H, dimakamkan di pemakaman syuhada pilihan di Nejev, pengarang buku Fashl Khitab fi Ishbati Tahrifil Kitab Rab al-Arbab. Di dalam buku ini diyakininya bahwa Alquran yang ada sekarang ini banyak ditambah-tambahi dan dikurangi, antara lain, kata mereka di dalam surah Insyirah dikurangi kalimat, “Dan kami jadikan Ali menantumu.” Naudzu billah! . Buku tersebut telah dicetak di Iran pada tahun 1289 H.

Ayatullah al-Mamaqani, pengarang buku Tanqih al-Maqal fi Ahwali ar-Rijal. Tokoh ini menurut mereka adalah dedengkotnya Jarh Wat Ta’dil (sebuah pembahasan dalam ilmu mustalahul hadis yang mempelajari sejarah hidup dan perilaku perawi-perawi hadis untuk menilai hadis yang diriwayatkannya). Di dalam buku tersebut terdapat sesuatu yang menggelari Abu Bakar dan Umar r.a. dengan gelar “tukang sihir/dukun dan tagut”. Silakan periksa buku itu juz I h. 207 cetakan tahun 1352 H, percetakan Murtadhawiyah di Nejev.

Abu Jafar al-Tusyi, pengarang buku Tahdzib al-Ahkam dan Muhammad bin Murtadha yang dipanggil dengan Mala Muhsin al-Kasyi, pengarang buku Al-Wafi dan Muhammad bin Hasan Hur ‘Amily, pengarang buku Wasail Syi’ah ila Ahadis asy-Syari’ah dan Muhammad Baqir bin Syekh Muhammad Taqy, yang dikenal dengan “Al-Majlisi”, pengarang buku Biharul Anwar fi Ahadis an-Nabi wal-Aimmah al-Athhar dan Fathullah al-Kasyani, pengarang buku Manhaj ash-Shadiqin dan Ibnu Abi Hadid, pengarang buku Syarah Nahjul Balaghah.

Ayatullah Khomaini, salah satu tokoh Syi’ah kontemporer, pemimpin revolusi Syi’ah Iran. Ia yang mengendalikan rol pemerintahan. Ia mengarang buku Kasyful Asror dan Pemerintahan Islam. Walaupun ia menyatakan tentang ide wilayatul faqih, dan menjunjung tinggi slogan-slogan Islam secara umum pada awal revolusi, ternyata ia masih menanamkan akar-akar Syi’ah fanatik yang sempit, yang mengendalikan negara dan membawa kepada sebuah peperangan yang kejam dengan tetangganya sendiri, Irak.

Pemikiran dan Diktrin-doktrinnya

Imamah: Harus dengan Tekstual

Imam terdahulu harus menentukan imam penggantinya secara tekstual dan langsung ditunjuk orangnya, bukan dengan bahasa isyarat. Imamah sesuatu yang sangat penting, yang tidak boleh terpisahkan antara Rasulullah saw. dengan umat. Dan, tidak boleh dibiarkan masing-masing orang menyampaikan pendapatnya tentang imamah, justru harus ditentukan seseorang yang menjadi tempat bertanya dan rujukan. Mereka berdalil bahwa dalam imamah Rasulullah saw. telah menentukan Ali bin Abi Thalib r.a. menjadi imam setelah beliau secara tekstual yang nyata pada hari “Ghadir Kham” (sebuah hari besar bagi Syi’ah yang dianggap lebih agung daripada hari raya Fitri dan Adha, jatuh pada tanggal 18 Zulhijah. Berpuasa pada hari itu menurut mereka sunah muakad).

Diyakininya bahwa Ali r.a. juga telah menentukan kedua putranya, Hasan dan Husein, secara tekstual, dan begitu seterusnya bahwa setiap imam menentukan imam berikutnya dengan wasiat daripadanya. Mereka itu disebut “Aushiya'” (penerima wasiat).

Ishmah

Setiap imam terpelihara (ma’shum) dari segala kesalahan, kelalaian, dan dosa, baik dosa besar maupun dosa kecil.

Ilmu

Setiap imam dititipi ilmu dari Rasulullah saw. untuk menyempurnakan syariat Islam. Imam memiliki ilmu laduni. Tak ada perbedaan antara imam dengan Rasulullah saw. Yang membedakan adalah bahwa Rasulullah saw. mendapat wahyu. Rasulullah saw. telah menitipkan kepada mereka rahasia-rahasia syariat Islam agar mereka mampu memberikan penjelasan kepada manusia sesuai dengan kebutuhan zamannya.

Sesuatu yang Luar Biasa

Peristiwa yang luar biasa boleh terjadi pada diri imam, itu disebut “mukjizat”. Jika tidak ada satu teks tertulis dari imam sebelumnya, dalam kondisi seperti itu, penentuan imam harus berlangsung dengan sesuatu yang luar biasa.

Al-Gaibah (Menghilang)

Diyakininya bahwa zaman tidak pernah kosong dari sebuah argumentasi yang membuktikan adanya Allah, baik secara logika maupun secara hukum. Sebagai konsekuensi logisnya bahwa imam yang ke-12 telah menghilang di sebuah gua (dalam rumahnya). Diyakininya pula bahwa imam tersebut memiliki gaibah shugra (menghilang untuk sementara) dan gaibah kubra (menghilang untuk selamanya). Ini adalah salah satu mitos mereka.

Raj’ah (Muncul Kembali)

Diyakininya, bahwa Imam Hasan al-Askari akan datang kembali pada akhir zaman ketika Allah mengutusnya untuk tampil. Oleh sebab itu, setiap malam setelah salat magrib mereka berdiri di depan pintu gua itu, dan mereka telah menyediakan sebuah kendaraan, kemudian mereka pergi, dan mengulangi perbuatannya itu pada malam berikutnya. Mereka berkata bahwa ketika kembali imam itu akan memenuhi bumi dengan keadilan, sebagaimana bumi sedang dibanjiri oleh kekejaman dan kezaliman. Ia akan melacak lawan-lawan Syi’ah sepanjang sejarah. Syi’ah Imamiah ini benar-benar berkata bahwa imam itu pasti akan datang kembali, bahkan sebagian sekte-sekte Syi’ah yang lainnya menyatakan bahwa sebagian mereka yang mati pun akan datang kembali.

Taqiyah (Siasat Memelihara Diri)

Mereka menganggap bahwa taqiyah adalah salah satu pokok ajaran agama. Barangsiapa yang meninggalkan taqiyah, sama hukumnya dengan meninggalkan salat. Taqiyah adalah suatu kewajiban yang tidak boleh dihapuskan, sampai yang berwenang tampil, barangsiapa yang meninggalkannya sebelum ia tampil, ia telah keluar dari agama Allah dan dari agama imamiah. Mereka mengambil dalil dari firman Allah, “Kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka.” (Ali Imran: 28).

Doktrin taqiyah juga dihubung-hubungkan dengan Abu Jafar, imam yang kelima dengan ucapannya, “Taqiyah adalah agamaku dan agama nenek moyangku. Tak ada imannya seseorang yang tidak memiliki taqiyah.” Diperluasnya pemahaman taqiyah itu sampai pada batas dusta dan haram.

Mut’ah

Mereka memandang bahwa memut’ah wanita adalah adat yang terbaik dan pengorbanan yang paling afdal. Mereka mengambil dalil, “Maka istri-istri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban.” (An-Nisaa': 24).

Padahal, Islam telah mengharamkan sistem perkawinan tersebut: suatu perkawinan yang persyaratannya dibatasi dengan waktu tertentu, yang menurut Ahli Sunnah syaratnya harus menghadirkan niat untuk mengekalkannya (kawin seterusnya, bukan kawin kontrak). Kawin mut’ah mempunyai banyak dampak negatif di tengah-tengah masyarakat.

Mereka juga meyakini ada mushhaf versi mereka, yang namanya Mushhaf Fathimah. Dalam bukunya, Al-Kafi, h. 57, cetakan tahun 1278 H, Kulainy meriwayatkan dari Abi Basyir, yakni Jafar Shadiq, “Bahwasanya kami mempunyai Mushhaf Fathimah r.a. Kataku, ‘Apa itu Mushhaf Fathimah?’ Ia berkata, ‘Sebuah Mushhaf yang isinya seperti Alquran kalian 3 kali, demi Allah, tidak ada satu huruf pun isinya dari Alquran kalian’.”

Lepas Tangan

Mereka lepas tangan dari ketiga orang khalifah Rasulullah saw.: Abu Bakar, Umar dan Utsman r.a., dan memberi mereka sifat-sifat yang tercela. Sebab, menurut keyakinan mereka, ketiga orang khalifah itu telah merampas khilafah dari orang yang paling berhak untuk menerimanya. Mereka juga melaknat Abu Bakar dan Umar r.a. dalam mengawali segala amal perbuatan yang baik, sebagai ganti dari membaca “basmalah”. Mereka juga tidak segan-segan melaknat sebagian besar para sahabat Rasulullah saw., dan tidak ketinggalan pula melaknat dan menghina Umul Mukminin Aisyah r.a.

Berlebihan

Sebagian mereka sangat berlebihan dalam menokohkan Ali r.a., bahkan ada yang mengangkatnya sampai pada derajat “Tuhan” seperti sekte “Sabaisme”. Sebagian mereka ada yang berpendapat bahwa Jibril telah keliru dalam menyampaikan risalah, lalu diturunkannya kepada Muhammad saw. sebagai ganti dari Ali r.a., sebab Ali itu hampir serupa dengan Rasulullah saw., seperti serupanya seekor beo dengan beo yang lain. Oleh sebab itu, yang berkeyakinan seperti itu disebut “Ghuraibah” (Beoisme).

Hari Besar Ghadir Kham

Yaitu, hari raya mereka yang jatuh pada tanggal 18 Zulhijah. Kata mereka bahwa hari ini lebih mulia daripada Iduladha dan Idulfitri. Hari itu disebut hari raya agung (akbar). Mereka beranggapan berpuasa pada hari itu hukumnya sunah muakad. Pada hari itu, menurut pengakuan mereka, Rasulullah saw. telah memberi wasiat tentang khalifah kepada Ali r.a. untuk menggantikan beliau.

Diagungkannya hari “Nairuz”, yaitu hari tahun barunya bangsa Persia. Sebagian mereka ada yang berpendapat bahwa mandi pada hari itu adalah sunah.

Mereka juga mempunyai hari agung yang diselenggarakan pada tanggal 9 Rabiulawal, yaitu hari raya “bapak” mereka “Babak Syuja’uddin”, sebuah gelar bagi “Abu Lu’lu’ah al-Majusi” yang telah membunuh Umar bin Khattab r.a.

Diselenggarkannya pesta-pesta hiburan, kematian, kesedihan, berfoto-foto, dan menepuk dada, dan perbuatan-perbuatan terlarang lainnya yang dipentaskan oleh mereka pada 10 hari pertama bulan Muharam, dengan keyakinan bahwa itu semua dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, menghapuskan dosa dan kesalahan mereka. Barang siapa yang menyaksikan mereka pada pameran suci di Karbela, Nejev, dan Qum, pasti akan melihat sesuatu yang aneh-aneh.

Akar Pemikiran dan Sifat Idiologinya

Sebagian mereka ada yang memulangkan asal-usul Syi’ah kepada peristiwa Perang Jamal. Sebagian lagi ada yang mengembalikannya kepada sejarah terbunuhnya Utsman, dan ada lagi yang berpendapat bahwa Syi’ah dimulai sejak peristiwa Perang Shiffien.

Asal-usul timbulnya Syi’ah adalah sebagai akibat dari pengaruh keyakinan-keyakinan orang Persia yang menganut agama raja dan warisan nenek moyang. Orang-orang Persia telah mempunyai andil besar dalam proses pertumbuhan Syi’ah untuk membalas dendam terhadap Islam yang telah menghancur-luluhkan kekuatan mereka dengan mengatasnamakan Islam sendiri.

Ide Syi’ah bercampur aduk dengan ide-ide yang datang dari keyakinan-keyakinan di Asia, seperti Budhisme, Manaisme, Brahmaisme, dan mereka-mereka yang berkeyakinan kepada reinkarnasi dan Pantheisme. Syi’ah mengadopsi ide-idenya dari Yahudisme yang telah membawa tapak-tapak berhalaisme Asyurisme dan Babilisme.

Pendapat mereka tentang Ali r.a., para imam, dan ahlul bait (keluarga Rasulullah saw.) mendapatkan titik temu dengan pendapat orang-orang Kristen tentang Isa a.s. (Yesus Kristus). Orang-orang Syi’ah hampir mirip dengan orang-orang Kristen dalam memperingati hari-hari besar, memperbanyak gambar dan patung, dan membuat-buat sesuatu yang luar biasa dan mengembalikannya kepada imam.

Tempat Tersiar dan Kawasan Pengaruhnya

Sekte Syi’ah Imamiah Dua Belas dewasa ini tersebar di Iran, dan berpusat di negara ini. Sebagian mereka banyak pula di Irak. Keberadaan mereka terbentang luas sampai ke Pakistan. Di samping itu, mereka juga mempunyai sekte di Libanon. Adapun di Siria jumlahnya sedikit, tetapi mempunyai hubungan yang kuat dengan Nushairiyah yang juga termasuk Syi’ah yang ekstrem.

Sumber: Gerakan Keagamaan dan Pemikiran; Akar Idiologis dan Penyebarannya, WAMY

Al-IslamPusat Komunikasi dan Informasi Islam Indonesia

 

http://www.alislamu.com

Pokok-Pokok Penyimpangan Ajaran Syi’ah

Pokok-Pokok Penyimpangan Ajaran Syi’ah
10/02/2001

Jika kita mendengar ada seorang pejabat bertugas di luar negeri selama satu bulan misalnya. Kemudian ia mencari wanita untuk dinikahi selama waktu itu, dan diceraikannya ketika kembali, maka kejadian itu tidaklah mengherankan karena sudah menjadi rahasia umum bahwa laki-laki banyak yang suka jajan di luar. Yang mengherankan adalah jika ada seorang ulama yang melakukan demikian. Inilah yang banyak terjadi di kalangan tokoh agama aliran ini. Inilah yang disebut dengan nikah mut’ah, yaitu nikah kontrak. Nikah mut’ah telah diharamkan oelh Rasulullah SAW untuk selamanya. Tetapi aliran yang satu ini berkeyakinan lain.

 

MUKADIMAH



Bismillaahirrahmaanirrahiim

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan petunjuk kepada cahaya iman, Dien yang lurus yaitu agama Islam melalui hamba pilihan-Nya Muhammad SAW. Dan yang telah meneguhkan hati para hambanya yang teguh dalam memegang aqidah yang lurus. Shalawat dan salam teriring kepada teladan kita Rasulullah Muhammad SAW, Nabi yang terakhir, juga kepada para keluarga dan para sahabatnya serta kaum Muslimin/muslimat yang teguh mengikuti ajaran dan aqidahnya sampai akhir jaman, amin.



Berkembangnya gerakan (harakah) aliran-aliran sempelan di Indonesia yang telah tersebar luas di penjuru tanah air, sudah sangat meresahkan masyarakat. Pengaruh ajarannya telah dapat mengubah gaya dan cara hidup (way of life) bagi pengikutnya. Gerakan mereka sangat halus dan pintar sehingga tidak semua orang dapat mengetahui, terlebih memahami bahwa pemahamannya bertentangan dengan pemahaman para ulama generasi salaf, yang merupakan generasi sebaik-baik ummat. Hanya dengan petunjuk, taufik dan hidayah Allah SWT, kita dapat menempuh jalan yang lurus.

Isyarat munculnya berbagai penyimpangan dan munculnya aliran-aliran menyesatkan telah disabdakan oleh Rasulullah SAW, “Akan keluar suatu kaum akhir jaman, orang-orang muda berfaham jelek. Mereka banyak mengucapkan perkataan “Khairil Bariyah”(maksudnya: mengucapkan firman-firman Tuhan yang dibawa oleh Nabi). Iman mereka tidak melampaui kerongkongan mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana meluncurnya anak panah dari busurnya. Kalau orang-orang ini berjumpa denganmu lawanlah mereka.” (Hadits Sahih riwayat Imam Bukhari).

“Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah SAW. pernah bersabda, “Sesungguhnya di masa kemudian aku akan ada peperangan di antara orang-orang yang beriman.” Seorang sahabat bertanya: “Mengapa kita (orang-orang yang beriman) memerangi orang yang beriman, yang mereka itu sama berkata: ‘Kami telah beriman’.” Rasulullah SAW. bersabda: “Ya, karena mengada-adakan di dalam agama, apabila mereka mengerjakan agama dengan pendapat fikiran, padahal di dalam agama itu tidak ada pendapat fikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)

Rasulullah SAW telah mengabarkan kepada kita, bahwa di masa kemudian akan ada peperangan (baik perang mulut, perang pemikiran maupun perang fisik) yang terjadi di kalangan orang-orang yang beriman. Hal ini karena di antara ummat ini sebagiannya ada yang mengadakan dan mengikuti bid’ah yang sebelumnya dalam agama tidak diajarkan. Dari sinilah terjadinya perbedaan-perbedaan dalam satu agama. Akan tetapi tidak semua perbedaan-perbedaan itu dilarang dalam agama. Perbedaan dalam Islam dibolehkan dalam hal yang bersifat cabang atau (furu’), yaitu masalah-masalah fiqiyah yang rumit-rumit, dimana terjadi perbedaan penafsiran di kalangan para ulama. Adapun perbedaan yang dilarang adalah perbedaan dalam hal pokok (ushul), yaitu perbedaan dalam memahami masalah-masalah aqidah pada umumnya, serta pemahaman masalah hukum-hukum Islam yang telah jelas, dan menjadi kesepakatan para ulama (jumhur ulama).

Perbedaan pendapat di dalam Islam dapat dipahami dengan mudah seperti contoh yang kami berikan berikut ini:
Secara umum perbedaan pendapat di dalam Islam ada dua macam, yaitu:


  1. Perbedaan pendapat yang dapat mengakibatkan perpecahan, yaitu perbedaan dalam hal ushul (masalah pokok, yaitu masalah aqidah).
  2. Perbedaan pendapat yang tidak mengakibatkan perpecahan, yaitu perbedaan dalam hal furu’ (masalah cabang, yaitu masalah fiqiyah).



  1. Contoh dari perbedaan pendapat yang dapat mengakibatkan perpecahan.

    Misalnya keyakinan tentang AL-QUR’AN. Bahwa ajaran yang benar seperti yang diberitakan dari Rasulullah SAW, juga yang dipahami oleh para sahabat, ulama salaf dan yang mengikutinya, adalah bahwa Al-Qur’an itu kalamullah, dan bukan makhluk. Jadi jika ada yang berkeyakinan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, maka itu adalah keyakinan yang menyimpang.

    Misalnya lagi, keyakinan tentang SIAPAKAH NABI DAN RASUL TERAKHIR. Bahwa jawaban dan keyakinan yang benar adalah bahwa Muhammad SAW adalah penutup para nabi dan rasul. Jika ada yang berkeyakinan bahwa setelah Nabi Muhammad ada nabi lagi seperti misalnya golongan AHMADIYAH mengakui Mirza Ghulam Ahmad dari India adalah sebagai nabinya, maka itu adalah keyakinan yang menyimpang dan jelas golongan yang sesat.

    Misalnya lagi, keyakinan tentang MENGHUKUMI KAFIR TERHADAP ORANG LAIN. Bahwa jawaban dan keyakinan yang benar adalah bahwa orang kafir yang akan kekal di dalam neraka adalah orang yang tidak meyakini (dengan hati, lisan, perbuatan) akan LAA ILAAHAILLALOOH dan yang murtad keluar dari Islam. Maka jika ada golongan yang mengatakan orang Islam lain, yang tidak bergabung dalam jama’ahnya adalah kafir, seperti keyakinan jama’ah LDII dan yang sejenisnya, maka itulah keyakinan yang menyimpang dan sesat.

    Misalnya lagi, keyakinan tentang SHALAT WAJIB LIMA WAKTU. Keyakinan yang benar adalah bahwa shalat lima waktu hukumnya adalah wajib, setelah syareat ini disampaikan oleh Allah kepada Rasulullah SAW dalam peristiwa Isra’ Mi’raj. Jika ada aliran yang menyatakan bahwa shalat lima waktu untuk saat ini tidak wajib, dengan berbagai alasan, seperti aliran Al-ZAYTUN yang pesantrennya sangat megah di Indramayu itu, maka aliran itu sudah pasti adalah aliran sesat.
    Dan masih banyak lagi contoh-contoh yang lainnya.

     

  2. Contoh perbedaan pendapat yang tidak mengakibatkan perpecahan.

    Misalnya tentang masalah ADZAN DALAM KHUTBAH JUM’AT. Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ummat Islam dimana pada saat mendirikan shalat Jum’at ada yang adzannya hanya sekali ada yang dua kali. Ini adalah perbedaan pendapat karena historis dan interpretasi yang berbeda. Maka dalam perbedaan semacam ini , tidak bisa yang satu terhadap yang lainnya menyatakan aliran sesat. Inilah yang dimaksud perbedaan pendapat yang tidak dilarang.
    Misalnya lagi tentang masalah JUMLAH REKAAT DALAM SHALAT TARAWIH. Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ummat Islam dimana pada saat mendirikan shalat Tarawih ada yang 11 rekaat, ada yang 23 rekaat. Ini juga perbedaan pendapat yang tidak mengakibatkan perpecahan. Jadi kelompok yang satu tidak bisa menyatakan sesat terhadap kelompok yang lainnya.
    Dan masih banyak lagi contoh-contoh yang lainnya.


Inilah, salah satu contoh sederhana yang kami terangkan yang mungkin dapat memudahkan memahami perbedaan pendapat di dalam Islam. Dalam hal perbedaan pendapat yang terakhir kami sebutkan, yaitu perbedaan pendapat dalam hal furu’ (cabang), maka salah satu pihak tidak dibenarkan mengklaim bahwa hanya pendapatnya sendirilah yang benar dan yang lain dianggap salah atau menyatakan sesat kepada pihak lain yang berbeda pemahaman, terlebih lagi menuduh pendapat lain sebagai kafir. Sedangkan pada perbedaan pendapat pada hal yang ushul (pokok), maka dibenarkan untuk menyatakan bahwa pendapat dari firqah yang lain yang bertentangan dengan kalangan Ahli Sunnah wal Jama’ah adalah pendapat yang menyesatkan dan bahkan dapat menjurus kepada kafir.

Ijtihad ulama dalam masalah hukum itu seperti ijtihadnya orang yang mencari arah Ka’bah. Bila empat orang shalat dan setiap orang menghadap ke suatu arah yang ia yakini sebagai arah kiblat, maka shalat keempat orang itu sah dan benar. Sedangkan yang shalat menghadap Ka’bah dengan tepat hanya satu dan dialah yang mendapatkan dua pahala. (Demikian, pernah dituturkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah).

Sedangkan perbedaan seseorang di dalam menempuh jalan yang benar, beragama dengan aqidah yang lurus diibaratkan sebagai orang yang mencari Ka’bah di hamparan bumi yang datar. Keempat orang yang shalat dengan menghadap kepada arahnya masing-masing, meyakini arahnya benar menuju Ka’bah, maka yang jalannya menuju kearah yang benar hanya satu, dialah yang akan menemukan Ka’bahnya. Sedangkan yang lainnya masing-masing yang satu berlawanan dan yang dua menyimpang, maka mereka tidak akan menemukannya.

Demikian halnya dengan aliran pemahaman yang telah benar-benar jauh menyimpang dalam hal-hal prinsip; berdasarkan kesepakatan di kalangan Ahli Sunnah wal Jama’ah, maka ini termasuk kedalam golongan atau firqah sempalan. Aliran sempalan tersebut sekarang telah banyak bermunculan di seluruh penjuru dunia, dari Timur sampai ke Barat, termasuk di Indonesia. Di Indonesia, dapat dilihat dalam banyak kelompok/aliran, seperti: Ahmadiah dari India, Jamus (Jama’ah Muslimin) dari Cilengsi Bogor, LK (Lembaga Karasulan), Isa Bugis, Syi’ah, kemudian LDII (Lembaga Dakwah Islamiyah Indonesia) dan masih banyak lagi aliran-aliran yang menyimpang. Di dalam aliran kelompok sempalan seperti ini banyak dijumpai pemahaman agama yang menyimpang karena mereka memahami agama dengan sekehendak para pimpinan atau para pendiri-pendirinya, dengan cara mengambil dalil-dalil yang sesuai dan diartikan sekehendak mereka. Mereka mempelajari ilmu tidak melalui jalur-jalur ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan, bahkan diantara mereka terdapat aliran yang mengharamkan mempelajari ilmu di luar alirannya. Mereka benar-benar memiliki cara atau teknik yang dapat menjaring orang-orang awam dan dengan rapi dapat pula membungkamnya melalui dogma-dogma yang diajarkannya.

 

Maka telah kita ketahui bersama, datangnya jaman penuh dengan fitnah, yaitu merajalelanya aliran-aliran sempalan yang merupakan firqah baru dalam jama’ah kaum muslimin. Oleh karena itu kami mengajak kepada diri kami dan juga kepada kaum Muslimin sekalian, tetaplah berpegang teguh dengan keimanan dan prinsip aqidah yang lurus dan benar mengikuti jejak ulama yang lurus sesuai pemahaman generasi slafus solih yang mengikuti sunnah Rasul dan menetapi kewajiban bertakwa kepada Allah SWT.

Lantas bagaimanakah seharusnya sikap kita sebagai seorang muslim, yang mengaku mengikuti sunnah Rasulullah SAW?

Firman Allah SWT, “…dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain).” (Q. S. Al-An’aam: 153). Seorang tokoh tabi’in dan ahli tafsir, Abu Al-Hajjaj Mujahid bin Jabar Al-Makki, berkata, “Jalan-jalan yang dimaksud dalam firman Allah tersebut adalah jalan-jalan bid’ah dan syubhat.”


“Dari Al-Irbadh bin Suriyah r.a. berkata: Rasulullah SAW. pernah bersabda, “Saya berpesan kepada kamu sekalian, hendaklah kamu takut kepada Allah dan mendengarkan serta patuh, sekalipun kepada bangsa Habsy, karena sesungguhnya orang yang hidup antara kamu sekalian di kemudian aku, maka akan melihat perselisihan yang banyak; maka dari itu hendaklah kamu sekalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah para khulafah yang menetapi petunjuk yang benar; hendaklah kamu pegang teguh akan dia dan kamu gigitlah dengan geraham-geraham gigi, dan kamu jauhilah akan perkara-perkara yang baru diada-adakan, karena sesungguhnya semua perkara yang baru diadakan itu bid’ah, dan semua bid’ah itu sesat.”

(Hadits riwayat Ahmad)

Allah SWT berfirman, “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalilah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.” (Q. S. An-Nisaa': 59)

Dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada seorang nabi pun yang diutus Allah kepada suatu ummat sebelumku, melainkan dari umatnya itu terdapat orang-orang yang menjadi pengikut dan sahabatnya, yang mengamalkan Sunnahnya dan menaati perintahnya. (Dalam riwayat lain dikatakan, “Mereka mengikuti petunjuknya dan menjalankan Sunnahnya.”) “Kemudian setelah terjadi kebusukan, dimana mereka mengatakan sesuatu yang tidak mereka kerjakan dan mengerjakan sesuatu yang tidak diperintahkan. Maka orang-orang yang memerangi mereka dengan lidahnya, niscaya dia termasuk orang-orang yang beriman. Demikian juga dengan orang yang memerangi mereka dengan hatinya, niscaya dia termasuk orang yang beriman. Selain itu, maka tidak ada keimanan sebesar biji sawi pun.” (HR. Imam Muslim)

Nabi SAW telah bersabda, “Apabila kamu melihat orang-orang yang ragu dalam agamanya dan ahli bid’ah sesudah aku (Rasulullah SAW) tiada, maka tunjukkanlah sikap menjauh (bebas) dari mereka. Perbanyaklah lontaran cerca dan tentang mereka dan kasusnya. Dustakanlah mereka agar mereka tidak makin merusak (citra) Islam. Waspadai pula orang-orang yang dikhawatirkan meniru-niru bid’ah mereka. Dengan demikian Allah akan mencatat bagimu pahala dan akan meningkatkan derajat kamu di akhirat.” (HR. Ath-Thahawi)

Kita telah diajarkan untuk tidak berlemah lembut kepada kelompok aliran yang menyimpang dan menyesatkan, dan jika ingin mencari keutamaan, maka berdakwahlah dengan menjelaskan penyimpangan ajarnnya agar orang-orang mengetahuinya.

Sesungguhnya setiap muslim memang harus memprioritaskan husnudhan (prasangka baik) kepada sesama muslim, dan juga di dalam mensifati orang lain harus adil. Tetapi tidaklah semua keadaan disikapi demikian, ada keadaan perkecualian, sebagai contohnya adalah seperti kisah sbb:
“Dikatakan kepada Nabi SAW: “Ya Rasulullah, sesungguhnya fulanah menegakkan shalat lail, berpuasa di siang harinya, beramal dan bersedekah (tetapi) ia menyakiti tetangganya dengan lisannya.” Bersabda Rasulullah SAW: “Tidak ada kebaikan padanya, dia termasuk ahli neraka.” Berkata (perawi): “Sedangkan fulanah (yang lain) melakukan shalat maktubah dan bersedekah dengan benaja kecil (tetapi) dia tidak menyakiti seseorang pun.” Maka bersabda Rasulullah SAW: “Dia termasuk ahli surga.”
(Silsilah Hadits As-Shahihah, no. 190).

Dalam hal ini kata-kata Nabi “Tidak ada kebaikan padanya, dia termasuk ahli neraka”, padahal orang yang dikatakannya adalah orang yang rajin mengerjakan syareat. Kemudian pernyataan Nabi SAW terhadap perbuatan orang yang kedua yang hanya menyebut kebaikannya tanpa menyinggung kejelekannya. Kemudian, Allah SWT juga mengisahkan Abu Lahab dan isterinya dengan lima ayat dalam Al-Qur’an, yang isinya kejelekan semuanya, padahal keduanya (sedikit atau banyak) juga mempunyai kebaikan, bahkan Abu Lahab termasuk tokoh yang dihormati dan disegani di kalangan Quraisy.

Maka dalam membicarakan kebaikan dan keburukan orang atau golongan, ada perkecualiannya. Adapun perkecualian itu secara garis besar dapat dikategorikan menjadi dua keadaan, yaitu:


  1. DALAM RANGKA NASEHAT DAN PERINGATAN UMMAT
    Pada keadaan ini, tidak ada keharusan untuk menyebutkan kebaikan, ketika menyebutkan keburukan seseorang/golongan. Bahkan cukup menyebutkan keburukannya saja. Misalnya membicarakan Ahli bid’ah, seperti LDII, yang mengada-adakan syareat dengan mengharuskan setiap orang harus berbai’at kepada imam jama’ah LDII, jika tidak maka kafir. Dan masih banyak penyimpangan syareat lainya.
  2. DALAM RANGKA MENJELASKAN ATAU MENGISAHKAN SESUATU
    Dalam keadaan ini, menyebutkan kebaikan dan keburukan orang atau golongan tertentu secara bersamaan diperbolehkan, selama tidak menimbulkan madlarat. Misalnya saja menyebutkan sifat seorang perawi hadits.
    Adapun mengenai perincian ghibah (membicarakan kejelekan orang lain) yang diperbolehkan, Imam Nawawi dalam kitab dan juz yang sama hal. 142-143 mengatakan: “Akan tetapi ghibah itu diperbolehkan karena enam sebab.” Diantaranya dua telah disebutkan di atas.

Allah SWT telah berfirman bahwa Dia-lah yang menjaga Al-Qur’an (agama ini) sampai waktu yang dikehendaki-Nya. Allah menjaganya melalui hamba-hamba yang beriman yang teguh di dalam mengikuti jejak dan ajaran Rasulullah SAW.

 

Rasulullah SAW telah menjamin akan adanya segolongan umat yang tetap atas kebenaran hingga hari kiyamat. Rasulullah SAW telah bersabda, “Akan ada segolongan dari umatku yang tetap atas kebenaran sampai hari kiamat dan mereka tetap atas kebenaran itu.”
(HR. Imam Bukhari)

“Akan tetapi ada dari kalangan umatku sekelompok orang yang terus-menerus menjelaskan dan menyampaikan kebenaran, sehingga orang yang ingin menghinakan tidak akan mendatangkan mudharat bagi mereka sampai datang putusan Allah (hari kiamat).” ((HR. Imam Muslim)
Ummat tersebut adalah ummat yang telah disebut di atas sebagai satu golongan yang masih mengikuti sunah-sunah Rasulullah SAW yang akan selamat yaitu Ahli Sunnah wal Jama’ah.

 

Kepada Saudara sekalian yang masih merasa bingung dan ragu karena telah mengikuti pengajian suatu aliran, dan kemudian diajak untuk menjadi anggota, hendaknya jangan langsung menerima sebelum meminta pendapat dari orang-orang alim yang lurus atau kepada pihak lain yang dapat dimintai pendapatnya dengan benar dan obyektif.

Lebih utama dari semua itu adalah memohon petunjuk jalan yang lurus kepada Allah SWT Yang Maha Memberi petunjuk. Tiada yang dapat menyesatkan siapa yang Allah tunjuki jalan yang lurus. Dan tiada yang dapat menunjukan jalan yang lurus, siapa yang Allah sesatkan. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan petunjuk dan semoga kita termasuk orang yang ditunjukan dan menempuh jalan yang lurus dengan taufik dan hidayah-Nya, amin.

 

Berikut ini adalah pengkajian tentang FIRQAH atau ALIRAN SEMPALAN yang pemahaman ilmu agamanya dapat Saudara baca dbawah ini dengan seksama!

Asal-usul Syi’ah

Syi’ah secara etimologi bahasa berarti pengikut, sekte dan golongan. Sedang dalam istilah syara’, Syi’ah adalah suatu aliran yang timbul sejak masa pemerintahan Utsman bin Affan yang di komandoi oleh Abdullah bin Saba’ mengintrodusir ajarannya dengan terang-terangan dan menggalang masa untuk memproklamirkan bahwa kepemimpinan (baca:Imamah) sesudah Nabi saw. Sebenarnya ke tangan Ali bin Abi Thalib karena suatu nash (teks) Nabi saw. Namun, menurut Abdullah bin Saba’, Khalifah Abu Bakar, Umar dan Utsman telah mengambil alih kedudukan tersebut.

 

Keyakinan itu berkembang sampai kepada menuhankan Ali bin Abi Thalib. Berhubung hal itu suatu kebohongan, maka diambil suatu tindakan oleh Ali bin Abi Thalib, yaitu mereka dibakar, lalu sebagian dari mereka melarikan diri ke Madain.

 

Aliran Syi’ah pada abad pertama Hijriah belum merupakan aliran yang solid sebagai trand yang mempunyai berbagai macam keyakinan seperti yang berkembang pada abad ke dua Hijriah dan abad-abad berikutnya.

 

POKOK-P0KOK PENYIMPANGAN SYI’AH PADA PERIODE PERTAMA sbb:


  1. Keyakinan bahwa Imam sesudah Rasulullah saw. Adalah Ali bin Abi Thalib, sesuai dengan sabda Nabi saw. Karena itu para Khalifah dituduh merampok kepemimpinan dari tangan Ali bin Abi Thalib r.a.
  2. Keyakinan bahwa Imam mereka maksum (terjaga dari salah dan dosa).
  3. Keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib dan para Imam yang telah wafat akan hidup kembali sebelum hari kiamat untuk membalas dendam kepada lawan-lawannya, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah dll.
  4. Keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib dan para Imam mengetahui rahasia ghoib, baik yang lalu maupun yang akan datang. Ini berarti sama dengan menuhankan Ali dan Imam.
  5. Keyakinan tentang ketuhanan Ali bin Abi Thalib yang dideklarasikan oleh para pengikut Abdullah bin Saba’ dan akhirnya mereka dihukum bakar oleh Ali bin Abi Thalib karena keyakinan tersebut.
  6. Keyakinan mengutamakan Ali bin Abi Thalib atas Abu Bakar dan Umar bin Khatab. Padahal Ali sendiri mengambil tindakan hukum cambuk 80 kali terhadap orang yang meyakini kebohongan tersebut.
  7. Keyakinan mencaci maki ara sahabat atau sebagian sahabat seperti Utsman bin Affan (lihat Dirasat fil Ahwaa’ wal Firaq wal Bida’ wa Mauqifus Salaf minhaa, Dr. Nashir bin Abd. Karim Al Aql, hal.237).
  8. Pada abad kedua Hijriah perkembangan keyakinan Syi’ah semakin menjadi-jadi sebagai aliran yang mempunyai berbagai perangkat keyakinan baku dan terus berkembang sampai berdirinya dinasti Fathimiyyah di Mesir dan dinasti Sofawiyyah di Iran. Terakhir aliran tersebut terangkat kembali dengan revolusi Khomaeni dan dijadikan sebagai aliran resmi negara Iran sejak 1979.

 

POKOK-POKOK PENYIMPANGAN SYI’AH SECARA UMUM :


  1. Pada Rukun Iman :
    Syi’ah hanya memiliki 5 rukun Iman tanpa menyebut keimanan kepada para Malaikat, Rasul dan Qodho dan Qodar, yaitu : 1. Tauhid (Keesaan Allah), 2. Al ‘Adl (Keadilan Allah), 3. Nubuwwah (Kenabian), 4. Imamah (Kepemimpinan Imam), 5. Ma’ad (Hari kebangkitan dan pembalasan). (lihat ‘Aqa’idul Imamiyyah oleh Muhammad Ridho Mudhoffar dll.)
  2. Pada Rukun Islam :
    1. Syi’ah tidak mencantumkan Syahadatain dlm rukun Islam, yaitu : 1. Sholat, 2. Zakat, 3. Puasa, 4. Haji, 5. Wilayah (Perwalian) (lihat Al Kafie juz II hal. 18).
    2. Syi’ah meyakini bahwa Al-Qur’an sekarang ini telah dirubah, ditambah atau dikurangi dari yg seharusnya. (lihat Al-Qur’an Surat Al _Baqarah/ 2:23). Karena itu mereka meyakini : Abu Abdillah (Imam Syi’ah) berkata : “Al-Qur’an yang dibawa oleh Jibril a.s. kepada Nabi Muhammad saw. Adalah tujuh belas ribu ayat (Al Kafi fil Ushul juz II hal 634). Al-Qur’an mereka yang berjumlah 17.000 ayat itu disebut Mushaf Fatimah (lihat kitab Syi’ah Al Kafi fil Ushul juz I hal 240-241 dan Fathul Khithob karangan Annuri Ath Thibrisy).
    3. Syi’ah meyakini bahwa para sahabat sepeninggal Nabi saw. Mereka murtad, kecuali beberapa orang saja seperti : Al-Miqdad bin al_Aswad, Abu Dzar Al Ghifari dan Salman Al Farisy (Ar Raudhah minal Kafi juz VIII hal. 245, Al-Ushul minal Kafi juz hal. 244)
    4. Syi’ah menggunakan senjata taqiyyah yaitu berbohong, dengan cara menampakkan sesuatu yang berbeda dengan yang sebenarnya, untuk mengelabuhi (Al Kafi fil Ushul juz II hal. 217)
    5. Syi’ah percaya kepada Ar-Raj’ah yaitu kembalinya roh-roh ke jasad nya masing-masing di dunia ini sebelum Qiamat di kala Imam Ghaib mereka keluar dari persembunyiannya dan menghidupkan Ali dan anak-anaknya untuk balas dendam kepada lawan-lawannya.
    6. Syiah percaya kepada Al Bada’ yakni tampak bagi Allah dalam hal keimanan Ismail (yang telah dinobatkan keimanannya oleh ayahnya, Ja’far As-Shidiq, tetapi kemudian meninggal di saat ayahnya masih hidup) yang tadinya tidak tampak. Jadi bagi mereka , Allah boleh khilaf, tetapi Imam mereka tetap maksum (terjaga).
    7. Syi’ah membolehkan nikah mut’ah yaitu nikah kontrak dengan jangka weaktu tertentu (lihat Tafsir Minhajus Shodiqin juz II hal. 493). Padahal hal itu telah diharamkan oleh Rasulukllah SAW Yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib sendiri.

    Nikah Mut’ah

     

    Nikah Mut’ah adalah perkawinan antara seorang lelaki dan wanita dengan maskawin tertentu untuk jangka waktu terbata yang berakhir dengan habisnya masa tersebut, di mana suami tidakberkewajiban memberikan nafkah, dan tempat tinggal kepada istri, serta tidak menimbulkan pewarisan antara keduanya.

     

    Ada enam perbedaan prinsip antara nikah mut’ah dan nikah sunnim (syar’I) :

    1. Nikah mut’ah dibatasi oleh waktu, nikah sunni tidak dibatasi oleh waktu.
    2. Nikah mut’ah berakhir dengan habisnya waktu yang ditentukan dalam akad atau fasakh, sedangkan nikah sunni berakhir dengan talaq atau meninggal dunia.
    3. Nikah mut’ah tidak berakibat saling mewarisi antara suami istri, nikah sunni menimbulkan pewarisan antara keduanya.
    4. Nikah mut’ah tidak membatasi jumlah istri, nikah sunni dibatasi dengan jumlah istri hingga maksimal empat orang.
    5. Nikah mut’ah dapat dilaksanakan tanpa wali dan saksi,nikah sunni harus dilaksanakan dengan wali dan saksi.
    6. Nikah mut’ah tidak mewajibkan suami memberikan nafkah kepada istri.

     

    Dalil-dalil haramnya nikah mut’ah :

     

    Haramnya nikah mut’ah berlandaskan dalil-dalil hadits Nabi SAW Juga pendapat para ulama dari empat madzab.

     

    Dalil dari hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitabnya Shahih Muslim menyatakan bahwa dari Sabrah bin Ma’bad Al-Juhani, ia berkata, “Kami bersama Rasulullah saw. Dalam suatu perjalanan haji. Pada suatu saat kami berjalan bersama saudara sepupu kami dan bertemu dengan seorang wanita. Jiwa muda kami mengagumi wanita tersebut, sementara dia mengagumi selimut (selendang) yang dipakai oleh saudazraku itu. Kemudian wanita tadi berkata, “Ada selimut seperti selimut.’ Akhirnuya aku menikahinya dan tidur bersamanya satu malam. Keesokan harinya aku pergi ke Masjid Al-Haram, dan tiba-tiba aku melihat Nabi saw. sedang berpidato diantara pintu Ka’bah dan Hijr Ismail. Beliau bersabda, ‘Wahai sekalian manusia, aku pernah mengizinkan kepada kalian untuk melakukan nikah mut’ah. Maka sekarang yang memiliki istri dengan cara nikah mut’ah, haruslah ia menceraikannya, dan segala sesuatu yang telah kalian berikan kepadanya janganlah kalian ambil lagi. Karena Allah Azza wa Jalla telah mengharamkan nikah mut’ah sampai hari Qiamat. (Shahih Muslim II/1024).

     

    Dalil hadits lainnya : Dari Ali bin Abi Thalib r.a. ia berkata kepada Ibnu Abbas r.a. bahwa Nabi saw. Melarang nikah mut’ah dan memakan daging keledai jinak pada waktu perang Khgaibar. (Fath Al-Bari IX/71)

     

    Pendapat para ulama

    Berdasarkan hadits-hadits tersebut diatas, para ulama berpendapat sebagai berikut :

    1. Dari madzab Hanafi, Imam Syamsuddin Al-Sarkhasi (wafat 490 H) dalam kitabnya Al-Mabsuth (V/152) mengatakan, “Nikah mut’ah ini batil menurut madzab kami.” Demikian pula Imam Ala al Din Al-Kasani (wafat 587 H) dalam kitabnya Bada’I Al-Sana’I fi Tartib Al Syara’I (II/272) mengatakan, “Tidak boleh nikah yang bersifat sementara, ‘yaitu nikah mut’ah”.
    2. Dari Madzab Maliki, Imam Ibnu Rusyd (wafat 595 H) dalam kitabnya Bidayatul Mujtahid wa nihayah Al-Muqtashid (IV/325 s/d 334 mengatakan, “Hadits-hadits yang mengharamkan nikah mut’ah mencapai peringkat mutawatir.” Sementara itu Imam Malik bin Anas (wafat 179 H) mengatakan, “apabila seorang laki-laki menikahi seorang wanita dengan dibatasi waktu, maka nikahnya batil.”
    3. Dari Madzab Syafi’I, Imam Al-Syafi’I (wafat 204 H) dalam kitabnya Al-Umm (V/85) mengatakan, “Nikah mut’ah yang dilarang itu adalah semua nikah yang dibatasi dengan waktu, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, seperti ucapan seorang laki-laki kepada seorang perempuan, aku nikahi kamu selama satu hari, sepuluh hari atau satu bulan”. Sementara itu Imam Nawawi (wafat676 H) dalam kitabnya Al-Majmu’ (XVII/356) mengatakan, “Nikah mut’ah tidak diperbolehkan, karena pernikahan itu pada dasarnya adalah suatu aqad yang bersifat mutlaq, maka tidak sah apabila dibatasi dengan waktu.”
    4. Dari Madzab Hambali, Imam Ibnu Qudamah (wafat 620 H) dalam kitabnya Al-Mughni (X/46) mengatakan, “Nikah mut’ah ini adalah nikah yang batil.” Ibnu Qudamah juga menukil pendapat Imam Ahmad bin Hanbal (wafat 242 H) yang menegaskan bahwa nikah mut’ah adalah haram.

     

    Dan masih banyak lagi kesesatan dan penyimpangan Syi’ah. Kami ingatkan kepada kaum muslimin agar waspada terhadap ajakan para propagandis Syi’ah yang biasanya mereka berkedok dengan nama “wajib mengikuti madzab Ahlul Bait”.
    Sementara pada hakekatnya Ahlul Bait berlepas diri dari mereka, itulkah manipulasi mereka. Semoga AllahSWT selalu membimbing kita ke jalan yang lurus berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman Salafus Sholih.

     

    Rujukan :

    1. Dr. Nashir bin Abd. Karim Al Aql, Dirasat fil Ahwaa’ wal firaq wal Bida’ wa Mauqifus Salaf minha.
    2. Drs. KH. Dawam Anwar dkk. Mengapa kita menolak Syi’ah.
    3. H. Hartono Ahmad Jaiz, Di bawah bayang-bayang Soekarno-Soeharto.
    4. Abdullah bin Said Al Junaid, Perbandingan antara Sunnah dan Syi’ah.
    5. Dan lain-lain, kitab-kitab karangan orang Syi’ah.

    Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia
    LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam)

    http://www.alislamu.com

Bunga Rampai Kesesatan Ajaran Syi’ah (1)

Untuk mendalami suatu aliran seperti Syi’ah perlu bacaan banyak, terutama ilmu kalam dan sejarah perkembangannya, belum lagi bacaan Islamologi lainnya.

Hujjatul Islam Imam AI-Ghazali (450-505 H/1058-1111 M) dengan tegas menyinggung hal di atas bahwa, “Untuk mengetahui kesesatan suatu aliran, sebelum lebih dahulu mengetahui tentang hakekat aliran tersebut, maka hal tersebut adalah tidak mungkin (muhal), bahkan hal yang demikian itu termasuk sikap yang ngawur dan sesat.”

Di sini pentingnya ummat Islam Indonesia memiliki ulama-ulama yang benar-benar mendalami studi “Aliran dan Aqidah Islam” (Dirasat AI-Firaq wa Al-‘Aqidah Al-Islamiyah). Karena sedikit atau tidak adanya ulama atau narasumber tentang itu, maka dapat difahami mengapa para ulama menjauhi masalah Syi’ah. Sementara mereka yang ramai membicarakannya justru anak-anak dan golongan intelektual yang terbatas ilmu agamanya. Mereka banyak membaca buku-buku tentang Syi’ah (terjemahan bahasa Indonesia) yang dijual di toko buku Wali Songo, dll. Ini sangat berbahaya.

Sebagai bukti apa yang terjadi di Surabaya pada waktu yang lalu tentang masalah Mut’ah dan pendapat sementara pemikir-pemikir muda yang membolehkannya, mereka tidak dapat membedakan antara Revolusi Iran (1979) dan Aqidah Syi’ah yang oleh faham Ahlus Sunnah wal Jamaah digolongkan kedalam faham-faham yang sesat. Faham Syi’ah bukan lahir pada tahun 1979 bersama-sama lahirnya Revolusi Syi’ah di Iran. Syi’ah mempunyai sejarah yang sangat panjang menurut Ahlus Sunnah.

Alhamdulillah, saya pernah tinggal di negara-negara yang mayoritas penduduknya penganut aliran Syi’ah. Saya belajar kepada ulama-ulama Syi’ah, tinggal bersama masyarakat Syi’ah, bergaul dengan mereka. Delapan belas tahun saya tinggal dengan mereka, tetapi Alhamdulillah saya tidak lantas menjadi penganut Syi’ah.

Saya sangat menyayangkan sejumlah mahasiswa Islam dan intelektual Muslim yang mendukung ajaran Syi’ah, bahkan menganutnya sehingga menyatakan di depan umum: “Saya adalah seorang Syi’ie.” Na’udzu billahi min dzalik. Mereka mengenakan seragam hitam Syi’ah, berdzikir Syi’ah, ibadah shalat cara Syi’ah dll. Mereka memeluk Syi’ah setelah membaca atau mendengarkan ceramah dari tokoh Syi’ah Indonesia hanya beberapa hari atau bulan saja. lnilah yang terjadi di negeri kita yang penduduknya menganut faham Ahlus Sunnah wal Jamaah, baik aqidah syariah maupun tasawuf/tareqatnya.

Menjadi kewajiban kita bersama, para ulama, pimpinan organisasi, pondok-pondok pesantren dengan bekerja sama secara terpadu dengan pihak yang berwajib. Aliran ini sangat membahayakan persatuan ummat karena inti ajarannya bukan keimanan dan ketaqwaan tetapi politik dan revolusi.

Perbedaan yang mendasar antara Syi’ah dan Ahlus Sunnah adalah masalah kepala negara. Menurut Syi’ah, Imam Ali dan keturunannya yang berhak sebagai kepala negara pengganti Nabi saw, maka mereka yang menentang aliran Syi’ah hukumnya bukan mukmin.

Ketika membicarakan “Al-Imamah”sebagai rukun iman yang ke-tiga dalam Syi’ah, Muhammad Husein Ali Kasyiful Ghitha’ dalam bukunya “Ahlus Syi’ah wa Ushuu-luha”, terbitan Darul Qur’an Al-Karim. Qumm, mengatakan, “Iman kepada Imamah (kepemimpinan Ali dan sebelas anak keturunan-nya) merupakan dasar utama Syi’ah Imamiyah dan dasar inilah yang membedakan Syi’ah dari semua faham Islam yang lain, khususnya Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Al-Imamah Sumber Doktrin Faham Syi’ah

 


  1. Syi’ah Imamiyah Itsnaa ‘Asyariyah lebih tepat disebut Aliran Politik dari pada Aliran ‘Aqidah (Tauhiddan Syariah) Ini dapat dilihat dari definisi para Ulama Syi’ah sendiri tentang faham ini. Sebutan Syi’ah Imamiyah Itsnaa ‘Asyariyah memperkuat makna Syi’ah sebagai faham politik seperti masalah siapa yang berhak menjadi kepala negara sesudah Nabi saw wafat, bagaimana bentuk negara Islam, apa UUD Islam, dsb.

    Pengaruh Imamah (Ali dan anak keturunannya) lebih menonjol dalam kegiatan dan moralitas Syi’ah, sehingga mewarnai semua ajarannya seperti Aqidah, Syariah dan Tasawuf. Imamah menjadi sumber penafsiran Al-Qur’an, pembuatan dan penjelasan hadits dan sumber kekuasaan setelah Allah SWT dan Rasulullah saw.

  2. Imamah dan Ayat-Ayat Suci Al-Qur’an

    Hampir semua kalimat wilayah dalam AI-Qur’an (wali maupun wilayah dan isytiqaq lainnya dikaitkan dengan imam Ali dan putranya. Contoh ayat (55-56) surat Al-Maidah sebagai berikut, Artinya:
    “Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. yang mendirikan shalat dah membayarkan zakat dan mereka tunduk kepada Allah SWT. Dan barang siapa yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang yang beriman sebagai penolongnya, sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.”

    Ahli tafsir Syi’ah, Muhammad Husein Ath-Thabathaba’i dalam kitab tafsirnya yang banyak beredar di Indonesia, Al-Mizan, mengatakan bahwa yang dimaksud oleh ayat tersebut adalah Imam Ali dan anak keturunannya (Al-Aimmah/Para Imam).

    Demikian juga kalimat tawalfa yang terdapat dalam ayat 56, diartikan: wilayah Allah, Rasul saw dan wilayah Imam Ali dan anak keturunannya. Semula Ath-Thabathaba’i berusaha menafsirkan dua ayat di atas secara obyektif berdasarkan bahasa, tetapi sulit sampai kepada tujuan yang diinginkan, yaitu wilayah lmam Ali.

    Akhimya, penulis tafsir AI-Mizan itu harus kembali kepada Nara Sumber Syi’ah seperti Al-Kaafi (AI-Kulaini). Buku inilah, Al-Mizan, dengan mudah mengartikan kalimat wilayah dalam Surat Al-Maaidah ayat 55-56 dan sejumlah ayat lainnya dengan wilayah (kepemimpinan) lmam Ali bin Abi Thalib dan keturunannya.

    Selain kata al-wilayah yang dihubungkan kepada kedudukan lmam Ali adalah kata al-‘amanat. Dalam buku Al-Hukumat Al-Islamiyah, Al-Khomeini, hlm. 81 disebutkan, Artinya :
    “Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kamu agar menyerahkan amanat kepada ahlinya.”

    (Syi’ah memahaminya dengan: Maka Allah memerintahkan Rasul saw untuk mengembalikan amanat, yaitu al-imamah kepada ahlinya yang berhak menerimanya dan dia itu adalah Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib dan atas dasar itulah Nabi hendaknya menyerahkan kepemimpinan kepada pihak yang sesudahnya dan seterusnya).

    Pada dua contoh di atas tentang pengaruh doktrin al-imamah dalam menafsirkan, jelas sekali permainan politik ulama Syi’ah dan rekayasa mereka menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an menurnt hawa nafsunya. Mereka sangat berani memainkan agama seperti menafsirkan Al-Qur’an dengan apa yang disebut Tafsir Bathini, padahal Nabi Muhammad saw mengancam cara-cara di atas dengan azab neraka.

  3. Imamah dan Hadits Nabi saw

    Syi’ah tidak menerima hadits Nabi saw, kecuali dari salah seorang imam mereka seperti Imam Ali, Hasan, Husein dan seterusnya (dua belas Imam). Kalau kita baca Al-Kaafi, kitab hadits Syi’ah Imamiyah Itsnaa ‘Asyariyah seperti shahih Al-Bukhari untuk Ahlus Sunnah, kita selalu menjumpai imam-imam tersebut sebagai contoh:

    1. Hadits Syi’ah yang memurtadkan para sahabat, Artinya:
      “Dari Hinnan, dari bapaknya, dari Abi Ja’far berkata: “Semua manusia telah murtad sesudah Nabi saw wafat, kecuali tiga orang. Mereka itu adalah Miqdad, Salman, dan Abu Dzar.” (Al-Kaafi: 202)
    2. Pengkafiran terhadap Khulafa’ur Rasyidin kecuali Ali, Artinya: Dan Abi Abdillah berkenaan dengan firman Allah ta’ala, “Sesungguhnya orang-orang yang kafir sesudah mereka beriman kemudian bertambah kekafiran mereka, sekali-kali taubat mereka tidak akan diterima dan mereka adalah orang-orang yang zhalim.”(QS 3: 90)

      Artinya: Dari Abi Abdillah berkenaan dengan firman Allah ta’ala, “Sesungguhnya orang-orang beriman kemudian kafir, kemudian beriman, lantas kafir lagi, kemudian bertambah kekafirannya maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka dan tidak pula memberi petunjuk kepada mereka jalan yang lunis.” (QS 4: 137)

      Artinya: Abu Abdillah berkata, “Ayat-ayat diatas turun berkaitan dengan orang-orang tertentu (Al-Kaafi merahasiakannya, yaitu Abu Bakar, Umar dan Utsman bin Affan). Mereka pertama kali beriman dengan membai’at Amirul Mukminin (Imam Ali), (namun) kemudian kafir mengingkarinya setelah Rasulullah wafat. Ketika itu mereka tidak lagi berbai’at, kemudian mereka bertambah kufur…” (Al-Kaafi 1/488).

      Artinya: Dan dalam tafsir Al-Kaafi, riwayat dari Abu Abdillah tentang firman Allah SWT, “Sesungguhnya orang-orang, yang kembali kebelakang (menjadi kafir lagi) sesudah mereka mendapatkan petunjuk.” (QS 47: 25)

      Abu Abdillah (Imam Husein) berkata: “Ayat di atas turun untuk orang ini, orang ini, dan orang ini (Al-Kaafi sengaja merahasiakan nama-nama mereka yaitu Abu Bakar, Umar dan Utsman). Mereka telah murtad tidak beriman kepada kewilayahan Imam Ali (Amirul Mukminin).”

      Masih banyak lagi hadits-hadits Syi’ah yang memurtadkan dan mengkafirkan para sahabat, khususnya Khulafa’ur Rasyidin. Ini sangat bertentangan dengan firman Allah yang memuji mereka yaitu para sahabat baik Muhajirin maupun Anshar. (QS 59: 8-10)

      Dan bahkan Rasulullah pun memerintahkan kepada ummatnya agar berpegang teguh kepada Sunnah beliau dan Sunnah Khulafa’ur Rasyidin Al-Mahdiyyin (para Sahabat besar). Rasulullah saw mengecam melaknat orang yang mencaci para sahabat, apalagi mengkafirkan dan memurtadkan mereka.
      Nabi bersabda, “Apabila engkau melihat orang mencaci sahabat-sahabtku, maka katakan kepada mereka: Tidak, Allah melaknati kejahatan kalian.”

    3. Pengaruh Hadits Syi’ah di Kalangan Kampus

      Pandangan negatif Syi’ah terhadap para sahahat menjalar ke Indonesia terutama di kalangan mahasiswa dan sejumlah dosen, bahkan ada juga pemimpin pondok pesantren dan muballigh yang terkena virusnya. Penganut dan simpatisan Indonesia itu ikut-ikutan mengkritik Abu Hurairah, Siti ‘Aisyah, Utsman bin Affan dan beberapa lainnya. Di antara ahli hadits yang dikritiknya adalah lmam Al-Bukhari yang telah disepakati Ahlus Sunnah wal Jamaah sebagai ulama hadits terbesar sampai sekarang. Kemarahan mereka kepada lmam Bukhari karena di dalam Shahih Bukhari tidak banyak dicantumkan hadits-hadits lmam Ali, tidak seperti pencantuman hadits Abu Hurairah dan Siti ‘Aisyah. Kritikus hadits sempalan itu bukan hanya tidak hafal hadits, tetapi juga tidak mendalami ilmu hadits. Mereka membaca masalah-masalah hadits kebanyakan dari musuh-musuh Islam, seperti orientalis Barat maupun Timur.

    4. Pengaruh lmamah dalam Rumusan Ushulul Fiqh

      Pengaruh doktrin Imamah dalam rumusan Ushulul Fiqh sangat jelas terutama pada sumber pertama (AI-Qur’an) dan kedua (AI-Hadils). Ulama Syi’ah tidak mempunyai kebebasan untuk menafsiri nash-nash dari dua sumber tersebut. Mereka harus melalui riwayat-riwayat tentang makna ayat atau hadits dari para imam (Lihat pengaruh Imamah dalam penafsiran Al-Qur’an dan A1Hadits diatas).

    5. Pengaruh Imamah dalam Rumusan Ushuluddin (Arkanul lman).

      Imamah (kepala negara dan pemerintahan) dimasukkan dalam bagian keimanan yang harus diyakini kebenaranya. Imamah menurut Syi’ah hanya diberikan Allah kepada Imam ‘Ali dan anak keturunannya.


Bersambung …

Sumber: Diadaptasi dari Mengapa Kita Menolak Syi’ah: Kumpulan Makalah Seminar Nasional tentang Syi’ah, Irfan Zidny, M.A. oleh LPPI

 

 

http://www.alislamu.com

Bunga Rampai Kesesatan Ajaran Syi’ah (2)

Aliran ini sangat membahayakan persatuan ummat karena inti ajarannya bukan keimanan dan ketakwaan, tetapi politik dan revolusi.

Berikut ini dasar-dasar Keimanan (Arkanul Iman) dari tiga golongan: Ahlus Sunnah wal Jamaah, Syi’ah Imamiyah Itsnaa ‘Asyariyah dan Mu’tazilah.

Dasar-Dasar Iman Menurut Faham AHLUS SUNNAH

 


  1. Percaya kepada Allah.
  2. Percaya kepada para Malaikat.
  3. Percaya kepada Kitab-kitab Samawi (Kitab Suci).
  4. Percaya kepada para Rasul.
  5. Percaya kepadaHari Akhir.
  6. Percaya kepada Qadar, yang baik dan yang buruk.

Dasar-Dasar Iman Menurut Faham SYl’AH IMAMIYAH ITSNAA ‘ASYARIYAH

 


  1. Percaya kepada ke-Esaan Allah.
  2. Percaya kepada Keadilan.
  3. Percaya keoada Kenabian.
  4. Percaya kepada Imamah.
  5. Percaya kepada hari Ma’ad / Kiamat.


Perbedaan Dasar-Dasar dari Dua Aliran

Kalau diamati secara seksama dari dua faham tersebut, akan di dapat perbedaan-perbedaan yang sangat mendasar yang memperkuat kedudukan faham masing-masing sebagai satu aliran yang berbeda didalam agama Islam.

Ahli Sunnah wal Jama’ah mengakui kekhalifahan Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali ra. Mereka adalah orang-orang shaleh, sahabat Nabi yang mulia. Adapun Syi’ah tidak mengakui ketiga nama yang pertama dan hanya Imam Ali yang mereka anggap sebagai khalifah/imam. Syi’ah menganggap ketiga sahabat tersebut dan beberapa sahabat dan pengikutnya dianggap orang-orang yang ingkar.

Imamah seperti dikatakan oleh Syi’ah Imamiyah Itsnaa ‘Asyariyah satu dasar keimanan yang membedakan faham Syi’ah Imamiyah dari faham-faham Islam yang lain. Seorang ulama Mutaakhirin dari Syi’ah Imamiyah bemama Muhammmad AI-Husein Ali Kasyiful Ghitha’ dalam bukunya
Ashlusy-Syi’ah wa Ushuuluha” berkata: “Arti Kepemimpinan Islam, telah saya jelaskan, bahwa hal ini (unsur Kepemimpinan Islam) merupakan dasar utama yang hanya dimiliki oleh Syi’ah Imamiyah dan menjadikan Imamiyah berbeda dari aliran-aliran dalam Islam lainnya.

Hal tersebut adalah perbedaan yang bersifat dasar dan asasi. Perbedan-perbedaan lain hanya furu’iyah (perbedaan cabang, kecil), tak ubahnya dengan perbedaan antar Madzahib (Hanafi, Syafi’i dan lain-lain). Imamah semata-mata anugerah Tuhan yang telah dipilih Allah dari zaman Azali terhadap hamba-Nya, seperti Allah memilih Nabi dan memerintahkan kepada Nabi untuk menyampaikan kepada ummat agar mereka mengikutinya, Syi’ah Imamiyah berkeyakinan bahwa Allah tetah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw untuk menentukan Ali dan mengangkatnya sebagai pemimpin ummat manusia setelah Beliau saw. Akan tetapi, Nabi merasa berat menghadapi ummat karena khawatir akan tuduhan mencintai anak pamannya (Ali bin Abi Thalib) yang juga menantunya. Namun Allah tetap memerintahkan kepada Nabi agar menetapkan Ali sebagai penggantinya maka turunlah ayat yang artinya: “Hai Nabi, sampaikanlah olehmu apa yang diturunkan Allah kepadamu. Dan apabila kamu melakukannya maka berarti kamu tidak menyampaikan risalah-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang kafir.” Nabi kemudian mengumpulkan para sahabat ketika berada di Ghadir Khum dalam perjalanan pulang dan Hajji Wada’. Di tempat itu Nabi bersabda, “Siapa yang merasa Aku sebagai pemimpinnya, maka Ali ini (juga) pemimpinnya.” Dengan pertimbangan kemaslahatan ummat, akhirnya Ali (Amirul Mukminin) berbai’at, padahal dia berada dalam kedudukan sebagai imam yang tidak boleh menyerahkan kepada orang lain.”

Diakhir komentarnya, Ali Kasyiful Ghitha’ mengambil kesimpulan sebagai berikut:
“Golongan Imamiyah berkeyakinan kami adalah Syi’ah. Ali dan menjadi pengikutnya. Kami akan berdamai dengan orang-orang yang hidup bersama Ali dan kami memerangi orang-orang yang memusuhi Ali serta melawan orang-orang yang bermusuhan dengan Ali.”

Syaikh Mufid, seorang ulama besar Syi’ah abad ke 5 Hijrah (w.413 H/1022 M) dalam definisi Syi’ahnya, dengan jelas ia tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar, Umar, dan Utsman.

Artinya: Syi’ah adalah pengikut Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) shalawatullah ‘alaih atas dasar mencintai dan meyakini kepemimpinannya (Imama-tihi) sesudah Rasul saw tanpa terputus (oleh orang lain seperti Abu Bakar dan lainnya). Syi’ah tidak mengakui kelemamahan Imamah orang sebelumnya sebagai pewaris kedudukan khalifah.

Ahlus Sunnah wal Jamaah mengangkat Qadha dan Qadar yang baik maupun yang buruk” sebagai dasar rukun iman, sedangkan Syi’ah tidak memasukkannya ke dalam rukun Iman mereka. Syi’ah mengangkat Imamah” sebagai dasar/rukun iman.

Sesuai dengan metode pemahaman Ahlus Sunnah wal Jamaah tentang aqidah yang menggunakan Nash dan Nazharlakal At-Taufiq bainan-naqii, (Al-Qur’an dan Al-Hadits) wal-aqii (An-Nazhar), maka dasar-dasar keimanan yang enam oleh kalangan Ahli Sunnah wal Jama’ah itu diambil sepenuhnya dari nash Al-Qur’an antara lain surat An-Nisaa ayat 136, 59; surat Al-A’raf ayat 158, dan hadits-hadis Nabi saw, terutama hadits yang dikenal “Hadits Jibril.”

Firman Allah SWT dalam surat An-Nisaa': 136 yang artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.”

Hadits Nabi saw riwayat Muslim dan Umar bin Khaththab (Hadits Jibril), artinya:
“Jibril berkata, ‘(ya Mnhammad) jelaskan kepadaku tentang iman.’ Berkata Rasulullah, ‘(iman itu adalah) beriman kepada Allah, dan malaikat-malaikat-Nya, dan kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya, dan hari akhir, dan Qadar baik maupun buruk.’ Berkata Jibril, “Benar.” (AI-Hadits)

Hadits Jibril tersebut mengajarkan tentang dasar-dasar keislaman, keimanan dan akhlaq karimah. Ushuluddin Ahlus Sunnah wal Jamaah secara sistematis bersumber dari hadits ini sedang di dalam Al-Qur’an materinya terpencar-pencar (QS An-Nisaa': 136 dan 59; Al-A’raaf: 158, dan ayat-ayat lain).

Sumber: Diadaptasi dari Mengapa Kita Menolak Syi’ah: Kumpulan Makalah Seminar Nasional tentang Syi’ah, Irfan Zidny, M.A. oleh LPPI

 

 

http://www.alislamu.com

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 295 pengikut lainnya.