• Blog Stats

    • 41,449,636 hits
  • pacaran adalah perbuatan haram, maka janganlah berpacaran. Dan jangan mau jika diajak pacaran. Akan tetapi tempuhlah jalan yang halal jika memang benar-benar cinta dan ingin menikah. Segeralah menikah dan jangan berpacaran. ================================== dan janganlah kamu mendekati zina. sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk. [QS Al Isra':32] ==================================== JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA ====================================== Asy-Sya’bi berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah)
  • Artikel Terbaru

  • wasiat untuk seluruh umat islam

    ====================================== “Janganlah kamu saling dengki, saling membenci, saling mengintip rahasia, saling bersaing, saling mencari keburukan, saling menawar lebih tinggi untuk menipu pembeli sehingga menawar tinggi, saling memutuskan hubungan, saling bermusuhan, janganlah sebagian kalian menjual atas jualan yang lain. Jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang diperintahkan Allah. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh menganiaya, tidak boleh menelantarkannya dan tidak boleh menghinanya. ============================================= Taqwa ada di sini, taqwa ada di sini, taqwa ada di sini kata Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam sambil menunjuk dadanya. ================================================= Cukuplah merupakan kejelekan seseorang apabila menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain adalah haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. Hati-hatilah bersangka buruk, karena sesungguhnya bersangka buruk adalah omongan yang paling dusta. ==================================================== Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk kamu dan hartamu, tetapi ia melihat hati dan perbuatanmu.” (riwayat Muslim dan Bukhari). ==========================================
  • BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR

    BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- -------------------------------------------------------------------------------------------- Orang yang mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi janda dan orang miskin ibarat berjihad di jalan Allah dan ibarat orang shalat malam (HR. Bukhari) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain. (HR. Ahmad) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersodaqoh dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana. (HR. Ath-Thabrani) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sodaqoh. (HR. Al-Baihaqi) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Tiap-tiap amalan makruf (kebajikan) adalah sodaqoh. Sesungguhnya di antara amalan makruf ialah berjumpa kawan dengan wajah ceria (senyum) dan mengurangi isi embermu untuk diisikan ke mangkuk kawanmu. (HR. Ahmad) ------------------------------------------------------------------------------------------------------------
  • berbuat baiklah pada semua binatang, termasuk kepada anjing

    Kita tidak diperbolehkan menyiksa binatang dengan cara apa pun, atau membuatnya kelaparan, memukulinya, membebaninya dengan sesuatu yang ia tidak mampu, menyiksa atau membakarnnya. --------------------------------------------------- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Seorang wanita masuk neraka karena seekor kucing yang ia kurung hingga mati. Maka dari itu ia masuk neraka gara-gara kucing tersebut disebabkan dia tidak memberinya makan dan tidak pula memberinya minum di saat mengurung nya, dan dia tidak membiarkannya (melepaskannya) supaya memakan serangga di bumi.” (HR. al-Bukhari) ------------------------------------------------------- Dan ketika beliau melewati sarang semut yang telah dibakar, beliau bersabda, “Sesungguhnya tidak ada yang berhak menyiksa dengan api selain Rabb (Tuhan) pemilik api.” (HR. Abu Dawud, hadits shahih) ---------------------------------------------- “Barangsiapa yang tidak berbelas kasih niscaya tidak akan dibelaskasihi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) ------------------------------------------------- “Kasihanilah siapa saja yang ada di bumi ini, niscaya kalian akan dikasihani oleh yang ada di langit.” (HR. at-Tirmidzi) -------------------------------------------------- Dibolehkan membunuh hewan-hewan yang membahayakan atau mengganggu seperti anjing buas, serigala, ular, kalajengking, tikus dan lain-lain karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Ada lima macam hewan fasik (buruk) yang boleh dibunuh di waktu halal (tidak ihram) dan di waktu ihram, yaitu ular, burung gagak yang putih punggung dan perutnya, tikus, anjing buas, dan rajawali.” (HR. Muslim). Juga terdapat hadits shahih yang membolehkan untuk membunuh kalajengking. ================================================
  • JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA

    ====================================== ‘Amr bin Syarahil Asy-Sya’bi rahimahullahu berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah, 2/636. Dihasankan oleh Al-Albani dalam At-Tahrim, hal. 148) ----------------------------------------------------------------------------- Ibnu Abdil Barr rahimahullahu berkata: “Termasuk hasil usaha yang disepakati keharamannya adalah riba, upah para pelacur, sogokan (suap), mengambil upah atas meratapi (mayit), nyanyian, perdukunan, mengaku mengetahui perkara gaib dan berita langit, hasil seruling dan segala permainan batil.” (Al-Kafi hal. 191) ---------------------------------------------------------------------- Ath-Thabari rahimahullahu berkata: “Telah sepakat para ulama di berbagai negeri tentang dibenci dan terlarangnya nyanyian.” (Tafsir Al-Qurthubi, 14/56) ------------------------------------------------------------------- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “Mazhab empat imam menyatakan bahwa alat-alat musik semuanya haram.” Lalu beliau menyebutkan hadits riwayat Al-Bukhari rahimahullahu . (Majmu’ Fatawa, 11/576) --------------------------------------------------------------- ------------------------------------------
  • wasiat bagi para pemuda

    ====================================== ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Barangsiapa di antara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya mereka adalah ummat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, dan paling lurus petunjuknya, serta paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya, karena mereka berada di jalan yang lurus.” [Dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Baar dalam kitabnya Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih II/947 no. 1810, tahqiq Abul Asybal Samir az-Zuhairy] ======================================
  • wasiat Imam al-Auza’i

    ====================================== Imam al-Auza’i rahimahullah (wafat th. 157 H) mengatakan: “Bersabarlah dirimu di atas Sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para Shahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan Salafush Shalih, karena akan mencukupi kamu apa saja yang mencukupi mereka.” [Syarh Ushul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah 1/174 no. 315] --------------------------------------------------------------- Beliau rahimahullah juga berkata: “Hendaklah kamu berpegang kepada atsar Salafush Shalih meskipun orang-orang menolaknya dan jauhkanlah diri kamu dari pendapat orang meskipun ia hiasi pendapatnya dengan perkataannya yang indah.” [Imam al-Aajury dalam as-Syari’ah I/445 no. 127, di-shahih-kan oleh al-Albany dalam Mukhtashar al-‘Uluw lil Imam adz-Dzahaby hal. 138, Siyar A’laam an-Nubalaa’ VII/120] =================================================
  • Mengutip perkataan Syaikh Bin Baz rahimahullaahu

    “Zaman ini adalah zaman kelembutan, kesabaran dan hikmah, bukanlah zaman kekerasan (kebengisan). Mayoritas manusia saat ini dalam keadaan jahil (bodoh), lalai dan lebih mementingkan duniawiyah. Maka haruslah sabar dan lemah lembut sampai dakwah ini tersampaikan dan sampai mereka mengetahuinya. Kami mohon petunjuk kepada Alloh untuk semuanya.” (Majmu’ Fatawa Samahatul Imam Ibnu Bazz (Juz VIII, hal 376) dan (Juz X, hal. 91) =================================================
  • jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara

    ====================================== Segala puji hanyalah milik Alloh yang telah mempertautkan hati kaum mukminin dan menganjurkan mereka supaya bersatu padu dan saling berhimpun serta memperingatkan dari perpecahan dan perselisihan. -------------------------------------------------------- Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq untuk disembah melainkan hanyalah Alloh semata yang tidak memiliki sekutu. Dialah yang mensyariatkan dan memudahkan, dan Dia terhadap kaum mukminin adalah sangat penyantun. ------------------------------------------------------ Saya juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang diperintahkan dengan kemudahan dan berita gembira. ----------------------------------------------------- Beliau bersabda : Permudahlah dan janganlah kamu persulit, berikanlah kabar gembira dan janganlah membuat orang lari (dari kebenaran). ------------------------------------------------------ Permisalan kaum mukminin satu dengan lainnya dalam hal kasih sayang, tolong menolong dan kecintaan, bagaikan tubuh yang satu, jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan merasa demam atau terjaga” --------------------------------------------------- Tidak ragu lagi, bahwa kewajiban Ahlus Sunnah di setiap zaman dan tempat adalah saling bersatu dan menyayangi di antara mereka serta saling bekerja sama di dalam kebajikan dan ketakwaan… ==================================================---------------
  • KHUTBATUL HAJAH

    ====================================== Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, dan meminta ampun kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami, dan dari keburukan-keburukan perbuatan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah saja, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. ================================================ “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” ================================================== “Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan darinya Allah menciptakan isterinya; dan dari keduanya Allah mengembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silatur rahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” ========================================================= “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mena’ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. ============================================================ Amma ba’du; Maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad , dan seburuk-buruk perkara dalam agama adalah yang di ada-adakan, setiap yang diada-adakan (dalam urusan agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan. (HR. Muslim, an-Nasa’i dan selain keduanya) ==================================================
  • mengutip perkataan Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad hafizhahullaahu:

    “Telah terjadi di zaman ini, sibuknya sebagian ahlus sunnah dengan sebagian lainnya dengan tajrih (saling mencela) dan tahdzir, dan implikasi dari hal ini menyebabkan terjadinya perpecahan, perselisihan dan saling mengisolir. Padahal sepantasnya bahkan seharusnya bagi mereka untuk saling mencintai dan berkasih sayang terhadap sesama mereka, dan menyatukan barisan mereka di dalam menghadapi ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu yang menyelisihi ahlus sunnah wal jama’ah. ---------------------------------------------------- “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- agar menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dari perkara-perkara yang tidak bermanfaat bagi mereka, sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “diantara kebaikan seorang muslim adalah meninggalkan hal-hal yang tidak berfaidah baginya.” Hadits hasan diriwayatkan oleh Turmudzi.” ------------------------------------------------------ “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- untuk bersikap pertengahan dan moderat, diantara sikap ghuluw (ekstrim) dan meremehkan, dan diantara sikap ifrath (berlebih-lebihan) dan tafrith (menggampangkan). Sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “Jauhilah oleh kalian sikap ghuluw di dalam agama, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa dikarenakan sikap ghuluw mereka di dalam agama.” Ini hadits shahih, dikeluarkan oleh an-Nasa’i dan selainnya.” ---------------------------------------------------- “Dan aku nasehatkan supaya mereka berhati-hati dari sikap zhalim, dikarenakan hadits Qudsi, “Wahai hamba-Ku, sesunguhnya Aku haramkan kezhaliman atas diri-Ku, maka aku jadikan pula haram atas diri kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi” diriwayatkan oleh Muslim, dan hadits Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “takutlah kalian dari kezhaliman, karena sesungguhnya kezhaliman itu adalah kegelapan di hari kiamat” diriwayatkan oleh Muslim. ------------------------------------------------------ Aku memohon kepada Allah Azza wa Jalla untuk menunjuki seluruh ummat kepada apa yang diridhai-Nya, agar mereka mendalami agama Islam (tafaqquh fid din) dan menetapi kebenaran, serta agar mereka menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dan menjauhkan dari apa-apa yang tidak bermanfaat. Sesungguhnya Ia berkuasa dan berkemampuan atasnya. Semoga Sholawat dan Salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya dan para sahabatnya. (selesai kutipan) ===========================================
  • mengutip perkataan Imam Albani rahimahullaahu

    “Wajib atas kita untuk berlemah lembut di dalam dakwah kita terhadap orang-orang yang menyelisihi kita, dan jadikan selalu firman Alloh Ta’ala berikut (sebagai pegangan) dan untuk selamanya : “Serulah mereka ke jalan Rabb-mu dengan hikmah dan nasehat yang baik, serta berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.” Dan mereka yang pertama lebih berhak untuk kita terapkan hikmah ini adalah mereka yang paling memusuhi kita di dalam dasar (mabda’) dan aqidah kita, hingga kita tidak menggabungkan antara beratnya dakwah yang haq yang Alloh memperteguh kita dengannya dengan beratnya cara (ushlub) kita berdakwah kepada Alloh Azza wa Jalla” ==================================================
  • Diriwayatkan bahwa Hasan Al-banna berkata: “Kami menginginkan terbentuknya sosok individu muslim, rumah tangga Islami, bangsa yang Islami, pemerintahan yang Islami, negara yang dipimpin oleh negara-negara Islam, menyatukan perpecahan kaum muslimin dan negara mereka yang terampas, kemudian membawa bendera jihad dan da’wah kepada Allah sehingga dunia mendapatkan ketentraman dengan ajaran-ajaran Islam.” ==================================================
  • warning

    dalam blog ini mungkin terdapat hadits dhoif, riwayat yang tidak valid, salah tulis, kutipan yg tidak sesuai syariat islam, dan berbagai kesalahan2 lain, dan belum sempat di sensor, jadi mohon maaf sebesar-besarnya

Mendulang Pelajaran Akhlak dari Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr -hafizhahullah- (seri 6)

[dikutip dari buku : “DARI MADINAH HINGGA KE RADIORODJA”

(Mendulang Pelajaran Akhlak dari Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr, hafizhahullah)

Oleh: Abu Abdil Muhsin Firanda]

AKU PUN BER-SAFAR BERSAMA BELIAU

Safar adalah Penguak Tabir Akhlak

Safar merupakan penguak tabir hakikat yang sesungguhnya dari akhlak seseorang. Safar pun penuh dengan kesulitan. Karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

السَّفَرٌ قِطْعَةٌ مِنَ العَذَابِ

“Safar adalah sepotong adzab.” (HR Al-Bukhari no 1804)

Sebaik dan secanggih apa pun sarana dan prasarana yang disiapkan, tetap saja orang yang ber-safar akan mengalami kesulitan. Oleh karena itu, orang yang ber-safar akan menemukan kesulitan dan keletihan, bahkan terkadang marabahaya. Karena itu, harus ada sikap saling membantu di antara para musafir. Jika seorang musafir memiliki akhlak yang mulia maka akan tampak kemuliaan akhlaknya saat bantuan dan pertolongannya dibutuhkan orang lain. Sebaliknya, jika seseorang berakhlak buruk maka meskipun dia berusaha menyembunyikannya di hadapan orang lain dan berusaha bergaya seakan-akan dia berakhlak mulia, saat ber-safar maka akan terbongkar akhlak buruknya itu. Terlebih lagi jika safar menempuh jarak yang jauh dan waktu yang lama.

Pernah ada seseorang yang memberikan persaksian di hadapan Umar bin Al-Khathab, maka Umar pun berkata, “Aku tidak mengenalmu, dan tidak me-mudharat-kan engkau meskipun aku tidak mengenalmu. Datangkanlah orang yang mengenalmu.”

Maka ada seseorang dari para hadirin yang berkata, “Aku mengenalnya, wahai Amirul Mukminin.”

Umar berkata, “Dengan apa engkau mengenalnya?”

Orang itu berkata, “Dengan keshalihan dan keutamaannya.”

Umar berkata, “Apakah dia adalah tetangga dekatmu, yang engkau mengetahui kondisinya di malam hari dan di siang hari serta datang dan perginya?”

“Tidak.”

“Apakah dia pernah bermuamalah denganmu berkaitan dengan dirham dan dinar, yang keduanya merupakan indikasi sikap wara’ seseorang?” tanya Umar lagi.

“Tidak.”

Umar berkata lagi:

فَرَفِيْقُكَ فِي السَّفَرِ الَّذِي يُسْتَدَلُّ بِهِ عَلَى مَكَارِمِ الأَخْلاَقِ؟

“Apakah dia pernah menemanimu dalam safar, yang safar merupakan indikasi mulianya akhlak seseorang?”

Orang itu berkata, “Tidak.”

Umar menimpali, “Jika demikian engkau tidak mengenalnya.”

(Atsar ini dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Irwaul Ghalil 8/260 no 2637)

Sungguh benar perkataan Umar, safar memang merupakan pengungkap akhlak seseorang. Betapa banyak orang yang nampaknya mulia dan berakhlak baik namun tatkala kita ber-safar bersamanya dalam waktu yang lama dan jarak perjalanan yang jauh, tatkala kita berhadapan dengan kesulitan dan butuh akan pengorbanan, maka nampak akhlaknya yang asli, akhlak yang buruk?

Sungguh kesempatan emas bagi saya untuk bisa ber-safar bersama Syaikh Abdurrozzaq di mana saya bisa menimba ilmu dari beliau, sekaligus mengetahui tabir akhlak beliau yang sesungguhnya. Dan, akhirnya saat itu pun tibalah, Senin 25 Muharam 1431 H/11 Januari 2010.

Memulai Safar

Sebelumnya, seperti biasa, Ahad sore beliau masih menyampaikan kajian di Radiorodja. Setelah menutup kajian, saya menyampaikan kepada kru Radiorodja bahwa esok hari tidak ada kajian, karena kami akan bersiap safar, mengingat jadwal keberangkatan pesawat jam 07.15 PM, langsung setelah shalat Maghrib, sementara pengajian biasanya baru berakhir jam 6 sore. Tentunya aku menyampaikan hal ini kepada kru Radiorodja tanpa seizin Syaikh.

Setelah saya menyampaikan kepada beliau hal tersebut dengan alasan persiapan safar, beliau pun berkata, “Tidak, besok tetap ada pengajian. Insya Allah waktunya cukup, dan ada orang lain yang akan mengurus permasalan boarding, jadi kita hanya tinggal berangkat.”

Keesokan harinya, saya ke rumah beliau dengan membawa barang-barang bawaan safar. Selepas shalat Asar, beliau meminta tolong salah seorang saudara beliau untuk membawa seluruh barang-barang tersebut sekalian mengurus permasalahan boarding, sementara kami tetap mengadakan pengajian. Barulah selepas itu kami beranjak menuju bandara.

Kami sampai di bandara sesudah adzan Maghrib. Syaikh bertanya, “Bukankah penerbangan international lokasinya di sana?”

“Sudah pindah ke lokasi yang lain, Syaikh,” jawab saya.

Maka, kami pun turun di lokasi yang lain untuk masuk ke ruang tunggu. Saat kami mau masuk, kami diberitahu petugas bandara bahwa itu adalah ruang tunggu penerbangan domestic. Adapun lokasi ruang tunggu penerbangan international justru benar yang ditunjukan oleh syaikh. Ada perasaan tidak enak dalam hati saya, namun Syaikh sama sekali tidak marah, apalagi menunjukkan kekesalan atas kesalahan saya tersebut.

Dari ruang tunggu penerbangan domestic menuju ruang tunggu penerbangan international, kami berjalan kaki cukup jauh. Padahal, tas koper yang dibawa Syaikh cukup berat, namun beliau tetap membawanya tanpa ada keluhan sama sekali. Setiba di ruang tunggu beliau melaksanakan shalat Maghrib berjamaah. Selepas shalat, saya mendekati beliau dan bertanya, “Syaikh, apa kita tidak menjamak shalat Maghrib dan Isya saja?”

“Tidak,” jawab beliau. “Shalat isya kita kerjakan di pesawat saja.”

Setelah itu, beliau pun shalat sunnah ba’da Maghrib dua rakaat.

Saat kami di ruang tunggu, saya bertanya, “Perlukah saya ceritakan mengenai dakwah di Indonesia, agar Syaikh punya gambaran tentang kondisi dakwah dan perpecahan yang ada di sana?”

“Aku rasa tidak perlu,” jawab beliau, “karena aku ke Indonesia bukan untuk memihak salah satu dari golongan yang ada. Aku ke Indonesia untuk silaturahmi dan mengunjungi Radiorodja. Apakah engkau suka, ya Firanda, ada seorang syaikh yang datang ke saudara-saudaramu yang berselisih denganmu lantas mereka menceritakan keburukan-keburukanmu kepada syaikh tersebut? Tentunya engkau tidak suka. Demikian juga, sebaiknya engkau tidak perlu menceritakan kondisi saudara-saudaramu yang berselisih denganmu. Toh, mereka tidak berselisih denganmu pada permasalahan akidah. Engkau dan mereka saling bersaudara di atas akidah yang satu.”

Saya pun terdiam. Perkataan Syaikh ini sungguh cerminan akhlak yang mulai. Sering saya mendengar beliau berkata, “Banyak pendapat dalam menjelaskan definisi akhlak mulia. Namun definisi terbaik dari akhlak mulia adalah sebagaimana perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِي يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْه

“Hendaknya ia memberi kepada orang lain apa yang ia suka untuk diberikan padanya.” (H.R. Muslim no 1844)

Praktik dari hadits ini, jika engkau ingin bermuamalah dengan kedua orang tuamu maka bayangkanlah bahwa engkau adalah orang tua. Anggaplah engkau adalah seorang ibu. Apa yang kau kehendaki dari anakmu untuk bermuamalah kepadamu, maka seperti itulah yang kaulakukan terhadap ibumu. Analogikanlah hal ini tatkala engkau ingin bermuamalah dengan tetangga dan sahabatmu. Jika ada sahabatmu yang bersalah kepadamu maka apa sikapmu kepadanya? Bayangkan seandainya engkau adalah sahabatmu yang bersalah itu, maka apakah yang kauharapkan? Tentunya engkau mengharapkan untuk dimaafkan. Jika demikian maka maafkanlah sahabatmu itu.”

Mengenai jawaban Syaikh atas pertanyaan saya tadi, saya sudah menduga sebelumnya. Hanya saja saya memberanikan diri bertanya demikian karena ada dorongan dari sebagian teman-teman senior agar Syaikh juga mengerti akan hal ini, sehingga bisa mengusahakan adanya persatuan.

Beberapa menit berikutnya, saya bertanya lagi, “Ya Syaikh, sebagian orang ada yang menyatakan bahwa aku adalah kadzab (pendusta). Apakah aku berhak membela diri dan membantah tuduhan tersebut?”

“Wahai Firanda, jangan kau bantah dia, bagaimanapun dia adalah saudaramu se-aqidah,” jawab beliau. “Bahkan jika ada orang yang bertanya kepadamu tentang dia, maka tunjukkan bahwa engkau tidak suka untuk membantahnya dan tidak suka membicarakan tentangnya.”

Beliau terdiam sejenak, lalu melanjutkan nasihatnya, “Engkau bersabar, dan jika engkau bersabar percayalah suatu saat dia akan melunak dan akan menjadi sahabatmu.”

Saya jadi teringat tatkala ada seorang mahasiswa program pasca sarjana meminta nasehat kepada beliau perihal kedustaan yang dituduhkan kepadanya. Mahasiwa tersebut berkata, “Ya syaikh, sesungguhnya saya telah dikatakan sebagai seorang pendusta, dajjaal, dan khobiits oleh seseorang yang bermasalah denganku. Padahal orang tersebut telah merendahkan engkau dan merendahkan syaikh Abdul Muhsin Al-’Abbad, serta menyatakan bahwa syaikh Ibnu Jibrin adalah imam kesesatan, dan lain-lainnya. Saya sudah mengajak orang itu untuk berdialog perihal tuduhan yang ia lontarkan kepadaku dengan syarat pembicaraan kita harus direkam, akan tetapi orang itu menolak dan berkata bahwa jika aku datang menemuinya untuk mengakui kesalahanku maka dia akan menerimaku di rumahnya, namun jika aku mendatanginya untuk mendebatnya maka dia akan mengusirku dan akan memboikot aku serta tidak akan memberi salam kepadaku jika bertemu denganku. Bahkan orang ini mendoakan keburukan kepadaku dengan perkataannya,

“قَاتَلَه اللهُ، وَأَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الكَذَّابِ الأَشِر وَسَيَكُونُ مِنْ مَزْبَلَةِ التَّارِيخ”

(Semoga Allah memeranginya, aku berlindung kepada Allah dari si pendusta yang sombong, dan dia akan menjadi sampah sejarah).

Demikianlah yaa syaikh perkataannya yang buruk yang dia lontarkan untukku, dan aku mendengarnya sendiri dengan kedua telingaku. Yang jadi masalah juga dia menyebarkan tuduhan tersebut di kalangan para da’i di negaraku. Apakah aku berhak untuk membela diriku dan menjelaskan keadaan yang sesungguhnya?, mengingat terlalu banyak ikhwan yang bertanya melalui telepon atau surat perihal masalah ini?.

Syaikh serta merta berkata, “Sekali-kali jangan kau bantah dia, selamanya jangan kau bantah dia!!. Apakah engkau ingin engkau yang membela dirimu sendiri?, ataukah engkau ingin Allah yang akan membelamu??!!”. Lalu syaikh menunjukan dua buah hadits yang terdapat dalam kitab Al-Adab Al-Mufrod karya Al-Imam Al-Bukhori yang menjelaskan agar seseorang sejauh mungkin menjauhkan dirinya dari perdebatan dengan saudaranya. Hadits yang pertama:

عَنْ عِيَاضِ بْنِ حِمَارٍ أَنَّهُ سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَأَيْتَ الرَّجُلَ يَشْتُمُنِي وَهُوَ أَنْقَصُ مِنِّي نَسَبًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُسْتَبَّانِ شَيْطَانَانِ يَتَهَاتَرَانِ وَيَتَكَاذَبَانِ

Dari ‘Iyaadl bin Himaar bahwasanya ia bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, bagaiamana pendapatmu jika ada seseorang mencelaku padahal nasabnya lebih rendah daripada nasabku?, maka Nabi berkata , “Dua orang yang saling mencela adalah dua syaitan yang saling mengucapkan perkataan yang batil dan buruk dan saling berdusta” (HR Ahmad 29/37 no 17489 dan Al-Bukhari dalam al-adab al-mufrod no 427 dan dishahihkan oleh syaikh Al-Albani)

Syaikh berkata, “Hadits ini menunjukan bahwa dua orang yang bertikai dan saling mencaci maka disifati oleh Nabi dengan 2 syaitan. Bahkan Nabi berkata bahwa keduanya pendusta dan saling mengucapkan perkataan yang buruk, rendah dan batil. Orang yang membantah saudaranya pasti –mau tidak mau- akan terjerumus dalam kedustaan agar bisa membuat orang-orang benci terhadap musuhnya. Atau paling tidak dia tidak akan menjelaskan kejadian yang terjadi antara dia dan musuhnya sebagaimana mestinya, akan tetapi dia menyajikan kejadian itu seakan-akan dialah yang berada di pihak yang benar, dan dengan cara pengajian yang menjadikan para pendengar akan benci terhadap musuhnya.

Selain itu dia akan terjerumus dalam peraktaan-perkataan yang rendah dan kotor serta batil”

Adapun hadits yang kedua adalah

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : اِسْتَبَّ رَجُلاَنِ عَلىَ عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَبَّ أَحَدُهُمَا وَالآخَرُ سَاكِتٌ، وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسٌ، ثُمَّ رَدَّ الآخرُ فَنَهَضَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقِيْلَ : نَهَضْتَ؟ قال : نَهَضَتِ المَلاَئِكَةُ فَنَهَضْتُ مَعَهُمْ. إِنَّ هَذَا مَا كَانَ سَاكِتًا رَدَّتِ المَلاَئِكَةُ عَلَى الَّذِي سَبَّهُ فَلَمَّا رَدَّ نَهَضَتِ المَلاَئِكَةُ

Dari Ibnu ‘Abaas berkata, “Ada dua orang yang saling mencaci di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka salah seorang diantara keduanya mencela yang lainnya, sementara yang kedua diam (tidak membalas cacian tersebut), dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk. Kemudian (akhirnya) yang keduapun membantah celaan tersebut, maka Nabipun berdiri beranjak pergi. Maka dikatakan kepada Nabi, “Kenapa engkau berdiri beranjak pergi?”, Nabipun berkata, “Para malaikat beranjak pergi maka akupun bangkit untuk beranjak pergi bersama mereka. Sesungguhnya orang yang kedua ini tatkala diam dan tidak membantah celaan orang yang pertama maka para malaikat membantah celaan orang yang pertama yang mencacinya, dan tatkala orang yang ke dua membantah maka para malaikatpun beranjak pergi”

(HR Al-Bukhari di Al-Adab Al-Mufrod no 419, dan dinyatakan lemah oleh Syaikh Albani karena ada rowi yang bernama Abdullah bin Kaysaan, yang telah disifati oleh Ibnu Hajar dengan “صَدُوْقٌ يُخْطِئُ كَثِيْرًا”)

Syaikh berkata, “Jika engkau bersabar niscaya Allah yang akan membelamu, Allah berfirman

إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا

“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman” (QS Al-Hajj : 38)

Jika engkau bersabar maka Allah pasti akan mengutus tentaranya untuk membelamu.

Perkaranya terserah engkau, apakah engkau yang akan membela dirimu sendiri, -yang artinya engkau menyerahkan urusanmu kepada makhluq yang sangat lemah yaitu engkau sendiri-, ataukah engkau menyerahkan urusanmu kepada Allah Dzat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu”

Syaikh melanjutkan perkataannya, “Sibukkan dirimu dengan berdakwah, dan jika ada yang bertanya kepadamu tentang permasalahan ini maka janganlah kau terpancing, tapi usahakan untuk mengingatkan si penanya agar sibuk dengan ilmu-ilmu yang bermanfa’at”

Beliau terdiam sejenak kemudian kembali berkata, “Kita sibuk dengan dakwah, urusan kita banyak, maka tidak perlu memikirkan hal-hal seperti itu. Akupun tidak senang kalau disampaikan kepadaku permasalahn-permasalahan seperti ini, karena aku ingin hatiku bersih. Dan jika aku bertemu dengan orang yang mejelek-jelekan aku maka aku tetap akan ramah terhadap dia, karena aku tidak mendengar pembicaraannya tentangku”.

Sayapun jadi teringat dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

لَا يُبَلِّغْنِي أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ مِنْ أَصْحَابِي شَيْئًا فَإِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَخْرُجَ إِلَيْكُمْ وَأَنَا سَلِيمُ الصَّدْرِ

Janganlah seseorang menyampaikan kepadaku tentang seseorang yang lain dari para sahabatku, sesungguhnya aku suka untuk bertemu kalian dalam keadaan hatiku selamat (bersih)

(HR Ahmad no 3759 dan dihasankan oleh syaikh Ahmad Syakir, namun didho’ifkan oleh syaikh Al-Albani)

Syaikh Utsaimin mengomentari hadits ini, “Hadits ini lemah, akan tetapi maknanya benar, karena jika seseorang disebutkan kejelekannya kepadamu maka akan ada sesuatu di hatimu terhadap orang tersebut, meskipun orang tersebut bermu’amalah dengan baik kepadamu. Akan tetapi jika engkau berinteraksi dengannya dan engkau tidak mengetahui keburukan-keburukan orang tersebut dan dan tidak ada bahayanya bermu’amalah dengan orang tersebut, maka ini merupakan perkara yang baik. Bahkan bisa jadi dia lebih menerima nasehat darimu. Hati-hati itu saling berjauhan sebelum berjauhnya tubuh. Ini adalah permasalahan yang pelik yang nampak jelas bagi orang yang berakal setelah perenungan” (Al-Qoul Al-Mufid 1/52-53)

Saya teringat saat musim fitnah tahdzir-mentahdzir di kota Madinah sekitar tahun 2002, sempat tersebar tuduhan bahwa Syaikh adalah mubtadi’. Tuduhan tersebut dilontarkan oleh sebagian syaikh yang lain yang juga berakidah yang lurus. Bahkan di antara tuduhan yang sangat buruk terhadap Syaikh, sebagaimana pernah saya baca langsung, Syaikh dikatakan terpengaruh paham sufiah, dan Syaikh sudah memengaruhi ayah beliau, Syaikh Abdul Muhsin….

Allahu akbar! Ini tentulah tuduhan yang sangat buruk. Mungkinkah Syaikh Abdurrozzaq, seorang professor di bidang akidah, terpengaruh paham sufi? Bahkan memasukkan paham tersebut ke ulama besar sekaliber Syaikh Abdul Muhsin Al-’Abbad? Apakah karena perhatian beliau terhadap akhlak dan sikap beliau yang tidak suka membicarakan kejelekan dan kesalahan orang lain lantas beliau dikatakan sufi?

Namun, subhanallah, Syaikh sama sekali tidak menggubris tuduhan-tuduhan tersebut. Seakan-akan beliau tidak tahu sama sekali, seakan-akan tuduhan tersebut tidak ada sama sekali.

Demikianlah akhlak seorang ‘alim sekelas beliau, adapun kita memang tidak sanggup untuk bersabar tatkala kita dituduh dengan tuduhan yang tidak benar. Terlebih-lebih lagi tatkala tuduhan tersebut menyangkut agama kita seperti “pendusta” dan sebagainya. Terlebih lagi jika kita dikatakan “dajjaal, khobiits”. Sakit terasa hati ini, dan inginnya membalas terhadap orang yang menuduh kita tersebut. Didukung lagi jika datang syaitan kemudian mengompori kita untuk menggubris tuduhan tersebut dan untuk membantahnya. Syaitan akan berkata, “Jika engkau tidak membanah tuduhan tersebut, maka orang-orang akan mengira bahwa tuduhan tersebut benar adanya”.

Namun sungguh benar, orang yang paling bahagia adalah orang yang paling ikhlas, yang hanya mencari penilaian dan komentar Allah -Yang Maha kuasa atas segala sesuatu- dan tidak memperdulikan komentar manusia jika Allah telah mengetahui bahwasanya ia berada di atas kebenaran. Allahul Musta’aan wa ilaihi tuklaan.

Di antara nasihat beliau yang berkaitan dengan masalah bantah membantah, adalah nasihat beliau tentang kenyataan yang terjadi di medan dakwah tatkala seseorang membantah yang lain akan tetapi tidak dengan adab yang benar. Beliau membacakan sebuah perkataan emas yang pernah dituliskan oleh ulama Al-Imam Ibnu Syaikh Al-Hazzamiyin (wafat 711 H) dalam kitab yang berjudul “رِحْلَةُ الإِمَامِ ابْنِ شَيْخِ الحَزَّامِيِيْنَ مِنَ تَصَوُّفِ الْمُنْحَرِفِ إِلَى تَصَوُّفِ أَهْلِ الْحَدِيْثِ والأَثَرِ”

Kitab tersebut menceritakan tentang perjalanan Al-Imam Ibnu Syaikh Al-Hazzamiyin dari pemahaman sufi yang menyimpang hingga mendapatkan hidayah dan mengenal pemahaman ahlus sunah.

Ibnu Syaikh Al-Hizamiyin berkata, “Ilmu ini (menjelaskan dan membantah kesesatan pihak yang lain-pen) hukumnya haram bagi orang yang berkeinginan untuk menjatuhkan harga diri manusia dalam rangka memuaskan kehendaknya yang rusak atau untuk mendukung hawa nafsu yang diikuti. Dan ilmu ini hukumnya mubah (boleh) bahkan mustahab bagi orang yang hendak menjaga dirinya agar tidak terpengaruh kesalahan-kesalahan dan terjerumus dalam ketergelinciran. Ilmu ini tidak boleh dan tidak mustahab bagi orang yang hanya ingin mencela dan mengejek-ngejek. Sehingga menjadikan pembicaran kesalahan orang lain sebagai bahan tertawaan dan candaan bukan sebagai sarana untuk mengenal kesalahan (agar tidak terjerumus) dan sebagai pelajaran. Akhirnya ia pun mengungkap tirai yang menutup kesalahan-kesalahan orang lain tanpa niat yang benar. Padahal setiap amalan tergantung niatnya, dan setiap orang memperoleh balasan sesuai dengan niatnya.” (Rihlatu Al-Imam… hal 16).

Syaikh mengomentari perkataan ini, “Betapa banyak di antara kita yang butuh akan nasihat yang sangat berharga ini.”

Sungguh benar komentar Syaikh. Kenyataan pahit yang ada di lapangan, tatkala sebagian kita mengkritik sebagian yang lain dengan kritikan yang benar namun cara kritik yang tidak benar, banyak di antara kita yang menjadikan majelis kritik sebagai majelis tawa dan humor, bahkan ejekan dan cercaan. Saudara sendiri dijadikan bahan lelucon. Apa yang harus kita lakukan terhadap sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِي يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْه

“Hendaknya ia memberi kepada orang lain apa yang ia suka untuk diberikan padanya.”

Apakah ada di antara kita yang suka menjadi bahan lelucon dan ejekan?

Bagaimana pula sikap kita dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidaklah beriman salah seorang dari kalian hingga dia menyukai (menginginkan) bagi saudaranya segala (kebaikan) yang dia sukai bagi dirinya sendiri.”

Bukankah lafazh (ما) dalam kalimat hadits ini: (مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ) adalah isim maushul? Dalam kaidah ushul fiqh disebutkan bahwa isim maushul memberikan makna yang umum (universal)?

Marilah kita renungkan penjelasan Syaikh Shalih Alu-Syaikh berikut ini:

“Hadits di atas mencakup akidah, perkataan dan perbuatan, yaitu mencakup seluruh bentuk amal shalih, baik keyakinan, perkataan, maupun perbuatan. Hendaknya seorang mukmin menginginkan agar saudaranya memiliki akidah yang benar seperti akidah yang ia yakini.

Sikap seperti ini hukumnya wajib. Hendaknya ia juga menginginkan agar saudaranya shalat sebagaimana ia shalat. Sekiranya ia senang jika saudaranya tidak berada di atas petunjuk yang benar, maka ia telah berdosa, dan telah hilang darinya keimanan sempurna yang wajib.

Jika ia senang bila ada saudaranya yang berada di atas akidah yang batil dan tidak sesuai dengan sunah, yaitu akidah bid’ah, maka telah ternafikan darinya kesempurnaan iman yang wajib.

Demikian pula halnya dengan seluruh peribadatan dan seluruh jenis sikap menjauhi perkara yang diharamkan. Jika ia senang bila dirinya terbebas dari praktik suap, tetapi ia senang jika ada saudaranya yang terjatuh dalam praktik suap, hingga dia merasa unggul, lebih shalih dari saudaranya tersebut, maka telah ternafikan kesempurnaan iman yang wajib dari dirinya. Dia telah berdosa.” (dari ceramah beliau yang berjudul Huququl Ukhuwwah)

Demikian juga pada kondisi di mana kita terzhalimi, saat kita tertuduh dengan tuduhan-tuduhan kosong tanpa bukti, maka hendaknya kita tetap mempraktikkan hal ini. Lihatlah bagaimana sikap Syaikh, meskipun beliau sering ditahdzir bahkan dituduh mubtadi’ akan tetapi beliau tidak pernah membalas. Bahkan, beliau tidak pernah menyebutkan kejelekan pihak yang mentahdzir. Beliau tidak suka jika ada yang memancing beliau untuk membantah tuduhan tersebut.

Ibnu Rajab berkata: “Hadits yang sedang kita bicarakan ini menunjukkan bahwa wajib bagi seorang mukmin untuk bergembira jika ada saudaranya yang seiman gembira. Hendaknya ia menginginkan agar saudaranya mendapatkan kebaikan, sebagaimana ia juga menginginkan kebaikan. Semua ini tidak bisa terwujud kecuali dari hati yang bersih dari sifat dendam, hasad (dengki), dan curang. Sesungguhnya sifat hasad menjadikan pemiliknya benci jika ada orang lain yang mengungguli atau menyamainya dalam kebaikan. Sebab, ia ingin menjadi spesial dan istimewa di tengah-tengah manusia dengan kelebihan-kelebihan yang dimilikinya. Tetapi konsekuensi dari iman adalah sebaliknya, yaitu ia ingin agar seluruh kaum mukminin menyamainya dalam kebaikan yang Allah berikan kepadanya, tanpa mengurangi kebaikan dirinya sedikit pun” (Jaami’ al-’Ulum wal Hikam I/306)

bersambung …

Artikel: http://www.firanda.com

%d blogger menyukai ini: