• Blog Stats

    • 41,452,323 hits
  • pacaran adalah perbuatan haram, maka janganlah berpacaran. Dan jangan mau jika diajak pacaran. Akan tetapi tempuhlah jalan yang halal jika memang benar-benar cinta dan ingin menikah. Segeralah menikah dan jangan berpacaran. ================================== dan janganlah kamu mendekati zina. sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk. [QS Al Isra':32] ==================================== JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA ====================================== Asy-Sya’bi berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah)
  • Artikel Terbaru

  • wasiat untuk seluruh umat islam

    ====================================== “Janganlah kamu saling dengki, saling membenci, saling mengintip rahasia, saling bersaing, saling mencari keburukan, saling menawar lebih tinggi untuk menipu pembeli sehingga menawar tinggi, saling memutuskan hubungan, saling bermusuhan, janganlah sebagian kalian menjual atas jualan yang lain. Jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang diperintahkan Allah. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh menganiaya, tidak boleh menelantarkannya dan tidak boleh menghinanya. ============================================= Taqwa ada di sini, taqwa ada di sini, taqwa ada di sini kata Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam sambil menunjuk dadanya. ================================================= Cukuplah merupakan kejelekan seseorang apabila menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain adalah haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. Hati-hatilah bersangka buruk, karena sesungguhnya bersangka buruk adalah omongan yang paling dusta. ==================================================== Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk kamu dan hartamu, tetapi ia melihat hati dan perbuatanmu.” (riwayat Muslim dan Bukhari). ==========================================
  • BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR

    BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- -------------------------------------------------------------------------------------------- Orang yang mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi janda dan orang miskin ibarat berjihad di jalan Allah dan ibarat orang shalat malam (HR. Bukhari) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain. (HR. Ahmad) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersodaqoh dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana. (HR. Ath-Thabrani) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sodaqoh. (HR. Al-Baihaqi) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Tiap-tiap amalan makruf (kebajikan) adalah sodaqoh. Sesungguhnya di antara amalan makruf ialah berjumpa kawan dengan wajah ceria (senyum) dan mengurangi isi embermu untuk diisikan ke mangkuk kawanmu. (HR. Ahmad) ------------------------------------------------------------------------------------------------------------
  • berbuat baiklah pada semua binatang, termasuk kepada anjing

    Kita tidak diperbolehkan menyiksa binatang dengan cara apa pun, atau membuatnya kelaparan, memukulinya, membebaninya dengan sesuatu yang ia tidak mampu, menyiksa atau membakarnnya. --------------------------------------------------- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Seorang wanita masuk neraka karena seekor kucing yang ia kurung hingga mati. Maka dari itu ia masuk neraka gara-gara kucing tersebut disebabkan dia tidak memberinya makan dan tidak pula memberinya minum di saat mengurung nya, dan dia tidak membiarkannya (melepaskannya) supaya memakan serangga di bumi.” (HR. al-Bukhari) ------------------------------------------------------- Dan ketika beliau melewati sarang semut yang telah dibakar, beliau bersabda, “Sesungguhnya tidak ada yang berhak menyiksa dengan api selain Rabb (Tuhan) pemilik api.” (HR. Abu Dawud, hadits shahih) ---------------------------------------------- “Barangsiapa yang tidak berbelas kasih niscaya tidak akan dibelaskasihi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) ------------------------------------------------- “Kasihanilah siapa saja yang ada di bumi ini, niscaya kalian akan dikasihani oleh yang ada di langit.” (HR. at-Tirmidzi) -------------------------------------------------- Dibolehkan membunuh hewan-hewan yang membahayakan atau mengganggu seperti anjing buas, serigala, ular, kalajengking, tikus dan lain-lain karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Ada lima macam hewan fasik (buruk) yang boleh dibunuh di waktu halal (tidak ihram) dan di waktu ihram, yaitu ular, burung gagak yang putih punggung dan perutnya, tikus, anjing buas, dan rajawali.” (HR. Muslim). Juga terdapat hadits shahih yang membolehkan untuk membunuh kalajengking. ================================================
  • JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA

    ====================================== ‘Amr bin Syarahil Asy-Sya’bi rahimahullahu berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah, 2/636. Dihasankan oleh Al-Albani dalam At-Tahrim, hal. 148) ----------------------------------------------------------------------------- Ibnu Abdil Barr rahimahullahu berkata: “Termasuk hasil usaha yang disepakati keharamannya adalah riba, upah para pelacur, sogokan (suap), mengambil upah atas meratapi (mayit), nyanyian, perdukunan, mengaku mengetahui perkara gaib dan berita langit, hasil seruling dan segala permainan batil.” (Al-Kafi hal. 191) ---------------------------------------------------------------------- Ath-Thabari rahimahullahu berkata: “Telah sepakat para ulama di berbagai negeri tentang dibenci dan terlarangnya nyanyian.” (Tafsir Al-Qurthubi, 14/56) ------------------------------------------------------------------- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “Mazhab empat imam menyatakan bahwa alat-alat musik semuanya haram.” Lalu beliau menyebutkan hadits riwayat Al-Bukhari rahimahullahu . (Majmu’ Fatawa, 11/576) --------------------------------------------------------------- ------------------------------------------
  • wasiat bagi para pemuda

    ====================================== ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Barangsiapa di antara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya mereka adalah ummat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, dan paling lurus petunjuknya, serta paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya, karena mereka berada di jalan yang lurus.” [Dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Baar dalam kitabnya Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih II/947 no. 1810, tahqiq Abul Asybal Samir az-Zuhairy] ======================================
  • wasiat Imam al-Auza’i

    ====================================== Imam al-Auza’i rahimahullah (wafat th. 157 H) mengatakan: “Bersabarlah dirimu di atas Sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para Shahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan Salafush Shalih, karena akan mencukupi kamu apa saja yang mencukupi mereka.” [Syarh Ushul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah 1/174 no. 315] --------------------------------------------------------------- Beliau rahimahullah juga berkata: “Hendaklah kamu berpegang kepada atsar Salafush Shalih meskipun orang-orang menolaknya dan jauhkanlah diri kamu dari pendapat orang meskipun ia hiasi pendapatnya dengan perkataannya yang indah.” [Imam al-Aajury dalam as-Syari’ah I/445 no. 127, di-shahih-kan oleh al-Albany dalam Mukhtashar al-‘Uluw lil Imam adz-Dzahaby hal. 138, Siyar A’laam an-Nubalaa’ VII/120] =================================================
  • Mengutip perkataan Syaikh Bin Baz rahimahullaahu

    “Zaman ini adalah zaman kelembutan, kesabaran dan hikmah, bukanlah zaman kekerasan (kebengisan). Mayoritas manusia saat ini dalam keadaan jahil (bodoh), lalai dan lebih mementingkan duniawiyah. Maka haruslah sabar dan lemah lembut sampai dakwah ini tersampaikan dan sampai mereka mengetahuinya. Kami mohon petunjuk kepada Alloh untuk semuanya.” (Majmu’ Fatawa Samahatul Imam Ibnu Bazz (Juz VIII, hal 376) dan (Juz X, hal. 91) =================================================
  • jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara

    ====================================== Segala puji hanyalah milik Alloh yang telah mempertautkan hati kaum mukminin dan menganjurkan mereka supaya bersatu padu dan saling berhimpun serta memperingatkan dari perpecahan dan perselisihan. -------------------------------------------------------- Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq untuk disembah melainkan hanyalah Alloh semata yang tidak memiliki sekutu. Dialah yang mensyariatkan dan memudahkan, dan Dia terhadap kaum mukminin adalah sangat penyantun. ------------------------------------------------------ Saya juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang diperintahkan dengan kemudahan dan berita gembira. ----------------------------------------------------- Beliau bersabda : Permudahlah dan janganlah kamu persulit, berikanlah kabar gembira dan janganlah membuat orang lari (dari kebenaran). ------------------------------------------------------ Permisalan kaum mukminin satu dengan lainnya dalam hal kasih sayang, tolong menolong dan kecintaan, bagaikan tubuh yang satu, jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan merasa demam atau terjaga” --------------------------------------------------- Tidak ragu lagi, bahwa kewajiban Ahlus Sunnah di setiap zaman dan tempat adalah saling bersatu dan menyayangi di antara mereka serta saling bekerja sama di dalam kebajikan dan ketakwaan… ==================================================---------------
  • KHUTBATUL HAJAH

    ====================================== Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, dan meminta ampun kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami, dan dari keburukan-keburukan perbuatan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah saja, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. ================================================ “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” ================================================== “Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan darinya Allah menciptakan isterinya; dan dari keduanya Allah mengembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silatur rahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” ========================================================= “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mena’ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. ============================================================ Amma ba’du; Maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad , dan seburuk-buruk perkara dalam agama adalah yang di ada-adakan, setiap yang diada-adakan (dalam urusan agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan. (HR. Muslim, an-Nasa’i dan selain keduanya) ==================================================
  • mengutip perkataan Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad hafizhahullaahu:

    “Telah terjadi di zaman ini, sibuknya sebagian ahlus sunnah dengan sebagian lainnya dengan tajrih (saling mencela) dan tahdzir, dan implikasi dari hal ini menyebabkan terjadinya perpecahan, perselisihan dan saling mengisolir. Padahal sepantasnya bahkan seharusnya bagi mereka untuk saling mencintai dan berkasih sayang terhadap sesama mereka, dan menyatukan barisan mereka di dalam menghadapi ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu yang menyelisihi ahlus sunnah wal jama’ah. ---------------------------------------------------- “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- agar menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dari perkara-perkara yang tidak bermanfaat bagi mereka, sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “diantara kebaikan seorang muslim adalah meninggalkan hal-hal yang tidak berfaidah baginya.” Hadits hasan diriwayatkan oleh Turmudzi.” ------------------------------------------------------ “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- untuk bersikap pertengahan dan moderat, diantara sikap ghuluw (ekstrim) dan meremehkan, dan diantara sikap ifrath (berlebih-lebihan) dan tafrith (menggampangkan). Sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “Jauhilah oleh kalian sikap ghuluw di dalam agama, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa dikarenakan sikap ghuluw mereka di dalam agama.” Ini hadits shahih, dikeluarkan oleh an-Nasa’i dan selainnya.” ---------------------------------------------------- “Dan aku nasehatkan supaya mereka berhati-hati dari sikap zhalim, dikarenakan hadits Qudsi, “Wahai hamba-Ku, sesunguhnya Aku haramkan kezhaliman atas diri-Ku, maka aku jadikan pula haram atas diri kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi” diriwayatkan oleh Muslim, dan hadits Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “takutlah kalian dari kezhaliman, karena sesungguhnya kezhaliman itu adalah kegelapan di hari kiamat” diriwayatkan oleh Muslim. ------------------------------------------------------ Aku memohon kepada Allah Azza wa Jalla untuk menunjuki seluruh ummat kepada apa yang diridhai-Nya, agar mereka mendalami agama Islam (tafaqquh fid din) dan menetapi kebenaran, serta agar mereka menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dan menjauhkan dari apa-apa yang tidak bermanfaat. Sesungguhnya Ia berkuasa dan berkemampuan atasnya. Semoga Sholawat dan Salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya dan para sahabatnya. (selesai kutipan) ===========================================
  • mengutip perkataan Imam Albani rahimahullaahu

    “Wajib atas kita untuk berlemah lembut di dalam dakwah kita terhadap orang-orang yang menyelisihi kita, dan jadikan selalu firman Alloh Ta’ala berikut (sebagai pegangan) dan untuk selamanya : “Serulah mereka ke jalan Rabb-mu dengan hikmah dan nasehat yang baik, serta berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.” Dan mereka yang pertama lebih berhak untuk kita terapkan hikmah ini adalah mereka yang paling memusuhi kita di dalam dasar (mabda’) dan aqidah kita, hingga kita tidak menggabungkan antara beratnya dakwah yang haq yang Alloh memperteguh kita dengannya dengan beratnya cara (ushlub) kita berdakwah kepada Alloh Azza wa Jalla” ==================================================
  • Diriwayatkan bahwa Hasan Al-banna berkata: “Kami menginginkan terbentuknya sosok individu muslim, rumah tangga Islami, bangsa yang Islami, pemerintahan yang Islami, negara yang dipimpin oleh negara-negara Islam, menyatukan perpecahan kaum muslimin dan negara mereka yang terampas, kemudian membawa bendera jihad dan da’wah kepada Allah sehingga dunia mendapatkan ketentraman dengan ajaran-ajaran Islam.” ==================================================
  • warning

    dalam blog ini mungkin terdapat hadits dhoif, riwayat yang tidak valid, salah tulis, kutipan yg tidak sesuai syariat islam, dan berbagai kesalahan2 lain, dan belum sempat di sensor, jadi mohon maaf sebesar-besarnya

Kritik Sinetron Mistis Religius

Kepada pengasuh rubrik konsultasi yang kami hormati, ada pertanyaan yang sampai saat ini masih mengganjal di benak saya. Belakangan ini tengah marak di TV atau pun media yang mengungkap berbagai kisah dan cerita yang dikemas menarik. Kisah tersebut berkisar antara lain kematian seorang yang bermaksiat, akibat buruk orang yang berjudi dan berbagai hal aneh lainnya terkait dengan jenazah yang sudah meninggal kemudian dihubungkan dengan perilakunya semasa hidup. Pertanyaannya, apakah kita boleh menceritakan kejadian-kejadian tersebut untuk diambil sebagai bahan pelajaran bagi yang masih hidup?

Jawab:
Cerita-cerita semacam ini memiliki beberapa sisi yang patut dicermati,

1. Menggunjing orang yang sudah mati

Syekh Musthofa Al-Adawi mengatakan, “Memang orang yang membicarakan aib orang yang sudah mati termasuk menggunjing mereka. Sesungguhnya ikatan iman tidaklah terputus dengan sebab kematian. Oleh karena itu, dalil-dalil larangan ghibah juga berlaku untuk orang-orang yang sudah meninggal. Allah berfirman (yang artinya), “Janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Apakah salah satu diantara kalian mau memakan daging saudaranya yang sudah menjadi bangkai. Tentu kalian tidak akan menyukainya.” (QS Al-Hujurat: 12)
Tentang ghibah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau menyebut-nyebut saudaramu dengan sesuatu yang tidak dia sukai.” (HR Muslim no 2518) Bahkan terdapat dalil-dalil khusus yang melarang menggunjing orang yang sudah mati. Diriwayatkan oleh Imam Nasa’I dengan sanad yang shahih dari Aisyah, beliau mengatakan, “Ada seorang yang menyebut-nyebut aib orang yang sudah mati di dekat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Janganlah kalian menyebut-nyebut orang yang sudah meninggal di antara kalian kecuali dengan kebaikan.”
Diriwayatkan oleh Imam Turmudzi dengan sanad yang shahih dari Aisyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dengan keluarganya. Aku adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku. Jika shahabat kalian meninggal dunia maka biarkanlah dia (jangan sebut-sebut kejelekannya).”
Kecuali jika orang yang sudah meninggal tersebut adalah pemimpin kesesatan dan dikhawatirkan ada orang yang mengikutinya. Dalam kondisi demikian diperbolehkan menjelaskan kejelekan-kejelekannya bahkan bisa jadi dianjurkan jika dengan maksud mengingatkan umat jangan sampai mengikuti orang tersebut.
Tentang kaum Firaun Allah berfirman, yang artinya, “Dan Kami ikutkanlah la’nat kepada mereka di dunia ini; dan pada hari kiamat mereka termasuk orang-orang yang dijauhkan.” (QS al-Qashash 42)
Demikian pula Allah berfirman, yang artinya, “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.” (QS Al-Lahab 1)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Aku melihat Amar bin Luhay menyeret-nyeret ususnya sendiri di dalam neraka karena dia adalah orang yang pertamakali menetapkan adanya Saibah (sejenis unta yang diharamkan masyarakat jahiliyyah).” (HR Bukhari no 2424 dan Muslim no 2856 dari Abu Hurairah)(Lihat Tashil Lita’wil At-Tanzil tafsir surat Al-Hujurat hal 159-161)

2. Dalam kisah-kisah ini terdapat tindakan menghubungkan sesuatu yang tidak berhubungan tanpa dalil bahkan termasuk dalam tindakan menebak-nebak hal yang ghaib tanpa dasar wahyu.

Semisal ada seorang yang ketika hidup suka berbuat maksiat berupa tidak shalat, suka berjudi, menipu dan menyakiti ibu, ketika meninggal mayat orang tersebut busuk. Peristiwa ini lantas dikomentari inilah adzab Allah untuk orang yang durhaka kepada ibunya. Dari manakah pernyataan memastikan seperti ini? Kenapa tidak dikatakan itu sebagai adzab karena selama hidup tidak shalat, atau karena suka berjudi. Menghubungkan hal-hal ini tanpa dalil dari wahyu termasuk menebak-nebak hal yang ghaib dan berkata-kata atas nama Allah tanpa ilmu, suatu dosa yang Allah sejajarkan dengan kesyirikan. Allah berfirman, yang artinya, “Dan kalian menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan dalil tentangnya, dan kalian berkata-kata atas nama Allah tanpa ilmu.” (QS Al-A’raf: 33)
Dari Amr bin Dinar sesungguhnya Tamim Ad-Dari meminta ijin kepada Umar bin Khatthab untuk bercerita di hadapan banyak orang. Namun khalifah Umar tidak memberikan ijin untuknya. Setelah itu Tamim Ad-dari meminta ijin lagi, khalifah Umar tetap bersikukuh tidak memberikan ijin, akhirnya Tamim Ad-Dari meminta ijin untuk yang ketiga kalinya. Dengan tegas khalifah Umar mengatakan, “Jika engkau mau demikian?” Beliau berisyarat dengan tangannya yang bermakna terpenggalnya kepala.” (Majma’ Az-Zawaid 1/189-190. Riwayat ini dikomentari oleh Al-Haitsami para perawinya adalah para perawi yang dipakai dalam kitab shahih Bukhari atau shahih Muslim)

Mengomentari kisah di atas al-Hafidz al-Iraqi mengatakan, “Renungkanlah bagaimana Umar tidak memberi ijin membacakan cerita kepada salah seorang shahabat padahal seluruh shahabat adalah orang yang bisa dipercaya dan baik agamanya. Siapakah diantara tabi’in dan orang-orang sesudah mereka yang selevel dengan Tamim Ad-Dari?”

Syekh Jamal bin Furaihan berkomentar, “Siapakah yang semisal dengan Tamim Ad-Dari di jaman kita ini padahal shahabat Tamim Ad-Dari pasti hanya menceritakan kisah-kisah yang benar. Bagaimana seandainya para ulama dahulu mendengar kisah yang dituturkan oleh para tukang kisah di jaman ini. Semisal kisah seekor ular yang mengobrak-abrik gundukan tanah di pekuburan sehingga debu menutupi pandangan orang-orang yang ada ketika itu. Ular tersebut lantas turun bersama jenazah masuk ke dalam liang lahat. Atau cerita yang disampaikan oleh sebagian orang tentang jenazah yang bila diletakkan di liang lahat wajahnya tidak mau dihadapkan ke arah kiblat. Atau semisal orang yang mengatakan, “Pada saat aku memandikannya tiba-tiba wajahnya berubah menjadi hitam dan cerita-cerita semisalnya.”
Mereka mengkait-kaitkan berbagai kejadian di atas dengan maksiat yang dilakukan oleh orang-orang tersebut, menurut anggapan mereka, mereka hendak menakut-nakuti manusia agar menjauhi maksiat melalui cerita-cerita tersebut. Kapankah para tukang kisah ini mengetahui hal yang ghaib?!! Sehingga bisa menghubung-hubungkan bahwa kejadian itu karena maksiat ini.” (Lam Ad-Dur Al-Mansur Min Al-Qaul Al Ma’tsur Fi Al I’tiqad Wa As-Sunnah, karya Syekh Jamal bin Furaihan al-Haritsi hal 220-221)
Benarlah apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan, “Orang yang menyampaikan cerita / kisah itu hanya ada tiga jenis, penguasa, orang yang mendapatkan perintah dari penguasa atau orang yang sombong.” (HR Thabrani dalam Mu’jam Kabir 19/179 -180, Ibnu Adi 6/406 dan lain-lain) Oleh karena itu Abdullah bin Umar mengatakan, “Di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada yang namanya kisah tidak pula di masa Abu Bakar tidak pula di masa Umar dan Utsman. Kisah hanyalah sesuatu yang diada-adakan setelah kemunculan berbagai bentuk bid’ah” (HR Ibnu Majah no 3754 dan lain-lain)

Berdasarkan penjelasan di atas maka tidaklah benar jika kisah semacam ini merupakan sebuah intisari ajaran Islam.

Artikel http://www.ustadzaris.com

%d blogger menyukai ini: