• Blog Stats

    • 41,452,392 hits
  • pacaran adalah perbuatan haram, maka janganlah berpacaran. Dan jangan mau jika diajak pacaran. Akan tetapi tempuhlah jalan yang halal jika memang benar-benar cinta dan ingin menikah. Segeralah menikah dan jangan berpacaran. ================================== dan janganlah kamu mendekati zina. sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk. [QS Al Isra':32] ==================================== JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA ====================================== Asy-Sya’bi berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah)
  • Artikel Terbaru

  • wasiat untuk seluruh umat islam

    ====================================== “Janganlah kamu saling dengki, saling membenci, saling mengintip rahasia, saling bersaing, saling mencari keburukan, saling menawar lebih tinggi untuk menipu pembeli sehingga menawar tinggi, saling memutuskan hubungan, saling bermusuhan, janganlah sebagian kalian menjual atas jualan yang lain. Jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang diperintahkan Allah. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh menganiaya, tidak boleh menelantarkannya dan tidak boleh menghinanya. ============================================= Taqwa ada di sini, taqwa ada di sini, taqwa ada di sini kata Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam sambil menunjuk dadanya. ================================================= Cukuplah merupakan kejelekan seseorang apabila menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain adalah haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. Hati-hatilah bersangka buruk, karena sesungguhnya bersangka buruk adalah omongan yang paling dusta. ==================================================== Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk kamu dan hartamu, tetapi ia melihat hati dan perbuatanmu.” (riwayat Muslim dan Bukhari). ==========================================
  • BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR

    BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- -------------------------------------------------------------------------------------------- Orang yang mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi janda dan orang miskin ibarat berjihad di jalan Allah dan ibarat orang shalat malam (HR. Bukhari) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain. (HR. Ahmad) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersodaqoh dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana. (HR. Ath-Thabrani) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sodaqoh. (HR. Al-Baihaqi) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Tiap-tiap amalan makruf (kebajikan) adalah sodaqoh. Sesungguhnya di antara amalan makruf ialah berjumpa kawan dengan wajah ceria (senyum) dan mengurangi isi embermu untuk diisikan ke mangkuk kawanmu. (HR. Ahmad) ------------------------------------------------------------------------------------------------------------
  • berbuat baiklah pada semua binatang, termasuk kepada anjing

    Kita tidak diperbolehkan menyiksa binatang dengan cara apa pun, atau membuatnya kelaparan, memukulinya, membebaninya dengan sesuatu yang ia tidak mampu, menyiksa atau membakarnnya. --------------------------------------------------- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Seorang wanita masuk neraka karena seekor kucing yang ia kurung hingga mati. Maka dari itu ia masuk neraka gara-gara kucing tersebut disebabkan dia tidak memberinya makan dan tidak pula memberinya minum di saat mengurung nya, dan dia tidak membiarkannya (melepaskannya) supaya memakan serangga di bumi.” (HR. al-Bukhari) ------------------------------------------------------- Dan ketika beliau melewati sarang semut yang telah dibakar, beliau bersabda, “Sesungguhnya tidak ada yang berhak menyiksa dengan api selain Rabb (Tuhan) pemilik api.” (HR. Abu Dawud, hadits shahih) ---------------------------------------------- “Barangsiapa yang tidak berbelas kasih niscaya tidak akan dibelaskasihi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) ------------------------------------------------- “Kasihanilah siapa saja yang ada di bumi ini, niscaya kalian akan dikasihani oleh yang ada di langit.” (HR. at-Tirmidzi) -------------------------------------------------- Dibolehkan membunuh hewan-hewan yang membahayakan atau mengganggu seperti anjing buas, serigala, ular, kalajengking, tikus dan lain-lain karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Ada lima macam hewan fasik (buruk) yang boleh dibunuh di waktu halal (tidak ihram) dan di waktu ihram, yaitu ular, burung gagak yang putih punggung dan perutnya, tikus, anjing buas, dan rajawali.” (HR. Muslim). Juga terdapat hadits shahih yang membolehkan untuk membunuh kalajengking. ================================================
  • JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA

    ====================================== ‘Amr bin Syarahil Asy-Sya’bi rahimahullahu berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah, 2/636. Dihasankan oleh Al-Albani dalam At-Tahrim, hal. 148) ----------------------------------------------------------------------------- Ibnu Abdil Barr rahimahullahu berkata: “Termasuk hasil usaha yang disepakati keharamannya adalah riba, upah para pelacur, sogokan (suap), mengambil upah atas meratapi (mayit), nyanyian, perdukunan, mengaku mengetahui perkara gaib dan berita langit, hasil seruling dan segala permainan batil.” (Al-Kafi hal. 191) ---------------------------------------------------------------------- Ath-Thabari rahimahullahu berkata: “Telah sepakat para ulama di berbagai negeri tentang dibenci dan terlarangnya nyanyian.” (Tafsir Al-Qurthubi, 14/56) ------------------------------------------------------------------- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “Mazhab empat imam menyatakan bahwa alat-alat musik semuanya haram.” Lalu beliau menyebutkan hadits riwayat Al-Bukhari rahimahullahu . (Majmu’ Fatawa, 11/576) --------------------------------------------------------------- ------------------------------------------
  • wasiat bagi para pemuda

    ====================================== ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Barangsiapa di antara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya mereka adalah ummat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, dan paling lurus petunjuknya, serta paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya, karena mereka berada di jalan yang lurus.” [Dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Baar dalam kitabnya Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih II/947 no. 1810, tahqiq Abul Asybal Samir az-Zuhairy] ======================================
  • wasiat Imam al-Auza’i

    ====================================== Imam al-Auza’i rahimahullah (wafat th. 157 H) mengatakan: “Bersabarlah dirimu di atas Sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para Shahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan Salafush Shalih, karena akan mencukupi kamu apa saja yang mencukupi mereka.” [Syarh Ushul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah 1/174 no. 315] --------------------------------------------------------------- Beliau rahimahullah juga berkata: “Hendaklah kamu berpegang kepada atsar Salafush Shalih meskipun orang-orang menolaknya dan jauhkanlah diri kamu dari pendapat orang meskipun ia hiasi pendapatnya dengan perkataannya yang indah.” [Imam al-Aajury dalam as-Syari’ah I/445 no. 127, di-shahih-kan oleh al-Albany dalam Mukhtashar al-‘Uluw lil Imam adz-Dzahaby hal. 138, Siyar A’laam an-Nubalaa’ VII/120] =================================================
  • Mengutip perkataan Syaikh Bin Baz rahimahullaahu

    “Zaman ini adalah zaman kelembutan, kesabaran dan hikmah, bukanlah zaman kekerasan (kebengisan). Mayoritas manusia saat ini dalam keadaan jahil (bodoh), lalai dan lebih mementingkan duniawiyah. Maka haruslah sabar dan lemah lembut sampai dakwah ini tersampaikan dan sampai mereka mengetahuinya. Kami mohon petunjuk kepada Alloh untuk semuanya.” (Majmu’ Fatawa Samahatul Imam Ibnu Bazz (Juz VIII, hal 376) dan (Juz X, hal. 91) =================================================
  • jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara

    ====================================== Segala puji hanyalah milik Alloh yang telah mempertautkan hati kaum mukminin dan menganjurkan mereka supaya bersatu padu dan saling berhimpun serta memperingatkan dari perpecahan dan perselisihan. -------------------------------------------------------- Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq untuk disembah melainkan hanyalah Alloh semata yang tidak memiliki sekutu. Dialah yang mensyariatkan dan memudahkan, dan Dia terhadap kaum mukminin adalah sangat penyantun. ------------------------------------------------------ Saya juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang diperintahkan dengan kemudahan dan berita gembira. ----------------------------------------------------- Beliau bersabda : Permudahlah dan janganlah kamu persulit, berikanlah kabar gembira dan janganlah membuat orang lari (dari kebenaran). ------------------------------------------------------ Permisalan kaum mukminin satu dengan lainnya dalam hal kasih sayang, tolong menolong dan kecintaan, bagaikan tubuh yang satu, jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan merasa demam atau terjaga” --------------------------------------------------- Tidak ragu lagi, bahwa kewajiban Ahlus Sunnah di setiap zaman dan tempat adalah saling bersatu dan menyayangi di antara mereka serta saling bekerja sama di dalam kebajikan dan ketakwaan… ==================================================---------------
  • KHUTBATUL HAJAH

    ====================================== Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, dan meminta ampun kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami, dan dari keburukan-keburukan perbuatan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah saja, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. ================================================ “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” ================================================== “Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan darinya Allah menciptakan isterinya; dan dari keduanya Allah mengembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silatur rahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” ========================================================= “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mena’ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. ============================================================ Amma ba’du; Maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad , dan seburuk-buruk perkara dalam agama adalah yang di ada-adakan, setiap yang diada-adakan (dalam urusan agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan. (HR. Muslim, an-Nasa’i dan selain keduanya) ==================================================
  • mengutip perkataan Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad hafizhahullaahu:

    “Telah terjadi di zaman ini, sibuknya sebagian ahlus sunnah dengan sebagian lainnya dengan tajrih (saling mencela) dan tahdzir, dan implikasi dari hal ini menyebabkan terjadinya perpecahan, perselisihan dan saling mengisolir. Padahal sepantasnya bahkan seharusnya bagi mereka untuk saling mencintai dan berkasih sayang terhadap sesama mereka, dan menyatukan barisan mereka di dalam menghadapi ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu yang menyelisihi ahlus sunnah wal jama’ah. ---------------------------------------------------- “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- agar menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dari perkara-perkara yang tidak bermanfaat bagi mereka, sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “diantara kebaikan seorang muslim adalah meninggalkan hal-hal yang tidak berfaidah baginya.” Hadits hasan diriwayatkan oleh Turmudzi.” ------------------------------------------------------ “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- untuk bersikap pertengahan dan moderat, diantara sikap ghuluw (ekstrim) dan meremehkan, dan diantara sikap ifrath (berlebih-lebihan) dan tafrith (menggampangkan). Sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “Jauhilah oleh kalian sikap ghuluw di dalam agama, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa dikarenakan sikap ghuluw mereka di dalam agama.” Ini hadits shahih, dikeluarkan oleh an-Nasa’i dan selainnya.” ---------------------------------------------------- “Dan aku nasehatkan supaya mereka berhati-hati dari sikap zhalim, dikarenakan hadits Qudsi, “Wahai hamba-Ku, sesunguhnya Aku haramkan kezhaliman atas diri-Ku, maka aku jadikan pula haram atas diri kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi” diriwayatkan oleh Muslim, dan hadits Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “takutlah kalian dari kezhaliman, karena sesungguhnya kezhaliman itu adalah kegelapan di hari kiamat” diriwayatkan oleh Muslim. ------------------------------------------------------ Aku memohon kepada Allah Azza wa Jalla untuk menunjuki seluruh ummat kepada apa yang diridhai-Nya, agar mereka mendalami agama Islam (tafaqquh fid din) dan menetapi kebenaran, serta agar mereka menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dan menjauhkan dari apa-apa yang tidak bermanfaat. Sesungguhnya Ia berkuasa dan berkemampuan atasnya. Semoga Sholawat dan Salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya dan para sahabatnya. (selesai kutipan) ===========================================
  • mengutip perkataan Imam Albani rahimahullaahu

    “Wajib atas kita untuk berlemah lembut di dalam dakwah kita terhadap orang-orang yang menyelisihi kita, dan jadikan selalu firman Alloh Ta’ala berikut (sebagai pegangan) dan untuk selamanya : “Serulah mereka ke jalan Rabb-mu dengan hikmah dan nasehat yang baik, serta berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.” Dan mereka yang pertama lebih berhak untuk kita terapkan hikmah ini adalah mereka yang paling memusuhi kita di dalam dasar (mabda’) dan aqidah kita, hingga kita tidak menggabungkan antara beratnya dakwah yang haq yang Alloh memperteguh kita dengannya dengan beratnya cara (ushlub) kita berdakwah kepada Alloh Azza wa Jalla” ==================================================
  • Diriwayatkan bahwa Hasan Al-banna berkata: “Kami menginginkan terbentuknya sosok individu muslim, rumah tangga Islami, bangsa yang Islami, pemerintahan yang Islami, negara yang dipimpin oleh negara-negara Islam, menyatukan perpecahan kaum muslimin dan negara mereka yang terampas, kemudian membawa bendera jihad dan da’wah kepada Allah sehingga dunia mendapatkan ketentraman dengan ajaran-ajaran Islam.” ==================================================
  • warning

    dalam blog ini mungkin terdapat hadits dhoif, riwayat yang tidak valid, salah tulis, kutipan yg tidak sesuai syariat islam, dan berbagai kesalahan2 lain, dan belum sempat di sensor, jadi mohon maaf sebesar-besarnya

Kebangkitan yang Dinantikan

Tidak ada orang yang senang hidup dalam kehinaan dan kerendahan. Oleh sebab itu kita saksikan banyak orang rela mencurahkan waktu dan tenaga serta pikirannya untuk mencapai kesuksesan dan kemuliaan. Sebagian orang memandang bahwa kemuliaan akan bisa digapai dengan memiliki banyak pengikut dan teman. Berdasarkan anggapan itu maka dia pun berusaha untuk meningkatkan jumlah pengikut pemikirannya dan memperbanyak jumlah teman demi tercapainya persatuan kekuatan yang dia dambakan. Sebagian yang lain menilai bahwa sumber keberhasilan itu akan diperoleh tatkala perekonomian telah mereka kuasai. Oleh karena itu mereka pun berusaha untuk memotivasi orang-orang untuk membangun usaha-usaha sebagai ‘mesin’ pencetak uang agar mereka bisa menjadi sebuah umat yang mandiri dan berkecukupan secara materi.

Kedua pandangan di atas tidak bisa sepenuhnya disalahkan, hanya saja perlu diluruskan bahwa hakekat keberhasilan bukanlah terletak pada kekuatan massa maupun kekuatan perekonomian. Tidakkah kita semua ingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh sahabat Umar bin al-Khaththab radhiyallahu’anhu, “Sesungguhnya Allah akan mengangkat sebagian kaum dengan sebab Kitab (al-Qur’an) ini dan akan menghinakan sebagian yang lain dengan sebab Kitab ini pula.” (HR. Muslim).

Ini merupakan hakekat yang begitu jelas dan gamblang. Kemenangan dan kemuliaan hanya akan diraih oleh orang-orang yang konsisten mengikuti ajaran Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh sebab itu tidak heran jika di dalam khutbatul hajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa membaca sebuah ayat yang mengingatkan kaum muslimin tentang hakekat kemenangan dan keberuntungan yang sesungguhnya. Sebuah ayat (yang artinya), “Barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya, sesungguhnya dia pasti akan meraih kemenangan yang sangat besar.” (QS. al-Ahzab : 71).

Realita umat pada hari ini

Melihat kondisi kaum muslimin pada masa sekarang ini, di saat berbagai bentuk penyimpangan pemikiran dan gaya hidup telah merasuki sendi-sendi kehidupan umat, dari lingkup pribadi dan keluarga hingga lingkup masyarakat dan negara, maka sangatlah wajar jika kita turut merasa prihatin dan mengelus dada. Bagaimana tidak? Kaum muslimin dengan jumlah mereka yang lumayan besar di negeri ini telah menemui nasib yang demikian menyedihkan. Kita tidak menyoroti masalah krisis ekonomi ataupun lemahnya persenjataan negara ini, namun yang kita perbincangkan di sini adalah kelemahan iman dan takwa yang telah merambah dan menyusup ke berbagai sudut kota dan pelosok desa, baik kepada anak muda maupun orang-orang tua, kaum pria maupun kaum wanitanya. Fenomena kemerosotan akhlak dan pendangkalan aqidah bukan lagi perkara yang asing, bahkan ia telah menjalar melalui media elektronika dan layar-layar kaca, menerobos dimensi ruang dan waktu melalui gelombang elektromagnetik dengan adanya fasilitas HP, internet, dan televisi yang sudah tersebar di mana-mana. Tepat juga ungkapan sebagian orang yang mengatakan bahwa kecanggihan teknologi ibarat pedang bermata dua. Apabila si pemilik pedang tak lihai mengendalikan pedang ini, maka ia akan berubah menjadi senjata makan tuan. Dan apabila ternyata si pemilik pedang ini lincah dan perkasa dalam mengendalikan senjata itu maka ia akan bisa membabat musuh-musuhnya hingga terkapar dan tak berdaya.

‘Ala kulli hal (bagaimana pun keadaannya), kita tidak boleh berputus asa dan berpangku tangan menunggu malaikat maut datang mencabut nyawa kita dalam keadaan terhina tanpa sedikit pun berupaya memperbaiki situasi di sekitar kita. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mau mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. ar-Ra’d : 11). Ayat ini begitu populer di kalangan para da’i dan aktifis pergerakan. Hanya saja kebanyakan di antara mereka kurang cermat dan tidak jeli dalam memahami maksud yang tersimpan di dalamnya. Alangkah indah ucapan salah seorang tokoh di antara mereka yang kiranya cukup bisa mewakili pemaknaan ayat yang mulia ini dengan kalimat yang cukup sederhana. Beliau –semoga Allah mengampuni kesalahannya- mengatakan, “Tegakkanlah negeri Islam itu di dalam hati kalian, niscaya daulah [pemerintahan] Islam akan tegak di bumi kalian.”

Luruskan cara pandang sebelum maju perang

Meluruskan cara pandang rupanya salah satu kunci untuk membuka jalan menuju kemuliaan yang didambakan itu. Tak heran jika para pemikir orientalis dan musuh-musuh Islam begitu getolnya berusaha membelokkan cara pandang umat terhadap agama dan Kitab suci mereka. Hal itu karena mereka menyadari dengan persis bahwa sumber kekuatan umat ini adalah apabila mereka benar-benar konsisten dengan petunjuk Allah dan rasul-Nya, baik yang termaktub di dalam al-Qur’an maupun Sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka muncullah lontaran-lontaran nyleneh bin ngawur dari ‘santri-santri’ orientalis dan kader-kader ahli bid’ah dalam rangka menggerogoti aqidah dan manhaj kaum muslimin dalam memahami dan menerapkan ajaran agama yang hanif ini. Mereka menulis, berceramah, mengadakan seminar-seminar dan merekrut simpatisan demi melebarkan sayap kesesatan dan memperkuat barisan tentara syaitan. Sebagian kaum muslimin pun terpaksa harus menjadi korban. Sungguh realita yang memilukan dan memerlukan sosok-sosok pemberani yang mau melakukan perubahan dan perbaikan dengan tulus dan tak kenal menyerah.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan orang yang menyeru kepada kebaikan, memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran : 104). Dakwah menuju jalan yang lurus merupakan solusi atas realita memilukan yang kini tengah menyelimuti atmosfer kehidupan kaum muslimin. Dengan dakwah semacam inilah setiap orang akan tersadar mengenai amanah agung yang Allah bebankan di atas pundak mereka masing-masing, yaitu untuk beribadah kepada Rabb yang telah menciptakan mereka dan melimpahkan nikmat tak terhingga ini untuk segenap manusia. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; sembahlah Allah dan jauhilah thaghut/sesembahan selain Allah.” (QS. an-Nahl : 36). Dengan dakwah semacam inilah manusia akan terbebas dari belenggu penghambaan kepada sesama makhluk menuju penghambaan sejati kepada penciptanya.

Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan jika Allah ta’ala pun memerintahkan Nabi-Nya untuk bersikap tegas menyatakan isi, target, dan metode dakwahnya secara terang-terangan kepada umat manusia. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah (hai Muhammad); inilah jalanku, aku beserta orang-orang yang setia mengikutiku mengajak kalian kepada Allah di atas landasan bashirah/ilmu, Maha suci Allah dan aku sama sekali bukan termasuk golongan orang musyrik.” (QS. Yusuf : 108). Begitu pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepada sahabatnya Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu ketika hendak diberangkatkan menuju Yaman, “Jadikanlah dakwah yang pertama kali kamu serukan kepada mereka adalah syahadat laa ilaaha illallah wa anna Muhammadar rasulullah,” dalam riwayat lain, “Supaya mereka mentauhidkan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Bijak dalam bersikap, tepat dalam bertindak

Mengubah masyarakat bukan sebagaimana membalikkan telapak tangan. Menyingkirkan ajaran-ajaran sesat dan pemikiran rusak yang telah sekian lama mengendap dan melekat di dalam hati umat memerlukan kerja keras dan kecermatan dalam bertindak. Grusah-grusuh dan semangat belaka justru akan merugikan dan memperlama tercapainya tujuan yang kita inginkan. Para ulama mengatakan, “Barangsiapa tergesa-gesa mendapatkan sesuatu sebelum saatnya, maka dia justru akan terhalang meraihnya.” Sudah banyak bukti dan saksi yang menunjukkan kepada kita bahwa ketergesa-gesaan dan tindakan bodoh yang tak dibimbing oleh ilmu dan kesabaran justru akan memunculkan bumerang-bumerang yang terarah kepada pertumbuhan dakwah Islam dan kemajuannya. Tengoklah beberapa tahun yang silam tatkala dunia dihebohkan oleh serangan menggegerkan yang menghancurkan gedung WTC di Amerika Serikat yang dengan bangga disebut oleh sebagian kalangan sebagai bentuk jihad dan perlawanan kepada tirani dan musuh besar umat Islam. Namun, tak berapa lama kemudian berselang, ternyata kaum muslimin di Afghanistan lah yang terpaksa harus merasakan buah pahit dari serangan yang dianggap jihad tersebut. Ribuan nyawa melayang dan bumi Afghanistan harus menderita kerusakan dan penduduknya pun harus tersiksa dan dicekam ketakutan akibat kemarahan sang negara adi daya. Sebuah kerusakan yang jauh lebih menyedihkan dan membuat setiap orang berpikir betapa tindakan segelintir orang bisa menyebabkan kerugian sekian banyak orang bahkan merenggut nyawa dan tanah air mereka!

Ambillah pelajaran saudaraku, hanya itu mungkin pesan yang bisa diberikan kepada mereka yang begitu bersemangat untuk melawan orang-orang kafir dan ingin segera menikmati indahnya penerapan syariat Islam di semua sektor kehidupan namun tidak mau mengikuti bimbingan para ulama. Kita harus bersikap realistis dan bijak! Sesungguhnya perjuangan untuk menegakkan syariat Islam di atas muka bumi ini hanya akan berhasil jika ditempuh dengan cara yang benar. Problematika umat tidak hanya masalah politik, ekonomi ataupun hukum saja! Bahkan yang lebih mendasar dan fundamental, ternyata kaum muslimin di negeri ini –bahkan di berbagai belahan dunia- masih menyimpan segudang problematika serius dan krisis yang bekepanjangan dalam perkara aqidah dan tauhid. Padahal, kita semua tahu tauhid adalah pondasi kehidupan seorang muslim. Hanya dengan memahami dan menerapkan tauhidlah seorang hamba akan menemukan jati diri dan menyadari hikmah penciptaan dirinya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat : 56). Maka apakah yang akan terjadi ketika mereka tidak mengenal kaidah mendasar di dalam agama ini?

Memandang jauh ke depan, sabar di atas kebenaran

Kesyirikan dan kekafiran bertebaran di mana-mana. Maksiat dan kedurhakaan menjamur dan menjadi trend yang digandrungi oleh generasi muda dan disupport oleh para orang tua, dengan dalih modernisasi dan kebebasan hak asasi manusia. Media-media massa dan alat telekomunikasi yang semestinya bisa menjadi sarana menyebarkan dakwah Islam dan membersihkan jiwa manusia dari kotoran dosa justru menjelma menjadi monster ganas yang setiap saat siap melumatkan mangsanya sampai tak tersisa! Jadilah masyarakat Islam terjangkit seabrek penyakit masyarakat yang seolah-olah tak pernah tersembuhkan oleh sekian banyak ceramah dan buku yang disebarkan oleh para da’i dan praktisi dakwah di mana-mana. Bukan mata yang buta, bukan telinga yang tuli, dan bukan mulut yang bisu. Akan tetapi yang buta adalah sesuatu yang berada di dalam dada, yang membuat telinga mereka tersumbat oleh kesombongan dan juga mulut mereka menjadi terbungkam oleh kerancuan-kerancuan dan tipu daya para pendusta agama. Pagi hari mereka beriman, namun sore harinya mereka telah kafir kepada Rabbnya, atau sebaliknya. Di saat-saat semacam ini dibutuhkan kesabaran ekstra dan keyakinan yang kokoh yang tertancap di dalam dada. Karena tetap teguh beribadah kepada Allah dan senantiasa mengingat-Nya di kala kebanyakan orang lalai dan terlena oleh kenikmatan yang semu memang sebuah keutamaan yang hanya diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Konsisten beribadah di saat berkecamuknya fitnah pahalanya sebagaimana berhijrah kepadaku.” (HR. Muslim).

Karena itulah seorang penempuh perjalanan dakwah tauhid harus senantiasa memandang jauh ke depan. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tak kenal menyerah dalam mendakwahi kaumnya untuk memeluk Islam dan kembali kepada agama ar-Rahman. Keberhasilan akan pasti didapatkan oleh setiap orang yang benar-benar membela ajaran agama ini, sebagaimana manhaj perjuangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya, “Sesungguhnya Allah benar-benar akan menolong orang yang membela (agama)-Nya. Dan sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha perkasa.” (QS. al-Hajj : 40). Allah ta’ala juga berfirman yang artinya, “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari keridhaan Kami niscaya Kami akan menunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. al-Ankabut : 69). Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, bahwa di dalam ayat ini Allah ta’ala mengaitkan antara jihad/kesungguh-sungguhan dengan petunjuk, maka orang yang paling besar mendapatkan petunjuk adalah orang yang paling besar dalam berjihad/bersungguh-sungguh membela agama ini. Dan tentu saja membela agama ini tidak cukup dengan semangat, namun harus dilandasi dengan ilmu.

Semoga Allah ta’ala berkenan membukakan hati-hati yang selama ini terkunci dan telinga-telinga yang selama ini tuli terhadap kebenaran dakwah tauhid ini. Dan semoga Allah mengumpulkan kita dalam barisan hizb ar-Rahman dalam bersatu padu memerangi hizb asy-Syaithan. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdu lillahi rabbil ‘alamin.

Yogyakarta, 24 Muharram 1430 H
Saudaramu yang sangat menginginkan kebaikan untukmu

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi

Artikel http://www.muslim.or.id

%d blogger menyukai ini: