• Blog Stats

    • 41,452,392 hits
  • pacaran adalah perbuatan haram, maka janganlah berpacaran. Dan jangan mau jika diajak pacaran. Akan tetapi tempuhlah jalan yang halal jika memang benar-benar cinta dan ingin menikah. Segeralah menikah dan jangan berpacaran. ================================== dan janganlah kamu mendekati zina. sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk. [QS Al Isra':32] ==================================== JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA ====================================== Asy-Sya’bi berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah)
  • Artikel Terbaru

  • wasiat untuk seluruh umat islam

    ====================================== “Janganlah kamu saling dengki, saling membenci, saling mengintip rahasia, saling bersaing, saling mencari keburukan, saling menawar lebih tinggi untuk menipu pembeli sehingga menawar tinggi, saling memutuskan hubungan, saling bermusuhan, janganlah sebagian kalian menjual atas jualan yang lain. Jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang diperintahkan Allah. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh menganiaya, tidak boleh menelantarkannya dan tidak boleh menghinanya. ============================================= Taqwa ada di sini, taqwa ada di sini, taqwa ada di sini kata Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam sambil menunjuk dadanya. ================================================= Cukuplah merupakan kejelekan seseorang apabila menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain adalah haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. Hati-hatilah bersangka buruk, karena sesungguhnya bersangka buruk adalah omongan yang paling dusta. ==================================================== Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk kamu dan hartamu, tetapi ia melihat hati dan perbuatanmu.” (riwayat Muslim dan Bukhari). ==========================================
  • BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR

    BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- -------------------------------------------------------------------------------------------- Orang yang mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi janda dan orang miskin ibarat berjihad di jalan Allah dan ibarat orang shalat malam (HR. Bukhari) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain. (HR. Ahmad) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersodaqoh dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana. (HR. Ath-Thabrani) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sodaqoh. (HR. Al-Baihaqi) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Tiap-tiap amalan makruf (kebajikan) adalah sodaqoh. Sesungguhnya di antara amalan makruf ialah berjumpa kawan dengan wajah ceria (senyum) dan mengurangi isi embermu untuk diisikan ke mangkuk kawanmu. (HR. Ahmad) ------------------------------------------------------------------------------------------------------------
  • berbuat baiklah pada semua binatang, termasuk kepada anjing

    Kita tidak diperbolehkan menyiksa binatang dengan cara apa pun, atau membuatnya kelaparan, memukulinya, membebaninya dengan sesuatu yang ia tidak mampu, menyiksa atau membakarnnya. --------------------------------------------------- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Seorang wanita masuk neraka karena seekor kucing yang ia kurung hingga mati. Maka dari itu ia masuk neraka gara-gara kucing tersebut disebabkan dia tidak memberinya makan dan tidak pula memberinya minum di saat mengurung nya, dan dia tidak membiarkannya (melepaskannya) supaya memakan serangga di bumi.” (HR. al-Bukhari) ------------------------------------------------------- Dan ketika beliau melewati sarang semut yang telah dibakar, beliau bersabda, “Sesungguhnya tidak ada yang berhak menyiksa dengan api selain Rabb (Tuhan) pemilik api.” (HR. Abu Dawud, hadits shahih) ---------------------------------------------- “Barangsiapa yang tidak berbelas kasih niscaya tidak akan dibelaskasihi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) ------------------------------------------------- “Kasihanilah siapa saja yang ada di bumi ini, niscaya kalian akan dikasihani oleh yang ada di langit.” (HR. at-Tirmidzi) -------------------------------------------------- Dibolehkan membunuh hewan-hewan yang membahayakan atau mengganggu seperti anjing buas, serigala, ular, kalajengking, tikus dan lain-lain karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Ada lima macam hewan fasik (buruk) yang boleh dibunuh di waktu halal (tidak ihram) dan di waktu ihram, yaitu ular, burung gagak yang putih punggung dan perutnya, tikus, anjing buas, dan rajawali.” (HR. Muslim). Juga terdapat hadits shahih yang membolehkan untuk membunuh kalajengking. ================================================
  • JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA

    ====================================== ‘Amr bin Syarahil Asy-Sya’bi rahimahullahu berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah, 2/636. Dihasankan oleh Al-Albani dalam At-Tahrim, hal. 148) ----------------------------------------------------------------------------- Ibnu Abdil Barr rahimahullahu berkata: “Termasuk hasil usaha yang disepakati keharamannya adalah riba, upah para pelacur, sogokan (suap), mengambil upah atas meratapi (mayit), nyanyian, perdukunan, mengaku mengetahui perkara gaib dan berita langit, hasil seruling dan segala permainan batil.” (Al-Kafi hal. 191) ---------------------------------------------------------------------- Ath-Thabari rahimahullahu berkata: “Telah sepakat para ulama di berbagai negeri tentang dibenci dan terlarangnya nyanyian.” (Tafsir Al-Qurthubi, 14/56) ------------------------------------------------------------------- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “Mazhab empat imam menyatakan bahwa alat-alat musik semuanya haram.” Lalu beliau menyebutkan hadits riwayat Al-Bukhari rahimahullahu . (Majmu’ Fatawa, 11/576) --------------------------------------------------------------- ------------------------------------------
  • wasiat bagi para pemuda

    ====================================== ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Barangsiapa di antara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya mereka adalah ummat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, dan paling lurus petunjuknya, serta paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya, karena mereka berada di jalan yang lurus.” [Dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Baar dalam kitabnya Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih II/947 no. 1810, tahqiq Abul Asybal Samir az-Zuhairy] ======================================
  • wasiat Imam al-Auza’i

    ====================================== Imam al-Auza’i rahimahullah (wafat th. 157 H) mengatakan: “Bersabarlah dirimu di atas Sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para Shahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan Salafush Shalih, karena akan mencukupi kamu apa saja yang mencukupi mereka.” [Syarh Ushul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah 1/174 no. 315] --------------------------------------------------------------- Beliau rahimahullah juga berkata: “Hendaklah kamu berpegang kepada atsar Salafush Shalih meskipun orang-orang menolaknya dan jauhkanlah diri kamu dari pendapat orang meskipun ia hiasi pendapatnya dengan perkataannya yang indah.” [Imam al-Aajury dalam as-Syari’ah I/445 no. 127, di-shahih-kan oleh al-Albany dalam Mukhtashar al-‘Uluw lil Imam adz-Dzahaby hal. 138, Siyar A’laam an-Nubalaa’ VII/120] =================================================
  • Mengutip perkataan Syaikh Bin Baz rahimahullaahu

    “Zaman ini adalah zaman kelembutan, kesabaran dan hikmah, bukanlah zaman kekerasan (kebengisan). Mayoritas manusia saat ini dalam keadaan jahil (bodoh), lalai dan lebih mementingkan duniawiyah. Maka haruslah sabar dan lemah lembut sampai dakwah ini tersampaikan dan sampai mereka mengetahuinya. Kami mohon petunjuk kepada Alloh untuk semuanya.” (Majmu’ Fatawa Samahatul Imam Ibnu Bazz (Juz VIII, hal 376) dan (Juz X, hal. 91) =================================================
  • jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara

    ====================================== Segala puji hanyalah milik Alloh yang telah mempertautkan hati kaum mukminin dan menganjurkan mereka supaya bersatu padu dan saling berhimpun serta memperingatkan dari perpecahan dan perselisihan. -------------------------------------------------------- Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq untuk disembah melainkan hanyalah Alloh semata yang tidak memiliki sekutu. Dialah yang mensyariatkan dan memudahkan, dan Dia terhadap kaum mukminin adalah sangat penyantun. ------------------------------------------------------ Saya juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang diperintahkan dengan kemudahan dan berita gembira. ----------------------------------------------------- Beliau bersabda : Permudahlah dan janganlah kamu persulit, berikanlah kabar gembira dan janganlah membuat orang lari (dari kebenaran). ------------------------------------------------------ Permisalan kaum mukminin satu dengan lainnya dalam hal kasih sayang, tolong menolong dan kecintaan, bagaikan tubuh yang satu, jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan merasa demam atau terjaga” --------------------------------------------------- Tidak ragu lagi, bahwa kewajiban Ahlus Sunnah di setiap zaman dan tempat adalah saling bersatu dan menyayangi di antara mereka serta saling bekerja sama di dalam kebajikan dan ketakwaan… ==================================================---------------
  • KHUTBATUL HAJAH

    ====================================== Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, dan meminta ampun kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami, dan dari keburukan-keburukan perbuatan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah saja, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. ================================================ “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” ================================================== “Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan darinya Allah menciptakan isterinya; dan dari keduanya Allah mengembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silatur rahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” ========================================================= “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mena’ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. ============================================================ Amma ba’du; Maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad , dan seburuk-buruk perkara dalam agama adalah yang di ada-adakan, setiap yang diada-adakan (dalam urusan agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan. (HR. Muslim, an-Nasa’i dan selain keduanya) ==================================================
  • mengutip perkataan Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad hafizhahullaahu:

    “Telah terjadi di zaman ini, sibuknya sebagian ahlus sunnah dengan sebagian lainnya dengan tajrih (saling mencela) dan tahdzir, dan implikasi dari hal ini menyebabkan terjadinya perpecahan, perselisihan dan saling mengisolir. Padahal sepantasnya bahkan seharusnya bagi mereka untuk saling mencintai dan berkasih sayang terhadap sesama mereka, dan menyatukan barisan mereka di dalam menghadapi ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu yang menyelisihi ahlus sunnah wal jama’ah. ---------------------------------------------------- “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- agar menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dari perkara-perkara yang tidak bermanfaat bagi mereka, sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “diantara kebaikan seorang muslim adalah meninggalkan hal-hal yang tidak berfaidah baginya.” Hadits hasan diriwayatkan oleh Turmudzi.” ------------------------------------------------------ “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- untuk bersikap pertengahan dan moderat, diantara sikap ghuluw (ekstrim) dan meremehkan, dan diantara sikap ifrath (berlebih-lebihan) dan tafrith (menggampangkan). Sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “Jauhilah oleh kalian sikap ghuluw di dalam agama, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa dikarenakan sikap ghuluw mereka di dalam agama.” Ini hadits shahih, dikeluarkan oleh an-Nasa’i dan selainnya.” ---------------------------------------------------- “Dan aku nasehatkan supaya mereka berhati-hati dari sikap zhalim, dikarenakan hadits Qudsi, “Wahai hamba-Ku, sesunguhnya Aku haramkan kezhaliman atas diri-Ku, maka aku jadikan pula haram atas diri kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi” diriwayatkan oleh Muslim, dan hadits Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “takutlah kalian dari kezhaliman, karena sesungguhnya kezhaliman itu adalah kegelapan di hari kiamat” diriwayatkan oleh Muslim. ------------------------------------------------------ Aku memohon kepada Allah Azza wa Jalla untuk menunjuki seluruh ummat kepada apa yang diridhai-Nya, agar mereka mendalami agama Islam (tafaqquh fid din) dan menetapi kebenaran, serta agar mereka menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dan menjauhkan dari apa-apa yang tidak bermanfaat. Sesungguhnya Ia berkuasa dan berkemampuan atasnya. Semoga Sholawat dan Salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya dan para sahabatnya. (selesai kutipan) ===========================================
  • mengutip perkataan Imam Albani rahimahullaahu

    “Wajib atas kita untuk berlemah lembut di dalam dakwah kita terhadap orang-orang yang menyelisihi kita, dan jadikan selalu firman Alloh Ta’ala berikut (sebagai pegangan) dan untuk selamanya : “Serulah mereka ke jalan Rabb-mu dengan hikmah dan nasehat yang baik, serta berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.” Dan mereka yang pertama lebih berhak untuk kita terapkan hikmah ini adalah mereka yang paling memusuhi kita di dalam dasar (mabda’) dan aqidah kita, hingga kita tidak menggabungkan antara beratnya dakwah yang haq yang Alloh memperteguh kita dengannya dengan beratnya cara (ushlub) kita berdakwah kepada Alloh Azza wa Jalla” ==================================================
  • Diriwayatkan bahwa Hasan Al-banna berkata: “Kami menginginkan terbentuknya sosok individu muslim, rumah tangga Islami, bangsa yang Islami, pemerintahan yang Islami, negara yang dipimpin oleh negara-negara Islam, menyatukan perpecahan kaum muslimin dan negara mereka yang terampas, kemudian membawa bendera jihad dan da’wah kepada Allah sehingga dunia mendapatkan ketentraman dengan ajaran-ajaran Islam.” ==================================================
  • warning

    dalam blog ini mungkin terdapat hadits dhoif, riwayat yang tidak valid, salah tulis, kutipan yg tidak sesuai syariat islam, dan berbagai kesalahan2 lain, dan belum sempat di sensor, jadi mohon maaf sebesar-besarnya

Akankah Kita Memberontak ?

Para pembaca yang budiman, Alloh menurunkan Al-Qur’an dan mengutus Nabi-Nya yang mulia untuk membimbing serta memberi petunjuk kepada para hamba-Nya ke jalan yang lurus. Alloh berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal shalih, bahwa bagi mereka pahala yang besar.” (Al-Isro’: 9)

Alloh juga berfirman menjelaskan tentang Nabi-Nya, “Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (As-Syuuro: 52). Oleh karena itulah, orang yang di dalam hidupnya senantiasa berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan sunnah (jalan hidup) Nabi Shollallohu ‘alaihi wassalam tidak akan pernah tersesat. Hal ini berdasarkan wasiat Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam, “Telah aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, yang jika kalian berpegang teguh dengan kedua perkara tersebut maka kalian tidak akan pernah tersesat untuk selamanya, (dua perkara itu adalah) Kitabulloh (Al-Qur’an) dan Sunnahku.” (HR. Imam Malik, Hakim, dll hasan)

Standar Kebenaran

Kita tidak dibenarkan dalam menjalankan agama ini hanya berdasarkan pertimbangan akal dan perasaannya semata, tanpa berpedoman dengan Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam. Jika kebenaran hanya diukur dengan pertimbangan akal dan perasaan semata maka Alloh tidak perlu menurunkan Kitab-Kitab-Nya dan mengutus para Rosul-Nya karena setiap manusia sudah mempunyai akal dan perasaan. Jika ini terjadi maka standar kebenaran akan sulit untuk ditentukan karena akal dan perasaan manusia juga berbeda-beda. Akal dan perasaan laki-laki berbeda dengan wanita, anak kecil berbeda dengan orang yang sudah dewasa dan begitu seterusnya, sehingga rusaklah tatanan kehidupan manusia. Jadi jalan yang paling selamat adalah dengan mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Sholallohu ‘alaihi wassalam sesuai dengan yang dikehendaki oleh Alloh dan Rosul-Nya.

Hubungan Rakyat Dengan Penguasa

Para pembaca yang budiman, bagaimana Islam mengatur hubungan rakyat dengan penguasan merupakan masalah yang sangat penting untuk diketahui. Karena dengan hal tersebut, setiap muslim dapat bertindak benar dan lurus untuk mewujudkan kedamaian dan kemaslahatan yang luas. Begitu pula sebaliknya, seorang muslim bersikap dalam hal ini akan menimbulkan dampak negatif yang besar. Mengingat begitu besar dampak yang akan ditimbulkan, maka sangat tidak mungkin jika Islam mendiamkan permasalahan ini. Oleh karena itu, di bawah ini akan sedikit kami sampaikan bagaimana sebenarnya Islam mengatur permasalahan penting ini.

Sikap Seorang Muslim Terhadap Pemerintah

Sikap yang benar yang diajarkan oleh syariat Islam adalah mentaatinya. Alloh berfirman yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan pemimpin di antara kamu.” (An-Nisa’: 59). Sikap taat ini tetap disyari’atkan, siapapun orang yang memimpin selama dia adalah seorang muslim. Hal ini berdasarkan wasiat Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam, “Aku memberi wasiat kepada kalian untuk bertaqwa kepada Alloh yang Maha Tinggi dan Maha Mulia, serta selalu mendengar dan taat walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, hadits hasan shohih)

Syariat islam menegaskan bahwa ketaatan seorang muslim terhadap pemimpinnya adalah pada semua keadaan. Tentang hal ini Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam bersabda, “Wajib bagi kalian untuk tetap mendengar dan taat (kepada penguasa) baik kalian dalam keadaan sulit, mudah, senang ataupun benci. Serta (wajib pula mendengar dan taat) dalam keadaan ia tidak memperdulikan kalian.” (HR. Muslim). Keadaan ini hanya dikecualikan tatkala seseorang diperintah oleh pemimpinnya untuk berbuat kemaksiatan, maka tidak boleh ditaati. Hal ini berdasarkan sabda Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam, “Seorang muslim wajib untuk tetap mendengar dan taat (kepada pemimpinnya) terkait perintah yang disukai ataupun yang tidak kecuali jika ia diperintah untuk berbuat kemaksiatan. Apabila ia diperintah untuk berbuat maksiat, maka tidak boleh mendengar dan taat.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Pemberontakan Dalam Islam

Para pembaca yang budiman, perlu untuk kita ketahui bersama bahwa pemberontakan di dalam Islam hukumnya adalah harom berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin. Tentang hal ini, Imam Nawawi berkata, “Memberontak dan memerangi pemerintah, hukumnya adalah harom berdasarkan kesepakatan kaum muslimin, meskipun pemerintah tersebut fasiq dan dzalim.” (Syarh Shohih Muslim). Inilah yang telah diajarkan oleh Islam, yaitu selalu mendengar dan mentaati pemerintah walaupun mereka adalah orang yang fasiq dan dholim.

Banyak hadits yang menjelaskan tentang hal ini, diantaranya adalah hadits dari Abu Hunaidah Wail bin Hujr, ia berkata: Salamah bin Yazid Al-Ju’fi bertanya kepada Rosululloh, “Wahai Nabi Alloh, bagaimana pendapatmu jika kami dipimpin oleh orang yang selalu menuntut haknya kepada kami dan tidak mau untuk memenuhi hak kami, apakah yang engkau perintahkan kepada kami?” Mendengar pertanyaan ini beliau berpaling. Kemudian Salamah mengulangi pertanyaannya lagi. Maka Rosululloh bersabda, “Tetaplah mendengar dan taat kepada mereka! Sesungguhnya mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas kewajiban mereka dan kamu pun akan dimintai pertanggungan jawab atas kewajibanmu.” (HR. Muslim)

Dalam hadits yang lain beliau bersabda, “Sepeninggalku nanti akan muncul pemimpin yang mementingkan diri sendiri dan (kamu melihat padanya) hal-hal yang kamu anggap mungkar.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rosululloh, apakah yang engkau perintahkan kepada kami?” Beliau menjawab, “Tunaikanlah haknya dan mohonlah kepada Alloh yang menjadi hakmu.” (HR. Bukhori dan Muslim). Para pembaca yang budiman, perlu diulangi sekali lagi bahwa inilah sikap yang diajarkan oleh Islam berkaitan dengan hubungan antara rakyat dengan pemimpinnya, yaitu tetap mentaatinya walaupun ia seorang yang dholim dan gemar melakukan perbuatan kemaksiatan. Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam bersabda, “Barangsiapa dipimpin oleh seorang penguasa, kemudian ia melihat penguasa tersebut terjatuh ke dalam perbuatan maksiat, hendaklah ia membenci perbuatan kemaksiatan tersebut, namun janganlah hal itu menyebabkan tidak taat.” (HR. Muslim)

Bahkan seandainya kezholiman penguasa sampai taraf menyiksa dan merampas harta para rakyatnya -kita berlindung kepada Alloh dari hal ini-, kita pun masih diperintah untuk mentaatinya. Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam bersabda, “Meskipun punggungmu dipukul dan hartamu dirampas (oleh penguasa), maka kalian untuk wajib tetap mendengar dan mentaatinya.” Ketika menghadapi hal semacam ini jalan yang bisa kita tempuh hanyalah bersabar dan menyerahkan urusan mereka kepada Alloh yang Maha Perkasa. Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wassalam bersabda, “Barangsiapa yang membenci tindakan penguasanya hendaklah ia bersabar.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Para pembaca yang budiman, mungkin hadits-hadits di atas terasa begitu menyesakkan dada bagi sebagian orang -semoga Alloh melindungi kita dari hal tersebut-, namun inilah jalan yang diajarkan oleh Alloh dan dituntunkan oleh Nabi kita yang mulia. Tentunya kita telah yakin bersama bahwa Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam adalah suri teladan yang terbaik. Alloh berfirman yang artinya, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab: 21). Oleh karena itu jalan yang terbaik adalah meniti jalan beliau. Yang juga patut kita perhatikan adalah Alloh tidaklah menetapkan suatu hukum kecuali ada hikmah agung di balik itu semua, yang semuanya tentunya untuk kemaslahatan para hamba-Nya. Sehingga tatkala kita menjumpai hukum-hukum syariat yang secara sekilas tampak bertentangan dengan akal dan perasaan kita, janganlah kita sampai berburuk sangka kepada Alloh, akan tetapi hendaknya ditanamkan pada diri kita bahwa hukum-hukum yang Alloh tetapkan adalah untuk kemaslahatan para hamba-Nya. Sehingga seorang muslim sejati itu menerima dengan penuh kelapangan hati yang telah ditetapkan oleh Alloh dan dituntunkan oleh Nabi-Nya yang mulia.

Alloh berfirman yang artinya, “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan ‘Kami mendengar, dan kami patuh.’ Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (An-Nur: 51)

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisa’: 65)

Saudara-saudara yang semoga selalu mendapatkan bimbingan dari Alloh, kalau kita perhatikan dengan seksama tentunya dapat kita peroleh kesimpulan bahwasanya pemberontakan atau usaha untuk menurunkan penguasa yang sah tidaklah menghasilkan kecuali kekacauan, kerusuhan, pertumpahan darah serta hari-hari yang dicekam oleh ketakutan. Oleh karena itu, benarlah petunjuk agama ini yang melarang pemberontakan karena ini hanya akan menimbulkan bahaya yang lebih besar.

Nasehat Kepada Pemerintah

Para pembaca yang budiman, sikap kaum muslimin yang diperintah untuk selalu taat terhadap pemerintah walaupun mereka adalah termasuk orang yang zholim -sebagaimana hal ini telah diajarkan oleh agama kita-, tidaklah meharuskan kita ketika melihat pemimpin melakukan perbuatan kemaksiatan atau kezholiman kemudian membiarkannya begitu saja. Namun yang diajarkan oleh agama kita adalah memberikan nasehat kepada mereka. Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wassalam bersabda, “Agama adalah nasehat.” Para sahabat bertanya, “Untuk siapa wahai Rosululloh.” Maka di antara jawaban beliau, “…Untuk para pemimpin kaum muslimin…” (HR. Muslim)

Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wassalam bersabda, “Barang siapa yang ingin menyampaikan nasehat kepada penguasa, janganlah ia menyampaikannya di depan umum, akan tetapi menyendirilah dengannya. Jika ia mau menerima nasehat tersebut, maka itulah (yang diharapkan), jika tidak maka sesungguhnya ia telah melaksanakan kewajibannya.” (Hadits Shohih Riwayat Imam Ahmad). Dari hadits ini dapat kita ketahui bersama bahwa menasehati pemerintah dengan cara turun ke jalan-jalan (baca: demonstrasi) serta membongkar aib mereka di depan umum tidaklah dibenarkan di dalam Islam.

Para pembaca yang budiman, jika kita saja yang statusnya sebagai orang bawahan, tidak suka jika aib kita dibeberkan kita di depan umum, maka bagaimana dengan para penguasa yang memiliki kedudukan? Tentu sulit bagi mereka untuk menerima nasehat tersebut. Alangkah bagusnya firman Alloh tatkala memerintahkan Nabi Musa dan Harun pada saat mereka diperintahkan untuk memberi nasehat kepada Fir’aun, “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (Thoha: 44). Kalau Fir’aun saja, yang termasuk orang yang paling kafir, tatkala menasehatinya diperintahkan dengan cara yang lemah lembut, lalu bagaimana dengan para pemimpin yang statusnya masih di bawah Fir’aun atau bahkan masih termasuk seorang muslim?!

Mudah-mudahan Alloh menjadikan kita semua termasuk orang-orang yang di dalam hidupnya selalu berada di dalam bimbingan Al-Qur’an dan Sunnah-sunnah Nabi Sholallohu ‘alaihi wassalam. Kita juga berdo’a kepada Alloh agar menjadikan para pemimpin kita termasuk para pemimpin yang taat kepada Alloh dan para pemimpin yang memenuhi hak-hak rakyatnya. Wallohu a’lam.

***

Penulis: Ibnu ‘Ali Sutopo Yuwono
Artikel http://www.muslim.or.id

%d blogger menyukai ini: