• Blog Stats

    • 41,452,378 hits
  • pacaran adalah perbuatan haram, maka janganlah berpacaran. Dan jangan mau jika diajak pacaran. Akan tetapi tempuhlah jalan yang halal jika memang benar-benar cinta dan ingin menikah. Segeralah menikah dan jangan berpacaran. ================================== dan janganlah kamu mendekati zina. sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk. [QS Al Isra':32] ==================================== JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA ====================================== Asy-Sya’bi berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah)
  • Artikel Terbaru

  • wasiat untuk seluruh umat islam

    ====================================== “Janganlah kamu saling dengki, saling membenci, saling mengintip rahasia, saling bersaing, saling mencari keburukan, saling menawar lebih tinggi untuk menipu pembeli sehingga menawar tinggi, saling memutuskan hubungan, saling bermusuhan, janganlah sebagian kalian menjual atas jualan yang lain. Jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang diperintahkan Allah. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh menganiaya, tidak boleh menelantarkannya dan tidak boleh menghinanya. ============================================= Taqwa ada di sini, taqwa ada di sini, taqwa ada di sini kata Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam sambil menunjuk dadanya. ================================================= Cukuplah merupakan kejelekan seseorang apabila menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain adalah haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. Hati-hatilah bersangka buruk, karena sesungguhnya bersangka buruk adalah omongan yang paling dusta. ==================================================== Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk kamu dan hartamu, tetapi ia melihat hati dan perbuatanmu.” (riwayat Muslim dan Bukhari). ==========================================
  • BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR

    BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- -------------------------------------------------------------------------------------------- Orang yang mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi janda dan orang miskin ibarat berjihad di jalan Allah dan ibarat orang shalat malam (HR. Bukhari) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain. (HR. Ahmad) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersodaqoh dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana. (HR. Ath-Thabrani) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sodaqoh. (HR. Al-Baihaqi) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Tiap-tiap amalan makruf (kebajikan) adalah sodaqoh. Sesungguhnya di antara amalan makruf ialah berjumpa kawan dengan wajah ceria (senyum) dan mengurangi isi embermu untuk diisikan ke mangkuk kawanmu. (HR. Ahmad) ------------------------------------------------------------------------------------------------------------
  • berbuat baiklah pada semua binatang, termasuk kepada anjing

    Kita tidak diperbolehkan menyiksa binatang dengan cara apa pun, atau membuatnya kelaparan, memukulinya, membebaninya dengan sesuatu yang ia tidak mampu, menyiksa atau membakarnnya. --------------------------------------------------- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Seorang wanita masuk neraka karena seekor kucing yang ia kurung hingga mati. Maka dari itu ia masuk neraka gara-gara kucing tersebut disebabkan dia tidak memberinya makan dan tidak pula memberinya minum di saat mengurung nya, dan dia tidak membiarkannya (melepaskannya) supaya memakan serangga di bumi.” (HR. al-Bukhari) ------------------------------------------------------- Dan ketika beliau melewati sarang semut yang telah dibakar, beliau bersabda, “Sesungguhnya tidak ada yang berhak menyiksa dengan api selain Rabb (Tuhan) pemilik api.” (HR. Abu Dawud, hadits shahih) ---------------------------------------------- “Barangsiapa yang tidak berbelas kasih niscaya tidak akan dibelaskasihi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) ------------------------------------------------- “Kasihanilah siapa saja yang ada di bumi ini, niscaya kalian akan dikasihani oleh yang ada di langit.” (HR. at-Tirmidzi) -------------------------------------------------- Dibolehkan membunuh hewan-hewan yang membahayakan atau mengganggu seperti anjing buas, serigala, ular, kalajengking, tikus dan lain-lain karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Ada lima macam hewan fasik (buruk) yang boleh dibunuh di waktu halal (tidak ihram) dan di waktu ihram, yaitu ular, burung gagak yang putih punggung dan perutnya, tikus, anjing buas, dan rajawali.” (HR. Muslim). Juga terdapat hadits shahih yang membolehkan untuk membunuh kalajengking. ================================================
  • JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA

    ====================================== ‘Amr bin Syarahil Asy-Sya’bi rahimahullahu berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah, 2/636. Dihasankan oleh Al-Albani dalam At-Tahrim, hal. 148) ----------------------------------------------------------------------------- Ibnu Abdil Barr rahimahullahu berkata: “Termasuk hasil usaha yang disepakati keharamannya adalah riba, upah para pelacur, sogokan (suap), mengambil upah atas meratapi (mayit), nyanyian, perdukunan, mengaku mengetahui perkara gaib dan berita langit, hasil seruling dan segala permainan batil.” (Al-Kafi hal. 191) ---------------------------------------------------------------------- Ath-Thabari rahimahullahu berkata: “Telah sepakat para ulama di berbagai negeri tentang dibenci dan terlarangnya nyanyian.” (Tafsir Al-Qurthubi, 14/56) ------------------------------------------------------------------- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “Mazhab empat imam menyatakan bahwa alat-alat musik semuanya haram.” Lalu beliau menyebutkan hadits riwayat Al-Bukhari rahimahullahu . (Majmu’ Fatawa, 11/576) --------------------------------------------------------------- ------------------------------------------
  • wasiat bagi para pemuda

    ====================================== ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Barangsiapa di antara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya mereka adalah ummat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, dan paling lurus petunjuknya, serta paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya, karena mereka berada di jalan yang lurus.” [Dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Baar dalam kitabnya Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih II/947 no. 1810, tahqiq Abul Asybal Samir az-Zuhairy] ======================================
  • wasiat Imam al-Auza’i

    ====================================== Imam al-Auza’i rahimahullah (wafat th. 157 H) mengatakan: “Bersabarlah dirimu di atas Sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para Shahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan Salafush Shalih, karena akan mencukupi kamu apa saja yang mencukupi mereka.” [Syarh Ushul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah 1/174 no. 315] --------------------------------------------------------------- Beliau rahimahullah juga berkata: “Hendaklah kamu berpegang kepada atsar Salafush Shalih meskipun orang-orang menolaknya dan jauhkanlah diri kamu dari pendapat orang meskipun ia hiasi pendapatnya dengan perkataannya yang indah.” [Imam al-Aajury dalam as-Syari’ah I/445 no. 127, di-shahih-kan oleh al-Albany dalam Mukhtashar al-‘Uluw lil Imam adz-Dzahaby hal. 138, Siyar A’laam an-Nubalaa’ VII/120] =================================================
  • Mengutip perkataan Syaikh Bin Baz rahimahullaahu

    “Zaman ini adalah zaman kelembutan, kesabaran dan hikmah, bukanlah zaman kekerasan (kebengisan). Mayoritas manusia saat ini dalam keadaan jahil (bodoh), lalai dan lebih mementingkan duniawiyah. Maka haruslah sabar dan lemah lembut sampai dakwah ini tersampaikan dan sampai mereka mengetahuinya. Kami mohon petunjuk kepada Alloh untuk semuanya.” (Majmu’ Fatawa Samahatul Imam Ibnu Bazz (Juz VIII, hal 376) dan (Juz X, hal. 91) =================================================
  • jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara

    ====================================== Segala puji hanyalah milik Alloh yang telah mempertautkan hati kaum mukminin dan menganjurkan mereka supaya bersatu padu dan saling berhimpun serta memperingatkan dari perpecahan dan perselisihan. -------------------------------------------------------- Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq untuk disembah melainkan hanyalah Alloh semata yang tidak memiliki sekutu. Dialah yang mensyariatkan dan memudahkan, dan Dia terhadap kaum mukminin adalah sangat penyantun. ------------------------------------------------------ Saya juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang diperintahkan dengan kemudahan dan berita gembira. ----------------------------------------------------- Beliau bersabda : Permudahlah dan janganlah kamu persulit, berikanlah kabar gembira dan janganlah membuat orang lari (dari kebenaran). ------------------------------------------------------ Permisalan kaum mukminin satu dengan lainnya dalam hal kasih sayang, tolong menolong dan kecintaan, bagaikan tubuh yang satu, jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan merasa demam atau terjaga” --------------------------------------------------- Tidak ragu lagi, bahwa kewajiban Ahlus Sunnah di setiap zaman dan tempat adalah saling bersatu dan menyayangi di antara mereka serta saling bekerja sama di dalam kebajikan dan ketakwaan… ==================================================---------------
  • KHUTBATUL HAJAH

    ====================================== Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, dan meminta ampun kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami, dan dari keburukan-keburukan perbuatan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah saja, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. ================================================ “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” ================================================== “Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan darinya Allah menciptakan isterinya; dan dari keduanya Allah mengembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silatur rahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” ========================================================= “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mena’ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. ============================================================ Amma ba’du; Maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad , dan seburuk-buruk perkara dalam agama adalah yang di ada-adakan, setiap yang diada-adakan (dalam urusan agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan. (HR. Muslim, an-Nasa’i dan selain keduanya) ==================================================
  • mengutip perkataan Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad hafizhahullaahu:

    “Telah terjadi di zaman ini, sibuknya sebagian ahlus sunnah dengan sebagian lainnya dengan tajrih (saling mencela) dan tahdzir, dan implikasi dari hal ini menyebabkan terjadinya perpecahan, perselisihan dan saling mengisolir. Padahal sepantasnya bahkan seharusnya bagi mereka untuk saling mencintai dan berkasih sayang terhadap sesama mereka, dan menyatukan barisan mereka di dalam menghadapi ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu yang menyelisihi ahlus sunnah wal jama’ah. ---------------------------------------------------- “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- agar menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dari perkara-perkara yang tidak bermanfaat bagi mereka, sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “diantara kebaikan seorang muslim adalah meninggalkan hal-hal yang tidak berfaidah baginya.” Hadits hasan diriwayatkan oleh Turmudzi.” ------------------------------------------------------ “Aku nasehatkan –kepada penuntut ilmu- untuk bersikap pertengahan dan moderat, diantara sikap ghuluw (ekstrim) dan meremehkan, dan diantara sikap ifrath (berlebih-lebihan) dan tafrith (menggampangkan). Sebagai pengejawantahan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “Jauhilah oleh kalian sikap ghuluw di dalam agama, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa dikarenakan sikap ghuluw mereka di dalam agama.” Ini hadits shahih, dikeluarkan oleh an-Nasa’i dan selainnya.” ---------------------------------------------------- “Dan aku nasehatkan supaya mereka berhati-hati dari sikap zhalim, dikarenakan hadits Qudsi, “Wahai hamba-Ku, sesunguhnya Aku haramkan kezhaliman atas diri-Ku, maka aku jadikan pula haram atas diri kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi” diriwayatkan oleh Muslim, dan hadits Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “takutlah kalian dari kezhaliman, karena sesungguhnya kezhaliman itu adalah kegelapan di hari kiamat” diriwayatkan oleh Muslim. ------------------------------------------------------ Aku memohon kepada Allah Azza wa Jalla untuk menunjuki seluruh ummat kepada apa yang diridhai-Nya, agar mereka mendalami agama Islam (tafaqquh fid din) dan menetapi kebenaran, serta agar mereka menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dan menjauhkan dari apa-apa yang tidak bermanfaat. Sesungguhnya Ia berkuasa dan berkemampuan atasnya. Semoga Sholawat dan Salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya dan para sahabatnya. (selesai kutipan) ===========================================
  • mengutip perkataan Imam Albani rahimahullaahu

    “Wajib atas kita untuk berlemah lembut di dalam dakwah kita terhadap orang-orang yang menyelisihi kita, dan jadikan selalu firman Alloh Ta’ala berikut (sebagai pegangan) dan untuk selamanya : “Serulah mereka ke jalan Rabb-mu dengan hikmah dan nasehat yang baik, serta berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.” Dan mereka yang pertama lebih berhak untuk kita terapkan hikmah ini adalah mereka yang paling memusuhi kita di dalam dasar (mabda’) dan aqidah kita, hingga kita tidak menggabungkan antara beratnya dakwah yang haq yang Alloh memperteguh kita dengannya dengan beratnya cara (ushlub) kita berdakwah kepada Alloh Azza wa Jalla” ==================================================
  • Diriwayatkan bahwa Hasan Al-banna berkata: “Kami menginginkan terbentuknya sosok individu muslim, rumah tangga Islami, bangsa yang Islami, pemerintahan yang Islami, negara yang dipimpin oleh negara-negara Islam, menyatukan perpecahan kaum muslimin dan negara mereka yang terampas, kemudian membawa bendera jihad dan da’wah kepada Allah sehingga dunia mendapatkan ketentraman dengan ajaran-ajaran Islam.” ==================================================
  • warning

    dalam blog ini mungkin terdapat hadits dhoif, riwayat yang tidak valid, salah tulis, kutipan yg tidak sesuai syariat islam, dan berbagai kesalahan2 lain, dan belum sempat di sensor, jadi mohon maaf sebesar-besarnya

Yang Terjatuh, Genggamlah Jemari Mereka

Yang Terjatuh, Genggamlah Jemari Mereka

Kamis, 12/05/2011 13:13 WIB | email | print

Oleh Azma Mutiara Aisyah

Ini adalah kesekian kalinya, ia menelepon dan mendiskusikan masalahnya. Satu jam lebih bukan waktu yang lama membicarakan akan kondisinya yang sekarang. Keadaannya saat ini yang ‘terjatuh’ dan lumayan parah. Dalam kacamata syariat, kita lebih sering menyebutnya FUTUR. Satu yang selalu ia tekankan dalam pembicaraannya, bahwa apa yang dilakukannya saat ini adalah langkah yang keliru memang. Sadar betul ia. Memang pantas, katanya, kalau banyak yang protes, kenapa saya sampai separah ini. Tapi cukupkah sebatas pertanyaan semacam itu saja, nadanya serius. Mencela, bukan solusi atas apa yang saya hadapi. Saya butuh motivasi untuk kembali bangun, tidak sekadar judgment, katanya meyakinkan. Saya mencela diri saya sendiri, itu sudah cukup membuat diri saya tersiksa, lanjutnya lirih.

Satu hal yang sebenarnya wajar tapi kadang berlebihan, ketika menyaksikan di antara ikhwan atau ukhti kita yang FUTUR, adalah ketidakmampuan untuk tetap mempertahankan kebaiksangkaan kita atas keadaannya yang memprihatinkan itu. Meninggalkan mereka dengan keadaannya yang semakin (men)jauh dari Allah. Bahkan kadang, untuk menyalami mereka pun, lidah kita terasa begitu berat. Kita seakan lupa, bahwa ia bukan malaikat yang tak pernah bermaksiat kepada Allah. Tapi mereka yang futur terlalu berlebihan dalam perubahannya! Betul. Tapi satu hal juga yang tak boleh kita lupa, bahwa dakwah kita bukan hanya untuk mereka yang awam. Dakwah kita untuk semua. Termasuk ikhwan atau ukhti kita yang futur itu.

“Serulah (manusia) ke jalan Rabbmu dengan hikmah, dan pelajaran yang hasanah (baik), dan bantahlah mereka dengan cara yang ahsan (paling baik)…” (QS. An-Nahl [16] : 125)

­­

Dakwah Salaf Yang Penuh Berkah

Ketahuilah, ketika hati telah tersentuh dakwah salaf yang agung ini, maka sungguh ia tidak akan mudah tercerabut dari dalam dada. Walillaahil hamdu wal minnah. Hatta saudara kita yang futur pun, akan selalu rindu untuk kembali menapaki jalan ini. Demi Allah. Jangan pernah mengira, mereka yang futur bergembira dalam gelimang dosanya. Teriris hati mereka, menjerit jiwanya, pilu di kedalaman kalbunya. Kalau begitu, kenapa tak kembali ke jalan Allah? Untuk kita tahu, bahwa kita dikaruniai kemampuan berbeda untuk bisa bangkit dari ‘keterjatuhan’ itu. Ada yang mampu kembali berdiri dengan sendirinya, tapi juga tak sedikit yang butuh tuntunan. Bahkan yang terakhir inilah yang paling banyak. Ia butuh perhatian yang lebih. Jika saudara awam, demikian besar perhatian kita pada mereka agar Allah memberinya hidayah, maka pahamilah, bahwa saudara kita yang futur, butuh perhatian yang lebih besar lagi. Mempertahankan apa yang ada, bukankah memang lebih berat dari mendapatkan apa yang belum dimiliki? Dan tentunya balasannya di sisi Allah–jika keikhlasan terus menghiasi hati–juga lebih besar.

“Demi Allah, sungguh jika Allah memberi petunjuk kepada seseorang dengan sebab dirimu, itu jauh lebih baik bagimu daripada unta merah (perumpamaan bagi harta yang paling baik).“ (HR. Muttafaq ‘Alaihi)

Mereka Butuh Dukungan, Bukan Celaan

Tak sedikit di antara kita yang meragukan keikhlasan niat saudara kita yang futur, ketika awal menuntut ilmu. Bahkan kadang kecurigaan kita yang berlebihan kepada mereka, hingga berada di titik yang sulit dinalar; mereka belajar agama bukan karena Allah. Padahal Rasulullah sendiri mengajarkan etika yang begitu agung berkenaan dengan keadaan saudara kita. Husnudzdzan. Iya, berbaik sangka.

Karenanya, tak pantas jika lisan kita begitu mudah mengatakan “sepertinya ia tak ikhlas menuntut ilmu,” atau kata-kata semacam itu. Ungkapan seperti itu, takkan pernah mengembalikan mereka ke pangkuan Islam, bahkan semakin menambah kejauhan itu. Ungkapan seperti itu, justru semakin menghalangi mereka untuk kembali merasakan nikmatnya Islam, sebagaimana yang kita rasa selama ini. Ungkapan seperti itu, sama sekali tak menggugah hati mereka untuk kembali menapaki jalan dakwah ini.

Maa ‘alimnaa ‘alaihi illaa khairan. Tidak ada yang aku ketahui darinya melainkan kebaikan. Kata-kata inilah yang diucapkan sahabat yang mulia, Mu’adz bin Jabal Radhiyallaahu ‘anhu, ketika sebagian sahabat yang lain justru berburuk sangka kepada Ka’ab bin Malik Radhiyallaahu ‘anhu, sahabat yang tertinggal di perang Tabuk.

Seperti itulah yang dibutuhkan oleh mereka yang futur itu. Mereka butuh dorongan. Motivasi yang mampu menumbuhkan kembali semangat berIslam itu. Dan siapa lagi yang bisa membantunya menemukan semangat yang sempat hilang itu kalau bukan kita?

Namun, jika kita pun justru tak mau membantu menemukan apa yang sempat hilang dari diri mereka, lalu kepada siapa lagi ia mesti berkisah? Kisah tentang cinta yang terpaut kepada Allah, tapi tak tahu kepada siapa lidah ini bertanya. Kisah dari sepotong hati yang memendam rindu untuk kembali ke jalan Rabbnya, namun tak tahu mesti ke mana kaki melangkah. Semoga hati kita tak letih untuk terus belajar dari kehidupan pendahulu kita yang saleh. Maka bercerminlah di telaga cinta para salaf.

“Sebaik-baik manusia, adalah pada masaku. Kemudian (generasi) setelahnya, lalu (generasi) setelahnya.” (HR. Muttafaq ‘Alaihi).

Buat Saudara Kita Yang Futur

Sisa-sisa nafas yang tak tahu kapan dan di mana ia berhenti hembusannya, pahamilah bahwa itu karunia sekaligus bukti bahwa Allah sungguh Rahmaan lagi Rahiim kepada kita. Kesempatan, selalu saja Allah berikan kepada kita. Karenanya, tak ada alasan untuk tidak memanfaatkannya.

“Kecuali yang bertaubat, beriman, dan yang melakukan amalan kebajikan. Merekalah semua, orang yang keburukan-keburukannya (terdahulu) digantikan Allah dengan kebaikan-kebaikan. Dan adalah Allah, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqaan [25] : 70)

Adalah ‘Irbadh bin Sariyah Radhiyallaahu ‘anhu. Beliaulah yang mengisahkan kembali akan nasehat Rasulullah suatu ketika. Nasehat yang demikian menyentuh. Nasehat yang wajilat minhal quluub wa dzarafat minhal ‘uyuun, kata beliau. Nasehat yang menggetarkan hati dan menitikkan air mata. Uushiikum bitaqwallaah, beliau menirukan penggalan nasehat Rasulullah Al-Amiin tersebut. Ringkas, namun memiliki kandungan yang demikian dalam dan agung. Wasiatku kepada kalian, agar kalian bertakwa kepada Allah, kata Rasulullah.

Demikianlah. Wasiat yang lahir dari jiwa yang teramat cinta dan sayangnya kepada umatnya. Cinta itu begitu terasa ketika suatu kali beliau bercerita.

“Perumpamaan diriku dan kalian, ibarat seorang laki-laki yang menyalakan api, lalu mulailah laron dan serangga-serangga mengerumuni api tersebut. Sementara itu, laki-laki tersebut mencegat laron dan serangga-serangga itu, jangan sampai tercebur ke dalam api. Saya akan selalu menarik kalian dari belakang, jangan sampai kalian tercebur ke dalam api neraka. Akan tetapi di antara kalian (ada) yang memberontak ingin lepas dari tanganku.” (HR. Imam Muslim)

Semoga saja kita termasuk hamba yang mau membalas cinta beliau alaihi ash-shalaatu wa as-salaam.

“Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kalangan kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian, dan terhadap orang-orang beriman, amat belas kasihan lagi penyayang.” (QS. At-Taubah [9] : 128)

Renungan Buat Kita Semua

Satu yang saya ingatkan buat diri saya dan kita semua. Bahwa kita yang istiqamah hari ini, tidak ada jaminan besok kita terbangun masih dalam keadaan yang sama; tetap dalam keimanan.

“Wahai Rasulullah, sampaikanlah kepadaku satu ucapan dalam Islam, yang aku sudah tak bertanya lagi kepada orang selainmu.” Rasulullah pun bersabda, “Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah,’ kemudian istiqamahlah.” (HR. Imam Muslim)

Sehingga, saling mendoakan di atas keistiqamahan adalah harapan setiap kita. Semoga selalu ada. Dan jangan lupakan ikhwan-akhwat kita yang futur, dalam penggalan doa kita. Doakan keistiqamahan kepada mereka. Bagaimana pun mereka manusia biasa. Sekali lagi, terlalu naif jika kesalahan sepenuhnya dibebankan kepada mereka. Demi Allah, terlalu naif. Mereka manusia biasa. Mereka butuh banyak doa dari kita. Semoga doa-doa kita menjadi sebab, Allah kembali memasukkan hidayah-Nya ke dalam hati mereka, yang selama ini ‘pergi’ entah ke mana. Man yahdihillaahu falaa mudhilla lahu.

Siapa yang diberikan hidayah oleh Allah, maka tak ada yang mampu menyesatkannya.

Dan pula, kita yang tetap istiqamah, setidaknya hingga kini, terlalu banyak penghalang, rintangan, dan tantangan yang berada di depan; di sepanjang jalan kehidupan kita. Selain terus menjaga kesuburan iman, pun kita tetap butuh kawan seiring. Tanpa mereka, mungkin banyak jalan bercabang yang kelihatan lurus. Sehingga kehadiran mereka, teman yang saleh itu, semoga saja selalu menjadi pengingat di sela-sela kelalaian, menjadi penegur di celah-celah kekhilafan. Menjadi penuntun: mana jalan yang lurus, dan mana jalan yang sebenarnya berkelok. Tentu, penuntun yang bertutur santun, yang selamanya berbicara dalam ketulusan dan keikhlasan.

Terakhir, semoga saja Allah selalu mengaruniai kearifan dalam setiap langkah kita mengarungi jalan kehidupan yang terjal ini.

Waffaqanallaahu wa iyyaakum limaa fii ridhaahu.

Ciputat, Mei 2010

Markaz Pribadi Mutiara Aisyah

%d blogger menyukai ini: