• Blog Stats

    • 41,455,096 hits
  • pacaran adalah perbuatan haram, maka janganlah berpacaran. Dan jangan mau jika diajak pacaran. Akan tetapi tempuhlah jalan yang halal jika memang benar-benar cinta dan ingin menikah. Segeralah menikah dan jangan berpacaran. ================================== dan janganlah kamu mendekati zina. sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk. [QS Al Isra':32] ==================================== JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA ====================================== Asy-Sya’bi berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah)
  • Artikel Terbaru

  • wasiat untuk seluruh umat islam

    ====================================== “Janganlah kamu saling dengki, saling membenci, saling mengintip rahasia, saling bersaing, saling mencari keburukan, saling menawar lebih tinggi untuk menipu pembeli sehingga menawar tinggi, saling memutuskan hubungan, saling bermusuhan, janganlah sebagian kalian menjual atas jualan yang lain. Jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang diperintahkan Allah. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh menganiaya, tidak boleh menelantarkannya dan tidak boleh menghinanya. ============================================= Taqwa ada di sini, taqwa ada di sini, taqwa ada di sini kata Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam sambil menunjuk dadanya. ================================================= Cukuplah merupakan kejelekan seseorang apabila menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain adalah haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. Hati-hatilah bersangka buruk, karena sesungguhnya bersangka buruk adalah omongan yang paling dusta. ==================================================== Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk kamu dan hartamu, tetapi ia melihat hati dan perbuatanmu.” (riwayat Muslim dan Bukhari). ==========================================
  • BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR

    BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- -------------------------------------------------------------------------------------------- Orang yang mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi janda dan orang miskin ibarat berjihad di jalan Allah dan ibarat orang shalat malam (HR. Bukhari) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain. (HR. Ahmad) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersodaqoh dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana. (HR. Ath-Thabrani) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sodaqoh. (HR. Al-Baihaqi) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Tiap-tiap amalan makruf (kebajikan) adalah sodaqoh. Sesungguhnya di antara amalan makruf ialah berjumpa kawan dengan wajah ceria (senyum) dan mengurangi isi embermu untuk diisikan ke mangkuk kawanmu. (HR. Ahmad) ------------------------------------------------------------------------------------------------------------
  • berbuat baiklah pada semua binatang, termasuk kepada anjing

    Kita tidak diperbolehkan menyiksa binatang dengan cara apa pun, atau membuatnya kelaparan, memukulinya, membebaninya dengan sesuatu yang ia tidak mampu, menyiksa atau membakarnnya. --------------------------------------------------- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Seorang wanita masuk neraka karena seekor kucing yang ia kurung hingga mati. Maka dari itu ia masuk neraka gara-gara kucing tersebut disebabkan dia tidak memberinya makan dan tidak pula memberinya minum di saat mengurung nya, dan dia tidak membiarkannya (melepaskannya) supaya memakan serangga di bumi.” (HR. al-Bukhari) ------------------------------------------------------- Dan ketika beliau melewati sarang semut yang telah dibakar, beliau bersabda, “Sesungguhnya tidak ada yang berhak menyiksa dengan api selain Rabb (Tuhan) pemilik api.” (HR. Abu Dawud, hadits shahih) ---------------------------------------------- “Barangsiapa yang tidak berbelas kasih niscaya tidak akan dibelaskasihi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) ------------------------------------------------- “Kasihanilah siapa saja yang ada di bumi ini, niscaya kalian akan dikasihani oleh yang ada di langit.” (HR. at-Tirmidzi) -------------------------------------------------- Dibolehkan membunuh hewan-hewan yang membahayakan atau mengganggu seperti anjing buas, serigala, ular, kalajengking, tikus dan lain-lain karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Ada lima macam hewan fasik (buruk) yang boleh dibunuh di waktu halal (tidak ihram) dan di waktu ihram, yaitu ular, burung gagak yang putih punggung dan perutnya, tikus, anjing buas, dan rajawali.” (HR. Muslim). Juga terdapat hadits shahih yang membolehkan untuk membunuh kalajengking. ================================================
  • JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA

    ====================================== ‘Amr bin Syarahil Asy-Sya’bi rahimahullahu berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah, 2/636. Dihasankan oleh Al-Albani dalam At-Tahrim, hal. 148) ----------------------------------------------------------------------------- Ibnu Abdil Barr rahimahullahu berkata: “Termasuk hasil usaha yang disepakati keharamannya adalah riba, upah para pelacur, sogokan (suap), mengambil upah atas meratapi (mayit), nyanyian, perdukunan, mengaku mengetahui perkara gaib dan berita langit, hasil seruling dan segala permainan batil.” (Al-Kafi hal. 191) ---------------------------------------------------------------------- Ath-Thabari rahimahullahu berkata: “Telah sepakat para ulama di berbagai negeri tentang dibenci dan terlarangnya nyanyian.” (Tafsir Al-Qurthubi, 14/56) ------------------------------------------------------------------- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “Mazhab empat imam menyatakan bahwa alat-alat musik semuanya haram.” Lalu beliau menyebutkan hadits riwayat Al-Bukhari rahimahullahu . (Majmu’ Fatawa, 11/576) --------------------------------------------------------------- ------------------------------------------
  • wasiat bagi para pemuda

    ====================================== ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Barangsiapa di antara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya mereka adalah ummat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, dan paling lurus petunjuknya, serta paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya, karena mereka berada di jalan yang lurus.” [Dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Baar dalam kitabnya Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih II/947 no. 1810, tahqiq Abul Asybal Samir az-Zuhairy] ======================================
  • wasiat Imam al-Auza’i

    ====================================== Imam al-Auza’i rahimahullah (wafat th. 157 H) mengatakan: “Bersabarlah dirimu di atas Sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para Shahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan Salafush Shalih, karena akan mencukupi kamu apa saja yang mencukupi mereka.” [Syarh Ushul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah 1/174 no. 315] --------------------------------------------------------------- Beliau rahimahullah juga berkata: “Hendaklah kamu berpegang kepada atsar Salafush Shalih meskipun orang-orang menolaknya dan jauhkanlah diri kamu dari pendapat orang meskipun ia hiasi pendapatnya dengan perkataannya yang indah.” [Imam al-Aajury dalam as-Syari’ah I/445 no. 127, di-shahih-kan oleh al-Albany dalam Mukhtashar al-‘Uluw lil Imam adz-Dzahaby hal. 138, Siyar A’laam an-Nubalaa’ VII/120] =================================================
  • Mengutip perkataan Syaikh Bin Baz rahimahullaahu

    “Zaman ini adalah zaman kelembutan, kesabaran dan hikmah, bukanlah zaman kekerasan (kebengisan). Mayoritas manusia saat ini dalam keadaan jahil (bodoh), lalai dan lebih mementingkan duniawiyah. Maka haruslah sabar dan lemah lembut sampai dakwah ini tersampaikan dan sampai mereka mengetahuinya. Kami mohon petunjuk kepada Alloh untuk semuanya.” (Majmu’ Fatawa Samahatul Imam Ibnu Bazz (Juz VIII, hal 376) dan (Juz X, hal. 91) =================================================
  • jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara

    ====================================== Segala puji hanyalah milik Alloh yang telah mempertautkan hati kaum mukminin dan menganjurkan mereka supaya bersatu padu dan saling berhimpun serta memperingatkan dari perpecahan dan perselisihan. -------------------------------------------------------- Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq untuk disembah melainkan hanyalah Alloh semata yang tidak memiliki sekutu. Dialah yang mensyariatkan dan memudahkan, dan Dia terhadap kaum mukminin adalah sangat penyantun. ------------------------------------------------------ Saya juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang diperintahkan dengan kemudahan dan berita gembira. ----------------------------------------------------- Beliau bersabda : Permudahlah dan janganlah kamu persulit, berikanlah kabar gembira dan janganlah membuat orang lari (dari kebenaran). ------------------------------------------------------ Permisalan kaum mukminin satu dengan lainnya dalam hal kasih sayang, tolong menolong dan kecintaan, bagaikan tubuh yang satu, jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan merasa demam atau terjaga” --------------------------------------------------- Tidak ragu lagi, bahwa kewajiban Ahlus Sunnah di setiap zaman dan tempat adalah saling bersatu dan menyayangi di antara mereka serta saling bekerja sama di dalam kebajikan dan ketakwaan… ==================================================---------------
  • KHUTBATUL HAJAH

    ====================================== Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, dan meminta ampun kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami, dan dari keburukan-keburukan perbuatan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah saja, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. ================================================ “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” ================================================== “Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan darinya Allah menciptakan isterinya; dan dari keduanya Allah mengembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silatur rahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” ========================================================= “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mena’ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. ============================================================ Amma ba’du; Maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad , dan seburuk-buruk perkara dalam agama adalah yang di ada-adakan, setiap yang diada-adakan (dalam urusan agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan. (HR. Muslim, an-Nasa’i dan selain keduanya) ==================================================
  • mengutip perkataan Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad hafizhahullaahu:

    “Telah terjadi di zaman ini, sibuknya sebagian ahlus sunnah dengan sebagian lainnya dengan tajrih (saling mencela) dan tahdzir, dan implikasi dari hal ini menyebabkan terjadinya perpecahan, perselisihan dan saling mengisolir. Padahal sepantasnya bahkan seharusnya bagi mereka untuk saling mencintai dan berkasih sayang terhadap sesama mereka, dan menyatukan barisan mereka di dalam menghadapi ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu yang menyelisihi ahlus sunnah wal jama’ah. ---------------------------------------------------- “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- agar menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dari perkara-perkara yang tidak bermanfaat bagi mereka, sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “diantara kebaikan seorang muslim adalah meninggalkan hal-hal yang tidak berfaidah baginya.” Hadits hasan diriwayatkan oleh Turmudzi.” ------------------------------------------------------ “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- untuk bersikap pertengahan dan moderat, diantara sikap ghuluw (ekstrim) dan meremehkan, dan diantara sikap ifrath (berlebih-lebihan) dan tafrith (menggampangkan). Sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “Jauhilah oleh kalian sikap ghuluw di dalam agama, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa dikarenakan sikap ghuluw mereka di dalam agama.” Ini hadits shahih, dikeluarkan oleh an-Nasa’i dan selainnya.” ---------------------------------------------------- “Dan aku nasehatkan supaya mereka berhati-hati dari sikap zhalim, dikarenakan hadits Qudsi, “Wahai hamba-Ku, sesunguhnya Aku haramkan kezhaliman atas diri-Ku, maka aku jadikan pula haram atas diri kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi” diriwayatkan oleh Muslim, dan hadits Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “takutlah kalian dari kezhaliman, karena sesungguhnya kezhaliman itu adalah kegelapan di hari kiamat” diriwayatkan oleh Muslim. ------------------------------------------------------ Aku memohon kepada Allah Azza wa Jalla untuk menunjuki seluruh ummat kepada apa yang diridhai-Nya, agar mereka mendalami agama Islam (tafaqquh fid din) dan menetapi kebenaran, serta agar mereka menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dan menjauhkan dari apa-apa yang tidak bermanfaat. Sesungguhnya Ia berkuasa dan berkemampuan atasnya. Semoga Sholawat dan Salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya dan para sahabatnya. (selesai kutipan) ===========================================
  • mengutip perkataan Imam Albani rahimahullaahu

    “Wajib atas kita untuk berlemah lembut di dalam dakwah kita terhadap orang-orang yang menyelisihi kita, dan jadikan selalu firman Alloh Ta’ala berikut (sebagai pegangan) dan untuk selamanya : “Serulah mereka ke jalan Rabb-mu dengan hikmah dan nasehat yang baik, serta berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.” Dan mereka yang pertama lebih berhak untuk kita terapkan hikmah ini adalah mereka yang paling memusuhi kita di dalam dasar (mabda’) dan aqidah kita, hingga kita tidak menggabungkan antara beratnya dakwah yang haq yang Alloh memperteguh kita dengannya dengan beratnya cara (ushlub) kita berdakwah kepada Alloh Azza wa Jalla” ==================================================
  • Diriwayatkan bahwa Hasan Al-banna berkata: “Kami menginginkan terbentuknya sosok individu muslim, rumah tangga Islami, bangsa yang Islami, pemerintahan yang Islami, negara yang dipimpin oleh negara-negara Islam, menyatukan perpecahan kaum muslimin dan negara mereka yang terampas, kemudian membawa bendera jihad dan da’wah kepada Allah sehingga dunia mendapatkan ketentraman dengan ajaran-ajaran Islam.” ==================================================
  • warning

    dalam blog ini mungkin terdapat hadits dhoif, riwayat yang tidak valid, salah tulis, kutipan yg tidak sesuai syariat islam, dan berbagai kesalahan2 lain, dan belum sempat di sensor, jadi mohon maaf sebesar-besarnya

Kewajiban Hamba Dalam Menjalani Agamanya

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Perkara yang wajib dilakukan oleh setiap hamba di dalam menjalani agamanya yaitu mengikuti apa yang dikatakan oleh Allah ta’ala dan apa yang dikatakan oleh Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam serta ajaran para khalifah yang terbimbing dan mendapatkan hidayah sesudah beliau; yaitu para Sahabat dan para pengikut mereka yang setia. Sebab Allah telah mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa bukti-bukti dan petunjuk. Allah mewajibkan kepada seluruh manusia untuk beriman kepadanya dan mengikutinya secara lahir maupun batin.” (lihat Fathu Rabbil Bariyyah, hal. 7)

Risalah Nabi Muhammad Berlaku untuk Seluruh Umat Manusia

Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Katakanlah; ‘Wahai umat manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah bagi kalian semua. [Yang mengutusku adalah] Allah Dzat yang memiliki kerajaan langit dan bumi. Tiada sesembahan yang haq selain-Nya Yang menghidupkan dan mematikan’. Maka berimanlah kalian kepada Allah dan rasul-Nya seorang nabi yang ummi (buta huruf) yang juga beriman kepada Allah dan kalimat-Nya, maka ikutilah dia agar kalian mendapatkan hidayah.” (QS. Al A’raaf: 158)

Ketika mengomentari ayat ‘Wahai umat manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah bagi kalian semua.’ Syaikh Asy Syinqithi rahimahullah mengatakan, “Ayat yang mulia ini di dalamnya terdapat penegasan bahwasanya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam rasul bagi semua manusia. Allah telah menegaskan hal itu dalam banyak ayat, seperti dalam firman-Nya (yang artinya), “Tidaklah Kami mengutusmu kecuali untuk semua manusia.” (QS. Saba’: 28). Dan juga firman-Nya, “Maha suci Allah Dzat yang telah menurunkan Al Furqan kepada hamba-Nya agar dia menjadi pemberi peringatan bagi seluruh alam semesta.” (QS. Al Furqan: 1). Allah juga berfirman, “Barang siapa yang ingkar kepadanya maka sesungguhnya neraka adalah hukuman yang dijanjikan untuknya.” (QS. Huud: 17)

Di tempat yang lain, Allah memberlakukan keumuman risalah beliau itu dengan sampainya al-Qur’an ini kepada mereka yaitu firman Allah ta’ala, “Telah diwahyukan kepadaku al-Qur’an ini agar aku memberikan peringatan dengannya kepada orang-orang sampai kepadanya wahyu ini.” (QS. Al An’am: 19). Allah juga mempertegas keuniversalan risalah beliau ini untuk ahli kitab dan bangsa Arab sebagaimana dalam firman-Nya, “Dan katakanlah kepada orang-orang yang diberikan al kitab dan orang-orang yang ummi (bangsa Arab), ‘Apakah kalian mau berislam, jikalau kalian mau berislam maka kalian telah mendapatkan hidayah.’ Dan jika mereka justru berpaling, maka sesungguhnya kewajibanmu hanyalah sekedar menyampaikan.” (QS. Ali ‘Imran: 20). Dan ayat-ayat yang lainnya.” (Tafsir Adhwa’ul Bayan, Maktabah Syamilah vol. 2)

Syaikh Shalih bin Fauzan hafizhahullah mengatakan, “Ayat-ayat yang diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengandung arah pembicaraan yang tertuju kepada semua jin dan manusia dengan bermacam jenisnya. Allah tidak mengkhususkan suatu hukum apapun bagi bangsa Arab, namun Allah mengaitkan hukum-hukum tersebut dengan penamaan kafir dan mukmin, muslim dan munafik, orang baik dan orang fajir, orang yang berbuat ihsan dan orang yang melakukan kezaliman… dan nama-nama lain yang disebutkan di dalam al-Qur’an dan Hadits. Sama sekali tidak terdapat di dalam al-Qur’an dan juga Hadits sebuah pengkhususan bangsa Arab dalam pemberlakuan sebuah ketentuan hukum syariat. Allah hanya mengaitkan hukum-hukum tersebut dengan karakter-karakter yang dapat menimbulkan kecintaan Allah atau yang dapat menyebabkan timbulnya kemurkaan Allah. Dan diturunkannya al-Qur’an dengan bahasa Arab itu adalah suatu proses tabligh/penyampaian semata. Karena orang yang pertama kali beliau ajari adalah kaumnya. Kemudian melalui perantaraan merekalah risalah ini disebarkan ke segenap umat manusia…” (Al Irsyad ila Sahih Al I’tiqad, hal. 224)

Hanya Agama Islam yang Diterima di Sisi Allah

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Kami memandang bahwa barang siapa yang pada masa sekarang ini mendakwakan bahwasanya ada sebuah agama yang diterima di sisi Allah selain agama Islam baik itu agama Yahudi, Nasrani ataupun yang lainnya maka orang tersebut kafir. Kemudian kalau seandainya orang itu sebelumnya adalah muslim maka dia harus diminta untuk bertaubat. Kalau dia menurut maka diterima taubatnya, dan jika tidak maka dia berhak dibunuh (oleh penguasa Islam -pent.) dengan status sebagai orang murtad karena dia telah berani mendustakan al-Qur’an.” (Syarh ‘Aqidati Ahlis Sunnah wal Jama’ah, hal. 269)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya. Tidaklah ada seorang manusia pun yang mendengar tentang kenabianku di antara umat ini, entah dia beragama Yahudi ataupun Nasrani lantas tidak mau mengimani ajaran yang aku bawa ini melainkan dia pasti tergolong penduduk neraka.” (HR. Muslim)

Di dalam hadits yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku diberikan lima hal yang tidak diberikan kepada nabi-nabi sebelum diriku…” di antara kelima hal itu adalah, “Dan nabi yang terdahulu diutus hanya kepada kaumnya saja, sedangkan aku diutus untuk seluruh umat manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Oleh sebab itu Abu Ja’far Ath Thahawi rahimahullah mengatakan di dalam kitab aqidahnya yang sangat populer, “Dan beliau (Nabi Muhammad) diutus untuk seluruh bangsa jin dan segenap umat manusia, dengan mengemban kebenaran dan hidayah, dengan membawa cahaya dan pancaran sinar (wahyu).” Ibnu Abil ‘Izz Al Hanafi rahimahullah mengatakan, “Keberadaan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rasul yang diutus kepada semua manusia adalah perkara yang sudah pasti diketahui semua orang Islam sebagai bagian dari ajaran agama Islam.” (lihat Al Minhah Al Ilahiyah, hal. 221-222)

Maka sangatlah wajar jika Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Kami memandang bahwa barang siapa yang pada masa sekarang ini mendakwakan bahwasanya ada sebuah agama yang diterima di sisi Allah selain agama Islam baik itu agama Yahudi, Nasrani ataupun yang lainnya maka orang tersebut kafir…” (Syarh ‘Aqidati Ahlis Sunnah wal Jama’ah, hal. 269)

Kewajiban Mengikuti Sunnah Nabi dan Sunnah Khulafa’ ar Rasyidun

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wajib bagi kalian untuk mengikuti sunnahku dan sunnah khulafa’ ar rasyidin al mahdiyin sesudahku. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan geraham-geraham. Jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan, karena sesungguhnya semua yang diada-adakan (dalam hal agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Tirmidzi dan lain-lain)

Ibnu Rajab mengatakan di dalam kitabnya Jami’ul ‘Ulum wal Hikam (2/120), “Sunnah adalah suatu jalan yang ditempuh. Dengan demikian perintah tersebut (berpegang teguh dengan sunnah -pent) mencakup berpegang teguh dengan segala keyakinan, amal, maupun ucapan yang diajarkan oleh beliau dan para khulafa’ur rasyidin. Inilah makna sunnah secara sempurna. Oleh sebab itu para salaf terdahulu tidaklah menyebutkan istilah As Sunnah melainkan untuk menunjukkan makna yang mencakup hal itu semuanya…” (dinukil dari Fathu Al Qawiy Al Matin, hal. 97-98)

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Khulafa’ ar Rasyidun adalah orang-orang yang menggantikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengemban ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Sedangkan orang-orang yang paling pantas untuk menyandang gelar ini adalah para Sahabat radhiyallahu ‘anhum, karena sesungguhnya Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menegakkan agamanya. Sementara itu, tidaklah mungkin Allah ta’ala memilihkan -padahal Dia adalah Maha mengetahui lagi Maha bijaksana- orang-orang untuk menjadi sahabat bagi Nabi-Nya kecuali orang-orang yang paling sempurna keimanannya, paling baik akalnya, paling konsisten dalam beramal, paling kuat tekadnya, dan yang paling mengikuti petunjuk dalam berjalan. Mereka adalah orang-orang yang paling berhak untuk diikuti sesudah Nabi mereka shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula para ulama pemimpin agama ini yang telah dikenal berjalan di atas petunjuk dan telah dikenal kebaikan agamanya.” (lihat Fathu Rabbil Bariyyah, hal. 8)

Kewajiban Menerima Hadits Sahih Meskipun Berstatus Ahad

Abu Ja’far Ath Thahawi yang kitab akidahnya telah diakui oleh ulama dari berbagai madzhab mengatakan, “Semua berita yang sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengandung aturan syariat ataupun penjelasan (tentang suatu perkara) semuanya adalah benar.” Ini menunjukkan bahwa semua hadits sahih dari Nabi harus diterima dan diyakini kebenarannya, meskipun ia berstatus ahad (bukan hadits yang banyak jalan periwayatannya, lawan dari mutawatir). Ibnu Abil ‘Izz Al Hanafi rahimahullah mengatakan, “Hadits ahad apabila diterima oleh umat dalam bentuk pengamalan ataupun pembenaran maka ia memberikan faedah ‘ilmu yaqini (pengetahuan yang harus diyakini) menurut mayoritas umat, bahkan ia tergolong salah satu tipe hadits mutawatir. Dan tidak ada perselisihan di antara para pendahulu umat ini tentang hal itu…” (lihat Al Minhah Al Ilahiyah, hal. 348-349)

An Nawawi rahimahullah di dalam Syarh Muslim (1/177) mengatakan, “Telah tampak dengan jelas dalil-dalil syariat dan argumen-argumen akal yang menunjukkan tentang wajibnya beramal dengan hadits ahad. Para ulama telah menetapkan hal itu beserta penunjukan-penunjukannya di dalam kitab-kitab fikih dan ilmu ushul. Mereka telah menyampaikannya dengan sejelas-jelasnya. Para ulama ahli hadits maupun pakar agama di bidang lainnya juga telah menulis karya yang banyak mengenai hadits ahad dan kewajiban untuk mengamalkannya, wallahu a’lam.” (dinukil dari Syarh Al Waraqat, hal. 213-214)

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Hadits-hadits ahad -selain hadits ahad yang berderajat lemah- itu memberikan faedah, Pertama: Zhann/dugaan dalam artian kecenderungan benarnya penisbatan hadits tersebut kepada sumbernya. Dan hal itu bertingkat-tingkat bergantung pada derajatnya yang telah dijelaskan sebelumnya (yaitu hadits ahad ada yang sahih dan ada yang hasan, pent). Dan terkadang ia memberikan faedah ilmu (kepastian) apabila terdapat indikasi-indikasi yang mendukungnya dan ditopang oleh dalil-dalil yang lainnya. Kedua: Mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya. Apabila berupa berita maka harus dibenarkan, dan apabila berupa tuntutan maka harus diterapkan. Adapun hadits ahad yang lemah maka ia tidak memberikan faedah dugaan ataupun amalan, dan juga tidak boleh menganggapnya sebagai dalil. Serta tidak boleh menyebutkannya tanpa menerangkan kelemahannya…” (Taisir Mushthalah Hadits, hal. 19). Allahu a’lam.

***

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel http://www.muslim.or.id

%d blogger menyukai ini: