• Blog Stats

    • 41,446,916 hits
  • pacaran adalah perbuatan haram, maka janganlah berpacaran. Dan jangan mau jika diajak pacaran. Akan tetapi tempuhlah jalan yang halal jika memang benar-benar cinta dan ingin menikah. Segeralah menikah dan jangan berpacaran. ================================== dan janganlah kamu mendekati zina. sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk. [QS Al Isra':32] ==================================== JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA ====================================== Asy-Sya’bi berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah)
  • Artikel Terbaru

  • wasiat untuk seluruh umat islam

    ====================================== “Janganlah kamu saling dengki, saling membenci, saling mengintip rahasia, saling bersaing, saling mencari keburukan, saling menawar lebih tinggi untuk menipu pembeli sehingga menawar tinggi, saling memutuskan hubungan, saling bermusuhan, janganlah sebagian kalian menjual atas jualan yang lain. Jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang diperintahkan Allah. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh menganiaya, tidak boleh menelantarkannya dan tidak boleh menghinanya. ============================================= Taqwa ada di sini, taqwa ada di sini, taqwa ada di sini kata Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam sambil menunjuk dadanya. ================================================= Cukuplah merupakan kejelekan seseorang apabila menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain adalah haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. Hati-hatilah bersangka buruk, karena sesungguhnya bersangka buruk adalah omongan yang paling dusta. ==================================================== Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk kamu dan hartamu, tetapi ia melihat hati dan perbuatanmu.” (riwayat Muslim dan Bukhari). ==========================================
  • BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR

    BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- -------------------------------------------------------------------------------------------- Orang yang mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi janda dan orang miskin ibarat berjihad di jalan Allah dan ibarat orang shalat malam (HR. Bukhari) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain. (HR. Ahmad) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersodaqoh dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana. (HR. Ath-Thabrani) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sodaqoh. (HR. Al-Baihaqi) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Tiap-tiap amalan makruf (kebajikan) adalah sodaqoh. Sesungguhnya di antara amalan makruf ialah berjumpa kawan dengan wajah ceria (senyum) dan mengurangi isi embermu untuk diisikan ke mangkuk kawanmu. (HR. Ahmad) ------------------------------------------------------------------------------------------------------------
  • berbuat baiklah pada semua binatang, termasuk kepada anjing

    Kita tidak diperbolehkan menyiksa binatang dengan cara apa pun, atau membuatnya kelaparan, memukulinya, membebaninya dengan sesuatu yang ia tidak mampu, menyiksa atau membakarnnya. --------------------------------------------------- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Seorang wanita masuk neraka karena seekor kucing yang ia kurung hingga mati. Maka dari itu ia masuk neraka gara-gara kucing tersebut disebabkan dia tidak memberinya makan dan tidak pula memberinya minum di saat mengurung nya, dan dia tidak membiarkannya (melepaskannya) supaya memakan serangga di bumi.” (HR. al-Bukhari) ------------------------------------------------------- Dan ketika beliau melewati sarang semut yang telah dibakar, beliau bersabda, “Sesungguhnya tidak ada yang berhak menyiksa dengan api selain Rabb (Tuhan) pemilik api.” (HR. Abu Dawud, hadits shahih) ---------------------------------------------- “Barangsiapa yang tidak berbelas kasih niscaya tidak akan dibelaskasihi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) ------------------------------------------------- “Kasihanilah siapa saja yang ada di bumi ini, niscaya kalian akan dikasihani oleh yang ada di langit.” (HR. at-Tirmidzi) -------------------------------------------------- Dibolehkan membunuh hewan-hewan yang membahayakan atau mengganggu seperti anjing buas, serigala, ular, kalajengking, tikus dan lain-lain karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Ada lima macam hewan fasik (buruk) yang boleh dibunuh di waktu halal (tidak ihram) dan di waktu ihram, yaitu ular, burung gagak yang putih punggung dan perutnya, tikus, anjing buas, dan rajawali.” (HR. Muslim). Juga terdapat hadits shahih yang membolehkan untuk membunuh kalajengking. ================================================
  • JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA

    ====================================== ‘Amr bin Syarahil Asy-Sya’bi rahimahullahu berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah, 2/636. Dihasankan oleh Al-Albani dalam At-Tahrim, hal. 148) ----------------------------------------------------------------------------- Ibnu Abdil Barr rahimahullahu berkata: “Termasuk hasil usaha yang disepakati keharamannya adalah riba, upah para pelacur, sogokan (suap), mengambil upah atas meratapi (mayit), nyanyian, perdukunan, mengaku mengetahui perkara gaib dan berita langit, hasil seruling dan segala permainan batil.” (Al-Kafi hal. 191) ---------------------------------------------------------------------- Ath-Thabari rahimahullahu berkata: “Telah sepakat para ulama di berbagai negeri tentang dibenci dan terlarangnya nyanyian.” (Tafsir Al-Qurthubi, 14/56) ------------------------------------------------------------------- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “Mazhab empat imam menyatakan bahwa alat-alat musik semuanya haram.” Lalu beliau menyebutkan hadits riwayat Al-Bukhari rahimahullahu . (Majmu’ Fatawa, 11/576) --------------------------------------------------------------- ------------------------------------------
  • wasiat bagi para pemuda

    ====================================== ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Barangsiapa di antara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya mereka adalah ummat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, dan paling lurus petunjuknya, serta paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya, karena mereka berada di jalan yang lurus.” [Dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Baar dalam kitabnya Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih II/947 no. 1810, tahqiq Abul Asybal Samir az-Zuhairy] ======================================
  • wasiat Imam al-Auza’i

    ====================================== Imam al-Auza’i rahimahullah (wafat th. 157 H) mengatakan: “Bersabarlah dirimu di atas Sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para Shahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan Salafush Shalih, karena akan mencukupi kamu apa saja yang mencukupi mereka.” [Syarh Ushul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah 1/174 no. 315] --------------------------------------------------------------- Beliau rahimahullah juga berkata: “Hendaklah kamu berpegang kepada atsar Salafush Shalih meskipun orang-orang menolaknya dan jauhkanlah diri kamu dari pendapat orang meskipun ia hiasi pendapatnya dengan perkataannya yang indah.” [Imam al-Aajury dalam as-Syari’ah I/445 no. 127, di-shahih-kan oleh al-Albany dalam Mukhtashar al-‘Uluw lil Imam adz-Dzahaby hal. 138, Siyar A’laam an-Nubalaa’ VII/120] =================================================
  • Mengutip perkataan Syaikh Bin Baz rahimahullaahu

    “Zaman ini adalah zaman kelembutan, kesabaran dan hikmah, bukanlah zaman kekerasan (kebengisan). Mayoritas manusia saat ini dalam keadaan jahil (bodoh), lalai dan lebih mementingkan duniawiyah. Maka haruslah sabar dan lemah lembut sampai dakwah ini tersampaikan dan sampai mereka mengetahuinya. Kami mohon petunjuk kepada Alloh untuk semuanya.” (Majmu’ Fatawa Samahatul Imam Ibnu Bazz (Juz VIII, hal 376) dan (Juz X, hal. 91) =================================================
  • jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara

    ====================================== Segala puji hanyalah milik Alloh yang telah mempertautkan hati kaum mukminin dan menganjurkan mereka supaya bersatu padu dan saling berhimpun serta memperingatkan dari perpecahan dan perselisihan. -------------------------------------------------------- Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq untuk disembah melainkan hanyalah Alloh semata yang tidak memiliki sekutu. Dialah yang mensyariatkan dan memudahkan, dan Dia terhadap kaum mukminin adalah sangat penyantun. ------------------------------------------------------ Saya juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang diperintahkan dengan kemudahan dan berita gembira. ----------------------------------------------------- Beliau bersabda : Permudahlah dan janganlah kamu persulit, berikanlah kabar gembira dan janganlah membuat orang lari (dari kebenaran). ------------------------------------------------------ Permisalan kaum mukminin satu dengan lainnya dalam hal kasih sayang, tolong menolong dan kecintaan, bagaikan tubuh yang satu, jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan merasa demam atau terjaga” --------------------------------------------------- Tidak ragu lagi, bahwa kewajiban Ahlus Sunnah di setiap zaman dan tempat adalah saling bersatu dan menyayangi di antara mereka serta saling bekerja sama di dalam kebajikan dan ketakwaan… ==================================================---------------
  • KHUTBATUL HAJAH

    ====================================== Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, dan meminta ampun kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami, dan dari keburukan-keburukan perbuatan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah saja, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. ================================================ “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” ================================================== “Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan darinya Allah menciptakan isterinya; dan dari keduanya Allah mengembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silatur rahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” ========================================================= “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mena’ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. ============================================================ Amma ba’du; Maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad , dan seburuk-buruk perkara dalam agama adalah yang di ada-adakan, setiap yang diada-adakan (dalam urusan agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan. (HR. Muslim, an-Nasa’i dan selain keduanya) ==================================================
  • mengutip perkataan Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad hafizhahullaahu:

    “Telah terjadi di zaman ini, sibuknya sebagian ahlus sunnah dengan sebagian lainnya dengan tajrih (saling mencela) dan tahdzir, dan implikasi dari hal ini menyebabkan terjadinya perpecahan, perselisihan dan saling mengisolir. Padahal sepantasnya bahkan seharusnya bagi mereka untuk saling mencintai dan berkasih sayang terhadap sesama mereka, dan menyatukan barisan mereka di dalam menghadapi ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu yang menyelisihi ahlus sunnah wal jama’ah. ---------------------------------------------------- “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- agar menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dari perkara-perkara yang tidak bermanfaat bagi mereka, sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “diantara kebaikan seorang muslim adalah meninggalkan hal-hal yang tidak berfaidah baginya.” Hadits hasan diriwayatkan oleh Turmudzi.” ------------------------------------------------------ “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- untuk bersikap pertengahan dan moderat, diantara sikap ghuluw (ekstrim) dan meremehkan, dan diantara sikap ifrath (berlebih-lebihan) dan tafrith (menggampangkan). Sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “Jauhilah oleh kalian sikap ghuluw di dalam agama, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa dikarenakan sikap ghuluw mereka di dalam agama.” Ini hadits shahih, dikeluarkan oleh an-Nasa’i dan selainnya.” ---------------------------------------------------- “Dan aku nasehatkan supaya mereka berhati-hati dari sikap zhalim, dikarenakan hadits Qudsi, “Wahai hamba-Ku, sesunguhnya Aku haramkan kezhaliman atas diri-Ku, maka aku jadikan pula haram atas diri kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi” diriwayatkan oleh Muslim, dan hadits Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “takutlah kalian dari kezhaliman, karena sesungguhnya kezhaliman itu adalah kegelapan di hari kiamat” diriwayatkan oleh Muslim. ------------------------------------------------------ Aku memohon kepada Allah Azza wa Jalla untuk menunjuki seluruh ummat kepada apa yang diridhai-Nya, agar mereka mendalami agama Islam (tafaqquh fid din) dan menetapi kebenaran, serta agar mereka menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dan menjauhkan dari apa-apa yang tidak bermanfaat. Sesungguhnya Ia berkuasa dan berkemampuan atasnya. Semoga Sholawat dan Salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya dan para sahabatnya. (selesai kutipan) ===========================================
  • mengutip perkataan Imam Albani rahimahullaahu

    “Wajib atas kita untuk berlemah lembut di dalam dakwah kita terhadap orang-orang yang menyelisihi kita, dan jadikan selalu firman Alloh Ta’ala berikut (sebagai pegangan) dan untuk selamanya : “Serulah mereka ke jalan Rabb-mu dengan hikmah dan nasehat yang baik, serta berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.” Dan mereka yang pertama lebih berhak untuk kita terapkan hikmah ini adalah mereka yang paling memusuhi kita di dalam dasar (mabda’) dan aqidah kita, hingga kita tidak menggabungkan antara beratnya dakwah yang haq yang Alloh memperteguh kita dengannya dengan beratnya cara (ushlub) kita berdakwah kepada Alloh Azza wa Jalla” ==================================================
  • Diriwayatkan bahwa Hasan Al-banna berkata: “Kami menginginkan terbentuknya sosok individu muslim, rumah tangga Islami, bangsa yang Islami, pemerintahan yang Islami, negara yang dipimpin oleh negara-negara Islam, menyatukan perpecahan kaum muslimin dan negara mereka yang terampas, kemudian membawa bendera jihad dan da’wah kepada Allah sehingga dunia mendapatkan ketentraman dengan ajaran-ajaran Islam.” ==================================================
  • warning

    dalam blog ini mungkin terdapat hadits dhoif, riwayat yang tidak valid, salah tulis, kutipan yg tidak sesuai syariat islam, dan berbagai kesalahan2 lain, dan belum sempat di sensor, jadi mohon maaf sebesar-besarnya

Adab Berinteraksi dengan Harta

Dari Yusuf bin Mahik al-Makki, dia berkata,

كُنْتُ أَكْتُبُ لِفُلاَنٍ نَفَقَةَ أَيْتَامٍ كَانَ وَلِيَّهُمْ فَغَالَطُوهُ بِأَلْفِ دِرْهَمٍ فَأَدَّاهَا إِلَيْهِمْ فَأَدْرَكْتُ لَهُمْ مِنْ مَالِهِمْ مِثْلَيْهَا. قَالَ قُلْتُ أَقْبِضُ الأَلْفَ الَّذِى ذَهَبُوا بِهِ مِنْكَ قَالَ لاَ حَدَّثَنِى أَبِى أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « أَدِّ الأَمَانَةَ إِلَى مَنِ ائْتَمَنَكَ وَلاَ تَخُنْ مَنْ خَانَكَ

“Saya mewasiatkan sebagian nafkah para anak yatim kepada fulan yang merupakan wali mereka. Namun, mereka memperdaya fulan sebanyak 1000 dirham (dari harta tersebut). Fulan pun (percaya) dan menunaikan tuntutan mereka tersebut. Ternyata, saya menjumpai bahwa harta mereka berjumlah dua kali lipat dari nafkah yang diserahkan tersebut. Saya pun berkata kepada fulan, “Apakah saya ambil saja 1000 dirham yang mereka ambil darimu?” Fulan menjawab, “Jangan! Ayahku memberitakan kepadaku bahwa dia mendengar rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tunaikanlah amanah yang dipercayakan orang kepadamu dan janganlah engkau membalas orang yang mengkhianatimu!“[1]

(Perhatikanlah atsar di atas!) Orang tersebut tidak ingin mengambil haknya dari harta tersebut, meskipun saudaranya telah mengambil sebagian haknya. Faktor yang mendorong tindakannya itu adalah karena saudaranya telah mengamanahi harta mereka kepada diri fulan. Maka, dia tidak ingin mengkhianati mereka dan justru dia menunaikan harta tersebut kepada mereka tanpa kekurangan sedikit pun!

Di dalam kisah ini terdapat penjelasan yang mengagumkan mengenai gambaran interaksi dan kejujuran para salaf terhadap hadits-hadits rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Meski, hal itu membawa mereka untuk merelakan sebagian kegemaran jiwa yang disukai seperti harta.

Jika seandainya kaum muslimin, pada hari ini mampu menerapkan akhlak ini, yaitu menunaikan amanah dan menjaga hak-hak orang lain, maka hal tersebut akan menjadi salah satu faktor terbesar bagi mereka untuk memberikan hidayah kepada manusia untuk memeluk Islam. Hal ini dikarenakan, orang-orang kafir sangat mencintai harta. Bahkan, mereka tidak memiliki cita-cita di dalam kehidupan ini selain mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, karena mereka hidup untuk memenuhi keinginan perut dan kemaluan saja.

Jika mereka, -orang-orang kafir-, menjumpai kaum muslimin berinteraksi dengan akhlak yang telah disebutkan tadi, maka anda dapat melihat keajaiban, yaitu mereka akan masuk ke dalam Islam secara berbondong-bondong. Bahkan, akhlak ini juga akan mempengaruhi kaum muslimin yang lemah iman, karena mereka umumnya sangat cepat terpengaruh dengan mu’amalah (interaksi) harta yang jujur. Oleh karena itu, kaum kafir Quraisy, -meski mereka kafir dan sombong-, mereka tetap mempercayai Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan menitipkan barang-barang mereka kepada beliau, karena tahu akan akhlak beliau yang agung.

Tatkala orang-orang kafir mengusir nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Mekkah, jiwa beliau tidak tenang jika harta mereka masih berada di tangan. Namun, beliau juga tidak mampu untuk mengembalikan barang-barang tersebut kepada pemiliknya, karena khawatir terbunuh ketika kaum kafir Quraisy hendak menumpahkan darah beliau. Maka, Ali pun ditugaskan mengganti beliau untuk menunaikan hal tersebut.

Hal ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra (6/289) dalam riwayat yang menceritakan hijrah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Abd ar-Rahman bin ‘Uwaim bin Sa’adah. Dia berkata, “Orang-orang dari kaumku menceritakan dari para sahabat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, -kemudian Abd ar-Rahman menceritakan hadits keluarnya nabi untuk berhijrah-, di dalam hadits tersebut disebutkan, “…maka nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun keluar berhijrah, sementara ‘Ali menggantikan beliau (tinggal di rumah) selama tiga hari tiga malam. (Selama waktu tersebut) ‘Ali mengembalikan barang-barang yang dititipkan kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan setelah selesai dia pun menyusul rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[2]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap berakhlak yang baik terhadap orang kafir. Padahal merekalah yang mengeluarkan beliau dari negeri kelahiran beliau, negeri terbaik. Mereka pulalah yang menyakiti beliau, nabi yang terbaik, dengan berbagai tindakan yang membahayakan. Mereka hendak memenjarakan, membunuh, dan mengusir beliau. Allah ta’ala berfirman,

وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah Sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. Al-Anfaal: 30).

Meskipun perlakuan kepada diri beliau sedemikian rupa, nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berniat untuk merampas barang mereka yang dititipkan kepada beliau. Tidak pula beliau berkata, “Saya akan mengambil sebagian harta tersebut sekedar mencukupi kebutuhan perjalananku nanti, karena merekalah yang menyebabkan diriku terusir dari negeriku” . Padahal, saat itu, beliau sangat membutuhkan harta. Beliau terusir dari negerinya dalam keadaan tidak memiliki harta sedikitpun untuk membekali perjalanannya. Jika, sekiranya Abu Bakr radhiallahu ‘anhu tidak berinfak kepada beliau, tentulah beliau tidak akan memiliki kendaraan untuk ditunggangi. Begitupula, tatkala mengembalikan harta titipan tersebut, beliau tidak memperoleh imbal jasa dari kaum kafir tersebut. Hal ini dikarenakan beliau hendak merealisasikan akhlak mulia yang telah dinyatakan Allah dalam firman-Nya,

وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ

“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.” (QS. Al-Mukminun: 8).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan pribadi yang benar-benar menunaikan amanah. Beliau tetap menunaikannya, meski kepada musuh beliau. Adapun saat ini, terdapat sekelompok orang yang memperdaya syari’at dengan mengatasnamakan jihad. Mereka hendak menipu kaum muslimin. Pembicaraan mereka besar, mengenai berhukum dengan apa yang diturunkan Allah, membunuh musuh kaum muslimin, memerangi Yahudi dan kaum sekuler. Mereka menjelaskan pemikiran mereka tersebut dan menyebarkannya dengan (berbagai tindakan yang didanai) dari hasil merampas harta kaum muslimin. Kemudian mereka pergi ke negeri-negeri kafir, menghalalkan segala sesuatu yang dirampas oleh tangan mereka, sehingga mereka pun hidup di negara-negara tersebut dengan tindakan merampas dan mencuri dengan alasan barang-barang yang dirampas tersebut adalah fai!

Harta fai merupakan salah satu jenis ghanimah yang diperoleh dari negeri kafir yang diperangi (dar al-harb) tanpa melalui jalan peperangan. Bukan diperoleh ketika bertamasya dan bermukim di negara Eropa dengan cara yang licik! Apakah pencurian yang mereka lakukan ini termasuk implementasi hukum yang diturunkan oleh Allah?!

Mereka telah mencoreng citra Islam, sehingga di benak sebagian besar orang kafir terdapat persepsi bahwa Islam memiliki hubungan yang erat dengan tindakan pencurian. Saya mengetahui fenomena ini dari seorang yang menghubungiku via telepon dan juga dari orang yang saya temui langsung. Sebagian dari mereka berkata, “Di negara kami terdapat sekelompok orang yang secara lahiriah nampak shalih. Mereka memasuki pasar dan mengambil berbagai barang yang mereka inginkan tanpa dibayar. Apabila dikatakan kepada mereka, “Ada apa dengan kalian?! Bukankah pencurian diharamkan dalam agama kalian?! Serta merta mereka menjawab, “Barang ini merupakan harta ghanimah yang dianugerahkan Allah kepada kami!!

Patut diketahui, bahwa harta fai adalah ghanimah yang diperoleh sekelompok tentara dari musuhnya yang asalnya terjadi peperangan di antara mereka. Maksudnya, kaum muslimin masuk ke daerah musuh, sedang musuh dalam keadaan menyerah dan menyerahkan diri dan harta mereka kepada kaum muslimin. Dengan demikian, harta tersebut menjadi ghanimah bagi kaum muslimin.

Adapun sekelompok orang tadi, mereka masuk ke negeri kafir dalam keadaaan ridha dan berdamai. Bahkan, mereka masuk ke negeri tersebut dengan keadaan hina dan tunduk kepada orang-orang kafir tersebut. Mereka tidak mampu untuk hidup melainkan dengan mengandalkan berbagai sumbangan orang kafir yang diberikan kepada mereka. Karena, pada umumnya, orang-orang tersebut mendiami tempat-tempat yang dihuni para pencari suaka politik. Kemudian (dengan itu semua) mereka tidak merasa terbebani dengan tindakan mereka yang memakan harta manusia dengan cara yang batil.

Akhirnya, mereka pun membuat murka Allah dan manusia pun membenci mereka. Mereka tidak memperhatikan bahwa tidak ada tindakan, semisal yang dilakukan mereka tersebut, yang sangat mencoreng wajah Islam dan telah menghalangi manusia dari jalan kebenaran! Demikianlah, jika jihad dipahami dengan pemahaman yang menyimpang, padahal suri tauladan kaum muslimin dan pemimpin para mujahid shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap mengembalikan harta titipan para musuhnya yang telah memancangkan permusuhan dengan terang-terangan kepada beliau sebagaimana telah digambarkan tadi. Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?

Wallahu al-Muwaffiq. Wa shallallahu ‘ala Muhammad wa akhiru da’wana al-hamd lillahi rabbil ‘alamin. [3]

Cibeber, 8 Rabi’ al-Awwal/21 Februari 2010.

Risalah Syaikh Abd al-Malik bin Ahmad ar-Ramadhani

Penerjemah: Muhammad Nur Ichwan Muslim

Artikel http://www.muslim.or.id
[1] Shahih. HR. Abu Dawud nomor 3534. Diabsahkan oleh imam al-Albani dalam Misykah al-Mashabih no. 2934 dan ash-Shahihah no. 423.

[2] Hadits Ini dihasankan oleh al-Albani dalam al-Irwa nomor hadits 1546.

[3] Artikel ini diterjemahkan dari kitab al-Mau’izhah al-Hasanah fi al-Akhlaq al-Hasanah karya Syaikh Abd al-Malik ar-Ramadhani.

%d blogger menyukai ini: