• Blog Stats

    • 41,468,946 hits
  • pacaran adalah perbuatan haram, maka janganlah berpacaran. Dan jangan mau jika diajak pacaran. Akan tetapi tempuhlah jalan yang halal jika memang benar-benar cinta dan ingin menikah. Segeralah menikah dan jangan berpacaran. ================================== dan janganlah kamu mendekati zina. sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk. [QS Al Isra':32] ==================================== JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA ====================================== Asy-Sya’bi berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah)
  • Artikel Terbaru

  • wasiat untuk seluruh umat islam

    ====================================== “Janganlah kamu saling dengki, saling membenci, saling mengintip rahasia, saling bersaing, saling mencari keburukan, saling menawar lebih tinggi untuk menipu pembeli sehingga menawar tinggi, saling memutuskan hubungan, saling bermusuhan, janganlah sebagian kalian menjual atas jualan yang lain. Jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang diperintahkan Allah. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh menganiaya, tidak boleh menelantarkannya dan tidak boleh menghinanya. ============================================= Taqwa ada di sini, taqwa ada di sini, taqwa ada di sini kata Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam sambil menunjuk dadanya. ================================================= Cukuplah merupakan kejelekan seseorang apabila menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain adalah haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. Hati-hatilah bersangka buruk, karena sesungguhnya bersangka buruk adalah omongan yang paling dusta. ==================================================== Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk kamu dan hartamu, tetapi ia melihat hati dan perbuatanmu.” (riwayat Muslim dan Bukhari). ==========================================
  • BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR

    BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- -------------------------------------------------------------------------------------------- Orang yang mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi janda dan orang miskin ibarat berjihad di jalan Allah dan ibarat orang shalat malam (HR. Bukhari) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain. (HR. Ahmad) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersodaqoh dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana. (HR. Ath-Thabrani) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sodaqoh. (HR. Al-Baihaqi) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Tiap-tiap amalan makruf (kebajikan) adalah sodaqoh. Sesungguhnya di antara amalan makruf ialah berjumpa kawan dengan wajah ceria (senyum) dan mengurangi isi embermu untuk diisikan ke mangkuk kawanmu. (HR. Ahmad) ------------------------------------------------------------------------------------------------------------
  • berbuat baiklah pada semua binatang, termasuk kepada anjing

    Kita tidak diperbolehkan menyiksa binatang dengan cara apa pun, atau membuatnya kelaparan, memukulinya, membebaninya dengan sesuatu yang ia tidak mampu, menyiksa atau membakarnnya. --------------------------------------------------- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Seorang wanita masuk neraka karena seekor kucing yang ia kurung hingga mati. Maka dari itu ia masuk neraka gara-gara kucing tersebut disebabkan dia tidak memberinya makan dan tidak pula memberinya minum di saat mengurung nya, dan dia tidak membiarkannya (melepaskannya) supaya memakan serangga di bumi.” (HR. al-Bukhari) ------------------------------------------------------- Dan ketika beliau melewati sarang semut yang telah dibakar, beliau bersabda, “Sesungguhnya tidak ada yang berhak menyiksa dengan api selain Rabb (Tuhan) pemilik api.” (HR. Abu Dawud, hadits shahih) ---------------------------------------------- “Barangsiapa yang tidak berbelas kasih niscaya tidak akan dibelaskasihi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) ------------------------------------------------- “Kasihanilah siapa saja yang ada di bumi ini, niscaya kalian akan dikasihani oleh yang ada di langit.” (HR. at-Tirmidzi) -------------------------------------------------- Dibolehkan membunuh hewan-hewan yang membahayakan atau mengganggu seperti anjing buas, serigala, ular, kalajengking, tikus dan lain-lain karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Ada lima macam hewan fasik (buruk) yang boleh dibunuh di waktu halal (tidak ihram) dan di waktu ihram, yaitu ular, burung gagak yang putih punggung dan perutnya, tikus, anjing buas, dan rajawali.” (HR. Muslim). Juga terdapat hadits shahih yang membolehkan untuk membunuh kalajengking. ================================================
  • JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA

    ====================================== ‘Amr bin Syarahil Asy-Sya’bi rahimahullahu berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah, 2/636. Dihasankan oleh Al-Albani dalam At-Tahrim, hal. 148) ----------------------------------------------------------------------------- Ibnu Abdil Barr rahimahullahu berkata: “Termasuk hasil usaha yang disepakati keharamannya adalah riba, upah para pelacur, sogokan (suap), mengambil upah atas meratapi (mayit), nyanyian, perdukunan, mengaku mengetahui perkara gaib dan berita langit, hasil seruling dan segala permainan batil.” (Al-Kafi hal. 191) ---------------------------------------------------------------------- Ath-Thabari rahimahullahu berkata: “Telah sepakat para ulama di berbagai negeri tentang dibenci dan terlarangnya nyanyian.” (Tafsir Al-Qurthubi, 14/56) ------------------------------------------------------------------- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “Mazhab empat imam menyatakan bahwa alat-alat musik semuanya haram.” Lalu beliau menyebutkan hadits riwayat Al-Bukhari rahimahullahu . (Majmu’ Fatawa, 11/576) --------------------------------------------------------------- ------------------------------------------
  • wasiat bagi para pemuda

    ====================================== ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Barangsiapa di antara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya mereka adalah ummat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, dan paling lurus petunjuknya, serta paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya, karena mereka berada di jalan yang lurus.” [Dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Baar dalam kitabnya Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih II/947 no. 1810, tahqiq Abul Asybal Samir az-Zuhairy] ======================================
  • wasiat Imam al-Auza’i

    ====================================== Imam al-Auza’i rahimahullah (wafat th. 157 H) mengatakan: “Bersabarlah dirimu di atas Sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para Shahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan Salafush Shalih, karena akan mencukupi kamu apa saja yang mencukupi mereka.” [Syarh Ushul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah 1/174 no. 315] --------------------------------------------------------------- Beliau rahimahullah juga berkata: “Hendaklah kamu berpegang kepada atsar Salafush Shalih meskipun orang-orang menolaknya dan jauhkanlah diri kamu dari pendapat orang meskipun ia hiasi pendapatnya dengan perkataannya yang indah.” [Imam al-Aajury dalam as-Syari’ah I/445 no. 127, di-shahih-kan oleh al-Albany dalam Mukhtashar al-‘Uluw lil Imam adz-Dzahaby hal. 138, Siyar A’laam an-Nubalaa’ VII/120] =================================================
  • Mengutip perkataan Syaikh Bin Baz rahimahullaahu

    “Zaman ini adalah zaman kelembutan, kesabaran dan hikmah, bukanlah zaman kekerasan (kebengisan). Mayoritas manusia saat ini dalam keadaan jahil (bodoh), lalai dan lebih mementingkan duniawiyah. Maka haruslah sabar dan lemah lembut sampai dakwah ini tersampaikan dan sampai mereka mengetahuinya. Kami mohon petunjuk kepada Alloh untuk semuanya.” (Majmu’ Fatawa Samahatul Imam Ibnu Bazz (Juz VIII, hal 376) dan (Juz X, hal. 91) =================================================
  • jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara

    ====================================== Segala puji hanyalah milik Alloh yang telah mempertautkan hati kaum mukminin dan menganjurkan mereka supaya bersatu padu dan saling berhimpun serta memperingatkan dari perpecahan dan perselisihan. -------------------------------------------------------- Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq untuk disembah melainkan hanyalah Alloh semata yang tidak memiliki sekutu. Dialah yang mensyariatkan dan memudahkan, dan Dia terhadap kaum mukminin adalah sangat penyantun. ------------------------------------------------------ Saya juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang diperintahkan dengan kemudahan dan berita gembira. ----------------------------------------------------- Beliau bersabda : Permudahlah dan janganlah kamu persulit, berikanlah kabar gembira dan janganlah membuat orang lari (dari kebenaran). ------------------------------------------------------ Permisalan kaum mukminin satu dengan lainnya dalam hal kasih sayang, tolong menolong dan kecintaan, bagaikan tubuh yang satu, jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan merasa demam atau terjaga” --------------------------------------------------- Tidak ragu lagi, bahwa kewajiban Ahlus Sunnah di setiap zaman dan tempat adalah saling bersatu dan menyayangi di antara mereka serta saling bekerja sama di dalam kebajikan dan ketakwaan… ==================================================---------------
  • KHUTBATUL HAJAH

    ====================================== Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, dan meminta ampun kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami, dan dari keburukan-keburukan perbuatan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah saja, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. ================================================ “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” ================================================== “Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan darinya Allah menciptakan isterinya; dan dari keduanya Allah mengembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silatur rahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” ========================================================= “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mena’ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. ============================================================ Amma ba’du; Maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad , dan seburuk-buruk perkara dalam agama adalah yang di ada-adakan, setiap yang diada-adakan (dalam urusan agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan. (HR. Muslim, an-Nasa’i dan selain keduanya) ==================================================
  • mengutip perkataan Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad hafizhahullaahu:

    “Telah terjadi di zaman ini, sibuknya sebagian ahlus sunnah dengan sebagian lainnya dengan tajrih (saling mencela) dan tahdzir, dan implikasi dari hal ini menyebabkan terjadinya perpecahan, perselisihan dan saling mengisolir. Padahal sepantasnya bahkan seharusnya bagi mereka untuk saling mencintai dan berkasih sayang terhadap sesama mereka, dan menyatukan barisan mereka di dalam menghadapi ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu yang menyelisihi ahlus sunnah wal jama’ah. ---------------------------------------------------- “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- agar menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dari perkara-perkara yang tidak bermanfaat bagi mereka, sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “diantara kebaikan seorang muslim adalah meninggalkan hal-hal yang tidak berfaidah baginya.” Hadits hasan diriwayatkan oleh Turmudzi.” ------------------------------------------------------ “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- untuk bersikap pertengahan dan moderat, diantara sikap ghuluw (ekstrim) dan meremehkan, dan diantara sikap ifrath (berlebih-lebihan) dan tafrith (menggampangkan). Sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “Jauhilah oleh kalian sikap ghuluw di dalam agama, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa dikarenakan sikap ghuluw mereka di dalam agama.” Ini hadits shahih, dikeluarkan oleh an-Nasa’i dan selainnya.” ---------------------------------------------------- “Dan aku nasehatkan supaya mereka berhati-hati dari sikap zhalim, dikarenakan hadits Qudsi, “Wahai hamba-Ku, sesunguhnya Aku haramkan kezhaliman atas diri-Ku, maka aku jadikan pula haram atas diri kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi” diriwayatkan oleh Muslim, dan hadits Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “takutlah kalian dari kezhaliman, karena sesungguhnya kezhaliman itu adalah kegelapan di hari kiamat” diriwayatkan oleh Muslim. ------------------------------------------------------ Aku memohon kepada Allah Azza wa Jalla untuk menunjuki seluruh ummat kepada apa yang diridhai-Nya, agar mereka mendalami agama Islam (tafaqquh fid din) dan menetapi kebenaran, serta agar mereka menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dan menjauhkan dari apa-apa yang tidak bermanfaat. Sesungguhnya Ia berkuasa dan berkemampuan atasnya. Semoga Sholawat dan Salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya dan para sahabatnya. (selesai kutipan) ===========================================
  • mengutip perkataan Imam Albani rahimahullaahu

    “Wajib atas kita untuk berlemah lembut di dalam dakwah kita terhadap orang-orang yang menyelisihi kita, dan jadikan selalu firman Alloh Ta’ala berikut (sebagai pegangan) dan untuk selamanya : “Serulah mereka ke jalan Rabb-mu dengan hikmah dan nasehat yang baik, serta berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.” Dan mereka yang pertama lebih berhak untuk kita terapkan hikmah ini adalah mereka yang paling memusuhi kita di dalam dasar (mabda’) dan aqidah kita, hingga kita tidak menggabungkan antara beratnya dakwah yang haq yang Alloh memperteguh kita dengannya dengan beratnya cara (ushlub) kita berdakwah kepada Alloh Azza wa Jalla” ==================================================
  • Diriwayatkan bahwa Hasan Al-banna berkata: “Kami menginginkan terbentuknya sosok individu muslim, rumah tangga Islami, bangsa yang Islami, pemerintahan yang Islami, negara yang dipimpin oleh negara-negara Islam, menyatukan perpecahan kaum muslimin dan negara mereka yang terampas, kemudian membawa bendera jihad dan da’wah kepada Allah sehingga dunia mendapatkan ketentraman dengan ajaran-ajaran Islam.” ==================================================
  • warning

    dalam blog ini mungkin terdapat hadits dhoif, riwayat yang tidak valid, salah tulis, kutipan yg tidak sesuai syariat islam, dan berbagai kesalahan2 lain, dan belum sempat di sensor, jadi mohon maaf sebesar-besarnya

Bagaimana Seharusnya Seorang Muslim Menilai Sosok Mbah Maridjan ?

Selain meletusnya Gunung Merapi, kematian Mbah Maridjan juga menjadi obrolan berbagai lapisan masyarakat akhir – akhir ini dikarenakan keterkenalan tokoh yang satu ini sebagai Kuncen (juru kunci,ed)Gunung Merapi dan menjadi korban panasnya debu vulkanik Gunung Merapi. Apalagi diberitakan bahwa dia meninggal dalam keadaan sujud(bukan sujud ke arah qiblat tapi ke arah selatan, ed). Dan tidak sedikit orang yang memujinya karena mati dalam keadaan sujud, keberanian dan berbagai alasan lainnya. Dan hampir tidak ada komentar yang tak senada dengan komentar – komentar di atas. Lalu bagaimanakah seorang muslim yang terbimbing dengan agama yang benar setelah hidayah taufiq dari Allah menilai sosok Mbah Maridjan ? Insya Allah penjelasan sederhana berikut ini akan menjadi penjelas bagaimanakah seharusnya seorang muslim menilai seorang Mbah Maridjan

Seharusnya seorang itu jeli dalam setiap permasalahan apalagi yang menyangkut permasalahan agama. Cukup dengan mengetahui bahwasannya Mbah Maridjan sebagai seorang “Kuncen” Gunung Merapi maka seharusnya seseorang sudah bisa menilai sosok Mbah Maridjan dengan benar serta tidak memuji dan mengaguminya. Karena dibalik kata Kuncen terdapat keyakinan – keyakinan sesat, keyakinan -keyakinan syirik. Diantara hal – hal yang menunjukkan kesyirikan yang dilakukan Mbah Maridjanakan dijelaskan dalam beberapa point berikut ini.

1. Mbah Maridjan meyakini ada yang dapat menjadi Rabb selain Allah

Mbah Maridjan menyakini bahwa Gunung Merapi mempunyai penunggu, penguasa (selain Allah), dan bisa menimpakan bahaya untuk masyarakat sekitar. Karena keyakinan itulah Mbah Maridjan melakukan taqarub (pendekatan diri)dengan memberi sesajen dan yang lainnya agar penunggu atau penguasa Gunung Merapi tidak marah dan menimpakan bahaya kepada masyarakat sekitar. Hal ini tentunya merupakan perbuatan syirik (menyekutukkan Allah) yang sangat jelas. Diantara perbuatan kesyirikan lainnya yang dilakukan Mbah Maridjan adalah ritual Tapa Bisu dan Labuhan Merapi.Labuhan Merapi adalah ritual tolak bala (memohon agar tidak terjadi hal yang jelek) dengan membuang berbagai macam barang keraton berupa keris dan lainya.

Berkata Asy Syaikh Shalih Al-Fauzan hafidzahullah : “Syirik adalah menjadikan sekutu (atautandingan) bagi Allah di dalam rububiyah-Nya (penciptaan, pengaturan, pemberian manfaat danmudharat / bahaya) dan uluhiyah-Nya (dalam peribadahan kepada Allah)” (Aqidah Tauhid SyaikhShalih Al –Fauzan: 18 )

Berkata Imam Syaukani Rahimahullah : ”Bahkan syirik adalah dengan mengalihkan sesuatu yangmerupakan kekhususan Allah diarahkan kepada selain Allah“ (Daurun Nadid Fi Kalimatil Ikhlas :18 )

Termasuk kekhususan Allah dalam rububiyah-Nya yaitu bahwa Allah adalah satu-satunya yang mencipta, mengatur alam semesta ini, memberi rezeki, memberi manfaat atau mudharat (bahaya), dan lain sebagainya. Sedangkan Mbah Maridjan telah membuat tandingan bagi Allah di dalam rububiyah-Nya ketika menyakini bahwa ada sesuatu selain Allah yaitu penunggu Gunung Merapi yang dapat memberikan manfaat dan mudharat.

Padahal Allah Subhaanahu Wata’ala telah berfirman :

الْحَمْدُ لِلّهِ رَبّ الْعَالَمِينَ

Artinya: “Segala puji bagi Allah Rabb semesta Alam” (QS. Al-Fatihah : 2)

اللهُ خَالِقُ كُلّ شَيْءٍ

Artinya : “Allah pencipta segala sesuatu” (QS. Az-Zumar : 62)

Artinya : “Katakanlah : “Siapakah yang melimpahkan rezeki kepada kalian dari langit dan bumi, atausiapakah yang berkuasa menciptakan pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkanyang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan” Maka mereka akan menjawab : “Allah”. Maka Katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya ?” (QS. Yunus : 31)

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللهُ بِضُرّ فَل كَاشِفَ لَهُ إل هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَل رَادّ لِفَضْلِهِ

Artinya : ”Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan (bahaya) kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya.” (QS. Yunus : 107)

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللهُ بِضُرّ فَل كَاشِفَ لَهُ إِلّ هُوَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya : ”Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapatmenghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Dia mendatangkan kebaikkan kepadamu, maka Dia MahaKuasa atas segala sesuatu ” ( Qs. Al – An’am : 18 )

أَيُشْرِكُونَ مَا ل يَخْلُقُ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَل يَسْتَطِيعُونَ لَهُمْ نَصْرًا وَل أَنفُسَهُمْ يَنصُرُونَ

“Mengapa mereka mempersekutukan Allah dengan berhala yang tidak dapat menciptakan sesuatu apapun ? Padahal berhala itu sendiri diciptakan. Dan berhala itu tidak dapat memberikan pertolongan kepada penyembahnya, dan kepada dirinya sendiripun mereka tidak dapat memberikan pertolongan”. (Qs. Al A’raaf : 191-192)

Berkata Asy-Syaikh Al-’Allamah Abdul Aziz Bin Baaz Rahimahullah ketika menjelaskan Surat Al A’raaf ayat 191-192 di atas : “Dan ini adalah sifat sesembahan yang tidak berhak disembah. Hal ini merupakan pertanyaan dalam rangka celaan (bagi orang yang beribadah kepada selain Allah, penj). Mereka menyembah sesuatu yang tidak bisa menciptakan walaupun hanya seekor semut bahkan sesembahan itu sendiri diciptakan. Bagaimana bisa mereka memberikan manfaat terhadap selain mereka, baik sesembahan itu berupa batu yang tidak berakal, atau makhluk hidup yang tidak dapat mendengar (orang yang menyerunya –penj), atau orang mati yang tidak bisa mengabulkan seruan mereka. Di dalam ayat ini terkandung empat sifat sesembahan yang disembah selain Allah, yaitu :

1. Bahwasannya mereka tidak dapat menciptakan sesuatu. 2. Bahwasannya mereka merupakan makhluk yang diciptakan. 3. Bahwasannya mereka tidak dapat menolong orang-orang yang menyembahnya. 4. Bahwasannya mereka tidak dapat memberikan pertolongan untuk diri mereka sendiri.”

( Syarhu Kitab At-Tauhid Asy-Syaikh Abdul Aziz Bin Baaz : 98 )

2. Mbah Maridjan mengakui mengetahui hal yang ghaib

Mbah Maridjan mengaku mendapat wangsit kapan Gunung Merapi akan meletus dari penunggu Gunung Merapi atau Mbah Merapi, dan memastikan meletus atau tidaknya Gunung Merapi, dan yang lain sebagainya.

Sedangkan Allah Subhaanahu Wata’ala telah berfirman :

إِنّهُمُ اتّخَذُوا الشّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ اللهِ وَيَحْسَبُونَ أَنّهُمْ مُهْتَدُونَ

”Sesungguhnya mereka menjadikan syaithan – syaithan sebagai wali (pelindung mereka) selain Allah, dan mereka mengira mereka mendapat petunjuk ” ( Qs. Al’Araaf : 30 )

Akhirnya tidak sedikit yang menjadi korban dari meletusnya Gunung Merapi termasuk Mbah Maridjan yang katanya mendapat wangsit itu dan orang – orang yang mengikutinya.

Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman :

قُلْ ل يَعْلَمُ مَنْ فِي السّمَوَاتِ وَالرَْضِ الْغَيْبَ إِلّ اللهُ

“Katakanlah wahai (Muhammad) tidak ada sesuatupun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah” (Qs. An-Naml : 65)

Berkata Asy-Syaikh Al-’Allamah Abdurrahman As-Sa’di Rahimahullah : “Allah mengikrarkan bahwa Dia sematalah yang mengetahui perkara yang ghaib di langit dan di bumi sebagaimana Allah Ta’ala berfirman : “Pada sisi Allah-lah kunci – kunci semua perkara yang ghaib, tidak ada yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Dia sendiri. Dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan. Dan tidak sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya pula. Dan tidak jatuh sebutir bijipun di kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata. Dan Allah Ta’ala berfirman “Sesungguhnya hanya di sisi Allah-lah ilmu tentang hari kiamat, dan Dia menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada di dalam rahim …” sampai akhir surat. Perkara ghaib dan yang semisalnya merupakan kekhususan bagi Allah dalam ilmu-Nya, tidak ada yang mengetahuinya baik itu malaikat yang terdekat ataupun nabi yang diutus.” (Taisirul Karimir Rahman Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di dalam ayat ini)

3. Mbah Maridjan beribadah kepada Allah dan juga beribadah kepada selain Allah.

Jika seorang muslim mengetahui sedikit saja ilmu agama dengan pemahaman yang benar insya Allah dia tidak akan salah menilai sosok seorang Mbah Maridjan. Tapi jauhnya mereka dari ilmu agama yang benar sehingga mereka diselimuti kebodohan yang sangat. Pengetahuan seseorang tentang Mbah Maridjan bahwa dia disamping beribadah kepada Allah dengan sholat, puasa, dan membaca Al Qur’an, akan tetapi disisi lain dia juga menyembah sesuatu selain Allah dengan berbagai macam ritual diantaranya menyediakan sesajen kepada sesuatu yang diyakini sebagai penunggu atau penguasa Gunung Merapi. Hal ini jelas merupakan perbuatan kesyirikan dan kekufuran yang bermula dari kesyirikan dalam rububiyah Allah (telah dijelaskan dalam point pertama, ed) dan berakibat pada perbuatan syirik dalam uluhiyyah Allah.

Islam adalah agama tauhid, yang memerintahkan kita untuk beribadah kepada Allah semata dan melarang kita beribadah kepada selain Allah. Baik itu kepada gunung, jin, atau selain mereka. Bahkan tauhid adalah inti agama dan dakwahnya para Rasul.

Allah Ta’ala Berfirman :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنّ وَالِنسَ إِلّ لِيَعْبُدُونِ

Artinya : ”Dan tidaklah aku menciptakan Jin dan Manusia kecuali hanya untuk beribadah kepadaku” (QS. Adz-Dzariyat : 56)

Berkata Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu : “Segala sesuatu ibadah yang ada di dalam Al -Qur’an,memiliki makna tauhid” (Tafsir Al Baghowi, dinukil dari Syarh Qawaidul Arba’ Syaikh Khalid Ar Radadi)

وَاعْبُدُوا اللهَ وَل تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

Artinya : “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya”. (QS. An-Nisaa : 36)

إِيّاكَ نَعْبُدُ وَإِيّاكَ نَسْتَعِينُ

Artinya : “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan” (Qs. Al Fatihah : 5)

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلّ أُمّةٍ رَسُولً أَنِ اُعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطّاغُوتَ

”Dan sunnguh Kami telah mengutus seorang Rasul untuk setiap ummat (untuk mendakwahkan) sembahlah Allah dan jauhilah thagut” ( Qs. An Nahal : 36 )

Berkata Asy Syaikh Al ‘Alaamah Shalih Al Fauzan hafidzahullah : ”Faidah yang dapat diambil dalam ayat ini bahwasannya hikmah dari diutusnya para Rasul adalah dakwah kepada tauhid dan melarang dari perbuatan syirik” ( Al Mulakhos Syarh Kitab Tauhid : 11 )

Demikian tadi diantara ayat – ayat yang memerintahkan kita untuk beribadah kepada Allah semata dan melarang untuk beribadah kepada selain Allah. Maka apabila seorang mencampur ibadahnya dengan perbuatan syirik (menyekutukan Allah) dengan kesyirikan yang besar atau beribadah dengan tanpa tauhid maka sia-sialah amalannya.

Berkata Syaikhul Islam Muhammad An-Najdi Rahimahullah : ”Ketahuilah, bahwa ibadah tidaklah dinamakan sebagai sebuah ibadah kecuali jika disertai dengan tauhid (pelakunya hanya beribadah kepada Allah semata -pen) sebagaimana tidak dikatakan sholat kecuali dalam keadaan thaharah (suci). Maka apabila syirik masuk ke dalam ibadah akan membatalkan ibadah sebagaimana hadas apabila masuk ke dalam thaharah “ (Qawaidul Arba’)

Berkata Asy Syaikh Shalih Alu Syaikh hafidzahullah : “Apabila kamu telah mengetahui bahwasannya ibadah tidak diterima kecuali dengan beribadah hanya kepada Allah semata (mentauhidkan Allah, ed). Demikian halnya sholat tidak diterima kecuali dalam keadaan thaharah (suci). Maka beribadah hanya kepada Allah semata (tauhid, keikhlasan) merupakan syarat diterimanya ibadah. Demikian juga thaharah (suci) merupakan syarat dari sahnya shalat, dimana tidak sah shalat kecuali dalam keadaan suci (thaharah). Walau seandainya terdapat bekas sujud di dahinya, di siang hari mengerjakan puasa dan di malam hari mengerjakan shalat. Hal ini dikarenakan syarat diterimanya semua ibadah tersebut adalah dilakukan oleh seorang muwwahid (orang yang hanya beribadah kepada Allah semata) yang ikhlas.”

Allah Jalla wa’alaa berfirman :

وَلَ قَدْ أُوحِ يَ إِلَيْ كَ وَإِلَ ىَ الّ ذَِينَ مِ نَْ قَبْلِ كَ لَئِ نَْ أَ شَْرَكْتَ لَيَحْبَطَ نَّ عَمَلُ كَ وَلَتَكُ وَنَنّ مِ نَ

الْخَاسِرِينَ. بَلِ اللهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشّاكِرِينَ

“Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada nabi – nabi yang sebelummu, sungguh jika engkau berbuat syirik (mempersekutukan Allah), niscaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi. Karena itu hendaklah Allah saja yang engkau sembah dan hendaklah engkau termasuk orang yang bersyukur” ( Qs. Az Zummar : 65-66 )

Allah Jalla wa’alaa berkata kepada orang kafir

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

“Dan Kami perlihatkan segala amal (kebaikan) yang telah mereka (orang kafir) kerjakan, lalu kami jadikan amalan itu bagaikan debu yang berterbangan (tidak diterima)” (Qs. Al Furqan : 23). Selesai perkataan Ast Syaikh Shalih Alu Syaikh dalam Syarah Al Qawaidul Arba’ : 11

4. Mbah Maridjan menjadikan Gunung Merapi sebagai perantara doanya terhadap Allah

Diantara salah satu perkataan Mbah Maridjan yang menunjukkan hal ini adalah ketika berkata kepada wartawan detik.com saat ditemui di rumahnya (Kamis, 18/5/2006) Mbah Maridjan berkata : “Saya di sana berdoa, minta kepada Allah dengan ‘lantaran’ Merapi”.

Kemudian kita tengok perkataan seorang ulama yang menjelaskan tentang perbuatan – perbuaan yang dapat membatalkan ke-islaman seseorang. Berkata Syaikhul Islam Muhammad An-Najdi Rahimahullah : “Barangsiapa yang menjadikan adanya perantara antara dirinya dengan Allah, mereka berdoa, meminta syafaat dan bertawakal kepada perantara tersebut maka dia telah kafir menurut kesepakatan para ulama “ (Kitab Nawaqidul Islam)

Dalil tentang hal ini adalah firman Allah Ta’ala

أَل لِلّ هَِ ال دَّينُ الْخَالِصَُ وَالّ ذَِينَ اتّ خَذُوا مِنَْ دُونِ هَِ أَوْلِيَ اَءَ مَا نَعْبُ دَُهُمْ إِلّ لِيُقَرّبُونَ اَ إِلَىَ الل هَِ

زُلْفَى إِنّ اللهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنّ اللهَ ل يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفّارٌ

“ Ingatlah! hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik). Dan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai pelindung berkata : “Kami tidak menyembah mereka melainkan berharap agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Dan sungguh Allah akan memberi keputusan diantara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan, sungguh Allah tidak akan memberi petunjuk kepada seorang pendusta dan orang yang kafir” (Qs. Az Zumar : 3 )

Pada ayat yang mulia ini Allah memerintahkan kita untuk beibadah kepada Allah semata, mengikhlaskan agama dan ketaatan hanya untuk-Nya, tetapi mereka justru menyembah selain Allah dengan cara menjadikan perantara antara dirinya dengan Allah di dalam peribadahan kepada-Nya. Yang mereka menyembah perantara itu dengan berbagai macam ibadah. Kemudian Allah mengatakan tentang mereka di akhir ayat, yaitu sebagai seorang pendusta lagi kafir.

Allah Ta’ala berfirman dalam ayat lain

وَيَعْبُدَُونَ مِنَْ دُونَِ اللهَِ مََا ل يَضَُرّهُمْ وَل يَنْفَعُهُمَْ وَيَقُولُوَنَ هَؤُلءِ شَُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللهَِ قُلَْ

أَتُنَبّئُونَ اللهَ بِمَا ل يَعْلَمُ فِي السّمَوَاتِ وَل فِي الرَْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمّا يُشْرِكُونَ

“Dan mereka menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat mendatangkan bencana kepada mereka dan tidak pula memberi manfaat, dan mereka berkata : “Mereka itu adalah pemberi syafaat kami dihadapan Allah.” Katakanlah : “Apakah kamu akan memberitahu Allah sesuatu yang tidak diketahui-Nya apa yang ada di langit dan di bumi (padahal Allah mengetahui semuanya) ? Maha Suci Allah dari apa yang mereka sekutukan itu” (Qs. Yunus : 18 )

Pada ayat ini Allah mensucikan diri-Nya sendiri dari perbuatan syirik yang mereka kerjakan yaitu menjadikan perantara antara diri mereka dan Allah dengan beribadah kepada perantara tersebut. Baik perantara itu berupa berhala, orang ataupun gunung. Lalu Allah mengatakan tentang orang yang melakukan perbuatan tesebut diakhir ayat dengan perkataan “Maha Suci Allah dari apa yang mereka sekutukan itu”. Allah mengatakan perbuatan mereka sebagai perbuatan syirik, menyekutukan Allah.

Dan Allah Ta’ala berfirman tentang dosa syirik (menyekutukkan Allah) :

إنِّ اللهَ ل يَغْفِرُ أنَْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدِ افْتَرَى

إِثْمًا عَظِيمًا

Artinya “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni dosa selain dari syirik bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa yang mempersekutukkan Allah, sungguh dia telah mengerjakan dosa yang besar.” (Qs. An – Nisa : 48)

مَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنّةَ وَمَأْوَاهُ النّارُ وَمَا لِلظّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

Artinya : “Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka sungguh Allah telah mengharamkan Surga baginya, dan tempatnya ialah di Neraka. Dan tidak ada seorang penolongpun bagi orang – orang dzalim itu.” (Qs. Al Maidah : 72)

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Sungguh jika engkau berbuat syirik (mempersekutukan Allah), niscaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi” (Qs. Az Zummar : 65-66)

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

“Dan Kami perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan “ (Qs. Al Furqan : 23)

Kesimpulan

Insya Allah dari penjelasan di atas kita bisa menilai sosok Mbah Maridjan dengan penilaian yang benar berdasarkan ilmu dan bukan atas kebodohan atau ketertipuan dari pengaruh media massa. Beberapa kesimpulan yang dapat kita ambil diantaranya bahwa :

1. Ternyata Mbah Maridjan adalah seorang yang melakukan kesyirikan di dalam rububiyah dan uluhiyah-Nya, baik kesyirikan yang besar atau yang kecil. 2. Begitu juga dia mengaku mengetahui perkara yang ghaib (kapan meletusnya Gunung Merapi) padahal yang mengetahui perkara yang ghaib hanyalah Allah semata. Dan perbuatan – perbuatan syirik lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Dengan kesimpulan ini, apakah masih ada yang menilai Mbah Maridjan sebagai seorang yang shalih, patut dijadikan teladan, dipuji, dan dikagumi ?

Berkata Asy Syaikh Muhammad Bin Shalih Al Utsaimin ketika menjelaskan pengertian orang yang shalih : “Orang shalih adalah orang yang menunaikan hak Allah dan hamba – hamba-Nya” (Syarh Kasyfu Subhaat). Hak Allah yang terbesar adalah mentauhidkan Allah, beribadah hanya kepada Allah semata. Kalau hak Allah yang terbesar saja tidak dipenuhi oleh Mbah Maridjan apakah dia pantas dikatakan sebagai seorang shalih dan dianggap mati dalam keadaan khusnul khatimah (kesudahan yang baik) ?

Wahai kaum muslimin jagalah aqidah dan keimananmu dari segala kesyirikkan, khurafat, dan perdukunan. Dan bertakwalah (takutlah kepada Allah, ed) wahai para pengelola media massa janganlah kalian jerumuskan umat ke gelapnya kebodohan dan najisnya kesyirikkan, kepada kekufuran dan perdukunan. Dunia ini hanya sementara dan kelak kalian akan dimintai pertanggung-jawaban atas semua yang telah kalian kerkajan.

Sumber : http://tauhiddansyirik.wordpress.com/2010/11/01/bagaimana-seorang-muslim-menilai-sosokmbah-maridjan/

%d blogger menyukai ini: