• Blog Stats

    • 41,450,895 hits
  • pacaran adalah perbuatan haram, maka janganlah berpacaran. Dan jangan mau jika diajak pacaran. Akan tetapi tempuhlah jalan yang halal jika memang benar-benar cinta dan ingin menikah. Segeralah menikah dan jangan berpacaran. ================================== dan janganlah kamu mendekati zina. sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk. [QS Al Isra':32] ==================================== JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA ====================================== Asy-Sya’bi berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah)
  • Artikel Terbaru

  • wasiat untuk seluruh umat islam

    ====================================== “Janganlah kamu saling dengki, saling membenci, saling mengintip rahasia, saling bersaing, saling mencari keburukan, saling menawar lebih tinggi untuk menipu pembeli sehingga menawar tinggi, saling memutuskan hubungan, saling bermusuhan, janganlah sebagian kalian menjual atas jualan yang lain. Jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang diperintahkan Allah. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh menganiaya, tidak boleh menelantarkannya dan tidak boleh menghinanya. ============================================= Taqwa ada di sini, taqwa ada di sini, taqwa ada di sini kata Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam sambil menunjuk dadanya. ================================================= Cukuplah merupakan kejelekan seseorang apabila menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain adalah haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. Hati-hatilah bersangka buruk, karena sesungguhnya bersangka buruk adalah omongan yang paling dusta. ==================================================== Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk kamu dan hartamu, tetapi ia melihat hati dan perbuatanmu.” (riwayat Muslim dan Bukhari). ==========================================
  • BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR

    BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- -------------------------------------------------------------------------------------------- Orang yang mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi janda dan orang miskin ibarat berjihad di jalan Allah dan ibarat orang shalat malam (HR. Bukhari) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain. (HR. Ahmad) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersodaqoh dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana. (HR. Ath-Thabrani) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sodaqoh. (HR. Al-Baihaqi) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Tiap-tiap amalan makruf (kebajikan) adalah sodaqoh. Sesungguhnya di antara amalan makruf ialah berjumpa kawan dengan wajah ceria (senyum) dan mengurangi isi embermu untuk diisikan ke mangkuk kawanmu. (HR. Ahmad) ------------------------------------------------------------------------------------------------------------
  • berbuat baiklah pada semua binatang, termasuk kepada anjing

    Kita tidak diperbolehkan menyiksa binatang dengan cara apa pun, atau membuatnya kelaparan, memukulinya, membebaninya dengan sesuatu yang ia tidak mampu, menyiksa atau membakarnnya. --------------------------------------------------- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Seorang wanita masuk neraka karena seekor kucing yang ia kurung hingga mati. Maka dari itu ia masuk neraka gara-gara kucing tersebut disebabkan dia tidak memberinya makan dan tidak pula memberinya minum di saat mengurung nya, dan dia tidak membiarkannya (melepaskannya) supaya memakan serangga di bumi.” (HR. al-Bukhari) ------------------------------------------------------- Dan ketika beliau melewati sarang semut yang telah dibakar, beliau bersabda, “Sesungguhnya tidak ada yang berhak menyiksa dengan api selain Rabb (Tuhan) pemilik api.” (HR. Abu Dawud, hadits shahih) ---------------------------------------------- “Barangsiapa yang tidak berbelas kasih niscaya tidak akan dibelaskasihi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) ------------------------------------------------- “Kasihanilah siapa saja yang ada di bumi ini, niscaya kalian akan dikasihani oleh yang ada di langit.” (HR. at-Tirmidzi) -------------------------------------------------- Dibolehkan membunuh hewan-hewan yang membahayakan atau mengganggu seperti anjing buas, serigala, ular, kalajengking, tikus dan lain-lain karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Ada lima macam hewan fasik (buruk) yang boleh dibunuh di waktu halal (tidak ihram) dan di waktu ihram, yaitu ular, burung gagak yang putih punggung dan perutnya, tikus, anjing buas, dan rajawali.” (HR. Muslim). Juga terdapat hadits shahih yang membolehkan untuk membunuh kalajengking. ================================================
  • JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA

    ====================================== ‘Amr bin Syarahil Asy-Sya’bi rahimahullahu berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah, 2/636. Dihasankan oleh Al-Albani dalam At-Tahrim, hal. 148) ----------------------------------------------------------------------------- Ibnu Abdil Barr rahimahullahu berkata: “Termasuk hasil usaha yang disepakati keharamannya adalah riba, upah para pelacur, sogokan (suap), mengambil upah atas meratapi (mayit), nyanyian, perdukunan, mengaku mengetahui perkara gaib dan berita langit, hasil seruling dan segala permainan batil.” (Al-Kafi hal. 191) ---------------------------------------------------------------------- Ath-Thabari rahimahullahu berkata: “Telah sepakat para ulama di berbagai negeri tentang dibenci dan terlarangnya nyanyian.” (Tafsir Al-Qurthubi, 14/56) ------------------------------------------------------------------- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “Mazhab empat imam menyatakan bahwa alat-alat musik semuanya haram.” Lalu beliau menyebutkan hadits riwayat Al-Bukhari rahimahullahu . (Majmu’ Fatawa, 11/576) --------------------------------------------------------------- ------------------------------------------
  • wasiat bagi para pemuda

    ====================================== ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Barangsiapa di antara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya mereka adalah ummat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, dan paling lurus petunjuknya, serta paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya, karena mereka berada di jalan yang lurus.” [Dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Baar dalam kitabnya Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih II/947 no. 1810, tahqiq Abul Asybal Samir az-Zuhairy] ======================================
  • wasiat Imam al-Auza’i

    ====================================== Imam al-Auza’i rahimahullah (wafat th. 157 H) mengatakan: “Bersabarlah dirimu di atas Sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para Shahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan Salafush Shalih, karena akan mencukupi kamu apa saja yang mencukupi mereka.” [Syarh Ushul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah 1/174 no. 315] --------------------------------------------------------------- Beliau rahimahullah juga berkata: “Hendaklah kamu berpegang kepada atsar Salafush Shalih meskipun orang-orang menolaknya dan jauhkanlah diri kamu dari pendapat orang meskipun ia hiasi pendapatnya dengan perkataannya yang indah.” [Imam al-Aajury dalam as-Syari’ah I/445 no. 127, di-shahih-kan oleh al-Albany dalam Mukhtashar al-‘Uluw lil Imam adz-Dzahaby hal. 138, Siyar A’laam an-Nubalaa’ VII/120] =================================================
  • Mengutip perkataan Syaikh Bin Baz rahimahullaahu

    “Zaman ini adalah zaman kelembutan, kesabaran dan hikmah, bukanlah zaman kekerasan (kebengisan). Mayoritas manusia saat ini dalam keadaan jahil (bodoh), lalai dan lebih mementingkan duniawiyah. Maka haruslah sabar dan lemah lembut sampai dakwah ini tersampaikan dan sampai mereka mengetahuinya. Kami mohon petunjuk kepada Alloh untuk semuanya.” (Majmu’ Fatawa Samahatul Imam Ibnu Bazz (Juz VIII, hal 376) dan (Juz X, hal. 91) =================================================
  • jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara

    ====================================== Segala puji hanyalah milik Alloh yang telah mempertautkan hati kaum mukminin dan menganjurkan mereka supaya bersatu padu dan saling berhimpun serta memperingatkan dari perpecahan dan perselisihan. -------------------------------------------------------- Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq untuk disembah melainkan hanyalah Alloh semata yang tidak memiliki sekutu. Dialah yang mensyariatkan dan memudahkan, dan Dia terhadap kaum mukminin adalah sangat penyantun. ------------------------------------------------------ Saya juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang diperintahkan dengan kemudahan dan berita gembira. ----------------------------------------------------- Beliau bersabda : Permudahlah dan janganlah kamu persulit, berikanlah kabar gembira dan janganlah membuat orang lari (dari kebenaran). ------------------------------------------------------ Permisalan kaum mukminin satu dengan lainnya dalam hal kasih sayang, tolong menolong dan kecintaan, bagaikan tubuh yang satu, jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan merasa demam atau terjaga” --------------------------------------------------- Tidak ragu lagi, bahwa kewajiban Ahlus Sunnah di setiap zaman dan tempat adalah saling bersatu dan menyayangi di antara mereka serta saling bekerja sama di dalam kebajikan dan ketakwaan… ==================================================---------------
  • KHUTBATUL HAJAH

    ====================================== Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, dan meminta ampun kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami, dan dari keburukan-keburukan perbuatan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah saja, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. ================================================ “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” ================================================== “Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan darinya Allah menciptakan isterinya; dan dari keduanya Allah mengembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silatur rahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” ========================================================= “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mena’ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. ============================================================ Amma ba’du; Maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad , dan seburuk-buruk perkara dalam agama adalah yang di ada-adakan, setiap yang diada-adakan (dalam urusan agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan. (HR. Muslim, an-Nasa’i dan selain keduanya) ==================================================
  • mengutip perkataan Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad hafizhahullaahu:

    “Telah terjadi di zaman ini, sibuknya sebagian ahlus sunnah dengan sebagian lainnya dengan tajrih (saling mencela) dan tahdzir, dan implikasi dari hal ini menyebabkan terjadinya perpecahan, perselisihan dan saling mengisolir. Padahal sepantasnya bahkan seharusnya bagi mereka untuk saling mencintai dan berkasih sayang terhadap sesama mereka, dan menyatukan barisan mereka di dalam menghadapi ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu yang menyelisihi ahlus sunnah wal jama’ah. ---------------------------------------------------- “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- agar menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dari perkara-perkara yang tidak bermanfaat bagi mereka, sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “diantara kebaikan seorang muslim adalah meninggalkan hal-hal yang tidak berfaidah baginya.” Hadits hasan diriwayatkan oleh Turmudzi.” ------------------------------------------------------ “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- untuk bersikap pertengahan dan moderat, diantara sikap ghuluw (ekstrim) dan meremehkan, dan diantara sikap ifrath (berlebih-lebihan) dan tafrith (menggampangkan). Sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “Jauhilah oleh kalian sikap ghuluw di dalam agama, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa dikarenakan sikap ghuluw mereka di dalam agama.” Ini hadits shahih, dikeluarkan oleh an-Nasa’i dan selainnya.” ---------------------------------------------------- “Dan aku nasehatkan supaya mereka berhati-hati dari sikap zhalim, dikarenakan hadits Qudsi, “Wahai hamba-Ku, sesunguhnya Aku haramkan kezhaliman atas diri-Ku, maka aku jadikan pula haram atas diri kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi” diriwayatkan oleh Muslim, dan hadits Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “takutlah kalian dari kezhaliman, karena sesungguhnya kezhaliman itu adalah kegelapan di hari kiamat” diriwayatkan oleh Muslim. ------------------------------------------------------ Aku memohon kepada Allah Azza wa Jalla untuk menunjuki seluruh ummat kepada apa yang diridhai-Nya, agar mereka mendalami agama Islam (tafaqquh fid din) dan menetapi kebenaran, serta agar mereka menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dan menjauhkan dari apa-apa yang tidak bermanfaat. Sesungguhnya Ia berkuasa dan berkemampuan atasnya. Semoga Sholawat dan Salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya dan para sahabatnya. (selesai kutipan) ===========================================
  • mengutip perkataan Imam Albani rahimahullaahu

    “Wajib atas kita untuk berlemah lembut di dalam dakwah kita terhadap orang-orang yang menyelisihi kita, dan jadikan selalu firman Alloh Ta’ala berikut (sebagai pegangan) dan untuk selamanya : “Serulah mereka ke jalan Rabb-mu dengan hikmah dan nasehat yang baik, serta berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.” Dan mereka yang pertama lebih berhak untuk kita terapkan hikmah ini adalah mereka yang paling memusuhi kita di dalam dasar (mabda’) dan aqidah kita, hingga kita tidak menggabungkan antara beratnya dakwah yang haq yang Alloh memperteguh kita dengannya dengan beratnya cara (ushlub) kita berdakwah kepada Alloh Azza wa Jalla” ==================================================
  • Diriwayatkan bahwa Hasan Al-banna berkata: “Kami menginginkan terbentuknya sosok individu muslim, rumah tangga Islami, bangsa yang Islami, pemerintahan yang Islami, negara yang dipimpin oleh negara-negara Islam, menyatukan perpecahan kaum muslimin dan negara mereka yang terampas, kemudian membawa bendera jihad dan da’wah kepada Allah sehingga dunia mendapatkan ketentraman dengan ajaran-ajaran Islam.” ==================================================
  • warning

    dalam blog ini mungkin terdapat hadits dhoif, riwayat yang tidak valid, salah tulis, kutipan yg tidak sesuai syariat islam, dan berbagai kesalahan2 lain, dan belum sempat di sensor, jadi mohon maaf sebesar-besarnya

Pokok-Pokok Segala Kebaikan Dunia

POKOK-POKOK SEGALA KEBAIKAN DUNIA

Oleh
Abdul Malik bin Muhammad al-Qasim

Saudaraku tercinta…
Pokok-pokok segala kebaikan adalah engkau mengetahui bahwa apa saja yang dikehendaki oleh Allah, niscaya akan terwujud dan apa saja yang tidak dikehendaki oleh-Nya, niscaya tidak akan pernah terwujud, sehingga yakinlah pada saat ini bahwa segala kebaikan adalah karunia dari-Nya, maka kita dapat mensyukuri-Nya dan tunduk kepada-Nya dengan harapan semoga kebaikan tersebut tidak pernah terhenti darimu. Adapun kejelekan adalah siksaan dari-Nya, maka berdo’alah agar engkau terhalang darinya dan berdo’alah agar Allah tidak menyerahkanmu kepada dirimu sendiri dalam melakukan kebaikan dan juga meninggalkan kejelekan.[1]

Ketika Ibrahim bin Ad-ham ditanya, “Bagaimana keadaanmu?” Beliau menjawab:

Kita menambal dunia kita dengan menyobek-nyobek agama,
akhirnya agama tidak tersisa dan tidak ada dunia yang tertambal.
Kebahagiaanlah bagi orang yang lebih menghadap Allah sebagai Rabb-nya,
dan berderma dengan dunia untuk hari yang akan datang.

Sesungguhnya di antara tanda-tanda cinta kepada dunia adalah mencintai ahli dunia (orang kaya), menjilat mereka, saling mencintai, dan tidak mengingkari terhadap kemunkaran mereka. Sufyan ats-Tsauri memperkuat ungkapan tersebut dengan perkataan-nya, “Sungguh aku mengetahui seseorang mencintai dunia dari penyerahan dirinya kepada penduduk dunia.”[2]

Lihatlah seorang fakir yang shalih dan selalu menjaga kehormatannya… orang yang mencintai dunia sama sekali tidak mau berbicara dengannya. Bahkan jika mengucapkan salam pun, dia mengucapkannya dengan salam yang penuh dengan rasa takut bahwa kefakirannya akan menular kepadanya… sebuah salam yang hanya diucapkan dengan ujung jari dan pertanyaan akan keadaannya pun diucapkan dengan muka yang masam tanpa adab.

Wahai saudaraku! Lihatlah ke sebelah kanan bagaimana mereka semua berdiri? Mereka semua menyambut siapa yang datang? Ternyata yang datang adalah penduduk dunia, orang kaya, yaitu orang-orang yang penuh dengan dinar dan dirham… walaupun kenyataannya mereka sama sekali tidak shalat.

Bahkan mungkin saja telinga mereka tuli, hidung mereka tersumbat, dan perbuatan mereka sangat buruk. Akan tetapi lihatlah perbedaan antara orang yang jika bersumpah kepada Allah, maka keinginannya itu akan dikabulkan, kenapa mereka tidak menanyakannya jika dia tidak ada atau sebaliknya? Bandingkanlah ia dengan seseorang yang sama sekali tidak sebanding dengan satu sayap lalat pun disisi Allah, bagaimana mereka semua menyambutnya? Itulah dunia….

Ketahuilah sesungguhnya dunia itu tidak kekal dan manusia hanyalah berita bagi mereka yang hidup setelahnya.

‘Abdullah bin ‘Aun berkata, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kita menyempatkan kehidupannya untuk dunia dengan sisa hidupnya untuk akhirat, sedangkan kalian menyempatkan kehidupan kalian untuk akhirat dengan sisa hidup kalian untuk dunia.”[3]

Saudaraku sesama muslim!
Sesungguhnya umur dunia itu sangatlah pendek dan orang yang paling kaya di dalamnya adalah orang yang fakir. Aku melihatmu seakan-akan berada di halaman kematian, bau pengasingan telah kucium sebelum engkau melakukan perjalanan. Aku melihat tanda keyatiman pada diri seorang anak sebelum ayahnya meninggal, karena itu bangunlah dari lingkaran kelalaian! Berhati-hatilah dari sikap mabuk terhadap dunia dan hilangkanlah kecintaan akan dunia pada dirimu, karena seorang hamba jika me-mejamkan matanya dan pergi, maka dia akan mengharapkan untuk kembali. Lalu dikatakan kepadanya, “Sama sekali tidak mungkin.”[4]

Suatu hari dalam kehidupan manusia dunia itu akan pergi, sedangkan akhirat akan datang… sesuatu yang sebelumnya jauh akan menjadi dekat… dan sesuatu yang engkau lihat dari orang-orang yang telah pergi meninggalkan dunia akan dilihat pula oleh orang yang hidup dalam dirimu sendiri… kematian yang tiba-tiba atau penyakit yang menyerang… atau engkau berada di atas tempat tidur, dan tak lama kemudian engkau dalam kelalaian dibawa ke kuburan… semuanya adalah pelajaran yang dapat disaksikan, sedangkan kita tertidur.

Celakalah bagi orang yang mencari dunia fana,
padahal apa yang dia lakukan seakan-akan hanyalah mimpi.
Yang jernih darinya keruh, yang indah darinya mencelakakan,
yang aman darinya adalah tipuan dan cahayanya adalah kegelapan.
Masa mudanya adalah tua, kesenangannya adalah sebuah kesengsaraan,
kenikmatannya adalah sebuah kesengsaraan dan adanya adalah sebuah ketiadaan.

Ahli dunia tidak akan sadar dari kekerasannya,
walaupun dia memiliki apa yang dikumpulkan oleh Iram (suatu bangsa).
Tinggalkanlah ia dan janganlah engkau condong kepada kemegahannya,
karena sesungguhnya ia adalah sebuah kenikmatan di balik kesengsaraan.
Dan bekerjalah engkau untuk sebuah alam kenik-matan yang tidak ada akhir,
tidak akan ada mati dan masa tua yang ditakuti di dalamnya.[5]

Abu Hazim berkata, “Barangsiapa yang mengenal dunia, niscaya dia tidak akan senang dengan kemegahan yang ada di dalamnya dan tidak akan bersedih dengan bencana yang ada di dalamnya.”

‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Siapa yang menyatukan enam hal dalam dirinya, berarti dia tidak meninggalkan satu jalan pun menuju Surga dan satu pintu pun untuk lari dari Neraka.

(1) Orang yang mengenal Allah dan mentaati-Nya,
(2) Orang yang mengenal syaitan dan menjauhinya,
(3) Orang yang mengenal kebenaran dan mengikutinya,
(4) Orang yang mengenal kebathilan dan menjaga diri darinya,
(5) Orang yang mengenal dunia dan menolaknya, dan
(6) Orang yang mengenal akhirat dan mencarinya.”[6]

Berbaik sangka terhadap hari-hari adalah sesuatu yang melemahkan,
maka berburuk sangkalah kepadanya dan tumbuhkanlah rasa takut.

Hal ini -saudaraku yang mulia- sebagaimana yang diungkapkan oleh Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah, beliau berkata, “Masuk ke dalam dunia sangatlah mudah sedangkan keluar darinya sangatlah dahsyat (sulit).” [7]

Keluar dari dunia adalah sebuah hembusan nafas yang dapat terhenti… beberapa saat yang sangat sulit… pada waktu itu ruh dicabut dengan satu kali cabutan, walaupun untuk sebagian orang keluarnya (ruh) itu mudah, maka sesungguhnya lari di belakang dunia dan terengah-engah di belakang kehidupan yang materialitis akan menimbulkan hati yang tercabik-cabik dan menjadikan hati tersebut dipenuhi dengan kegalauan juga kegoncangan jiwa.

Aku melihat dunia di tangan orang-orang yang mendapatkannya,
semakin banyak dunia itu, maka semakin banyak pula kecemasannya.

Ia menghinakan orang yang memuliakannya dengan nilai nol,
dan memuliakan orang yang menghinakannya.

Jika engkau tidak membutuhkan sesuatu, maka ting-galkanlah ia,
dan ambillah sebanyak yang engkau butuhkan.[8]

Saudaraku tercinta…
Jadilah kalian termasuk anak-anak akhirat dan janganlah kalian menjadi anak-anak dunia (tamak terhadapnya), karena sesungguhnya anak akan selalu mengikuti ke mana ibunya pergi. Sedangkan dunia sama sekali tidak sebanding dengan ayunan langkahmu sedikit pun, maka bagaimana engkau bisa berlari di belakangnya?[9]

Gibaskanlah tanganmu dari dunia dan penghuninya
karena bumi telah digali dan banyak orang yang telah mati.[10]

Isteri Hubaib bin Muhammad berkata, “Dia (Hubaib) berkata, ‘Jika aku mati hari ini, maka bawalah aku kepada si fulan agar dia yang memandikanku, lakukanlah hal ini dan buatlah ini.’” Lalu isterinya ditanya, “Apakah hal tersebut merupakan mimpi?” Dia menjawab, “Itu adalah perkataannya setiap hari.”[11]

Saudaraku… . Jika semua orang selalu membutuhkan dunia, maka engkau harus merasa butuh kepada Allah. Jika mereka berbahagia dengan dunia, maka engkau harus berbahagia dengan beribadah kepada Allah. Jika mereka merasa senang dengan orang yang mereka cintai, maka engkau harus merasa senang bersama Allah. Dan jika mereka selalu mendekati raja-raja dan para pembesar mereka serta mendekat kepada mereka agar mendapatkan kedudukan dan kemuliaan, maka kenalilah dan mendekatlah engkau kepada Allah, niscaya engkau akan mendapatkan puncak dari kemuliaan dan kedudukan.[12]

‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz rahimahullah di dalam khutbahnya berkata, “Setiap perjalanan membutuhkan bekal, maka bekalilah diri kalian dengan ketakwaan untuk perjalanan dari dunia menuju akhirat. Jadilah seperti orang yang benar-benar diancam dengan siksa Allah sehingga kalian merasa takut dan berharap. Dan janganlah merasakan tenggang waktu yang masih panjang sehingga hati menjadi keras dan akhirnya kalian tunduk kepada musuh, karena sesungguhnya panjang angan-angan diperuntukkan bagi orang yang tidak tahu bahwa dia tidak akan menemukan waktu sore ketika dia berada di waktu pagi, dan bagi orang yang tidak tahu bahwa dia tidak akan menemukan waktu pagi ketika dia ada di waktu sore, padahal kematian sebenarnya telah ditetapkan baginya waktu itu. Ketenangan hanyalah didapatkan oleh orang yang meyakini bahwa dirinya akan selamat dari siksa Allah dan keadaan yang menakutkan pada hari Kiamat. Adapun orang yang tidak mengobati dirinya dari penyakit dunia, maka setiap kali dia tertimpa sesuatu bencana, niscaya dia akan mendapatkan luka dari arah lainnya. Jika demikian, bagaimana dia bisa tenang? Aku berlindung kepada Allah dari sikap memerintahkan kalian dengan sesuatu yang dilarang kepada diriku sendiri yang akhirnya diriku akan merugi dan tampaklah kemiskinan diri ini pada suatu hari, yang tidak berharga pada hari itu kecuali kebenaran dan kejujuran.”[13]

Wahai yang lalai akan kematian dan yang telah tertipu dengan angan-angan,
engkau akan meninggalkan sesuatu yang sedikit.

Engkau ingin menyusul mereka tanpa bekal yang engkau persembahkan,
sesungguhnya orang-orang fakir ketika mereka bersiap siaga akan sampai kepada yang diinginkannya.

Janganlah engkau condong kepada dunia dan kemegahannya,
karena sesungguhnya engkau akan meninggalkan dunia yang fana.

Engkau berharap besok akan tiba kemudian setelah besok,
dan banyak sekali orang yang memiliki dasar dikhianati oleh angan-angan.

Inilah masa mudamu yang keindahannya telah pergi,
tidak ada lagi setelah masa mudamu, tidak ada per-mainan dan juga perdebatan.
Bagaimana kamu berhujjah dengan dunia sedang-kan dia telah menebarkan kesehatan, bagi penghuninya sedangkan di dalamnya adalah penyakit.[14]

Muhammad bin Abi ‘Imran berkata, “Aku mendengar Hatim al-‘Asham ditanya oleh seseorang, ‘Atas dasar apa Anda bertawakkal dalam masalah ini?’ beliau menjawab, ‘Atas empat hal: aku tahu bahwa rizkiku tidak akan dimakan oleh seseorang, karena itu hatiku tenang. Aku tahu bahwa amalku tidak akan pernah dilakukan oleh seseorang, karena itu aku sibuk dengannya. Aku tahu bahwa kematian akan datang dengan tiba-tiba, karena itu aku mempersiapkannya. Dan aku tahu bahwa aku selalu ada di dalam pengawasan Allah, karena itu aku malu kepada-Nya.’”

Orang yang pergi ke timur dan barat menyangka bahwa orang asing,
walaupun mereka mulia sebenarnya mereka adalah hina.

Lalu aku menjawab mereka, sesungguhnya orang asing jika bertakwa,
bagaikan penunggang yang pergi dengan mulia.[15]

‘Abdullah Ibnul Mubarak rahimahullah berkata, “Wahai manusia! Persiapkanlah diri kalian untuk kehidupan akhirat, taatilah Allah sesuai dengan kebutuhanmu kepada-Nya, dan bencilah Allah sesuai dengan kesabaranmu di dalam Neraka. ”

Mahasuci Engkau ya Allah, Rabb kami, aku sama sekali tidak dapat menghitung pujian untuk-Mu, Engkau sesuai dengan yang Engkau puji atas diri-Mu, kami berbuat maksiat karena kebodohan kami dan Engkau memaafkan kami dengan kasih sayang-Mu.

Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah menggambarkan kehidupan seorang mukmin di dunia ini dengan ungkapannya, “Seorang mukmin di dunia berada dalam keadaan cemas dan sedih… yang ada dalam benaknya hanyalah bekal di perjalanan. Siapa saja yang berada di dunia dengan hati seperti itu, maka tidak ada yang menyibukkannya kecuali menyiapkan diri dengan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya ketika kembali ke negeri asalnya. Dia tidak akan pernah ingin berlomba dengan penduduk asli yang asing baginya dalam mendapatkan kedudukan (kemuliaan), tidak pula merasa takut dengan kedudukan yang rendah di hadapan mereka.”[16]

Sesungguhnya dunia adalah alam yang fana,
sama sekali tidak akan kekal.

Sesungguhnya dunia itu hanya bagaikan rumah,
yang dianyam oleh laba-laba.[17]

Wahib bin al-Ward rahimahullah berkata, “Jagalah dirimu dari sikap mencela iblis secara terang-terangan di hadapan orang lain, sedangkan engkau adalah temannya ketika menyendiri.”

Inilah iblis dan jiwa yang selalu memerintahkan keburukan dan hawa nafsu, semuanya telah melabuhkan kapal-kapalnya untuk menghalangi seorang muslim dari agamanya dan menghiasinya dengan kesulitan, mereka semua bekerja di dunia ini hanya untuk menghalangi seorang muslim dari kebenaran dan menghiasinya dengan kemaksiatan.

[Disalin dari kitab Ad-Dun-yaa Zhillun Zaa-il, Penulis ‘Abdul Malik bin Muhammad al-Qasim, Edisi Indonesia Menyikapi Kehidupan Dunia Negeri Ujian Penuh Cobaan, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
__________
Footnotes
[1]. Al-Fawaa-id, hal. 127.
[2]. Hilyatul Auliyaa’ (VII/37).
[3]. Shifatush Shafwah (III/101).
[4]. ‘Iddatush Shaabiriin, hal. 329
[5]. Mukaasyafatul Quluub, hal. 329.
[6]. Al-Ihyaa’ (III/221).
[7]. Ibid (III/224).
[8]. Ibid (II/344).
[9]. Al-Fawaa-id, hal. 68.
[10]. Syadzaraatudz Dzahab (III/388).
[11]. Shifatush Shafwah (III/320).
[12]. Al-Fawaa-id, hal. 152.
[13]. Al-Bidaayah wan Nihaayah (IX/283).
[14]. At-Tabshirah (I/49).
[15]. Syadzaraatudz Dzahab (VI/349).
[16]. Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam, hal. 379.
[17]. Asy-Syaafi’i, hal. 54.

%d blogger menyukai ini: