• Blog Stats

    • 41,468,946 hits
  • pacaran adalah perbuatan haram, maka janganlah berpacaran. Dan jangan mau jika diajak pacaran. Akan tetapi tempuhlah jalan yang halal jika memang benar-benar cinta dan ingin menikah. Segeralah menikah dan jangan berpacaran. ================================== dan janganlah kamu mendekati zina. sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk. [QS Al Isra':32] ==================================== JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA ====================================== Asy-Sya’bi berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah)
  • Artikel Terbaru

  • wasiat untuk seluruh umat islam

    ====================================== “Janganlah kamu saling dengki, saling membenci, saling mengintip rahasia, saling bersaing, saling mencari keburukan, saling menawar lebih tinggi untuk menipu pembeli sehingga menawar tinggi, saling memutuskan hubungan, saling bermusuhan, janganlah sebagian kalian menjual atas jualan yang lain. Jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang diperintahkan Allah. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh menganiaya, tidak boleh menelantarkannya dan tidak boleh menghinanya. ============================================= Taqwa ada di sini, taqwa ada di sini, taqwa ada di sini kata Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam sambil menunjuk dadanya. ================================================= Cukuplah merupakan kejelekan seseorang apabila menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain adalah haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. Hati-hatilah bersangka buruk, karena sesungguhnya bersangka buruk adalah omongan yang paling dusta. ==================================================== Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk kamu dan hartamu, tetapi ia melihat hati dan perbuatanmu.” (riwayat Muslim dan Bukhari). ==========================================
  • BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR

    BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- -------------------------------------------------------------------------------------------- Orang yang mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi janda dan orang miskin ibarat berjihad di jalan Allah dan ibarat orang shalat malam (HR. Bukhari) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain. (HR. Ahmad) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersodaqoh dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana. (HR. Ath-Thabrani) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sodaqoh. (HR. Al-Baihaqi) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Tiap-tiap amalan makruf (kebajikan) adalah sodaqoh. Sesungguhnya di antara amalan makruf ialah berjumpa kawan dengan wajah ceria (senyum) dan mengurangi isi embermu untuk diisikan ke mangkuk kawanmu. (HR. Ahmad) ------------------------------------------------------------------------------------------------------------
  • berbuat baiklah pada semua binatang, termasuk kepada anjing

    Kita tidak diperbolehkan menyiksa binatang dengan cara apa pun, atau membuatnya kelaparan, memukulinya, membebaninya dengan sesuatu yang ia tidak mampu, menyiksa atau membakarnnya. --------------------------------------------------- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Seorang wanita masuk neraka karena seekor kucing yang ia kurung hingga mati. Maka dari itu ia masuk neraka gara-gara kucing tersebut disebabkan dia tidak memberinya makan dan tidak pula memberinya minum di saat mengurung nya, dan dia tidak membiarkannya (melepaskannya) supaya memakan serangga di bumi.” (HR. al-Bukhari) ------------------------------------------------------- Dan ketika beliau melewati sarang semut yang telah dibakar, beliau bersabda, “Sesungguhnya tidak ada yang berhak menyiksa dengan api selain Rabb (Tuhan) pemilik api.” (HR. Abu Dawud, hadits shahih) ---------------------------------------------- “Barangsiapa yang tidak berbelas kasih niscaya tidak akan dibelaskasihi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) ------------------------------------------------- “Kasihanilah siapa saja yang ada di bumi ini, niscaya kalian akan dikasihani oleh yang ada di langit.” (HR. at-Tirmidzi) -------------------------------------------------- Dibolehkan membunuh hewan-hewan yang membahayakan atau mengganggu seperti anjing buas, serigala, ular, kalajengking, tikus dan lain-lain karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Ada lima macam hewan fasik (buruk) yang boleh dibunuh di waktu halal (tidak ihram) dan di waktu ihram, yaitu ular, burung gagak yang putih punggung dan perutnya, tikus, anjing buas, dan rajawali.” (HR. Muslim). Juga terdapat hadits shahih yang membolehkan untuk membunuh kalajengking. ================================================
  • JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA

    ====================================== ‘Amr bin Syarahil Asy-Sya’bi rahimahullahu berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah, 2/636. Dihasankan oleh Al-Albani dalam At-Tahrim, hal. 148) ----------------------------------------------------------------------------- Ibnu Abdil Barr rahimahullahu berkata: “Termasuk hasil usaha yang disepakati keharamannya adalah riba, upah para pelacur, sogokan (suap), mengambil upah atas meratapi (mayit), nyanyian, perdukunan, mengaku mengetahui perkara gaib dan berita langit, hasil seruling dan segala permainan batil.” (Al-Kafi hal. 191) ---------------------------------------------------------------------- Ath-Thabari rahimahullahu berkata: “Telah sepakat para ulama di berbagai negeri tentang dibenci dan terlarangnya nyanyian.” (Tafsir Al-Qurthubi, 14/56) ------------------------------------------------------------------- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “Mazhab empat imam menyatakan bahwa alat-alat musik semuanya haram.” Lalu beliau menyebutkan hadits riwayat Al-Bukhari rahimahullahu . (Majmu’ Fatawa, 11/576) --------------------------------------------------------------- ------------------------------------------
  • wasiat bagi para pemuda

    ====================================== ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Barangsiapa di antara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya mereka adalah ummat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, dan paling lurus petunjuknya, serta paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya, karena mereka berada di jalan yang lurus.” [Dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Baar dalam kitabnya Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih II/947 no. 1810, tahqiq Abul Asybal Samir az-Zuhairy] ======================================
  • wasiat Imam al-Auza’i

    ====================================== Imam al-Auza’i rahimahullah (wafat th. 157 H) mengatakan: “Bersabarlah dirimu di atas Sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para Shahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan Salafush Shalih, karena akan mencukupi kamu apa saja yang mencukupi mereka.” [Syarh Ushul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah 1/174 no. 315] --------------------------------------------------------------- Beliau rahimahullah juga berkata: “Hendaklah kamu berpegang kepada atsar Salafush Shalih meskipun orang-orang menolaknya dan jauhkanlah diri kamu dari pendapat orang meskipun ia hiasi pendapatnya dengan perkataannya yang indah.” [Imam al-Aajury dalam as-Syari’ah I/445 no. 127, di-shahih-kan oleh al-Albany dalam Mukhtashar al-‘Uluw lil Imam adz-Dzahaby hal. 138, Siyar A’laam an-Nubalaa’ VII/120] =================================================
  • Mengutip perkataan Syaikh Bin Baz rahimahullaahu

    “Zaman ini adalah zaman kelembutan, kesabaran dan hikmah, bukanlah zaman kekerasan (kebengisan). Mayoritas manusia saat ini dalam keadaan jahil (bodoh), lalai dan lebih mementingkan duniawiyah. Maka haruslah sabar dan lemah lembut sampai dakwah ini tersampaikan dan sampai mereka mengetahuinya. Kami mohon petunjuk kepada Alloh untuk semuanya.” (Majmu’ Fatawa Samahatul Imam Ibnu Bazz (Juz VIII, hal 376) dan (Juz X, hal. 91) =================================================
  • jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara

    ====================================== Segala puji hanyalah milik Alloh yang telah mempertautkan hati kaum mukminin dan menganjurkan mereka supaya bersatu padu dan saling berhimpun serta memperingatkan dari perpecahan dan perselisihan. -------------------------------------------------------- Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq untuk disembah melainkan hanyalah Alloh semata yang tidak memiliki sekutu. Dialah yang mensyariatkan dan memudahkan, dan Dia terhadap kaum mukminin adalah sangat penyantun. ------------------------------------------------------ Saya juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang diperintahkan dengan kemudahan dan berita gembira. ----------------------------------------------------- Beliau bersabda : Permudahlah dan janganlah kamu persulit, berikanlah kabar gembira dan janganlah membuat orang lari (dari kebenaran). ------------------------------------------------------ Permisalan kaum mukminin satu dengan lainnya dalam hal kasih sayang, tolong menolong dan kecintaan, bagaikan tubuh yang satu, jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan merasa demam atau terjaga” --------------------------------------------------- Tidak ragu lagi, bahwa kewajiban Ahlus Sunnah di setiap zaman dan tempat adalah saling bersatu dan menyayangi di antara mereka serta saling bekerja sama di dalam kebajikan dan ketakwaan… ==================================================---------------
  • KHUTBATUL HAJAH

    ====================================== Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, dan meminta ampun kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami, dan dari keburukan-keburukan perbuatan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah saja, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. ================================================ “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” ================================================== “Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan darinya Allah menciptakan isterinya; dan dari keduanya Allah mengembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silatur rahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” ========================================================= “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mena’ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. ============================================================ Amma ba’du; Maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad , dan seburuk-buruk perkara dalam agama adalah yang di ada-adakan, setiap yang diada-adakan (dalam urusan agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan. (HR. Muslim, an-Nasa’i dan selain keduanya) ==================================================
  • mengutip perkataan Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad hafizhahullaahu:

    “Telah terjadi di zaman ini, sibuknya sebagian ahlus sunnah dengan sebagian lainnya dengan tajrih (saling mencela) dan tahdzir, dan implikasi dari hal ini menyebabkan terjadinya perpecahan, perselisihan dan saling mengisolir. Padahal sepantasnya bahkan seharusnya bagi mereka untuk saling mencintai dan berkasih sayang terhadap sesama mereka, dan menyatukan barisan mereka di dalam menghadapi ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu yang menyelisihi ahlus sunnah wal jama’ah. ---------------------------------------------------- “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- agar menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dari perkara-perkara yang tidak bermanfaat bagi mereka, sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “diantara kebaikan seorang muslim adalah meninggalkan hal-hal yang tidak berfaidah baginya.” Hadits hasan diriwayatkan oleh Turmudzi.” ------------------------------------------------------ “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- untuk bersikap pertengahan dan moderat, diantara sikap ghuluw (ekstrim) dan meremehkan, dan diantara sikap ifrath (berlebih-lebihan) dan tafrith (menggampangkan). Sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “Jauhilah oleh kalian sikap ghuluw di dalam agama, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa dikarenakan sikap ghuluw mereka di dalam agama.” Ini hadits shahih, dikeluarkan oleh an-Nasa’i dan selainnya.” ---------------------------------------------------- “Dan aku nasehatkan supaya mereka berhati-hati dari sikap zhalim, dikarenakan hadits Qudsi, “Wahai hamba-Ku, sesunguhnya Aku haramkan kezhaliman atas diri-Ku, maka aku jadikan pula haram atas diri kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi” diriwayatkan oleh Muslim, dan hadits Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “takutlah kalian dari kezhaliman, karena sesungguhnya kezhaliman itu adalah kegelapan di hari kiamat” diriwayatkan oleh Muslim. ------------------------------------------------------ Aku memohon kepada Allah Azza wa Jalla untuk menunjuki seluruh ummat kepada apa yang diridhai-Nya, agar mereka mendalami agama Islam (tafaqquh fid din) dan menetapi kebenaran, serta agar mereka menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dan menjauhkan dari apa-apa yang tidak bermanfaat. Sesungguhnya Ia berkuasa dan berkemampuan atasnya. Semoga Sholawat dan Salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya dan para sahabatnya. (selesai kutipan) ===========================================
  • mengutip perkataan Imam Albani rahimahullaahu

    “Wajib atas kita untuk berlemah lembut di dalam dakwah kita terhadap orang-orang yang menyelisihi kita, dan jadikan selalu firman Alloh Ta’ala berikut (sebagai pegangan) dan untuk selamanya : “Serulah mereka ke jalan Rabb-mu dengan hikmah dan nasehat yang baik, serta berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.” Dan mereka yang pertama lebih berhak untuk kita terapkan hikmah ini adalah mereka yang paling memusuhi kita di dalam dasar (mabda’) dan aqidah kita, hingga kita tidak menggabungkan antara beratnya dakwah yang haq yang Alloh memperteguh kita dengannya dengan beratnya cara (ushlub) kita berdakwah kepada Alloh Azza wa Jalla” ==================================================
  • Diriwayatkan bahwa Hasan Al-banna berkata: “Kami menginginkan terbentuknya sosok individu muslim, rumah tangga Islami, bangsa yang Islami, pemerintahan yang Islami, negara yang dipimpin oleh negara-negara Islam, menyatukan perpecahan kaum muslimin dan negara mereka yang terampas, kemudian membawa bendera jihad dan da’wah kepada Allah sehingga dunia mendapatkan ketentraman dengan ajaran-ajaran Islam.” ==================================================
  • warning

    dalam blog ini mungkin terdapat hadits dhoif, riwayat yang tidak valid, salah tulis, kutipan yg tidak sesuai syariat islam, dan berbagai kesalahan2 lain, dan belum sempat di sensor, jadi mohon maaf sebesar-besarnya

Melokalisasi Judi: Menghalalkan yang Haram

Melokalisasi Judi: Menghalalkan yang Haram

Oleh: Badrul Tamam

Judi sudah dikenal sejak zaman jahiliyah. Bahkan, orang-ornag Jahiliyah terbiasa melakukannya dan sudah menjadi tradisi mereka. Sebenarnya, masyarakat Jahiliyah memandang kebiasaan judi sebagai aktifitas yang bermasalah, karena dampak buruk yang ditimbulkannya. Karenanya mereka bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang hukumnya,

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِر

“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang khamar dan judi.” (QS. Al-Baqarah: 219)

Kemudian Allah memerintahkan kepada Nabi-Nya agar memberitahukan bahwa dalam khamar dan judi terdapat banyak manfaat dan bahayanya. Namun, dosa dan bahayanya jauh lebih besar.

Memang judi bagi sebagian orang bisa menjadi ladang mendapat harta dan menjadi pemuas jiwa. Namun kerusakan yang ditimbulkannya jauh lebih besar seperti menghambur-hamburkan harta, menghalangi dari dzikir kepada Allah dan shalat, juga menjadi penyebab permusuhan, perkelahian, dan saling membenci. Nafsu berjudi bisa menjadikan seseorang berani menipu, mencuri, korupsi, merampok, dan membunuh orang lain untuk mendapatkan uang guna bermain judi.

Akibat buruknya tidak hanya menimpa pelakunya, berjudi bisa menyebabkan keluarga sengsara karena sering jatah nafkah anak dan istri habis dipertaruhkan di meja judi. Itu sebabnya, banyak pakar mengatagorikan judi sebagai patologi sosial, dan bagi pelakunya dikatagorikan sebagai individu dengan perilaku menyimpang. Karena memiliki mafsadat yang besar, maka Islam mengharamkannya. Dan pastinya, setiap akal sehat akan sepakat untuk lebih mengedepankan sesuatu yang memiliki banyak manfaat dan maslahat serta menjauhi segala hal yang memiliki bahaya yang besar.

Hukum Judi

Judi diharamkan dalam Al-Qur’an dengan lafadz yang sangat sharih (jelas) karena memiliki bahaya dan madharat yang besar serta menjadi jalan Syetan untuk menjauhkan orang dari dzikrullah dan menciptakan permusuhan. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. Al-Maidah: 90-91)

Imam al-Dzahabi dalam al-Kabair menambahkan dalil haramnya berjudi dengan mengategorikannya sebagai memakan harta orang lain dengan cara batil,

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil.” (QS. Al-Baqarah: 188)

Juga dalam keumuman hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang bersabda: “Sesunguhnya orang-orang yang menguasai harta Allah dengan jalan yang tidak benar, maka pada hari kiamat bagian mereka adalah api neraka.” (HR. Bukhari dari Khaulah al-Anshariyyah)

Dan dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengharuskan siapa yang mengajak taruhan agar ia bersedah sebagai kafarahnya,

وَمَنْ قَالَ لِصَاحِبِهِ تَعَالَ أُقَامِرك فَلْيَتَصَدَّقْ

“Dan Siapa yang berkata kepada kawannya, ‘mati, kita bertaruh.’ Hendaknya ia bersedekah.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah) Menurut Imam al-Khathabi, ia bersedekah dengan harta yang ingin dia jadikan taruhan tadi. Namun ada sebagian pendapat lain dengan shadawh untuk menghapuskan dosa perkataannya tadi. Pendapat kedua inilah yang disepakati Imam Muslim.

Hanya berucap untuk melakukan taruhan yang menjadi bagian utama dan ciri utama perjudian diwajibkan untuk membayar kafarah atau shadakah, bagaimana dengan orang yang telah berbuat tadi? Tentu kesalahan dan dosa yang diperbuatnya lebih besar. Karenanya, Imam al-Dzahabi memasukkan berjudi sebagai salah satu dosa besar, dan menempatkannya pada urutan kedua puluh. (Al-Kabair, Imam alDzahabi dalam Maktabah Syamilah)

Apa itu Judi?

Menurut Syaikh Abdurrahman bin Nashir Al-Sa’di dalam tafsrinya, Judi adalah setiap kompetisi yang memiliki taruhan dari kedua belah pihak, baik dengan main kartu atau catur. Maka setiap kompetisi dalam bentuk ucapan atau perbuatan dengan mengadakan taruhan masuk di dalamnya, kecuali perlombaan balap kuda, balap unta, dan memanah. Ketiganya dibolehkan karena berfungsi untuk menopang jihad, karenanya diberi keringanan oleh syariat.

Bentuk judi yang paling terkenal di masyarakat jahiliyah adalah sepuluh orang berserikat membeli seekor unta dengan saham yang sama. Kemudian dilakukan undian. Dari situ, tujuh orang dari mereka mendapat bagian yang berbeda-beda menurut tradisi mereka, dan tiga orang lainnya tidak mendapatkan apa-apa alias kalah. (sebagaimana yang disebutkan Imam Malik dalam al-Muwatha’ dari Dawud bin Husain yang mendengar langsung keterangan ini dari Sa’id bin Musayyib)

Sedangkan bentuk perjudian di abad modern ini jauh lebih beragam, namun intinya satu, di sana ada sesuatu yang menjadi turahannya. Di antara bentuknya adalah:

1. Apa yang dikenal dengan yanasib (undian) dalam berbagai bentuk. Yang paling sederhana di antaranya adalah dengan membeli nomor-nomor yang telah disediakan, kemudian nomor-nomor itu diundi. Pemenang pertama mendapat hadiah yang amat menggiurkan. Lalu, pemenang kedua, ketiga dan demikian seterusnya dengan jumlah hadiah yang berbeda-beda. Ini semua adalah haram, meski mereka berdalih untuk kepentingan sosial.

2. Membeli suatu barang yang di dalamnya terdapat sesuatu yang dirahasiakan atau memberinya kupon ketika membeli barang, lalu kupon-kupon itu diundi untuk menentukan pemenangnya.

3. Termasuk bentuk perjudian di zaman kita saat ini adalah asuransi jiwa, kendaraan, barang-barang, kebakaran atau asuransi secara umum, asuransi kerusakan, dan bentuk-bentuk asuransi lainnya. Bahkan sebagian artis penyanyi mengasuransikan suara mereka. Ini semua hukumnya haram. (Tentang hukum asuransi dan solusinya menurut Islam. Lihat majalah Al Buhuts Al-Islamiyah; edisi 17, 19, 20.Terbitan Ar Ri’asatul Ammah Li Idarotil Buhutsil Ilmiyah.)

Demikianlah, dan semua bentuk taruhan masuk ke dalam kategori judi. Pada saat ini bahkan telah ada klub khusus judi (kasino) yang di dalamnya ada alat judi khusus yang disebut rolet khusus untuk permainan dosa besar tersebut.

Juga termasuk judi, taruhan yang diadakan saat berlangsung pertandingan sepak bola, tinju atau semacamnya. Demikian pula dengan bentuk-bentuk permainan yang ada di beberapa toko mainan dan pusat hiburan, sebagian besar mengandung unsur judi, seperti apa yang mereka namakan lippers.

Adapun berbagai pertandingan yang kita kenal sekarang, maka ada tiga macam:

1. Untuk maksud syiar Islam, maka hal ini di bolehkan, baik dengan menggunakan hadiah atau tidak. Seperti pertandingan pacuan kuda dan memanah. Termasuk dalam kategori ini -menurut pendapat yang kuat– berbagai macam perlombaan dalam ilmu agama, seperti menghafal Al-Qur’an.

2. Perlombaan dalam sesuatu yang hukumnya mubah, seperti pertandingan sepak bola dan lomba lari, dengan cacatan, tidak melanggar hal-hal yang diharamkan seperti meninggalkan shalat, membuka aurat dan sebagainya. Semua hal ini hukumnya ja’iz (boleh) dengan syarat tanpa menggunakan hadiah.

3. Perlombaan dalam sesuatu yang diharamkan atau sarana kepada perbuatan yang diharamkan, seperti lomba ratu kecantikan atau tinju. Juga masuk ke dalam kategori ini menyelenggarakan sabung ayam, adu kambing atau yang semacamnya. (Lihat: Muharramat Istahana Bihan Naas, karya Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Munajjid)

Melokalisasi Judi

Melegalkan judi dengan membuat lokalisasi tempat perjudian berarti mengizinkan dan mengabsahkan perbuatan judi sehingga tidak boleh diingkari dan dihentikan. Hal ini bermakna mempersilahkan orang yang ingin berjudi untuk datang ke tempat tersebut karena di sana judi diperbolehkan dan dilegalkan. Berarti, judi yang diharamkan dalam Islam dihalalkan oleh sebagian pihak dalam bentuk peraturan atau undang-undang. Sedangkan siapa yang berani menghalalkan apa yang diharamkan Allah, maka dia memposisikan dirinya sebagai tuhan. Dosa orang tersebut lebih berat daripada orang yang mentaati hukumnya.

Para ulama telah menerangkan bahwa menghalalkan apa yang Allah haramkan atau sebaliknya termasuk kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Dosa ini jauh lebih berat daripada dosa orang yang melakukan keharaman.

Allah Ta’ala telah mengingkari orang yang menghalalkan dan mengharamkan sesuatu dalam masalah agama yang berasal dari dirinya sendiri tanpa ada argumentasi dari Allah. Dia berfirman,

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلَالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah.” (QS. Al-Nahl: 116)

Allah mencela Yahudi dan Nashrani atas perilaku mereka yang mempertuhankan para tokoh agama mereka, bukan dengan bersujud kepada mereka tapi dengan mentaati keputusan mereka yang bertentangan dengan hukum Allah.

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah.” (QS. Al Taubah: 31)

Kalau orang-orang yang mentaati mereka dalam ketetapan yang bertentangan dengan hukum Allah disebut telah menuhankan mereka, maka orang yang membuat hukum tersebut memposisikan dirinya sebagai tuhan. Dan ini jauh lebih kurang ajar dan lebih besar dosanya karena mengambil apa yang hanya menjadi haknya Allah semata.

Ibnu Hazm rahimahullah berkata, “Siapa yang berhukum dengan ketetapan Injil yang tidak disebutkan oleh Nash (Al-Qur’an), padahal dia hidup di bawah syariat Islam, maka dia telah kafir, musyrik, keluar dari Islam.” (Al Ihkaam fii Ushuul al Ahkaam: 5/153)

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Sesuatu yang sudah maklum dalam prinsip agama Islam dan kesepakatan seluruh kaum muslimin, bahwa orang yang memperbolehkan (membenarkan) untuk mengikuti selain agama Islam atau mengikuti selain syariat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka dia telah kafir.” (Majmu’ Fatawa: 28/524)

Beliau berkata lagi, “Dan kapan saja seseorang berani menghalalkan keharaman yang telah disepakati atau mengharamkan masalah halal yang sudah disepakati atau merubah syari’at yang sudah disepakati, maka dia telah kafir berdasarkan kesepakatan fuqaha’.” (Majmu’ Fatawa: 3/267)

“Dan kapan saja seseorang berani menghalalkan keharaman yang telah disepakati atau mengharamkan masalah halal yang sudah disepakati atau merubah syari’at yang sudah disepakati, maka dia telah kafir berdasarkan kesepakatan fuqaha’.” (Majmu’ Fatawa: 3/267)

Syaikh Abdul Lathif bin Abdul Rahman Aalu Syaikh rahimahullah berkata, “Siapa yang berhukum kepada selain kitabullah dan sunnah Rasulillah shallallahu ‘alaihi wasallam, setelah diberi tahu, maka dia telah kafir. Allah Ta’ala berfirman (artinya); “Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.”; “Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendak . .” (al Durar al Sunniyyah: 8/241)

Abdullah bin Humaid rahimahullah berkata, “Siapa yang menerbitkan syari’at (undang-undang) umum yang harus ditaati manusia yang bertentangan dengan hukum Allah, maka dia telah keluar dari agama (Islam) menjadi kafir.” (Ahammiyah al Jihaad : 196)

Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aalu Syaikh rahimahullah berkata, “Di antara bentuk syirik akbar (besar) yang tercela adalah menetapkan undang-undang yang dipadankan dengan apa yang dibawa turun oleh Ruhul Amin kepada hati Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam supaya menjadi pemberi peringatan dengan lisan Arab yang jelas, untuk menghukumi seluruh manusia dengannya, dan kembali kepadanya jika terjadi pertentangan; berarti telah menentang dan menyelisihi firman Allah ‘Azza wa Jalla, “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Qs. Al Nisa’: 59)

“Siapa yang menerbitkan syari’at (undang-undang) umum yang harus ditaati manusia yang bertentangan dengan hukum Allah, maka dia telah keluar dari agama (Islam) menjadi kafir.” (Ahammiyah al Jihaad : 196)

Maka, dalam masalah judi, seseorang yang bermain judi dengan meyakini bahwa judi itu haram maka dia melakukan dosa besar yang tidak sampai mengeluarkannya dari Islam. Namun, siapa yang melegalkan perjudian dan menghalalkannya maka orang tersebut telah keluar dari Islam, statusnya bukan lagi sebagai muslim dan mukmin.

Maka upaya segelintir orang yang menginginkan aktivitas perjudian dapat dilegalkan di Indonesia dengan cara dilokalisasi bukan persoalan kecil dalam timbangan Islam. Itu persoalan besar dan berbahaya yang bisa membatalkan syahadat pelakunya. Apalagi tujuannya agar bisa menjadi salah satu sumber pendapatan negara dan untuk menarik berbagai wisatawan asing sehingga bisa menjadi salah satu bentuk devisa. (Seperti yang diucapkan Fathat Abbas dalam sidang perdana UU Penertiban Perjudian di Gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, Rabu 21/4/10).

Upaya segelintir orang yang menginginkan aktivitas perjudian dapat dilegalkan di Indonesia dengan cara dilokalisasi bukan persoalan kecil dalam timbangan Islam. Itu persoalan besar dan berbahaya yang bisa membatalkan syahadat pelakunya.

Sekaligus juga pernyataan seorang tokoh organisasi terbesar di negeri ini yang mendukung diadakannya lokalisasi perjudian dengan menyatakan dosa bagi pelaku judi di dalam negeri dosanya satu sedangkan yang berjudi di luar negeri adalah dua adalah pernyataan yang salah besar. Karenanya tepat sekali keputusan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang tetap tidak setuju kalau judi dilokalisasi walau di pulau terpencil. Apapun alasannya, MUI menegaskan bahwa judi diharamkan. Wallahu a’lam

(PurWD/voa-islam.com)

%d blogger menyukai ini: