• Blog Stats

    • 36,977,026 hits
  • pacaran adalah perbuatan haram, maka janganlah berpacaran. Dan jangan mau jika diajak pacaran. Akan tetapi tempuhlah jalan yang halal jika memang benar-benar cinta dan ingin menikah. Segeralah menikah dan jangan berpacaran. ================================== dan janganlah kamu mendekati zina. sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk. [QS Al Isra':32] ==================================== JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA ====================================== Asy-Sya’bi berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah)
  • Artikel Terbanyak Dibaca

  • Artikel Terbaru

  • kategori artikel

  • arsip artikel

  • bagi yg ingin menambah teman fb, curhat, konsultasi masalah agama, silahkan add FB:

    ========================================== bagi yg ingin menambah teman fb, curhat, konsultasi masalah agama, silahkan add FB: iz_chech@yahoo.com , bagas_rara@yahoo.co.id , ainuamri2@gmail.com , dameyra@yahoo.com eone_cakep50@yahoo.com ==============================
  • wasiat untuk seluruh umat manusia

    kasihilah semua makhluk yang ada di muka bumi, niscaya Tuhan yang ada di atas langit akan mengasihimu.. =============================================== Cara mengasihi orang kafir diantaranya adalah dengan mengajak mereka masuk islam agar mereka selamat dari api neraka =============================================== wahai manusia, islamlah agar kalian selamat.... ======================================================
  • wasiat untuk seluruh umat islam

    ====================================== “Janganlah kamu saling dengki, saling membenci, saling mengintip rahasia, saling bersaing, saling mencari keburukan, saling menawar lebih tinggi untuk menipu pembeli sehingga menawar tinggi, saling memutuskan hubungan, saling bermusuhan, janganlah sebagian kalian menjual atas jualan yang lain. Jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang diperintahkan Allah. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh menganiaya, tidak boleh menelantarkannya dan tidak boleh menghinanya. ============================================= Taqwa ada di sini, taqwa ada di sini, taqwa ada di sini kata Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam sambil menunjuk dadanya. ================================================= Cukuplah merupakan kejelekan seseorang apabila menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain adalah haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. Hati-hatilah bersangka buruk, karena sesungguhnya bersangka buruk adalah omongan yang paling dusta. ==================================================== Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk kamu dan hartamu, tetapi ia melihat hati dan perbuatanmu.” (riwayat Muslim dan Bukhari). ==========================================
  • BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR

    BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- -------------------------------------------------------------------------------------------- Orang yang mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi janda dan orang miskin ibarat berjihad di jalan Allah dan ibarat orang shalat malam (HR. Bukhari) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain. (HR. Ahmad) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersodaqoh dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana. (HR. Ath-Thabrani) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sodaqoh. (HR. Al-Baihaqi) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Tiap-tiap amalan makruf (kebajikan) adalah sodaqoh. Sesungguhnya di antara amalan makruf ialah berjumpa kawan dengan wajah ceria (senyum) dan mengurangi isi embermu untuk diisikan ke mangkuk kawanmu. (HR. Ahmad) ------------------------------------------------------------------------------------------------------------
  • berbuat baiklah pada semua binatang, termasuk kepada anjing

    Kita tidak diperbolehkan menyiksa binatang dengan cara apa pun, atau membuatnya kelaparan, memukulinya, membebaninya dengan sesuatu yang ia tidak mampu, menyiksa atau membakarnnya. --------------------------------------------------- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Seorang wanita masuk neraka karena seekor kucing yang ia kurung hingga mati. Maka dari itu ia masuk neraka gara-gara kucing tersebut disebabkan dia tidak memberinya makan dan tidak pula memberinya minum di saat mengurung nya, dan dia tidak membiarkannya (melepaskannya) supaya memakan serangga di bumi.” (HR. al-Bukhari) ------------------------------------------------------- Dan ketika beliau melewati sarang semut yang telah dibakar, beliau bersabda, “Sesungguhnya tidak ada yang berhak menyiksa dengan api selain Rabb (Tuhan) pemilik api.” (HR. Abu Dawud, hadits shahih) ---------------------------------------------- “Barangsiapa yang tidak berbelas kasih niscaya tidak akan dibelaskasihi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) ------------------------------------------------- “Kasihanilah siapa saja yang ada di bumi ini, niscaya kalian akan dikasihani oleh yang ada di langit.” (HR. at-Tirmidzi) -------------------------------------------------- Dibolehkan membunuh hewan-hewan yang membahayakan atau mengganggu seperti anjing buas, serigala, ular, kalajengking, tikus dan lain-lain karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Ada lima macam hewan fasik (buruk) yang boleh dibunuh di waktu halal (tidak ihram) dan di waktu ihram, yaitu ular, burung gagak yang putih punggung dan perutnya, tikus, anjing buas, dan rajawali.” (HR. Muslim). Juga terdapat hadits shahih yang membolehkan untuk membunuh kalajengking. ================================================
  • JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA

    ====================================== ‘Amr bin Syarahil Asy-Sya’bi rahimahullahu berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah, 2/636. Dihasankan oleh Al-Albani dalam At-Tahrim, hal. 148) ----------------------------------------------------------------------------- Ibnu Abdil Barr rahimahullahu berkata: “Termasuk hasil usaha yang disepakati keharamannya adalah riba, upah para pelacur, sogokan (suap), mengambil upah atas meratapi (mayit), nyanyian, perdukunan, mengaku mengetahui perkara gaib dan berita langit, hasil seruling dan segala permainan batil.” (Al-Kafi hal. 191) ---------------------------------------------------------------------- Ath-Thabari rahimahullahu berkata: “Telah sepakat para ulama di berbagai negeri tentang dibenci dan terlarangnya nyanyian.” (Tafsir Al-Qurthubi, 14/56) ------------------------------------------------------------------- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “Mazhab empat imam menyatakan bahwa alat-alat musik semuanya haram.” Lalu beliau menyebutkan hadits riwayat Al-Bukhari rahimahullahu . (Majmu’ Fatawa, 11/576) --------------------------------------------------------------- ------------------------------------------
  • wasiat bagi para pemuda

    ====================================== ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Barangsiapa di antara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya mereka adalah ummat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, dan paling lurus petunjuknya, serta paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya, karena mereka berada di jalan yang lurus.” [Dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Baar dalam kitabnya Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih II/947 no. 1810, tahqiq Abul Asybal Samir az-Zuhairy] ======================================
  • wasiat Imam al-Auza’i

    ====================================== Imam al-Auza’i rahimahullah (wafat th. 157 H) mengatakan: “Bersabarlah dirimu di atas Sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para Shahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan Salafush Shalih, karena akan mencukupi kamu apa saja yang mencukupi mereka.” [Syarh Ushul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah 1/174 no. 315] --------------------------------------------------------------- Beliau rahimahullah juga berkata: “Hendaklah kamu berpegang kepada atsar Salafush Shalih meskipun orang-orang menolaknya dan jauhkanlah diri kamu dari pendapat orang meskipun ia hiasi pendapatnya dengan perkataannya yang indah.” [Imam al-Aajury dalam as-Syari’ah I/445 no. 127, di-shahih-kan oleh al-Albany dalam Mukhtashar al-‘Uluw lil Imam adz-Dzahaby hal. 138, Siyar A’laam an-Nubalaa’ VII/120] =================================================
  • Mengutip perkataan Syaikh Bin Baz rahimahullaahu

    “Zaman ini adalah zaman kelembutan, kesabaran dan hikmah, bukanlah zaman kekerasan (kebengisan). Mayoritas manusia saat ini dalam keadaan jahil (bodoh), lalai dan lebih mementingkan duniawiyah. Maka haruslah sabar dan lemah lembut sampai dakwah ini tersampaikan dan sampai mereka mengetahuinya. Kami mohon petunjuk kepada Alloh untuk semuanya.” (Majmu’ Fatawa Samahatul Imam Ibnu Bazz (Juz VIII, hal 376) dan (Juz X, hal. 91) =================================================
  • jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara

    ====================================== Segala puji hanyalah milik Alloh yang telah mempertautkan hati kaum mukminin dan menganjurkan mereka supaya bersatu padu dan saling berhimpun serta memperingatkan dari perpecahan dan perselisihan. -------------------------------------------------------- Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq untuk disembah melainkan hanyalah Alloh semata yang tidak memiliki sekutu. Dialah yang mensyariatkan dan memudahkan, dan Dia terhadap kaum mukminin adalah sangat penyantun. ------------------------------------------------------ Saya juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang diperintahkan dengan kemudahan dan berita gembira. ----------------------------------------------------- Beliau bersabda : Permudahlah dan janganlah kamu persulit, berikanlah kabar gembira dan janganlah membuat orang lari (dari kebenaran). ------------------------------------------------------ Permisalan kaum mukminin satu dengan lainnya dalam hal kasih sayang, tolong menolong dan kecintaan, bagaikan tubuh yang satu, jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan merasa demam atau terjaga” --------------------------------------------------- Tidak ragu lagi, bahwa kewajiban Ahlus Sunnah di setiap zaman dan tempat adalah saling bersatu dan menyayangi di antara mereka serta saling bekerja sama di dalam kebajikan dan ketakwaan… ==================================================---------------
  • KHUTBATUL HAJAH

    ====================================== Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, dan meminta ampun kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami, dan dari keburukan-keburukan perbuatan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah saja, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. ================================================ “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” ================================================== “Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan darinya Allah menciptakan isterinya; dan dari keduanya Allah mengembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silatur rahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” ========================================================= “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mena’ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. ============================================================ Amma ba’du; Maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad , dan seburuk-buruk perkara dalam agama adalah yang di ada-adakan, setiap yang diada-adakan (dalam urusan agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan. (HR. Muslim, an-Nasa’i dan selain keduanya) ==================================================
  • Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka (al baqarah ayat 120)

    Wahai Kaum Muslim, Telah nyata kebencian dan makar kaum kafir untuk menghancurkan Islam dan umatnya. Mereka telah melakukan konspirasi canggih dan rapi untuk mengubur Islam. Mereka terus terjaga dan berpikir keras siang-malam untuk mencari dan mencoba cara-cara terbaru untuk menghancurkan Islam. Mereka bahu-membahu dan terus bekerjasama memikirkan bagaimana merusak Islam. Mereka tak segan-segan melakukan teror, intimidasi, hingga serangan fisik dalam rangka meluluhlantakkan Islam dan umatnya. Akankah kita berdiam diri? Ridhakah kita menyaksikan Islam diinjak-injak dan dihinakan? ---------------------------------------------------------- Wahai Kaum Muslim, Islam akan terselamatkan jika kita semua berpegang teguh dengan syariat Islam, insya allah. Artinya, kita tidak hanya meyakini Islam sebatas bibir semata. Lebih jauh, kita harus menerapkan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan kita; baik dalam ibadah ritual yang biasa kita laksanakan maupun dalam bidang akhlak dan muamalah—seperti politik, ekonomi, sosial, pendidikan, dan sebagainya. ------------------------------------------------------------ Di samping itu, harus ada institusi negara (Khilafah) yang melindungi seluruh kepentingan umat Islam. Dengan institusi inilah seluruh syariat Islam akan diterapkan secara sempurna sehingga akidah umat dapat terselamatkan. Marilah kita bahu-membahu, mencurahkan pikiran dan tenaga kita demi tegaknya Khilafah Islamiyah. ---------------------------------------------------------- Sesungguhnya barat tidak memandang kita dengan dua kaca mata, namun hanya satu kaca mata saja, yaitu kacamata fanatik buta, kedengkian dan kezhaliman yang nyata terhadap kaum muslimin. Tatkala Islam tegak dengan tanpa mempermasalahkan batas-batas wilayah, bersatu dalam amal serta telah rekat persatuannya maka tiba-tiba saja mereka merobek-robek dan mencerai beraikan kita. ================================================
  • SALAFY & WAHABI BUKANLAH ALIRAN SESAT

    Al-Malik Abdul Aziz berkata : “Aku adalah penyeru kepada aqidah Salafush Shalih, dan aqidah Salafush Shalih adalah berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang datang dari Khulafaur Rasyidin” [Al-Wajiz Fi Siratil Malik Abdul Aziz hal.216] ------------------------------------------------------------------------------------- Beliau juga berkata : “Mereka menamakan kami Wahabiyyin, dan menamakan madzhab kami adalah madzhab wahabi yang dianggap sebagai madzhab yang baru. Ini adalah kesalahan fatal, yang timbul dari propaganda-propaganda dusta yang disebarkan oleh musuh-musuh Islam. Kami bukanlah pemilik madzhab baru atau aqidah baru. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tidak pernah mendatangkan sesuatu yang baru, aqidah kami adalah aqidah Salafush Shalih yang datang di dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang ditempuh oleh Salafush Shalih. Kami menghormati imam empat, tidak ada perbedaan di sisi kami antara para imam : Malik, Syafi’i, Ahmad dan Abu Hanifah, semuanya terhormat dalam pandangan kami” [Al-Wajiz Fi Siratil Malik Abdul Aziz, hal. 217] ---------------------------------------------------------
  • mengutip perkataan Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad hafizhahullaahu:

    “Telah terjadi di zaman ini, sibuknya sebagian ahlus sunnah dengan sebagian lainnya dengan tajrih (saling mencela) dan tahdzir, dan implikasi dari hal ini menyebabkan terjadinya perpecahan, perselisihan dan saling mengisolir. Padahal sepantasnya bahkan seharusnya bagi mereka untuk saling mencintai dan berkasih sayang terhadap sesama mereka, dan menyatukan barisan mereka di dalam menghadapi ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu yang menyelisihi ahlus sunnah wal jama’ah. ---------------------------------------------------- “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- agar menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dari perkara-perkara yang tidak bermanfaat bagi mereka, sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “diantara kebaikan seorang muslim adalah meninggalkan hal-hal yang tidak berfaidah baginya.” Hadits hasan diriwayatkan oleh Turmudzi.” ------------------------------------------------------ “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- untuk bersikap pertengahan dan moderat, diantara sikap ghuluw (ekstrim) dan meremehkan, dan diantara sikap ifrath (berlebih-lebihan) dan tafrith (menggampangkan). Sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “Jauhilah oleh kalian sikap ghuluw di dalam agama, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa dikarenakan sikap ghuluw mereka di dalam agama.” Ini hadits shahih, dikeluarkan oleh an-Nasa’i dan selainnya.” ---------------------------------------------------- “Dan aku nasehatkan supaya mereka berhati-hati dari sikap zhalim, dikarenakan hadits Qudsi, “Wahai hamba-Ku, sesunguhnya Aku haramkan kezhaliman atas diri-Ku, maka aku jadikan pula haram atas diri kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi” diriwayatkan oleh Muslim, dan hadits Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “takutlah kalian dari kezhaliman, karena sesungguhnya kezhaliman itu adalah kegelapan di hari kiamat” diriwayatkan oleh Muslim. ------------------------------------------------------ Aku memohon kepada Allah Azza wa Jalla untuk menunjuki seluruh ummat kepada apa yang diridhai-Nya, agar mereka mendalami agama Islam (tafaqquh fid din) dan menetapi kebenaran, serta agar mereka menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dan menjauhkan dari apa-apa yang tidak bermanfaat. Sesungguhnya Ia berkuasa dan berkemampuan atasnya. Semoga Sholawat dan Salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya dan para sahabatnya. (selesai kutipan) ===========================================
  • mengutip perkataan Imam Albani rahimahullaahu

    “Wajib atas kita untuk berlemah lembut di dalam dakwah kita terhadap orang-orang yang menyelisihi kita, dan jadikan selalu firman Alloh Ta’ala berikut (sebagai pegangan) dan untuk selamanya : “Serulah mereka ke jalan Rabb-mu dengan hikmah dan nasehat yang baik, serta berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.” Dan mereka yang pertama lebih berhak untuk kita terapkan hikmah ini adalah mereka yang paling memusuhi kita di dalam dasar (mabda’) dan aqidah kita, hingga kita tidak menggabungkan antara beratnya dakwah yang haq yang Alloh memperteguh kita dengannya dengan beratnya cara (ushlub) kita berdakwah kepada Alloh Azza wa Jalla” ==================================================
  • Diriwayatkan bahwa Hasan Al-banna berkata: “Kami menginginkan terbentuknya sosok individu muslim, rumah tangga Islami, bangsa yang Islami, pemerintahan yang Islami, negara yang dipimpin oleh negara-negara Islam, menyatukan perpecahan kaum muslimin dan negara mereka yang terampas, kemudian membawa bendera jihad dan da’wah kepada Allah sehingga dunia mendapatkan ketentraman dengan ajaran-ajaran Islam.” ==================================================
  • warning

    dalam blog ini mungkin terdapat hadits dhoif, riwayat yang tidak valid, salah tulis, kutipan yg tidak sesuai syariat islam, dan berbagai kesalahan2 lain, dan belum sempat di sensor, jadi mohon maaf sebesar-besarnya

kumpulan kisah menakjubkan dari para ulama

Kisah Hidup Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Ibnu Jibrin

Ya Subhanallah…dihari dilahirkannya Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam (sebagaimana pendapat kebanyakan ahli sejarah) dan dihari wafatnya juga, telah wafat juga pada hari sama seorang yang mulia Syaikh kami, Al Allamah Abdullah bin Abdirrahman Al Jibrin.Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam wafat disaat dhuha di hari senin,sedangkan Syaikh kami wafat disaat dzuhur dihari senin bertepatan dengan 20 Rajab 1430H…seolah-olah ini suratan tersamar bagi umat agar bersabar atas musibah ini. Karena jika perginya Syaikh adalah musibah besar, maka wafatnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam tentu lebih besar lagi.Maka siapapun yang merasakan musibah ini,hendaklah ingat akan Rasulullah ‘alaih sholatu wassalam.

Betul, bahwasannya para ulama adalah pewaris para Nabi,dan musibah kehilangannya adalah musibah besar.Bukan sebab dzat tubuhnya,namun karena sebab hilangnya ilmu bersamaan wafatnya mereka.Anas radhiallahu ‘anhu menceritakan: Berkata Abu Bakar kepada Umar setelah wafatnya Rasul shalallahu ‘alaihi wasalam ,”Pergilah dengan kami mengunungi Ummu Aiman,kita kunjungi dia sebagaimana Rasulullah shalallah ‘alaihi wasalam biasa mengunjunginya.Pada saat keduanya sampai ,Ummu Aiman menangis kemudian mereka berdua berkata padanya ,”Apa yang membuat engkau menangis?” Apa yang disisi Allah adalah kebaikan kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam!! Maka berkatalah Ummu Aiman :”Saya tidak menangis karena tidak tahu bahwa apa yang disisi Allah adalah kebaikan bagi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam,tapi saya menangis karena wahyu telah terputus dari langit!!Maka menangislah Abu Bakar dan Umar bersama Ummu Aiman

Wanita sederhana ini merasakan berharganya wahyu ilahi,maka bagaimana kita tidak merasakan nilai para ulama yang mereka laksana bintang dilangit…juga perhiasan di dunia.Kematian mereka adalah keretakan sebagaimana ucapan Al Hasan Al Bashri rahimahullah :”Mereka berkata kematian ulama keretakan dalam islam,tidak dapat menambalnya sesuatupun sepanjang pergantian siang dan malam”

Sesungguhnya kami semua menangisi kepergian guru kami,Syaikh Ibn Jibrin..Kami memangisi ilmu yang hilang bersama kami,kami menangis seorang yang mulia,kami menangisi ketawadh’uan beliau yang luar biasa,kami menangisi kezuhudan dan takwanya,kami menangisi tabir kecongkakan di wajah para ahli syubhat dan syahwat dengan kepergian Syaikh

Aku tidak pernah lupa kajian-kajian Syaikh di Jami’ul Kabir sebelum robohnya tempat itu sekarang

Aku tidak pernah lupa tatkala aku hendak mencium kepalanya,beliau meletakkan tangan kanannya dipundakku untuk menahanku agar tidak melakukannya.Bahkan menahan kebanyakan dari  dari tholabul ilmi ..

Aku tidak pernah lupa sikap beliau bersama Al Allamah Abdurrahman Al Barrak,mereka berdua berebut ingin mencium kepala satu sama lain,dengan penuh kerendahan hati dan kasih sayang…

Aku tidak pernah lupa bantuan-bantuan beliau kepada banyak ulama dan para pelajar dengan tandatangan beliau yang dapat membantu menyelesaikan keperluan-keperluan mereka..

Bagaimana aku lupa dengan sebuah Daurah Ilmiah  yang diselenggarakan di Masjid Jami’ Al’Izz bin Abdissalam dimana  diantara pengisinya adalah Syaikh Ibn JIbrin rahimahullah,beliau tiba disana sebelum para pelajar datang  dan terkadang kami duduk bersama beliau hingga datang sejumlah pelajar ilmu  kemudian barulah dimulai pelajaran Kitabul Iman dari shahih Bukhari!!Beliau tidak gundah dengan sedikitnya yang hadir…Beliau tinggal di selatan kota Riyadh sedangkan kami tinggal di sebelah timur selama sepekan penuh saat itu

Aku tidak pernah lupa rumah beliau yang ramai, tatkala aku berkunjung setelah shalat ashar ,dan aku mendapati banyak orang disana terus bertambah satu  demi satu..masing-masing mereka memilki keperluan pribadi….dan Syakh menghadapi mereka dengan dada yang lapang dan penuh perhatian!!

Aku  tidak pernah lupa Syaikh yang pergi dari satu mesjid ke mesjid lain untuk menyampaikan ceramah ilmiah dan para tholabul ilmi mengikutinya kemana Syaikh berpindah…beliau melakukannya tanpa mengeluh atau bosan dari awal siang sampai akhir siang!!

Aku tidak pernah lupa akan kepala beliau yang sesekali tertunduk-tunduk ,sampai aku katakan didalam hati mungkin Syaikh mengantuk hingga tertidur tanpa beliau rasa.Padahal tertunduknya Syaikh,sedang  berusaha membenarkan bacaan muridnya.Apabila sebelasai muridnya membaca matan kitab, dilanjutkan menjelaskan syarah nya dengan hapalan beliau yang luar biasa kuat..hingga kami merasa ajaib akan banyak nya pelajaran yang beliau isi serta berbagai jenis cabang ilmu …aku katakan didalam hati kapan Syaikh Jibrin dapat menghadirkan ingatannya pada semua pelajaran beliau, padahal semuanya dimulai dari subuh sampai sore hari!!

Aku tidak pernah lupa beliau berbicara dan mengulas sejumlah nash-nash syar’iy serta bait-bait sastra dengan hapalannya  seolah -olah beliau melihat secara langsung dengan matanya kemudian memilih apa yang hendak dinukil atau tidak sekehendaknya.

Kami menyaksikan bahwasannya Syaikh telah menghabiskan waktunya untuk dakwah kepada Allah dan mengajar berbagai ilmu di pelosok negeri yang berkah ini ditimur maupun di barat…dan kami tidak mensucikan seseorangpun dihadapan Allah.Ya Allah ganjarlah kami dalam musibah ini dan gantikanlah dengan kebaikan ..ampunilah Syaikh kami ini dan tempatkanlah di surgamu yang luas Ya Rabbil Alamin!

Sumber :Makalah berjudul Al Allamah Ibn Jibrin Faqidul Ummah oleh Syaikh DR.Muhammad bin Abdullah Al Habdan.

http://www.direktori-islam.com/

16 Tanggapan

  1. Kisah Mengagumkan Bakti Seorang Ulama Buta pada Ibundanya

    Syaikh Abdurrahman bin Nashir Al Barrak[1] adalah salah seorang ulama negeri saudi saat ini.Saya ingin menyebutkan kisah betapa berbaktinya Syaikh kami terhadap ibundanya dan Syaikh hafidzahullah telah mencontohkan teladan yang sungguh ajaib dalam berbakti,terkhusus di zaman sekarang ini.Ibunda Syaikh telah wafat sekitar 5 tahun silam.Saya akan menyebutkan beberapa kisah dalam beberapa point berikut tanpa perincian yang luas:

    1.Syaikh Abdurrahman Al Barrak hafidzahullah dikenal hanya sedikit pergi haji.Sebabnya adalah tidak adanya persetujuan ibundanya rahimahallah.Beliau mulai berhaji lagi sejak Ibunya lemah ingatannnya dan bercampurnya sebagian hal sehingga menjadi memberikan izin baginya untuk pergi haji

    2.Syaikh Al Barrak tidak pergi safar kecuali setelah diberi izin ibundanya.Suatu waktu,terjadi suatu permasalah di kampung halaman beliau di Albakiriyah daerah Al Qosim.Penduduk daerah tersebut meminta Syaikh untuk datang agar membantu menyelesaikan masalah tersebut karena kedudukan Syaikh yang berpengaruh dikalangan mereka.Maka Syaikh menyetujuinya untuk pergi asalkan dengan syarat jika diizinkan Ibunya.Maka sebagian sebagian saudara ibunya berbicara kepada Ibu Syaikh ,dan karena segan maka kemudian diizinkanlah Syaikh Al Barrak.Setelah saudara-saudara Ibunya pergi,maka sang Ibu berkata pada Syaikh Abdurahman bin Nashir Al Barrak :”Saya menyetujuinya karena mereka terus menerus meminta padaku”.

    3.Syaikh Abdurrahman dalam safarnya ke Mekah dalam liburan musim panas tidaklah terputus dari menelepon ibunya. Tidak kurang dari dua kali menelepon ibunya dalam sehari.Bahkan beliau sempat memutuskan pelajaran yang sedang disampaikan dimana saat itu kami sedang membacakan kitab pada beliau di Masjidil Haram ,Syaikh menelepon ibunya dan kemudian disambung lagi pelajaran saat itu

    4.Ibunda Syaikh tidaklah terus menerus tinggal bersama Syaikh.Berpindah-pindah,terkadang tinggal di rumah Syaikh namun terkadang di rumah anaknya yang lain (saudara kandung Syaikh).Tatkala tinggal dirumah Syaikh ,maka Syaikh Al Barrak tidak tidur dengan istrinya,tapi tidur bersama Ibunya dikamar Ibunya dengan maksud siap sedia memenuhi segala permintaan Ibunya

    5.Diantara bentuk memenuhi hajat Ibunya,adalah Syaikh Al Barrak senantiasa berdiri menuntun memegangi tangan ibunya,karena Ibunya sudah lambat dalam berjalan.Syaikh mengantar untuk pergi ke kamar mandi sampai ibunya duduk dikursi khusus baginya.Kemudian Syaikh menunggu hingga ibunya menyelesaikan keperluannya di kamar mandi,setelah itu Ibunya diantar lagi ketempat semula.Ini semua dilakukan Syaikh,walaupun ada anak-anak perempuan Syaikh dan istrinya

    6.Diantara bentuk bakti yang lain, Syaikh Abdurrahman Al Barrak hafidzahullah tidak pernah memutus kebiasaan Ibunya.Saya pernah membaca kitab dihadapan beliau disuatu hari dipelataran rumah beliau dipintu masuk khusus laki-laki.Pelajaran yang disampaikan Syaikh di sore hari biasanya tidak terputus kecuali apabila terdengar adzan maghrib.Tatkala menjelang adzan maghrib beliau meminta saya keluar dari rumah.Ini bukanlah kebiasaan Syaikh sebelumnya.Setelah Isya tiba-tiba Syaikh meneleponku di rumah,beliau meminta maaf dari kejadian dihari itu dan memberitahu bahwa dilakukannya hal tersebut karena Ibunya punya kebiasaan berwudhu untuk shalat maghrib di keran air disebelah pintu dimana kami tadi berada.

    7.Syaikh Al Barrak sangat memperhatikan keinginan Ibunya.Adalah kebiasaan Syaikh bermajlis dengan tamu-tamunya hingga adzan tiba kemudian mereka keluar untuk sholat.Namun jika sedang ada ibunya ,maka Syaikh akan berdiri sebelum adzan tiba karena hal ini kesukaan Ibunya yang sholehah

    8.Tatkala semakin parah sakit yang dialami ibunya,maka Syaikh berusaha mengobatinya,beliau tidur bersamanya serta memberinya makanan dan minuman.Bahkan Syaikh kami ini apabila selesai sholat shubuh dari masjid,beliau menyiapkan minuman ,kemudian memberikannya kepada Ibunya,atau terkadang mendinginkan minuman tersebut untuk ibunya.Semua ini dilakukan beliau dengan keadaan beliau yang buta matanya.Setelah itu beliau kembali ke masjid untuk menyampaikan kajian shubuh

    Disarikan dari tulisan Abu Muhammad Al Qohthoni di forum http://www.ahlalhdeeth.com dengan sedikit penambahan

    ——————————————————————————–
    [1] Usia Syaikh Abdurrahman bin Nashir Al Barrak hafidzahullah saat ini 78 tahun.Beliau sudah menjadi yatim sejak balita,yakni saat umur setahun.Diusia 10 tahun beliau terkena penyakit dimatanya sehingga tidak bisa melihat sampai saat ini.Diantara guru beliau yang sangat berpengaruh adalah Al Allamah Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, dimana lebih dari 50 tahun belajar dengan beliau rahimahullah.Syaikh Ibn Baz seringkali meminta beliau untuk masuk lembaga fatwa namun ditolaknya.Syaikh bin Baz pun ridho pada Syaikh Al Barrak untuk menggantikannya berfatwa di Darul Ifta di Riyadh di saat musim panas tatkala para mufti pindah tempat ke kota Thaif, Syaikh Nashir Al Barrak ini dengan malu memenuhinya,namun itu dilakukan hanya dua kali,setelah itu ditinggalkannya.Setelah wafat Syaikh Bin Baz, seringkali Syaikh Alu Syaikh mufti sekarang meminta dengan sangat agar beliau menjadi anggota lajnah ifta namun beliau keberatan untuk memutus pelajaran yang biasa beliau sampaikan di masjid.

    http://www.direktori-islam.com/

  2. Sebuah Kisah Menakjubkan Tentang Ujian Kesabaran

    Ibnu Hibban meriwayatkan di dalam kitab “Ats Tsiqot” kisah ini. Dia adalah imam besar ,Abu Qolabah Al Jurmy Abdullah bin Yazid dan termasuk dari perawi-perawi yang meriwayatkan dari Anas bin malik. Dan yang meriwayatkan kisah ini adalah Abdullah bin Muhammad. Inilah kisahnya:

    Saya keluar untuk menjaga perbatasan di Uraisy Mesir. Ketika aku berjalan, aku melewati sebuah perkemahan dan aku mendengar seseorang berdo’a :

    Ya Allah, anugerahkan aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmatMu yang telah engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridloi. Dan masukkanlah aku dalam rahmatMu ke dalam golongan hamba-hambaMu yang shalih. ( An Naml :19)

    Aku melihat orang yang berdo’a tersebut, ternyata ia sedang tertimpa musibah. Dia telah kehilangan kedua tangan dan kedua kakinya, matanya buta dan kurang pendengarannya.

    Lalu aku mendatanginya dan berkata kepadanya : “Wahai hamba Allah, sungguh aku telah mendengar doamu tadi,ada apa gerangan?”

    Kemudian orang tersebut berkata : “Wahai hamba Allah. Demi Allah seandainya Allah mengirim gunung-gunung dan membinasakanku dan laut-laut menenggelamkanku, tidak ada yang melebihi nikmat Tuhanku daripada lisan yang berdzikir ini” . Kemudian dia berkata: “Sungguh sudah tiga hari ini aku kehilangan anakku. Apakah engkau bersedia mencarinya untukku? (Anaknya inilah yang biasa membantunya berwudhu dan memberi makan)

    Maka aku berkata kepadanya : “Demi Allah tidaklah ada yang lebih utama bagi seseorang yang berusaha memenuhi kebutuhan orang lain, kecuali memenuhi kebutuhanmu”. Kemudian aku meninggalkannya untuk mencari anaknya. Tidak jauh setelah berjalan, aku melihat tulang-tulang berserakan di antara bukit pasir. Dan ternyata anaknya telah dimangsa binatang buas. Lalu aku berhenti dan berkata dalam hati: “Bagaimana caraku kembali kepada temanku, dan apa yang akan aku katakan padanya dengan kejadian ini? Aku mulai berfikir. Maka aku teringat kisah Nabi Ayyub ‘alaihissalam.

    Setelah aku kembali, aku memberi salam kepadanya.

    Dia berkata: Bukankah engkau temanku?

    Aku katakan : “Benar”.

    Dia bertanya lagi: Apa yang selama ini dikerjakan anakku?

    Aku berkata: “Apakah engkau ingat kisah Nabi Ayyub?”

    Dia menjawab: “Ya”.

    Aku berkata : “Apa yang Allah perbuat dengannya?”

    Dia berkata: “Allah menguji dirinya dan hartanya”

    Aku katakan :”Bagaimana dia menyikapinya?”

    Dia berkata: “Ayyub bersabar”.

    Aku katakan :”Apakah Allah mengujinya cukup dengan itu?

    Dia menjawab :”Bahkan kerabat yang dekat dan yang jauh menolak dan meninggalkannya”

    Lalu aku berkata : “Bagaimana dia menyikapinya?.

    Dia berkata : Dia tetap sabar. Wahai hamba Allah, sebenarnya apa yang engkau inginkan?.

    Lalu aku berkata : “Anakmu telah meninggal, aku mendapatkannya telah dimangsa binatang buas di antara bukit pasir”

    Dia berkata : “Segala puji bagi Allah yang tidak menciptakan dariku keturunan yang dapat menjerumuskan ke neraka”

    Lalu dia menarik nafas sekali dan ruhnya keluar.

    Aku duduk dalam keadaan bingung apa yang aku kulakukan, jika aku tinggalkan, dia akan dimangsa binatang buas. Jika aku tetap berada disampingnya, aku tidak dapat berbuat apa-apa. Ketika dalam keadaan tersebut, tiba-tiba ada segerombolan perampok menyerangku.

    Para perampok itu berkata: Apa yang terjadi? Maka aku ceritakanlah apa yang telah terjadi. Mereka berkata: Bukakan wajahnya kepada kami! Maka aku membuka wajahnya lalu mereka memiringkannya dan mendekatinya seraya berkata : Demi Allah, Ayahku sebagai tebusannya, aku menahan mataku dari yang diharamkan Allah dan Demi Allah, ayahku sebagai tebusannya, tubuh orang ini menunjukkah bahwa dia adalah orang yang sabar dalam menghadapi musibah.

    Lalu kami memandikannya, mengkafaninya dan menguburnya. Kemudian aku kembali ke perbatasan. Lalu aku tidur dan aku melihatnya di mimpi dalam keadaan sehat. Aku berkata kepadanya : Bukankah engkau sahabatku?. Dia berkata : Benar. Aku berkata: Apa yang Allah lakukan terhadapmu?. Dia berkata : Allah telah memasukkanku ke dalam surga dan berkata kepadaku “keselamatan atasmu berkat kesabaranmu” (QS. Ar-Ra’d : 24). Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. Ar-Ra’d : 28)

    Dari ceramah Syaikh Abu Ishaq Al Huwainy yang berjudul Jannatu Ridho fit Taslim Lima Qodarollah wa Qodho

    http://www.direktori-islam.com/2009/08/sebuah-kisa-ujian-dan-kesabarannya/

  3. KISAH TELADAN SYAIKH MUHAMMAD BIN SHOLIH AL UTSAIMIN

    Syaikh Utsaimin Yang Kukenal

    Bismillahirrahmanirrahim.Segala puji hanya milik Allah, kami memuji, meminta pertolongan, memohon ampun dan bertaubat kepada-Nya. Kami memohon perlindungan kepada Allah dari kejelekan jiwa-jiwa kami serta amalan kami.Siapa yang Allah beri petunjuk, maka tiada yang dapat menyesatkannya.Aku bersaksi bahwasannya tiada Ilah yang berhaq diibadahi kecuali Allah saja,tiada sekutu bagi Nya.Dan aku bersaksi bahwasannnya Muhammad adalah utusan Allah,kekasih serta makhluk terbaikNya.Semogat shalawat atas beliau,keluarga dan sahabat serta orang-orang yang mengikutinya dengan ihsan hingga hari akhir.Amma ba’du :

    Kisah para ulama dan orang-orang sholih terdahulu sangat berpengaruh dalam menghidupkan hati dan ruhani. Kisah mereka ini termasuk dari apa yang Allah sebutkan dalam firmanNya :

    لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُولِي الأَلْبَابِ

    Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. ( QS Yusuf 111 )

    Oleh karena itu, mempelajari kisah-kisah para salaful ummah adalah obat terbaik bagi hati.

    Ayyuhal ikhwah..

    Kisah para salaf banyak memberi faedah bagi siapa saja yang mau mempelajarinya. Telaah kisah-kisah mereka sangat berpengaruh bagi jiwa dalam meneladani dan mengambil petunjuk dari kehidupan mereka. Karena dalam kisah mereka terdapat pengejawantahan langsung dari apa yang mereka bawa berupa petunjuk dan kebenaran.

    Abu Hanifah rahimahullah berkata,” Kisah para ulama lebih aku sukai daripada banyak pelajaran fiqih“. Hal ini lantaran dalam kisah itu terdapat gambaran akhlaq dan adab mereka. Oleh karena itu setelah Allah menceritakan kisah para nabi kepada Nabi Muhammad, Allah kemudian berfirman,

    أُولَـئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ

    Mereka Itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka ( Al An’am:90)

    Dalam syair disebutkan :

    Tirulah mereka seandainya engkau tidak bisa menyamainya.

    Karena meniru orang-orang mulia adalah sebuah keberuntungan

    Ayyuhal ikhwah..

    Hal terbesar yang akan dirasakan oleh seseorang setelah membaca kisah para ulama adalah ia akan membandingkan kesholehan dan keilmuannya dengan mereka. Sejarah para ulama merupakan alat ukur untuk menimbang kebaikan seseorang, untuk membandingkan keistiqomahan pengamalan seseorang terhadap al qur’an dan sunnah.

    Khamdun an Nasaiburi berkata,” Barangsiapa yang menengok kisah para salaf ia akan mengetahui kekurangan dan ketertinggalan derajatnya dari mereka.”

    Ayyuhal ikhwah..

    Sejarah para imam tidak hanya terbatas pada kelahiran dan kematian mereka, atau kejadian-kejadian penting dalam hidupnya, karena hal ini biasa dialami oleh kebanyakan menusia. Bukan ini yang akan mendatangkan hikmah dan faedah. Karena hal-hal itu akan dialami oleh setiap dari kita. Akan tetapi yang terpenting adalah sisi keteladanan yang dapat kita lihat dari pribadi dan sejarah mereka. Hanya saja, sudah merupakan kebiasaan yang dilakukan untuk mengawali sebuah kisah adalah dengan sedikit menerangkan keadaan mereka terkait dengan kelahiran, kematian dst.

    Ayyuhal ikhwah..

    Sekarang saya akan bercerita tentang syaikh Muhammad bin Sholeh al Utsaimin-rahimahullah-. Beliau lahir pada malam 27 Ramadhan 1347 H dan meninggal pada hari Rabu 15 Syawal 1421 H dikota Jeddah. Beliau disholatkan pada hari Kamis setelahnya dan dimakamkan di pemakaman Adl. Semoga Allah merahmatinya dengan rahmat yang luas. Kita berdoa kepada Allah semoga menjadikan kuburnya sebagai taman dari taman-taman surga. Dan semoga Allah memberikan ganti yang lebih baik bagi umat ini yang telah kehilangan imam besarnya.

    Ayyuhal ikhwah..

    Suri tauladan yang terdapat pada diri para imam dan ulama tidak terbatas pada salah satu sisi kehidupannya saja. Akan tetapi mereka tak ubahnya sebagaimana perkataan seorang syair

    Dia ibarat lautan darimanapun engkau mendatanginya.

    Engkau lihat kebaikan sebagai lautnya dan kebajikan sebagai pantainya.

    Syaikh Muhammad bin Sholeh al Utsaimin-rahimahullah- adalah salah satu dari para imam dan para ulama. Beliau ibarat hujan yang membawa kebahagiaan bagi manusia. Tatkala bersama, mereka mengambil manfaat darinya. Ketika pergi, bekasnya masih tetap bersama mereka.

    Ayyuhal ikhwah..

    Teladan yang diberikan oleh Syaikh begitu banyak dan bermacam-macam. Beliau adalah contoh bagi dunia sebagai orang yang mengamalkan ilmunya dalam perkara-perkara kecil ataupun besar. Iapun sebagaimana perkataan imam Syafii’ rahimahullah :

    Orang Faqih adalah dia yang faqih dalam pengamalannya.

    Bukanlah faqih orang yang hanya bisa berkata-kata.

    Demikianlah keadaan Syaikh. Keteladanannya terpancar dari segala sisi kehidupannya. Aku mengambil sisi-sisi yang kulihat sangat penting untuk diperhatikan dan diambil manfaatnya bagi para penuntut ilmu pada khususnya dan bagi kaum muslimin pada umumnya.

    Syaikh Utsaimin dan Kitabullah

    Syaikh Utsaimin sangat rajin dalam membaca al Qur’an. Beliau sangat bersemangat dalam memurajaah al qur’an dalam rangka mengamalkan sabda nabi yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Musa al Atsary,

    تعاهدوا القرآن، فوالذي نفسي بيده لهو أشد تفلتاً من الإبل في عقلها

    Jagalah Al qur’an. Demi Dzat yang jiwaku berada ditanganNya, sesungguhnya ia lebih mudah lepasnya daripada onta yang ditambatkan. (HR BUKHARI, kitab Fadhoilul Qur’an bab Istidzkarul Qur’an wa taahaduhu nomor 5033 )

    Beliau mengkhatamkan al Qur’an dua kali dalam sebulan selain bulan Romadhon. Pada bulan Romadhon beliau mengkhatamkannya setiap tiga hari. Jika padat kesibukannya, beliau menyelesaikannya dalam 10 hari.

    Diantara wasiat beliau yang kuhafal adalah barangsiapa yang memiliki hafalan al qur’an hendaklah memurajaahnya dipagi hari. Ini adalah wasiat berharga yang telah teruji dari seorang alim bagi siapa saja yang mau mencobanya. Barangsiapa yang memiliki hafalan al qur’an dan membacanya setiap hari, cobalah dilakukan pada awal hari. Ini akan sangat membantunya dalam mendapatkan kembali hafalannya. Beliau biasa memurojaah al Qur’an dalam perjalanannya ke masjid, pagi dan sore harinya. Beliau selesaikan sisanya diawal waktu dhuha’.

    Ayyuhal ikhwah..

    Bacaan al qur’an seorang ulama tidaklah sama dengan bacaan orang selainnya. Tidaklah bacaan mereka sebagaimana yang disampaikan Ibnu Mas’ud,

    لا تنثروه نثر الدقل، ولا تهذوه هذ الشعر، قفوا عند عجائبه وحركوا به القلوب

    “ Janganlah kalian membacanya dengan cepat-cepat seperti membuang-buang kurma yang jelek, dan jangalah kalian baca seperti syair. Berhentilah pada tempat-tampat yang menakjubkan dan gerakkan hati kalian padanya.

    Syaikh termasuk orang yang membaca al qur’an dengan tadabbur dan memahami tafsir-tafsirnya. Bacaan beliau adalah bacaan yang disertai dengan penghayatan. Beliau berhenti pada tempat-tempat yang selayaknya seorang pembaca al qur’an berhenti. Hal ini dikuatkan dengan penyampaian beliau pada tausiah dan wasiat-wasiat beliau.

    Wasiat lain yang kuhafal dari beliau adalah terkait surat al An’am. Beliau berkata,” Kebanyakan menusia membaca al Qur’an dengan terburu-buru dan tidak memperhatikan tempat-tempat berhenti. Kami mempelajari ini (tempat-tempat berhenti dan bacaan tadabbur) dari Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah. Beliau berhenti pada tempat-tempat tertentu. kami keheranan karena pada saat itu kami biasa membaca dengan terus.”

    Orang yang mengetahui Syaikh Utsaimin dan mengetahui bagaimana bacaan sholatnya termasuk bacaan tarawihnya, tentu akan mengetahui ini dengan sebenarnya. Semangat beliau dalam mengkhatamkan al Qur’an tidak menyebabkan beliau membaca sambil lalu tanpa tadabbur.

    Syaikh selalu membaca al qur’an dengan mentadabburinya. Beliau selalu senang kepada para qori yang membaca al qur’an dengan tadabur. Sebagai contoh adalah bacaan syaikh Abdurrahman sudais. Beliau mengagumi bacaan Syaikh Abdurrahman Sudais karena bacaannya yang penuh penghayatan dan berhenti pada tempat-tempat yang selayaknya seorang pembaca al qur’an berhenti padanya.

    Bersambung….

    Sumber : Transkrip Ceramah Syaikh Kholid bin Ali Al Mushlih hafidzahullah di http://www.almosleh.com/files/sound/mhdrat/othaimin/othaimin.pdf

    =========================================================

    Ayyuhal ikhwah..

    Apabila kita melihat kehidupan Syaikh bersama Al qur’an, sungguh Al qur’an telah mewarnai kehidupan beliau. Perilakunya adalah hasil penjabaran al qur’an, Amal dan akhlaqnya adalah pengamalan dari apa yang telah diwasiatkan dalam al qur’an.

    Aku selalu ingat perkataan Aisyah kepada Said bin Hisyam bin Amir tatkala bertanya kepadanya,” Wahai Ummul Mukminin, kabarkan kepadaku tentang akhlaq Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam.” Aisyah berkata,” Tidakkah engkau membaca Al Qur’an ?” Said menjawab,” Tentu.” Aisyah berkata,” Akhlaq beliau halallahu ‘alaihi wasalam adalah Al Qur’an.”[1]

    Aku melihat Syaikh bersegera untuk menerapkan hadits Aisyah ini pada dirinya. Beliau menerapkan Al Qur’an pada perkataan, perbuatan dan pergaulannya.Bukti sisi ini begitu banyak tak terhitungkan. Aku akan sebutkan beberapa bukti kisah yang masih melekat dihatiku tentang perkara-perkara yang sebagian orang dianggap berat akan tetapi tidak bagi beliau.

    Suatu ketika aku pergi bersama Syaikh ke Ma’had Ilmi dalam sebuah muhadharah yang beliau akan sampaikan. Tatkala kami keluar, ada penjaga ma’had yang bersemangat dalam menyambut kedatangan Syaikh ataupun kepulangannya. Tatkala Syaikh pergi, diapun berdiri di pintu dengan muka yang berseri. Ia melepas perginya Syaikh dengan lisan dan tangannya sehingga ia mengucapkan salam perpisahannya sambil melambaikan tangannya. Waktu itu Syaikh yang berada di sisiku menoleh kepadanya. Syaikh membalas orang tadi dengan isyarat yang serupa. Beliau kembali menoleh kepadaku dan berkata,

    وَإِذَا حُيِّيْتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا

    Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa)[2]

    Sungguh makna seperti ini tercermin dari kehidupan seorang alim, perkara yang kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.

    Suatu ketika kami memasuki suatu majlis yang telah ada beberapa ikhwah didalamnya. Syaikh mengucapkan salam kepada salah seorang ikhwah dengan suara yang jelas sebagaimana kebiasaan beliau dalam menyebarkan salam. Ikhwah tersebut lantas membalasnya, akan tetapi dengan suara yang sangat pelan. Hal ini lantaran tabiat ikhwah tersebut yang malu-malu untuk mengeraskan suaranya. Syaikhpun berkata kepadanya,”Keraskan suaramu ! Allah berfirman:

    وَإِذَا حُيِّيْتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا

    Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa)

    Saudara-saudaraku yang terhormat

    Masih dalam kisah Syaikh Muhammad bin Sholeh al Utsaimin dan Al qur’an, suatu ketika beliau mendatangi suatu daerah yang aku tinggal disana. Sudah menjadi kebiasaan apabila beliau pergi ke suatu daerah yang didalamnya terdapat kerabat atau orang yang beliau kenal, pasti beliau akan menghubungi mereka sebelumnya dan memberitahukan kepentingannya. Hal ini beliau lakukan sebagai bentuk perhatian beliau kepada mereka.

    Pada satu saat beliau datang dan tidak memberitahuku. Setelah sampai, beliau baru menghubungiku dan memberitahukan kedatangannya. Akupun berkata kepadanya,” Semoga keselamatan senantiasa Allah berikan kepadamu, mengapa engkau tidak memberitahuku sebelumnya?” Dari konteks bahasaku, beliau dapat merasakan kekecewaanku. Beliaupun lantas berkata,”

    خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ

    Jadilah Engkau Pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf[3]

    Ayyuhal ikhwah..

    Hal ini menunjukkan perhatian dan tingginya adab beliau sehingga membahagiakan orang yang bergaul dengannya. Inilah prinsip yang selalu beliau jaga dan terapkan dalam kehidupan nyata. Yaitu tidak membebani manusia melebihi kebiasaannya.

    Barangsiapa yang mau bersikap seperti itu, menerima manusia apa adanya tanpa menuntut apa yang diluar kemampuannya, tentu ini akan membuat dia dan orang yang bergaul dengannya merasa bahagia.

    Saudara-saudaraku yang terhormat

    Pada suatu hari kami bersama Syaikh kembali dari berkunjung ke tempat ikhwah. Kamipun berbincang-bincang ringan kesana kemari. Aku berkata kepada Syaikh sebelum beliau turun dari mobil tentang firman Allah

    وَكَلِمَةُ اللّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

    …. dan kalimat Allah Itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana[4]

    Beliaupun langsung menoleh kepadaku sebelum membuka pintu mobil sambil berkata,” Perhatikanlah ! firman Allah …. dan kalimat Allah Itulah yang tinggi…disebutkan Al Qur’an dalam bentuk jumlah ismiyah untuk menjelaskan bahwa selamanya kalimat Allah itu lebih tinggi dibandingkan kalimat selainnya.”

    Ayyuhal ikhwah..

    Apakah kita termasuk orang yang menghayati makna itu ditengah-tengah bacaan kita, tatkala kita mendengar kalamNya ? sungguh hal ini jarang terjadi dikalangan tholibul ilmi apalagi selain mereka.

    Salah satu sisi yang patut dicermati dari kehidupan beliau bersama al Qur’an adalah bahwa beliau senantiasa mengamalkan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam

    خيركم من تعلم القرآن وعلمه

    Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar al Qur’an dan mengajarkannya.[5]

    Dalam hadits ini Nabi menjelaskan keutamaannya dan Nabi adalah orang yang paling dahulu mengamalkannya dalam belajar dan mengajarkan Al Qur’an.

    Syaikh adalah orang yang memasukkan pengajaran al Qur’an pada pelajaran-pelajaran di jami’ahnya. Bahkan beliau sangat bersemangat untuk mencantumkan ayat-ayat al Qur’an dalam pelajarannya di Haramain. Beliau sering mengingatkan para penuntut ilmu akan kewajiban dalam merujuk pada tafsir ayat karena sangat bermanfaat. Inilah yang sering dilupakan para penuntut ilmu. Mereka lebih perhatian terhadap cabang-cabang ilmu lainnya. Padahal yang demikian itu pada hakekatnya mereka telah melupakan pokok dan sumber ilmu itu sendiri. Sebagaimana firman Allah:

    بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ

    . Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu[6]

    Ayyuhal ikhwah..

    Syaikh adalah orang yang menerapkan hal tersebut pada dirinya. Beliau adalah orang yang sangat perhatian terhadap halaqoh-halaqoh al Qur’an. Bukan saja halaqoh yang ada didalam negerinya akan tetapi setiap halaqoh yang beliau ketahui keberadaanya. Perhatian ini beliau wujudkan dalam bentuk dukungan, keterlibatan langsung ataupun dengan bantuan materi.

    Jamiah Tahfidzul Qur’an yang ada dikota Unaizah adalah salah satu bentuk perhatian dan peran beliau yang besar. Beliaulah yang mendirikan dan mengelolanya secara materi maupun non materi. Beliau berusaha untuk mewujudkan tujuan yang telah dicanangkan oleh Ma’had. Perhatian beliau tidak saja terbatas pada kepengurusan lembaga akan tetapi beliau ikut terlibat langsung dalam kegiatan majlis dengan para siswanya, baik dalam pertemuan-pertemuan kecil apalagi pertemuan tahunan dalam rangka wisuda kelulusan siswa.

    Kami sering mendengar suara beliau dari menara-menara masjid saat menyertai siswa dan anak-anak beliau yang sedang menyelesaikan juz atau sebagian dari kitabullah.

    Ayyuhal ikhwah..

    Sungguh kisah tentang syaikh dan kehidupannya bersama al Qur’an sangatlah panjang. Cerita diatas hanyalah ringkasan saya dari kisah-kisah itu.

    Sekarang marilah kita beralih pada point ke-2 yaitu “Kisah Kehidupan Syaikh Utsaimin Dengan Sunnah Nabi”.

    Bersambung…………….

    ——————————————————————————–
    [1] Muslim : kitab sholatnya musafir dan sholat qosor, bab barangsiapa yang tidur atau sakit hadits ke 746

    [2] QS.An Nisa ayat 86

    [3] QS.Al A’raf ayat 199

    [4] QS.At Taubah ayat 40

    [5] Bukhari : Kitab Fadhoilul Qur’an bab Khoirukum man taalamal qur’an wa ‘allamahu. Hadits no 5027

    [6] QS Al Ankabut : 49

    Sumber : Transkrip Ceramah Syaikh Kholid bin Ali Al Mushlih hafidzahullah di http://www.almosleh.com/files/sound/mhdrat/othaimin/othaimin.pdf

    http://www.direktori-islam.com/

  4. Syaikh Utsaimin rahimahullah Dan Sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam

    Diantara kepribadian Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin yang istimewa dan menonjol adalah pengagungan beliau terhadap sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam.

    Allah sebagai saksi bahwa aku belum pernah melihat orang yang begitu semangat dalam mengamalkan sunnah-sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam baik yang umum maupun pribadi melebihi Syaikh. Beliau telah mengungguli banyak orang –baik dari kalangan ulama apalagi selainnya- dalam kesemangatan terhadap sunnah. Syaikh adalah orang yang bersemangat untuk menjaga sunnah-sunnah nabi baik pada cara makan dan minumnya, berdiri dan duduknya, bangun dan tidurnya, penampilan dan pakaiannya serta segala sisi kehidupan beliau rahimahullah. Aku akan menceritakannya supaya dapat menjelaskan kehidupan beliau dalam mendahulukan dan mengamalkan sunnah.

    Ayyuhal ikhwah..

    Syaikh selalu berusaha untuk mengenakan pakaian putih bersih dalam rangka mengamalkan hadits ibnu Abbas bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda

    البسوا من ثيابكم البياض فإنها من خير ثيابكم، وكفنوا فيها موتاكم

    Kenakanlah pakaianmu yang putih karena ia adalah sebaik-baik pakaian kalian. Dan kafanilah orang yang meninggal diantara kalian dengannya (kain putih)[1]

    Apabila ada sebagian sunnah yang beliau tinggalkan, hal ini dikarenakan udzur beliau berupa kesibukan dan sebab yang lainnya, seperti sunnah mewarnai rambut yang tidak beliau laksanakan. Apabila beliau ditanya,” Mengapa engkau tidak mewarnai rambutmu padahal Sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam memerintahkan hal itu dengan jelas.?” Beliau menjawab,” Karena untuk melaksanakannya terdapat beban tenaga dan biaya.” Yaitu akan menyibukkan beliau dari pelaksanaan kewajiban dan sunnah-sunnah yang lebih penting. Beliau juga akan menyambungnya dengan perkataan Imam Ahmad tatkala ditanya tentang mewarnai rambut,” Apakah itu sunnah?” Imam Ahmad menjawab,” Itu adalah sunnah yang baik, seandainya memungkinkan untukku tentu aku akan melaksanakannya.” Imam Ahmad berudzur dari sunnah itu karena beliau tidak mungkin melaksanakannya. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau berkata” seandainya kami mampu-untuk mewarnai rambut- tentu kami akan melakukannya. Akan tetapi hal itu membutuhkan tenaga dan biaya.”

    Ayyuhal ikhwah

    Aku belum pernah melihat Syaikh Utsaimin rahimahullah merebahkan badannya di tempat tidur kecuali beliau mengamalkan apa yang diwasiatkan oleh nabi sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhori Muslim dari hadits Abu Hurairah bahwa beliau bersabda,

    إذا أوى أحدكم إلىٰ فراشه فلينفض فراشه بداخلة إزاره، فإنه لا يدري ما خلفه عليه

    ” Apabila salah seorang dari kalian hendak barbaring di tempat tidurnya hendaklah ia kibas-kibas tempat tidurnya itu dengan sarungnya. Karena dia tidak tahu apa yang terjadi pada tempat tidurnya setelah ia tinggalkan sebelumnya.”[2]

    Syaikh mengkibas-kibaskan ujung baju atau yang lainnya pada tempat tidurnya dalam rangka melaksanakan sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam ini.

    Ayyuhal ikhwah..

    Diantara sisi kehidupan Syaikh yang beliau senantiasa berusaha mengikuti nabi adalah sisi ibadah, terutama sholat beliau yang bisa dilihat oleh orang yang pernah sholat bersama beliau. Sholat beliau adalah contoh hidup dari pengamalan sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari dari hadits Malik bin Khuwairits, Nabi bersabda

    صلوا كما رأيتموني أصلي

    Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihatku sedang sholat.[3]

    Sunnah-sunnah nabi begitu terlihat pada gerakan-gerakan sholat beliau. Pada berdirinya, duduknya, rukuknya, sujudnya, bacaannya dan pada dzikirnya. Bukan saja pada saat beliau menjadi imam akan tetapi juga tatkala beliau sholat dimasjidnya dan sholat sendiri di rumahnya.

    Pengagungan Syaikh terhadap sunnah tidak hanya terbatas pada hal-hal diatas. Akan tetapi dalam pendapat-pendapat ilmiyahnya, ijtihad dan tarjihnya beliau selalu memilih pendapat yang sesuai dengan Sunah Nabi. Beliau tidak perduli meskipun hal itu menyelisihi pendapat atau amalan beliau sebelumnya. Beliau selalu ruju’ kepada kebenaran tanpa ragu-ragu dan malu-malu.

    Syaikh pernah memberitahukan bahwa dahulu beliau berpendapat tentang sunnahnya duduk istirahat dalam sholat. Akan tetapi setelah beliau meneliti dalil-dalil dan keadaan Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam maka menjadi jelaslah bagi Syaikh bahwa Nabi melakukannya tatkala sudah lemah dan berusia lanjut. Dari itu Syaikh kemudian berkesimpulan bahwa disunnahkannya duduk istirahat tatkala sholat hanya bagi mereka yang membutuhkannya.

    Diantara kejadian yang masih kami ingat adalah tatkala sholat gerhana yang pada waktu itu beliau berkhotbah dalam keadaan duduk. Pada kesempatan lain tatkala terjadi gerhana matahari, Syaikh berkhutbah dalam posisi berdiri. Beliau memulai khutbahnya dan dalam muqodimahnya, beliau mengatakan,” Dahulu aku berpendapat bahwa khutbah pada sholat gerhana itu dilakukan sambil duduk. Akan tetapi kemudian menjadi jelas bagiku bahwa sunnahnya adalah khutbah dilakukan sambil berdiri. Oleh karena itulah aku berdiri saat ini.”

    Ayyuhal ikhwah..

    Demikianlah sikap seorang Alim Rabbani yang telah menyerahkan kendali hidupnya kepada Allah dan rosulNya. Bukan keinginannya untuk mempertahankan pendapat apabila ternyata menyelisihi kebenaran. Keinginannya hanyalah ingin mengamalkan dan menampakkan sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam dengan sebenarnya.

    Ayyuhal ikhwah..

    Syaikh Utsaimin menjunjung tinggi amalan sunnah, berusaha untuk menampakkannya dan mendakwahkannya meskipun itu bertentangan dengan pendapat manusia. Syaikh berusaha seperti itu pada saat manusia mengagung-agungkan pendapat madzhabnya dan tidak berani menyelisihinya sedikitpun. Dalam hal ini, Syaikh meniru jalan yang ditempuh gurunya, Syaikh Abdurrahman Nashir as Sa’di dan jalan Ssyaikh Abdullah bin Bazz rahimahumallah . Dalam menampakkan sunnah, beliau tidak peduli terhadap apapun apabila memang jelas itu adalah sunnah.

    Meski demikian, Syaikh selalu menekankan untuk membedakan antara menampakkan sunnah kepada bukan orang alim yang ditokohkan dengan seorang ahli ilmi yang diikuti manusia perkataannya. Syaikh mewasiatkan para penuntut ilmu dan para duat supaya tetap bersikap lemah lembut dalam memasyarakatkan sunnah. Apalagi di negeri-negeri yang belum nampak pengamalan sunnah didalamnya.

    Syaikh berkata -kepada ikhwah yang berdiskusi dengan beliau membahas tentang metode memasyarakatkan sunnah yang belum dikenal dinegeri-negeri mereka-,:

    ” Berlemah lembutlah kalian terhadap manusia. Mulailah dengan menjelaskan sunnah itu sendiri. Kemudian ajaklah mereka untuk mengikutinya. Apabila kalian melihat hati mereka telah lapang dan mau menerima ajakan kalian, maka tidak mengapa kalian mulai mengamalkan dan menampakkan sunah itu. Yang penting jangan sampai hal ini menyebabkan perpecahan atau menimbulkan kegelisahan mereka. Atau malah mengakibatkan ditolaknya kebenaran yang diserukan kepada mereka sementara kebenaran itulah yang lebih penting dan lebih besar”

    Ayyuhal ikhwah..

    Syaikh merasa bahwa beliau banyak dijadikan panutan oleh manusia . Hal ini sering beliau sampaikan.

    Suatu ketika salah seorang yang ingin bertanya mendatangi beliau pada saat sedang sholat. Orang tersebut duduk menunggu selesainya Sholat syaikh. Setelah selesai, iapun bertanya tentang menggerakkan telunjuk pada tasyahud, kapan itu dilakukan? Dan bagaimana cara melakukannya ? maka Syaikhpun menjawabnya. Orang itu lantas berkata,” wahai Syaikh, aku telah menghitung gerakan telunjukmu dalam tasyahud sebanyak 17 kali.”

    Syaikh mengomentari kisah ini bahwa ini adalah buah dari orang yang menampakkan sunnah. Manusia akan memperhatikan dan mudah untuk mengikuti hanya dengan melihatnya.

    Demikianlah. Syaikh menjadikan sikap beliau dalam menampakkan dan menyebarkan sunnah sebagai bagian dari peribadatan kepada Allah taala.

    Ayyuhal ikhwah..

    Sungguh panjang cerita kehidupan Syaikh dengan sunnah. Aku hanya sedikit meringkas bagian-bagian penting yang berkilau untuk menjelaskan semangat beliau dalam menjalankan sunnah baik secara umum maupun pribadi.

    Diantara bukti kesemangatan beliau dalam mengamalkan sunnah adalah keistiqomahan beliau dalam menjalankan puasa tiga hari setiap bulannya. Beliau tidak pernah terputus dalam mengamalkannya kecuali pada bulan sya’ban karena sakit. Yaitu sebulan lebih beberapa hari dari hari wafat beliau. Semoga Allah merohmati dan meninggikan derajat beliau.

    Semangat Syaikh ini dalam rangka mengamalkan hadits dari Abu Hurairah, Abu Dzar dan Abu Darda. Nabi berwasiat kepada mereka bertiga untuk berpuasa 3 hari setiap bulannya.

    Ayyuhal ikhwah..

    Diantara pengamalan sunnah dalam kehidupan pribadi beliau adalah kebiasaan Syaikh dalam menjilati piring dan jemarinya tatkala selesai makan. Jarang sekali beliau beranjak dari tempat makannya kecuali beliau telah melakukan sunnah itu. Diriwayatkan dari Imam Muslim dalam shohihnya dari hadits jabir bin Abdullah bahwa nabi memerintahkan untuk menjilati jemari dan piring lantas beliau bersabda,

    إنكم لا تدرون في أيه البركة

    ” Engkau tidak mengetahui dimanakah barakahnya.”[4]

    Yaitu dibagian makanan manakah barokah itu berada?

    Begitu pula kebiasaan yang dapat dilihat oleh orang yang mengenal dan bergaul dengan beliau. Yaitu kesemangatan beliau untuk duduk tatkala sedang minum. Beliau melakukan ini baik tatkala berada ditengah-tengah manusia maupun dalam kesendirian, dipasar maupun dimanapun beliau berada. Apabila hendak minum beliau duduk. Sebagaimana riwayat dari Anas bin Malik dan Abu Said dari nabi bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam melarang minum sambil berdiri[5].Oleh karenanya syaikh begitu semangat untuk melaksanakan sunnah ini kecuali apabila beliau berudzur atau ada sebab yang menghalanginya.

    Ayyuhal ikhwah..

    Diantara kebiasaan syaikh untuk mengamalkan sunnah dalam kehidupan pribadi beliau adalah kebiasaan beliau dalam memakan 7 kurma pada pagi hari. Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari hadits Saad bin Malik. Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda,

    من تصبح كل يوم بسبع تمرات عجوة لم يضره ذلك اليوم سم ولا سحر

    “ Barangsiapa memakan 7 kurma ajwah pada pagi hari setiap harinya, maka tidak ada racun ataupun sihir yang dapat membahayakannya pada hari itu.”[6]

    Syaikh berpendapat sebagaimana pendapat guru beliau syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa’di bahwa hadits tersebut tidak hanya berlaku pada kurma ajwah saja akan tetapi setiap kurma yang mudah didapatkan oleh setiap orang untuk memakannya.

    Ayyuhal ikhwah..

    Syaikh mempunyai kebiasaan agung pada setiap malam. Beliau tidak pernah menginggalkan Qiyamul lail baik pada saat mukim maupun safar. Beliau menggunakan sebagian malam untuk mendekatkan diri kepada Allah, bermunajat dan mengadukan segala permasalahan kepadaNya, memohon petunjuk dan pertolonganNya untuk dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Sesungguhnya Allah maha pemurah dan maha memberi, Dzat yang memberi segala sesuatu dengan sebaik-baik pemberian.

    Syaikh bersemangat untuk qiyamul lail sesuai kemampuan. Beliau tidak punya jam-jam khusus atau beribadah selama satu jam lebih atau kurang. Semuanya disesuaikan dengan apa yang Allah mudahkan untuk syaikh. Meski demikan beliau selalu menjaga sholat di akhir malam.

    Syaikh biasa menghabisakan sebagian malamnya untuk belajar, mengajar ataupun memenuhi sebagian hajat manusia. Meski demikian, hal ini tidak menghalangi beliau untuk beribadah kepada Allah di sebagian malamnya.

    Aku tidak mengetahui syaikh tidur dalam keadaan tidak berwudhu. Beliau selalu berwudhu sebelum tidurnya. Kemudian melakukan sholat ringan baru kemudian menuju tempat tidurnya.

    Apabila beliau belum bisa tidur lantaran kesibukan, keinginan, pikiran atau sebab lain yang mengganggu beliau maka beliau menyibukkan diri dengan bacaan al qur’an hingga mata beliau mengantuk. Beliau tidak hanya membolak-balikkan badannya sebagaimana kebanyakan orang akan tetapi beliau mengisinya dengan membaca al qur’an hingga beliau merasa mengantuk dan tertidur. ( bersambung….)

    Sumber : Transkrip Ceramah Syaikh Kholid bin Ali Al Mushlih hafidzahullah di http://www.almosleh.com/files/sound/mhdrat/othaimin/othaimin.pdf

    ——————————————————————————–
    [1] HR Abu Dawud dan Tirmidzi. Tirmidzi berkata hadits shohih.Abu Daud : Kitabut Tibb Bab fil armi bil kuhl hadits no 3878.Tirmidzi : Kitabuj janaaiz bab maa yustahabu minal akfaan hadits no 994 dan lafadz diatas adalah darinya.Ibnu Majah : Kitabuj Janaaiz Bab Maa Jaa Fiima Yustahabbu Minal Kafan, hadits no 1476.Albani berkata : Shohih

    [2]Bukhari : kitabud da’waat hadits 6320.Muslim : Kitab Doa dan Taubat Bab “Maa Yaquulu ‘Indan Naumi Wa Akhdi Madhoji’i” Hadits no 2714

    [3]Bukhari : Kitab Adzan Bab Adzan Bagi Musafir Apabila Mereka Berjamaah.Hadits no 631

    [4]Muslim: Kitabul Usrah Bab disukainya menjilati jari dan bejana dan memakan makanan yang jatuh setelah membersihkannya dan dibencinya mengusap tangan sebelum dijilati. Hadits no 2033

    [5]Muslim : Kitabul Usrah Bab dibencinya minum sambil berdiri hadits no 2024

    [6]Bukhari Kitabut Tibb bab Ajwah sebagai obat sihir hadits no 5769

    http://www.direktori-islam.com/2009/09/

  5. Syaikh Utsaimin rahimahullah dan Urusan Umat

    Syaikh ibarat mercusuar yang selalu memperingatkan umat dari adanya fitnah, musibah dan kekacauan besar.

    Syaikh selalu mengikuti perkembangan kondisi kaum muslimin. Tidak banyak orang yang mengetahui sisi kehidupan beliau ini. Kebanyakan orang hanya mengetahui sisi kehidupan Syaikh terkait pengajaran ilmu, perhatian beliau terhadap para pencari ilmu, perhatian terhadap fatwa dsb. Hanya sedikit yang mengetahui sisi kehidupan Syaikh terkait perhatian beliau terhadap perkembangan islam dan kaum muslimin.

    Syaikh selalu mengikuti perkembangan kaum muslimin di segala penjuru. Tidak hanya terbatas pada kaum muslimin yang ada dinegerinya saja akan tetapi beliau perhatian terhadap perkembangan kaum muslimin dimanapun mereka berada.

    Beliau bahagia dengan apa-apa yang membuat umat berbahagia dan merasa gelisah dengan kegelisahan yang menimpa mereka. Harapan umat adalah harapan beliau. Bahagia umat adalah bahagia beliau dan derita umat adalah derita beliau. Syaikh selalu berdoa untuk kebaikan mereka, memenuhi kebutuhan mereka dan mencari solusi dari problematika yang tengah melanda umat sekuat tenaga beliau. Bukti yang menunjukkan hal ini sangatlah banyak. Akan tetapi aku hanya akan menceritakan dua kisah yang sangat berpengaruh bagi orang yang melihat dan memikirkannya.

    Ayyuhal ikhwah..

    Kisah pertama yang akan kuceritakan adalah tatkala beliau sedang menasehati para pemuda di Al Jazair yang keluar untuk membunuhi manusia dan melakukan hal-hal lainnya.

    Syaikh sering menasehati, menaruh rasa belas kasihan,dan sering menghubungi mereka. Beliau melarang mereka dari keinginan untuk menyakiti kaum muslimin lainnya.

    Syaikh merekam nasehatnya dari rumah. Beliau menyampaikan nasehatnya bagi mereka yang mengangkat senjata di Aljazair supaya meninggalkannya. Beliau mengingatkan supaya mereka kembali bersatu dengan jamaah kaum muslimin dan tidak mempersulit diri dengan menumpahkan darah tanpa alasan yang benar.

    Nasehat itu sering beliau ulang-ulangi tanpa menunjukkan sosok beliau. Hal ini beliau lakukan supaya tidak menjadi sebab penolakan mereka. Ada salah seorang dari kalangan mereka yang memberi masukan kepada Syaikh supaya beliau tidak menampakkan diri dan hanya untaian nasehatnya saja yang ditampakkan. Apabila mereka melihat diri Syaikh dikhawatirkan akan menyebabkan mereka langsung menolak nasehat syaikh. Maka beliaupun melakukannya.

    Nasehat-nasehat Syaikh kemudian dikirim lewat berbagai media massa di Aljazair. Berkali-kali khutbah syaikh disebarkan lewat radio dan televisi. Hasilnya, banyak para pemuda yang meninggalkan senjata mereka dan kembali bergabung dengan jamaah kaum muslimin. Merekapun meninggalkan cara-cara mereka yang salah.

    Ayyuhal ikhwah..

    Selain memperhatikan kondisi umat, Syaikh juga tidak melupakan negeri-negeri islam yang tengah bersengketa dan terampas seperti Bosnia dan Chechnya. Juga negeri Afganistan yang berperang melawan Rusia. Syaikh senantiasa menghubungi dan membantu mereka. Supaya lebih jelas, akan kubacakan sebagian tulisan saudara kita di kedutaan besar Chechnya. Mereka menulis untaian kalimat sebagai bentuk ta’ziah atas wafatnya syaikh. Mari kita simak sisi perhatian syaikh terhadap kepentingan ummat. Sisi ini tidak banyak menusia yang mengetahuinya.

    Setelah memberi muqoddimah, mereka menyampaikan bahwa hilangnya seorang ulama merupakan musibah besar. Karena hilangnya ulama berarti bencana dan keburukan bagi umat ini. Mereka mengatakan:

    “Ini merupakan musibah bagi umat ini dengan diwafatkannya para ulama’. Adapun musibah kami dengan wafatnya Syaikh Muhammad bin Sholih al Utsaimin itu lebih besar. Kami telah kehilangan seorang yang sangat antusias untuk selalu menghubungi dan membantu kami. Kami senantiasa mendengarkan nasihat, petuah, petunjuk dan fatwa dari beliau. Sungguh beliau ibarat bapak kami yang santun.

    Jika manusia melupakan keutamaan Syaikh, maka kami tidak akan melupakan kebersamaan beliau dengan kami pada perang yang pertama- di Chechnya-, bantuan dengan apa-apa yang beliau mampu lakukan untuk kami ditengah-tengah peperangan. Setelah perang usai, beliaupun begitu semangat membantu kami dengan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan dan mahkamah syar’iyyah.

    Kami tidak akan melupakan bimbingan dan arahan beliau tentang mahkamah dan pengamalan hukum-hukum syariat.

    Kami tidak akan melupakan kebersamaan beliau dengan kami dalam peperangan yang masih berkobar hingga sekarang.

    Kami tidak akan melupakan dukungan beliau dalam peperangan ini, baik dalam bentuk bantuan harta berupa zakat yang beliau kirimkan kepada kami sambil berpesan,” ini hanya untuk kepentingan jihad saja.” Ataupun dukungan berupa himbauan dan ajakan beliau kepada manusia untuk membantu kami.

    Kami tidak akan melupakan beliau yang hampir setiap hari menghubungi kami untuk mendengarkan kabar kami, untuk melihat kebutuhan dan permasalahan kami secara syar’i.

    Kami tidak akan melupakan doa beliau untuk kami baik doa yang tersembunyi maupun yang terang-terangan dari atas mimbarnya, pelajaran-pelajarannya dan muhadharahnya, dalam sholat dan sujudnya.

    Kami tidak akan melupakan apa yang telah disampaikan murid beliau kepada kami,- karena besarnya perhatian beliau kepada kami- bahwa Syaikh sering membacakan berita-berita dari kami kepada murid-murid beliau di masjid kemudian mengakhirinya dengan mendoakan kami.

    Kami tidak akan melupakan bahwa beliau adalah orang yang pertama kali memberikan fatwa wajibnya menolong kami. Beliau pula yang pertama kali menerangkan manusia sejauh mana syariat jihad kami. Fatwa beliau itu membawa pengaruh yang besar terhadap kemenangan kami yang terus menerus.

    Jikapun manusia melupakan semua itu atau mereka tidak mengetahuinya, maka kami tidak akan melupakan semangat Syaikh dalam mengurusi kepentingan-kepentingan kaum muslimin secara umum. Beliau meluangkan waktunya satu jam dalam sepekan untuk mengarahkan mujahidin-mujahidin di Bosnia. Beliau memberikan fatwa-fatwa, memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka, mendengarkan khabar mereka dan menyebarkannya. Ada satu kejadian yang selalu kami ingat. Salah satu pemimpin mujahidin di Bosnia bertanya kepada beliau tentang hukum salah bunuh orang. Apa yang harus dilakukan setelahnya ?. Setelah menjawab pertanyaannya beliau kemudian berkata,” Tentang diyat orang yang terbunuh, biar saya yang menanggung. Saya akan mengirimkannya untuk kalian insyaallah.”

    Sebelumnya Syaikh juga memiliki peran yang sungguh mulia dalam pergerakan jihad saudara-saudara kita di Afganistan. Dari fatwa yang beliau sampaikan supaya membantu dan mendukung mereka, nasehat yang beliau berikan untuk para pemimpin-pemimpinnya, besarnya perhatian beliau terhadap urusan-urusan mereka dan ini beliau lakukan secara terus menerus, cukuplah untuk menjelaskan perhatian Syaikh terhadap kebutuhan-kebutuan kaum muslimin. Tidaklah Syaikh jauh dari kaum muslimin di Filiphina dan Negara lainnya. Begitu pula harta beliau, fatwa dan kesungguhan beliau.

    Ini adalah kesaksian dari orang-orang yang bergaul dengan Syaikh dalam suka dan duka mereka. Sisi kehidupan yang tidak banyak orang tahu. Karena memang para ahli ilmu sering menyebutkan bahwa semestinya seseorang berusaha untuk menyembunyikan amalannya dari penglihatan manusia dalam rangka mengharapkan balasan dari Allah semata. Kemungkinan syaikh sengaja tidak menampakkan dan menyebarluaskannya agar amalan tersebut menjadi simpanannya dan mengharapkan balasannya dari Allah semata.

    Bersambung insyaAllah….

    Sumber : Transkrip Ceramah Syaikh Kholid bin Ali Al Mushlih hafidzahullah di http://www.almosleh.com/files/sound/mhdrat/othaimin/othaimin.pdf

    ==========================================================

    Ayyuhal ikhwah..

    Banyak sekali ketelandan yang beliau berikan dari sisi ini. Semua itu muncul dari semangat beliau dalam mengamalkan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam yang diriwayatkan oleh at Tirmidzi dari hadits Aisyah radhiallahu ‘anha [1]

    خيركم خيركم لأهله

    “ Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya.”

    Aku akan berusaha mengungkap sisi ini sehingga dapat berfaidah bagi kita.

    Pertama : Hubungan syaikh dengan keluarga, istri dan anak-anaknya yang penuh dengan rasa kasih sayang dan saling menjaga perasaan, kepercayaan dan penghargaan.

    Kedua: Keadilan yang sempurna dalam pergaulan antar mereka.

    Hal ini beliau lakukan dalam rangka mengamalkan hadits yang diriwayatkan Bukhari dari Nu’man bin Basyiir bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda kepada bapaknya Nu’man,[2]

    اتقوا الله واعدلوا بين أولادكم

    Bertakwalah kepada Alllah dan berbuat adillah kepada anak-anakmu..

    Sikap adil disini tidak hanya sebatas materi atau pemberian uang atau yang lainnya, akan tetapi adil secara umum dalam harta, pengarahan, perasaan dan perhatian terhadap urusan mereka.

    Ketiga : Kedekatan beliau terhadap mereka. Syaikh memiliki keistimewaan dalam bergaul dengan keluarga dalam kehidupan sehari-harinya. Beliau senantiasa dekat dengan anak dan istrinya serta bersemangat untuk mengumpulkan mereka dan menanyakan keadaan mereka. Beliau tidak menganggap keluar bersama dengan keluarga disetiap akhir pekan itu sesuatu yang terlalu keseringan. Bahkan setelah padatnya kesibukan, tidak menghalangi beliau untuk keluar bersama keluarga pada waktu-waktu tertentu. Seperti pada waktu musim semi dan malam hari di musim panas. Beliau bersantai dan ikut bergembira bersama mereka.

    Syaikh bersemangat dalam mengunjungi anak-anak beliau dirumah-rumah mereka untuk memberikan petuah-petuah. Selain itu, juga untuk mengetahui siapa sahabat anak-anak beliau.. Dengan siapakah anak-anak itu berjalan, bergaul dan berinteraksi. Ini adalah bentuk pengarahan tidak langsung dari beliau yang kebanyakan orang telah melupakannya.

    Kebanyakan manusia hanya sekedar menanyakan kepada anaknya dengan siapa mereka datang dan pergi tanpa mau untuk mengawasinya secara langsung. Syaikh mengawasi anak-anaknya secara langsung tanpa menghilangkan kepercayaan antara bapak dan anak. Ini adalah pondasi dari baiknya pergaulan dan perbaikan kepada anak.

    Keempat : Syaikh tidak lupa untuk mengajari putra-putri beliau tentang pelajaran-pelajaran mereka. Sebelum padatnya kesibukan, beliau sering menghadiri pertemuan-pertemuan disekolah anak-anak beliau. Bahkan beliau juga mau mengajari siapa saja yang menginginkannya baik dalam pelajaran syar’i, bahasa arab bahkan pelajaran berhitung.

    Ayyuhal ikhwah..

    Syaikh biasa membantu pekerjaan keluarga sebagaimana Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam juga melakukannya. Al Aswad bertanya kepada Aisyah radhiallah ‘anha,” Apa yang Nabi lakukan tatkala dirumah.?” Aisyah menjawab,” beliau biasa membantu pekerjaan rumah tangga. Apabila datang waktu sholat, beliaupun keluar untuk mengerjakannya.” [3]

    Demi Allah. Ini adalah bentuk keteladanan yang nyata. Apabila ada anggota keluarga yang membutuhkan sesuatu atau membutuhkan perbaikan sesuatu yang perlu diperbaiki maka Syaikh segera mengerjakannya sendiri tanpa menyuruh orang lain.

    Berikut ini adalah contoh keteladanan kehidupan sehari-hari Syaikh dalam bermusyawarah. Syaikh memiliki keistimewaan dalam bermuamalah dengan keluarganya yakni berupa kebiasaan beliau untuk bermusyawarah. Beliau mau bermusyawarah baik dengan yang kecil maupun yang besar. Bukanlah musyawarah yang dimaksud disini adalah hanya sekedar mengutarakan pandangan tanpa dilaksanakan, akan tetapi musyawarah yang akan ditindak lanjuti dengan tindakan nyata apabila pandangan yang disampaikan itu benar dan dapat dilaksanakan serta akan membawa kemashlahatan bagi semua pihak. Kebiasaan syaikh untuk bermusyawarah ini tidak hanya beliau lakukan dirumahnya saja akan tetapi siapa saja yang mengikuti pelajaran beliau atau mendengarkan kaset rekaman pelajaran beliau akan mengetahui kebiasaan itu baik dalam perkara kecil maupun besar terkait pelajaran. Syaikh sering mengajak diskusi murid-muridnya tentang isi pelajaran yang akan dibaca, diskusi apabila ada perubahan-perubahan dan hal lain yang terkait pelajaran.

    Syaikh berusaha untuk menggauli keluarganya dengan lemah lembut penuh kasih sayang. Beliau membantu yang lemah, mencari yang sakit, mengunjungi dan membantunya.

    Syaikh sering mengetuk pintu rumah kami karena beliau mengetahui bahwa fulan atau fulanah sedang sakit. Tidak hanya padaku, hal ini beliau lakukan kepada seluruh putra putrinya. Beliau selalu tanggap untuk berbuat baik. Bahkan terhadap anak-anak yang tidak mengetahui maksud kedatangan beliau. Akan tetapi, Syaikh bergaul sebagai orang alim rabbani mengamalkan apa yang beliau ketahui dari petunjuk nabi.

    Perhatian beliau ini tidak hanya terbatas pada manusia. Bahkan perhatian Syaikh juga tercurah untuk hewan-hewan. Aku akan ceritakan kisah beliau dalam hal ini. Syaikh senantiasa mengumpulkan semua sisa-sisa makanannya baik sarapan, makan siang atau selainnya. Tatkala beliau hendak keluar untuk melaksanakan sholat shubuh, beliau membawa sisa-sisa makanan itu. Beliau memberikannya kepada kucing-kucing yang telah biasa berkumpul di depan pintu rumah beliau pada jam-jam itu. Apabila beliau lupa ataupun tidak mendapatkan sisa makanan seperti biasanya, maka beliau akan keluar dari pintu yang lain sehingga tidak membuat kucing-kucing itu merasa kehilangan makanan yang biasa mereka dapatkan. Hal ini diceritakan kepada kami oleh putra beliau, Abdurrahman.

    Ayyuhal ikhwah..

    Kisah Syaikh dari sisi ini sangatlah harum. Akan tetapi aku tidak memperpanjang pembicaraan sisi ini yang tidak banyak diketahui oleh kebanyakan manusia. Hanya keluarga dan orang-orang terdekat saja yang mengetahuinya.

    Ayyuhal ikhwah..

    Syaikh senang dan memiliki banyak andil dalam hal silaturahmi. Beliau bersegera untuk bersilaturahmi dalam rangka mengamalkan hadits nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari dari hadits Abu Hurairah dan diriwayatkan Muslim dari hadits Anas[4],

    من سره أن يبسط له في رزقه وأن ينسأ له في أثره فليصل رحمه

    Barangsiapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung silaturahminya.

    Syaikh senantiasa menjalin tali silaturahminya dengan berusaha untuk menghubungi kerabat-kerabatnya. Bukan saja kepada mereka yang dekat dengan beliau atau yang lebih tua dengan beliau akan tetapi kepada seluruh kerabat beliau baik yang besar maupun kecil, jauh atau dekat. Beliau mengunjungi paman dan bibi beliau sekali dalam sepekan semasa keduanya masih hidup. Beliau tetap melakukannya meskipun rasa sakit tengah menimpa dan melemahkan fisik beliau.- semoga Allah merahmati dan mengampuni dosa-dosa beliau-

    Ayyuhal ikhwah..

    Sikap beliau yang nampak pada kami adalah beliau orang yang senantiasa memuliakan karib kerabatnya. Beliau tidak berlaku keras dan kasar. Akan tetapi beliau selau memuliakan mereka, berbuat baik, mendoakan, memenuhi undangan, menjenguk yang sakit, memenuhi kebutuhan dan menghubungi mereka setiap pekan. Tidak hanya terbatas pada kerabat dekat yang bisa berhubungan langsung akan tetapi juga pada kerabat yang berada diluar kota Unaizah.

    Beliau selalu menghubungi mereka, menanyakan kabar dan kondisi mereka. Sekali lagi, ini beliau lakukan bukan hanya kepada kerabat dekat atau kepada yang lebih tua sebagaimana yang telah kami sampaikan diatas, akan tetapi kepada semua kerabat baik yang kecil maupun yang besar dan juga kepada putra-putrinya. Hal ini dalam rangka melaksanakan perintah Allah dan rosulNya untuk bersilaturahmi dan berlomba-lomba untuk mendapatkan keutamaan ini. Semoga Allah merahmatiNya dengan rahmat yang luas.

    Sumber : Transkrip Ceramah Syaikh Kholid bin Ali Al Mushlih hafidzahullah di http://www.almosleh.com/files/sound/mhdrat/othaimin/othaimin.pdf

    Bersambung….

    ——————————————————————————–
    [1] Tirmidzi : Kitab Al Manaqib, bab : Keutamaan Istri-Istri Nabi shollahu alaihi wasallam hadits no 3895.Ibnu majah : kitab An Nikah bab Husnu Muasyiratin Nisa’ hadits no : 1977.Syaikh Al bani berkata : SHOHIH

    [2] Bukhari : Kitab al Hibbah, bab Isyahad fil Hibbah hadits no 2587.Muslim : Kitab al hibbah bab karohiyatu tafdhiili bainal auladi fil hibbah. Hadits no 1623

    [3] Bukhari : Kitabul Adzan. Bab “man kana fii hajati ahlihi fa uqimatish sholat fa khoroja”. Hadits no 679

    [4] Bukhari : Kitabul Buyu’, bab man ahabbal basto fir rizqi. Hadits no 2067 dari Anas dan no 5985 dari Abi Hurairah. Muslim : Kitabul birr was shilah wal adab bab shilaturrahiim wa tahriimu qothiatiha hadits no 2557.

    Penulis Kholid bin Abdillah Al Mushlih

    http://www.direktori-islam.com/2009/09/

  6. Syaikh Utsaimin rahimahullah dan Hajat Manusia.

    Ayyuhal ikhwah..

    Syaikh senantiasa berusaha sekuat tenaga untuk bisa bermanfaat bagi manusia dan ternyata hajat manusia terhadap beliau begitu besar. Meski demikian, beliau selalu bersegera untuk dapat memenuhinya dalam rangka mengamalkan sabda nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari hadits Abdullah bin Umar[1]

    من كان في حاجة أخيه كان الله في حاجته

    “ Barangsiapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya.”

    Apabila engkau mendatangi Syaikh untuk memenuhi kebutuhanmu dan beliau melihat adanya kebaikan untuk memenuhinya baik secara khusus maupun umum, tentu anda akan mendapati beliau sebagaimana yang dikatakan sebuah syair :

    ولا شاكٍ إليك من الكلال

    مطيع في الحوائج غير عاصٍ

    “ Dia selalu memenuhi kebutuhan tanpa menolak, ragu-ragu atau merasa lelah darinya.”

    Syaikh senantiasa memenuhi segala permintaan tanpa ada yang ditolak meskipun banyak. Oleh karenanya beliau diberi gelar oleh sebagian orang dengan “ Bapaknya orang-orang miskin”. Beliau senantiasa mengamati keadaan mereka dan mencari apa kebutuhan mereka. Syaikh menjadikan mereka tamu dirumah beliau, tidak merasa sungkan dengan mereka untuk duduk bersama. Diantara mereka ada yang buruk adab makannya, ada yang bersikap kurang sopan, bahkan ada yang sama sekali tidak beretika. Meskipun demikian beliau tetap berbaur dan duduk bersama mereka, beliau penuhi kebutuhan mereka dan berusaha untuk dapat membahagiakan mereka. Beliaupun menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka dan membantu apa yang mampu beliau berikan kepada mereka.

    Diantara bentuk lapang dada beliau dalam memenuhi kebutuhan manusia adalah membantu orang-orang yang kehabisan bekal perjalanan. Apabila beliau mengetahui ada orang –orang seperti itu, beliau akan bersegera untuk membantu.

    Salah seorang Ustadz dari fakultas Aqidah bercerita kepadaku bahwa pada suatu malam mereka pulang dari salah satu pertemuan. Dalam perjalanan itu mereka mendapati seseorang yang mobilnya rusak. Maka Syaikhpun berkata kepada sang sopir,” Berhenti, mari kita lihat barangkali ia membutuhkan bantuan !” maka berhentilah rombongan itu. Setelah dihampiri, benarlah bahwa orang itu butuh orang yang dapat memperbaiki mobilnya. Merekapun akhirnya semua turun untuk membantu menghidupkan mesin mobil orang tersebut.

    Diantara bukti kelapangan beliau bahwa Syaikh juga berusaha untuk membantu orang yang belum mampu melaksanakan kewajiban haji dengan memberikan harta secukupnya dan mengusahakan supaya mereka pergi bersama para penuntut ilmu. Dengan demikian, mereka dapat melaksanakan kewajiban itu dengan sempurna diatas petunjuk ilmu.

    Ayyuhal ikhwah..

    Diantara sisi yang nampak dari Syaikh adalah bahwa beliau adalah panutan dalam kezuhudan. Bahkan kita dapat memastikan bahwa jarang sekali orang yang memiliki sifat seperti itu. Kita dapati sifat zuhud ini dalam pakaiannya, kendaraan, majelis,makanan dan seluruh keadaan beliau. Selama lebih dari 60 tahun beliau tinggal di rumah yang dibangun dengan tanah karena sifat tawadhu’, zuhud dan qonaah beliau. Banyak sekali tawaran supaya beliau mau tinggal dirumah yang modern. Akan tetapi beliau tetap memilih tinggal dirumah yang sederhana sebagaimana kebanyakan orang atau dibawahnya.

    Syaikh tidak sungkan-sungkan memakai kendaraan yang mudah didapat meskipun mengendarai mobil yang banyak kerusakannya. Apabila ternyata kendaraan itu mogok tatkala perjalanan ke masjid beliaupun ikut memperbaikinya baik dengan upah atau tidak.

    Diantara contoh kezuhudan beliau adalah zuhud dalam hal pujian. Ini adalah perkara agung yang hampir tidak kita dapati pada kebanyakan ulama dan para penuntut ilmu zaman sekarang. Sungguh Syaikh dengan jelas membenci pujian. Sering wajah beliau memerah tatkala mendengar orang memuji atau menyanjung beliau. Syaikh telah memberikan contoh nyata yang tidak hanya terbatas pada ceramah-ceramah tentang dibencinya sanjungan setelah tidak ada orang yang menyanjung dia sebagaimana kebanyakan orang. Akan tetapi beliau sering memotong pembicaraan orang yang sedang menyanjung beliau sambil berkata,” Ini tidak benar, ini tidak benar” ,yaitu tidak dibenarkan berbicara seperti itu.

    Sebagai contoh adalah apa yang terjadi pada suatu pertemuan, ada orang yang memberikan muqodimah dengan memperkenalkan beliau. Iapun berkata,” Syaikh adalah orang yang tidak butuh untuk diperkenalkan.” Syaikh pun berkata,” Ini tidak layak kecuali hanya bagi Allah. Sesungguhnya Allah yang tidak membutuhkan untuk dikenal. Adapun manusia, bagaimanapun keadaanya dia butuh untuk dikenalkan.”

    Contoh lain adalah tatkala beliau pergi berobat ke Amerika dan terbatas hanya beberapa hari saja. Akan tetapi, beliau turut serta menghadiri berbagai acara kaum muslimin dinegeri itu. Diantaranya adalah muhadharah yang beliau sampaikan di sebagian masjid dan perkumpulan.

    Di suatu masjid ada salah satu peserta yang berbicara banyak dengan syaikh. Diantara perkataannya adalah,”Kami sangat berterima kasih kepada Syaikh yang telah menghadiri undangan kami meskipun beliau sedang sakit keras.” Maka Syaikhpun berkata kepadanya,” Duduklah.” Beliaupun segera melanjutkan muhadharahnya. Ini beliau lakukan karena ketawadhuan beliau supaya dia tidak meneruskan sanjungan-sanjungannya kepada Syaikh.

    Tatkala beliau tengah terbaring di rumah sakit ada seorang ikhwah yang mendatangi beliau dan berkata memuji-muji beliau. Ia bekata,” Sesungguhnya manusia berharap dan berdoa untuk kesembuhan anda. Mereka telah banyak mengambil manfaat dari anda dan mendoakan balasan kebaikan bagi anda.” Syaikh lantas berkata kepadanya,” diamlah..diamlah.” Syaikh menyuruhnya diam padahal dia adalah orang terdekat beliau.

    Diantara bukti yang menunjukkan kezuhudan Syaikh adalah beliau berkata kepada salah seorang yang datang berkunjung kepada beliau di Unaizah untuk yang terakhir kalinya. Dia berbincang-bincang dengan Syaikh berbagai hal–dia telah menceritakan ini pada saya dan dia terpercaya- dia berkata,”Tatkala Syaikh Utsaimin sakit yang menyebabkan wafatnya, beliau berkata,” Demi Allah tidaklah dadaku terasa sempit atas hilangnya dunia- yaitu tidaklah aku merasa sedih apabila kehilangan sesuatu di dunia ini- akan tetapi yang aku khawatirkan adalah apabila aku bertemu dengan Allah ta’ala sedang aku tidak punya amalan kebaikan sama sekali.”

    Syaikh telah menghabiskan umurnya, bekerja keras dengan jasmaninya dan mendermakan waktunya hanya untuk melayani umat. Sementara itu, beliau mengatakan,”Akan tetapi yang aku khawatirkan adalah apabila aku bertemu dengan Allah ta’ala sedang aku tidak punya amalan kebaikan sama sekali.” Lantas apa yang dapat kita katakan tentang diri kita? Kita berdoa kepada Allah semoga senantiasa memberi kita ampunanNya. Semoga Allah mengampuni dan merahmati Syaikh, menempatkan amalan beliau ditimbangan kebaikan, mengangkat derajat beliau keatas golongan orang-orang yang mendapat petunjuk dan orang-orang shalih, mempertemukan beliau dengan para Nabi, shiddiqin dan syuhada’ serta orang-orang shalih. Sesunggunya Allahlah penolong itu semua dan Dia Maha Kuasa untuk melakukannya.

    Ayyuhal ikhwah..

    Sisi kehidupan Syaikh sangatlah banyak. Aku menceritakannya secara ringkas pada 2 hal yang paling penting. Syaikh adalah imam yang selalu bersikap tengah-tengah (adil). Diantara keistimewaan Syaikh adalah apa yang Allah persaksikan tentang umat ini terkait sikapnya yang tengah-tengah dalam setiap urusannya. Allah berfirman[2],

    وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ

    “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (ummat Islam), ummat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia…”

    Syaikh adalah pribadi yang memiliki fitrah yang adil. Tidak hanya dari salah satu sisi pergaulannya saja, akan tetapi beliau pertengahan pada semua sisi kehidupan. Dalam perkataan, perbuatan, fatwa-fatwa, pendapat dan nasehat beliau. Semuanya kita dapatkan beliau menyukai dan selalu bersikap pertengahan. Beliau bukanlah orang yang suka melampau batas, melebihkan atau mengurangi. Adil menurut beliau adalah apa yang sesuai dengan Al qur’an dan sunnah.

    Siapa saja yang mengaku telah berperilaku tengah-tengah atau adil akan tetapi diluar koridor Al Qur’an dan Assunah maka seolah ia tengah bertepuk dengan awan –tertipu-, hanya kerusakan yang akan dia dapatkan. Keadilan hanya terdapat pada petunjuk nabi. Apa yang Allah sebutkan dalam persaksiannya atas umat ini, sebaik-baik generasi,

    وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ

    “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (ummat Islam), ummat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia…”

    Ayyuhal ikhwah..

    Syaikh adalah orang yang memimpin manusia dalam menyerukan persatuan umat dan mencegah perpecahan. Beliau sering mewasiatkan hal itu. Ini adalah kebiasaan beliau disetiap nasehat dan tindakan beliau dalam rangka mengamalkan firman Allah,

    وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا

    Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kalian bercerai berai… [3]

    شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ

    “Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.” [4]

    Syaikh selalu mewasiatkan murid-murid dan orang-orang yang mencintainya untuk selalu bersikap adil atau tengah-tengah.

    Ada sekumpulan ikhwah yang agak tergesa-gesa dalam mensikapi sebagian perkara. Mereka mendatangi Syaikh pada waktu beliau sakit yang menyebabkan kematian beliau. Mereka meminta wasiat kepada Syaikh sambil berkata,” Wahai syaikh berilah kami wasiat.” Syaikhpun mengingatkan mereka tentang perkara ini dan menekankan pentingnya sikap tengah-tengah, pentingnya bersatu dibawah naungan waliyul amri, bersatu bersama ulama dan menjauhi perpecahan dan perselisihan. Sampai-sampai salah seorang dari mereka mengatakan,”Aku menyangka Syaikh mengatakan itu karena dipengaruhi oleh pihak-pihak tertentu. Akan tetapi tatkala aku mendengar wasiat itu padahal beliau sedang dalam kondisi terbaring sakit diatas ranjang dan hampir menghembuskan nafas terakhirnya, maka akupun mengetahui bahwa beliau ikhlas mewasiatkan hal itu. Wasiat itu begitu menghujam pada jiwaku melebihi wasiat-wasiat lain.

    Syaikh mewasiatkan murid-muridnya untuk selalu bersatu, perhatian terhadap ilmu, berkumpul bersama para ulama dan mengikis perpecahan.

    Aku ingat wasiat terakhir Syaikh setelah beliau masuk rumah sakit. Yaitu untuk selalu memperhatikan para murid. Beliau telah mewasiatkan kebaikan pada mereka, berwasiat supaya bersatu dibawah bimbingan para masyayikh yang beliau angkat untuk menggantikan Syaikh dalam mengajar. Keduanya adalah Syaikh Abdurrahman Ad Dahsi dan Syaikh Sami as Suqair. Semoga Allah menguatkan hati mereka.

    Syaikh selalu berusaha untuk menjauhkan segala sebab perselisihan baik dari kalangan murid beliau atau antar ulama atau antar manusia dengan ulama’ dan umara’nya. Beliau membenci pertengkaran. Apabila beliau ditanya seseorang dalam majelisnya, lalu orang tersebut menyebutkan nama pribadi dari kalangan ulama’, beliaupun menolak pertanyaannya. Karena hal ini dapat menyebabkan perpecahan dan dapat menimbulkan keburukan dikarenakan jawaban yang diberikan.

    Ayyuhal ikhwah..

    Syaikh adalah pemimpin secara umum. Ini semua adalah sisi kehidupan yang dapat aku ceritakan meskipun masih banyak sisi lain yang aku tinggalkan karena terbatasnya waktu. Hanya saja, sisi yang terpenting itu adalah bahwa Syaikh adalah pemimpin secara umum. Orang bisa menemui beliau kapan saja ia mau. Bisa sholat bersama beliau di masjidnya, bisa berbincang-bincang dengannya dan bisa memenuhi hajatnya. Beliau bisa dihubungi lewat telepon apabila orang tidak dapat sholat bersama beliau, dapat ditemui dihari Jum’at pada khutbah sholatnya.

    Sebagai pemimpin, tidak ada jarak antara beliau dengan umat. Beliau selalu menghadiri acara bimbingan masyarakat dalam pertemuan bulanan, tengah bulan atau mingguan sesuai kemampuan. Sebagai contoh adalah :

    Beliau memiliki agenda pertemuan mingguan bersama para hakim.
    Beliau memiliki agenda pertemuan dengan para penuntut ilmu selain murid-murid beliau.
    Beliau memiliki agenda pertemuan bulanan dengan para petugas penegak disiplin.
    Beliau memiliki agenda pertemuan bulanan dengan para khotib
    Bahkan beliau punya agenda pertemuan rutin dengan tukang sayur. Beliau duduk bersama para pedagang di pasar sayur. Beliau memenuhi kebutuhan mereka, menjawab bertanyaan mereka dan mengarahkan mereka sesuai dengan kebutuhan.
    Agenda-agenda diatas belum termasuk kegiatan beliau bersama para ulama dan kalangan pemerintah dari berbagai tingkatan. Belum juga termasuk terlibatnya beliau dalam acara-acara bimbingan masyarakat dalam bentuk ceramah, pengajaran, musyawarah, pertemuan mu’tamar, siaran radio dan hubungan lewat telepon.

    Syaikh telah berbaur dengan masyarakat secara penuh. Sampai-sampai kita bertanya bagaimana Syaikh memiliki waktu untuk keluarganya, bagaimana beliau masih memiliki waktu untuk meneliti dan mempelajari suatu masalah kemudian membedahnya, bagaimana pula beliau masih punya waktu untuk duduk memberikan pelajaran ? Itu semua adalah barakah yang Allah berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari hamba-hambaNya. Barokahlah waktu dan tenaga Syaikh sehingga Allah berikan sisi-sisi ini kepada beliau seluruhnya.

    Kita berdoa kepada Allah dengan nama-Nya yang agung dan sifat-sifatNya yang mulia, Dialah dzat yang maha memberi dan pemurah, semoga Allah mengangkat derajat Syaikh menjadi golongan orang-orang yang diberi petunjuk.

    Ya Allah ampuni dan berilah rahmat-Mu kepada Syaikh.

    Ya Allah tempatkanlah ia di surga FirdausMu yang paling tinggi.

    Ya Allah jadikanlah apa yang telah syaikh berikan untuk islam sebagai amalan yang dapat memberatkan timbangan kebaikannya. Sesungguhnya Engkau maha kuasa atas segala sesuatu.

    Ya Allah kami berdoa kepada-Mu semoga Engkau kumpulkan kami bersama Nabi kami shalallahu ‘alaihi wasalam di surga Adn pada majelis yang benar disisi Raja yang maha kuasa. Sesungguhnya Engkaulah penolong dan kuasa atasnya. Sholawat dan salam semoga tercurah untuk nabi Muhammad, keluarganya dan para sahabatnya.

    Selesai.

    Sumber : Transkrip Ceramah Syaikh Kholid bin Ali Al Mushlih hafidzahullah di http://www.almosleh.com/files/sound/mhdrat/othaimin/othaimin.pdf

    ——————————————————————————–
    [1] Bukhari : Kitab al Madholimi wal Ghosbi, bab La yadhlimul muslimul muslim wala yusallimuhu hadits No 2442.Muslim : kitab al birri was shilah wal adab bab tahriimidh dzulmi hadits no 258

    [2] QS Al Baqoroh 143

    [3] QS Al Baqoroh 143

    [4] QS Asy Syura 103

    http://www.direktori-islam.com/

    -

  7. Kemunkaran tlah dianggap baik, sdgkan kebaikan dianggap munkar di zaman ini. Para ulama tak dihargai lagi, sedangkan orang2 bodoh/sesat mendapat kedudukan tinggi. Maka kukatakan kepada orang2 yg baik lagi bertaqwa tatkala memuncaknya kesedihan: Janganlah kalian menyesali keadaan, telah tiba giliranmu pada masa yang asing.

    bagi anda semua yang ingin bertanya masalah2 agama,cinta,cara mengatasi gangguan sihir/jin secara islami,dll, silahkan add facebook teman saya ini dan silahkan mengajukan pertanyaan2 anda kepadanya: ini facebooknya: abuhaidar.riyanto@gmail.com (namanya bapak Abu Abdullah, umur 26 tahun)

    “Kita berdoa dan menyangka doa terangkat padahal dosa menghadangnya lalu doa tersebut kembali. Bagaimana doa kita bisa sampai sementara dosa kita menghadang di jalannya”. [Al-Azhiyah dalam Ahkamil Ad’iyah hal. 141]

    Akan dikabulkan permintaan seseorang di antara kamu, selagi tidak tergesa-gesa, yaitu mengatakan : Saya telah berdoa tetapi belum dikabulkan”. [Shahih Al-Bukhari, kitab Da’awaat 7/153. Shahih Muslim, kitab Do’a wa Dzikir 8/87]

    Ibnu Taimiyyah berkata: “Pernikahan antara manusia dengan jin memang ada dan dapat menghasilkan anak. Peristiwa ini sering terjadi dan populer. Para ulama pun telah menyebutkannya. Namun kebanyakan para ulama tidak menyukai pernikahan dengan jin.” (Idhahu Ad-Dilalah hal. 16) – http://www.asysyariah.com

    Asy-Syinqithi berkata: “Saya tidak mengetahui dalam Kitabullah maupun Sunnah Rasulullah adanya dalil yang menunjukkan bolehnya pernikahan antara manusia dan jin. Bahkan yang bisa dijadikan pendukung dari dzahir ayat adalah tidak bolehnya hal itu.” (Adhwa`ul Bayan, 3/321) – http://www.asysyariah.com

    Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata: “Aku pernah berkata pada ayahku: ‘Sesungguhnya ada sekelompok orang yang mengatakan bahwa jin itu tidak dapat masuk ke dalam tubuh manusia.’ Maka ayahku berkata: ‘Wahai anakku, mereka itu berdusta. Bahkan jin dapat berbicara melalui mulut orang yang kesurupan.’ – http://www.asysyariah.com

    Islam adalah tanah air kita karena Allah tlah mempersaudarakan kita. Di belahan bumi manapun syari’at Islam ditegakkan dan kalimat Allah ditinggikan, maka di sanalah negeri kita tercinta. Di bagian bumi manapun umat islam berada, maka mereka lah saudara kita dan bangsa kita

    Kami bukanlah pemilik madzhab baru ataupun aqidah baru. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tidak pernah mendatangkan sesuatu yang baru, aqidah kami adalah aqidah Salafush Shalih yang datang di dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah dan apa yang ditempuh oleh Salafush Shalih [Al-Wajiz Fi Siratil Malik Abdul Aziz, hal. 217]

    “Telah diwajibkan berperang kepada kalian meskipun kalian tidak menyukainya, dan bisa jadi kalian membenci sesuatu padahal itu baik bagi kalian. Dan bisa jadi kalian menyukai sesuatu padahal itu buruk bagi kalian. Allah Maha Mengetahui sementara kalian tidak mengetahui” (albaqarah 216)

    Shalahudin telah membebaskan Yerussalem 800 tahun yang lalu, Al Fatih telah merebut konstantinopel 550 tahun yang lalu, kini giliran kita untuk menakhlukkan Washington, Moscow, dan Beijing.

    Teman sejati.. adalah dia yang mau mengerti ketika kamu berkata “aku lupa”, menunggu selamanya ketika kamu berkata “tunggu sebentar”, tetap tinggal ketika kamu berkata “tinggalkan aku sendiri”, dan membukakan pintu meski kamu belum mengetuk dan berkata “bolehkah saya masuk?”

    Dalam hidup ini ada begitu banyak pintu kebahagiaan yang terbuka untuk kita, tetapi kadang kita terpaku pada sebuah pintu yang tertutup dan terus berharap suatu saat pintu itu akan terbuka, sehingga kita malah tidak menyadari keberadaan pintu-pintu lain yang terbuka untuk kita

    Jangan pernah mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba, jangan pernah menyerah jika kamu
    masih merasa sanggup, dan jangan pernah mengatakan kamu tidak mencintainya lagi jika kamu masih tidak dapat melupakannya.

    saat cinta datang ke rumah jiwa mengetuk pelan pintu hati,membawa sekeranjang perhatian dan setangkai kasih sayang, sambut dengan senyum malu silahkan duduk di sofa kalbu, suguhkan minuman ragu dan sepiring kue rindu, setelah cinta singgah di hati dunia terasa indah , sekali mendung terlihat seelok pelangi dan tak sabar esok hari datang lagi (Muhammad al Qodri)

    karena ini engkau kunamakan si jantung hati, memompa lembut seperti angin memijat langit, berdenyut lincah seperti buih yg terus berkelit, dan darah cinta adlh udara dengan roh rindu yg menumpang lewat di dada (mizz_uchiha@yahoo.com)

    persahabatan itu ibarat tangan dengan mata, dikala tangan kita sakit dan terluka, maka mata akan menangis,,dan apabila mata menangis, tanganpun akan menghapuskan air mata.. (unknown)

    IKUTILAH JALAN KEBENARAN ITU, JANGAN HIRAUKAN WALAUPUN SEDIKIT ORANG MENGIKUTINYA! JAUHKANLAH DIRIMU DARI JALAN-JALAN KESESATAN DAN JANGANLAH TERPESONA DENGAN BANYAKNYA ORANG ORANG YANG MENEMPUH JALAN KEBINASAAN ( http://www.muslim.or.id )

    Sunnah itu bagaikan bahtera nabi nuh.Barangsiapa menaikinya niscaya dia selamat dan barangsiapa yang enggan maka dia akan tenggelam……

    Jika ada konglomerat muslim punya uang 1 trilyun dan punya 1 anak yg murtad (keluar dari islam), maka anak tersebut tidak berhak mendapat warisan sepeserpun saat ayahnya meninggal. Dalilnya: Orang muslim tidak dapat mewarisi orang kafir dan orang kafir tidak dapat mewarisi orang muslim. (Shahih Muslim No.3027) –

    Kiamat tidak akan terjadi sebelum dibangkitkan dajjal-dajjal pendusta yang berjumlah sekitar tiga puluh, semuanya mengaku bahwa ia adalah utusan Allah. (Shahih Muslim No.5205)

    saat malam datang ku pandangi langit berbintang, ingin aku berada di atas awan, merasakan belaian kasih sayang, kau yg ku puja, kau yg ku damba. tanpa dirimu hatiku hampa, tanpa pelukmu aku tersiksa. kasih dlm dinginnya malam ingin aku memelukmu hingga akhir waktu ku takkan merasa jemu, kasih kau yg slalu ku tunggu dlm hatiku yang kelabu. (ana)

    kewajiban kita kpd umat adalah menyampaikan sunnah dgn menjelaskan keshahihan riwayatnya dan kejelasan maknanya menurut ulama salaf. Jika mereka menerima dakwah kita, kita ucapkan “Alhamdulillah”. Dan kalau mereka menolak dgn mempermasalahkan dan memperdebatkannya dgn akal/perasaan mereka, maka tinggalkanlah mreka !!

    Sampaikanlah sunnah &jgn lah kalian memperdebatkannya. Krna memperdebatkan Sunnah hanya akan membawa pd pertikaian yg berbuntut pelecehan trhd Sunnah itu sendiri. Imam Malik brkata: “Perdebatan hanyalah akan membawa pada pertikaian &menghilangkan cahaya ilmu dr dlm hati, serta mengeraskan hati &melahirkan kedengkian. (Syiar a’lamin Nubala’, 8/ 106).

    Para ulama secara pasti telah bersepakat bahwa ketika seorang muslim mencela dan merendahkan agamanya atau mencela Rasul dan merendahkannya, maka dia murtad, kafir, halal darah dan hartanya. Jika bertaubat maka diterima taubatnya. Jika tidak, maka dibunuh.” (Diambil dari Fatawa Nur ‘alad Darbi (melalui) CD) – http://www.asysyariah.com

    “Setiap anak cucu Adam pasti melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah orang yang bertaubat” (HR. Ahmad; At-Tirmidzi. Hasan Shahih).

    Jk ada org yg mncela poligami, mk sbnrnya ia mncela syariat Islam itu sndiri, bhkn ia mncela Sang Pembuat Syariat, Alloh, yg mnciptakan alam semesta &makhluk-Nya scra brpasang2an, yg mnurunkan syariat poligami bg hamba2Nya &Dia Maha Mngetahui atas kbaikan bg makhluk2Nya, sdgkan makhlukNya tdk memiliki pngetahuan mlainkan hnya sdikit saja yg tdk lbh dr stetes air di samudera. (www.abusalma.wordpress.com)

    Akan tetapi kebanyakan manusia itu sombong&membangkang, mereka lbh mengagungkan akalnya ketimbang mengagungkan Alloh &syariat-Nya, apa yg mnurut mreka buruk maka mreka anggap buruk, pdhl btapa sering trjadi apa yg mreka anggap buruk ternyata baik di sisi Alloh, &apa yg mreka anggap baik tnyata buruk di sisi Alloh, &Alloh adlh lbh mngetahui drpd mreka. (www.abusalma.wordpress.com)

    “BERUSAHALAH AGAR UMAT INI LAYAK DI TOLONG OLEH ALLAH. DAN TIDAK AKAN DATANG PERTOLONGAN ALLAH, KECUALI KITA KEMBALI KE AGAMA KITA DENGAN SEBENAR-BENARNYA”

    ““Seseorang akan terhalang untuk memperoleh rezeki karena dosa-dosa yang ditanggungnya” (Shahih Ibnu Majah, hadits hasan, nomor 3248)”

    “jlnilah hidup ini penuh dgn takwa&tawakal wahai manusia, karena bumi ini hanya titipan ALLAH SWT semata. berjihad lah fi Sabilillah dimuka bumi ini dgn mengharap keridhoan ALLAH SWT,jgn ada p’pecahan shg b’cerai berai antar saudara muslim.

    “jangan pernah mengeluh atas apa yg terjadi,,tp berpikirlah untuk merubah n menikmati yg sedang terjadi….”

    Ibnu Mas’ud berkata kpd para pemuda yg giat mencari ilmu agama: “Selamat datang wahai sumber2 hikmah &para penerang kegelapan. Walaupun pakaian kalian tlah usang akan tetapi hati kalian tetap baru. Kalian tinggal di rumah2 (untuk mempelajari ilmu), kalian adalah kebanggaan setiap kabilah.” [Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlih, karya Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr,1/52]

    Segala yg qt miliki adalah pinjaman dr Yang Maha Pemurah Lagi Maha Mengasihani… Jika sudah tiba masanya kenikmatan itu diambil maka ridha dan bersangka baiklah kpd Allah. Dibalik kepahitan itu pasti akan ada kemanisannya…(,”

    “Tidaklah ada suatu penyakit, kecuali dalam Habbatus Sauda’ (jintan hitam, nigella sativa) terdapat kesembuhan baginya, kecuali as-Saam (kematian)”
    [HR. Muslim, dalam Kitab as-Salaam, bab at-Tadawi bil Habbatis Sauda’. Hadits no. 2215]

    “Hai nabi, kobarkanlah semangat orang2 mukmin itu tuk berperang. Jika ada 20 orang yg sabar diantara kamu, niscaya mereka dpt mengalahkan 200 orang musuh. Dan jika ada 100 orang yg sabar diantara kamu, mereka dpt mengalahkan 1000 dari orang kafir, sebab orang2 kafir itu tidak mengerti.” (Surat Al-Anfal ayat 65)

    Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Alloh&akherat serta tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan Alloh&Rasul-Nya dan tidak beragama dgn agama yg benar, yaitu orang yg tlah diberi Al-kitab, sampai mereka mau membayar jizyah dgn patuh sedang mereka dlm keadaan tunduk.” (At-Taubah: 29)

    “Sesungguhnya Alloh menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Ash-Shaf: 4)

    “Ketahuilah bahwa surga itu berada di bawah kilatan pedang.” (HR. Bukhari-Muslim dan Abu Dawud)

    “Dua mata tidak disentuh api neraka; mata yang menangis karena takut kepada Alloh dan mata yang terjaga di jalan Alloh (tidak tidur dlm rangka menjaga umat islam dr serangan tentara musuh).” (HR. Tirmidzi)

    Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Saya tidak mengetahui ada suatu amal yang lebih utama, setelah ibadah-ibadah wajib, kecuali jihad, dan perang di laut itu lebih utama daripada perang di darat.” – http://www.al-ikhwan.net

    “Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran.” (Al Fatawa 4/149)

    Kau hadir dalam kenangan,Mengisi relung hatiku walau hanya semalam.Kau sosok lembut yang kukenal dari alam maya….Telah membuat diriku terpana akan cinta yang kau tancapkan…………….”

    Puncak petaka dari pacaran ialah terjadi zina. Islam sejak dini telah melarangnya, bahkan untuk mendekatinya saja sudah dilarang. Alloh berfirman: “ Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu ialah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk “. (QS. Al-Isra’: 32) Hukuman bagi sang pezina yaitu didera seratus kali bagi yang belum menikah atau di rajam sampai mati bagi yang sudah menikah.

    ” Sesungguhnya kepala seorang laki-laki ditusuk dengan jarum besi adalah lebih baik dari pada memegang perempuan yaang tidak halal baginya ”. (Hadist Riwayat Tabrani)

    ” Sebaik-baiknya nama kalian adalah Abdullah, Abdurrahman, dan Al-Harist ”. (Hadist Shahih Riwayat Tabrani, lihat Shahih Jami’ 2369)

    Menyendiri lebih baik daripada berkawan dengan yang buruk, dan bergaul dengan orang shaleh lebih baik daripada menyendiri. Berbincang-bincang yang bermanfaat lebih baik daripada berdiam dan berdiam adalah lebih baik daripada berbincang yang buruk (HR. Al-Hakim)

    Saudara/sahabatmu yg sebenarnya adalah yg bersamamu, yg sanggup berkorban demi kebahagiaanmu, kalau ada sesuatu yang menimpamu ia sanggup meninggalkan siapapun untuk bersamamu (Ali bin Abi Thalib)

    Ingat 5 sebelum 5 yakni: “ Kehidupanmu sebelum datang matimu, Kesehatanmu sebelum datang sakitmu, Waktu luangmu sebelum datang kesibukanmu, Masa mudamu sebelum datang masa tuamu, Kekayaanmu sebelum datang kemiskinanmu “. (HR. Muslim).

    Sekularisme yang diusung oleh para penjajah kolonialis Barat ke dunia Islam telah menimbulkan bahaya serius bagi Islam dan kaum muslimin. Mereka mencabut hukum-hukum Islam dalam bidang politik, pemerintahan dan ekonomi, lalu mereka ganti dengan hukum-hukum Barat sekuler.

    Islam tidak mengenal Demokrasi, sejak kelahirannya hingga hari Kiamat. Islam dengan tegas menyatakan bahwa kedaulatan berada di tangan Allah, tidak di tangan rakyat maupun penguasa. Allah lah yang berhak menentukan hukum, sistem, dan aturan bagi manusia. Mereka tinggal melaksanakannya.

    why say HI! if u mean I MISS U.. why say LET’S GO! if u mean I WANT 2 B With U..
    why say STAY! if u can say B WITH ME… and why say I CARE wen ur heart says I
    LUV U!

    Saya telah mendapatkan bahwa sebaik-baik manusia seluruhnya adalah ahli sunnah dan mereka senantiasa melarang bergaul dengan ahli bid’ah.” [Al-Lalikai 1/138 no. 267]

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah ditanya tentang seseorang (pria) yang memanjangkan celananya hingga melebihi mata kaki. Beliau menjawab :’ Panjangnya gamis, celana dan seluruh pakaian hendaklah tidak melebihi kedua mata kaki, sebagaimana telah tetap dari hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam” [Majmu’ Fatawa 22/14]

    “Seandainya hari ini adalah hari terakhir engkau hidup di dunia, Hari terakhir bertemu dengan orang-orang yang engkau cintai, Seandainya hari ini adalah benar-benar hari terakhirmu, apakah yang akan engkau lakukan? Renungkanlah!”

    “Hai 0rAnG Y9 LaLAi, seandainyA aNdA dPt mEndEnGar jEritan suara gesekAn QoLam kTiKa b’GeRak diLaUh MaHfUzH meNuLis TeNtaNg tAkDiR aNdA NiScAyA aNdA aKn MaTi TeRKeJut”

    “Janganlah kalian mengunjungi kaum musyrikin di gereja-gereja (rumah-rumah ibadah) mereka pada hari besar mereka karena sesungguhnya kemurkaan Allah akan turun atas mereka” [Riwayat Imam Al-Baihaqy No. 18640]

    “Barangsiapa yang berdiam di negeri-negeri orang asing, lalu membuat tahun baru dan festifal seperti mereka serta menyerupai mereka hingga dia mati dalam kondisi demikian, maka kelak dia akan dikumpulkan pada hari kiamat bersama mereka” [’Aun Al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, Syarh hadits no. 3512]

    Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya” [Al-Mujadillah : 22]

    Kami maklumatkan pertempuran sengit kpd demokrasi&sekulerisme, tlah jelas hukum para penganut keyakinan tsb BATIL DAN JALAN YANG MERUGIKAN, maka kembalilah kejalan Alloh yakni ALQURAN&SUNNAH. Maka masih Kami maklumatkan agar mengadakan perlawanan sengit thd demokrasi&sekulerisme. Dan tetap pegang teguh bara api ini hingga Alloh beri keputusan

    “Aib ahli bid’ah dan kesesatan buku-buku mereka harus dijelaskan kepada semua orang agar orang-orang yang lemah iman dan ilmu tidak terjerat oleh kesesatan mereka. (Imam al-Qarafi, Al-Farq 4/207-208)

    Hari ini, menangislah untuk mereka yang jatuh cinta, dan bersuka-citalah untuk dia yang patah hati. Yang jatuh cinta, akan patah hatinya. Dan yang patah hati akan jatuh cinta lagi. Kepadamu, duhai patah hati, hari ini aku nyatakan cintaku.

    “Sesungguhnya metode pengobatan yang paling ideal bagi kalian adalah hijamah (bekam) dan fashdu (venesection).” (HR Bukhari – Muslim)

  8. Wanita dilarang memakai parfum saat bertemu para pria yg bukan keluarga dekatnya(muhrim/mahromnya). “Siapa pun wanita yang mengenakan wewangian, lalu melewati segolongan orang agar mereka mencium baunya, maka ia adalah wanita pezina” (H.R Abu Daud, Nasa’i dan Tirmidzi, dan hadits ini Hasan)

    Dimanakah ALLAH? di dlm hati? di setiap tempat? dimana-mana? di langit? di bumi? tidak bertempat? ataukah tidak menempati ruang dan waktu? JAWABAN YANG BENAR ADALAH ALLAH BERADA DI ATAS LANGIT (berdasar Al Quran dan hadits-hadits shahih)

    Pria tidak boleh berjabat tangan dengan wanita yang bukan muhrimnya/mahromnya. Nabi Muhammad SAW berkata: “Sesungguhnya saya tidak berjabat tangan dengan wanita.” [HR Malik 2/982, Nasa’i 7/149, Tirmidzi 1597, Ibnu Majah 2874, ahmad 6/357, dll]

    Jabat tangan dgn wanita di zaman ini sudah menjadi sesuatu yang lumrah, pdhl Nabi sangat mengancam keras pelakunya. Nabi berkata: “Seandainya kepala seseorang di tusuk dengan jarum dari besi itu lebih baik dari pada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (Hadits hasan riwayat Thobroni dalam Al-Mu’jam Kabir 20/174/386 dan Rauyani dalam Musnad: 1283 lihat Ash Shohihah 1/447/226)

    Syiah adalah aliran sesat dan menyimpang dari ajaran islam. Mayoritas rakyat Iran, termasuk Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad adalah orang sesat. Situs2 yg menjelaskan tentang kesesatan syiah: http://www.hakekat.com , http://www.haulasyiah.wordpress.com , http://www.gensyiah.com , http://www.syiahindonesia.com

    Sesungguhnya salafi dan wahabi bukanlah aliran sesat, juga bukan teroris. Bahkan salafi adalah golongan yang paling konsisten dengan ajaran islam dibanding kelompok2 lain. Situs2 yg beraliran salafi: http://www.muslim.or.id , http://www.almanhaj.or.id , http://www.alsofwah.or.id , http://www.muslimah.or.id , http://www.jilbab.or.id , http://www.salafy.or.id , dll

    janganlah salah seorang di antara kamu mengharapkan kematian karena (tidak tahan dengan) musibah yang menimpanya, dan apabila dia memang harus mengharapkan, sebaiknya dia berkata: Ya Allah! Hidupkanlah aku selama kehidupan itu yang terbaik bagiku, dan matikanlah aku jika kematian itu yang terbaik bagiku. (Shahih Muslim No.4840)

    Janganlah kamu saling membenci, saling mendengki dan saling bermusuhan, tetapi jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal seorang muslim mendiamkan (tidak menyapa) saudaranya lebih dari tiga hari. (Shahih Muslim No.4641)

    Hindarilah oleh kamu sekalian berburuk sangka karena buruk sangka adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kamu sekalian saling memata-matai yang lain, janganlah saling mencari-cari aib yang lain, janganlah kamu saling bersaing (kemegahan dunia), janganlah kamu saling mendengki dan janganlah kamu saling membenci dan janganlah kamu saling bermusuhan tetapi jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. (Shahih Muslim No.4646)

    Tidak ada seorang muslim pun yang tertimpa suatu penyakit dan lainnya kecuali Allah akan menghapus dengan penyakit tersebut kesalahan-kesalahannya seperti sebatang pohon yang merontokkan daunnya. (Shahih Muslim No.4663)

    Tidak ada seorang muslim pun yang tertusuk duri atau tertimpa bencana yang lebih besar dari itu kecuali akan tercatat baginya dengan bencana itu satu peningkatan derajat serta akan dihapuskan dari dirinya satu dosa kesalahan. (Shahih Muslim No.4664)

    Tidak ada satu kepedihan pun atau keletihan atau penyakit atau kesedihan yang menimpa seorang muslim kecuali akan dihapuskan dengan penderitaannya itu sebagian dari dosa kesalahannya. (Shahih Muslim No.4670)

    Janganlah kamu sekalian terlalu bersedih dan tetaplah berbuat kebaikan karena dalam setiap musibah yang menimpa seorang muslim terdapat penghapusan dosa bahkan dalam bencana kecil yang menimpanya atau karena sebuah duri yang menusuknya. (Shahih Muslim No.4671)

    Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lainnya, dia tidak boleh menzaliminya dan menghinakannya. Barang siapa yang membantu keperluan saudaranya (sesama muslim), maka Allah akan memenuhi keperluannya. Barang siapa yang melapangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah akan melapangkan untuknya satu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan hari kiamat nanti. Dan barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat. (Shahih Muslim No.4677)

    hendaklah seseorang itu menolong saudaranya yang lain baik yang zalim maupun yang dizalimi. Kalau terhadap yang zalim hendaklah dicegah perbuatan zalimnya karena begitulah cara memberikan pertolongan kepadanya, dan terhadap yang dizalimi maka hendaklah ia membelanya. (Shahih Muslim No.4681)

    Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling kasih, saling menyayangi dan saling cinta adalah seperti sebuah tubuh, jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakan sulit tidur dan demam. (Shahih Muslim No.4685)

    Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut yang menyukai kelembutan. Allah akan memberikan kepada orang yang bersikap lembut sesuatu yang tidak diberikan kepada orang yang bersikap keras dan kepada yang lainnya. (Shahih Muslim No.4697)

    Ya Allah! Sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa, maka siapa saja dari kaum muslimin yang aku caci atau aku laknat atau aku pukul, maka jadikanlah itu sebagai zakat dan rahmat baginya. (Shahih Muslim No.4706)

    Bukanlah termasuk pendusta orang yang berdusta untuk mendamaikan antara manusia. Dia berkata yang baik dan menyampaikan yang baik pula. (Shahih Muslim No.4717)

    Rasulullah SAW melarang mengapur kuburan, duduk-duduk di atas kuburan dan membina kuburan (membangun dengan bata atau dengan ubin, dll) tapi (hendaknya kuburan itu) berupa unggukan tanah saja setinggi satu jengkal. (HR. Muslim)

    Barangsiapa mencari mati syahid dengan sungguh-sungguh maka akan Aku berikan kepadanya (pahala mati syahid) meskipun dia mati di atas tempat tidurnya. (HR. Muslim)

    “Perbanyaklah mengingat kematian maka kamu akan terhibur dari (kelelahan) dunia, dan hendaklah kamu bersyukur. Sesungguhnya bersyukur akan menambah kenikmatan Allah, dan perbanyaklah doa. Sesungguhnya kamu tidak mengetahui kapan doamu akan terkabul.” (HR. Ath-Thabrani)

    dunia di awali dengan kesulitan dan di akhiri dengan kebinasaan, yang Halal akan di hisab dan yang Haram akan berujung siksa, yang kaya iman nya akan menghadapi ujian dan fitnah, dan yang miskin iman akan dalam kesusahan …….

    Anonymous

    Apa kabar cinta?….Masihkah tetap untuk-NYA? Apa kabar rindu?…..Masihkah tetap untuk surgaNYA? Apa kabar hati?…Masihkah sesejuk dan sebening embun pagi….?

    unknown

    aku ingin mencintaimu dengan sederhana: dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada (SAPARDI DJOKO DAMONO)

    “Lihatlah orang yang hidupnya lebih susah darimu dan jangan melihat orang yang hidupnya lebih enak darimu, karena hal itu lebih patut agar engkau sekalian tidak menganggap rendah nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu.” (Muttafaq Alaihi)

    Barangsiapa mendatangi dukun peramal dan bertanya kepadanya tentang sesuatu (lalu mempercayainya) maka shalatnya selama empat puluh malam tidak akan diterima. (HR. Muslim)

    “Pengobatan dgn ruqyah Al-Qur`an mrupakan Sunnah Nabi &para sahabatnya. Mreka dahulu mngobati org yg kesurupan jin, terkena sihir &sluruh penyakit dgn ruqyah. Mreka meyakini bhwa ruqyah trmasuk sarana yang halal&bermanfaat, smentara yg mnyembuhkan hanyalah Allah saja.” (Al-Muntaqa min Fatawa Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, juz 1, jawaban soal no. 77)

    “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mengambil gambar (makhluk hidup) dan memasukkannya ke dalam rumah dan melarang untuk membuat yang seperti itu.” (HR. At-Tirmidzi no. 1749, kitab Al-Libas ‘An Rasulillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bab Ma Ja`a fish Shurah. Dihasankan Asy-Syaikh Muqbil dalam Hukmu Tashwir, hal. 17)

    “Semua tukang gambar (makhluk bernyawa) itu di neraka. Allah memberi jiwa/ruh kepada setiap gambar (makhluk hidup) yang pernah ia gambar (ketika di dunia), maka gambar-gambar tersebut akan menyiksanya di neraka Jahannam.”
    Jika kamu memang terpaksa bekerja sebagai tukang gambar, maka buatlah gambar pohon dan benda-benda yang tidak memiliki jiwa/ruh.” (HR. Muslim no. 5506, kitab Al-Libas waz Zinah, bab Tahrimu Tashwiri Shuratil Hayawan …)

    “Malaikat tidak akan masuk ke rumah yang di dalamnya ada anjing dan gambar-gambar (binatang/manusia).” (Hadits riwayat Bukhari)

    Telah shahih riwayat dari Amirul Mukminin Umar bin Abdul ‘Aziz rahimahullahu bahwa beliau menulis surat kepada para gubernurnya ketika terjadi gempa di zamannya. Beliau menyuruh mereka untuk memerintahkan kaum muslimin supaya bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, merendahkan diri di hadapan-Nya, dan beristighfar dari dosa-dosa. (lihat Majmu’ Fatawa Asy-Syaikh Ibnu Baz, 2/126-129)

    “Pudarnya Islam adalah karena ulah empat tipe manusia. Pertama: orang yang tidak mengamalkan ilmu mereka. Kedua: orang yang beramal tanpa landasan ilmu. Ketiga: orang yang tidak beramal dan tidak berilmu. Dan keempat: orang yang menghalangi manusia mencari ilmu.” (Muhammad bin al-Fadhl)

    sesungguhnya acara2 buatan org kafir sperti pertandingan2 olah raga, kontes2 musik/kecantikan, dan berbagai hura2 tlah menyibukkan hati&otak umat islam shg tidak sempat lg memikirkan nasib saudara2nya yg ditindas&dibantai musuh di berbagai belahan bumi sperti Checnya, Kasymir, Pattani, Mindanao, Ethiopia, Palestina, Afganistan, Turkistan, dll

    menegakkan hukum islam adalah wajib bagi pemerintah negeri ini, maka stiap partai atau anggota DPR yg menghalangi penegakan syariat islam di Indonesia brarti dia tlah berdiri di barisan balatentara iblis&setan yg brusaha mjauhkan umat islam dr agamanya. “Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” (Al Maidah ayat 44)

    “Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagiamana engkau menyembunyikan keburukan-keburukanmu, dan janganlah engkau kagum dengan amalan-amalanmu, sesungguhnya engkau tidak tahu apakah engkau termasuk orang yang celaka (masuk neraka) atau orang yang bahagia (masuk surga)”. (Abu Hazim Salamah bin Dinar)

    hadits2 yg populer tapi ternyata dhaif(lemah) atau maudhu(palsu): Tuntutlah ilmu walaupun ke negeri cina, Cinta tanah air adalah sebagian dari iman, Perbedaan di kalangan umat islam adalah rahmat, Barangsiapa yang mengenal dirinya maka dia telah mengenal Rabb-nya, Hadits larangan tidur setelah sholat asar,

    jangan kamu membiarkan patung kecuali kamu hancurkan dan jangan kamu membiarkan kuburan yang menonjol lebih tinggi kecuali kamu ratakan’ (hadits riwayat Muslim)

    Merayakan maulud nabi adalah perbuatan bid’ah(sesat), karena perayaan tersebut tidak ada dasarnya dalam Kitab dan Sunnah, juga dalam perbuatan Salaf Shalih dan pada generasi-generasi pilihan terdahulu. Perayaan maulid Nabi baru terjadi setelah abad ke empat Hijriyah. (fatwa Syaikh Dr Salih bin Fauzan)

    aqidah asyairiyah (yg dianut organisasi NU) mengandung berbagai penyimpangan dari ajaran islam. Aqidah asyairiyah dianggap sesat oleh para ulama arab saudi dan seluruh ulama yg beraliran salafi/wahabi di dunia ini.

    sebagian dari ajaran sufi&tasawuf adalah sesat, kesesatannya berbeda2 tergantung sufi/tasawuf yg model apa, ada yg kesesatannya ringan dan ada yg sangat berat, silahkan baca kitab TALBIS IBLIS karya Ibnul jauzi yg mengritik sufi, juga buku DARAH HITAM TASAWUF karya ihsan ilahi zhahir, juga buku2 karya HARTONO AHMAD JAIZ yg mengritik sufi

    bagi anda semua yang ingin bertanya masalah2 agama,cinta,cara mengatasi gangguan sihir/jin secara islami,semua problem kehidupan, silahkan add facebook teman saya ini dan silahkan mengajukan pertanyaan2 anda kepadanya: ini alamat facebook/emailnya: abuhaidar.riyanto@gmail.com (namanya bapak Abu Abdullah, umur 26 tahun)

  9. Imam Al-’Auza’i Rahimahullahu berkata : “Bersabarlah dirimu diatas sunnah, berhentilah sebagaimana mereka berhenti, dan katakanlah seperti apa yang mereka katakan serta cegahlah dari apa yang mereka cegah. Telusurilah jejak salafush sholeh”. (Syarhu ushul I’tiqod Ahlis Sunnah wal Jama’ah 1/154 oleh Al-Lalika’i).
    -

    Fadhilatus Syaikh DR. Shalih bin Fauzan al-Fauzan :

    “Penamaan salafiy, atsariy atau yang semisal dengannya, hal ini sesungguhnya suatu hal yang tidak ada asalnya. Kita menilai dari hakikatnya bukan dari ucapan, penamaan ataupun dakwaan belaka. Terkadang ada orang mengatakan dia salafiy padahal dia bukan salafiy, dia atsariy padahal dia bukan atsariy. Terkadang pula ada orang yang (benar-benar) salafi atau atsari namun ia tidak pernah mengatakan dirinya atsari atau salafi. Karena itu penilaian itu dari hakikatnya bukan dari penamaan atau dakwaan belaka…” (Pengajian Syarh Aqidah ath-Thohawiyah, 1425 H, dinukil dari Kasyful Khola`iq karya al-Ushaimi)

    -
    Fadhilatus Syaikh juga berkata :

    “Maka tidak ada perlunya kamu mengatakan “aku salafiy”, “aku atsariy”, “aku ini” atau “aku itu”. Namun yang wajib atas kalian adalah mencari kebenaran dan mengamalkannya untuk meluruskan niat. Hanya Alloh swt-lah yang mengetahui hakikat keadaan sebenarnya.” (sumber yang sama).

    -
    Syaikh Abdus Salam bin Qasim al-Husaini as-Salafy di dalam kitabnya Irsyadul Barriyah ila Syar’iyyatil Intisab Lis-Salafiyyah menyebutkan ciri-ciri salafy sebagai berikut :

    1. Menjadikan Al-Qur’an dan sunnah sebagai pedoman hidup dalam segala perkara.

    2. Memahami agama ini sesuai dengan pemahaman para sahabat nabi, terutama dalam masalah aqidah.

    3. Tidak menjadikan akal sebagai landasan utama dalam beraqidah (misalnya: banyak mukjizat yg tidak “masuk akal”, karenanya jika kita menjadikan akal diatas segala-galanya maka kita akan sesat, buktinya bukankah dalam kesenian debus ada orang yang tidak mempan dibacok senjata tajam, bukankah akal tidak bisa menjelaskan kenapa bisa begini) .

    4. Senantiasa mengutamakan dakwah kepada tauhid ibadah (Seruan hanya Allah satu-satunya Dzat yang berhak disembah).

    5. Tidak berdebat kusir dengan ahli bid’ah serta tidak bermajlis dan tidak menimba ilmu dari mereka.

    6. Berantusias untuk menjaga persatuan kaum muslimin serta menyatukan mereka diatas Al-Qur’an dan sunnah sesuai pemahaman salafush sholeh.

    7. Menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dalam bidang ibadah, akhlak dan dalam segala bidang kehidupan hingga merekapun terasing.

    8. Tidak fanatik kecuali hanya kepada Al-Qur’an dan sunnah.

    9. Memerintahkan kepada yang baik dan mencegah dari kemungkaran.

    10. Membantah setiap yang menyelisihi syariat baik dia seorang muslim atau non muslim.

    11. Membedakan antara ketergelinciran ulama ahli sunnah dengan kesesatan para dai-dai yang menyeru kepada bid’ah.

    12. Selalu taat kepada pemimpin kaum muslimin selama dalam kebaikan, berdoa untuk mereka serta menasehati mereka dengan cara yang baik dan tidak memberontak atau mencaci-maki mereka.

    13. Berdakwah dengan cara hikmah.

    14. Bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu agama yang bersumberkan kepada Al-Qur’an dan sunnah serta pemahaman salaf, sekaligus meyakini bahwa umat ini tidak akan menjadi jaya melainkan dengan ilmu tersebut.

    15. Bersemangat dalam menjalankan Tashfiyah (membersihkan Islam dari kotoran-kotoran yang menempel kepadanya seperti syirik, bid’ah, hadits-hadits lemah dan lain sebagainya) dan Tarbiyah (mendidik umat diatas Islam yang murni terutama dalam bidang tauhid).

    Dan seterusnya…

    -
    Adapun akhlak salafiyin adalah sebagaimana yang telah disebutkan oleh Syaikh Samir Mabhuh al-Kuwaiti di dalam risalahnya yang berjudul Hiyas Salafiyyah fa’rifuuha :

    “Mereka adalah manusia yang paling baik akhlaknya, paling banyak bersikap lembut, lapang dan tawadhu’-nya. Mereka adalah yang paling bersemangat berdakwah menyeru kepada akhlak yang mulia dan amal yang paling bagus, dengan wajah yang ceria, menyebarkan salam, memberikan makan, menahan marah, menghilangkan kesusahan manusia, mendahulukan kepentingan kaum muslimin dan berusaha memenuhi kebutuhan mereka. Mereka senantiasa mengerahkan daya upaya di dalam menolong mereka, bersikap lembut dengan fakir miskin, bersikap kasih sayang terhadap tetangga dan kerabat, lemah lembut dengan penuntut ilmu, menolong dan berbuat kebajikan kepada mereka, berbakti kepada orang tua dan ulama dan memelihara kedua orang tua (di waktu tuanya).
    -

    “Tidak diragukan lagi bahwa syariat Islam datang dengan memperingatkan dari sikap ekstrim di dalam beragama, dan memerintahkan untuk berdakwah ke jalan al-Haq dengan hikmah, pelajaran yang baik dan diskusi dengan cara yang lebih baik. Walau demikian tidaklah hal ini berarti meniadakan sikap tegas dan keras yang pada tempatnya apabila kelemahlembutan dan diskusi dengan cara yang lebih baik tidak bermanfaat lagi.” (Majmu’ Fatawa wa Maqolat Mutanawwi’ah III:204 oleh Imam Ibnu Bazz).

    -=======================================================

    Dari Abu Huroiroh, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda :

    “Semua umatku akan masuk surga kecuali yang enggan, para Shahabat bertanya : ‘Siapakah gerangan yang enggan itu ?’ jawab Beliau, orang yang ta’at kepadaku dia masuk surga dan yang durhaka kepadaku maka sungguh dialah orang yang enggan itu.” (HR. Bukhary 7280)

    Dari Abu Huroiroh radliallahu’anhu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda :

    “Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang dengannya. Yaitu Kitabullah dan Sunnahku.” (HR. Al Hakim 1/93 dan Beliau menshahihkannya) Hadits ini memiliki banyak penguat.
    Dari Irbadl bin Sariyah, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda :

    “Barangsiapa di antara kalian yang hidup nanti maka dia akan menyaksikan perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang terbimbing sepeninggalku, pegangilah sunnahku dan gigitlah dengan geraham-geraham kalian.” (HR. Abu Dawud 4607, At Tirmidzy 2676, Ibnu Majah 440 dan Ahmad 4/126 dengan sanad yang shahih)

    Ubay bin Ka’ab a berkata, ” Ikutilah oleh kalian sunnah Rasulullah dan janganlah kalian membikin kebid’ahan…..”
    (Riwayat Muhammad bin Nasher Al Marwazy dalam As Sunnah (2 dan Ibnu Wadldloh dalam Al Bida’ (17)

    Az Zuhry rahimahullah berkata, “Berpegang teguh dengan sunnah adalah keselamatan” (riwayat Al Lalikaiy 15)

    Abul Aliyah rahimahullah berkata, “Wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnah nabi kalian dan apa yang dijalani oleh para Shahabat “. (riwayat Abdur Rozzaq dalam Al Mushonnaf 20758, Al Marwazy dalam Sunnah 8 dan Lalikaiy 17)

    Al Auza’iy rahimahullah berkata, “Kita berjalan bersama dengan Sunnah kemanapun dia berjalan.” (riwayat Al Lalikaiy 47)

    ========================================
    Sesungguhnya manhaj salaf adalah satu-satunya manhaj yang benar, barangsiapa menyimpang dari manhaj salaf maka dia telah sesat, karena itu kita harus berpegang teguh dengan manhaj salaf agar selamat dunia akherat,
    contoh situs-situs yg bermanhaj salaf:

    http://www.salafy.or.id

    http://www.almanhaj.or.id

    http://www.muslim.or.id

    http://www.alsofwah.or.id

    http://www.asysyariah.com

    http://www.perpustakaan-islam.com

    http://www.bukhari.or.id

    http://www.jilbab.or.id

    http://www.islam-download.net

    http://www.hakekat.com

    http://www.muslimah.or.id

    http://www.sobat-muda.com

    http://al-ilmu.web.id/

    http://darussalaf.org/

    -
    sumber: http://www.asysyariah.com
    http://www.almanhaj.or.id

  10. SETANGKAI MAWAR CINTA

    al-Imaam Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah rohimahulloh

    Jika orang lain merasa cukup dengan dunia, maka hendaknya engkau merasa cukup dengan Alloh. Jika mereka berbangga dengan dunia, maka berbanggalah engkau dengan Alloh. Jika mereka merasa tenang dengan orang-orang yang mereka cintai, maka jadikanlah ketenanganmu dengan Alloh. Jika mereka berusaha mengenal dan mendekati raja-raja dan para pembesar mereka untuk meraih kemuliaan dan derajat yang tinggi, maka usahakanlah mengenal dan mencintai Alloh niscaya engkau mendapatkan puncak kemuliaan dan derajat yang tinggi.

    Sebagian orang yang zuhud berkata:
    “Aku tidak pernah mengetahui ada seorang yang mendengar tentang surga dan neraka kemudian waktu yang dia miliki tidak dia gunakan untuk mentaati Alloh, berdzikir, sholat, membaca al-Qur’an atau berbuat baik.”

    Lalu seorang lelaki berkata kepadanya:
    “Sesungguhnya aku banyak menangis.”

    Orang zuhud tadi berkata:
    “Sesungguhnya jika engkau tertawa sedangkan engkau mengakui kesalahanmu, maka hal itu lebih baik dari pada engkau menangis namun engkau mengungkit-ungkit amalanmu. Karena orang yang suka mengungkit amalannya, maka amalannya tidak akan naik melampaui kepalanya.”

    Maka lelaki tadi berkata:
    “Berikanlah aku nasihat.”

    Orang zuhud itu berkata:
    “Tinggalkanlah dunia untuk ahli dunia, sebagaimana mereka meninggalkan akhirat untuk ahli akhirat. Jadilah engkau di dunia ini seperti lebah, jika engkau makan, engkau makan sesuatu yang baik, jika engkau memberi makan, engkau memberi makan sesuatu yang baik dan jika engkau jatuh di suatu tempat, engkau tidak akan merusak dan merobeknya.

    Diterjemahkan dari kitab “al-Fawaaid” karya al-Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah rohimahulloh, cetakan Daarul ‘Aqiidah halaman 113.

    http://gugundesign.wordpress.com/2008/01/10/merasa-cukup-dengan-alloh-2/

  11. KISAH MENGHARUKAN ANTARA SYAIKH BIN BAZ DAN SEORANG PENCURI

    Oleh: Syaikh Mamduh Farhan al Buhairi

    Salah seorang murid Syaikh ‘Ibn Utsaimin rahimahullah menceritakan kisah ini kepadaku. Dia berkata: “Pada salah satu kajian Syaikh Utsaimin rahimahullah di Masjidil Haram, salah seorang murid beliau bertanya tentang sebuah masalah yang didalamnya ada syubhat, beserta pendapat dari Syaikh Bin Baz rahimahullah tentang masalah tersebut. Maka Syaikh Utsaimin menjawab pertanyaan penanya serta memuji Syaikh bin Baz rahimahullah. Di tengah-tengah mendengar kajian, tiba-tiba ada seorang lelaki dengan jarak kira-kira 30 orang dari arah sampingku kedua matanya mengalirkan air mata dengan deras, dan suara tangisannyapun keras hingga para muridpun mengetahuinya.

    Di saat Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah selesai dari kajian, dan majelis sudah sepi aku melihat kepada pemuda yang tadi menangis. Ternyata dai dalam keadaan sedih, dan bersamanya sebuah mushhaf. Akupun lebih mendekat hingga kemudian aku bertanya kepadanya setelah kuucapkan salam: “Bagaimana kabarmu wahai akhi, apa yang membuatmu menangis?”

    Maka diapun menjawab dengan bahasa yang mengharukan: “Jazakallahu khairan.” Akupun mengulangi pertanyaanku sekali lagi: “Apa yang membuatmu menangis akhi?” Diapun menjawab dengan tekanan suara yang haru: “Tidak ada apa-apa, sungguh aku telah ingat Syaikh bin Baz, maka akupun menangis.” Kini menjadi jelas bagiku dari penuturannya bahwa dia dari Pakistan, sedang dia mengenakan pakaian orang Saudi.

    Dia meneruskan keterangannya: “Dulu aku mempunyai sebuah kisah bersama Syaikh bin Baz rahimahullah, yaitu sepuluh tahun yang lalu aku bekerja sebagai satpam pada salah satu pabrik batu bata di kota Thaif. Suatu ketika datang sebuah surat dari Pakistan kepadaku yang menyatakan bahwa ibuku dalam keadaan kritis, yang mengahruskan operasi untuk penanaman sebuah ginjal. Biaya operasi tersebut membutuhkan tujuh ribu Riyal Saudi (kurang lebih 17,5 juta Rupiah). Jika tidak segera dilaksanakan operasi dalam seminggu, bisa jadi dia akan meninggal. Sedangkan beliau sudah berusia lanjut.

    Saat itu, aku tidak memiliki uang selian seribu Riyal, dan aku tidak mendapati orang yang mau memberi atau meminjami uang. Maka akupun meminta kepada perusahaan untuk memberiku pinjaman, Mereka menolak, Aku menangis sepanjang hari. Dia adalah ibu yang telah merawatku dan tidak tidur karena aku.

    Pada situasi yang genting tersebut, aku memutuskan untuk mencuri pada salah satu rumah yang bersebelahan dengan perusahaan pada jam dua malam. Beberapa saat setelah aku melompati pagar rumah, aku tidak merasa apa-apa kecuali para polisi tengah menangkap dan melemparkanku ke mobil mereka. Setelah itu duniapun terasa menjadi gelap.

    Tiba-tiba, sebelum shalat subuh para polisi mengembalikanku ke rumah yang telah kucuri. Mereka memasukkanku ke sebuah ruangan kemudian pergi. Tiba-tiba ada seorang pemuda yang menghidangkan makanan seraya berkata: “Makanlah, dengan membaca bismillah!” Aku pun tidak mempercayai apa yang tengah kualami. Saat adzan shalat subuh, mereka berkata kepadaku, “Wudhu’lah untuk shalat!” Saat itu rasa takut masih menyelimutiku. Tiba-tiba datang seorang lelaki yang sudah lanjut usia dipapah salah seorang pemuda masuk menemuiku. Kemudian dia memegang tanganku dan mengucapkan salam kepadaku seraya berkata: “Apakah engkau sudah makan?” Akupun menjawab: “Ya, sudah.” Kemudian dia memegang tangan kananku dan membawaku ke masjid bersamanya. Kami shalat subuh. Setelah itu aku melihat lelaki tua yang memegang tanganku tadi duduk di atas kursi di bagian depan masjid, sementara jama’ah shalat dan banyak murid mengitarinya. Kemudian syaikh tersebut memulai berbicara menyampaikan sebuah kajian kepada mereka. Maka akupun meletakkan tanganku di atas kepalaku karena malu dan takut.

    Ya, Alloh, apa yang telah aku lakukan? Aku telah mencuri di rumah Syaikh bin Baz rahimahullah. Sebelumnya aku telah mendengar nama beliau, dan beliau telah terkenal di negeri kami, Pakistan.

    Setelah Syaikh bin Baz selesai dari kajian, mereka membawaku ke rumah sekali lagi. Syaikh pun memegang tanganku, dan kami sarapan pagi dengan dihadiri oleh banyak pemuda. Syaikh mendudukanku di sisi beliau. Di tengah makan beliau bertanya kepadaku: “Siapakah namamu?” Kujawab: “Murtadho.” Beliau bertanya lagi: “Mengapa engkau mencuri?” Maka aku ceritakan kisah ibuku. Beliau berkata: “Baik, kami akan memberimu 9000 Riyal.” Aku berkata kepada beliau: “Yang dibutuhkan Cuma 7000 Riyal.” Beliau menjawab: “Sisanya untukmu, tetapi jangan lagi mencuri wahai anakku.”

    Aku mengambil uang tersebut, dan berterima kasih kepada beliau dan berdoa untuk beliau. Aku pergi ke Pakistan, lalu melakukan operasi untuk ibuku. Alhamdulillah, beliau sembuh. Lima bulan setelah itu, aku kembali ke Saudi, dan langsung mencari keberadaan Syaikh bin Baz rahimahullah. Aku pergi rumah beliau. Aku mengenali beliau dan beliaupun mengenali aku. Kemudian beliaupun bertanya tentang ibuku. Aku berikan 1500 Riyal kepada beliau, dan beliau bertanya, “Apa ini?” Kujawab: “Itu sisanya.” Maka beliau berkata: “Ini untukmu.” Kukatakan: “Wahai Syaikh, saya memiliki permohonan kepada anda.” Maka beliau menjawba: “Apa itu wahai anakku?” Kujawab: “Aku ingin bekerja pada anda sebagai pembantu atau apa saja, aku berharap dari anda wahai Syaikh, janganlah menolak permohonan saya, mudah-mudahan Alloh menjaga anda.” Maka beliau menjawab: “Baiklah.” Akupun bekerja di rumah Syaikh hingga wafat beliau.

    Selang beberapa waktu dari pekerjaanku di rumah Syaikh, salah seorang pemuda yang mulazamah kepada beliau memberitahuku tentang kisahku ketika aku melompat ke rumah beliau hendak mencuri di rumah Syaikh. Dia berkata: “Sesungguhnya ketika engkau melompat ke dalam rumah, Syaikh bin Baz saat itu sedang shalat malam, dan beliau mendengar sebuah suara di luar rumah. Maka beliau menekan bel yang beliau gunakan untuk membangunkan keluarga untuk shalat fardhu saja. Maka mereka terbangun semua sebelum waktunya. Mereka merasa heran dengan hal ini. Maka beliau memberitahu bahwa beliau telah mendengar sebuah suara. Kemudian mereka memberi tahu salah seorang menjaga keamanan, lalu dia menghubungi polisi. Mereka datang dengan segera dan menangkapmu. Tatkala Syaikh mengetahui hal ini, beliau bertanya: “Kabar apa?” Mereka menjawab: “Seorang pencuri berusaha masuk, mereka sudah menangkap dan membawanya ke kepolisian.” Maka Syaikhpun berkata sambil marah: “Tidak, tidak, hadirkan dia sekarang dari kepolisian, dia tidak akan mencuri kecuali dia orang yang membutuhkan.”

    Maka di sinilah kisah tersebut berakhir. Aku katakan kepada pemuda tersebut: “Sungguh matahari sudah terbit, seluruh umat ini terasa berat, dan menangisi perpisahan dengan beliau. Berdirilah sekarang, marilah kita shalat dua rakaat dan berdoa untuk Syaikh rahimahullah.

    Mudah-mudahan Alloh merahmati Syaikh bin Baz dan Ibnu Utsaimin dan menempatkan keduanya di keluasan surga-Nya. Amiin.

    Di kutip dari Majalah Qiblati edisi 02 tahun III (11-2007M / 10-1428H)

    http://abuzubair.wordpress.com/2008/03/19/syaikh-bin-baz-dan-seorang-pencuri/

  12. Biografi Syaikh Ibnu Baaz

    “ Penegak Bendera Alloh Ta’ala serta Sunnah Rasullullah Shallallahu’ Alaihi Wa Sallam ”

    Al-Allamah Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz Rahimahullah Ta’ala

    (Mantan Ketua Mufti/Qadhi Kerajaan Saudi Arabia)

    Ulama tunanetra yang karyanya menjadi referensi para ilmuwan. Biasa mengoreksi buku atau kitab hanya dengan hafalan.

    Di buat Oleh:

    Abu Hanifah Muhammad Faishal alBantani bin Shalih Abu Ramadhan

    Muraja’ah:

    Ustadz Abu Yahya Marwan Hadid bin Musa

    Bismillahirrohmannirrohim

    Rektor sebuah perguruan tinggi ternama namun tidak punya rumah pribadi. Itulah Almarhum Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, mantan Rektor Universitas Islam Madinah, Arab Saudi. Bukan tak mampu membeli, melainkan karena sikap zuhudnya. Sebenarnya dari gaji yang diperolehnya Syaikh Abdul Aziz dapat membeli rumah pribadi yang layak. Namun selama hidupnya ia hanya mengambil uang seperlunya dari gajinya, sisanya digunakan untuk kepentingan ummat.

    Ia lebih memilih tinggal di rumah sewaan. Pernah Dr. Az-Zahrani, salah seorang teman sejawat Syaikh Abdul Aziz, berniat membeli rumah sewaan itu untuk dirinya. Namun Syaikh Abdul Aziz menolak. “Alihkan pemikiran dari masalah ini. Sibukkan diri dengan kebutuhan-kebutuhan ummat Islam,”Katanya. Hingga kemudian Raja Arab Saudi (King Faishal)’memaksa’ memberikan hadiah sebuah rumah besar. Akhirnya Syaikh Abdul Aziz menerima rumah tersebut, dengan catatan, kepemilikan rumah itu bukan atas nama dirinya. Ia menghendaki rumah itu sebagai rumah dinas. “Tulislah atas nama Rektor Universitas Madinah, sehinga jika nanti datang penggantiku dia bisa menempati rumah ini, “pintanya”.

    Ilmu Sepanjang Hayat.

    Nama lengkapnya Abdul Aziz bin Abdullah bin Abdurrahman bin Muhammad bin Abdullah bin Baaz. Beliau lahir di kota Riyadh, Arab Saudi pada bulan Dzulhijjah 1330 H (1909M). Sebagaimana tradisi para ulama besar, Syaikh Abdul Aziz menghabiskan masa kecilnya dan membangun fondasi keilmuannya dengan menghafal Al-Qur’an, Ilmu Hadits, Dll. Sebelum mencapai aqil baligh, ia sudah menuntaskan seluruh hafalannya. Dan Kemudian belajar ilmu Tajwid dan Tahsin kepada Al-Allamah Syaikhul Islam Sa’ad Waqash Al-Bukhari Rahimahullah Ta’ala di Kota Makkah.

    Setelah menyelesaikan hafalannya, Syaikh Abdul Aziz terus menuntut ilmu dari beberapa Ulama besar di Riyadh. Juga beliau berguru pada Ulama besar di Najd, seperti misalnya Al-Allamah Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Lathif bin Abdurrahman bin Hasan Allu’ Syaikh. Dari mana yang terakhir ini beliau paling banyak menimba berbagai disiplin ilmu Islam dan Sastra Arab.

    Bagi Syaikh Abdul Aziz, menuntut ilmu adalah proses yang berlangsung sepanjang hayat. Penipu, katanya, bila proses belajar itu berhenti hanya karena sudah lulus sebagai Santri/Siswa. Sikap seperti di atas memang melekat kuat pada diri Syaikh Abdul Aziz. Ilmunya sudah cukup mumpuni, namun ia terus-menerus menggali keilmuan. Padahal ia terhalang oleh keterbatasan indera penglihatan sejak umur 16 tahun. Waktu itu ia terserang penyakit mata. Makin hari sakitnya kian parah, hingga pada usia 20 tahun ia mengalami kebutaan total. Alhamdulillah kondisi tersebut tidak menghalanginya untuk terus mendalami berbagai disiplin ilmu seperti Tafsir, Hadits, Fiqh, Ilmu-Ilmu Ushul, Sastra, dan lain sebagainya. Beberapa karya besar telah dia hasilkan. Di antaranya Majmu’ Fatawa, Al-Fawa’id al-Jaliyyah Fil-Mabahits al-Fardiyah, Kaifiyah Shalat an-Nabi, Bayaanu Ma’na Laa Ilaaha Illallah, Al-Aqidah Ath-Thahawiyah, Fatawa An Nazhar Wal Khalwah Wal Ikhtilath, dan masih banyak lagi hasil karya besar Syaikh Abdul Aziz Ibnu Baaz.

    Karena kepakarannya, ia dipercaya menjadi Qadhi (penasehat) saat berumur 27 tahun (1936). Jabatan ini dipangku selama empat belas tahun. Pada tahun 1372 H/1951 M ia mendapat amanah mengajar di beberapa Ma’had Ilmiyah (semacam sekolah tinggi) di Riyadh. Amanah itu terus ditekuni hingga Universitas Islam Madinah didirikan. Syaikh Abdul Aziz ditunjuk sebagai Wakil Rektor, mendampingi Al-Allamah Syaikh Muhammad bin Ibrahim Allu’ Syaikh sebagai Rektornya.

    Komitmen kepada Al-Qur’an & Sunnah Rasul/Nabi menurut para Shahabat Rasullullah Shallallahu’Alaihi Wa Sallam.

    Syaikh Abdul Aziz sangat komitmen menjaga kemurnian Islam dengan menempatkan Firman Alloh Azza Wa Jalla dan Sabda Rasullullah Shallallahu’Alaihi Wa Sallam di atas perkataan & perbuatan siapapun. Banyak persoalan yang diulas oleh seseorang dengan menyebutkan “Menurut Madzhab ini begini. Menurut Madzhab itu begitu”. Bagi Syaikh Abdul Aziz, “Kami tidak berpendapat berdasarkan Taqlid (mengikuti) Madzhab ini dan Madzhab itu. Kami berpendapat berdasarkan Dalil dari Firman Allah Azza Wa Jalla (Al-Qur’an-Nya) dan Rasullullah Shallallahu’Alaihi Wa Sallam (Sunnah/Hadits-nya)”.

    Sebenarnya Syaikh Abdul Aziz tidak menafikan Madzhab. Namun ia tidak sepakat hanya berpegang kepada Madzhab dalam arti Taqlid. Jika mengikuti Madzhab, harus ada pedoman rujukkannya dari Al-Qur’an & As-Sunnah/Hadits, “ingat pula pesan beliau jangan mendepankan Aqli (pikiran) serta Ro’yu (Nafsu) tetapi haruslah sebagai umat Islam mendepankan segala sesuatu hal/cara dengan Dalil Al-Qur’an & Sunnah/Hadits yang Shahih minimal Hasan serta Harus mengikuti Manhaj/Pemahaman Para Shahabat Rasulullah Shallallahu’ Alaihi Wa Sallam yang di jamin Surga (Insya Alloh Ta’ala), itulah peganggan bagi seorang Muslim sejati dambaan Umat Agama Islam”. Ingat pula haruslah kita budayakan Ibadah & Taklim agar dapat memahami Ilmu Syari’at Agama Islam dengan benar yang di Ridhoi Dienullah (Agama Alloh Ta’ala) yaitu Agama Islam.

    Tidak suka di puji

    Mewarisi sifat Ulama besar, Syaikh Abdul Aziz adalah sosok yang menjauhi sanjungan dan pujian. Seorang Mahasiswa pernah menulis sebuah Qashidah yang berisi pujian kepadanya. Beberapa saat kemudian Fahd al-Bukran dari majalah Dakwah membacanya. Syaikh Abdul Aziz bertanya, “Apakah anda ingin memuatnya di majalah Dakwah?”. “Ya, jika anda Syaikh mengijinkannya,” Jawab Fahd. Seketika Syaikh Abdul Aziz menyatakan, “Tidak, tidak, tidak. Sobek saja, sobek saja”. Selanjutnya Fahd menceritakan, “kemudian Syaikh mengalihkan wajahnya ke arah lain. Kemudian beliau berkata sambil beristighfr dan mengucapkan, ‘La haula wa la quwwata illa billah, La haula wa la quwwata illa billah, La haula wa la quwwata illa billah, Dan wajah beliau berubah”.

    Pada tahun 1994M koran Madinah edisi ke-4 secara ekslusif ingin memuat profil pribadi Syaikh Abdul Aziz. Edisi itu telah disiapkan dan siap dicetak. Rupanya Syaikh Abdul Aziz tahu tentang rencana penerbitan edisi itu, sehingga ia segera bertindak mencegahnya. Syaikh Abdul Aziz beralasan, seorang hamba beramal dengan ikhlas dan menyembunyikan amalnya dari orang lain serta berharap Alloh Azza Wa Jalla menerima amalnya. Ia memang selalu berusaha menyembunyikan amalan baiknya. Hanya saja, Alloh Azza Wa Jalla menghendaki amalan-amalan itu tampak karena Alloh Azza Wa Jalla mengetahui kelurusan niat dan jihadnya yang sungguh-sungguh demi Al-Islam yang benar dan Dien (agama) yang lurus yang di Ridhoi Allah Ta’ala.

    Kuat Hafalan

    Di antara anugerah besar yang diberikan oleh Alloh Azza Wa Jalla kepada Syaikh Abdul Aziz adalah hafalan beliau yang kuat. Begitu kuatnya kemampuan hafalan Syaikh Abdul Aziz sehingga ia mampu mengingat topik suatu buku/kitab berada pada bab dan halaman berapa. Ia juga biasa melakukan koreksi terhadap suatu buku/kitab melalui hafalan saja. Al-Allamah Syaikh Syinqiti Rahimahullah Ta’ala adalah guru Syaikh Abdul Aziz yang pada saat itu hafalannya tidak tertandingi. Suatu saat, Syaikh Syinqiti membahas satu Hadits yang disebutkan Al-Imam Ibnul Katsir di dalam Kitab Tafsirnya. Hadist itu terdapat di dalam Sunan Abu Dawud. Syaikh Syinqiti berusaha mencarinya, namun tak kunjung menemukan hadits itu. Saat itulah Syaikh Abdul Aziz datang. Baru saja mengucapkn salam di sisi pintu dan belum sampai masuk, Syaikh Syinqiti langsung bertanya, “Wahai Syaikh Abdul Aziz, Al-Imam Ibnul Katsir mengatakan bahwa hadits ini ada di dalam Sunan Abu Dawud. Sejak Subuh saya mencarinya dan belum ketemu. Dimana hadits itu?”. Syaikh Abdul Aziz tangkas menjawab, “Hadits itu ada, di dalam kitab ini dan di halaman ini”. Setelah diperiksa, ternyata benar. Begitu banyak kemuliaan yang bersemayam di dalam diri Syaikh Abdul Aziz. Ia dikenal sebagai seorang yang sangat pemurah, dermawan, serta suka memberi nasihat. Sangat tahan dan sabar dalam berbuat ketaatan. Meski usianya sudah terbilang lanjut, gerak dan aktifitasnya masih tampak seperti orang muda. Semangat dan jiwanya memang selalu menyala-nyala seperti anak muda. Tetapi benar apa yang disabdakan oleh Rasullullah Muhammad Shallallahu’Alaihi Wa Sallam bahwa jika Allah Azza Wa Jalla hendak mencabut ilmu, maka tidak dicabutnya dari bumi, tetapi dengan memanggil para Ulama ke haribaan-Nya. Pada tahun 13 Mei 1999 M. Syaikh Abdul Aziz bin Baaz wafat. Semoga Alloh Ta’ala merahmatinya dan Keluarga Beliau.

    Dunia Islam abad ke-20 kehilangan salah satu mutiaranya. Semangat, perjuangan, dan karya warisan Syaikh Abdul Aziz akan menjadi peninggalan yang berharga bagi Ummat Islam. Sekian, Barakallahu’ Fiik (Semoga Alloh Ta’ala memberikan barokahnya kepada kalian), Wallahu’Allam bi Ash-Showab. Semoga Shalawat serta Salam kita haturkan kepada Rasullullah Shallallahu’Alaihi Wa Sallam, Keluarganya, para Shahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in, Para Ulama serta pengikutnya yang setia selalu mengikuti Bendera Hijbulloh (Partai Alloh Azza Wa Jalla) yaitu Al-Qur’an-Nya serta Rasul/Nabi yaitu Sunnah/Hadits-nya.

    Salam Taqdim, Bekasi, 23 Rajab 1425 Hijriah.

    Abu Hanifah Muhammad Faishal alBantani bin Shalih Abu Ramadhan

    Di sebarluaskan oleh: Markaz Dakwah Islamiyyah Yayasan Al-Qolam, Pengasinan, Rawalumbu, Bekasi Timur, Kota Bekasi

    Pesan:

    Ingat 5 sebelum 5 yakni:

    1). Kehidupanmu sebelum datang matimu

    2). Kesehatanmu sebelum datang sakitmu

    3). Waktu luangmu sebelum datang kesibukanmu

    4). Masa mudamu sebelum datang masa luangmu

    5). Kekayaanmu sebelum datang kemiskinanmu.

    Hadits dengan Sanad Shahih Riwayat Muslim.

  13. Biografi Ringkas

    Fadhilatul Ustadz Abdurrahman bin Abdil Karim at-Tamimi

    Oleh : Abu Salma al-Atsari ( http://www.abusalma.wordpress.com )

    Beliau adalah al-Ustadz Abdurrahman bin Abdul Karim at-Tamimi, Mudir (Direktur) Mahad Ali al-Irsyad as-Salafi Surabaya. Beliau lahir di kota Bangil – Pasuruan – Jawa Timur 27 Desember 1947.

    Di usia belia, ayahanda beliau mengirim beliau ke negeri Hadhramaut dengan harapan agar dapat menguasai Bahasa Arab. Semenjak duduk di bangku sekolah beliau gemar membaca buku, terutama buku-buku tentang sejarah Nabi. Buku tentang sejarah Nabi senantiasa beliau bawa dan baca di lingkungan sekolah. Maka jika beliau membawa sebuah buku dilingkungan sekolah, teman-teman beliau dengan mudah menebaknya itu adalah buku tentang sejarah Nabi. Hingga saat ini beliau mengajarkan buku tentang sejarah para salafus shalih dilingkungan murid-murid beliau.

    Beliau sangat menggemari buku-buku tentang sastra Arab dan buku-buku berbahasa Arab yang mempunyai gaya bahasa sastra Arab yang indah karya para pujangga/sastrawan Arab kenamaan.

    Beliau juga gemar menekuni buku-buku karya para ulama salaf terdahulu semisal Ibnu Taimiyyah dan muridnya Ibnul Qayyim. Beliau juga senang dengan buku-buku karya al-Imam al-Albani -semoga Allah meliputinya dengan rahmat-Nya- dan murid-muridnya yang setia, semisal Syaikh Ali Hasan al-Halabi, Syaikh Salim al-Hilali, Syaikh Masyhur bin Hasan Salman, Syaikh Musa Nashr dan lainnya. Demikian pula beliau senang dengan buku-buku karya syaikh al-Allaamah Ibnu Utsaimin dan Imam Ibnu Baz -semoga Allah meliputi mereka dengan rahmat-Nya- serta ulama ahlus sunnah lainnya.

    Awal kehidupan beliau, terutama ketika beliau mengambil pendidikan di Universitas Kairo bidang ekonomi Islam, beliau cukup aktif di dalam pergerakan Ikhwanul Muslimin dan mengenal banyak sekali tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin. Beliau seringkali berinteraksi dengan mereka hingga akhirnya Alloh melapangkan kebenaran atas beliau sehingga teranglah penyimpangan-penyimpangan pergerakan ini.

    Akhirnya beliau pun melepaskan diri dari pergerakan ini dan mulai berpegang dengan aqidah dan manhaj salaf. Beliau pun mulai melancarkan bantahan-bantahan ilmiah terhadap pergerakan Ikhwanul Muslimin. Beliau orang yang benar-benar mengenal dan mengetahui segala seluk beluk pergerakan IM ini dan intrik-intrik yang ada di dalamnya. Masalah ini bisa para pembaca dapatkan pada kaset ceramah beliau yang berbicara tentang Ikhwanul Muslimin. Al-Akh Andi Abu Thalib sendiri di dalam bukunya yang membantah “Al-Ikhwanul Muslimun Anugerah Yang Terzhalim” karya Farid Nu’man, banyak mengambil faidah dari rekaman kaset al-Ustadz dan al-Akh Andi juga mengatakan di pembukaan bukunya bahwa ia juga berkonsultasi dengan al-Ustadz di dalam beberapa masalah di bukunya.

    Pada tahun 1996 seiring dengan berdirinya Mahad Ali al-Irsyad beliau ditunjuk menjadi Mudir Mahad Ali al-Irsyad Surabaya. Dimana Mahad Ali al-Irsyad ini adalah salah satu dari “Benteng” kebaikan dan “Benteng” dakwah salafiyah yang terdapat di tanah air ini insya Aloh.

    Dikarenakan semenjak usia belia beliau sudah berada di negeri timur tengah, maka beliau cenderung lebih sulit menggunakan bahasa Indonesia dibandingkan dengan Bahasa Arab. Kosakata beliau di dalam Bahasa Indonesia sangat minim, namun di dalam Bahasa Arab, para penuntut ilmu dan bahkan ustadz-ustadz apabila menemukan suatu kata yang sulit atau ganjil, atau syair yang sulit difahami, mereka banyak bertanya kepada al-Ustadz hafizhahullahu.

    Al-Ustadz juga memiliki tsaqofah yang luas, beliau banyak mengetahui ‘urf (adat/budaya) suatu negeri, lahjah (dialek bicara) bahkan juga tokoh-tokoh di negeri timur tengah. Setiap kali kami mendapatkan nama seseorang yang merupakan tokoh pergerakan atau lainnya yang belum pernah kami dengar, beliau mengetahui orang tersebut, pemikiran dan sepak terjangnya.

    Beliau memiliki akhlaq yang karimah (mulia), tawadhu’, berhati lembut dan mudah memaafkan. Pernah suatu kali ada seseorang yang pernah menfitnah beliau dengan tuduhan-tuduhan dusta, yang menyebabkan orang-orang di sekitar beliau marah besar kepada si penuduh ini. Ketika Alloh memberikan hidayah kepada si penuduh ini dan ia merasa bersalah dan mau bertaubat, lantas ia datang kepada al-Ustadz dan meminta maaf kepadanya, ia mengakui kesalahan-kesalahannya sehingga menyebabkan al-Ustadz menangis tersedu-sedu dan langsung memaafkan si penuduh ini.

    Para Thullabatul ‘Ilmi banyak yang segan menghadapi al-Ustadz, dikarenakan beliau memiliki wibawa di hadapan murid-muridnya, bahkan juga di hadapan ustadz-ustadz lainnya. Beliau sering memberikan nasehat dan wejangan kepada murid-muridnya dan siapa saja yang minta nasehat kepada beliau, dan seringkali mereka yang diberi nasehat oleh beliau tidak kuasa menitikkan air mata.

    Pernah ada seorang tholib yang melakukan kesalahan, lalu dipanggil oleh al-Ustadz dan diberikan nasehat oleh beliau. Setelah itu, selama beberapa malam, tholib ini sering menangis, ketika ditanya oleh teman-temannya ia menceritakan bahwa ia masih teringat nasehat al-Ustadz yang menyebabkan ia terus menerus menangis karena menyesal dan merasa bersalah, dan ia termotivasi oleh nasehat al-Ustadz untuk tidak mengulangi kesalahannya.

    Tidak sedikit pula di dalam pengajian beliau yang membahas siirah, banyak para thullab dan peserta pengajian mencucurkan air matanya dikarenakan apa yang disampaikan ustadz benar-benar merasuk ke dalam sanubarinya. Walau al-Ustadz tidak begitu menguasai Bahasa Indonesia, namun disebabkan oleh intonasi dan gaya bicara beliau, kata-kata yang sulit dapat difahami oleh para peserta pengajian beliau.

    Al-Ustadz adalah orang yang sangat concern terhadap Bahasa Arab dan terus mengupayakan supaya ummat Islam ini bisa berbahasa Arab. Pernah suatu kali di dalam pengajian, al-Ustadz kesulitan mencari padanan terjemahan kata yang pas, akhirnya beliau berupaya mendeskripsikannya dan tidak jarang akhirnya pilihan kata yang beliau gunakan adalah bahasa jawa, karena beliau tidak mengetahui bahasa Indonesianya. Hal ini menyebabkan beberapa thullab merasa geli dan lucu dan mereka tertawa, Ustadz pun bertanya kepada thullab mengapa mereka tertawa, namun para thullab tidak ada yang menjawab. Setelah beberapa kali hal ini berulang, akhirnya al-Ustadz tahu bahwa mereka mentertawakan pilihan kata terjemahan yang tercampur bahasa jawa, beliau pun berkata –yang intinya- : “Ana orang Indonesia tapi ana tidak merasa malu tidak bisa berbahasa Indonesia. Ana tidak bisa berbahasa Indonesia tapi ana tidak merasa sedih dan kecewa, namun ana merasa sangat sedih sekali apabila ana tidak bisa berbahasa Arab. Antum sekarang ingin memahami kitab-kitab para ulama, memahami sunnah, memahami al-Qur’an, tidak bisa kalau tidak pake’ Bahasa Arab. Diantara bentuk ghozwul fikri kaum kuffar untuk menjauhkan umat Islam dari agamanya adalah mereka jauhkan umat ini dari Bahasa Arab, bahasanya Islam, bahasanya al-Qur’an, bahasanya Nabi yang mulia Shalallalhu ‘alaihi wa Salam…” lalu beliau menceritakan bahwa orientalis saja, yang bukan muslim, mereka menguasai sastera Arab. Profesor Bahasa Arab di Mesir yang banyak menjadi guru besar sastera kebanyakan adalah non muslim atau orang-orang liberalis didikan orientalis. Demikianlah kurang lebih apa yang beliau sampaikan, sehingga setelah itu tidak ada lagi para thullab yang tertawa ketika pengajian.

    Salah satu nasehat Ustadz Abdurrahman at-Tamimi kepada para duat salafiyyin dalam muqadimah Dauroh adalah : “Hal kedua yang saya ingin nasehatkan kepada saudara-saudaraku para dai adalah perhatian kepada bahasa Arab serta menguasainya dengan baik, karena bahasa Arab adalah pintu al-Qur’an, inti syariat serta kunci Islam. Disebutkan dalam atsar bahwa Umar bin Khattab seorang khalifah yang adil berkata :”Belajarlah bahasa Arab karena dia adalah bagian dari agama kalian“. Imam Ahmad bin Hambal berkata : “Apabila engkau ingin mengetahui kebaikan agama seorang ajam (selain Arab) maka lihatlah keseriusannya dalam belajar bahasa Arab“… Sesungguhnya saya menasehatkan saudara-saudaraku untuk memperhatikan bahasa Arab dan menguasainya dengan baik, karena tidak mungkin kita bisa paham agama kita kecuali dengan memahami bahasa Arab.”

    Beliau juga senantiasa menekankan kepada murid-muridnya untuk beraqidah dan bermanhaj dengan benar. Supaya menelaah kitab-kitab aqidah dan manhaj ahlus sunnah dengan mempelajari kitab-kitab aslinya dan jangan hanya mengandalkan buku-buku terjemahan, karena membaca buku bahasa Arab dengan terjemahan sangat beda jauh nuansa pemahaman yang diterima, dan bagi yang pernah membandingkannya akan mengetahui kebenaran apa yang diutarakan oleh al-Ustadz.

    Al-Ustadz pernah diUndang dan memberikan ceramah dalam Muktamar yang diadakan oleh Markaz al-Imam al-Albani Jordania pada tanggal 13-15 Jumadil Awwal 1425 H/1-3 Juli 2004 M. Beliau memberikan ceramah di hadapan masyaikh dan thullabatil ‘ilm dari seluruh penjuru dunia. Di sana beliau duduk dengan Syaikh DR. Muhammad al-Khumayis, Syaikh Hisyam al-‘Arifi dari Palestina dan ulama-ulama lainnya. Beliau juga bertemu dengan beberapa masyaikh yang mulia semisal Syaikh Jamil Zainu, Syaikh Walid Saif an-Nashir, dll yang mereka semua adalah murid-murid dari Imam al-Albani rahimahullahu.

    Pernah pada suatu kesempatan, saya (Abu Salma) sedang online di Paltalk kajian live dari Markaz Imam al-Albani. Lalu ada seorang ikhwan dari Palestina menyapa saya, dan saya berbincang-bincang sedikit dengannya seputar dakwah. Lalu saya bertanya pada beliau apakah beliau mengenal Syaikh Hisyam al-‘Arifi, lalu beliau mengatakan bahwa beliau adalah muridnya dan beliau sedang on-line di Maktabah (perpustakaan) dan Syaikh Hisyam beserta masyaikh lainnya tepat ada di belakangnya. Lalu ana minta supaya ia menyampaikan salam ana, ikhwan Indonesia. Tidak lama kemudian setelah ia menyampaikan salam, ia berkata kepada ana : “Syaikh Hisyam memberikan salam balik untuk antum, beliau juga bertanya, apakah antum kenal Syaikh Abu ‘Auf ‘Abdurrahman at-Tamimi?”. Tentu saja saya menjawab iya. Lalu, syaikh Hisyam pun maju dan meminta si ikhwan ini untuk mengetikkan salamnya kepada al-Ustadz Abu ‘Auf hafizhahullahu. Beliau mengatakan bahwa beliau kenal baik ketika bertemu di Amman Yordania waktu Muktamar Markaz Imam al-Albani.

    Pada kesempatan lain lagi, saya pernah on-line di paltalk bersama beberapa ikhwan di Maktabah Al-Irsyad, mengikuti kajian live dari Yordania. Waktu itu yang menjadi pembicara adalah Syaikh Abu Islam. Saya merasa asing dengan nama beliau. Lalu saya bertanya kepada moderator untuk bisa mengenal lebih jauh siapakah Syaikh Abu Islam ini namun belum dijawab-jawab, mungkin dikarenakan kesibukan. Kebetulan, tidak beberapa lama kemudian al-Ustadz Abdurrahman masuk ke Maktabah, dan sempat curious (penasaran) dengan apa yang kami lakukan. Lalu saya bertanya kepada beliau apakah beliau pernah mendengar Abu Islam. Lantas al-Ustadz pun menjawab bahwa beliau mengenalnya, beliau menceritakan bahwa Syaikh Abu Islam ini nama aslinya adalah Shalih Thaha, aslinya dari Mesir lalu hijrah ke Yordania dan belajar kepada Imam al-Albani. Jadi intinya beliau adalah salah satu murid Imam al-Albani. Al-Ustadz lalu berpesan supaya menyampaikan salamnya kepada Syaikh Abu Islam apabila memungkinkan.

    Setelah kajian selesai, si moderator menjawab salam saya. Kami pun melakukan sedikit pembicaraan. Lalu saya sampaikan salam al-Ustadz untuk syaikh Abu Islam, dan moderator pun menyampaikan, saat itu Syaikh Abu Islam masih berada di tempat kajian. Tidak berapa lama moderator kembali dan mengatakan bahwa Syaikh Abu Islam mengucapkan salam balik untuk Syaikh Abu ‘Auf. Beliau bergembira sekali dapat mendengar al-Ustadz Abu ‘Auf.

    Para murid al-Imam al-Albani di Markaz Imam al-Albani sering memuji al-Ustadz, dan memberi kepercayaan kepada al-Ustadz untuk mengawasi penerjemahan kitab-kitab karya mereka.

    Dalam kitab al-Iraq fi Ahadits wa atsaril fitan yang dihadiahkan syaikh Masyhur Hasan al-Salman kepada beliau, syaikh menuliskan kalimat “Hadiah untuk ustadz Abu Auf Abdurrahman at-Tamimi saudara yang memiliki keutamaan, semoga Allah menjaga dan memeliharanya, (saya) mengharapkan doa yang baik, dan koreksi bermanfaat (terhadap kitab ini)”.

    Demikian juga syaikh Ali Hasan al-Halabi dalam kitab beliau “ar-Radd al-Burhani” menuliskan suatu kalimat “kecintaan dan persaudaraan, kepada saudara al-Ustadz Abdurrahman at-Tamimi, semoga Allah menambah kepadanya petunjuk”.

    Bahkan dalam kitab beliau yang berjudul “al-Jumuh anil akhirah” syaikh Ali Hasan menuliskan nama beliau dalam kitabnya tersebut, syaikh menulis : “Telah sampai kepadaku – dan yang memberi petunjuk itu adalah Allah – kata-kata yang baik… Dan barangkali yang paling mengena (dalam hati) dari kata-kata yang aku baca adalah kata-kata al-Ustadz Abdurrahman at-Tamimi, saudara yang mempunyai keutamaan…“.

    Begitu pula syaikh Salim al-Hilali dan Syaikh Musa Nashr mereka memuji beliau, bahkan juga membela beliau dari tuduhan-tuduhan dusta dan fitnah orang-orang yang sakit hati karena dengki, iri dan hasad kepada al-Ustadz.

    Orang-0rang shalih, siapapun dia, pasti memiliki lawan dan musuh. Demikian pula dengan al-Ustadz, banyak sekali tuduhan dan fitnah dusta dialamatkan kepada beliau oleh orang-orang bodoh alias ar-Ruwaibidhah yang terbakar rasa dengki dan iri hati yang menyala-nyala, yang mengibarkan bendera haddadiyah hizbiyah yang membinasakan dan memporakporandakan dakwah salafiyah di tanah air.

    Para ruwaibidhah ini, tidak dikenal sedikitpun pada mereka adanya sikap ilmiah, mereka tidak memiliki tulisan melainkan hanyalah umpatan dan makian belaka. Mereka tidak dikenal akan bantahan ilmiah kepada dakwah hizbiyah yang memerangi dakwah salafiyah. Mereka diam seribu bahasa, namun mereka sibuk dengan du’at ahlis sunnah, mereka perangi dengan sebesar-besar peperangan, mereka tuduh dengan kedustaan, fitnah dan kekejian. Semoga Alloh membalas apa yang mereka lakukan dan semoga Alloh menjaga para du’at dan pengibar dakwah salafiyah mubarokah ini.

    Semoga Alloh menjaga al-Ustadz Abu ‘Auf ­hafizhahullahu, yang kami cintai pada kebenaran yang ada pada beliau, dan kami tidak mensucikan seorang pun di hadapan Alloh. Kami tuliskan biografi ini bukan atas dasar fanatik kepada beliau, karena alhamdulillah agama kami tidak dibangun di atas dasar fanatisme. Al-Ustadz seringkali menyatakan, bawah beliau dan du’at lainnya adalah manusia yang kadang salah dan kadang benar, maka apabila ada yang salah luruskanlah dengan cara yang baik. Apalagi beliau dan du’at lainnya adalah orang-orang yang dekat dengan ulama ahlis sunnah. Kami hanya menyampaikan apa yang benar, terutama setelah fitnah dan kedustaan menyerang kehormatan guru kami tanpa haq, al-Ustadz Abu ‘Auf at-Tamimi raghmun unufihi, agar umat mengetahui manakah yang –insya Alloh- adalah para pembela dakwah dan manakah yang perusak dakwah.

  14. aku sangat suka cerita ini, sangat sangat suka, i love islam forever

  15. Semoga amal baik beliau diterima dan diridloi oleh Allah, sementara bila ada keburukan atau kekhilafan yang beliau lakukan mendapat ampunan dan rahmat yang besar dari Allah swt. Amin amin ya robbal ‘alamien.

  16. Asalamualaikum .آَمِيّـٍـِـنْ… آَمِيّـٍـِـنْ يَآرَبْ آلٌعَآلَمِِيِن maha suci اَللّهُ dg segala firman’Nya.wasalamualikum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 284 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: