• Blog Stats

    • 41,446,916 hits
  • pacaran adalah perbuatan haram, maka janganlah berpacaran. Dan jangan mau jika diajak pacaran. Akan tetapi tempuhlah jalan yang halal jika memang benar-benar cinta dan ingin menikah. Segeralah menikah dan jangan berpacaran. ================================== dan janganlah kamu mendekati zina. sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk. [QS Al Isra':32] ==================================== JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA ====================================== Asy-Sya’bi berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah)
  • Artikel Terbaru

  • wasiat untuk seluruh umat islam

    ====================================== “Janganlah kamu saling dengki, saling membenci, saling mengintip rahasia, saling bersaing, saling mencari keburukan, saling menawar lebih tinggi untuk menipu pembeli sehingga menawar tinggi, saling memutuskan hubungan, saling bermusuhan, janganlah sebagian kalian menjual atas jualan yang lain. Jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang diperintahkan Allah. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh menganiaya, tidak boleh menelantarkannya dan tidak boleh menghinanya. ============================================= Taqwa ada di sini, taqwa ada di sini, taqwa ada di sini kata Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam sambil menunjuk dadanya. ================================================= Cukuplah merupakan kejelekan seseorang apabila menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain adalah haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. Hati-hatilah bersangka buruk, karena sesungguhnya bersangka buruk adalah omongan yang paling dusta. ==================================================== Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk kamu dan hartamu, tetapi ia melihat hati dan perbuatanmu.” (riwayat Muslim dan Bukhari). ==========================================
  • BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR

    BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- -------------------------------------------------------------------------------------------- Orang yang mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi janda dan orang miskin ibarat berjihad di jalan Allah dan ibarat orang shalat malam (HR. Bukhari) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain. (HR. Ahmad) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersodaqoh dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana. (HR. Ath-Thabrani) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sodaqoh. (HR. Al-Baihaqi) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Tiap-tiap amalan makruf (kebajikan) adalah sodaqoh. Sesungguhnya di antara amalan makruf ialah berjumpa kawan dengan wajah ceria (senyum) dan mengurangi isi embermu untuk diisikan ke mangkuk kawanmu. (HR. Ahmad) ------------------------------------------------------------------------------------------------------------
  • berbuat baiklah pada semua binatang, termasuk kepada anjing

    Kita tidak diperbolehkan menyiksa binatang dengan cara apa pun, atau membuatnya kelaparan, memukulinya, membebaninya dengan sesuatu yang ia tidak mampu, menyiksa atau membakarnnya. --------------------------------------------------- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Seorang wanita masuk neraka karena seekor kucing yang ia kurung hingga mati. Maka dari itu ia masuk neraka gara-gara kucing tersebut disebabkan dia tidak memberinya makan dan tidak pula memberinya minum di saat mengurung nya, dan dia tidak membiarkannya (melepaskannya) supaya memakan serangga di bumi.” (HR. al-Bukhari) ------------------------------------------------------- Dan ketika beliau melewati sarang semut yang telah dibakar, beliau bersabda, “Sesungguhnya tidak ada yang berhak menyiksa dengan api selain Rabb (Tuhan) pemilik api.” (HR. Abu Dawud, hadits shahih) ---------------------------------------------- “Barangsiapa yang tidak berbelas kasih niscaya tidak akan dibelaskasihi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) ------------------------------------------------- “Kasihanilah siapa saja yang ada di bumi ini, niscaya kalian akan dikasihani oleh yang ada di langit.” (HR. at-Tirmidzi) -------------------------------------------------- Dibolehkan membunuh hewan-hewan yang membahayakan atau mengganggu seperti anjing buas, serigala, ular, kalajengking, tikus dan lain-lain karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Ada lima macam hewan fasik (buruk) yang boleh dibunuh di waktu halal (tidak ihram) dan di waktu ihram, yaitu ular, burung gagak yang putih punggung dan perutnya, tikus, anjing buas, dan rajawali.” (HR. Muslim). Juga terdapat hadits shahih yang membolehkan untuk membunuh kalajengking. ================================================
  • JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA

    ====================================== ‘Amr bin Syarahil Asy-Sya’bi rahimahullahu berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah, 2/636. Dihasankan oleh Al-Albani dalam At-Tahrim, hal. 148) ----------------------------------------------------------------------------- Ibnu Abdil Barr rahimahullahu berkata: “Termasuk hasil usaha yang disepakati keharamannya adalah riba, upah para pelacur, sogokan (suap), mengambil upah atas meratapi (mayit), nyanyian, perdukunan, mengaku mengetahui perkara gaib dan berita langit, hasil seruling dan segala permainan batil.” (Al-Kafi hal. 191) ---------------------------------------------------------------------- Ath-Thabari rahimahullahu berkata: “Telah sepakat para ulama di berbagai negeri tentang dibenci dan terlarangnya nyanyian.” (Tafsir Al-Qurthubi, 14/56) ------------------------------------------------------------------- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “Mazhab empat imam menyatakan bahwa alat-alat musik semuanya haram.” Lalu beliau menyebutkan hadits riwayat Al-Bukhari rahimahullahu . (Majmu’ Fatawa, 11/576) --------------------------------------------------------------- ------------------------------------------
  • wasiat bagi para pemuda

    ====================================== ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Barangsiapa di antara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya mereka adalah ummat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, dan paling lurus petunjuknya, serta paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya, karena mereka berada di jalan yang lurus.” [Dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Baar dalam kitabnya Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih II/947 no. 1810, tahqiq Abul Asybal Samir az-Zuhairy] ======================================
  • wasiat Imam al-Auza’i

    ====================================== Imam al-Auza’i rahimahullah (wafat th. 157 H) mengatakan: “Bersabarlah dirimu di atas Sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para Shahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan Salafush Shalih, karena akan mencukupi kamu apa saja yang mencukupi mereka.” [Syarh Ushul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah 1/174 no. 315] --------------------------------------------------------------- Beliau rahimahullah juga berkata: “Hendaklah kamu berpegang kepada atsar Salafush Shalih meskipun orang-orang menolaknya dan jauhkanlah diri kamu dari pendapat orang meskipun ia hiasi pendapatnya dengan perkataannya yang indah.” [Imam al-Aajury dalam as-Syari’ah I/445 no. 127, di-shahih-kan oleh al-Albany dalam Mukhtashar al-‘Uluw lil Imam adz-Dzahaby hal. 138, Siyar A’laam an-Nubalaa’ VII/120] =================================================
  • Mengutip perkataan Syaikh Bin Baz rahimahullaahu

    “Zaman ini adalah zaman kelembutan, kesabaran dan hikmah, bukanlah zaman kekerasan (kebengisan). Mayoritas manusia saat ini dalam keadaan jahil (bodoh), lalai dan lebih mementingkan duniawiyah. Maka haruslah sabar dan lemah lembut sampai dakwah ini tersampaikan dan sampai mereka mengetahuinya. Kami mohon petunjuk kepada Alloh untuk semuanya.” (Majmu’ Fatawa Samahatul Imam Ibnu Bazz (Juz VIII, hal 376) dan (Juz X, hal. 91) =================================================
  • jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara

    ====================================== Segala puji hanyalah milik Alloh yang telah mempertautkan hati kaum mukminin dan menganjurkan mereka supaya bersatu padu dan saling berhimpun serta memperingatkan dari perpecahan dan perselisihan. -------------------------------------------------------- Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq untuk disembah melainkan hanyalah Alloh semata yang tidak memiliki sekutu. Dialah yang mensyariatkan dan memudahkan, dan Dia terhadap kaum mukminin adalah sangat penyantun. ------------------------------------------------------ Saya juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang diperintahkan dengan kemudahan dan berita gembira. ----------------------------------------------------- Beliau bersabda : Permudahlah dan janganlah kamu persulit, berikanlah kabar gembira dan janganlah membuat orang lari (dari kebenaran). ------------------------------------------------------ Permisalan kaum mukminin satu dengan lainnya dalam hal kasih sayang, tolong menolong dan kecintaan, bagaikan tubuh yang satu, jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan merasa demam atau terjaga” --------------------------------------------------- Tidak ragu lagi, bahwa kewajiban Ahlus Sunnah di setiap zaman dan tempat adalah saling bersatu dan menyayangi di antara mereka serta saling bekerja sama di dalam kebajikan dan ketakwaan… ==================================================---------------
  • KHUTBATUL HAJAH

    ====================================== Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, dan meminta ampun kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami, dan dari keburukan-keburukan perbuatan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah saja, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. ================================================ “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” ================================================== “Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan darinya Allah menciptakan isterinya; dan dari keduanya Allah mengembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silatur rahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” ========================================================= “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mena’ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. ============================================================ Amma ba’du; Maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad , dan seburuk-buruk perkara dalam agama adalah yang di ada-adakan, setiap yang diada-adakan (dalam urusan agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan. (HR. Muslim, an-Nasa’i dan selain keduanya) ==================================================
  • mengutip perkataan Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad hafizhahullaahu:

    “Telah terjadi di zaman ini, sibuknya sebagian ahlus sunnah dengan sebagian lainnya dengan tajrih (saling mencela) dan tahdzir, dan implikasi dari hal ini menyebabkan terjadinya perpecahan, perselisihan dan saling mengisolir. Padahal sepantasnya bahkan seharusnya bagi mereka untuk saling mencintai dan berkasih sayang terhadap sesama mereka, dan menyatukan barisan mereka di dalam menghadapi ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu yang menyelisihi ahlus sunnah wal jama’ah. ---------------------------------------------------- “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- agar menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dari perkara-perkara yang tidak bermanfaat bagi mereka, sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “diantara kebaikan seorang muslim adalah meninggalkan hal-hal yang tidak berfaidah baginya.” Hadits hasan diriwayatkan oleh Turmudzi.” ------------------------------------------------------ “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- untuk bersikap pertengahan dan moderat, diantara sikap ghuluw (ekstrim) dan meremehkan, dan diantara sikap ifrath (berlebih-lebihan) dan tafrith (menggampangkan). Sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “Jauhilah oleh kalian sikap ghuluw di dalam agama, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa dikarenakan sikap ghuluw mereka di dalam agama.” Ini hadits shahih, dikeluarkan oleh an-Nasa’i dan selainnya.” ---------------------------------------------------- “Dan aku nasehatkan supaya mereka berhati-hati dari sikap zhalim, dikarenakan hadits Qudsi, “Wahai hamba-Ku, sesunguhnya Aku haramkan kezhaliman atas diri-Ku, maka aku jadikan pula haram atas diri kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi” diriwayatkan oleh Muslim, dan hadits Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “takutlah kalian dari kezhaliman, karena sesungguhnya kezhaliman itu adalah kegelapan di hari kiamat” diriwayatkan oleh Muslim. ------------------------------------------------------ Aku memohon kepada Allah Azza wa Jalla untuk menunjuki seluruh ummat kepada apa yang diridhai-Nya, agar mereka mendalami agama Islam (tafaqquh fid din) dan menetapi kebenaran, serta agar mereka menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dan menjauhkan dari apa-apa yang tidak bermanfaat. Sesungguhnya Ia berkuasa dan berkemampuan atasnya. Semoga Sholawat dan Salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya dan para sahabatnya. (selesai kutipan) ===========================================
  • mengutip perkataan Imam Albani rahimahullaahu

    “Wajib atas kita untuk berlemah lembut di dalam dakwah kita terhadap orang-orang yang menyelisihi kita, dan jadikan selalu firman Alloh Ta’ala berikut (sebagai pegangan) dan untuk selamanya : “Serulah mereka ke jalan Rabb-mu dengan hikmah dan nasehat yang baik, serta berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.” Dan mereka yang pertama lebih berhak untuk kita terapkan hikmah ini adalah mereka yang paling memusuhi kita di dalam dasar (mabda’) dan aqidah kita, hingga kita tidak menggabungkan antara beratnya dakwah yang haq yang Alloh memperteguh kita dengannya dengan beratnya cara (ushlub) kita berdakwah kepada Alloh Azza wa Jalla” ==================================================
  • Diriwayatkan bahwa Hasan Al-banna berkata: “Kami menginginkan terbentuknya sosok individu muslim, rumah tangga Islami, bangsa yang Islami, pemerintahan yang Islami, negara yang dipimpin oleh negara-negara Islam, menyatukan perpecahan kaum muslimin dan negara mereka yang terampas, kemudian membawa bendera jihad dan da’wah kepada Allah sehingga dunia mendapatkan ketentraman dengan ajaran-ajaran Islam.” ==================================================
  • warning

    dalam blog ini mungkin terdapat hadits dhoif, riwayat yang tidak valid, salah tulis, kutipan yg tidak sesuai syariat islam, dan berbagai kesalahan2 lain, dan belum sempat di sensor, jadi mohon maaf sebesar-besarnya

Pesan Untuk Para Orang Tua

Artikel Buletin An-Nur :

Pesan Untuk Para Orang Tua
Senin, 23 Juni 08

Setiap orang tua pasti menginginkan anak mereka sukses dalam studi, sehingga do’a pun tidak pernah henti-hentinya mereka panjatkan kepada Allah subhanahu wata`ala demi kesuksesan tersebut, di samping itu, mereka menyiapkan semua kebutuhan dan fasilitas yang mendukung kesuksesan tersebut. Bahkan mengiming-iminginya dengan hadiah-hadiah apabila sukses dalam ujian.

Begitu besar perhatian para orang tua terhadap studi, masa depan, dan urusan-urasan dunia anak-anak mereka. Mereka benar-benar merasa bertanggung jawab akan hal tersebut. Tapi sayangnya mereka tidak memiliki perhatian dan rasa tanggung jawab atas akhirat anak-anak mereka sebesar perhatian dan rasa tanggung jawab atas dunia anak mereka. Begitu pula dengan perhatian mereka terhadap nasib anak-anak mereka setelah kematiannya, boleh jadi tidak seperti perhatian mereka akan ketentraman dan kebahagian mereka di saat hidup di dunia.

Tanggung jawab para orang tua terhadap anak-anak mereka seakan hanya terbatas pada perkara dunia yang fana, dan terkesan mereka mengabaikan perkara ukhrawi yang abadi.

Terbukti bahwa sebagian besar para orang tua memiliki cita-cita dan harapan agar anak mereka dapat menjadi seorang dokter, insinyur, pilot, tentara, dan lain-lain. Intinya adalah harapan duniawi belaka. Mereka beranggapan dengan semua itulah anak-anak mereka dapat hidup dan meraih kebahagian.

Dan terbukti pula dari rasa kecewa yang sangat seandainya anak mereka terlambat mengikuti ujian, sehingga mereka harus rela tidak tidur agar anaknya tidak terlambat dan tertinggal pada saat ujian sekali lagi demi sebuah kesuksesan dan masa depan sang anak. Tetapi jarang di antara para orang tua yang menyesal dan kecewa saat anak mereka terlambat shalat Subuh seperti penyesalan dan rasa kecewa mereka tatkala anak mereka tertinggal ujiannya atau gagal dalam ujian. Bahkan para orang tua selalu bertanya setiap hari kepada anak-anaknya tentang ujiannya. Apa yang mereka kerjakan, bagaimana mereka menjawab, dan semoga jawabannya benar? Apakah mereka pernah bertanya kepada anak mereka setiap harinya tentang perkara agamanya? Sudah shalat belum? Dengan siapa berteman? Dan apakah pernah bertanya kepada anak-anak mereka saat mereka tidak ada di rumah seharian, di mana mereka?

Para orang tua merasa begitu terpukul dan merasa gundah gulana ketika mereka tahu bahwa anak-anak mereka bermalas-malasan dalam ujian, tetapi tidak bersedih dan tertuntut ketika anak-anak mereka bermalas-malasan dalam menjalankan sunnah dan kewajiban agama mereka. Mereka berikan dan penuhi semua yang diinginkan anak-anak mereka, dan mereka melarangnya sementara dari hiburan-hiburan, seperti menonton video, televisi, koran, majalah supaya tidak melalaikan mereka dari menghafal dan menyiapkan ujian.

Sedikit sekali di antara para orang tua yang memikirkan untuk anak-anak mereka tentang ujian yang tidak memiliki gelombang kedua. Tidak dapat diulang jika gagal, atau ‘diher’ jika ada materi-materi yang tidak mencapai target. Pilihan yang ada hanyalah lulus atau gagal. Gagal berarti dimasukkan dan menetap di dalam Neraka. Ini juga artinya adalah kerugian yang nyata dan siksa yang hina. Apakah mungkin ijazah, sertifikat prestasi, piagam penghargaan, kedudukan dan kekayaan dapat menyelamatkan mereka dari adzab Allah Ta`ala. Atau memberi syafa’at ketika mereka menerima kitab catatan amal mereka dengan tangan kiri mereka? Kemudian berteriak dengan sekencang-kencangnya, sebagaiman firman Allah Ta`ala, artinya,”Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku.Telah hilang kekuasaan dariku”. (QS. al-Haqqah: 27-29).

Semua ini bukan berarti para orang tua meremehkan atau menelantarkan anak-anak mereka. Tetapi semata-mata untuk mengingatkan bahwa akhirat anak-anak mereka lebih utama untuk diperhatikan dan diusahakan, serta lebih berhak untuk diamalkan.

Teramat langka rasanya kalau ada Orang tua yang bersungguh-sungguh mencarikan seorang guru privat atau ustadz untuk mengajari anak-anak mereka al-Qur’an dan sunnah. Yang ada para orang tua saat ini dalam mengekspresikan rasa cinta dan kasih sayang mereka kepada anak mereka berupa menyediakan pembantu, supir, mobil yang siap melayani mereka setiap saat. Bahkan menyiapkan untuk mereka rumah yang penuh dengan hiburan-hiburan yang diharamkan dan melalaikan mereka dari mengingat Allah Azza Wa Jalla dan ta’at kepada-Nya. Mungkin seribu satu dari para orang tua yang memberikan hadiah/ penghargaan saat anak mereka menghafal beberapa juz dari al-Qur’an atau belajar hadits-hadits Nabi shallallahu `alaihi wasallam.

Sebagian orang tua menjanjikan anak-anak mereka berlibur keliling dunia, mengunjungi pantai-pantai dan tempat-tempat rekreasi lainnya di seluruh dunia atau membelikan mereka mobil mewah apabila mereka lulus. Tetapi tidak pernah sekalipun menjanjikan anak-anak mereka, apabila sukses menghafal al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu `alaihi wasallam, sukses melaksanakan haji dan lain-lain. Walhasil, seperti apa yang kita lihat, al-Qur’an mereka ganti dengan majalah dan koran. Shalat diganti dengan menonton konser musik. Majlis ta’lim diganti dengan tempat-tempat hiburan, dan hasilnya muncullah generasi seperti binatang, sebagaimana firman Allah Ta`ala, artinya, “Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Meraka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. al-A’raf: 179)

Maka hendaklah kita sebagai orang tua benar-benar memperhatikan kehidupan akhirat anak kita. Adapun langkah-langkah yang harus kita lakukan dalam hal ini di antaranya :

*

Memperbaiki diri kita sendiri, sehingga kita benar-benar menjadi orang tua yang shalih dan patut untuk diteladani. Karena pada keshalihan kita dan dengannya pula, anak-anak kita akan istiqomah dan senantiasa dijaga oleh Allah subhanahu wata`ala. Allah Ta`ala berfirman, artinya, “Sedang ayahnya adalah seorang yang shalih”(QS. al-Kahfi: 82).
*

Menjadikan Tarbiyah Islamiyah (pendidikan Islam) sebagai tujuan utama dan orientasi kita dalam mendidik anak-anak kita dan bukan berarti melarang mereka untuk belajar ilmu-ilmu tehnik keduniaan, hanya saja porsi yang diberikan tidak sebesar perhatian kita kepada akhirat mereka. Allah subhanahu wata`ala berfirman, artinya, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS. al-Qashash: 77)
*

Hendaklah kita bertaqwa kepada Allah Azza wa Jalla dalam menjaga kemashlahatan mereka baik di dunia maupun di akhirat, karena anak-anak kita adalah amanah yang akan Allah Ta`ala pinta pertaggung-jawabannya. Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah seorang hamba diberikan kepemimpinan oleh Allah Ta`ala ia mati sedangkan pada saat matinya ia berbuat curang terhadap rakyatnya (yang dipimpin), melainkan Allah akan mengharamkan surga baginya.” (Muttafaq ‘Alaih)

Hendaklah para orang tua memperhatikan kisah Luqman yang diabadikan Allah tabaraka wa ta`ala dalam al-Qur’an tentang wasiat yang ia sampaikan kepada anaknya tercinta. Betapa Luqman menyeru anaknya kepada sesuatu yang membuatnya dapat meraih kebahagian hidup yang hakiki serta menyelamatkannya dari adzab yang pedih, yakni melarang anaknya dari menyekutukan Allah Ta`ala, artinya, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya kesyirikan merupakan kezhaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13). Ia menunjukkan kepadanya bahwa yang dapat menyelamatkan dari adzab Allah subhanahu wata`ala adalah dengan menjauhkan syirik dan bersegera mengerjakan ibadah kepada Allah Ta`ala dengan mendirikan shalat, memerintahkan pada kebaikan, mencegah kemungkaran sebagaimana firman Allah Ta`ala artinya, “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar.” (QS. Luqman:17), Serta menyuruhnya untuk berakhlak yang baik, yang dengannya dirinya akan menjadi mulia dan tinggi kedudukannya, dan melarangnya bersikap sombong terhadap manusia dan merendahkan mereka, sebagaimana firman Allah Ta`ala, artinya, “Dan janganlah memalingkan muka dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. 31:18). Dan berjalan di bumi Allah Ta`ala dengan rendah hati dan lembut dalam berbicara, sebagaimana firman Allah Ta`ala, artinya, “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS. Luqman: 19)
*

Hendaklah orang tua mengetahui dan mengajarkan anaknya bahwa dunia ini adalah fana dan dia bak fatamorgana yang mengelabui mata. Dan bahwa kusuksesan yang hakiki adalah membatasi diri dan keinginan hanya pada sesuatu yang diridhai Allah ta`ala, bertakwa dan ta’at kepada-Nya.
*

Hendaklah para orang tua bersungguh-sungguh dalam mendidik dan menjaga mereka dari hal-hal yang merusak serta tidak menyia-nyiakan mereka sebelum datang penyesalan yang tidak ada arti dan sebelum kehinaan menimpa mereka pada hari yang tidak ada gunanya lagi semua yang disesali. Wallahu Ta’ala a’lam.

Oleh: Abu Nabiel Muhammad Ruliyandi

Sumber: Disadur dari artikel yang berjudul “Risalah Ila Ba’dhi al-Abaa’,” Daar al-Qasim, Riyadh Muraji’: Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin,

http://alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatannur&id=486

%d blogger menyukai ini: