• Blog Stats

    • 41,446,916 hits
  • pacaran adalah perbuatan haram, maka janganlah berpacaran. Dan jangan mau jika diajak pacaran. Akan tetapi tempuhlah jalan yang halal jika memang benar-benar cinta dan ingin menikah. Segeralah menikah dan jangan berpacaran. ================================== dan janganlah kamu mendekati zina. sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk. [QS Al Isra':32] ==================================== JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA ====================================== Asy-Sya’bi berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah)
  • Artikel Terbaru

  • wasiat untuk seluruh umat islam

    ====================================== “Janganlah kamu saling dengki, saling membenci, saling mengintip rahasia, saling bersaing, saling mencari keburukan, saling menawar lebih tinggi untuk menipu pembeli sehingga menawar tinggi, saling memutuskan hubungan, saling bermusuhan, janganlah sebagian kalian menjual atas jualan yang lain. Jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang diperintahkan Allah. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh menganiaya, tidak boleh menelantarkannya dan tidak boleh menghinanya. ============================================= Taqwa ada di sini, taqwa ada di sini, taqwa ada di sini kata Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam sambil menunjuk dadanya. ================================================= Cukuplah merupakan kejelekan seseorang apabila menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain adalah haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. Hati-hatilah bersangka buruk, karena sesungguhnya bersangka buruk adalah omongan yang paling dusta. ==================================================== Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk kamu dan hartamu, tetapi ia melihat hati dan perbuatanmu.” (riwayat Muslim dan Bukhari). ==========================================
  • BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR

    BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- -------------------------------------------------------------------------------------------- Orang yang mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi janda dan orang miskin ibarat berjihad di jalan Allah dan ibarat orang shalat malam (HR. Bukhari) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain. (HR. Ahmad) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersodaqoh dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana. (HR. Ath-Thabrani) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sodaqoh. (HR. Al-Baihaqi) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Tiap-tiap amalan makruf (kebajikan) adalah sodaqoh. Sesungguhnya di antara amalan makruf ialah berjumpa kawan dengan wajah ceria (senyum) dan mengurangi isi embermu untuk diisikan ke mangkuk kawanmu. (HR. Ahmad) ------------------------------------------------------------------------------------------------------------
  • berbuat baiklah pada semua binatang, termasuk kepada anjing

    Kita tidak diperbolehkan menyiksa binatang dengan cara apa pun, atau membuatnya kelaparan, memukulinya, membebaninya dengan sesuatu yang ia tidak mampu, menyiksa atau membakarnnya. --------------------------------------------------- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Seorang wanita masuk neraka karena seekor kucing yang ia kurung hingga mati. Maka dari itu ia masuk neraka gara-gara kucing tersebut disebabkan dia tidak memberinya makan dan tidak pula memberinya minum di saat mengurung nya, dan dia tidak membiarkannya (melepaskannya) supaya memakan serangga di bumi.” (HR. al-Bukhari) ------------------------------------------------------- Dan ketika beliau melewati sarang semut yang telah dibakar, beliau bersabda, “Sesungguhnya tidak ada yang berhak menyiksa dengan api selain Rabb (Tuhan) pemilik api.” (HR. Abu Dawud, hadits shahih) ---------------------------------------------- “Barangsiapa yang tidak berbelas kasih niscaya tidak akan dibelaskasihi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) ------------------------------------------------- “Kasihanilah siapa saja yang ada di bumi ini, niscaya kalian akan dikasihani oleh yang ada di langit.” (HR. at-Tirmidzi) -------------------------------------------------- Dibolehkan membunuh hewan-hewan yang membahayakan atau mengganggu seperti anjing buas, serigala, ular, kalajengking, tikus dan lain-lain karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Ada lima macam hewan fasik (buruk) yang boleh dibunuh di waktu halal (tidak ihram) dan di waktu ihram, yaitu ular, burung gagak yang putih punggung dan perutnya, tikus, anjing buas, dan rajawali.” (HR. Muslim). Juga terdapat hadits shahih yang membolehkan untuk membunuh kalajengking. ================================================
  • JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA

    ====================================== ‘Amr bin Syarahil Asy-Sya’bi rahimahullahu berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah, 2/636. Dihasankan oleh Al-Albani dalam At-Tahrim, hal. 148) ----------------------------------------------------------------------------- Ibnu Abdil Barr rahimahullahu berkata: “Termasuk hasil usaha yang disepakati keharamannya adalah riba, upah para pelacur, sogokan (suap), mengambil upah atas meratapi (mayit), nyanyian, perdukunan, mengaku mengetahui perkara gaib dan berita langit, hasil seruling dan segala permainan batil.” (Al-Kafi hal. 191) ---------------------------------------------------------------------- Ath-Thabari rahimahullahu berkata: “Telah sepakat para ulama di berbagai negeri tentang dibenci dan terlarangnya nyanyian.” (Tafsir Al-Qurthubi, 14/56) ------------------------------------------------------------------- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “Mazhab empat imam menyatakan bahwa alat-alat musik semuanya haram.” Lalu beliau menyebutkan hadits riwayat Al-Bukhari rahimahullahu . (Majmu’ Fatawa, 11/576) --------------------------------------------------------------- ------------------------------------------
  • wasiat bagi para pemuda

    ====================================== ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Barangsiapa di antara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya mereka adalah ummat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, dan paling lurus petunjuknya, serta paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya, karena mereka berada di jalan yang lurus.” [Dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Baar dalam kitabnya Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih II/947 no. 1810, tahqiq Abul Asybal Samir az-Zuhairy] ======================================
  • wasiat Imam al-Auza’i

    ====================================== Imam al-Auza’i rahimahullah (wafat th. 157 H) mengatakan: “Bersabarlah dirimu di atas Sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para Shahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan Salafush Shalih, karena akan mencukupi kamu apa saja yang mencukupi mereka.” [Syarh Ushul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah 1/174 no. 315] --------------------------------------------------------------- Beliau rahimahullah juga berkata: “Hendaklah kamu berpegang kepada atsar Salafush Shalih meskipun orang-orang menolaknya dan jauhkanlah diri kamu dari pendapat orang meskipun ia hiasi pendapatnya dengan perkataannya yang indah.” [Imam al-Aajury dalam as-Syari’ah I/445 no. 127, di-shahih-kan oleh al-Albany dalam Mukhtashar al-‘Uluw lil Imam adz-Dzahaby hal. 138, Siyar A’laam an-Nubalaa’ VII/120] =================================================
  • Mengutip perkataan Syaikh Bin Baz rahimahullaahu

    “Zaman ini adalah zaman kelembutan, kesabaran dan hikmah, bukanlah zaman kekerasan (kebengisan). Mayoritas manusia saat ini dalam keadaan jahil (bodoh), lalai dan lebih mementingkan duniawiyah. Maka haruslah sabar dan lemah lembut sampai dakwah ini tersampaikan dan sampai mereka mengetahuinya. Kami mohon petunjuk kepada Alloh untuk semuanya.” (Majmu’ Fatawa Samahatul Imam Ibnu Bazz (Juz VIII, hal 376) dan (Juz X, hal. 91) =================================================
  • jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara

    ====================================== Segala puji hanyalah milik Alloh yang telah mempertautkan hati kaum mukminin dan menganjurkan mereka supaya bersatu padu dan saling berhimpun serta memperingatkan dari perpecahan dan perselisihan. -------------------------------------------------------- Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq untuk disembah melainkan hanyalah Alloh semata yang tidak memiliki sekutu. Dialah yang mensyariatkan dan memudahkan, dan Dia terhadap kaum mukminin adalah sangat penyantun. ------------------------------------------------------ Saya juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang diperintahkan dengan kemudahan dan berita gembira. ----------------------------------------------------- Beliau bersabda : Permudahlah dan janganlah kamu persulit, berikanlah kabar gembira dan janganlah membuat orang lari (dari kebenaran). ------------------------------------------------------ Permisalan kaum mukminin satu dengan lainnya dalam hal kasih sayang, tolong menolong dan kecintaan, bagaikan tubuh yang satu, jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan merasa demam atau terjaga” --------------------------------------------------- Tidak ragu lagi, bahwa kewajiban Ahlus Sunnah di setiap zaman dan tempat adalah saling bersatu dan menyayangi di antara mereka serta saling bekerja sama di dalam kebajikan dan ketakwaan… ==================================================---------------
  • KHUTBATUL HAJAH

    ====================================== Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, dan meminta ampun kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami, dan dari keburukan-keburukan perbuatan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah saja, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. ================================================ “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” ================================================== “Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan darinya Allah menciptakan isterinya; dan dari keduanya Allah mengembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silatur rahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” ========================================================= “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mena’ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. ============================================================ Amma ba’du; Maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad , dan seburuk-buruk perkara dalam agama adalah yang di ada-adakan, setiap yang diada-adakan (dalam urusan agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan. (HR. Muslim, an-Nasa’i dan selain keduanya) ==================================================
  • mengutip perkataan Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad hafizhahullaahu:

    “Telah terjadi di zaman ini, sibuknya sebagian ahlus sunnah dengan sebagian lainnya dengan tajrih (saling mencela) dan tahdzir, dan implikasi dari hal ini menyebabkan terjadinya perpecahan, perselisihan dan saling mengisolir. Padahal sepantasnya bahkan seharusnya bagi mereka untuk saling mencintai dan berkasih sayang terhadap sesama mereka, dan menyatukan barisan mereka di dalam menghadapi ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu yang menyelisihi ahlus sunnah wal jama’ah. ---------------------------------------------------- “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- agar menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dari perkara-perkara yang tidak bermanfaat bagi mereka, sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “diantara kebaikan seorang muslim adalah meninggalkan hal-hal yang tidak berfaidah baginya.” Hadits hasan diriwayatkan oleh Turmudzi.” ------------------------------------------------------ “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- untuk bersikap pertengahan dan moderat, diantara sikap ghuluw (ekstrim) dan meremehkan, dan diantara sikap ifrath (berlebih-lebihan) dan tafrith (menggampangkan). Sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “Jauhilah oleh kalian sikap ghuluw di dalam agama, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa dikarenakan sikap ghuluw mereka di dalam agama.” Ini hadits shahih, dikeluarkan oleh an-Nasa’i dan selainnya.” ---------------------------------------------------- “Dan aku nasehatkan supaya mereka berhati-hati dari sikap zhalim, dikarenakan hadits Qudsi, “Wahai hamba-Ku, sesunguhnya Aku haramkan kezhaliman atas diri-Ku, maka aku jadikan pula haram atas diri kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi” diriwayatkan oleh Muslim, dan hadits Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “takutlah kalian dari kezhaliman, karena sesungguhnya kezhaliman itu adalah kegelapan di hari kiamat” diriwayatkan oleh Muslim. ------------------------------------------------------ Aku memohon kepada Allah Azza wa Jalla untuk menunjuki seluruh ummat kepada apa yang diridhai-Nya, agar mereka mendalami agama Islam (tafaqquh fid din) dan menetapi kebenaran, serta agar mereka menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dan menjauhkan dari apa-apa yang tidak bermanfaat. Sesungguhnya Ia berkuasa dan berkemampuan atasnya. Semoga Sholawat dan Salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya dan para sahabatnya. (selesai kutipan) ===========================================
  • mengutip perkataan Imam Albani rahimahullaahu

    “Wajib atas kita untuk berlemah lembut di dalam dakwah kita terhadap orang-orang yang menyelisihi kita, dan jadikan selalu firman Alloh Ta’ala berikut (sebagai pegangan) dan untuk selamanya : “Serulah mereka ke jalan Rabb-mu dengan hikmah dan nasehat yang baik, serta berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.” Dan mereka yang pertama lebih berhak untuk kita terapkan hikmah ini adalah mereka yang paling memusuhi kita di dalam dasar (mabda’) dan aqidah kita, hingga kita tidak menggabungkan antara beratnya dakwah yang haq yang Alloh memperteguh kita dengannya dengan beratnya cara (ushlub) kita berdakwah kepada Alloh Azza wa Jalla” ==================================================
  • Diriwayatkan bahwa Hasan Al-banna berkata: “Kami menginginkan terbentuknya sosok individu muslim, rumah tangga Islami, bangsa yang Islami, pemerintahan yang Islami, negara yang dipimpin oleh negara-negara Islam, menyatukan perpecahan kaum muslimin dan negara mereka yang terampas, kemudian membawa bendera jihad dan da’wah kepada Allah sehingga dunia mendapatkan ketentraman dengan ajaran-ajaran Islam.” ==================================================
  • warning

    dalam blog ini mungkin terdapat hadits dhoif, riwayat yang tidak valid, salah tulis, kutipan yg tidak sesuai syariat islam, dan berbagai kesalahan2 lain, dan belum sempat di sensor, jadi mohon maaf sebesar-besarnya

Mendulang Pelajaran Akhlak dari Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr -hafizhahullah- (seri 7)

[dikutip dari buku : “DARI MADINAH HINGGA KE RADIORODJA”

(Mendulang Pelajaran Akhlak dari Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr, hafizhahullah)

Oleh: Abu Abdil Muhsin Firanda]

Naik Saudi Airlines

Tidak berapa lama kemudian, mulailah para penumpang menaiki pesawat maskapai penerbangan Saudi Airlines. Aku ingatkan beliau bahwasanya beliau akan duduk bagian depan pesawat karena beliau di kelas eksekutif, adapun aku duduknya di belakang, karena berada di kelas ekonomi.

Setelah kami di atas pesawat kebetulan aku duduk disamping kiri dua orang TKW yang pulang dari Arab Saudi ke Indonesia. Jadi posisiku no 3 dari jendela pesawat. Namun alhamdulillah setelah pesawat berangkat ada 4 kursi kosong di sebelah kiriku, akhirnya akupun pindah kursi duduk, dan 4 kursi yang kosong itu bisa dijadikan tempat tidur, lumayaan…, karena aku termasuk orang yang sulit untuk tidur di pesawat apalagi dalam kondisi duduk.

Pesawat lepas landas sekitar pukul 7.30 malam. Tatkala jam 11 malam kondisiku antara tidur dan tidak. Karena memang kebiasaanku sulit untuk tidur di atas pesawat. Namun akhirnya akupun tertidur. Tiba-tiba sekitar pukul 12 malam ada yang membangunkan aku, kubuka kedua mataku, ternyata syaikh yang telah membangunkan aku. Beliau berkata, “Firanda, kapan adzan subuh?”. Pertanyaan ini wajar mengingat waktu Jakarta lebih maju 4 jam dari waktu Arab Saudi. Aku katakan, “Kira-kira 3 jam lagi ya syaikh”. Beliau berkata, “Hati-hati, jangan sampai kita terlambat sholat, kalau sudah tiba waktu sholat kamu ke bagian depan pesawat beritahu aku”.

Setelah itu aku semakin gelisah, padahal ngantuk yang sangat berat sedang menyerang mataku. Tatkala tiba jam tiga mulailah pandanganku aku konsentrasikan ke arah luar jendela pesawat, siapa tahu terlihat cahaya putih tanda telah terbit fajar shodiq. Akan tetapi karena kondisiku yang agak jauh dari jendela membuat aku selalu ragu. Aku tidak bisa melihat dekat ke jendela, karena dihalangi oleh dua kursi yang ditempati oleh dua orang TKW. Namun dari jauh nampak langit masih kelihatan gelap. Akhirnya tatkala pukul 3.45 subuh tampak cahaya di langit, akupun segera menuju ke bagian depan pesawat untuk memberitahu syaikh, ternyata aku mendapati beliau sudah selesai sholat subuh. Rupanya sudah masuk waktu sholat subuh sejak jam 3 tadi, hanya saja aku yang tidak bisa melihat langit dengan jelas. Akhirnya syaikh menyuruhku untuk segera berwudhu, kemudian menyuruhku untuk sholat sunnah fajar. Setelah itu akupun sholat subuh berjama’ah bersama salah seorang penumpang yang lain.

Lihatlah bagaimana perhatian syaikh untuk bisa sholat subuh tepat pada waktunya dan di awal waktu, meskipun beliau sedang berada di atas pesawat. Setelah sholat akupun kembali ke kursiku di bagian belakang pesawat

Pesawat mendarat di tanah air tercinta

Beberapa jam kemudian akhirnya pesawatpun mendarat di bumi tercinta Indonesia di Bandara Sukarno Hatta, Cengkareng, Jakarta, yaitu pada hari selasa, tepatnya sekitar pukul 12 siang WIB.

Ketika turun dari pesawat aku melihat syaikh disapa oleh salah seorang penumpang pesawat yang juga bersafar dari Arab Saudi. Orangnya agak tua dan naik kursi roda. Hatiku bertanya-tanya siapa gerangan orang ini, sepertinya kenal baik sama syaikh. Syaikh menjelaskan kepadaku, orang tersebut rupanya adalah orang kaya dan memiliki banyak kantor untuk mendatangkan tenaga kerja dari Indonesia ke Arab Saudi. Dan syaikh banyak ngobrol bersama dia, bahkan syaikh sempat menghadiahkan beberapa tulisan syaikh kepada orang tersebut tatkala di pesawat, diantaranya kitab beliau yang berjudul “Kunci-kunci kebaikan”, dan juga transkrip ceramah beliau yang berjudul “Sebab-sebab kebahagiaan”. Kata syaikh, “Yaa semoga bermanfaat bagi orang ini”. Hatiku bergumam, “Subhaanallah, syaikh… syaikh…, sempat-sempatnya berdakwah di pesawat!!?”

Rencananya kami akan langsung melanjutkan safar menuju ke pulau Lombok pada pukul 5 sore, akan tetapi nampak keletihan pada wajah beliau. Akhirnya kru radiorodja menawarkan kepada beliau untuk beristirahat semalam di Jakarta untuk perawatan medis tradisional. Tadinya beliau masih nekat untuk tetap hari itu juga berangkat ke Lombok. Namun memang kondisi beliau yang agak payah, karena memang beliau baru saja bersafar ke Kuwait untuk mengisi pengajian dan beliau tiba di kota Madinah 2 hari sebelum keberangkatan ke Jakarta, terlebih lagi batuk yang beliau derita sudah hampir sebulan belum juga hilang. Akhirnya beliaupun memilih untuk beristirahat di Jakarta.

Kamipun beranjak dari bandara menuju hotel milik salah seorang ikhwah. Beliaupun beristirahat di hotel tersebut. Tatkala tiba di hotel kamipun makan siang ditemani oleh si pemilik hotel yang juga sering mendengarkan ceramah syaikh di radiorodja. Syaikh menyuruh agar pemilik hotel tersebut duduk di hadapan beliau, adapun aku duduk disamping pemilik hotel tersebut untuk menterjemahkan pembicaraan antara syaikh dengan pemilik hotel itu.

Pandanga syaikh tertuju pada beberapa jenis makanan yang aneh –yang tentunya tidak ada di Arab Saudi- maka beliau sempat bertanya kepadaku apa sih makanan tersebut?. Sayapun menjelaskan setiap makanan yang ditanyakan oleh beliau. Hingga akhirnya beliau menunjuk pada sebuah makanan yang kecil-kecil yang berwarna coklat yang terletak di atas sebuah piring kecil, maka aku katakan itu adalah kue. Beliaupun mencoba kue tersebut, ternyata makanan itu bukan kue akan tetapi ayam goreng yang dipotong kecil-kecil. Maka beliaupun berkata kepada para hadirin sambil bercanda, “Firanda ini kalau nerjemahin pengajian bener, akan tetapi kalau nerjemahkan makanan salah nerjemah”. Para hadirin yang ikut makan bersama kamipun tertawa.

Tatkala kami sedang makan syaikh juga mengambil makanan lalu beliau sodorkan ke salah seorang penyiar di radiorojda seraya berkatat, “Si fulan ini harus makan lebih banyak karena badannya kurus”. Para hadirin kembali tertawa karena memang si penyiar radiorodja tersebut bertubuh kurus. Demikianlah syaikh terkadang bercanda untuk menyenangkan hati orang-orang yang di sekitar beliau.

Usai makan siang syaikhpun diantar oleh pemilik hotel ke kamar yang telah di sediakan untuk beliau. Tatkala sampai di hotel beliaupun memberi hadiah kepada pemiliki hotel tersebut sabuah buku karya beliau yang berjudul “Kunci-kunci kebaikan”, dan tidak lupa beliau menulis di depan buku tersebut, “Hadiah untuk ustadz fulan dari Abdurrozzaq Al-Badr”. Subhaanallah syaikh Abdurrozaq menulis demikian untuk menyenangkan hati pemilik hotel tersebut. Beliau menuliskan namanya kemudian menyebut orang tersebut dengan didahului panggilan ustadz…, semuanya demi menyenangkan hati orang tersebut. Padahal aku tidak pernah melihat beliau melakukan tersebut kepada para penuntut ilmu. Jika beliau memberi hadiah buku kepada mereka maka tanpa menulis sesuatupun di buku tersebut. Penulisan tersebut kelihatannya sepele dan tidak membutuhkan tenaga dan waktu, tidak sampai satu menit, akan tetapi batapa besar rasa gembira yang terkesan di hati pemilik hotel tersebut.

Pijit refleksi?!!

Akhirnya syaihkpun beristirahat sebentar, dan selepas sholat isya maka datanglah seorang pakar herbal yang siap untuk mengobati dan memijit syaikh. Malam itu syaikh dipijit refleksi oleh orang tersebut. Kira-kira selama 1 jam setengah orang tersebut memijit syaikh, terkadang memijit bagian tubuh syaikh yang menimbulkan rasa kesakitan. Aku mengetahui dari mimik wajah syaikh yang menunjukan rasa kesakitan yang amat sangat, akan tetapi beliau bersabar. Aku bertanya kepada beliau, “Sakit ya syaikh?”, beliau menjawab, “Iya, akan tetapi aku sabar insyaa Allah”. Tidak sekalipun ada suara yang timbul dari beliau yang menandakan rasa sakit. Beliaupun diharuskan untuk meminum jamu yang telah diolah oleh orang tersebut, dan rasanya tentu tidak enak, akan tetapi tetap diminum oleh beliau.

Rupanya syaikh cocok dengan tukang pijit tersebut, maka syaikh berkata kepadaku, “Apakah bisa akh fulan (si ahli herbal) ini ikut safar bersama kita ke Lombok?, kalau tidak memberatkan panitia?”. Alhamdulillah panitia menyanggupi hal tersebut.

Keesokan harinya, kamipun berangkat menuju bandara untuk berangkat menuju pulau Lombok. Kami tiba di Bandara Jakarta lebih awal. Tatkala tiba di bandara, beliau minta untuk diantar di musholla, aku bersama ahli herbal tersebut menemani syaikh ke musholla. Sesampainya kami di musholla syaikh ke kamar kecil. Kamipun menunggu sambil ngobrol. Si ahli herbal sempat bertanya kepadaku beberapa pertanyaan. Diantaranya ia bertanya, “Apakah ustadz Firanda mengenal banyak syaikh, kalau iya siapa saja?”. Aku tatkala itu dengan spontan menjawab, “Aku kenal banyak syaikh, akan tetapi tidak seorangpun dari mereka yang mengenalku. Bahkan syaikh Ibrohim Ar-Ruhaili yang pernah mengajarku selama setahun kalau ketemu aku dia pasti ingat bahwa aku pernah menjadi murid beliau, akan tetapi beliau tidak tahu namaku, karena memang beliau tidak mengenalku. Apalagi syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili lebih-lebih lagi tidak mengenalku sama sekali. Yang dekat dengan syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili adalah Ustadz Abdullah Zain dan Ustad Anas Burhanuddin, dan yang dekat dengan syaikh Sulaiman adalah Ustadz Muhammad Arifin. Adapun yang aku kenal hanyalah syaikh Abdurrozzaq, itupun karena beliau pernah mengajarku selama dua tahun, dan sekarang menjadi dosen pembimbingku dalam menulis tesis selama tiga tahun. Kalau tidak tentunya beliau tidak akan mengenalku”.

Ahli herbal ini agak sedikit terperanjat tatkala mendengar tuturanku ini. Kemudian dia berkomentar, “Ustad Firanda kok jawabannya lain, ada sebagian ustadz kalau ditanya ngaku-ngaku dekat dengan para masyaayikh”. Akupun terdiam…”

Ketahuilah para pembaca yang budiman, bukanlah aku menceritakan hal ini untuk menunjukan bahwa aku seorang yang tawadhu –tidak demi Allah-, akan tetapi memang kenyataannya demikian, tidak seorang syaikhpun yang mengenalku.

Bahkan betapa sering aku malu kalau ditanya oleh mahasiswa yang lain, “Siapakah dosen pembimbingmu dalam menulis tesis”, maka aku katakan, “Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr”. Kebanyakan mahasiswa yang mendengar jawaban ini spontan berkomentar, “Ni’mal musyrif”, yang artinya “Sebaik-baik dosen pembimbing adalah syaikh Abdurrozzaq”. Dan aku jika mendengar komentar ini selalu juga aku langsung menimpali dengan perkataanku, “Wa bi’sat tholib”, yang artinya, “Dan seburuk-buruknya murid yang dia bimbing adalah aku”. Komentar ini selalu aku lontarkan karena memang aku tidak merasa pantas dikatakan sebagai murid beliau. Sampai akhirnya ada seorang ustadz di Jedah yang menegurku, dengan perkataannya, “Ya Firanda, janganlah engkau berkata demikian, ana kawatir perkataanmu itu didoakan malaikat”, setelah itu aku tidak pernah berkomentar demikian.

Bahkan tatkala ada seorang teman mahasiswa yang berkata, “Kalau mau menghubungi syaikh Abdurrozzaq hubungi saja Firanda karena dia dekat dengan syaikh”, maka akupun agak mangkel mendengar hal itu. Sesungguhnya rasa malu itu timbul tatkala orang-orang pada tahu bahwa aku adalah murid beliau, karena yang ada dibenakku seharusnya seorang murid bisa mencerminkan akhlak dan juga ilmu sang guru. Inilah yang menurutku sangat berat.

Oleh karena itu aku tahu benar bahwa teman-teman mahasiswa di Madinah yang berada di jenjang S2 dan S3 yang bertahun-tahun belajar di majelis Syaikh Abdul Muhsin Al-’Abbad, -ada yang lima tahun, bahkan ada yang lebih dari 10 tahun- tidak seorangpun dari mereka tatkala pulang ke Indonesia lantas membuat iklan pengajian “Hadirilah kajian yang akan disampaikan oleh ustadz Fulan murid syaikh Abdul Muhsin Al-’Abbad”. Karena itu aku tidak pernah mendapatkan di Arab Saudi satu pengumuman pengajianpun yang menyebutkan “Hadirilah pengajian syaikh fulan nuridnya syaih Utsaimin….”, “….fulan muridnya syaikh Bin Baaz..”

Akan tetapi aku memaklumi memang sebagian kita ada yang mencantumkan dalam pengunguman bahwasanya ia adalah murid syaikh fulan dan tujuannya tidak lain adalah demi kemaslahatan masyarakat, karena terkadang masyarakat mungkin tidak tahu bahwasanya ia adalah orang yang telah banyak menuntut ilmu. Atau agar orang-orang awam yang melihat pengunguman tersebut tertarik untuk menghadiri pengajiannya

Tidak lama kemudian syaikh keluar dari kamar kecil hendak berwudhu, tatkala itu beliau memakai sepatu, maka tatkala hendak ke tempat wudhu beliau berhenti sebentar, lantas bertanya kepada kami berdua yang sedang duduk ngobrol, “Firanda, apa tidak masalah aku ke tempat wudhu dengan mengenakan sepatu?”, dengan spontan aku menjawab, “Tidak jadi masalah syaikh, silahkan”. Rupanya bagi syaikh itu sebuah masalah, lalu beliau berkata, “Tolong tanyakan ke petugas kebersihan”. Akupun bertanya atau bahasa yang lebih tepatnya “meminta idzin” kepada petugas kebersihan tersebut, maka dengan serta merta ia mempersilahkan syaikh untuk tetap menggunakan sepatu beliau. Lalu syaikhpun memasuki mushola dan sholat sunnah, sementara aku dan ahli herbal tersebut tetap ngobrol menunggu tibanya jadwal keberangkatan pesawat. Ahli herbal tersebut agak terkagum dengan sikap syaikh tersebut seraya berkata, “Subhaanallah begitu saja kok syaikh minta idzin segala, kalau kita mungkin langsung nylonong aja makai sepatu ke tempat wudhu…!!??”.

Akhirnya kamipun naik ke pesawat, dan Alhamdulillah panitia menyediakan tiket kelas eksekutif, akhirnya aku dan syaikh duduk di bagian paling depan pesawat Garuda.

Setelah pesawat lepas landas, syaikh sempat cerita sebentar kepadaku. Beliau berkata, “Waktu aku balik dari Kuwait menuju Riyadh ternyata pilot pesawat salah seorang saudara dari seorang ikhwah di Kuwait yang ikut menghadiri pengajianku. Lantas sang pilot memberi salam kepadaku dan mempersilahkan aku untuk duduk bersama beliau di kop pilot. Lantas dia menceritakan kepadaku cara mengemudi pesawat. Sungguh menajkubkan tatkala kita duduk di depan, kita melihat dunia yang begitu luas dan indah. Dan tatkala akan mendarat pilot tersebut mengatakan kepadaku, “Wahai syaikh sekarang kita akan mendarat, dan ada dua cara pendaratan, dengan cara otomatis atau cara manual kita yang menggerakan, antum pilih yang mana?”. Aku berkata, “Aku pilih yang manual”, akhirnya kamipun mendarat”

Demikianlah, terkadang syaikh bercerita kepadaku tentang kejadian-kejadian yang menakjubkan dan berkesan yang pernah dilewatinya.

Kemudian setelah bercerita beliau berkata, “Firanda aku ingin tidur”, lantas beliaupun menjulurkan kaki beliau dan tidur. Beberapa kali pramugari mencoba membangunkan beliau dan menawarkan makanan atau minuman atau Koran dan majalah. Aku hanya mengatakan kepada pramugari tersebut, “Beliau hanya ingin tidur”.

Di pulau Lombok yang indah

Akhirnya pesawatpun mendarat di pulau yang sangat indah pulau Lombok pada hari rabu sekitar pukul 1.30 siang hari waktu Lombok. Kamipun dijemput oleh beberapa ikhwan. Syaikh memang terkagum-kagum dengan keindahan pulau ini. Waktu sudah menunjukan sudah lewat waktu sholat dhuhur. Kamipun singgah di rumah salah seorang ikhwan di Lombok, dan ia menjamu kami dan juga ustadz-ustadz lokal yang ada di Lombok untuk makan bersama. Mereka sempat bertanya kepadaku, “Apa sih yang disukai syaikh?”, maka akupun mengabarkan kepada mereka bahwa syaikh sangat suka sekali dengan buah durian. Akhirnya merekapun menghidangkan buah durian buat beliau. Ternyata syaikh telah mengenal buah durian ketika beliau bersafar ke Thailand.

Setelah makan siang kamipun duduk-duduk dan berbincang-bincang di serambi rumah ikhwan tersebut. Syaikh masih terus memperhatikan keindahan pulau Lombok, bahkan beliau kagum melihat pohon-pohon yang indah yang ada di rumah ikhwan tersebut. Sempat beliau bertanya, “Pohon-pohon ini apakah berbuah atau hanya sebagai hiasan saja?”. Merekapun serta merta menjawab, “Hanya untuk hiasan”. Mereka juga berkata, “Yaa Syaikh, sayang waktu terbatas, kalau tidak, kita ingin mengajak antum berjalan-jalan ke pantai pulau Lombok yang terkenal sangat indah. Syaikh berkata, “Tidak perlu, bertemu dengan para ikhwan di pulau Lombok sudah merupakan kebahagiaan tersendiri dan keindahan”.

Setelah itu kamipun berangkat menuju hotel, namun Alhamdulillah masih ada waktu kira-kira satu jam untuk berjalan-jalan melihat keindahan pulau Lombok. Setelah itu kita langsung berangkat dari hotel menuju tempat pengajian yang jaraknya kira-kira 2 jam perjalanan dari hotel tersebut. Beliau tidak sempat istirahat di hotel. Di hotel hanya meletakkan barang kemudian kita langsung melanjutkan perjalanan. Perjalanan membutuhkan waktu sekitar 2 jam.

Di tengah perjalanan, salah seorang ustadz lokal di Lombok ingin membacakan matan al-Aqidah at-Thohawiyah. Syaikh mengizinkan hal itu. Maka selama di perjalanan ustadz tersebut membacakan matannya dan syaikh menyarah (menjelaskan) makna matan tersebut. Dan sang ustadz merekam penjelasan syaikh tersebut. Hingga akhirnya tatkala mau masuk waktu magrib dan syaikh masih terus melanjutkan penjelasannya di atas mobil akupun menegur ustadz tersebut dengan bahasa Indonesia, “Afwan ustadz, syaikh belum zikir petang, sekarang sudah mau masuk waktu maghrib, ana sarankan antum lanjutkan nanti saja setelah beliau mengisi pengajian”. Maka ustadz tersebutpun berhenti dari membaca matan aqidah tersebut. Serta merta syaikh langsung berdzikir memanfaatkan waktu yang tersisa untuk dzikir petang hari. Beliau terus berdzikir hingga akhirnya kamipun masuk di areal mesjid tempat beliau akan mengisi pengajian.

Ribuan orang telah berkumpul menantikan keadatangan beliau, mulai dari anak-anak hingga orang-orang tua. Beliau kemudian mengeluarkan korma yang beliau bawa dari Madinah kemudian beliau bagi-bagikan kepada anak-anak kecil. Beliau menjabat tangan anak-anak tersebut, yang sangat kelihatan dari pakaian mereka bahwa mereka adalah anak-anak orang miskin. Bahkan ada seorang yang sudah sangat tua yang ingin berjabat tangan dengan beliau, maka bukan hanya tangan beliau yang beliau ulur untuk menyambut salaman orang tua tersebut bahkan beliau memeluk orang tua tersebut. Pemandangan yang sangat mengharukan hingga akupun tak bisa menahan air mataku melihat kelembutan syaikh terhadap anak-anak dan orangtua tersebut. Sungguh sikap tawadhu yang semestinya setiap kita mencontohinya.

Suatu adab yang tentunya setiap kita –apalagi kita orang Indonesia- mengetahuinya, yaitu yang muda harus menghormati yang tua. Bukankah Nabi pernah bersabda

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَقِّرْ كَبِيرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا

Bukan dari kami orang yang tidak menghormati orang tua dan tidak menyayangi anak kecil (HR Ahmad 11/529 no 6937 dengan sanad yang shahih)

Namun demikianlah terkadang syaitan memperdaya sebagian kita sehingga tatkala jika kita telah memiliki ilmu agama yang mumpuni sementara dihadapan kita ada orang tua atau yang lebih berumur dari kita namun tidak memiliki ilmu atau kurang ilmu agamanya akhirnya timbul perasaan meremehkan, atau kurang rasa hormat kita kepadanya. Seakan-akan yang harus dihormati hanyalah yang berilmu saja. Bukankah lebih tuanya umur seseorang juga merupakan sebab penghormatan sebagaimana hadits di atas?. Lihatlah bagaimana sikap syaikh yang beliau adalah seorang ulama bahkan telah mencapai gelar profesor sejak dulu, akan tetapi tetap beliau menunjukan rasa hormatnya kepada orang yang lebih tua. Bahkan orangtua yang dipeluk beliau sama sekali tidak dikenal oleh beliau, entah orang kaya atau orang miskin, entah berilmu atau tidak

Syaikhpun mengimami sholat magrib, dan ini diluar kebiasaan beliau, karena selama saya bersafar bersama beliau baru kali inilah beliau mau menjadi imam tatkala sholat di mesjid. Kali ke dua tatkala beliau khutbah jum’at di masjid Agung di Surabaya, maka tentunya beliaulah yang menjadi imam karena beliaulah yang berkhutbah. Adapun di masjid-masjid lain, baik di Surabaya maupun di Jakarta beliau selalu menolak tatkala diminta untuk menjadi imam. Ini merupakan sikap tawadhu beliau, karena setiap masjid tentunya ada imam rawatibnya, dan syaikh sama sekali tidak mau mengambil alih keimaman yang telah diemban oleh sang imam rawatib.

Selepas sholat magrib syaikhpun menyampaikan ceramah beliau, dan aku menerjemahkan ceramah beliau tersebut. Meskipun aku agak grogi dan sempat salah menerjemahkan karena terlalu banyak ayat yang disebutkan oleh syaikh.

Setelah menyampaikan materi pengajian dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang masuk beliau balik bertanya kepada para hadirin tentang materi yang telah disampaikan. Sebelum beliau bertanya beliau berkata, “Ada tiga peserta yang selama aku menyampaikan materi mereka selalu mencatat materi tersebut. Meskipun banyak yang mencatat tapi aku memilih tiga orang ini”. Lalu syaikh menunjuk tiga orang tersebut, ternyata masih sangat kecil-kecil seumuran anak kelas 3 atau 4 SD. Lalu syaikh memberikan hadiah masing-masing anak 100 real. Kalau ukuran uang kita senilai sekitar 250 ribu rupiah. Setelah itu syaikh memberikan pertanyaan dan yang bisa menjawab diberi hadiah. Bahkan ada salah seorang hadirin yang diberi hadiah 200 real (500 ribu rupiah) karena jawabannya yang lengkap. Demikianlah beliau, begitu memperhatikan sunnah “memasukkan rasa gembira di hati sesama muslim”.

Setelah pengajian berakhir kamipun makan malam di rumah salah seorang ikhwah dekat lokasi pengajian setelah itu kamipun kembali beranjak menuju hotel dengan menempuh perjalanan sekitar 2 jam. Syaikh tiba di hotel sekitar pukul 11.30 malam, sudah agak larut malam. Adapun jadwal keberangkatan kami ke Surabaya adalah jam 7 pagi, sehingga syaikh harus dijemput dari hotel jam 6 pagi untuk menuju ke bandara. Sebelum syaikh masuk ke kamar hotelnya untuk beristirahat beliau sempat bertanya untuk menegaskan kapan beliau dijemput. Beliau berkata, “Besok aku dijemput jam berapa untuk berangkat ke bandara?”. Maka panitiapun mengabarkan kepada beliau bahwa beliau akan dijemput pukul 6.

Tatkala tiba pagi hari sebagian ikhwah yang ditugaskan untuk menjemput beliau di hotel sudah berada di hotel, hanya saja mereka datang agak lebih pagi ke hotel yaitu sebelum pukul 6 pagi. Sesampainya mereka tiba di sana mereka pun mengetuk-ngetuk pintu kamar syaikh, akan tetapi mereka tidak mendapatkan jawaban dari dalam kamar syaikh. Akhirnya merekapun gelisah karena kawatir kalau syaikh ketiduran mengingat beliau semalam kurang istirahat. Mereka kembali mengetuk pintu tersebut akan tetapi hasilnya nihil, syaikh tetap saja tidak memberikan jawaban. Sementara waktu terus berjalan dan jadwal keberangkatan pesawat semakin mendekat. Para ikhwah yang hendak menjemput syaikh semakin gelisah dan bingung. Apa boleh buat akhirnya mereka terpaksa harus melaporkan hal ini kepada petugas hotel, agar petugas hotel membuka pintu kamar syaikh dengan menggunakan kunci hotel. Sebelum membuka pintu kamar petugas hotel kembali mengetuk-ngetuk pintu kamar syaikh. Bahkan bukan cuma mengetuk, tapi bahasa yang lebih pas adalah menggedor-gedor pintu kamar syaikh. Tidak berapa lama kemudian –sebelum pintu kamar dibuka dengan paksa- yaitu pada saat jam menunjukan pukul 6 tepat ternyata syaikh muncul. Begitulah syaikh, sangat disiplin mengenai waktu, jika telah berjanji ketemu jam 6, maka beliau akan muncul jam 6 tepat. Namun anehnya arah kemunculan beliau dari arah luar hotel, bukan dari dalam kamar. Rupanya selepas sholat subuh beliau berjalan-jalan menyisiri pantai yang ada di sekitar hotel. Memang syaikh hobinya jalan kaki. Beliau pernah berkata kepadaku, “Al-harokah zainah” yang artinya, “Olah raga itu bagus”.

Selama bersafar bersama beliau beberapa kali beliau senang untuk berjalan kaki. Seakan-akan beliau memiliki jadwal untuk berjalan kaki setiap hari. Pernah ketika kami di Lombok beliau sempat turun dari mobil lalu berjalan lebih dahulu sekitar 8 menit dihadapan kita. Beliau berkata, Aku jalan lebih dahulu di depan, nanti kaliah nyusul dengan mobil kalian”. Hal serupa beliau lakukan tatkala aku dan beliau transit di bandara Singapura. Sebenarnya beliau diberikan kesempatan lebih dahulu untuk masuk pesawat mengingat beliau duduk di first class, bahkan petugas bandara datang untuk menawarkan beliau masuk terlebih dahulu melewati antrian penumpang yang panjang. Akan tetapi beliau menolak dan mengabarkan kepada petugas tersebut bahwa beliau akan masuk paling akhir setelah seluruh penumpang naik pesawat. Waktu untuk menunggu antrian beliau gunakan untuk sedikit membaca setelah itu beliaupun berjalan-jalan bolak-balik di ruang tunggu. Sekitar 15 menit beliau berjalan-jalan bolak-balik di ruang tunggu yang mungkin panjangnya sekitar 20 meter. Ternyata memang beliau memiliki jadwal khusus untuk jalan setiap harinya

Kamipun berangkat menuju Surabaya naik pesawat Batavia air. Tatkala pesawat lepas landas syaikh memandang ke arah luar, beliau melihat bukit-bukit yang berwarna hijau yang ada di pulau Lombok. Beliau berkata kepadaku, “Sungguh hijau dan indah gunung-gunung di sini”. Akupun menimpali, “Syaikhonaa (guru kami), yang seperti itu kalau di Indonesia bukanlah gunung, akan tetapi namanya bukit. Karena gunung yang ada di Indonesia tingginya menjulang hingga menembus awan di langit. Bisa mencapai ketinggian 2 km, bahkan ada yang 5 km. berbeda dengan gunung-gunung yang ada di Arab Saudi semuanya memang pendek-pendek seperti ukuran bukit-bukit yang ada di Indonesia, tidak ada yang menjulang tinggi sampai ke awan”. Beliapun bergumam, “Ooo begitu”.

bersambung …

Artikel: http://www.firanda.com

%d blogger menyukai ini: