• Blog Stats

    • 41,449,595 hits
  • pacaran adalah perbuatan haram, maka janganlah berpacaran. Dan jangan mau jika diajak pacaran. Akan tetapi tempuhlah jalan yang halal jika memang benar-benar cinta dan ingin menikah. Segeralah menikah dan jangan berpacaran. ================================== dan janganlah kamu mendekati zina. sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk. [QS Al Isra':32] ==================================== JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA ====================================== Asy-Sya’bi berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah)
  • Artikel Terbaru

  • wasiat untuk seluruh umat islam

    ====================================== “Janganlah kamu saling dengki, saling membenci, saling mengintip rahasia, saling bersaing, saling mencari keburukan, saling menawar lebih tinggi untuk menipu pembeli sehingga menawar tinggi, saling memutuskan hubungan, saling bermusuhan, janganlah sebagian kalian menjual atas jualan yang lain. Jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang diperintahkan Allah. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh menganiaya, tidak boleh menelantarkannya dan tidak boleh menghinanya. ============================================= Taqwa ada di sini, taqwa ada di sini, taqwa ada di sini kata Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam sambil menunjuk dadanya. ================================================= Cukuplah merupakan kejelekan seseorang apabila menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain adalah haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. Hati-hatilah bersangka buruk, karena sesungguhnya bersangka buruk adalah omongan yang paling dusta. ==================================================== Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk kamu dan hartamu, tetapi ia melihat hati dan perbuatanmu.” (riwayat Muslim dan Bukhari). ==========================================
  • BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR

    BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- -------------------------------------------------------------------------------------------- Orang yang mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi janda dan orang miskin ibarat berjihad di jalan Allah dan ibarat orang shalat malam (HR. Bukhari) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain. (HR. Ahmad) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersodaqoh dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana. (HR. Ath-Thabrani) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sodaqoh. (HR. Al-Baihaqi) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Tiap-tiap amalan makruf (kebajikan) adalah sodaqoh. Sesungguhnya di antara amalan makruf ialah berjumpa kawan dengan wajah ceria (senyum) dan mengurangi isi embermu untuk diisikan ke mangkuk kawanmu. (HR. Ahmad) ------------------------------------------------------------------------------------------------------------
  • berbuat baiklah pada semua binatang, termasuk kepada anjing

    Kita tidak diperbolehkan menyiksa binatang dengan cara apa pun, atau membuatnya kelaparan, memukulinya, membebaninya dengan sesuatu yang ia tidak mampu, menyiksa atau membakarnnya. --------------------------------------------------- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Seorang wanita masuk neraka karena seekor kucing yang ia kurung hingga mati. Maka dari itu ia masuk neraka gara-gara kucing tersebut disebabkan dia tidak memberinya makan dan tidak pula memberinya minum di saat mengurung nya, dan dia tidak membiarkannya (melepaskannya) supaya memakan serangga di bumi.” (HR. al-Bukhari) ------------------------------------------------------- Dan ketika beliau melewati sarang semut yang telah dibakar, beliau bersabda, “Sesungguhnya tidak ada yang berhak menyiksa dengan api selain Rabb (Tuhan) pemilik api.” (HR. Abu Dawud, hadits shahih) ---------------------------------------------- “Barangsiapa yang tidak berbelas kasih niscaya tidak akan dibelaskasihi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) ------------------------------------------------- “Kasihanilah siapa saja yang ada di bumi ini, niscaya kalian akan dikasihani oleh yang ada di langit.” (HR. at-Tirmidzi) -------------------------------------------------- Dibolehkan membunuh hewan-hewan yang membahayakan atau mengganggu seperti anjing buas, serigala, ular, kalajengking, tikus dan lain-lain karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Ada lima macam hewan fasik (buruk) yang boleh dibunuh di waktu halal (tidak ihram) dan di waktu ihram, yaitu ular, burung gagak yang putih punggung dan perutnya, tikus, anjing buas, dan rajawali.” (HR. Muslim). Juga terdapat hadits shahih yang membolehkan untuk membunuh kalajengking. ================================================
  • JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA

    ====================================== ‘Amr bin Syarahil Asy-Sya’bi rahimahullahu berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah, 2/636. Dihasankan oleh Al-Albani dalam At-Tahrim, hal. 148) ----------------------------------------------------------------------------- Ibnu Abdil Barr rahimahullahu berkata: “Termasuk hasil usaha yang disepakati keharamannya adalah riba, upah para pelacur, sogokan (suap), mengambil upah atas meratapi (mayit), nyanyian, perdukunan, mengaku mengetahui perkara gaib dan berita langit, hasil seruling dan segala permainan batil.” (Al-Kafi hal. 191) ---------------------------------------------------------------------- Ath-Thabari rahimahullahu berkata: “Telah sepakat para ulama di berbagai negeri tentang dibenci dan terlarangnya nyanyian.” (Tafsir Al-Qurthubi, 14/56) ------------------------------------------------------------------- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “Mazhab empat imam menyatakan bahwa alat-alat musik semuanya haram.” Lalu beliau menyebutkan hadits riwayat Al-Bukhari rahimahullahu . (Majmu’ Fatawa, 11/576) --------------------------------------------------------------- ------------------------------------------
  • wasiat bagi para pemuda

    ====================================== ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Barangsiapa di antara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya mereka adalah ummat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, dan paling lurus petunjuknya, serta paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya, karena mereka berada di jalan yang lurus.” [Dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Baar dalam kitabnya Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih II/947 no. 1810, tahqiq Abul Asybal Samir az-Zuhairy] ======================================
  • wasiat Imam al-Auza’i

    ====================================== Imam al-Auza’i rahimahullah (wafat th. 157 H) mengatakan: “Bersabarlah dirimu di atas Sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para Shahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan Salafush Shalih, karena akan mencukupi kamu apa saja yang mencukupi mereka.” [Syarh Ushul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah 1/174 no. 315] --------------------------------------------------------------- Beliau rahimahullah juga berkata: “Hendaklah kamu berpegang kepada atsar Salafush Shalih meskipun orang-orang menolaknya dan jauhkanlah diri kamu dari pendapat orang meskipun ia hiasi pendapatnya dengan perkataannya yang indah.” [Imam al-Aajury dalam as-Syari’ah I/445 no. 127, di-shahih-kan oleh al-Albany dalam Mukhtashar al-‘Uluw lil Imam adz-Dzahaby hal. 138, Siyar A’laam an-Nubalaa’ VII/120] =================================================
  • Mengutip perkataan Syaikh Bin Baz rahimahullaahu

    “Zaman ini adalah zaman kelembutan, kesabaran dan hikmah, bukanlah zaman kekerasan (kebengisan). Mayoritas manusia saat ini dalam keadaan jahil (bodoh), lalai dan lebih mementingkan duniawiyah. Maka haruslah sabar dan lemah lembut sampai dakwah ini tersampaikan dan sampai mereka mengetahuinya. Kami mohon petunjuk kepada Alloh untuk semuanya.” (Majmu’ Fatawa Samahatul Imam Ibnu Bazz (Juz VIII, hal 376) dan (Juz X, hal. 91) =================================================
  • jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara

    ====================================== Segala puji hanyalah milik Alloh yang telah mempertautkan hati kaum mukminin dan menganjurkan mereka supaya bersatu padu dan saling berhimpun serta memperingatkan dari perpecahan dan perselisihan. -------------------------------------------------------- Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq untuk disembah melainkan hanyalah Alloh semata yang tidak memiliki sekutu. Dialah yang mensyariatkan dan memudahkan, dan Dia terhadap kaum mukminin adalah sangat penyantun. ------------------------------------------------------ Saya juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang diperintahkan dengan kemudahan dan berita gembira. ----------------------------------------------------- Beliau bersabda : Permudahlah dan janganlah kamu persulit, berikanlah kabar gembira dan janganlah membuat orang lari (dari kebenaran). ------------------------------------------------------ Permisalan kaum mukminin satu dengan lainnya dalam hal kasih sayang, tolong menolong dan kecintaan, bagaikan tubuh yang satu, jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan merasa demam atau terjaga” --------------------------------------------------- Tidak ragu lagi, bahwa kewajiban Ahlus Sunnah di setiap zaman dan tempat adalah saling bersatu dan menyayangi di antara mereka serta saling bekerja sama di dalam kebajikan dan ketakwaan… ==================================================---------------
  • KHUTBATUL HAJAH

    ====================================== Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, dan meminta ampun kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami, dan dari keburukan-keburukan perbuatan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah saja, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. ================================================ “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” ================================================== “Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan darinya Allah menciptakan isterinya; dan dari keduanya Allah mengembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silatur rahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” ========================================================= “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mena’ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. ============================================================ Amma ba’du; Maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad , dan seburuk-buruk perkara dalam agama adalah yang di ada-adakan, setiap yang diada-adakan (dalam urusan agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan. (HR. Muslim, an-Nasa’i dan selain keduanya) ==================================================
  • mengutip perkataan Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad hafizhahullaahu:

    “Telah terjadi di zaman ini, sibuknya sebagian ahlus sunnah dengan sebagian lainnya dengan tajrih (saling mencela) dan tahdzir, dan implikasi dari hal ini menyebabkan terjadinya perpecahan, perselisihan dan saling mengisolir. Padahal sepantasnya bahkan seharusnya bagi mereka untuk saling mencintai dan berkasih sayang terhadap sesama mereka, dan menyatukan barisan mereka di dalam menghadapi ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu yang menyelisihi ahlus sunnah wal jama’ah. ---------------------------------------------------- “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- agar menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dari perkara-perkara yang tidak bermanfaat bagi mereka, sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “diantara kebaikan seorang muslim adalah meninggalkan hal-hal yang tidak berfaidah baginya.” Hadits hasan diriwayatkan oleh Turmudzi.” ------------------------------------------------------ “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- untuk bersikap pertengahan dan moderat, diantara sikap ghuluw (ekstrim) dan meremehkan, dan diantara sikap ifrath (berlebih-lebihan) dan tafrith (menggampangkan). Sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “Jauhilah oleh kalian sikap ghuluw di dalam agama, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa dikarenakan sikap ghuluw mereka di dalam agama.” Ini hadits shahih, dikeluarkan oleh an-Nasa’i dan selainnya.” ---------------------------------------------------- “Dan aku nasehatkan supaya mereka berhati-hati dari sikap zhalim, dikarenakan hadits Qudsi, “Wahai hamba-Ku, sesunguhnya Aku haramkan kezhaliman atas diri-Ku, maka aku jadikan pula haram atas diri kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi” diriwayatkan oleh Muslim, dan hadits Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “takutlah kalian dari kezhaliman, karena sesungguhnya kezhaliman itu adalah kegelapan di hari kiamat” diriwayatkan oleh Muslim. ------------------------------------------------------ Aku memohon kepada Allah Azza wa Jalla untuk menunjuki seluruh ummat kepada apa yang diridhai-Nya, agar mereka mendalami agama Islam (tafaqquh fid din) dan menetapi kebenaran, serta agar mereka menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dan menjauhkan dari apa-apa yang tidak bermanfaat. Sesungguhnya Ia berkuasa dan berkemampuan atasnya. Semoga Sholawat dan Salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya dan para sahabatnya. (selesai kutipan) ===========================================
  • mengutip perkataan Imam Albani rahimahullaahu

    “Wajib atas kita untuk berlemah lembut di dalam dakwah kita terhadap orang-orang yang menyelisihi kita, dan jadikan selalu firman Alloh Ta’ala berikut (sebagai pegangan) dan untuk selamanya : “Serulah mereka ke jalan Rabb-mu dengan hikmah dan nasehat yang baik, serta berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.” Dan mereka yang pertama lebih berhak untuk kita terapkan hikmah ini adalah mereka yang paling memusuhi kita di dalam dasar (mabda’) dan aqidah kita, hingga kita tidak menggabungkan antara beratnya dakwah yang haq yang Alloh memperteguh kita dengannya dengan beratnya cara (ushlub) kita berdakwah kepada Alloh Azza wa Jalla” ==================================================
  • Diriwayatkan bahwa Hasan Al-banna berkata: “Kami menginginkan terbentuknya sosok individu muslim, rumah tangga Islami, bangsa yang Islami, pemerintahan yang Islami, negara yang dipimpin oleh negara-negara Islam, menyatukan perpecahan kaum muslimin dan negara mereka yang terampas, kemudian membawa bendera jihad dan da’wah kepada Allah sehingga dunia mendapatkan ketentraman dengan ajaran-ajaran Islam.” ==================================================
  • warning

    dalam blog ini mungkin terdapat hadits dhoif, riwayat yang tidak valid, salah tulis, kutipan yg tidak sesuai syariat islam, dan berbagai kesalahan2 lain, dan belum sempat di sensor, jadi mohon maaf sebesar-besarnya

Risalah untuk Mengokohkan Ukhuwah dan Ishlah (3)

Apakah Ahlus Sunnah Menyemarakkan Maulid dan Tahlilan?

Orang yang bijak adalah orang yang berpikir dulu sebelum bertindak. Allah ta’ala berfiman yang artinya, “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya…” (QS. Al Israa’: 36). Dan sudah jelas bagi kita bahwa hakikat Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah setiap orang yang berpegang teguh dengan pemahaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat yang tidak lain bersumber dari mata air wahyu yaitu Al Qur’an dan As Sunnah, dimanapun dia, dari suku apapun, dan di masa kapanpun dia hidup.

Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At Taubah: 100). Di dalam ayat ini Allah memuji tiga golongan manusia yaitu: kaum Muhajirin, kaum Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Maka kita katakan bahwa Muhajirin dan Anshar itulah generasi Salafush shalih. Sedangkan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik itulah yang disebut sebagai Salafi.

Al Ustadz Abdul Hakim Abdat hafizhahullah mengatakan, “Ayat yang mulia ini merupakan sebesar-besar ayat yang menjelaskan kepada kita pujian dan keridhaan Allah kepada para Shahabat radhiyallahu ‘anhum. Bahwa Allah ‘azza wa jalla telah ridha kepada para Shahabat dan mereka pun ridha kepada Allah ‘azza wa jalla. Dan Allah ‘azza wa jalla juga meridhai orang-orang yang mengikuti perjalanan para Shahabat dari tabi’in, tabi’ut tabi’in dan seterusnya dari orang alim sampai orang awam di timur dan di barat bumi sampai hari ini. Mafhum-nya, mereka yang tidak mengikuti perjalanan para Shahabat, apalagi sampai mengkafirkannya, maka mereka tidak akan mendapatkan keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala.” (Al Masaa’il jilid 3, hal. 74)

Salah seorang imam mazhab yang sangat masyhur Imam Malik rahimahullah telah memancangkan sebuah kaidah yang sangat agung. Beliau mengatakan, “Tidak akan ada yang bisa memperbaiki generasi akhir umat ini melainkan dengan sesuatu yang telah berhasil memperbaiki generasi awalnya. Oleh sebab itu ajaran apapun yang tidak termasuk agama pada hari itu maka juga bukan termasuk agama pada hari ini.” (lihat Al Wajiz fi ‘Aqidati Salafish Shalih). Dari Ibnul Majisyun, dia mengatakan, “Aku pernah mendengar Malik berkata, ‘Barang siapa yang menciptakan suatu kebid’ahan di dalam Islam dan dia mengiranya sebagai sebuah kebaikan. Maka pada hakikatnya dia telah menuduh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengkhianati misi kerasulan. Sebab Allah telah berfirman (yang artinya), “Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian.” Oleh karena itu maka sesuatu yang bukan menjadi ajaran agama pada hari itu maka dia juga tidak boleh dijadikan sebagai ajaran agama pada hari ini.”.’ (lihat Al Wajiz fi ‘Aqidati Salafish Shalih).

Imam madzhab yang lain, Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Pokok-pokok ajaran As Sunnah menurut kami adalah berpegang teguh dengan apa yang dipahami oleh para Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta meniru mereka, meninggalkan bid’ah. Dan (kami yakin) bahwa semua bid’ah adalah sesat.” (lihat Al Wajiz fi ‘Aqidati Salafish Shalih). Dari Nuh Al Jami’. Dia mengatakan: Aku pernah berkata kepada Abu Hanifah rahimahullah, “Apa pendapatmu tentang perkara yang diada-adakan oleh sebagian orang yaitu pembicaraan tentang ‘ardh dan jism?”. Maka beliau menjawabnya, “Itu adalah ocehan kaum filsafat. Kamu harus berpegang dengan atsar/riwayat dan mengikuti jalan kaum Salaf. Jauhilah semua yang diada-adakan karena ia adalah bid’ah.” (lihat Al Wajiz fi ‘Aqidati Salafish Shalih). Dan Imam Asy Syafi’i rahimahullah yang begitu banyak dijadikan rujukan oleh orang-orang yang mengaku Ahlus Sunnah di negeri ini mengatakan dengan lantang, “Apabila kalian dapatkan di dalam kitabku sesuatu yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka berpendapatlah dengan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tinggalkan apa yang aku katakan.” (lihat Shifat Shalat Nabi karya Syaikh Al Albani rahimahullah).

Sahabat Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Segala macam ibadah yang yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka janganlah kamu beribadah dengannya. Karena sesungguhnya generasi pertama sudah tidak menyisakan lagi kritikan ajaran untuk generasi belakangan. Oleh sebab itu maka bertakwalah kalian kepada Allah wahai para ahli baca Al Qur’an. Ikutilah jalan para sahabat yang mendahului kalian.” (lihat Al Wajiz fi ‘Aqidati Salafish Shalih).

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Barang siapa hendak mencontoh maka teladanilah para ulama yang telah meninggal. Mereka itulah para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah orang-orang yang paling baik hatinya di kalangan umat ini. Ilmu mereka paling dalam serta paling tidak suka membeban-bebani diri. Mereka adalah suatu kaum yang telah dipilih oleh Allah untuk menemani Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menularkan ajaran agama-Nya. Oleh karena itu tirulah akhlak mereka dan tempuhlah jalan-jalan mereka, karena sesungguhnya mereka berada di atas jalan yang lurus.” (lihat Al Wajiz fi ‘Aqidati Salafish Shalih).

Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Umat manusia senantiasa akan berada di atas jalan yang benar selama mereka terus mengikuti atsar (jejak Rasul dan para sahabat).” Beliau juga berkata, “Semua bid’ah adalah sesat meskipun orang-orang memandangnya sebagai kebaikan.” (lihat Al Wajiz fi ‘Aqidati Salafish Shalih).

Sekarang kita ingin bertanya kepada saudara-saudara kita yang menggalakkan Maulidan dan Tahlilan. Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang mulia mengajarkan kita untuk melakukannya? Di manakah riwayatnya yang sah dari mereka? Adakah di dalam kitab-kitab hadits seperti Sahih Bukhari, Sahih Muslim, atau kitab-kitab Sunan dan Musnad? Atau, adakah di dalam kitab-kitab Fikih para ulama, sehingga di dalamnya bisa kita temukan bab yang membahas tentang Maulidan dan Tahlilan? Betul, kelahiran Nabi adalah sesuatu yang menggembirakan. Betul, kita harus mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi ingatlah bukti kecintaan yang hakiki adalah dengan mengikuti ajarannya dan menjauhi bid’ah-bid’ah! Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Katakanlah, jika kalian mengaku mencintai Allah, maka ikutilah aku…” (QS. Ali ‘Imran : 31). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Maka tidaklah seseorang menjadi pecinta Allah hingga dia mau tunduk mengikuti Rasulullah.” (lihat Al ‘Ubudiyah)

Bukankah baginda Nabi telah berpesan, “Wajib bagi kalian untuk mengikuti tuntunanku begitu juga tuntunan Khulafa’ Rasyidin yang berpetunjuk… Dan jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan. Sebab setiap perkara yang diada-adakan (dalam agama) adalah bid’ah. Dan semua bid’ah itu sesat.” (HR. Abu Dawud dan Trimidzi, dia mengatakan hadits hasan sahih. Hadits ini dicantumkan oleh An Nawawi rahimahullah dalam kitabnya Al Arba’in An Nawawiyah hadits no. 28). Bahkan tidak tanggung-tanggung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyatakan dengan tegas, “Barang siapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, niscaya tertolak.” (HR. Muslim). Ingatlah ucapan emas Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, “Semua bid’ah adalah sesat, meskipun orang-orang memandangnya sebagai kebaikan.” (lihat Al Wajiz fi ‘Aqidati Salafish Shalih).

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin seorang pakar fikih dan salah seorang imam Ahlus Sunnah sejati di masa kini mengatakan, “…kami katakan bahwasanya apabila perayaan ini (maulid) adalah termasuk dari kesempurnaan agama, maka pastilah dia sudah ada dan diajarkan sebelum wafatnya Rasul ‘alaihish shalatu was salam. Dan jika dia bukan bagian dari kesempurnaan agama ini maka tentunya dia bukan termasuk ajaran agama karena Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian.” Barang siapa yang mengklaim acara maulid ini termasuk kesempurnaan agama dan ternyata ia muncul setelah wafatnya Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, sesungguhnya ucapannya itu mengandung pendustaan terhadap ayat yang mulia ini. Dan tidaklah diragukan lagi kalau orang-orang yang merayakan kelahiran Rasul ‘alaihis shalatu was salam hanya bermaksud mengagungkan Rasul ‘alaihis shalatu was salam. Mereka ingin menampakkan kecintaan kepada beliau serta memompa semangat agar tumbuh perasaan cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui diadakannya perayaan ini. Dan itu semua termasuk perkara ibadah.”

“Kecintaan kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ibadah. Bahkan tidaklah sempurna keimanan seseorang hingga dia menjadikan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai orang yang lebih dicintainya daripada dirinya sendiri, anaknya, orang tuanya dan bahkan seluruh umat manusia. Demikian pula pengagungan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk perkara ibadah. Begitu pula membangkitkan perasaan cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga termasuk bagian dari agama karena di dalamnya terkandung kecenderungan kepada syari’atnya.

Apabila demikian, maka merayakan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah serta untuk mengagungkan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah suatu bentuk ibadah. Dan apabila hal itu termasuk perkara ibadah maka sesungguhnya tidak diperbolehkan -sampai kapanpun- menciptakan ajaran baru yang tidak ada sumbernya dari agama Allah. Oleh sebab itu merayakan maulid Nabi adalah bid’ah dan diharamkan…” (lihat Fatawa Arkanil Islam, hal. 172-174).

Demikian pula dalam hal Tahlilan, jawaban serupa yang kita berikan. Benar, Tahlil adalah ucapan yang sangat utama bahkan dzikir yang aling afdhal. Benar, dzikir adalah ibadah dan mendatangkan pahala serta dicintai Allah. Akan tetapi, justru karena dzikir itu ibadah maka tata cara mengerjakannya pun juga harus mengikuti tuntunan dan bukan berdasarkan rekaan atau pendapat akal manusia. Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengajarkan kepada kita untuk membaca tahlil secara bersama-sama dengan di komando dan pada waktu setelah kematian saudara kita sesama muslim? Pada hari yang ketiga, ketujuh, keseratus, atau keseribu sesudah kematiannya? Apakah para sahabat pernah mencontohkan kepada kita untuk beramai-ramai membaca tahlil di sekitar kompleks pekuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yang banyak dilakukan oleh sebagian orang yang mengaku penganut Ahlus Sunnah di negeri ini di sekitar kubur wali dan orang-orang salih? Apakah Imam Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad pernah mengajarkan hal ini?

Penutup

Saudaraku seiman dan seakidah, apakah orang-orang yang gemar mengadakan acara bid’ah bahkan tidak segan untuk menyatu bersama pentas musik dan menjadikannya sebagai bentuk taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah serta sarana untuk berdakwah pantas untuk disebut dengan Ahlus Sunnah? Renungkanlah baik-baik…

Saudaraku, kita tidak bermaksud menuduh sesama da’i sebagai orang yang sengaja berniat jahat terhadap umat. Namun lihatlah segala sesuatunya dengan kaca mata ilmu dan keadilan bukan dengan kejahilan dan hawa nafsu. Siapakah yang telah melakukan kedustaan kedustaan di atas: Dengan mengambing hitamkan sebuah kelompok yang disebut sebagai Wahhabi; dengan menutup-nutupi fakta bahwa istilah Salaf dan Salafi memang sudah dikenal dalam Sunnah Nabi khusus tindakan kedua ini tidak kami nisbatkan kepada PKS, sebab yang menyatakan hal itu tidak mengatasnamakan partai tersebut, walaupun secara pemikiran dan garis perjuangan sangatlah mirip; dengan mengesankan bahwa Wahhabi adalah kelompok yang suka mengkafirkan para ulama bahkan Wali Songo; dengan mengesankan bahwa melakukan peringatan Maulid, Tahlilan, atau Barzanji adalah tradisi positif yang telah mendarah daging dalam paham Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Inikah yang disebut dengan meneladani politik Nabi Yusuf ‘alaihis salam? Inikah yang disebut dengan ‘berinteraksi tanpa terkontaminasi’? Allahul musta’an.

Wahai, saudaraku yang kucintai karena Allah… Tidakkah kita menyaksikan realita yang memilukan ini? Betapa banyak orang yang harus menjadi korban ketidakjujuran sebagian da’i yang kurang bertanggung jawab yang demikian tega membiarkan umat tenggelam dalam kebid’ahan dengan mengatasnamakan sikap toleransi, ishlah, dan menjalin persaudaraan. Dimanakah letak toleransi mereka kepada para ulama pembela manhaj Salaf? Apakah mendiskreditkan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Sang pembaharu dakwah Tauhid dan para pengikut dakwahnya adalah wujud toleransi? Apakah mereka telah lupa bahwa pada beberapa tahun yang silam sebagian di antara mereka telah mengenyam berbagai fasilitas pendidikan dan mempelajari akidah salafiyah bersama para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah -yang sering dijuluki dengan nama Wahhabi ini- di Universitas Islam Madinah Saudi Arabia; sebuah negara yang acap kali direndahkan oleh kaum pergerakan? Di manakah letak ishlah yang selama ini mereka gembar-gemborkan? Membiarkan bid’ah bertebaran bukanlah bentuk ishlah yang Allah inginkan. Menutup-nutupi fakta kebid’ahan dan memalingkan umat dari bimbingan para ulama juga bukan bukti tulusnya persaudaraan.

Tidakkah kita ingat sebuah ayat yang akan meneteskan air mata dan membuat mata orang-orang yang takut kepada Allah menjadi berkaca-kaca? Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Pada hari itu orang-orang yang berkawan dekat menjadi saling bermusuhan, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az Zukhruf : 67). Maka semua ikatan persaudaraan dan persahabatan di dunia ini yang tidak dibangun di atas nilai-nilai ketakwaan -dan amar ma’ruf serta nahi munkar tercakup di dalamnya- tentunya akan menuai penyesalan dan persengketaan sengit di hadapan Ar Rahman pada hari pembalasan.

Saudaraku, sekali lagi aku ingin berbicara denganmu dari hati ke hati. Lihatlah kenyataan pahit ini. Siapakah yang telah terbukti bersikap tidak jujur terhadap umat, merusak jalinan ukhuwah, mendiskreditkan sebagian ulama, dan menghambat laju gerakan ishlah yang penuh barakah ini (dakwah salafiyah). Memang, yang kami inginkan bukanlah imbalan materi atau ucapan terima kasih. Yang kami inginkan adalah perbaikan yang hakiki. Membersihkan muka bumi ini dari kotoran dan sampah-sampah syirik, bid’ah, dan kemaksiatan menuju terciptanya masyarakat yang bertauhid, hidup tentram, dan senantiasa mendapatkan curahan ampunan dan barakah dari Allah subhanahu wa ta’ala. Inilah pertolongan dan kemenangan yang kita dambakan. Allah ta’ala telah menjanjikan dalam firman-Nya yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolong kalian dan meneguhkan kaki-kaki kalian.” (QS. Muhammad: 7)

Belumkah tiba saatnya bagi para da’i untuk kembali ke pangkuan manhaj Salaf yang murni, bertaubat kepada-Nya dengan setulus hati. Kita memang tidak ma’shum dan terbuka menerima nasihat. Ingatlah tentang keagungan hakikat taubat ini sebagaimana yang dipaparkan oleh saudara Abu Nu’man Mubarok dalam artikelnya yang berjudul ‘Taubat’ di mana beliau mengatakan, “Hakikat taubat adalah: Menyesal terhadap apa yang telah terjadi, meninggalkan perbuatan tersebut saat ini juga, dan ber-azam yang kuat untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut di masa yang akan datang.” (dinukil dari sebuah situs milik Al Ikhwan Al Muslimun).

Sebab dengan taubat itulah hati akan menjadi bersih dan bersinar sebagaimana dikatakan oleh saudara Abu Nu’man Mubarok sembari mengutip hadits berikut, “Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya seorang mu’min jika melakukan perbuatan dosa, maka akan terjadi titik hitam di dalam kalbunya, jika dia bertaubat dan minta ampun pada Allah, kembali cemerlang hatinya, jika dosanya bertambah, bertambah pula titik hitam tersebut, hingga menutupi hatinya. Itulah “ar-ron” yang disebut oleh Allah dalam firman-Nya: ‘Sekali-kali tidak (demikian) sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’” (HR. Tirmidzi).” (Taubat, Bagian ke-1. Definisi, Urgensi dan Buah-Buah Taubat. 15 Oktober 2006). Allahul muwaffiq, wa huwal Haadi ila aqwamith thariq.

Akhirnya, shalawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Nabi panutan, demikian juga para sahabatnya yang sangat patut dijadikan teladan, dan segenap pengikut mereka yang setia yang begitu mengharapkan ampunan Ar Rahman dan sangat menginginkan kebahagiaan di hari kemudian. Segala puji bagi Allah Rabb Sang pencipta, penguasa, pemilik, dan pengatur seluruh alam semesta.

Selesai disusun di Yogyakarta

Jumat, 14 Shafar 1429/ 22 Februari 2008

Oleh hamba yang sangat butuh kepada ampunan dan kasih sayang Rabb-nya

Abu Mushlih Ari Wahyudi

Semoga Allah mengampuni dosa dan kesalahannya

Serta kaum muslimin semuanya

***

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Muroja’ah: Ustadz Aris Munandar
Artikel http://www.muslim.or.id

%d blogger menyukai ini: