• Blog Stats

    • 41,461,631 hits
  • pacaran adalah perbuatan haram, maka janganlah berpacaran. Dan jangan mau jika diajak pacaran. Akan tetapi tempuhlah jalan yang halal jika memang benar-benar cinta dan ingin menikah. Segeralah menikah dan jangan berpacaran. ================================== dan janganlah kamu mendekati zina. sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk. [QS Al Isra':32] ==================================== JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA ====================================== Asy-Sya’bi berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah)
  • Artikel Terbaru

  • wasiat untuk seluruh umat islam

    ====================================== “Janganlah kamu saling dengki, saling membenci, saling mengintip rahasia, saling bersaing, saling mencari keburukan, saling menawar lebih tinggi untuk menipu pembeli sehingga menawar tinggi, saling memutuskan hubungan, saling bermusuhan, janganlah sebagian kalian menjual atas jualan yang lain. Jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang diperintahkan Allah. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh menganiaya, tidak boleh menelantarkannya dan tidak boleh menghinanya. ============================================= Taqwa ada di sini, taqwa ada di sini, taqwa ada di sini kata Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam sambil menunjuk dadanya. ================================================= Cukuplah merupakan kejelekan seseorang apabila menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain adalah haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. Hati-hatilah bersangka buruk, karena sesungguhnya bersangka buruk adalah omongan yang paling dusta. ==================================================== Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk kamu dan hartamu, tetapi ia melihat hati dan perbuatanmu.” (riwayat Muslim dan Bukhari). ==========================================
  • BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR

    BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- -------------------------------------------------------------------------------------------- Orang yang mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi janda dan orang miskin ibarat berjihad di jalan Allah dan ibarat orang shalat malam (HR. Bukhari) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain. (HR. Ahmad) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersodaqoh dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana. (HR. Ath-Thabrani) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sodaqoh. (HR. Al-Baihaqi) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Tiap-tiap amalan makruf (kebajikan) adalah sodaqoh. Sesungguhnya di antara amalan makruf ialah berjumpa kawan dengan wajah ceria (senyum) dan mengurangi isi embermu untuk diisikan ke mangkuk kawanmu. (HR. Ahmad) ------------------------------------------------------------------------------------------------------------
  • berbuat baiklah pada semua binatang, termasuk kepada anjing

    Kita tidak diperbolehkan menyiksa binatang dengan cara apa pun, atau membuatnya kelaparan, memukulinya, membebaninya dengan sesuatu yang ia tidak mampu, menyiksa atau membakarnnya. --------------------------------------------------- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Seorang wanita masuk neraka karena seekor kucing yang ia kurung hingga mati. Maka dari itu ia masuk neraka gara-gara kucing tersebut disebabkan dia tidak memberinya makan dan tidak pula memberinya minum di saat mengurung nya, dan dia tidak membiarkannya (melepaskannya) supaya memakan serangga di bumi.” (HR. al-Bukhari) ------------------------------------------------------- Dan ketika beliau melewati sarang semut yang telah dibakar, beliau bersabda, “Sesungguhnya tidak ada yang berhak menyiksa dengan api selain Rabb (Tuhan) pemilik api.” (HR. Abu Dawud, hadits shahih) ---------------------------------------------- “Barangsiapa yang tidak berbelas kasih niscaya tidak akan dibelaskasihi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) ------------------------------------------------- “Kasihanilah siapa saja yang ada di bumi ini, niscaya kalian akan dikasihani oleh yang ada di langit.” (HR. at-Tirmidzi) -------------------------------------------------- Dibolehkan membunuh hewan-hewan yang membahayakan atau mengganggu seperti anjing buas, serigala, ular, kalajengking, tikus dan lain-lain karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Ada lima macam hewan fasik (buruk) yang boleh dibunuh di waktu halal (tidak ihram) dan di waktu ihram, yaitu ular, burung gagak yang putih punggung dan perutnya, tikus, anjing buas, dan rajawali.” (HR. Muslim). Juga terdapat hadits shahih yang membolehkan untuk membunuh kalajengking. ================================================
  • JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA

    ====================================== ‘Amr bin Syarahil Asy-Sya’bi rahimahullahu berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah, 2/636. Dihasankan oleh Al-Albani dalam At-Tahrim, hal. 148) ----------------------------------------------------------------------------- Ibnu Abdil Barr rahimahullahu berkata: “Termasuk hasil usaha yang disepakati keharamannya adalah riba, upah para pelacur, sogokan (suap), mengambil upah atas meratapi (mayit), nyanyian, perdukunan, mengaku mengetahui perkara gaib dan berita langit, hasil seruling dan segala permainan batil.” (Al-Kafi hal. 191) ---------------------------------------------------------------------- Ath-Thabari rahimahullahu berkata: “Telah sepakat para ulama di berbagai negeri tentang dibenci dan terlarangnya nyanyian.” (Tafsir Al-Qurthubi, 14/56) ------------------------------------------------------------------- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “Mazhab empat imam menyatakan bahwa alat-alat musik semuanya haram.” Lalu beliau menyebutkan hadits riwayat Al-Bukhari rahimahullahu . (Majmu’ Fatawa, 11/576) --------------------------------------------------------------- ------------------------------------------
  • wasiat bagi para pemuda

    ====================================== ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Barangsiapa di antara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya mereka adalah ummat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, dan paling lurus petunjuknya, serta paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya, karena mereka berada di jalan yang lurus.” [Dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Baar dalam kitabnya Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih II/947 no. 1810, tahqiq Abul Asybal Samir az-Zuhairy] ======================================
  • wasiat Imam al-Auza’i

    ====================================== Imam al-Auza’i rahimahullah (wafat th. 157 H) mengatakan: “Bersabarlah dirimu di atas Sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para Shahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan Salafush Shalih, karena akan mencukupi kamu apa saja yang mencukupi mereka.” [Syarh Ushul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah 1/174 no. 315] --------------------------------------------------------------- Beliau rahimahullah juga berkata: “Hendaklah kamu berpegang kepada atsar Salafush Shalih meskipun orang-orang menolaknya dan jauhkanlah diri kamu dari pendapat orang meskipun ia hiasi pendapatnya dengan perkataannya yang indah.” [Imam al-Aajury dalam as-Syari’ah I/445 no. 127, di-shahih-kan oleh al-Albany dalam Mukhtashar al-‘Uluw lil Imam adz-Dzahaby hal. 138, Siyar A’laam an-Nubalaa’ VII/120] =================================================
  • Mengutip perkataan Syaikh Bin Baz rahimahullaahu

    “Zaman ini adalah zaman kelembutan, kesabaran dan hikmah, bukanlah zaman kekerasan (kebengisan). Mayoritas manusia saat ini dalam keadaan jahil (bodoh), lalai dan lebih mementingkan duniawiyah. Maka haruslah sabar dan lemah lembut sampai dakwah ini tersampaikan dan sampai mereka mengetahuinya. Kami mohon petunjuk kepada Alloh untuk semuanya.” (Majmu’ Fatawa Samahatul Imam Ibnu Bazz (Juz VIII, hal 376) dan (Juz X, hal. 91) =================================================
  • jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara

    ====================================== Segala puji hanyalah milik Alloh yang telah mempertautkan hati kaum mukminin dan menganjurkan mereka supaya bersatu padu dan saling berhimpun serta memperingatkan dari perpecahan dan perselisihan. -------------------------------------------------------- Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq untuk disembah melainkan hanyalah Alloh semata yang tidak memiliki sekutu. Dialah yang mensyariatkan dan memudahkan, dan Dia terhadap kaum mukminin adalah sangat penyantun. ------------------------------------------------------ Saya juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang diperintahkan dengan kemudahan dan berita gembira. ----------------------------------------------------- Beliau bersabda : Permudahlah dan janganlah kamu persulit, berikanlah kabar gembira dan janganlah membuat orang lari (dari kebenaran). ------------------------------------------------------ Permisalan kaum mukminin satu dengan lainnya dalam hal kasih sayang, tolong menolong dan kecintaan, bagaikan tubuh yang satu, jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan merasa demam atau terjaga” --------------------------------------------------- Tidak ragu lagi, bahwa kewajiban Ahlus Sunnah di setiap zaman dan tempat adalah saling bersatu dan menyayangi di antara mereka serta saling bekerja sama di dalam kebajikan dan ketakwaan… ==================================================---------------
  • KHUTBATUL HAJAH

    ====================================== Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, dan meminta ampun kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami, dan dari keburukan-keburukan perbuatan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah saja, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. ================================================ “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” ================================================== “Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan darinya Allah menciptakan isterinya; dan dari keduanya Allah mengembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silatur rahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” ========================================================= “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mena’ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. ============================================================ Amma ba’du; Maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad , dan seburuk-buruk perkara dalam agama adalah yang di ada-adakan, setiap yang diada-adakan (dalam urusan agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan. (HR. Muslim, an-Nasa’i dan selain keduanya) ==================================================
  • mengutip perkataan Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad hafizhahullaahu:

    “Telah terjadi di zaman ini, sibuknya sebagian ahlus sunnah dengan sebagian lainnya dengan tajrih (saling mencela) dan tahdzir, dan implikasi dari hal ini menyebabkan terjadinya perpecahan, perselisihan dan saling mengisolir. Padahal sepantasnya bahkan seharusnya bagi mereka untuk saling mencintai dan berkasih sayang terhadap sesama mereka, dan menyatukan barisan mereka di dalam menghadapi ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu yang menyelisihi ahlus sunnah wal jama’ah. ---------------------------------------------------- “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- agar menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dari perkara-perkara yang tidak bermanfaat bagi mereka, sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “diantara kebaikan seorang muslim adalah meninggalkan hal-hal yang tidak berfaidah baginya.” Hadits hasan diriwayatkan oleh Turmudzi.” ------------------------------------------------------ “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- untuk bersikap pertengahan dan moderat, diantara sikap ghuluw (ekstrim) dan meremehkan, dan diantara sikap ifrath (berlebih-lebihan) dan tafrith (menggampangkan). Sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “Jauhilah oleh kalian sikap ghuluw di dalam agama, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa dikarenakan sikap ghuluw mereka di dalam agama.” Ini hadits shahih, dikeluarkan oleh an-Nasa’i dan selainnya.” ---------------------------------------------------- “Dan aku nasehatkan supaya mereka berhati-hati dari sikap zhalim, dikarenakan hadits Qudsi, “Wahai hamba-Ku, sesunguhnya Aku haramkan kezhaliman atas diri-Ku, maka aku jadikan pula haram atas diri kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi” diriwayatkan oleh Muslim, dan hadits Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “takutlah kalian dari kezhaliman, karena sesungguhnya kezhaliman itu adalah kegelapan di hari kiamat” diriwayatkan oleh Muslim. ------------------------------------------------------ Aku memohon kepada Allah Azza wa Jalla untuk menunjuki seluruh ummat kepada apa yang diridhai-Nya, agar mereka mendalami agama Islam (tafaqquh fid din) dan menetapi kebenaran, serta agar mereka menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dan menjauhkan dari apa-apa yang tidak bermanfaat. Sesungguhnya Ia berkuasa dan berkemampuan atasnya. Semoga Sholawat dan Salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya dan para sahabatnya. (selesai kutipan) ===========================================
  • mengutip perkataan Imam Albani rahimahullaahu

    “Wajib atas kita untuk berlemah lembut di dalam dakwah kita terhadap orang-orang yang menyelisihi kita, dan jadikan selalu firman Alloh Ta’ala berikut (sebagai pegangan) dan untuk selamanya : “Serulah mereka ke jalan Rabb-mu dengan hikmah dan nasehat yang baik, serta berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.” Dan mereka yang pertama lebih berhak untuk kita terapkan hikmah ini adalah mereka yang paling memusuhi kita di dalam dasar (mabda’) dan aqidah kita, hingga kita tidak menggabungkan antara beratnya dakwah yang haq yang Alloh memperteguh kita dengannya dengan beratnya cara (ushlub) kita berdakwah kepada Alloh Azza wa Jalla” ==================================================
  • Diriwayatkan bahwa Hasan Al-banna berkata: “Kami menginginkan terbentuknya sosok individu muslim, rumah tangga Islami, bangsa yang Islami, pemerintahan yang Islami, negara yang dipimpin oleh negara-negara Islam, menyatukan perpecahan kaum muslimin dan negara mereka yang terampas, kemudian membawa bendera jihad dan da’wah kepada Allah sehingga dunia mendapatkan ketentraman dengan ajaran-ajaran Islam.” ==================================================
  • warning

    dalam blog ini mungkin terdapat hadits dhoif, riwayat yang tidak valid, salah tulis, kutipan yg tidak sesuai syariat islam, dan berbagai kesalahan2 lain, dan belum sempat di sensor, jadi mohon maaf sebesar-besarnya

Kilauan Mutiara Hikmah Dari Nasihat Salaful Ummah – Larangan Bergaul Dengan Ahli Bid’ah

Kilauan Mutiara Hikmah Dari Nasihat Salaful Ummah

Abu Fadhl Al Hamadzani berkata : “Ahli bid’ah serta orang-orang yang memalsukan hadits lebih berbahaya daripada orang-orang kafir yang secara terang-terangan menentang Islam. Orang-orang kafir bermaksud menghancurkan Islam dari luar sedangkan ahli bid’ah bermaksud menghancurkan Islam dari dalam. Mereka seperti penduduk suatu kampung yang ingin menghancurkan keadaan kampung tersebut sedangkan kaum kuffar bagaikan musuh yang sedang menunggu di luar benteng sampai pintu benteng tersebut dibuka oleh ahli bid’ah. Sehingga ahli bid’ah lebih jelek akibatnya terhadap Islam dibanding orang yang menentang secara terang-terangan.” (Al Maudlu’at Ibnul Jauzi lihat kitab Naqdur Rijal halaman 128)

2. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya As Siyasah Asy Syar’iyyah halaman 123 mengatakan : “Sekelompok dari kalangan pengikut Imam Syafi’i, Ahmad, dan selainnya memperbolehkan membunuh orang yang berdakwah pada kebid’ahan yang menyelisihi Al Qur’an. Demikian pula pengikut Imam Malik, mereka mengatakan bahwa Imam Malik membolehkan membunuh Qadariyah bukan karena mereka murtad (keluar dari Islam) tetapi karena mereka menyebarkan kerusakan di muka bumi.” (Naqdur Rijal halaman 127)

3. Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma berkata tentang tafsir ayat :

“Hari yang pada waktu itu putih wajah-wajah.”

Yaitu Ahli Sunnah Wal Jamaah dan ayat :

“Dan hitam wajah-wajah.”

Yaitu ahli furqah dan ahli bid’ah. Kita katakan kepada ahli bid’ah:

“Apakah kalian berani kembali pada kekafiran setelah kalian beriman?”

[ Lihat kitab Ma Ana ‘Alaihi wa Ashhabi oleh Syaikh Ahmad Salam halaman 187 dan Tafsir Ibnu Katsir tafsir surat Ali Imran ayat 106 ]

4. Allah berfirman :

“Dan apabila kamu melihat orang-orang yang memperolok-olok ayat Kami maka tinggalkanlah mereka sampai mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaithan menjadikan kamu lupa maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang dhalim itu sesudah teringat.” (Al An’am : 68)

Ketika menafsirkan ayat ini, Imam Thabari menyebutkan dari Abu Ja’far Muhammad bin Ali radliyallahu ‘anhu bahwasanya ia berkata :

“Janganlah kalian duduk dengan orang yang suka berdebat karena mereka itulah orang yang memperolok-olok ayat-ayat Allah.”

5. Fudhail bin ‘Iyadl berkata : “Barangsiapa mencintai ahli bid’ah niscaya Allah akan menggugurkan amalnya dan mengeluarkan cahaya Islam dari hatinya. Barangsiapa menikahkan anak perempuannya dengan ahli bid’ah maka dia telah memutuskan silaturahminya. Barangsiapa duduk dengan ahli bid’ah maka dia tidak akan diberi hikmah. Dan kalau Allah telah mengetahui bahwa seseorang telah memiliki rasa benci kepada ahli bid’ah maka saya berharap semoga Allah mengampuni dosa-dosanya.”

6. Sebagian ahli bid’ah berkata kepada Abi ‘Imran An Nakha’i : “Dengarlah dariku satu kata!” Lalu Abu ‘Imran berpaling darinya seraya berkata : “Saya tidak mau mendengar sekalipun setengah kata.” (Lihat Al Jami’ li Ahkamil Qur’an oleh Imam Al Qurthubi jilid 7 halaman 11)

7. Yahya bin Abi Katsir berkata : “Jika engkau bertemu dengan ahli bid’ah di satu jalan maka carilah jalan lain.” (Asy Syari’ah Al Ajurri. Lihat pula kitab Ilmu Ushulil Bida’ oleh Syaikh Ali Hasan halaman 298)

8. Pernah suatu ketika ada seorang laki-laki yang dilaporkan kepada Al Auza’i bahwa dia berkata : “Saya duduk bersama Ahli Sunnah dan suatu ketika juga saya duduk dengan ahli bid’ah.” Maka Al Auza’i berkata : “Orang ini ingin menyamakan antara yang haq dengan yang bathil.” (Ilmu Ushulil Bida’ oleh Syaikh Ali Hasan halaman 300)

9. Sebagian ahli bid’ah datang kepada Ibnu Taimiyah dengan niat ingin memperindah dan menghiasi bid’ah mereka di hadapan beliau. Mereka berkata : “Ya Syaikh, betapa banyak orang yang bertaubat karena dakwah kami!” Ibnu Taimiyah berkata : “Mereka taubat dari perbuatan apa?” Kata mereka : “Mereka taubat dari mencuri, merampok, dan lain-lainnya.” Lalu Ibnu Taimiyah menjawab : “Keadaan mereka sebelum bertaubat (karena dakwah kalian, ed.) lebih baik daripada keadaan mereka sekarang, karena sesungguhnya mereka dahulu dalam keadaan fasiq dan meyakini keharaman apa yang mereka kerjakan sehingga mereka selalu mengharap rahmat dari Allah dan mereka ingin bertaubat. Adapun sekarang mereka menjadi sesat dan musyrik akibat dakwah kalian bahkan mereka keluar dari Islam dan mencintai apa yang dibenci Allah dan membenci apa yang disukai Allah … .” Kemudian Ibnu Taimiyah menjelaskan kepada mereka bahwa bid’ah yang mereka kerjakan lebih jelek daripada kemaksiatan lainnya. (Lihat pula kitab Ilmu Ushulil Bida’ halaman 220)

Demikianlah beberapa pendapat ulama Ahli Sunnah tentang hukum bershahabat dengan ahli bid’ah. Dari sini jelaslah bagi kita tentang kebathilan manhaj yang diistilahkan dengan manhaj al inshaf (sururiyah) terhadap ahli bid’ah karena kita lihat begitu keras sikap para ulama Ahli Sunnah terhadap ahli bid’ah. Demikian pula sikap mereka terhadap kitab-kitab ahli bid’ah sampai-sampai ada yang mengatakan bahwa ahli bid’ah itu lebih berbahaya daripada orang-orang kafir yang jelas-jelas menentang Islam. Maka marilah kita menyelamatkan diri kita dari ‘kalajengking-kalajengking’ yang menyembunyikan kepala dan tangan mereka di dalam tanah dan mengeluarkan ekornya, kapan saja mereka mempunyai kesempatan maka mereka langsung menyengat[1] sedangkan kita tidak menyadarinya. Demikianlah perumpamaan ahli bid’ah yang sangat halus caranya untuk menipu umat kepada kebid’ahannya. Tidak ada jalan bagi kita untuk menelaah buku-buku mereka sekarang karena masih tipis ilmu yang kita miliki dan begitu halus politik dan tipu daya mereka.

=======================================================

BAB 1

Berpegang Dengan Al Quran Dan As Sunnah, Mengikuti Atsar Salafus Shalih, Dan Menjauhi Bid’ah

———————

1. Allah Ta’ala berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim. Dan berpeganglah kamu semua dengan tali Allah dan jangan berpecah-belah. Dan ingatlah nikmat Allah terhadapmu ketika kamu saling bermusuhan maka Dia satukan hati kamu lalu kamu menjadi bersaudara dengan nikmat-Nya dan ingatlah ketika kamu berada di bibir jurang neraka lalu Dia. selamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menjelaskan kepada kamu ayat-ayat-Nya agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran : 102-103)

2. Allah Ta’ala berfirman :

“Dan sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah dia dan jangan kamu ikuti jalan-jalan (lainnya) sebab jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Allah berwasiat kepada kamu mudah-mudahan kamu bertaqwa.” (QS. Al An’am : 153)

3. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Berpeganglah dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang terbimbing, gigitlah dengan gerahammu dan hati-hatilah kamu terhadap perkara yang baru karena sesungguhnya setiap bid’ah itu adalah sesat.” (HR. Ahmad 4/126 , At Tirmidzy 2676, Al Hakim 1/96, Al Baghawy 1/205 nomor 102)

4. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

Sesungguhnya Allah meridlai tiga perkara untuk kamu –di antaranya beliau bersabda– : “ … dan hendaknya kamu semua berpegang dengan tali Allah.” (Hadits dikeluarkan oleh Al Baghawy 1/202 nomor 101)

5. Hudzaifah bin Al Yaman radliyallahu ‘anhu berkata :

“Hai para Qari’ (pembaca Al Quran) bertaqwalah kepada Allah dan telusurilah jalan orang-orang sebelum kamu sebab demi Allah seandainya kamu melampaui mereka sungguh kamu melampaui sangat jauh dan jika kamu menyimpang ke kanan dan ke kiri maka sungguh kamu telah tersesat sejauh-jauhnya.” (Al Lalikai 1/90 nomor 119, Ibnu Wudldlah dalam Al Bida’ wan Nahyu ‘anha 17, As Sunnah Ibnu Nashr 30)

6. Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu berkata :
“Ikutilah dan jangan berbuat bid’ah! Sebab sungguh itu telah cukup bagi kalian. Dan (ketahuilah) bahwa setiap bid’ah adalah sesat.” (Ibnu Nashr 28 dan Ibnu Wudldlah 17)

7. Imam Az Zuhry berkata, ulama kita yang terdahulu selalu mengatakan :

“Berpegang dengan As Sunnah itu adalah keselamatan. Dan ilmu itu tercabut dengan segera maka tegaknya ilmu adalah kekokohan Islam sedangkan dengan perginya para ulama akan hilang pula semua itu (ilmu dan agama).” (Al Lalikai 1/94 nomor 136 dan Ad Darimy 1/58 nomor 16)

8. Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu berkata :

“Berpeganglah kamu dengan ilmu (As Sunnah) sebelum diangkat dan berhati-hatilah kamu dari mengada-adakan yang baru (bid’ah) dan melampaui batas dalam berbicara dan membahas suatu perkara, hendaknya kalian tetap berpegang dengan contoh yang telah lalu.” (Ad Darimy 1/66 nomor 143, Al Ibanah Ibnu Baththah 1/324 nomor 169, Al Lalikai 1/87 nomor 108, dan Ibnu Wadldlah 32)

9. Dan ia juga mengatakan bahwa :

“Sederhana dalam As Sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh di dalam bid’ah.” (Ibnu Nashr 30, Al Lalikai 1/88 nomor 114, dan Al Ibanah 1/320 nomor 161)

10. Sa’id bin Jubair (murid dan shahabat Ibnu Abbas) berkata –mengenai ayat– :

“Dan beramal shalih kemudian mengikuti petunjuk.” (QS. Thaha : 82)

Yaitu senantiasa berada di atas As Sunnah dan mengikuti Al Jama’ah. (Al Ibanah 1/323 nomor 165 dan Al Lalikai 1/71 nomor 72)

11. Imam Al Auza’i berkata :

“Kami senantiasa mengikuti sunnah kemanapun ia beredar.” (Al Lalikai 1/64 nomor 47)

12. Imam Ahmad bin Hambal berkata :

“Berhati-hatilah kamu jangan sampai menulis masalah apapun dari ahli ahwa’ sedikit atau pun banyak. Dan berpeganglah dengan Ahli Atsar dan Sunnah.” (As Siyar 11/231)

13. Umar bin Abdul Aziz dalam risalahnya untuk salah seorang aparatnya mengatakan :

Dari Umar bin Abdul Aziz Amirul Mukminin kepada Ady bin Arthaah :

“Segala puji hanya bagi Allah yang tidak ada sesembahan yang haq kecuali Dia.

Kemudian daripada itu :

Saya wasiatkan kepadamu, bertaqwalah kepada Allah dan sederhanalah dalam (menjalankan) perintah-Nya dan ikutilah sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan tinggalkanlah apa yang diada-adakan ahli bid’ah terhadap sunnah ya

Perintah Komitmen Dengan Jamaah Muslimin dan Imam Mereka Serta Peringatan Bahayanya Perpecahan

17. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Barangsiapa yang memisahkan diri dari Al Jamaah sejengkal saja maka ia telah menanggalkan ikatan Islam dari lehernya.” (As Sunnah Ibnu Abi Ashim dan dishahihkan Syaikh Al Albani 892 dan 1053)

18. Beliau bersabda :

“Barangsiapa yang mati tanpa mempunyai imam maka ia mati dalam keadaan jahiliyyah.” (As Sunnah Ibnu Abi Ashim dihasankan Syaikh Al Albani 1057)

19. Beliau bersabda :

“Tetaplah kamu bersama Al Jamaah dan jauhilah perpecahan, sesungguhnya syaithan selalu bersama orang yang sendirian dan ia lebih jauh dari yang berdua dan siapa yang ingin tinggal di tengah-tengah kebun surga maka hendaknya tetap berpegang dengan Al Jamaah.” (Shahih As Sunnah Ibnu Abi Ashim 88)

20. Beliau bersabda :

“Berjamaah itu rahmat dan perpecahan itu adzab.” (Hadits hasan dalam As Sunnah Ibnu Abi Ashim 93)

21. Beliau bersabda :

“Barangsiapa yang keluar dari ketaatan dan meninggalkan Al Jamaah maka ia mati dalam keadaan jahiliyah.” (Hadits shahih dalam As Sunnah Ibnu Abi Ashim 93 dan 1064)

22. Beliau bcrsabda :

“Tiga hal yang tidak ditanya dari mereka yaitu seseorang yang memisahkan diri dari Al Jamaah dan orang yang mendurhakai imamnya dan mati dalam keadaan maksiat.” (Hadits shahih dalam As Sunnah Ibnu Abi Ashim 89, 100, dan 1060)

23. Mu’adz bin Jabal radliyallahu ‘anhu berkata :

“Tangan Allah ada di atas Al Jamaah, maka siapa menyimpang maka Allah tidak akan mempedulikan dia dengan penyimpangannya itu.” (Al Ibanah 1/289 nomor 119)

24. Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu berkata :

“Hai manusia, tetaplah kalian taat dan berada dalam Al Jamaah karena sesungguhnya itu adalah tali Allah yang Ia perintahkan berpegang dengannya dan sesungguhnya apapun yang tidak disukai dalam jamaah jauh lebih baik daripada apapun yang disukai di dalam perpecahan.” (Al Ibanah 1/297 nomor 133)

25. Al Auza’i berkata :

“Dikatakan bahwa terdapat lima hal yang shahabat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan para tabi’in di atasnya, di antaranya menetapi Al Jamaah.” (Al Lalikai 1/64 nomor 48)

———————

BAB 3

———————

Perintah Mentaati Dan Memuliakan Penguasa Serta Tidak Memberontak Kepadanya

26. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Meskipun kamu diperintah oleh budak Habsyi yang (jelek) terpotong hidungnya tetaplah kamu mendengar dan mentaatinya selama ia memimpinmu dengan Kitab Allah.” (Hadits shahih dalam As Sunnah Ibnu Abi Ashim 1062)

27. Beliau bersabda :

“Barangsiapa yang mentaatiku berarti ia mentaati Allah dan siapa yang bermaksiat kepadaku maka ia bermaksiat kepada Allah dan siapa yang taat kepada amirnya (pemimpin/penguasa) berarti ia mentaatiku dan siapa yang bermaksiat kepada amirnya (pemimpin/penguasa) maka ia berarti bermaksiat kepadaku dan amirnya adalah tameng.” (Hadits shahih dalam As Sunnah Ibnu Abi Ashim 1065-1068)

(Menurut Imam Al Qurthuby yang dinukil oleh Imam As Suyuthi dalam Kitab Az Zahrur Riba, arti tameng di sini adalah ia (amir itu) diikuti pendapat dan pandangannya dalam beberapa peraturan dalam menghadapi keadaan yang mengkhawatirkan, pent.)

28. Dari Ady bin Hatim ia berkata, kami berkata :

“Ya Rasulullah, kami tidak bertanya tentang ketaatan kepada orang yang bertaqwa tapi (bagaimana) terhadap orang yang berbuat begini dan begitu –ia menyebut berbagai kejelekan–.” Beliau berkata : “Bertaqwalah kamu kepada Allah dan tetaplah kamu mendengar dan mentaatinya.” (Hadits shahih dalam As Sunnah Ibnu Abi Ashim 1069)

29. Dari Abi Sa’id Al Khudri ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Akan ada nanti para pemimpin yang kulit menjadi lunak terhadap mereka sedangkan hati tidak tenteram kemudian akan ada pula para pemimpin yang hati manusia gemetar karena mereka dan bulu kuduk berdiri karena (takut) kepada mereka.” Lalu ada yang bertanya : “Ya Rasulullah apakah tidak diperangi saja mereka?” Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab : “Tidak, selama mereka menegakkan shalat.” (Ibid nomor 1077)

30. Dari Abu Dzar radliyallahu ‘anhu ia berkata :

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mendatangiku ketika saya di mesjid lalu beliau menyentuhku dengan kakinya dan bersabda : “Apakah kamu sedang tidur di tempat ini?” Saya menjawab : “Wahai Rasulullah, mataku mengalahkanku.” Beliau bersabda : “Bagaimana jika kamu diusir dari sini?” Maka saya menjawab : “Sungguh saya akan memilih tanah Syam yang suci dan diberkahi.” Beliau bertanya lagi : “Bagaimana jika kamu diusir dari Syam?” Saya berkata : “Apa yang harus saya lakukan? Apakah saya perangi dia, ya Rasulullah?” Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab : “Maukah aku tunjukkan jalan yang lebih baik dari tindakan itu dan lebih dekat kepada petunjuk –beliau ulangi dua kali–? Yaitu kamu dengar dan taati, kamu akan digiring kemanapun mereka menggiringmu.” (Hadits shahih dalam As Sunnah Ibnu Abi Ashim 1074)

31. Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan ia berkata, ketika Abu Dzar keluar menuju Rabdzah, serombongan pengendara dari Iraq menemuinya lalu berkata :

“Hai Abu Dzar, apa yang menimpamu telah sampai kepada kami, pancangkanlah bendera jihad (berontak) niscaya akan datang kepadamu orang-orang berapapun kamu kehendaki.” Ia berkata : [ Tenanglah hai kaum Muslimin, sesungguhnya saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Akan ada sesudahku nanti penguasa maka hormatilah dia, barangsiapa yang mencari-cari kesalahannya maka ia berarti benar-benar merobohkan sendi-sendi Islam dan tidak akan diterima taubatnya sampai mengembalikannya seperti semula.” ] (Ibid nomor 1079)

32. Dari Qathn Abul Haitsami ia berkata bahwa Abu Ghalib bercerita kepada kami, saya berada di sisi Abu Umamah ketika seseorang berkata kepadanya :

“Apa pendapat Anda mengenai ayat :

Dia-lah yang telah menurunkan kepadamu Al Kitab di antaranya (berisi) ayat-ayat yang muhkam itulah Ummul Kitab dan ayat lainnya adalah ayat mutasyabihat. Maka adapun orng-orang yang dalam hati mereka ada zaigh (condong kepada kesesatan) maka mereka akan mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat. (QS. Ali Imran : 7)

Siapakah mereka (orang yang di hatinya terdapat zaigh) ini?” Ia berkata : “Mereka adalah Khawarij, –beliau melanjutkan– dan tetaplah kamu beriltizam (komitmen) dengan As Sawadul A’zham.” Saya berkata : “Engkau telah mengetahui apa yang ada pada mereka (penguasa).” Ia menjawab : “Kewajiban mereka adalah apa yang dibebankan kepada mereka dan kewajiban kamu adalah apa yang dibebankan kepadamu, taatilah mereka niscaya kamu akan mendapat petunjuk.” (As Sunnah Ibnu Na shr 22 nomor 55)

33. Dari Daud bin Abil Furat ia berkata, Abu Ghalib bercerita kepadaku bahwa Abu Umamah bercerita bahwa Bani Israil terpecah menjadi 71 golongan dan ummat ini lebih banyak satu golongan dari mereka, semua di neraka kecuali As Sawadul A’zham, yakni Al Jamaah. Saya berkata :

“Terkadang dapat diketahui apa yang ada pada As Sawadul A’zham –di masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan–.” Ia berkata : “Ketahuilah, sungguh demi Allah saya benar-benar tidak suka perbuatan mereka namun bagi kewajiban mereka adalah apa yang dibebankan kepada mereka dan kewajibanmu adalah apa yang dibebankan kepadamu, di samping itu mendengar dan ta at kepada mereka lebih baik daripada durhaka dan bermaksiat kepada mereka.” (Ibid nomor 56)

34. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Barangsiapa yang memuliakan penguasa (yang dijadikan) Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi di dunia maka Allah memuliakannya pada hari kiamat dan siapa yang menghinakan penguasa Allah Yang Maha Suci dan Mah a Tinggi di dunia maka Allah hinakan dia pada hari kiamat.” (Ash Shahihah Al Albani 2297)

35. Beliau bersabda :

“Lima perkara, barangsiapa yang mengamalkan salah satunya ia mendapat jaminan dari Allah Azza wa Jalla, yaitu (antara lain) barangsiapa yang masuk kepada imam (pemimpinnya) untuk memuliakan dan menghormatinya.” (Hadits shahih dalam As Sunnah Ibnu Abi Ashim 1021)

36. Dari Ubadah bin Ash Shamit radliyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam (beliau) bersabda :

“Dengar dan taatilah mereka baik –dalam– kesulitan atau kemudahan, gembira dan tidak suka, dan (meskipun) mereka bersikap egois (sewenang-wenang) terhadapmu, walaupun mereka memakan hartamu dan memukul punggungmu.” (Ibid, dishahihkan Al Albani 1026)

37. Dari Rabi’i bin Harrasy ia berkata, saya mendatangi Hudzaifah radliyallahu ‘anhu di Madain pada malam hari ketika banyak orang yang men datangi Utsman bin Affan radliyallahu ‘anhu maka ia berkata :

“Hai Rabi’i! Apa yang dilakukan kaummu?” Saya menjawab : “Tentang kejadian mana yang Anda tanyakan?” Ia berkata : “Tentang siapa di antara mereka yang keluar (unjuk rasa/memberontak) kepada orang itu (Utsman)?” Maka saya sebutkan nama-nama beberapa orang di antara mereka. Lalu kata Hudzaifah : “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

Barangsiapa yang memisahkan diri dari Al Jamaah dan merendahkan pemerintah maka ia akan menemui Allah Azza wa Jalla dalam keadaan tidak mempunyai muka lagi –dalam lafaz Adz Dzahabi, tidak mempunyai hujjah–.” (HR. Ahmad 5/387, Al Hakim menshahihkannya, dan disetujui Adz Dzahabi 1/119)

38. Imam Al Barbahary berkata, Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan :

“Dengar dan taatilah para pemimpin dalam perkara yang dicintai dan diridlai Allah! Dan siapa yang diserahi jabatan kekhalifahan dengan kesepakatan dan keridlaan manusia kepadanya maka ia adalah Amirul Mukminin. Tidak halal bagi siapapun untuk berdiam satu malam dalam keadaan tidak menganggap adanya imam baik orang yang shalih ataupun durhaka.” (Thabaqat Hanabilah 2/21 dan Syarhus Sunnah 77-78)

Kata Syaikh Jamal bin Farihan, ijma’ (kesepakatan manusia dan keridlaan mereka) di sini maksudnya adalah manusia dari kalangan Ahlul Hali wal ‘Aqdi (ulama mujtahid) bukan seluruh rakyat yang di dalamnya banyak terdapat orang-orang yang bodoh. Maka perhatikanlah hal ini!

39. Kata beliau (dalam Syarhus Sunnah hal 77-78) :

“Barangsiapa yang keluar (demonstrasi/memberontak) kepada imam kaum Muslimin maka ia Khawarij dan sungguh mereka telah mematahkan tongkatnya kaum Muslimin, menyelisihi atsar maka mereka mati dalam keadaan jahiliyyah.”

40. Dan kata beliau lagi :

“Tidak halal memerangi (memberontak) kepada penguasa dan keluar (demonstrasi) terhadap mereka meskipun mereka jahat karena tidak ada dalam As Sunnah (tuntunan) memerangi penguasa sebab yang demikian mengakibatkan kerusakan dunia dan agama.”

———————

BAB 4

———————

Bersabar Atas Kejahatan Penguasa

41. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Barangsiapa yang melihat pada amirnya terdapat satu hal yang dia benci hendaknya ia (tetap) bersabar.” (Hadits dalam As Sunnah Ibnu Abi Ashim 1101)

42. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Adapun sesudah itu, sesungguhnya kamu akan melihat sikap atsarah (egois dan suka melebihkan orang lain selain kamu) maka bersabarlah sampai kamu berjumpa denganku.” (Ibid 1102)

Bab 6
Tanda-Tanda Ahli Bid’ah Dan Ahli Ahwa’

48. Ayyub As Sikhtiyani berkata :

“Saya tidak mengetahui ada seseorang dari ahli ahwa yang berdebat kecuali
dengan perkara (ayat) mutasyabihat.” (Al Ibanah 2/501, 605, 609)

49. Imam Al Barbahary berkata :

“Jika kamu lihat seseorang mencela salah seorang shahabat Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam maka ketahuilah bahwa sesungguhya dia telah
mengucapkan kata-kata yang buruk dan termasuk ahli ahwa.” (Halaman 115 nomor
133)

50. Ia juga berkata :

“Jika kamu mendengar seseorang mencerca atsar (hadits-hadits), menolaknya, dan
menginginkan selain itu maka curigailah keislamannya dan jangan kamu ragu bahwa
ia adalah pengikut hawa nafsu dan mubtadi’.” (Ibid 115-116 nomor 134)

51. Kata beliau juga :

“Jika kamu lihat seseorang mendoakan kejelekan terhadap penguasa maka
ketahuilah bahwa ia adalah pengikut hawa nafsu.” (Ibid 116 nomor 136)

52. Abu Hatim berkata :

“Salah satu tanda ahli bid”ah adalah adanya cercaan mereka terhadap Ahli
Atsar.” (Al Lalikai 1/179)

Abu Abdillah Jamal berkata : “Jika kamu lihat seseorang mencerca ulama As
Sunnah dan manhaj Salafus Shalih di negeri ini dan lainnya maka ketahuilah
bahwa ia adalah pengikut hawa.”

53. Ibnul Qaththan berkata :

“Tidak ada di dunia ini seorang mubtadi’ melainkan sangat membenci Ahli
Hadits.” (Aqidah Salaf Ash Shabuni 102 nomor 163)

54. Imam Ash Shabuni berkata :

Dan tanda-tanda ahli bid’ah itu sangat jelas terlihat pada mereka dan salah
satu tanda yang paling menonjol adalah kerasnya permusuhan mereka terhadap para
pembawa berita dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, menghina, dan
meremehkan mereka.” (Ibid 101 nomor 162)

55. Dari Qutaibah bin Sa”id berkata :

“Apabila kamu lihat seseorang mencintai Ahli Hadits maka ketahuilah bahwa ia di
atas As Sunnah dan siapa yang menyelisihi perkara ini maka ketahuilah bahwa ia
adalah mubtadi’.” (Muqaddimah muhaqqiq Kitab Syi”ar Ashhabul Hadits lil Hakim 7)

BAB 5
Tanda-Tanda Ahlus Sunnah

43. Imam Al Barbahary berkata :

“Jika kamu lihat seseorang mencintai Abu Hurairah, Anas bin Malik, dan Usaid bin Hudlair radliyallahu ‘anhum maka ketahuilah bahwa ia pengikut sunnah –Insya Allah– dan jika kamu lihat seseorang mencintai Ayyub, Ibnu ‘Aun, Yunus bin ‘Ubaid, ‘Abdullah bin Idris Al Audi, Asy Sya’bi, Malik bin Mighwal, Yazid
bin Zurai, Mu’adz bin Mu’adz, Wahb bin Jarir, Hammad bin Salamah, Hammad bin Zaid, Malik bin Anas, Al Auza’i, dan Zaidah bin Qudamah maka ketahuilah bahwa ia pengikut sunnah begitu pula jika ada seseorang mencintai Ahmad bin Hanbal, Al Hajjaj bin Al Minhal, Ahmad bin Nashr serta menyebut kebaikan mereka dan berpendapat dengan pendapat mereka maka ketahuilah ia adalah seorang Sunni.” (Syarhus Sunnah 119-121)

Saya (Jamal bin Farihan) mengatakan, dan jika kamu melihat pada masa kini ada seseorang yang mencintai para ulama di negeri ini (Saudi) dan negeri lainnya yang berpegang teguh dengan As Sunnah dan manhaj Salafus Shalih serta berpendapat dengan pendapat mereka maka ketahuilah bahwa ia adalah seorang Sunniy.

44. Kata beliau (ibid 107) :

“Dan siapa yang mengetahui apa yang dibuang dan ditinggalkan ahli bid’ah dari Sunnah ini dan ia justru berpegang teguh dengannya maka ia adalah pengikut Ahlus Sunnah wal Jamaah dan ia berhak untuk diikuti (diteladani), dibantu, dan dijaga bahkan dia termasuk yang dipesankan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

45. Dan kata beliau (ibid 116) :

“Dan jika kamu lihat seseorang mendoakan kebaikan untuk penguasa maka
ketahuilah bahwa ia adalah pengikut Sunnah –Insya Allah–.”

Saya katakan ringkasnya : “Jika kamu lihat seseorang mencintai Ahli Sunnah di
mana pun berada dan benci kepada ahli bid’ah dan ahli ahwa’ di manapun mereka
menetap dan berpindah maka ketahuilah ia adalah Ahlus Sunnah.”

46. Abu Hatim berkata :

“Jika kamu lihat seseorang mencintai Imam Ahmad ketahuilah ia adalah pengikut Sunnah.” (As Siyar 11/198)

47. Dari Ja”far bin Muhammad ia berkata, saya mendengar Qutaibah berkata :

“Apabila kamu melihat seseorang mencintai Ahli Hadits seperti Yahya bin Sa’id dan Abdurrahman bin Mahdi dan Ahmad bin Hanbal serta Ishaq bin Rahawaih –ia menyebut beberapa orang lagi– maka ketahuilah bahwa ia berada di atas Sunnah dan siapa yang menyelisihi mereka maka ketahuilah bahwa ia seorang mubtadi’ (ahli bid’ah).” (Al Lalikai 1/67 nomor 59)

————————————–
BAB 7
Sebab-Sebab Hilangnya Agama
————————————–

56. Abdullah bin Ad Dailamy berkata :

“Sesungguhnya sebab pertama hilangnya agama ini adalah meninggalkan As Sunnah.
Agama ini akan hilang sunnah demi sunnah sebagaimana lepasnya tali seutas demi
seutas.” (Al Lalikai 1/93 nomor 127, Ad Darimy 1/58 nomor 97, dan Ibnu Wadldlah
dalam Al Bida” 73)

57. Ia juga berkata, saya mendengar Amru berkata :

“Tidaklah dilakukan suatu bid’ah melainkan akan bertambah cepat berkembangnya dan tidaklah ditinggalkan As Sunnah kecuali bertambah cepat hilangnya.” (Al Lalikai 1/93 nomor 128 dan Ibnu Wadldlah 73)

58. Dari Abdullah bin Mas”ud radliyallahu ‘anhu ia berkata :

“Ketahuilah hendaknya jangan satupun dari kalian bertaqlid kepada siapapun dalam perkara agamamu sehingga (bila) ia beriman ikut beriman bila ia kafir ikut pula menjadi kafir. Maka jika kamu tetap ingin berteladan maka ambillah contoh dari yang telah mati sebab yang masih hidup tidak aman dari fitnah.” (Al Lalikai 1/93 nomor 130 dan Al Haitsamy dalam Al Majma” 1/180)

59. Al Auza”i menyebutkan dari Hassan bin Athiyyah, ia berkata :

“Tidaklah suatu kaum berbuat satu bid’ah dalam Dien mereka melainkan Allah cabut dari mereka satu Sunnah yang semisalnya dan tidak akan kembali kepada mereka sampai hari kiamat.” (Ad Darimy 1/58 nomor 98)

60. Dari Yunus bin Zaid dari Az Zuhri ia berkata :

“Ulama kami yang terdahulu selalu mengingatkan bahwa berpegang teguh dengan As Sunnah itu adalah keselamatan dan ilmu akan tercabut dengan segera maka tegaknya ilmu adalah kekokohan agama dan dunia sedang dengan hilangnya ilmu hilang pula semuanya.” (Ad Darimy 1/58 nomor 16)

BAB 10

Peringatan Salafus Shalih Akan Bahayanya Bergaul Dengan Ahli bid’ah dan
Menyebut Nama Tokoh-Tokoh Mereka Bukan Ghibah

————————————–

70. Abu Nu’aim berkata, Sufyan Ats Tsauri memasuki mesjid pada hari Jum’at, tiba-tiba ia melihat Al Hasan bin Shalih bin Hayy sedang shalat, beliau berkata :

“Kami berlindung kepada Allah dari khusyuknya munafiq.”

Lalu beliau mengambil sandalnya dan berpindah.

Katanya lagi –juga dari Ats Tsauri– : “Dia itu adalah orang yang menganggap bolehnya menumpahkan darah ummat.” (At Tahdzib 2/249 nomor 516)

71. Bisyr bin Al Harits berkata, Zaidah biasa duduk di masjid memperingatkan manusia dari Ibnu Hayy dan shahabat-shahabatnya, katanya :

“Mereka itu menganggap halal menumpahkan darah kaum Muslimin.” (Ibid)

72. Abu Shalih Al Farra’ berkata, saya menyampaikan kepada Yusuf bin Asbath dari Waki” mengenai perkara fitnah, ia berkata :

“Dia –Al Hasan bin Hayy– itu seperti gurunya.”

Lalu saya berkata kepada Yusuf :

“Apakah kamu tidak takut kalau ini ghibah?”

Ia menjawab :

“Mengapa, hai tolol ? Saya lebih baik terhadap mereka dibanding bapak ibu mereka. Saya mencegah manusia beramal dengan apa yang mereka ada-adakan agar manusia tidak mengikuti pula dosa-dosa mereka itu dan orang yang menyanjung mereka justru jauh lebih berbahaya daripada mereka.” (Ibid)

73. Abdullah bin (Al Imam) Ahmad bin Hanbal berkata, saya mendengar ayahku berkata : “Barangsiapa yang mengatakan ucapanku (lafadhku) dengan Al Quran adalah makhluk maka ini adalah ucapan yang sangat jelek dan rendah dan ini adalah perkataan orang-orang Jahmiyyah.”

Saya katakan padanya : “Sesungguhnya Husain Al Karabisiy mengatakan hal ini.”

Beliau berkata : “Dia dusta, semoga Allah membuka aibnya yang jelek itu. Sungguh ia telah menggantikan Bisyr Al Marisiy.” (As Sunnah li Abdillah 1/165-166 nomor 186-188)

77. Kata beliau juga :

“Saya bertanya kepada Abu Tsaur Ibrahim bin Khalid Al Kalbiy tentang Husain Al Karabisiy lalu beliau berkata dengan ucapan yang jelek dan rendah tentang Husain.” (Ibid)

78. Abdullah berkata –lagi– :

“Saya bertanya kepada Al Hasan bin Muhammad Az Za’farani tentang Husain Al Karabisiy ternyata ia mengatakan hal yang sama dengan Abu Tsaur.” (Ibid)

79. Imam Ahmad berkata :

“Bisyr Al Marisiy telah mati dan ia digantikan oleh Husain Al Karabisiy.” (Tarikh Baghdad 8/66)

80. Dari Muhammad bin Al Hasan bin Harun Al Maushuly ia berkata, saya bertanya kepada Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal tentang ucapan Al Karabisiy :

“Ucapanku dengan Al Quran adalah makhluk.”

Maka beliau berkata kepadaku :

“Hai Abu Abdillah, hati-hatilah kamu, hati-hatilah kamu terhadap Al Karabisiy, jangan ajak dia bicara dan jangan pula kamu ajak bicara orang yang bicara dengannya.”

Beliau ucapkan 4 atau 5 kali. (Ibid 8/65)

81. Sampai berita kepada Umar bin Al Khaththab radliyallahu ‘anhu bahwa ada seorang laki-laki yang terkumpul pada dirinya beberapa perkara bid’ah maka beliau melarang manusia duduk dengannya. (Majmu” Fatawa 35/414)

Ibnu Taimiyyah berkata : “Maka apabila seseorang bergaul dengan orang yang jahat secara rahasia tetap harus diperingatkan manusia darinya.” (Ibid)

82. Ayyub As Sikhtiyani berkata, Abu Qilabah berkata kepadaku :

“Jangan beri kesempatan ahli ahwa’ itu mendengar sesuatu dari kamu nanti ia akan melontarkan terhadapnya apa yang mereka kehendaki.” (Al Lalikai 1/134 nomor 246 dan Al Ibanah 2/445 nomor 397)

83. Utsman bin Zaidah berkata, Sufyan (Ats Tsauri) berwasiat kepadaku :

“Janganlah kamu bergabung dengan ahli bid’ah.” (Al Ibanah 2/463 nomor 452-456)

84. Al Faryabi berkata :

“Sufyan Ats Tsauri selalu melarangku duduk dengan si Fulan –yaitu seorang ahli bid’ah–.” (Ibid)

85. Ibnul Mubarak berkata :

“Hati-hatilah kamu jangan sampai duduk dengan ahli bid’ah.” (Ibid)

86. Muqatil bin Muhammad berkata, Abdurrahman bin Mahdi berkata kepadaku :

“Hai Abul Hasan, janganlah kamu duduk dengan ahli bid’ah ini sesungguhnya mereka senantiasa berfatwa tentang perkara yang Malaikat tidak mampu (menuliskannya).” (Ibid)

87. Al Fudlail bin Iyyadl berkata :

“Saya telah mendapatkan bahwa sebaik-baik manusia seluruhnya adalah Ahli Sunnah dan mereka senantiasa melarang bergaul dengan ahli bid’ah.” (Al Lalikai 1/138 nomor 267)

88. Yahya bin Abi Katsir berkata :

“Kalau kamu bertemu ahli bid’ah di suatu jalan maka ambillah jalan lain.”

Begitu pula kata Al Fudlail bin Iyyadl. (Al I’tisham 1/172, Al Ibanah 2/474-475 nomor 490 dan 493, Ibnu Wudldlah dalam Al Bida’ 55, Asy Syari”ah 67, dan Al Lalikai 1/137 nomor 259)

89. Abu Qilabah berkata :

“Janganlah kamu duduk bersama ahli ahwa’ dan jangan berdialog dengan mereka sebab sesungguhnya saya tidak aman kalau-kalau mereka membenamkan kamu dalam kesesatan mereka atau mengaburkan apa-apa yang telah kamu ketahui.” (Al Bida’ 55, Al I’tisham 1/172, Al Lalikai 1/134 nomor 244, Ad Darimy 1/120 nomor 391, Al Ibanah 2/473 nomor 369, Asy Syari”ah 61)

90. Al Fudlail bin Iyyadl berkata :

“Jangan kamu duduk (bermajelis) bersama ahli bid’ah sebab sesungguhnya saya khawatir kamu tertimpa laknat.” (Al Lalikai 1/137 nomor 261 dan 262)

91. Ia –juga– berkata :

“Hati-hatilah kamu (jangan) masuk kepada ahli bid’ah karena sesungguhnya mereka itu selalu menghalangi orang dari Al Haq.” (Ibid)

92. Al Hasan Al Bashry dan Ibnu Sirin berkata :

“Janganlah duduk (bermajelis) bersama ahli ahwa’ dan jangan kamu berdialog dengan mereka dan jangan dengar ucapan mereka.” (Al Ibanah 2/444 nomor 395 dan Ad Darimy 1/121 no 401)

93. Ibrahim An Nakha”i berkata :

“Janganlah duduk (bermajelis) bersama ahli ahwa’ karena saya khawatir kalau-kalau hatimu berbalik(murtad).” (Al Ibanah 2/439 nomor 373, Al Bida’ 56, Al I’tisham 1/172)

94. Al Hasan Al Bashry berkata :

“Janganlah kamu duduk (bermajelis) dengan ahli ahwa’ sebab yang demikian menjadikan hati berpenyakit.” (Al Bida’ 54, Al Ibanah 2/438 nomor 373 juga dari Abdullah Al Mula”i nomor 373 dan Ibnu Abbas nomor 371)

95. Mujahid berkata :

“Janganlah kamu berada dalam satu majelis dengan ahli ahwa’ sebab mereka mempunyai cacat seperti kurap.” (Al Ibanah 2/441 nomor 382)

96. Muhammad bin Muslim berkata, Allah mewahyukan kepada Musa bin Imran Alaihis
Salam :

“Hendaknya kamu jangan duduk dengan ahli ahwa’ karena (dikhawatirkan) engkau akan mendengar satu ucapan yang menyebabkan kamu ragu lalu sesat dan masuk neraka.” (Al Bida’ 56)

97. Ibnu Mas’ud berkata :

“Barangsiapa yang suka memuliakan Diennya maka tinggalkanlah bermajelis dengan ahli ahwa’ sebab yang demikian itu lebih sulit lepasnya dibanding penyakit kulit (koreng, dan sebagainya).” (Ibid 57)

98. Al Hasan Al Bashry berkata :

“Janganlah duduk dengan pengekor hawa nafsu lalu ia melemparkan sesuatu dalam hatimu dan kamu ikuti lalu kamu celaka atau kamu menolaknya akibatnya hatimu menjadi sakit.” (Ibid)

99. Al Fudlail bin Iyyadl berkata :

“Ahli bid’ah itu jangan kamu mempercayainya dalam soal agamamu dan jangan ajak dia bermusyawarah dalam urusanmu dan jangan duduk dengannya. Maka siapa yang duduk dengannya, Allah wariskan kepadanya kebutaan (dari Al Haq).” (Al Lalikai 1/138 nomor 264)

100. Ibrahim An Nakha”i berkata :

“Janganlah duduk dengan ahli ahwa’ sebab sesungguhnya duduk dengan mereka melenyapkan cahaya iman dari dalam hati dan menghilangkan keindahan wajah dan mewariskan kebencian di dalam hati kaum Mukminin.” (Al Ibanah 2/439 nomor 375)

101. Dari Atha’ ia berkata, Allah Azza wa Jalla mewahyukan kepada Musa Alaihis Salam :

“Janganlah kamu duduk (bermajelis) dengan ahli ahwa’ sebab sesungguhnya mereka akan menimbulkan perkara baru yang belum pernah ada di dalam hatimu.” (Ibid 2/433 nomor 358)

102. Salamah bin Alqamah berkata :

“Muhammad bin Sirin selalu melarang manusia berbicara dan duduk (bermajelis) dengan ahli ahwa’.” (Ibid 2/522 nomor 624)

103. Aly bin Abi Khalid menceritakan bahwa ia berkata kepada Imam Ahmad bin Hanbal :

“Orang tua ini –sambil mengisyaratkan kepada syaikh itu– adalah jiranku dan saya telah melarangnya bergaul dengan seseorang (bid’iy) dan ia lebih suka mendengar perkataan Anda dalam perkara ini –mengenai Harits Al Qashir– (Harits Al Muhasibi) dan Anda pernah melihatku bersamanya selama beberapa tahun lalu nda katakan pada saya :

“Jangan duduk (bermajelis) dengannya dan jangan ajak bicara.”

Maka sejak saat itu saya tidak pernah mengajaknya bicara sampai saat ini sedangkan orang tua ini senang duduk (bermajelis) dengannya maka bagaimana pendapat Anda dalam hal ini””

Saya lihat wajah Imam Ahmad memerah, urat lehernya membengkak dan matanya melotot marah dan saya belum pernah melihatnya seperti itu sama sekali kemudian beliau menghembuskan nafas dan mulai berkata :

“Orang itu! Allah telah berbuat terhadapnya apa yang Dia perbuat, tidak ada yang mengetahuinya kecuali orang yang berpengalaman dan mengenalnya, uwaiyyah, uwaiyyah, uwaiyyah, dia itu tidak ada yang mengetahuinya kecuali yang pernah bergaul dan mengenalnya, dia itu yang pernah duduk bersamanya Al Maghazily, Ya’qub, dan Fulan lalu ia menggiring mereka kepada pemikiran Jahm akhirnya
mereka binasa karenanya.”

Orang tua itu berkata : “Wahai Abu Abdillah, ia juga meriwayatkan hadits, lembut, khusyu’ dan orang tua itu terus menceritakan kebaikan Harits Al Muhasibi.”

Imam Ahmad marah dan berkata :

“Janganlah kau tertipu dengan kekhusyukan dan kelembutannya. Dan jangan kamu terpedaya dengan kebiasaannya menundukkan kepala karena sesungguhnya dia adalah laki-laki yang jahat, dia itu tidaklah mengetahuinya kecuali yang telah berpengalaman dengannya, jangan kamu ajak dia bicara. Tidak ada kemuliaan baginya. Apakah setiap yang meriwayatkan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam padahal ia seorang mubtadi’ kamu akan duduk bersamanya” Tidak! Jangan. Tidak ada kemuliaan baginya dan jangan kita membutakan mata!”

Beliau mengulangi-ulangi ucapannya : “Tidak ada yang mengetahuinya kecuali yang pernah mengujinya dan mengenalnya.” (Thabaqat Hanabilah 1/233-234 nomor 325)

104. Dari Abduus bin Malik Al Aththar ia berkata, saya mendengar Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal berkata :

“Dasar-dasar As Sunnah menurut kami adalah –beliau sebutkan di antaranya– : ” … dan tidak duduk (bermajelis) dengan ahli ahwa’.” (Ibid 1/241 nomor 338)

105. Imam Ahmad ketika ditanya tentang Al Karabisiy, beliau menjawab :

“Dia itu seorang mubtadi’.” (Tarikh Baghdad 8/66)

106. Diberitakan kepada Yahya bin Ma’in bahwa Husain Al Karabisiy mengatakan sesuatu tentang Ahmad bin Hanbal maka katanya :

“Siapa Husain Al Karabisiy itu” Semoga Allah melaknatnya. Dia itu selalu membicarakan perkara yang masih tersamar bagi manusia, Husain itu rendah dan Ahmad itu tinggi kedudukannya.” (Ibid 8/65)

107. Juga diceritakan kepadanya bahwa Husain mengatakan sesuatu tentang Imam
Ahmad maka ia berkata :

“Alangkah pantasnya ia dipukul.” (Ibid 8/64)

108. Yusuf bin Asbath berkata :

“Ayahku seorang Qadariy sedangkan saudara-saudara ibuku adalah Rafidly (Syiah ekstrim) lalu Allah menyelamatkanku dengan (bimbingan) Sufyan.” (Al Lalikai 1/60 nomor 32)

BAB 8

Jeleknya Ahli Ahwa’ dan Ahli Bid’ah

61. Dari Abi Hurairah radhiallahu’anhu ia berkata:

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Akan ada di akhir zaman nanti para dajjal dan pendusta, mereka mendatangimu dengan hadits-hadits yang belum pernah didengar oleh kamu dan bapak-bapak kamu, maka hati-hatilah kamu dari mereka, mereka jangan sampai menyesatkan kamu dan menimbulkan fitnah terhadapmu.'”(HSR.Muslim dalam Muqaddimah 7).

62. Dari Khalid bin Sa’d ia berkata bahwa menjelang wafatnya Hudzaifah bin Al-Yaman datang kepadanya Abu Mas’ud Al-Anshary -radhiallahuanhuma- lalu berkata:

“Hai Abu ‘Abdillah berpesanlah untuk kami.” Hudzaifah berkata: “Bukankah telah datang kepadamu perkara yang yaqin, ketahuilah sesungguhnya kesesatan itu benar-benar kesesatan kalau kamu anggap ma’ruf (baik) apa yang sebelumnya kamu ingkari dan mengingkari apa yang telah kamu ketahui, hati-hatilah kamu dari sikap berbeda-beda (berpecah belah, pent) dalam agama karena sesungguhnya agama Allah ini hanya satu.” (Al-Hujjah fi Bayanil mahajjah 1/33, Al-Lalikai 1/90 120).

63. Dari Abi Qilabah dari Zaid bin ‘Umairah ia berkata:

“Mu’adz bin Jabal berkata: ‘Hai manusia, sesungguhnya akan terjadi fitnah yang pada waktu itu harta benda berlimpah, Al-Quran terbuka (tersebar) hingga mudah dibaca oleh seseorang mu’min, munafiq pria dan wanita anak-anak kecil maupun orang dewasa sampai-sampai seseorang berkata:’Kita telah membaca Al-Quran tapi tidak ada yang mau mengikuti, tidakkah sebaiknya kita bacakan terang-terangan kepada mereka?’ Maka mereka membacanya terang-terangan dan tetap tidak ada satupun yang mengikutinya maka dia berkata:’Saya telah membacanya terang-terangan tidak ada juga yang mengikutiku,’ lalau ia membangun tempat shalat di rumahnya lalu mengucapkan perkataan bid’ah yang bukan dari kitab Allah bahkan tidak juga dari sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka hati-hatilah kamu dari bid’ahnya karena sesungguhnya bid’ah itu sesat.'” (Al-Lalikai 1/89 no 117, Al-Hujjah 1/303, Ibnu Wadldlah 33 dan Abu Daud 4611).

64. Dari ‘Ashim Al-Ahwal ia berkata:

“Abul ‘Aliyah berkata: ‘Pelajarilah Al-Islam! Maka jika kamu pelajari janganlah kamu membencinya, dan tetaplah kamu diatas shirathal mustaqim karena itulah sesungguhnyta Al-Islam dan jangan kamu menyimpang ke kanan dan ke kiri. Dan berpeganglah dengan sunnah Nabimu shallallahu alaihi wa sallam dan apa yang dipegang kaum muslimin sebelum mereka membunuh shahabat mereka sendiri (Utsman bin ‘Affan) dan sebelum mereka berbuat apa yang telah mereka perbuat. Maka sesungguhnya kami telah membaca Al-Quran sebelum mereka berselisih (saling memerangi) dan sebelum mereka melakukan apa yang telah mereka lakukan selama 15 tahun. Dan berhati-hatilah kamu dari hawa nafsu ini, yang senantiasa menimbulkan permusuhan dan kebencian di tengah-tengah manusia.’ Kemudian saya sampaikan hal ini kepada Al-Hasan Al-Bashry, katanya:’Ia benar dan telah memberi nasehat.’ Dan saya ceritakan pula kepada Hafshah bintu Sirin, katanya: ‘Keluargaku tebusanmu, apakah telah kau sampaikan kepada Muhammad (Ibnu Sirin) cerita ini?’ Saya menjawab:’Tidak (belum).’ Lalu katanya:’Jika begitu sampaikanlah kepadanya.'” (As-Sunnah Ibnu Nashr 13 no 26, Al-Ibanah 1/299 no 136, Al-Lalikai 1/56, 127 no 17, 214)

——————

BAB 9

——————
Peringatan Bahayanya Duduk Dengan Ahli Bid’ah dan Ahli Ahwa’ Bergaul dan Berjalan Bersama Mereka

65. Al-Fudlail bin Iyyadl berkata:

“Siapa yang duduk dengan ahli bid’ah maka berhati-hatilah darinya, dan siapa yang duduk dengan ahli bid’ah tidak akan diberi al0hikmah. Dan saya ingin jika antara saya dan ahli bid’ah ada benteng dari besi yang kokoh. Dan saya makan di samping Yahudi dan Nashrani lebih saya sukai daripada makan di sebelah ahli bid’ah.” (Al-Lalikai 4/638 no 1149).

66.Hanbal bin Ishaq berkata:

“Saya mendengar Abu Abdillah (Imam Ahmad) berkata:’Tidak pantas seseorang itu bersikap ramah kepada Ahli Bid’ah, duduk dan bergaul dengan mereka.'” (Al-Ibanah 2/475 no 495)

67.Dari Habib bin Az-Zabarqan ia berkata:

“Muhammad bin Sirin apabila mendengar ucapan Ahli Bid’ah, menutup telinganya dengan jarinya kemudia berkata:’Tidak halal bagiku mengajaknya berbicara sampai ia berdiri dan meninggalkan tempay duduknya'” (Al-Ibanah 2/473 no 484)

68. Seorang ahli ahwa’ berkata kepada Ayyub As-Sikhtiyani:

“Hai Abu Bakr saya ingin bertanya tentang satu kalimat.” Beliau menukas -sambil berisyarat dengan jarinya-; “Tidak meskipun setangah kalimat, meskipun setengah kalimat.” (Al-Ibanah 2/447 no 402)

69.Imam Ahmad berkata dalam risalahnya untuk Musaddad:

“Jangan kamu bermusyawarah dengan ahli bid’ah dalam urusan agamamu, dan jangan jadikan dia teman dalam safarmu (bepergian).” (Al-Adabus Syari’ah Ibnu Muflih 3/578).

70. Ibnul Jauzy berkata:

“Allh, Allah. Janganlah berteman dengan mereka ini (ahli bid’ah). Dan wajib kamu cegah anak kecil bergaul dengan mereka agar jangan terpatri sesuatu (perkara bid’ah) dalam hati mereka, dan jadikan mereka sibuk (mempelajari) hadits-hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam agar watak mereka terbentuk di atasnya.” (ibid 3/577-578).

71. Imam Al-Barbahary berkata:

“Apabila tampak bagimu satu perkara bid’ah pada seseorang maka jauhilah dia sebab sesungguhnya yang dia sembunyikan darimu jauh lebih banyak dari yang dia tampakkan.” (Syarhus Sunnah 123 no 148)

72. Dan kata beliau:

“Perumpamaan ahli bid’ah itu seperti kalajengking, mereka menyembunyikan kepala dan ekornya, maka jika mereka telah mantap dengan posisinya maka mereka menyengat mangsanya. Demikian pula ahli bid’ah mereka menyembunyikan bid’ah di tengah-tengah manusia, lalu apabila mereka telah mantap dengan kedudukannya mereka sampaikan apa yang mereka inginkan.” (Thabaqat Hanabilah 2/44).

Saya (Jamal bin Furaihan) katakan:

“Demikianlah keadaan Ikhwanul Muslimin (dan kelompok dakwah sempalan lainnya, pent) mereka mencari-cari kedudukan dan jika mereka telah mantap posisi mereka, maka mulailah mereka melancarkan tindakan-tindakan dalam menyelisihi ahlus sunnah”

BAB 17

Salafush Shalih Menilai Seseorang dengan Melihat Teman Dekatnya

148.Abu Qilabah berkata :

“Qaatalallahu ! Semoga Allah binasakan penyair yang mengucapkan syair :

Janganlah bertanya siapa dia tapi tanyakan siapa temannya
karena setiap orang akan meniru temannya

Saya (Jamal bin Furaihan, penyusun kitab lammud durril mantsur, red) katakan :”Ucapan Abu Qilabah (qatalallahu) ini adalah ungkapan yang menunjukkan kekagumannya dengan ba’it syair tersebut, dan ini adalah syairnya ‘Ady bin Zaid Al-‘Abadiy.Al-Ashma’iy berkata :”Saya belum pernah menemukan satu bait syair yang paling menyerupai As-Sunnah selain ucapan ‘Ady ini.

149.Abu Hurairah berkata:

‘Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda:

“(agama) seseorang (dikenal) dari agama temannya, maka perhatikanlah siapa temanmu.” (As-Shahihah 927)

150.Ibnu Mas’ud berkata:

“Nilailah seseorang itu dengan siapa ia berteman, karena seorang muslim akan mengikuti muslim yang lain dan seorang fajir akan mengikuti orang fajir lainnya.” (Al-Ibanah 2/477 no 502, syarhussunnah Al-Baghawi 13/70)

151.Dan ia berkata:

“Seseorang itu akan berjalan dan berteman dengan orang yang dicintainya dan mempunyai sifat seperti dirinya.” (Al-Ibanah 2/476 no 499).

152.Beliau melanjutkan:

“Nilailah seseorang itu dengan temannya sebab sesungguhnya seseorang itu tidak akan berteman kecuali dengan orang yang mengagumkannya (kerena seperti dia).”(Al-ibanah 2/477 no 501).

153.Abu Darda mengatakan:

“Tanda keilmuan seseorang (dilihat) dari jalan yang ditempuhnya, tempat masuknya, dan majelisnya”. (Al-Ibanah 2/464 no 459-460).

154.Yahya bin Abi Katsir mengatakan:

“Jangan kamu menetapkan penilaian terhadap seseorang sampai kamu memperhatikan siapa yang menjadi temannya.” (Al-Ibanah 2/480 no 514).

155.Musa bin ‘Uqbah Ash-Shury tiba di Baghdad dan hal ini disampaikan kepada Imam Ahmad bin Hanbal, lalu beliau berkata:

“Perhatikan di mana ia singgah dan kepada siapa ia berkunjung.” (Al-Ibanah 2/480 no 511).

156.Qatadah berkata:

“sesungguhnya kami, demi Allah belum pernah melihat seseorang seseorang menjadikan teman buat dirinya kecuali yang memang menyerupai dia, maka bertemanlah dengan orang-orang yang shalih dari hamba-hamba Allah agar kamu digolongkan dengan mereka atau menjadi seperti mereka.”(Al-Ibanah 2/477 no 511).

157.Syu’bah berkata:

“Aku dapati tulisan dalam catatanku (menyatakan): bahwasanya seseorang akan berteman dengan orang yang ia sukai.” (Al-Ibanah 2/477 no 500).

158.Al-Auza’iy berkata:

“Siapa yang menyembunyikan bid’ahnya dari kita tidak akan dapat menyembunyikan persahabatannya.” (Al-Ibanah 2/476 no 498).

159.Al-A’masy mengatakan:

“Biasanya salafus shalih tidak menanyakan (keadaaan) seseorang sesudah (mengetahui) tiga hal yaitu jalannya, tempat masuknya dan teman-temannya”.(Al-Ibanah 2/476 no 498).

160.Ayyub As-Sikhtiyani diundang untuk memandikan jenasah kemudian beliau berangkat bersama beberapa orang. Ketika penutup wajah jenazah itu disingkapkan beliau segera mengenalinya dan berkata :

“kemarilah -kepada- temanmu ini, saya tidak akan memandikannya karena saya pernah melihatnya berjalan dengan seorang ahli bid’ah.”(Al-ibanah 2/478 no 503).

161.Abdullah bin Mas’ud berkata:

“Nilailah tanah ini dengan nama-namanya dan nilailah seorang teman dengan siapa ia berteman.” (Al-Ibanah 2/479 no 509-510)

162.Muhammad bin Abdullah Al-Ghalabiy mengatakan:

“Ahli bid’ah itu menyembunyikan segala sesuatu kecuali persatuan dan persahabatan (di antara mereka)”.(Al-Ibanah 1/205 no 44 dan 2/482 no 518).

163.Mu’adz bin Mu’adz berkata kepada Yahya bin Sa’id:

“Hai Abu Yahya, seseorang walapun dia menyembunyikan pemikirannya tidak akan tersembunyi hal itu pada anaknya, tidak pula pada teman-temannya atau teman duduknya.”

164.’Amru bin Qais Al-Mula-iy berkata:

“Jika kamu lihat seorang pemuda tumbuh bersama ahli sunnah wal jama’ah harapkanlah dia dan bila ia tumbuh bersama ahli bid’ah berputus asalah kamu dari (mengharap kebaikannya). Karena pemuda itu bergantung diatas apa pertama kali ia tumbuh dan dibentuk”.(Al-Ibanah 1/205 no 44 dan 2/482 no 518).

165.Ia -juga- mengatakan:

“Seorang pemuda itu benar-benar akan berkembang, maka jika ia lebih mementingkan duduk dengan ahli ilmu ia akan selamat, dan jika ia condong kepada yang lain ia akan celaka.”

166.Ibnu ‘Aun mengatakan :

“Siapa pun yang duduk dengan Ahli Bid’ah ia lebih berbahaya bagi kami dibanding ahli bid’ah itu sendiri.”(Al-ibanah 2/453 no 421).

167.Ketika Sufyan Ats-Tsauri datang ke Basrah melihat keadaan Ar-Rabi bin Shabiih dan kedudukannya di tengah umat, Yahya bin Sa’id Al-Qaththan berkata :

“Ia bertanya apa madzhabnya?” Mereka menjawab bahwa madzhabnya tidak lain adalah As-Sunnah, Ia berkata lagi :”Siapa teman baiknya ?” mereka menjawab :”Qadary.” Beliau berkata :”berarti ia seorang Qodary”.(Al-Ibanah 2/453 no 421).

Ibnu Baththah berkata, “semoga Allah merahmati sufyan Ats-Tsauri, ia sungguh berbicara dengan al-hikmah maka alangkah tepat ucapannya itu dan ia juga telah berkata ilmu yang sesuai dengan Al-Quran dan Assunnah serta apa-apa yang sesuai dengan himah, realita dan pemahaman ahli bashirah, Allah berfirman (yang artinya):”Ahai orang-orang yang beriman jangan kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang bukan golonganmu, (sebab) mereka senantiasa menimbulkan bahaya bagi kamu dan mereka senang dengan apa yang menyusahkanmu.”(Ali Imran 118)

168.Imam Abu Daud As-Sijistaniy berkata:

“Saya berkata kepada Imam Abdullah Ahmad bin Hanbal (jika) saya melihat seorang sunniy bersama ahli bid’ah, apakah saya tinggalkan ucapannya ?” Beliau menjawab : “Tidak, sebelum kamu terangkan kepadanya bahwa orang yang kamu lihat bersamanya itu adalah ahlu bid’ah. Maka jika ia menjauhinya, tetaplah bicara dengannya dan jika tidak mau gabungkan saja dengannya (anggap saja ahlu bid’ah). Ibnu mas’ud pernah berkata : ‘Seseorang itu (dinilai) siapa teman dekatnya'”. (Thabaqat Hanabilah 1/160 no 216).

169.Ibnu Taymiyah mengatakan :

“Dan siapa yang selalu berprasangka baik terhadap mereka (ahli bid’ah) -dan mengaku belum mengetahui keadaan mereka – kenalkanlah ahli bi’dah itu padanya maka jika ia telah mengenalnya namun tidak menampakkan penolakan terhadap mereka, gabungkanlah ia bersama mereka dan anggaplah ia dari kalangan mereka juga.”(Al-Majmu’ 2/133).

170.’Utbah Al-ghulam berkata :

“Barangsiapa yang tidak bersama kami maka dia adalah lawan kami” (Al-Ibanah 2/437 no 487).

171.Rasulullah Shallallahu Alaihi wa sallam bersabda :

“Ruh-ruh itu adalah juga sepasukan tentara yang akan saling mengenal akan bergabung dan yang tidak mengenal akan berselisih.”(HSR. Bukhary 3158 dan muslim 2638).

172.Al-Fudhail bin Iyyadl mengomentari hadits ini dengan berkata :

“Tidak mungkin seorang sunniy akan berbasa-basi kepada ahli bid’ah kecuali jika ia dari kalangan munafiq”.(lihat Ar Rad’alal mubtadi’ah li Ibni Al-banna).

173.Ibnu Mas’ud berkata :

“Jika seorang mu’min memasuki mesjid yang di dalamnya berkumpul 100 orang dan yang muslim hanya satu ia akan masuk ke dalamnya lalu duduk didekatnya, dan jika seorang munafiq memasuki mesjid yang didalamnya berkumpul 100 orang dan hanya terdapat satu orang munafiq juga, ia akan tetap masuk dan duduk di dekatnya”.

174.Hammad bin Zaid mengatakan :

“Yunus berkata kepadaku :”Hai Hammad, sesungguhnya jika saya melihat seorang pemuda berada di atas perkara yang mungkar saya tetap tidak akan berputus asa mengharapkan kebaikannnya, kecuali bila saya melihatnya duduk bersama ahli bid’ah maka ketika itu saya tahu kalau dia binasa”.(Al-Kifayah 91, Syarh ‘Ilal At-Tirmidzi).

175.Ahmad bin Hanbal berkata :

“Jika kamu melihat seorang pemuda tumbuh bersama ahli sunnah wal jama’ah maka harapkanlah (kebaikannya) dan jika kamu lihat dia tumbuh bersama ahli bid’ah maka berputusasalah kamu dari (mengharap kebaikan)nya. Karena sesungguhnya pemuda itu tergantung di atas apa ia pertama kali tumbuh”.(Al-Adabus Syari’ah Ibnu Muflih 3/77).

176.Dlamrah bin Rabi’ah berkata (saya mendengar) dari Ibnu Syaudzab Al-Khurasaniy berkata :

“Sesungguhnya diantara kenikmatan yang Allah berikan kepada pemuda ialah ketika ia beribadah dan bersaudara dengan seorang ahli sunnah. Dan ia akan bergabung bersamanya di atas As-Sunnah”.(Al-Ibanah 1/205 no 43, dan Ash-Shugra 133 no 91, dan Al-Lalikai 1/60 no 31).

177.Dari Abdullah bin Syaudzab dari Ayyub ia berkata:

“Termasuk kenikmatan bagi seorang pemuda dan orang-orang non ‘Arab ialah jika Allah menurunkan taufiq kepada mereka untuk mengikuti orang yang berlimu di kalangan Ahlus Sunnah.”(Al-Lalikai no 30).

(Sumber : Kilauan Mutiara Hikmah Dari Nasihat Salaful Ummah, terjemah dari kitab Lamudduril Mantsur minal Qaulil Ma’tsur, karya Syaikh Abu Abdillah Jamal bin Furaihan Al Haritsi. Diterjemahkan oleh Ustadz Idral Harits. Diambil dari http://www.assunnah.cjb.net.)

http://www.salafy.or.id

%d blogger menyukai ini: